Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH KOSMETOLOGI

PASTA GIGI ANTIPLAK

Dosen : Rahmi Hutabarat, S.Si., M.Si., Apt.

Di Susun Oleh :

Dina Rachmawati (12330060)


Yunita Beladina (12330063)
Dian Firdasari (12330067)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA SELATAN

2015
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penyusun Panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena atas kehendak-
Nyalah makalah Epidemiologi yang berjudul “ Pasta Gigi Antiplak”.

Dalam menyelesaikan makalah ini, penyusun tidak terlalu banyak mengalami


kesulitan, karena referensi yang didapatkan oleh penyusun merupakan rekomendasi langsung
dari dosen mata kuliah yang bersangkutan, hal ini tidak meminimkan pengetahuan para
penyusun dalam penyelesaian makalah. Selain itu, penyusun pun mendapatkan berbagai
bimbingan dari beberapa pihak yang pada akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.

Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan para pembaca
tentang Pasta Gigi Antiplak. Kami menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata bahasa
maupun dalam hal materi yang disampaikan, untuk itu besar harapan kami jika ada kritik dan
saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah-makalah kami dilain waktu.

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah


Farmakoekonomi Rachmi Hutabarat, S.Si,, M.Si., Apt. yang telah memberikan kesempatan
kepada kami untuk menyusun makalah ini dengan baik. Pada Akhirnya kepada Allah jualah
penyusun mohon taufik dan hidayah, semoga usaha kami mendapat manfaat yang baik. Serta
mendapat ridho Allah SWT. Amin ya rabbal alamin.

Jakarta, November 2015

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i

DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang .................................................................................. 1


I.2 Rumusan Masalah .............................................................................2
I.3 Tujuan ............................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Kosmetika ......................................................................................... 3


II.2 Gigi ................................................................................................... 3
II.2.1 Anatomi Gigi ........................................................................ 4
II.2.2 Jenis Gigi .............................................................................. 5
II.2.3 Gigi Sementara ..................................................................... 5
II.2.4 Gigi Tetap ............................................................................. 6
II.3 Plak Gigi
II.3.1 Definis Plak Gigi .................................................................. 6
II.3.2 Struktur dan Komposisi Plak ................................................ 7
II.3.3 Mekanisme Pembentukan Plak Gigi .....................................8
II.3.4 Klasifikasi Plak ..................................................................... 8
II.3.5 Hubungan Plak Gigi dengan Kalkulus ................................. 9
II.3.6 Hubungan Plak Gigi dengan Karies ......................................9
II.3.7 Hubungan Plak Gigi dengan Penyakit Periodontal ...............10
II.3.8 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Plak..... 10
II.4 Pasta Gigi
II.4.1 Definis Pasta Gigi ................................................................. 11
II.4.2 Fungsi Pasta Gigi .................................................................. 11
II.4.3 Kandungan Pasta Gigi .......................................................... 12
II.4.4 Syarat Mutu Pasta Gigi ......................................................... 15
II.4.5 Karakteristik Pasta Gigi ........................................................ 16
II.4.6 Metode Pembuatan Pasta Gigi .............................................. 17

ii
II.4.7 Evaluasi Sediaan Pasta Gigi ................................................. 17

BAB III METODOLOGI

III.1 Formula Pasta Gigi Antiplak ............................................................ 19


III.2 Karakteristik Bahan Formula V ........................................................ 21
III.3 Metode Pembuatan Formula V ......................................................... 24
III.4 Evaluasi Sediaan Formula V ............................................................ 25
III.5 Karakteristik Sediaan Pada Formula V .............................................27

BAB IV PEMBAHASAN

IV.1 Formula Pasta Gigi Antiplak ............................................................ 28


IV.2 Alasan Pemilihan Bahan ................................................................... 28
IV.3 Metode Pembuatan ............................................................................29

BAB V KESIMPULAN ........................................................................................... 30

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 32

iii
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Masalah kesehatan gigi utama yang paling banyak dijumpai adalah penyakit
periodontal dan karies gigi yang disebabkan oleh keadaan kesehatan gigi dan mulut
yang buruk. Masalah tersebut menjadi perhatian yang sangat penting dalam
pembangunan kesehatan yang salah satunya disebabkan oleh rentannya anak usia
sekolah dari gangguan kesehatan gigi.
Pasta gigi didefinisikan suatu bahan semi-aqueous yang digunakan bersama-sama
sikat gigi untuk membersihkan deposit dan memoles seluruh permukaan gigi. Pasta
gigi biasa digunakan pada saat menyikat gigi dengan menggunakan sikat gigi.
Penggunaan pasta gigi bersama sikat gigi melalui penyikatan gigi adalah salah satu
cara yang paling banyak digunakan oleh masyarakat saat ini dengan tujuan untuk
meningkatkan kebersihan rongga mulut.
Ada beberapa jenis pasta gigi yaitu pasta gigi anti karies, pasta gigi anti plak, pasta
gigi pemutih dan pasta gigi herbal. Antiplaque adalah senyawa antimikroba yang
digunakan untuk mencegah atau mengurangi plak, kalkulus, dan karies gigi.
Plak adalah lapisan tipis dan lengket tempat mikroorganisme tertanam
yangmelekat di permukaan gigi sebagai akibat dari sisa makanan yang tidak sempurna
dibersihkan dan terakumulasi. Plak tidak dapat dihilangkan dengan berkumur
melainkan dengan disikat atau di flossing.
Pengendalian plak adalah upaya membuang dan mencegah penumpukan plak pada
permukaan gigi. Upaya tersebut dapat dilakukan secara mekanis maupun kimiawi.
Salah satu cara untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan gigi dan mulut adalah
dengan menyikat gigi. Menyikat gigi menggunakan pasta gigi dapat membantu
mencegah terjadinya penyakit gigi dan mulut serta membuat gigi tetap kuat. Menyikat
gigi menggunakan pasta gigi dianjurkan dua kali sehari, yaitu sesudah makan dan
sebelum tidur. Pasta gigi dibuat dari berbagai macam bahan penyusun dengan fungsi
yang berbeda-beda dan beberapa bahan tambahan. Pasta gigi tanpa bahan herbal yang
digunakan masyarakat pada umumnya terbuat dari bahan-bahan abrasif (contoh:
silikon oksida, granular polivinil klorida), air, pelembab, sabun atau detergen, bahan
perasa dan pemanis, bahan-bahan terapetik (contoh: flouride, pirofosfat), bahan
pewarna dan pengawet (Carranza dkk. 2001). Salah satu substansi yang sering

1
ditambahkan pada pasta gigi adalah senyawa fluoride. Senyawa flouride adalah suatu
garam flouride yang banyak terdapat di alam dapat berupa sodium fluoride, calcium
flouride, ammonium fluorophosphate dan garam-garam lainnya.

I.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan sediaan pasta gigi ?
2. Bagaimana formulasi sediaan pasta gigi antiplak?
3. Bagaimana mekanisme pembentukan plak ?
4. Bagaimana pembuatan dan evaluasi sediaan pasta gigi antiplak?
5. Bagaimana formulasi pasta gigi antiplak dari pabrik lain ?

I.3 Tujuan
1. Untuk memahami sediaan pasta gigi ?
2. Untuk mengetahui formulasi sediaan pasta gigi antiplak?
3. Untuk mengetahui mekanisme pembentukan plak ?
4. Untuk mengetahui pembuatan dan evaluasi sediaan pasta gigi antiplak?
5. Untuk mengetahui formulasi pasta gigi antiplak dari pabrik lain ?

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Kosmetika
Kosmetika didefinisikan sebagai sesuatu yang untuk digosokkan, dituangkan
atau disemprotkan pada anggota badan manusia dengan maksud untuk membersihkan,
memelihara merawat serta bisa mengubah penampilan seseorang menjadi lebih
menarik. Kosmetika merupakan salah satu sediaan farmasi yang tidak termasuk dalam
golongan obat. Produk kosmetika tidak hanya untuk perawatan wajah saja tetapi juga
untuk merawat dan memelihara anggota tubuh yang lain seperti gigi, rambut, kulit
tangan dan kaki serta bagian tubuh yang lain.

II.2 Gigi
Gigi adalah bagian keras yang terdapat di dalam mulut dari banyak
vertebrata.Mereka memiliki struktur yang bervariasi yang memungkinkan mereka
untuk melakukan banyak tugas. Fungsi utama dari gigi adalah untuk merobek dan
mengunyah makanan dan pada beberapa hewan, terutama karnivora, sebagai senjata.
Akar dari gigi tertutup oleh gusi. Gigi memiliki struktur pelindung yang disebut email
gigi, yang membantu mencegah lubang di gigi. Pulp dalam gigi menciut dan dentin
terdeposit di tempatnya.

Umumnya pada seorang bayi gigi pertamanya muncul pada umur enam bulan.
Insisivus tengah pada rahang bawah yang pertama keluar, kemudian insisivus lateral.
Molar pertama keluar pada kira-kira umur dua belas sampai lima belas bulan, gigi
taring pada delapan belas bulan, dan akhirnya pada dua puluh bulan molar lainnya.

Seorang anak berumur dua belas bulan biasanya telah memiliki delapan gigi,
dua insisivus tengah dan dua yang lateral pada kedua rahang. Pada umur dua tahun si
anak telah memiliki gigi sulung yang lengkap. Pada umumnya gigi pada rahang
bawah lebih dahulu keluar daripada gigi pasangannya pada rahang atas.Gigi tetap
mulai menggantikan yang sementara pada kira-kira umur enam tahun. Yang pertama-
tama keluar ialah sebuah molar di belakang gigi-gigi sementara di setiap sisi,
kemudian pada umur tujuh sampai delapan tahun keluar gigi insisivus, pada umur
sembilan sampai sepuluh tahun geraham pre-molar, dan pada umur sebelas tahun gigi

3
taring, pada kira-kira dua belas tahun geraham molar kedua dan terakhir geraham
bungsu.

Sebuah gigi mempunyai mahkota, leher dan akar. Mahkota gigi menjulang di
atas gusi, lehernya dikelilingi gusi dan akarnya berada dibawahnya. Gigi dibuat dari
bahan yang sangat keras, yaitu dentin. Di dalam pusat strukturnya terdapat rongga
pulpa. Pulpa gigi berisi sel jaringan ikat, pembuluh darah dan sel jaringan ikat,
pembuluh darah, dan serabut saraf. Bagian gigi yang menjulang diatas gusi ditutupi
email, yang jauh lebih keras daripada dentin.

Pertumbuhan gigi, baik yang sementara maupun yang tetap, harus diawasi.
Kunjungan teratur pada dokter gigi penting. Kalau dapat setiap bulan, atau sedikit-
dikitnya 4 sampai 6 bulan. Tidak adanya rasa sakit bukan berarti tidak ada penyakit
atau karies gigi. Pada masa remaja kunjungan ke dokter boleh dikurangi. Kemudian
pada umur dewasa kunjungan boleh jarang, tetapi sebaiknya tetap teratur.

II.2.1 Anatomi Gigi


Gigi adalah bagian keras yang terdapat di dalam mulut. Fungsi utama
dari gigi adalah untuk merobek dan mengunyah makanan. Gigi tertanam di
dalam tulang rahang bawah dan atas serta tersusun dalam dua lengkung.
Lengkung rahang atas lebih besar daripada lengkung rahang bawah.
Gigi tetap berjumlah 32 pada setiap setengah rahang terdapat 8 buah
gigi, yaitu 2 gigi insisivus, 1 kaninus, dan 2 premolar yang menggantikan
kedua molar gigi susu dan tambahan 3 molar lagi di bagian posterior.

Gambar 1. Bagian – Bagian Gigi


Gigi terdiri dari :

4
a. Mahkota gigi (mahkota klinis) yaitu bagian yang menonjol di atas gusi
(gingiva), sedangkan mahkota anatomis adalah bagian yang dilapisi email
b. Akar gigi yaitu bagian yang terpendam dalam elveolus pada tulang
maksila atau mandibula
c. Leger gigi (serviks) yaitu tempat bertemunya mahkota anatomis dan akar
gigi. Di bagian tengah gigi terdapat rongga pulpa yang melanjutkan diri
menjadi saluran akar yang berakhir pada foramen apikal. Rongga pulpa ini
dikelilingi oleh dentin dan dibagian luar dentin dilapisi oleh email (pada
mahkota) dan sementum (pada akar).
d. Email atau enamel adalah bahan terkeras pada tubuh. Terdiri atas 97%
bahan berkapur, terutama kalsium fosfat dalam bentuk kristal apatit, dan
hanya 1% bahan organik. Bahan organiknya terdiri dari enamelin, suatu
protein yang sangat kaya prolin.
e. Dentin merupakan bahan berkapur yang banyak mengandung unsur
organik dengan proporsi yang sama seperti tulang. Denting mengandung
tubulus spinal yang keluar dari rongga sumsum. Masing – masing tubulus
tersebut ditempati oleh satu odontoblas melalui proses protoplasmik yang
sederhana.

II.2.2 Jenis Gigi

Manusia memiliki empat jenis gigi untuk berbagi tugas mengunyah


makanan, yaitu:

1. Gigi seri : berbentuk pipih dan tajam untuk mengiris makanan.


2. Gigi taring : ujungnya yang runcing untuk mencabik dan menyobek
makanan.
3. Gigi pramolar (geraham depan) : bentuknya berlekuk-lekuk untuk
mengiris dan melembutkan makanan.
4. Gigi molar (geraham belakang) : bentuknya berlekuk-lekuk untuk
melembutkan makanan.4

II.2.3 Gigi Sementara

Jenis ini juga disebut Gigi Susu. Susunannya yang lengkap terdiri dari
20 buah gigi:

1. Delapan gigi seri.


2. Empat gigi taring.
3. Delapan geraham belakang.
5
Gigi-gigi ini mulai muncul pada usia 6 sampai 30 bulan. Biasanya pada
usia 7 sampai 12 tahun gigi-gigi tersebut tanggal (copot) dan digantikan
dengan susunan yang tetap.4

II.2.4 Gigi Tetap

Susunan gigi tetap pada orang dewasa berjumlah 32 buah:


1. Delapan gigi seri.
2. Empat gigi taring.
3. Delapan geraham depan.
4. Dua belas geraham belakang.
II.3 Plak Gigi

II.3.1 Definisi Plak Gigi


Plak gigi adalah deposit granular lunak tak berbentuk yang terkumpul
pada permukaan gigi ataupun permukaan keras lainnya pada rongga mulut,
termasuk pada restorasi tetap maupun lepasan. Plak gigi terdapat pada
supragingiva dan subgingiva (Carranza & Newman 1996).
Menurut Rose dan Mealey (2004), plak gigi adalah komunitas mikroba
kompleks yang terbentuk pada seluruh permukaan gigi yang terpapar produk
bakteri dalam rongga mulut. Komunitas mikroba kompleks dapat terdiri dari
bakteri hidup, bakteri yang telah mati serta produk sintesis bakteri, maupun
saliva.
Plak berbeda dengan deposit lain yang terdapat pada rongga mulut
seperti material alba dan kalkulus. Material alba merupakan akumulasi lunak
dari bakteri-bakteri dan sel jaringan yang strukturnya tidak sebaik plak dan
mudah dihilangkan deengan semprotan air. Kalkulus adalah deposit keras yang
terbentuk dari remineralisasi (Carranza 2002).
Berbeda halnya, dengan lapisan terdahulu, plak gigi tidak dapat
dibersihkan hanya dengan cara kumur ataupun semprotan air dan hanya dapat
dibersihkan secara sempurna dengan cara mekanis (Putri dkk. 2009).
Jika jumlahnya sedikit plak tidak dapat terlihat, kecuali diwarnai
dengan larutan disklosing atau sudah mengalami diskolorasi oleh pigmen-
pigmen yang berada dalam rongga mulut. Jika menumpuk, plak akan terlihat
berwarna abu-abu, abu-abu kekuningan, dan kuning (Putri dkk. 2009).

II.3.2 Struktur dan Komposisi Plak

6
Plak gigi sebagian besar terdiri atas air dan berbagai macam
mikroorganisme yang berkembang biak dalam suatu matriks interseluler yang
terdiri atas polisakarida ektraseluler dan protein saliva. Sekitar 80% dari berat
plak adalah air sementara jumlah mikroorganisme yang ada kurang lebih 250
juta per mg berat basah. Di dalam plak selain terdapat mikroorganisme juga
terdapat sel epitel lepas, leukosit, partikel sisa makanan dan garam anorganik
yang terutama terdiri atas kalsium, fosfat dan fluor (Putri 2009, Herijulianti
2011 & Nurjanah 2011).

Plak gigi bakterial mengandung 3 komponen fungsional yaitu :


Organisme kariogenik; Organisme penyebab kelainan periodontal; dan Bahan
adjuvan dan supresif. Organisme kariogenik seperti Streptococcus mutans,
Lactobacillus acidophillus dan Actinomyces viscocus. Organisme penyebab
kelainan periodontal khususnya Bacterioides asaccharolyticus (gingivalis) dan
Actinobacillus (Actinomycetem comitans) walaupun Actinomyces viscosus,
Bacterioides melaninogeniscus, Veilonella alcalescens, Fusobacteris dan
Spirochaetes juga terlibat. Bahan adjuvan dan supresif yang paling potensial
adalah lipopolisakarida (LPS), dekstran, levan dan asam lipoteikoat (LTA).
Plak gigi mengandung 0,01% LPS, sekitar 8,5% dekstran yang larut di dalam
air dan sekitar 1,45% yang tidak larut dalam air (Ritonga 2008).

Hampir 70% plak terdiri dari mikrobial dan sisa produk ekstraseluler
dari bakteri plak, sisa sel dan glikoprotein. Protein, karbohidrat dan lemak juga
ditemukan disini. Karbohidrat yang sering dijumpai adalah produk bakteri
dekstran, levan, dan galaktose. Komponen anorganik utama adalah kalsium,
fosfor, magnesium, potasium dan sodium. Kandungan anorganik tertinggi
pada permukaan lingual insisivus bawah. Ion kalsium ikut membantu
perlekatan antara bakteri dengan pelikel (Manson dan Eley 2012).

II.3.3 Mekanisme Pembentukan Plak Gigi

Pembentukan pelikel pada permukaan gigi merupakan tahap awal


pertumbuhan plak gigi. Merupakan suatu lapisan tipis, licin, tidak berwarna,
bebas bakteri tersebar pada permukaan gigi dan terbentuk beberapa menit
setelah permukaan gigi yang bersih kontak dengan saliva (Manson 1980).
Pelikel ini berasal dari saliva, cairan krevikular dan berasal dari produk bakteri
7
serta debris. Pelikel berfungsi sebagai barier pelindung, menyediakan pelumas
bagi permukaan dan mencegah kerusakan jaringan, walaupun demikian pelikel
mengandung substansi yang merupakan lingkungan menguntungkan bagi
perlekatan bakteri (Carranza & Newman 1996).

Tahap kedua, setelah pembentukan pelikel adalah kolonisasi


mikroorganisme pada pelikel tersebut. Mikroorganisme tersebut melekat pada
gigi di atas pelikel karena adanya matriks interbakterial dan mikroorganisme
yang adesif dan afinitas hidroksiapatit enamel terhadap glikoprotein yang
mengabsorpsi pelikel dan mikroorganisme pada gigi. Plak gigi tumbuh oleh
karena adanya pertambahan mikroorganisme baru dan penumpukan produksi
mikroorganisme di atas pelikel. Disebutkan bahwa pengkolonisasian bakteri
pada permukaan acquired pellicle dimulai 2 sampai 4 jam setelah gigi
dibersihkan dan kematangan plak terjadi kira-kira 24 jam setelah gigi
dibersihkan (Goldman 1980, Carranza & Newman 1996).

Menurut Iwan Ruhadi (1993), pembentukan plak dimulai 4 jam setelah


gigi dibersihkan. Bila akumulasi plak tidak dibersihkan, maka akan
merangsang terbentuknya kalkulus yang merupakan faktor iritan bagi gingiva
dan jaringan periodontal, sehingga dapat menyebabkan keradangan pada salah
satu atau bahkan kedua daerah tersebut.

II.3.4 Klasifikasi Plak

Menurut Carranza (2006) plak berdasarkan hubungannya dengan


margin ginggiva dibagi menjadi dua yaitu:

a. Plak Supraginggiva
Plak supragingiva kebanyakan berkembang pada daerah 1/3
gingival gigi dengan predileksi pada permukaan yang retak, cacat,
permukaan yang kasar, dan restorasi gigi dengan pinggiran yang
overhanging. Pembentukan plak supragingiva dimulai dengan terjadinya
perlekatan bakteri pada acquired pellicle atau permukaan gigi , baik email,
sementum, atau dentin. Massa plak berkembang oleh (1) adanya
pertambahan bakteri yang baru, (2) multiplikasi bakteri, dan (3) akumulasi
produk bakteri dan host.
b. Plak Subgingiva

8
Sulkus gingiva dan poket periodontal mengandung bermacam-
macam kumpulan bakteri. Sifat alami dari organisme yang berkolonisasi
dalam daerah retentif ini berbeda dengan organisme yang ditemukan pada
plak supragingiva. Morfologi sulkus gingiva dan poket periodontal
menyebabkan daerah ini kurang memperoleh aktivitas pembersihan mulut.
Jadi daerah retentif ini membentuk lingkungan stagnasi dimana organisme
yang tidak dapat melekat dengan mudah pada permukaan gigi dapat
mempunyai kesempatan untuk berkolonisasi.

II.3.5 Hubungan Plak Gigi dengan Kalkulus

Kalkulus gigi merupakan plak gigi yang terkalsifikasi. Kalsifikasi ini


terjadi pada plak gigi supragingival atau subgingival. Proses kalsifikasi ini
terjadi akibat perubahan metabolisme yang terjadi pada plak matur. Kalsium
dan fosfat yang terdapat di dalam saliva akan mengendap dalam plak,
sehingga terbentuk kristal mineral. Kristal ini akan terakumulasi dan akan
membentuk plak gigi yang termineralisasi (kalkulus gigi).

II.3.6 Hubungan Plak Gigi dengan Karies

Karies gigi adalah penyakit gigi dimana komponen anorganik gigi


mengalami proses demineralisasi oleh asam hasil metabolisme
mikroorganisme plak. S.mutans dapat mengubah sukrosa menjadi asam
sehingga menyebabkan pH plak gigi menurun. Derajat keasamanan plak yang
rendah akan menyebabkan demineralisasi sehingga menyebabkan lemahnya
struktur gigi, kavitas pada gigi, bahkan hilangnya struktur pembentuk gigi.

II.3.7 Hubungan Plak Gigi dengan Penyakit Periodontal

Penyakit periodontal adalah suatu istilah yang digunakan untuk


menggambarkan penyakit yang disebabkan oleh proses inflamasi yang
menyerang jaringan lunak pendukung gigi. Apabila mikroorganisme yang
berada di sub gingival berjumlah sangat besar, maka mikroorganisme dan
produknya akan menyebabkan timbulnya reaksi imun tubuh untuk
mempertahankan diri. Apabila keadaan tidak menguntungkan bagi tubuh,
maka akan terjadi proses inflamasi dan timbul penyakit periodontal.

9
II.3.8 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Plak

Menurut Carlsson (cit. Putri 2009, Herijulianti 2011 & Nurjanah 2011)
faktor-faktor yang memengaruhi proses pembentukan plak gigi adalah sebagai
berikut.

Lingkungan fisik, meliputi anatomi dan posisi gigi, anatomi jaringan


sekitarnya, struktur permukaan gigi yang jelas terlihat setelah dilakukan
pewarnaan dengan larutan disklosing. Pada daerah terlindung karena
kecembungan permukaan gigi, pada gigi yang letaknya salah, pada permukaan
gigi dengan kontur tepi gusi yang buruk, pada permukaan email yang banyak
cacat, dan pada daerah pertautan sementoemail yang kasar, terlihat jumlah
plak yang terbentuk lebih banyak.

Friksi atau gesekan oleh makanan yang dikunyah. Ini hanya terjadi
pada permukaan gigi yang tidak terlindung. Pemeliharaan kebersihan mulut
dapat mencegah atau mengurangi penumpukan plak pada permukaan gigi.

Pengaruh diet terhadap pembentukan plak telah diteliti dalam dua


aspek, yaitu pengaruhnya secara fisik dan pengaruhnya sebagai sumber
makanan bagi bakteri di dalam plak. Jenis makanan, yaitu keras dan lunak,
memengaruhi pembentukan plak pada permukaan gigi. Ternyata plak banyak
terbentuk jika kita lebih banyak mengonsumsi makanan lunak, terutama
makanan yang mengandung karbohidrat jenis sukrosa, karena akan
menghasilkan dekstran dan levan yang memegang peranan penting dalam
pembentukan matriks plak.

II.4 Pasta Gigi

II.4.1 Definis Pasta Gigi

Pasta gigi adalah produk semipadat yang terdiri dari campuran bahan
penggosok, bahan pembersih dan bahan tambahan yang digunakan untuk
membantu membersihkan gigi tanpa merusak gigi maupun membran mukosa
mulut.

Sediaan pembersih gigi dapat berupa pasta, gel, pasta dengan lapisan
berwarna, serbuk atau cairan. Bentuk yang umum berada di pasaran adalah
10
dalam bentuk pasta dan gel. Sediaan dalam bentuk gel umumnya lebih disukai
karena mempunyai penampilan yang lebih baik.

Gambar 2. Pasta Gigi

II.4.2 Fungsi Pasta Gigi

Fungsi utama dari pasta gigi adalah menghilangkan pengotor dari


permukaan gigi dengan efek buruk yang kecil terhadap gigi. Timbulnya busa
saat menggosok gigi membuat proses pembersih gigi menjadi lebih
menyenangkan. Fungsi lain dari pasta gigi adalah untuk mencegah kerusakan
gigi dan mengurangi bau mulut (Mitsui, 1997).

Pasta gigi yang digunakan pada saat menyikat gigi berfungsi untuk:


Mengurangi pembentukan plak

Memperkuat gigi terhadap karies

Membersihkan dan memoles permukaan gigi

Menghilangkan atau mengurangi bau mulut

Memberikan rasa segar pada mulut serta memelihara kesehatan giginya.
Fungsi lain pasta gigi yaitu:

Meringankan iritasi karena gigitan serangga atau luka melepuh

Menenangkan luka bakar ringan

Meredakan jerawat yang meradang

Menghilangkan bau tidak sedap

Menghilangkan noda

Menghilangkan goresan pada sepatu

Menyingkirkan goresan krayon pada dinding.1,7

II.4.3 Kandungan Pasta Gigi

Pasta gigi biasanya mengandung bahan abrasif, pembersih, bahan


penambah rasa dan warna, serta pemanis, selain itu dapat juga ditambahkan
bahan pengikat, pelembab, pengawet, fluor, dan air.

11
A. Bahan abrasif
Bahan abrasif yang terdapat dalam pasta gigi umumnya berbentuk bubuk
pembersih yang dapat memolis dan menghilangkan stain dan plak. Bentuk
dan jumlah bahan abrasif dalam pasta gigi membantu untuk menambah
kekentalan pasta gigi. Bahan abrasif yang terdapat dalam pasta gigi tidak
sekeras email, tapi sekeras atau lebih keras dari dentin. Kandungan bahan
abrasif yang terdapat di dalam pasta gigi sebanyak 30-40%. Contoh bahan
abrasif ini antara lain natrium bikarbonat, kalsium karbonat, kalsium
sulfat, natrium klorida, partikel silika, dikalsium fosfat. Efek yang
diberikan oleh bahan ini antara lain membersihkan dan memoles
permukaan gigi tanpa merusak email, mempertahankan pelikel, mencegah
akumulasi stain.
B. Bahan pelembab atau humectant
Bahan ini terdapat dalam pasta gigi sebanyak 10-30%. Bahan pelembab
atau humectants ini dapat mencegah penguapan air dan mempertahankan
kelembaban pasta. Contoh bahan pelembab ini antara lain gliserin,
sorbitol, dan air.
C. Bahan pengikat
Bahan pengikat ini memberikan efek untuk mengikat semua bahan dan
membantu memberi tekstur pasta gigi, terdapat sebanyak 1-5% dalam
pasta gigi. Contoh bahan pengikat ini antara lain karboksimetil sellulose,
hidroksimetil sellulose, carragaenan, dan cellulose gum.
D. Deterjen atau surfactan
Deterjen dalam pasta gigi berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan
melonggarkan ikatan debris dengan gigi yang akan membantu gerakan
pembersihan sikat gigi. Persentasi deterjen dalam pasta gigi sebanyak 1-
2%. Contoh deterjen yang terdapat dalam pasta gigi antara lain Sodium
Laurly Sulfat (SLS) dan Sodium Nlaurly Sarcosinate.
E. Bahan pengawet
Bahan pengawet dalam pasta gigi berfungsi mencegah kontaminasi bakteri
dan mempertahankan keaslian produk. Jumlah bahan pengawet dalam
pasta gigi diatas dari 1%. Contoh bahan pengawet yang digunakan dalam
pasta gigi antara lain formalin, alcohol, dan natrium benzoat.
F. Bahan penggosok (polishing)
Bahan polishing ini merupakan salah satu bahan yang terpenting didalam
kandungan pasta gigi dimana fungsi dari bahan polishing ini ialah untuk
menghilangkan partikel partikel makanan yang menempel pada gigi dan

12
juga membantu menghilangkan diskolorisasi atau yang biasa disebut
terjadinya perubahan warna pada gigi. Dapat dikatakan bahwa hampir
separuh dari total berat pasta gigi adalah Bahan Polishing (penggosok).
Bahan yang sering digunakan sebagai bahan polishing antara lain sebagai
berikut : kapur presipitasi, Trikalsium Fosfat, Aluminium Fosfat,
Magnesium Trisilikat.
G. Bahan pewarna atau bahan pemberi rasa
Persentase bahan ini dalam pasta gigi sebanyak 1-5%. Bahan pewarna dan
bahan pemberi rasa ini berfungsi untuk menutupi rasa bahan-bahan lain
yang kurang enak, terutama SLS, dan juga memenuhi selera pengguna
seperti rasa mint, stroberi, dan rasa permen karet pada pasta gigi anak-
anak. Contoh bahan ini antara lain peppermint atau spearmint, menthol,
eucalyptus, aniseed,dan sakharin.
H. Air
Kandungan air dalam pasta gigi sebanyak 20-40% dan berfungsi sebagai
bahan pelarut bagi sebagian bahan dan mempertahankan konsistensi.
I. Bahan terapeutik
Bahan terapeutik yang terdapat dalam pasta gigi, antara lain :
1. Fluoride
Penambahan fluoride dalam pasta gigi dapat memperkuat enamel
dengan cara membuatnya resisten terhadap asam dan menghambat
bakteri untuk memproduksi asam. Adapun macam-macam fluoride
yang terdapat dalam pasta gigi yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Stannous fluoride
Tin fluor merupakan fluor yang pertama ditambahkan dalam pasta
gigi yang digunakan secara bersamaan dengan bahan abrasif
(kalsium fosfat). Fluor ini bersifat antibakterial, namun
kelemahannya dapat membuat stain abu – abu pada gigi.
b. Sodium fluoride
Naf merupakan fluor yang paling sering ditambahkan dalam pasta
gigi, tapi tidak dapat digunakan bersamaan dengan bahan abrasif.
c. Sodium desensitisasi
2. Bahan desensitisasi
Bahan desensititasi memberikan efek dengan cara mengurangi atau
menghilangkan sensitivitas dentin dengan cara efek desensitisasi
langsung pada serabut saraf, dan bahkan tersebut yang digunakan
dalam pasta gigi adalah sebagai berikut :
a. Potassium nitrat dapat memblok transmisi nyeri diantara sel-sel
syaraf.

13
b. Stronsium chloride dapat memblok tubulus dentin.
c. Bahan anti-tartar
Bahan ini digunakan untuk mengurangi kalsium dan
magnesium dalam saliva sehingga kedunya tidak dapat
berdeposit pada permukaan gigi. Contohnya tetrasodium
pyrophosphate.
d. Bahan antimikroba
Bahan ini digunakan untuk membunuh dan menghambat
pertumbuhan bakteri. Contoh bahan ini adalah triklosan
(bakterisisdal), zinc citrate atau zinc phosphate (bakteriostatik).
Selain itu ada beberapa herbal yang ditambahkan sebagai
antimikroba dalam pasta gigi, contohnya ekstrak daun sirih dan
siwak.
J. Bahan pemutih
Ada berbagai macam bahan pemutih yang digunakan antara lain sodium
carbonate, hydrogen perokside, citroxane, dan sodium
hexametaphosphate.

II.4.4 Syarat Mutu Pasta Gigi

Berikut syarat mutu dari pasta gigi :

No. Jenis Uji Satuan Syarat


1 Sukrosa atau karbohidrat lain yang dapat - Negatif
terfermentasi
2 pH - 4,5 – 10,5
3 Cemaran logam
Pb ppm Maksimal 5,0
Hg ppm Maksimal 0,02
As ppm Maksimal 2,0
4 Campuran mikroba
Angka lempeng total - <105
E.coli - Negatif
5 Zat Pengawet Sesuai dengan yang diijinkan
Dept. Kesehatan
6 Formaldehida maksimal sebagai % 0,1
formaldehida bebas
7 Flour bebas ppm 800 – 1500
8 Zat Warna - Sesuai dengan yang diijinkan
Dept. Kesehatan
14
9 Organoleptik
Keadaan Harus lembut, serba sama
(homogen) tidak terlihat adanya
gelembung udara, gumpalan, dan
partikel yang terpisah

Benda Asing Tidak tampak

II.4.5 Karakteristik Pasta Gigi

Karakteristik yang penting dari pasta gigi adalah konsistensi


kemampuan menggosok, penampilan, pembentukan busa, rasa, stabilitas dan
keamanan.
a. Konsistensi
Konsistensi menggambarkan reologi dari pasta. Konsistensi ideal
dari pasta yaitu mudah dikeluarkan dari tube, cukup keras sehingga dapat
mempertahankan bentuk pasta minimal selama 1 menit. Konsistensi dapat
diukur melalui densitas, viskositas, kelenturan. Viskositas adalah ukuran
resistensi zat cair untuk mengalir. Makin besar resistensi suatu zxat cair
untuk mengalir, makin besar pula viskositasnya
b. Kemampuan menggosok
Pasta gigi dapat memiliki kemampuan menggosok yang sangat
bervariasi. Pasta gigi yang ideal harus memiliki kemampuan menggosok
yang cukup untuk dapat dibersihkan dan membersihkan partikel atau noda
dan mengkilatkan permukaan gigi
c. Penampilan
Pasta gigi yang disukai biasanya lembut, homogen, mengkilat,
bebas dari gelembung udara dan memiliki warna yang menarik.
d. Pembentukan busa
Surfaktan yang digunakan harus dapat mensuspensikan dan
membersihkan sisa makanan melalui proses gosok gig.
e. Rasa
Rasa dan aroma merupakan hal yang paling diperhatikan konsumen
dan merupakan karakteristik yang penting untuk mengetahui apakah
konsumen akan membeli produk atau tidak.
f. Stabilitas
Formulasi pasta gigi harus stabil, sesuai dengan waktu
penyimpanan. Waktu penyimpanan pasta gigi dapat mencapi tiga tahun.

15
Sediaan pasta gigi tidak boleh memisah atau terjadi sineresis. Viskositas
dan pH sediaan pasta gigi harus dapat dipertahankan selama waktu
penyimpanan.

II.4.6 Metode Pembuatan Pasta Gigi

Metode pembuatan dalam pasta gigi adalah metode preparasi. Ada 2


metode preparasi, yaitu :

 Metode 1
Pengikat sebelum dibasahi dengan zat pelembab, didispersikan pada
bagian cair yang mengandung sakarin dan pengawet dan gerus agar
membentuk gel yang homogen. Penggerusan dapat dipercepat oleh panas
dan agitasi. Bahan abrasif ditambahkan perlahan – lahan ke gel homogen
dan dicampur dengan mixer sampai terbentuk pasta. Kemudian perasa dan
surfaktan ditambahkan dicampur dan digiling sampai homogen.
 Metode 2
Pengikat dicampur dengan bahan abrasif, kemudian dicampur dengan fase
cair (humektan, pengawet, dan pemanis) ke dalam mixer. Setelah terbentuk
pasta yang homogen, ditambahkan perasa dan surfaktan, dicampur, dan
digiling sampai homogen.

II.4.7 Evaluasi Sediaan Pasta Gigi

Evaluasi sediaan pasta gigi secara umum, yaitu :

1. Uji abrasif
2. Uji ukuran partikel
3. Uji kemampuan membersihkan
4. Uji konsistensi
5. Uji pH
6. Uji daya busa (kemampuan berbusa)

16
BAB III

METODOLOGI

III.1 Formula Pasta Gigi Antiplak

Bahan Formula Formula Formula Formula Formula Fungsi


(g) I(4) (%) II(5) (%) III(6) (%) IV(9) (%) V

Bromelin Kasar dari 5 Bahan aktif


Nenas
Propolis 1 Bahan aktif
Minyak cengkeh 1,2 Bahan aktif
Gambir 0,1 Bahan aktif
Ekstrak daun sirih 5 Bahan aktif
Kalsium Karbonat 40 50 30 44 35 Bahan abrasif
Magnesium Karbonat 2 2 Bahan penggosok
Gliserin 18 20 10 30 20 Humectan
Sorbitol 70% 10 4 8 Humectan
Na. CMC 1 1,5 1,5 Bahan pengikat
PGA 15 Bahan pengikat
Gum Tragacanth 1 Bahan pengikat
Na. Lauryl sulfat 1 1 1 Surfaktan
Sodium Lauril Sulfat 2,5 Surfaktan
Na. Benzoat 0,1 0,1 0,1 Pengawet
Na. Metabisulfit 0,25 0,1 Pengawet
Sakarin 0,2 0,1 0,2 0,1 0,2 Pemanis
Ol. Mentha piperita 0,3 0,3 0,1 0,3 Pemberi rasa
Air ad 100 ad 100 ad 100 8,9 ad 100 Pelarut

III.1.1 Keuntungan Formula I

 Dapat mengurangi plak dengan menggunakan basis pasta yang


mengandung abrasif kalsium karbonat dan surfaktan natrium lauril sulfat
yang terdapat dalam formula.
 Adanya dugaan bahwa bromelain dapat memutuskan ikatan protein dari
sisa makanan yang menempel pada gigi.
 Pasta gigi bromelain kasar diduga mempunyai kemampuan untuk
memecah atau menguraikan protein saliva.

III.1.2 Keuntungan Formula II

17
 Pasta gigi dengan kandungan propolis dapat menghambat pembentukan
plak gigi.
 Pasta gigi yang mengandung propolis dapat menghambat pertumbuhan S.
mutans dan Streptococus oral dan bakteri saliva secara in vitro.

III.1.3 Keuntungan Formula III

 Pasta gigi pada formula III memiliki rasa segar mint dan wangi cengkeh
sehingga membuat nafas menjadi segar.
 Pasta gigi dengan kandungan zat aktif minyak cengkah memiliki daya
hambat antibakteri terhadap bakteri S.mutans.
 Pasta gigi dapat menghambat terbentuknya plak gigi.

III.1.4 Keuntungan Formula IV

 Pasta gigi yang dapat menghambat terjadinya plak gigi


 Pasta gigi yang memiliki kandungan gambir memiliki aktivitas antibakteri
yang dapat menghambat pertumbuhan S.mutans.

III.1.5 Keuntungan Formula V

 Pasta gigi pada formula ke V mengandung ekstrak daun sirih yang


digunakan untuk membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri.
 Pasta gigi formula ke V juga mengandung menthol yang dapat
memberikan rasa segar pada mulut. Selain itu, menthol merupakan salah
satu bahan anti plak dari minyak essensial yang memiliki anti bakteri.
 Pasta gigi dengan formula ke V dapat mengurangi plak pada permukaan
gigi dan mengurangi gingivitis.
 Pasta gigi dengan kandungan ekstrak daun sirih dapat menghentikan
pertumbuhan Streptococcus mutans.

III.2 Karakteristik Bahan Formula V

a. Ekstrak Daun Sirih


Ekstrak daun sirih memiliki bahan antimkroba yang dapat membunuh dan
menghambat pertumbuhan bakteri.
b. Gliserin
Rumus kimia : C3H8O3
BM : 92,10
Pemerian : Cairan seperti sirup; jernih, tidak berwarna; tidak berbau;
manis diikuti rasa hangat. Higroskopik. Jika disimpan beberapa
18
lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk masa
hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu
mencapai lebih kurang 20 ̊C.
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dan dengan etanol (95%) P; praktis
tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam minyak
lemak.
Stabilitas : Terhadap udara : higroskopis dengan adanya udara dari luar
(mudah teroksidasi). Terhadap panas : mudah terdekomposisi
dengan adanya pemanasan, mengkristal dalam suhu rendah,
kristal tidak akan mencair sampai dengan suhu 200 C akan
timbul ledakan jika dicampur dengan bahan teroksidasi.
Inkompatibilitas :
 Seperti kromium trioksid, kalium borat atau kalium
permanganat.
 Berubah warna menjadi hitam dengan adanya cahaya atau
setelah kontak dengan ZnO dan bisulfat.
 Gliserin kontaminan yang mengandung logam akan
berubah warna dengan penambahan fenol salisilat dan tanin
 Asam borat membentuk kompleks gliseroborik acid (lebih
kuat dari pada asam borat)
Penyimpanan : Dalam wadah kering
Fungsi : Bahan pelembab/humectan
c. Sorbitol
Pemerian : serbuk, butiran atau kepingan; putih ; rasa manis; higroskopis
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol (95%)
P, dalam metanol P dan dalam asam asetat P
Stabilitas : Relatif inert dan kompatibel dengan sebagian besar bahan
tambahan; stabil di udara.
Inkompatibilitas : tidak bercampur dengan larutan asam berkonsentrasi tinggi
dan larut dengan garam besi juga beberapa logam seperti
aluminium, merkuri, dan zink.
Fungsi : Humectan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
d. Na. CMC
Pemerian : Berwarna putih sampai krem, hampir tidak berasa, hampir
tidak berbau, berbentuk serbuk atau granul.
Kelarutan : Mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloid. Tidak
larut dalam etanol, dalam eter dan dalam pelarut organik lain
Stabilitas : Higroskopis dan dapat menyerap air pada kelembapan tinggi.
Stabil pada pH 2 – 10, pengendapan terjadi pada pH 2,
19
viskositas berkurang pada pH lebih dari pH 10. Sterilisasi cara
kering pada suhu 1600 C selama 1 jam, akan mengurangi
viskositas dalam larutan. Perlu penambahan antimikroba dalam
larutan
Inkompatibilitas : Inkompatibilitas dengan larutan asam kuat dan dengan larutan
garam dari beberapa logam. Pengendapan terjadi pada pH 2 dan
pada saat pencampuran dengan etanol 95%. Membentuk
kompleks dengan gliserin dan pektin
Fungsi : Bahan pengikat
e. Kalsium Karbonat
Rumus Molekul : CaCO3
BM : 100,09
Pemerian : serbuk, hablur mikro, putih; tidak berbau; tidak berasa; stabil
di udara
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air; kelarutan dalam air meningkat
dengan adanya sedikit garam amonium atau karbon dioksida;
adanya alkali hidroksida menurunkan kelarutan; tidak larut
dalam etanol, larut dalam asam nitrat 1 N, dalam asam klorida
3N dan dalam asam nitrat 2N dengan membentuk gelembung
gas.
Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan asam dan garam amonium.
Fungsi : Bahan Abrasif
f. Magnesium Karbonat
Pemerian : Serbuk; putih; tidak berbau; tidak berasa.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam asam encer dan
disertai terjadinya buih kuat
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Fungsi : Bahan penggosok
g. Natrium Lauryl Sulfate
Nama lain : Dodecyl sodium sulfat, sodium monolauryl sulfat
Rumus molekul : C12H25NaO4S
Pemerian : serbuk atau hablur, putih atau kuning pucat, bau lemah dan
khas
Kelarutan : sangat larut dalam air, larutan berkabut, larutan sebagian
dalam etanol (95%) P
Inkompatibel : kationik surfaktan, garam alkaloid, garam potassium.
Stabilitas : Stabil dalam kondisi penyimpanan normal, dalam larutan
dengan pH 2,5 atau kurang akan mengalami hidrolisis.
Fungsi : Surfaktan
h. Natrium Benzoat
Rumus kimia : C7H5NaO2
BM : 144,11
20
Pemerian : Butiran, serbuk hablur putih ;tidak berbau atau hampir tidak
berbau
Kelarutan : larut dalam 2 bagian air, dan dalam 90 bagian etanol (95%)P
Konsentrasi : 0,02% - 0,5%
Stabilitas : Larutan dapat disterilisasi dengan autoklaf dan filtrasi
Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan senyawa kuartener, gelatin, garam feri,
garam kalsium. Aktivitas pengawet biasanya berkurang karena
interaksi dengan kaolin atau surfaktan nonionik.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Fungsi : Pengawet
i. Sakarin
Rumus kimia : C12H22O11.H2O
BM : 36,30
Pemerian : serbuk hablur ; putih; tidak berbau; rasa agak manis
Kelarutan : larut dalam 6 bagian air, larut dalam 1 bagian air mendidih;
sukar larut dalam etanol (95%); praktis tidak larut dalam
kloroform P dan dalam eter
Fungsi : Pemanis
j. Oleum Mentha Piperita
Nama lain : Minyak permen
Pemerian : Cairan, tidak berwarna, kuning pucat atau kuning kehijauan,
bau aromatik, rasa pedas dan hangat, kemudian dingin.
Kelarutan : Larut dalam 4 bagian volume etanol (70%)P.
Fungsi : Pemeberi rasa
k. Air
Rumus Kimia : H2O
BM : 18,02
Pemerian : cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai
rasa.
Fungsi : pelarut

III.3 Metode Pembuatan Formula V

Metode pembuatan yang dilakukan dalam formula V adalah metode preparasi


dengan metode kedua. Berikut cara membuat sediaan dari formula V :

1. Siapkan alat dan bahan.


2. Buat ekstrak daun sirih dengan cara maserasi menggunakan pelarut air.
3. Na. CMC ditaburkan diatas air panas (15x jumlah Na. CMC) didiamkan selama
15 menit dan diaduk homogen. Kemudian ditambahkan kalsium karbonat gerus
sampai halus dan homogen. (Massa 1)
4. Gliserin ditambah dengan sorbitol 70% di gerus sampai homogen. Ditambahkan
ekstrak daun sirih gerus sampai halus dan homogen (Massa 2)

21
5. Sakarin dan natrium benzoat dilarutkan dalam sisa air, diaduk sampai homogen.
6. Massa 2 ditambahkan kedalam massa 1 gerus sampai halus dan homogen.
Kemudian ditambahkan massa 3, digerus sampai halus dan homogen.
7. Kemudian ditambahkan natrium lauryl sulfat, gerus sampai halus dan homogen
sampai terbentuk massa pasta.
8. Ol. mentha piperita dimasukkan terakhir, diaduk sampai halus dan homogen.
9. Kemudian masukan pasta ke dalam tube.

III.4 Evaluasi Sediaan Formula V

III.4.1 Uji Organoleptis

Pengamatan sediaan akhir meliputi bau, rasa, dan warna yang diamati
secara obyektif dan kontinyu. Pengamatan ini bertujuan untuk melihat terjadinya
perubahan secara signifikan pada sediaan akhir yang telah dibuat. Pengamatan
sediaan meliputi bentuk sediaan, bau, dan warna.

III.4.2 Uji Kemampuan Membersihkan

Tarik garis sepanjang cangkang telur dengan spidol permanen, basahi


sikat dengan air dan kelebihan air pada sikat dikibaskan. Sikat yang sudah
terbasahi diberi pasta gigi. Menyikat satu sisi cangkang telur dengan sikat gigi
selama 5-10 sapuan. Bilas dan amati cangkang telur untuk melihat apakah
warnanya sudah tehapus atau tidak.

III.4.3 Uji pH

Buat larutan dari 1 gram pasta yang dilarutkan dalam 25 mL aquades lalu
digunakan kertas pH indikator yang dicelupkan ke dalam sediaan. Akan terjadi
perubahan warna dan dicocokan dengan standart warna pH tertentu.

III.4.4 Uji Pemeriksaan Ukuran Partikel

0,01 gram pasta dari 3 tempat berbeda diambil. Tiap sampel diletakkan
pada kaca objek, lalu dengan bantuan kaca objek lain ditahan di bawah mikroskop
dengan pembesaran 100x. Pengukuran terhadap 300 – 500 partikel.

III.4.5 Uji Daya Busa (Uji Kemampuan Berbusa)

Larutkan 1 gram pasta dengan 25 mL air. Tuangkan 5 mL larutan kedalam


tabung reaksi. Tutup atas tabung reaksi dengan kedua jari tangan lalu kocok
22
ringan sebanyak 25 kali. Amati busa yang terbentuk selama 30 menit untuk
menilai kestabilan busanya, kemudian amati onset, durasi dan kuantitas dari
busa.

III.4.6 Uji Daya Sebar

Pasta sebanyak 1 gram diletakkan pada lempeng kaca berskala, lalu


diatasnya ditutup lempeng kaca dan diberi beban 5 gram lalu di diamkan. Lalu
bahan ditambah dengan beban 5 gram tiap 2 menit, hingga pasta tidak dapat
menyebar lagi diameter sebarnya.

III.4.7 Uji Viskositas

10 g pasta dimasukkan kedalam cawan porselen lalu pasangkan spindel


pada viskotester. Pasang spindel hingga tercelup seluruhnya dalam sediaan
pasta yang akan diamati, lalu catat besar viskositas yang ditunjukkan oleh
skala pada viskotester.

III.4.8 Uji Daya Abrasif

Letakkan 1 gram pasta gigi pada object glass bersih lalu ditambahkan
1-2 tetes aquades. Gosok pasta gigi kedepan dan kebelakang untuk meratakan
dengan kapas bersih dengan gerakan bolak-balik dengan panjang gosokan 1
cm. Bilas object glass dengan air dan keringkan dengan tissu kering setelah itu
dilihat bekas goresan dibawah mikroskop dengan skala 0 (tidak ada goresan)
sampai skala 5 (tingkat tinggi goresan).

III.4.9 Uji Konsistensi

Pasta yang telah dimasukkan kedalam tube diuji konsistensinya dengan


cara pasta dikeluarkan dari tube dan di tempelkan pada bulu sikat untuk
melihat

 Kemampuan atau kemudahan keluar dari tube


 Kemampuan mempertahankan bentuk
 Kemampuan menempel pada bulu sikat

III.4.10 Uji Stabilitas

23
Uji stabilitas dilakukan terhadap sediaan berbagai suhu diantaranya
ialah pada suhu 270C, 450C dan 550C selama 4 minggu.

III.5 Karakteristik Sediaan Pada Formula V

Pada sediaan formula V, didapat karakteristik :

 Sediaan memiliki pH 6 yang sesuai dengan syarat yang berlaku


 Sediaan berbentuk pasta, berwarna putih, dan memiliki rasa mint
 Membuat gusi dan gigi lebih sehat, lebih segar,dan lebih bersih
 Menghilangkan dan mencegah plak atau karang gigi dengan mengguanakan bahan
alami
 Dapat membersihkan gigi dan menguatkan gigi
 Tidak terlalu banyak mengandung bahan kimia
 Cukup lembut dan mudah dikeluarkan dari kemasan atau tube,tetapi tidak sangat
lunak.
 Meski kemasannya terbuka,tidak kering
 Penggunaannya pada mulut,maka harus memberikan rasa segar

 Membersihkan dan memberikan rasa segar dan kepuasan

 Produk ini ekonomis dan stabil pada kemasannya

24
BAB IV
PEMBAHASAN

IV.1 Formula Pasta Gigi Anti Plak


R/ Ekstrak Daun Sirih 5%
Kalsium Karbonat 35%
Magnesium Karbonat 2%
Gliserin 20%
Sorbitol 70% 8%
Na. CMC 1,5%
Na. Lauryl Sulfat 1%
Na. Benzoat 0,1%
Sakarin 0,2%
Ol. Mentha piperita 0,3%
Aqua destilata ad 100%
IV.2 Alasan Pemilihan Bahan
Dalam formula V, digunakan ekstrak daun sirih dikarenakan daun sirih
memiliki kandungan bahan antimikroba dimana bahan ini dapat membunuh dan
menghambat pertumbuhan bakteri sehingga tidak terjadi timbulnya plak pada gigi.
Penggunaan bahan abrasive, yaitu kalsium karbonat. Bahan kalsium karbonat
memiliki sifat abrasive untuk menghilangkan plak dan penyebab timbulnya bakteri
seperti partikel-partikel makanan yang menempel pada lapisan. Kalsium karbonat
memiliki efek samping yang dapat diminimalisir, sehingga dapat pembuatan pasta
gigi dipilih kalsium karbonat sebagai bahan abrasive.
Penggunaan magnesium karbonat sebagai bahan penggosok, dimana bahan
penggosok berfungsi untuk menghilangkan partikel partikel makanan yang menempel
pada gigi dan juga membantu menghilangkan diskolorisasi atau yang biasa
Bahan pengikat dalam formula V yang digunakan adalah Na. CMC.
Penggunaan Na. CMC dikarenakan harga murah dan mudah didapatkan. Na. CMC
sangat tepat digunakan sebab kompatible dengan bahan – bahan lain.

25
Penggunaan sakarin dalam formula V digunakan sebagai pemanis. Sakarin
memiliki rasa manis 300 – 600x sukrosa dengan pemakaian yang sedikit. Bahan ini
lebih aman dibandingkan aspartan dan Na. Siklamat.
Gliserin digunakan sebagai humektan. Gliserin memiliki multiple fungsi, dapat
digunakan sebagai humektan, pengawet, dan pemanis. Dapat memberi rasa manis
setelah rasa pahit yang ditimbulkan oleh sakarin. Dalam formula yang akan dibuat,
sorbitol 70% juga sebagai humektan. Sorbitol merupakan salah satu bahan
pelembab atau humektan yang dapat mencegah penguapan air dan
mempertahankan kelembaban pasta. Gliserin dengan sorbitol 70% akan bekerja lebih
baik dalam pasta gigi (bekerja lebih sinergi).
Formula V digunakan Na. lauril sulfat yang berfungsi sebagai surfaktan.
Natrium lauril sulfat selain sebagai surfaktan juga sebagai pengawet. Bahan ini
memiliki HLB yang tinggi sehingga sifatnya sebagai surfaktan dan foaming agent.
Natrium benzoat pada penggunaan formula V sebagai bahan pengawet.
Pemilihan natrium benzoat pada formula V karena lebih sering digunakan.
Oleum menthae piperita digunakan untuk memberikan rasa segar dimulut. Hal
ini untuk menambah daya tarik pada konsumen. Aqua destilata digunakan untuk
melarutkan bahan yang tidak dapat larut.
IV.3 Metode Pembuatan
Metode pembuatan dalam formula V yaitu metode preparasi pada metode
yang kedua. Dimana dalam metode ke – 2 preparasi ini, Na CMC digerus dengan air
sampai terbentuk basis gel. Kemudian dicampur dengan kalsium karbonat dan
magnesium karbonat digerus sampai halus dan homogen (Massa 1). Dalam lumpang
terpisah, gliserin + sorbitol 70% + ekstrak daun sirih digerus sampai halus dan
homogen (Massa 2). Sakarin dan Na. Benzoat dilarutkan dengan sisa air (Massa 3).
Kemudian Massa 1 dicampur dengan massa 2 digerus sampai halus dan homogen.
Ditambahkan Massa 3 digerus sampai halus dan homogen. Setelah itu ditambahkan
natrium lauryl sulfat gerus sampai halus dan homogen. Kemudian ditambahkan ol.
mentha piperita gerus sampai halus dan homogen. Lalu masukkan di dalam tube.

26
BAB V
KESIMPULAN

 Komponen sediaan pasta gigi terdiri bahan abrasif, humectan, bahan pengikat, surfaktan,
pengawet, bahan penggosok, bahan pemberi rasa dan air.
 Karakteristik sediaan pasta gigi secara umum yang penting adalah konsistensi
kemampuan menggosok, penampilan, pembentukan busa, rasa, stabilitas dan keamanan.
 Metode pembuatan dalam formula V yaitu metode preparasi pada metode yang kedua.
Dimana dalam metode ke – 2 preparasi ini, Na CMC digerus dengan air sampai
terbentuk basis gel. Kemudian dicampur dengan kalsium karbonat dan magnesium
karbonat digerus sampai halus dan homogen (Massa 1). Dalam lumpang terpisah,
gliserin + sorbitol 70% + ekstrak daun sirih digerus sampai halus dan homogen (Massa
2). Sakarin dan Na. Benzoat dilarutkan dengan sisa air (Massa 3). Kemudian Massa 1
dicampur dengan massa 2 digerus sampai halus dan homogen. Ditambahkan Massa 3
digerus sampai halus dan homogen. Setelah itu ditambahkan natrium lauryl sulfat gerus
sampai halus dan homogen. Kemudian ditambahkan ol. mentha piperita gerus sampai
halus dan homogen. Lalu masukkan di dalam tube.
 Evaluasi sediaan pasta gigi yang dibuat, meliputi : uji organoleptik, uji kemampuan
membersihkan, uji pH, uji daya sebar, uji viskositas, uji daya abrasif, konsistensi, dan uji
stabilitas.
 Karakteristik dari sediaan yang dibuat, diantaranya :
 Sediaan memiliki pH 6 yang sesuai dengan syarat yang berlaku
 Sediaan berbentuk pasta, berwarna putih, dan memiliki rasa mint
 Membuat gusi dan gigi lebih sehat, lebih segar,dan lebih bersih
 Menghilangkan dan mencegah plak atau karang gigi dengan mengguanakan bahan
alami
 Dapat membersihkan gigi dan menguatkan gigi
 Tidak terlalu banyak mengandung bahan kimia
 Cukup lembut dan mudah dikeluarkan dari kemasan atau tube,tetapi tidak sangat
lunak.
 Meski kemasannya terbuka,tidak kering
 Penggunaannya pada mulut,maka harus memberikan rasa segar
 Membersihkan dan memberikan rasa segar dan kepuasan
 Produk ini ekonomis dan stabil pada kemasannya

 Keunggulan formula V pasta gigi yang dibuat, yaitu :


27
 Pasta gigi pada formula ke V mengandung ekstrak daun sirih yang digunakan untuk
membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri.
 Pasta gigi formula ke V juga mengandung menthol yang dapat memberikan rasa
segar pada mulut. Selain itu, menthol merupakan salah satu bahan anti plak dari
minyak essensial yang memiliki anti bakteri.
 Pasta gigi dengan formula ke V dapat mengurangi plak pada permukaan gigi dan
mengurangi gingivitis.
 Pasta gigi dengan kandungan ekstrak daun sirih dapat menghentikan pertumbuhan
Streptococcus mutans.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Mutmainah, Muthia. 2013. Pengaruh Pasta Gigi Yang Mengandung Ekstrak Daun
Sirih Dalam Mengurangi Plak dan Gingivitis Pada Gingivitis Marginalis Kronis. Skripsi.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin. Makasar.
2. Cahyanti, Putu Isa. 2014. Penggunaan Pasta Gigi Herbal Daun Sirih Lebih
Menurunkan Akumulasi Plak Gigi Daripada Pasta Gigi Non Herbal Fluoride Pada Siswa
Kelas VIII SMPK 1 Harapan Denpasar. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Mahasaraswati. Denpasar.
3. Hartono, Ronald. 2013. Studi Komposisi Pasta Gigi Detergen Dan Pasta Gigi Non
Detergen Terhadap Pertumbuhan Plak Dan Sekresi Saliva: Penelitian Dilakukan Pada Murid
Sekolah Dasar Inpres Universitas Hasanuddin, Kecamatan Tamalarea Jaya, Kelurahan
Tamanlarea Kota Madya Makassar. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Hasanuddin. Makassar.
4. Harmely, Fifi. Lucida Henny, Mukhtar, M.Husni. 2011. EFEKTIFITAS
BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas comosus L. Merr) SEBAGAI
ANTIPLAK DALAM PASTA GIGI. Scientia Vol 1 (No. 1): 14-20.
5. Aisyiyah Listyasari, Nurin. 2012. PENGARUH PASTA GIGI DENGAN
KANDUNGAN PROPOLIS TERHADAP PEMBENTUKAN PLAK GIGI. Laporan Akhir
Hasil Penelitian, Karya Tulis Ilmiah. Fakultas Kedokteran Gigi. Semarang : Universitas
Diponegoro.
6. Harmely, Fifi., dkk. 2012. Formulasi Pasta Gigi Minyak Cengkeh (Oleum
caryophylli) dan Uji Aktivitas Antibakteri Terhadap Streptococcus mutans. Scientia 2(1) : 36-
40.
7. Rahman, Dea Arditia. 2009. Optimasi Formula Sediaan Gel Gigi Mengandung
Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L) Dengan Na CMC Sebagai Gelling Agent.
Skripsi. Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam
Negri (UIN) Syarifhidayatullah. Jakarta.
8. Winarti, Lina. 2013. Diktat Kuliah Formulasi Sediaan Semisolid (Formulasi Salep,
Krim, Gel, Pasta, dan Suppositoria) Semester VI. Fakultas Farmasi Universitas Jember.
9. Bayuarti, Yannita Dwi. 2006. Kajian Proses Pembuatan Pasta Gigi Gambir (Uncaria
gambir Roxb) Sebagai Antibakteri. Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Bogor.

29
10. Dewantini, Lida A., dkk. 2010. Penggunaan Na-CMC Sebagai Gelling Agent Dalam
Formula Pasta Gigi Ekstrak Etanol 70% Daun Jambu Biji (Psidium guajava L). Jurusan
Farmasi UHAMKA Jakarta. Farmasains Vol 1 No.1.
11. Sipayung, Artha Graha., dkk. 2015. Permen Pasta Gigi Dari Daun Sirih. Universitas
Sriwijaja Indralaya.
12. Pintauli Sondang, Hamada Taizo. Menuju Gigi dan Mulut Sehat : Pencegahan dan
Pemeliharaan. Medan: USU Press; 2008. Available from: http://usupress.usu.ac.id
13. Dr. Retno Iswari Traggono, SpKK, Dra Fatwa Latifah, Apt. Buku Pegangan Ilmu
Pengetahuan Kosmetik. 2007. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama

30

Anda mungkin juga menyukai