Anda di halaman 1dari 12

Perencanaan Strategis dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Madrasah

PERENCANAAN STRATEGIS
DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
DI MADRASAH

Oleh:
Moh. Nahrowi

ABSTRACT
Implementation of education can not be separated by management, which
contains Planning, Organizing, Actuatin and controlling, with the management of
both educational institutions able to provide optimal service to the community,
with quality management educational institutions capable of printing quality
generation and with good quality management also good institutions capable of
bringing positive change to this country. Planning as a first step in management
has a very important role as a capital management of an institution / institution,
which will produce the generations of excellence in achieving, independent, noble
and able to compete with other countries. Therefore, the head of the madrasah
needs to apply the strategic planning in the madrasah which includes the
Foundational Model, the Early Action Planning Model and The Three-Strand
Concurrent Model with their respective characteristics becoming part of the
strategic management process related to the short, medium and long term
objectives identification process from an institution or organization, extracting
ideas and options, taking necessary steps to achieve the stated objectives, and
monitoring (monitoring) progress or failure in order to determine future
strategies.

Keywords: Perencanaan Strategis dan Penyelenggaraan Pendidikan

PENDAHULUAN
Menejemen lembaga pendidikan yang berkualitas akan mampu memberi
pelayanan yang optimal kepada masyarakat, dengan menejemen lembaga
pendidikan yang berkualitas mampu mencetak generasi berkualitas dan dengan
menejemen lembaga yang baik mampu memebawa perubahan positif bagi Nega-
ra. Agar dapat mewujudkan kualitas dalam menejemen perlu diketahui unsur-
unsur menejemen tersebut, sebagaimana pendapat G.R. Terry yang menyusun
fungsi menejemen ada empat unsur yaitu Planning (perencanaan), Organizing
(pengorganisasian) Aktuating (pengarahan) dan Controlling (pengendalian)1.

1
Terry, R., George, Dasar-Dasar Manajemen,Bumi Akara (Jakarta:2014) 9-10.

Falasifa, Vol. 8 Nomor 1 Maret 2017 | 53


Moh. Nahrowi

Kesempunaan dan kesuksesan dalam segala bidang memang membutuhkan


perencanaan secara optiml. Sebagaimana termaktub dalam al-Qura’an Surah at-
Tin ayat 4, Allah SWT berfirman:
; ۡۡ ۡ ۡ ۡ ۡ ۡ
Artinya: sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-
baiknya [Q.S: At Tin: 4].

Untuk menjadikan manusia yang sempurna Allah menciptakan anatomi


tubuh manusia penuh dengan perencanaan yang luar biasa yang bentuk dan
mekanisme kerjanya disesuaikan dengan fungsinya. misalnya betuk mata, tempat
mata, cara kerja mata dan beberapa organ penyusun mata yang saling bersinergi
untuk menampilkan gambar obyek yang sama dengan aslinya. Dan firman Allah
dalam Surah al-Hasyr ayat 18:
ۡ ۡ ۡ ۡ ۡ ۡۡ ۡ ۡ ۡ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan[al-Hasyr:18].

Dari ayat di atas ada perintah untuk mempersiapkan kegiatan atau amal
yang dapat bermanfaat guna untuk masa yang akan datang. Melalui introspeksi
diri dan hasilnya digunakan untuk perencanaan kegiatan atau amal untuk masa
depan. Dari kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa perencanaan dalam seluruh
intitusi wajib untuk dilakukan terutama bagi lembaga pendidikan.
Perencanaan pendidikan menempati posisi strategis dalam keseluruhan
proses pendidikan. Perencanaan pendidikan itu memberikan kejelasan arah dalam
usaha proses penyelenggaraan pendidikan, sehinga manajemen lembaga
pendidikan akan dapat dilaksanakan lebih efektif dan efisien.
Sasaran minimal pengembangan madrasah yang dituangkan dalam setiap
rencana pengembangan madrasah haruslah menggunakan standar
penyelenggaraan pendidikan yang berlaku secara nasional. Peraturan Pemerintah
Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan merupakan
ketentuan rinci mengenai standar-standar nasional pendidikan sebagaimana
diamanatkan dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003. Peraturan Pemerintah
ini menetapakan arah reformasi pendidikan nasional dalam rangka mencapai visi,

54 | Falasifa, Vol. 8 Nomor 1 Maret 2017


Perencanaan Strategis dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Madrasah

misi, dan tujuan pendidikan nasional. PP nomor 19 tahun 2005 menetapkan


delapan standar yang meliputi: standar isi, standar proses, standar kompetensi
lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana,
standar pengelolaan, standar pembiayaan, serta standar penilaian pendidikan2.
Di antara standar-standar tersebut, standar pengelolaan pada tingkat satuan
pendidikan merupakan standar terpenting yang harus dijadikan acuan dalam
perencanaan pengembangan madrasah. Secara filosofis, dalam kegiatan kehidupan
sehari-hari kita selalu penuh dengan perencanaan. Akan tetapi, sering tidak
disadari bahwa kita telah melakukan perencanaan. Perencanaan madrasah menjadi
sesuatu yang penting sebelum melaksanakan program madrasah. Perencanaan
dianggap penting karena akan menjadi penentu dan sekaligus memberi arah
terhadap tujuan madrasah yang ingin dicapai.
Untuk mewujudkan hal tersebut kepala madrasah sebagai menejer memiliki
peran yang sangat penting. sebagaimana Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah ditegaskan bahwa salah
satu kompetensi yang harus dimiliki seorang kepala sekolah adalah kompetensi
kepribadian, kompetensi menejerial, kompetensi supervisi, kompetensi sosial dan
kompetensi kewirausahaan3.
Penyusunan EDM (Evaluasi Diri Madrasah), RKT (Rencana Kerja
Tahunan) dan RKM (Rencana Kerja Madrasah) di beberapa lembaga masih
terabaikan, padahal untuk dapat mengukur keberhasilan suatu lembaga pendidikan
adalah melalui barometer planning, sehingga menjadi mutlak untuk dapat
menerapkan fungsi planning dalam mewujudkan lembaga yang bermutu.

KAJIAN TEORI
A. Pengertian Perencanaan
Menurut Harold Koontz dan Cyril O’Donnel yang dikutip oleh Samsudin
menyebutkan, “Perencanaan adalah fungsi menejer yang berhubungan dengan
memilih tujuan-tujuan, kebijakan-kebijakan, prosedur-prosedur, program-
program dan alternative-alternatif yang ada4.
Sedangkan menurut Terry Perencanaan adalah kegiatan menentukan
tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan dating dan apa

2
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan. 2005. Jakarta: Sekretariat Jenderal Departeman Pendidikan Nasional.
3
Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah
4
Sadili Samsuddin, Manajemen Sumber Daya Manusia(Bandung: Pustaka Setia,
2010) 59.

Falasifa, Vol. 8 Nomor 1 Maret 2017 | 55


Moh. Nahrowi

yang harus diperbuat untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut5.


Roger A. Kaufman yang dikutib oleh Nanang Fattah, perencanaan adalah
proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan mentapkan jalan
dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu seefisien dan seefektif
mungkin6.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan merupakan
suatu aktivitas penetuan tujuan atau kegiatan yang harus dilakukan sebelum
memulai suatu pekerjaan berupa gambaran langka kinerja atau rumusan program
dalam mengoptimalkan segala sumber daya yang ada serta meramalkan hal-hal
yang kemungkinan terjadi untuk pencapaian tujuan.
Dari kesimpulan di atas, maka perencanaan dalam penyelenggaraan
pendidikan memiliki pengertian kegiatan yang berkaitan dengan usaha
merumuskan program pendidikan yang didalamnya memuat sesuatu yang akan
dilaksanakan, penentuan tujuan pendidikan, kebijaksanaan dalam pendidikan, arah
yang akan ditepuh dalam kegiatan pendidikan, prosedur, dan metode yang akan
diikuti dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan, proses kegiatan pendidikan,
serta pola pengadaan dan penggunaan sumber daya yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan dalam pendidikan.

B. Urgensi Perencanaan dalam Penyelenggaraan Pendidikan


Perencanaan dalam penyelenggaraan pendidikan merupakan bagian
terpenting dari gerak lajunya lembaga pendidikan. Oleh sebab itu lembaga
pendidikan perlu membuat rencana umum yang menyeluruh untuk kemudian
dibuat rencana-rencana khusus agar memudahkan pelaksanaan kegiatan
pendidikan, dengan demikian pelaksanaan kegiatan pendidikan akan lebih
sistematis, terarah, efektif dan efisien.
Urgensi perencanaan dalam Penyelenggaraan Pendidikan adalah
memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga setiap kegiatan dapat
diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin untuk menjaga mutu
lembaga.
Siklus Deming dalam menjaga mutu lembaga pengelolaan dilakukan secara
berkesinambungan7:

5
George R. Terry , Dasar-Dasar Manajemen,Bumi Akara (Jakarta:2014) 9.
6
Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, RosdaKarya (Bandung: 1996)
49. Lihat Ahmadi, Manajemen Pendidikan Islam,(Yogyakarta: Laksbang, 2012) 41
7
Nasution, Menejemen Mutu Terpadu,( Bogor: Ghalia Indonesia, 2004) 28.

56 | Falasifa, Vol. 8 Nomor 1 Maret 2017


Perencanaan Strategis dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Madrasah

Siklus Deming tersebut dimulai dari


plan yaitu perencanaan, kemudian do yaitu
melaksanakan perencanaan tersebut, lalu check
memeriksa atau meneliti hasil yang telah
dicapai dan kemudian act yaitu adanya
tindakan penyesuaian.
Siklus tersebut dilakukan secara terus-
menerus dalam rangka untuk meningkatkan
Gambar. Siklus Deming kualitas sebuah lembaga.
Banghart dan Thrull yang dikutip oleh Jaja Jahari, mengungkapkan bahwa
suatu perencanaan pendidikan harus memiliki beberapa karakteristik berikut ini8:
1. Berorientasi pada visi, misi institusi yang ingin dicapai
2. Memiliki program yang bertahap dan berkesinambungan
3. Mengutamakan nilai-nilai manusiawi
4. Mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara maksimal
5. Berorientasi pada pambangunan sumber daya manusia
6. Menggunakan sumber daya secermat mungkin
7. Responsive terhadap kebutuhan
8. Pengambangan inovasi pendidikan
Dalam pendapat di atas secara rinci sudah dipaparkan tentang beberapa
karakteristik perencanaan pendidikan. Perumusan seperti di atas memang perlu,
karena akan digunakan sebagai pedoman dalam menyusun perencanaan madrasah.
Nawawi mengemukakan sembilan manfaat perencanaan9:
1. membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-
erubahan lingkungan;
2. membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama;
3. memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran;
4. membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat;
5. memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi;
6. memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian
organisasi;
7. membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami;
8. meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti; dan
9. menghemat waktu, usaha dan dana.

8
Jaja Jahari, Manajemen Madrasah, ( Bandung: Alfabeta, 2013) 9.
9
Hadari Nawawi, Manajemen Strategik Organisasi Non Profit Bidang Pemerintahan.
(Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2003), 23.

Falasifa, Vol. 8 Nomor 1 Maret 2017 | 57


Moh. Nahrowi

Dari uraian di atas maka jelas perencanaan dalam penyelenggaraan


pendidikan perlu dilaksanakan dengan optimal. Perumusan perencananaan
menjadi peta konsep awal bagi perjalanan menejerial lembaga pendidikan. Sukses
dan tidaknya lembaga pendidikan bisa dilihat dari perencanaannya.

C. Jenis-jenis perencanaan dalam penyelenggaraan pendidikan


1. Jenis-jenis perencanaan pendidikan menurut materinya, adalah sebagai
berikut10:
a. Personnel planning of education, yaitu suatu perencanaan pendidikan
mengenai kepegawaian lembaga pendidikan. Dalam perencanaan ini,
masalah pegawai ditinjau dan dibahas dari berbagai segi secara
mendalam dan mendetail. Sebagaimana sekarang ini dengan adanya
undang-undang tentang guru dan dosen, professional pekerjaan
tersebut harus disertifikasi, sebagai bukti keahilan dalam tugas dan
tanggung jawabnya dalam pendidikan.
b. Financial planning of education, yaitu suatu perencanaan pendidikan
mengenai masalah keuangan ataupun permodalan (anggaran belanja)
secara menyeluruh dan mendetail dari suatu kegiatan kerja sama untuk
mencapai tujuan bersama dalam pendidikan. Dengan adanya
perencanaan keuangan pendidikan, kini lembaga pendidikan mendapat
sorotan serius. Karena beberapa lembaga pendidikan telah menetapkan
dirinya sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN), tentu saja calon
mahasiswa yang lulus harus menyediakan uang yang cukup besar untuk
melanjutkan kuliahnya. Akan tetapi, pemerintah, untuk madrasah ting-
kat dasar sampai dengan tingkat menengah telah memberikan Bantuan
Operasional Madrasah (BOS), sehingga masyarakat benar-benar
terbantu oleh program pemerintah tersebut.
c. Industrial planning of education, yaitu perencanaan pendidikan yang
menyangkut kegiatan pendidikan sebagai bagian dari industri, yang
direncanakan sedemikian rupa agar terhindar dari hambatan-hambatan
dan dalam pencapaian tujuan. Lembaga pendidikan di tengah-tengah
masyarakat modern telah menjadikan dirinya sebagai industri, terjadinya
jual beli jasa kependidikan dengan perencanaan pendidikan yang
multisistem. Mulai dengan adanya Madrasah Dasar Terpadu, Madrasah
Alam, Pesantren Terpadu, dan sebagainya, pendidikan menjadi mahal,
tetapi lulusannya pun berbeda dengan lembaga pendidikan negeri.

10
Hikmat, Manajemen Pendidikan,(Bandung: Pustaka Setia, 2009) 105.

58 | Falasifa, Vol. 8 Nomor 1 Maret 2017


Perencanaan Strategis dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Madrasah

d. Skill of educational planning, yaitu suatu perencanaan dalam kegiatan


pendidikan keahlian atau kejuruan (misalnya planning mengenai
pendidikan Madrasah Menengah Kejuruan, Madrasah Teknik, Madras-
ah Tata Boga, dan sejenisnya).
2. Jenis-jenis perencanaan pendidikan berdasarkan luasnya cakupan masalah serta
jangkauan yang terkandung dalam suatu perencanaan, maka perencanaan
dapat dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu11:
a. rencana global yang merupakan penentuan tujuan secara menyeluruh dan
jangka panjang,
b. rencana strategis merupakan rencana yang disusun guna menentukan
tujuan-tujuan kegiatan atau tugas yang mempunyai arti strategis dan
mempunyai dimensi jangka panjang, dan
c. rencana operasional yang merupakan rencana kegiatan-kegiatan yang
berjangka pendek guna menopang pencapaian tujuan jangka panjang,
baik dalam perencanaan global maupun perencanaan strategis.

D. Perencanaan Strategis Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Di Mad-


rasah
Standar nasional pendidikan sebagaimana telah diuraikan pada bagian
sebelumnya menunjukkan bahwa proses perencanaan menjadi perangkat yang
esensial dalam pengelolaan madrasah. Dalam kaitannya dengan standar
pengelolaan satuan pendidikan, sistem perencanaan pengembangan lembaga yang
diterapkan pada setiap madrasah harus mampu memfasilitasi dan mengakomodasi
lima pilar utama yang digariskan dalam standar pengelolaan yaitu kemandirian,
kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas12.
Model perencanaan strategis (strategic planning) hingga saat ini dipandang
sebagai proses perencanaan yang demikian itu. Dengan menerapkan pendekatan
perencanaan strategis, diharapkan madrasah akan terdorong untuk melakukan
perencanaan secara sistematis. Madrasah diharapkan akan menyediakan waktu
untuk mentelaah dan menganalisis dirinya sendiri dan lingkungannya,
mengidentifikasi kebutuhannya untuk mendapatkan keunggulan terhadap yang
lain, dan melakukan komunikasi dan konsultasi secara terus-menerus dengan
berbagai pihak baik dari dalam maupun luar lingkungan lembaga selama
berlangsungnya proses perencanaan. Di samping itu perencanaan strategis juga

11
Hikmat, Manajemen Pendidikan,(Bandung: Pustaka Setia, 2009) 106.
12
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan. 2005. Jakarta: Sekretariat Jenderal Departeman Pendidikan Nasional.

Falasifa, Vol. 8 Nomor 1 Maret 2017 | 59


Moh. Nahrowi

diharapkan akan mendorong madrasah untuk menyusun langkah-langkah dalam


rangka mencapai tujuan strategis, secara terus-menerus memantau pelaksanaan
rencana itu, dan secara teratur melakukan pengkajian dan perbaikan untuk
menjaga agar perencanaan yang dibuat tetap relevan terhadap berbagai kondisi
yang terus berkembang13.
Perencanaan strategis merupakan bagian dari proses managemen strategis
yang terkait dengan proses identifikasi tujuan jangka panjang dari sebuah lembaga
atau organisasi, penggalian gagasan dan pilihan-pilihan, pengambilan langkah-
langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, dan
pemantauan (monitoring) kemajuan atau kegagalan dalam rangka menentukan
strategi di masa depan.
Secara historis, perencanaan strategis bermula dari dunia militer.
Perkembangan selanjutnya, perencanaan strategis diadopsi oleh dunia usaha pada
tahun 1950-an dan berkembang pesat dan sangat populer pada tahun 1960
hingga 1970-an, dan berkembang kembali tahun 1990-an Mintzberg (1994)
sebagai "process with particular benefits in particular contexts."
Penerapan perencanaan strategis di dunia pendidikan baru berkembang
sekitar dua dekade yang lalu. Saat lembaga-lembaga pendidikan dipaksa harus
berhadapan dengan berbagai perubahan baik di dalam maupun di luar lingkungan
lembaga, dan dipaksa harus tanggap terhadap berbagai tantangan yang timbul
seperti halnya menurunnya dukungan keuangan, pesatnya perkembangan
teknologi, dan berubahnya struktur kependudukan, dan tertinggalnya program-
program akademik. Sebagai dampak dari kondisi ini, sejumlah lembaga
pendidikan kemudian menggunakan perencanaan strategis sebagai alat untuk
“meraih manfaat dan perubahan strategis untuk menyesuaikan diri dengan
pesatnya perubahan lingkungan.
Diantara model-model perencanaan strategis yang berkembang, yang
hingga saat ini masih banyak diterapkan pada lembaga pendidikan antara lain:
Model Dasar (Foundational Model), Perencanaan Tindakan Tahap Permulaan
(Early Action Planning Model), dan Model Tiga-Unsur Sejajar (The Three-Strand
Concurrent Model).

1. Model Dasar (Foundational Model)


Sesuai dengan namanya, model dasar ini pertama-tama difokuskan pada

13
Nickols, K. and Thirunamachandran, R.. Strategic Planning in Higher Education:
A Guide for Heads of Institutions, Senior Managers and Members of Governing Bodies. 2000.
125

60 | Falasifa, Vol. 8 Nomor 1 Maret 2017


Perencanaan Strategis dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Madrasah

peletakan landasan-landasan yang diperlukan dalam perencanaan pengembangan


dan pengembangan prasarana yang tepat, sebelum melangkah pada perencanaan
pengembangan pada skala yang menyeluruh. Model ini didasarkan pada premis
bahwa perencanaan pengembangan akan terlaksana lebih efektif apabila tujuan dan
nilai-nilai fundamental madrasah telah diklarifikasi sehinga dapat menjadi kerangka
acuan, dan bila perlu memampukan tersusunnya struktur rencana pengembangan.
Model tersebut terdiri dari urutan kegiatan sebagai berikut:
a. Pembentukan/pengkajian struktur kolaborasi dan konsultasi dalam tahap
persiapan.
b. Perumuskan/pembaharuan rumusan visi, misi, dan tujuan.
c. Perumuskan/pembaharuan Kebijakan Umum Madrasah yang terkait dengan
bidang-bidang kunci kehidupan madrasah, seperti kedisiplinan, kesehatan dan
keselamatan.
d. Perumusan/pembaharuan kebijakan dan prosedur yang terkait dengan
perencanaan terkoordinasi dalam bidang belajar mengajar yang dilakukan oleh
guru, jurusan, kelompok-kelompok lintas kurikulum.
e. Evaluasi/revisi kebijakan dan prosedur yang terkait dengan anggaran serta
spesifikasi dan pengalokasian sumber daya.
f. Merancang dan adaptasi model perencanaan pengembangan madrasah.
g. Penerapan struktur umum dan prosedur yang sistematis dari operasi dasar
perencanaan pengembangan: kaji, rancang, implementasi termonitor, dan
evaluasi.
h. Penerapan model perencanaan pengembangan.Setelah evaluasi, kembali ke
langkah pertama dan ulangi proses

2. Model Perencanaan Tindakan Tahap Permulaan (Early Action


Planning Model)
Model Perencanaan Tindakan Tahap Awal (Early Action Planning Model)
pertama-tama menitik beratkan pada; a) identifikasi cepat sejumlah kecil prioritas
jangka pendek dan b) inisiatif rencana implementasi program pengembanganan
untuk mencapai prioritas itu.
Model ini didasarkan pada premis bahwa cara terbaik untuk mendorong
keberterimaan (acceptance) dan penyatuan Perencanaan Pengembangan Madrasah
adalah memastikan kelancaran tindakan dan capaian pada tahap permulaan sebagai
penguatan yang positif bagi partisipan dalam proses perencanaan. Pengalaman
berhasil pada tahap permulaan ini akan menjadi bukti kemanfaatan perencanaan
pengembangan madrasah. Dengan demikian, akan terjadi penguatan yang dapat
mengurangi kecenderungan munculnya berbagai keluhan seperti: “kita hanya

Falasifa, Vol. 8 Nomor 1 Maret 2017 | 61


Moh. Nahrowi

bicara dan bicara, akan tetapi tidak ada yang menjadi kenyataan dan tidak pernah
terjadi perubahan”.

3. Model Tiga-Unsur Sejajar (The Three-Strand Concurrent Model)


The Three-Strand Concurrent Model memfokus pada kerangka waktu
perencanaan. Model ini mengakui bahwa; a) Pengembangan madrasah jangka
panjang, b) Pengembangan madrasah jangka menengah, dan c) Pengembangan
madrasah jangka pendek.
Model itu didasarkan pada premis bahwa tiga dimensi waktu itu harus
dicapai secara bersama-sama oleh madrasah jika madrasah memang memberikan
respon yang efektif terhadap kebutuhan lingkungan yang dinamis. Model itu
menyarankan sebuah kerangka yang terdiri dari tiga langkah kegiatan perencanaan
yang saling terkait namun berbeda-beda yang memampukan madrasah untuk
mengatasi perubahan-perubatah yang rumit dan tidak dapat diprediksikan14.
Wujud kongrit dari model tersebut adalah RKT (Rencana Kerja Tahunan)
dan RKM (Rencana Kerja Madrasah) yang dalam penysunannya diawali dengan
pembuatan EDM (Evaluasi Diri Madrasah). RKM disusun setiap 4 tahuan sekali
yang di dalamnya memuat RKT.

E. Langkah-langkah dalam Perencanaan Strategis


Perencanaan strategis sebagaimana diuraikan sebelumnya sangat tampak
pada strategi pelaksanaan yang digariskan pada tingkat madrasah. Rumus 5W +
1H dapat digunakan sebagai unsur dasar dalam aktifitas perencanaan. Secara
singkat langkah-langkah yang ditetapkan itu diuraikan sebagai berikut:
1. Merumuskan Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Madrasah
2. Mengidentifikasi Fungsi-Fungsi yang Diperlukan untuk Mencapai Sasaran
3. Melakukan Analisis SWOT
4. Mengembangkan Langkah Pemecahan Persoalan
5. Melaksanakan Rencana Peningkatan Mutu
6. Melakukan Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan
7. Merumuskan Sasaran Mutu Baru15.

14
Departemen Pendidikan Nasional, Perencanaan Partisipatori Pengembangan
pendidikan Berbasis Madrasah, 2007.29
15
Departemen Pendidikan Nasional, Perencanaan Partisipatori Pengembangan
pendidikan Berbasis Madrasah, 2007, 29.

62 | Falasifa, Vol. 8 Nomor 1 Maret 2017


Perencanaan Strategis dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Madrasah

Syarat-syarat dalam menyusun rencana pendidikan di madrasah antara


16
lain :
1. Perencanaan pendidikan harus didasarkan pada tujuan yang jelas
2. Bersifat realistis dan praktis
3. Memuat segala uraian serta klasifikasi kegiatan dan rangkian tindakan secara
mendetail sehingga mudah dipedomani dan dijalani
4. Memiliki fleksibilitaas sehingga mudah disesuaikan dengan kebutuhan dan
kondisi serta situasi sewaktu-waktu
5. Terdapat perimbangan antara bermacam-macam bidang yang akan digarap
dalam perencanaan itu , menurut urgensinya masing-masing
6. Diusahakan adanya penghematan tenaga, biaya, dan waktu, serta
kemungkinan penggunaan sumber-sumber daya dan dana yang tersedia
dengan sebaik-baiknya
7. Diusakan tidak terjadi penggandaan pelaksanaan kegiatan.
Kesulitan yang dihadapi dalam perencanaan pendidikan
1. Perencana kurang ahli
2. Kurang wewenang dalam dalam penyusunan perencanaan
3. Tenaga pelaksana dari perencanan tersebut kurang cakap
4. Keuangan tidak mencukupi untuk menerapkan perencanaan
5. Tidak ada dukungan
6. Terjadinya perubahan perubahan situasi yang drastis17.

KESIMPULAN
Penyelenggaraan pendidikan tidak bisa lepas dengan menejemen, yang
berisi Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian) Actuating
(pengarahan) dan controlling (pengendalian)., dengan menejemen lembaga
mampu memberi pelayanan yang optimal kepada masyarakat, dengan menejemen
lembaga pendidikan mampu mencetak generasi berkualitas dan dengan
menejemen lembaga yang baik mampu memebawa perubahan positif bagi Nega-
ra.
Perencanaan sebagai langkah awal dalam menejemen memiliki peranan
yang amat penting sebagai modal pengelolaan sebuah institusi/ lembaga, yang
akan memproduksi generasi-generasi yang unggul dalam berprestasi, mandiri,

16
Joko, Prayogo, Rencana Strategis. Makalah disajikan pada Pendidikan dan
pelatihan Kemitaraan Kepala Sekolah yang diselenggarakan oleh Direktorat Tenaga
Kependikan, Ditjen PMPTK, Depdiknas di Jakarta, Juli 2007.
17
Ngalim Purwanto, Administrasi dan supervise pendidikan, (Rosda: Bandung, 1990)
24.

Falasifa, Vol. 8 Nomor 1 Maret 2017 | 63


Moh. Nahrowi

berakhlak mulia dan mampu bersaing dengan Negara lain.


Oleh karna itu perencanaan strategis dalam madrasah yang meliputi Founda-
tional Model, Early Action Planning Model dan The Three-Strand Concurrent Model
dengan karakteristiknya masing-masing menjadi bagian dari proses managemen
strategis yang terkait dengan proses identifikasi tujuan jangka pendek, menengah
dan panjang dari sebuah lembaga atau organisasi, penggalian gagasan dan pilihan-
pilihan, pengambilan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan
yang telah ditentukan, serta pemantauan (monitoring) kemajuan atau kegagalan
dalam rangka menentukan strategi di masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, 2012Manajemen Pendidikan Islam, Yogyakarta: Laksbang


Hikmat, 2009, Manajemen Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia
Jaja Jahari, 2013, Manajemen Madrasah, Bandung: Alfabeta
Nasution, 2004, Menejemen Mutu Terpadu, Bogor: Ghalia Indonesia,.
Nawawi, Hadari, 2003, Manajemen Strategik Organisasi Non Profit Bidang
Pemerintahan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Ngalim Purwanto, , Administrasi dan supervise pendidikan, Rosda Bandung,
Nickols, K. and Thirunamachandran, R. (2000). Strategic Planning in Higher Ed-
ucation: A Guide for Heads of Institutions, Senior Managers and Members of
Governing Bodies.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan. 2005. Jakarta: Sekretariat Jenderal Departeman
Pendidikan Nasional.
Prayogo, Joko. 2007. Rencana Strategis. Makalah disajikan pada Pendidikan dan
pelatihan Kemitaraan Kepala Sekolah yang diselenggarakan oleh Direktorat
Tenaga Kependikan, Ditjen PMPTK, Depdiknas di Jakarta,
Samsuddin, Sadili, 2010, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bandung: Pustaka
Setia
Sekretariat Negara, Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala
Sekolah
Sekretariat Negara, Departemen Pendidikan Nasional, Perencanaan Partisipatori
Pengembanganpendidikan Berbasis Madrasah, 2007.

64 | Falasifa, Vol. 8 Nomor 1 Maret 2017