Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipospadia terjadi pada 1 dalam 300 kelahiran anak laki-laki dan merupakan anormali
penis yang paling sering.perkembangan uretra in uretro di mulai usia 8 minggu dan selesai
dalam 15 minggu.Uretra terbentuk dari penyatuan lipatan uretra sepanjang permukaan
ventral penis. Glandula uretra terbentuk dari kanalisasi funikulus ektoderm yang tumbuh
melalui glands untuk menyatu dengan lipatan uretra yang menyatu. Hipospadia terjadi bila
penyatuan di garis tengah lipatan uretra tidak lengkap sehingga meatus uretra terbuka pada
sisi ventral penis. Ada berbagai derajat kelainan letak ini seperti pada glandular (letak meatus
yang salah pada glands), korona (pada sulkus korona), penis (di sepanjang batang penis),
penoskrotal (pada pertemuan ventra penis dan skrotum), dan perineal (pada perineum).
Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutupi sisi dorsal glans.
Pita jaringan fibrosa yang di kenal sebagai chordee, pada sis ventral menyebabkan kurvatura
(lengkungan) ventral dari penis.
Tidak ada masalah fisik yang berhubungan dengan hipospadia pada bayi baru lahir atau
pada anak-anak remaja. Namun pada orang dewasa, chordee akan menghalangi hubungan
seksual; infertilitas dapat terjadi pada hipospadia penoskrotal atau perineal; dapat timbul
stenosis meatus, menyebabkan kesulitan dalam mengatur aliran urin; dan sering terjadi
kriptokridisme.
Penanganan hipospadia dengan chordee adalah dengan pelepasan chordeedan
resrtukturisasi lubang meatus melalui pembedahan. Pembedahan harus di lakukan sebelum
usia saat belajar untuk menahan bdekemih, yaitu biasanya sekitar usia 2 tahun. Prepusium
dipakai untuk proses rekonstruksi; oleh karena itu bayi dengan hipospadia tidak boleh di
sirkumsisi. Chordee dapat juga terjadi tanpa hipospadia, dan diatasi dengan melepaskan
jaringan fibrosa untuk memperbaiki fungsi dan penampilan penis.
Hipospadia terdapat pada kira-kira satu diantara 500 bayi baru lahir. Pada kasus yang
paling ringan, meatus uretra bermuara pada bagian ventral glans penis, terdapat berbagai
derajat malformasi glans dan kulup zakar tidak sempurna pada sisi ventral dengan penampilan
suatu kerudung dosal. Dengan bertambahnya tingkat keparahan, penis berbelok kearah ventral

1
(chordee) dan uretra pada penis lebih pendek secara proggresif, tetapi jarak antara meatus dan
glans tidak dapat bertambah secara signifikan sampai chordee di koreksi. Karenanya, hal ini
menyesatkan, mengklasifikasi hipospadia semata-mata atas dasar meatus. Pada beberapa
kasus, meatus terletak pada sambungan penoskrotal: pada kasus ekstrem, uretra bermuara
pada perineum, skrotum bifida dan kadang-kadang meluas kebasis dorsal penis (transposisi
skrotum), dan chordee adalah ekstrem. Pada kasus demikian, biasanya terdapat di vertikulum
uretra yang bermuara pada setinggi verumontanum, memperlihatkan suatu struktur sisa
mollerian (a vestige of mullerian structures). Pada kasus varian, kurva tura ventral penis
terjadi tanpa hipospadiak meatus uretra. Pada kasus ini, kulup zakar berkerudung dan korpus
spongiosum mungkin kurang berkembang.
1.2 Tujuan
1.1.1 Tujuan Umum
Tujuan umumnya adalah untuk memenuhi tugas praktek stase KMB pada kasus post
op Hipospodia serta untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa mengenai
Hipospodia.
1.1.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu memahami definisi dari hipospodia
2. Mahasiswa mampu memahami etiologi dari hipospodia
3. Mahasiswa mampu memahami Manifestasi klinis dari hipospodia
4. Mahasiswa mampu memahami patofisiologi dari hipospodia
5. Mahasiswa mampu memahami pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan
untuk hipospodia
6. Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan dari hipospodia
7. Mahasiswa mampu memahami komplikasi dari hipospodia
8. Mahasiswa mampu memahami pathway dari hipospodia
9. Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan dari hipospodia

2
BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian
Hipospadia merupakan suatu kelainan congenital yang dapat dideteksi ketika atau
segera setelah bayi lahir, istilah hipospadia menjelaskan adanya kelainan pada muara
uretra pria. Kelainan hipospadia lebih sering terjadi pada muara uretra, biasanya tampak
disisi ventral batang penis. Seringkali, kendati tidak selalu, kelainan tersebut
diasosiasikan sebagai suatu chordee, yaitu istilah untuk penis yang melengkuk kebawah.
(Speer 2013).
Hipospadia adalah congenital anomali yang mana uretra bermuara pada sisi
bawah penis atau perineum. (Suriadi 2010).
Hipospadia adalah suatu keadaan dengan lubang uretra terdapat pada penis bagian
bawah, bukan diujung penis. Beratnya hipospadia bervariasi, kebanyakan lubang uretra
terletak didekat ujung penis yaitu pada glans penis. Bentuk hipospadia yang lebih berat
terjadi jika lubang uretra terdapat ditengah batang penis atau pada pangkal penis, dan
kadang pada skrotum atau dibawah skrotum. Kelainan ini sering berhubungan kordi,
yaitu suatu jaringan vibrosa yang kencang yang menyebabkan penis melengkung
kebawah saat ereksi. (Muslihatum 2013).

2.2 Etiologi
Penyebab yang jelas belum diketahui. Dapat dihubungkan dengan faktor genetik,
lingkungan atau pengaruh hormonal. Namun, ada beberapa factor yang oleh para ahli
dianggap paling berpengaruh antara lain :
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone
Hormone yang dimaksud di sini adalah hormone androgen yang mengatur
organogenesis kelamin (pria). Atau biasa juga karena reseptor hormone androgennya
sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormone
androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap
saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan
dalam sintesis hormone androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.

3
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi
pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen
tersebut tidak terjadi.
3. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang
bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.
4. Faktor resiko. (Suriadi,2010)
Penyebab kelainan ini adalah maskulinisasi inkomplit dari genetalia karena involusi
yang premature dari sel interstisial testis.Faktor eksogen antara lain pajanan prenatal
terhadap kokain, alcohol, fenitoin, progesitin, rubella, atau diabetes
gestasional.(Mansjoer,2010)

2.3 Manifestasi Klinis


1. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah
penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
2. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung
penis.
3. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang
hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
4. Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
5. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
6. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
7. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
8. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
9. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.

2.4 Patofisiologi
Hypospadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembangan uretra dalam
utero.Terjadi karena adanya hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan minggu ke
10 sampai minggu ke 14.Gangguan ini terjadi apabila uretra jatuh menyatu ke midline

4
dan meatus terbuka pada permukaan ventral dari penis.Propusium bagian ventral kecil
dan tampak seperti kap atau menutup.

2.5 Pemeriksaan Penunjang


Diagnosis dilakukan dengan dengan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir atau bayi.
Karena kelainan lain dapat menyertai hipospadia, dianjurkan pemeriksaan yang
menyeluruh, termasuk pemeriksaan kromososm (Corwin, 2012).
1. Rontgen
2. USG sistem kemih kelamin
3. BNO – IVP karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan
kongenital ginjal.
4. Kultur urine (Anak-hipospadia)

2.6 Penatalaksanaan
Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia adalah merekomendasikan
penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal
sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus dengan normal
(Anak-hipospadia).
1. Koreksi bedah mungkin perlu dilakukan sebelum usia anak 1 atau 2 tahun. Sirkumsisi
harus dihindari pada bayi baru lahir agar kulup dapat dapat digunakan untuk
perbaikan dimasa mendatang (Corwin, 2012).
2. Informasikan orang tua bahwa pengenalan lebih dini adalah penting sehingga
sirkumsisi dapat dihindari, kulit prepusium digunakan untuk bedah perbaikan
(Muscari, 2013).
3. Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari :
a. Operasi hipospadia satu tahap (One stage urethroplasty) adalah teknik operasi
sederhana yang sering digunakan, terutama untuk hipospadia tipe distal. Tipe
distal inimeatusnya letak anterior atau yang middle. Meskipun sering hasilnya
kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. Sehingga banyak dokter lebih
memilih untuk melakukan 2 tahap. Untuk tipe hipospadia proksimal yang disertai
dengan kelainan yang lebih berat, maka one stage urethroplasty nyaris dapat

5
dilakukan. Tipe annghipospadia proksimal seringkali di ikuti dengan kelainan-
kelainan yang berat seperti chordee yang berat, globuler glands yang bengkok ke
arah ventral (bawah) dengan dorsal : skin hood dan propenil bifid scrotum.

2.7 Komplikasi
Komplikasi dari hipospadia antara lain :
1. Dapat terjadi disfungsi ejakulasi pada pria dewasa. Apabila chordee nya parah, maka
penetrasi selama berhubungan intim tidak dapat dilakukan (Corwin, 2012).
2. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1
jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri seksual tertentu) (Ramali, Ahmad & K.
St. Pamoentjak, 2013)
3. Psikis (malu) karena perubahan posisi BAK
4. Kesukaran saat berhubungan saat, bila tidak segera dioperasi saat dewasa (Anak-
hipospadia)

Komplikasi pasca operasi yang terjadi :

1. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi,
juga terbentuknya hematom/ kumpulan darah di bawah kulit, yang biasanya dicegah
dengan balutan ditekan selama 2 sampai 3 hari pasca operasi.
2. Striktur, pada proksimal anastomis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari
anastomis.
3. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang
atau pembentukan batu saat pubertas.
4. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai
parameter untuk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini angka
kejadian yang dapat diterima adalah 5-10%.
5. Residual chordee /rekuren chrodee, akibat dari chordee yang tidak sempurna, dimana
tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan scar yang berlebihan
di ventral penis walaupun sangat jarang.
6. Divertikulum (kantung abnormal yang menonjol ke luar dari saluran atau alat
berongga) (Ramali, Ahmad & K. St. Pamoentjak, 2005), terjadi pada pembentukan

6
neouretra yang terlalu lebar atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi
yang dilanjut.

7
2.8 Pathway
Repair hipospadia

- Usia Tehnik operasi


- Tipe hipospadia
- Chorde / satu tahap hasil
Ukuran penis dua tahap

Malformasi congenital

Hipospadia

Grandular distal penile penile penoksrotal scrotal permeal

Pengelolaan

Pembedahan eksisi kombinasi


Chordee urethroplasty pembedahan radio diagnosis

Proses pembedahan efek anastesi pmsangan kateter

Hipersalivasi inwhelling
MK : MK :
Ansietas Nyeri
Penumpukan secret entry

Obstruksi jalan nafas MK : Gangguan


Mobilitas Fisik

MK :
Ketidakefektifan MK : Resiko
Jalan Nafas Tinggi Infeksi
Sumber : Price, Sylvia Anderson. (2014). Pathofisiologi

8
BAB 3

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1. Identitas
a. Usia
Ditemukan saat lahir
b. Jenis kelamin
Hipospadia merupakan anomaly uretra yang paling sering terjadi pada laki-laki
dengan angka kemunculan 1: 250 dari kelahiran hidup. (Brough, 2012)
c. Keluhan Utama
Lubang penis tidak terdapat diujung penis, tetapi berada dibawah atau didasar
penis, penis melengkung kebawah, penis tampak seperti berkerudung karena
adanya kelainan pada kulit dengan penis, jika berkemih anak harus
duduk.(Muslihatum, 2010)
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya lubang kencing yang
tidak pada tempatnya sejak lahir dan tidak diketahui dengan pasti penyebabnya.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya penis yang melengkung
kebawah adanya lubang kencing tidak pada tempatnya sejak lahir.
c. Riwayat Kongenital
a) Penyebab yang jelas belum diketahui.
b) Dihubungkan dengan penurunan sifat genetik.
c) Lingkungan polutan teratogenik.
d. Riwayat Kehamilan Dan Kelahiran
Hipospadia terjadi karena adanya hambatan penutupan uretra penis pada
kehamilan minggu ke-10 sampai minggu ke-14.

9
3. Activity Daily Life
a. Nutrisi
Tidak ada gangguan
b. Eliminasi
Anak laki-laki dengan hipospadia akan mengalami kesukaran dalam mengarahkan
aliran urinnya, bergantung pada keparahan anomali, penderita mungkin perlu
mengeluarkan urin dalam posisi duduk. Konstriksi lubang abnormal
menyebabkan obstruksi urin parsial dan disertai oleh peningkatan insiden ISK
c. Hygiene Personal
Dibantu oleh perawat dan keluarga
d. Istirahat dan Tidur
Tidak ada gangguan
4. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem kardiovaskuler
Tidak ditemukan kelainan
b. Sistem neurologi
Tidak ditemukan kelainan
c. Sistem pernapasan
Tidak ditemukan kelainan
d. Sistem integumen
Tidak ditemukan kelainan
e. Sistem muskuloskletal
Tidak ditemukan kelainan
f. Sistem Perkemihan
a) Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran pada
ginjal.
b) Kaji fungsi perkemihan
c) Dysuria setelah operasi
g. Sistem Reproduksi
a) Adanya lekukan pada ujung penis
b) Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi

10
c) Terbukanya uretra pada ventral
d) Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan, drinage.

3.2 Diagnosa Keperawatan


Pre Operasi
1. Gangguan rasa nyaman

Post Operasi

1. Nyeri akut
2. Resiko infeksi

3.3 Intervensi Keperawatan

No Tujuan dan Kriteria


Diagnosa Intervensi
. Hasil
Pre Operasi NOC NIC
1. Gangguan rasa nyaman 1. Tingkat kenyamanan Pain Management
Definisi: 2. Tingkat ansietas 1. Observasi reaksi nonverbal dari
Merasa kurang senang, lega, ketidaknyamanan
dan sempurna dalam Tujuan dan Kriteria Hasil: 2. Lakukan pengkajian nyeri secara
dimensi fisik, psikospiritual, Setelah dilakukan komprehensif termasuk lokasi,
lingkungan dan sosial. tindakan keperawatan karakteristik, durasi, frekuensi,
Batasan Karakteristik: selama 2x24 skala, kualitas dan faktor
 Ansietas jam klienmampu untuk: presipitasi(otot yang sudah lama
 Menangis 1. Menunjukkan tingkat tidak digerakkan)
 Gangguan pola tidur kenyamanandengan 3. Lakukan tindakan kenyamanan
 Takut indicator: untuk meningkatkan relaksasi, mis.
 Ketidakmampuan untuk  Melaporkan Pemijatan, mengatur posisi, teknik
relaks kesejahteraan fisik relaksasi.
 Iritabilitas  Melaporkan kepuasan 4. Gunakan teknik panas dan dingin
 Merintih dengan kontrol gejala sesuai anjuran untuk meminimalkan
 Melaporkan merasa  Melaporkan nyeri.
dingin kesejahteraan 5. Pilihlah variasi dari ukuran
 Melaporkan merasa psikologis pengobatan (farmakologis,
panas  Mengekspresikan nonfarmakologis, dan hubungan atar
 Melaporkan perasaan kepuasan hati dengan pribadi) untuk mengurangi nyeri
tidak nyaman lingkungan fisik 6. Ajari untuk menggunakan tehnik
 Melaporkan kurang  Mengekspresikan non-farmakologi (spt: biofeddback,
senang dengan situasi kepuasan hati dengan TENS, hypnosis, relaksasi, terapi
tersebut hubungan sosial musik, distraksi, terapi bermain,
 gelisah  Mengekspresikan acupressure, apikasi hangat/dingin,

11
Faktor yang Berhubungan: kepuasan spiritual dan pijatan ) sebelum, sesudah dan
 Gejala terkait penyakit  Melaporkan kepuasan jika memungkinkan, selama puncak
 Sumber yangtidak dengan tingkat
nyeri , sebelum nyeri terjadi atau
adekuat (misalnya kebebasan meningkat, dan sepanjang nyeri itu
dukungan finansial dan  Mengekspresikan masih terukur
sosial) kepuasan dengan
7. Monitor penerimaan pasien tentang
 Kurang pengendalian kontrol nyeri manajemen nyeri
lingkungan 2. Menunjukkan Ansietas Penurunan Ansietas
dengan indikator: 8. Gunakan pendekatan yang
1. Menunjukkan menenangkan
fleksibilitas peran 9. Nyatakan dengan jelas harapan ter
2. Keluarga menunjukkan hadap pelaku pasien
3. fleksibilitas peran para
10. Temani pasien untuk memberikan
anggotanya keamanan dan mengurangi takut
4. Melibatkan angoota
11. Dorong keluarga untuk menemani
keluarga dalamanak
membuat keputusan 12. Lakukan back / neck rub
5. Mengekspresikan 13. Dengarkan dengan penuh perhatian
perasaan dan kebebasan
14. Identifikasi tingkat kecemasan
emosional 15. Bantu pasien mengenal situasi ya
6. Menunjukkan strategi ng menimbulkan kecemasan
penurunan stress 16. Dorong pasien untuk mengungkap
kan perasaan, ketakutan, persepsi
17. Berikan obat untuk mengurangi
kecemasan
Kolaborasi
18. Kolaborasikan dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil
19. Kolaborasi prosedur pembedahan :
a. Pelepasan chordee dan tunneling
b. uretroplasty
Health Education
20. Berikan informasi faktual mengenai
diagnosis, tindakan
prognosis Managemen Tekanan
21. Jelaskan semua prosedur dan apa
yang dirasakan selama prosedur
22. Instruksikan pasien menggunakan
teknik relaksasi
Post Operasi NOC NIC
2. Nyeri akut 1. Kontrol Nyeri Manajemen Nyeri
Definisi: 2. Tingkat Kenyamanan 1. Kaji secara komphrehensif tentang
Pengalaman emosional3. Tingkatan nyeri nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik dan
dan sensori yang tidak Tujuan dan Kriteria Hasil: onset, durasi, frekuensi, kualitas,
menyenangkan yang Setelah dilakukan intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-

12
muncul dari kerusakan tindakan keperawatan faktor presipitasi.
jaringan secara aktual selama 2x24 jam klien 2. Lakukan penilaian nyeri secara
dan potensial atau mampu : komprehensif dimulai dari lokasi,
menunjukkan adanya  Mengontrol nyeri, karakteristik, durasi, frekuensi,
kerusakan (Assosiation dengan indikator : kualitas, intensitas dan penyebab.
for Study of Pain) :  Mampu mengenali 3. Gunakan komunikasi terapeutik agar
serangan mendadak atau faktor penyebab pasien dapat menyatakan
perlahan dari intensitas  Mampu melaporkan pengalaman nyerinya serta dukungan
ringan sampai berat gejala pada tenaga dalam merespon nyeri.
yang diantisipasi atau kesehatan 4. Tentukan dampak nyeri terhadap
diprediksi durasi nyeri  Mampu mengenali kehidupan sehari-hari (tidur, nafsu
kurang dari 6 bulan. gejala-gejala nyeri makan, aktifitas, kesadaran, mood,
Batasan Karakteristik:  Mempertahankan hubungan social, performance kerja
 Melaporkan nyeri secara tingkat kenyamanan, dan melakukan tanggung jawab
verbal dan nonverbal dengan indikator : sehari-hari
 Menunjukkan kerusakan  Dapat melakukan 5. Modifikasi tindakan mengontrol
 Posisi untuk mengurangi aktivitas seperti biasa nyeri berdasarkan respon pasien.
nyeri tanpa harus merasakan 6. Tingkatkan tidur/istirahat yang
Faktor-Faktor yang nyeri. cukup.
berhubungan:  Menunjukan tingkat Pemberian Analgetik
Agen cedera (biologi, nyeri, dengan indikator 7. Menentukan lokasi, karakteristik,
psikologi, kimia, fisika) : mutu, dan intensitas nyeri sebelum
 Mampu melaporkan mengobati klien.
adanya nyeri, frekuensi 8. Cek riwayat alergi obat.
nyeri dan episode 9. Tentukan jenis analgesic yang
lamanya nyeri. digunakan (narkotik, non narkotik
 Tanda-tanda vital atau NSAID) berdasarkan tipe dan
kembali normal. tingkat nyeri.
10. Tentukan analgesic yang cocok, rute
pemberian dan dosis optimal.
11. Mengevaluasi efektivitas analgesic
pada interval tertentu, terutama
setelah dosis awal, pengamatan juga
dilakukan melihat adanya tanda dan
gejala buruk atau tidak
menguntungkan ( berhubungan
dengan pernapasan, depresi, mual
muntah, mulut kering dan
konstipasi).
Kolaborasi
12. Kolaborasikan dengan pasien, orang
terdekat dan tenaga profesional lain
untuk memilh teknik non
farmakologi
13. Kolaborasikan dengan dokter jika
terjadi perubahan obat, dosis, rute

13
pemberian, atau interval, serta
membuat rekomendasi spesifik
berdasar pada prinsip equianalgesic.
Health Education
14. Berikan informasi tentang nyeri,
seperti: penyebab, berapa lama
terjadi, dan tindakan pencegahan.
15. Anjurkan pasien untuk memonitor
sendiri nyeri.
3. Resiko Infeksi NOC NIC
Definisi: 1. Status Imun Kontrol Infeksi
Kenaikan resiko karena 2. Kontrol Infeksi 1. Batasi jumlah
diserang oleh organisme pengunjung/pembezuk.
penyakit. Tujuan dan Kriteria 2. Gunakan sabun anti mikroba untuk
Batasan Karakteristik: Hasil: mencuci tangan dengan benar.
 Penyakit kronik Setelah dilakukan 3. Cuci tangan sebelum dan sesudah
 Mendapatkan kekebalan tindakan keperawatan melakukan perawatan pada pasien.
yang tidak adekuat selama 2x24 4. Gunakan aturan umum.
 Pertahanan utama yang jam klienmampu untuk: 5. Gunakan sarung tangan yang bersih.
tidak adekuat (e.g., 1. Menunjukan status 6. Jaga lingkungan agar tetap steril
kerusakan kulit, jaringan imun, dengan indikator selama insersi di tempat tidur.
yang luka, pengurangan : 7. Jaga lingkungan agar tetap steril
dalam tindakan,  Tidak adanya infeksi ketika mengganti saluran dan botol
perubahan pada sekresi berulang, tidak adanya TPN.
PH, mengubah gerak tumor, Reaksi tes kulit 8. Tutup/jaga kerahasiaan system
peristaltic) cocok dengan ketika melakukan pemeriksaan
 Pertahanan kedua yang pembukaan,Kadar zat invasive hemodynamic.
tidak adekuat terlarut pada antibody 9. Ganti peripheral IV dan balutan
(pengurangan dalam batas normal berdasarkan petunju CDC.
hemoglobin, leucopenia, 2. Menunjukan kontrol 10. Pastikan keadaan steril saat
respon yang menekan infeksi, degan indikator menangani IV.
sesuatu yang : 11. Tingkatkan pemasukkan nutrisi yang
menyebabkan radang)  Mendeskripsikan mode tepat.
 Pertambahan pembukaan transmisi, 12. Tingkatkan pemasukan cairan yang
lingkungan pada mendeskripsikan tepat.
pathogen factor-faktor yang 13. Lakukan terapi antibiotic yang tepat.
 Agen farmasi (ex: zat menyertai transmisi, Health Education
yang menghambat reaksi mendeskripsi-kan 14. Ajarkan mencuci tangan untuk
imun) tanda-tanda dan gejala, memperbaiki kesehatan pribadi.
 Membran amniotic pecah Mendeskripsikan 15. Ajarkan teknik mencuci tangan yang
sebelum waktunya aktivitas-aktivitas benar.
 Memperpanjang meningkatkan daya 16. Ajarkan pasien dan keluarga tentang
perpecahan pada tahan terhadap infeksi. tanda-tanda dan gejala infeksi dan
membrane amniotic kapan harus melaporkannya pada
 Trauma/luka berat tim kesehatan.
 Destruksi jaringan 17. Ajarkan pasien untuk memakan

14
antibiotic sesuai resep.

3.4 Implementasi Keperawatan


Implementasi adalah fase ketikan perawata menerapkan/ melaksanakan rencana tindakan
yang telah ditentukan dengan tujuan kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal
(Nursalam, 2014).

3.5 Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara
melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak.
Dalam melakukan evaluasi perawat seharusnya memiliki pengetahuan dan kemampuan
dalam memahami respon terhadap intervensi keperawatan, kemampuan menggambarkan
kesimpulan tentang tujuan yang dicapai serta kemampuan dalam menghubungkan
tindakan keperawatan pada kriteria hasil. Pada tahap evaluasi ini terdiri dari dua kegiatan
yaitu kegiatan yang dilakukan dengan mengevaluasi selama proses perawatan
berlangsung atau menilai dari respon klien disebut evaluasi proses, dan kegiatan
melakukan evaluasi dengan target tujuan yang diharapkan disebut sebagai evaluasi hasil
(Hidayat, A.A.A, 2014).

15
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif, dkk. (2013).Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta : Media


Aesculapius.
Price, Sylvia Anderson. (2014). Pathofisiologi. Jakarta: EGC
Santosa, Budi. (2005-2006). NANDA. Prima Medika
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1985). Buku Kuliah Ilmu
KesehatanAnak. Jakarta :EGC.
Wilkinson M. Judith & Nancy R. Ahern. 2010. Buku saku diagnosis keperawatan edisi
9.Jakarta : EGC

16