Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehadiran manusia tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta.
Manusia hakikatnya adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Pada diri manusia terdapat
perpaduan antara sifat ketuhanan dan kemahklukan. Dalam pandangan Islam,sebagai
makhluk ciptaan Allah SWT manusia memiliki tugas tertentu dalam menjalankan
kehidupannya di dunia ini. Untuk menjalankan tugasnya manusia dikarunia akal dan
pikiran oleh Allah SWT. Akal dan pikiran tersebut yang akan menuntun manusia
dalam menjalankan perannya. Dalam hidup di dunia,manusia diberi tugas
kekhalifaan,yaitu tugas kepemimpinan,wakil Allah di muka bumi,serta pengelolaan
dan pemeliharaan alam. Didalam hidupnya manusia tidak lepas dari adanya hubungan
dan ketergantungan. Adanya hubungan ini menyebabkan adanya hak dan kewajiban
pada manusia.

B. Rumusan Masalah
1) Bagaimana hakikat manusia dalam Islam?
2) Bagaimana potensi dalam diri manusia?
3) Bagaimana segi positif dan segi negatif manusia?
4) Bagaimana fungsi hidup manusia dalam Islam?
5) Bagaimana hakikat hidup di dunia dan akhirat?

C. Tujuan
1) Untuk mengetahui hakikat manusia dalam Islam
2) Untuk mengetahui potensi dalam diri manusia
3) Untuk mengetahui segi positif dan segi negatif manusia
4) Untuk mengetahui fungsi hidup manusia dalam Islam
5) Untuk mengetahui hakikat hidup di dunia dan akhirat

1
BAB 2
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN MANUSIA
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah
SWT. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan
tugas mereka sebagai khalifah di muka bumi ini. Al-Qur’an menerangkan bahwa
manusia berasal dari tanah.

2. HAKIKAT MANUSIA DALAM ISLAM


Dalam agama islam, ada enam peranan yang merupakan hakikat diciptakannya
manusia. Berikut ini adalah dimensi hakikat manusia berdasarkan pandangan
agama islam.
1. Sebagai Hamba Allah
Hakikat manusia yang utama adalah sebagai hamba atau abdi Allah
SWT.Sebagai seorang hamba maka manusia wajib mengabdi kepada Allah SWT
dengan cara menjalankan semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus …,”
(QS :98:5).
2. Sebagai Al-Nas
Dalam Al-Qur’an manusi juga disebut dengan Al-Nas. Kata Al-Nas dalam Al-
Qur’an cenderung mengacu pada hakikat manusia dalam hubungannya dengan
manusia lain atau dalam masyarakat. Manusia sebagaimana disebutkan dalam ilmu
pengetahuan, adalah makhluk social yang tidak dapat hidup tanpakeberadaan
manusia lainnya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan-mu yang telah
menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan
istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan
perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah dengan
(mempergunakan) namanya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah
hubungan silahturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi
kamu. ” (QS :An Nisa : 1).

2
“Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-
suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara
kamu disisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS : Al-Hujurat : 13).
3. Sebagai Khalifah
Telah disebutkan dalam tujuan penciptaan manusia bahwa pada hakikatnya,
manusia diciptakan pleh Allah SWT sebagai Khalifah atau pemimpin di muka
bumi. (Baca fungsi Al-Qur’an bagi umat manusia)
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu Khalifah (penguasa) di
muka bumi, maka berilah keputusan dianatara manusia dengan adil dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu. Karena ia akan menyesatkan kamu dari
jalan Allah. ….” (QS : Shad : 26).
Sebagai seorang Khalifah maka masing-masing manusia akan dimintai
pertanggungjawaban kelak di akhir.
4. Sebagai Bani Adam
Manusia disebut sebagai Bani Adam atau keturunan Adam agar tidak terjadi
kesalah pahaman bahwa manusia merupakan hasil evolusi kera sebagaimana yang
disebutkan oleh Charles Darwin. Islam memandang manusia sebagai bani Adam
untuk menghormati nilai-nilai pengetahuan dan hubungan dalam masyarakat.
Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian
untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa
itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda
kekuasaan Allah, semoga mereka selalu ingat. Hai anak Adam janganlah kamu
ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari
surga. ….” (QS : Al-Araf : 26-27).
5. Sebagai Al-Insan
Tidak hanya disebut Al- Nas, dalam Al-Qur’an manusia juga disebut sebagai
Al-Insan merujuk kepada kemampuannya dalam menguasai ilmu dan pengetahuan
serta kemampuannya untuk berbicara dan melakukan hal lainnya. Sebagaimana
disebutkan dalam surat Al-Hud berikut ini

3
“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat, kemudian rahmat itu
kami cabut dari padanya, pastilah ia menjadi putus asa lagi tidak berterima
kasih.” (QS : Al-Hud : 9).
6. Sebagai Makhluk Biologis (Al Basyar)
Manusia juga disebut sebagai makhluk biologis atau Al Basyar karena manusia
memiliki raga atau fisik yang dapat melakukan aktivitas fisik atau tumbuh,
memerlukan makanan, berkembang biak dan lain sebagainya sebagaimana ciri-ciri
makhluk hidup pada umumnya.
Sama seperti makhluk lainnya di bumi seperti hewan dan tumbuhan, hakikat
manusia sebagai makhluk biologis dapat berakhir dan mengalami kematian,
bedanya manusia memiliki akal dan pikiran serta pembuatannya harus dapat
dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.
Segala hakikat manusia adalah fitrah yang diberikan Allah SWT agar manusia
dapat menjalankan peran dan fungsinya dalam kehidupan, manusia sendiri harus
dapat memenuhi tugas dan peranannya sehingga tidak menghilangkan hakikat
utama penciptaannya.

3. POTENSI DALAM DIRI MANUSIA


a) Roh
Surah Al-Isra’ ayat 85

‫ح ِم ْن أ َ ْم ِر َر ب ِ ي َو َم ا‬ ُّ ‫الر وح ِ ۖ ق ُ ِل‬
ُ ‫الر و‬ ُّ ‫ك عَ ِن‬ َ َ ‫س أ َل ُو ن‬
ْ َ ‫َو ي‬
‫يل‬ ً ِ‫أ ُو ت ِ ي ت ُ ْم ِم َن الْ ِع لْ ِم إ ِ اَّل ق َل‬
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan
Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Dalam bahasa Arab, kata ruh mempunyai banyak arti.

 Kata ‫روح‬untuk ruh


 Kata ‫(ريح‬rih) yang berarti angin
 Kata ‫(روح‬rawh) yang berarti rahmat.

Ruh dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas,
wahyu, perintah dan rahmat.

4
b) Fitrah
Fitrah manusia pada dasarnya menghendaki adanya kebaikan, dengan
memenuhi hati nurani, seseorang berada dalam fitrahnya dan menjadi manusia
sejati (insan Kami). Dalam al-Qur’an “Fitrah” disamakan dengan “Nafsu
Muthmainnah” (jiwa yang tenang), yaitu suatu dorongan untuk mendekati Allah
Swt (Ketaqwaan).
c) Qalb
Qalb merupakan unsur yang membuat manusia memiliki rasa kebaikan,
pusat penalaran, pemikiran, dan kehendak, yang membedakannya dari makhluk
yang lain.
 Qalb ( kalbu, daya rasa) yakni alat untuk mencapai ma’rifatullah dengan mengenal
Allah sebagai dzat pencipta, pemelihara, dan penyayang atas sekalin manusia alam.
 Qalb merupakan unsur jiwa yang memiliki rasa kebaikan, pusat penalaran,
pemikiran dan kehendak untuk berfikir.
 Qalb merupakan wadah fitrah yang sehat dan tumpuan dari segala perasaan
manusia, memaafkan , mencintai sesamanya, dan mengamalkan sifat-sifat terpuji.
d) Al-Aql
Al-Aql( akal atau daya nalar). Al-Qur’an memberikan perhatian khusus
terhadap penggunaan akal dalam berpikir sebagaimana yang dinyatakan dalam
surat Ali-Imran ayat 191. Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa Islam tegak di atas
pemikiran. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa penggunaan akal
memungkinkan manusia untuk terus berdzikir dan menerung ciptaan Allah( Surat
Ar-Ra’d ayat 19). Dengan penggunaan akal memungkingkan manusia mengetahui
tanda-tanda kebesaran Allah serta mengambil pelajaran dirinya ( Surat Taha ayat
53-54).
Dalam pandangan Ibnu Taimiyah, akal mempunyai daya-daya khusus yakni
daya untuk berkognisi, persepsi dan komprehensif, daya-daya itu dikategorikan
sebagai An-Nadhor. Akal juga memiliki daya Al-Irodah yang mempunyai daya
emosi dan daya menilai. Bagi Ibnu Taimiyah daya akal ini mampu mengantarkan
manusia pada ma’rifatullah, menentukan manusia yang iman dan yang kufur serta
dapat membedakan antara yang benar dan salah.

5
e) Nafs
Nafsu adalah dorongan-dorongan yang bersemayam pada jiwa manusia.
Dorongan ini menimbulkan aktivitas pasa manusia yitu aktivitas jelek (menjauhi
rahmat Allah) dan aktivitas yang baik (mendekati Rahmat Allah).
Dengan demikian nafsu bisa digolongkan menjadi tiga yaitu :
1. Nafsu mutmainnah
2. Nafsu ammarah
3. Nafsu ammarah bis suu’

Sebagai contoh manusa memiliki nasfu makan, nafsu seksual kalau makan
berlebihan dan apa saja dimakan tidak menganal batas-batas yang ditentukan
Tuhan, maka sama dengan binatang. Kalau makan bukan sekedar alat tetapi
menjadi tujuan maka sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup. Jadi hidup untuk
makan. Nafsu seksual berlebihan tidal terkontrol, maka akan menjadi budak nasfu
biologis. Di sinilah pentingnya hakekat puasa itu dengan menahan diri dan
mengarahkan nafsu.

Lebih lanjut “Ismail bin Sayid Muhammad Said al Qadiri”, membagi nafsu
menjadi 7 yaitu :
1. Ammarah
2. Lawwamah
3. Mulhammah
4. Muthmainnah
5. Radyiyah
6. Mardhiyah
7. Kamilah
Dari tujuh nafsu tersebut diklasifikasikan menjadi dua yaitu :
1. Nafsu tercela
Yang tergolong nafsu tercela meliputi nafsu ammarah dan lawwamah. C
2. Nafsu yang terpuji
Nafsu terpuji meliputi lima macam yaitu Mulhammah, Muthmainnah,
Radhiyah, Mardhiyah dan Kamilah.

6
4. SEGI POSITIF DAN NEGATIF MANUSIA

SEGI POSITIF

1. Manusia adalah khalifah tuhan dibumi

2. Manusia punya intelegensi/bisa dididik

3. Manusia punya potensi dekat dengan tuhan melalui ibadah

4. Dalam fitrahnya memiliki unsur surgawi

5. Manusia adalah pilihan tuhan

6. Mempunyai martabat pembawa mulia

7. Memiliki kesadaran moral, baik dan buruk

8. Hidup untuk mencapai ridha Allah

9. Memiliki kemerdekaan dan amanah

10. Allah menciptakan adalah untuk menyembahnya

SEGI NEGATIF

1. Bersifat tergesa gesa

2. Suka membatah

3. Sifat keluh kesah dan kikir

4. Sifat ingkar

5. Berlebih lebihan dan melampaui batas

6. Zhalim dan bodoh

7. Bersifat lalai

Dengan demikian manusia adalah makhluk tertinggi di hadapan Allah,


meskipun manusia telah diciptakan dalam bentuk yang sebaik baiknya, tetapi
secara intern didalam diri manusia tetap memiliki berbagai kelemahan. Manusia
diberi kebebasan oleh Allah berupa akal untuk menentukan pilihan kehidupannya
mengikuti roh Allah(fitrah/suci) sehingga bisa mi'raj kepada Allah atau mengikuti
kelemahannya sehingga jatuh harkat dan martabatnya, yang terpenting segala
sesuatu yang dilakukan oleh Manusia akan dipertanggung jawabkan di akhirat
kelak.

7
5. FUNGSI KEHIDUPAN MANUSIA
Pada garis besarnya amanah sekaligus fungsi kehidupan manusia dapat
diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : sebagai Abdullah (hamba Allah),
Kholifatullah (khalifah Allah), Kerakhmatan (Pengembangan sifat Allah dan rasul-
Nya).

a. Fungsi Abdullah (hambah Allah)


Sebagai hambah Allah, manusia harus tunduk dan patuh atas segala perintah-
Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dari konsep Abdullah ini melahirkan
konsep Ibadah. Ibadah menurut Yusuf Qardhawi (1991), diartikan “tunduk, patuh,
taat, mengabdikan diri, meredahkan diri, menghinakan, menjadi pelayan, menjadi
budak kepada Allah swt”.
Bagi ajaran Islam bahwa ibadah adalah segala aktifitas yang titik tolaknya
dariAllah (niat lillahi ta’ala) dan berakhir untuk mencapai ridha Allah
(mardhatillah). Hal ini memberikan pengertian yang luas tentang makna ibadah.
Bahwa ibadah adalah segala aktifitas manusia kepada Allah (vertikal), kepada
sesama manusia (horisontal) dan termasuk pengaturan dan pemanfaatan alam
semesta. Dalam bahasa lain, bahwa ibadah adalah segala aktifitas manusia yang
tidak bertentangan dengan hukum Allah dan hukum kemanusiaan (Al-Qur’an, As-
Sunnah, hukum Alam, dan kemanusiaan).

“Dan aku tidak ciptakan Jin dan manusia melainkan supaya menyembah-Ku. Aku
tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya
mereka memberi Aku makan.”
(Surat Adz-Dzariyat ayat 56-57)

Dalam pandangan Al-Qur’an manusia bukan merupakan Khadim (pelayan)


Allah, sebab Allah tidak butuh dilayani apa-apa, Allah Maha Kaya dan Mulia.
Tetapi segala aktifitas manusia yang dilakukan adalah untuk dirinya (manusia)
sendiri, sebab manusia adalah fakir (butuh) atau memerlukan sesuatu.
Fungsi Abdullah ini menghendaki bebasnya dan hilangnya pandangan
diskriminatif antara laki-laki dan wanita, dan membebaskan pandangan rasialis
(warna kulit) dalam ajaran Islam dan kemanusiaan.

8
b. Fungsi Khaliffatullah (khalifah Allah)
Fungsi dan kedudukan manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah di bumi.
Tujuan penciptaan manusia di atas dunia ini adalah untuk beribadah. Sedangkan
tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mendapatkan kesenangan dunia dan
ketenangan akhirat. Jadi, manusia di atas bumi ini adalah sebagai khalifah, yang
diciptakan oleh Allah dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya, yang ibadah itu
adalah untuk mencapai kesenangan di dunia dan ketenangan di akhirat.
Apa yang harus dilakukan oleh khalifatullah itu di bumi? Dan bagaimanakah
manusia melaksanakan ibadah-ibadah tersebut? Serta bagaimanakah manusia bisa
mencapai kesenangan dunia dan ketenangan akhirat tersebut? Banyak sekali ayat
yang menjelaskan mengenai tiga pandangan ini kepada manusia.

“ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui“. (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Khalifah adalah seseorang yang diberi tugas sebagai pelaksana dari tugas-tugas
yang telah ditentukan. Jika manusia sebagai khalifatullah di bumi, maka ia
memiliki tugas-tugas tertentu sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan oleh
Allah selama manusia itu berada di bumi sebagai khalifatullah.
Jika kita menyadari diri kita sebagai khalifah Allah, sebenarnya tidak ada satu
manusia pun di atas dunia ini yang tidak mempunyai “kedudukan” ataupun
“jabatan”. Jabatan-jabatan lain yang bersifat keduniaan sebenarnya merupakan
penjabaran dari jabatan pokok sebagai khalifatullah. Jika seseorang menyadari
bahwa jabatan keduniawiannya itu merupakan penjabaran dari jabatannya sebagai
khalifatullah, maka tidak ada satu manusia pun yang akan menyelewengkan
jabatannya. Sehingga tidak ada satu manusia pun yang akan melakukan
penyimpangan-penyimpangan selama dia menjabat.
Jabatan manusia sebagai khalifah adalah amanat Allah. Jabatan-jabatan duniawi,
misalkan yang diberikan oleh atasan kita, ataupun yang diberikan oleh sesama
manusia, adalah merupakan amanah Allah, karena merupakan penjabaran dari

9
khalifatullah. Sebagai khalifatullah, manusia harus bertindak sebagaimana Allah
bertindak kepada semua makhluknya.
Pada hakikatnya, kita menjadi khalifatullah secara resmi adalah dimulai pada
usia akil baligh sampai kita dipanggil kembali oleh Allah. Manusia diciptakan oleh
Allah di atas dunia ini adalah untuk beribadah.

c. Fungsi Kerakhmatan ( Pengemban sifat Allah dan Rasulnya)


Manusia adalah penerus perjuangan Rasul, maka manusia harus
mentranformasikan Rasul Rakhmatan lil ‘alamin dan menyempurnakan akhlak
dalam kehidupan manusia.
Adapun fungsi manusia dalam kaitan kerakhmatan diantaranya :
 Mengembangkan sifat Rakhmana dan Rakhim Allah ( kasih sayang) dalam
kehidupan manusia (kepada manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan).
Pengembangan sifat ini akan mencapai puncak kemanusiaan “ma’rifatullah’.
Contohnya :
1. Menyelamatkan orang yang tersesat.
2. Memberi makan kepada orang miskin dan anak yatim.
3. Mengaktualisasikan diri dalam kehidupan sebagai perwujudan Iman dan Islam.
4. Menyebarkan salam perdamaian.

6. HAKIKAT HIDUP DUNIA DAN AKHIRAT


1. Hakekat kehidupan Dunia
a. Kehidupan Temporer(sesaat)
Kehidupan dunia sekarang ini tidak ada yang langgeng dan tidak ada yang
abadi semuanya mengalami proses perubahan, kematian dan kehancuran, dari
kecil menjadi besar tua dan kembali lagi menjadi kecil bahkan tidak ada lalu
ada lagi.
b. Tempat amal saleh-jihad
Perwujudan nilai manusia dan kemanusiaan itu harus diwujudkan di tengah-
tengah kehidupan masyarakat selama kehidupan sekarang ini. Kehidupan
dunia ini sejarah, yang menjadi pelakunya adalah kita semua. Karena sejarah
maka kita harus mencatat prestasi yang baik dengan melaksanakan amal saleh
dan jihad (kesungguhan) dalam segala bentuknya.

10
c. Tangungjawab invidual dan kolektif.
Setiap aktivitas yang di lakukan manusia di tengah masyarakat akan membawa
dampak langsung terhadap diri sendiri dan masyarakat secara keseluruhan.
Dalam konteks inilah setiap orang memiliki tanggung jawab yang sama untuk
memperbaiki struktur masyarakat. Sebab hasil usaha seseorang di dunia ini
akan dirasakan oleh masyarakat secara kolektif, apa itu keburukan dan
kebaikan semua akan menimpa masyarakat secara keseluruhan.
d. Semangat kebersamaan
Dalam kemanusiaan, manusia tidak di perkenankan berfikir individualistik,
nafsi-nafsi,kapitalistik, dan liberalisasi dan tidak memperhatikan orang lain. Di
dunia inilah tempat kerja sama antar sesama manusia membangun perdamaian
dan kedamaian umat manusia.

“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan
mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di
bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk
menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam
menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua
pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan,
yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata
dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata
(pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (Qs.
Al-Anfaal [8] : 42)

2. Hakikat kehidupan akhirat


a. Akhir dari sejarah kehidupan alam semesta
Kehidupan akhirat merupakan akhir dari cerita manusia dan kemanusiaan di
dunia, jadi cerita tentang dinamika manusia dalam membuat prestasi sudah
berakhir, yang tidak sukses sejarahnya akan mengalami kekecewaan dan tidak
bisa di putar lagi sejarahnga. Berkaitan dengan hal ini patut kita renungkan
peringatan Al Qur’an dalam bentuk penggambaran adanya dialog antara
“penghuni neraka” dan “penghuni surga” di hari kemudian.
b. Tidak lagi terdapat kewajiban, amal saleh
Di akhirat tidak ada kewajiban apapun bentuknya dan tidak amal shaleh.
Fungsi perintah dan kewajiban serta iman dan amal shaleh itu di dunia untuk

11
mendapat balasan di akherat. Jadi di sini bisa dikatakan bahwa kehidupan
akherat merupakan akibat dari kehidupan dunia, kalau dunianya jelek akherat
nya jelek, dunianya baik akherat nya baik.
c. Pertanggungjawaban individu secara mutlak
Di sini penting sekali untuk di ketahui bagi manusia yang telah diberi amanat
Tuhan yaitu tugas kekhalifahan di muka bumi. Apa pun yang ia laksanakan
dalam konteks kehidupan sekarang ini akan dipertanggungjawabkan secara
individu di hadapan Allah. Jadi tidak ada pertanggungjawaban secara kolektif.
d. Kehidupan individualistik
Kehidupan akherat sangat berbeda dengan kehidupan dunia, sebab kehidupan
akherat tidak ada kerjasama antar manusia, tidak ada tolong menolong
semuanya ditanggung sendiri.

12
BAB 3
PENUTUP

Kesimpulan
Manusia sebagai puncak ciptaan Allah dilahirkan dengan kondisi fitrah atau suci.
Berbagai potensi manusia harus dikembangkan untuk mewujudkan fungsi
kehidupannya. Manusia bukan hanya sebagai Abdullah, melainkan juga sebagai
kholifatullah.

Dengan potensi yang dimiliki manusia serta kesadaran tugas hidupnya, manusia
akan mengerti hakekat kehiduoan dunia dan akhirat. Manusia harus menciptakan
sejarah kehiduoan dengan kebebasan ikhtiyar, namun memiliki tanggung jawab atas
segala perbuatan yang telah dilakukannya.

13