Anda di halaman 1dari 59

PENERAPAN NILAI-NILAI LUHUR DAN KETELADANAN JENDERAL SOEDIRMAN DALAM

KEGIATAN AKADEMIS

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberi rahmat serta karunia-Nya
sehingga penulis berhasil menyelesaikan makalah “Penerapan Nilai-nilai Luhur dan
Keteladanan Jenderal Soedirman dalam Kegiatan Akademis Mahasiswa” tepat waktu.
Makalah berisikan tentang informasi mengenai sosok Panglima Besar Jenderal
Soedirman dan pentingnya seorang mahasiswa meneladani serta menerapkan
keteladanan Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam kegiatan akademis
mahasiswa.
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran dari
pihak yang bersifar membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Demikian makalah ini dibuat, semoga makalah ini dapat bermanfaat, Aamiin.

Purwokerto, 23 Oktober 2015


Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Indonesia pada era globalisasi ini sering terjadi tawuran antar pelajar, demo
anarkis mahasiswa, adanya pergaulan bebas yang umumnya di kalangan pelajar dan
mahasiswa dan hilangnya kesadaran upaya kalangan muda untuk menuju cita-cita
bangsa. Kondisi tersebut mengkhawatirkan nasib bangsa karena pelajar dan
mahasiswa adalah calon pemimpin penerus bangsa Indonesia. Kalangan generasi
muda perlu adanya pengenalan nilai-nilai luhur dan keteladan dari para pejuang
bangsa Indonesia yang telah berkorban demi kemerdekaan Indonesia, sehingga
generasi muda dapat meneladani dan menerapkan nilai-nilai luhur dan keteladanan
tersebut agar bangsa Indonesia dapat bersatu dan berdaulat.
Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah salah satu tokoh pejuang yang
sangat berjasa untuk kemerdekaan Indonesia, dan beliau telah mendarmabaktikan
jiwa raga dan kemampuan yang dimilikinya untuk keluhuran cita-cita bangsa
Indonesia (Adjiesoemardono dkk., 2015). Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah
sosok yang bersahaja, agamis, serta pemberani dalam perjuangannya melawan dan
mengusir penjajah. Sifat-sifat keteladanan Panglima Besar Jenderal Soedirman dapat
menjadi teladan atau contoh bagi masyarakat.
2. PERUMUSAN MASALAH
Siapakah Panglima Besar Jenderal Soedirman?
Bagaimana riwayat hidup Panglima Besar Jenderal Soedirman?
Apa nilai-nilai luhur dan keteladanan yang dimiliki oleh Panglima Besar Jenderal
Soedirman?
Bagaimana penerapan nilai-nilai luhur dan keteladanan Panglima Besar Jenderal
Soedirman dalam kegiatan akademis mahasiswa?
3. TUJUAN
Mengetahui dan memahami tokoh Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Mengetahui riwayat hidup Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Memahami nilai-nilai luhur dan keteladanan yang dimiliki oleh Panglima Besar
Jenderal Soedirman.
Mengetahui cara penerapan nilai-nilai luhur dan keteladanan Panglima Besar
Jenderal Soedirman.
MANFAAT
Menjadi mahasiswa yang dapat menerapkan nilai-nilai luhur dan keteladanan dari
Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Meningkatkan kualitas sivitas akademika dengan mengaktualisasikan karakter
Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam kegiatan akademis.

BAB II
PEMBAHASAN
Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah tokoh pahlawan Indonesia yang
memiliki nama besar, meskipun beliau berasal dari kalangan rakyat kecil, seperti
yang dikatakan oleh Adjisoedarmo dkk. (2015) bahwa:
“Panglima Besar Jenderal Soedirman merupakan salah satu tokoh pahlawan
nasional yang sangat berjasa bagi bangsa Indonesia sehingga dapat dikategorikan
sebagai tokoh yang memiliki nama besar. Namun demikian, bukan berarti beliau
berasal dari keturunan orang besar tetapi beliau berasal dari rakyat kecil”.
Panglima Besar Jenderal Soedirman yang memiliki nama asli Raden Soedirman,
lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Ayahnya adalah
seorang Mandor Tebu di Kalibagor Banyumas yang bernama Karsid dan Ibunya
bernama Siyen, sejak bayi Panglima Besar Jenderal Soedirman dijadikan anak angkat
oleh keluarga R.Cokrosunaryo yang menjabat sebagai Asisten Wedana (Camat) di
Rembang Purbalingga (Arrusdi, 2014).
Panglima Besar Jenderal Soedirman telah banyak memberikan perjuangan
kemerdekaan untuk Indonesia. Perjuangan tersebut diantaranya adalah berjuang
melawan pasukan Belanda pada Agresi Militer II, melawan pasukan Jepang setelah
kemerdekaan Indonesia, berhasil membuat pasukan Inggris meninggalkan Indonesia,
dan lain-lain. Panglima Besar Jenderal Soedirman pada saat Agresi Militer II
menderita penyakit yang parah, namun tetap bertekad memimpin prajurit untuk ikut
bergerilya melawan Belanda meskipun harus menggunakan tandu. Panglima Besar
Jenderal Soedirman juga memberikan jasa pertamanya sebagai tentara pasca
kemerdekaan Indonesia, yaitu melawan pertempuran dengan pasukan Jepang di
Banyumas dan berhasil merebut senjata pasukan Jepang. Pasca kemerdekaan pada
tanggal 12 Desember 1945, Panglima Besar Jenderal Soedirman melancarkan
serangan serentak terhadap semua kedudukan pasukan Inggris, pertempuran
tersebut berlangsung selama lima hari dan berhasil memaksa pasukan Inggris
mengundurkan diri (Arrusdi, 2014).
Perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh Panglima Besar Jenderal
Soedirman melahirkan suatu nilai-nilai luhur dan keteladanan. Nilai luhur yang dapat
diambil dalam perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah nilai kejuangan,
seperti yang dikatakan oleh Adjisoedarmo dkk. (2015) bahwa:
“Nilai kejuangan dapat bermakna nilai yang terkandung dalam usaha dengan
penuh kesukaran dan bahaya untuk merebut sesuatu (misalnya mempertahankan
kemerdekaan RI), merebutkan sesuatu dengan mengadu tenaga dan pikiran, dan
usaha yang penuh dengan bahaya (misalnya perang). NIlai kejuangan tersebut
bermakna pula nilai luhur hasil wujud interaksi sosial termasuk dalam berbagai
persaingan dan konflik”.
Nilai luhur dan keteladanan yang berupa nilai kejuangan tersebut dapat
diinternalisasi dan diaktualisasi oleh sivitas akademik, khususnya bagi mahasiwa
pada kegiatan akademik. Mahasiswa sebagai bagian integral dari pemuda Indonesia
memiliki kedudukan dan posisi yang strategis bagi pertumbuhan, perkembangan,
dan kelangsungan hidup bangsanya.
Kedudukan mahasiswa dalam kehidupan bangsa mempunyai dua peran
sebagai generasi muda intelektual dan generasi muda bangsa. Mahasiswa sebagai
generasi muda intelektual mempunyai tanggung jawab terhadap perkembangan dan
implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta dapat memecahkan masalah
bangsa dengan pendekatan kemampuan intelektual yang dimilikinya. Mahasiswa
sebagai generasi muda bangsa adalah calon-calon pemimpin masa depan yang harus
mempunyai kemampuan dan kompetensi teknis, moralitas, karakter, dan
kepribadian yang baik.
Pembentukan moralitas, karakter, dan kepribadian mahasiswa membutuhkan
penerapan nilai-nilai luhur dan keteladanan dari seorang panutan, contohnya adalah
Panglima Besar Jenderal Soedirman. Nilai kejuangan Panglima Besar Jenderal
Soedirman tersebut diamati, dipelajari, dimengerti, dan dipahami. Nilai kejuangan
Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dapat diteladani adalah:
Panglima Besar Jenderal Soedirman sebagai sang mubaligh, mempunyai sifat jujur
yang didasarkan pada keyakinan agamanya. Panglima Besar Jenderal Soedirman
adalah seorang pemimpin yang mempunyai iman dan taqwa yang kuat.
Panglima Besar Jenderal Soedirman sebagai sang pendidik, mempunyai sifat cerdas
yang mendasarkan pada kemampuan intelektuallitas.
Panglima Besar Jenderal Soedirman sebagai sang demokrat mempunyai sifat peduli,
dengan tetap menghormati perbedaan pendapat tanpa harus memaksakan
kehendak, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
Panglima Besar Jenderal Soedirman sebagai sang prajurit pejuang mempunyai sifat
tangguh, iklas dan rela berkorban, berpegang teguh pada prinsip dan cita-cita,
pantang menyerah dalam berjuang, mengutamakan kepentingan bangsa dan negara
dalam rangka menumbuhkan kesadaran bela negara.
Nilai kejuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman dapat diterapkan secara
bertahap hingga berkelanjutan yang dimulai saat mahasiswa baru mengikuti proses
pembelajaran dan menjalani kehidupan masyarakat kampus. Penerapan nilai-nilai
luhur dan keteladanan mempunyai banyak manfaat di bidang kegiatan akademis,
diantaranya adalah membangkitkan kepercayaan mahasiswa sehingga
menumbuhkan self concept yang sangat diperlukan dalam mendukung efektifitas,
efisiensi, dan keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan studi tepat waktu,
mampu menempatkan diri pada teknostruktur yang tepat di masyarakat setelah
purnastudi, dan secara konsisten menjadi pribadi yang beriman, bertaqwa dan
ber-ipteks yang diamalkan kepada masyarakat, bangsa, dan negara (Adjisoedarmo
dkk., 2015).
Pengembangan karakter dan kepribadian yang sesuai dengan nilai kejuangan
dan keteladanan Panglima Besar Jenderal Soedirman salah satunya melalui
pendidikan karakter. Pendidikan karakter dilakukan dengan mengutamakan dan
memfokuskan pada aktivitas yang mampu memunculkan proses internalisasi dan
aktualisasi karakter berbasis nilai-nilai kejuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman
dan melahirkan banyak tujuan, seperti yang dikatakan oleh Adjisoedarmo dkk. (2015)
bahwa:
“Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi
pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan
kemampuan peserta didik untuk membuat keputusan baik buruk, memelihara apa
yang baik, mewujudkan dan menebar kebaikan itu dalam kehidupan sehari hari
dengan sepenuh hati”.
Pelaksanaan pendidikan karakter kepada mahasiswa diharapkan agar
mahasiswa dapat meneladani nilai-nilai luhur tokoh pejuang, di samping itu
pendidikan karakter dengan berlandaskan nilai kejuangan Panglima Besar Soedirman
dapat menjadi alternatif solusi bagi perbaikan perilaku dan moral bangsa yang
mengalami krisis etika dan identitas diri, dan mahasiswa mempunyai kemampuan
untuk menyelesaikan konflik di berbagai kalangan dalam berbagai aspek kehidupan.
Mahasiswa yang dapat meneladani pendidikan karakter dari nilai-nilai kejuangan
Panglima Besar Jenderal Soedirman mampu meningkatkan kualitas sivitas akademik
dalam berbagai upaya peningkatan kegiatan akademis.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah salah satu tokoh pejuang
kemerdekaan Indonesia yang mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat diteladani oleh
generasi penerus, khususnya mahasiswa. Nilai nilai luhur dari Panglima Besar
Jenderal Soedirman adalah nilai kejuangan. Nilai-nilai kejuangannya adalah Panglima
Besar Jenderal Soedirman sebagai sang pendidik, mubaligh, demokrat, dan prajurit
pejuang. Manfaat nilai-nilai kejuangan tersebut salah satunya adalah dapat
membangkitkan kepercayaan mahasiswa sehingga menumbuhkan self concept yang
sangat diperlukan dalam mendukung efektifitas, efisiensi. Pengembangan karakter
dan kepribadian yang sesuai dengan nilai kejuangan dan keteladanan Panglima Besar
Jenderal Soedirman salah satunya melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter
dilakukan dengan mengutamakan dan memfokuskan pada aktivitas yang mampu
memunculkan proses internalisasi dan aktualisasi karakter berbasis nilai-nilai
kejuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman.
SARAN
Mahasiswa sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia harus mempunyai
keteladanan dari nilai-nilai luhur seorang tokoh pejuang agar dapat berkontribusi
terhadap pembangunan nasional. Nilai-nilai luhur dan keteladan dari Panglima Besar
Jenderal Soedirman diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan akademis
mahasiswa. Sivitas akademik perlu meningkatkan pembentukan karakter dan
kepribadian dalam segala kegiatan akademis melalui pendidikan karakter.

DAFTAR PUSTAKA
Adjiesoemardono, S., dkk., 2015, Jatidiri Unsoed, Purwokerto, UPT. Perpustakaan
dan Penerbitan Unsoed.
Arrusdi, A., 2014, Aktualisasi Nilai Kejuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman,
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
A. Synopsis

Film ini menceritakan perjuangan sosok Jendral Soedirman yang memimpin pasukan
TNI untuk melakukan perang Gerilya walaupun ia dalam keadaan sakit. Berawal dari
pemilu yang mengangkat Jendral Soedirman sebagai panglima besar TNI Angkatan
Darat pada pemerintahan Soekarno Hatta .Perang ini dilakukan untuk membuktikan
bahwa Indonesia dan TNI masih ada. Hal ini berawal dari Belanda melakukan agresi
militer kedua dengan meluncurkan serangan ke Yogyakarta sehingga dilakukannya
perudingan Renvile. Perundingan tersebut berisi salahsatunya bahwa Indonesia
harus mengosongkan Yogyakarta karena kota itu menjadi milik Belanda. Setelah
perundingan itu Soekarno menyuruh Jendral Soedirman untuk tetap tinggal karena
melihat kondisinya yang buruk . Tetapi ia menolak dan berkata “saya seorang tentara
saya akan tetap memimpin perang Gerilya” . Kemudian Jendral Soedirman memulai
perjalanan. Saat itu pula Jakarta telah dikuasai Belanda dan Soekarno Hatta
diasingkan ke Bangka.

Perjalanan ini bukanlah perjalanan mudah, bukan hanya tentang mereka mengambil
jalan hutan dengan tidak melewati jalan setapak, juga karena ada tentara Komunis
yang tidak pernah baik terhadap TNI . Di film juga digambarkan pasukan Jendral
Sudirman bertemu dengan segerombolan pasukan yang marah-marah karena kota
Kediri di bom oleh Belanda gerombolan ini mencari Jendral Sudirman, namun oleh
pasukan Jendal Sudirman disebutkan kalau mereka membawa orang sakit.

Jendral Soedirman dan tentaranya tak pernah mundur memperjuangkan Indonesia,


mereka bertahan lama di hutan dengan makan dari hasil hutan dan juga singgah ke
desa-desa. Bukan hal mudah melakukannya, karena pasukan Belanda terus mengejar
mereka. Untungnya, karena mereka mempunyai taktik dan strategi yang sangat
brilian mereka tak pernah tertangkap Belanda . Terlepas dari itu, rakyat juga
berperan penting karena sangat membantu dan terus menyemangati pasukan TNI
Indonesia baik dari segi konsumsi, tempat dan juga lebih memilih mati terhormat
daripada membocorkan informasi kepada Belanda.

Dengan perang Gerilya tersebut , dunia mengakui bahwa Indonesia dan TNI nya
masih ada dan PBB mengadakan perundingan Roem-Royn untuk Indonesia dan
Belanda.

B. Analysis

Film ini bertema perjuangan Jenderal Soedirman dan pasukan TNI memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia.Jendral Soedirman yang diperankan Adipati Dolken
berwatak pantang menyerah, gigih,pemberani,berjiwa tenang, cerdas dan tak
pernah mundur.Presiden Soekarno yang diperankan oleh Baim Wong yang bersifat
bijaksana dan Mathias Muchus sebagai Tan Malaka sebagai pemberontak
pemerintah. Didukung juga oleh aktor Ibnu Jamil sebagai Kapten Cokroaminoto yang
setia terhadap Jendral Soedirman.Ada juga Karsani, sebagai penggambaran para
pahlawan tidak dikenal yang merupakan para pengawal Jendral Sudirman. Latar
tempat yang dipilih pegunungan, danau, matahari terbit, hutan, gedung agung dan
pedesaan. Film ini meiliki alur maju.Amanat dalam film ini bahwa kita harus tetap
memperjuangkan apapun dengan gigih tanpa beputus asa walaupun sedikit harapan
dan dalam keadaan tertekan.

Keunggulan film ini, segi penggunaan senjata serta seragam yang dikenakan para
prajurit sangat cocok, membuat suasana seperti kembali ke masa dulu.Ditambah
keadaan masyarakat, pemukiman dan pasar tradisional yang benar-benar seperti
jaman dahulu .Penggunaan berbagai bahasa pada film ini beragam,percampuran
antara Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Belanda yang mampu
menghidupkan suasana. Dalam perjalanan Jendral Soedirman dan para TNI
melakukan perang gerilya ini berlatar di hutan , danau dan pegunungan telah
menunjukkan betapa indahnya alam Indonesia. Pemilihan tokoh seperti Adipati
Dolken, Ibnu Jamil, dan Baim Wongyang secara fisik terlihat gagah, keren, dan
energik dapat menarik minat para penonton, khususnya kalangan muda. Juga
dengan dihadirkannya tokoh Karsani ini bisa mencairkan ketegangan di film ini.
Kekurangannya, disepanjang film tidak diberikan keterangan teks yang
menunjukkan momen apa yang sedang terjadi atau siapa saja tokoh penting yang
terlibat di dalamnya. Suara para pemeran yang tidak jelas sehingga
membingungkan. Efek kamera yang digunakan pada saat peperangan dan
pengeboman terlihat sangat palsu..Adipati Dolken yang memerankan Jendral
Soedirman kurang maksimal dalam karakter Jendral Soedirman,juga wajah dan
jemarinya terlihat begitu halus untuk ukuran seorang prajurit perang dan juga
kurang berkharisma. Begitu pula Baim Wong yang memerankan tokoh Soekarno
kurang berwibawa.

Kesimpulannya ,film ini sangat dianjurkan untuk ditonton umum, khususnya generasi
muda. Karena dari film ini, kita dapat mengetahui betapa luar biasanya perjuangan
Jendral Soedirman dan para pasukan TNI dalam mempertahankan kemerdekaan . Ini
menjadi cerminan untuk kita, agar tidak menyianyiakan kemerdekaan ini, karena kita
tahu bagaimana susahnya para pahlawan memperuangkan kemerdekaan.
Diposting oleh Ruri Ratureka di 17.25
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Seperti apa amanat Jenderal Besar Soedirman? Berikut petikannya yang sering
menjadi sumber inspirasi para prajurit TNI. Amanat ini disampaikan Jenderal
Soedirman seperti yang dicantumkand alam Maklumat Tentara Keamanan Rakyat
1 Januari 1946)
Anak-anakku tentara Indonesia...
Robek-robeklah badanmu, potong-potonglah jasadku, Tetapi Jiwaku yang dilindungi
benteng Merah Putih akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang
dihadapi.Tentara bukan merupakan suatu kalangan diluar masyarakat, bukan suatu
kasta yang berdiri diatas masyarakat.
Tentara hanya mempunyai kewajiban satu ialah mempertahankan kedaulatan
negara dan menjaga keselamatannya, sudah cukup kalau tentara takut memegang
kewajibannya itu.
Lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh tunduk kepada pimpinan
atasannya, dengan iklas mengerjakan kewajibannya tunduk kepada perintah
pimpinannya. Inilah merupakan kekuatan dari suatu tentara.
Kamu sekalian telah bersumpah bersama-sama rakyat seluruhnya, akan
mempertahankan kedaulatan negara republik kita dengan segenap harta benda
dengan jiwa raga, jangan sekali-kali diantara tentara kita, ada yang menyalahi janji
menjadi penghianat nusa, bangsa, dan agama.
Harus kamu senantiasa ingat, bahwa tiap-tiap perjuangan tentu memakan korban
tetapi kamu sekalian telah bersumpah, ikhlas mati sebagai kusuma bangsa.
Meskipun kamu dapat dilatih jasmani yang sehebat-hebatnya, tidak akan berguna
jika kamu mempunyai sifat menyerah, tentara akan timbul dan tenggelam
bersama-sama negara.
Anak-anakku tentara Indonesia, kamu bukanlah serdadu sewaan, tetapi prajurit yang
berideologi yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran Tanah
Airmu.
Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara yang didirikan diatas
himpunan runtuhan ribuan jiwa, harta benda dari rakyat dan bangsanya tidak akan
dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga. Berjuang terus.
Insya Allah, Tuhan melindungi perjuangan suci kita, janji sudah kita dengungkan,
tekad sudah kita tanamkan, semua ini tidak akan bermanfaat bagi tanah air kita,
apabila janji dan tekad ini tidak kita amalkan dengan amalan yang nyata.
Tulisan ini kupersembahkan untuk seluruh masyarakat Indonesia

Khususnya untuk:

1. Generasi muda dan orang-orang yang dimabuk hedonisme dan egoisme.


2. Penentang Pancasila dan UUD 1945, Kaum "agamis" garis keras nan radikal,
3. Kaum-kaum yang mengutamakan kepentingan kelompok di atas kepentingan
bangsa dan negara.
4. Koruptor dan mafia, baik dari level mafia proyek sampai mafia absen di sekolah /
kampus.
5. Orang-orang Indonesia yang memuja negara lain atas dasar pesimisme terhadap
negeri sendiri.

Sebuah Lagu Penyentuh Hati

Jenderal Soedirman

Ciptaan : Alm. Franky Sahilatua


Dibawakan oleh: Deiril Masril ft Iwang Noorsaid
Dalam sakit di atas tandu
Tidur di gubuk, gubuk kecil
Gerilya dengan, bara di hati
Susuri desa dan kota-kota

Kelompok kecil, atur rencana


Lawan penjajah dan penindasan
Semangat juang, ia tirukan
Terdengar hingga seluruh negeri

Tentara, jiwa sudirman


Tentara, hati sudirman
Tentara, sikap sudirman

Dalam sakit... tetap berjuang

Sumber: Channel "bogemmentah" (youtube)


Dinyanyikan pada acara Mata Najwa "Belajar dari Jenderal Soedirman"

Demikianlah lagu "Jenderal Soedirman" karya alm. Franky Sahilatua. Lagu sederhana
namun menggambarkan seluruh kisah perjuangan Jenderal Soedirman dalam
memimpin gerilya ketika menghadapi Belanda pada agresi militer yang kedua.

Lagu ini pertama kali saya dengar ketika menyaksikan acara Mata Najwa dan kembali
saya dengar untuk yang kedua kalinya pada akhir film "Jenderal Soedirman" karya
sutradara Viva Westi. Lagu di akhir film tersebut seakan merangkum seluruh
adegan-adegan film yang dimainkan secara luar biasa oleh Adipati Dolken selaku
pemeran Jenderal Soedirman.
Lagu diatas mengawali tulisan saya kali ini yang judulnya sama persis seperti episode
yang dibawakan acara Mata Najwa tersebut.

Mengapa Soedirman ?

Keberadaan film-film sejarah yang mengisahkan perjuangan para pahlawan dalam


meraih maupun memperjuangkan kemerdekaan merupakan suatu hal yang patut
diapresiasi. Keberadaan film-film tersebut seakan menjadi sebuah oasis di
tengah-tengah film-film nasional yang bergenre horor maupun drama.

Satu hal yang spesial dari film sejarah (dan alasan saya menyuakai film sejerah) ialah
pembuatannya yang benar-benar dikerjakan secara serius. Tuntutan ini tentu tidak
terlepas dari sebuah kenyataan bahwa film sejarah harus based on the real
fact. Penelitian sejarah sampai pendalaman karakter pun benar-benar dilakukan
(Termasuk dalam film Jenderal Soedirman dimana dalam produksinya kru harus
menelusuri kembali rute gerilya Soedirman dan Adipati Dolken harus mengikuti
pelatihan "militer" selama delapan hari). Properti yang digunakan pun bukanlah
sembarangan (Coba tonton trilogi merah putih. Perhatikan properti mulai dari
senjata, kendaraan, sampai efek ledakan). Efeknya kalau menyimpang dari fakta pun
mengundang resiko yang besar. Kontroversi film Soekarno sampai Soegija pernah
saya perhatikan karena kedua film tersebut dinilai menyimpang dari sejarah yang
ada. Kontroversi tidak hanya sebatas pada kedua film tersebut. Masih ada diingatan
ini mengenai film Pengkhianatan G 30S-PKI yang kontroversial dan tentu kontroversi
film sejarah-propaganda orde baru tersebut berlaku abadi.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan film horor atau drama yang dibuat secara
receh, dibuat dengan modal seminim mungkin demi mendapat "balik modal" yang
besar (tapi apresiasi tetap saya berikan karena masih ada film-film genre horor dan
drama yang digarap secara serius). Tetapi hati ini miris melihat kecenderungan
masyarakat yang lebih menggemari film "receh" ketimbang film-film sejarah yang
digarap secara serius dan memiliki nilai-nilai nasionalisme.

Sebagai orang yang "baru" dalam menggemari film sejarah, saya sudah menyaksikan
film "sejadul" Janur Kuning (1979) dan Nagabonar (1987) sampai yang
terbaru Soekarno (2013). Saya juga pernah menyaksikan film sejarah se-fiksi Tri-logi
Merah Putih (2009) dan setengah fiksi seperti Soegija (2012). Masih ada film lain
seperti Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015), Sang Pencerah (2010), dan Sang
Kiai (2013) yang belum sempat ditonton dan mengundang rasa penasaranku untuk
melihat sejarah perjuangan bangsa dalam prespektif agama islam (Sekali lagi,
prespektif agama islam dan tentunya islam yang nasionalis bukan radikal).

Diantara film-film sejarah yang pernah saya tonton, Jenderal Soedirman merupakan
film yang istimewa dan lain dari pada yang lain bagi saya.

Seorang Soedirman yang ditampilkan bukanlah seorang tentara yang kuat dan
petarung handal sebagaimana trilogi merah putih menggambarkan sosok TNI dalam
diri Amir, Dayan, Marius, dan Thomas. Soedirman juga bukanlah seorang pemikir
seperti Soekarno maupun Tjokro. Soedirman juga bukanlah orang yang relegiusnya
setingkat dengan Soegija, KH Hasyim Asyari (dalam Sang Kiai), maupun Ahmad
Dahlan (dalam Sang Pencerah).

Soedirman digambarkan sebagai seseorang yang "sakit-sakitan" (terkena TBC dan


hanya memiliki satu paru-paru), lemah, dan hidup serba kekurangan. Tetapi kondisi
inilah yang menjadikan ia istimewa manakala ia memutuskan untuk berjuang,
bergerilya, masuk hutan, naik-turun gunung, dan menumpang di gubuk-gubuk reot
milik rakyat kecil. Kondisi serba kekurangan inilah yang menjadi latar belakang alm.
Franky Sahilatua dalam menciptakan lagu Jenderal Soedirman. Di dalam acara Mata
Najwa, Viva Westi menceritakan bahwa alm. Franky (ketika itu sedang sakit)
terinspirasi dengan seorang sosok yang sakit-sakitan tetapi berjuang demi
kemerdekaan negara dan lebih mencintai negara ini ketimbang dirinya sendiri. Sosok
itu ialah Soedirman sendiri !

Apa yang diajarkan Soedirman ?

Trailer film Jenderal Soedirman. Sumber: Channel kvlt magz

(Dalam membahas bab ini, saya mengacu pada film Jenderal Soedirman dan acara
Mata Najwa)

1. Kamu Tentara, Tugas Kamu di Medan Perang !


Terdapat sosok Tan Malaka dalam trailer dimana seorang Tan Malaka yang
berhaluan "komunis" mengajak Soedirman untuk bekerja sama dalam
"meng-kudeta" pemerintahan Soekarno-Hatta dan perundingan Linggarjati dan
Renville menjadi alasannya. Penggambaran sosok Tan Malaka yang sebagai tokoh
"berdarah dingin" (seperti Muso maupun Aidit) mengundang kontroversi mengingat
Tan Malaka diberikan gelar pahlawan kemerdekaan nasional oleh Soekarno sendiri
(berbeda dengan Muso maupun Aidit). Apa jawab Soedirman ? "Saya tentara dan
tentara setia pada pemerintah" (kira-kira begitu). Upaya Tan Malaka gagal.

Adegan lain yang diperlihatkan ialah saat Belanda menyerang Jogja dan Soedriman
mengajak Soekarno untuk bergerilya bersama. Soekarno mengungkapkan bahwa
sidang kabinet memutuskan agar Soekarno tetap tinggal di Jogja (dengan resiko
ditangkap dan faktanya Soekarno dan petinggi Republik lainnya ditangkap). Soekarno
juga meminta Soedirman untuk tetap tinggal di Jogja dan ia menjanjikan Soedirman
mendapatkan perawatan dari dokter Belanda. Sebelumnya, Soedirman menegaskan
bahwa ia akan patuh pada pemerintah. Namun ketika tindakan pemerintah (dalam
hal ini Soekarno) dirasa "membahayakan" bagi negara (menyerahkan diri pada
Belanda - perintah Soekarno sendiri kepada Soedirman), Soedirman memutuskan
untuk menolak instruksi pemerintah dan memilih bergerilya ke hutan demi negara.
Mungkin selengkapnya dan agar lebih memahami makna penting dari adegan ini,
bisa disaksikan:

Sumber: Channel Mata Najwa

Pelajaran pertama yang dapat kita tarik: Loyalitas bagi negara !

2. Kalau kalian mau pulang ke rumah, pulanglah. Saya akan tetap disini..
Sumber: https://timuran151.files.wordpress.com/2011/08/jendral-sudirman4.jpg

Gerilya sang jenderal bersama kelompok kecilnya merupakan adegan utama dalam
film Jenderal Soedirman. Pada adegan inilah penonton diajak merasakan perjuangan
Soedirman yang harus naik-turun gunung, keluar-masuk hutan, sampai tidur di
gubuk demi menggalang kekuatan TNI dalam persiapan menjelang serangan
umum ke kota Jogja dan menghindari kejaran tentara Belanda pimpinan Jenderal
Spoor. Gerilya yang dilakukan bukanlah gerilya sembarangan tetapi gerilya dijalani
Soedirman dalam kondisi sakit, ditandu, dan minim amunisi serta perbekalan.

Meski sakit-sakitan, Soedirman dan pasukannya bagaikan belut. Begitu licin dan sulit
ditangkap oleh Belanda. Tentara Belanda boleh memiliki amunisi yang banyak,
senjata canggih, kendaraan bermotor, sampai pesawat tempur P-51 Mustang yang
merupakan pesawat tempur tercanggih jaman itu. Prajurit Belanda yang memburu
mereka pun bukanlah prajurit sembarangan tetapi Korps Speciale Troepen (KST). KST
dikenal sebagai prajurit elit dan yang terbaik diantara prajurit-prajurit Belanda yang
berusaha menduduki kembali Indonesia. KST juga dikenal sebagai korps yang
melahirkan penembak jitu (sniper) yang banyak memakan korban di pihak Indonesia
dan prajurit ini juga terkenal akan kekejaman perang terutama terhadap warga sipil.
Pembantaian Westerling di Sulawesi merupakan "produk" dari kekejaman KST. KST
yang terkenal dengan baret merah inilah yang menginspirasi petinggi-petinggi TNI
(terutama "veteran" perang kemerderkaan) dalam mendirikan Komando Pasukan
Khusus (Kopassus) dan menjadikannya tentara elit terbaik ketiga di dunia. Dalam
gerilya Soedirman, KST dibuat "linglung" oleh prajurit Soedirman yang licin. Prajurit
terbaik Belanda tidak mampu menangkap orang sakit dan berita ini sampai membuat
seorang Jenderal Spoor depresi berat. Sulit sekali menangkap orang sakit-sakitan !
demikian ucap Spoor.
Korps Speciale Troopen, prajurit elit Belanda
Sumber: http://images.memorix.nl/nda/thumb/620x620/be8a8acd-88da-4f72-0afc-
8c6828ee771d.jpg

P-51 Mustang
Sumber: https://museumofaviation.files.wordpress.com/2010/11/0612005_1.jpg
Bukan perkara mudah bagi Soedirman dan pasukan kecilnya dalam main
"kucing-kucingan" dengan Belanda. Medan yang berat, amunisi minim, perbekalan
yang seadanya, sampai ancaman pengkhianatan merupakan resiko yang harus
mereka tanggung.

Ada suatu adegan yang menarik ketika Soedirman melihat kondisi prajuritnya yang
serba kekurangan dan moral tempur mereka yang diujung tanduk. Soedirman
mengatakan kepada prajuritnya demikian (kira-kira): "Kalau kalian sudah tidak kuat
bergerilya (melihat kondisi yang kekurangan dan dikejar-kejar Belanda), kalian boleh
pulang ke rumah, kampung, atau keluarga kalian. Saya tidak memasak kalian ikut
bertempur bersama saya, tetapi saya akan tetap disini (bergerilya)"

Melihat tekad Soedirman yang begitu kuat padahal dirinya sendiri sedang
sakit-sakitan, menyadarkan prajuritnya yang hampir putus asa. "Jenderal yang
sakit-sakitan saja masih ingin bergerilya, kenapa kita mau menyerah ?" begitulah
kira-kira yang dipikirkan prajurit Soedirman dan mereka memutuskan tinggal
bersama sang jenderal.

Kalau kalian menyaksikan adegan ini berikut gerilyanya, kalian akan mengetahui
betapa sulitnya para pahlawan (diwakilkan Soedirman) dalam memberikan kita
kemerdekaan.

No words can't describe

3. Ayo Foto Saya dengan Dimas !

Tibalah pada akhir film (ini bukan spoiler karena ini fakta sejarah yang difilmkan)
dimana Soekarno yang ditangkap kembali ke Jogjakarta. Soedirman pun dijemput
dari gerilyanya dan menghadap Soekarno.

Ketika menghadap Soekarno, Soedirman pun "menyerahkan" kembali kekuasaan


militer yang ia pegang selama agresi militer Belanda kepada Soekarno selaku
"penguasa sipil" (Presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi angkatan
bersenjata). Penyerahan ini ditandai dengan foto bersejarah yang menutup "perang
mempertahankan kemerdekaan"
Sumber: http://citizenimages.kompas.com/blog/view/119054

Pelukan pertama dirasa "kurang dramatis" oleh Soekarno sehingga ia meminta di


foto ulang dalam memeluk Soedirman. "Ayo foto saya dengan dimas !" demikian
permintaan Soekarno pada fotografernya. Foto ini memiliki makna dimana
hubungan militer dengan sipil yang sempat memanas ketika Soekarno
"menyerahkan" dirinya pada Belanda (ingat ketika sidang kabinet memutuskan
Soekarno ditangkap. Ingat juga ketika Soekarno menolak ajakan Soedirman untuk
bergerilya dan meminta Soedirman untuk ditangkap dan dirawat Belanda), kembali
"adem" setelah Soedirman pulan bergerilya (meski Soedirman masih marah saat itu).
Foto ini juga menunjukan kepada dunia internasional bahwa tidak ada perpecahan
antara sipil dan militer atau kudeta militer pada sipil.

Momen inilah yang saya maknai sebagai sikap "legowo" yang ditunjukan
oleh founding father dari pihak sipil (Soekarno) maupun militer (Soedirman).
Perseteruan di masa lalu dikesampingkan dengan kebutuhan negara yakni persatuan
antara sipil dan militer. Sikap inilah yang diajarkan oleh kedua tokoh bangsa ini dan
sepatutnya ditiru oleh kita yang hidup pada masa sekarang.

Tidak-kah Hatimu Tersentuh ?


Rute gerilya Jenderal Soedirman.
Pertanyaannya: "Kalian sanggup ?"
Sumber: http://3.bp.blogspot.com/-FzmoW0SI13w/USudEI50s9I/AAAAAAAABMA/O
oMtIpeBG0E/s1600/peta+gerilya+soedirman.jpg

Sosok jenderal yang kurus, miskin, dan penyakitan merupakan keistimewaan, tetapi
lebih mencintai negaranya ketimbang dirinya sendiri merupakan keistimewaan yang
dimiliki film Jenderal Soedirman. Keistimewaan ini pernah saya rasakan ketika
menonton film Soekarno dimana beliau merumuskan lima "point" dasar negara
(dikenal sebagai Pancasila) ketika sidang BPUPKI. Keistimewaan juga pernah saya
rasakan ketika Soegijapranata mengajarkan apa itu sebuah toleransi.

Tetapi perjuangan Soedriman memberikan bekas yang lebih menancap ketimbang


pidato Bung Karno maupun quotes seorang Soegijapranata. Soedirman bukanlah
orang yang hanya bisa bicara tentang apa itu arti sebuah kemerdekaan, kebangsaan,
maupun perjuangan, tetapi ia adalah seseorang yang langsung mempraktekan
nilai-nilai tersebut. Tentu mayoritas orang lebih mampu memahami suatu
tindakan/praktek ketimbang teori.

Pada awal tulisan ini, saya sempat menyebutkan kepada siapa sajakah tulisan ini
dibuat dan khususnya dibuat.

Kepada masyarakat, jelaslah kita perlu meneruskan perjuangan Soedirman dalam


kehidupan kita sehari-hari maupun bidang pekerjaan kita masing-masing. Pesan
Soedirman pun amatlah luas dan dapat ditangkap dengan sudut pandang yang
berbeda-beda. Lain halnya dengan mereka yang masih terbelenggu egoisme.
Mengapa egoisme saya tempatkan di awal persembahan "khusus" ? Karena egoisme
merupakan akar dari berbagai masalah sosial yang diderita oleh manusia-manusia
Indonesia ! Jelaslah egoisme melahirkan kepentingan-kepentingan pribadi. Egoisme
melahirkan korupsi. Egoisme melahirkan kebanggaan semu. Egoisme juga
melahirkan radikalisme, dan sebagainya.

Pernah saya iseng-iseng bertanya kepada teman-teman saya sewaktu SMA. "Kalau lu
diberi dua pilihan, mati untuk negara atau mati untuk cinta (pacar/kekasih), lu pilih
yang mana ?". Jawabannya, singkat, pasti, padat, dan jelas, Cinta ! Sebenarnya tidak
salah juga pilihan yang diutarakan oleh kawan-kawan saya, mengingat pilihan
tersebut di latar belakangi suatu kondisi dimana mereka (mungkin kami lebih
tepatnya) tidak merasakan kehadiran "negara" dalam diri kami. Kawan-kawan SMA
saya dan saya sendiri sebagi golongan minoritas (terlebih double minority, etnis
minoritas dan penganut agama minoritas) merupakan orang-orang yang bisa dibilang
paling merasakan ketidak hadiran negara terutama dalam hal keamanan dan
perlindungan hukum. Masih jelas dalam ingatan sebagian orang-orang tua golongan
kami yang pada tahun 1965-1966 kocar-kacir takut dituduh komunis (sampai
mengubah "tiga nama" menjadi nama Jawa-Melayu). Masalah dalam hal
kewarganegaraan yang berujung pada pelayanan administrasi juga pernah
menghantui generasi tua golongan kami. Puncaknya pada tahun 1998 dimana kami
"dikambing hitamkan" sebagai biang kerok krisis moneter. Saya masih ingat cerita
orang tua saya dimana mereka menjemur sajadah di depan rumah dan
"berpura-pura" menjadi "pribumi muslim" guna menghindari amuk massa. Maka
wajarlah ketika kami kamu muda merasa "buat apa" memberikan sesuatu untuk
negara, toh negara tidak bisa memberikan sesuatu kepada kami. Saya pun sempat
berpikir demikian terutama saat isu-isu "sensitif" ini kembali muncul ke permukaan.

Pandangan itu mulai berubah manakala saya kuliah di FHUI, suatu kampus yang
multikultural (benar-benar representasi Indonesia) dan memakai nama negara.
Pernah pada saat mengikuti kelas Ilmu Negara (semester 1), Bpk Ari Wahyudi
Hertanto S.H., M.H. selaku pengajar, pernah bertanya kepada kami. "Apakah kalian
merasakan kehadiran negara di dekat kalian ?" Pertanyaan ini tidak terlepas dari
pandangan sempit kami bahwa negara sebatas Istana Negara, Gedung MPR/DPR,
dan kantor-kanto kementerian di pusat ibu kota. Sejenak kelas hening dan tidak ada
satu pun mahasiswa yang berani menjawab pertanyaan bang didit (demikian beliau
disapa). Bang Didit pun akhirnya berkata: "Ingat, anda kuliah dimana ? Ada nama
negara disitu ! Lihat jaket kuning yang anda punya ? Ada nama negara disitu ! Lihat
bank tempat anda membayar uang kuliah ? Ada nama negara juga !". Bisa
disimpulkan kalau negara sebenarnya sudah hadir dalam setiap kehidupan kita,
tetapi jangkauannya saya akui kurang luas. Apakah dengan menimba pendidikan di
suatu universitas yang menggunakan nama negara sudah menjamin kalau negara
juga hadir pada saat kita butuh keamanan ? Belum tentu ! Bagaimana cara kita
menjamin kehadiran negara ? Kontribusilah jawabannya..

Seorang J.F. Kennedy pernah berkata: "Jangana tanya apa yang negara berikan
kepadamu, tetapi tanyalah apa yang kamu bisa berikan kepada negaramu".

Kalau mau angka pengangguran turun, bantulah negara dengan cara menjadi
wirausahawan dan membuka lapangan kerja, bukannya menjadi pencari kerja yang
menambah angka pengangguran. Kalau mau jalanan tidak macet, gunakanlah
transportasi publik yang sudah diusahakan oleh negara, bukannya menggunakan
kendaraan pribadi yang notabene menambah kemacetan. Kalau mau bebas banjir,
bantulah negara dengan cara menjaga kebersihan sungai dan tahu diri kalau
bantaran sungai bukanlah tempat yang ideal untuk mendirikan rumah. Kalau mau
rasa aman, jagalah relasi dan perkuat tali silaturahmu dengan sesama, bukannya
mengobarkan rasa benci atas dasar perbedaan. Soedirman pernah mengalami suatu
kondisi dimana negara (terutama pemerintah) meninggalkan dirinya. Ibaratnya ia
adalah satu-satunya orang yang masih melawan penindasan di tanah Jawa manakala
pemerintah memutuskan untuk "menyerah". Soedirman memang tidak seberuntung
kita dimana negara masih hadir dalam kehidupan kita meski kurang maksimal, tetapi
kontribusi yang ia berikan pada negara (meski ditinggal negara) menunjukan bahwa
negara masih hadir dalam memperjuangkan penderitaan rakyat kala itu. Dengan
kontribusi, kamu membantu negara hadir dalam menjamah rakyat. Jangan malu juga
menunjukan kontribusi dengan alasan riya. Toh dengan menunjukan kontribusi, kita
sudah menjadi "cahaya" yang menginspirasi orang lain untuk memberikan
kontribusinya kepada negara walaupun kecil.

Pengalaman berkutat dengan egoisme yang saya ceritakan barulah egoisme dalam
skala mikro dan pasti ada dalam kehidupan sehari-hari dan dilakukan oleh saya, anda,
dan kalian semua (karena kita manusia dan egois itu manusiawi). Tapi jika sikap ini
dibiarkan, masalah yang mikro lingkupnya dapat berubah menjadi makro dan hal
seperti ini terlihat jelas dalam "dagelan" politik di gedung hijau senayan. Lihat saja
bagaimana fraksi-fraksi partai politik saling sengkat-menyengkat dalam
memperjuangkan kepentingan kelompok masing-masing ketimbang kepentingan
rakyat. Masih ingat ketika Soedirman menolak ajakan Tan Malaka untuk menentang
pemerintah ? Begitulah seharusnya seorang politisi menolak kepentingan kelompok
dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Tapi, kita perlu menyadari
bahwa kepentingan kelompok tersebut terkadang "dibalut" dengan kedok
kepentingan bangsa dan negara. Disinilah sikap kritis kita diperlukan, bukannya asal
memakan "mentah-mentah" dan memperjuangkan kepentingan itu.

Masih berbicara soal kepentingan, kita dituntut untuk selalu ingat bahwa
kasus-kasus korupsi yang tidak pernah habis di negeri kita merupakan produk dari
suatu kepentingan pribadi. Sulit sekali rasanya memutus "lingkaran setan" dimana
egoisme melahirkan kepentingan pribadi dan kepentingan pribadi melahirkan
perilaku korup. Seperti yang sudah saya sebutkan di awal, korupsi tidak melulu soal
proyek di tingkat pemerintahan maupun konglomerat, tetapi korupsi juga lahir dari
perilaku sehari-hari yang malah terkesan sepele.

Seorang senior di kampus pernah menulis di timeline jejaring sosial line miliknya
yang bunyinya demikian: "Jangan teriak-teriak lawan korupsi di jalan, tapi masih titip
absen kalo di kelas !". Pernyataannya menunjukan suatu ironi yang dapat dijumpai
sehari-hari di kampus perjuangan UI. Absensi merupakan salah satu komponen
penilaian sehingga praktek titip absen pun tidak terhindarkan (terlebih dengan sikap
dosen yang kerap kali tak acuh dengan perkembangan mahasiswanya). Mafia absen
uda ada, mafia ujian apalagi (silahkan tafsir sendiri apa itu mafia ujian). Pantaslah
dahulu waktu saya SMA, sekolah membuat suatu "hukum" bahwa barangsiapa yang
mencontek baik saat ulangan harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester,
ujian sekolah, dan ujian nasional, "dipidana" dengan hukuman minimal dan
maksimal, dikeluarkan dari sekolah. Korupsi memang harus dicegah dan ditumpas
semenjak dini kalau mau negara ini terus eksis.

Masih ingat perjuangan Soedirman yang bergerilya padahal dirinya sakit-sakitan ?


Perjuangan itu ia lakukan supaya negeri ini bebas dari penindasan dan anak-cucunya
kelak tidak merasakan penderitaan seperti yang pernah generasinya rasakan.
Perilaku korup jelas-jelas memupuskan impian Soedirman. Toh sekarang,
"anak-anaknya" saling tusuk-menusuk, saling menyingkirkan, dan membuat
sesamanya menderita dikarenakan korupsi.

Setelah membahas soal egoisme, kepentingan ,korupsi, masih ada satu hal yang
isunya sedang panas baru-baru ini (sebenarnya isu lama, dibiarkan dan tidak
tercegah, dan ketika "meledak" baru diambil tindakan), yakni radikalisme dan
terorisme.

Teror bom Thamrin pada tanggal 14 Januari 2016, terjadi di kawasan Sarinah.
Ironisnya, "Soedirman" yang berdiri gagah di jalan protokol semberi memberi
hormat "dipaksa" menyaksikan tindakan keji yang dibuat "atas nama" agama
tersebut. Kalau sering menyaksikan media massa, sudah jelas, kelompok Islamic
State atau ISIS menyatakan BERTANGGUNG JAWAB atas serangan tersebut dan
Bahrun Naim sebagai dalangnya. Oh ya, berbicara soal teror Thamrin, saya sangat
menentang mereka-mereka yang mengatakan kalau serangan tersebut sebagai
skenario. Entah apapun bentuk konspirasinya, entah membenarkan atau tidak
membenarkan serangan tersebut, saya "masa bodoh". Tapi yang harus diingat ialah
serangan tersebut memakan korban jiwa baik sipil maupun aparat dan ISIS
menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mungkin mereka yang
mengatakan serangan tersebut skenario, "tidak merasakan" bagaimana rasanya
kehilangan orang-orang tercinta sebagai akibat dari "skenario" tersebut. Masih mau
bilang skenario ? Ada korban tewas disana bung !

Patung Jenderal Soedirman, menghadap langsung ke Jalan M.H. Thamrin


tempat ia "menyaksikan" peristiwa teror berdarah pemecah negara
Sumber: http://www.jpnn.com/picture/normal/20150717_104839/104839_861833
_jakarta_sepi_2.jpg

Dengan hadirnya kisah Jenderal Soedirman yang difilmkan, saya sangat berharap
para "penjual" agama, pendukung Negara Khilafah Indonesia, pendukung ISIS, dan
mereka-mereka yang ingin menentang Pancasila dan UUD 45 dengan alasan
nasionalisme tidak ada dalilnya, haram hormat bendera merah-putih, Pancasila
thogut, dsb untuk menonton film ini. Saksikanlah orang penyakitan matian-matian
memperjuangkan negara ini. Sekali lagi, orang yang sakit-sakitan memperjuangkan
supaya kalian-kalian bisa hidup sebagai orang merdeka nan bebas. Sungguh tidak
pantas kalau kalian menghancurkan impian yang ia perjuangkan meski sakit keras.
Toh impiannya bukan untuk dirinya sendiri tetapi negara ini dan seluruh rakyatnya.

Apakah agama islam yang dibawa kelompok ISIS mendukung kekerasan dan
pembunuhan ? (Sebelumnya, sebagai seorang non-muslim, saya tidak
mengharapkan kalian langsung percaya dengan apa yang saya ucapkan. Saya hanya
mengenal islam dari pergaulan, buku, dan kuliah hukum islam). Kalau kita melihat di
Al-Quran dan As-Sunnah, memang ada perintah menghabisi "orang kafir" dan ayat
atau hadist ini juga selalu dikutip dan digaungkan oleh kelompok ekstrimis. Tapi ya
pesan saya belajar agama jangan setengah-setengah ya, cuma ngutip secuil ayat atau
hadist saja supaya bisa masuk surga dengan 72 bidadari.

Dosen-dosen hukum islam berkali-kali mengungkapkan bahwa lahirnya kelompok


ekstrimis, radikal, ISIS, dsb terjadi karena adanya "Salah paham" terhadap ajaran
islam. Kenapa bisa salah paham ? Ya karena memahami ajaran islam mereka lakukan
secara setengah-setengah. Ajaran islam tidak hanya sebatas membunuh orang kafir
atau yang beda kepercayaan, tetapi islam itu luas dan perlu dilihat melalui lebih dari
satu sudut pandang. Kalau di ajaran di Al-Quran tidak jelas atau terlalu luas,
pahamilah As-Sunnah. Kalau masih tidak jelas juga, pakailah "otakmu/ndas-mu"
(bahasa kasarnya-maaf) atau Ra'yu. Masalahnya "otak" kaum radikal bisa dibilang
"cetek", ujung-ujungnya susah juga memahami islam sebagai agama damai. Lihat
juga asbabun nuzul suatu ajaran supaya tidak salah paham. Pahami juga secara
mendalam siapa yang dimaksud kafir dalam islam, apakah mereka yang
mempercayai Tuhan yang sama atau kaum quraisy yang menyembah berhala. Baca
juga buku-buku garis lurus, terutama basicnya "Hukum Islam karangan Moh. Daud
Ali" dan baca juga buku "Muhammad karya Karen Amstrong" guna mengetahui
apakah kepala orang nasrani dan yahudi halal untuk "dipotong" dan bagaimana
pandangan Muhammad terhadap dua kaum ini.

Soedirman pasti menangis kalau apa yang ia perjuangkan berusaha "dipecahkan"


oleh kelompok radikal agama dan kalau mau menghargai apa yang orang penyakitan
ini perjuangkan, pelajarilah agama secara benar. Baik dan buruknya suatu agama
bukanlah ditentukan oleh Tuhannya atau kitabnya atau ajarannya, tetapi ditentukan
oleh "otak" umatnya dan caranya memahami suatu agama.

Terakhir, nilai-nilai Soedirman perlu dipelajari oleh mereka yang kebarat-baratan,


atau kejepang-jepangan, atau keturki-turkian, atau kearab-araban, dsb. Intinya bagi
mereka yang merasa "malu" menjadi Indonesia dan memuja (bukan mengagumi)
negara lain karena berbagai kelebihannya.
Kagum terhadap suatu bangsa atau negara tertentu sah-sah saja. Saya kagum
dengan Singapura yang kecil tapi bisa menjadi negara yang mampu memanusiakan
warganya. Saya kagum dengan Jepang, suatu negara yang minim sumber daya dan
hancur lebur pasca perang dunia kedua, tapi mampu bangkit menjadi kekuatan
ekonomi Asia. Saya kagum dengan kemampuan Amerika dan Rusia yang menjadi
pelopor penjelajahan luar angkasa. Saya kagum pada budaya Turki yang
merepresentasikan akultarsi Eropa dan Timur Tengah.

Sementara, apa yang bisa dikagumi dari Indonesia ? Korupsi ? Politik yang
carut-marut ? Manusia yang egois ?

Kagum atas suatu bangsa atau peradaban boleh tetapi jangan sampai kekaguman itu
mengubah identitas dan jati diri kita sebagai orang Indonesia. Pernah ada seorang
teman yang mengomentari sebuah postingan yang dikeluarkan oleh semacam "grup
pecinta anime Jepang" di Facebook, dimana grup itu mengubah lagu Indonesia Raya
maupun Sumpah Pemuda dengan cara memasukan istilah-istilah
anime/otaku/jepang lainnya yang saya sendiri tidak tahu apa itu artinya (entah apa
nama grupnya, tapi saya ingat pasti ada postingan itu). Teman saya yang juga
mahasiswa FHUI berkomentar kira-kira begini: "Tahukah kalian kalau mengubah atau
mengganti lagu kebangsaan bisa dikenakan pidana dan aturannya terdapat
dalam ...... (lupa)".

Kelebihan yang dimiliki negara lain boleh kita kagumi tetapi jangan lupa juga kita
belajar dari kelebihan yang mereka punya untuk selanjutnya diterapkan di Indonesia
dan memberikan manfaat bagi Indonesia. Kita bisa belajar dari Singapura perihal tata
kota. Kita bisa belajar dari Amerika perihal inovasi. Kita juga bisa belajar dari Jepang
bagaimana mereka bisa memajukan diri tetapi tidak lupa akan tradisi dan identitas
mereka. Sejelek-jeleknya Indonesia bukan berarti kita boleh menghinanya dan
memuja negara lain. Kejelekan Indonesia adalah tantangan bagi kita sebagai anak
Indonesia untuk membuatnya menjadi negara yang lebih baik dan humanis. Dahulu
Jepang juga merupakan negara yang jelek. Kalah perang, ekonomi hancur, di bom
atom, toh warga dan pemerintahnya sama-sama bahu-membahu untuk
membangung kembali negara mereka yang "jelek" itu dan bagus seperti saat ini.

Lalu apa korelasi Soedirman terhadap kondisi "orang-orang" ini ? Soedirman pernah
di kecewakan oleh "negara" ketika ia diminta "menyerahkan" diri. Kecewanya
Soedirman sama seperti ketika kalian memandang negara ini serba jelek dan banyak
masalah. Tapi apakah karena Soedirman kecewa ia mengambil sikap "masa bodoh"
terhadap negara ? Justru sebaliknya, ia memilih jalan gerilya dan "hidup susah" demi
negara meskipun harus "melawan" perintah Presiden. Bagaimana dengan kalian ?
Masih mau memuja negara orang dan menggangap diri sebagai bangsa dari negara
orang ataukah memilih untuk melihat kelebihan negara orang dan menjadikannya
inspirasi untuk membangun Indonesia ?

Penutup

(Mengutup Catatan Najwa : episode Belajar dari Jenderal Soedirman)

Pemimpin seperti Jenderal Soedirman


tak akan pernah meninggalkan barisan

Ia bersedia menderita
karena rakyar juga merasakan nestapa

Daripada menyerah dan diasingkan,


ia memilih gerilya di dusun dan pegunungan

Tidur di gubuk yang sama dengan pasukannya,


makan dengan menu serupa dengan rakyatnya

Soedirman menunggal dengan rakyat,


ia tak berjarak dengan yang melarat

Karena memimpin adalah juga menderita,


bukan bermewah-mewah dengan harta

Dengan itulah ia memperjuangkan kemerdekaan,


dengan mempertaruhkan semua kemungkinan
Generasi berikutnya yang harus melanjutkan
agar pengorbanan generasi Soedirman tidak disia-siakan

Karena kemerdekaan yang gagal diisi,


hanya akan menjadi narasi yang penuh basa-basi..
MENGEJAWANTAHKANKARAKTER KEBANGSAAN DAN
TAKTIK PERANG GERILYA JENDERAL SUDIRMAN
DALAM KONTEKS KEKINIAN

UNTUK MEMENUHI PERSYARATAN LAWATAN SEJARAH NASIONAL 2016


Tanggal 25-29 Juli di DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Timur
Penyusun :
Nama Siswa : Fathurrahman
Guru Pembimbing : Sri Fatmawati,S.Pd

SMA NEGERI 10 BANJARMASIN


TAHUN 2016

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan izinnya, makalah dengan judul MENGEJAWANTAHKAN KARAKTER
KEBANGSAAN DAN TAKTIK PERANG GERILYA JENDERAL SUDIRMAN DALAM KONTEKS
KEKINIANdapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang ditetapkan.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan LAWATAN
SEJARAH NASIONAL 2016. Tanggal 25 – 29 Juli 2016 di DI Yogyakarta dan Propinsi
Jawa Timur, yang diadakan oleh Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, baik dalam hal metode
penulisan maupun kedalaman kajiannya. Kepada semua pihak yang telah
berpartisipasi dalam menyusun makalah ini, penulis sampaikan penghargaan dan
terima kasih. Akhirnya, dengan penuh kerendahan hati, penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik membangun demi kesempurnaan isi makalah ini di
masa yang akan datang.Atas semua masukan, saran dan arahannya penulis
mengucapkan terima kasih.

Banjarmasin, Juni 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….. ii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah…………………………………………………………. 1
B. Rumusan Masalah,………………………………………………………………. 2
C. Tujuan Penulisan Makalah………………………………………………………. 2
D. Manfaat Penulisan Makalah……………………………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Kehidupan Jenderal Sudirman dan karakter
kebangsaannya...… 3
B. PerananJenderalSudirman dalam Perang Gerilya……………………………… 5
C. Keterlibatan Masyarakat dalam mendukung Perang Gerilya……………………. 7
D. Taktik Perang Gerilya dalam Konteks Kekinian………………………………… 10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………………………… 11
B. Saran…………………………………………………………………………….. 11
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………… iii

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Jendeeral Soedirman nama yang sangat fenomenal, anak muda yang gagah perkasa
dan pemberani, pemudayang tidak takut mati. Masa mudanya menemukan
momentum yang sangat sulit dalam kehidupannya, namun kondisi saat masyarakat
Indonesia dan tanah air terjajah, disana Sudirman bangkit dengan cita-cita dan
harapan mulia untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah.
Kerasnya penjajahan di zaman Belanda menjadikan Indonesia berdarah-darah dan
kehilangan para pejuang kemerdekaan, banyak nenek moyang kita mati diterpa
peluru panas, keringat bercucuran di tengah terik matahari karena menahan beban
berat yang dipikul, sedangkan mereka yang ditangkap dipecut, dipukul bertubi-tubi
bahkan ditembaki sampai mati. Sebuah potret kejahatan yang dilakukan pada
masyarakat Indonesia oleh penjajah yang kejam tidak mengenal perikemanusiaan
dan keadilan, hal ini menjadi catatan sejarah kesedihan yang diderita bangsa
Indonesia.
Di saat itulah, Panglima besar Jenderal Sudirmanmuncul sebagai salah satu tokoh
pahlawan nasional yang sangat berjasa bagi bangsa Indonesia, sehingga dapat
dikategorikan sebagai tokoh yang memiliki nama besar. Namun siapa sangka nama
besar yang beliau raih, bukan berarti beliau berasal kalangan berada dan keturunan
orang besar, tetapi justru beliau berasal dari rakyat biasa. Sifat-sifat seperti
kesederhanaan, agamis, dan pemberani menjadi senjata ampuh dalam mengusir
para penjajah dan konsistensi mempertahankan kemerdekaan RI.
Sifat kesederhanaan, agamis, dan pemberani dari sang Jenderal Sudirman mutlak
“wajib” kembali dibangkitkan di kalangan generasi muda Indonesia dalam suasana
ancaman, tantangan, dan hambatan arus globalisasi yang semakin nyata dan perang
pemikiran yang semakin gencar. Penerapan sifat-sifat Jenderal Sudirmantidak timbul
dengan sendirinya, tetapi muncul secara bertahap pada diri seseorang, yaitu dengan
seringnya berperilaku terpuji yang diketahuinya dan kemudian bisa diaplikasikan
kepada kehidupannya sehari-hari secara terus menerus.

1 B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang,
maka rumus masalah dalam
makalah ini,yaitu :
1. Bagaimana latar belakang kehidupan JenderalSudirman dan karakter
kebangsaannya?
2. Bagaimana peran Jenderal Sudirman dalam Perang Gerilya?
3. Bagaimana keterlibatan Masyarakat dalam mendukung Perang Gerilya?
4. Bagaimana taktik Perang Gerilya dalam konteks kekinian ?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah
untuk:
1. Memupuk rasa kebangsaan di kalangan anak muda.
2. Meneladani sikap perjuangan Jenderal Sudirman melalui karakter kebangsaan
yang tertanan dalam diri Jenderal Sudirman.
3. Menumbuhkan karakter kebangsaan pada jiwa generasi muda.
4. Mengenang dan menghargai nilai-nilai luhur para pahlawan bangsa.
5. Memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

D. Manfaat
Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk:
1. Meningkatkan pemahaman wawasan kebangsaan sebagai warga Negara
Indonesia.
2. Sebagai bahan masukan bagi berbagai pihak dalam memperkokoh dan
mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
2 BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar belakang JenderalSudirman dan karakter kebangsaan
Jenderal Sudirman merupakan pahlawan Nasional, yang dilahirkan di Desa
Bantarbarang, Kecamatan (Bodaskarangjati) Rembang Kabupaten Purbalingga, pada
tanggal 24 Januari 1916. Putra dari R.Tjokrosoenarjo, Asisten Wedana Onderdistrik
Bodaskarangjati/Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga.Pendidikan
Sudirmanadalah HIS (Sekolah Rakyat) dan melanjutkan di Taman Dewasa, yang
kemudian pindah ke perguruan kebangsaan Mulo (SMP) Wiworo Tomo. Di Wiworo
Tomo inilah, Sudirman amat menekuni pelajaran Bahasa
Inggris,Ketatanegaraan,Sejarah Indonesia,Sejarah Dunia dan Agama. Dalam soal
Agama Sudirman amat serius, sehingga beliau pernah mendapat julukan “Kajine” di
MULO Wiworo Tomo, beliau menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1934 dan
melanjutkan ke HIK (Sekolah Guru) Muhammadiyah Solo, namun hanya satu tahun
karena Ayahanda R. Tjokrosoenarjo wafat. Pada tahun 1935, beliau kembali ke
Cilacap dan menjadi guru HIS (Sekolah Rakyat) Muhammadiyah Cilacap.
Kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi serta ketaatan dalam Islam
menjadikan Sudirman dihormati oleh masyarakat. Jenderal Sudirman merupakan
salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh
suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun Sudirman sudah menjadi seorang
Jenderal.
Meski menderita sakit paru-paru yang parah, Jenderal Sudirmantetap bergerilya
melawan Belanda. Beliau juga merupakan Pahlawan Pembela kemerdekaan yang
tidak peduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia
yang dicintainya Sudirman tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan
termuda di Republik ini.Sudirman waktu muda juga terkenal disiplin dan giat di
Organisasi Pramuka Hizbul Wathan.Ia kemudian menjadi pemimpin tertinggi
Angkatan Perang, disebabkan karena Kedisiplinan, Jiwa pendidik dan Kepanduannya
Jenderal Sudirman juga merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan
bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan
kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan
pribadinya.Sudirmanselalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan
tanah air, bangsa dan Negara.
Pendidikan militernya diawali dengan mengikuti pendidikan Tentara Pembela
Tanah Air(Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, Sudirmandiangkat menjadi
komandan batalyon di Kroya.

3 Setelah Indonesia merdeka, dalam


suatu pertempuran dengan
pasukan Jepang, Sudirmanberhasil
merebut senjata pasukan Jepang di
Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia.
Sesudah Tentara Keamanaan Rakyat(TKR) terbentuk, Sudirmankemudian diangkat
menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel.Dan melalui
Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, Soedirman terpilih menjadi Panglima
Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal
18 Desember 1945, Pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden.
Sudirman nama yang sangat fenomenal, anak muda yang gagah perkasa dan
pemberani, pemudayang tidak takut mati. Masa mudanya menemukan momentum
yang sangat sulit dalam kehidupannya, namun kondisi saat masyarakat Indonesia
dan tanah air terjajah, Sudirman bangkit dengan cita-cita dan harapan mulia untuk
melakukan perlawanan terhadap penjajah. Saat itu Sudirman muda yang berumur
sekitar 29 tahun, di saat Indonesia menangis dan masyarakatnya terjajah, dengan
serangan dan jajahan para penjajah yang sangat menyakitkan dan ganas bahkan
mematikan, Sudirman dengan keyakinannya dan kedekatannya yang
menciptakannya, ia terpanggil untuk melawan dan tidak diam begitu saja, Sudirman
berdiri tegak melakukan perlawanan terhadap penjajah bersama
sahabat-sahabatnya.
Seperti yang kita kenal, Jenderal Besar TNI Anumerta Sudirman adalah seorang
Pahlawan Nasional Indonesia yang berjuang pada masa Revolusi Nasional Indonesia.
Jenderal Sudirmanmerupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya
yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Dalam sejarah perjuangan Republik
Indonesia, Sudirman dicatat sebagai Panglima dan Jenderal RI yang pertama dan
termuda. Saat umurSudirman 31 tahun, beliau telah menjadi seorang Jenderal.
Karakter yang dimiliki Sudirman menjadikan dia mampu menumpas dan memukul
mundur serta mengalahkan penjajah bangsa Indonesia, dia dikenal oleh orang-orang
di sekitarnya dengan pribadinya yang memiliki keyakinan yang dalam, ibadahnya
rajin, teguh pada prinsip, memiliki keilmuan dalam mengatur strategi peperangan
dalam melawan penjajahan, dan tidak takut mati dalam berjuang, dalam sejarah juga
kita mengenal Sudirman lebih mengedepankan kepentingan masyarakat dan
bangsanya dari pada kepentingan pribadinya, Sudirman adalah orang yang selalu
konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan
negara.
4

Karakter berkorban menjadi potret besar Sudirman terlihat pada sebuah


kejadian, pada saat itu Jenderal Sudirmanmasih sakit, yang sebelumnya telah
menjalani operasi
mengakibatkan sebuah paru-parunya tidak berfungsi lagi. Panglima Besar berangkat
ke Istana untuk menerima instruksi dari Presiden. Presiden menasihati
agar Sudirman kembali ke rumah karena masih sakit, ketika Presiden mengajak
untuk tinggal di dalam Kota, Sudirman menjawab dengan kata “saya tidak mau tetap
dalam kota. Buat saya yang penting adalah anak-anak buah saya, tempat saya yang
terbaik adalah di tengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan gerilya dengan
sekuat tenaga seluruh prajurit”. Sungguh luar biasa, sebuah bentuk kesatuan
keyakinan bahwa, dengan persatuan dan kesatuan yang utuh antar anggota akan
mampu menghadirkan kekuatan yang besar walau di badan terdapat luka yang
berat.
Sikap dan perbuatan Jenderal Sudirmansebagai prajurit TNI dan warga negara RI,
merupakan pencerminan jiwa dan semangat juang 45. Bukan keharuman nama
pribadi, melainkan nilai kehormatan bangsanya yang hendak dicapainya. Sudirman
termasuk orang yang rela menerima apa yang sedang dihadapinya dan
menggunakan apa adanya. Pangsar Jenderal Sudirman menjabat pimpinan organisasi
apapun, menjadi pimpinan WMPM Banyumas, menjadi ketua kepanduan seluruh
Banyumas, kepala sekolah Muhammadiyah dan menantu orang kaya, menjadi
anggota DPR (Coo Sangi In), menjadi Ketua Badan Pengumpulan Bahan Makanan,
menjadi Daidanco, diserahi gudang beras dan gudang pakaian yang isinya
bertumpuk-tumpuk, Kepala BKR Banyumas, Menjadi kepala Tertinggi TKR dan
menajadi Panglima Besar tetap menjadi Sudirman dengan sikap hidup, pribadi serta
cara hidup yang sederhana, tekun dan taat terhadap agama.
B. Peranan Jenderal Sudirman dalam Perang Gerilya
Pasukan tentara Belanda melakukan serangan penyerangan militer II melakukan
serangan dari udara laut dan darat keseluruh wilayah nusantara, pada tanggal 19
Desember 1948. Tujuanya tidak lain untuk menguasai nusantara kembali dengan
cara keseluruhan, dari pihak Indonesia tak mungkin melakukan perlawanan perang
melewati perang stelling alias frontale corlog, disebabkan peralatan yang tak lebih
dari sisi persenjataan yang tak lebih memadai untuk mempersiapkan alat alat itu tak
memungkinkan bagi Indonesia sebab Indonesia yang baru membentuk Negara maka
belum siap untuk mempersiapkan alat alat perang itu.

Pasukan Indonesia wajib mencari tutorial lain untuk menghadapi serangan


pasukan Belanda yaitu dengan taktik perang gerilya. Serangan tentara Belanda itu
datangnya sangat mendadak atau sekonyong-konyong, sehingga sulit dibendung
atau dihadapi oleh Indonesia dengan cara langsung. Perang gerilya menjadikan
solusi saat deadlock guna menghadapi

masa perang yang panjang dan juga


5 menghindari korban yang tak sedikit
tetapi kadang-kadang rakyat dan
para tentara kami tak lebih
memahami taktik gerilya
tersebut.
Perang Gerilya merupakan teknik mengepung dengan cara tak terkesan
(infisibble).Perang Gerilya adalah bentuk perang yang tak terbelit dengan cara resmi
pada ketentuan perang.Saat itu Perang Gerilya dipimpin oleh Jenderal Sudirman.
Perang Gerilya bangsa Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
· Menghindari perang terbuka
· Menghantam musuh dengan cara tiba-tiba
· Menghilang ditengah lebatnya hutan alias kegelapan malam
· Menyamar sebagai rakyat biasa.
Memasuki akhir tahun 1947, tentara republik yang bergerilya mulai terorganisir dan
mempunyai komando gerilya yang dinamis. Akibatnya belanda menjadi kesulitan
untuk menggempur tentara republik.setiap target yang diserang belanda,banyak
yang telah kosong,namun pada saat yang tak disangka-sangka,tentara republik
menyerang kedudukan Belandadengan cepat.Saat Belanda kembali menggencarkan
serangan, kubu-kubu tentara republik telah kosong.
Dengan demikian,Belanda hanya menguasai kota-kota besar dan jalan raya. Seusai
itu Sudirmanmeninggalkan Yogyakarta untuk memimpin gerilya dari luar kota.
Perjalanan bergerilya selagi delapan bulan ditempuh tak lebih lebih 1000 km di
daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sering Sudirman wajib ditandu alias digendong
sebab dalam keadaan sakit keras. Seusai berpindah-pindah dari berbagai desa
rombongan Sudirman kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949. Kolonel A.H.
Nasution, selaku Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menyusun rencana
pertahanan rakyat Totaliter yang kemudian dikenal sebagai Perintah Siasat No 1
Salah satu pokok isinya ialah : Tugas pasukan-pasukan yang berasal dari
daerah-daerah federal adalah ber wingate (menyusup ke belakang garis musuh) dan
membentuk kantong-kantong gerilya maka seluruh Pulau Jawa bakal menjadi medan
gerilya yang luas. Salah satu pasukan yang wajib melakukan wingate adalah pasukan
Siliwangi.
6
Pada tanggal 19 Desember 1948 bergeraklah pasukan Siliwangi dari Jawa Tengah
menuju daerah-daerah kantong yang telah ditetapkan di Jawa Barat. Perjalanan ini
dikenal dengan nama Long March Siliwangi. Perjalanan yang jauh, menyeberangi
sungai, mendaki gunung, menuruni lembah, melawan rasa lapar dan letih dibayangi
bahaya serangan musuh. Sesampainya di Jawa Barat mereka terpaksa pula
menghadapi gerombolan DI/TII. Dalam serangan itu Belanda sukses menawan
presiden,wakil presiden,dan berbagai pejabat tinggi lainnya.Presiden Soekarno
diterbangkan ke Prapat (Dekat Danau Toba) dan kemudian ke Bangka.Wakil Presiden
Hatta langsung ditawan di Bangka.Setelah itu Belanda menyiarkan kabar keseluruh
dunia yang menyebutkan bahwa RI telah tak ada dan perlawanan TNI sama sekali
tak berarti.Propaganda seperti ini jelas menyudutkan kedudukan RI di mata dunia
Internasional. Kendati demikian,sebelum para pemimpin republik ditawan,Presiden
Soekarno tetap semangat memimpin sidang kabinet dengan cara singkat.Hasil sidang
kabinet tersebut yakni sebagai berikut :
· Pemerintahan Republik Indonesia memberikan amanah melalu radiogram
terhadap Menteri Kemakmuran Mr.Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia(PDRI) dibukittinggi,Sumatra.
· Presiden dan Wapres tetap tinggal didalam kota supaya tetap dekat dengan
KTN dengan resiko ditawan Belanda.
· Pemimpin TNI bakal menyingkir keluar kota untuk melaksanakan perang gerilya
dengan membentuk wilayah komando di Jawa dan Sumatra.
Penyerangan Militer Belanda 2 ini mengajak reaksi dan kecaman dari dunia
Internasional.Belanda dinilai rutin mengganggu ketertiban dan perdamaian
dunia.Belanda pun dianggap tak menghormati setiap persetujuan yang
dibuatnya.Oleh sebab itu,Dewan Keamanan PBB mulai menuturkan penyerangan
Belanda yang kedua ini.Dalam pertemuan tanggal 28 Januari 1949,Dewan Keamanan
PBB mengeluarkan resolusi yang memerintahkan penghentian semua operasi militer
Belanda dan penghentian semua aktivitas gerilya tentara Republik. Tidak hanya
mendapat tekanan dari DK PBB, aksi militer Belanda kedua ini nyatanya tak didukung
oleh negara boneka buatannya sendiri.Negara Indonesia Timur dan Negara
Pasundah mencela dan memprotes Penyerangan militer kedua ini.Demikian juga
Amerika Serikat yang dengan cara positif telah merubah pandangan atas
Indonesia,segera memberikan tekanan politik terhadap Belanda.AS mengancam tak
bakal memberikan bantuan dana dari program Marshall Plan terhadap Belanda.
Dampak terus menerus memperoleh tekanan politik dari dunia internasional dan
terus besarnya performa pasukan Republik melancarkan serangn gerilya,akhirnya
Belanda menerima resoulusi DK PBB. Resoulusi DK PBB itu telah mengakhiri aksi
Belanda dalam penyerangan militer keduanya.
C. Keterlibatan masyarakat dalam mendukung Perang Gerilya
7

Daerah-daerah pedesaan seluruh wilayah Provinsi Daerah Istimewa


Yogyakartaternyata sangat berperan aktif dalam mendukung perjuangan menentang
tentara pendudukan Belanda. Keterlibatan dan peran serta aktif masyarakat
pedesaan Daerah Istimewa Yogyakarta itu tidak terbatas dibidang pertahanan saja,
melainkan sangat kompleks diantaranya penyediaan perbekalan dengan melalui
dapur umum, bidang kesehatan dan lain sebagainya.
Kesemuanya itu dilakukan oleh masyarakat desa dengan penuh keikhlasan dan
tanggung jawab yang besar. Mereka mampu menjalin hubungan yang akrab dengan
militer maupun dengan para pengungsi yang dating dari daerah lain. Bahkan lebih
dari semua itu masyarakat desa di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta ternyata rela
mengorbankan baik harta benda maupun jiwa dan raga.
Peranan Masyarakat dalam mendukung Perang Gerilya antara lain sebagai berikut :
a. Partisipasi Masyarakat (Dapur Umum, PMI)
Pada waktu di Daerah Istimewa Yogyakarta sedang perebutan kekuasaan dan senjata
dari tangan Jepang, maka kaum Ibu tidak tinggal diam. Mereka ikut berbuat jasa dan
berdarma bakti terhadap Nusa dan Bangsangnya. Jasa-jasa yang telah diabdikan oleh
kaum ibu di antaranya bergiat menyelenggarakan dapur Umum. Apakah arti dapur
umum itu? Secara harafiah dapur berarti bagian rumah tempat masak-memasak;
dan Dapur Umum artinya tempat menyediakan makanan untuk umum. Kaum ibu
dalam arusnya revolusi itu dengan penuh keihklasan dan sukarela ikut menyediakan
makanan dan minuman untuk kepentingan para pejuang. Jasa kaum ibu itu, tidak
dapat kita abaikan. Tanpa ada yang memerintah dengan kesadaran sendiri dan ke
luar dari inisiatif mereka sendiri, menyediakan makanan dan minuman secara
sukarela kepada para pejuang. Di mana-mana dengan tidak memperhitungkan
modan dan dari mana bahan makanan itu didapat, dapur umum didirikan. Ini
menunjukkan bahwa semua penduduk dengan sangat rela mengorbankan baik harta
benda maupun jiwa raganya.
Partisipasi yang dilakukan oleh Palang Merah Indonesia atau PMI semalam masa
revolusi kemerdekaan tidak dapat diabaikan begitu saja. Peranan PMI sangat besar,
misalnya dalam memberikan pertolongan dan pengobatan, terhadap para pejuang
yang luka-luka atau sakit, dan sebagainya. Di daerah Yogyakarta, pada masa revolusi
kemerdekaan para remaja puteri khusunya dan pemuda pemudi, pelajar umumnya
dengan sukarela menyediakan diri sebagai tenaga Palang Merah Indonesia. Bagi
mereka yang telah cakap, trampil dan cukup umur dikirim di front untuk
memberikan pertolongan dan perawatan terhadap para pejuang yang sakit dan luka.
Tetapi bagi para muda-mudi yang masih belum cukup umur dan belum memiliki
kecakapan harus khusus diperbantukan di garis belakang.
8

b. Rakyat Desa dan Jaringannya


Rakyat sebagai kekuatan massa terikat oleh kesatuan daerah, kesamaan adat dan
agama. Ikatan-ikatan seperti ini dapat dimanfaatkan untuk menyambung hubungan
antara kekuatan militer yang datang dari luar dengan rakyat. Untuk menghubungkan
kekuatan rakyat dengan militer jaringan administraf berperan untuk menata
hubungan ini.
Hal ini dirasa penting untuk memberi gambaran yang agak realitas tentang
keterlibatan masyarakat desa dalam revolusi. Di sini rakyat desa dapat dipandang
sebagai kekuatan politis yang mampu memperkokoh diplomasi internasional
pemerintahan Republik. Sisi lain rakyat merupakan kekuatan logistik yang sangat
dibutuhkan dalam perang gerilya. Oleh karenanya ke terlibatan rakyat pedesaan
dalam revolusi melangsungkan kehidupan bernegara.Bilamana ada rombongan
tentara republik yang akan berpindah ke suatu daerah tertentu, sebelum
dilaksanakan pasti ada pemberitahuan. Penyampaian berita, biasanya melalui
seorang penghubung atau kurir.
Karena mengadakan penjelajahan dari pasar ke pasar, maka tidak mengherankan
apabila mereka sering melihat dan mendengar kegiatan tentara Belanda di
markasnya masing-masing. Dari orang-orang macam beginilah informasi yang
berkenaan dengan aktivitas Belanda dapat diketahui oleh para Gerilyawan yang
sedang bermarkas di pedesaan. Dengan demikian maka para pejuang republik yang
sedang bermarkas di pelosok pedesaan dapat menghindari sergapan musuh, bahkan
sebaliknya para Gerilyawan dapat melakukan penghadangan terhadap tentara
Belanda yang akan berpatroli.
Lapisan menengah yang terdiri atas para pegawai atau guru sekolah rakyat pedesaan,
memiliki kesempatan yang besar untuk bertemu dengan pejabat pemerintah, Dan
massa rakyat. Mereka banyak menyebarkan ide-ide keindonesiaan yang sangat
berguna untuk perjuangan kemerdekaan. Pengetahuan yang mereka miliki dapat
dimanfaatkan untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang berbagai
perkembangan politik di Indonesia.
9

Dari berbagai peristiwa dan berbagai proses persentuhan antara desa dengan
revolusi telah melahirkan sejumlah peranan baru bagi penduduk desa dari berbagai
lapisan masyarakat yang ada. Namun sifat hubungan yang dikembangkan masih
berdasar pada pola hubungan sosial ekonomi tradisonal yang telah lama tumbuh. Ini
berarti jaringan administratif dan jaringan sosial tradisional dipergunakan sebagai
perangkat revolusi. Di sini rakyat yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat
difungsikan untuk mendukung pemerintahan gerilya dalam merentangkan jaringan
pertahanan.

D. Taktik Perang Gerilya dalam konteks Kekinian


Dalam situasi kekinian, salah satu hal yang mengancam keutuhan NKRI adalah
masalah disintegrasi bangsa akibat arus globalisasi dan masalah keamanan nasional.
Memang, saat ini kita tidak lagi dihadapkan adanya penjajah perang, tetapi sejatinya
kita tidak boleh terlena, karena saat ini justru musuh-musuh terselubung yang tak
tampak semakin menyerbu. Untuk masalah keamanan misalnya dalam konteks
kekinian. Guna menghadapi tantangan tugas TNI kedepan yang lebih massif serta
untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka Tentara
Nasional Indonesia (TNI) khususnya, perlu melakukan langkah konkrit terhadap
perubahan konsep lama yang lebih mengedepankan pendekatan konvensional
kepada konsep baru yang lebih komprehensif. Sehingga, diperlukan usaha-usaha
guna meningkatkan kemampuan dalam sistim pertahanan negara melalui
pertahanan wilayah, sehingga sekalipun terjadi ancaman terhadap kedaulatan
bangsa dan keutuhan wilayah negara Republik Indonesia, maka NKRI akan tetap
berdiri tegak dan utuh. Peningkatan pertahanan negara tersebut dapat dilakukan
melalui upaya peningkatan pertahanan wilayah-wilayah di Indonesia yang salah satu
diantaranya adalah mengoptimalkan daerah pangkal perlawanan. Daerah pangkal
perlawanan merupakan bagian tertentu dari satu ruang atau wilayah pertahanan
yang telah dipilih dan dipersiapkan sebagai pusat kegiatan atau pusat pengendalian
perlawanan terhadap musuh maupun lawan, terutama dalam rangka pelaksanaan
perang berlarut.
10

Sistem pertahanan dengan taktik perang gerilya ala Jenderal Sudirman, tepat
diterapkan terlebih apabila bangsa ini dihadapkan pada perkembangan kehidupan
sosial masyarakat yang lebih modern, menuntut pengembangan sistem pertahanan
yang lebih dinamis dan dapat diterima oleh masyarakat dalam rangka menghadapi
ancaman maupun invasi musuh.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Jenderal Sudirman merupakan sosok patriot yang tidak dikenal menyerah dan jenius,
walaupun kesehatan pribadinya sangat parah dan terus menerus dikejar oleh
pasukan musuh (Belanda). Sebagai panglima besar, yang telah berhasil menanamkan
semangat, menggariskan strategi perlawanan rakyat semesta dan secara langsung
memimpin perang gerilya. Perlawanan yang tidak kenal menyerah yang akhirnya
membuat pasukan Belanda menyerah dan memaksa mengembalikan pemerintahan
yang berdaulat ke ibukota perjuangan Yogyakarta. Hal tersebut selayaknya patut
diteladani oleh para generasi muda untuk selalu semangat, optimis dan rela
berkorban demi bangsanya. Bersama-sama membangun bangsa Indonesia ke arah
kemakmuran, kesejahteraan, dan ketentraman. Pada hakikatnya bangsa kita adalah
bangsa yang terdiri dari beribu-ribu bangsa, suku dan budaya yang tersebar dari
Sabang sampai Merauke. Dengan perbedaan tersebut sepatutnya kita saling
menghormati dan menyayangi bukanya kita malah melakukan deskriminasi.Perlu
kita ingat bahwa semboyan kita adalah BHINEKA TUNGGAL IKA yang artinya
berbeda-beda tetapi tetap satu.
Para generasi muda sekarang sering melakukan tawuran antarsekolah, kampung dan
geng. Hal tersebut membuktikan bahwa karakter asli bangsa kita telah luntur. Para
generasi sekarang sudah tidak mengenal para pahlawan yang telah berkorban demi
kemerdekaan bangsa Indonesia. Kita bisa menghirup udara bebas dan lepas dari
penjajahan adalah jerih payah dan sekian banyak nyawa pejuang yang hilang dan
tetesan darah para pejuang yang memberikan kemerdekaan untuk kita nikmati
sekarang. Sangat diharapkan kepada pemerintah khususnya di bidang pendidikan
memperbanyak memberikan waktu untuk materi agama dan budi pekerti dimana
sekarang ini para generasi muda telah lupa dengan ciri karakter bangsa yang telah
dicontohkan oleh para pahlawan kemerdekaan.

B. SARAN
11

Dengan selesainya pembuatan makalah ini, kami berharap kita sebagai


penerus bangsa dapat termotivasi untuk melanjutkan perjuangan para pejuang
kemerdekaan Indonesia, khususnya yang dibahas dalam makalah ini adalah Jenderal
Sudirman , agar kita dapat melanjutkan perjuangan beliau dengan cara mempelajari
hal-hal yang berkaitan dengan perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan oleh
para pejuang kita, menghormati para pahlawan yang telah memperjuangkan
kemerdekaan, menjaga ketertiban dan keamanan di Indonesia, dan ikut serta
menjaga dan mengharumkan nama Indonesia.
Belajar memiliki karakter Jenderal Sudirman yang memiliki keyakinan yang kuat,
keilmuan yang universal, ketangguhan fisik dan jiwa dalam melanjutkan nilai-nilai
luhur para pahlawan dan karakter mulia para pahlawan Indonesia. Mari kita
tanggung jawab terhadap pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa, karena kitalah
yang akan melanjutkan estapet perjuangan bangsa dari perang dan penjajahan yang
lebih bahaya dari bahaya peperangan yang dilakukan oleh Sudirman dan para
pahlawan yang lainnya, perang terhadap keyakinan yang salah, perang terhadap
kebodohan, perang terhadap kerusakan moral, perang terhadap ketergantungan
pada orang lain, memerangi kemiskinan mental, memerangi kemiskinan karakter,
yang telah hilang dari kehidupan kita.
DAFTAR PUSTAKA
12

Tashadi Drs., dkk. 1991. Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Di Daerah


Istimewa Yogyakarta. Depdikbud: Jakarta.
Tashadi Drs., dkk. 1992. Peranan Desa Dalam Perjuangan Kemerdekaan:Studi Kasus
Keterlibatan Beberapa Desa di Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 1945 – 1949.
Depdikbud: Jakarta
http://dharianto97.blogspot.co.id/2013/11/peranan-d-ukuh-bibis-bantulyogyakarta.
html (jumat,17 Juni 2016, 13.00 wita)
http://amriarrusdi.blogspot.co.id/2014/10/panglima-besar-jenderal-Sudirman.html,
Diakses pada hari Jumat,17 Juni 2016,jam 15.10 wita.
http://www.dakwatuna.com/2012/11/13/24098/belajar-membangun-karakter-dari-
pahlawan-jenderal-Sudirman/#ixzz4Bo4ucfTw,Diakses pada jumat,17 Juni 2016,jam
15.20 wita
Kata Penghantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Penerapan Nilai Kejuangan
Pangsar Jenderal Soedirman”.
Makalah ini berisikan tentang informasi Penerapan Nilai Kejuangan Pangsar Jenderal
Soedirman yang khususnya membahas Nilai Kejuangan Pangsar Jenderal Soedirman.
Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari yang sempurna , oleh karna itu
kritik dan saran dari pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Demikian makalah ini dibuat, semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua. Amin .

Purwokerto , 19 Oktober 2012

Penulis

Daftar Isi

Kata penghantar......................................................................................................... 1
Daftar Isi...................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................... 3
A. Latar Belakang............................................................................................ 3
B. Tujuan.......................................................................................................... 6
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................. 8
1. Peran Masiswa........................................................................................... 8
BAB III PENUTUP.................................................................................................... 12
A. Kesimpulan............................................................................................... 12
B. Saran........................................................................................................... 12

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada Penerapan Nilai Kejuangan Pangsar Soedirman secara fisiologis atau pemikiran
adalah sosok beliau yang mempunyai jiwa semangat yang dimana beliau ini selalu
berjuang dan berjuang walaupun banyak kendala-kendala yang muncul seperti
waktu itu beliau lagi tidak sehat atau lagi keadaan sakit tapi beliau selalu semangat
demi rakyatnya, teguh dalam arti berdiri tegak walaupun beliau menghadapi
beberapa goncangan dari luar ataupun penjajah, dan rela berkorban demi rakyat
untuk kesejahteraan rakyatnya di saat beliau lagi sakit pun beliau selalu maju dan
selalu memberi motivasi-motivasi kepada masyaratnya agar kita tidak boleh kalah
walaupun kita kekurangan senjata, ini adalah sifat yang patut kita contoh karena
masyarakat setempat masi menginginkan penerus bangsa kita harus punya panutan
seperti Kejuangan Pangsar Jenderal Soedirman. Jadi siapakah yang harus
mengaktualisasikan jatidiri beliau apa lagi jaman sekarang sudah jaman modern yang
dimana jaman sekarang itu sudah jaman yang praktis sudah menggunakan teknologi
canggih dan biasanya kalau kita itu udah lupa dengan saudara-saudara kita yang
belum tahu apa itu teknologi?mereka kadang lebih mementingkan dirinya sendiri
tanpa melihat di bawah kita, oleh karena itu kita harus lekas bertindak walaupun kita
dihadapi kendala apapun yang berskala kecil maupaun berskala besar, jadi siapa lagi
kalau bukan kita para pemuda pemudi penerus bangsa khususnya para mahasiswa
yang harus berani mempertahankan kedaulatan bangsa dan mensejahterakan
rakyat.
Nilai adalah kunci atau dasar mengenai gambaran yang sangat penting dan
bernilai dalam kehidupan manusia. Nilai kejuangan dapat bermakna apabila kita tahu
apa itu nilai kejuangan , kejuangan juga disini bernilai dan mempunyai kesukaran
pada saat kita berusaha seperti para pahlawan kita yang telah gugur karena
membela negara kita , kita contohkan saja Pangsar Jenderal Soedirman beliau itu
benar-benar pahlawan kita karena kenapa?karena pada saat merbut kemerdekaan
beliau selalu mengadu tenaga dan pikiran sampai-sampai usaha yang penuh bahaya
serti perang. Nilai kejuangan ini dapat mewujudkan nilai yang luhur dan hasil yang
diwujudkan dari nilai kejuangan ini dapat berpengaruh terhadap para
saudara-saudara karena kita dapat berinteraksi secara luas . dan perlu kita ketahui
nilai ini adalah suatu nilai yang luhur untuk mewujudkan interaksi sosial dalam
berbagai persaingan dan konflik.

Nilai – nilai kejuangan Pangsar Jenderal Soedirman yang patut kita contohkan dan ini
adalah fakta atau terjadi secara nyata yang telah diterima oleh masyarakat :
· Pangsar Jenderal Soedirman mempunyai sifat yang religius ,pemimpin yang
mempunyai iman yang kuat tidak mudah pantang menyerah dan taqwa yang kuat,
taqwa di sini beliau sangat patuh dan taat kepada negaranya yang dimana beliau ini
berani atau patriot sebagai panglima negara untuk melawan penjajah ( Soedirman
Sang Mubaligh )
· Pangsar Jenderal Soedirman mempunyai sifat pendidik yang mendasarkan
kepada kemampuan intelektual , dalam mendidik beliau selalu belajar dalam
menyampaikan pidato kepada masyarakat dan beliau juga adalah contoh sebagai
motivasi masyarakat ( Pangsar Jenderal Soedirman )
· Pangsar Jendral Soedirman mempunyai sifat demokrat , yang dimana beliau
menerima perbedaan berpendapat tanpa memaksa kehendak, dan beorientasi
kepada rakyat yang ingin berpendapat lain beliau pun selalu memahami suara rakyat
dengan menghormati pendapatnya ( Jenderal Soedirman Sang Demokrat).
· Pangsar Jenderal Soedirman juga mempunyai sifat prajurit yang disiplin, tegas,
ikhlas, dan rela berkorban, kuat berpegang teguh pada prinsip dan cita-citanya
dalam melawan para penjajah, pantang menyerah dalam berjuang mengutamakan
kepentingan yang lebih besar atau negara, menjunjung tinggi nilai-nilai
kejuangannya dan kehormatan negara dalam rangka menumbuh dan menanam
jatidiri untuk membela negara ( Pangsar Jenderal Soedirman ).
Dari keempat sifat contoh Pangsar Jenderal Soedirman ini mudah-mudahan dapat
mengemban suatu sifatnya untuk ditunjukkan kepada masyarakat, terutama kita
sebagai mahasiswa harus mencontohkan seperti jatidiri beliau karena beliau itu
menghargai waktu, sosok yang disiplin, menghargai suatu perbedaan yang ada dan
pantang menyerah dalam perjuangan untuk mewujudkan semua cita-citanya, kita
juga bisa jadi contoh apabila kita juga dapat merubah sifat-sifat kita kelebih baik lagi,
dan selalu kita mengoreksi dalam suatu ruang lingkup yang membutuhkan kita
dengan tanggapan yang refleks dan mempunyai jiwa wibawa yang tangguh.

B. Tujuan

Tujuan dari Penerapan Kejuangan Pangsar Jenderal Soedirman ini adalah untuk
memiliki unsur-unsur utama yang dijiwai oleh Pangsar Jenderal Soedirman bagi para
mahasiswa Unsoed yang mempelajari suatu mata kuliah jatidiri Unsoed, yang
dimana bila dijelaskan jatidiri Unsoed adalah gambaran atau keadaan khusus
seseorang identitas, kepribadian, inti dan jiwa, semangat, daya gerak dari dalam
serta spiritualitas, jatidiri Unsoed ini diharapakan dapat memunculkan sifat dalam
bentuk meneladani Sang prajurit besar kita dengan keberhasilan yang selayaknya
dimiliki civitas akademika Unsoed dalam pengelolaan diri seperti:
Ø Menjaga keseimbangan hidup dan kehidupan berarti dapat memajajemen waktu
dan dapat berinteraksi antar manusia, makhluk hidup maupun tidak hidup yang
dimana kita saling timbal balik.

Ø Mengerti yang disukai dan tidak disukai berarti kita mengikuti suatu kehidupan
yang memilih suatu sikap berunjuk kepada kegiatan yang baik dan buruk.

Ø Mampu memimpin diri menjadi lebih maik dan selalu menjaga tujuan hidup yang
apa kita buat itu adalah prinsip

Ø Mampu bergaul dengan benar dengan sesama salig berbagi, dan jangan selalu
memilih teman karena materinya.
Ø Mampu bekerja efektif, efisien dan produktif dengan kita mengefektifkan
pekerjaan maka kita akan bekerja dengan ulet, tekun, dan rajin, lalu mengefisienkan
waktu maka kita dapat memanfaatkan waktu secara baik dan benar dengan
melakukan kegiatan-kegiatan kehidupan, dan kita menjadi kerjaannya produktif
bagus dalam bekerja dapat mengembangkan suatu penghasilan baik dalam suatu
pekerjaan yang menghasilkan, serta

Ø Mampu berfikir positif dalam menemukan suatu kegiatan yang menurut kita
buruk dalam kerjanya, selalu berfikir positif apa yang kita lakukan ataupun tindakan
semestinya yang harus kita memang jalankan.

Ø Mampu merubah diri kita ke lebih baik lagi dengan mengoreksi diri kita sendiri

BAB II
PEMBAHASAN

Makalah ini membahas tentang Peranan Nilai Kejuangan Pangsar Jenderal


Soedirman, yang merupan teladan yang sangat bermanfaat untuk diinternalisasikan
dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari civitas akademika Unsoed,
khususnya mahasiswa. Internalisai dan aktualisasikan nilai kejuangan tersebut
diharapakan berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan yang dimulai dari saat
mahasiswa baru memulai mengikuti proses pembelajaran dan menjalani kehidupan
masyarakat kampus. Aktualisasi tersebut diharapkan dapat membangkitkan
kepercayaan mahasiswa akan jatidirinya, sehingga menumbuhkan konsep-konsep
yang sangat diperlukan dalam mendukung efektifitas, efisiensi dan keberhasilan
mahasiswa dalam menyelesaikan studi tepat waktu, dan mampu menempatkan diri
pada teknostruktur yang tepat di masyarakat setelah purna studi dan secara
konsisten menjadi pribadi yang beriman, bertaqwa dan berinteraksi yang diamalkan
kepada masyarakat, bangsa dan negara.
1. Peranan Mahasiswa

Mahasiswa sebagai bagian integral dari pemuda indonesia memiliki kedu dukan dan
posisi yang strategi di suatu masyarakat yang memperoleh kebijakan – kebijakan
setiap pemerintah berpendapat sewenang-wenang terhadap keputusan yang tidak
sangat berpengaruh terhadap masyarakat maka di situ peranan mahasiswa akan
muncul dengan cara berkonsisten teguh untuk membatalkan rencana-rencana
pemerintah yang sangat tidak begitu bermanfaat bagi rakyat dengan cara berdemo,
tetapi berdemo disini tidak harus melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat
karena mahasiswa itu sosok dewasa hanya mahasiswa yang tidak mempunyai
pendidikan saja yang dapat merugikan masyarakat sekitar.
Kita harus tahu sebagai mahasiswa unsoed akan jatidiri yang dikembangkan dari
mata kuliah yang didapat, tidakkah seorang mahasiswa akan melenceng dari
jatidirinya, mungkin saja akan merugikan apabila mahasiswa ini tidak meneladani
seorang Jenderal Soedirman yang telah mendidik masyarakatnya. Makanya di
kampus Unsoed tercinta ini di didik untuk jatidirinya, untuk mewujudkan sosok
mahasiswa yang civitasnya kuat, disiplin, dan bertanggung jawab dalam meneladani
yang di contohkan Pangsar Jenderal Soedirman.
Untuk mewujudkan cita-cita mahasiswa Unsoed yang meneladani Pangsar Jenderal
Soedirman, mahasiswa harus mencontohkan kelapangan atau ke masyarakat agar
masyarakat tahu seorang mahasiswa Unsoed yang membawa nama besar prajurit
besar itu seperti apa perilakunya, ini berarti adalah tanggung jawab yang sangat
besar bagi mahasiswa Unsoed .
Cara menyikapinya kita koreksi jatidiri kita sendiri apakah kita sudah benar ataupun
sudah meneladani sosok beliau, jangan selalu mengumbar perkataan apabila kita
belum mencontohkannya sendiri, berfikirlah ingin maju dan selalu kita berfikir kritis
jangan hanya didalam diri kita ini hanya hawa nafsu saja kembangkanlah
inovatif-inovatif yang membuat kita akan berkembang dan maju. Lakukanlah
tindakan yang membuat kita bangga seperti kita ingin membanggakan orang tua ,
jauhkanlah hal-hal yang negatif dengan melakukan hal-hal positif agar hati kita
tenang dan tak mempunyai suatu beban yang berat.
Mari kita mulai contohkan ke sebuah masyarakat dalam konsep-konsep yang kita
buat seperti memimpin diri , menjaga etika, etos bekerja, mempunyai gambaran
utuk maju, menjadi yang mempunyai prestasi dan selalu ingin lebih banyak dalam
tindakan dibandingkan kita berbicara yang tak ada gunanya. Dengan konsep ini kami
mahasiswa Unsoed akan mencontohkan Pangsar Jenderal Soedirman dengan
melakukan apa yang telah dibuat dalam visi dan misi Unsoed.
Yang pertama konsepnya adalah memimpin diri dengan bersikap menjaga diri kita
dan mampu mengatur waktu dalam hal-hal apa yang kita kerjakan iyu momentum
dalam memimpin diri, bila dikatakan ada banyak dalam memimpin diri kita sendiri di
sebutkan yaitu:
a. Memimpin diri dalam perilaku kita dengan cara mengoreksi jatidiri kita
membuat 5W H1 , buatlah rencana-rencana yang mampu membuat kita berubah
dalam perilaku kita yang tadinya tidak baik maka akan baik dan yang tadinya tidak
dapat menghargai waktu sekarang menjadi mulai menghargai waktu dengan cara
membuat diagram-diagram waktu yang akan kita lakukan buat esok hari.
b. Memimpin diri dalam suatu pekerjaan dengan cara kita selalu tepat waktu
dalam bekerja mulai mepunyai ingatan-ingatan yang maju dengan membuat suatu
kreativitas yang mampu membuat orang kagum terhadap apa yang kita lakukan itu
bermanfaat, etos bekerja dengan beriktiar , tekun dan ulet itu semua adalah
rangkaian kita untuk membuat kita selalu semangat dalam suatu hal yang
menjadikan kita pengaruh hidup ingin berkreasi membuka hal-hal yang baru
c. Memimpin diri dalam tujuan dengan cara kita mempunyai patokan dalam arah
kita ingin menjadi seorang yang penting bagi orang lain mupun masyarakat dan
bertujuan hanya satu ingin menjadi apa yang kita inginkan, bila gagal kita coba
mencari kegagalan dengan cara berusaha terus jangan menyerah sehingga kita dapat
apa yang kita inginkan mungkin itu adalah jalan paling terbaik dari apa yang kita
pernah gagal.
Kedua, menjaga etika kita dalam berbicara, tingkah laku, sopan santun, saling
menghormati apalagi menghormati yang lebih tua dan menghormati pendapat orang
ketika kita sedang berdiskusi itu inti dari etika menurut pendapat pembuat makalah.
Ketiga, etos bekerja berarti kerja keras itu adalah pondasi kita tanpa kerja keras kita
tak akan mendapatkan hasil apa-apa ,makanya disini kita harus bekerja dengan giat,
ulet, rajin ,dan setelah kita sudah berikhtiar jangan lupa kita selalu berdoa semoga
pekerjaan yang apa kita lakukan bermanfaat bagi kita maupun orang lain yang kita
banggakan.
Keempat, gambaran untuk maju ketika kita membuat rencana atau planning untuka
kedepan dengan cara mematuhi apa yang kita catat sehingga kita dapat terarur
sedimikian rupa dalam rencana yang telah kita buat, ketika kita tidak bisa
menjalankannya maka kita kan kalah pada jiwa negatif kita dengan malas-malasan
itu akan susah apabila kita tak mau merubahnya sendiri.
Kelima, mempunyai prestasi dalam nilai apa yang telah kita lakukan ketika kita
belajar dengan tekun, rajin, dan mengerjakan tugas-tugas yang telah di beri dari
suatu satu narasumber dan prestasi tidak hanya disitu saja prestasi dalam hal
organisasi yang dimana kita dapatkan suatu pengalaman dan membuka kita berfikir
kritis.
Keenam , apa yang kita kerjakan tidak hanya di bibir saja tapi yang penting adalah
tindakan dengan cara kita melakukan setelah kita bicara.
BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Jadi kesimpulan makalah ini saya buat adalah ingin mengetahui Penerapan Nilai
Kejuangan Pangsar Jenderal Soedirman bagi para mahasiswa Unsoed yang
mempelajari suatu mata kuliah jatidiri Unsoed, yang dimana bila dijelaskan jatidiri
Unsoed adalah gambaran atau keadaan khusus seseorang identitas, kepribadian, inti
dan jiwa, semangat, daya gerak dari dalam serta spiritualitas, jatidiri Unsoed ini
diharapakan dapat memunculkan sifat dalam bentuk meneladani Sang prajurit besar
kita dengan keberhasilan yang selayaknya dimiliki civitas akademika Unsoed dalam
pengelolaan diri.

B. SARAN

Pada prinsipnya bahwa kita harus meladani Nilai Kejuangan Pangsar Jenderal
Soedirman yang telah membela negara kita dan jangan dilupakan sifat – sifat pada
diri Pangsar Jenderal Soedirman.
Diposting oleh abdullah mujahid di 02.04
Kirimkan Ini lewat Email
B. Peranan Jenderal Sudirman dalam Perang Gerilya
Pasukan tentara Belanda melakukan serangan penyerangan militer II melakukan
serangan dari udara laut dan darat keseluruh wilayah nusantara, pada tanggal 19
Desember 1948. Tujuanya tidak lain untuk menguasai nusantara kembali dengan
cara keseluruhan, dari pihak Indonesia tak mungkin melakukan perlawanan perang
melewati perang stelling alias frontale corlog, disebabkan peralatan yang tak lebih
dari sisi persenjataan yang tak lebih memadai untuk mempersiapkan alat alat itu tak
memungkinkan bagi Indonesia sebab Indonesia yang baru membentuk Negara maka
belum siap untuk mempersiapkan alat alat perang itu.

Pasukan Indonesia wajib mencari tutorial lain untuk menghadapi serangan


pasukan Belanda yaitu dengan taktik perang gerilya. Serangan tentara Belanda itu
datangnya sangat mendadak atau sekonyong-konyong, sehingga sulit dibendung
atau dihadapi oleh Indonesia dengan cara langsung. Perang gerilya menjadikan
solusi saat deadlock guna menghadapi

masa perang yang panjang dan juga


5 menghindari korban yang tak sedikit
tetapi kadang-kadang rakyat dan
para tentara kami tak lebih
memahami taktik gerilya
tersebut.
Perang Gerilya merupakan teknik mengepung dengan cara tak terkesan
(infisibble).Perang Gerilya adalah bentuk perang yang tak terbelit dengan cara resmi
pada ketentuan perang.Saat itu Perang Gerilya dipimpin oleh Jenderal Sudirman.
Perang Gerilya bangsa Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
· Menghindari perang terbuka
· Menghantam musuh dengan cara tiba-tiba
· Menghilang ditengah lebatnya hutan alias kegelapan malam
· Menyamar sebagai rakyat biasa.
Memasuki akhir tahun 1947, tentara republik yang bergerilya mulai terorganisir dan
mempunyai komando gerilya yang dinamis. Akibatnya belanda menjadi kesulitan
untuk menggempur tentara republik.setiap target yang diserang belanda,banyak
yang telah kosong,namun pada saat yang tak disangka-sangka,tentara republik
menyerang kedudukan Belandadengan cepat.Saat Belanda kembali menggencarkan
serangan, kubu-kubu tentara republik telah kosong.
Dengan demikian,Belanda hanya menguasai kota-kota besar dan jalan raya. Seusai
itu Sudirmanmeninggalkan Yogyakarta untuk memimpin gerilya dari luar kota.
Perjalanan bergerilya selagi delapan bulan ditempuh tak lebih lebih 1000 km di
daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sering Sudirman wajib ditandu alias digendong
sebab dalam keadaan sakit keras. Seusai berpindah-pindah dari berbagai desa
rombongan Sudirman kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949. Kolonel A.H.
Nasution, selaku Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menyusun rencana
pertahanan rakyat Totaliter yang kemudian dikenal sebagai Perintah Siasat No 1
Salah satu pokok isinya ialah : Tugas pasukan-pasukan yang berasal dari
daerah-daerah federal adalah ber wingate (menyusup ke belakang garis musuh) dan
membentuk kantong-kantong gerilya maka seluruh Pulau Jawa bakal menjadi medan
gerilya yang luas. Salah satu pasukan yang wajib melakukan wingate adalah pasukan
Siliwangi.
6
Pada tanggal 19 Desember 1948 bergeraklah pasukan Siliwangi dari Jawa Tengah
menuju daerah-daerah kantong yang telah ditetapkan di Jawa Barat. Perjalanan ini
dikenal dengan nama Long March Siliwangi. Perjalanan yang jauh, menyeberangi
sungai, mendaki gunung, menuruni lembah, melawan rasa lapar dan letih dibayangi
bahaya serangan musuh. Sesampainya di Jawa Barat mereka terpaksa pula
menghadapi gerombolan DI/TII. Dalam serangan itu Belanda sukses menawan
presiden,wakil presiden,dan berbagai pejabat tinggi lainnya.Presiden Soekarno
diterbangkan ke Prapat (Dekat Danau Toba) dan kemudian ke Bangka.Wakil Presiden
Hatta langsung ditawan di Bangka.Setelah itu Belanda menyiarkan kabar keseluruh
dunia yang menyebutkan bahwa RI telah tak ada dan perlawanan TNI sama sekali
tak berarti.Propaganda seperti ini jelas menyudutkan kedudukan RI di mata dunia
Internasional. Kendati demikian,sebelum para pemimpin republik ditawan,Presiden
Soekarno tetap semangat memimpin sidang kabinet dengan cara singkat.Hasil sidang
kabinet tersebut yakni sebagai berikut :
· Pemerintahan Republik Indonesia memberikan amanah melalu radiogram
terhadap Menteri Kemakmuran Mr.Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia(PDRI) dibukittinggi,Sumatra.
· Presiden dan Wapres tetap tinggal didalam kota supaya tetap dekat dengan
KTN dengan resiko ditawan Belanda.
· Pemimpin TNI bakal menyingkir keluar kota untuk melaksanakan perang gerilya
dengan membentuk wilayah komando di Jawa dan Sumatra.
Penyerangan Militer Belanda 2 ini mengajak reaksi dan kecaman dari dunia
Internasional.Belanda dinilai rutin mengganggu ketertiban dan perdamaian
dunia.Belanda pun dianggap tak menghormati setiap persetujuan yang
dibuatnya.Oleh sebab itu,Dewan Keamanan PBB mulai menuturkan penyerangan
Belanda yang kedua ini.Dalam pertemuan tanggal 28 Januari 1949,Dewan Keamanan
PBB mengeluarkan resolusi yang memerintahkan penghentian semua operasi militer
Belanda dan penghentian semua aktivitas gerilya tentara Republik. Tidak hanya
mendapat tekanan dari DK PBB, aksi militer Belanda kedua ini nyatanya tak didukung
oleh negara boneka buatannya sendiri.Negara Indonesia Timur dan Negara
Pasundah mencela dan memprotes Penyerangan militer kedua ini.Demikian juga
Amerika Serikat yang dengan cara positif telah merubah pandangan atas
Indonesia,segera memberikan tekanan politik terhadap Belanda.AS mengancam tak
bakal memberikan bantuan dana dari program Marshall Plan terhadap Belanda.
Dampak terus menerus memperoleh tekanan politik dari dunia internasional dan
terus besarnya performa pasukan Republik melancarkan serangn gerilya,akhirnya
Belanda menerima resoulusi DK PBB. Resoulusi DK PBB itu telah mengakhiri aksi
Belanda dalam penyerangan militer keduanya.