Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya untuk
mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, yang merata, baik materil maupun
spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945. Di dalam pelaksanaan pembangunan nasional tersebut, masyarakat
mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan
pembangunan dan dituntut dapat berpartisipasi dan berperan aktif bersama pengusaha
dalam upaya menuju perbaikan dan peningkatan taraf hidup bangsa dengan jalan
meningkatkan produksi dan produktifitas kerja.
Penyelenggaraan perlindungan, pemiliharaan dan peningkatan kesejahtraan
merupakan salah satu tanggung jawab dan kewajiban negara untuk memberikan
perlindungan sosial ekonomi kepada masyarakat. Sesuai dengan kondisi kemampuan
keuangan negara, Indonesia seperti halnya berbagai negara berkembang lainnya,
mengembangkan program jaminan sosial berdasarkan funded social security, yaitu
jaminan sosial yang didanai oleh peserta dan masih terbatas pada masyarakat pekerja di
sektor formal.
Peran serta masyarakat dalam pembangunan nasional semakin meningkat dengan
disertai berbagai tantangan dan resiko maupun kondisi yang mengandung kemungkinan
terjadinya penyimpangan yang lebih buruk dari hasil yang diharapkan. Seperti suatu
keadaan yang dapat menciptakan atau meningkatkan kemungkinan timbulnya kerugian,
misalnya konstruksi yang tidak kokoh, barang-barang yang berbahaya, api yang disimpan
di dalam gedung ataupun bencana yang tak terduga datangya.
Oleh karena itu kepada masyarakat perlu diberikan perlindungan, pemiliharaan
dan peningkatan kesejahtraannya, sehingga pada gilirannya akan dapat maningkatkan
produktivitas nasional. Perlindungan tersebut dapat diberikan melalui Jasa Asuransi.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana Peranan Hukum Asuransi dalam Masyarakat?
2. Bagaimana Pengaturan Asuransi Komersial di Indonesia?
3. Apakah pengertian dari hukum pengangkutan?
4. Apa sajakah fungsi dari pengangkutan itu sendiri?
5. Bagaimana klasifikasi dari jenis-jenis pengangkutan serta peraturannya?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah :
1. Mengetahui bentuk dan pelaksanaan Hukum Asuransi dalam masyarakat.
2. Mengetahui ruang lingkup Pengaturan Asuransi di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Peranan Hukum Asuransi dalam Masyarakat Indonesia

1. Pengertian Asuransi

Asuransi diatur dalam KUHD, tepatnya pada pasal 246 KUHD dijelaskan
mengenai apa yang dimaksud dengan asuransi adalah suatu perjanjian dengan mana
seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima
premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan
atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena
suatu peristiwa yang tak tertentu. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.2 Tahun 1992
tentang Usaha Perasuransian merumuskan asuransi atau pertanggungan sebagai
perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan
diri kepada tertanggung, dengan menerima premi, untuk memberikan penggantian
kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang
diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan
diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk
memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya
seseorang yang dipertanggungkan.

Rumusan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Asuransi tersebut lebih luas jika


dibandingkan dengan rumusan Pasal 246 KUHD karena mencakup juga asuransi
kerugian dan asuransi jiwa.. Pihak-pihak yang menjadi subjek dalam asuransi adalah
penanggung dan tertanggung yang mengadakan perjanjian asuransi. Penanggung dan
tertanggung adalah pendukung hak dan kewajiban. Penanggung wajib memikul risiko
yang dialihkan kepadanya dan berhak memperoleh pembayaran premi, sedangkan
tertanggung wajib membayar premi dan berhak memperoleh penggantian jika timbul
kerugian atas harta miliknya yang diasuransikan.

Dari rumusan di atas setidaknya terlihat adanya dua perbedaan mendasar


antara asuransi dan penjaminan yaitu, Pertama, subjek yang menjadi para pihak.
Dalam penjaminan ada tiga pihak yang menjadi subjek yaitu penanggung, debitur
sebagai pihak tertanggung dan bank sebagai pihak yang menerima manfaat
penanggungan.. Kedua, kewajiban membayar premi dan menerima penggantian
kerugian. Dalam asuransi yang wajib membayar premi adalah pihak yang berhak
memperoleh penggantian jika timbul kerugian atas harta miliknya yang diasuransikan.
Sedangkan dalam penjaminan, premi dibayar oleh nasabah, sedangkan yang berhak
memperoleh penggantian jika timbul kerugian adalah bank. Dalam kaitannya dengan
skim penjaminan, lembaga penjamin sebagai penanggung harus melepaskan hak
istimewanya untuk menuntut barang-barang debitur lebih dulu disita dan dijual.
Apabila hak istimewa tersebut tidak dilepaskan maka skim penjaminan tersebut tidak
akan berjalan.

Asuransi memiliki beragam pengertian, baik dari para ahli maupun dari
peraturan perundang – undangan yang terdapat di Indonesia. Menurut Black’sLaw
Dictionary mendefinisikan asuransi sebagai “Suatu perjanjian yang menjadi dasar
bagi penanggung pada satu pihak berjanji akan melakukan sesuatu yang bernilai bagi
tertanggung sebagai pihak yang lain atas terjadinya kejadian tertentu; sebuah
perjanjian yang menjadi dasar bagi satu pihak mengambilalih suatu risiko yang
dihadapi oleh pihak yang lain atas imbalan pembayaran sejumlah premi.”

Sedangkan pengertian asuransi menurut KUH Dagang Pasal 246 KUH


Dagang adalah “Suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri
kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan
penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan
yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak
tertentu.”

UU No. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian memberikan pengertian


yang lebih kompleks mengenai asuransi, menurut UU No. 2 Tahun 1992 Tentang
Usaha Perasuransian, asuransi yaitu “Perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan
mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima
premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian,
kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum
kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita oleh tertanggung, yang timbul dari
suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang
didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang diasuransikan”.
2. Perkembangan Kebutuhan Masyarakat Terhadap Asuransi

Peran serta masyarakat dalam pembangunan nasional semakin meningkat


dengan disertai berbagai tantangan dan resiko maupun kondisi yang mengandung
kemungkinan terjadinya penyimpangan yang lebih buruk dari hasil yang diharapkan.
Seperti suatu keadaan yang dapat menciptakan atau meningkatkan kemungkinan
timbulnya kerugian, misalnya konstruksi yang tidak kokoh, barang-barang yang
berbahaya, api yang disimpan di dalam gedung ataupun bencana yang tak terduga
datangya.

Masyarakat membutuhkan suatu proteksi terhadap kelangsungan hidupnya


agar terjamin dari resiko - resiko yang ada. Oleh karena itu kebutuhan asuransi kini
mulai dirasa memiliki peranan penting dalam masyarakat.

Adapun peranan – peranan asuransi terhadap kebutuhan masyarakat adalah


sbagai berikut :

a. Sebagai proteksi terhadap risiko finansial sebagai akibat timbulnya :

1) Kerugian, kerusakan dan kehilangan yang menimpa harta benda yang dimiliki
atau dikuasai ;

2) Tuntutan tanggung jawab hukum atas kesalahan dan/atau kelalaian pribadi


atau yang berada di bawah pengawasan atau tanggung jawabnya, atau mereka
yang tindakannya terkait dengannya di bawah undang-undang;

3) Pendapatan atau keuntungan yang diharapkan ;

4) Piutang yang tidak tertagih ; dan

5) Biaya pengobatan atau perawatan kesehatan

b. Sebagai kompensasi atas kehilangan anggota badan atau cacat badan atau
meninggal dunia.

c. Sebagai jaminan kelangsungan pendapatan sendiri (termasuk badan usaha) dan


keluarga (atau yang menjadi tanggung jawabnya termasuk karyawan)
d. Sebagai sarana investasi dan tabungan.

e. Sebagai sarana berbagi risiko dan tolong menolong apabila terjadi musibah.

f. Sebagai strategi efisiensi pemanfaatan modal sehingga tidak perlu melakukan


pencadangan atas risiko kerugian yang mungkin timbul sehingga modal yang
dimiliki dapat dipergunakan sepenuhnya untuk kepentingan bisnis.

g. Pendukung strategi pengambilan kebijakan bisnis atau tindakan pribadi, misalnya


atas rencana investasi atau perluasan usaha, pemberian kredit, risiko kegagalan
pelaksanaan kontrak dan kegiatan pribadi yang mengandung risiko tinggi.

h. Dasar pengaturan anggaran biaya, dan

i. Pemberi rasa aman mengetahui risiko yang mungkin terjadi akan ditanggung oleh
perusahaan asuransi.

B. Pengaturan Asuransi Komersial di Indonesia

Asuransi diatur dalam KUHD, tepatnya pada pasal 246 KUHD dijelaskan
mengenai apa yang dimaksud dengan asuransi adalah suatu perjanjian dengan mana
seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima
premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu
peristiwa yang tak tertentu. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.2 Tahun 1992 tentang
Usaha Perasuransian merumuskan asuransi atau pertanggungan sebagai perjanjian antara
dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada
tertanggung, dengan menerima premi, untuk memberikan penggantian kepada
tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan,
atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita
tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan
suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang
dipertanggungkan.

Dari pengaturan – pengaturan tersebut dapat ditarik ruang lingkup pengaturan


hukum asuransi kedalam Hukum Perdata dan Hukum Dagang atau Bisnis.
1. Pengaturan asuransi sebagai sebuah perjanjian di bawah KUH Perdata

a. Syarat sahnya sebuah perjanjian

b. Asas hukum sahnya sebuah perjanjian

c. Dasar hukum perjanjian asuransi, Diatur dalam Pasal 1774 KUH Perdata. Menurut
pasal tersebut, perjanjian asuransi digolongkan ke dalam perjanjian untung-
untungan. Penggolongan perjanjian asuransi sebagai perjanjian untung-untungan
tidak sesuai dengan sifat perjanjian asuransi yang sesungguhnya.

d. Subyek perjanjian asuransi

e. Lahirnya perjanjian asuransi

f. Sifat perjanjian asuransi

g. Keseimbangan kepentingan penanggung dan tertanggung

h. Sanksi atas wanprestasi dalam pemenuhan kewajiban

i. Tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga

j. Pembatalan perjanjian

k. Penafsiran perjanjian

2. Pengaturan asuransi sebagai sebuah perjanjian di bawah KUH Dagang

a. Penggolongan dan jenis-jenis asuransi

b. Penyebab yang ditanggung dalam perjanjian asuransi (proximate cause)

c. Tujuan dan prinsip-prinsip pokok asuransi

d. Keseimbangan kepentingan

e. Hubungan premi dan jumlah pertanggungan dan perhitungan ganti kerugian

f. Bukti pengalihan risiko kepada penanggung


g. Pengecualian dan pembatasan

h. Pembatalan dan berakhirnya perjanjian asuransi

i. Penyelesaian sengketa

j. Penafsiran perjanjian

k. Sanksi

3. Pengaturan asuransi sebagai sebuah bisnis UU No. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha
Perasuransian (UU Bisnis Asuransi) :

a. Landasan tujuan dan fungsi asuransi

1) Salah satu upaya untuk menanggulangi risiko yang dihadapi masyarakat

2) Sebagai lembaga penghimpun dana masyarakat

3) Memiliki kedudukan strategis dalam pembangunan dan kehidupan


perekonomian dalam memajukan kesejahteraan umum

b. Tujuan pengaturan bisnis asuransi oleh pemerintah

1) Vested-in-the Public Interest Rationale

2) Destructive-Competition Rationale

c. Ruang lingkup UU Bisnis Asuransi

1) Bidang usaha dan jenis usaha

2) Bentuk badan hokum

3) Kepemilikan

4) Permodalan

5) Perizinan

6) Pengurus
7) Pembinaan dan pengawasan

 Bidang kesehatan keuangan

 Bidang penyelenggaraan usaha

8) Kepastian dan penegakan hukum

9) Perlindungan kepentingan konsumen, larangan praktik monopoli dan


persaingan usaha tidak sehat

10) Perlindungan kepentingan nasional

C. Pengertian Pengangkutan
Pengangkutan adalah perjanjian timbal balik antara pengangkut dengan pengirim,
dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan
atau orang dari suatu tempat ketempat tujuan tertentu dengan selamat, sedangkan
pengirim mengikatkan diri untuk membayar angkutan. Dari pengertian diatas dapat
diketahui bahwa pihak dalam perjanjian pengangkut adalah pengangkut dan pengirim.
Sifat dari perjanjian pengangkutan adalah perjanjian timbal balik, artinya masing-masing
pihak mempunyai kewajiban sendiri-sendiri. Pihak pengangkut berkewajiban untuk
menyelenggarakan pengangkutan barang atau orang dari suatu tempat ketempat tujuan
tertentu dengan selamat, sedangkan pengiriman berkewajiban untuk membayar uang
angkutan.
1. Fungsi Pengangkutan
Pada dasarnya fungsi pengangkutan adalah untuk memindahkan barang atau
orang dari suatu tempat yang lain dengan maksud untuk meningkatkan daya guna dan
nilai. Jadi dengan pengangkutan maka dapat diadakan perpindahan barang-barang dari
suatu tempat yang dirasa barang itu kurang berguna ke tempat dimana barang–barang
tadi dirasakan akan lebih bermanfaat.
Perpindahan barang atau orang dari suatu tempat ke tempat lain yang
diselenggarakan dengan pengangkutan tersebut harus dilakukan dengan memenuhi
beberapa ketentuan yang tidak dapat ditinggalkan, yaitu harus diselenggarakan
dengan aman, selamat, cepat, tidak ada perubahan bentuk tempat dan waktunya.
Menurut Sri Rejeki Hartono bahwa pada dasarnya pengangkutan mempunyai dua
nilai kegunaan, yaitu :
a) Kegunaan Tempat ( Place Utility )
Dengan adanya pengangkutan berarti terjadi perpindahan barang dari suatu
tempat, dimana barang tadi dirasakan kurang bermanfaat, ke tempat lain yang
menyebabkan barang tadi menjadi lebih bermanfaat
b) Kegunaan Waktu ( Time Utility )
Dengan adanya pengangkutan berarti dapat dimungkinkan terjadinya suatu
perpindahan suatu barang dari suatu tempat ketempat lain dimana barang itu lebih
diperlukan tepat pada waktunya.
2. Jenis Pengangkutan dan Pengaturannya
Dalam dunia perdagangan ada tiga jenis pengangkutan antara lain
a. Pengangkutan melalui darat yang diatur dalam :
1) KUHD, Buku I, Bab V, Bagian 2 dan 3, mulai pasal 90-98.
2) Peraturan khusus lainnya, misalnya, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1992
tentang Perkeretaapian. Dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya.
3) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi.
b. Pengangkutan melalui laut yang diatur dalam :
1) KUHD, Buku II, Bab V tentang Perjanjian Carter Kapal.
2) KUHD, Buku II, Bab V A tentang pengangkutan barang-barang.
3) KUHD, Buku II, Bab VB tentang pengangkutan orang.
4) Peraturan-peraturan khusus lainnya.
c. Pengangkutan udara yang diatur dalam :
1. S. 1939 Nomor 100 ( Luchtvervoerordonnatie ).
2. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang penerbangan.
3. Peraturan-peraturan khusus lainnya.
3. Klasifikasi pengangkutan
Pengangkutan dapat dikelompokan menurut macam atau moda
atau jenisnya (modes of transportation) yang dapat ditinjau dari segi barang yang
diangkut, dari segi geografis transportasi itu berlangsung, dari sudut teknis serta dari
sudut alat angkutannya. Secara rinci klasifikasi transportasi sebagai berikut:
 Dari segi barang yang diangkut, transportasi meliputi:
a. Angkutan penumpang (passanger);
b. Angkutan barang (goods);
c. Angkutan pos (mail);
d. Angkutan antar kota: misalnya dari Jakarta ke Bandung;
e. Angkutan antar daerah: misalnya dari Jawa Barat ke Jawa Timur;
f. Angkutan di dalam kota: misalnya kota Medan, Surabaya dan lain-lain.
 Dilihat dari sudut teknis dan alat angkutnya, maka transportasi dapat dibedakan
sebagai berikut:
a. Angkutan jalan raya atau highway transportation (road
transportation), seperti pengangkutan dengan menggunakan truk,bus dan
sedan;
b. Pengangkutan rel (rail transportation), yaitu angkutan kereta api, trem listrik
dan sebagainya. Pengangkutan jalan raya dan pengangkutan rel kadang-
kadang keduanya digabung dalam golongan yang disebut rail and road
transportation atau land transportation (angkutan darat);
c. Pengangkutan melalui air di pedalaman (inland transportation), seperti
pengangkutan sungai, kanal, danau dan sebagainya
d. Pengangkutan pipa (pipe line transportation), seperti transportasi untuk
mengangkut atau mengalirkan minyak tanah,bensin dan air minum;
e. Pengangkutan laut atau samudera (ocean transportation), yaitu angkutan
dengan menggunakan kapal laut yang mengarungi samudera;
f. Pengangkutan udara (transportation by air atau air transportation),
yaitu pengangkutan dengan menggunakan kapal terbang yang melalui jalan
udara.
4. Sifat Hukum Perjanjian Pengangkutan
Dalam perjanjian pengangkutan, kedudukan para pihak yaitu pengangkut dan
pengirim sama tinggi atau koordinasi ( geeoordineerd ), tidak seperti dalam perjanjian
perburuhan, dimana kedudukan para pihak tidak sama tinggi atau kedudukan
subordinasi gesubordineerd ). Mengenai sifat hukum perjanjian pengangkutan
terdapat beberapa pendapat, yaitu :
a) Pelayanan berkala artinya hubungan kerja antara pengirm dan pengangkut
tidakbersifat tetap, hanya kadang kala saja bila pengirim membutuhkan
pengangkutan ( tidak terus menerus ), berdasarkan atas ketentuan pasal 1601 KUH
Perdata.
b) Pemborongan sifat hukum perjanjian pengangkutan bukan pelayanan berkala
tetapi pemborongan sebagaimana dimaksud pasal 1601 b KUH Perdata. Pendapat
ini didasarkan atas ketentuan Pasal 1617 KUH Perdata ( Pasal penutup dari bab
VII A tentang pekerjaan pemborongan ).
c) Campuran perjanjian pengangkutan merupakan perjanjian campuran yakni
perjanjian melakukan pekerjaan ( pelayanan berkala ) dan perjanjian penyimpanan
( bewaargeving ). Unsur pelayanan berkala ( Pasal 1601 b KUH Perdata ) dan
unsur penyimpanan ( Pasal 468 ( 1 ) KUHD ).
5. Terjadinya Perjanjian Pengangkutan
Menurut sistem hukum Indonesia, pembuatan perjanjian pengangkutan tidak
disyratkan harus tertulis, cukup dengan lisan, asal ada persesuaian kehendak
(konsensus). Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa untuk adanya suatu
perjanjian pengangkutan cukup dengan adanya kesepakatan ( konsensus ) di antara
para pihak. Dengan kata lain perjanjian pengangkutan bersifat konsensuil. Dalam
praktek sehari-hari, dalam pengangkutan darat terdapat dokumen yang disebut dengan
surat muatan ( vracht brief ) seperti dimaksud dalam pasal 90 KUHD. Demikian juga
halnya dalam pengangkutan pengangkutan melalui laut terdapat dokumen konosemen
yakni tanda penerimaan barang yang harus diberikan pengangkut kepada pengirim
barang. Dokumen-dokumen tersebut bukan merupakan syarat mutlak tentang adanya
perjanjian pengangkutan. Tidak adanya dokumen tersebut tidak membatalkan
perjanjian pengangkutan yang telah ada ( Pasal 454, 504 dan 90 KUHD ). Jadi
dokumen-dokumen tersebut tidak merupakan unsur dari perjanjian pengangkutan.
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa perjanjian bersifat konsensuil.
6. Sumber Hukum Pengangkutan
Ketentuan-ketentuan umum mengenai pengangkutan dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Dagang dapat ditemukan di dalam beberapa pasal, yaitu sebagai
berikut:
1. Buku 1 Bab V bagian 2 dan 3, mulai dari Pasal 90 sampai dengan Pasal 98
TentangPengangkutan darat Dan Pengangkutan Perairan Darat;
2. Buku II Bab V Pasal 453 sampai dengan Pasal 465 Tentang Pencarteran Kapal,
Buku II Bab V A Pasal 466 sampai dengan Pasal 520 Tentang Pengangkutan
Barang, dan Buku IIBab V B Pasal 521 sampai Pasal 544a Tentang Pengangkutan
Orang;
3. Buku I Bab V Bagian II Pasal 86 sampai dengan Pasal 90 mengenai Kedudukan
Para Ekspeditur sebagai Pengusaha Perantara;
4. Buku I Bab XIII Pasal 748 sampai dengan Pasal 754 mengenai Kapal-Kapal yang
melalui perairan darat
Sedangkan ketentuan-ketentuan tentang pengangkutan di luar KUH Dagang
terdapat dalam sumber-sumber khusus, yaitu antara lain:
1) Konvensi-konvensi internasional;
2) Perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral;
3) Peraturan perundang-undangan nasional;
4) Yurisprudensi
5) Perjanjian-perjanjian antara lain :
a) Pemerintah-Perusahaan Angkutan
b) Perusahaan Angkutan- Perusahaan Angkutan
c) Perusahaan Angkutan- pribadi/swasta
7. Asas - Asas Pengangkutan
Asas-asas hukum pengangkutan merupakan landasan filosofis yang
diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
a. Yang bersifat perdata; dan
b. Yang bersifat public

Asas-asas yang bersifat publik terdapat pada tiap-tiap Undang-Undang


pengangkutan baik darat, laut dan udara. Dalam pengangkutan udara terdapat dalam
Pasal 2 Undang-Undang No.15 Tahun 1992. Asas-asas yang bersifat perdata
merupakan landasan hukum pengangkutan yang hanya berlaku dan berguna bagi
kedua pihak dalam pengangkutan niaga, yaitu pengangkut dan penumpang atau
pengirim barang.
Asas-asas hukum pengangkutan yang bersifat perdata menurut Abdulkadir
Muhammad (1998: 18-19) adalah sebagai berikut:
a. Konsensual
Pengangkutan tidak diharuskan dalam bentuk tertulis, sudah cukup dengan
kesepakatan pihak-pihak. Tetapi untuk menyatakan bahwa perjanjian itu sudah
terjadi atau sudah ada harus dibuktikan dengan atau didukung oleh dokumen
angkutan.
b. Koordinatif
Pihak-pihak dalam pengangkutan mempunyai kedudukan setara atau
sejajar, tidak ada pihak yang mengatasi atau membawahi yang lain. Walaupun
pengangkut menyediakan jasa dan melaksanakan perintah penumpang/pengirim
barang, pengangkut bukan bawahan penumpang/pengirim barang. Pengangkutan
adalah perjanjian pemberian kuasa.
c. Campuran
Pengangkutan merupakan campuran dari tiga jenis perjanjian, yaitu
pemberian kuasa, penyimpanan barang, dan melakukan pekerjaan dari pengirim
kepada pengangkut. Ketentuan ketiga jenis perjanjian ini berlaku pada
pengangkutan, kecuali jika ditentukan lain dalam perjanjian pengangkutan.
d. Retensi
Pengangkutan tidak menggunakan hak retensi. Penggunaan hak retensi
bertentangan dengan tujuan dan fungsi pengangkutan. Pengangkutan hanya
mempunyai kewajiban menyimpan barang atas biaya pemiliknya.
e. Pembuktian dengan dokumen
Setiap pengangkutan selalu dibuktikan dengan dokumen angkutan. Tidak
ada dokumen angkutan berarti tidak ada perjanjian pengangkutan, kecuali jika
kebiasaan yang sudah berlaku umum, misalnya pengangkutan dengan angkutan
kota (angkot) tanpa karcis/tiket penumpang.

Ada beberapa asas hukum pengangkutan yang bersifat publik, yaitu sebagai
berikut:
a. Asas manfaat
Yaitu, bahwa pengangkutan harus dapat memberikan manfaat sebesar-
besarnya bagi kemanusiaan, peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengembangan
perikehidupan yang berkesinambungan bagi warga negara, serta upaya
peningkatan pertahanan dan keamanan negara;
b. Asas usaha bersama dan kekeluargaan
Yaitu, bahwa penyelenggaraan usaha di bidang pengangkutan dilaksanakan
untuk mencapai cita-cita dan aspirasi bangsa yang dalam kegiatannya dapat
dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dan dijiwai oleh semangat
kekeluargaan;
c. Asas adil dan merata
Yaitu, bahwa penyelenggaraan penegangkutan harus dapat memberikan
pelayanan yang adil dan merata kepada segenap lapisan masyarakat dengan biaya
yang terjangkau oleh masyarakat;
d. Asas keseimbangan
Yaitu, bahwa pengangkutan harus diselenggarakan sedemikian rupa
sehingga terdapat keseimbangan yang serasi antara sarana dan prasarana, antara
kepentingan pengguna dan penyedia jasa, antara kepentingan individu dan
masyarakat, serta antara kepentingan nasional dan internasional;
e. Asas kepentingan umum
Yaitu, bahwa penyelenggaraan pengangkutan harus mengutamakan
kepentingan pelayanan umum bagi masyarakat luas;
f. Asas keterpaduan
Yaitu, bahwa penerbangan harus merupakan kesatuan yang bulat dan utuh,
terpadu, saling menunjang, dan saling mengisi baik intra maupun antar moda
transportasi;
g. Asas kesadaran hukum
Yaitu, bahwa mewajibkan kepada pemerintah untuk menegakkan dan
menjamin kepastian hukum serta mewajibkan kepada setiap warga negara
Indonesia untuk selalu sadar dan taat kepada hukum dalam penyelenggaraan
pengangkutan.
h. Asas percaya pada diri sendiri
Yaitu, bahwa pngangkutan harus berlandaskan pada kepercayaan akan
kemampuan dan kekuatan sendiri, serta bersendikan kepada kepribadian bangsa;
i. Asas keselamatan Penumpang
Yaitu bahwa setiap penyelenggaraan pengangkutan penumpang harus
disertai dengan asuransi kecelakaan
8. Fungsi Dan Tujuan Pengangkutan
Pada dasarnya fungsi pengangkutan adalah untuk memindahkan barang atau
orang dari suatu tempat yang lain dengan maksud untuk meningkatkan daya guna dan
nilai. Jadi dengan pengangkutan maka dapat diadakan perpindahan barang-barang dari
suatu tempat yang dirasa barang itu kurang berguna ketempat dimana barang-barang
tadi dirasakan akan lebih bermanfaat. Perpindahan barang atau orang dari suatu
tempat ketempat yang lain yang diselenggarakan dengan pengangkutan tersebut harus
dilakukan dengan memenuhi beberapa ketentuan yang tidak dapat ditinggalkan, yaitu
harus diselenggarakan dengan aman, selamat, cepat, tidak ada perubahan bentuk
tempat dan waktunya. Menurut Sri Rejeki Hartono bahwa pada dasarnya
pengangkutan mempunyai dua nilai kegunaan, yaitu:
1) Kegunaan Tempat ( Place Utility )
Dengan adanya pengangkutan berarti terjadi perpindahan barang dari suatu
tempat, dimana barang tadi dirasakan kurang bermanfaat, ketempat lain yang
menyebabkan barang tadi menjadi lebih bermanfaat.
2) Kegunaan Waktu ( Time Utility )
Dengan adanya pengangkutan berarti dapat dimungkinkan terjadinya suatu
perpindahan suatu barang dari suatu tempat ketempat lain dimana barang itu lebih
diperlukan tepat pada waktunya.
9. Prinsip Dasar Pengangkutan
Dalam perjanjian pengangkutan, kedudukan para pihak yaitu antara
pengangkut dan pengirim adalah sama tinggi. Hubungan kerja di dalam perjanjian
pengangkutan antara pengangkut dan pengirim tidak secara terus menerus,
tetapisifatnya hanya berkala, ketika seorang pengirim membutuhkan pengangkut
untuk mengangkut barang. Menurut Abdul Kadir Muhammad, perjanjian
pengangkutan mengandung tiga prinsip tanggung jawab, yaitu:
a. Prinsip tanggung jawab berdasarkan kesalahan
Menurut prinsip ini setiap pengangkut yang melakukan kesalahan dalam
penyelenggaraan pengangkutan harus bertanggung jawab membayar ganti
kerugian yang timbul akibat dari kesalahannya itu. Pihak yang menderita kerugian
harus membuktikan kesalahan pengangkut itu. Beban pembuktian ada pada pihak
yang dirugikan, bukan pada pengangkut. Prinsip ini adalah yang umum berlaku
seperti yang diatur dalam pasal 1365 KUHPerdata tentang perbuatan melawan
hukum.
b. Prinsip tanggung jawab berdasarkan praduga
Menurut prinsip ini pengangkut dianggap selalu bertanggung jawab atas
setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya Tetapi
jika pengangkut dapat membuktikan bahwa ia tidak bersalah, maka ia dibebaskan
dari kewajiban membayar ganti kerugian. Beban pembuktian ada pada pihak
pengangkut bukan pada pihak yang dirugikan. Pihak yang dirugikan cukup
menunjukkan adanya kerugian yang diderita dalam pengangkutan yang dilakukan
oleh pengangkut.
c. Prinsip tanggung jawab mutlak
Menurut prinsip ini pengangkut harus bertanggung jawab membayar ganti
kerugian terhadap setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang
diselenggarakannya tanpa keharusan pembuktian ada tidaknya kesalahan
pengangkut. Pengangkut tidak dimungkinkan membebaskan diri daritanggung
jawab dengan alasan apapun yang menimbulkan kerugian itu. Prinsip ini tidak
mengenal beban pembuktian tentang kesalahan. Unsur kesalahan tidak relevan.
Dalam suatu pengangkutan bila undang-undang tidak menentukan syarat atau
halyang dikehendaki para pihak maka para pihak dapat mengikuti kebiasaan
yangtelah berlaku atau menentukan sendiri kesepakatan bersama, tentunya hal
tersebutharus mengacu pada keadilan. Tujuan pengangkutan adalah terpenuhinya
kewajiban dan hak-hak para pihak yang terlibat dalam pengangkutan. Kewajiban
dari pengangkut adalah menyelenggarakan pengangkutan dan berhak menerima
biaya pengangkutan. Sedangkan kewajiban pengirim atau penumpang adalah
membayar biaya pengangkutan dan berhak atas pelayanan pengangkutan yang
wajar
d. Kedudukan Penerima
Dalam perjanjian pengangkutan, termasuk kewajiban pengangkut adalah
menyerahkan barang angkutan kepada penerima. Disini penerima bukan
merupakan pihak yang ada dalam perjanjian pengangkutan tetapi pada dasarnya
dia adalah pihak ketiga yang berkepentingan dalam pengangkutan ( Pasal 1317
KUH Perdata ).
Penerima bisa terjadi adalah pengirim itu sendiri tetapi mungkin juga
orang lain. Penerima akan berurusan dengan pengangkut apabila ia telah
menerima barang-barang angkutan. Pihak penerima harus membayar ongkos
angkutannya, kecuali ditentukan lain. Apabila penerima tidak mau membayar
ongkos atau uang angkutnya maka pihak pengangkut mempunyai hak retensi
terhadap barang-barang yang diangkutnya.
10. Prinsip-prinsip Tanggung Jawab Pengangkut.
Dalam hukum pengangkutan dikenal adanya lima prinsip tanggung jawab
pengangkut yaitu :
a. Tanggung Jawab Praduga Bersalah (Presumtion of Liability)
b. Tanggung Jawab atas Dasar Kesalahan (Based on Fault or Negligence)
c. Tanggung Jawab Pengangkut Mutlak (Absolute Liability)
d. Pembatasan tanggung jawab pengangkut (Limitation of Liability)
e. Presumtion of non Liability

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Bahwa asuransi merupakan Perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak
penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi,
untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian atau resiko.
2. Asuransi memiliki peranan – peranan yang penting guna memenuhi kebutuhan
masyarakat akan suatu proteksi terhadap kelangsungan hidupnya agar terjamin dari
resiko - resiko yang ada.
3. Bahwa dalam pengaturan – pengaturan mengenai asuransi dapat ditarik ruang lingkup
pengaturan Hukum Asuransi meliputi Hukum Perdata dan Hukum Dagang atau
Bisnis.
4. Pengangkutan adalah perjanjian timbal balik antara pengangkut dengan pengirim,
dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang
dan atau orang dari suatu tempat ketempat tujuan tertentu dengan selamat, sedangkan
pengirim mengikatkan diri untuk membayar angkutan, baik mengenai benda-benda
maupun orang-orang dimana perpindahan itu mutlak diperlukan untuk mencapai dan
meninggikan manfaat serta efisiensi. Pengangkutan sendiri juga tidak terbatas hanya
ada di darat, tetapi juga ada di laut dan di udara. Lalu fungsi pengangkutan
adalah untuk memindahkan barang atau orang dari suatu tempat yang lain dengan
maksud untuk meningkatkan daya guna dan nilai. Jadi dengan pengangkutan maka
dapat diadakan perpindahan barang-barang dari suatu tempat yang dirasa barang itu
kurang berguna ke tempat dimana barang–barang tadi dirasakan akan lebih
bermanfaat.