Anda di halaman 1dari 12

BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN JULI 2018

AUDIT MATERNAL PERINATAL

OLEH :

Mutmainnah
C111 13 063

Residen Pembimbing
dr. Yohannes Iddo Adventa

Supervisor Pembimbing:
Dr.dr.Hj.A. Mardiah Tahir, Sp.OG(K)

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa:


Nama : Mutmainnah
NIM : C11113063
Judul referat : Audit Maternal Perinatal

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Departemen


Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Agustus 2018


Residen Pembimbing Supervisor Pembimbing

dr. Yohannes Iddo Adventa Dr.dr.Hj.A. Mardiah Tahir, Sp.OG(K)

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL 1

HALAMAN PENGESAHAN 2

DAFTAR ISI 3

BAB I. PENDAHULUAN 4

BAB II. PEMBAHASAN 5

1. Pengertian AMP 5

2. Tujuan AMP 5

3. Mekanisme Kerja AMP 6

4. Kebijakan dan Strategi AMP 7

5. Kendala dalam Pelaksanaan AMP 9

6. Kekurangan AMP 9

BAB III. PENUTUP 11

DAFTAR PUSTAKA 12

3
BAB I

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan Angka Kematian Ibu
(AKI) dan kematian perinatal tinggi yaitu tertinggi ketiga di ASEAN dan tertinggi kedua
di kawasan South East Asian Nation Regional Organization (WHO,2018). Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan peningkatan
signifikan AKI di Indonesia sebesar ±57% yaitu dari 228 per 100.000 Kelahiran Hidup
(KH) pada tahun 2007 menjadi 359 per 100.000 KH. Angka tersebut jauh dari yang
diharapkan dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
tahun 2010- 2014 yaitu AKI 118 per 100.000 KH, target MDG’s (Millenium
Development Goals) tahun 2015 yaitu 102 per 100.000 KH. Sedangkan target SDG’s
(Sustainable Development Goals) tahun 2030 yaitu AKI 70/100.000 KH1.
Salah satu upaya percepatan penurunan AKI adalah melalui peningkatan cakupan
persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dan penanganan
kegawat daruratan maternal neonatal sesuai standar dan tepat waktu yang dapat dikaji
melalui AMP (Audit Maternal Perinatal).2
AMP adalah suatu analisis yang sistematis terhadap pelayanan kesehatan pada
maternal dan perinatal, termasuk prosedur yang digunakan dalam menentukan diagnosis
dan tindakan yang diberikan berisi serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui kegiatan pembahasan kasus
kesakitan, kematian ibu dan perinatal atau bayi.2

4
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian AMP
Audit Maternal Perinatal (AMP), yang merupakan upaya dalam
penilaian pelaksanaan serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan
bayi baru lahir. Kegiatan ini dilakukan melalui pembahasan kasus kematian
ibu atau bayi baru lahir sejak di level masyarakat sampai di level fasilitas
pelayanan kesehatan. Salah satu hasil kajian yang didapat dari AMP adalah
kendala yang timbul dalam upaya penyelamatan ibu pada saat terjadi
kegawatdaruratan maternal dan bayi baru lahir. Kajian tersebut juga
menghasilkan rekomendasi intervensi dalam upaya peningkatan mutu
pelayanan kesehatan ibu dan bayi di masa mendatang3.

2. Tujuan AMP4
AMP bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan KIA
melalui upaya penerapan tata kelola klinik yang baik (clinical governance).
Kegiatan ini diharapkan dapat menggali permasalahan yang terkait dengan
kejadian kesakitan (morbiditas) maupun kematian (mortalitas) yang
disebabkan masalah pasien/keluarga, petugas kesehatan, manajemen
pelayanan, maupun kebijakan pelayanan.
Tujuan dilakukannya AMP adalah sebagai berikut :

1. Menentukan sebab dan faktor terkait dlm kesakitan dan kematian ibu dan
perinatal (3 terlambat & 4 terlalu).
2. Memastikan dimana dan mengapa berbagai sistem & program gagal
dalam mencegah kematian.
3. Menerapkan pembahasan analitik mengenai kasus kebidanan dan perinatal
secara teratur dan berkesinambungan, yang dilakukan oleh dinas
kesehatan kabupaten/kota, puskesmas, rumah sakit pemerintah/swasta,
rumah bersalin dan bidan praktek.

5
4. Menentukan intervensi dan pembinaan untuk masing-masing pihak yang
diperlukan dalam hal mengatasi masalah yang ditemukan dalam
pembahasan kasus.
5. Mengembangkan mekanisme koordinasi antara dinas kesehatan
kabupaten/kota, rumah sakit pemerintah/swasta, rumah bersalin, dan bidan
praktek dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi
terhadap intervensi yang disepakati.

3. Mekanisme Kerja AMP2


Kasus kematian/kesakitan maternal dan perinatal/neonatal dilaporkan
oleh pasien/masyarakat, petugas pemberi pelayanan, dan institusi pemberi
layanan ke Puskesmas setempat. Untuk kematian yang terjadi di masyarakat,
Bidan Koordinator/Bidan Puskesmas yang ditunjuk akan melakukan otopsi
verbal dengan menggunakan formulir yang tersedia. Untuk kematian yang
terjadi di Puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya (RB, BPS, Bidan di
desa), Bidan Koordinator/Bidan Puskesmas yang ditunjuk akan melengkapi
formulir kematian di fasilitas dan otopsi verbalnya.
Kasus kematian di RS baik pemerintah maupun swasta dilaporkan ke
Dinas Kesehatan setempat dalam waktu 3 hari. Formulir yang sudah
dilengkapi dikirimkan ke Sekretariat AMP Kabupaten/Kota setempat.
Sekretariat mendata, meneliti kelengkapan data, dan melaporkannya ke
Koordinator. Data yang belum lengkap harus dikembalikan ke Puskesmas
pengirim untuk dilengkapi. Data yang terkumpul dan sudah lengkap dibuat
anonim. Sekretariat kemudian berkoordinasi dengan Koordinator untuk
mengagendakan pertemuan pengkaji dan menyiapkan segala sesuatu yang
berhubungan dengan pertemuan tersebut.

6
Alur Mekanisme Kerja Audit Maternal Perinatal (AMP)2

4. Kebijakan dan Strategi AMP2


Undang-undang Nomor 36 tentang Kesehatan tahun 2009 dan UU nomor 44
tentang Rumah Sakit pasal 39 tahun 2009 menyatakan bahwa tenaga kesehatan
dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban untuk memenuhi standar profesi dan
menghormati hak pasien.
Berdasarkan hal tersebut, kebijakan sehubungan dengan Audit Maternal
Perinatal/Neonatal adalah sebagai berikut:
a Peningkatan mutu pelayanan KIA dilakukan secara terus menerus melalui
program jaga mutu di puskesmas, di samping upaya perluasan jangkauan
pelayanan. Upaya peningkatan dan pengendalian mutu antara lain dilakukan
melalui kegiatan AMP.
b Peningkatan fungsi Kabupaten/Kota sebagai unit efektif yang mampu
memanfaatkan semua potensi dan peluang yang ada untuk meningkatkan
pelayanan KIA di seluruh wilayahnya.

7
c Peningkatan kesinambungan pelayanan KIA di tingkat pelayanan dasar
(puskesmas dan jajarannya) dan di tingkat rujukan (RS Kabupaten/Kota).
d Peningkatan kemampuan Kabupaten/Kota dalam perencanaan program KIA
dengan memanfaatkan hasil kegiatan AMP mampu mengatasi masalah
kesehatan setempat.
e Peningkatan kemampuan manajerial dan keterampilan teknis dari para
pengelola dan pelaksana program KIA melalui kegiatan analisis manajemen
dan pelatihan klinis.
Strategi yang diambil dalam menerapkan AMP adalah:
a Semua Kabupaten/Kota sebagai unit efektif dalam peningkatan program KIA
secara bertahap menerapkan kendali mutu, yang antara lain dilakukan melalui
AMP di wilayahnya atau di Kabupaten/Kota lain (lintas batas). Mekanisme
pelaporan kematian lintas batas dijelaskan di Bab III. Dinas Kesehatan
Provinsi diharapkan dapat memfasilitasi kegiatan AMP di Kabupaten/Kota
bila terjadi kematian lintas batas.
b Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berfungsi sebagai penanggung jawab yang
bekerja sama dengan RS Kabupaten/Kota dan melibatkan puskesmas dan
jejaringnya serta unit pelayanan KIA swasta lainnya dalam upaya kendali
mutu di wilayah Kabupaten/Kota.
c Di tingkat Kabupaten/Kota dibentuk tim AMP, yang selalu mengadakan
pertemuan rutin untuk mengumpulkan dan menyeleksi kasus,
menganonimkan kasus yang akan dikaji, membahas kasus dan membuat
rekomendasi tindak lanjut berdasarkan temuan dari kegiatan audit.
d Perencanaan program KIA salah satunya dibuat dengan memanfaatkan hasil
temuan dari kegiatan audit, sehingga diharapkan berorientasi kepada
pemecahan masalah setempat.
e Pembelajaran dan pembinaan dilakukan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, bersama dengan RS Kabupaten/Kota (untuk aspek teknis
medis) dan lintas sektor (untuk aspek non-medis) dilaksanakan sesuai
kebutuhan dalam bentuk yang disepakati oleh tim AMP. Pembelajaran dan
pembinaan dari suatu proses kegiatan AMP harus dapat dimanfaatkan oleh
seluruh komunitas pelayanan KIA yang ada di Kabupaten/Kota (RS
pemerintah dan swasta, puskesmas dan jejaringnya, RS ibu dan anak, Rumah
Bersalin, bidan dan dokter praktek swasta).

8
5. Kendala dalam Pelaksanaan AMP5
Kendala dalam pelaksanaan program AMP disebabkan oleh faktor yang
berasal dari variabel input dan proses. Variabel yang menjadi kendala tersebut
adalah Banyaknya tugas/jabatan rangkap pada petugas AMP, dana yang belum
mencukupi, formulir yang belum mencukupi di rumah sakit dan beberapa
puskesmas, Kerjasama lintas sektor yang belum baik di beberapa puskesmas, tidak
adanya pelatihan AMP terhadap bidan koordinator, dan tidak adanya pemantauan
tindak lanjut/pelaksanaan rekomendasi.
Berdasarkan faktor yang menjadi kendala pelaksanaan program AMP, upaya
tindak lanjut yang harus dilakukan oleh puskesmas dan dinas kesehatan diantaranya
memberikan reward kepada petugas yang rangkap tugas, mengalokasikan dana
khusus untuk pelaksanaan AMP puskesmas, distribusi formulir AMP, mengadakan
pertemuan lintas sektor secara rutin, pelatihan AMP kepada bidan koordinator
dalam hal teknis maupun program, dan pemantauan tindak lanjut/pelaksanaan
rekomendasi.

6. Kekurangan AMP2
Audit maternal perinatal dapat berjalan dengan baik jika hal-hal berikut
dapat dilaksanakan :
 Pengisian rekam medis yang lengkap dengan benar di semua tingkat
pelayanan kesehatan
 Pelacakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan puskesmas dengan cara
otopsi verbal, yaitu wawancara kepada keluatga atau orang lain yang
mengetahui riwayat penyakit atau gejala serta tindakan yang diperoleh
sebelum penderita meninggal sehingga dapat diketahui perkiraan sebab
kematian.
Namun, dalam pelaksanaannya Audit Maternal Perinatal masih memiliki
beberapa kekurangan yang menyebabkan tidak berjalannya AMP dengan
baik. Pada suatu penelitian khusus disebutkan bahwa bahkan pada Negara-
negara yang mempunyai sistem registrasi yang baik pun sekitar 50% kematian
maternal tidak dilaporkan karena tidak terklasifikasikan. Sistem registrasi
tergantung pada identifikasi yang tepat dari penyebab kematian maternal yang
terjadi pada fasilitas kesehatan, hal tersebut diidentifikasi dengan pemeriksaan

9
patologi post-mortem dan dilaporkan dalam otopsi verbal. Otopsi verbal
adalah informasi tentang sebab kematian, digunakan untuk menentukan
prioritas kesehatan masyarakat, pola penyakit, tren penyakit, dan untuk
evaluasi dampak upaya preventif ataupun promotif. Seringkali ditemukan
kematian di masyarakat dan dilaporkan sesudah terjadinya kematian.

10
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
Audit maternal perinatal (AMP) merupakan kegiatan menelusuri sebab
kesakitan, kematian maternal dan perinatal dengan maksud mencegah
kesakitan dan kematian dimasa yang akan datang. Kegiatan ini
memungkinkan tenaga kesehatan dapat menentukan hubungan antara faktor
penyebab kejadian kesakitan dan kematian maternal perinatal, sehingga dapat
menetapkan langkah-langkah intervensi. Kegiatan AMP lebih cenderung ke
arah pemecahan masalah dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan.
Ruang lingkup AMP dibatasi, yaitu pada tingkat kabupaten atau kota, karena
wilayah tersebut dinilai efektif dalam memberikan pelayanan obstetrik,
perinatal, serta KIA secara langsung kepada masyarakat. Dinas Kesehatan
Kabupaten/ Kota yang berperan sebagai koordinator dan penanggungjawab
kegiatan AMP, yang dilaksanakan minimal empat kali dalam jangka waktu
satu tahun yang bertujuan untuk menjaga mutu pelayanan KIA.

2. Saran
a Perlu dilakukan evaluasi dan tindakan yang lebih terencana lagi dalam
Audit Maternal Perinatal (AMP) agar upaya percepatan penurunan Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dapat tercapai.
b Perlu adanya kerjasama antar sektoral untuk upaya menurunkan angka
Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.
c Sebaiknya dilakukan upaya peningkatan dan pengembangan standarisasi
mutu pelayanan kesehatan baik di tingkat pelayanan dasar (Puskesmas)
dan Rumah Sakit terutama dalam pelayanan KIA.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Kemenkes RI 2016. Laporan Tahunan Direktorat Kesehatan Keluarga TA.


Jakarta
2. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat, 2010. Pedoman Audit Maternal Perinatal
(AMP). Kementerian Kesehatan Direktur Jenderal Bina Kesehatan
Masyarakat.
3. Kemenkes RI 2015.Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014.Jakarta
4. Suwanti, E dkk. Pemahaman Bidan Tentang Audit Maternal Perinatal Kaitannya
Dengan Kepatuhan Bidan Dalam Pelaksanaan Managemen Aktif Kala Iii Di
Wilayah Kabupaten Klaten. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan, volume 2, nomor 2,
November 2013. Kementerian Kesehatan Surakarta Jurusan Kebidanan.
5. Fahmi, M.A. Evaluasi Program Audit Maternal Perinatal (AMP) Di Kabupaten
Temanggung Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes, Volume
VIII Nomor 3, Juli 2017 ISSN 2086-3098 (p) -- ISSN 2502-7778 (e)

12