Anda di halaman 1dari 12

KAJIAN TEKNIS

PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) DAN


LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (LB3)

I Pendahuluan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, pasal 58 menyatakan bahwa "setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia, menghasilkan, mengangkut, mengedarkan,
menyimpan, memanfaatkan, membuang, mengolah dan/atau menimbun B3, wajib
melakukan pengelolaan B3", sedangkan pada pasal 59 disebutkan bahwa "setiap orang yang
menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya".
ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan B3 dan Limbah B3 diatur dalam 2 (dua)
Peraturan Pemerintah.

Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disebut dengan B3 adalah zat, energi,
dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara
langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup,
dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia
dan makhluk hidup lain. sedangkan Limbah Bahan berbahaya dan Beracun yang selanjutnya
disebut dengan LB3 adalah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3.
Pengelolaan limbah B3 adalah meliputi pengurangan, pengumpulan, pengangkutan,
pengolahan, dan/atau penimbunan. Ketentuan lebih lanjut tentang pengelolaan LB3 diatur
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun, sedangkan untuk B3 diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74
tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

B3 menurut PP Nomor 74 tahun 2001 diklasifikasikan sebagai bahan yang mudah meledak,
pengoksidasi, sangat mudah sekali menyala, sangat mudah menyala, mudah menyala, amat
sangat beracun, sangat beracun, beracun, berbahaya, korosif, bersifat iritasi, berbahaya bagi
lingkungan, karsinogenik, teratogenik dan mutagenik, sedangkan LB3 diklasifikasi kedalam
limbah kategori 1 dan kategori 2 yang dapat dilihat pada lampiran PP Nomor 101 tahun 2014.

Setiap bahan kimia pasti memiliki sifat bahaya (hazard), yaitu sifat yang dapat merusak
lingkungan hidup, merugikan kesehatan manusia, serta berbahaya secara fisik. Sifat bahaya
ini dikelompokkan ke dalam GHS (Globally Harmonized System), sistem klasifikasi dan
pemberian label untuk bahan kimia. Umumnya, bahan kimia dikategorikan sebagai bahan
kimia berbahaya (hazardous chemicals), jika bahan kimia tersebut memiliki salah satu atau
beberapa sifat merusak sekaligus. Misalnya, merusak lingkungan hidup, merugikan kesehatan
manusia (beracun), serta memiliki bahaya fisik. Bahan kimia disebut beracun jika bahan
kimia tersebut dapat meracuni kesehatan manusia atau biota di lingkungan hidup. Semua
bahan kimia yang beracun memiliki sifat bisa membahayakan manusia dan lingkungan
hidup. Karena itu, semua bahan kimia yang beracun pasti berbahaya.
Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan Rumah Sakit dalam
bentuk padat, cair, pasta maupun gas yang dapat mengandung mikroorganisme
pathogen bersifat infeksius, bahan kimia beracun, dan sebagian bersifat radioaktif. Limbah
rumah sakit cenderung bersifat infeksius dan kimia beracun yang dapat mempengaruhi
kesehatan manusia, memperburuk kelestarian lingkungan hidup apabila tidak dikelola
dengan baik. Limbah padat rumah sakit yang lebih dikenal dengan pengertian sampah rumah
sakit adalah sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang harus
dibuang yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia, dan umumnya
bersifat padat (Azwar, 1990). Limbah padat rumah sakit adalah semua limbah rumah sakit
yang berbentuk padat akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan
non medis (Keputusan MenKes R.I. No.1204/MENKES/SK/X/2004)

Salah satu faktor yg dapat merusak citra sekaligus menghambat pelaksanaan tugas dan fungsi
sebuah rumah sakit adalah belum terlaksananya pengelolaan limbah medis dan non-medis
secara baik dan benar berdasar peraturan perundang-undangan (misal: UU 44/2009 tentang
Rumah Sakit, Kepmen 1204/MenKes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Rumah Sakit, PP 101/2014 tentang Pengelolaan Limbah B3, dan UU 18/2008 tentang
Pengelolaan Sampah). Masih buruknya pengelolaan limbah ini terlihat mulai dari kurangnya
upaya pencegahan atau setidaknya pengurangan jumlah limbah, ketiadaan sistem pemilahan,
penempatan atau pengumpulan limbah yang tidak sesuai aturan, serta masih tidak
konsistennya sistem pengolahan dan pembuangannya. Padahal, keaneka-ragaman kegiatan
rumah sakit dapat menghasilkan limbah dengan bentuk, komposisi dan jumlah yang variatif
dari waktu ke waktu, tentu memerlukan strategi dan pengelolaan yang baik dan konsisten.

Pengelompokan jenis limbah rumah sakit menjadi limbah medis dan non-medis, sebenarnya
dimaksudkan untuk lebih memudahkan pengelolaan berikutnya, dari awal hingga akhir.
Limbah Medis, misalnya: berupa perban bekas, sisa jaringan tubuh, jarum suntik bekas,
kantong darah dan lain-lain yang berkategori limbah B3 infeksius seharusnya tidak dicampur
dengan limbah medis B3 lainnya, karena memiliki cara pengelolaan dan batas penyimpanan
yang sangat berbeda. Juga, terutama jangan dicampur dengan limbah domestik (non-medis),
misalnya: berupa kertas, plastik, botol plastik, kaleng, sisa-sisa makanan, daun-daun, bahan-
bahan organik dan anorganik lainnya, karena sebagian bisa didaur-ulang atau langsung
dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah (TPA). Mencampur limbah domestik dan
medis non-B3 (misal: sisa kemasan infus yang bisa didaur-ulang) dengan limbah medis B3,
akan mengubah limbah non-B3 menjadi seperti limbah medis B3, yang harus dikelola secara
khusus sebagai limbah B3 dengan tahapan proses lebih panjang dan biaya jauh lebih mahal,
padahal seharusnya tidak serumit itu, bila kegiatan awal pemilahan diberlakukan dengan
baik.

Dengan tetap memperhatikan perkembangan teknologi, serta mempertimbangkan banyak


hal berkaitan dengan manfaat dan mudharatnya, ternyata penanganan limbah medis
menggunakan sistem insenerasi masih merupakan pilihan terbaik. Insenerasi lebih dominan
digunakan sebagai pengolah limbah medis (khususnya infeksius) di berbagai penjuru dunia,
karena lebih praktis, efektif dan langsung terlihat hasilnya, serta dari segi biaya relatif murah.
Kelebihan lain, proses insenerasi dapat mengurangi banyak jumlah massa atau volume
limbah B3 (reduksi hingga > 85%), sehingga memudahkan penanganan berikutnya, a.l:
penyimpanan sementara, pengumpulan, pengangkutan dan penimbunan akhir. Pengelolaan
limbah medis menggunakan insenerasi juga membutuhkan waktu relative lebih singkat
dibanding pengolahan secara biologi maupun sistem secured landfill. Dari sisi kebutuhan
lahan, area yang dibutuhkan untuk penempatan proses insenerasi jauh lebih kecil, sangat
cocok untuk rumah-rumah sakit di Indonesia yang umumnya berada di kawasan perkotaan
dengan lahan terbatas.
II Tujuan
adapun tujuan dari kajian ini adalah memberikan gambaran tentang kriteria teknologi
pengelolaan LB3 untuk mendukung upaya-upaya penerapan konsumsi dan produksi
berkelanjutan dalam rangka pencapaian Indikator Kinerja Utama Dinas Lingkungan Hidup
menjaga dan mempertahankan kualitas lingkungan (terjaganya indeks kualitas lingkungan).

III Incinerator atau insinerator


a. definisi
Incinerator adalah mesin pembakaran sampah/limbah yang dioperasikan dengan
menggunakan teknologi pembakaran dengan suhu tinggi, sehingga hasil pembakaran
berupa debu sangat minim, dan hasil pembakaran berupa emisi gas dan partikulat ramah
terhadap lingkungan yang penggunaannya diaplikasikan untuk limbah domestik, limbah
industri, dan limbah medis. Sebelum limbah dimasukkan kedalam ruang bakar, harus
dipisahkan lebih dahulu berdasarkan jenisnya ada limbah medis B3, limbah berbahaya
lainnya, limbah plastik, limbah organik dan lain sebagainya. Selain itu sebelum masuk
kedalam ruang pembakaran harus dipastikan ukuran besarnya limbah, kadar air limbah
dan volume yang harus dimasukkan. Sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang
dilarang dibakar adalah sampah sesuai dengan pengertian dari OSHA, Peraturan
Pemerintah No.74 tahun 2001, keputusan menteri kesehatan
No.453/menkes/per/XI/1983, dan peraturan terbaru lainnya, tidak diijinkan dibakar,
kecuali mendapat perijinan/ijin dari instansi lingkungan hidup.

b. teknologi incinerator
adapun tipe Incinerator yang ada dipasaran adalah incinerator Single burner, double
burner dan multi burner yang dilengkapi dengan water scrubber berbentuk cyclon, serta
dilengkapi dengan cerobong. Incinerator ini memerlukan bahan bakar dapat berbentuk
bahan bakar minyak, gas dan juga kadang tambahan briket. Selain incinerator dengan
menggunakan bahan bakar miyak dan gas, ada juga incinerator yang diproduksi tanpa
menggunakan burner minyak atau gas untuk membakar limbahnya, tetapi limbah sendiri
yang dibakar untuk membakar limbahnya. Dengan proses tungku pyrolisis maka proses
pembakaran akan tercapai suhu yang diharapkan.

- incinerator single burner


Teknologi Incinerator Single Burner di design untuk pembakaran sampah yang lebih
ekonomis yang dikhususkan terhadap sampah organik kering Non B3, Konstruksi ruang
bakar dan volume sampah kecil (firing chamber) terbuat dari bahan besi dilapis dengan
glass wool atau mineral wool insulation lalu bagian dalam dilapisi lagi dengan fire brick
insulation atau Castable Insulation, lantai ruang bakar dilapisi dengan bata/isolasi lalu
dilapisi lagi dengan firebrick. Pada ruang bakar (Chamber) ini dipasang burner (alat
pembakar) yang menggunakan bahan bakar minyak kerosene/diesel atau gas LNG, LPG
atau sejenisnya (dipilih salah satu). Cara pembakaran sampah pada single burner
Incinerator adalah dengan memanaskan ruang bakar lebih dahulu sampai suhu 4000C,
lalu sampah kering NON B3 dimasukkan kedalam ruang bakar/chamber. Setelah pintu
ruang bakar ditutup, kemudian setting burner hingga mencapai suhu 6000C – 10000C.
Temperatur bakar tergantung nilai kalori sampah yang dibakar, semakin tinggi nilai
kalori yang dibakar maka semakin panas suhu di chamber tersebut. Asap yang
dihasilkan sudah jernih (clear) namun kadang ada jelaga tergantung bahan sampah
yang dibakar. Sebelum asap/gas keluar melalui cerobong/stack/chimney terlebih
dahulu disiram dengan air (water spray) yang dinamakan water scrubber tujuannya
untuk menangkap debu, partikulat, asap jelaga agar gas keluar tidak mencemari
lingkungan.

- incinerator double burner


teknologi incinerator untuk double burner dan multi burner didesign untuk sampah
domestik kering atau sampah Industri maupun sampah medis. Double burner
incinerator terdiri dari dua ruang bakar (chamber). Konstruksi material dari ruang bakar
pertama terbuat dari besi dilapis dengan glass wool atau mineral wool lalu selanjutnya
dilapisi lagi dengan fire brick atau castable, bagian atas lantai bawah dilapisi dengan
bata isolasi. Pada ruang bakar kedua konstruksi materialnya hampir sama dengan ruang
bakar pertama.

Suhu ruang bakar harus sesuai dengan limbah yang dibakar. Didalam mengoperasikan
Incinerator maka pada ruang bakar pertama (1st Chamber) dipasang alat pembakar
(burner). Suhu dalam ruang bakar pertama dapat mencapai 4000C sampai 10000C.
Hasil gas atau asap pembakaran dari ruang bakar pertama masih mengadung carbon
atau jelaga, masuk ke ruang bakar kedua (2nd Chamber) untuk dibakar ulang dengan
alat pembakar (burner). Pada ruang bakar kedua ini, suhu pembakaran dapat mencapai
6000C sampai 12000C. Bahan bakar yang dipakai umtuk alat pembakar (burner)
biasanya Solar atau minyak diesel, minyak tanah atau kerosene atau Gas LPG dan gas
LNG. Nilai Kalori bahan bakar berbeda beda, dan nilai kalori sampah atau limbah yang
dibakar juga berbeda beda. Nilai kalori sampah yang dianjurkan sekitar 5,668 kcal/kg,
dan kadar air sampah yang dibakar maksimum 15%RH agar temperature pembakaran
yang diinginkan dapat tercapai.

Jika suhu pembakaran rendah dari suhu yang diharapkan yang diakibatkan oleh nilai
kalori sampah dan kadar air sampah yang tinggi maka dianjurkan mengeringkan
sampah lebih dahulu sebelum dibakar juga dengan menambah kalori bahan bakar
kedalam ruang bakar, baik berupa bahan bakar minyak, gas, arang, kayu, dll. Waktu
tinggal (residence time) gas di ruang bakar kedua minimum 2 detik, sebelum gas itu
masuk ke alat penangkap debu. Gas yang dihasilkan dari ruang bakar kedua ini sebelum
keluar dispray atau disiram lebih dahulu dengan air untuk menangkap partikulat, debu,
asap jelaga sehingga gas yang keluar dari cerobong lebih jernih. Gas yang dikeluarkan
dari proses insenerasi menggunakan double burner lebih jernih dari gas yang
dikeluarkan oleh incinerator single burner.
c. cara kerja incinerator
- incinerator single burner
Incinerator single burner dioperasikan dengan menggunakan alat satu unit burner (alat
pembakar). Insinerator single buner terdiri dari satu Chamber (ruang bakar), burner
(alat pembakar), blower udara, alat penangkap debu (scrubber), cerobong asap, tangki
minyak, bak sirkulasi air, thermocouple atau sensor suhu, limit switch pintu, dan panel
papan control. Kedalam ruang bakar inilah diarahkan nyala api burner untuk membakar
limbah, dengan ditambah udara supaya proses insinerasi terjadi. Sebelum terjadi
proses insinerasi, limbah yang dibakar harus sudah dipilah sesuai dengan syarat syarat
limbah yang bisa dan dianjurkan dibakar. Selain itu ukuran limbah/sampah harus lebih
kecil supaya permukaan limbah yang dibakar lebih luas dan benda yang dibakar cepat
menguapkan air akhirnya limbah cepat kering. Untuk mempercepat proses insinerasi
dianjurkan kadar air dalam limbah harus rendah artinya sampah harus cukup kering
(atau kadar air limbah 10% atau lebih kecil).

Sebelum limbah dimasukkan kedalam chamber (ruang bakar), incinerator harus sudah
dalam kondisi ready, semua bagian bagian incinerator dapat bekerja sesuai fungsinya,
lalu bisa dilakukan proses warming-up atau pemanasan. Dengan menyalakan burner
tanpa ada limbah diruang bakar sampai mencapai suhu sekitar 400 DegC. Tujuannya
adalah untuk mengkondisikan suhu ruang bakar agar limbah yang dibakar nantinya
mudah menyala. Setelah suhu mencapai minimum 400 DegC di dalam ruang bakar,
limbah baru bisa dimasukkan kedalam ruang bakar. Limbah harus ditimbang lebih
dahulu sesuai dengan jumlah yang diisyaratkan, dan tentunya isi dari ruang bakar harus
diperhatikan supaya ruangan kosong dalam ruang bakar harus memadai dalam proses
insinerasi. Penyalaan (alat pembakar) burner secara penuh baru dapat dilakukan
setelah pintu pengumpanan sampah ditutup.

Waktu pembakaran harus dicatat supaya pengumpanan limbah berikutnya dapat


dilakukan atau dilanjukan setelah semua limbah terbakar. Dengan melihat kondisi
ruang bakar melalui lubang intip (peephole) maka dapat diketahui apakah sudah bisa
dilanjutkan pengumpanan berikutnya. Siklus waktu bakar dapat berlangsung sekitar 25
sampai 40 menit tergantung jenis limbah dan kadar air limbah yang dibakar.
Temperatur ruang bakar pada saat insinerasi adalah sekitar 600 sampai 1000 derajat
Celcius tergantung dari bahan yang dibakar. Jika bahan yang dibakar (limbah)
mempunyai nilai kalori tinggi diatas 10,000 kcal/kg dan kering tentu ruang bakar dapat
mencapai 1000 degC saat insinerasi.
Gas yang keluar dari ruang bakar pertama akan disalurkan melalui pipa ducting ke
bagian Penangkap Partikel/Debu (Scrubber) yang berbentuk cyclon. Gas yang masuk ke
cyclon akan berputar didalamnya berbentuk efek sentifugal, sehingga benda partkulat
yang berat jenis lebih besar akan mengumpul di tengah dan akan menuju ke bawah,
sementara gas yang ringan akan naik ke cerobong. Saat gas naik ke cerobong, siraman
semburan air berbentuk payung akan menangkap partikel debu yang lebih ringan yang
terbawa aliran gas. Gas yang sudah bersih akan keluar melalui cerobong, sementara
debu atau partikulat yang tertangkap oleh siraman air akan dialirkan kedalam tangki
sirkulasi. Didalam tangki sirkulasi inilah debu akan difilter dan diendapkan secara
natural. Hasil endapan debu berupa lumpur, nantinya akan dikeringkan dan dibakar
ulang dan selanjutnya hasil pembakaran bersama debu pembakaran limbah dapat
dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

Setelah selesai proses pembakaran maka dilakukan cooling-down (proses pendinginan)


pada ruang bakar. Burner tetap hidup blowernya supaya alat pembakar tidak rusak
karena arus overflow (angin balik), yang masuk kedalam internal part burner.
Penurunan temperatur sampai temperature 60DegC, baru blower bisa dimatikan. Hasil
pembakaran berupa debu sekitar 2%-15% di ambil dari ruang bakar dengan
menggunakan sekop dan ditimbang lagi dan setelah didinginkan dapat dimasukkan
kedalam drum debu sampah.

- incinerator double burner


Cara kerja Incinerator dengan memakai alat pembakar (burner) dua unit atau lebih,
hampir sama dengan proses cara kerja Incinerator Single Burner. Adapun prosesnya
insinerasi menggunakan Incinerator Double Burner adalah sebagai berikut :
1) Pemilahan limbah yang akan dibakar, limbah yang akan dibakar harus dipilah dan
disegregasi atau diperkecil ukurannya, dipastikan moisture sekitar 8%-15%.
2) Limbah atau sampah yang akan diinsinerasi harus ditimbang dan dicatat berapa
beratnya.
3) Sebelum limbah diumpan kedalam chamber harus dilakukan Warming-up ruang
bakarnya (pemanasan chamber) sampai temperatur minimum 400 DegC,
4) Pemasukan limbah ke ruang bakar pertama secara manual atau mekanis
tergantung jenis incineratornya
5) Proses pembakaran di ruang bakar pertama pada temperature 600 degC sampai
1000 DegC
6) Gas hasil pembakaran dari ruang pertama yang masih mengandung jelaga Carbon,
dan asap pyrolisis CO, CO2, H2O akan di injeksi dengan Oxygen, supaya bersifat
flamable.

7) Gas flamable ini dari mixing room akan dilanjutkan ke ruang bakar kedua
8) Pada ruang bakar kedua gas flamable disambut dengan api temperature tinggi dari
alat pembakar (burner 2). Diruang bakar kedua temperatur oprasional akan
mencapai 1000 DegC sampai 1200 DegC, gas flamable yang masih mengandung
Carbon dan CO akan terbakar sempurna menjadi debu dan CO2 dan Uap air H2O.

9) Pada ruang bakar kedua waktu tinggal gas diusahakan minimum 2 detik sebelum
masuk ke alat Penangkap Partikel Debu (Scrubber).

10) Gas yang masuk kedalam Scrubber akan dipisahkan debu partikulat dengan cara
centrifus kebagian bawah scrubber yang diteruskan kedalam tanki sirkulasi oleh
effec cyclon dan partikel yang lebih halus dan ringan akan ditangkap oleh water
spray dan ayang diteruskan ke dalam tanki sirkulasi.

11) Didalam tangki sirkulasi partikulat akan mengendap berbentuk lumpur, yang
nantinya akan dikeringkan dan dibakar ulang didalam chamber satu
12) Hasil pembakaran berupa abu sekitar 2%-15% dapat dikeluarkan dari dalam
chamber pertama untuk didinginkan
13) Abu dingin ditimbang dulu baru dapat dimasukkan kedalam drum debu sampah,
untuk diproses selanjutnya, dikirimkan ke TPA, dijadikan bahan kompos, atau
bahan bata paving block dan lain lain

d. konstruksi incinerator
1) bangunan pelindung
- Incinerator harus dilindungi dari hujan dan gangguan dari luar yang dapat merusak
Incinerator.
- Incinerator ini memiliki peralatan yang sensitif terhadap lingkungan, dimana
Incinerator tersebut dilengkapi oleh elektrikal seperti control panel, burner, mesin
pompa air, blower, temperatur controller, limit switch dan peralatan lainnya

2) material konstruksi bangunan pelindung


- Untuk Pondasi dapat digunakan pasangan batu kali atau bahan beton bertulang
K225, sementara untuk Sloof menggunakan bahan cor beton bertulang K225.
- Untuk Tiang dan balok dapat digunakan menggunakan besi WF-100.
- Untuk Kuda-kuda menggunaan baja ringan atau konstruksi besi.
- Atap penutup bangunan dapat menggunakan Aluminium Zink bergelombang atau
asbes gelombang.
- Untuk bagian dinding menggunakan bata (kombinasi dengan BRC atau kawar mesh

- Untuk bak sirkulasi air dapat menggunakan beton bertulang K225

IV Analisis Investasi
a. investasi awal
Investasi awal berasal dari rencana anggaran biaya dari pembangunan Bangunan
Incinerator yang bersumber dari APBD kabupaten belu sebesar :
- Konstruksi pembangunan 2,500,000,000
b. operasional
- Honorarium petugas 2 org x 1,600,000
= 3,200,000 Rp/bln
- Pemakaian BBM 1920 liter 10,100
= 19,392,000 Rp/bln
- Pemakaian listrik 5,000,000 Rp/bln
- Pemeliharaan 10,000,000 Rp/bln
Total 37,592,000 Rp/bln

b. pendapatan/pemasukan
Akibat pengolahan limbah yang dilakukan oleh bangunan Incinerator dengan rincian
asumsi sebagai berikut :
Sumber penghasil limbah Volume limbah
- RSUD = 100.00 kg/hr
- RS. Tentara = 100.00 kg/hr
- RS. Sito Husada = 100.00 kg/hr
- Klinik = 85.00 kg/hr
- Puskesmas = 85.00 kg/hr
- Bengkel = 70.00 kg/hr
- Rumah tangga = 25.00 kg/hr
- sumber lain = 50.00 kg/hr
total = 615.00 kg/hr
- tarif retribusi pembakaran = 5,000.00 Rp/kg
- pendapatan per hari = 3,075,000.00 Rp/hr
- pendapatan per bulan = 92,250,000.00 Rp/bulan

c. pendapatan bersih
- pendapatan/bulan - biaya operasional per bulan
(Rp92.250.000 - Rp37.592.000) = 54,658,000.00 Rp/bulan

d. pengembalian modal (return of investmen)


- biaya investasi dibagi = 45.74 bulan atau
laba bersih = 3.81 tahun

Demikian kajian ini dibuat untuk memberikan gambaran pemanfaatan teknologi pengelolaan
limbah B3 dalam rangka pengurangan beban pencemar dan peningkatan Pendapatan Asli
Daerah.

Atambua, 27 Nopember 2018


Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Belu,

Dra. Yohaneta Mesak, MM


NIP.19600506198903 2 005
KAJIAN TEKNIS
PENAMBAHAN ANGGARAN DINAS LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN BELU
YANG TIDAK DIAKOMODIR DALAM RENCANA KERJA (RENJA)
TAHUN 2009

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah


mengamanatkan 11 (sebelas) kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh Pemerintah
Daerah dibidang Lingkungan Hidup. Kewenangan pengelolaan lingkungan hidup ini
diperkuat di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata
Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi
Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Serta Tata Cara Perubahan Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah.

Adapun 11 Kewenangan Pemerintah dibidang Lingkungan Hidup yang wajib dilaksanakan


oleh Pemerintah Daerah pada tahun 2019 yang tidak diakomodir dalam KUA PPAS sehingga
tidak tercantum didalam RENJA Dinas Lingkungan Hidup Tahun 2019, meliputi :

1. Pengelolaan Persampahan, dengan jenis kegiatan penambahan pengemudi kendaraan


pengangkut sampah sejumlah 3 orang dan pengadaan tong sampah sebanyak 100 unit.
Penambahan personil dan sarana prasarana memegang peranan penting dalam
peningkatan Pendapatan Asli Daerah serta untuk menunjang kinerja Dinas Lingkungan
Hidup dalam rangka pencapaian ADIPURA;

2. Penghargaan Lingkungan Hidup untuk masyarakat, dengan jenis kegiatan Fasilitasi


Penyelenggaraan Kegiatan Hari Ulang Tahun Lingkungan Hidup. Penyelenggaraan HUT
Lingkungan Hidup merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan mulai dari
tingkat nasional sampai dengan kabupaten/kota. HUT lingkungan hidup juga
merupakan momentum pemberian penghargaan kepada masyarakat yang memiliki
kepedulian terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup di daerah melalui pemberian
penghargaan Kalpataru dan Adwiyata;

3. Pengakuan Keberadaan Masyarakat Hukum Adat (MHA), kearifan lokal dan hak MHA
yang terkait dengan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan jenis
kegiatan pemberian transport lokal kepada kader lingkungan hidup sebanyak 23 orang
yang telah dikukuhkan pada saat penyelenggaraan Hari Ulang Tahun Lingkungan Hidup
Tahun 2018. pengakuan keterlibatan MHA dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup menjadi ujung tombak upaya pelestarian lingkungan mengingat MHA
memegang peranan penting dalam struktur sosial hidup kemasyarakatan melalui
pranata budaya yang mengikat masyarakat dalam kaidah/norma tertentu;

4. Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (KEHATI), dengan jenis kegiatan revitalisasi kebun


cendana di Kian Raiikun, Desa Tialai, Kecamatan Tasifeto Timur sebagai sumber benih
cendana yang merupakan salah satu species endemik pulau timor yang cenderung
menurun populasinya dan terancam mengalami kepunahan. upaya revitalisasi
dilakukan melalui perbaikan sarana dan prasarana pengadaan bak air dan instalasi
perpipaan serta pembuatan pagar untuk melindungi tanaman agar tidak dimakan
hewan.
Urusan Lingkungan Hidup merupakan salah satu misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah didalam Rancangan Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kabupaten Belu Tahun 2016 - 2021, yakni "Meningkatkan Pembangunan Infrastruktur
Daerah sebagai Wilayah Perbatasan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup" dengan
Indikator Kinerja Utama Daerah adalah "Persentase Kualitas Lingkungan Hidup" dengan
anasir (unsur) utama menjaga dan mempertahankan indeks kualitas lingkungan hidup
berada pada batas toleransi yang diizinkan.

Sebagai salah satu Indikator Kinerja Utama (IKU) Daerah dalam Perubahan RPJMD
Kabupaten Belu, maka sudah seharusnya program - program yang berkaitan dengan
lingkungan hidup menjadi urgen/prioritas dan mendapatkan perhatian (concern) dalam
dalam perumusan kebijakan penganggaran. hal ini penting untuk menjaga konsistensi
dalam dokumen perencanaan Kabupaten mulai dari tahap RPJMD sampai dengan
pencantuman dalam DPA Perangkat Daerah. Adapun usulan tambahan Dinas Lingkungan
Hidup Kabupaten Belu yang tidak terakomodir dalam RENJA 2019 adalah sebagaimana
terlampir

Demikian kajian ini dibuat untuk memberikan gambaran tentang kebijakan perencanaan
penganggaran Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Belu Tahun 2019

Atambua, 4 Desember 2018


Kepala Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten Belu,

Dra. Yohaneta Mesak, MM


NIP.19600506198903 2 005
KETERANGAN BERTAMBAH DARI PERGESER

KEGIATAN BERTAMBAH
Honorarium Pegawai Tidak Tetap 68,760,000
(2 Org pengemudi dump truck dan 1 org
pengemudi tiga roda) 3 org x 1.910.000 x 12 bln

Hut Lingkungan Hidup 194,110,000

Transport Lokal Kader Lingkungan 110,400,000


(23 orgx 2 keg x 12 bln x 200.000)
Pembuatan Bak Air Kebun Cendana Tialai ( 2 unit 50,000,000
ukuran 2 m x 2,5 m)
Pengadaan pipa, besi untuk bak air 10,000,000
Kawat ram 14 rool @ 100 m 10,000,000
Pengadaan Tong Sampah (100 unit tong sampah 130,000,000
@ 1.300.000)
573,270,000
NGAN BERTAMBAH DARI PERGESERAN

BERGESER DARI KEGIATAN Jumlah Jumlah


Pengadaan Pakaian Kerja Lapangan 123,270,000 68,760,000

Pengadaan Pakaian Kerja Lapangan 54,510,000


Belanja Modal Pengadaan Tangki air 450,000,000 139,600,000

Belanja Modal Pengadaan Tangki air 110,400,000

Belanja Modal Pengadaan Tangki air 70,000,000

Belanja Modal Pengadaan Tangki air 130,000,000

573,270,000 573,270,000

Anda mungkin juga menyukai