Anda di halaman 1dari 11

1.

Prinsip triase:
Menurut Brooker (2008), dalam prinsip triage diberlakukan sistem prioritas,
prioritas adalah penentuan/penyeleksian mana yang harus didahulukan
mengenai penanganan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa yang timbul
dengan seleksi pasien berdasarkan :
1) Ancaman jiwa yang dapat mematikan dalam hitungan menit.
2) Dapat mati dalam hitungan jam.
3) Trauma ringan.
4) Sudah meninggal

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi triase:


Faktor yang mempengaruhi triage decision making dibagi menjadi dua faktor
yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal mencerminkan
keterampilan perawat dan kapasitas pribadi. Faktor eksternal mencerminkan
lingkungan kerja, termasuk beban kerja tinggi, pengaturan shift, kondisi klinis
pasien, dan riwayat klinis pasien. Jika faktor-faktor tersebut diabaikan, maka
pelaksanaan triage berjalan tidak optimal sehingga dapat menyebabkan
kesalahan dalam pengambilan keputusan, serta mengakibatkan
ketidakmampuan dan bahkan cacat permanen bagi pasien (Ainiyah, 2015).

3. Level Triase di Rumah Sakit


Level triase Rumah Sakit bertujuan menetapkan kondisi yang paling
mengancam nyawa agar dapat mengerahkan segala daya upaya dan fokus
untuk melakukan pertolongan medis pada pasien sampai keluhan pasien dan
semua parameter hemodinamik terkendali. Prinsip yang dianut adalah
bagaimana agar pasien mendapatkan jenis dan kualitas pelayanan medik yang
sesuai dengan kebutuhan klinis (prinsip berkeadilan) dan penggunaan sumber
daya unit yang tepat sasaran (prinsip efisien) (Habib, 2016).
Selain tingkat kegawatan suatu kondisi medis, triase juga harus
menilai urgensi kondisi pasien. Urgensi berbeda dengan tingkat keparahan.
Pasien dapat dikategorikan memiliki kondisi tidak urgen tapi masih tetap
membutuhkan rawat inap dirumah sakit karena kondisinya. Setelah penilaian
keparahan (severity) dan urgensi (urgency), maka beberapa sistim triase
menentukan batas waktu menunggu. Yaitu berapa lama pasien dapat dengan
aman menunggu sampai mendapatkan pengobatan di IGD (Habib, 2016).
Sistim triase tidak pernah dirancang untuk membuat diagnosis, namun
seiring dengan berkembangnya ilmu kedokteran, tindakan-tindakan
penyelamatan nyawa sudah dapat dimulai secara simultan ketika triase
berjalan, seperti tindakan pembebasan jalan nafas dengan metode jaw thrust,
pijat jantung luar, penekanan langsung sumber perdarahan, pemasangan
cervical collar (Habib, 2016).
Triase modern yang diterapkan di rumah sakit saat ini terbagi atas lima
kelompok dengan berbagai macam penyebutan, dalam artikel ini akan
diseragamkan dengan sebutan kategori.
Level (ESI) Warna (MTS) Kriteria CTAS Kriteria ATS
Level 1 Merah Resusitasi Segera
mengancam
nyawa
Level 2 Oranye Emergensi Mengancam
nyawa
Level 3 Kuning Segera (urgen) Potensi
mengancam
nyawa
Level 4 Hijau Segera (semi Segera
urgen)
Level 5 Biru Tidak segera Tidak segera

Metode triase rumah sakit yang saat ini berkembang dan banyak diteliti
reliabilitas, validitas, dan efektivitasnya adalah triase Australia (Australia
Triage System/ATS), triase Kanada (Canadian Triage Acquity
System/CTAS), triase Amerika Serikat (Emergency Severity Index/ESI) dan
triase Inggris dan sebagian besar Eropa (Manchester Triage Scale). Metode
terstruktur disertai pelatihan khusus ini dikembangkan sehingga proses
pengambilan keputusan triase dapat dilaksanakan secara metodis baik oleh
dokter maupun perawat terlatih, tidak berdasarkan pengalaman dan wawasan
pribadi (educational guess) atau dugaan (best guess) (Habib, 2016).

4. Sistem triase:
Sistem triase IGD memiliki banyak variasi dan modifikasi yang sesuai dengan
kondisi masing-masing rumah sakit. Sistem triase yang sering di gunakan dan
mudah dalam mengaplikasikanya adalah mengunakan START (Simple triage
and rapid treatment) yang pemilahanya menggunakan warna . Warna merah
menunjukan prioritas tertinggi yaitu korban yang terancam jiwa jika tidak
segera mendapatkan pertolongan pertama. Warna kuning menunjukan
prioritas tinggi yaitu koban moderete dan emergent. Warna hijau yaitu korban
gawat tetapi tidak darurat meskipun kondisi dalam keaadaan gawat ia tidak
memerlukan tindakan segera. Terakhir adalah warna hitam adalah korban ada
tanda-tanda meninggal (Ramsi, IF. dkk ,2014). Beberapa sistem triase yang
digunakan di rumah sakit adalah sebagai berikut:
A. Simple Triage and Rapid Treatment (START)
Salah satu metode yang paling sederhana dan umum digunakan adalah
metode Simple Triage and Rapid Treatment (START). Pelaksanaan triage
dilakukan dengan memberikan tanda sesuai dengan warna prioritas. Tanda
triage dapat bervariasi mulai dari suatu kartu khusus sampai hanya suatu
ikatan dengan bahan yang warnanya sesuai dengan prioritasnya. Jangan
mengganti tanda triage yang sudah ditentukan. Bila keadaan penderita
berubah sebelum memperoleh perawatan maka label lama jangan dilepas
tetapi diberi tanda, waktu dan pasang yang baru (Hogan dan Burstein,
2007).
START, sebagai cara triage lapangan yang berprinsip pada sederhana
dan kecepatan, dapat dilakukan oleh tenaga medis atau tenaga awam
terlatih. Dalam memilah pasien, petugas melakukan penilaian kesadaran,
ventilasi, dan perfusi selama kurang dari 60 detik lalu memberikan tanda
dengan menggunakan berbagai alat berwarna, seperti bendera, kain, atau
isolasi. Pelaksanaan triage metode START meliputi (Hogan dan Burstein,
2007):
a. Kumpulkan semua penderita yang dapat / mampu berjalan sendiri ke
areal yang telah ditentukan, dan beri mereka label HIJAU.
b. Setelah itu alihkan kepada penderita yang tersisa periksa :
c. Pernapasan :
1) Bila pernapasan lebih dari 30 kali / menit beri label MERAH.
2) Bila penderita tidak bernapas maka upayakan membuka jalan napas dan
bersihkan jalan napas satu kali, bila pernapasan spontan mulai maka beri
label MERAH, bila tidak beri HITAM.
3) Bila pernapasan kurang dari 30 kali /menit nilai waktu pengisian
kapiler.
d. Waktu pengisian kapiler :
1) Lebih dari 2 detik berarti kurang baik, beri MERAH, hentikan
perdarahan besar bila ada.
2) Bila kurang dari 2 detik maka nilai status mentalnya.
3) Bila penerangan kurang maka periksa nadi radial penderita. Bila tidak
ada maka ini berarti bahwa tekanan darah penderita sudah rendah dan
perfusi jaringan sudah menurun.
e. Pemeriksaan status mental :
1) Pemeriksaan untuk mengikuti perintah-perintah sederhana
2) Bila penderita tidak mampu mengikuti suatu perintah sederhana maka
beri MERAH.
3) Bila mampu beri KUNING
B. Australian Triage Scale (ATS)
Australian Triage Scale (ATS) merupakan skala yang digunakan untuk
mengukur urgensi klinis sehingga paten terlihat pada waktu yang tepat,
sesuai dengan urgensi klinisnya (Emergency Triage Education Kit, 2009)
Australian Triage Scale (ATS) dirancang untuk digunakan di rumah sakit
berbasis layanan darurat di seluruh Australia dan Selandia Baru. Ini adalah
skala untuk penilaian kegawatan klinis. Meskipun terutama alat klinis
untuk memastikan bahwa pasien terlihat secara tepat waktu, sepadan
dengan urgensi klinis mereka, ATS juga digunakan untuk menilai kasus.
Skala ini disebut triase kode dengan berbagai ukuran hasil (lama
perawatan, masuk ICU, angka kematian) dan konsumsi sumber daya
(waktu staf, biaya). Ini memberikan kesempatan bagi analisis dari
sejumlah parameter kinerja di Unit Gawat Darurat (kasus, efisiensi
operasional, review pemanfaatan, efektivitas hasil dan biaya).

AUSTRALIAN ACUITY (Maximum PERFORMANCE


TRIAGE SCALE Waiting Time) INDICATOR
CATEGORY THRESHOLD
ATS 1 Immediate 100%
ATS 2 10 minutes 80%
ATS 3 30 minutes 75%
ATS 4 60 minutes 70%
ATS 5 120 minutes 70%
Tabel. Kategori Skala Triase Australia berdasarkan waktu tunggu
maksimal
C. Emergency Severity Index (ESI)
Sistem ESI dikembangkan di Amerika Serikat dan Kanada oleh
perhimpunan perawat emergensi. Emergency Severity Index diadopsi
secara luas di Eropa, Australia, Asia, dan rumah sakit-rumah sakit di
indonesia. Emergency Severity Index (ESI) memiliki 5 skala prioritas
yaitu:
1) Prioritas 1 (label biru) merupakan pasien-pasien dengan kondisi yang
mengancam jiwa (impending life/limb threatening problem) sehingga
membutuhkan tindakan penyelematan jiwa yang segera. Parameter
prioritas 1 adalah semua gangguan signifikan pada ABCD. Contoh
prioritas 1 antara lain, cardiac arrest, status epilptikus, koma hipoglikemik
dan lain-lain.
2) Prioritas 2 (label merah) merupakan pasien-pasien dengan kondisi yang
berpotensi mengancam jiwa atau organ sehingga membutuhkan
pertolongan yang sifatnya segera dan tidak dapat ditunda. Parameter
prioritas 2 adalah pasien-pasien haemodinamik atau ABCD stabil dengan
penurunan kesadaran tapi tidak sampai koma (GCS 8-12). Contoh
prioritas 2 antara lain, serangan asma, abdomen akut, luka sengatan listrik
dan lain-lain.
3) Prioritas 3 (label kuning) merupakan pasien-pasien yang membutuhkan
evaluasi yang mendalam dan pemeriksaan klinis yang menyeluruh.
Contoh prioritas 3 antara lain, sepsis yang memerlukan pemeriksaan
laboratorium, radiologis dan EKG, demam tifoid dengan komplikasi dan
lain-lain.
4) Prioritas 4 (label kuning) merupakan pasien-pasien yang memerlukan
satu macam sumber daya perawatan IGD. Contoh prioritas 4 antara lain
pasien BPH yang memerlukan kateter urine, vulnus laceratum yang
membutuhkan hecting sederhana dan lain-lain.
5) Prioritas 5 (label putih) merupakan pasien-pasien yang tidak memerlukan
sumber daya. Pasien ini hanya memerlukan pemeriksaan fisik dan
anamnesis tanpa pemeriksaan penunjang. Pengobatan pada pasien dengan
prioritas 5 umumnya per oral atau rawat luka sederhana. Contoh prioritas
5 antara lain, common cold, acne, eksoriasi, dan lain-lain (Santoso, 2016).
D. Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS)
Pertama kali dikembangkan tahun 1990 oleh dokter yang bergerak
dibidang gawat darurat. Konsep awal CTAS mengikuti konsep ATS,
dimana prioritas pasien disertai dengan waktu yang diperlukan untuk
mendapatkan penanganan awal. CTAS juga dilengkapi dengan rangkuman
keluhan dan tanda klinis khusus untuk membantu petugas melakukan
identifikasi sindrom yang dialami pasien dan menentukan level triase.
Metode CTAS juga mengharuskan pengulangan triase (retriage) dalam
jangka waktu tertentu atau jika ada perubahan kondisi pasien ketika dalam
observasi (Jimenez, 2003).
Pengambilan keputusan dalam sistim CTAS berdasarkan keluhan
utama pasien, dan hasil pemeriksaan tanda vital yang meliputi tingkat
kesadaran, nadi, pernafasan, tekanan darah, dan nyeri. Penilaian dilakukan
selama 2-5 menit, namun bila pasien dianggap kategori CTAS 1 dan 2,
maka harus segera dikirim ke area terapi (Jimenez, 2003).
Seperti ATS, CTAS juga membuat batasan waktu berapa lama pasien
dapat menunggu penanganan medis awal. Batasan waktu yang ditetapkan
masih memiliki kelonggaran karena kunjungan pasien yang tidak dapat
diprediksi dan dibatasi adalah realitas yang dihadapi oleh tiap unit gawat
darurat (Jimenez, 2003).
Kategori Waktu untuk segera ditangani
CTAS
1 Pasien dengan kategori ini 98% harus segera ditangani
oleh dokter
2 Pasien dengan kategori ini 95% harus ditangani oleh
dokter dalam waktu 15 menit
3 Pasien dengan kategori ini 90% harus ditangani oleh
dokter dalam waktu 30 menit
4 Pasien dengan kategori ini 85% harus ditangani oleh
dokter dalam waktu 60 menit
5 Pasien dengan kategori ini 80% harus ditangani oleh
dokter dalam waktu 120 menit
(Manoz, 2002)

E. Manchester Triage Scale (MTS)


Metode ini digunakan terutama di Inggris dan Jerman. Ciri khas MTS
adalah identifikasi sindrom pasien yang datang ke unit gawat darurat
diikuti oleh algoritma untuk mengambil keputusan. Berdasarkan keluhan
utama pasien, ditetapkan 52 algoritma contohnya algoritma trauma kepala,
dan algoritma nyeri perut. Dalam tiap algoritma ada diskriminator yang
menjadi landasan pengambilan keputusan, diskriminator tersebut adalah
kondisi klinis yang merupakan tanda vital seperti tingkat kesadaran,
derajat nyeri, dan derajat obstruksi jalan nafas (Van, 2008).
Ketika ada pasien yang datang ke unit gawat darurat, petugas triase
akan menentukan keluhan utama yang pasien atau pengantar sampaikan
lalu menyesuaikan masalah yang disampaikan dengan algoritma yang ada,
dan melakukan pengambilan keputusan sesuai yang telah ditetapkan
dalam masing-masing algoritma (Van, 2008).
5. Alur Triase
a. Pasien datang diterima petugas / paramedis UGD.
b. Diruang triage dilakukan anamnese dan pemeriksaan singkat dan cepat
(selintas) untuk menentukan derajat kegawatannya. Oleh perawat.
c. Bila jumlah penderita/korban yang ada lebih dari 50 orang, maka triage
dapat dilakukan di luar ruang triage (di depan gedung IGD).
d. Penderita dibedakan menurut kegawatnnya dengan memberi kode warna.
Menurut Rowles (2007) kode warga berdasarkan kegawatan pasien adalah
sebagai berikut:
1) Segera-Immediate (merah). Pasien mengalami cedera mengancam jiwa
yang kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera. Misalnya:Tension
pneumothorax, distress pernafasan (RR< 30x/mnt), perdarahan internal, dsb.
2) Tunda-Delayed (kuning) Pasien memerlukan tindakan defintif tetapi tidak
ada ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan laserasi terkontrol, fraktur
tertutup pada ekstrimitas dengan perdarahan terkontrol, luka bakar
3) Minimal (hijau). Pasien mendapat cedera minimal, dapat berjalan dan
menolong diri sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya : Laserasi minor,
memar dan lecet, luka bakar superfisial.
4) Expextant (hitam) Pasien mengalami cedera mematikan dan akan
meninggal meski mendapat pertolongan. Misalnya : Luka bakar derajat 3
hampir diseluruh tubuh, kerusakan organ vital, dsb.
5) Penderita/korban mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan warna :
merah, kuning, hijau, hitam.
6) Penderita/korban kategori triage merah dapat langsung diberikan
pengobatan diruang tindakan UGD. Tetapi bila memerlukan tindakan medis
lebih lanjut, penderita/korban dapat dipindahkan ke ruang operasi atau dirujuk
ke rumah sakit lain.
7) Penderita dengan kategori triage kuning yang memerlukan tindakan medis
lebih lanjut dapat dipindahkan ke ruang observasi dan menunggu giliran
setelah pasien dengan kategori triage merah selesai ditangani.
8) Penderita dengan kategori triage hijau dapat dipindahkan ke rawat jalan,
atau bila sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka penderita/korban
dapat diperbolehkan untuk pulang.
9) Penderita kategori triage hitam dapat langsung dipindahkan ke kamar
jenazah. (Rowles, 2007)
Dapus:

Brooker, C. (2008). Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta : EGC

(dapus ainiyah liat di screenshoot)

(dapus santoso liat di screenshoot)

Duckitt RW, Thomas RB, Walker J, Cheek E, Bewick V, Venn R, Forni LG. 2007.
Worthing Physiological Scoring System: derivation and validation of a physiological
early-warning system for medical admissions. An observational, population-based
single-centre study. British Journal of Anesthesia 98 (6): 769-774.

Australia Government-Department of Health and ageing: Emergency Triage


Education Kit. 2009.

(dapus habib dikirim jurnal di email)

Manos D, Petrie DA, Beveridge RC, Walter S, Ducharme J. Inter-observer agreement


using the Canadian emergency department triage and acuity scale. CJEM 2002;4:16–
22.

Van Veen M, Steyerberg EW, Ruige M ea. Manchester triage system in paediatric
emergency care: prospective observational study. BMJ. 2008;337: a1501.

Jimenez JG, Murray MJ, Beveridge R ea. Implementation of the Canadian


Emergency Department Triage and Acuity Scale (CTAS) in the principality of
Andorra: can triage parameters serve as emergency department quality indicators? .
CJEM. 2003;5:315–22.

Ramsi, IF dkk (2014). Basic life support, edisi 13. Jakarta : EGC.

Hogan, B.E. and Burstein, B.L. (2007). Disaster medicine. Second Edition.
Lippincott William & Wilkins. A Wolter Kluwer Bussines.
Rowles C.J and Moss,R (2007). Nursing manajemen :Staff nurse job satisfaction and
managenent style. WB Saunder Company. Philadelpia