Anda di halaman 1dari 7

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/282731076

Desain Multi Effect Evaporator dengan Menggunakan Excel Add-in dan Solver

Conference Paper · November 2012

CITATIONS READS

0 1,674

3 authors:

Dimas Firmanda Al Riza Mochamad Bagus Hermanto


Brawijaya University Brawijaya University
29 PUBLICATIONS   67 CITATIONS    14 PUBLICATIONS   6 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

Bambang Dwi Argo


Brawijaya University
18 PUBLICATIONS   15 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Evaluation of the effect of yellow konjac flour-κ-carrageenan mixed gels and red koji rice extracts on the properties of restructured meat using response surface
methodology View project

PRODUCTION OF PORANG (Amorphophallus muelleri Blume) flour at pilot plan and industrial scales View project

All content following this page was uploaded by Dimas Firmanda Al Riza on 11 October 2015.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Prosiding Seminar Nasional PERTETA 2012
Malang, Jawa Timur, 30 November – 2 Desember 2012

Desain Multi Effect Evaporator dengan Menggunakan


Excel Add-in dan Solver
Dimas Firmanda Al Riza*, M. Bagus Hermanto dan Bambang Dwi Argo

Jurusan Keteknikan Pertanian - Fakultas Teknologi Pertanian - Universitas Brawijaya


Jl. Veteran, Malang 65145

*Penulis Korespondensi, Email: dimasfirmanda@ub.ac.id

ABSTRAK

Multi effect evaporator merupakan salah satu alat pemrosesan bahan pertanian yang
banyak digunakan dalam industri pangan dan industri lainnya, antara lain dalam
pembuatan gula merah, jelly, es krim, industri kertas, dan pada proses desalinasi. Desain
multi effect evaporator ini dapat dikatakan cukup kompleks dan membutuhkan
perhitungan yang rumit dengan proses iterasi. Dalam makalah ini akan dibahas tentang
desain multi effect evaporator non-iteratif dan semi-iteratif dengan menggunakan Excel
Add-in dan Solver. Studi kasus yang diambil dan disajikan pada makalah ini adalah
khusus untuk desain multi effect evaporator dengan skema sistem yang feed forward dan
memiliki tiga efek. Verifikasi hasil perhitungan dilakukan dengan membandingkan hasil
perhitungan Excel dengan hasil perhitungan manual dengan metode yang ada pada
buku teks untuk desain multi effect evaporator pada pemrosesan nira tebu menjadi gula
merah. Dengan penggunaan software yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat ini
maka dapat dilakukan proses desain yang cepat dan mudah dengan akurasi yang cukup
memuaskan.

Kata kunci: Desain evaporator, gula merah tebu, excel

PENDAHULUAN

Gula merupakan salah satu bahan pokok yang dibutuhkan oleh masyarakat yang cukup besar
permintaan pasarnya. Data konsumsi gula nasional pada tahun 2005 adalah sebesar 3,6 juta
ton/tahun sedangkan data produksinya hanya sekitar 2 juta ton/tahun (Utami, 2008). Kepala
Dinas Perkebunan Jatim mengatakan bahwa Produksi gula merah tebu di Jawa Timur tahun 2011
sebesar 5 ribu ton. Naik dari tahun 2010 lalu yang hanya 4.500 ton. Namun kebutuhannya cukup
besar yakni 30-40 ribu ton tiap tahunnya (Panji, 2012). Diantara berbagai jenis gula, gula merah
tebu merupakan salah satu yang paling diminati sebagai bahan baku industri, seperti industri
kecap dan industri pangan lainnya. Dalam pengembangan usaha gula merah tebu, terdapat
beberapa kendala yang dihadapi oleh masyarakat. Diantara kendala-kendala tersebut antara lain
adalah keterbatasan modal dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang teknologi
pengolahan gula merah tebu. Padahal, dengan teknologi yang ada, produksi gula merah tebu
dapat terjaga standar mutunya dan dapat diproduksi dengan kapasitas yang jauh lebih besar
daripada produksi dengan menggunakan metode konvensional.
Bahan baku gula merah tebu adalah nira tebu. Nira tebu adalah cairan hasil penggilingan batang
tebu yang berwarna coklat kehijauan (Puri, 2005). Pada metode konvensional, pengolahan gula
tebu dilakukan dengan memanaskan nira tebu diatas tungku dan diaduk sampai kental
(terkaramelisasi), setelah dingin maka cairan nira ini akan mengeras dan dididapatkanlah gula
merah tebu. Pengadukan pada proses pembuatan gula merah tradisional ini sering menggunakan
tenaga manusia. Dengan menggunakan metode konvensional ini kapasitas gula tebu yang
dihasilkan sangat bergantung dari masing-masing tenaga pengolahnya sehingga mutunya sangat
bervariasi. Kapasitas produksinya-pun tidak dapat ditingkatkan dengan maksimal. Pada metode

Desain Multi Effect Evaporator – Al Riza, dkk 1


Prosiding Seminar Nasional PERTETA 2012
Malang, Jawa Timur, 30 November – 2 Desember 2012

ini penggunaan energi juga tidak efisien karena sumber panas digunakan hanya dalam satu kali
proses.
Untuk pemrosesan gula menjadi gula merah (terkaramelisasi) pada skala industri sering
digunakan sistem evaporator. Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk produksi gula
merah tebu dalam kapasitas besar adalah dengan menggunakan teknologi pemasakan uap
bertingkat atau disebut Multi-Effect Evaporator (MEE). Pada sistem ini, uap sebagai sumber panas
digunakan dalam beberapa kali tingkatan sehingga penggunaannya menjadi lebih efisien.
Dengan menggunakan sistem ini gula merah tebu juga dapat diproduksi secara kontinyu dan
dalam kapasitas yang jauh lebih besar daripada dengan menggunakan metode konvensional.
Desain MEE dapat menjadi hal yang rumit karena dalam perhitungannya melibatkan proses
iterasi dan perlu memperhatikan banyak variabel. Selain itu software yang tersedia untuk desain
MEE kebanyakan merupakan software berbayar yang tidak familier di masyarakat. Cudier and
Fuentes (2005) Menggunakan Software Visual Basic untuk desain MEE dengan beberapa
penyederhanaan di tahap perhitungan desain. VanAntwerp (2009) menggunakan Ms. Excel dan
Excel Solver sebagai metode non-iteratif untuk desain MEE dengan skema backward-feed.
Dari berbagai macam tipe evaporator, yang sesuai dan sering digunakan untuk proses evaporasi
larutan gula adalah tipe short tube vertical evaporator dengan skema kerja feed-forwarded. Tipe
evaporator ini menggunakan sirkulasi alami untuk mekanisme heat transfer-nya. Karena laju
sirkulasi dalam evaporator berkali lipat dari laju larutan masuk (feed) maka downcomer perlu
didesain sedemikian rupa sehingga dapat mengalirkan larutan dari bagian atas evaporator ke
bawah, ukuran downcomer juga perlu diperhatikan agar tidak mengakibatkan hold-up larutan
dalam evaporator (Raghuraman, 2011). Evaporator jenis ini relatif murah dan digunakan untuk
larutan non-viscous yang memiliki koefisien pindah panas yang tinggi dan cairan yang tidak
menimbulkan kerak (scale). Karena sirkulasi cairan yang tidak begitu baik pada evaporator tipe
ini, maka tipe ini tidak sesuai untuk cairan dengan viskositas tinggi. Pada hampir semua kasus,
evaporator jenis ini beroperasi kontinyu, dimana laju feed konstan dan laju konsentrat juga
konstan (Geankopolis, 1978).

Gambar 1. Skema Short-tube vertical evaporator (single effect) (Geankopolis, 1978)

Pada proses evaporasi larutan gula, larutan bening gula memiliki konsentrasi 10-13o Brix (10-13
wt %) dievaporasi sehingga mencapai konsentrasi 40-60o Brix (Kern, 1950; Shreve, 1977).
Geankopolis (1978) mengatakan bahwa feed awalnya dipanaskan (preheated) dengan
menggunakan exhaust steam dan biasanya memasuki sistem 6-effect forward-feed evaporator
(beberapa contoh kasus 3-effect). Effect yang pertama beroperasi pada tekanan dalam ruang uap
evaporator sekitar 207 kPa (30 psia) [121.1 oC (250 oF) temperatur saturasi] dan effect terakhir
pada keadaan vakum sekitar 24 kPa (63.9 oC saturasi). Makalah ini bertujuan untuk menyajikan
proses perhitungan desain Multi-effect Evaporator yang mudah dengan software yang familier di
masyarakat (Ms. Excel).

2 Desain Multi Effect Evaporator – Al Riza, dkk


Prosiding Seminar Nasional PERTETA 2012
Malang, Jawa Timur, 30 November – 2 Desember 2012

BAHAN DAN METODE

Dalam makalah ini software yang digunakan untuk desain MEE adalah Ms. Excel 2007 dengan
tambahan add-in berupa Excel Solver dan add-in untuk steam table (Water97_v13). Gambar 2
menunjukkan file add-in yang harus di-instal terlebih dahulu sebelum pembuatan program
perhitungan desain MEE di Ms. Excel. Add-in steam table lain seperti steamprops juga dapat
diinstal untuk melengkapi add-in Water97.

Gambar 2. Add-in yang harus di-instal di Ms. Excel untuk pembuatan program perhitungan MEE

Dalam perhitungan desain MEE terdapat 8 tahap yang harus dilakukan (Geankopolis, 1978).
Tahap-tahap perhitungan MEE sesuai dengan buku teks adalah sebagai berikut:

1. Menentukan titik didih pada efek yang terakhir berdasarkan konsentrasi produk yang
diinginkan dan tekanan di efek yang terakhir
2. Menentukan jumlah total uap air yang diuapkan oleh keseluruhan proses kesetimbangan
massa. Asumsi bahwa V1=V2=V3 (diperoleh L1, L2, L3)
3. Menggunakan persamaan 8.5-6, memperkirakan drop temperatur dari efek 1 sampai
terakhir
4. Menggunakan kesetimbangan panas dan massa di setiap efek, menghitung fluida yang
diuapkan dan aliran fluida di setiap efek
5. Menghitung nilai pindah panas di setiap efek dan menghitung nilai rata-rata luas
permukaan untuk pindah panas di masing-masing efek, jika luas area jauh berbeda di
masing-masing efek maka dilanjutkan iterasi ke-2
6. Memulai iterasi ke 2 dengan nilai V dan L yang berbeda (prediksi BRP) dilakukan
perhitungan mulai langkah ke 4 lagi
7. Memulai iterasi ke 2 dengan nilai V dan L yang berbeda (prediksi BRP) dilakukan
perhitungan mulai langkah ke 4 lagi
8. Menghitung luas area pindah panas di masing-masing efek yang baru (iterasi berlanjut
jika luas area masih jauh berbeda pada masing-masing efek)

Contoh dari perhitungan manual dapat dilihat pada buku teks proses transport dan unit operasi
(Geankopolis, 1978). Pada contoh perhitungan tersebut digunakan studi kasus untuk MEE tiga
efek dengan skema feed forward yang banyak digunakan untuk industri gula. Pada makalah ini
akan digunakan skema yang sama (MEE tiga efek feed forward) sesuai dengan contoh perhitungan
manual pada buku teks sehingga hasil perhitungan dapat mudah divalidasi dengan hasil yang
ada pada buku teks. Untuk merancang program dengan skema yang lain maka rumus-rumus
dan tahapan perhitungan yang dibuat dalam Ms. Excel harus disesuaikan. Gambar 1
menunjukkan gambaran umum dari MEE tiga efek dengan skema feed forward.

Desain Multi Effect Evaporator – Al Riza, dkk 3


Prosiding Seminar Nasional PERTETA 2012
Malang, Jawa Timur, 30 November – 2 Desember 2012

Gambar 3. Skema Triple Effect Feed Forward MEE yang disederhanakan (Geankopolis, 1978)

Kemudian dibuatlah sheet perhitungan desain MEE dengan Ms. Excel 2007 sesuai dengan
tahapan perhitungan yang telah dijelaskan diatas. Kemudian program yang telah dibuat diuji
dengan nilai yang ada dalam perhitungan manual pada buku teks untuk validasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 4 menunjukkan sheet perhitungan desain MEE yang telah dibuat di Ms. Excel
2007. Pada sheet tersebut dibuat diagram sederhana triple effect MEE sehingga mudah
untuk meninjau kembali parameter-parameter yang ada di setiap efek. Untuk tahap
perhitungan 1-3 langsung dibuat pada skema tersebut sedangkan tahap 4-8 dibuat pada
tabel-tabel di bawah skema tersebut. Untuk penentuan Boiling Point Rise (BPR) yang
pada perhitungan dilakukan secara perkiraan, maka dapat digunakan Excel Solver untuk
perkiraan BPR ini.

Gambar 4. Sheet perhitungan desain MEE pada Ms. Excel 2007

4 Desain Multi Effect Evaporator – Al Riza, dkk


Prosiding Seminar Nasional PERTETA 2012
Malang, Jawa Timur, 30 November – 2 Desember 2012

Untuk perhitungan tahap ke-4 pada triple effect Evaporator terdapat 3 persamaan linear yang
harus diselesaikan, untuk dapat menyelesaikan persamaan linier ini dengan Ms. Excel dapat
digunakan perkalian matrix. Apabila ada perkalian matrix sebagai berikut:
A*X=B
Dimana X adalah matrix yang tidak diketahui (matrix yang dicari). Jika kedua sisi persamaan
dikalikan dengan invers matrix A yaitu A’ maka:
A’*A*X=A’*B
Jika kedua sisi persamaan dikalikan dengan invers matrix A yaitu A’ maka:
A’*A*X=A’*B
A’*A adalah matrix identitas (I) sehingga:
I*X=A’*B
I*X adalah X sehingga
X=A’*B
Maka X dapat dihitung dengan mengalikan invers matrix A dengan matrix B. Hasil dari
perhitungan ini dapat dilihat pada Gambar 5 yang menunjukkan tabel perhitungan tahap 4-8.

Gambar 4. Perhitungan tahap 4 sampai 8

Setelah semua tahap perhitungan selesai maka akan didapatkan luas area yang diperlukan untuk
transfer panas pada setiap efek MEE. Luas area ini kemudian digunakan untuk membuat detail
ukuran setiap heat exchanger pada masing-masing efek mulai dari diameter dan panjang efek,
diameter dan panjang down take, diameter, panjang dan jumlah pipa kecil pada setiap efek. Untuk
melakukan perhitungan ini maka digunakan Excel Solver yang dapat melakukan simulasi
perhitungan dengan menerapkan beberapa konstrain yang ditetapkan. Sheet perhitungan detail
ukuran setiap efek ini dapat dilihat pada Gambar 5.

Desain Multi Effect Evaporator – Al Riza, dkk 5


Prosiding Seminar Nasional PERTETA 2012
Malang, Jawa Timur, 30 November – 2 Desember 2012

Gambar 5. Perhitungan detail ukuran heat exchanger pada setiap efek MEE

SIMPULAN

Dari hasil validasi program dengan hitungan manual pada buku teks didapatkan bahwa
program yang dibuat dengan Ms. Excel menghasilkan perhitungan yang sesuai dengan
yang diinginkan. Ms. Excel dapat digunakan dengan mudah untuk melakukan
perhitungan desain MEE. Penggunaan Add in steam tables akan jauh mempermudah
proses perhitungan sehingga dalam perhitungan tidak perlu melihat steam table berulang
kali secara manual. Penggunaan Add in Excel Solver dapat menjadi solusi perhitungan
non iterative untuk perkiraan Boiling Point Rise dan untuk perkiraan detail ukuran heat
exchanger pada MEE.

DAFTAR PUSTAKA

Mila Fadilah Utami, 2008, Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang:
Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Skripsi, Departemen Teknologi
Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Panji, 2012, , Permintaan Gula Merah Meningkat, Rafinasi Jadi Alternatif, dilihat pada 20
November 2012 <http://www.lensaindonesia.com/2012/01/24/permintaan-gula-merah-
meningkat-rafinasi-jadi-alternatif-2.html>
Puri, B. A. 2005. Kajian Pemurnian Nira Tebu denganMembran Filtrasi dengan Sistem Aliran
Silang (Crossflow). Skripsi. Departemen Teknologi Industri Pertanian. Fakultas Teknologi
Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Christie J. Geankopolis, 1978, Transport Processes and Unit Operation, 3rd edition, New Jersey,
Prentice Hall Inc.
Alina Jancew Cudier and Claudio Olivera Fuentes, 2005, A Simplified and Generalized Method to
Size Multiple-Effect Evaporator Systems with Any Feed Scheme, 2nd Mercusor Congress on
Chemical Engineering, 4th Mercusor Congress on Process Systems Engineering, Costa Verde,
Rio de Jeneiro, Brasil
Jeremy VanAntwerp, Aubrey Sykes and April Xiuhau Si, 2009, Non-iterative Design of Multiple
Effect Evaporators using Excel add-ins, American Society for Engineering Education
R. Raghuraman, 2011, Design and Simulation of a Multiple Effect Evaporator System, BSc. Thesis,
Department of Chemical Engineering, National Institute of Technology, India

6 Desain Multi Effect Evaporator – Al Riza, dkk

View publication stats