Anda di halaman 1dari 45

Tugas Mata Kuliah Keperawatan Komunitas III

MAKALAH “PROGRAM-PROGRAM
KESEHATAN/KEBIJAKAN DALAM MENANGGULANGI
MASALAH KESEHATAN KOMUNITAS UTAMA DI
INDONESIA”

DosenPembimbing:
Ns. Yoga Kertapati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.Kom
Kelompok 3:
1. BrahmaydaWiji Lestari (151.0006)
2. HerdaMentarySitorus (151.0019)
3. Ignatius Erino (151.0020)
4. Imelda Sandy (151.0023)
5. SelviaKumalaDewi (151.0049)
6. Tiara Noviyanti U. (151.0052)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
2018-2019

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini yang berkenaan dengan Keperawatan Komunitas III
tentang“Program-Program Kesehatan/Kebijakan Dalam Menanggulangi Masalah
Kesehatan Komunitas Utama Di Indonesia”.
Penyusunan makalah ini merupakan salah satu metode pembelajaran pada
Mata Kuliah KeperawatanKomunitas III di Program Studi Ilmu Keperawatan
Stikes Hang Tuah Surabaya.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang telah memberikan masukan, dorongan dan bimbingan kepada penulis
dalam menyusun makalah ini baik dari segi moril dan materil. Ucapan terimakasih
tersebut ditujukan kepada:
1. Yoga Kertapati, M.Kep., Ns, Sp.Kep.Kom.Selaku penanggungjawab dan
dosen Mata Kuliah Keperawatan Komunitas III di STIKES Hang Tuah
Surabaya.
2. Rekan-Rekan Angkatan 21 Prodi S1 Ilmu Keperawatan STIKES Hang Tuah
Surabaya.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu sangat diharapkan saran dan kritik yang sifatnya
konstruktif dari semua pihak untuk perbaikan makalah ini. Akhirnya penulis
berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca dan bagi
pengembangan ilmu keperawatan.

Surabaya, 13 September 2018

Penulis

DAFTAR ISI

ii
1. Halaman Cover ................................................................................................ i
2. Lembar Pernyataan ..........................................................................................ii
3. Kata Pengantar............................................................................................... iii
4. Daftar Isi ..........................................................................................................iv
5. BAB 1 : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................................ 2
1.4 Manfaat ...................................................................................................... 3
6. BAB 2 : TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Pembangunan Kesehatan Di Indonesia ........................................ 4
2.2 Sistem Pelayanan Kesehatan Dan Kebijakan Era Otonomi Daerah ....... 10
2.3 Pemberantasan Penyakit Menular Dan Penyehatan Lingkungan
Pemukiman.............................................................................................. 13
2.4 Program Pembinaan Kesehatan............................................................... 34
2.5 Puskesmas ............................................................................................... 36
2.6 PHN.......................................................................................................... 38
2.7 Progra Indonesia Sehat ........................................................................... 39
2.8 GERMAS ................................................................................................ 40
3. BAB 3 : PENUTUP
3.1 Simpulan ................................................................................................. 42
3.2 Saran........................................................................................................ 42
4. DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 44

iii
iv
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah kesehatan pada komunitas masih menjadi masalah utama
kesehatan masyarakat dunia, disamping mulai meningkatnya masalah penyakit
menular dan tidak menular. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas
daerah administratif, sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan
kerjasama antar daerah, misalnya antar propinsi, kabupaten/kota bahkan antar
negara.
Di berbagai negara, masalah penyakit menular dan kualitas lingkungan
yang berdampak terhadap kesehatan masih menjadi isu sentral yang ditangani
oleh pemerintah bersama masyarakat sebagai bagian dari misi peningkatan
kesejahteraan rakyatnya. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah
utama di Indonesia adalah penyakit HIV-AIDS, Tuberkulosis Paru, Malaria,
Demam Berdarah (DBD), Diare dan penyakit lainnya. Salah satu penyakit
menular yang berbahaya dan bisa menyebabkan kematian adalah penyakit
HIV-AIDS. Jawa Timur menjadi provinsi yang memiliki jumlah kasus HIV-
AIDS tertinggi ketiga setelah DKI Jakarta dan Papua dengan jumlah kasus
sebanyak 2.110 HIV-AIDS. Sementara jumlah kasus HIV-AIDS di Indonesia
sebanyak 18.913 (Ditjen PP dan PL Kemenkes RI, 2012). Selain itu, Jawa
Timur merupakan peringkat kedua di Indonesia dalam kasus Tuberkulosis
(TB) tertinggi (Dinkes, 2012).
Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mencegah dan
mengendalikan penyebaran penyakit menular tersebut, antara lain dengan
menyediakan fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit baik milik pemerintah
maupun swasta dan Puskesmas. Upaya tersebut diselenggarakan dengan
menitikberatkan pada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat
kesehatan yang optimal tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada
perorangan (Depkes, RI 2004).
Usaha pencegahan penyakit secara umum dikenal berbagai strategi
pelaksanaan yang tergantung pada jenis, sasaran serta tingkat pencegahan.
Dalam strategi penerapan ilmu kesehatan masyarakat dengan prinsip tingkat
pencegahan seperti tersebut di atas, sasaran kegiatan diutamakan pada
peningkatan derajat kesehatan individu dan masyarakat, perlindungan

1
terhadap ancaman dan gangguan kesehatan, penanganan dan pengurangan
gangguan serta masalah kesehatan, serta usaha rehabilisasi lingkungan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Program-Program Kesehatan/Kebijakan Dalam
Menanggulangi Masalah Kesehatan Di Indonesia?
2. Bagaimana Konsep Pembangunan Kesehatan Di Indonesia?
3. Bagaimana Sistem Pelayanan Kesehatan Dan Kebijakan Era Otonomi
Daerah?
4. Bagaimana Pemberantasan Penyakit Menular Dan Penyehatan Lingkungan
Pemukiman?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami program-program kesehatan/kebijakan
dalam menanggulangi masalah kesehatan di Indonesia
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu memahami konsep pembangunan kesehatan di
Indonesia
2. Mahasiswa mampu memahami sistem pelayanan kesehatan dan
kebijakan era otonomi daerah
3. Mahasiswa mampu memahami upaya pemberantasan penyakit
menular dan penyehatan lingkungan pemukiman
4. Mahasiswa mampu memahami program-program pembinaan
kesehatan
5. Mahasiswa mampu memahami tentang fasilitas kesehatan
(Puskesmas)
6. Mahasiswa mampu memahami tentang PHN ( Public Health
Nursing ) atau Kunjungan Rumah
7. Mahasiswa mampu memahami tentang Program Indonesia Sehat
8. Mahasiswa mampu memahami tentang GERMAS (Gerakan
Masyarakat Hidup Sehat).

1.4 Manfaat
Mahasiswa mampu memahami meteri tentang program-program
kesehatan/kebijakan dalam menanggulangi masalah kesehatan di Indonesia
sehingga mahasiswa dapat mengerti dan mengaplikasikannya dalam tindakan
keperawatan.

2
3
BAB II
PEMBAHASAN

1.5 Konsep Pembangunan Kesehatan Di Indonesia


Pembangunan Kesehatan merupakan bagian dari pembangunan yang
bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat
untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut
merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia baik masyarakat, swasta,
maupun pemerintah.

1.5.1 Tujuan Pembangunan Kesehatan Di Indonesia


Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat adalah
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar terwujud derajat kesahatan masyarakat yang optimal
melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang
ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan prilaku
yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan
yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan
yang optimal diseluruh wilayah Republik Indonesia.

1.5.2 Paradigma Sehat


Paradigma sehat adalah cara pandang, pola pikir, atau model
pembanguan kesehatan yang memandang masalah kesehatan saling terkait
dan mempengaruhi banyak faktor yang bersifat lintas sektoral dengan
upaya yang lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan, serta
perlindungan kesehatan, tidak hanya pada upaya penyembuhan penyakit
atau pemulihan kesehatan.

1.5.3 Misi dan Visi Indonesia Sehat


VISI : Indonesia Sehat
MISI :
1. Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan.
2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat

4
3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu,
merata dan terjangkau
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan
masyarakat beserta lingkungannya.

1.5.4 Ciri – Ciri Masyarakat Yang Sehat


1. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat.
2. Mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya peningkatan,
pencegahan, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
3. Peningkatan upaya kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi
dasar yang dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
meningkatkan mutu lingkungan hidup.
4. Peningkatan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan
status sosial ekonomi masyarakat.
5. Penurunan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab dan
penyakit

1.5.5 Indikator Yang Berhubungan Dengan Kesehatan Masyarakat


Menurut WHO beberapa indikator dari masyarakat sehat adalah degan
keadaan yang berhubungan dengan status kesehatan masyarakat, meliputi:
1. Indikator komprehensif- angka kematian kasar menurun, meliputi :
a. Rasio angka mortalitas proporsial rendah
b. Umur harapan hidup meningkat
2. Indikator spesifik- angka kematian ibu dan anak menurun, meliputi :
a. Angka kematian karena penyakit menular menurun.
b. Indikator pelayanan kesehatan, meliputi :
1) Rasio antara tenaga kesehatan dan jumlah penduduk seimbang.
2) Distribusi tenaga kesehatan merata.
3) Informasi lengkap tentang jumlah tempat tidur di rumah sakit,
fasilitas kesehatan lain, dsb.
4) Informasi tentang jumlah sarana pelayanan kesehtan
diantaranya rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin, dsb.

5
2.1.6 Faktor – Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Di Indonesia
1. Faktor lingkungan
a. Kurangnya peran serta masyarakat dalam mengatasi kesehatan
(masalah-masalah kesehatan).
b. Kurangnya sebagian besar rasa tanggung jawab masyarakat dalam
bidang kesehatan.
2. Faktor perilaku dan Gaya Hidup masyarakat Indonesia
a. Masih banyak insiden atau kebiasaan masyarakat yang selalu
merugikan dan membahayakan kesehatan mereka.
b. Adat istiadat yang kurang atau bahkan tidak menunjang kesehatan.
3. Faktor sosial ekonomi
a. Tingkat pendidikan masyarakat di Indonesia sebagian besar masih
rendah.
b. Kurangnya kesadaran dalam pemeliharaan kesehatan. Budaya
sadar sehat belum merata ke sebagian penduduk Indonesia.
c. Tingkat social ekonomi dalam hal ini penghasilan juga masih
rendah dan memprihatinkan.
4. Faktor pelayanan kesehatan
a. Cakupan pelayanan kesehatan belum menyeluruh dimana ada
sebagian propinsi di indonsia yang belum mendapat pelayanan
kesehatan maksimal dan belum merata.
b. Upaya pelayanan kesehatan sebagian masih beriorientasi pada
upaya kuratif.
c. Sarana dan prasarana belum dapat menunjang pelayanan
kesehatan.

2.1.7 Strategi Dan Program Pembangunan Kesehatan Di Indonesia


Strategi pembangunan kesehatan untuk mewujudkan Indonesia Sehat
tahun 2010 adalah sebagai berikut.
1. Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan
Semua kebijakan pembengunan nasional yang sedang akan
diselenggarakan harus memiliki wawasan kesehatan. Artinya program
pembangunan nasional harus memberikan konstribusi yang positif
terhadap kesehatan, setidak-tidaknya terdapat dua hal, di antaranya:
a. Pembentukan lingkungan sehat.
b. Pembentukan perilaku sehat
Untuk terselenggarakannya pembangunan berwawasan kesehatan
perlu dilaksanakan kegiatan sosialisasi, orientasi, kampanye, dan

6
pelatihan. Sehingga semua pihak terkait memahami dan mampu
melaksanakan pembangunan berwawwasan Internasional.
2. Determinan yang berpengarah dalan perencanaan tenaga kesehatan
diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Perkembangan penduduk.
b. Pertumbuhan ekonomi.
c. Kebjaksanaan di bidang kesehatan antara lain: upaya peningkatan
kelas rumah sakit dan deregulasi bidang rumah sakit upaya
peninhkatan mutu unit-unit pelayanan kesehatan, swadaya unit
pelayanan kesehatan, serta pengembangan sector swasta (nasional
dan asing).
Dalam penentuan atau perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan
didasarkan atas pertimbangan kombinasi dari tiga prinsip, yaitu:
memerhatikan rasio tenaga dengan penduduk; permintaan dan
kecenderungan epidemiologi di lapangan; serta determinan yang ada.
Namun, untuk negara Indonesia yang sangat beragam situasi dan
kondisi daerahnya maka keadaan geografi dan kepadatan penduduk
merupakan factor determinan yang perlu dipertimbangkan dalam
perencanaan tentang kesehatan disamping determinan yang disebutkan
di atas. Ciri daerah yang sangat bervariasi merupakan satu
permasalahan tersendiri dalam melakukan perencanaan tenaga
kesehatan sehingga kemungkinan tidak dapat diperoleh satu formula
yang dapat digunakan untuk semua wilayah Indonesia.

2.1.8 Program Kesehatan Unggulan Di Indonesia


Ditetapkan 10 program kesehatn, sebagai berikut :
1. Program kebijakan kesehatan, pembiayaan kesehatan dan hokum
kesehatan.
2. Program perbaikan gizi.
3. Program pencegahan penyakit menular.
4. Program peningkatan prilaku hidup sehat dan kesehatan mental
5. Program lingkungan pemukiman, air dan udara sehat.
6. Program kesehatan keluarga, kesehatan reproduksi dan keluarga
berencana.

7
7. Program keselamatan dan kesehatan kerja.
8. Program anti tembakau, alcohol, dan madat.
9. Program pengawasan obat, bahan berbahaya, makanan.
10. Program pencegahan kecelakaan lalu lintas

2.1.9 Agenda Millenium Deffelopment Goals (Mdgs)


Adapun kelima agenda tersebut adalah:
1. Agenda ke – 1 memberantas kemiskinan dan kelaparan.
2. Agenda ke – 4 menurunkan angka kematian anak.
3. Agenda ke – 5 meningkatkan kesehatan ibu
4. Agenda ke – 6 memerangi HIV/AIDS, Malaria dan penyakit lainnya.
5. Agenda ke – 7 melestarikan lingkungan hidup

2.1.10 Indikator Keberhasilan Pembangunan Kesehatan Kia


1. Indikator Input : Dapat dilihat dari kebijaksanaan manajemen ( Man,
Money, Material, Method, dsb ).Struktur organisasi serta kondisi
keadaan masyarakat pada saat ini :
a. Komitmen politik mengenai kesehatan bagi semua.
b. Alokasi sumber daya, pembiayaan Kesehatan 5% dari total
pembayaan nasional dan pembiayaan pembangunan daerah.
c. Penyebaran Pendapatan
d. Angka melek huruf orang dewasa.
e. Ketersediaan sarana kesehatan, Penyebaran dan penggunaannya.
f. Tingkat pertumbuhan penduduk
g. Penduduk yang ikut JPKM
h. Kerangka Organisasi dan proses manajerial.
2. Indikator Proses : Adanya kemajuan dalam proses manajemen baik
dalam perencanaan, organisasi, staffing, koordinasi, pelaporan dan
pembiayaan, misalnya :
a. Keterlibatan masyarakat dalam mencapai kesehatan bagi semua.
b. Tingkat desentralisasi pengambilan keputusan, pengembangan dan
penetapan suatu proses manajerial bagi pembangunan kesehatan
nasional atau pembangunan daerah.

8
c. Wanita hamil yang memeriksakan kehamilan
d. Penduduk yang tidak merokok dan tidak minum minuman keras.
3. Indikator Output : Misalnya :
a. Cakupan :
1) Cakupan pelayanan kesehatan dasar.
2) Cakupan pelayanan rujukan.
b. Status kesehatan :
1) Status gizi dan perkembangan Psikososial anak
2) Angka kematian bayi, angka kematian anak, umur harapan hidup
waktu lahir dan angka kematian ibu.
4. Pengertian Paradigma Sehat
a. Paradigma Sehat adalah cara pandang, pola pikir, atau model
pembangunan kesehatan yang bersifat holistik.
b. Melihat masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh banyak faktor yang
bersifat lintas sektor.
c. Upayanya lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan dan
perlindungan kesehatan.
d. Bukan hanya panyembuhan orang sakit atau pemulihan kesehatan
5. Perubahan Paradigma
a. Paradigma Sakit: upaya membuat orang sakit menjadi sehat.
b. Paradigma Sehat: upaya membuat orang sehat tetap sehat.
c. Paradigma Sehat : upaya promotif dan preventif tanpa
mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif
6. Latar Belakang
a. Kesehatan hak azasi manusia, menentukan kualitas hidup SDM.
b. Kesehatan karunia Tuhan, perlu disyukuri.
c. Kesehatan dipengaruhi banyak faktor, yang utama lingkungan dan
perilaku.
d. UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan pasal 3 menyebutkan bahwa
tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan dan kemampuan bagi setiap orang agar terwujud derajat
kesehatan yang optimal.
7. Visi Kesehatan

9
Untuk mewujudkan paradigma sehat tersebut ditetapkan visi, yaitu
gambaran, prediksi atau harapan tentang keadaan masyarakat Indonesia
pada masa yang akan datang.

2.2 Sistem Pelayanan Kesehatan dan Kebijakan Era Otonomi Daerah


2.2.1 Sistem Pelayanan Kesehatan
Pelaksanaan otonomi daerah yang luas di seluruh wilayah Indonesia
mulai dilakukan setelah keluarnya Undang-undang No 22 tahun 1999 yang
kemudian di-ubah dengan UU No 32 Tahun 2004 dan per-ubahan terakhir
dalam UU No.12 Tahun 2008. Pada UU ini memberikan perluasan
wewenang kepada pemerintah tempatan untuk menjalan-kan pelbagai
aktifitas yang selama ini telah dilaksanakan oleh pemerintah pusat.
Otonomi daerah ini, dari sudut pelayanan publik di-anggap sebagai usaha
untuk mengurangkan halangan birokrasi yang sering menyebabkan
pelayanan informasi publik memakan masa dan mahal. Oleh yang
demikian, pemerintah tem-patan dikehendaki supaya dapat menyediakan
pelayanan yang lebih berkualitas tinggi, dalam arti kata yang lebih
berorientasikan kepada aspirasi rakyat.
Badan layanan umum adalah instansi di lingkungan pemerintah yang
dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa
penyediaan barang dan atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari
keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip
efisiensi dan produktivitas. Berdasar Peraturan Pemerintah No : 23 tahun
2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, tujuan BLU
adalah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa
dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan
prinsip eknomi dan produktivitas dan penerapan praktik bisnis yang sehat.
Praktik bisnis yang sehat artinya berdasarkan kaidah manajemen yang baik
mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan
pertanggungjawaban.
Secara umum asas badan layanan umum adalah pelayanan umum yang
pengelolaannya berdasarkan kewenangan yang didelegasikan, tidak

10
terpisah secara hukum dari instansi induknya, Rumah sakit adalah salah
satu sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan dengan
memfungsikan berbagai kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam
menghadapi dan menangani masalah medik untuk pemulihan dan
pemeliharaan kesehatan yang baik.
Kebijakan kesehatan sendiri merupakan acuan bagi pelaksanaan
tugas-tugas mengurus dan mengatur oleh pemerintah dalam rangka
kewajiban negara merealisasikan hak atas derajat kesehatan yang optimal.
Kebijakan kesehatan memiliki landasan hukumnya Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2009.
System pelayanan kesehatan yang ada di daerah saat ini terdiri dari
beberapa rumah sakit daerah, puskesmas dan beberapa puskesmas
pembantu. Tercatat jumlah Puskesmas seluruh Indonesia sebanyak 7.237
unit, Puskesmas Pembantu 21.267 unit, Puskesmas keliling 6.392 unit.
Sementara untuk rumah sakit sebanyak 1.215 unit (420 milik pemerintah;
605 milik swasta; 78 milik BUMN; 112 milik TNI/POLRI). Rasio sarana
dan prasarana kesehatan di luar pulau jawa lebih baik dari di pulau Jawa,
tetapi keadaan transportasi di luar pulau Jawa jauh lebih buruk daripada di
pulau Jawa. Diperkirakan baru 30% penduduk yang memanfaatkan
Puskesmas dan Puskesmas Pembantu.

2.2.2 Kebijakan Era Otonomi Daerah


Kebijakan otonomi daerah dan otonomi di bidang kesehatan membawa
implikasi terhadap perubahan sekaligus tantangan bagi penyelenggaraan
pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit. Salah satu perubahan yang
terjadi di dalam pengelolaan rumah sakit adalah berubahnya sistem
pengelolaan keuangan menjadi rumah sakit swadana. Perubahan rumah
sakit menjadi swadana baik secara langsung maupun secara tidak langsung
akan berakibat bergesernya rumah sakit dari fungsi sosial murni berubah
menjadi fungsi sosioekonomi.
Rumah sakit pemerintah merupakan salah satu unit yang mempunyai
keharusan mengembangkan unit kerjanya semaksimal dan seoptimal

11
mungkin, banyak cercaan dan makian yang diterima oleh rumah sakit
pemerintah karena kelambatan penanganan dan jeleknya pelayanan, hal ini
terjadi dikarenakan adanya keterbatasan dana yang dimiliki oleh rumah
sakit pemerintah khususnya yang berada di daerah.
Rumah sakit pemerintah pada saat ini masih banyak yang berbentuk
badan hukum swadana. Hal ini sangat menyulitkan rumah sakit untuk
berkembang menjadi lebih baik. Pada rumah sakit yang berbentuk
swadana biasanya manajemen keuangannya sebagian masih disubsidi oleh
pemerintah, namun selain itu sebenarnya rumah sakit berhak untuk
mengelola keuangan atas keuntungan yang di dapat dari pelayanan
terhadap masyarakat, namun pada kenyataannya keuntungan yang di dapat
tidaklah banyak, sehingga menyulitkan rumah sakit untuk berkembang,
Selain itu dalam memenuhi kebutuhannya khususnya dalam pengadaan
barang kesehatan memerlukan birokrasi yang berbelit-belit karena
diharuskan mengajukan pengajuan anggaran kepada pemerintah yang
terkadang sangat memerlukan waktu yang lama.
Pengembangan sumber daya dan fasilitas rumah sakit dapat didukung
dengan sistem manajemen organisasi rumah sakit, dengan
dinormatifkannya Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara membuka peluang baru dalam mekanisme basis
manajemen rumah sakit dilingkungan pemerintah, pada Pasal 68 dan 69
pada Undang-Undang tersebut menyatakan bahwa instansi pemerintah
yang tugas dan pokok serta fungsinya memberikan pelayanan kepada
masyarakat dapat menerapkan pengelolaan keuangan yang fleksibel
dengan menonjolkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas.
Dengan adanya aturan terhadap pengelolaan manajemen rumah sakit
dengan bentuk swadana, Rumah sakit yang berbentuk swadana di dorong
untuk dirubah menjadi rumah sakit dengan bentuk Badan Layanan Umum
Daerah (BLUD), prinisp-prinsip tersebut diharapkan dapat menjadi
langkah awal dalam pembaharuan manajemen keuangan sektor publik
demi meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

12
2.3 Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan
Pemukiman
2.3.1 Program Pemberantasan Penyakit Menular
1. Tujuan
a. Program ini bertujuan menurunkan angka kesakitan, kematian, dan
kecacatan akibat penyakit menular dan tidak menular.
b. Penyakit menular yang diprioritaskan dalam program ini adalah:
malaria, demam berdarah dengue, tuberkulosis paru, HIV/ AIDS,
diare, polio, filaria, kusta, pneumonia, dan penyakit-penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), termasuk penyakit
karantina dan risiko masalah kesehatan masyarakat yang
memperoleh perhatian dunia internasional (public health risk of
international concern).
c. Penyakit idak menular yang diutamakan adalah: penyakit jantung,
kanker, diabetes melitus dan penyakit metabolik, penyakit kronis
dan degeneratif, serta gangguan akibat kecelakaan dan cedera.
2. Sasaran
a. Persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization
(UCI) sebesar 98%.
b. Angka Case Detection Rate penyakit TB sebesar 70% dan angka
keberhasilan pengobatan TB di atas 85%.
c. Angka Acute Flaccid Paralysis (AFP) diharapkan ≥ 2/100.000
anak usia kurang dari 15 tahun.
d. Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditangani sebesar
80%.
e. Penderita malaria yang diobati sebesar 100%
f. CFR diare pada saat KLB adalah < 1,2%.
g. ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) mendapat pengobatan ART
sebanyak 100%.
h. Tersedianya dan tersosialisasikannyakebijakan dan pedoman, serta
hukum kesehatan penunjang program yang terdistribusi hingga ke
desa.
i. Terselenggaranya sistem surveilans dan kewaspadaan dini serta
penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)/ wabah secara
berjenjang hingga ke desa.
3. Kebijakan Pelaksanaannya, yaitu:
a. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
mendorong peran, membangun komitmen, dan menjadi bagian

13
integral pembangunan kesehatan dalam mewujudkan manusia
Indonesia yang sehat dan produktif terutama bagi masyarakat
rentan dan miskin hingga ke desa.
b. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diselenggarakan melalui
penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat, imunisasi,
peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, serta pengendalian
faktor risiko baik di perkotaan dan di perdesaan.
c. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi
dengan fokus pemantauan wilayah setempat dan kewaspadaan dini,
guna mengantisipasi ancaman penyebaran penyakit antar daerah
maupun antar negara yang melibatkan masyarakat hingga ke desa.
d. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
mengembangkan sentra rujukan penyakit, sentra pelatihan
penanggulangan penyakit, sentra regional untuk kesiapsiagaan
penanggulangan KLB/ wabah.
e. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
memantapkan jejaring lintas program, lintas sektor, serta kemitraan
dengan masyarakat termasuk swasta untuk percepatan program
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular melalui
pertukaran informasi, pelatihan, pemanfaatan teknologi tepat guna,
dan pemanfaatan sumberdaya lainnya.
f. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
dilakukan melalui penyusunan, review, sosialisasi, dan advokasi
produk hukum penyelenggaraan program pencegahan dan
pemberantasan penyakit di tingkat pusat hingga desa.
g. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
meningkatkan profesionalisme sumberdaya manusia di bidang
pencegahan dan pemberantasan penyakit sehingga mampu
menggerakkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat secara
berjenjang hingga ke desa.
h. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
meningkatkan cakupan, jangkauan, dan pemerataan pelayanan
penatalaksanaan kasus penyakit secara berkualitas hingga ke desa.
4. Langkah-langkah pemberantasan penyakit menular yaitu:

14
a. Mengumpulkan dan menganalisa data tentang penyakit.
b. Melaporkan penyakit menular.
c. Menyelidiki di lapangan untuk mengetahui benar atau tidaknya
laporan yang masuk untuk menemukan kasus-kasus lagi dan untuk
mengetahui sumber penularan.
d. Menyembuhkan penderita hingga ia tidak lagi menjadi sumber
infeksi.
e. Pemberantasan vektor (pembawa penyakit)
f. Pendidikan kesehatan.
5. Cara-cara pencegahan penyakit menular secara umum, yaitu :
a. Mempertinggi nilai kesehatan.
b. Ditempuh dengan cara usaha kesehatan (hygiene) perorangan dan
usaha kesehatan lingkungan (sanitasi).
c. Memberi vaksinasi/imunisasi
d. Merupakan usaha untuk pengebalan tubuh. Ada dua macam, yaitu :
1) Pengebalan aktif, yaitu dengan cara memasukkan vaksin ( bibit
penyakit yang telah dilemahkan), sehingga tubuh akan dipaksa
membuat antibodi. Contohnya pemberian vaksin BCG, DPT,
campak, dan hepatitis.
2) Pengebalan pasif, yaitu memasukkan serum yang mengandung
antibodi. Contohnya pemberian ATS (Anti Tetanus Serum).
6. Pemeriksaan kesehatan berkala
Merupakan upaya mencegah munculnya atau menyebarnya suatu
penyakit, sehingga munculnya wabah dapat dideteksi sedini mungkin.
Dengan cara ini juga, masyarakat bisa mendapatkan pengarahan rutin
tentang perawatan kesehatan, penanganan suatu penyakit, usaha
mempertinggi nilai kesehatan, dan mendapat vaksinasi.

2.3.2 Penyakit- Penyakit Menular Pada Manusia


1. Malaria
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh sejenis
protozoa dari kelas sporozoa, genus Plasmodium. Ada 4 spesies
Plasmodium yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia,
yaituPlasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium
malariae, plasmodium ovale. Penularan penyakit melalui gigitan
nyamuk Anopheles betina yang membawa sporozoid infektif.
Penularan lainnya adalah melalui trarisfusi darah, plasenta ibu atau
jarum suntik. Penularan yang bukan melalui gigitan nyamuk, protozoa

15
menginfeksi penderita bukan dalam bentuk sporozoid, tetapi dalam
bentuk tropozoid.
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah :
a. Mengobati penderita dan orang yang dalam tubuhnya mengandung
parasit malaria.
b. Memberantas sarang nyamuk.
c. Memberantas nyamuk.
d. Dan mencegah gigitan nyamuk.
2. HIV/AIDS
HIV merupakan sebuah retrovirus yang memiliki genus lentivirus,
genus ini memiliki tipe klinis seperti sumber penyakit infeksi yang
kronis, periode laten klinis yang panjang, replikasi virus yang persisten
dan terlibat dalam sistem saraf pusat. Virus ini berbeda dengan virus
lain karena tubuh manusia tidak dapat menyingkirkan virus ini. HIV
menyebar melalui cairan tubuh dan memiliki cara khas dalam
menginfeksi sistem kekebalan tubuh manusia terutama sel CD4 atau
sel-T. AIDS merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang
disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus
HIV. AIDS merupakan stadium ketika sistem imun penderita jelek dan
penderita menjadi rentan terhadap infeksi yang dinamakan infeksi
oportunistik. Pada individu yang terinfeksi HIV dengan jumlah CD4 <
200μL juga merupakan definisi AIDS meskipun tanpa adanya gejala
yang terlihat atau infeksi oportunistik.
Program pemberantasan HIV AIDS, yaitu:
a. Voluntary Counseling and Test (VCT)
Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang
menyediakan dukungan psikologis, informasi dan pengetahuan
HIV/AIDS, mencegah penularan HIV, mempromosikan perubahan
perilaku yang bertanggungjawab, pengobatan antiretroviral (ARV)
dan memastikan pemecahan berbagai masalah terkait dengan
HIV/AIDS yang bertujuan untuk perubahan perilaku ke arah
perilaku lebih sehat dan lebih aman (Pedoman Pelayanan VCT,
2006).
1) Program Terapi Rumatan Metadone (PTRM)
Metadon bukan terapi untuk menyembuhkan ketergantugan
heroin, terapi ini membuat pola kebiasaan baru, kesempatan

16
berpikir, bekerja, menimbang, dan memilih bagi penggunanya
tanpa kekuatiran akan terjadinya gejala putus heroin, dan
membantu klien memutuskan hubungan dari lingkaran
pengguna heroin. Prinsipnya adalah adanya perubahan
perilaku.
Manfaat metadon yaitu membuat stabil mental emosional
klien sehingga dapat menjalani hidup normal, penggunaan
metadon lebih murah daripada penggunaan heroin, metadon
dapat mendorong klien hidup sehat, penggunaan metadon
dapat membuat klien meninggalkan kebiasaan berbagi
peralatan suntik sehingga menurunkan resiko penularan
HIV/AIDS, Hepatitis C/B, memungkinkan klien mengatasi
masalah putus heroin dengan sedikit lebih nyaman,
menurunkan tindak criminal.
2) Program Penyediaan Jarum Suntik dan Pemusnahan Jarum
Suntik Bekas (Perjasun)
Perjasun adalah suatu rangkaian kegiatan dalam penyediaan
dan pemberian paket jarum suntik steril di Puskesmas bagi
penasun, serta pemusnahan limbah jarum suntik bekas yang
telah diamankan. Program ini juga meliputi pendidikan,
pemberian informasi, dan komunikasi untuk mengubah
perilaku beresiko dalam rangka pencegahan infeksi menular
lewat darah.
3) Prevention Mother to Child Transmission (PMTCT)
Program untuk pencegahan penularan dari ibu ke anak
(PMTCT) HIV termasuk pemeriksaan antenatal HIV dan
councelling, menghindari kehamilan yang tidak diinginkan,
penyediaan antiretroviral (ARV) bagi ibu-ibu dan bayi baru
lahir, dan dukungan untuk pilihan pemberian makanan bayi
yang lebih aman dan praktek.
4) Program TB-HIV Care, Support and Treatment (CST) di RS
Rujukan HIV-AIDS
Memulai terapi HIV dan TB secara bersamaan
memperbaiki ketahanan hidup dengan pengobatan secara
bersamaan dikaitkan dengan kurang lebih 65% penurunan

17
kemungkinan kematian, bahkan apabila memperhitungkan
faktor lain. Para peneliti mencatat bahwa manfaat ketahanan
hidup secara khusus terbukti tak lama setelah mulai
pengobatan, dengan pengobatan secara bersamaan dikaitkan
dengan risiko kematian yang 85% lebih rendah setelah enam
bulan dan 67% setelah 12 bulan. Walaupun menarik, para
peneliti tidak dapat menyimpulkan bahwa itu adalah manfaat
yang sesungguhnya dari pengobatan secara bersamaan dan
bukan hasil dari dampak pembaur yang tidak diketahui.
3. Diare
Diare merupakan kondisi yang ditandai dengan encernya tinja yang
dikeluarkan dengan frekuensi buang air besar (BAB) yang lebih sering
dibandingkan dengan biasanya. Pada umumnya, diare terjadi akibat
konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus,
atau parasit. Biasanya diare hanya berlangsung beberapa hari, namun
pada sebagian kasus memanjang hingga berminggu-minggu.
Gejala diare bermacam-macam, dimulai dari yang hanya
merasakan sakit perut singkat dengan tinja yang tidak terlalu encer
hingga ada yang mengalami kram perut dengan tinja yang sangat
encer. Pada kasus diare parah, kemungkinan penderitanya juga akan
mengalami demam dan kram perut hebat.
a. Gambaran umum Program Penyakit Diare:
1) Melaksanakan tatalaksana penderita diare yang standar, baik di
Sarana Kesehatan maupun masyarakat/rumah tangga.
2) Melaksanakan Surveilans Epidemiologi dan Penanggulangan
KLB Diare
3) Mengembangkan pedoman pengendalian penyakit diare
4) Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas dalam
pengelolaan program yang meliputi aspek manajerial dan
tehnis medis.
5) Mengembangkan jejaring lintas program dan sektor di pusat,
propinsi dan kabupaten/kota
6) Meningkatkan pembinaan tehnis dan monitoring untuk
mencapai kualitas
pelaksanaanpengendalian penyakit diare secara maksimal, dan

18
7) Melaksanakan evaluasi untuk mengetahui hasil kegiatan
program dan sebagai dasar perencanaan selanjutnya.
b. Gambaran secara khusus
1) Meningkatkan tatalaksana penderita diare di rumah tangga
yang tepat dan benar
2) Meningkatkan SKD dan penanggulangan KLB Diare
3) Melaksanakan upaya kegiatan pencegahan yang efektif.
4) Melaksanakan monitoring dan evaluasi
5) Tatalaksana Penderita Diare
6) Surveilans Epidemiologi
7) Promosi Kesehatan
8) Pencegahan Diare
9) Pengelolaan Logistik
10) Pemantauan dan Evaluasi
4. Toksoplasmosis
Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
parasit sejenis protozoa, subfilum Sporozoa, kelas Toxoplasmea, yaitu
Toxoplasma gondii. Infeksi parasit ini menimbulkan radang pada kulit,
kelenjar getah bening, jantung, paru, mata,otak,dan selaput otak.
Kucing merupakan sumber perantara infeksi bagi manusia. Kucing
yang terinfeksi akan mengeluarkan tinja yang mengandung ookista
toxoplasma. Penularan dapat juga terjadi dengan adanya kontak antara
kulit dengan jaringan ekskreta binatang yang sakit. Penularan lain
dapat pula terjadi pada pada bayi/janin yang didapat dari ibu selama
bayi tersebut dalam kandungan atau melalui air susu.
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan cara :
a. Memasak makanan dan minuman dengan sempurna
b. Mengobati hewan perantara, terutama kucing yang sakit
c. Menjaga kebersihan individu dan lingkungan.
5. Kolera
Kolera adalah penyakit akut yang sangat menular, disebabkan oleh
suatu kuman yang disebut Vibro comma. Penularan dapat secara
langsung dari penderita melali tinja atau muntah. Penularan terjadi
melalui saluran pencernaan. Gejala yang umum adalah penderita
mengalmi diare dan muntah-muntah. Pada kasus diare, tinja mula-mula
berbentuk normal, kemudian berubah menjadi tidak berwarna lagi lalu
berbuih-buih, akhirnya berbentuk seperti air beras. Untuk kasus
muntah, muntahan pertama biasanya berupa makanan, kemudian

19
berubah menjadi bentuk seperti air beras. Akibat adanya diare dan
muntah ini, tubuh penderita akan kehilangan cairan tubuh.
Cara pencegahan adalah :
a. Mengisolasi penderita
b. Sterilisasi peralatan yang terkena tinja dan muntah penderita
c. Memberikan perlindungan sumber air minum
d. Memasak makanan dan minuman secara benar
e. Menghindari tercemarnya makanan
f. Menjaga kebersihan kelompok
6. Demam Tifoid ( tifus atau paratifus)
Demam tifoid adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
bakteri salmonela, yaitu salmonella typhi atau salmonella paratyphi A,
B, dan C. Penderita yang ada dalam masa penyembuhan umumnya
masih mengandung bibit penyakit di dalam kantung empedu maupun
di dalam ginjalnya. Salmonella akan memasuki tubuh calon penderita
melalui saluran pencernaan. Tanda-tanda khas dari penyakit ini adalah
demam, gejala-gejala keluhan pada perut , limpa, dan erupsi kulit.
Pencegahan, penyakit ini dapat melalui perbaikan kebersihan
individu dan lingkungan, mengusahakan penyediaan sarana air yang
baik, dan memberikan vaksinasi .
7. Difteri
Difteri adalah penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri bacillus,
yaitu coryna bacterium diphtheria. Umumnya yang banyak terinfeksi
penyakit ini adalah anak-anak. Penularan melalui titik ludah
merupakan cara penularan yang paling utama. Penularan lain dapat
pencemaran tangan, dan sapu tangan. Bagian tubuh yang dapat
mengalami infeksi adalah tonsil, nasofaring, laring dan bagian saluran
pernafasan atas lainnya. Gejala umum adalah demam, menggigil, dan
badan lemah.
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah imunisasi aktif dan pasif.
Imunisasi aktif (vaksinasi) pertama sebaiknya sudah diberikan pada
saat anak berusia 3 bulan, diberikan bersama-sama dengan imunisasi
tetanus, pertunis, dan polio mielitis. Vaksinasi kedua diberikan 2 tahun
kemudian, sedangkan vaksin yang ketiga diberikan pada waktu anak
mulai masuk sekolah. Imunisasi pasif dilakukan untuk mendapatkan
perlindungan selama 2-3 minggu.
8. Disentri Hasiler

20
Disentri hasiler adalah infeksi usus besar yang disebabkan oleh
bakteri potogen, ada macam-macam spesies dan varian dari bakteri ini,
genus Shigella shigae, Shigellaflexneri, Shigella boydii, shigella
schnlitzei, shigella sonei. Kuman masuk kedalam tubuh melalui mulut.
Gejala penyakit ini adalah penderita mengalami panas badan sampai
42 derajat C, mengeluh gangguan perut, mual, dan muntah. Diare
dapat terjadi sebanyak 20-40 kali dalam sehari. Mula-mula tinja yang
keluar tercampur dengan sedikit darah dan lendir, kemudian tinja
hanya terdiri atas lendir berdarah yang mengandung hasil kikisan sel
mukosa usus dan kuman-kuman. Nyeri perut semakin lama semakin
hebat.
Usaha pencegahan dapat dilakukan :
a. Mengisolasi para penderita
b. Mensterilisasi peralatan tidur
c. Memberikan perlakuan desinfeksi terhadap tinja penderita
d. Melakukan pengawasan pembuatan makanan/ es yang
menggunakan air mentah
e. Memasak air minum terlebih dahulu
9. Tetanus
Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Clostridium
tetani. Kuman tetanus terdapat di dalam tanah. Penularan terjadi
melalui luka yang terbuka. Untuk menghindari terjadinya tetanus
adalah dengan membersihkan dan mengeluarkan benda asing dari luka
tersebut. Luka diberi antibiotic untuk membasmi infeksi dan mencegah
pembentukan toksin. Gejala awal penyakit ini adalah mulut terkancing
karena kejang otot muka. Kejang, kemudian menjalar kebagian leher,
tulang belakang, otot dinding perut. Dan otot-otot lain secara
menyeluruh. Kejang akan berulang-ulang dengan adanya rangsangan
sinar, sentuhan atau dapat terjadi dengan sendirinya.
Untuk pengobatan, penderita biasanya diberi serum anti tetanus
atau kortihosteroid dan serum antitetanus. Usaha pencegahannya
adalah :
a. Memberikan imunisasi
b. Merawat dan membersihkan luka serta membiarkan luka tetap
terbuka
10. Tuberculosis (TBC)

21
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi spesifik pada manusia dan
hewan. Penyebab tuberculosis adalah Mycobacterium tuberculosis,
Mycobacterium bovis, Mycobacterium avium, dan mycobacter ium
microti. Gejala umum penderita penyakit ini adalah lemah badan,
penurunan berat badan, meningkatnya suhu tubuh, berkeringan malam
hari.
Adapun gambaran program untuk penyakit Tuberkulosis di
Indonesia, meliputi :
a. Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014.
Strategi nasional program pengendalian TB nasional terdiri dari 7
strategi:
1) Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang
bermutu.
2) Menghadapi tantangan TB/HIV, MDR-TB, TB anak dan
kebutuhan masyarakat miskin serta rentan lainnya.
3) Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah,
masyarakat (sukarela) perusahan dan swasta melalui
pendekatan pelayanan TB Terpadu Pemerintah dan Swasta
(Public-Private Mix) dan menjamin kepatuhan terhadap standar
internasional penatalaksanaan TB (Internasional Standards for
TB Care).
4) Memberdayakan masyarakat dan pasien TB.
5) Memberikan kontribusi dalam penguatan sistem keehatan dan
manajemen program pengendalian TB.
6) Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap
program TB.
7) Mendorong penelitian, pengembangan dan pemanfaatan
informasi strategi.
Strategi nasional program pengendalian TB nasional tahun
2015-2019 merupakan pengembangan strategi nasional
sebelumnya denganbeberapa pengembangan strategi baru untuk
mengahadapi target dan tantnagan yang lebih besar.
b. Kegiatan
1) Tatalaksana TB Paripurna
a) Promosi Tuberkulosis
b) Pencegahan Tuberkulosis
c) Penemuan pasien Tuberkulosis
d) Rehabilitasi pasien Tuberkulosis

22
2) Pengendalian TB Komprehensif
a) Pembuatan layanan laboratorium Tuberkulosis
b) Public-Private Mix Tuberkulosis
c) Kelompok rentan: pasien diabetes militusn (DM), ibu
hamil, gizi buruk
d) Kolaborasi TB-HIV
e) TB anak
f) Pemberdayaan masyarakat dan pasien TB
g) Pendekatan Praktis Kesehatan Paru (Practicle Aproach to
Lung Health = PAL)
h) Manajemen Terpadu Pengendalian TB Resistan Obat
(MTPTRO)
i) Penelitian Tuberkulosis
11. Campak
Campak adalah sejenis penyakit menular yang disebabkan oleh
virus rubella. Sebagian besar penderita adalah anak-anak. Jika campak
menyerang wanita hamil maka dapat menggangu kandungannya hinga
terjadi keguguran. Penularan dapat melalui cairan yang behrasal dari
mata, hidung, dan tenggorokan. Penyebaran virus melalui udara pada
saat batuk, bersin, dan berbicara. Gejala penyakit ini adalah demam,
sakit kepala, mata memerah dan berair, batuk, pilek, serak, bintik-
bintik pada kulit dan ruam pada kulit. Pencegahan dapat dilakukan
dengan pemberian vaksinasi atau pemberian gamma globulin.
Pemberian vaksinasi dapat memberikan imunitas yang cukup efektif.
Pemberian gamma globulin dapat mencegah atau memperingan gejala
klinis tetapi tidak memberikan imunitas yang efektif.
12. Demam Berdarah Dengue
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit demam yang
disebabkan oleh virus dari genus Flavivirus, yaitu virus dengue. Vector
penularannya adalah nyamuk Aedes aegypti. Gejala yang timbul
adalah demam, sakit kepala, nyeri punggung, nyeri tulang dan
persendian, rasa lemah, pendarahan pada kulit. Gejala tersebut dapat
pula disertai muntah, diare, kejang, nyeri perut, dan pendarahan usus.
Pencegahan utamanya ditunjukan untuk memberantas nyamuk
yang menyebarkan penyakit ini. Menjaga kebersihan lingkungan
merupakan cara pemberantasan nyamuk yang paling baik dan tidak
merusak lingkungan.

23
13. Scabies
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh serangga
golongan kutu, yaitu Sareoptes scabiei. Serangga ini menggali parit-
parit halus dalam bagian epidermis kulit sehingga kulit mengalami
iritasi, kerusakan, dan menimbulkan gatal-gatal. Apabila garukannya
menimbulkan luka, penderita bisa mengalami infeksi sekunder dan
terjadi pemindahan parasit dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah menghindari kontak
dengan penderita, mengobati penderita sesegera mungkin sampai
sembuh, dan menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
14. Ankylostomiasis ( Infeksi Cacing Tambang )
Ankylostomiasis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh
serangan cacing tambang,Ankylostoma duodenale, yang hidup di
dalam usus halus dan menimbulkan pendarahan usus sehingga
mengakibatkan anemia. Dalam waktu 1 minggu larva masuk ke
duodenum dan ileum. Sesudah 4 minggu sejak saat infeksi, cacing
tambang menjadi cacing dewasa.
Gejala yang ditunjukan penyakit ini adalah adanya kelainan kulit
pada daerah tempat larva masuk berupa gatal, adanya gejala bronchitis,
batuk, sembelit, diare, wajah pucat dan bengkak, edema tangan dan
kaki, perut buncit,mudah lelah, mual-mual, dan muntah-muntah.
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah :
a. Mengobati secara tuntas penderita yang mungkin akan menjadi
sumber infeksi,
b. Menjaga kebersihan lingkungan,
c. Mencegah infeksi dengan selalu memakai alas kaki,
d. Mengadakan pengobatan massal.
15. Enterobiasisi (Infeksi Cacing Kremi)
Enterobiasis adalah penyakit infeksi usus oleh cacing kremi.
Enterobus vemicumicularis atau Odcyyuris vermiicularis. Cacing
dewasa hidup di daerah sekum dan memakan isi usus serta bahan
seluler (usus) setempat. Penularan melalui saluran pencernaan, yaitu
telur cacing yang infektif tertelan melalui rongga mulut.
Gejala dan keluhan hanya timbul pada malam hari, yaitu cacing
dewasa melakukan perpindahan ke daerah anus atau alat kelamin jika
akan bertelur. Gejalanya berupa gatal-gatal di daerah anus sehingga
penderita sukar tidur.

24
Usaha-usaha untuk pencegahan infeksi penyakit ini adalah :
a. Memperhatikan kesehatan dan kebersihan individu, seperti
memotong kuku, mencuci tangan sesudah buang air besar,
membersihkan daerah sekitar dubur, dan cuci tangan sebelum
makan,
b. Memperhatikan kesehatan dan kebersihan lingkungan,
c. Memberikan pengobatan kepada penderita dan keluarganya,
d. Menjemur, mencuci, dan menyetrika perlengkapan tidur dan
pakaian.
16. Amebiasis ( Disentri Amuba)
Penyakit ini merupakan penyakit perut yang banyak dialami orang
di negeri kita ini. Amebiasis adalah penyakit infeksi yang terjadi
terutama pada usus besar, dalam keadaan tertentu infeksi dapat
menyebar ke hati, otak dan paru. Penyebab penyakit ini adalah sejenis
protozoa dari kelas Rhizopoda, yaitu Entamoeba histolytica. Bentuk
kista infektif masuk kedalam mulut bersama dengan makanan atau
minuman yang tercemar. Setelah melewati lambung dinding kista akan
pecah. Selanjutnya didalam jaringan submukosa usus besar bentuknya
berkembang menjadi tropozoit. Salah satu gejala amebiasis adalah
adanya darah dan lender pada tinja penderita. Penderita akan
merasakan sembelit, dalam keadaan akut akan timbul nyeri di perut
yang hebat. Penderita biasanya buang air besar sebanyak 68 kali
sehari. Tinja penderita berbau menyengat, berwarna merah tua,
berlendir dan ada darah.
Usaha-usaha pencegahan dapat dilakukan oleh individu maupun
masyarakat. Dan memasak air minum dan makanan secara baik dan
benar, mencegah pencemaran makanan dan minuman oleh lalat, lipas
atau tikus, menjaga kebersihan diri dan alat-alat makan. Pencegahan
yang dilakukan oleh masyarakat adalah mengadakan sistem
pembuangan tinja dengan baik.
17. Hepatitis oleh virus
Hepatitis adalah penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh
virus. Ada 2 macam virus hepatitis, yaitu hepatitis A dan hepatitis
B penularan hepatitis A dapat terjadi karena makan makanan
tercemar tinja penderita, yang tidak dimasak atau kurang

25
sempurna cara memasaknya. Penularan hepatitis B dapat terjadi
melalui kontak badan, menggunakan sikat gigi/ alat makan
penderita atau melalui makanan tercemar tinja penderita yang
tidak dimasak atau dimasak kurang sempurna.
Gejala yang timbul pada masa prodromal tampak mirip dengan
influenza, misalnya capek, sakit kepala, dan ada ingus. Gejala
yang timbul pada masa ikterus adalah tidak ada nafsu makan,
nyeri perut kanan atas,konjungtivis, pilek, dan faringitis.
Usaha-usaha pencegahan adalah :
a) Mencegah kontak dengan penderita
b) Menghindari pencemaran air minum dan makanan oleh bahan-
bahan yang menularkan virus
c) Menjaga kebersihan lingkungan
d) Memeriksa orang yang akan menjadi donor darah
e) Memberikan gamma globulin atau vaksinasi
f) Mensterilkan peralatan kedokteran dan peralatan rumah
tangga.
18. Rabies (Penyakit Anjing Gila)
Rabies adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh infeksi virus
rabies. Virus ini hanya hidup dan berkembang biak di dalam
jaringan saraf. Virus masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka
atau lecet kulit yang tercemar air ludah binatang yang menderita
rabies. Sumber infeksi yang utama adalah anjing. Jika seseorang
mengalami gigitan anjing, hendaknya ia membersihkan bekas-
bekas air liur anjing dari kulit sekitar bekas gigitan. Cara
membersihkannya dengan menggunakan sabun, lalu beri larutan
pekat hidrokhorida atau asam nitrat.
Berikut ini adalah gambaran program untuk penyakit Rabies di
Indonesia:
a) Penurunan jumlah kasus Gigitan Hewan Penular Rabies
(GHPR) dan kematian (lyssa) melalui penanganan kasus
GHPR dengan cara pembentukan Rabies Center
b) Rabies center merupakan rumah sakit atau puskesmas terpilih
yang berkewajiban untuk memberikan pelayanan terkait
penanggulangan rabies. Rumah sakit atau puskesmas yang
menjadi rabies center harus memiliki SK dari Dinas Kesehatan
Provinsi. Jumlah rabies center tiap provinsi berbeda,

26
tergantung kebutuhan. RS atau puskesmas yang manjadi rabies
center harus mempunyai tenaga kesehatan yang dapat
melakukan tatalaksana kasus gigitan hewan penular rabies
dengan benar, memiliki minimal 1 kuur VAR (Vaksin Anti
Rabies), memiliki fasilitas cold chain untuk menyimpan
vaksin, lokasi strategis, dan memberikan Komunikasi,
Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada pasien dan masyarakat.
c) Surveilans Epidemiologi Terpadu
Surveilans merupakan bagian penting dalam melaksanakan
suatu program. Sebuah program tidak akan berjalan dengan
baik tanpa surveilans. Fungsi surveilans adalah untuk
memonitoring kejadian penyakit dan evaluasi kinerja program.
d) Kerjasama Lintas Sektor
Dilakukan dengan Kementerian Pertanian RI. Kerjasama ini
terlihat dari sistem surveilansnya.
e) Penyuluhan/Sosialisasi
Bentuk sosialisasi dibagi menjadi dua yaitu sosialisasi yang
ditujukan untuk tenaga kesehatan dan para pendidik.
Sosialisasi yang ditujukan ke tenaga kesehatan telah dilakukan
di beberapa provinsi. Provinsi tersebut adalah Sumatera Barat,
Sulawesi Utara, Lampung, Bali, NTT, dan Maluku. Sedangkan
sosialisasi yang ditujukan ke para pendidik telah dilaksanakan
di Provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur.
Sosialisasi ke para pendidik merupakan inisiasi dari World
Health Organization (WHO) karena 40% kematian rabies
terjadi dibawah usia 15 tahun.
f) Panu (Tinea Versicolor)
Panu adalah sejenis penyakit kulit yang disebabkan oleh
jamur. Penularan penyakit ini dapat terjadi akibat kontak
langsung dengan penderita atau melalui pakaian, alat tidur,
dan handuk. Gejala utamanya adalah bercak putih tak
terbatas, bersisik halus, dan dapat meluas ke seluruh tubuh.
Pada umumnya bercak putih tersebut tidak disertai rasa gatal.
Pencegahannya, penyakit ini dapat dilakukan dengan
menjaga kebersihan individu, menghindari kontak langsung

27
penderita, dan menghindari penggunaan peralatan tidur,
mandi, serta pakaian penderita panu

28
2.3.3 Penyehatan Lingkungan
Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu
lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan system
kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas
sektor berwawasan kesehatan. Adapun kegiatan pokok untuk
mencapai tujuan tersebut meliputi:
1. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar
2. Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan
3. Pengendalian Dampak Risiko Pencemaran Lingkungan
4. Pencapaian Tujuan Penyehatan Lingkungan merupakan akumulasi
berbagai pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor, peran
swasta dan masyarakat dimana pengelolaan kesehatan lingkungan
merupakan penanganan yang paling kompleks, kegiatan tersebut
sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya yaitu dari hulu
berbagai lintas sector ikut serta berperan baik kebijakan dan
pembangunan fisik serta Departemen Kesehatan sendiri terfokus
kepada hilirnya yaitu pengelolaan dampak kesehatan.
5. Sebagai gambaran pencapaian tujuan program lingkungan sehat
disajikan dalam per kegiatan pokok melalui indikator yang telah
disepakati serta beberapa kegiatan yang dilaksanakan sebagai
berikut:
6. Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi
Adanya perubahan paradigma dalam pembangunan sektor air
minum dan penyehatan lingkungan dalam penggunaan prasarana
dan sarana yang dibangun, melalui kebijakan Air Minum dan
Penyehatan Lingkungan yang ditandatangani oleh Bappenas,
Departemen Kesehatan, Departemen Dalam Negeri serta
Departemen Pekerjaan Umum sangat cukup signifikan terhadap
penyelenggaraan kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi
khususnya di daerah. Strategi pelaksanaan yang diantaranya
meliputi penerapan pendekatan tanggap kebutuhan, peningkatan
sumber daya manusia, kampanye kesadaran masyarakat, upaya
peningkatan penyehatan lingkungan, pengembangan kelembagaan
dan penguatan sistem monitoring serta evaluasi pada semua

29
tingkatan proses pelaksanaan menjadi acuan pola pendekatan
kegiatan penyediaan Air Bersih dan Sanitasi.

2.3.4 Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan


1. Pengawasan Institusi Pendidikan
Kondisi kesehatan lingkungan pada sekolah dititik beratkan pada
aspek hygiene, sarana sanitasi di sekolah yang erat kaitannya dengan
kondisi fisik bangunan sekolah. Kegiatan yang dilakukan untuk
meningkatkan kesehatan lingkungan di sekolah adalah :
a. Pengendalian faktor risiko lingkungan di sekolah
b. Pembinaan kesehatan lingkungan di sekolah dan Pondok Pesantren
c. Sosialisasi dan advokasi Kepmenkes 1429/2006 tentang pedoman
Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan di Sekolah
d. Penilaian lomba sekolah sehat
2. Rumah Sehat
Pada tahun 2006, cakupan rumah sehat mencapai 69%. Kegiatan
yang dilakukan: menyusun persyaratan kualitas udara di dalam rumah
serta menyusun petunjuk pelaksanaan monitoring kualitas udara di
dalam rumah. Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan
perhatian terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara
lain:
a. Sirkulasi udara yang baik.
c. Penerangan yang cukup.
d. Air bersih terpenuhi.
e. Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak
menimbulkan pencemaran.
f. Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta
tidak terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor
maupun udara kotor.

30
3. Pengawasan Tempat-tempat Umum
Pengawasan tempat-tempat umum perlu dilakukan karena tempat
berkumpulnya manusia, yang bisa menjadi sumber penularan berbagai
penyakit. Aspek yang dinilai antara lain :
a. Kondisi bangunan meliputi langit-langit, dinding, lantai, ventilasi,
pencahayaan, dll
b. Sarana sanitasi meliputi sarana air bersih, sarana pembuangan
kotoran, sarana pembuagan air limbah, dan sarana pembuangan
sampah.
4. Pengendalian Dampak Risiko Pencemaran Lingkungan
Faktor risiko lingkungan dan perilaku masyarakat merupakan satu
kesatuan yang memiliki hubungan timbal balik yang berpengaruh
terhadap gangguan kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan.
fokus pelaksanaan yang perlu dilakukan baik melalui fasilitasi kepada
para pengelola program, advokasi dan sosialisasi kepada para
pengambil keputasan daerah adalah sebagai berikut:
a. AMDAL / ADKL
Kajian aspek kesehatan masyarakat perlu dikaji secara cermat
dan mendalam, dengan metode pendekatan analisis dampak
kesehatan lingkungan (ADKL) dan metode epidemiologi. Metode
analisis dampak kesehatan lingkungan (ADKL) ini dapat
dipergunakan untuk identifikasi dampak potensial dari suatu
hubungan antara parameter lingkungan, media lingkungan,
penduduk yang terpajan dan dampaknya terhadap kesehatan.
b. Pengendalian Pencemaran Udara
Saat ini penurunan kualitas udara terutama di kota-kota besar
telah menjadi masalah yang membutuhkan penanganan serius
mengingat sudah pada tingkat yang dapat mengganggu kesehatan
masyarakat. Penurunan kualitas udara terjadi karena emisi yang
masuk ke udara melebihi daya dukung lingkungan. Lingkungan
tidak mampu menetralisir pencemaran yang terjadi.

2.4 Program Pembinaan Kesehatan


2.4.1 Program Pembinaan Kesehatan Komunitas

31
1. Pengertian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Sehat adalah keadaan fisik, mental, sosial yang baik dari
seseorang, bukan hanya tidak cacat atau berpenyakit (WHO).
Definisi ilmu kesehatan masyarakat menurut profesor
Winslowdari Universitas Yale (Leavel and Clark, 1958) adalah ilmu
dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan
kesehatan fisik dan mental, dan efisien.
Secara garis besar, upaya-upaya yang dapat dikategorikan
sebagai seni atau penerapan ilmu kesehatan masyarakat antara lain
sebagai berikut :
a. Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular.
b. Perbaikan sanitasi lingkungan
c. Perbaikan lingkungan pemukiman
d. Pemberantasan Vektor
e. Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat
f. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
g. Pembinaan gizi masyarakat
h. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum
i. Pengawasan Obat dan Minuman
j. Pembinaan Peran Serta Masyarakat
2. Pengertian Kesehatan Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang pengaruhnya
paling besar terhadap status kesehatan masyarakat di samping faktor
pelayanan kesehatan, faktor genetik dan faktor prilaku. Sejalan dengan
kebijaksanaan’Paradigma Sehat’ yang mengutamakan upaya-upaya
yang bersifat promotif, preventif dan protektif. Maka upaya kesehatan
lingkungan sangat penting.
Kegiatan peningkatan kesehatan lingkungan bertujuan
terwujudnya kualitas lingkungan yang lebih sehat agar dapat
melindungi masyarakat dari segala kemungkinan resiko kejadian yang
dapat menimbulkan gangguan dan bahaya kesehatan menuju derajat
kesehatan keluarga dan masyarakat yang lebih baik
3. Konsep dan Fungsi Puskesmas
a. Definisi Puskesmas
Suatu kesatuan organisasi fungsional yang merupakan pusat
pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran
serta masyarakat di samping memberikan pelayanan kesehatan

32
secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah
kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok (Depkes 1991).

b. Fungsi Puskesmas
1) Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan
a. Berupaya menggerakkan lintas sector dan dunia usaha di
wilayah kerjanya.
b. Aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan
penyelenggara setiap program di wilayah kerjanya.
2) Pusat Pemberdayaan Masyarakat
a. Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan
kesehatan
b. Ikut menetapkan penyelenggaraan pelaksanaan program
kesehatan
c. Membina peran serta masyarakat
d. Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang cara
menggali dan menggunakan SDA secara efektif dan efisien
3) Pusat Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama
a. Pelayanan kesehatan masyarakat bersifat promotive dan
preventof.
b. Pelayanan medik dasar bersifat kuratif dan rehabilitative

33
2.5 Puskesmas
2.5.1 Definisi
Suatu kesatuan organisasi fungsional yang merupakan pusat
pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta
masyarakat di samping memberikan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam
bentuk kegiatan pokok (Depkes 1991).

2.5.2 Visi dan Misi Puskesmas


1. Visi Puskesmas
Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas
adalah tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia
sehat.
2. Misi Puskesmas
a. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah
kerjanya.
b. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dam
masyarakat di wilayah kerjanya.
c. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
d. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan
masyarakat beserta lingkungannya.
2.5.3 Upaya Puskesmas
1. UKM
Upaya berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta
mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan
masyarakat serta wajib diselenggarakan puskesmas di wilayah
Indonesia. Komponennya :
a. Upaya promosi kesehatan
b. Upaya kesehatan lingkungan
c. Upaya kesehtan Ibu dan Anak serta keluarga berencana
d. Upaya perbaikan gizi masyarakat
e. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
f. Upaya pengobatan
2. UKP
Upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang
ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan
puskesmas. Komponennya :
a. Upaya kesehatan sekolah
b. Upaya kesehatan olahraga

34
c. Upaya perawatan kesehatan masyarakat
d. Upaya kesehatan kerja
e. Upaya kesehatan gigi dan mulut
f. Upaya kesehatan jiwa
g. Upaya kesehatan usia lanjut
h. Upaya pembinaan pengobatan tradisional
2.5.3 Program dan Pokok Puskesmas
Program pokok Puskesmas merupakan program pelayanan kesehatan
yang wajib di laksanakan karena mempunyai daya ungkit yang besar
terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya. Ada 6 Program Pokok pelayanan kesehatan di Puskesmas yaitu
:
1. Program Pengobatan (kuratif dan rehabilitatif) yaitu melakukan
pelayanan kesehatan untuk mendiagnosa dan juga melakukan tindakan
pengobatan pada seseorang pasien dilakukan oleh seorang dokter
secara ilmiah.
2. Promosi Kesehatan yaitu program pelayanan kesehatan puskesmas
yang diarahkan untuk membantu masyarakat agar hidup sehat secara
optimal
3. Pelayanan KIA dan KB yaitu program pelayanan kesehatan KIA dan
KB di Puskesmas yang ditunjukan untuk memberikan pelayanan
kepada PUS (Pasangan Usia Subur) untuk ber KB, pelayanan ibu
hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan bayi dan balita.
4. Kesehatan Lingkungan yaitu program pelayanan kesehatan lingkungan
di puskesmas untuk meningkatkan kesehatan lingkungan pemukiman.
5. Perbaikan Gizi Masyarakat yaitu program kegiatan pelayanan
kesehatan, perbaikan gizi masyarakat di puskesmas.
2.5.4 Satuan Penunjang Puskesmas
1. Puskesmas Pembantu
Yaitu unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi
menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang
dilakukan puskesmas dalam ruang lingkup wilayah yang kecil.
2. Puskesmas Keliling
Yaitu unit pelayanan kesehatan keliling yang dilengkapi dengan
kendaraan bermotor dan peralatan kesehatan, peralatan komunikasi
serta sejumlah tenaga yang berasal dari puskesmas.

2.5.5 Fungsi Puskesmas

35
1. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan
a. Berupaya menggerakkan lintas sector dan dunia usaha di wilayah
kerjanya.
b. Aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan penyelenggara
setiap program di wilayah kerjanya.
2. Pusat Pemberdayaan Masyarakat
a. Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan
b. Ikut menetapkan penyelenggaraan pelaksanaan program kesehatan
c. Membina peran serta masyarakat
d. Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang cara menggali
dan menggunakan SDA secara efektif dan efisien
3. Pusat Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama
a. Pelayanan kesehatan masyarakat bersifat promotive dan preventof
b. Pelayanan medik dasar bersifat kuratif dan rehabilitative
2.6 PHN ( Public Health Nursing ) atau Kunjungan Rumah
PHN merupakan salah satu kegiatan luar gedung yang penting
peranannya dalam melayani masyarakat, apalagi masyarakat yang jauh dari
fasilitas kesehatan, sehingga dengan adanya PHN ini diharapkan tujuan
pemerintah dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bisa
tercapai, sesuai amanat dari KEPMENKES RI No. 128 tahun 2004.
Dalam KEPMENKES RI No. 128 tahun 2004 dinyatakan bahwa fungsi
Puskesmas dibagi menjadi tiga fungsi utama: Pertama, sebagai penyelenggara
Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) primer ditingkat pertama di wilayahnya;
Kedua, sebagai pusat penyedia data dan informasi kesehatan di wilayah
kerjanya sekaligus dikaitkan dengan perannya sebagai penggerak
pembangunan berwawasan kesehatan di wilayahnya, dan; Ketiga, sebagai
penyelenggara Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) primer/tingkat pertama
yang berkualitas dan berorientasi pada pengguna layanannya.
Artinya, upaya kesehatan di Puskesmas dipilah dalam dua kategori yakni
: Pertama, pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer yakni puskesmas
sebagai pemberi layanan promotif dan preventif dengan sasaran kelompok dan
masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah
penyakit, dan; Kedua, Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan
perseorangan primer dimana peran Puskesmas dimaknai sebagai gate keeper
atau kontak pertama pada pelayanan kesehatan formal dan penakis rujukan
sesuai dengan standard pelayanan medik.

36
2.7 Program Indonesia Sehat
Program Indonesia Sehat merupakan salah satu program dari genda ke-5
Nawa Cita yaitu Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia. Program
ini didukung oleh program sectoral lainnya yaitu : Program Indonesia Pintar,
Program Indonesia Kerja, Dan Program Indonesia Sejahtera.
Program Indonesia sehat selanjutnya menjadi program utama
Pembangunan Kesehatan yang kemudian direncanakan pencapaiannya melalui
Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun 2015-2019, yang ditetapkan
melalui Keputusan Menteri Kesehatan R.I Nomor HK.02.02/Menkes/52/2015.
Sasaran dari Progra Indonesia Sehat adalah meningkatnya derajat
kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan
pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan
pemerataan pelayanan kesehatan, sesuai dengan sasaran pokok RPJMN 2015-
2019 yaitu :
1. Meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan anak.
2. Meningkatnya pengendalian penyakit.
3. Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan
terutama di daerah terpencil.
4. Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal melalui Kartu
Indonesia Sehat dan pengelolaan SJSN kesehatan.
5. Terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan vaksin.
6. Meningkatnya responsivitas sistem kesehatan.
Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan menegakan 3 pilar utama
yaitu :
1. Penerapan Paradigma Sehat, dilakukan dengan strategi pengarusutaman
kesehatan dalam pembangunan penguatan upaya promitif dan preventif
serta pemberdayaan masyarakat.
2. Penguatan Pelayanan Kesehatan, dilakukan dengan strategi peningkatan
akses pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan, dan peningkatan
mutu menggunakan pendekatan continuum of care dan intervensi berbasis
risiko kesehatan.
3. Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dilakukan dengan
strategi perluasan sasaran dan manfaat (benefit) serta kendali mutu dan
biaya.

37
2.8 GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat)
GERMAS merupakan suatu tindakan yang sistematis dan terencana yang
dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan
kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan
kualitas hidup.
1. Tujuan Umum:
a. Menurunkan beban penyakit menular dan penyakit tidak menular baik
kematian maupun kecacatan.
b. Menghindarkan terjadinya produktivitas penduduk.
c. Menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan karena
meningkatnya penyakit dan pengeluaran kesehatan.
2. Tujuan Khusus:
Tujuan khusus Germas adalah untuk menurunkan resiko utama
penyakit menular dan tidak menular terutama melalui:
a. Intervensi gizi 1000 hari pertama kehidupan.
b. Memperbaiki pola konsumsi gizi seimbang seluruh keluarga.
c. Meningkatkan aktiftas fsik teratur dan terukur
d. Meningkatkan pola hidup sehat
e. Meningkatkan lingkungan sehat
f. Mengurangi konsumsi rokok dan alcohol
3. Kegiatan Yang Dilakukan Melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat
Adalah :
a. Kampanye Hidup Sehat
b. Pencegahan Penyakit dan Deteksi Dini
c. Konsumsi Pangan Sehat
d. Lingkungan Sehat
e. Aktifitas Fisik dan Konektifitas Antarmoda Transportasi
f. Kawasan Tanpa Rokok, Narkoba dan Minuman Keras
g. Penurunan Stress dan Keselamatan Berkendara
h. Advokasi Regulasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat
4. Fokus 2016-2017 :

38
a. Melakukan Aktivitas Fsik
b. Konsumsi Sayur dan Buah
c. Memeriksa Kesehatan Secara Rutin
Seluruh lapisan masyarakat harus terlibat dalam kegiatan Gerakan
Masyarakat Hidup Sehat, yaitu dengan cara:
1. Pemerintah Pusat dan Daerah membuat kebijakan yang berwawasan
kesehatan, mensosialisasikan ke jajarannya sekaligus melaksanakannya
2. Di lingkup Akademisis, Dunia Usaha dan Organisasi Masyarakat harus
dilibatkan untuk mensosialisasikan di lingkungannya dan jaringannya
masing-masing serta melaksanakannya.
3. Sedangkan Individu, Keluarga dan Masyarakat, menerapkan Germas
dengan berperilaku hidup sehat.

39
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Masalah kesehatan pada komunitas masih menjadi masalah utama kesehatan
masyarakat dunia, disamping mulai meningkatnya masalah penyakit menular
dan tidak menular. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah
administratif, sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama
antar daerah, misalnya antar propinsi, kabupaten/kota bahkan antar negara.
Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat adalah
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar terwujud derajat kesahatan masyarakat yang optimal melalui
terciptanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh
penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan prilaku yang sehat, memiliki
kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil
dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal diseluruh wilayah
Republik Indonesia.

3.2 SARAN
Di Indonesia sudah dilakukan peraturan yang mengatur tentang kesehtan
seperti pada Menurut Kepmenkes RI No.
128/Menkes/SK/II/2004 puskesmas merupakan Unit Pelayanan Teknis Dinas
kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan
pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Hal ini menunjukkan bahwa
Indonesia sangat mengutamakan kesehatan.

40
DAFTAR PUSTAKA

http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KES_PROVINSI_2
012/14_Pro
https://core.ac.uk/download/files/379/11705297.pdf
http://www.nationalplanningcycles.org/sites/default/files/country_docs/Indonesia/i
ndonesian_minstry_of_health_strategic_plan_2010-2014.pdf
http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/Permenkes_No._2349.pdf
Sinambela. 2010. Reputasi Pelayanan Publik, Bumi Aksara. Jakarta: Salemba
Medika
World Health Organization (2000), “Health Systems: Improving Performance”.
World Health Report 2000. Geneva: World Health Organization.
Taher, Akmal, dkk. 2016. Pedoman Umum Progra Indonesia Sehat Dengan
Pendekatan Keluarga. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
Tim Redaksi Tata Nusa (2001). Petunjuk Peraturan Perundang-undangan
Indonesia 1945-2000, Jakarta:Tata Nusa.

41