Anda di halaman 1dari 4

CONTOH MENGENAI 7 KEBUTAAN YANG ADA DI RUMAH SAKIT

1. I Am My Position
Contoh masalah:
Dokter fungsional tidak merasa perlu mengerti masalah kebijakan pelayanan.

Hal ini merupakan masalah yang paling sering terjadi di Rumah Sakit. Dimana dokter
fungsional tidak mau mengerti masalah kebijakan pelayanan. Era Jaminan Kesehatan
saat ini banyak sekali kebijakan yang merupakan kebijakan efisiensi dalam pelayanan.
Masih banyak dokter yang meresepkan obat Non FORNAS dan Non Formularium
rumah sakit pada pasien dengan jaminan JKN. Managemen sudah melakukan evaluasi
dan feedback terus menerus serta sosialisasi kebijakan efisiensi pelayanan JKN namun
dokter masih tidak menghiraukan kebijakan tersebut karena dianggap bukan termasuk
dalam jobdesknya. Hal ini menyebabkan tingginya risiko konflik atau gap antar dokter
dengan managemen.

2. Outward Looking Blindness


Contoh masalah:
Menganggap bahwa hanya dokter dan perawat yang selalu benar, dan
penunjang lainnya lah yang selalu salah.

Tenaga medis dalam hal ini dokter dan perawat merupakan ujung tombak dari
pelayanan. Hal ini membuat dokter dan perawat menjadi tenaga medis prioritas di
Rumah Sakit. Keterlambatan memulai poliklinik dapat dikarenakan adanya
keterlambatan dokter, lamanya hand over perawat, ketidak tersedianya berkas rekam
medik hingga adanya kesalahan dalam sistem IT pendaftaran atau perjanjian. JIka
adanya ketidaklengkapan rekam medik maka perawat selalu menyalahkan tim rekam
medik yang salah, namun ada kemungkinan berkas rekam medik tersebut masih ada
di poliklinik karena kebutuhan konfrensi bedah, penelitian dan lain – lain. Hal inilah
yang perlu diangkat dalam masalah persepsi yang terjadi antara staff rumah sakit
3. The Illusion of Taking Charge
Contoh masalah:
Mengadopsi Standar Prosedur Operasional (SPO) dari rumah sakit lain tanpa
melihat dan menyesuaikan kondisi di rumah sakit tempat bekerja dikarenakan
akan adanya deadline Akreditasi dalam waktu dekat.

Akreditasi merupakan kewajiban dari seluruh rumah sakit dan PPK tingkat I di
Indonesia. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan
pasien serta menciptakan kondisi dimana perbedaan antara rumah sakit yang sudah
terakreditasi dan yang belum, sehingga hal ini penting sekali bagi rumah sakit.
Dikarenakan kewajiban tersebut, maka seluruh rumah sakit berlomba – lomba untuk
meningkatkan kualitas pelayanan dan Akreditasi Nasional hingga Internasional.
Kewajiban ini membuat banyak rumah sakit hingga stafnya mengadopsi Standar
Prosedur Operasional (SPO) dari rumah sakit lain untuk mepengkapi standar
akreditasi, namun hal ini tidak ditunjang dengan kesesuaian isi SPO dengan kondisi di
rumah sakit tempat bekerja. Hal ini amat sangat berbahaya dikarenakan adanya
plagiarisme dan akan menjadi temuan dalam standar akreditasi.

4. The Fixation On Events


Contoh Masalah:
Melupakan akar masalah dari kebakaran yang terjadi di kamar ICU di RS
tempat bekerja.

Kejadian tidak diinginkan (KTD) merupakan salah satu temuan keselamatan pasien.
Adanya kebakaran yang terjadi di ruang ICU merupakan salah satu contoh masalah
keselamatan pasien. Terkadang dikarenakan kebakaran merupakan keadaan gawat
darurat, panitia pengawas KTD hanya mencari masalah mengapa mesin terbakar, unit
mana yang melakukan tindakan kesalahan dan evakuasi pasien secepatnya, tanpa
memperhatikan akar masalah dari kebakaran yang terjadi dan pencegahan yang harus
dilakukan agar tidak kejadian seperti ini lagi. Hal ini kurang efektif dikarenakan jika
tidak ditemukan akar masalah dari kebakaran tersebut, maka risiko terulangnya
kebakaran akan terjadi menjadi tinggi.
5. Chronic Insidious Blindness
Contoh masalah:
Kurangnya standar evaluasi terhadap kinerja pegawai dan tidak
adanya punishment jika tidak mencapai target kinerja.

Kinerja merupakan hal utama dalam bekerja. Rumah Sakit Pemerintah merupakan
rumah sakit dengan 70% pegawainya merupakan PNS (Pegawai Negri Sipil) dengan
gaya bekerja yang “santai” sehingga melupakan target kinerja, serta didukung oleh
pimpinan yang tidak ketat dalam melakukan evaluasi kinerja. Standar kinerja yang
sudah ada, tidak didukung dengan parameter target dan punishment yang akan
didapat. Hal ini membuat gaya bekerja pegawai menjadi lebih “slow motion”.
Penurunan kinerja pegawai dapat menyebabkan performa rumah sakit menjadi
menurun. Dilihat juga dari kebiasaan manusia adalah beradaptasi dengan
lingkungannya, dimana dalam kasus ini, atasan maupun teman kerja juga akan
beradaptasi dengan kekurangan dari sikap masing-masing pegawai, sehingga
keburukan terus terjadi tanpa disadari sampai hal tersebut merugikan bagi pihak
rumah sakit.

6. The Delution Of Learning From Experience


Contoh masalah:
Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) tidak mengisi berkas rekam
medik pasien dengan lengkap.

“Tulis apa yang kamu kerjakan, Jika tidak ditulis maka kamu dianggap tidak
melakukan apapun”, hal ini merupakan quotes yang selalu disebutkan dalam
kelengkapan penulisan rekam medik. Seluruh dokter mengetahui bahaya yang akan
terjadi jika tidak menulis berkas rekam medik dengan lengkap, namun banyak dokter
atau tenaga medik lainnya tidak menuliskan secara lengkap berkas rekam medik
pasien. Hal ini dikarenakan para tenaga medik belum pernah merasakan akibat jika
tidak menulis berkas rekam medik dengan lengkap.
Kelengkapan berkas rekam medik dan informed consent merupakan bukti otentik
bahwa dokter atau tenaga medik lainnya melakukan rekam kondisi pasien hingga
tindakan yang telah dilakukan jika pasien tersebut memiliki masalah etik atau perdata
maupun masalah pidana yang dihadapi. Hilangnya bukti pelayanan dikarenakan
ketidak lengkapan penulisan rekam medik merupakan salah satu akibat dari ketidak
lengkapan rekam medik yang terlupakan oleh dokter dan tenaga medik lainnya.

7. Teamwork Blindness
Contoh masalah: Kesepakatan pada saat rapat pengambilan keputusan di rumah
sakit yang terselubung.

Dalam setip rapat, pasti ada perbedaan yang terjadi antar individu maupun bagian
departemen di rumah sakit, tetapi yang sering terjadi adalah penyesuaian pendapat
para anggota rapat walaupun sebetulnya tidak sama pendapatnya, terutama saat di
rapat tersebut dihadiri oleh atasan, yang dimana budaya disini lebih baik tidak
berpendapat daripada menimbulkan masalah atau perdebatan, sehingga keputusanpun
seperti satu suara. Hal ini tidak baik dalam satu organisasi karena saran dan pendapat
itu penting untuk masukan demi masa depan yang lebih baik, tetapi bila terkait
dengan atasan, atasan mempunyai sifat yang memang tidak mau mendengar opini
orang lain karena merasa yang paling benar, sehingga menyulitkan bawahan untuk
mengutarakan pendapat.