Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

PENGELOLAAN LIMBAH PETERNAKAN


“Pengolahan Feses Sapi Perah dan Jerami Padi secara Terpadu menjadi
Pupuk Organik Cair, Pupuk Organik Padat, Biogas, dan Feed Additive”

Disusun oleh :
Kelompok 3
Kelas C

DZULFIQAR 200110150240

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN PENANGANAN LIMBAH


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena atas berkah,
rahmat, dan karunia-Nya penyusunan laporan praktikum mata kuliah Pengelolaan
Limbah Peternakan dengan judul “Pengolahan Feses Sapi Perah dan Jerami Padi
secara Terpadu menjadi Pupuk Organik Cair, Pupuk Organik Padat, Biogas , dan
Feed Additive” ini dapat terselesaikan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. D. Zamzam Badruzaman, S.Pt., M. Si
2. Dr. Eulis Tanti Marlina, S.Pt., MP
3. Asisten dosen Mata Kuliah Pengelolaan Limbah Peternakan
4. Teman-teman yang telah membantu pelaksanaan praktikum.
Penulis berharap laporan akhir praktikum ini dapat bermanfaat bagi
pembaca serta menjadi informasi ilmiah. Penulis menyadari bahwa masih sangat
banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan laporan ini. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca
demi kesempurnaan laporan ini.

Jatinangor, November 2017

Penulis
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Limbah adalah hasil buangan suatu kegiatan yang tidak diperlukan lagi,
serta menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan dianggap tidak
memiliki nilai ekonomis. Salah satu limbah yang dihasilkan dari aktifitas
kehidupan manusia adalah limbah dari usaha peternakan sapi yang terdiri dari
feses, urin, gas dan sisa makanan ternak. Limbah dari usaha peternakan sapi yang
selama ini masih menjadi salah satu sumber masalah dalam kehidupan manusia
sebagai penyebab menurunnya mutu lingkungan melalui pencemaran lingkungan,
menggangu kesehatan manusia, dan juga sebagai salah satu penyumbang emisi
gas efek rumah kaca.
Umumnya limbah peternakan belum bisa dikelola dan dimanfaatkan
dengan baik oleh para peternak sapi komersial dan bahkan dalam skala industri,
hal inilah yang menyebabkan masalah pada lingkungan sekitar, bahkan
lingkungan yang berskala global. Limbah peternakan biasanya dibiarkan begitu
saja, tidak diolah dan dimanfaatkan secara maksimal.
Oleh karena itu, diperlukannya pengolahan limbah secara terpadu.
Pengolahan limbah secara terpadu ini merupakan suatu proses pengolahan limbah
yang saling berkaitan dan menghasilkan produk yang bermanfaat dan tidak
menghasilkan limbah kembali, bahkan dapat menghasilkan keuntungan tambahan.
Dengan begitu dampak pencemaran lingkungan dari peternakan sapi dapat ditekan
sehingga tidak ada pihak yang dirugikan karena limbah yang tidak ditangani
dengan baik.

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum adalah untuk mengetahui:
1. Pembuatan pupuk organik cair.
2. Pembuatan pupuk organik padat.
3. Pembuatan biogas.
4. Pembuatan feed additive.
II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1 Pupuk Organik Cair


Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dibedakan menjadi dua, yakni
pupuk cair dan padat. Pupuk cair adalah larutan yang berisi satu atau lebih
pembawa unsur yang dibutuhkan tanaman yang mudah larut. Kelebihan pupuk
cair adalah mampu memberikan hara sesuai kebutuhan tanaman. Selain itu,
pemberiannya dapat lebih merata dan kepekatannya dapat diatur sesuai kebutuhan
tanaman (Hadisuwito, 2012).
Bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair dapat
berasal dari limbah cair dari bahan organik, limbah agroindustri, kotoran kandang
ternak dan limbah rumah tangga (Oman, 2003).
Pupuk organik cair mengandung unsur kalium yang berperan penting
dalam setiap proses metabolisme tanaman, yaitu dalam sintesis asam amino dan
protein dari ion-ion ammonium serta berperan dalam memelihara tekanan turgor
dengan baik sehingga memungkinkan lancarnya proses-proses metabolisme dan
menjamin kesinambungan pemanjangan sel (Purwowidodo, 1992).

2.2 Feed Additive


Feed additive adalah pakan imbuhan yang umum digunakan dalam
meramu pakan ternak. Penambahan bahan biasanya hanya dalam jumlah yang
sedikit, misalnya additive bahan konsentrat, additive bahan suplemen, dan
additive bahan premix. Maksud dari penambahan adalah untuk merangsang
pertumbuhan atau merangsang produksi. Macam-macam additive antara lain
antibiotika, hormon, arsenikal, sulfaktan, dan transquilizer (Murtidjo, 1993).
Pemberian feed additive bertujuan untuk memacu pertumbuhan,
meningkatkan produktivitas, kesehatan ternak serta efisiensi produksi. Feed
additive yang biasa digunakan umumnya terdiri dari antibiotik, enzim, probiotik,
prebiotik, asam organik dan bioaktif tanaman (Sinurat dkk., 2003).
2.3 Biogas
Biogas merupakan gas campuran metana (CH4) karbondioksida (CO2) dan
gas lainnya yang didapat dari hasil penguraian bahan organik (seperti kotoran
hewan, kotoran manusia, dan tumbuhan) oleh bakteri metanogen. Untuk
menghasilkan biogas, bahan organik yang dibutuhkan ditampung dalam
biodigester. Proses penguraian bahan organik terjadi secara anaerob (tanpa
oksigen). Biogas terbentuk pada hari ke 4-5 sesudah biodigester terisi penuh dan
mencapai puncak pada hari ke 20-25. Biogas yang dihasilkan sebagian besar
terdiri dari 50-70% metana (CH4), 30-40% karbondioksida (CO2) dan gas lainnya
dalam jumlah kecil (Wahyono dan Sudarno, 2012).
Biogas dihasilkan apabila bahan-bahan organik terurai menjadi senyawa-
senyawa pembentuknya dalam keadaan tanpa oksigen (anaerob). Proses
fermentasi adalah penguraian bahan-bahan organik dengan bantuan
mikroorganisme. Fermentasi anaerob dapat menghasilkan gas yang mengandung
sedikitnya 50% metana. Gas inilah yang biasa disebut dengan biogas. Biogas
dapat dihasilkan dari fermentasi sampah organik seperti sampah pasar, daun
daunan, dan kotoran hewan yang berasal dari sapi, babi, kambing, kuda, atau yang
lainnya, bahkan kotoran manusia sekalipun. Gas yang dihasilkan memiliki
komposisi yang berbeda tergantung dari jenis hewan yang menghasilkannya
(Firdaus, 2009).

2.4 Vermicompost
Vermikompos adalah pupuk organik yang diperoleh melalui proses yang
melibatkan cacing tanah dalam proses penguraian atau dekomposisi bahan
organiknya. Walaupun sebagian besar penguraian dilakukan oleh jasad renik,
kehadiran cacing justru membantu memperlancar proses dekomposisi. Karena
bahan yang akan diurai jasad renik pengurai, telah diurai lebih dulu oleh cacing.
Proses pengomposan dengan melibatkan cacing tanah tersebut dikenal dengan
istilah vermikomposting. Sementara hasil akhirnya disebut vermikompos
(Agromedia, 2007 ).
Vermikompos adalah hasil dekomposisi lebih lanjut dari pupuk kompos
oleh cacing tanah yang mempunyai bentuk dan kandungan hara lebih baik untuk
tanaman. Beberapa keunggulan vermikompos adalah menyediakan hara N, P, K,
Ca, Mg dalam jumlah yang seimbang dan tersedia, meningkatkan kandungan
bahan organik, meningkatkan kemampuan tanah mengikat lengas, menyediakan
hormon pertumbuhan tanaman, menekan resiko akibat infeksi patogen, sinergis
dengan organisme lain yang menguntungkan tanaman serta sebagai penyangga
pengaruh negatif tanah (Sutanto, 2002).
III

ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Pembuatan Dekomposisi Awal Bahan Organik


3.1.1 Alat
1. Karung plastik, sebagai wadah objek yang akan diteliti.
2. Karton atau kardus, sebagai penutup bahan organik.
3. Stick bambu 40 cm, sebagai alat bantu saat memadatkan dan memberi
oksigen.
4. Timbangan, alat untuk menimbang berat bahan.
5. Thermometer, alat untuk mengetahui suhu objek yang diteliti.
6. Jarum karung, sebagai pemberi lubang kecil pada karung plastik.
7. Tali rapia, sebagai pengikat.
8. Tusukan besi, alat yang ditusukkan ke karung agar mempermudah
pengukuran suhu.
3.1.2 Bahan
1. Feces sapi perah (C 23, 14%; N 1,42%; KA 80%) sebagai objek yang akan
diteliti
2. Jerami padi (C 33,82%; N 0,76%; KA 20%) sebagai objek yang akan
diteliti
3. Air, sebagai pelarut
3.1.3 Prosedur Kerja
1. Hitung komposisi feses sapi perah dan jerami padi dengan nisbah C/N
25%.
2. Hitung kada air campuran feses sapi perah dan jerami padi.
3. Hitung berapa jumlah air yang ditambahkan agar kadar air campuran 55%.
4. Timbang feses sapi perah dan jerami padi sesuai hasil perhitungan.
5. Campurkan feses sapi perah dan jerami padi sampai homogen (merata).
6. Tambahkan air sesuai hasil perhitungan dan campurkan hingga merata.
7. Masukkan campuran tersebut ke dalam karung dan padatkan. Sebelum
campuran dimasukkan ke dalam karung, bagian dasar karung diisi oleh
jerami saja sebanyak 2 kg
8. Campuran terus diisikan dan dipadatkan dalam karung sampai ketinggian
20-25 cm
9. Masukkan oksigen sebanyak-banyaknya menggunakan stick bambu
10. Lakukan prosedur nomor 4-9 hingga karung terisi penuh
11. Bagian atas tambahkan jerami 1 kg, ratakan dan padatkan
12. Tutup dengan kertas karton dan ikat dengan tali rapia
13. Ukur suhu setiap hari dengan interval yang sama

3.2 Ekstraksi dan Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC)


3.2.1 Alat
1. Ember
2. 4 buah bak saringan berukuran 40x30x10cm
3. Gayung
4. Kompor gas
5. Gelas ukur
6. Batang pengaduk
3.2.2 Bahan
1. Substrat 3 Kg
2. Air panas 10 Kg
3.2.3 Prosedur Kerja
1. Menimbang substrat dekomposan sebanyak 3 kg dan memasukan ke
dalam wadah.
2. Dekomposan direndam dengan air panas sebanyak 11 liter selama 30
menit.
3. Menyaring dengan saringan bertingkat sampai diperoleh 4 liter filtrat
pekat.
4. Menyimpan filtrat pekat dalam wadah dan ditutup menggunakan plastik
yang telah dilubangi oleh jarum.
5. Menyisihkan padatan sisa filtrasi untuk dibuat POP.

3.3 Pembuatan Feed additive


3.3.1 Alat
1. Ember, sebagai wadah bahan
2. Pengaduk, untuk alat menghomogen bahan.
3. Plastik, sebagai penutup wadah
4. Karet ban, sebagai perekat penutup wadah
3.3.2 Bahan
1. Hasil filtrat encer
2. Molases
3.3.3 Prosedur Kerja
1. Hasil filtrasi ditambahkan molases 5%.
2. Dicampurkan antara hasil filtrasi dan molases hingga homogen.
3. Campuran kedua bahan tersebut diaduk.
4. Ditutup dengan plastik dan diikat dengan karet.

3.4 Pembuatan Biogas


3.4.1 Alat
1. Digester /tong plastik
2. Penampung gas/ban karet
3. Kran/katup gas
4. Selang plastik
5. Vaselin
3.4.2 Bahan
1. Ampas dari POC yang tidak tersaring
3.4.3 Prosedur Kerja
1. Menyiapkan instalasi biogas dari digester dan ban penampung gas.
2. Merangkai instalasi biogas, digester, ban, selang dan dilengkapi kran gas
dibagian penutupnya.
3. Memastikan tidak ada kebocoran pada setiap sambungannya.
4. Menimbang substrat dekomposan sebanyak 15 kg.
5. Mencampur substrat dengan tepung tapioca sebanyak 2%.
6. Memasukan substrat ke dalam tong digester kemudian ditutup rapat
dengan menyisipkan sealer antara tong dengan penutupnya.
7. Menutup rapat tong dan menguncinya dengan klem.
8. Menginkubasi selama waktu yang diperlukan.

3.5 Pembuatan Vermicompost


3.5.1 Alat
1. Timbangan, alat untuk menimbang bahan.
2. Baki, sebagai wadah objek yang akan diteliti.
3. Triplek, alat untuk menutup baki atau nampan.
3.5.2 Bahan
1. Substrat dekomposan/padatan sisa filtrasi, sebagai media hidup cacing
tanah.
2. Cacing tanah, sebagai objek yang akan diteliti.
3.5.3 Prosedur Kerja
1. Memanen cacing dari vermicultur.
2. Membagi hasil panen cacing menjadi 250 gram per kelompok
3. Menimbang substrat sebanyak 3,5 kg.
4. Menyimpan padatan, media dan cacing dalam wadah. Penyimpanan tidak
dicampur tetapi dibagi ¾ bagian wadah adalah padatan dan ¼ bagian lain
adalah media dan cacing.
5. Menutup wadah dengan triplek, pada wadah ada lubang untuk sirkulasi
udara.
6. Proses berlangsung selama pertumbuhan cacing ±2 minggu. Setiap satu
minggu dilakukan aerasi dengan membolak-balikan bahan tersebut.
7. Hasil dari sisa pencernaan cacing (kascing) merupakan pupuk organik
padat yang siap digunakan pada tanaman.
IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Proses Dekomposisi Awal

Tabel 1. Pengukuran suhu harian dekomposisi Kadar Air wal selama 1 minggu

Hari ke - Atas(oC) Bawah (oC)

0 28 28

1 57 52

2 53 54

3 56 56

4 41 41

5 30 32

6 28 29

7 31 31

Hasil dekomposisi setelah 1 minggu

Berat awal : 18,30 kg

Berat akhir : 12 kg
18,30  12
Penyusutan : 100% = 34,43%
18,30
Berdasarkan hasil persiapan ekstraksi diperoleh penyusutan kadar air
sebesar 34,43%.
Tabel.2 Hasil pengamatan secara indra penglihatan dan penciuman
Kondisi Hasil pengamatan
fisik warna jerami kecoklatan, jerami lebih
rapuh, baunya seperti apek

Biologis adanya jamur yang menyebar, rata


disetiap lapisan

kimiawi penurunan kadar amonia

4.1.2 Hasil Pembuatan Pupuk Organik Cair

Tabel 3. Pengamatan Fisik Pupuk Organik Cair (POC)

Pengamatan Organoleptik Hasil

Warna Hitam pekat

Bau Tidak berbau

Endapan Tidak ada endapan

4.1.3 Hasil Pembuatan Feed Additive

Tabel.4 Hasil pengamatan feed additive

Pengamatan Hasil

Bau Bau molases pekat

Rasa Tidak dianjurkan dicoba

Warna Coklat pekat

Konsistensi Konsistensi tinggi

4.1.4 Hasil Pembuatan Biogas

Pada praktikum kali ini, dalam waktu satu minggu ban pada digester

kelompok kelas C sudah mulai mengembang. Hal ini menandakan bahwa


CH4 mulai terbentuk, namun belum dapat dipastikan sudah dapat digunakan

karena CO2 lebih banyak dibandingkan CH4 yang ditandai dengan tidak

adanya bau pada gas tersebut.

4.1.5 Hasil Pembuatan Pupuk Organik (POP) dengan Vermicomposting

Berat cacing tanah : 254,66 gram

Media Tanam Substrat: 3,5 kg

Terdapat coccon : iya

Tabel 4 . Hasil Vermicompos

Pengamatan Setelah 1 minggu

Membesar, menyebar dalam media,


Cacing tanah
kascing banyak, ada kokon

Terdapat banyak warna putih, ada


Media kompos
kutu, ada mais, tekstur padat

4.2 Pembahasan
4.2.1 Dekomposisi Awal
Pada proses dekomposisi merupakan proses perombakan atau penguraian
bahan organik komplek menjadi lebih sederhana dengan bantuan dari
mikrorganisme. Pada proses dekomposisi ini feses dengan jerami memiliki
perbandiangan 2:1. Yang berati 1 kg feses dicampurkan dengan jerami yang telah
dicacah sebanyak 500 g. Peran dari jerami merupakan bahan pemicu
mikroorganisme juga untuk memperkaya dari kandungan kompos tersebut.
Proses pemgomposan akan segera berlangsung setelah bahan-bahan
mentah tercampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi
dua tahap, yaitu aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses,
oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera
dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat
dengan cepat. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Pada saat ini akan
terjadi peguraian bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam
kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan-bahan organik
menjadi CO2, uap air dan panas. Hal ini ditunjukkan dengan suhu tinggi pada
bahan pengomposan, seperti pada tabel suhu paling tinggi adalah 57oC.
Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-
angsur mengalami penurunan. Hal ini terlihat pada pengukuran suhu diakhir, suhu
kembali turun atau menunjukkan nilai yang sama dengan kondisi awal. Hal
tersebut didukung oleh pernyataan M. Isnaini (2006) bahwa fase terakhir ketika
suhu mulai turun ini adalah tanda dimana pengomposan telah selesai. Pada saat
pematangan kompos tingkat lanjut, terjadi pembentukan komplek liat humus.
Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume mapun biomassa
bahan. Dimana pada praktikum diperoleh penyusutan sebesar 34,43%. Nilai
penyusutan ini sesuai dengan pendapat Isroi (2007), bahwa pengurangan ini dapat
mencapai 30-40% dari volume atau bobot awal bahan.

4.2.2 Pembuatan Pupuk Organik Cair


Proses pembuatan pupuk organik cair adalah dengan mengubah suspensi
menjadi larutan. Proses ini membutuhkan kehadiran oksigen (aerob). Untuk
mempercepat waktu pengomposan, dilakukan proses aerasi sesering mungkin.
Proses pembuatannya yaitu bahan kering yang didapatkan dari hasil dekomposisi
awal disiram dengan air panas sehingga suspensi mikroorganisme larut dalam air,
setelah itu dilakukan ekstraksi.
Penggunaan POC sangatlah efisien dan menguntungkan. Hal tersebut
didukung oleh pernyataan Hadisuwito (2012), berdasarkan bentuknya, pupuk
organik dibedakan menjadi dua, yakni pupuk cair dan padat. Pupuk cair adalah
larutan yang berisi satu atau lebih pembawa unsur yang dibutuhkan tanaman yang
mudah larut. Kelebihan pupuk cair adalah mampu memberikan hara sesuai
kebutuhan tanaman. Selain itu, pemberiannya dapat lebih merata dan
kepekatannya dapat diatur sesuai kebutuhan tanaman.
Hasil pengamatan yang didapatkan dari pupuk organik cair setelah satu
minggu diantaranya berwarna hitam pekat, tidak berbau, dan tidak ada endapan.
Selain itu, pada pupuk organik cair hidup juga mikroorganisme seperti bakteri dan
kapang. Menurut Purwowidodo (1992), pupuk organik cair mengandung unsur
kalium yang berperan penting dalam setiap proses metabolisme tanaman, yaitu
dalam sintesis asam amino dan protein dari ion-ion ammonium serta berperan
dalam memelihara tekanan turgor dengan baik sehingga memungkinkan lancarnya
proses-proses metabolisme dan menjamin kesinambungan pemanjangan sel.
Selain itu, pupuk organik cair juga mengandung mikroba dan enzim yang dapat
menguraikan partikel-partikel debu organik yang ada di tanaman menjadi unsur
hara.

4.2.3 Pembuatan Feed Additive


Setelah dilakukan penyaringan untuk mendapatkan suspensi kental,
dilakukan peyaringan kembali untuk mendapatkan suspensi encer yang kemudian
akan dijadikan feed additive. Feed additive dihasilkan dari ekstraksi padatan hasil
dekomposisi dengan cara dilakukan penyaringan. Berbeda dengan pembuatan
POC yang harus secara aerob, pembuatan feed additive dilakukan secara anaerob
dengan ditambahkan molases sebanyak 5 %. Molasses adalah cairan berwarna
hitam hasil sisa atau limbah dari penggilingan tebu. Cairan ini memiliki
senyawa berupa gula (sukrosa) dan asam-asam organik yang berguna
meningkatkan nilai guna dari feed additive yang akan dibuat. Molasses juga
merupakan sumber energi esensial. Fermentasi anaerob dilakukan selama satu
minggu dan menghasilkan wangi molase yang menyengat, berwarna coklat pekat,
tidak dianjurkan dicoba karena memiliki kekentalan yang tinggi, dan adanya ragi
yang menggumpal pada permukaan atas.
4.2.4 Pembuatan Biogas
Biogas merupakan gas campuran metana (CH4) karbondioksida (CO2) dan
gas lainnya yang didapat dari hasil penguraian bahan organik (seperti kotoran
hewan, kotoran manusia, dan tumbuhan) oleh bakteri metanogen (Wahyono dan
Sudarno, 2012). Ditambahkan oleh Firdaus (2009), biogas dihasilkan apabila
bahan-bahan organik terurai menjadi senyawa-senyawa pembentuknya dalam
keadaan tanpa oksigen (anaerob). Proses fermentasi adalah penguraian bahan-
bahan organik dengan bantuan mikroorganisme.
Pada saat praktikum, digester yang digunakan adalah tong plastik dengan
volume 30 liter dan digunakan ban sebagai penampungnya. Selanjutnya
merangkai instalasi biogas yang terdiri dari digester dan penampung gas. Sealer
digunakan untuk menghindari masuknya oksigen kedalam digester.
Proses pembuatan biogas dengan menyediakan tong yang telah dirakit,
kemudian memasukan bahan berupa feses sapi perah dan jerami padi (substrat)
sebanyak ¾ bagian dari tong tanpa ditekan. Merapatkan tong dengan menutup dan
menjepitnya. Lalu biarkan proses biogas berlangsung.

4.2.5 Pembuatan Pupuk Organik Padat (Vermicomposting)


Pembuatan POP dilakukan menggunakan prinsip vermicomposting.
Vermikompos adalah pupuk organik yang diperoleh melalui proses yang
melibatkan cacing tanah dalam proses penguraian atau dekomposisi bahan
organiknya. Walaupun sebagian besar penguraian dilakukan oleh jasad renik,
kehadiran cacing justru membantu memperlancar proses dekomposisi. Karena
bahan yang akan diurai jasad renik pengurai, telah diurai lebih dulu oleh cacing.
Proses pengomposan dengan melibatkan cacing tanah tersebut dikenal dengan
istilah vermikomposting. Sementara hasil akhirnya disebut vermikompos
(Agromedia, 2007 ). Cacing tanah yang biasa digunakan untuk pembuatan
vermicomposting Lumbricus rubelllus. Pada Praktikum setelah diamati seminggu
cacing menjadi lebih besar dan menggemburkan.
Berat cacing awalnya 254,66 gram, namun tidak dilakukan penimbangan
akhir berat cacing. Selain itu juga cacing mulai berkembang biak dengan cara
bertelur. Banyak ditemukan kokon (telur cacing) pada media hidup cacing
tersebut. Menurut Susanto (2002), vermikompos memiliki beberapa keunggulan
yaitu menyediakan hara N, P, K, Ca, Mg dalam jumlah yang seimbang dan
tersedia, meningkatkan kandungan bahan organik, meningkatkan kemampuan
tanah mengikat lengas, menyediakan hormon pertumbuhan tanaman, menekan
resiko akibat infeksi patogen, sinergis dengan organisme lain yang
menguntungkan tanaman, serta sebagai penyangga pengaruh negatif tanah.
V

KESIMPULAN

1. Proses pembuatan pupuk organik cair adalah dengan mengubah suspensi


menjadi larutan. Proses ini membutuhkan kehadiran oksigen (aerob).
Untuk mempercepat waktu pengomposan, dilakukan proses aerasi sesering
mungkin. Proses pembuatannya yaitu bahan kering yang didapatkan dari
hasil dekomposisi awal disiram dengan air panas sehingga suspensi
mikroorganisme larut dalam air, setelah itu dilakukan ekstraksi.
2. Feed additive dihasilkan dari ekstraksi padatan hasil dekomposisi dengan
cara dilakukan penyaringan. Berbeda dengan pembuatan POC yang harus
secara aerob, pembuatan feed additive dilakukan secara anaerob dengan
ditambahkan molases sebanyak 5 %.
3. Proses pembuatan biogas dengan menyediakan tong yang telah
dirakit, kemudian memasukan bahan berupa feses sapi perah dan jerami
padi (substrat) sebanyak ¾ bagian dari tong tanpa ditekan. Merapatkan
tong dengan menutup dan menjepitnya. Lalu biarkan proses biogas
berlangsung.
4. Proses pembuatan vermicompost dimulai dengan menyediakan bahan
atau media pemeliharaan yang berasal dari bahan sisa ekstraksi berupa
bahan organik (feses sapi perah dan jerami padi). Memasukan cacing
ke dalam media pemeliharaan.
DAFTAR PUSTAKA

Firdaus, I.U. 2009. Energi Alternatif Biogas. http://www.migasindonesia.com.


(Diakses pada tanggal 23 November 2017)

Murtidjo, B. A. 1993. Keuntungan Usaha Peternakan dari Kualitas Pakan.


Kanisius: Yogyakarta

Hadisuwito, S. 2007. Membuat Pupuk Kompos Cair. PT Agromedia Pustaka.


Jakarta

Isroi. 2007. Pengomposan Limbah Padat Organik. Price, E.C and


Cheremisinoff,P.N.1981. Biogas Production and Utilization. Ann Arbor
Science Publishers, Inc .United States of America

Oman. 2003. Kandungan Nitrogen (N) Pupuk Organik Cair Dari Hasil
Penambahan Urine Pada Limbah (Sludge) Keluaran Instalasi Biogas
Dengan Masukan Feces Sapi. Skripsi Jurusan Ilmu Produksi Ternak
Institut Pertanian Bogor: Bogor

Purwowidodo. 1992. Telaah Kesuburan Tanah. Penerbit Angkasa: Bandung

Sinaturat, A. P., T. Purwadaria, M.H. Togatorop, dan T. Pasaribu. 2003.


Pemanfaatan Bioaktif Tanaman Sebagai Feed Additive pada Ternak
Unggas: Pengaruh Pemberian Gel Lidah Buaya atau Ekstraknya dalam
Ransum terhadap Penampilan Ayam Pedaging. Jurnal Ilmu Ternak
Veteriner: 8. 139-145

Sutanto, Rachman. 2002. Penerapan Pertanian Organik, Pemasyarakatan &


Pengembangannya. Kanisius: Yogyakarta
Wahyono, E. H. dan N. Sudarno. 2012. Biogas: Energi Ramah Lingkungan. .
j.[.i-.Yapeka: Bogor
LAMPIRAN