Anda di halaman 1dari 53

PANDUAN

AUDIT KEPERAWATAN

KOMITE KEPERAWATAN
RS.................
2018

1 Komite Keperawatan
DAFTAR ISI

Halaman Judul................................................................................................ 1
Daftar Isi......................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................... 4
B. Tujuan........................................................................................ 5
C. Landasan Hukum....................................................................... 6
BAB II AUDIT KEPERAWATAN
A. Pengertian ................................................................................. 7
B. Klasifikasi.................................................................................. 8
BAB III TATA LAKSANA AUDIT KLINIK KEPERAWATAN
A. Tujuan Audit Klinik Keperawatan............................................ 9
B. Pelaksana Audit Klinik Keperawatan........................................ 9
C. Sasaran Audit Klinik Keperawatan.......................................... 10
D. Target Audit Klinik Keperawatan............................................. 10
E. Lingkup Audit Klinik Keperawatan......................................... 10
F. Metode Audit Klinik Keperawatan........................................... 11
G. Tahapan Audit Klinik Keperawatan.......................................... 12
H. Sistematika Pelaporan Audit Klinik Keperawatan.................... 32
I. Alur Pelaporan Audit Klinik Keperawatan................................ 33
BAB IV TATA LAKSANA AUDIT STAF KEPERAWATAN
A. Tujuan Audit Staf Keperawatan............................................. 34
B. Pelaksana Audit Staf Keperawatan........................................ 34
C. Sasaran Audit Staf Keperawatan........................................... 34
D. Target Audit Staf Keperawatan............................................. 34
E. Lingkup Audit Staf Keperawatan.......................................... 35
F. Metode Audit Staf Keperawatan........................................... 35
G. Tahapan Audit Staf Keperawatan.......................................... 35
H. Sistematika Pelaporan Audit Staf Keperawatan.................... 39
I. Alur Pelaporan Audit Staf Keperawatan................................ 40
BAB V EVALUASI DAN TINDAK LANJUT
A. Evaluasi...................................................................................... 41
B. Tindak Lanjut............................................................................. 41
BAB VI PENUTUP....................................................................................... 43
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 44
LAMPIRAN……………………………………………………………… 45

2 Komite Keperawatan
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Era globalisasi dalam bidang kesehatan sudah mulai berkembang di Indonesia.
Banyak rumah sakit berstandar internasional yang berada di Indonesia. Rumah sakit ini
menjanjikan pelayanan yang paripurna dengan mengutamakan mutu dan keselamatan
pasien. Hal ini sesuai dengan amanah undang – undang nomor 44 tahun 2009 tentang
rumah sakit yang menyebutkan bahwa Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan
Pancasila dan berdasarkan kepada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas,
manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan
keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial. Penyelenggaraan pelayanan
kesehatan di rumah sakit menganut pada paradigma baru yaitu pelayanan kesehatan
berpusat pada pasien (Patient Centered Care). Metode asuhan ini mengedepankan
asuhan yang komprehensif dan kolaborasi antar Profesional Pemberi Asuhan (PPA)
untuk memberikan pelayanan kesehatan yang berfokus pada keselamatan pasien
(Patient safety) dan kepuasan pelanggan (Patient satisfaction). Salah satu professional
pemberi asuhan tersebut adalah profesi keperawatan.
Undang – undang No. 38 Tahun 2014 menyatakan bahwa Pelayanan Keperawatan
adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada
individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit.
Penyelenggaraan pelayanan keperawatan di Rumah Sakit ditentukan oleh tiga
komponen utama yaitu: jenis pelayanan keperawatan yang diberikan, sumber daya
manusia tenaga keperawatan sebagai pemberian pelayanan dan manajemen. Sumber
daya manusia tenaga keperawatan harus terjamin dari sisi mutu profesi sehingga bisa
mendukung terwujudnya pelayanan asuhan keperawatan yang profesional, holistik dan
komprehenship. Mutu profesi tenaga keperawatan harus di kelola dengan baik dalam
konsep Total Quality Management (TQM).
Total Quality Management (TQM) meliputi Quality Planing, Quality Control , dan
Quality Improvement. Metode TQM ini sesuai dengan amanah PMK No. 49 Tahun
2013 yang menyatakan bahwa mutu profesi kepererawatan harus dipelihara dan
ditingkatkan oleh Komite Keperawatan, sehingga Good clinical Governance dalam
pelayanan keperawatan di rumah sakit dapat terwujud. Pemeliharaan dan peningkatan
mutu profesi keperawatan dilaksanakan dengan menyusun data dasar profil tenaga
keperawatan sesuai area praktik, merekomendasikan perencanaan pengembangan

3 Komite Keperawatan
professional berkelanjutan, melakukan audit keperawatan dan kebidanan dan
memfasilitasi proses pendampingan.
PMK No. 49 Tahun 2013 menyampaikan bahwa Audit Keperawatan adalah upaya
evaluasi secara profesional terhadap mutu pelayanan keperawatan yang diberikan
kepada pasien dengan menggunakan rekam medisnya yang dilaksanakan oleh profesi
perawat dan bidan. Gillies menyatakan bahwa audit keperawatan merupakan suatu
proses analisa data yang menilai tentang struktur , proses dan hasil asuhan keperawatan.
Implementasi audit keperawatan yang profesional diharapkan mampu memotret kualitas
dan mutu asuhan keperawatan. Audit keperawatan yang berkualitas digunakan sebagai
evidence based komite keperawatan untuk menyusun rekomendasi perbaikan dari segi
mutu profesi tenaga keperawatan untuk menunjang terwujudnya pelayanan asuhan
keperawatan yang unggul. Audit keperawatan harus dilaksanakan dengan integritas
yang tinggi oleh tim independen keperawatan dengan regulasi yang jelas, maka perlu
disusun panduan audit keperawatan.

B. Tujuan Panduan Audit Keperawatan


1. Tujuaan Umum
Memberikan acuan pelaksanaan audit keperawatan dalam rangka memelihara dan
meningkatkan mutu profesi dan mutu pelayanan keperawatan serta menjamin
keselamatan pasien.
2. Tujuan Khusus
a) Memberikan panduan komite keperawatan dalam melaksanakan audit
keperawatan.
b) Memberikan panduan tim audit keperawatan dalam melaksanakan audit
keperawatan.
c) Menjamin penyelenggaraan audit keperawatan yang berkualitas dan profesional
dalam mengevaluasi mutu profesi dan layanan asuhan keperawatan.

C. Landasan Hukum
1. Undang – undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan.
2. Undang – undang No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit.
3. Undang – undang No. 38 tahun 2014 tentang keperawatan.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 49 tahun 2013, tentang Komite Keperawatan
Rumah Sakit.
5. Surat Keputusan Direktur Utama Nomor: ……………………tentang Pemberlakuan
Peraturan Internal (Hospital Bylaws) di RS……………………………………….
6. ……………………………………………………………………………………….

4 Komite Keperawatan
BAB II
AUDIT KEPERAWATAN

A. Pengertian
1. Audit Keperawatan adalah upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu
pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan menggunakan rekam
medis dan atau data pendukung lainnya oleh tenaga keperawatan.
2. Auditor keperawatan adalah tenaga keperawatan atau tim yang melaksanakan audit
keperawatan.
3. Auditee keperawatan adalah individu tenaga keperawatan, unit kerja, atau kelompok
profesi keperawatan yang akan di audit. Auditee harus bekerjasama dan membantu
terlaksananya proses audit keperawatan dengan memberikan akses dan fasilitas
yang diperlukan untuk menyelesaikan audit, mengkaji rekomendasi dan kesimpulan
audit, dan menerapkan setiap tindakan korektif yang diperlukan.

4. Komite Keperawatan adalah wadah non-struktural rumah sakit yang mempunyai


fungsi utama mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme tenaga
keperawatan melalui mekanisme kredensial, penjagaan mutu profesi, dan
pemeliharaan etika dan disiplin profesi.
5. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
6. Kewenangan Klinis tenaga keperawatan adalah uraian intervensi keperawatan yang
dilakukan oleh tenaga keperawatan berdasarkan area praktiknya.
7. Kewenangan klinis (clinical privilege) adalah hak khusus seorang tenaga
keperawatan untuk melakukan sekelompok pelayanan keperawatan/kebidanan
tertentu dalam lingkungan rumah sakit untuk suatu periode tertentu yang
dilaksanakan berdasarkan hasil kredensial
8. Penugasan Klinis adalah penugasan Direktur Rumah Sakit kepada tenaga
keperawatan untuk melakukan asuhan keperawatan atau asuhan kebidanan di
Rumah Sakit tersebut berdasarkan daftar Kewenangan Klinis.
9. Kredensial adalah proses evaluasi terhadap tenaga keperawatan untuk menentukan
kelayakan pemberian Kewenangan Klinis.
10. Rekredensial adalah proses re-evaluasi terhadap tenaga keperawatan yang telah
memiliki Kewenangan Klinis untuk menentukan kelayakan pemberian Kewenangan
Klinis tersebut.

5 Komite Keperawatan
11. Peraturan Internal Tenaga Keperawatan adalah aturan yang mengatur tata kelola
klinis untuk menjaga profesionalisme tenaga keperawatan di Rumah Sakit.
12. Mitra Bestari adalah sekelompok tenaga keperawatan dengan reputasi dan
kompetensi yang baik untuk menelaah segala hal yang terkait dengan tenaga
keperawatan.
13. Buku Putih adalah dokumen yang berisi syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh
tenaga keperawatan yang digunakan untuk menentukan Kewenangan Klinis
14. Tenaga Keperawatan adalah seluruh tenaga Perawat dan Bidan

B. Klasifikasi
Audit keperawatan yang dilaksanakan di RS................. ada dua macam, yaitu:
1. Audit staf keperawatan, adalah audit keperawatan yang dilaksanakan secara
insidentil / sewaktu-waktu kepada staf keperawatan yang melakukan dugaan
insiden pelanggaran etik dan disiplin profesi pada saat memberikan asuhan
keperawatan kepada klien.
2. Audit klinik keperawatan, adalah audit keperawatan yang dilaksanakan secara
periodik dan terencana terhadap kualitas dan efektifitas proses asuhan keperawatan
secara global dalam satu institusi pelayanan kesehatan.
3. Audit keperawatan terintegrasi, adalah audit keperawatan yang dilaksanakan
bersama sama dengan seluruh Profesional Pemberi Asuahan (PPA) yang terlibat
dalam pelayanan kesehatan kepada klien.

6 Komite Keperawatan
BAB III
TATA LAKSANA AUDIT KLINIK KEPERAWATAN

Tata laksana audit klinik keperawatan sama dengan audit keperawatan terintegrasi,
sebagai berikut:
A. Tujuan Audit Klinik Keperawatan
Tujuan audit klinik keperawatan RS................. antara lain:
1. Meningkatkan mutu profesi keperawatan dan keselamatan pasien di RS…….
2. Mengevaluasi profesionalitas proses asuhan keperawatan di RS.................
3. Mencapai pelayanan keperawatan yang berkualitas di RS.................
4. Untuk mengetahui penerapan standar pelayanan keperawatan di RS.................
5. Menstimulasi pelaporan yang lebih baik terhadap mutu profesi dan pelayanan
keperawatan di RS.................
6. Untuk melakukan rekomendasi perbaikan pelayanan keperawatan sesuai kebutuhan
pasien dan standar pelayanan keperawatan di RS.................

B. Pelaksana Audit Klinik Keperawatan


Audit klinik keperawatan dilaksanakan oleh sub komite mutu profesi keperawatan
setelah mendapatkan disposisi dari ketua komite keperawatan RS..................
Selanjutnya sub komite mutu profesi keperawatan membentuk tim audit klinik
keperawatan yang terdiri dari:
1. Komite keperawatan, dalam hal ini sub komite mutu profesi keperawatan yang
bertugas menentukan dan memfasilitasi jalannya proses audit klinik keperawatan
dengan baik.
2. Seminatan keperawatan yang terlibat langsung dalam proses pelayanan keperawatan
sesuai topik audit klinik keperawatan.
3. Staff rekam medik yang bertugas mencari dan mengolah data. Dalam hal ini staf
rekam medik yang terpilih harus sudah terlatih dan tidak berganti – ganti serta
memiliki tupoksi sebagai asisten audit klinik.

C. Sasaran Audit Klinik Keperawatan


Sasaran audit klinik keperawatan adalah proses asuhan keperawatan dalam
pemberian pelayanan keperawatan pada pasien di klinik. Sasaran audit klinik
keperawatan ini dimaksudkan untuk melihat kesesuaian proses pelayanan keperawatan
dengan standar yang telah disetujui untuk mendapatkan pelayanan keperawatan yang
optimal. Proses keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana
keperawatan, implementasi dan evaluasi.

7 Komite Keperawatan
D. Target Audit Klinik Keperawatan
1. Dilaksanakan audit klinik keperawatan setiap enam bulan terhadap proses
pelayanan asuhan keperawatan di RS..................
2. Dilaksanakan proses perbaikan terhadap proses pelayanan asuhan keperawatan di
RS..................
3. Meningkatkan mutu profesi keperawatan dan keselamatan pasien di RS…….
4. Meningkatnya budaya kerja tenaga keperawatan sesuai dengan standar kompetensi
dan standar pelayanan

E. Lingkup Audit Klinik Keperawatan


Mutu profesi dan kualitas pelayanan keperawatan dipengaruhi oleh input, proses
dan lingkungan (environment). Proses asuhan keperawatan harus di pertahankan dan
dipelihara sesuai dengan standar yang berlaku di rumah sakit. Aplikasi proses
keperawatan harus dilaksanakan dengan nilai rumah sakit. Untuk menjamin
profesionalitas proses asuhan keperawatan perlu dilaksanakan monitoring dan evaluasi
melalui On Going Professional Practice Evaluation (OPPE) atau Focus Professional
Practice Evaluation (FPPE). On Going Professional Practice Evaluation (OPPE) di
rumah sakit salah satunya diimplementasikan melalui sebuah audit klinik keperawatan.
Dengan demikian mutu profesi dan kualitas pelayanan keperawatan bisa tercapai
dengan optimal.

F. Metode Audit Klinik Keperawatan


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam audit klinik keperawatan antara
lain:
1. Retrospektif
Audit dilakukan setelah penyelenggaraan layanan asuhan keperawatan
selesai dilaksanakan.. Data yang digunakan adalah data lampau. Data yang
diperlukan telah dikumpulkan secara rutin. Keuntungan metode prospektif adalah
bisa dilakukan lebih mudah dan bisa dilihat di status. Kerugian metode prospektif
adalah kesulitan /tidak bisa diperbaiki secara langsung. Audit dengan metode
restrospektif bisa dilaksanakan menggunakan: Data sudah ada di komputer, rekam
medis, wawancara, kuesioner atau penyelenggaraan pertemuan.
2. Konkuren
Audit dilaksanakan dengan menilai proses pelayanan asuhan keperawatan
yang sedang berlangsung/ diselenggarakan. Teknik ini dilaksanakan dengan
pengamatan langsung atau kadang-kadang perlu dilengkapi dengan peninjauan pada

8 Komite Keperawatan
Rekam Medis, wawancara pada pasien/ keluarga/ petugas kesehatan, dan
mengadakan pertemuan dengan pada pasien/ keluarga/ petugas kesehatan .
Keuntungan metode konkuren adalah pelaksanaan lebih cepat, perbaikan bisa
langsung dilaksanakan, mengurangi bias retrospektif. Kerugian metode konkuren
adalah subjek tidak mau/ malu menyampaikan data yang akurat, terjadinya perilaku
pura-pura/ kepalsuan, pencatatan kurang akurat, bias karena ketidaktahuan
pengamat, memerlukan keputusan berapa kali pengamatan harus dilakukan.
3. Prospektif
Audit dilaksanakan pada saat layanan asuhan keperawatan belum
dilaksanakan. Data yang digunakan adalah data baru pada saat pasien masuk. Data
ini digunakan untuk menilai proses asuhan keperawatan yang akan datang. Metode
prospektif lebih tepat ditujukan terhadap struktur atau masukan sebagai parameter
layanan keperawatan harus memiliki sumber daya tertentu supaya menghasilkan
asuhan keperawatan yang berkualitas, misalnya: standart pendidikan staf
keperawatan, standart pelayanan keperawatan, lisensi, akreditasi dan sertifikasi.
Keuntungan metode prospektif adalah bisa dilakukan menggunakan estimasi yang
pernah dilakukan. Kerugian metode prospektif adalah belum bisa diprediksi apa
yang perlu diperbaiki.

G. Tahapan Audit Klinik Keperawatan


Langkah-langkah dalam audit klinik keperawatan antara lain:
1. Persiapan
Audit klinik keperawatan dilaksanakan sesuai dengan standar regulasi terkait
asuhan keperawatan di masing-masing institusi pelayanan kesehatan, sehingga
mampu memotret kondisi riil asuhan keperawatan yang dilaksanakan. Tahap awal
yang harus dilaksanakan adalah menyusun semua regulasi terkait asuhan
keperawatan sebagai landasan pelaksanaan audit keperawatan. Regulasi tersebut
antara lain standar pelayanan, Clinical Pathway (CP), standar atau panduan asuhan
keperawatan (PAK), standar operasional prosedur (SOP). Penyusunan regulasi
tersebut bisa dilaksanakan melalui work shop dengan melibatkan Komite
Keperawatan, Bidang Pelayanan Keperawatan dan Kelompok Staf Keperawatan.
Setelah tersusun regulasi, dilanjutkan langkah persiapan audit klinik
keperawatan berikutnya, antara lain:
a) Sub komite mutu profesi keperawatan melaksanakan koordinasi dengan ketua
komite keperawatan untuk menentukan area praktik keperawatan yang akan
dilaksanakan audit klinik keperawatan.

9 Komite Keperawatan
b) Ketua komite keperawatan membentuk tim audit klinik keperawatan yang
terdiri dari komite keperawatan, seminatan keperawatan dan tenaga rekam
medis.
c) Ketua komite keperawatan mengusulkan tim audit klinik keperawatan kepada
Direktur.
d) Direktur Utama mengeluarkan surat keputusan (SK) tim audit klinik
keperawatan.

2. Pelaksanaan
Pelaksanaan audit klinik keperawatan selanjutnya dilaksanakan oleh tim audit klinik
keperawatan sebagai berikut:
a) Tim audit klinik keperawatan melaksanakan rapat koordinasi untuk memilih
dan menentukan topik audit klinik keperawatan.Tim audit klinik keperawatan
memilih dan menentukan populasi dan sampel audit.
b) Tim audit klinik keperawatan menyusun kriteria, dan standar audit.
c) Tim audit klinik keperawatan menyusun instrumen audit.
d) Tim audit klinik keperawatan menyusun proposal audit klinik keperawatan.
e) Tim audit klinik keperawatan mengusulkan proposal audit klinik keperawatan
kepada direksi melalui ketua komite keperawatan.
f) Ketua komite keperawatan menerima rekomendasi pelaksanaan audit klinik
keperawatan dari direksi.
g) Ketua komite keperawatan memberikan disposisi pelaksanaan audit klinik
keperawatan kepada tim audit klinik keperawatan.
h) Tim audit klinik keperawatan melaksanakan koordinasi perijinan kepada pihak
terkait.
i) Mengumpulkan data audit klinik keperawatan.
j) Melaksanakan analisa data audit klinik keperawatan.
k) Menetapkan perubahan / Plan of Action (POA).
l) Melaksanakan re-audit klinik keperawatan.
m) Melaksanakan analisa hasil re-audit klinik keperawatan.
n) Menyusun kesimpulan dari hasil re-audit klinik keperawatan.
o) Mendokumentasikan hasil kegiatan audit klinik keperawatan.
p) Menyusun laporan audit klinik keperawatan.
q) Melaporkan hasil audit klinik keperawatan kepada direksi dalam bentuk
rekomendasi melalui ketua komite keperawatan.
Tahapan (proses) audit klinik keperawatan dilaksanakan sesuai dengan bagan
siklus audit berikut:

10 Komite Keperawatan
1.MENENTUKAN
TOPIK

2.MENENTUKAN
6. RE-AUDIT KRITERIA DAN
STANDAR

5.MENETAPKAN 3.PENGUMPULAN
PERUBAHAN DATA

4.ANALISA DATA

Bagan. 3.1 Proses/ siklus audit klinik keperawatan


1. Memilih dan menentukan topik audit.
Hal yang harus diperhatikan pada saat memilih dan menentukan topik adalah:
a) Fokus audit klinik keperawatan.
Fokus audit klinik keperawatan meliputi :
1) Audit struktur (Input)
Audit difokuskan pada hal-hal yang menjadi masukan dalam pelaksanaan
pelayanan keperawatan untuk menentukan apa yang dibutuhkan agar standar
dapat terpenuhi, diantaranya yaitu :
 Fasilitas fisik, yang meliputi kelengkapan , kebersihan dan kenyamanan
ruang rawat, nyaman dan aman.
 Peralatan keperawatan yang lengkap, bersih, rapih dan ditata dengan
baik dan ketersediaan logistik
 Staf keperawatan sebagai sumber daya manusia (dari segi kualitas
maupun kuantitas)
 Keuangan, yang meliputi bagaimana mendapatkan sumber dan alokasi
dana.
2) Audit proses
Audit difokuskan pada bagaimana proses pelayanan asuhan keperawatan
dilaksanakan. Audit proses di tujukan untuk melakukan penilaian terhadap
perawat dalam merawat pasien. Pendekatan ini merupakan proses yang
mentransformasi struktur (input) ke dalam hasil (outcome). Proses asuhan
keperawatan adalah kegiatan yang dilaksanakan secara profesional oleh
tenaga keperawatan dan interaksinya dengan pasien. Kegiatan ini mencakup
pengkajian, diagnosa, rencana perawatan, implementasi (prosedur kegiatan)

11 Komite Keperawatan
dan evaluasi terhadap asuhan keperawatan. Dengan kata lain penilaian
dilakukan terhadap perawat dalam merawat pasien.
3) Audit hasil (Out come)
Audit difokuskan pada hasil dari intervensi keperawatan yang dilaksanakan,
apakah memberi perubahan terhadap status kesehatan pasien. Audit hasil
(outcome) berkaitan dengan hasil dari aktivitas yang diberikan oleh petugas
kesehatan yang dinilai dari efektifitas dari aktivitas pelayanan keperawatan
yang ditentukan dengan tingkat kesembuhan , kemandirian peningkatan
derajat kesehatan pasien dan kepuasan pelanggan.
Audit klinik keperawatan di RS................. berfokus pada PROSES dan
HASIL. Hal ini dilaksanakan untuk melihat kesesuaian proses pelayanan
asuhan keperawatan dengan standar yang telah disetujui dan ditetapkan.
b) Menentukan topik audit klinik keperawatan.
Topik audit klinik keperawatan dipilih berdasarkan:
1) Pilih topik yang dapat diperbaiki. Hindari pemilihan topik pada area yang
tidak mungkin/kecil kemungkinannya untuk dilakukan peningkatan.
2) Topik dipilih berdasarkan pelayanan/ kegiatan/ diagnosa yang high risk, high
cost, high volume dan problem prone (cenderung menimbulkan masalah).
Pemilihan topik audit selanjutnya dilaksanakan dengan menggunakan
grading sebagai berikut:
Tabel 3.1 Grading Pemilihan Topik Audit Klinik Keperawatan

SKOR
KUALIFIKASI
1 2 3 4 5

PROBABILITY/ Sangat jarang Jarang terjadi Mungkin terjadi Sering Sangat


RESIKO terjadi (> 5 (> 2-<5 th/ (1- < 2 th/ kali) terjadi sering terjadi
th/ kali) kali) (Beberapa (Tiap
kali/th) minggu/bln)

COST Kerugian Kerugian > 0,1 Kerugian > 0,25 Kerugian > Kerugian > 1
kecil % anggaran % anggaran 0,5 % % anggaran
anggaran

VOLUME SESUAI URUTAN JUMLAH

PROBLEM Tidak ada Cedera ringan Berkurang fungsi Kehilangan Kematian


PHRONE/ cedera motorik/sensorik fungsi utama
DAMPAK Dapat diatasi / psikologis permanent
dengan (motorik,
pertolongan sensorik,
pertama psiko logis,
intelektual) /
irreversibel

12 Komite Keperawatan
Tabel 3.2 Contoh Grading Pemilihan Topik Audit Klinik Keperawatan

NO DIAGNOSA RISIKO TOTAL VOLUME TOTAL COST TOTAL PROBLEM TOTAL TOTAL
KEPERAWATAN (RATA2) (RATA2) (RATA2) (RATA2)

1 Ansietas 5454444 4 3222222 2 1111112 1 2122211 2 9

2 kurang pengetahuan 3434444 4 3444443 4 1121112 1 1122221 2 11

3 Nutrisi kurang dari 5343335 4 4332332 3 2323323 3 3332222 2 12


kebutuhan

4 Mual 5554443 4 5334444 4 3223332 3 1222222 2 13

5 Nyeri kronis 3444444 4 4444444 4 3233333 3 3224333 3 14

6 Bersihan jalan nafas 4333223 3 2333333 3 3423433 3 3433333 3 12


tidak efektif

7 Gangguan pola 2324334 3 2223233 2 3423333 3 3433333 3 11


nafas

8 Gangguan body 5233243 3 1122222 2 1122122 2 1111112 1 8


image

9 Gangguan perfusi 2322223 2 2312222 2 3322222 2 4222332 3 9


jaringan perifer

3) Topik yang dipilih harus mendapat dukungan atau konsensus dari seluruh
seminatan keperawatan.
4) Topik yang dipilih harus memiliki clinical guidelines yang ada di
RS..................

c) Menentukan latar belakang, tujuan dan sasaran audit.


1) Latar belakang.
Latar belakang merupakan rasionalitas atau justifikasi topik audit yang
dipilih. Dalam latar belakang perlu dijelaskan pengertian singkat dari
penyakit/tindakan dan diagnosa keperawatan yang dijadikan topik audit.
Selain itu juga perlu dicantumkan data epidemiologi baik internasional,
nasional maupun di RS................., ketersediaan guidelines dan beberapa isi
pentingnya serta permasalahan yang ada.
2) Tujuan audit.
Tujuan audit klinik keperawatan harus dapat menggambarkan struktur
umum dari audit yang dilakukan . Tujuan dibuat untuk memastikan atau
memperbaiki mutu pelayanan kesehatan. Tujuan tidak hanya menghitung
jumlah atau memeriksa /mengetahui suatu masalah.

13 Komite Keperawatan
3) Sasaran.
Sasaran audit adalah menjelaskan langkah – langkah yang harus
dilakukan untuk mencapai tujuan umum audit menggunakan aspek dimensi
mutu sebagai fokus audit yang dilakukan.
Sasaran audit keperawatan ditulis menggunakan kata-kata “untuk
meyakinkan bahwa......). Aspek dimensi mutu yang digunakan dalam sasaran
audit klinik keperawatan adalah:
 Appropriateness
Apakah penatalaksanaan yang dilakukan sudah sesuai.
 Timeliness
Apakah penatalaksanaan yang dilakukan sudah tepat waktu.
 Effectiveness
Apakah penatalaksanaan yang diberikan memberikan sesuai hasil yang
di harapkan.
Dimensi mutu yang tidak terlalu menjadi fokus dalam audit klinik
keperawatan adalah:
 Acceptability
Apakah pasien pasien puas dengan pelayanan yang diberikan.
Acceptability tidak menjadi fokus karena lebih melibatkan pasien dan
dilakukan oleh tim penelitian.
 Accessibility
Apakah pasien mudah mendapatkan pelayanan. Accessibility tidak jadi
fokus karena sudah dibahas saat pemilihan topik.
 Efficiency
Apakah terapi / tindakan yang diberikan menggunakan biaya, tenaga,
dan sumber daya yang minimal. Efficiency tidak jadi fokus karena baru
dapat dicapai saat peningkatan pelayanan telah dilakukan.
 Equity
Apakah perawatan yang tersedia bisa dirasakan merata. Equity tidak jadi
fokus karena sudah dibahas saat pemilihan topik.

2. Menentukan kriteria dan standar audit.


Kriteria yanag digunakan dalam audit klinik keperawatan adalah kriteria proses
atau hasil. Kriteria input tidak lazim digunakan karena terkait dengan keterbatasan
anggaran dan merupakan masalah manajemen, sehingga siklus audit tidak bisa
lengkap. Kriteria out put sulit diukur karena terkait dengan faktor lain (Misal:
penyakit penyerta, LOS, komplikasi, dll), tetapi masih bisa dilaksanakan untuk

14 Komite Keperawatan
mengkaji dan melakukan evaluasi efektivitas dan keberhasilan dari sebuah tindakan
mandiri keperawatan.
Hal yang diperhatikan dalam menyusun kriteria audit klinik keperawatan antara
lain:
a) Jumlah kriteria tidak terlalu banyak (6-10 kriteria).
b) Penulisan bisa menggunakan bantuan: “ Harus dilakukan...”, “harus ada.....”,
atau “harus tidak ada.....”.
c) Menggunakan kaidah SMART
 Specific: jelas dan khusus, tidak ambigu, dan bebas dari kepentingan
tertentu.
 Measurable: dapat diukur.
 Agreed: disetujui oleh semua pihak.
 Relevant: sesuai.
 Theoritically sound: Berdasarkan bukti klinis yang terbaik dan terbaru,
berdasarkan regulasi yang ada di RS..................

d) Kriteria harus spesifik, tidak terlalu luas.


Contoh:
Kasus : Diare
Kriteria : Melakukan terapi cairan sesuai standart (terlalu luas)
Seharusnya : Diberikan cairan RL (Spesifik).
e) Kriteria audit klinik keperawatan bukan kriteria diagnosis.
Contoh:
Kasus : Thipoid
Kriteria diagnosis : Demam
Kriteria audit :Dilakukan pemeriksaan suhu tubuh.

Setelah menentukan kriteria audit, langkah selanjutnya adalah menyusun standar,


perkecualian, petunjuk pengambilan data, variasi , memilih populasi dan sampel
antara lain sebagai berikut:
a) Standar.
Digunakan untuk menentukan apakah catatan medik memenuhi kriteria
pedoman audit klinik atau tidak. Standar merupakan batasan harus ada (100%)
atau tidak ada (0%) pada masing –masing unsur.
b) Perkecualian.
Perkecualian adalah keadaan yang mungkin merupakan alasan bagi
sebuah catatan medik untuk tidak memenuhi standar. Perkecualian (Justifikasi)

15 Komite Keperawatan
harus berhubungan dengan kondisi klinis pasien. Perkecualian (Justifikasi)
tidak boleh berhubungan dengan hal diluar klinis pasien, misalnya manajemen,
sarana,dll.
c) Petunjuk pengumpulan data.
Menunjukkan bagian-bagian mana dari catatan medik yang dapat
dipercaya sebagai sumber data. Petunjuk yang terdapat dalam rekam medik
harus ditulis secara obyektif dan semua istilah harus disebutkan secara lengkap.
d) Variabel.
Variabel adalah hal-hal tertentu, baik dari aspek rumah sakit, dokter,
perawat, pasien, yang mungkin mempengaruhi mutu pelayanan. Variabel juga
menunjukkan kemungkinan ada pola dalam mutu pelayanan yang diberikan
pada pasien.
Tabel 3.3. Contoh kriteria dan standart audit.

No Kriteria Standar Perkecualian Petunjuk Pengumpulan Data


1 Harus ada pengkajian - Assesmen awal pasien rawat
100% Tidak ada
Nyeri meliputi PQRST inap (RMI.0013.Rev.1.
pengecualian
dan score nyeri Hal.1,2,4)
2 Harus sesuai antara - Assesmen awal pasien rawat
100% Tidak ada
rencana tindakan dan inap (RMI.0013.Rev.1.
pengecualian
score nyeri Hal.1,2,4)
- Lembar Interdisiplin (RMI.
00263 (RM 44).Hal 1-2)
3 Dalam rencana tindakan - Assesmen awal pasien rawat
100% Tidak ada
ada tujuan yang inap (RMI.0013.Rev.1.
pengecualian
menganut kaidah Hal.1,2,4)
SMART - Lembar Interdisiplin (RMI.
00263 (RM 44).Hal 1-2)
4 Harus sesuai antara - Assesmen awal pasien rawat
100% Tidak ada
tindakan keperawatan inap (RMI.0013.Rev.1.
pengecualian
dengan rencana tindakan Hal.1,2,4)
keperawatan - Lembar catatan terintegrasi
(RMI.00037. Rev.1)
- Lembar Interdisiplin (RMI.
00263 (RM 44).Hal 1-2)
5 Harus ada pengkajian - Lembar catatan terintegrasi
100% Tidak ada
ulang setiap pergantian (RMI.00037. Rev.1)
pengecualian
shif meliputi KU, TTV - Lembar asesmen lanjutan dan
dan gejala penyerta yang monitoring ((RMI.00160
memperberat nyeri (RM 5) Rev.1)

6 Pada skala nyeri 1-3 : - Assesmen awal pasien rawat


100% Score nyeri
harus ada rencana inap (RMI.0013.Rev.1.
VAS > 6
tindakan dan tindakan Hal.1,2,4)
mandiri perawat - Lembar catatan terintegrasi
(relaksasi dan distraksi) (RMI.00037. Rev.1)
- Lembar Interdisiplin (RMI.
00263 (RM 44).Hal 1-2)

e) Populasi dan sampel.


Populasi adalah sejumlah kasus yang memenuhi seperangkat kriteria
yang ditentukan oleh peneliti atau auditor (Dr. Siswojo). Sedangkan menurut

16 Komite Keperawatan
Noto Atmojo populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti.
Populasi harus didefinisikan dengan jelas:
 Apa, siapa, dimana dan kapan akan ambil
 Uraikan yang diambil
 Kurun waktu secara jelas atau besar populasi yang akan diambili
Contoh : audit nyeri pada pasien fraktur femur di RS................. tahun 2015.
Sehingga populasinya adalah seluruh pasien nyeri yang terjadi karena fraktur
femur di RS................. pada tahun 2015.
Populasi dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu populasi target,
yaitu seluruh populasi dan populasi survey, yaitu sub unit dari populasi target.
Sub unit dari populasi untuk selanjutnya menjadi sampel penelitian atau audit.
Dengan kata lain, sampel adalah elemen-elemen populasi yang dipilih
berdasarkan kemampuan mewakilinya. Menurut kriterianya, sampel dibedakan
menjadi 2 yaitu:
 Kriteria inklusi ( kriteria yang layak diteliti /diaudit)
 Kriteria eksklusi (kriteria yang tidak layak diteliti/diaudit)
Sampel ditentukan berdasarkan jenis audit yang akan dilakukan. Jenis audit
tersebut meliputi:
1. Audit ilmiah(research).
Untuk keperluan publikasi ilmiah dengan skala nasional /internasional.
Audit ini membutuhkan sampel yang valid untuk memperkuat hasil
penelitian. Untuk keperluan audit ilmiah atau audit untuk publikasi ilmiah,
diperlukan penentuan jumlah sampel yang valid, karena sebuah penelitian
baru dapat dikatakan kuat apabila hasilnya dapat diterapkan secara umum
untuk populasi yang besar, baik nasional atau bahkan internasional.
2. Audit pragmatis/ internal.
Panduan sederhana dalam menentukan jumlah sampel untuk audit
pragmatis adalah jumlah pasien yang diperlukan agar para klinisi senior
bersedia melakukan perubahan berdasarkan hasil audit. Jumlah sampel
tidak terlalu banyak, berkisar 20 – 50 pasien sudah cukup untuk melihat
kesesuaian di lapangan dengan kriteria audit. Jumlah sampel yang terlalu
besar akan menyita waktu dan sumber daya.
Namun apabila audit yang dilakukan adalah audit hasil/outcome tetap
diperlukan perhitungan sampel agar mewakili populasi audit klinis.
Sampel ditetapkan berdasarkan pada empat variabel:
1) Jumlah populasi.
2) Tingkat ketepatan (Degree of Accuracy).

17 Komite Keperawatan
Tingkat ketidaktepatan yang digunakan adalah 5%.
3) Tingkat kepercayaan (Degree of Confidence).
Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%.
4) Frekuensi kesesuaian dengan kriteria audit.
Jumlah sampel dapat bervariasi tergantung:
 Angka kejadian yang diharapkan
 Tingkat kepercayaan yang digunakan : tidak selalu harus 95%. Misalnya
dapat sebesar 90%, 97%, 99%, dan lain-lain.
 Tingkat akurasi yang digunakan; tidak selalu harus 5%. Misalnya dapat
10%, 1% dan lain-lain.
Contoh : Audit asuhan keperawatan pasien post operasi Coronary Artery
By Pass Graft (CABG) tahun 2015
o Jumlah pasien : 100 orang (jumlah polulasi)
o Kriteria audit: asuhan keperawatan yang diberikan sesuai dengan
clinical path way. Diperkirakan hasil kepatuhan untuk kriteria ini
tercapai 70% (kesesuaian dengan kriteria audit)
o Tingkat ketidaktepatan yang dapat diterima : 5% (degree of accuracy)
o Tingkat kepercayaan : 95% (degree of confidence)
Menghitung sampel dapat dilakukan dengan mudah melalui fasilitas software
yang disediakan di internet.
Table berikut dapat digunakan sebagai panduan jumlah sampel audit dan
diasumsikan angka kejadian ( angka kepatuhan terhadap suatu kriteria) yang
diharapkan sebesar 50% ( 50% standar akan terpenuhi). Dengan tingkat
kepercayaan 95% dan tingkat keakuratan 5%.
Tabel 3.4. Panduan ukuran sampel Audit Klinik Keperawatan.
Ukuran sampel
No Ukuran Populasi
(Confidence 95%, Accuracy 5%)
1 50 44
2 100 79
3 150 108
4 200 132
5 500 217
6 1000 278
7 2000 322
8 5000 357

18 Komite Keperawatan
Table berikut ini sebagai contoh menggambarkan jumlah sampel yang bervariasi
dari populasi sebesar 500.
Tabel 3.5. Contoh gambaran jumlah sampel yang bervariasi dari populas. N=500
Tingkat Angka kejadian yang
Derajat akurasi Ukuran sampel
kepercayaan diharapkan
95% +-5% 50% 217
90% +-10% 50% 176
95% +-5% 40% 213
95% +-5% 20% 165
95% +-5% 5% 64
95% +-2,5% 50% 378
95% +-2,5% 5% 185

Metode Pengambilan Sampel


Tehnik sampling adalah tehnik yang digunakan untuk mengambil sampel dari
populasi (Arikunto, 1998). Pembegian jenis sampling secara umum ada dua yaitu :
1. Probability sampling, yaitu tehnik yang memberi kesempatan yang sama bagi
anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Yang termasuk jenis ini
diantaranya :
a. Simpel acak sederhana (simple random sampling)
Pada cara ini sebelumnya harus dibuat nomor urut untuk setiap rekam medis
dari kasus-kasus yang sesuai dengan topic audit. Masing-masing nomor
rekam medis mempunyai satu kesempatan yang sama untuk dipilih. Cara
yang paling mudah adalah dengan menggunakan random number table (table
angka acak). Caranya: ambil satu angka kanan ke kiri (2 0 1 7 4……dll).
Cara ini dipakai jika anggota populasi dianggap homogen.
b. Pengambilan bertingkat (stratified sampling)
Pada cara ini memastikan bahwa setiap kelompok dalam populasi terwakili
oleh sampel. Tehnik ini digunakan bila populasi anggotanaya tidak homogen
dan berstrata secara proposional. Contoh : populasi sebesar 500, terdiri dari
75% pria dan 25% wanita (3:1). Selanjutnya populasi dibagi menjadi
375:125 (3:1). Berdasarkan perhitungan, jumlah sampel yang diperlukan
adalah sebesar 217, yang dibagi menjadi 74 wanita dari populasi sejumlah
125, dan 163 pria dari populasi sejumlah 375. Demikian juga misalnya
terdapat 3 kelompok spesialisasi keperawatan yang berbeda dalam kasus
audit, maka stratified sampling perlu dilakukan agar keterwakilan setiap
kelompok keperawatan tersebut terjamin.

19 Komite Keperawatan
c. Sistematis sampling
Tehnik penentuan sampel berdasar urutan dari anggota populasi yang telah
diberi nomor urut. Contoh : ada populasi 100 pasien kemudian diambil yang
ganjil saja atau yang genap saja (1,3,5,7….99)
2. Non probability sampling, yaitu tehnik yang tidak memberi kesempatan yang
sama bagi anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Diantara yang
termasuk jenis ini yaitu :
a. Purposive sampling
Yaitu tehnik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai yang
dikehendaki peneliti /auditor. Misalnya audit VAP pasien di ruang ICU,
maka sampel yang dipilih adalah pasien VAP saja.
b. Consecutive sampling
Pemilihan sampel dengan consecutive (berurutan) yaitu pemilihan sampel
dengan menetapkan subjek yang memenuhi kriteria penelitian/audit
dimasukan dalam peurun waktu penelitian/audit sampai kurun waktu
tertentu, sehingga jumlah sampel yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro
& Ismail, 1995)
c. Incidental sampling
Tehnik penentuan sampling berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang
secara kebetulan bertemu dengan auditor dapat digunakan sebagai sampel.
d. Sampling jenuh
Yaitu tehnik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai
sampel. Hal ini dilakukan jika jumlah populasi relatif kecil.

3. Mengumpulkan data.
Langkah dalam pengumpulan data audit klinik keperawatan meliputi:
a) Menyiapkan Rekam Medis dan form data.
Pada saat mempersiapkan RM, yang harus diperhatikan adalah:
1) Rekam medik yang menjadi sampel audit disiapkan oleh auditor yang
berasal dari petugas RM.
2) Cek apakah jumlah RM sudah sesuai dengan kriteria dan jumlah sampel.
3) Kembalikan RM yang tidak merupakan sampel dan ganti dengan RM yang
baru
Form data audit yang dimaksud adalah form instrumen audit. Form ini memuat
instrumen yang diperlukan untuk memperoleh data dalam audit meliputi
pendukung / variabel pendukung dan kriteria dari audit. Contoh form
instrumen audit bisa dilihat di tabel 2.6.

20 Komite Keperawatan
Tabel 3.6. Form Instrumen Audit Klinik Keperawatan

FORMULIR AUDIT KEPERAWATAN


JUDUL AUDIT :
b) V Rekam keperawatan
Noe Variabel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

r Kelas
1i Perawatan
Lama
f
2 Perawatan
3i PPJA / PA
k
a Kriteria
1s
2i
3

rekam medis menggunakan kriteria audit.


Lihat apakah setiap kriteria yang ditentukan dalam pedoman audit telah
terpenuhi dalam rekam medis tersebut (Lihat kesesuaian). Bandingkan antara
instrumen dengan data asli rekam medis.
c) Interpretasi hasil audit
Tentukan hasil audit apakah sudah sesuai dengan kriteria, tidak sesuai kriteria
namun memenuhi perkecualian atau tidak sesuai kriteria dan tidak memenuhi
perkecualian (Lihat kode hasil audit).
d) Pencatatan hasil audit
Tulis hasil audit dalam bentuk kode
Tabel 3.7. Koding audit keperawatan
Kode Keterangan
Kode 1 Data pada rekam medik sesuai dengan kriteria.
Kode 2 Data pada rekam medik tidak sesuai dengan kriteria tapi
memenuhi perkecualian (ada alasan / justifikasi
ketidaksesuaian tersebut)
Kode 3 Data pada rekam medik tidak sesuai dengan kriteria dan tidak
memenuhi perkecualian (Tidak ada alasan / justifikasi
ketidaksesuaian tersebut)
e) Pengelompokan rekam medis.
Memisahkan rekam medik yang mengandung penyimpangan (tidak sesuai
kriteria) berdasarkan pedoman dan instrumen audit yang telah disusun oleh tim
audit.

21 Komite Keperawatan
4. Menganalisa data.
Pengumpulan data dan analisa data menggunakan tool statistik. dilakukan oleh
tim secara bersamaan. Analisa data audit klinik keperawatan dilakukan untuk
menghitung tingkat kepatuhan secara umum, mengidentifikasi pola dan penyebab
penyimpangan.
Analisis data adalah upaya atau cara untuk mengolah data menjadi informasi
sehingga karakteristik data tersebut bisa dipahami dan bermanfaat untuk solusi
permasalahan, tertutama masalah yang berkaitan dengan penelitian. Atau definisi
lain dari analisis data yaitu kegiatan yang dilakukan untuk merubah data hasil dari
penelitian menjadi informasi yang nantinya bisa dipergunakan dalam mengambil
kesimpulan.

Data audit klinik keperawatan dianalisa dengan:


a) Statistik deskriptif
Iqbal Hasan (2001:7) menjelaskan bahwa statistik deskriptif adalah
bagian dari statistika yang mempelajari cara pengumpulan data dan penyajian
data sehingga mudah dipahami. Statistika deskriptif hanya berhubungan dengan
hal menguraikan atau memberikan keterangan-keterangan mengenai suatu data
atau keadaan. Dengan kata statistika deskriptif berfungsi menerangkan
keadaan, gejala, atau persoalan. Penarikan kesimpulan pada statistika
deskriptif (jika ada) hanya ditujukan pada kumpulan data yang ada.
Bambang Suryoatmono (2004:18) menyatakan Statistika deskriptif
adalah statistika yang menggunakan data pada suatu kelompok untuk
menjelaskan atau menarik kesimpulan mengenai kelompok itu saja
Menurut Sugiyono (2004:169) Analisis deskriptif adalah statistik yang
digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan
atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa
bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau
generalisasi.
Jadi dapat disimpulkan analisis deskriptif adalah bagian dari statistik
yang digunakan untuk manggambarkan atau mendeskripsikan data tanpa
bermaksud mengenaralisir atau membuat kesimpulan tapi hanya menjelaskan
kelompok data itu saja.
Data audit umum berbentuk data numerik yang dapat disajikan dalam nilai
tendensi ( mean, Median,Modus ) dan rentang nilai ( Range ). Yg dapat
di analisa dengan Exel maupun program SPSS. Sebelum melakukan analisa
dengan menggunakan tools statistik, terlebih dahulu dilakukan Re-check analisa
penyimpangan untuk memastikan apakah hasil audit menurut asisten audit

22 Komite Keperawatan
sudah benar (yang disebut menyimpang benar-benar menyimpang). Setelah
itu identifikasi karakteristik sampel audit, apakah sampel dapat mewakili
seluruh populasi.
Pengumpulan data dan analisa data menggunakan tools statistik
dilakukan oleh tim asisten (Rekam medik) secara bersamaan. Analisa data
audit klinis dilakukan untuk menghitung tingkat kepatuhan secara umum,
mengidentifikasi pola penyimpangan dan mengidentifikasi penyebab
penyimpangan.
Data audit umum berbentuk data numerik yang dapat disajikan dalam
bentuk tendensi (Mean, median dan modus) dan rentang nilai (Range) yang
kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel atau grafik.
Penyajian data hasil audit bisa dilaksanakan dalam bentuk:
1. Penyajian Data dalam Bentuk Tabel
 Tabel data sederhana..
 Tabel distribusi frekuensi.
2. Penyajian Data dalam Bentuk Diagram
Kerapkali data yang disajikan dalam bentuk tabel sulit untuk
dipahami. Lain halnya jika data tersebut disajikan dalam bentuk diagram
maka Anda akan dapat lebih cepat memahami data itu. Diagram adalah
gambar yang menyajikan data secara visual yang biasanya berasal dari
tabel yang telah dibuat. Meskipun demikian, diagram masih memiliki
kelemahan, yaitu pada umumnya diagram tidak dapat memberikan
gambaran yang lebih detail.
 Diagram Batang
Diagram batang biasanya digunakan untuk menggambarkan
data diskrit (data cacahan). Diagram batang adalah bentuk penyajian
data statistik dalam bentuk batang yang dicatat dalam interval tertentu
pada bidang cartesius. Ada dua jenis diagram batang, yaitu:
1. diagram batang vertikal, dan
2. diagram batang horizontal.
 Diagram Garis
Diagram garis biasanya digunakan untuk menggambarkan data tentang
keadaan yang berkesinambungan (sekumpulan data kontinu). Seperti
halnya diagram batang, diagram garis pun memerlukan sistem sumbu
datar (horizontal) dan sumbu tegak (vertikal) yang saling berpotongan
tegak lurus. Sumbu mendatar biasanya menyatakan jenis data. Adapun
sumbu tegaknya menyatakan frekuensi data.

23 Komite Keperawatan
 Diagram Lingkaran
Untuk mengetahui perbandingan suatu data terhadap keseluruhan,
suatu data lebih tepat disajikan dalam bentuk diagram lingkaran.
Diagram lingkaran adalah bentuk penyajian data statistika dalam
bentuk lingkaran yang dibagi menjadi beberapa juring lingkaran.
b) Quality Tool.
Quality tools dilaksanakan oleh anggota tim audit klinik keperawatan.
Quality tools digunakan untuk menentukan dan menemukan penyebab
gambaran ketidaksesuaian antara kenyataan dengan kriteria standar. Quality
tools yang di gunakan adalah RCA (Root Cause Analysis) , Isikawa (Fish
Bone) atau PDSA (Plan Do Study Action).
Sebagian besar data audit klinis cukup dianalisa dengan menggunakan
statistik deskriptif dan quality tools seperti Root Caused Analysis (RCA)
atau Diagram Tulang Ikan (Ishikawa). Statistik deskriptik digunakan untuk
menggambarkan kesesuaian kriteria dengan kenyataan yang ada, serta
melihat pola ketidaksesuaian. Sementara Quality Tools digunakan untuk
menemukan penyebab gambaran ketidaksesuaian tersebut.
Root Cause Analysis adalah Proses terstruktur yang menggunakan metode
analitik yang dikenal” Memungkinkan kita untuk bertanya “bagaimana” dan
“mengapa” dengan cara yang obyektif untuk mengungkap faktor kausal yang
menyebabkan insiden keselamatan pasien. Belajar bagaimana mencegah
insiden serupa terjadi lagi. Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem
dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.
Tahapan RCA antara lain sebagai berikut:
1) Inisiasi dan rumuskan masalah
Tujuan dan hasil :
• Tersusunnya Tim RCA
• Terumuskannya masalah sesuai laporan insiden
• Pemahaman awal atas masalah untuk persiapan pencarian fakta
dilapangan
Tim Investigasi:
• Telah memahami teknik RCA
• Memiliki cara pandang yang luas dan kredibel
• Berjumlah Tidak lebih dari sembilan orang
• Ekspert / ahli .... Dapat diminta bantuannya kemudian
Perumusan masalah yang lengkap

24 Komite Keperawatan
• Definisikan / rumuskan masalah dan significancy dalam 1 - 2
kalimat.
• Rumuskan masalah menggunakan 4 W 1 H tanpa WHY: WHO -
WHAT - WHERE - WHEN dan HOW
• Sekaligus SIGNIFICANCYnya
• Jangan ASUMSI ataupun BLAMING - karena itu jangan gunakan
WHY
2) Tetapkan critical event / care management problem
Tujuan dan Hasil :
• Memperoleh kejadian yang dianggap kritis (critical evfent)
• Mencari primary effect /critical event

Pengertian PE
• PE adalah setiap akibat yang ingin kita cegah terjadinya
• Penting untuk menentukan arah investigasi
• Bukan suatu hal yang bersifat universal (dapat berbeda untuk setiap
orang)
• Merupakan titik awal untuk bertanya “ why “
• Untuk satu peristiwa bisa terdapat lebih dari satu PE
• Dalam setting RCA:
• PE disebut sebagai “Critical Event”
• Lambang:

CRITICAL
EVENT

• Dalam setting klinis:


• PE disebut sebagai CARE MANAGEMENT PROBLEM (CPM)
3) Tetapkan akar masalah
Tujuan dan Hasil :
Memperoleh akar penyebab timbulnya masalah

25 Komite Keperawatan
Hubungan sebab akibat fundamental :
a. Primary effect
b. Aksi :
– penyebab sementara yang membawa kondisi secara bersama sama
untuk menimbulkan suatu akibat (action causes )
– suatu gerakan atau sesuatu yang aktif
c. Kondisi :
– penyebab yang terdapat sebelum suatu aksi dilakukan
– sesuatu dalam keadaan pasif

Langkah Menyusun Bagan Sebab - Akibat


 Tanyakan “MENGAPA” (why) untuk setiap Primary effect
 Rumuskan setiap penyebab kedalam kategori Aksi dan Kondisi
 Hubungkan setiap penyebab dengan kata2 “disebabkan oleh”
 Dukung setiap penyebab dengan bukti2 (evidences)
4) Tetapkan upaya penanggulangan risiko
5) Uji coba upaya penanggulangan risiko
6) Implementasi upaya penanggulangan risiko

5. Menetapkan perubahan.
Perubahan merupakan landasan tim audit klinik keperawatan untuk
merekomendasikan kepada direktur utama rumah sakit melalui ketua komite
keperawatan. Kriteria perubahan ditetapkan berdasarkan :
a) Perubahan ditujukan pada unit, bagian yang kompeten, yaitu yang terlibat
langsung dalam proses pelayanan kesehatan sesuai topik audit.
b) Perubahan dilaksanakan dalam batas waktu tertentu (Ada dateline).
c) Disusun rencana tindak lanjut (POA) dengan penanggung jawab dan waktu
yang jelas.
d) Tanggung jawab melakukan perubahan ditegaskan dan dikomunikasikan
kepada pihak yang berkepentingan (Tupoksi jelas).
e) Jangka waktu melaksanakan perubahan maksimal tiga bulan. Setelah
pelaksanaan perubahan diberikan masa waktu 3 bulan sebelum dilaksanakan re
audit. Hal ini dimaksudkan agar jumlah sampel yang diharapkan mendekati
jumlah sampel audit.

26 Komite Keperawatan
Tabel 3.8. Rekomendasi dan rencana kerja untuk improvement (RTL)
Akar Masalah Tindakan Tkt Rekomendasi Penanggung Waktu Sumber Bukti Tanda
/Faktor. (individu, Tim, jawab daya yg Penyelesaian Tangan
Direktorat, RS) dibutuhkan
Kontribusi

6. Melakukan Re-Audit.
Re-audit klinik keperawatan dilaksanakan untuk mengetahui apakah telah terjadi
perubahan kualitas asuhan keperawatan setelah dilaksanakan perbaikan sesuai
dengan POA yang sudah ditetapkan. Jumlah sampel, proses dan instrumen re-audit
sama dengan audit klinik keperawatan yang sudah dilaksanakan. Reaudit
digunakan untuk Untuk mengetahui apakah telah terjadi perubahan kualitas asuhan
keperawatan setelah dilaksanakan perbaikan sesuai dengan POA/SIP/RTL yang sudah
ditetapkan. Selain itu re-audit juga bisa digunakan Sebagai bukti empiris keberhasilan
kegiatan perbaikan yang sudah dilaksanakan
Setelah proses re-audit selesai, dilaksanakan uji statistik untuk mengetahui
perbandingan dan perubahan antara hasil audit dengan hasil re-audit. Uji statistik ini
menggunakan soft ware profesional yang mudah digunakan. Analisa uji perbedaan
antara hasil audit dan hasil re-audit di RS................. menggunakan Software SPSS.
Langkah uji sebagai berikut:
a) Uji normalitas data
Uji normalitas data disesuaikan dengan jumlah sampel audit. Jika sampel
kurang dari 50, uji normalitas data menggunakan saphiro wilk. Jika sampel
audit lebih dari 50, maka uji normalitas data yang dipakai adalah kolmogorov
smirnov. Selanjutnya keputusan kenormalan data meliputi:
 Jika p value/sig > 0,05 maka data berdistribusi normal
 Jika p value/sig < 0,05 maka data berdistribusi tidak normal
b) Uji beda
Setelah diketahui distribusi data dari hasil audit dan re-audit, selanjutnya
dilakukan analisis statistik untuk mengetahui pengaruh perbaikan yang telah
dilaksanakan. Jika didapatkan distribusi data tidak normal, maka uji statistik
menggunakan uji statistik non parametrik Saat ditemukan bahwa distribusi data
normal, uji analisa statistik yang di pakai untuk menguji hipotesis adalah uji
Paired Sample T- test. Hasil uji antara lain:
 P value > 0,05 keputusan Uji : Tidak Ada Perbedaan
 P value < 0,05 keputusan Uji : Ada Perbedaan

27 Komite Keperawatan
H. Sistematika Pelaporan Audit Klinik Keperawatan
Sistematika laporan hasil audit klinik keperawatan di RS................. sebagai berikut:
1. Halaman judul.
2. Daftar isi.
3. Isi laporan hasil audit klinik keperawatan.
a) Pendahuluan.
b) Tujuan.
c) Sasaran.
d) Metodologi.
1) Pedoman audit klinik keperawatan.
2) Populasi dan sampel.
e) Hasil dan pembahasan.
1) Umum (pelaksanaan kegiatan)
2) Karakteristik.
3) Tingkat kesesuaian
4) Penyebab ketidaksesuaian.
f) Rencana tindak lanjut / Plan of Action (POA).
g) Pelaksanaan tindakan perbaikan.
h) Hasil re-audit.
i) Kesimpulan dan saran.
4. Daftar pustaka.
I. Alur Pelaporan Audit Klinik Keperawatan
Alur pelaporan dari audit klinik keperawatan antara lain:
1. Tim audit klinik keperawatan.
a) Menyusun laporan hasil audit klinik keperawatan.
b) Menyertakan bukti kegiatan audit klinik keperawatan.
2. Ketua Komite keperawatan
a) Melakukan analisa laporan kegiatan audit klinik keperawatan
b) Merekomendasikan tindakan perbaikan.
c) Melaksanakan feed back hasil audit klinik keperawatan kepada pihak terkait.
3. Direktur utama
Membuat disposisi hasil audit klinik keperawatan kepada yang terkait.

28 Komite Keperawatan
BAB IV
TATA LAKSANA AUDIT STAF KEPERAWATAN

A. Tujuan Audit Staf Keperawatan


1. Meningkatkan mutu profesi keperawatan dan keselamatan pasien di RS.................
2. Mengevaluasi profesionalitas proses asuhan keperawatan di RS.................
3. Mencapai pelayanan keperawatan yang berkualitas di RS.................
4. Untuk mengetahui penerapan standar pelayanan keperawatan di RS.................
5. Menstimulasi pelaporan yang lebih baik terhadap mutu profesi dan pelayanan
keperawatan di RS.................
6. Untuk melakukan rekomendasi perbaikan pelayanan keperawatan sesuai kebutuhan
pasien dan standar pelayanan keperawatan di RS.................

B. Pelaksana Audit Staf Keperawatan


Audit staf keperawatan dilaksanakan oleh sub komite mutu profesi keperawatan dan
sub komite etik dan disiplin profesi keperawatan setelah mendapatkan disposisi dari
ketua komite keperawatan RS..................

C. Sasaran Audit Staf Keperawatan


Sasaran audit staf keperawatan adalah tenaga keperawatan yang mengalami dugaan
pelanggaran dalam melaksanakan tugas profesi baik pelanggaran etik maupun disiplin
profesi.

D. Target Audit Staf Keperawatan


1. Dilaksanakan audit untuk setiap staf keperawatan yang diduga melaksanakan
pelanggaran dalam praktik dengan mengedepankan prinsip No Blaming.
2. Ditemukannya problem solving terhadap setiap kasus keperawatan yang di audit.
3. Meningkatnya kompetensi tenaga keperawatan sesuai area parktik.
4. Meningkatnya budaya kerja tenaga keperawatan sesuai dengan kompetensi dan
standar pelayanan.
5. Meningkatnya budaya asuhan keperawatan sesuai dengan nilai etik dan disiplin
profesi keperawatan.

29 Komite Keperawatan
E. Lingkup Audit Staf Keperawatan.
Tenaga keperawatan profesional harus memenuhi unsur kompetensi yang meliputi
komponen knowledge, attitude, skill dan clinical judgement. Kompetensi perawat
professional harus diimbangi dengan pemahaman dan implementasi dimensi
kompetensi. Dimensi kompetensi keperawatan antara lain task skill, task management
skill, contingency management skill dan environment management skill. Kombinasi
antara unsur dan dimensi kompetensi tersebut akan menghasilkan asuhan keperawatan
yang komprehensif dan holistic. Jika terjadi kesenjangan pada salah satu unsur maupun
dimensi kompetensi tersebut, akan berpotensi terjadinya dugaan pelanggaran etik dan
disiplin profesi keperawatan. Setiap dugaan pelanggaran praktik keperawatan harus
dilaksanakan penatalaksanaan dengan pendekatan manajemen yang sistematis melalui
audit kasus keperawatan. Dengan demikian misi RS................. untuk
menyelenggarakan pelayanan yang paripurna, bermutu kelas dunia, mengutamakan
keselamatan pasien dapat terwujud.

F. Metode Audit Staf Keperawatan


1. Studi kasus
2. Observasi langsung.
3. Interview.
4. Investigasi.
5. Validasi pihak ketiga.

G. Tahapan Audit Staf Keperawatan


Tahapan audit staf keperawatan sebagai berikut
1. Tahap Pengaduan:
a. Merupakan tahap penyampaian laporan/aduan dari Pelapor kepada komite
keperawatan yang diteruskan ke sub komite etik dan disiplin secara tertulis.
b. Pengaduan bisa dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung.
2. Tahap Pendalaman Kasus :
a. Merupakan tahap klarifikasi sebagai Kasus Etik /disiplin profesi oleh sub
komite etik dan disiplin
b. Pendalaman untuk mengklarifikasi keseluruhan materi berkas dan materi
advokasi dari terlapor.
c. Pada tahap pendalaman kasus terlebih dahulu di lakukan identifikasi regulasi
(SPO dan standar pelayanan) sebagai banch mark untuk menentukan alur
kejadian sudah sesuai atau terjadi penyimpangan.

30 Komite Keperawatan
d. Selanjutnya dilakukan pengumpulan data dengan tehnik: Studi kasus, Observasi
langsung, Interview, Investigasi, Validasi pihak ketiga, dll
3. Tahap Persidangan:
a. Merupakan tahap evaluasi atas hasil dari pendalaman dalam Sidang majelis etik
untuk merumuskan rekomendasi yang menjadi dasar pengambilan keputusan
b. Pada tahap ini dilaksanakan analisa mendalam untuk menentukan sumber /
akar masalah dengan analisa fish bone atau RCA (Root cauese analysis)
4. Tahap Keputusan:
a. Merupakan tahap akhir proses penanganan masalah etik atau disiplin berupa
Surat Keputusan yang akan disampaikan ke pelapor dan terlapor.
b. Pada tahap keputusan , akan ditentukan:
1) Jenis pelanggaran
Jenis pelanggaran, sebagai berikut:
a) Unsur kesengajaan ( professional misconducts) melakukan tindakan
dengan tidak benar
b) Kelalaian (Negligence)
Kelalaian adalah segala tindakan yang dilakukan dan dapat melanggar
standar sehingga mengakibatkan cidera atau kerugian orang lain.
Antara lain kelalaian untuk melakukan sesuatu yang seharusnya
dilakukan, melakukan sesuatu secara tidak hati-hati, melakukan
sesuatu yang harusnya dilakukan pada tingkatan keilmuannya tetapi
tidak dilakukan atau melakukan tindakan dibawah standar yang telah
ditentukan.
Bentuk-bentuk dari kelalaian (sampurno 2005):
 Malfeasance yaitu melakukan tindakan yang melanggar hukum
atau tidak tepat/ layak.
Misal: melakukan tindakan keperawatan tanpa indikasi yang
memadai/tepat
 Misfeasance yaitu melakukan pilihan tindakan keperawatan yang
tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat.
Misal: melakukan tindakan keperawatan dengan menyalahi
prosedur
 Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan keperawatan yang
merupakan kewajibannya.
Misal: Pasien seharusnya dipasang pengaman tempat tidur tapi
tidak dilakukan.

31 Komite Keperawatan
Suatu perbuatan atau sikap tenaga kesehatan dianggap lalai, bila
memenuhi empat (4) unsur, sbb:
 Duty atau kewajiban tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan
atau untuk tidak melakukan tindakan tertentu terhadap pasien
tertentu pada situasi dan kondisi tertentu.
 Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban
 Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh
pasien sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan yang
diberikan oleh pemberi pelayanan.
 Direct cause relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata,
dalam hal ini harus terdapat hubungan sebab akibat antara
penyimpangan kewajiban dengan kerugian yang setidaknya
menurunkan “Proximate cause”
2) Kategori pelanggaran
Kategori pelanggaran diklasifikasikan berdasarkan dampak yang terjadi
pada klien, sebagai berikut:
Tabel 4.1. Kategori Pelanggaran Etik dan Disiplin Profesi keperawatan

NO KATEGORI DAMPAK DESKRIPSI


1 Ringan Insignificant • Tidak ada cedera
Minor • Cedera ringan
• Dapat diatasi dengan pertolongan
pertama,
2 Sedang Moderate • Cedera sedang
• Berkurangnya fungsi motorik / sensorik
/ psikologis atau intelektual secara
reversibel dan tidak berhubungan
dengan penyakit yang mendasarinya
• Setiap kasus yang memperpanjang
perawatan
3 Berat Major • Cedera luas / berat
• Kehilangan fungsi utama permanent
(motorik, sensorik, psikologis,
intelektual) / irreversibel, tidak
berhubungan dengan penyakit yang
mendasarinya
Cathastropic • Kematian yang tidak berhubungan
dengan perjalanan penyakit yang
mendasarinya

3) Kompensasi pelanggaran.
Rekomendasi ditetapkan berdasarkan kategori pelanggaran. Keputusan
kompensasi pelanggaran meliputi satu atau lebih dari setiap kategori
pelanggaran sebagai berikut:

32 Komite Keperawatan
Tabel 4.2. Kompensasi Pelanggaran Etik dan Disiplin Profesi keperawatan

NO KATEGORI KOMPENSASI
1 Ringan 1. Peringatan tertulis atasan langsung
2. Kewajiban mengikuti pendidikan berkelanjutan.
3. Limitasi (reduksi) kewenangan klinis (clinical privilege)
4. Proctoring
5. Pencabutan clinical privilege sementara (3 bulan)
2 Sedang 1. Peringatan tertulis dari Komite keperawatan
2. Kewajiban mengikuti pendidikan berkelanjutan.
3. Limitasi (reduksi) kewenangan klinis (clinical privilege)
4. Proctoring
5. Pencabutan clinical privilege sementara (6 bulan)
3 Berat 1. Peringatan tertulis dari direksi
2. Kewajiban mengikuti pendidikan berkelanjutan.
3. Limitasi (reduksi) kewenangan klinis (clinical privilege)
4. Proctoring
5. Pencabutan clinical privilege sementara (12 bulan) atau menetap
6. Pencabutan SIK/ SIPP/ SIPB
7. Pencabutan keanggotaan.

5. Tahap Banding
a. Merupakan tahap pengajuan Surat Naik Banding atas Keputusan direktur utama
oleh Pelapor atau Terlapor
b. Surat ditujukan kepada direktur utama dengan tembusan komite keperawatan
Pada tahap ini juga dilakukan evaluasi ulang terhadap prosesperbaikan yang
telah dilakukan.
Uraian kegiatan audit staf keperawatan meliputi:
1. Ketua komite keperawatan menerima disposisi atau penugasan dari direksi untuk
melaksanakan audit terhadap insiden/kasus keperawatan.
2. Ketua Komite Keperawatan melaksanakan koordinasi dengan sub komite mutu
profesi, sub komite kredensial, sub komite etik dan disiplin, dan seminatan
keperawatan.
3. Sub komite mutu profesi keperawatan menyusun kriteria dan standar audit
insiden/kasus keperawatan.
4. Sub komite mutu profesi keperawatan mengumpulkan dan melaksanakan verifikasi
data yang dibutuhkan.
5. Sub komite mutu profesi keperawatan menyusun jadual audit insiden/kasus
keperawatan.
6. Sub komite mutu profesi keperawatan melaksanakan koordinasi tentang jadual audit
insiden/kasus keperawatan kepada Auditee dan pihak terkait.
7. Sub komite mutu profesi keperawatan melaksanakan audit yang dihadiri oleh
Auditee yang terkait.

33 Komite Keperawatan
8. Sub komite mutu profesi keperawatan melaksanakan analisa data dan merumuskan
masalah.
9. Sub komite mutu profesi keperawatan menentukan Problem solving dan Rencana
Tindak Lanjut.
10. Sub komite mutu profesi keperawatan menyusun laporan kegiatan Audit
Insiden/kasus keperawatan kepada Ketua Komite Keperawatan.
11. Ketua Komite Keperawatan menyusun dan menyampaikan rekomendasi kepada
Direktur Utama berdasarkan hasil Audit Insiden/kasus Keperawatan.

H. Sistematika Pelaporan Audit Staf Keperawatan


Sistematika laporan hasil audit staf keperawatan di RS................. sebagai berikut:
1. Judul audit
2. Sumber komplain
3. Panitia ad hoc audit staf keperawatan
4. Metode audit
5. Jadwal audit
6. Kronologis kasus
7. Analisa masalah
8. Rumusan masalah
9. Jenis pelanggaran
10. Kategori pelanggaran
11. Problem solving dan RTL
12. Kesimpulan
13. Lampiran

I. Alur Pelaporan Audit Staf Keperawatan


Alur pelaporan dari audit staf keperawatan antara lain:
1. Sub komite mutu profesi keperawatan.
a) Menyusun laporan kegiatan Audit Staf Keperawatan.
b) Menyertakan bukti kegiatan Audit Staf Keperawatan.
2. Ketua Komite keperawatan
a) Melakukan analisa laporan kegiatan Audit Staf Keperawatan
b) Membuat laporan kegiatan Audit Staf Keperawatan
c) Merekomendasikan hasil Audit Staf Keperawatan kepada direksi.

BAB V

34 Komite Keperawatan
EVALUASI DAN TINDAK LANJUT

A. Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan yang berupa audit internal dan atau manajemen review.
Audit internal adalah kegiatan untuk menilai apakah pelaksana telah melaksanakan
kegiatan sesuai dengan standar, panduan atau prosedur. Manajemen review adalah
kegiatan manajemen dalam mengevaluasi hasil temuan audit internal dan atau
mengevaluasi kebijakan, standar, panduan, prosedur yang berlaku yang dibuktikan
dengan adanya risalah rapat. Tujuan evaluasi adalah agar PDCA (Plan Do Check
Action) menjadi budaya. Pelaksanaan evaluasi meliputi:
1. Evaluasi pada struktur/ in put.
Evaluasi struktur/ in put meliputi evaluasi struktur, organisasi, kebijakan, standar,
pedoman, panduan, dan lainnya.
2. Evaluasi pada proses.
Evaluasi pada proses meliputi evaluasi pelaksanaan kebijakan, panduan dan
prosedur, evaluasi pelaksanaan kegiatan, dll.
3. Evaluasi pada out put/hasil.
Evaluasi pada out put/hasil meliputi evaluasi prosentase pencapaian program,
evaluasi hasil pemantauan kegiatan, dll.
Dokumen evaluasi sesuai dengan metode evaluasi yang dilakukan, antara lain
sebagai berikut:
1. Evaluasi dengan metode audit internal menggunakan dokumen evaluasi dalam
bentuk laporan audit.
2. Evaluasi dengan metode manajemen review menggunakan dokumen evaluasi dalam
bentuk risalah rapat.

B. Tindak Lanjut
Tindak lanjut adalah kegiatan menyelesaikan penyebab masalah-masalah (akar
penyebab) yang ditemukan pada evaluasi dan dibuktikan dengan adanya dokumen
tindak lanjut. Format baku dari dokumen tindak lanjut belum ada. Dokumen bukti
tindak lanjut menyesuaikan dari hasil evaluasi.
Contoh:
1. Bukti tindak lanjut.
Hasil evaluasi : SPO perlu direvisi.
Dokumen tindak lanjutnya : Hasil revisi SPO.

2. Format laporan evaluasi dan tindak lanjut.

35 Komite Keperawatan
Waktu Hasil Tindak
No Panduan Rekomendasi
Evaluasi Evaluasi lanjut

36 Komite Keperawatan
BAB VI
PENUTUP

Audit Keperawatan adalah upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu


pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan menggunakan rekam medis
dan atau data pendukung lainnya oleh tenaga keperawatan. Audit keperawatan yang
dilaksanakan di RS................. ada dua macam, yaitu:
1. Audit staf keperawatan, adalah audit keperawatan yang dilaksanakan secara insidentil /
sewaktu-waktu kepada staf keperawatan yang melakukan dugaan insiden pelanggaran
etik dan disiplin profesi pada saat memberikan asuhan keperawatan kepada klien.
2. Audit klinik keperawatan, adalah audit keperawatan yang dilaksanakan secara
periodik dan terencana terhadap kualitas dan efektifitas proses asuhan keperawatan
secara global dalam satu institusi pelayanan kesehatan.
3. Audit keperawatan terintegrasi, adalah audit keperawatan yang dilaksanakan bersama
sama dengan seluruh Profesional Pemberi Asuahan (PPA) yang terlibat dalam
pelayanan kesehatan kepada klien.
Audit keperawatan merupakan serangkaian kegiatan yang terdiri dari menentukan topik,
menentukan kriteria dan standar, mengumpulkan data, menganalisa data, menetapkan
perubahan, dan melaksanakan re audit. Rangkaian kegiatan ini di sebut dengan siklus audit
keperawatan. Siklus audit keperawatan harus dilaksanakan secara kontinyu terhadap proses
asuhan keperawatan komprehenship di rumah sakit. Siklus audit ini di harapkan mampu
memotret kualitas mutu profesi dan pelayanan asuhan keperawatan, dengan demikian bisa
dilaksanakan perbaikan.
Semoga panduan audit keperawatan ini bisa memberikan petunjuk untuk terlaksananya
evaluasi mutu profesi keperawatan. Melalui evaluasi mutu profesi keperawatan diharapkan
aplikasi proses keperawatan di RS................. bisa dilaksanakan dengan optimal dan
senantiasa berlandaskan pada nilai rumah sakit yang meliputi kepercayaan, integritas,
peduli, profesional, efisien dan kebersamaan. Dengan demikian mutu profesi dan kualitas
pelayanan keperawatan bisa optimal dan misi RS................. untuk menyelenggarakan
pelayanan yang paripurna, bermutu kelas dunia, mengutamakan keselamatan pasien dapat
terwujud.

37 Komite Keperawatan
DAFTAR PUSTAKA

_____. 2013. Pedoman Kredensial Keperawatan. Semarang: RSUP Dr. Kariadi.

BP3I. 2017. Panduan Komite Keperawatan Dalam Pelaksanaan Sub Komite Mutu Profesi
Di Rumah Sakit. Jakarta: BP3I. DPP PPNI.

Dahlan, M.S.2014. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Deskriptif, Bivariat dan
Multivariat Dilengkapi Aplikasi menggunakan SPSS. Edisi 6. Jakarta: Epidemiologi
Indonesia.

Darmawan,Hardi,dkk. 2009. Menuju Pelayanan Kesehatan yang aman. Yogyakarta:


Kanisius.

Djasri, Hanevi.2014. Audit Keperawatan. Modul Pelatihan. Surakarta: RSUD Dr.


Moewardi.

DPP.PPNI. 2017. Pedoman Penyelesaian Sengketa Etik Keperawatan. Jakarta: DPP.PPNI.

Hariyati, Rr. Tutik. S. 2018. Kredensial Dan Rekredensial Keperawatan Sesuai SNARS.
Jakarta: KARS

JCI. 2017. Root Cause Analysis in Health Care: Tools and Techniques. Joint Commission
Resources.

KARS. 2012. Panduan Penyusunan Dokumen Akreditasi. KARS. Di akses di


lamongankab.go.id/wp-content/uploads/sites/41/2015/04/Buku-PANDUAN-
PENYUSUNAN-DOKUMEN-AKREDITASI-2012.pdf pada tangal 2 Oktober
2018.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia No. 49 Tentang Komite Keperawatan Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.

Kurniadi, Anwar. 2013. Manajemen Keperawatan dan Prospektifnya. Jakarta: Badan


Penerbit FKUI.

Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.


Pedoman skripsi, tesis, dan instrument penelitian keperawatan Edisi.2.Jakarta:
Salemba Medika.

Pohan, Imbalo. S. 2007. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan: Dasar-Dasar pengertian dan
Penerapan. Jakarta: EGC.

Permenkes No 1691. Tahun 2011. Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.

Undang-Undang No.38. Tahun 2014 Tentang Keperawatan.

38 Komite Keperawatan
Lampiran 1

LOGO RS

LAPORAN HASIL
AUDIT KEPERAWATAN

JUDUL AUDIT KEPERAWATAN


…………………………………………………………

Disusun untuk meningkatkan mutu profesi dan pelayanan asuhan keperawatan

Disusun Oleh:

Tim Ad Hoc Audit Keperawatan RS………………………………….

KOMITE KEPERAWATAN
RS……………………………………………….
20………….

39 Komite Keperawatan
LAPORAN HASIL AUDIT KEPERAWATAN

I. PENDAHULUAN
[masukan penjelasan singkat tentang topik audit dan data epidemiologi internasional,
nasional dan level RS]
[masukkan ketersediaan clinical guidelines (atau sumber daya yang telah tersedia)dan
masalah yang ada terkait dengan tingkat kesesuaian/kesesuaian terhadap guidelines]
[masukan tujuan dan sasaran audit]
.

II. TUJUAN UMUM


Meningkatkan ………………………………………………………………………...

III. TUJUAN KHUSUS


1. Mengetahui kesesuaian ………………………………………………………….
2. Memberikan rekomendasi untuk meningkatkan ………………………………
3. Memberikan rekomendasi untuk …………………………………………….

IV. SASARAN
1. Untuk meyakinkan bahwa ………………………………………………………..
2. Untuk meyakinkan bahwa ………………………………………………………..
3. Dst.

V. GRADING TOPIK AUDIT


Pemilihan topik audit dilaksanakan dengan grading. Grading topik audit ini sebagai
berikut:
Tabel 1. Grading Topik Pemilihan Audit Keperawatan
No Topik Risiko Volume Cost Problem Total

Scoring Rata- Scoring Rata- Scoring Rata- Scoring Rata-


rata rata rata rata
1
2
3
4

40 Komite Keperawatan
VI. PELAKSANA
Sub Komite Mutu Profesi Komite Keperawatan RS…………………………..
bersama dengan panitia Adhock audit keperawatan. Susunan panitia audit sebagai
berikut:
Ketua : ………………………………
Sekretaris : …………………………………
Anggota : 1. ……………………………..
2. ……………………………
3. Dst.
VII. POPULASI DAN SAMPEL
1. Populasi
Populasi audit adalah …………………………. Jumlah populasi sebesar
………………….
2. Sampel
Penentuan sampel audit menggunakan metode total sampling, dengan degree
of accuracy 1 % dan degree of confidence 99%. Jumlah sampel yang diperlukan
sebesar ………………………...

VIII. KRITERIA DAN STANDAR AUDIT


Kriteria dan standar yang digunakan dalam audit ini sebagai berikut:
Tabel 2. Kriteria dan Standar Audit

PETUNJUK
PERKE
NO KRITERIA STANDART PENGUMPULAN
CUALIAN
DATA
1
2
3
4
5
6
7
8

41 Komite Keperawatan
IX. JADWAL PELAKSANAAN AUDIT
Tabel 3. Jadwal Pelaksanaan Audit

NO KEGIATAN TANGGAL PELAKSANAAN

1. Menentukan Kriteria dan


Standar
2. Pengumpulan Data
3. Analisis Data Kuantitatif
4. Analisis Data Kualitatif
5. Penyusunan laporan

X. ANGGARAN KEGIATAN
Semua pembiayaan kegiatan audit keperawatan ini menggunakan pembiayaan
anggaran RS………………... Anggaran kegiatan sebagai berikut:
Tabel 4. Anggaran Biaya Audit
NO KEGIATAN BIAYA

1 Kesekretariatan Rp. …………………

2 Pengumpulan data: ………………………. Rp. ………………

3 Pengolahan data (analisa kuantitatif dan kualitatif) Rp. ………………..

5 Rapat-rapat: ………………………….. Rp. ………………….

Total Rp. …………………

XI. ANALISA HASIL AUDIT


a. Analisa Kuantitatif
1. Distribusi frekuensi variabel
a) Pendidikan Formal
Diagram 1. …………………….RS…………….. Tahun 2018 (n:
………..)

b) Jabatan
Diagram 2. Distribusi Frekuensi Variabel
……………..RS…………….Tahun 2018 (n: …………..)

42 Komite Keperawatan
2. Tingkat kesesuaian
Tingkat kesesuaian ……………………….sebagai berikut:
Tabel 6. Tingkat Kesesuaian Dengan Standart

KESESUAIAN
NO KRITERIA
(%)

K1
K2
K3
K4
K5
K6
K7
K8

Selanjutnya untuk kriteria audit dengan nilai prosentase


……………… % akan dilaksanakan analisa mendalam secara kualitatif
untuk menentukan akar masalah dan problem solving.

b. Analisa Kualitatif
Analisa kualitatif menggunakan metode Root Cause Analysis (RCA) terlampir.

XII. PENYEBAB KETIDAKSESUAIAN TERHADAP STANDART


Berdasarkan hasil diskusi,Tim Ad-Hoc menggunakan alat bantu Root Cause
Analysis (RCA) berhasil diidentifikasi penyebab ketidaksesuaian terhadap standar.
Penyebab ketidaksesuaian tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 7. Penyebab Ketidaksesuaian Terhadap Standart

PENYEBAB KETIDAKSESUAIAN
NO KRITERIA
(AKAR MASALAH)

43 Komite Keperawatan
XIII. REKOMENDASI PENYELESAIAN MASALAH
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut diatas, maka Tim Ad-Hoc
mengusulkan untuk melakukan tindak lanjut penyelesaian masalah. Rencana
tindak lanjut secara detail dapat dilihat pada.Tabel.8

44 Komite Keperawatan
Tabel 8. Rekomendasi Penyelesaian Masalah Dalam Audit ………………………….Di Area Praktik Keperawatan ……………………………………..

NO AKAR MASALAH TINDAKAN PERBAIKAN PIC TARGET WAKTU BUKTI PELAKSANAAN SUMBER DANA

45 Komite Keperawatan
XIV. PENUTUP
Demikian laporan hasil audit keperawatan ini kami susun. Semoga laporan ini
bisa memberikan manfaat bagi peningkatan mutu profesi dan pelayanan asuhan
keperawatan di RS…………………... Saran dan kritik yang membangun dari semua
pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaan laporan audit ini.

Mengetahui Semarang, ………….. 2018

Ketua Komite Keperawatan Ketua


RSUP DrKariadi Semarang Panitia Ad Hoc Audit Keperawatan

……………………..
…………………….. NIP. ………………………
NIP. ………………………

46 Komite Keperawatan
Lampiran 2

LAPORAN AUDIT STAF KEPERAWATAN


KOMITE KEPERAWATAN ……………………………………….
No: …………………………………

A. JUDUL AUDIT
Audit etik dan disiplin profesi tenaga keperawatan “……………………............................”.

B. SUMBER KOMPLAIN
Audit staf keperawatan ini dilaksanakan berdasarkan
…………………………………………………………………………………………………
C. PANITIA AD HOC AUDIT
Panitia Ad Hoc audit terdiri dari:

D. METODE AUDIT
Audit kasus dilaksanakan dengan metode:
1. Studi kasus
2. Observasi langsung
3. Interview
4. Investigasi
5. Validasi pihak ketiga
E. JADWAL AUDIT
NO KEGIATAN PELAKSANAAN
1 Pembentukan Panitia Ad Hoc audit Tgl...............................
2 Menentukan kriteria dan standart
3 Pengumpulan data
4 Investigasi
5 Analisa dan rumusan masalah
6 Problem solving dan RTL
7 Laporan audit kepada ketua komite keperawatan

F. KASUS
1. Subjek :
2. Tenaga yang terlibat :
a) Ns. ……………….
b) Ns. ...... dst

47 Komite Keperawatan
48 Komite Keperawatan
3. Kronologi kasus :
HARI/TGL JAM KRONOLOGI KEJADIAN PETUGAS

G. ANALISA MASALAH
Analisa masalah dalam audit staf keperawatan ini menggunakan metode : PDSA / RCA/ Fish Bone

H. HASIL AUDIT

NO CORE MANAGEMENT PROBLEM ROOT CAUSE DAMPAK PADA PASIEN DAN


KELUARGA
1

49 Komite Keperawatan
I. JENIS PELANGGARAN
1. Pelanggaran
a) Unsur kesengajaan
b) Kelalaian
 Malfeasance
 Misfeasance
 Nonfeasance
2. Bukan merupakan pelanggaran

Keterangan:
1. Malfeasance, yaitu melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat / layak (Melakukan tindakan keperawatan tanpa indikasi yang
memadai/tepat)
2. Misfeasance, yaitu melakukan pilihan tindakan keperawatan yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat (Melakukan tindakan keperawatan
dengan menyalahi prosedur).
3. Nonfeasance, yaitu tidak melakukan tindakan keperawatan yang merupakan kewajibannya.

50 Komite Keperawatan
J. KATEGORI PELANGGARAN

NO DESKRIPSI DAMPAK PADA PASIEN KATEGORI

1 Insignificant
RINGAN
2 Minor

3 Moderate SEDANG

4 Major
BERAT
5 Cathastropic

51 Komite Keperawatan
K. PROBLEM SOLVING DAN RTL

TENAGA KEPERAWATAN YANG


TARGET BUKTI
NO AKAR MASALAH TINDAKAN PERBAIKAN PIC TERLIBAT
WAKTU PELAKSANAAN
MENTOR MENTEE

52 Komite Keperawatan
L. PENUTUP

Demikian hasil Audit etik dan disiplin profesi tenaga keperawatan “Pasien di
marahi oleh petugas di...............................”. Semoga hasil audit keperawatan ini
bisa bermanfaat bagi pengembangan mutu profesi dan pelayanan keperawatan di
RS ................................ Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan
demi kesempurnaan proses audit klinik keperawatan yang kami laksanakan.

Semarang, ..................................
Sub Komite Mutu Profesi
Keperawatan
RS………………………………..

....................................
NIP.