Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Umum

Indonesia ialah salah satu negara dengan iklim tropis. Sebagai salah satu
kawasan yang dilewati oleh garis ekuator, Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim
hujan dan kemarau. Namun dengan semakin maraknya konversi tutupan lahan dari
hutan menjadi lahan non-hutan menyebabkan semakin tingginya debit air saat musim
hujan. Tingginya debit aliran sungai pada musim hujan menyebabkan terjadinya
fenomena banjir yang dapat menyebabkan kerugian materiil, bahkan dapat
menyebabkan korban jiwa. Sedangkan saat musim kemarau, rendahnya debit aliran
sungai menyebabkan ketidakmampuan sungai untuk menyediakan air yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat.
Maka dibutuhkan usaha konservasi air dalam penanganan banjir dan
kekeringan dalam perubahan musim di Indonesia. Usaha itu dapat dilakukan secara
struktural maupun nonstruktural. Konservasi air secara nonstruktural dapat dilakukan
dengan memperbaiki tata guna lahan di DAS lokasi yang ingin dilakukan konservasi,
atau penyuluhan terhadap sebab-sebab banjir atau kekeringan yang terjadi di lokasi
tersebut. Sedangkan konservasi secara struktural dapat dilakukan dengan membangun
beberapa bangunan air. Terdapat beberapa jenis yang memiliki kegunaan masing-
masing. Berikut jenis-jenis bangunan air yang biasa dibangun di Indonesia, yaitu :

1. Bendungan
2. Bendung
3. Embung
4. Checkdam
5. Talang
6. Tanggul Sungai
7. Tanggul Laut (Seawall)
8. Sabodam, dll

1
Selain 8 jenis bangunan air, masih banyak jenis bangunan air yang telah
dikembangkan. Dalam perencanaan bangunan, setiap jenis bangunan air pada dasarnya
harus dihitung stabilitas bangunannya, hal ini dilakukan guna mememastikan
kemananan desainnya.
Selanjutnya dalam mata kuliah Stabilitas Bangunan Air, mahasiswa diminta
untuk menjelaskan mengenai salah satu bangunan air beserta contoh perhitungan
stabilitasnya. Dari hasil pengundian, ditetapkan Tanggul untuk menjadi topik laporan
ini.

1.2. Definisi, Kegunaan, dan Jenis Tanggul


1.2.1. Definisi Tanggul

Menurut (Sosrodarsono & Takeda, 1977), tanggul merupakan bendungan urugan


homogen. Hal ini disebabkan tubuh tanggul tersusun atas tanah yang cenderung
homogen atau sejenis dengan susunan ukuran butiran tanah yang cenderung seragam.
Tanggul termasuk ke dalam tipe bendungan urugan homogen, hal ini disebabkan
tanggul memiliki fungsi dan bentuk yang hamper sama dengan bendungan. Tanggul
dibangun untuk melindungi kawasan irigasi dari banjir yang diakibatkan oleh sungai
atau pembuang yang besar atau laut.
Tanggul merupakan salah satu bangunan air yang memiliki fungsi utama untuk
mencegah tingginya debit air pada kawasan hilir maupun hulu. Pembuatan tanggul ini
merupakan salah satu bentuk usaha untuk konservasi tanah dan air. Hal ini, disebabkan
tanggul dapat mengatasi atau mecegah banjir maupun kekeringan dengan cara
menampung sementara air yang mengalir melewati sungai.

1.2.2. Fungsi Tanggul

Seperti yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya, selain memiliki fungsi
untuk menampung air sementara, tanggul memiliki fungsi proteksi, yaitu melindungi
daerah hilir dan hulu suatu kawasan dari banjir atau debit air yang tinggi.
Berdasarkan KP 04 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia, kegunaan
tanggul adalah tanggul dipakai untuk melindungi daerah irigasi dari banjir yang

2
disebabkan oleh sungai (tanggul sungai), pembuangan yang besar, atau laut (tanggul
laut/seawall). Lebih rincinya, berdasarkan USAC (2013) menyebutkan bahwa sebuah
tanggul memiliki tiga fungsi utama, diantaranya yaitu untuk menghindari terjadinya
banjir pada suatu kawasan dengan membendung air untuk sementara dan menjaga
ketinggian permukaan air hingga ketinggian tertentu. Menyalurkan debit banjir pada
kawasan hilir untuk menghindari terjadinya banjir pada kawasan hulu, dan berfungsi
sebagai control release dengan mengatur debit air yang keluar dari tanggul dan
menghindari terjadinya banjir pada kawasan hilir (USAC, 2013).
Sedangkan menurut Barid & Yacob (2007), tanggul berguna untuk
memperlancar aliran sungai dan merubah bantaran sungai menjadi lahan pemukiman.
Selain itu, tanggul memiliki fungsi untuk memperlancar aliran sungai dan mengurangi
resiko banjir akibat aliran volume berlebih dalam jangka waktu yang pendek pada
daerah hilir dari suatu tanggul.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai penahan banjir, tubuh tanggul harus
memiliki tinggi jagaan minimal dari muka air banjir. Berikut bagian-bagian tubuh
tanggul yang harus diperhatikan berdasarkan DPU (1986) :

a. Tinggi Tanggul (Hd)

Tinggi tanggul diartikan sebagai perbedaan tinggi tegak antara puncak dan bagian dasar
dari pondasi tanggul.

b. Tinggi jagaan (Hf)

Tinggi jagaan ialah perbedaan ketinggian antara elevasi mercu tanggul dengan elevasi
permukaan maksimum rencana air.

c. Kemiringan Lereng (Talud)

Kemiringan lereng ialah perbandingan antara panjang garis horizontal yang melewati
tumit masing-masing lereng dan panjang garis vertikal yang melalui puncak.

Terdapat parameter yang harus dipenuhi untuk menentukan kemiringan lereng,


yaitu yang menyangkut dengan material penyusun tanggul.

3
Tabel 1.1 Parameter kemiringan lereng
Kemiringan Lereng
Material Urugan Material Utama Vertikal : Horizontal
Hulu Hilir
CH, CL, SC,
Urugan Homogen 1:3 1 : 2.25
GC, GM, SM
Urugan Majemuk
a. Urugan batu dengan
Pecahan batu 1 : 1.50 1 : 1.25
inti lempung atau
dinding diafragma
b. Kerikil dengan inti
lempung atau Kerikil 1 : 2.50 1 : 1.75
dinding diafragma
Sumber : Sosrodarsono & Takeda

Gambar 1.1 Bagian-bagian Tanggul


Sumber: KP 04 Irigasi

2. Jenis-jenis Tanggul

Berdasarkan implementasinya menurut TYGRON (2018), tanggul dibagi menjadi tiga,


diantaranya:

a. Tanggul Perlindungan Banjir Sungai

4
Tipe tanggul ini bertujuan untuk menghindari terjadinya banjir di kawasan hilir dan
hulu.

Gambar 1.2 tanggul sungai/danau

b. Tanggul Perlindungan Banjir Laut

Tipe tanggul ini berfungsi untuk menghindari terjadinya banjir di kawasan pantai.
Selain berfungsi untuk menghindari terjadinya banjir, tanggul ini bisa digunakan untuk
memperluas lahan yang sebelumnya tergenang oleh air laut.

Gambar 1.3 Tanggul Laut

5
c. Spur Dikes

Tipe tanggul ini berfungsi untuk mencegah terjadinya fenomena erosi. Tanggul ini
secara umum dibangun di kawasan sempadan sungai atau sempadan laut.

Gambar 1.4 Spur dike di laut/pantai

Gambar 1.5 Spur dike di sungai

6
1.3. Stabilitas Bangunan Air

Dalam perencanaan tanggul, tanggul didesain harus mampu menanggung beban


sesuai fungsinya, yaitu menahan banjir di daerah irigasi atau penduduk. Maka dari itu,
kekuatan dan keamanan tanggul harus benar-benar diselidiki dan direncanakan baik
baik. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas tanggul menurut USAC
(2013):

a. Erosi

Erosi dapat menyebabkan awal terjadinya ketidakstabilan dengan pembentukan


lubang atau terbawanya material tanggul di bagian dasar tanggul

b. Aktifitas Seismik

Gaya seismik, baik vertikal maupun lateral dapat menyebabkan ketidak stabilan
suatu tanggul. Gaya seismik yang menginduksi terjadinya luquifikasi dapat
menyebabkan kegagalan struktur fondasi dari tanggul maupun struktur tanggul itu
sendiri.

c. Tekanan Air/hidrostatis

Saat material tanggul menjadi tersaturasi oleh air akibat tingginya debit air dan
air yang tersimpan di material tanggul tidak terdrainase ketika debit air menurun dapat
menyebabkan meningkatnya berat tanggul dan menyebabkan terjadinya kegagalan
kestabilan suatu tanggul.

d. Rembesan

Salah satu fenomena yang sering terjadi pada bendungan air tipe urugan, salah
satunya tanggul ialah terjadinya rembesan pada bendungan tersebut. Rembesan pada
tubuh tanggul dapat menyebabkan terangkutnya material-material halus. Terangkutnya
material-material ini menyebabkan erosi bawah tanah (piping). Fenomena piping
dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan turunnya tahanan aliran dan
naiknya gradien hidrolis. Pengurangan tahanan aliran akan secara berangsur-angsur

7
turun, sehingga aliran dalam tubuh tanggul akan membesar dan mengakibatkan erosi
butiran yang lebih besar lagi. Secara berangsur-angsur, hal ini dapat menyebabkan
keruntuhan pada bangunan akibat dari terbentuknya pipa-pipa di bawah tanah.

e. Aktifitas hewan

Selain disebabkan oleh rembesan, piping juga dapat disebabkan oleh aktivitas
hewan yang cenderung untuk menggali lubang pada badan tanggul yang dapat
menyebabkan ketidakstabilan suatu tanggul. Penggalian lubang ini dapat mengurangi
kekuatan mekanis dari bendungan. Selain itu, faktor-faktor gaya yang mempengaruhi
stabilitas tanggul diantaranya gaya aktif dan pasif, daya dukung tanah dan gaya angkat.

1.3.1. Perhitungan Stabilitas Tanggul

a. Gaya Aktif dan Pasif


Untuk menghitung stabilitas bangunan, maka kita perlu memperhatikan gaya-
gaya yang bekerja pada bagunan dalam hal ini berupa dinding penahan. Selain gaya
yang ditimbulkan oleh bangunan itu sendiri, adapun gaya-gaya lateral yang bekerja
pada bangunan yang diakibatkan tekanan tanah maupun air. Untuk menghitung gaya-
gaya tersebut maka harus didapatkan koefisien tanah berupa koefisien tanah aktif (Ka)
maupun koefisien tanah pasif (Kp), yang dirumuskan sebagai beikut
(Sosrodarsono,2000:40):

Ka = tan2 (45 − 2)

dan

Kp = tan2 (45 + 2) atau Kp = 1/Ka

dengan:
Ka = koefisien tanah aktif
Kp = koefisien tanah pasif
∅ = Sudut geser tanah
Setelah mendapat nilai koefisien untuk tekanan tanah, maka langkah
selanjutnya adalah menghitung tekanan tanah itu sendiri, pada perhitungan ini

8
digunakan rumusan Rankine sebagai berikut (Sosrodarsono,2000:40):
Pa = 0,5H2Ka γ
dan
Pp = 0,5H2 γKp
dengan:
Pa = Tekanan aktif tanah
Pp = Tekanan pasif tanah
H = tinggi tanah yang bersinggungan dengan bangunan
γ = berat jenis tanah

b. Stabilitas Terhadap Pergeseran


Setelah menghitung semua gaya yang bekerja pada bangunan maka kita dapat
menghitung stabilitas geser dengan rumus berikut (Sosrodarsono,2000:42):
𝑓∑𝑉
FS = ∑𝐻
>1,5

dengan:
FS atau SF : safety factor geser
f : koefisien untuk kontak bahan
ΣV : gaya vertikal total yang bekerja pada bangunan
ΣH : gaya horizontal total yang bekerja pada bangunan

c. Stabilitas Terhadap Guling


Dalam menghitung stabilitas guling maka variable yang diperhatikan antara
lain adalah momen-momen yang bekerja pada bangunan, dan dapat dihitung sebagai
berikut (Sosrodarsono, 2000:42):

∑ 𝑀𝑉
FS = ∑ 𝑀𝐻
>1,5

dengan:

9
FS atau SF : safety factor guling
ΣMV : Momen total akibat gaya vertikal yang bekerja pada bangunan
ΣMH : Momen total akibat gaya horizontal yang bekerja pada bangunan

d. Stabilitas Terhadap Gaya Angkat (Uplift Pressure)


Bangunan air mendapatkan tekanan air bukan hanya pada permukaan luarnya
saja, tetapi juga pada dasarnya dan dalam tubuh bangunan itu. Gaya angkat (uplift
pressure) adalah istilah umum untuk tekanan air dalam yang menyebabkan
berkurangnya berat efektif bangunan diatasnya. Persamaan yang digunakan (Standart
Perencanaan Irigasi KP-02, 2013) yaitu:
∆𝐻
Px = 𝐻𝑥 − (𝐿 × )
∆𝑋

Dimana:
Px = uplift pressure (tekanan air dalam) pada titik X (T/m²)
Lx = jarak jalur rembesan pada titik x (m)
L = panjang total jalur rembesan (m)
ΔH = beda tinggi energi (m)
Hx = tinggi energi di hulu bending

e. Stabilitas Terhadap Longsor


Pada bangunan air yang terbuat dari urugan dan memiliki kemiringan lereng,
maka harus dipastikan bahwa lereng aman terhadap bahaya kelongsoran. Faktor
keamanan dari kemungkinan terjadinya longsoran dapat diperoleh dengan
menggunakan rumus keseimbangan jika bidang luncur bundar dibagi dalam beberapa
irisan vertikal. Dapat dirumuskan sebagai berikut :

∑{C.l+(N−U−Ne ) tan ∅}
Fs = ∑(T−Te )

∑ C.l+∑{𝛾𝐴(cos 𝛼−𝑒 sin 𝛼)−𝑉} tan ∅


= ∑ γA(sin 𝛼+𝑒 cos 𝛼)

10
di mana :
Fs = faktor keamanan
N = beban komponen vertikal yang timbul dari berat setiap irisan bidang luncur
(= γAcosα )
T = beban komponen tangensial yang timbul dari berat setiap irisan bidang
luncur (= γAsinα )
U = tekanan air pori yang bekerja pada setiap irisan bidang luncur
Ne = komponen vertikal beban seismis yang bekerja pada setiap irisan bidang
luncur (= eγAsinα )
Te = komponen tangensial beban seismis yang bekerja pada setiap irisan bidang
luncur (= eγAcosα )
∅ = sudut gesekan dalam bahan yang membentuk dasar setiap irisan bidang
luncur
C = angka kohesi bahan yang membentuk dasar setiap irisan bidang luncur
Z = lebar setiap irisan bidang luncur
e = intensitas seismis horisontal
γ = berat isi dari setiap bahan pembentuk irisan bidang luncur
A = luas dari setiap bahan pembentuk irisan bidang luncur
α = sudut kemiringan rata-rata dasar setiap irisan bidang luncur
V = tekanan air pori

11
Gambar 1.6 Cara Menentukan Harga N dan T.

Prosedur perhitungan metode irisan bidang luncur bundar :

a. Andaikan bidang luncur bundar dibagi menjadi beberapa irisan vertikal dan

walaupun bukan merupakan persyaratan yang mutlak, biasanya setiap irisan

lebarnya dibuat sama. Disarankan agar irisan bidang luncur tersebut dapat melintasi

perbatasan dari dua buah zona penimbunan atau supaya memotong garis depresi

aliran filtrasi.

b. Gaya-gaya yang bekerja pada setiap irisan adalah sebagai berikut :

(1) Berat irisan (W), dihitung berdasarkan hasil perkalian antara luas irisan (A)

dengan berat isi bahan pembentuk irisan (γ), jadi W = A.γ

(2) Beban berat komponen vertikal yang bekerja pada dasar irisan (N) dapat

diperoleh dari hasil perkalian antara berat irisan (W) dengan cosinus sudut

rata-rata tumpuan (α) pada dasar irisan yang bersangkutan jadi N = W.cos α

12
(3) Beban dari tekanan hidrostatis yang bekerja pada dasar irisan (U) dapat

diperoleh dari hasil perkalian antara panjang dasar irisan (b) dengan tekanan

air rata-rata (U/cosα) pada dasar irisan tersebut, jadi U = U.b/cosα

(4) Beban berat komponen tangensial (T) diperoleh dari hasil perkalian antara

berat irisan (W) dengan sinus sudut rata-rata tumpuan dasar irisan tersebut jadi

T = Wsinα

(5) Kekuatan tahanan kohesi terhadap gejala peluncuran (C) diperoleh dari hasil

perkalian antara angka kohesi bahan (c’) dengan panjang dasar irisan (b)

dibagi lagi dengan cos α, jadi C = c’.b/cosα

(6) Kekuatan tahanan geseran terhadap gejala peluncuran irisan adalah kekuatan

tahanan geser yang terjadi pada saat irisan akan meluncur meninggalkan

tumpuannya.

c. Kemudian jumlahkan semua kekuatan-kekuatan yang menahan (T) dan gaya-gaya

yang mendorong (S) dari setiap irisan bidang luncur, dimana (T) dan (S) dari

masing-masing irisan dinyatakan sebagai T = W Sin α dan S = C + (N-U) tan φ.

d. Faktor keamanan dari bidang luncur tersebut adalah perbandingan antara jumlah

gaya pendorong dan jumlah gaya penahan yang dirumuskan (dalam Sosrodarsono

dan Takeda, 1989) :

13
Gambar 1.7 Skema Perhitungan Bidang Luncur dalam Kondisi Waduk Penuh Air
(dalam Sosrodarsono dan Takeda, 1989)

f. Stabilitas Embung Terhadap Filtrasi

Baik embung maupun pondasinya diharuskan mampu menahan gaya-gaya yang


ditimbulkan oleh adanya air filtrasi yang mengalir melalui celah-celah antara butiran-
butiran tanah pembentuk tubuh embung dan pondasi tersebut.
Hal tersebut dapat diketahui dengan mendapatkan formasi garis depresi
(seepage flow-net) yang terjadi dalam tubuh dan pondasi embung tersebut. Garis
depresi didapat dengan persamaan parabola bentuk dasar seperti pada gambar di bawah
ini.

Gambar 1.8 Garis Depresi pada Embung Homogen

14
Untuk selanjutnya digunakan persamaan-persamaan berikut (Sosrodarsono dan

Takeda, 1989) :

𝑦 2 − 𝑦0 2
𝑥 =
2𝑦0

𝑦0 = √ℎ2 − 𝑑2 − 𝑑

𝑦 = √2𝑦0 𝑥 + 𝑦0 2

dimana :
h = jarah vertikal antara titik A dan B (m)
d = jarak horisontal antara titik B2 dan A (m)
l1 = jarak horisontal antara titik B dan E (m)
l2 = jarak horisontal antara titik B dan A (m)
A = ujung tumit hilir embung (m)
B = titik perpotongan antara permukaan air waduk dengan lereng hulu
embung (m)

A1 = titik perpotongan antara parabola bentuk besar garis depresi


dengan garis vertikal melalui titik B (m)

B2 = titik yang terletak sejauh 0,3 l1 horisontal ke arah hulu dari titik B
(m)

Akan tetapi garis parabola bentuk dasar (B2-C0-A0) diperoleh dari persamaan

tersebut, bukanlah garis depresi sesungguhnya, masih diperlukan penyesuaian menjadi

garis B-C-A yang merupakan bentuk garis depresi yang sesungguhnya seperti tertera

pada gambar berikut :

15
Gambar 1.9 Garis Depresi pada Embung Homogen (sesuai dengan garis parabola
yang dimodifikasi)

 Pada tititk permulaan, garis depresi berpotongan tegak lurus dengan lereng hulu

embung, dan dengan demikian titik C0 dipindahkan ke titik C sepanjang Δa.

 Panjang garis Δa tergantung dari kemiringan lereng hilir embung, dimana air filtrasi

tersembul keluar yang dapat dihitung dengan rumus berikut :

𝑦0
𝑎 + ∆𝑎 =
1 − cos 𝛼

di mana :
a = jarak AC
Δa = jarak C0 C
α = sudut kemiringan lereng hilir embung

16
BAB II
METODOLOGI DAN DATA PENDUKUNG

2.1 Lokasi Studi

Lokasi tanggul yang direncanakan terdapat di areal tebu petak 61-62-63 Rayon 2,
PT. Perkebunan Nusantara 7 Unit Usaha Bunga Mayang, Kabupaten Lampung Utara,
Provinsi Lampung.

2.2 Pengumpulan Data


2.2.1 Data Teknis Tanggul

Jenis Tanggul = Tanggul Urugan


Debit rencana (Q25) = 1.89 m³/dt
Lebar tanggul = 47 m
Lebar mercu tanggul = 5.0 m
Tinggi tanggul = 8.0 m
Tinggi jagaan tanggul = 1.5 m
Elevasi mercu tanggul = +44.00 m
Elevasi dasar = +36.00 m
Elevasi M.A normal = +42.0 m
Elevasi M.A banjir = +42.5 m
Kemiringan lereng hulu = 1: 3.00
Kemiringan lereng hulu = 1: 2.25

2.2.2 Perhitungan Stabilitas Tanggul

Dalam laporan ini, dipilih tanggul urugan tanah untuk dihitung stabilitasnya.
Berdasarkan KP 04, tanggul yang tingginya diatas 5 m, stabilitasnya harus
diperhitungkan berdasarkan KP 06. Untuk tanggul dengan bahan urugan tanah, hanya
dicari dua nilai stabilitas, yaitu meliputi:

17
a. Stabilitas lereng terhadap longsor. Stabilitas lereng ini dihitung menggunakan
metode bishop.
b. Stabilitas tubuh tanggul terhadap rembesan. Stabilitas rembesan ini dihitung
menggunakan metode flownet.

18
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Umum

Stabilitas lereng tanggul ditinjau dalam tiga keadaan yaitu pada saat air embung
mencapai elevasi penuh, pada saat tanggul baru selesai dibangun dan sebelum dialiri
air dan pada saat air tanggul mengalami penurunan mendadak.

Data teknis:

Tinggi Embung = 8.0 m


Lebar Mercu Embung = 5.0 m
Kemiringan Hulu = 1 : 3.00
Kemiringan Hilir = 1 : 2.25

Tabel 3.1 Kondisi Perencanaan Material Urugan

γ timbunan dalam beberapa


Zone tubuh Kekuatan Geser
kondisi (ton/m3)
embung
C (kg/cm2) Θ kering basah Jenuh

(γd) (γb) (γsat)

Zone kedap air 4,6 38,18 0,91 1,39 1,54

Zone lulus air 0,02 36,36 1,22 1,55 1,77

Metode analisis stabilitas lereng untuk embung tipe tanah urugan (earth fill
type dam) dan timbunan batu (rock fill type dam) didasarkan pada bidang longsor
bentuk lingkaran. Faktor keamanan dari kemungkinan terjadinya longsoran dapat
diperoleh dengan menggunakan rumus keseimbangan sebagai berikut (Suyono
Sosrodarsono, 1981) :

19
{C. l + (N − U − Ne)tanθ}
Fs = ∑
∑(T + Te)

dimana,

Fs = faktor keamanan
N = beban komponen vertikal yang timbul dari berat setiap irisan bidang luncur
  .A.cos 

T = beban komponen tangensial yang timbul dari berat setiap irisan bidang
luncur   .A.sin  
U = tekanan air pori yang bekerja pada setiap irisan bidang luncur
Ne = komponen vertikal beban seismic yang bekerja pada setiap irisan bidang
luncur  e. .A.sin  

Te = komponen tangensial beban seismic yang bekerja pada setiap irisan bidang
luncur  e. .A.cos 
 = sudut gesekan dalam bahan yang membentuk dasar setiap irisan luncur
C = bidang
Angka kohesi bahan yang membentuk dasar setiap irisan bidang luncur
Z = lebar setiap irisan bidang luncur
e = intensitas seismis horisontal
 = berat isi dari setiap bahan pembentuk irisan bidang luncur
A = luas dari setiap bahan pembentuk irisan bidang luncur
 = sudut kemiringan rata-rata dasar setiap irisan bidang luncur

V = tekanan air pori

20
3.2. Stabilitas Tanggul
3.2.1. Stabilitas Tanggul Terhadap Longsor
Stabilitas embung terhadap longsor dilihat pada keadaan 3 kondisi yaitu :

a. Pada saat embung baru selesai dibangun (belum terisi air)

Dalam kondisi ini, stabilitas lereng yang ditinjau adalah lereng sebelah
hulu dan hilir. Tanah timbunan masih mengandung air pada saat proses pemadatan
timbunan. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 3.2 dan Gambar 3.2.

b. Pada saat embung mengalami penurunan air mendadak (Rapid Down)

Dalam kondisi ini, stabilitas lereng yang ditinjau adalah sebelah hulu dan
hilir. Hasil perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 3.3 dan Gambar 3.3.

c. Pada saat air embung mencapai elevasi penuh

Dalam kondisi ini stabilitas lereng yang ditinjau adalah lereng sebelah hulu.
Tanah timbunan masih mengandung air yang sangat lambat merembes keluar dan
masih membasahi timbunan. Hasil perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 3.4 dan
Gambar 3.4

21
22
Gambar 3.1 Metode Irisan Bidang Luncur Kondisi Penurunan Air Tiba-tiba (Rapid down)
Tabel 3.2 Perhitungan Stabilitas Embung Kondisi Embung Selesai Dibangun
Irisan A (m²) γ W (Ton/m) α Sin α Cos α T = W. SinNα= W.Cos α Tg ø Ne = e.W. Te
Sin=αe.W. Cos
U = αu.b / Cos α CL
1 3,582 0,91 3,259 53 0,799 0,602 2,603 1,961 0,786 0,521 0,392 0,0
2 9,373 0,91 8,530 47 0,731 0,682 6,239 5,817 0,786 1,248 1,163 0,0
3 12,485 0,91 11,361 38 0,616 0,788 6,995 8,952 0,786 1,399 1,790 0,0
4 13,362 0,91 12,160 29 0,485 0,875 5,895 10,635 0,786 1,179 2,127 0,0

92,782
5 13,179 0,91 11,993 21 0,358 0,934 4,298 11,197 0,786 0,860 2,239 0,0
6 12,409 0,91 11,292 14 0,242 0,970 2,732 10,957 0,786 0,546 2,191 0,0
7 10,625 0,91 9,669 7 0,122 0,993 1,179 9,596 0,786 0,236 1,919 0,0
8 8,050 0,91 7,325 -8 -0,139 0,990 -1,020 7,254 0,786 -0,204 1,451 0,0
9 4,724 0,91 4,299 -15 -0,259 0,966 -1,112 4,152 0,786 -0,222 0,830 0,0
Jumlah 27,808 70,522 0,786 5,562 14,104 0,0 92,782
{C. l + (N − U − Ne)tanθ}
Fs = ∑
∑(T + Te)

Fs = 2,96 > 1,2 ... AMAN

23
Gambar 3.2 Metode Irisan Bidang Luncur Kondisi Penurunan Air Tiba-tiba (Rapid down)

24
Tabel 3.3 Perhitungan Stabilitas Embung Kondisi Embung Penurunan Air Tiba-tiba (Rapid down)
W N = W.Cos Ne = e.W. Te = e.W. U = u.b /
Irisan A (m²) Γ α Sin α Cos α T = W. Sin α Tg ø CL
(Ton/m) α Sin α Cos α Cos α
1 3,582 0,91 3,259 53 0,799 0 2,603 1,961 0,786 0,521 0,392 0
2 8,042 0,91 7,319 47 0,731 0 5,353 4,991 0,786 1,071 0,998 0
1,343 1,39 1,867 47 0,731 5,145 1,365 1,273 0,786 0,273 0,255 5,145
3 6,216 0,91 5,656 38 0,616 0 3,483 4,457 0,786 0,697 0,891 0
6,269 1,39 8,714 38 0,616 14,66 5,365 6,866 0,786 1,073 1,373 15,662

92,782
4 3,091 0,91 2,812 29 0,485 0 1,363 2,46 0,786 0,273 0,492 0
10,272 1,39 14,278 29 0,485 17,87 6,922 12,487 0,786 1,384 2,497 18,867
5 13,179 1,54 20,296 21 0,358 19,98 7,274 18,949 0,786 1,455 3,79 20,984
6 12,409 1,54 19,109 14 0,242 14,95 4,623 18,542 0,786 0,925 3,708 15,954
7 10,625 1,54 16,363 7 0,122 12,17 1,995 16,24 0,786 0,399 3,248 13,171
8 8,05 1,54 12,397 -8 -0,139 8,689 -1,726 12,277 0,786 -0,345 2,455 8,689
9 4,724 1,54 7,274 -15 -0,259 3,119 -1,883 7,026 0,786 -0,377 1,405 3,119
Jumlah 36,737 107,53 0,786 7,347 21,506 96,6 92,782

{C. l + (N − U − Ne)tanθ}
Fs = ∑
∑(T + Te)
Fs =1,30 > 1,2 ... AMAN

25
Gambar 3.3 Metode Irisan Bidang Luncur Kondisi Air Penuh

26
Tabel 3.4 Perhitungan Stabilitas Embung Kondisi Embung Air Penuh
A W Ne = e.W. Te = e.W. U = u.b /
Irisan Γ α Sin α Cos α T = W. Sin α N = W.Cos α Tg ø CL
(m²) (Ton/m) Sin α Cos α Cos α
1 4,556 0,91 4,146 58 0,848 0,530 3,516 2,197 0,786 0,703 0,439 0,0
2 9,615 0,91 8,749 50 0,766 0,643 6,702 5,624 0,786 1,340 1,125 0,0
1,187 1,39 1,650 50 0,766 0,643 1,264 1,060 0,786 0,253 0,212 3,145
3 9,969 0,91 9,072 37 0,602 0,799 5,460 7,245 0,786 1,092 1,449 0,0
3,879 1,39 5,392 37 0,602 0,799 3,245 4,306 0,786 0,649 0,861 8,662

74,888
4 8,744 0,91 7,957 27 0,454 0,891 3,613 7,090 0,786 0,723 1,418 0,0
4,815 1,39 6,693 27 0,454 0,891 3,038 5,963 0,786 0,608 1,193 10,867
5 8,337 0,91 7,587 17 0,292 0,956 2,218 7,255 0,786 0,444 1,451 0,0
3,931 1,39 5,464 17 0,292 0,956 1,598 5,225 0,786 0,320 1,045 13,984
6 7,695 0,91 7,002 8 0,139 0,990 0,975 6,934 0,786 0,195 1,387 0,000
0,485 1,39 0,674 8 0,139 0,990 0,094 0,667 0,786 0,019 0,133 9,954
7 0,687 0,91 0,625 -10 -0,174 0,985 -0,109 0,616 0,786 -0,022 0,123 0,000
Jumlah 31,613 54,183 0,786 6,323 10,837 46,6 74,888

{C. l + (N − U − Ne)tanθ}
Fs = ∑
∑(T + Te)
Fs =1,40 > 1,2 ... AMAN

27
3.2.2 Stabilitas Terhadap Rembesan
Stabilitas lereng embung terhadap rembesan ditinjau dengan cara sebagai

berikut :

a. Formasi Garis Depresi Tubuh Embung Kondisi Tanpa Chimney

Diketahui data-data sebagai berikut :

h = 6,5 m

L1 = 19,5 m

L2 = 27,5 m

d = 0,3.L1 + L2

= 33,35 m

Persamaan parabola Seepage Line

Yo = √ℎ2 + 𝑑 2 − 𝑑

= √6,52 + 33,352 − 33,35

= 0,63 m

Ao = Yo/2

= 0,63/2

= 0,315 m

Maka, garis parabola bentuk dasar dapat diperoleh dengan persamaan:

Y = √2. 𝑌𝑜. 𝑥 + 𝑌𝑜2

= √2.0,63. 𝑥 + 0,632

= √1,26𝑥 + 0,397

28
Dengan memasukkan nilai-nilai X pada persamaan tersebut, maka diperoleh

nilai kurva Seepage sebagai berikut

Tabel 3.5 Perhitungan Nilai X dan Y

X Y X Y X Y
-0,315 0,01 11 3,78 23 5,42
0 0,63 12 3,94 24 5,54
1 1,29 13 4,10 25 5,65
2 1,71 14 4,25 26 5,76
3 2,04 15 4,39 27 5,87
4 2,33 16 4,53 28 5,97
5 2,59 17 4,67 29 6,08
6 2,82 18 4,80 30 6,18
7 3,04 19 4,93 31 6,28
8 3,24 20 5,06 32 6,38
9 3,43 21 5,18 33 6,48
10 3,61 22 5,30 33,35 6,51
(sumber:perhitungan)

29
Gambar 3.4 Garis Depresi Tubuh Embung Kondisi Tanpa Chimney

30
Permukaan aliran keluar untuk d = 24ᵒ (<30ᵒ), adalah :

𝑑 2 2
𝑎= − √(𝑑⁄cos 𝛼 ) − (ℎ⁄sin 𝛼 )
cos 𝛼
33 ,35 2 2
𝑎= − √(33,35⁄cos 24) − (6,5⁄sin 24)
cos 24
𝑎 = 0,542 m

𝑌𝑜
𝑎 + ∆𝑎 =
1 − cos 𝛼

0,63
0,542 + ∆𝑎 =
1 − cos 24

0,542 + ∆𝑎 = 6,745 m

b. Formasi Garis Depresi Tubuh Embung dengan Drainase Kaki

Diketahui data-data sebagai berikut :

h = 6,5 m

L1 = 19,5 m

L2 = 22,5 m

d = 0,3.L1 + L2

= 28,35 m

Persamaan parabola Seepage Line

Yo = √ℎ2 + 𝑑 2 − 𝑑

= √6,52 + 28,352 − 28,35

= 0,736 m

Ao = Yo/2

31
= 0,736/2

= 0,368 m

Maka, garis parabola bentuk dasar dapat diperoleh dengan persamaan :

Y = √2. 𝑌𝑜. 𝑥 + 𝑌𝑜2

= √2.0736. 𝑥 + 0,7362

= √1,471𝑥 + 0,541

Dengan memasukkan nilai-nilai X pada persamaan tersebut, maka diperoleh

nilai kurva Seepage sebagai berikut

Tabel 3.6 Perhitungan Nilai X dan Y

X Y X Y
0 0,74 15 4,75
1 1,42 16 4,91
2 1,87 17 5,05
3 2,23 18 5,20
4 2,53 19 5,34
5 2,81 20 5,47
6 3,06 21 5,61
7 3,29 22 5,74
8 3,51 23 5,86
9 3,71 24 5,99
10 3,91 25 6,11
11 4,09 26 6,23
12 4,27 27 6,35
13 4,43 28 6,46
14 4,60 28,35 6,50
(sumber:perhitungan)

32
Gambar 3.5 Garis Depresi Tubuh Embung Kondisi Dengan Pondasi Kaki

33
Permukaan aliran keluar untuk d = 124ᵒ (<30ᵒ), adalah :
𝑌𝑜
𝑎 + ∆𝑎 =
1 − cos 𝛼

0,736
𝑎 + ∆𝑎 =
1 − cos 124

𝑎 + ∆𝑎 = 0,57 m

Permukaan aliran keluar, d = 124 (< 30), nilai C (∆a/(a + ∆a) dapat dicari

dengan :

Gambar 3.6 Grafik Hubungan Antara Sudut Bidang Singgung (α)


dengan C

Dari gambar didapatkan nilai C = 0,19, maka dapat diperoleh :

∆a
C=
a + ∆a

∆a
0,19 =
0,57

Maka, Δa = 0,11 m

34
Dengan cara substitusi, maka nilai a = 0,46 m

c. Jaringan Trayektori Aliran Filtrasi (Seepage Flow-net)

Kapasitas aliran filtrasi asumsi Kh = Kv

Dengan menggunakan persamaan jaringan trayektori aliran sebagai

berikut :

Qf = Nf/Ne . k . H . L

dimana,

Qf = kapasitas aliran filtrasi (kapasitas rembesan)

Nf = angka pembagi dari garis trayektori aliran filtrasi

Ne = angka pembagi dari garis equipotensial

K = koefisien filtrasi

H = tinggi tekanan air total

L = panjang profil melintang tubuh embung

Dari data yang ada, didapatkan nilai sebagai berikut :

Nf = 3
Ne = 10
k = 4 x 10 -5 cm/det = 4 x 10-6 m/det
H = 6,5 m L = 47,0 m

Maka debit aliran filtrasi adalah sebagai berikut :

Qf = (3/10) . 6,5 . 47 . 4 x 10-6

35
= 0,0004 m³/det

Syarat Q lebih kecil dari 2% Qinflow rata-rata embung (0,02 x 1,89

= 0,038 m³/det) terpenuhi.

36
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (1986), Kriteria Perencanaan Irigasi (KP-04), Cetakan I, Dirjen Pengairan


Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.
Anonim, (1986), Kriteria Perencanaan Irigasi (KP-06), Cetakan I, Dirjen Pengairan
Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.
Barid, B., & Yacob, M. (2007). Perubahan Kecepatan Aliran Sungai Akibat
Perubahan Pelurusan Sungai. Jurnal Ilmiah Semesta Teknika, Vol. 10, No. 1,
14-20.
Sosrodarsono, & Takeda. (1977). Bendungan Tipe Urugan. Jakarta: Pradya Paramita.

Statistik, B. P. (2018). Statistik Daerah Kota Surakarta 2018. Surakarta: Badan Pusat
Statistik.

TYGRON. (2018, November Senin). http://support.tygron.com/wiki/Dike_Types.


Retrieved from tygron.com: http://support.tygron.com/wiki/Dike_Types

USAC. (2013). The International Levee Handbook. London: CIRIA.

37