Anda di halaman 1dari 1

Tata cara pengangsuran atau penundaan pembayaran pajak adalah sebagai berikut :

WP mengajukan permohonan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat WP
terdaftar untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak yang masih harus dibayar atau
kekurangan utang pajak.

Apabila WP disetujui untuk mengangsur atau menunda pembayaran kecuali STP, WP dikenai sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan, dihitung sejak jatuh tempo pembayaran sampai
dengan pembayaran angsuran/pelunasan, dengan ketentuan bagian dari bulan dihitung penuh 1 bulan.

Permohonan harus diajukan secara tertulis paling lama 9 hari kerja sebelum jatuh tempo pembayaran,
disertai dengan alasan dan bukti yang mendukung permohonan, serta jumlah pembayaran pajak yang
dimohon untuk diangsur, masa angsuran, dan besarnya angsuran, atau jumlah pembayaran pajak yang
dimohon untuk ditunda dan jangka waktu penundaan.

Apabila batas waktu 9 hari tersebut tidak dapat dipenuhi oleh WP karena keadaan di luar kekuasaannya,
permohonan WP masih dapat dipertimbangkan DJP sepanjang WP dapat membuktikan kebenaran
keadaan di luar kekuasaannya tersebut.

Permohonan harus diajukan dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I
PER - 38/PJ/2008.

Wajib Pajak yang mengajukan permohonan, harus memberikan jaminan yang besarnya ditetapkan
berdasarkan pertimbangan Kepala KPP, kecuali apabila Kepala KPP menganggap tidak perlu. Jaminan
dapat berupa garansi bank, surat/dokumen bukti kepemilikan barang bergerak, penanggungan utang
oleh pihak ketiga, sertifikat tanah, atau sertifikat deposito.

WP yang mengajukan permohonan dalam jangka waktu yang melampaui 9 hari kerja sebelum jatuh
tempo, harus memberikan jaminan berupa garansi bank sebesar utang pajak yang dapat dicairkan sesuai
dengan jangka waktu pengangsuran atau penundaan.