Anda di halaman 1dari 3

Kinerja Andalalin, Fasilitas Parkir vs Fasilitas WiFi

Hel Peby
Pemerhati Perencanaan Kota

Kemacetan bukan lagi hanya problem Jakarta atau kota-kota besar lain di Indonesia. Kemacetan
sekarang juga telah menjadi keseharian kota-kota di Sumatera Barat. Meningkatnya pengguna
kendaraan bermotor telah menjadi penyebab utama, ditambah dengan kurangnya daya dukung jalan
terhadap volume lalu-lintas yang ada. Selain itu adanya tarikan/bangkitan lalu-lintas dari pusat-pusat
kegiatan warga kota seperti sekolah, SPBU, pusat perbelanjaan, restoran/café, klinik kesehatan
bersama, maupun objek pariwisata sangat berpengaruh terhadap lancarnya arus kendaraan.

Pada jam-jam jadwal masuk dan pulang sekolah, titik kemacetan banyak ditemui pada sekolah-sekolah
yang berlokasi di pinggir jalan utama. Banyak kendaraan (pribadi maupun umum) yang parkir atau cuma
berhenti sesaat untuk menaikkan dan menurunkan siswa menggunakan bahu; bahkan badan jalan. Di
titik lain, masi ada SPBU yang telah berpuluh tahun di bangun terjebak di tengah kota yang ramai
mengakibatkan antrian kendaraan mengular sepanjang jalan utama. Pusat perbelanjaan seperti di
beberapa supermarket kecil yang ramai dikunjungi warga cuma memiliki ruang parkir kurang dari 10
mobil, atau bahkan sama sekali tidak ada dan mengandalkan parkir pinggir jalan. Coba dibayangkan
kemacetan yang diakibatkan apabila pusat perbelanjaan tersebut berada di persimpangan jalan. Belum
lagi diperparah dengan mulai menjamurnya bisnis makanan baik cafe/warung yang menyediakan WiFi
gratis namun tidak dilengkapi dengan fasilitas parkir yang memadai, yang meminjam jalan untuk parkir
kendaraan pengunjung.

Lokasi lain yang juga harus mendapat perhatian adalah aktifitas beberapa rumah sakit dan klinik
kesehatan bersama yang belum bisa mengakomodasi semua kendaraan pengunjung. Manuver
kendaraan keluar masuk serta melimpahnya parkir kendaraan juga mempersempit lebar efektif jalur lalu
lintas. Hal yang sama juga terjadi pada lokasi objek wisata, dimana panjangnya antrian kendaraan yang
akan memasuki lokasi dengan “tega” nya merebut hak pengguna jalan. Pertanyaannya adalah apakah
kita akan mengabaikan hal ini? Apakah ini akan kita anggap biasa sebagai fenomena yang dapat
diterima?

Dibeberapa tempat memang disediakan fasilitas parkir di badan jalan (on street parking), namun
tentunya tidak bijak jika pengembang dan pemilik fasilitas disekitarnya mengandalkan ruang tersebut
tanpa memperhatikan kecukupan Satuan Ruang Parkir (SRP). Sebenarnya Undang-undang telah
mengamanahkan untuk melakukan Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) untuk setiap pembangunan
dan pengembangan pusat-pusat kegiatan seperti yang telah dijabarkan dalam Peraturan Menteri
Perhubungan RI No.75 tahun 2015 dengan beberapa perubahannya. Namun dalam aturan tersebut
diberikan Kriteria Ukuran Minimal diwajibkannya melakukan Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin).
Ada beberapa pusat kegiatan yang menurut aturan tersebut harusnya telah melakukan Andalalin,
sebagai contoh beberapa sekolah favorit yang lebih dari 500 siswa, SPBU yang lebih dari 1 dispenser,
dan pusat perbelanjaan yang lebih dari 500 meter persegi. Namun kenapa masih terganggunya lalu-
lintas disebabkan pusat-pusat kegiatan tersebut?
Di beberapa pusat kegiatan lainnya, yang memberikan bangkitan lalu lintas yang cukup besar dan
menyebabkan terganggunya arus lalu lintas, ternyata tidak bisa “dipaksakan” untuk melakukan
Andalalin. Misalnya dengan menjamurnya café-café/ tempat makan pinggir jalan yang kurang dari 100
tempat duduk serta adanya klinik bersama yang ramai tapi kurang dari 10 ruang praktek dokter yang
seakan dapat memanfaatkan celah kriteria ukuran minimal, sehingga tidak perlu melakukan Andalalin.
Belum lagi untuk kasus objek wisata/ rekreasi yang tidak tercantum secara explisit dalam Permenhub
mengenai Andalalin tersebut. Untuk kasus-kasus ini, sebenarnya dalam Pedoman Teknis
Penyelenggaraan Parkir oleh Direktorat Jendral Hubungan Darat telah disampaikan hasil studi mengenai
kebutuhan parkir untuk setiap pusat-pusat kegiatan. Dengan menyediakan fasilitas parkir sesuai dengan
podoman teknis tersebut, menata akses masuk serta keluar yang baik, serta menempatkan personel
khusus untuk mengatur masuk-parkir-keluar kendaraan, diharapkan permasalahan kemacetan di lokasi
tempat rekreasi dapat teratasi.

Pada beberapa daerah sebenarnya pelaksanakan Andalalin bahkan di syaratkan dalam pengurusan Izin
Mendirikan Bangunan (IMB) dan Izin Lokasi. Tentunya dengan semangat penyelesaian permasalahan
lalu lintas secara terpadu, penulis rasa kebijakan tersebut cukup bijak. Pasti akan ada saja perdebatan
mengenai kebijakan yang seperti itu, karena kebijakan ini seakan mencederai semangat pemerintah
daerah dalam mempercepat pengurusan perizinan dan pelayanan publik serta kemudahan berusaha/
berinvestasi, namun apakah kita mempertaruhkan kenyamanan warga kota untuk kemudahan perizinan
beberapa orang? Kreatifitas dalam berbirokrasilah nanti yang akan bermain, inovasi yang tanpa henti
untuk menyusun suatu sistem yang menjadi solusi untuk semua (win-win solution).

Kalo kita kembali ke tujuan dari dilakukannya Andalalin, selain memprediksi dampak lalu lintas yang
ditimbulkan, Andalalin dapat menjadi alat untuk menyelaraskan tata guna lahan dengan menajemen
rekayasa lalu lintas. Selain itu yang tidak boleh diabaikan adalah fungsi pengawasan dari Andalalin, yang
dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dalam melakukan monitoring serta dalam mengevaluasi
manajemen lalu lintas. Selain pembangunan, kegiatan pengembangan dari pusat-pusat kegiatan seperti
yang disyaratkan Permenhub juga diwajibkan melakukan Andalalin ulang. Dan yang paling sering
diabaikan adalah pelaksanaan Andalalin untuk bangunan yang mengalami perubahan fungi. Semisal
Bagunan yang dulu berfungsi sebagai rumah warga, disulap menjadi apotik dan klinik bersama, atau
ruko yang dulu berfungsi sebagai toko alat tulis berubah fungsi menjadi restoran tentunya akan
memberikan tarikan kendaraan yang lebih besar dan membutuhkan area parkir yang lebih luas. Dengan
berjalannya fungsi dari pengawasan akan dapat mengidentifikasi permasalahan seperti ini. Fungsi
pengawasan yang dimaksud harus terpadu dengan adanya fungsi Izin Mendirikan Bangunan untuk
renovasi serta Izin usaha yang dilaksanakan Dinas terkait. Keterpaduan antara berbagai bidang urusan
memang lebih rumit, namun bukanlah hal yang mustahil dan sebuah keharusan.

Karena kondisi di jalan raya adalah salah satu penyebab utama dari tingginya stress warga kota. Karena
pembiaran akan menjadi pembiasaan yang menyebabkan sensitifitas kita akan permasalahan menjadi
berkurang. Kita yang dulu merasa terganggu akan kemacetan, karena pembiaran yang terlalu lama, akan
lambat laun berubah menjadi “maklum”. Pemakluman akan mentransformasi sikap berkendara menjadi
lebih oportunis dan memancing konflik antara pengguna jalan. Karena memecahkan kemacetan bukan
sesimple mesin kendaraan, namun serumit fikiran pengemudinya. Apakah yang sebenarnya kita
butuhkan, pusat-pusat kegiatan/ fasilitas publik yang mempunyai fasilitas parkir memadai atau fasilitas
wifi yang lancar? Kita, warga kota yang memilih.