Anda di halaman 1dari 71

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ILMU UKUR WILAYAH

Disusun Oleh
Kelompok 3
Anggota kelompok :

1. Sindy Oktaviana (F14160028)


2. Maria Rosa (F14160035)
3. Muhammad Reza H (F14160039)
4. Gerry Paduka (F14160042)
5. Muhammad Husein Abdul Halim (F14160055)
6. Sanhaji (F14160056)
7. M Syabani S (F14160104)
8. Addin Alfarisi (F14160106)
9. Pradnya Adi N (F14160109)
Hari praktikum : Jumat

Asisten Praktikum
1. Herdi Hermawan (F44150014)
2. M. Farhan Harahap (F44150022)
3. Irlan Dharmawan (F44150068)

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN BIOSISTEM


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunianya, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan
Praktikum Mata Kuliah Ilmu Ukur Wilayah ini. Praktikum Mata Kuliah Ilmu Ukur
Wilayah ini merupakan salah satu matakuliah yang wajib ditempuh di Departemen
Teknik Mesin dan Biosistem IPB . Laporan Praktikum ini disusun sebagai pelengkap
praktikum yang telah dilaksanakan.
Selesainya laporan praktikum ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak.
Untuk itu kami mengucapkan banyak terimakasih kepada
1. Dosen Pembimbing Praktikum
2. Asisten Praktikum.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan ini, baik dari
materi maupun Teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan
pengalaman penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat Kami
harapkan.

Terimakasih.

Bogor, 7 Juli 2018

Penyusun
Kelompok 3

2
DAFTAR ISI

Kata pengantar………………………………………………………………………2
Daftar Isi………………………………………………………………………….…3
Pengenalan Alat Ukur Wilayah……………………………………………………..4
Pengukuran Jarak Horizontal……………………………………………………….9
Pengukuran Sudut Horisontal……………………………………………………….17
Pengukuran Luas…………………………………………………………………….21
Pengukuran Beda Tinggi…………………………………………………………….27
Pengukuran Profil…………………………………………………………………..36
Pemetaan Planimetris……………………………………………………………….44
Pemetaan Topografi Dengan Metode Grid………………………………………….50
Pemetaan Topografi Dengan Metode Controling Point Dan Penggunaan Program
Surfer………………………………………………………………………………58
Penentuan Koordinat Posisi Dengan GPS…………………………………………68

3
PENGENALAN ALAT UKUR WILAYAH
Hari / tanggal : Jumat / 23-02-2018 Asisten :
Lokasi : Segitiga SIL 1. Herdi Hermawan (F44150014)
Cuaca : Cerah 2. M. Farhan Harahap (F44150022)
3. Irlan Dharmawan (F44150068)

PENDAHULUAN
Kemajuan dibidang ilmu dan teknologi yang pesat menyebabkan teknik
pengukuran tanah sangat penting. Pengukuran tanah adalah salah satu seni paling tua
dan terpenting yang dipraktekan manusia khususnya dalam cabang rekayasa (Binker
CR 1996). Dalam melakykan pengukuran tanag, diperlukan alat-alat ukur yang dalam
pengukurannya dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung.
Berdasarkan pekerjaannya, peralatan untuk pengukuran secara langsung adalah
pita ukur, kompas, auto level, dan theodolite. Dalam melakukan pengukuran secara
langsung dibutuhkan alat bantu seperti tripod, target rod, patok, dan lain sebagainya.
Sedangkan pengukuran tak langsung dilaksanakan bila tidak mungkin menempatkan
atau memakai intrumen ukur langsung pada jarak ukur sehingga hasil ukuran
ditentukan oleh hubungannya dengan suatu harga lain yang diketahui (Binker CR
1996).
TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengenal berbagai macam alat ukur wilayah,
serta dapat memahami fungsi dan cara penggunaannya.
ALAT DAN BAHAN
Pada praktikum ini, alat-alat ukur yang digunakan adalah :
1. Pita ukur 7. Planimeter
2. Kompas 8. Traget rod
3. Abney level 9. Patok
4. Tilting level 10. Tripod
5. Auto level 11. Theodolite
6. Plane table
METODE
Pada praktikum ini, metode yang digunakan adalah :
1. Mengambil alat-alat yang akan dilakukan dalam praktikum.
2. Masing-masing kelompok menuju tempat yang berbeda untuk memulai
pengenalan alat-alat ukur wilayah.

4
3. Mendengakan dan mencatat penjelasan dari asisten mengenai masing-masing
alat meliputi: nama, merk, bagian-bagian, fungsi/kegunaan dan cara
penggunaannya.
4. Melakukan pengoprasian sederhana (demonstrasi pengukuran) dengan
didampingi asisten.
5. Melakukan rotasi (pergiliran) pengamatan terhadap alat-alat lain setelah waktu
pengamatan suatu alat yang disediakan selesai.
6. Melakukan pengecekan kelengkapan peralatan bila pengamatan telah selesai
7. Mengembalikan dan menyimpannya kembali ke tempat semula dalam keadaan
baik dan bersih.
PEMBAHASAN
Ilmu ukur tanah adalah ilmu yang diajarkan tentang teknik-teknik pengukuran
di permukaan bumi dan bawah tanah dalam areal yang terbatas untuk keperluan
pemetaan dan lain-lain (Basuki S 2011). Ilmu ukur tanah dan ilmu ukur wilayah
merupakan suatu cabang ilmu yang sama dan penting unruk memahami teknik
pengukuran, pengolahan, dalam penggambaran peta serta pelaksanaan kegiatan
pemetaan (topografi dan peta dasar). Berdasarkan pekerjaannya peralatan yang
digunakan untuk pengukuran wilayah terdiri dari pita ukur, kompas, level (abney level,
tilting level, auto level), theodolite, target rod, patok, tripod, palne table, palimeter, dan
lain sebagainya.
Pada praktikum ini, alat-alat yang digunakan daam melakukan ilmu ukur
wilayah adalah pita ukur, kompas, auto level, theodolite, target rod, patok, dan tripod.
Theodolite merupakan alat ukur tanah yang universal. Selain digunakan untuk
mengukur sudut horizontal dan sudut vertikal, theodolite juga dapat digunakan untuk
mengukur jarak secara optis (Suhendra A 2011). Theodolite juga merupakan generasi
kedua setelah waterpass (Muhamadi 2014). Target rod adalah salah satu alat ukur yang
digunakan sebagai alat bantu dalam mentukan beda tinggi dengan menggunakan sifat
datar (Heinz 19840. kompas adalah sebuah alat yang terdiri atas sebuah jarum baja
bermagnet yang dipasangkan pada sebuah sumbu putar di titik pusat lingkaran
berpembagian skala yang dapat melakukan pengukuran sudut sebuah benda. Pita ukur
adalah salah satu alat yang berfungsi mengukur jarak satu dengan yang lainnya. Patok
adalah suatu tanda batas. Tripod berfungsi sebagai penyangga untuk alat-alat ukur
wilayah seperti level/theodolite. Auto level adalah alat untuk menentukan beda tinggi
pad jarak jauh dengan teliti.
Auto level adalah alat ukur wilayah untuk mengukur beda tinggi antara dua titik
atau lebih dengan gatis bidik mendatar/horizontal yang diarahkan pada rambu-rambu
yang berdiri tegak atau vertical. Auto level terdiri dari tabung nivom teropong dan
skrup penyetel (Basuki S 2011). Tabung nivo adalah tabung gelas tertutup kedua
ujungnya berisi suatu cairan peka dan gelembung udara kecil. Teropong pada auto level
berisi empat bagian utama yaitu lensa objektif, lensa negative, susunan benang silang,
dan okuler. Skrup penyetel mendukung sumbu vertical penopang nico dengan pas,
didukung oleh empat skrup penyetel yang besar-besar yang berada diatas bidang yang

5
dikaitkan dengan bagian yatas kaki tiga (tripod), dalam dua pasang saling tegak lurus.
Teropong ditempat kan bergantian diatas tiap pasangan skrup berlawanan, yag diputar
sehingga gelembung tetap seimbang pada perputaran penuh dari teropong mengelilingi
sumbu vertical yang berarti garis bidik sudah seimbang (Binker RC 1996).
Aplikasi alat ukur wilayah pada teknik pertanian adalah pemetaan wilayah.
Sebagai contoh pada bidang teknik sumber daya alam pertanian mencakup design teras
dan saluran irigasi (Sukirno 1999). Alat yang biasa digunakan untuk penentuan jarak
yang sesuai dengan pemilihan lahan yang sesuai untuk persawahan irigasi adalah
theodolite.
SIMPULAN
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur jarak, diantaranya theodolite,
autolevel, kompas, pita ukur. Sedangkan alat bantu untuk pengukuran adalah target
rod, patok dan tripod. Aplikasi alat ukur wilayah pada teknik pertanian umumnya
digunakan pada pemetaan wilayah untuk persawahan dan irigasi.
SARAN
Sebaiknya pada saat penjelasan dan demonstrasi, asisten praktikum
melakukannya dengan jelas agar praktikan mudah memahami dengan cepat.
DAFTAR PUSTAKA
Basuki S. 2011. Ilmu Ukur Tanah (Edisi Revisi). Yogyakarta (ID): Gadjah Mada
University Press
Binker RC, Wolf PR. 1996. Dasar-Dasar Pengukuran Tanag (Surveying). Wilijatun
D, editor. Jakarta (ID): Erlangga
Heinz F. 1984. Ilmu dan Alat Ukur Tanah. Semarang (ID): Kanisius
Muhamadi M. 2014. Pendidikan dan pelatihan teknis pengukuran dan pemetaan kota
[skirpsi]. Surabaya (ID): Fakultas Teknik Sipil dan Perencangan ITS.
Suhendra A. 2011. Studi perbandingan hasil pengukuran alat theodolite digital dan
manual: studi kasus pemetaan situasi Kampus Kijang. Jurnal Comtech. 2(2):
1013-1022.
Sukirno. 1999. Hendout Ilmu Ukur Wilayah. Yogyakarta (ID): Fakultas Teknologi
UGM

6
LAMPIRAN

Gambar 1 Denah praktikum Gambar 2 Pita ukur

Gambar 3 Tripod Gambar 4 Target rod Gambar 5 Patok

Gambar 6 Kompas Gambar 7 Auto level

7
Gambar 8 Theodolite

Pembagian Tugas :
1. Pradnya : Memikul tripod
2. Sya’bani : Memegang target rod
3. Reza : Memegang Patok
4. Sanhaji : Memegang theodilite
5. Gerry : Memegang meteran
6. Alfa : Memegang Kompas
7. Maria : Memegang target rod dan mencatat
8. Sindy : Memegang target rod dan mengembalikan alat
9. Husein : Tidak hadir (izin)

8
PENGUKURAN JARAK HORIZONTAL
Hari / tanggal : Jumat / 02-03-2018 Asisten :
Lokasi : Plasma IPB 1. Herdi Hermawan (F44150014)
Cuaca : Berawan 2. M. Farhan Harahap (F44150022)
3. Irlan Dharmawan (F44150068)

PENDAHULUAN
Pengukuran suatu daerah sangat dibutuhkan untuk mempermudah pengambilan
keputusan pengelolaan daerah. Dalam prosesnya, pengukuran memerlukan suatu
gabungan antara keterampilan manusia dan peralatan mesin yang dipakai. Oleh karena
itu, dalam pekerjaannya harus dilaksanakan dengan standar pengukuran yang cermat
dan memahami galat sehingga dapat menekan besarnya galat sampai dalam batas-batas
toleransi (Binker 1996).
Dalam pengukuran tanah, terdapat lima macam pengukuran yaitu pengukuran
sudut horizontal, jarak horizontal, sudut vertical, jarak vertical, dan jarak miring.
Pengukuran jarak horizontal diukur dari satu koordinat tertentu ke titik lain tanpa
memperhitungkan elevasi dua titik (Purwaharjo 1986). Dalam melakukan pengukuran
jarak horizontal dapat dilakukan dengan menggunakan metode langkah, metode pita
ukur, dan metode stadia.
TUJUAN
Praktikum ini bertujuan mempelajari dan mampu melakukan pengukuran jarak
horizontal antara dua titik atau objek dengan menggunakan metode langkah, pita ukur,
dan stadia.
ALAT DAN BAHAN
Pada praktikum ini, alat-alat yang digunakan adalah:
1. Pita ukur 5. Target rod
2. Abney level 6. Pin ring
3. Auto level 7. Unting-unting
4. Jalon (rod line) 8. Patok
METODE
Pada lahan datar di lokasi pengukuran dilakukan standarilasi langkah. Pita ukur
digunakan untuk mengukur jarak sepanjang 30 meter. Standarilasi langkah dilakukan
dua kaliulangan dan dihitung rata-ratanya. Lalu, ditentukan dua titik yang akan diukur
9A dan B0, masing0masing titik diberi tanda dengan patok. Pengukuran jarak
dilakukan dengan menghitung jumlah langkah dari A ke B(pergi) dan dari B ke A
(pulang). Jarak rata-rata AB dihitung ddan errornya juga dihitung untuk ketelitian
pengukuran.

9
Metode pita ukur dilakukan dari titik A ke B seperti yang dilakukan pada
metode langkah. Pengukuran I dan II dengan tape terbentang 30 meter, kemudian
diukur sisa jarak ke titik B. jarak rata-rata AB dan error dihitung untuk ketelitian
pengukuran.
Metode stadia dilakukan dengan pengukuran jarak titik A dan B yang dibagi
menjadi empat bagian, dengan memasang tiga patok bantu. Patok-patok harus berada
pada satu garis lurus. Pengukuran pergi dilakukan dengan menderetkan alat auto level
di titik C, bidik belakang ke titik A lalu bidik muka ke titik D. benang atas (ba), benang
bawah (bb), dan benang tengan (b) dibaca dan dicatat. Alat dipindahkan ke titik D,
bidik bs ke titik C lalu bidik bs ke titik B. jarak AB dihitung, maka pengukuran pergi
selesai. pengukuran pulang dilakukan sama dengan pengukuran pergi, jarak rata-rata
AB dihitung dan errornya juga dihitung.
PEMBAHASAN
Jarak horizontal adalah jarak antara dua titik yang diukur tanpa meperhatikan
perbedaan elevasi, yang berada pada bidang atau garis horizontal. Pengukuran jarak
horizontal merupakan salah satu komponen yang penting dalam pengukuran wilayah.
Setiap bentuk alam yang tergambar di atas tanah harus diikuti dengan menggunakan
alat pengukur jarak seperti pita ukur, karena pengukuran suatu bidang memiliki bagian
penting yaitu membuat garis lurus.
Beberapa langkah yang dapat digunakan untuk mengukur jarak horizontal yaitu
dengan menggunakan metode langkah, metode pita ukur, dan metode stadia. Metode
langkah adalah metode yang digunakan dengan melangkahkan kaki sejauh jarak yang
diatur secara bolak-balik (Persoro dan Yulaikah 2008). Taping adalah metode yang
menerapkan sistem mengukur suatu jarak dengan menggunakan alat pengukur jarak
berupa pita ukur (Sudarseno 2006). Metode stadia adalah cara yang paling banyak
digunakan dalam praktek, terutama untuk pemetaan daerah yang luas dan untuk detail
yang bentuknya tidak beraturan untuk data memetakan dengan cara ini diperlukan alat
yaitu autolevel (Suhendra 2005). metode langkah merupakan pengukuran jarak dengan
langkah dan merupakan cara sederhana dengan ketelitian yang paling rendah.
Pengukuran dengan menggunakan pita ukur juga memiliki ketilitian yang kurang tepat,
karena menggunakan pita ukur memiliki kekurangan yaitu mengukur jarak tidak dapat
dijangkau titik akhirnya serta untuk mengukur titik AB harus membuat titik lagi dengan
jarak tertentu.
Hasil pengukuran yang didapatkan kelompok 3 pada metode langkah memiliki
tingkat kesalahan 0%. Tingkat kesalahan 0% karena percobaan dilakukan pada lahan
datar. Sedangkan, hasil pengukuran pada metode pita ukur memiliki tingkat kesalahan
0,12%. Kekurangan mengunakan pita ukur yaitu saat mengukur titik AV harus
membuat titik lagi dengan jarak tertentu. Saat pengukuran di beberapa titik, terjadi
human error karena tidak akurat saat mengukur di tiap titik. Hasil pengukuran dengan
metode stadia rata-rata jarak AB adalah 29,2 meter dan tingkat kesalahan 1,4%,
berdasarkan sitasi, metode ini memiliki tingkat keakuratan yang lebih tinggi dan lebid
mudah. Tapi, berdasarkan data, metode stadia paling besar tingkat kesalahannya.

10
Factor-faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah human error, kesalahan pada
penggunaan alat, dan factor lainnya.
Metode laser adalah metode pengukuran yang paling akurat. Alat yang
digunakan adalah laser distance measurement (LAM). Metode ini menggunakan alat
yang memancarkan laser dan dihitung banyak pantulan sinar yang dikembalikan
kemudian dikalikan menjadi arak (Sima et.al 2016). Aplikasi pengukuran jarak
horizontal adalah untuk mengukur luas usatu lahan untuk kegiatan pertanian atau yang
lainnya.
SIMPULAN
Pengukuran jarak horizontal dapat dilakukan dengan tiga metode yaitu metode
langkah, pita ukur, dan stadia. Metide langkah adalah metode mengukur jarak dengan
menggunakan langkah kaki. Metode taping adalah metode yang menggunakan pita
ukur. Metode stadia adalah metode mengukur jarak dengan auto level dan paling sering
digunakan dalam praktik.
SARAN
Saat praktikum, praktikan diharapkan untuk lebih memahami materi yang
dipraktekan. Praktikan tidak perlu tergesa-gesa dalam mengambil data.
DAFTAR PUSTAKA
Binker RC, Wolf PR. 1996. Dasar-Dasar Pengukuran Tanag (Surveying). Wilijatun
D, editor. Jakarta (ID): Erlangga.
Purwoharjo. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri C Pengukuran Topografi. Bandung (ID):
Teknik Geodasi.
Parsono dan Yulaikhah. 2010. Pengaruh sudut vertical terhadap hasil ukuran jarak dan
beda tinggi metode trigonometri menggunakan total station Nikon dial 850.
Jurnal Teknik Geodesi Fakultas Teknik UGM. Vol.33(3) : 149-155
Sima, Wang Q, Ituaq S, Zhaw. 2016. Laser based mta sumut far written of sheet
misuguald. Jurnal Measurment. Vol 87: 104-116
Sudarsono, Bambang D. 2006. Pengecekan ketegakan kolam bangunan dengan metode
pemotongan sisi. Jurnal Teknik Unika Soegisopranta. Vol 3(2): 149-156.
Suhendra. 2005. Penyelidikan daerah rawan gerak tanag dengan metode geolistrik
tahanan jenis. Jurnal Gradiea. Vol 1(1): 1-5.

11
LAMPIRAN

Gambar 1 Denah praktikum Gambar 2 Pita ukur

Gambar 3 Tripod Gambar 4 Target rod Gambar 5 Patok

Gambar 6 Kompas Gambar 7 Auto level

12
Sketsa Gambar Metode
A. Metode langkah

B. Metode pita ukur

C. Metode stadia

Contoh Perhitungan
A. Metode Langkah
(i) Perhitungan standalisasi langkah I untuk pengukuran pulang dan pergi
x = jarak/langkah = 10/15,5 = 0,645 m
(ii) Perhitungan jarak AB untuk pulang pergi (AB-BA)
x = jarak/langkah = 30/46 = 0,652
(iii) Rata-rata
s = (AB + BA) / 2 = (46 + 46) / 2 = 46
(iv) Selisih pergi-pulang
∆s = |46-46| = 0
(v) Error
E = (∆s / s) x 100% = (0 / 46) x 100% = 0%

13
B. Metode Pita Ukur
(i) Pengukuran jarak pergi (AB)
Pengukuran AC = 15
Pengukuran CD = 15
Pengukuran DC = 3,24 +
Jarak = 33,24
(ii) Rata-rata
s = (AB + BA) / 2 = (33,24 + 33,2) / 2 = 33,22
(iii) Selisih pergi-pulang
∆s = |33,24 - 33,2 = 0,04
(vi) Error
E = (∆s / s) x 100% = (0,04 / 33,22) x 100% = 0,12%
C. Metode Stadia
(i) Pengukuran Jarak Pergi
 Back Side = ba – bb
= 13,5 – 12,8
= 0,7 x 10 m = 7 m
 Front Side = ba – bb
= 14 – 12,3
= 1,7 x 10 m = 17 m
AD = BS + FS
= 7 + 17 = 24 m
(ii) Pengukuran Jarak (AB)
AB = AD + DB
= 24 + 4,9
= 28,9 m

14
TABEL DATA
Tabel 1 Metode Langkah
HASIL
No Kegiatan Jumlah Jarak / Jarak
Langkah langkah (m) (m)
Standarisasi langkah
a. Pengukuran I 15,5 0,645 10
1
b. Pengukuran II 15,5 0,645 10
Rata-rata 15,5 0,645 10
Pengukuran Jarak AB
2 a. Pengukuran Pergi 46 0,652 30
b. Pengukuran Pulang 46 0,652 30
3 s =(AB + BA) / 2 46 0,652 30
Selisih Pergi-pulang
4
∆s = |AB - BA| 0 0 0%
Error
5
E = (∆s / s) x 100% 0 0 0%
6 Nama Probandus Sanhaji
7 Tinggi Probandus 165 cm

Tabel 2 Metode Pita Ukur


JARAK
No Kegiatan Segmen
Total (m)
(m)
Pengukuran Pergi
a. Pengukuran AC 15 -
1 b. Pengukuran CD 15 -
c. Pengukuran DB 3,24 -
Jarak AB=AC+CD+DB - 33,24
Pengukuran Pulang
a. Pengukuran BE 15 -
2 b. Pengukuran EF 15 -
c. Pengukuran FA 3,20 -
Jarak BA=BE+EF+FA - 33,2
3 s =(AB + BA) / 2 - 33,2
Selisih Pergi-pulang
4
∆s = |AB - BA| - 0,04
Error
5
E = (∆s / s) x 100% - 0,12%

15
Tabel 3 Metode Stadia
Jarak
BS FS
Titik (m)
BA BT BB BA BT BB
Pengukuran Pergi
A-D 13,5 13,15 12,8 14 13,15 12,3 -
D-B 13,48 13,52 13,45 13,58 13,15 13,12 -
AB = AD + DB 28,9
Pengukuran Pulang
B-C 14,23 13,61 13 14,2 13,53 12,99 -
G-A 13,48 13,35 13,24 13,4 13,22 13,05 -
BA = BG + GA 30,3
s =(AB + BA) / 2 - 29,6
Selisih Pergi-pulang
∆s = |AB - BA| - 1,4
Error
E = (∆s / s) x 100% - 4,7%

16
PENGUKURAN SUDUT HORIZONTAL
Hari, tanggal : Jumat, 09 Maret 2018 Asisten :
Lokasi : Lapapangan AMN 1. Herdi Hermawan (F44150014)
Cuaca : Cerah Berawan 2. M. Farhan Harahap (F44150022)
3. Irlan Dharmawan (F44150068)

PENDAHULUAN
Letak suatu benda dipermukaan bumi dapat dilihat berdasarkan satu titikacuan
atau azimuth. Untuk mendapatkan hasil penempatan titik-titik tersebut perlu dilakuan
aktifasi pengukuran (Basuki S 2011). Letak suatu titik dengan titik pusat terbentuk
sudut horizontal jika pengukuran pada permukaan bumi. Sudut arah tidak menentukan
arah Timur-Barat atau Utara-Selatan (Sumaryanto 1995) .
Sudut horizontal dapat dicari dengan penentuan dua titik azimuth untuk
mengetahui posisi garis-garis yang diukur. Pengukuran dilakukan untuk mendapatkan
bayangan di lapangan dengan menentukan sudut atas titik-titik satu sama lain
(Wongsotjitro 1985)
Alat-alat yang digunakan harus memiliki dimensi panjang, seperti theodolite dan pita
ukur. Metode pengukuran sudut horizontal pun beragam, seperti metode sinus, metode
tangen, metode repetisi, metode reiterasi.

TUJUAN
Praktikum ini bertujuan mempelajari dan memahami sudut horizontal dan
beberapa metode pengukurannya, serta mampu dan terampil melakukan pengukuran
sudut horizontal.

ALAT-ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
1. Theodolite
2. Target rod
3. Kompas
4. Pita ukur
5. Abney level
6. Unting-unting
7. Patok
8. Tripod

METODE
Praktikum ini dilakukan pada hari Jumat tanggal 9 Maret 2018 pukul 13.30 sampai
16.00. sebelum melaksanakan praktikum, praktikan berkumpul di RK. V02.1 untuk
mendapatkan penjelasan materi oleh asisten. Setelah itu, perwakilan dari masing-
masing kelompok mengambil alat-alat yang digunakan dan sisanya menuju ke tempat
lokasi pengamatan yaitu lapangan AMN. Pengukuran sudut horizontal dilakukan
dengan empat metode, yaitu metode sinus, metode tangen, metode reiterasi, dan
metode repetisi.

17
Metode sinus dan tangen dilakukan dengan cara yang sama. Cara pengukuran
seperti penentuan titik O untuk titik pusat, lalu titik A dan titik B ditetapkan diantara
titik Odengan jarak tertentu. Ditentukan juga titik A’ pada jalur A dan B’ pada jalur B
dengan jarak 10 m dari titk O. Langkah selanjutnya praktikan mengukur jarak A’
dengan B’. Dibutuhkan juga jarak antara titik O dengan titik C. Sudut horozontal dapat
dihitung dengan rumus sinus dan tangen.
Metode repetisi dilakukan dengan ditentukannya titik A’ sebagai titik O’.
Penentuan sudut α dengan memutar theodolite dari titik A’ ke titik B’. Percobaan
dilakukan sebanyak dua kali pengulangan dalam dua pembacaan nonius.
Metode terakhir adalah metode reiterasi. Cara pengukurannya dilakukan dengan
titik O’ pada titik A’ ke titik B’, lalu praktikan mengukur sudut selanjutnya dengan titik
B’ sebagai titik O֯. Percobaan ini dilakukan sebanyak empat kali penglangan.

PEMBAHASAN
Letak suatu benda di permukaan bumi dapat dilihat berdasarkan satu titik acuan
atau azimuth. Letak suatu titik dengan titik pusat terbentuk sudut horizontal. Sudut
horizontal adalah selelisih dari dua arah yang dapat dibagi dalam sudut tunggal dan
sudut yang lebih dari satu sehingga sehingga teknik pengukurannya juga berbeda
(Basuki S 2011). Penggunaan sudut horizontal pada keadaan sudut terbatas, sudut
dengan elevasi berbeda (Sumaryanto 1995). Pengukuran sudut dilakukan dengan
metode sinus, metode tangen, metode reiterasi, dan metode repetisi.
Metode sinus dilakukan dengan perbandingan sisi depan sudut dengan sisi
miring jarak dari titik pusat. Metode tangen dilakukan dengan perbandingan depan
sudut dengan jarak titik pusat dengan titik tengah. Metode ini dilakukan juga dengan
alat ukur menggunakan benang satdia (Marsoem 2014). Metode repetisi dipahami juga
dengan sudut tinggal dengan mengulang percobaan salah satu titik sebagai O֯ dan
diputar searah jarum jam. Metode reiterasi adalah sudut tinggal dengan mengulang
percobaan titik O֯ secara bergantian, sehingga arah putar terdapat dua macam, yaitu
searah jarum jam dan berlawanan arah jarum jam. Metode reiterasi memiliki tujuan
dan langkah yang hampir sama dengan metode repetisi. Perbedaan kedua metode ini
adalah pada arah oroentasi pembacaan sudut yang berlawanan (Frick 1979).
Hasil pada pengamatan dan pengukuran pada praktikum ini diketahui hasil
sudut yang berbeda-beda dan didapatkan sudut sebesar diantara 22֯ - 24֯. Pada metode
1
sinus didapatkan sin2 α sebesar 0,196֯ dan α sebesar 22,61֯. Pada metode tangen
1 1 1
didapatkan tan α sebesar 0,196֯ dan α sebesar 22,18֯. Hasil dari sin α dan tan α pada
2 2 2
metode sinus dan tangen sama. Pada metode reiterasi, didapatkan rata-rata sudut
horizontal sebesar 22,99826֯ dan pada metode repetisi didapatkan rata-rata sudut
horizontal sebesar 22,894859֯.
Berdasarkan pengamatan yang kelompok kami lakukan, ketelitian akuran
didapatkan saat pengukuran menggunakan metode reiterasi. Karena menurut Ave
pengukuran yang dilakukan yang dilakukan berulang kali menyebabkan data yang
diperoleh lebih akurat. Tetapi pengukuran metode reiterasi memiliki kekurangan, yaitu
dibutuhkan ketelitian yang tinggi dalam melakukan pengukuran.

18
Aplikasi pengukuran sudut terhadap program studi Teknik Pertanian dan
Biosistem adalah pada penempatan atau peletakan suatu green house pada kemiringan
suatu lahan.

SIMPULAN
Sudut horizontal adalah sudut yang terdapat pada bidang horizontal.
Pengukuran sudut horizontal dilakukan dengan empat metode, yaitu metode sinus,
metode tangen, metode reiterasi dan metode repetisi. Hasil pengukuran sudut
horizontal pada praktikum ini didapatkan sudut sebesar 22֯ - 24֯.

SARAN
Diharapkan praktikum ini dapat diterapkan untuk perencanaan kemiringan
bangunan pada satu titik pandang.

DAFTAR PUSTAKA
Ave H, Singh R, Artman D, Taylor OW. 2000. Basic Surveying Theory and Practice.
Oregon (IIS) : Oregon Department.
Basuki, S, 2011. Ilmu Ukur Tanah [Edisi Revisi]. Yogyakarta (ID) Gadjah Mada
University Press.
Frick H.1997. Ilmu dan Alat Ukur Tanah. Yogyakarta (ID) : Kanisius.
Marsoem, Prasetyo, Sulistyo. 2014. Studi mutu kayu jati, dihutan rakyat GunungKidul.
Jurnal Ilmu Kehutanan. 8(2) : 75-80.
Sumaryanto. 1995. Studi perbandingan pengukuran nilai theodolite secara manual.
Jurnal Sains. 1(2) : 2-3.
Wongsotjitro.1985. Ilmu Ukur Wilayah. Jakarta (ID) : Gadjah Mada Press.

LAMPIRAN

19
Gambar 1 Denah lokasi praktikum Gambar 2 Sketsa Metode
Pengukuran
dan Alat Bahan

Gambar 3 Contoh Perhitungan Gambar 4 Tabel data Hasil


Pengukuran

PEMBAGIAN TUGAS
1. Sindy Oktaviana : Mencatat data dan memegang target rod
2. Maria Rossa : Menivokan Theodolite dan membidik
3. M. Reza Hartiansyah : Izin
4. Gerry Paduka : Membidik dan membawa theodolite
5. M. Husein Andul H : Memegang target rod dan menghitung
6. Sanhaji : mencatat data dan menghitung
7. M. Sya’bani Subuhi : Menghitung data
8. Ad Din Alfarisi : Mengambil dan mengembalikan alat
9. Pradnya Adi N : Mengambil dan mengembalikan tripod

20
PENGUKURAN LUAS
Hari, tanggal : Jumat, 16 Maret 2018 Asisten :
Lokasi : Gladiator IPB 1.Herdi Hermawan (F44150014)
Cuaca : Cerah Berawan 2. M. Farhan Harahap (F44150022)
3.Irlan Dharmawan (F44150068)

PENDAHULUAN
Ilmu Ukur Tanah terfokus pada pengukuran bnetuk permukaan bumi, untuk
dipindahkan ke bidang datar dan mempelajari masalah kulit bumi berupa situasi atas
permukaan bumu, perbedaan ketinggian, jarak, dan luas. Pengukuran luas termasuk ke
ketelitian pengukuran plane surveying, yaitu survey yang mengabaikan kelengkungan
bumi dan bumi diasumsikan sebagai bidang datar. Plane Surveying digunakan untuk
pengukuran daerah yang tidak luas dengan mengunakan bidang hitung berupa datar
(Brinker RC 1996).
Pengukuran dilakukan sebagai sebuah teknik pengambilan data yang dapat
memberikan nilai panjang, tinggi, dan arah relatif dari sebuah objek ke objek lainnya.
Pengukuran terletak diantara ilmu geodesi dan ilmu pemetaan. Suatu bidang tanah yang
diukur wajib dipasang dan ditetapkan tanda-tanda batasnya.

TUJUAN
Praktikum ini bertujuan mempelajari dan mampu menentukan luas suatu bidang
horizontal beraturan dengan metode segitiga dan planimetris, serta membandingkan
hasil kedua metode tersebut. Praktikan juga dapat mempelajari dan menentukan luas
suatu bidang horizontal tidak beraturan dengan metoda trapezoinal dan 1/3 simpson,
serta membandingkan hasil kedua metoda tersebut.

ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini, sebagai berikut:
1. Theodolite
2. Target Rod
3. Kompas
4. Pita Ukur
5. Planimeter
6. Unting-Unting
7. Patok

METODE
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 16 Maret 2018 pukul 13.30
sampai 16.00. Sebelum melaksanakan praktikum, praktikan berkumpul di RK. V02.1
untuk mendapatkan penjelasan materi oleh asisten> Setelah itu, perwakilan dari
masing-masing kelompok mengambil alat-alat yang digunakan dan sisanya menuju ke
tempat lokasi pengamatan yaitu Gladiator IPB. Pengukuran luas dapat dilakukan
dengan empat metode yaitu metode pengukuran luas segitiga dan planimetris serta
metode pengukuran luas 1/3 simpson dan trapezoidal. Tetapi, pada praktikum kali ini,
pengukuran luas hanya menggunakan metode segitiga dan planimetris.

21
Metode segitiga dan planimetris diawali dengan memasang patok pada tiap
sudut areal (ABCD) yang akan diukur luasnya. Lalu, areal yang telah diberi patok
kemudian dibagi menjadi beberapa bidang segitiga. Kemudian, theodolite di-setup di
setiap titik sudut bidang segitiga. Dengan menggukanan theodolite, jarak dan sudut
arah sisi-sisi bidang segitiga dapat dikur. Kemudian luas masing-masing segitiga dapat
dihitung dengan menggunakan rumus :
1
𝐿 = √𝑆(𝑆 − 𝑎)(𝑆 − 𝑏)(𝑆 − 𝑐)(1) 𝑆 = 2 (𝑎 + 𝑏 + 𝑐)
Keterangan: L = Luas segitiga
a,b,c = Panjang sisi segitiga
Dengan begitu, luas areal tersebut adalah jumlah keseluruhan segitiga yang
menutupi areal tersebut. Kemudian, plot setiap titik atau sudut bidang yang diukur pada
kuadran I koordinat kartesius, dan tetapkan koordinat setiap titik atau sudut bidang
berdasarkan absis dan ordinat dari bidang kartesius yang akan dibuat , lalu hitung luas
areal berdasarkan koordinat setiap titik tersebut.
Pada Metode 1/3 Simpson dan Trapezoidal, langkah pertama yang dilakukan
adalah memasang patok pada setiap sudut areal yang akan diukur luasnya. Lalu,
beaseline dibuat pada tiap interval 5m diberi patok. Kemudian, dengan keistimewaan
segitiga Pythagoras (3-4-5), titik yang diberi tanda dibuat sudut siku-sikunya. Pada
setiap titik, ukur jarak antara baseline dengan batas area (offset). Dari data yang telah
diperoleh, luas areal dihitung dengan metode trapezoidal dan 1/3 simpson. Selanjutnya,
luasan yang telah dikur digambarkan pada kertas grafik dengan skala yang tepat.

PEMBAHASAN
Pengukuran adalah suatu kejadian untuk mendapatkan informasi data secara
kuantitatif. Hasil dari pengukuran dapat berupa informasi-informasi atau data yang
dinyatakan dalam bentuk angka. Hasil pengukuran juga dapat berupa uraian yang
sangat berguna dalam pengambilan keputusan, oleh karena itu mutu informasi dadalah
harus akurat (Dinda 2010).
Pengukuran luas adalah pengukuran jumlah areal yang terproyeksi pada bidang
horizontal dan dikelilingi oleh garis-garis batas. Pengukuran luas dalam pengerjaannya
secara kasar dapat dihitung dengan mengukur kertas hasil penggambaran dengan garis-
garis batas yang diukur di lapangan atau juga dapat diketahui dengan perhitungan
koordinat titik-titik potong garis batas. Secara umum pengukuran luas dapat dilakukan
dengan cara diukur pada gambar situasi dan dihitunbg dengan menggunakan data jarak
dan susut yang diperoleh dari pengukuran di lapangan (Gayo 2005).
Luas pada peta dapat diukur dengan menggunakan alat bantu pengukur luas
peta yang disebut planimeter. Sedangkan metode pengukuran luas pada peta
menggunakan planimeter disebut metode planimetris. Prinsip Kerja Planimetris adalah
alat ini, bekerja pada daerah atau peta yang berbentuk area atau polygon tertutup.
Perhitungan luas dimulai dengan menentukan titik awal. Kemudian menggerakan alat
tersbut searah dengan jarum jam pada batas polygon sampai kembali ke titik awal dan
setelah itu dilakukan pembacaan hasil pengukuran (Suryanto dan Hariwibowo 2010).

22
Metode yang digunakan untuk pengukuran luas dibedakan menjadi dua
berdasarkan bidang horizontal yang diukur. Pada bidang horizontal beraturan, dengan
metode segitida dan planimetris, sedangkan pada bidang horizontal tidak beraturan
dengan metoda trapezoidal dan 1/3 simpson. Metode segitiga merupakan cara dalam
menghitung penjumlahan dua buah vector dimana salah satu titik vector dipindahkan
ke ujung vector lain dan ditarik garis lurus dari pangkal ke ujung, sehingga terbentuk
bangun datar segitiga (Sastradarsono 2008).
Praktikum ini menggunakan metode segitiga dan planimetris. Hasil
perhitungan dari data praktikum menunujukkan jarak A-B adalah 10m dan jarak A-D
adalah 14m. Dari perhitungan jarak didapatkan luas pertama sebesar 88,99m2 dan luas
kedua sebesar 59,88m2 dengan luas total segitiga adalah 148,87m2. Pengukruan data
untuk pemetaan planimetris didapatkan dari penggabungan data-data perhitungan
kelomoik. Dari perbedaan pengukuran tersebut, penggambarannya dibuat berdasarkan
perbedaan jarak ukur yang didapat. Setelah itu, bidang gambar yang sudah digambar
dihitung skala dan luasnya. Luas perhitungan metode segitiga dengan metode
planimetris sangat berbeda.
Metode yang paling akurat berdasarkan praktikum ini adalah metode
planimetris. Hal ini disebabkan pada saat pemindahan data, praktikan menggunakan
skala yang lebih akurat. Jarak pada millimeter block dibagi dengan jumlah kotak,
sehingga sesuai dengan aslinya.
Penetapan metode segitiga dan planimetris biasanya digunakan dalam
pengukuran luas pada pemetaan dan digunakan dalam pengukuran luas DAS Sungai
(Ilhamsyah 2016).

SIMPULAN
Pengukuran luas dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode segitiga dan
planimetris atau metode 1/3 simpson dan trapezoidal. Metode Planimetris lebih akurat
karena sesuai dengan hasil pengukuran di lapangan. Hasil pengukuran luas daerah yang
diukur sebesar 148,4m2. Metode segitiga kurang akurat karena daerah-daerahnya
dibagi menjadi beberapa bagian sehingga menyebabkan nilai jarak yang diperoleh
sebelum dibagi berkurang. Hal tersebut dikarenakan ketidaktelitian dan
ketidakakuratan praktikan dalam membagi daerah.

SARAN
Diharapkan dengan melakukan praktikum ini, praktikan dapat lebih menguasai
cara untuk mengukur luas suatu bidang baik horizontal beraturan maupun tidak
beraturan.

DAFTAR PUSTAKA
Brinker RC, Wolf PR.1996.Dasar-dasar Pengukuran Tanah (Surveying).Walijatun D,
editor. Jakarta (ID):Erlangga.
Dinda R.2016. Pemetaan Situasi Dengan Metode Koordinat Kutub.Jurnal Integrasi.
8(3):12-20.
Gayo I. 2005. Pengukuran Luas Areal Kawasan Hutan Jakarta. Jakarta (ID): PT. Bumi
Aksara.

23
Ilhamsyah. 2016. Prototipe Aplikasi Pengukuran Wilayah Berbasis Android. Jurnal
Coding Sistem Komputer Utan. 4(1):69-78.
Suryantoto A, Hariwibowo. 2010. Teknik Pengukuran Luas Lahan. Jakarta (ID) :
Erlangga.

Lampiran
Lampiran 1. Denah Lokasi Praktikum

Lampiran 2 Alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum

24
Lampiran 3. Sketsa Pengukuran Luas dengan Metode Segitiga

Lampiran 4. Sketsa Pengukuran Luas dengan Metode Planimetris

25
Lampiran 5. Contoh Perhitungan

Lampiran 6 Tabel Data

Titik BA BT BB Jarak (m) Sudut dari arah utara


A-B 10,4 9,9 9,4 10 33,54o ≈ 34o
A-D 13,9 13,2 12,5 14 109,68o ≈ 110o
B-D 9,9 9,1 8,3 16 15,96o ≈ 16o
B-C 11,8 11,1 10,4 14 97,43o ≈ 97o
C-A 13,2 12,2 11,1 21 122,85o ≈ 123o
C-D 11,5 10,7 10,2 13 40,32o ≈ 40o

Pembagian Tugas
1. Sindy Oktaviana : Mencatat Pembagian Tugas
2. Maria Rosa W B : Mencatat Data
3. M. Reza Hartiansyah : Membawa Tripod
4. Gerry Paduka Ihza S : Memegang Target rod dan melakukan pengukuran
5. M Husein Abdul H : Mematok
6. Sanhaji : Memasang Theodolite dan melakukan pengukuran
7. M. Syabani Subuhi : Melakukan pengukuran
8. Ad-din Alfarisi : Memegang payung dan target rod
9. Pradnya Adi N : Membawa dan memasang theodolite

26
PENGUKURAN BEDA TINGGI
Hari / tanggal : Jumat/ 23 Maret 2018 Asisten Praktikum :
Lokasi : Plasma IPB 1. Herdi Hermawan (F44150014)
Cuaca : Cerah 2. M. Farhan Harahap (F44150022)
3. Irlan Dharmawan (F44150068)

PENDAHULUAN
Permukaan bumi tidaklah rata, keadaan permukaan bumi yang berbeda
menyebabkan berbedanya ketinggian suatu dataran di tiap wilayah. Pengukuran beda
tinggi dapat diartikan sebagai beda tinggi antara dua titik di permukaan bumi. Jarak
dapat diartikan sebagai beda tinggi. Umumnya, bidang nivo adalah bidang lengkung,
tetapi jika jarak antara kedua titik masuk relatif pendek atau tak terlalu jauh, maka
bidang nivo dianggap bidang mendatar.
Pengukuran beda tinggi antar titik dapat dilakukan. Pengukuran beda tinggi
antara dua titik ditentukan dengan tiga cara, dengan perantaraan tekanan udara atau
atmosfer (barometrik). Pengukuran beda tinggi dengan cara trigonometris yang dikenal
sebagai pengukuran beda tinggi secara tidak langsung dengan mengukur sudut vertikal
dan jarak miring sehingga jarak horizontalnya dapat dicari. Pengukuran beda tinggi
juga dapat diukur dengan menggunakan sipat datar (water pass) yang merupakan alat
untuk melakukan pengukuran beda tinggi secara langsung dengan membuat garis
horizontal.

TUJUAN
Praktikum ini bertujuan mempelajari dan mampu mengukur perbedaan
ketinggian antara dua lokasi atau elevasi suatu tempat dengan metode Differential
Leveling dan trigonometri.

ALAT DAN BAHAN


Praktikum ini membutuhkan alat-alat sebagai berikut:
1. Theodolite
2. Target rod
3. Kompas
4. Pita ukur
5. Unting – unting
6. Patok

METODE
Praktikum ini dilaksanakan pada hati Jumat tanggal 23 Maret 2018 pukul 13.30
sampai 16.00. sebelum melaksanakan praktikum, praktikan berkumpul di RkV021
untuk mendapatkan penjelasan materi oleh asisten. Setelah itu, perwakilan dari masing
– masing kelompok mengambil alat yang digunakan dan sisanya menuju ke tempat

27
lokasi pengamatan yaitu Plasma IPB. Pada praktikum ini, metode yang digunakan
untuk melakukan pengukuran beda tinggi adalah metode differential leveling dan
trigonometrik.
Langkah pertama pada metode differential leveling adalah menentukan dua
buah titik A dan B yang beda tingginya relatif besar, anggap titik A merupakan BM
(Bench Mark). Setelah itu, set up alat di stasiun I antara A dan B, teropong harus di
pastika dalam posisi lebel ( ϴ = 0 ̊ ), bidikan A (BS1) lalu bidik TR (FS1). Lalu, dari
stasiun I pindahkan alat ke stasiun II, bidik TP1 (BS2) lalu bidik TP2 (FS2). Kemudian
pindahkan alat kembali ke stasiun III, demikian seterusnya hingga titik B dibidik.
Jumlah TP tergantung kondisi di lapangan, untuk pengukuran pergi selesai. Lakukan
pengukuran pulang (dari B ke A) dengan elevasi B yang diperoleh untuk menentukan
elevasi A.
Untuk pengukuran trigonometic leveling, titik yang digunakan adalah titik A
dan B pada pengukuran differential leveling. Setelah itu, set up alat di stasiun I diantara
A dan B, bidik A (BS), lalu baca BA, BT, BT, dan sudut vertikal (ϴ). Kemudian bidik
titik B (FS) baca BA, BT, BT, dan sudut vertikalnya. Lakukan pengukuran pulang
dengan memindahkan alat ke stasiun II diantara B dan A. Bidik titik B (BS) lalu bidik
A (FS), baca BA, BT, BT, dan sudut vertikal pada tiap bidikan. Kemudian hitung error,
koreksi elevasi, dan beda tinggi A – B.

PEMBAHASAN
Pengukuran beda tinggi lebih dikenal dengan istilah leveling. Pengukuran beda
tinggi antara dua titik di atas permukaan tanah merupakan bagian yang sangat penting
dalam ilmu ukur tanah. Pengukuran beda tinggi adalah suatu pekerjaan pengukuran
untuk menentukan beda tinggi beberapa titik di muka bumi terhadap tinggi muka air
laut rata – rata. Beda tinggi anatar dua titik adalah jarak tegak antara dua bidang nivo
yang melalui kedua titik tersebut. Pengukuran beda tinggi dilakukan dengan alat sipat
datar (auto level). Alat didirikan pada suatu titik yang diarahkan pada dua buah rambu
yang berdiri vertikal, maka beda tinggi dapat dicari dengan menggunakan pengurangan
antara bacaan mula dan bavaan belakang (Wirasatriyo 2005).
Pengukuran beda tinggi lebih dikenal dengan istilah leveling dan dibagi
menjadi dua metode. Metode pertama adalah metode langsung (direct leveling) adalah
suatu operasi pengukuran perbedaan jarak vertikal secara langsung menggunakan
instrumen atau alat seperti target rod, auto level, dan pita ukur. Metode kedua adalah
metode tidak langsung (indirect leveling) adalah suatu pengukuran beda tinggi secara
trigonometrik dengan mengukur jarak miring dan sudut vetikal antara dua titik yang
akan diukur beda tingginya. Pengukuran langsung seperti differential leveling dan
profil leveling, sedangkan pengukuran tidak langsung adalah pengukuran
trigonometrik dan barometrik (Sosrodarsono S 1983). Metode trigonometri lebeling
digunakan di lapangan baik di medan datar maupun medan yang bervariasi atau
berundak – undak. Hasil pengukuran dengan metode ini memiliki ketelitian yang lebih
rendah dibandingkan metode differential leveling.

28
Pengukuran sipat datar memanjang atau differential leveling adalah suatu
pengukuran yang bertujuan untuk mengetahui ketinggian titik – titik sepanjang jalur
pengukuran dan pada umumnya digunakan sebagai suatu daerah pemetaan.
Pengukuran beda tinggi secara langsung dengan membuat garis horizontal. Sebuah
bidang datar acuan atau datum ditetapkan dan elevasi diukur terhadap bidang tersebut.
Beda elevasi yang ditentukan dikurangi dan atau ditambah dengan nilai yang
ditetapkan tersebut dan hasilnya adalah elevasi titik – titik tadi (Fajri 2010).
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran pada praktikum ini, diketahui
dari metode differential leveling beda elevasi total adalah 90,5 m; jarak total adalah
41,3 m; dan total elevasi sebesar 666,53 m. Sedangkan untuk metode trigonometrik ,
beda elevasi sebesar -6,572 m; jarak sebesar 41,4 m; dan elevasi sebesar 185,428m.
Jika dilihat dari data yang didapat, elevasi yang didapat antara differential leveling
dengan trigonometrik memiliki nilai yang berbeda jauh. Hal ini disebabkan oleh
kesalahan praktikan dalam melakukan pengamtan dan pengukuran, karena seharusnya
nilai elevasi yang didapatka tidak berbeda jauh.
Pengukuran ilmu wilayah, diaplikasikan untuk merancang alat pertanian yang
akan digunakan untuk mengolah lahan miring dan memperhitungkan beban alat agar
tidak terguling pada lahan dengan beda elevasi yang besar.

SIMPULAN
Pengukuran beda tinggi dapat dilakukan dengan dua metode yaitu differential
leveling dan trigonometric leveling. Pengukuran beda tinggi diukur berdasarkan datum
daerah yang diukur. Data elevasi yang didapat pada metode differential leveling dan
trigonometric leveling memiliki nilai yang terpaut sangat jau yang disebabkan oleh
kesalahan dalam melakukan praktikum.

SARAN
Diharapkan dengan mendapatkan praktikum ini, kedepannya dapat diterapkan
untuk perencanaan alat – alat pertanian yang sesuai dengan beda elevasi tiap wilayah
yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA
Fajri S. 2010. Perbandingan ketelitian hasil pengukuran beda tinggi alat ukur sipat datar
Leicca – SPRINTER – 1001 dan alat ukur total station Nikon DTM – 352
[Skripsi]. Yogyakarta (ID) : Universitas Gadjah Mada.
Githa. 2015. Studi penerapan model koreksi beda tinggi metode trigonometri pada titik
– titik jaring pemantau vertikan Candi Borobudur dengan total station. Jurnal
Ilmiah Geomatika. 21 (1) : 91 – 98.
Sosrodarsono S. 1983. Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan. Jakarta (ID) :
Pradnya Paramita.
Wirasatriya A. 2005. Kajian kenaikan muka laut sebagai landasan penanggulangan
RDB di pesisir Kota Semaran [Tesis]. Semarang (ID) : Universitas Diponegoro.

29
LAMPIRAN
Denah Lokasi Praktikum

Gambar 1 Denah Lokasi Praktikum


Gambar Alat dan Keterangan

Gambar 2 Kompas

Gambar 3 Target Rod

30
Gambar 4 Patok

Gambar 5 Pita Ukur

Gambar 6 Tripod (kaki tiga)

31
Gambar 7 Theodolite

Sketsa Metode

32
Gambar 8 Sketsa metode Differential dan Trigonometrik Leveling

33
Contoh Perhitungan

Gambar 9 Contoh perhitungan metode Differential dan Trigonometrik Leveling


Tabel Data

34
Gambar 10 Tabel data metode Differential dan Trigonometrik Leveling

Pembagian Kerja
1. Sindy Oktaviana : Memegang target rod, membidik
2. Maria Rosa Widya B : Menivokan theodolite dan mencatat
3. M Reza Hertiansyah : Memegang target rod
4. Gerry Paduka I : Membidik dan membawa theodolite
5. M Husein Abul H : Membidik dan membaca theodolite
6. Sanhaji : Mengukur dan memasang theodolite
7. M Syabani Subuhi : Mengukur
8. Ad Din Alfarisi : Memegang payung
9. Pradnya Adi Nugraha : Mengambil dan memasang alat

35
PENGUKURAN PROFIL
Hari / tanggal : Jumat/ 13 April 2018 Asisten Praktikum :
Lokasi : Arboretum IPB 1. Herdi Hermawan (F44150014)
Cuaca : Cerah 2. M. Farhan Harahap (F44150022)
3. Irlan Dharmawan (F44150068)

PENDAHULUAN
Galian dan timbunan atau yang lebih dikenal dengan istilah cut and fill adalah
bagian yang sangat penting baik pada pekerjaan pembuatan jalan, bendungan,
bangunan, dan reklamasi. Galian dan timbunan dapat diperoleh dari peta situasi yang
dilengkapi dengan garis-garis kontur atau diperoleh langsung dari lapangan melalui
pengukuran sipat datar profil melintang sepanjang jalur proyek atau bangunan.
Perhitungan galian dan timbunan dapat dilakukan dengan menggunakan peta situasi
dengan metode penggambaran profil melointang sepanjang jalur proyek atau dengan
metode gridingyang meninjau galian dan timbunan tampak atas dan menghitung selisih
tinggi garis kontur terhadap ketinggian proyek di tempat perpotongan garis kontur
dengan garis proyeksi (Safrei 2010)
Dalam survey rekayasa, penentuan volume tanah adalah suatu hal yang sangat
lazim seperti halnya pada perencanaan pondasi, galian dan timbunan pada rencana
irigasi, jalan raya, jalur kereta, penanggulangan DAS, perhitungan volume tubuh
bending, dan lain-lain. Tanah harus digali dan dibuang ke tempat lain atau sebaliknya.

TUJUAN
Praktikum ini bertujuan mempelajari dan mampu melakukan pengukuran profil
melintang dan profil memanjang dari suatu permukaan bahan.

ALAT DAN BAHAN


Praktikum ini membutuhkan alat-alat sebagai berikut:
1. Theodolite
2. Target rod
3. Kompas
4. Pita ukur
5. Unting – unting
6. Patok

METODE
Praktikum ini dilaksanakan pada hati Jumat tanggal 13 April 2018 pukul 13.30
sampai 16.00. sebelum melaksanakan praktikum, praktikan berkumpul di RkV021
untuk mendapatkan penjelasan materi oleh asisten. Setelah itu, perwakilan dari masing
– masing kelompok mengambil alat yang digunakan dan sisanya menuju ke tempat
lokasi pengamatan yaitu Gladiator IPB.

36
Langkah awal untuk melakukan pengukuran profil adalah mengukur lahan
dengan pita ukur dan diusahakan garis lurus. Theodolite diletakkan satu titik dan diberi
jarak terhadap pita ukur agar dapat tegak lurus terhadap sumbu proyek. Langkah
selanjutnya, patok ditancapkan pada lahan percobaan dengan masing-masing
sepanjang 5 meter, sebanyak 13 titik. Patok paling ujung ditetapkan sebagai titik awal
(BM) dan ditulis 0+00. Perhitungan dilakukan dengan pengukuran BA, BB, BT pada
BM 0+00 sebagai BS. Perhitungan selanjutnya pada tinggi sesungguhnya dapat dicari
dengan batas tengah Backside dikurangi batas tengah (FS). Data beda tinggi diplot pada
grafik beda tinggi dan jarak.

PEMBAHASAN
Pengukuran profil adalah pengukuran yang digunakan untuk mengukur suatu
wilayah yang digunakan dalam perencanaan suatu wilayah. Pengukuran sipat datar
profil bertujuan untuk menentukan elevasi titik-titik pada permukaan tanah di
sepanjang garis tertentu sehingga akan diperoleh profil (potongan tegak dari
permukaan sepanjang garis tertentu (Purworaharjo 1982). Pengukuran profil
dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tinggi-rendahnya permukaan tanah
sepanjang garis pengukuran, yaitu dengan mengukur ketinggian masing-masing titik.
Pengukuran profil dibagi menjadi dua jenis, yaitu profil melintang dan profil
memanjang. Profil memanjang adalah suatu potongan atau penampang suatu areal
secara memanjang yang mempunyai sudut dan elevasi (Arif dan Abdillah 2011).
Pengukuran profil biasanya dilakukan penggambaran situasi sepanjang jalur
pengukuran sipat datar profil memanjang maupun melintang dengan skala yang
berbeda agar kondisi tanah secara vertical lebih terlihat (Nurjati 2004)
Dari hasil praktikum, didapatkan BA, BT, BB backside sebesar 13,15 ; 12,7 ;
dan 12,25. Data selanjutnya didapatkan BA, BT, BB frontside dari 5 meter pertama
sampai titik 30 meter dari BM. Beda elevasi permukaan didapatkan sebesar 0,06 ; 0,02
; 0,28 ; 0,48 ; 3,65 ; -0,90 ; -1,25 ; -1,20 ; -1,70 ; 0,7 ; 1,6 ; -0,14 ; -0,45 ; -3,35. Data-
data tersebut dapat diplot pada grafik beda tinggi terhadap jarak (Saragih 2004).
Pengukuran profil melintang dipilih untuk menentukan tinggi rendahnya tanah pada
permukaan tanah sepanjang garis sumbu proyek (Rassarandi 2016).
Aplikasi pengukuran profil adalah untuk perencanaan pembuatan jalan raya
dengan menentukan langkah untuk dikurangi atau ditambah volume permukaannya
agar rata. Selain jalan raya, hal ini juga dapat digunakan pada pembuatan lahan
pertanian, saluran irigasi, dan data untuk membuat program pada alat-alat pertanian.

SIMPULAN
Pengukuran profil dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pengukuran profil
melintang dan pengukuran profil memanjang. Pengukuran profil melintang merupakan
hasil dari jarak patok ke utara. Pengukuran profil memanjang merupakan hasil dari
jarak stasiun ke patok dan elevasi. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa permukaan
tanah meningkat tingginya pada 20 meter dari BM dan mulai cekung pada 25 meter

37
sampai 40 meter dan meningkat kembali pada 45 meter sampai 50 meter serta kembali
cekung pada 55 meter sampai 60 meter . Aplikasi pengukuran profil adalah untuk
perencanaan pembuatan jalan raya dan pembuatan lahan pertanian.

SARAN
Setelah praktikum ini, diharapkan praktikan dapat mengukur profil permukaan
suatu lahan dengan metode pengukuran profil melintang. Penerapan dari pengukuran
profil melintang diharapkan dapat digunakan saat melakukan penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
Arif K, Abdillah R. 2011. Buku Pintar Membangun Rumah. Depok (ID): Kanaya Press.
Nurjati C. 2004. Modul Ajar Ilmu Ukur Tanah. Surabaya (ID): Teknik Geodasi FTSP-
ITS.
Purworaharjo. 1982. Hitung proyeksi geodesi. Jurnal Sipil. 1 (1) : 16 – 16.
Rossarandi FD. 2016. Pemetaan situasi dengan metode koordinat kutub di Desa
Banyuasin. Jurnal Integrasi. 1(1): 95-96.
Safrei I. 2010. Elevasi titik control tinggi Universitas Negeri Semarang dengan metode
pengukuran kerangka dasar vertical bench mark (BM). Jurnal Teknik Sipil.
2(12): 145-146.
Saragih J. 2009. Klasifikasi Tanah di Kecamatan Barus Jahe Kabupaten Kora.
Jakarta(ID): Erlangga.

38
LAMPIRAN
Denah Lokasi Praktikum

Gambar 1 Denah Lokasi Praktikum


Gambar Alat dan Keterangan

Gambar 2 Kompas

Gambar 3 Target Rod

39
Gambar 4 Patok

Gambar 5 Pita Ukur

Gambar 6 Tripod (kaki tiga)

40
Gambar 7 Theodolite

Sketsa Metode

Gambar 8 Sketsa metode Grid

41
Gambar 9 Sketsa metode Grid pada milimeter blok

Contoh Perhitungan

Gambar 10 Contoh perhitungan metode Grid

42
Tabel Data

Gambar 11 Tabel data metode Grid

Pembagian Kerja
1. Sindy Oktaviana : Mencatat data
2. Maria Rosa Widya B : Mengolah data perhitungan
3. M Reza Hertiansyah : Memegang target rod
4. Gerry Paduka I : Membaca theodolite
5. M Husein Abul H : Membaca theodolite
6. Sanhaji : Memasang alat dan menivokan theodolite
7. M Syabani Subuhi : Memegang target rod
8. Ad Din Alfarisi : Mengambil alat dan mengembalikan alat
9. Pradnya Adi Nugraha : Mengambil alat dan memasang tripod

43
PEMETAAN PLANIMETRIS
Hari / tanggal : Jumat/ 27 April 2018 Asisten Praktikum :
Lokasi : Plasma IPB 1. Herdi Hermawan (F44150014)
Cuaca : Cerah 2. M. Farhan Harahap (F44150022)
3. Irlan Dharmawan (F44150068)

PENDAHULUAN
Masa pembangunan dewasa ini, ketersediaan peta menjadi suatu hal yang tidak
dapat ditinggalkan, terlebih pembangunan fisik sebagaimana kemajuan di bidang ilmu
teknologi yang pesat, teknik pemetaan pun sudah sedemikian berkembang, baik dalam
pengumpulan data maupun proses pengolahan dan penyajian baik secara spesial
maupun sistem informasi kebumian lainnya. Teknik pemetaan mengalami
perkembangan sesuai berkembangnya ilmu dan teknologi. Setiap teknik mempunyai
kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sehingga dalam pemiihannya
tergantung pada tujuan pemetaan, tingkat kerincian objek, serta cakupan wilayah yang
akan dipetakan.
Pengukuran suatu daerah merupakan unsur-unsur (jarak dan sudut) titik-titik
atau bangunan-bangunan yang ada di daerah itu dengan seisinya dapat dibuat bayangan
atau gambar yang cukup jelas dengan skala yang telah ditentukan. Agar pengukuran
dapat diwujudkan dalam bentuk peta, setelah semua data data dihitung, meliputi
koordinat (x,y), kerangka pemetaan, perhitungan ketinggian titik, sudut arah, dan jarak
titik-titik detail. Langkah selanjutnya, penggambaran dengan garis kontur (Basuki
2006).

TUJUAN
Praktikum ini bertujuan agar praktikan dapat mempelajari dan mampu
melakukan pemetaan planimetris dari suatu arah dengan metode poligon

ALAT DAN BAHAN


Praktikum ini membutuhkan alat-alat sebagai berikut:
1. Kompas
2. Pita ukur
3. Patok
4. Theodolite
5. Tripod

METODE
Praktikum pemetaan planimetris dilaksanakan pada tanggal 27 April 2018
pukul 13.30 sampe 16.00. Sebelum melaksanakan praktikum, praktikan berkumpul di
RK V.02. untuk mendapatkan penjelasan materi oleh asisten setelah itu, perwakilan
dari masing-masing kelompok mengambil alat-alat yang digunakan dan sisanya

44
menuju ke tempat lokasi pengamatan yaiyu Gladiator IPB. Pengukuran pemetaan
planimetris diawali dengan menentukan basline sejajar arah utara-selatan. Setelah itu,
set up alat diujung selatan baseline(titik o), nolkan skala sudut horizontal ke arah utara.
Kemudian putar alat berlawanan arah jarum jam dan bidik titik o yang menjadi titik
utama(titik sudut pengukuran), baca sudut dan jaraknya . Lalu nol kan alat, kembali
bidik ke titik E, baca sudut, benang atas, benang tengah, benang bawah. Ulangi langkah
yang sama hingga titik pengamatan terakhir yaitu titik di kelompok 2. Setelah semua
data didapatkan, seluruh data di kordinasikan dengan data kelompok lainnya.

PEMBAHASAN
Planimetris dilakukan tanpa memperhatikan ketinggian. Peta planimetris
adalah peta yag hanya menampilkan posisi x (absis) dan posisi y (ordinat) atau
koordinat dari titik-titik yang menggambarkan suatu bentuk lahan atau gambar yang
hanya memberikan pandangan tampak atas dan gambaran topografi. Peta yang
dihasilkan oleh pengukuran situasi dengan tidak adanya informasi ketinggian (Bunadi
2004).
Berdasarkan data yang didapat, kelompok 1 membidik titik A, B, C, dan II,
sedangkan kelompok 2 membidik B, C, D, dan III, kelompok 3 membidik D, E, F, dan
II. Data yang didapat pada kelompok 3 pada titik D mempunyai jarak sebesar 13,9 m
dan sudut 15°50’05”, Titik E memiliki jarak sebesar 8,2 m dan sudut 339°09’50”, titik
F memiliki jarak 19,7 m dan sudut 64°16’50”, serta pada titik di kelompok 2 memiliki
jarak sebesar 30,1 m dan sudut 329°42’20”. Dengan menyatukan setiap kelompok
didapatkan peta planimetris untuk Plasma FEMA.
Pemetaan planimetris di bidang teknik mesin dan biosistem adalah untuk
mendapatkan informasi dari suatu titik disuatu tempat (santoso 2017). Informasi yang
didapat digunakan sebagai rujukan untuk menentukan sesuatu kebijakan pembangunan
struktur dan infrasrtuktur suatu wilayah seperti pembangunan green house dengan
penetapan sistem kontrol yang tepat (Daskocz 2006).

SIMPULAN
Pemetaan planimetris yang dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya
metode poligon dengan cara membidik beberapa titik utama, sehingga diperoleh bentuk
sebuah bangunan. Pada praktikum ini, area yang diukur adalah kantin Plasma FEMA.
Data yang disatukan dari tiap kelompok didapatkan bangunan persegi enam yang tidak
beraturan.

SARAN
Praktikum dilakukan lebih telitisupaya tidak ada data yang terlewat.

DAFTAR PUSTAKA
Basuki S. 2016.Ilmu Ukur Tanah.Yogyakarta (ID): UGM Press.

45
Daskocz A.2009.Accuracy assesement of planimetris large scale map data for
decision.Malung Geodesy and Cartography. 65(1):3-12.
Gunadi K.2004. Permodelan peta topografi ke objek tiga dimensi. Jurnal Informatika.
5(1):14-15.
Santoso.2017. Perencanaan sistem pemetaan ruangan secara dua dimensi
menggunakan sensor ulltrasonik. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi
dan Ilmu Komputer.11(3):192-205.

LAMPIRAN

Gambar 1 Denah Lokasi CCR

Gambar 2 Tripod Gambar 3 Pita ukur Gambar 4 Kompas

46
Gambar 5 Target Rod Gambar 6 Theodolite

Gambar Sketsa metode pengukuran planimetris


Contoh Perhitungan
Jarak = (BA-BB)x10
= (16,09-14,7)x10
= 13,9m
Tabel 1 Hasil data pengukuran metode planimetris
Kelompok Titik Balik BA BT BB Jarak(m) Sudut (°C)
A 21,95 20,95 19,95 20 243°28’50”
B 13,5 12,5 11,54 19,6 208°39’35”
I C 31,7 20,40 18,6 31 198°11’05”
II 18,15 16,1 14,1 40,5 184°16’15”
B 29,3 28 26,7 26 322°03’05”
C 16,2 15,5 14,8 14 322°57’35”
II D - - - - -
III 14,2 12,8 11,3 29 238°12’10”

47
D 16,09 15,35 14,7 13,9 15°50’05”
E 16,32 15,69 15,5 8,2 339°09’50”
III F 16,18 15,2 14,21 19,7 64°16’50”
IV 16,21 14,73 13,2 30,1 329°42’20”

Gambar 10 Metode pemetaan planimetris

48
Pembagian Kerja
1. Sindy : Izin
2. Maria : Mencatat data
3. Reza : Mengambil alat
4. Gerry : Membidik target rod
5. Husein : Menghitung data
6. Sanhaji : Membidik target rod
7. Syaban : Membidik target rod
8. Alfa : Membawa target rod
9. Prad : Mengambil dan memasang alat

49
PEMETAAN TOPOGRAFI DENGAN METODE GRID
Hari / tanggal : Jumat/ 27 April 2018 Asisten Praktikum :
Lokasi : Arboretum IPB 1. Herdi Hermawan (F44150014)
Cuaca : Cerah 2. M. Farhan Harahap (F44150022)
3. Irlan Dharmawan (F44150068)

PENDAHULUAN
Survei tanah sebagai kegiatan karakteristik tanah – tanah di suatu daerah,
mengklasifikasikannya menurut sistem klasifikasi baku, memplot batas tanah pada peta
dan membuat prediksi tentang sifat tanah. Perbedaan penggunakaan tanah dan
bagaimana tanggapan pengelolaan mempengaruhi tanah itulah yang terutama perlu
diperhatikan. Informasi yang dikumpulkan dalam survei tanah membantu
pengembangan penggunaan lahan terhadap lingkungan (Rayes 2007).
Dalam survey tanah dikenal tiga macam metode survey, yaitu metode grid
(menggunakan prinsip pendekatan sintetik), metode fisiografi dengan interpretasi foto
udara (menggunakan prinsip amalitik), dan metode grid bebas yang merupakan
penerapan gabungan dari kedua meyode survey. Biasanya dalam metode grid bebas,
pemeta bebas memilih lokasi titik pengamayan dalam mengkonfirmasi sistematis batas
dan menentukan komposisi satuan peta.

TUJUAN
Praktikum ini bertujuan mempelajari dan mampu melakukan pemetaan
topografi (kontur) suatu wilayah dengan metode grid.

ALAT DAN BAHAN


Praktikum ini membutuhkan alat-alat sebagai berikut:
1. Theodolite
2. Target rod
3. Kompas
4. Pita ukur
5. Unting – unting
6. Patok

METODE
Praktikum ini dilaksanakan pada hati Jumat tanggal 27 April 2018 pukul 13.30
sampai 16.00. sebelum melaksanakan praktikum, praktikan berkumpul di RkV021
untuk mendapatkan penjelasan materi oleh asisten. Setelah itu, perwakilan dari masing
– masing kelompok mengambil alat yang digunakan dan sisanya menuju ke tempat
lokasi pengamatan yaitu Arboretum IPB.

50
Pertama, kisi – kisi grid dibuat menggunakan patok dengan ukuran 4m x 4m
pada daerah yang akan dipetakan. Alat yang dipasangan pada suatu titik O, lalu alat di
nolkan dengan sudut ke arah horizonyal, lalu BM dibidik. Kemudian, titik – titik (grid)
diukur dengan metode seperti profil (satu BS, FS sebanyak mungkin). Bila titik grid
tidak dapat dibidik dengan satu titik, maka lakukan pengaturan di titik O kedua.
Perhatikan titik – titik yang digunakan sebagai titik putar (TP). Lalu plot lokasi titik –
titik grid tersebut pada kertas milimeter blok.

PEMBAHASAN
Peta topografi merupakan peta yang menggambarkan ketidakrataan atau relief
permukaan buli dan memiliki informasi tentang ketinggian permukaan tanah pada
suatu tempat terhadap permukaan laut yang digambarkan dengan garis – garis kontur.
Informasi topografi yang terdapat pada peta topografi dapat digunakan untuk membuat
model tiga dimensi dari permukaan tanah pada peta tersebut. Dengan model tiga
dimensi maka ojek pada peta dilihat lebih hidup seperti pada keadaan sesungguhnya di
alam, sehingga untuk menganalisa suatu oeta topografi dapat lebih mudah dilakukan
(Purworaharjo 1982).
Grid merupakan jaringan titik segi empat yang tersebar secara teratur ke seluruh
area pemetaan. Grid dibentuk berdasarkan data XYZ dan menggunakan algoritma
matematis tertentu. gridding merupakan proses penggunakan titik data asli
(pengamatan) yang ada pada file XYZ untuk membentuk titik – titik dan tambahan
pada sebuat frid yang tersebar secara terukur. Batas grid merupakan batas pemetaan
yang diambil dari nilai x kecil , x besar , y kecil , y besar. Batas – batas pemetaan
tersebut membentuk segi empat dengan koordinat terluar nilai – nilai terbesar x dan y.
Kepadatan grid merupakan lebar kolom dan garis pada grid kolom dan baris pemetaan
berupa garis grid minor yang terbentuk oleh proses interpolasi data XYZ, disepanjang
sumbu X dan Y.
Dari hasil praktikum, didapatkan 16 titik dengan jarak 4m x 4m di lahan datar
untuk metode grid. Pada setiap titik diukur beda elevasi, jarak, dan elevasinya seperti
pada yabel 1. Dari table 1 dibuat garis kontur dengan menginterpolasi nilai – nilai beda
elevasi pada titik – titik yang telah diukur beda elevasinya. Kemudian dihubungkan
degan sebuah garis yang disebut garis jontur yang memnunjukkan ketidakrataan lahan.
Aplikasi pemetaan topografi dengan metode grid pada bidang teknik mesin dan
biosistem adalah meninjau galian atau timbunan pada pekerjaan pembukaan lahan
perkebunan serta bendungan dari tampak atas (Sudaryatno 2009).

SIMPULAN
Peta topografi merupakan peta yang menggambarkan ketidakrataan atau relief
pada permukaan bumi. Hasil yang didapatkan di Arboretum Lanskap IP memiliki
ukuran yang berbeda – beda yang menunjukan kontur di Arboretum Lanskap IPB tidak
rata. Aplikasi pada pembuatan lahan perkebunan serta bendungan sebagai sumbu
pengairan.

51
SARAN
Sebaiknya asisten praktikum yang menjelaskan menggunakan kata – kata yang
sederhana sehingga dalam mengerjakan laporan tidak bingung.

DAFTAR PUSTAKA
Purworaharjo. 1982. Hitung proyeksi geodesi. Jurnal Sipil. 1 (1) : 16 – 16.
Sudaryatno. 2009. Petunjuk Praktikum Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta (ID) :
Universitas Gadjah Mada.
Rayes ML. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Yogyakarta (ID) : Andi
Offset.

52
LAMPIRAN
Denah Lokasi Praktikum

Gambar 1 Denah Lokasi Praktikum


Gambar Alat dan Keterangan

Gambar 2 Kompas

Gambar 3 Target Rod

53
Gambar 4 Patok

Gambar 5 Pita Ukur

Gambar 6 Tripod (kaki tiga)

54
Gambar 7 Theodolite

Sketsa Metode

Gambar 8 Sketsa metode Grid

55
Gambar 9 Sketsa metode Grid pada milimeter blok
Contoh Perhitungan

Gambar 10 Contoh perhitungan metode Grid


Tabel Data

56
Gambar 11 Tabel data metode Grid

Pembagian Kerja
1. Sindy Oktaviana : Izin
2. Maria Rosa Widya B : Mencatat data
3. M Reza Hertiansyah : Mengambil alat
4. Gerry Paduka I : Membidik target rod
5. M Husein Abul H : Menghitung data
6. Sanhaji : Mengukur dan memasang theodolite
7. M Syabani Subuhi : Membidik target rod
8. Ad Din Alfarisi : Memegang payung
9. Pradnya Adi Nugraha : Mengambil dan memasang alat

57
PEMETAAN TOPOGRAFI DENGAN METODE CONTROLLING
POINT DAN PENGGUNAAN METODE SURFER
Hari / tanggal : Jumat/ 4 Mei 2018 Asisten Praktikum :
Lokasi : Jalan depan FEMA 1. Herdi Hermawan (F44150014)
Cuaca : Cerah 2. M. Farhan Harahap (F44150022)
3. Irlan Dharmawan (F44150068)

PENDAHULUAN
Dalam ilmu ukur tanah, permukaan bumi daoat diukur dan dicari koordinatnya.
Selanjutnya, permukaan bumi yang telah diukur koordinatnya tersebut digambarkan
dalam bidang datar dengan suatu sistem proyeksi skala tertentu. pemetaan sebagai
proses menyajikan informasi muka bumi syang berupa fakta (nyata), baik bentuk
permukaan bumi maupun sumber daya alamnya, berdasarkan skala peta, sistem
proyeksi peta, serta simbol – simbol unsur muka bumi yang disajikan (Rusmini 2000).
Secara garis besar, pemetaan dibagi dalam dua cara, pertama adalah pemetaan
secara teresteris dan fotogrametris. Pemetaan terestris data yang digunakan diperoleh
dari hasil pengukuran langsung di lapangan, sedangkan pemetaan fotogrametris data
yang diperoleh dari foto hasil pemotretan udara. Pemetaan topografi termasuk
pemetaan terestris karena menggunakan data yang diperoleh dari pengukuran
dilapangan. Didalam pemetaan topografi, secara terestris, titik – titik dipermukaan
bumi dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu titik – titik dipermukaan bumi
dikelompokan menjadi dua kelompok besar, yaitu titik kerangka dasar dan titik detail.
Data – data yang diperoleh dapat diolah melalui program (software) seperti surfer untuk
menghasilkan gambar oeta yang lebih akurat dan menentukan volume gusur – timbun
pada elevasi tertentu.

TUJUAN
Praktikum ini bertujuan mempelajari dan mampu melakukan pemetaan
topografi (kontur) suatu wilayah dengan metode controlling point, serta mempelajari
dan mampu menggunakan program (software) surfer untuk menggambar peta suatu
wilayah berdasarkan data – data yang diperoleh dan menentukan volume gusur –
timbun pada elevasi tertentu yang optimal.

ALAT DAN BAHAN


Praktikum ini membutuhkan alat-alat sebagai berikut:
1. Theodolite
2. Target rod
3. Kompas
4. Pita ukur
5. Unting – unting

58
7. Patok
8. Seperangkat komputer / laptop
9. Printer
10. Software Surfer ver. 8.08
11. Data pengukuran wiayah

METODE
Praktikum ini dilaksanakan pada hati Jumat tanggal 4 Mei 2018 pukul 13.30
sampai 16.00. sebelum melaksanakan praktikum, praktikan berkumpul di RkV021
untuk mendapatkan penjelasan materi oleh asisten. Setelah itu, perwakilan dari masing
– masing kelompok mengambil alat yang digunakan dan sisanya menuju ke tempat
lokasi pengamatan yaitu jalan di depan FEMA.
Praktikum diawali dengan membuat kerangka titik kontrol sebagai titik utama
berupa suatu segi banyak didalam areal yang akan dipetakan, kemudian set up alat di
salah satu titik kontrol. Nolkan sudut horizontalnyake arah utara, lalu bidik BM.
Selanjtnya, bidik titik – titik detil sebanyak mungkin yang berada di sekitar titik kontrol
dan baca sudut horizontal, BA, BT, BB, serta sudut vertikal. Bila pengukuran
pengukuran titik kontrol telah selesai, pindahkan alat ke titik kontrol lain. Kemudian
lakukan perhitungan koordinat x, y dan z (elevasi) untuk setiap titik ukur. Data – data
pengukuran x, y, dan z kemudian dimasukkan kedalam program Surfer untuk
mendapatkan bentuk wilayah secara dua dimensi dan tiga dimensi.

PEMBAHASAN
Peta topografi merupakan peta yang memuat informasi umum tentang keadaan
permukaan tanah berserta informasi ketinggiannya menggunakan garis kontur yaitu
garis pembatas bidang yang merupakan tempat kedudukan titik – titik dengan
ketinggian sama terhadap bidan referensi (pedoman acuan) tertentu (Handoyo 2004).
Controlling point atau Ground Controlling Point (GCP) atau titik kontrol tanah
adalah obyek di permukaan bumi yang dapat diidentifikasi dan memiliki informasi
spasial sesuai dengan sistem referensi pemetaan (Eddy 2001). Surfer adalah salah satu
perangkat lunak yang berdasarkan pada grid. Perangkat lunak ini melakukan plotting
data tubular x, y, dan z tak beraturan menjadi lembar titik – titik segiempat (grid) yang
beraturan (Rusmini S 2000).
Hasil dari praktikum adalah peta topografi jalan didekan FEMA dalam bentuk
dua dimensi dan tiga dimensi. Pada gambar dua dimensi dpat terlihat garis kontur yang
menghubungkan titik – titik yang memiliki ketinggian yang sama. Hasil peta dua
dimensi dpat dilihat pada gambar. Terdapar daerah yang memiliki elevasi yang rendah
sekali yang menunjukan bahwa itu adalah selokan. Sedangkan daerah yang elevasinya
menurun sedikit menunjukkan trotoar jalan.
Pemetaan topografi banyak dilakukan untuk analisis lahan suatu wiayah.
Pemetaan topografi dilakukan untuk mendukung pengkajian kelayakan tapak

59
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) seperti di Pulau Panjang, Banten (Yarianto
dan Nugroho 2010).

SIMPULAN
Peta topografi memuat informasi tentang permukaan (relief / kontur) bumi yang
didapatkan pada wilayah yang tidak teratur. Informasi yang diperoleh dalam bentuk
koordinat x, y, dan z. Koordinat x, y, dan z diolah dalam program surfer sehingga
menghasilkan peta topografi dalam bentuk dua dimensi dan tiga dimensi. Aplikasi yang
digunakan biasanya untuk analisis lahan suatu wilayah.

SARAN
Praktikan lebih serius lagi agar data yang didapatkan sesuai dan menghasilkan
gambar yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Eddy P. 2001. Konsep – Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Bandung (ID): CV
Informatika.
Handoyo S. 2004. Pemodelan peta topografi ke objek tiga dimensi. Jurnal Informatika.
5(1) : 14 – 21.
Rusmini S. 2000. Tuntunan Praktis Pemograman Grafik 3D dengan Direct 3D. Jakarta
(ID) : PT Elex Media Komputindo.

60
LAMPIRAN
Denah Lokasi Praktikum

Gambar 1 Denah Lokasi Praktikum


Gambar Alat dan Keterangan

Gambar 2 Kompas

Gambar 3 Target Rod

Gambar 4 Patok

61
Gambar 5 Pita Ukur

Gambar 6 Tripod (kaki tiga)

Gambar 7 Theodolite

62
Sketsa Metode

Gambar 8 Sketsa metode controlling point

Gambar 9 Peta topografi dua dimensi

63
Gambar 10 Peta topografi tiga dimensi

Contoh Perhitungan

Gambar 11 Contoh perhitungan metode controlling point

64
Tabel Data

65
Gambar 12 Tabel data metode controlling point

66
Pembagian Kerja
1. Sindy Oktaviana : Mencatat data
2. Maria Rosa Widya B : Mengolah data perhitungan
3. M Reza Hertiansyah : Mengambil target rod
4. Gerry Paduka I : Mengambil dan mengembalikan alat
5. M Husein Abul H : Mengambil dan mengembalikan alat
6. Sanhaji : Membaca theodolite
7. M Syabani Subuhi : Membidik target rod
8. Ad Din Alfarisi : Memegang payung
9. Pradnya Adi Nugraha : Mengambil dan memasang alat

67
PENENTUAN KOORDINAT POSISI DENGAN GPS
Hari / tanggal : Jumat/18 Mei 2018 Asisten Praktikum :
Lokasi : Tangga Utama FAPERTA 1. Herdi Hermawan (F44150014)
Cuaca : Cerah 2. M. Farhan Harahap (F44150022)
3. Irlan Dharmawan (F44150068)

PENDAHULUAN
Kemajuan jaman banyak membawa perubahan dibidang teknologi. Manusia
dapat menjelajahi sebuah lokasi yang jauh dengan bantuan GPS atau Global
Positioning Sistem. Dengan bantuan satellite GPS dapat mengirim informasi koordinat
hingga keadaan rupa bumi pada lokasi tertentu yang dipilih.
Kualitas data mengenai objek-objek di permukaan bumi yang paling murakhir
sangatlah mempengaruhi bagaimana hasil penggambaran peta, salah satunya peta
situasi yang memuat simpul yang menggambarkan keberadaan wilayah.(Basuki 2007)

TUJUAN
Praktikum ini bertujuan agar praktikan mampu menggunakan GPS untuk
menentukan posisi koordinat titik-titik tertentu dalam suatu wilayah serta mengetahui
lokasinya dalam peta.

ALAT DAN BAHAN


Praktikum ini membutuhkan alat-alat sebagai berikut:
12. GPS
13. Alat tulis
14. Smartphone

METODE
Praktikum dimulai dengan penjelasan oleh asisten. Kemudian GPS dibagikan
pada setiap kelompok dan dijelaskan cara penggunaan GPS oleh asisten. Setelah itu
praktikan pergi ke titik-titik yang sudah dibagi perkelompok. Cari koordinat pada titik
tertentu pada GPS dicatatan dan dibandingkan dengan koordinat yang dihasilkan
Google Maps pada titik yang sama.

PEMBAHASAN
GPS merupakan sistem navigasi untuk penentuan posisi dengan menggunakan
satelit. Dalam penentuan posisi GPS mengacu pada datum global sehingga semua GPS
mengacu pada datum yang ssama. Sistem koordinat GPS mengacu pada sistem
koordinat kartesian terikat bumi dimana sumbu X terletak pada bidang meridian
(Greenwich) dan sumbu Y tegak lurus terhadap sumbu X (Abdin 2001).
Kelebihan peta GPS yaitu peta GPS dapat melakukan updating peta sehingga
dapat POI yang dikehendaki. Koordinat POI yang ada dalam GPS ini dilakukan secara

68
langsung kelapangan sehingga titik koordinat yang didapat pasti. Kekurangan GPS
yaitu pembentukan data atribut parameter kurang lengkap sehingga kalkulasi yang
dilakukan GPS kurang optimal dalam menunjukkan suatu temoat. Jalan yang ada pada
GPS kurang lengkap karena hanya menampilkan yang dilalui oleh POI (Point of
Interest) (Ramadhani et al 2015).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada pengukuran empat titik
koordinat didapat data garis lintang (s), garis bujur(f) dan GPS accuracy. Data yang
diperoleh di tangga utama FAPERTA yaitu 06o33’519” dan 106o43’849” dengan akurasi
7 m. Data tersebut sama dengan data yang diperoleh Google maps yaitu -6,558737o
dan 106,730769o . Data kedua yang didapat di Bata merah yaitu 06o33’432” dan
106o43’926” dengan akurasi 3 m. Data tersbut sama dengan data yang diperoleh Google
maps yaitu -6,557222o dan 106,730769o. Data ketiga didapat di lapangan Gelora yaitu
06o33’432” dan 106o44’038” dengan akurasi 3 m. Data tersebut sama dengan data yang
diperoleh Google maps yaitu -6,557240o dan 106,734008o. Data keempat didapat di
Asrama Putri yaitu 06o33’345” dan 106o43’907” dengan akurasi 4 m. Data tersebut sama
dengan yang diperoleh Google maps yaitu -6,555733o dan 106,731791o. Setelah semua
data dibandingkan dengan Google maps didapatkan hasil yang sama dengan akurasinya
tinggi.
Pengaplikasian GPS dibidang keteknikan bisa diterapkan pada survei dan
desain serta pada survei pemetaan , transportasi dan navigasi (Irene 2001).

SIMPULAN
Praktikum pemetaan koordinat dengan GPS didapat dua titik yaitu gariss
lontang dan garis bujur. Hasil penentuan koordinat GPS dan Google maps memiliki
hasil yang relative sama. Faktor yang mempengaruhi keakuratan adalah tempat terbuka
serta jumlah satelit yang lengkap. Semakin banyak satelit yang didapat maka akan
semakin akurat tempat tersebut.

SARAN
Praktikum lebih teliti dan berhati-hati dalam menggunakan peralatan praktikum

DAFTAR PUSTAKA
Abdin H.2001.Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya.Jakarta (ID): Pradnia
Paramita
Basuki .2007.Ilmu Ukur Tanah.Yogyakarta (ID) : UGM
Irene.2001.Ilmu Ukur Tanah. Bandung (ID) .Bumi Aksara
Ramadhani N, Sudarso, Sasintio.2015. Pembuatan peta navigasi sarana umum kota
Semarang data peta pada GPS GARMIN Map. Jurnal Geodesi Undip.1(1):59-
60.

69
LAMPIRAN

Gambar 1 denah lokasi

Gambar 2 GPS receiver Gambar 3 SmartPhone

Gambar 5
GPS

Gambar 4 contoh perhitungan

Tabel 1 Hasil data pengukuran koordinat dengan GPS dan ponsel


Koordinat GPS Ponsel Akurasi Elevasi
Lokasi/alat GPS(m) (m)
LS BT LS BT
Tangga 06o33,519’ 106o43,843’ -6o33’31” 106o43,51” 7 246
Utama
FAPERTA
Bata Merah 06o33’432’ 106o43,926’ -6o33’26” 106o43,56” 3 245
Lapangan 06o33’432’ 106o44,038’ -6o33’26” 106o44,21” 3 230
Gelora
Asrama 06o33’345’ 106o43,907’ -6o33’21” 106o43,54” 4 225
Putri

70
Pembagian Kerja
1. Sindy : Mencatat data GPS
2. Maria : Mencatat data GPS
3. Reza : Mencatat data GPS
4. Gerry : Memegang dan pinpoint posisi dengan GPS
5. Husein : Mencatat data dari Google Maps
6. Sanhaji : Mencatat data dari Google Maps
7. Syaban : Mencatat data dari Google Maps
8. Alfa : Mencatat data dari Google Maps
9. Prad : Pinpoint posisi dengan Google Maps

71

Anda mungkin juga menyukai