Anda di halaman 1dari 6

2.

1 Persiapan Penetasan

1) Fumigasi Mesin Tetas

Fumigasi mesin tetas merupakan suatu langkah awal yang penting pada proses

penetasan telur untuk mencegah timbulnya penyakit menular melalui penetasan.

Fumigasi juga salah satu faktor yang sangat mempengaruhi daya tetas telur, oleh

karena itu agar proses penetasan berjalan dengan baik perlu perlakuan fumigasi yang

tepat. Daya tetas telur yang mendapat perlakuan fumigasi lebih tinggi dari pada yang

tidak (Siregar, 1975).

Namun jika jenis desinfektan atau dosisnya terlalu tinggi akan menyebabkan

kematian pada embrio, maka dari itu perlu dilakukan pencampuran desinfektan yang

sesuai kebutuhan. Bahan yang tepat dipergunakan untuk fumigasi adalah formalin

yang dicampur dengan KMnO4, dengan dosis pemakaian 40 ml formalin + 20 gram

KMnO4 digunakan untuk ruangan bervolume 2,83 m3 (Kartasudjana dan Suprijatna,

2010).

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, langkah awal dari penetasan telur yaitu

dilakukan pembersihan dan fumigasi/pencucihamaan terhadap mesin tetas.

Pencucihamaan ini bukan hanya dilakukan bila keadaan mesin tetas itu sangat kotor,

melainkan setiap kali akan dipergunakan harus dicucihamakan. Cucihama mesin tetas

diawali dengan pencucian menggunakan air bersih atau air hangat. Setelah itu di lap

dengan menggunakan 2 - 3% larutan creosal atau obat anti hama (desinfektan).

Setelah kering mesin tetas dibiarkan hingga kering, setelah kering dilakukan

pencucihamaan ulang dengan cara fumigasi. Fumigasi ini dilakukan agar bibit

penyakit yang masih hidup dan tersisa dalam mesin tetas menjadi mati.
Fumigasi yang digunakan pada umumnya berupa campuran formalin dan

kalium permanganat (KMnO4). Formalin merupakan larutan gas formaldehid, bila

terkena larutan formalin kulit akan terasa pedih dan terkelupas. Bila gas formaldehida

terkena mata dan hidung akan terasa pedih, gas formaldehid akan menguap bila

larutan formalin dipanaskan.

Untuk menfumigasi mesin tetas, fumigasi diuapkan selama 30 menit, caranya

hanya dengan menguapkan formalin ke wadah yang berisi KMnO. Bahan tersebut

harus tahan panas. Setelah diuapkan mesin tetas segera ditutup dan didiamkan selama

24 - 48 jam dengan kondisi pemanasan tetap hidup.

Perlakukan fumigasi yang tidak benar seperti terlalu lama atau dosis terlalu

keras akan menyebabkan kematian embrio yang sangat dini.

Tabel 1. Dosis Fumigasi untuk ruangan sebesar 2,83 M3

Kekuatan Formalin (cc) KMnO4

1 Kali 40 20

2 Kali 80 40

3 Kali 120 60

4 Kali 160 80

5 Kali 200 100

Tabel 2. Rekomendasi Pelaksanaan Fumigasi

Uraian Dosis Waktu Keterangan

(Menit

Telur tetas 3 kali 20 -


Telur dalam mesin 2 kali 20 -

tetas (hanya hari

pertama)

Anak ayam dalam 1 kali 3 Asap formadehid perlu segera

mesin tetas dimatikan

Ruang penetasan 1 kali / 2 30 -

kali

Mesin tetas kosong 3 kali 30 -

2) Mengatur Suhu dan Kelembapan

Suhu untuk perkembangan embrio telur ayam adalah 101 0F - 1050F atau

38,330C – 40,550C. Setelah telur diletakkan dalam alat penetasan atau mesin tetas,

pembelahan sel segera berlangsung dan embrio akan terus berkembang selama

suhunya tetap. Dengan kondisi ini, embrio akan berkembang sempurna dan akan

menetas. Namun, sumber panas yang digunakan untuk mencapai suhu yang

dibutuhkan biasanya kurang stabil. Untuk itu, control terhadap suhu di dalam ruangan

penetasan harus dilakukan setiap hari selama masa penetasan. Pengontrolan suhu

penetasan yang kurang diperhatikan akan dapat menggagalkan proses penetasan

(Paimin, 2011).

Selama penetasan berlangsung, diperlukan kelembapan udara yang sesuai

dengan perkembangan dan pertumbuhan embrio, seperti suhu dan kelembapan yang

umum untuk penetasan telur setiap jenis unggas. Bahkan, kelembapan awal penetasan

berbeda dengan hari-hari selanjutnya. Kelembapan untuk telur ayam sendiri pada
awal penetasan sekitar 52 – 55% dan menjelang menetas sekitar 60 – 70% (Paimin,

2011).

Kelembapan juga memengaruhi proses metabolism kalsium (Ca) pada embrio.

Saat kelembapan tinggi, perpindahan Ca dari kerabang telur ke tulang-tulang dalam

perkembangan embrio akan lebih banyak. Pertumbuhan embrio dapat diperlambat

oleh kelembapan udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Sementara itu,

pertumbuhan embrio optimum akan diperoleh pada kelembapan mendekati

maksimum (Paimin, 2011).

Biasanya kelembapan dapat diatur dengan pemberian air ke dalam wadah

ceper dan diletakkan di dalam mesin tetas. Munculnya kelembapan di dalam ruang

penetasan diakibatkan oleh suhu yang meningkat. Adanya peningkatan suhu tersebut

dapat menguapkan air yang ada di dalamnya sehingga tercipta kelembapan (Paimin,

2011).

3) Seleksi Telur Tetas

Selama menjalankan manajeman penetasan diperlukan penyeleksian telur

tetas, karena jika telur tetas yang tidak sesuai dengan kriteria telur yang dapat

ditetaskan/ memiliki daya tetas yang tinggi tetap ditetaskan akan merugikan dan lebih

bahayanya akan berdampak ke telur lain yang sesuai kriteria. Telur tetas yang sesuai

kriteria dapat ditetaskan / memiliki daya tetas tinggi yaitu: Bentuknya oval, tekstur

halus, berukuran sedang, dan cangkang tebal. Bentuk dari telur juga perlu

diperhatikan karena juga dapat mempengaruhi bobot tetas, penyerapan suhu pada

telur dengan bentuk lancip lebih baik bila dibandingkan dengan telur berbentuk

tumpul maupun bulat, hal ini menyebabkan proses metabolisme embrio didalamnya

dapat berjalan dengan baik sehingga bobot tetasnya lebih tinggi (North, 1990).
Bentuk dari telur juga akan mempengaruhi bobot tubuh DOC, ukuran besar

telur berpengaruh pada ukuran besar anak ayam yang baru menetas (Gillespie, 1992).

Telur tetas harus berasal dari induk (pembibit) yang sehat dan produktifitasnya tinggi

dengan sex ratio yang baik sesuai dengan rekomendasi untuk strain atau jenis ayam,

umur telur tidak boleh lebih dari satu minggu, bentuk telur harus normal, sempurna

lonjong dan simetris, seragam, berat 35 - 50 gram (Suprijatna, 2005)

4) Fumigasi Telur Tetas

Fumigasi pada telur tetas merupakan cara sanitasi telur dengan menggunakan

gas formaldehid yang berupa hasil campuran formalin dengan kalium permanganat

(Ahyari, 1992). Fumigasi dilakukan dengan menggunakan campuran formalin dan

Kalium permanganat. Proses fumigasi berlangsung selama 15-20 menit. Sanitasi bisa

dilakukan dengan menyemprot telur tetas menggunakan disinfektan seperti golongan

quaternary ammonium coumpound atau dioksida klorin (ozone/O3) (Fadilah dkk.,

2007).

Fumigasi atau desinfeksi pada telur tetas sebaiknya dilakukan sekitar 2 jam

setelah keluar dari induk. Telur tetas yang pecah atau telur yang tercemar oleh feses

sebaiknya di afkir. Jika telur yang tercemar pecah selama inkubasi, maka isinya akan

merupakan sumber infeksi bagi telur lainnya, demikian juga bagi peralatan ataupun

personil inkubatornya (Rangga, 2000). Telur yang berasal dari kandang harus

mendapat fumigasi awal, karena bibit penyakit yang menempel pada kerabang telur

berjumlah sangat banyak karena terkena kotoran dari dalam kandang yang akan

menurunkan persentase daya tetas telur. Telur tetas sebelum dimasukkan ke dalam

ruang penyimpanan, diperlukan usaha untuk menghilangkan bibit penyakit yang


menempel pada kerabang agar tidak mencemari telur dan unit penetasan (Rasyaf,

2001). Proses fumigasi penting karena untuk membunuh bakteri yang berada atau

yang menempel dibagian cangkang telur tetas maupun di troly.

DAFTAR PUSTAKA
Ahyari, Agus.1992. Manajemen Produksi. Jilid 1. Yogyakarta
Fadillah, R., Iswandari, Polana, A. 2007. Berternak Unggas Bebas Flu Burung. Agro
Media Pustaka: Jakarta. Halaman 1-9.
Gillespie, R.J. 1992. Modern Livestock and Poultry Production 4th Ed. By Delmar
Publisher Inc.
Kartasudjana, R dan E. Suprijatna. 2010. Manajemen Ternak Unggas. Penebar
Swadaya, Jakarta. 81-94.
North, N. O. and Donald D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual.
Fourth Edition. Newyork University of California Poultry Specialist.
Paimin. F.B. 2011. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas. Penebar Swadaya. Jakarta
Rasyaf, M. 2001. Beternak Ayam Pedaging. Cetakan Ke-XX. Penebar Swadaya.
Jakarta
Siregar, A .P., M.H . Togatorop dan Sumarni . 1975 . Pengaruh Beberapa Tingkat
Konsentrasi Kalium Permanganat dan Formalin 40% untuk Penghapus
Hamakan Telur Tetas. Bulletin LPP, No . 14: 34-38.
Suprijatna, E. U, Atmomarsono. R, Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Tabbu, Charles Rangga. 2000.Penyakit Ayam dan Penanggulangannya : Penyakit
Bakterial, Mikal dan Viral. Yogyakarta : Kanisius. Halaman164-178.