Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada praktikum ini akan dibuat sediaan Salep dengan bahan aktif gentamisin sulfat. Salep
adalah sediaan setengah padat yang ditunjukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput
lendir (FI ed IV). Bahan obatnya larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok
(FI ed III). Salep tidak boleh berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam
salep yang mengandung obat keras atau narkotik adalah 10% (Ansel 2008).
Akan tetapi salep harus meimiliki kualitas yang baik yaitu stabil, tidak terpengaruh oleh
suhu dan kelembapan kamar, dan semua zat yang dalam salep harus halus. Oleh karena itu pada
pembuatan salep harus digerus dengan homogen agar semua zat aktifnya dapat masuk ke pori
– pori kulit dan diserab oleh kulit.
Gentamisin adalah antibiotik golongan aminoglikosida yang bersifat bakterisida terhadap
banyak bakteri aerob, gram-negatif dan terhadap beberapa strain stafilokokus. Dalam sel,
aminoglikosida mengikat sub unit ribosom 30S, dan sampai batas tertentu untuk sub unnit
ribosom 50S, menghambat sintesis protein dan menghasilkan kesalahan dalam transkripsi kode
genetik bakteri. Organisme patogen berikut biasanya sensitif terhadap gentamisin, diantaranya:
strain Gram-negatif, spesies Brucella, Calymmatobacterium, Campylobacter, Citrobacter,
Escherichia, Enterobacter, Francisella, Klebsiella, Proteus, Providencia, Pseudomonas,
Serratia, Vibrio, Yersini dan Neisseria. Di antara organisme Gram-positif seperti strain
Staphylococcus aureus, Listeria monocytogenes dan beberapa strain Staphylococcus
epidermidis, Enterococci dan Streptococcus. (Sweetman, 2009).

Gentamisin juga telah diterapkan untuk pemakaian topikal pada infeksi kulit digunakan
gentamisin dengan konsentrasi 0,1%, kadar tersebut merupakan kadar yang disarankan, tetapi
penggunaan tersebut juga dapat menyebabkan timbulnya resistensi. Konsentrasi 0,3%
digunakan dalam penggunaansediaan topikal untuk mata dan telinga (Sweetman, 2009).

Sediaan ditujukan untuk penggunaan topikal pada kulit dan gentamisin sulfat sebagai
bahan aktif memiliki kelarutan yang larut dalam air (Kemenkes RI, 2014), maka dibuat sediaan
krim tipe air dalam minyak agar bahan aktif yaitu gentamisin berada di fase dalam yaitu air.
Selain itu bahan aktif memiliki pemerian yang tidak berbau, untuk menambah nilai tampilan
dalam hal aroma dan untuk meningkatkan akseptabilitas pasien maka pada sediaan
ditambahkan pengaroma.
Dosis pemakaian salep gentamisin sulfat yaitu 2 sampai 3 kali sehari, dioleskan
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1978).

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, rumusan masalah dalam penulisan laporan ini yaitu:
1. Bentuk sediaan apa yang sesuai untuk obat golongan antibiotik seperti; gentamicin?
2. Bagaimana formulasi yang digunakan dalam pembuatan sediaan salep gentamicin ?
3. Bagaimana evaluasi yang dilakukan pada sediaan salep gentamicin?

1.3 Tujuan

Dari rumusan masalah diatas, tujuan penulisan laporan ini yaitu:


1. Untuk mengetahui bentuk sediaan yang sesuai untuk obat golongan antibiotik seperti;
gentamicin.
2. Untuk mengetahui formulasi yang digunakan dalam pembuatan sediaan gentamicin.
3. Untuk mengetahui evaluasi yang dilakukan pada sediaan salep gentamicin.

1.4 Manfaat

Manfaat penulisan laporan ini, anatara lain:


a. Bagi pembaca
Diharapkan pembaca mengetahui proses formulasi dan evaluasi sediaan salep
gentamicin.
b. Bagi penulis
Diharapkan penulis menjadi lebih mengerti dan lebih mendalami tentang ilmu
formulasi serta spesifikasi dalam pembuatan sediaan salep gentamicin, serta lebih mengetahui
cara evaluasi yang dilakukan setelah pembuatan salep.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan bentuk sediaan


2.1.1 Pengertian Salep
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III. Salep adalah sediaan setengah padat berupa
massa lunak yang mudah dioleskan dan digunaka untuk pemakaian luar. Menurut
farmakope edisi IV sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topical pada kulit
atau selaput lendir. Menurut DOM Salep adalah sediaan semi padat dermatologis yang
menunjukkan aliran dilatan yang penting. Menurut Scoville’s salep terkenal pada daerah
dermatologi dan tebal, salep kental dimana pada dasarnya tidak melebur pada suhu tubuh,
sehingga membentuk dan menahan lapisan pelindung pada area dimana pasta digunakan.
Menurut Formularium Nasional salep adalah sedian berupa masa lembek, mudah
dioleskan, umumnya lembek dan mengandung obat, digunakan sebagai obat luar untuk
melindungi atau melemaskan kulit, tidak berbau tengik. Salep tidak boleh berbau tengik.
Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau
narkotik adalah 10 % ( Anief, 2005).

2.1.2 Kerugian Salep pada basis salep hidrokarbon


 sifatnya yang berminyak dapat meninggalkan noda pada pakaian serta sulit
tercuci oleh air sehingga sulit dibersihkan dari permukaan kulit.
 Hal ini menyebabkan penerimaan pasien yang rendah terhadap basis
hidrokarbon jika dibandingkan dengan basis yang menggunakan emulsi seperti
krim dan lotion.
 Sedangkan pada basis lanonin, kekurangan dasar salep ini ialah kurang tepat
bila dipakai sebagai pendukung bahan-bahan antibiotik dan bahan-bahan lain
yang kurang stabil dengan adanya air.
2.1.3 Keuntungan salep
Misalnya salep dengan dasar salep lanolin yaitu walaupun masih mempunyai sifat
lengket yang kurang menyenangkan tetapi mempunyai sifat yang mudah dicuci dengan
air dibandingkan dasar salep berminyak.

2.1.4 Fungsi salep


a. Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit
b. Sebagai bahan pelumas pada kulit
c. Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit dengan
larutan berair dan rangsang kulit ( Anief, 2005).
2.1.5 Persyaratan salep menurut FI ed III
a. Pemerian tidak boleh berbau tengik.
b. Kadar, kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat keras
atau narkotik, kadar bahan obat adalah 10 %.
c. Dasar salep yang cocok.
d. Homogenitas, Jika salep dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan
lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.
e. Penandaan,pada etiket harus tertera “obat luar” (Syamsuni, 2005).
2.1.6 Kualitas dasar salep
a) Stabil, selama masih dipakai mengobati. Maka salep harus bebas dari
inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembaban yang ada dalam kamar.
b) Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak
dan homogen. Sebab salep digunakan untuk kulit yang teriritasi,inflamasi dan
ekskloriasi.
c) Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi adalah yang paling mudah dipakai
dan dihilangkan dari kulit.
d) Dasar salep yang cocok yaitu dasar salep harus kompatibel secara fisika dan
kimia dengan obat yang dikandungnya. Dasar salep tidak boleh merusak atau
menghambat aksi terapi dari obat yang mampu melepas obatnya pada daerah yang
diobati.
e) Terdistribusi merata, obat harus terdistribusi merata melalui dasar salep padat
atau cair pada pengobatan (Anief, 2005).
2.1.7 Pembagian salep
Salep dapat digolongkan berdasarkan konsistensi, sifat farmakologi, bahan dasarnya
dan formularium nasional antara lain:
a) Menurut konsistensi, salep di bagi :
 Unguenta : Salep yang memiliki konsistensi seperti mentega, tidak mencair pada
suhu biasa, tetapi mudah dioleskan.
 Krim ( cream ): Salep yang banyak mengandung air, mudah diserap kulit, suatu tipe
yang dapat dicuci dengan air.
 Pasta : Salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat ( serbuk) berupa suatu
salep tebal karena merupakan penutup/pelindung bagian kulit yang diolesi.
 Cerata Salep berlemak yang mengandung persentase lilin ( wax) yang tinggi
sehingga konsistensinya lebih keras ( ceratum labiale ).
 Gelones / spumae/ jelly : Salep yang lebih halus, umumnya cair , dan sedikit
mengandung atau tidak mengandung mukosa ; sebagai pelicin atau basis, biasanya
berupa campuran sederhana yang terdiri dari minyak dan lemak dengan titik lebur
rendah. Contoh : starch jelly ( amilum 10% dengan air mendidih).
b) Menurut sifat farmakologi / terapetik dan penetrasinya:
 Salep epidermik ( epidermic ointment, salep penutup.
Salep ini berguna untuk melindungi kulit, menghasilkan efek lokal dan untuk
meredakan rangsangan / anestesi lokal ; tidak diabsorbsi ; kadang-kadang
ditambahkan antiseptik atau astringent. Dasar salep yang baik untuk jenis salep ini
adalah senyawa hidrokarbon.
 Salep endodermik
Salep yang bahan obatnya menembus ke dalam tubuh melalui kulit, tetapi tidak
melalui kulit ; terabsorbsi sebagian dan digunakan untuk melunakkan kulit atau selaput
lendir. Dasar salep yang terbaik adalah minyak lemak.
 Salep diadermik
Salep yang bahan obatnya menembus ke dalam tubuh melalui kulit untuk
mencapai efek yang diinginkan. Misalnya, salep yang mengandung senyawa merkuri
iodida atau belladona.

c) Menurut dasar salepnya:

 Dasar salep hidrofobik


Salep yang tidak suka air atau salep yang dasar salepnya berlemak (greassy bases):
tidak dapat dicuci dengan air. Misalnya, campuran lemak-lemak , minyak lemak,
malam.
 Dasar salep hidrofilik.
Salep yang suka air atau kuat menarik air, biasanya mempunyai dasar salep tipe o/w.
2.1.8 Evaluasi Sediaan Salep
Evaluasi yang harus dilakukan dalam melakukan evaluasi sediaan salep sebagai
berikut:
a. Organoleptik
Uji organoleptis atau disebut dengan uji indra adalah pengujian yang dilakukan
dengan meggunakan indra manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya
penerimaan terhadap prodek kepada pasien. Pengujian organoleptis memiliki
peranan penting dalam penerapan mutu. Pengujian organoleptis dapat
memberikan indikasi adanya pertumbuhan mikroba dengan ditandai adanya
ketengikan ataupun bau busuk atau tidak enak. Hal tersebut menunjukan bahwa
telah terjadi penurunan mutu dan terjadi kerusakan pada produk tersebut.
Tujuan dilakukan pengujian organoleptis terkait langsung pada selera. Setiap
orang disetiap daerah memiliki kecenderungan selera tertentu sehingga produk
tersebut harus disesuaikan dengan selera masyarakat. Tujuan lain dari uji
organoleptis seperti; untuk pengembangan produk baru, pengawasan mutu,
perbaikan produk, evaluasi penggunaan bahan, formulasi dan peralatan baru
(Syamsuni, 2006).
b. Homogenitas salep
Diperiksa dengan cara mengoleskan salep pada sekeping kaca, kemudian
dilakukan pengamatan secara visual terhadap adanya bagian-bagian yang tidak
tercampurkan, Salep dinyatakan homogeny apabila pada pengamatan
menggunakan visual tampak rata dan tidak menggumpal.
c. Uji Daya Sebar
Ditimbang sebanyak 500 mg kemudian diletakkan di tengah-tengah cawan petri
yang berada dalam posisi terbalik. Diletakkan cawan petri yang lain di atas salep
sebagai beban awal dan dibiarkan selama 1 menit. Diameter salep yang
menyebar diukur. Dilakukan penambahan beban sebesar 1,0 gram dan dicatat
diameter salep yang menyebar setelah 1 menit sampai beban tambahan 20,0
gram.
d. Uji pH
Untuk uji pH menggunakan kertas pH indikator langsung pada sediaan yang
dibuat.
e. Uji Keseragaman sediaan
Keseragaman sediaan dapat ditetapkan dengan salah satu dari dua metode, yaitu
keseragaman bobot atau keseragaman kandungan. Persyaratan ini digunakan
untuk sediaan yang mengandung satu zat aktif dan sediaan mengandung dua
atau lebih zat aktif. Untuk penetapan keseragaman sediaan dengan cara
keseragaman bobot dilakukan untuk sediaan yang dimaksud (dari satuan uji
dapat diambil dari bets yang sama untuk penetapan kadar (Ditjen, 1995).
Standar deviasi merupakan akar jumlah kuadrat deviasi masing-masing hasil
penetapan terhadap mean dibagi dengan derajat kebebasannya (degrees of
freedom). Standar deviasi (SD) lebih banyak digunakan sebagai ukuran
kuantitatif ketetapan atau ukuran presisi, terutama apabiladibutuhkan untuk
membandingkan ketepatan suatu hasil (metode) dengan hasil (metode) lain.
Semakin kecil nilai SD dari sserangkaian pengukuran, maka metode yang
digunakan semakin tepat (Rohman, 2007).
f. Homogenitas
Homogenitas dilakukan dengan cara mengoleskan salep pada sekeping kaca
atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan sususan yang
homogen (Syamsuni, 2006)
2.2 Gentamicin
2.2.1 Pengertian Gentamicin

(Martindale 36th ed. 2009, p: 282)

Gentamicin sulfate adalah garam sulfat atau campuran garamnya dari golongan
antibiotik yang di hasilkan oleh pembiakan Micromonospora purpurea. Potensi setara dengan
tidak kurang dari 590 µg/mg gentamicin, di hitung terhadap zat yang telah di keringkan (FI
IV).
Unguentum gentamicin sulfate mengandung gentamicin sulfat tidak kurang dari 90,0%
dan tidak lebih dari 135,0% dari potensi yang tertera pada etiket.Gentaminicin salep adalah
obat yang digunakan sebagai sediaan topikal untuk mengobati penyakit kulit akibat infeksi oleh
bakteri yang peka terhadap antibiotik ini. Gentamicin sulfat termasuk antibiotik golongan
aminoglikosida yang digunakan untuk mengobati infeksi-infeksi yang disebabkan terutama
oleh gram negatif. Obat ini bekerja dengan cara mengikat secara reversibel sub unit 30s dari
ribosom bakteri sehingga menghambat sintesa protein, yang pada akhirnya menghambat
pertumbuhan bakteri tersebut. Salep ini biasanya dipasarkan berupa bentuk garamnya yaitu,
gentamicin sulfate yang setara dengan gentamicin 0,1%.
2.3 Pemerian gentamicin
Serbuk; putih sampai kekuning-kuningan. (FI V hlm. 491)
2.4 Inkompatibilats gentamicin
Aminoglikosida yang aktif dalam vitro oleh berbagai penisilin dan sefalosporin melalui
interaksi dengan cincin beta-laktam, tingkat inaktivasi tergantung pada suhu, konsentrasi,
dan durasi kontak. Perbedaan aminoglikosida bervariasi dalam stabilitas mereka, dengan
amikasin rupanya yang paling tahan dan tobramycin paling rentan terhadap inaktivasi;
gentamisin dan netilmisin adalah stabilitas menengah. Beta laktam juga bervariasi dalam
kemampuan mereka untuk menghasilkan inaktivasi, dengan ampisilin, benzilpenisilin,
penisilin dan antipseudomonal seperti karbenisilin dan tikarsilin memproduksi inaktivasi
ditandai. Inaktivasi juga telah dilaporkan dengan asam klavulanat. Gentamisin juga tidak
sesuai dengan furosemid, heparin, sodium bikarbonat (pH asam larutan gentamisin
mungkin membebaskan karbon dioksida), dan beberapa solusi untuk nutrisi parenteral.
Interaksi dengan persiapan memiliki pH basa (seperti sulfadiazin sodium) , atau obat yang
tidak stabil pada pH asam ( misalnya eritromisin garam ), yang cukup dapat diharapkan .
Mengingat potensi mereka untuk ketidakcocokan, gentamisin dan lainnya aminoglikosida
harus umumnya tidak dicampur dengan obat lain dalam jarum suntik atau larutan infus atau
diberikan melalui intravena yang sama
line. Ketika aminoglikosida diberikan dengan beta laktam, mereka umumnya harus
diberikan pada lokasi terpisah. (Martindale 36th ed. 2009, p: 282)
2.5 Stabilitas gentamicin
 Panas: Gentamisin Sulfat bila disimpan pada suhu 4º atau 25º dalam jarum suntik
plastik sekali pakai selama 30 hari menimbulkan endapan cokelat dibeberapa kasus.
(Martindale 36th ed. 2009, p: 282)
 Cahaya: Tidak ditemukan dalam literatur Martindale 36th ed. 2009, JP 15th ed., BP ed.
2009, FI V, European pharm 5th ed., USP 30-NF 25, TPC 12th ed. 1992.
 Air: Gentamisin Sulfat dalam larutan air cukup asam sampai sangat basa secara kimiawi
stabil dan menunjukkan dekomposisi di air buffer mendidih (pH 2-14). (TPC 12th ed.
1992, p: 880)
 pH: Larutan Gentamisin Sulfat dalam pH asam mungkin membasakan karbondioksida.
(Martindale 36th ed. 2009, p: 282)
2.6 Kelarutan gentamicin
Larut dalam air; tidak larut dalam etanol, dalam aseton, dalam kloroform, dalam eter dan
dalam benzen. (FI V hlm. 491)
2.7 Kadar penggunaan gentamicin
Dalam sediaan digunakan Gentamisin Sulfat dengan kadar 0,1%.
2.8 Penyimpanan gentamicin
Dalam wadah tertutup rapat. (FI V hlm. 492)
2.9 Keterangan lain pada gentamicin
Merupakan antibiotik golongan aminoglikosida yang memiliki aksi bakterisida terhadap
banyak bakteri aerob, gram negatif dan terhadap beberapa strain stafilokokus. (Martindale
36th ed. 2009, p: 282)
2.3 Bahan Tambahan
2.3.1 Pengertian Bahan Tambahan

Bahan tambahan adalah semua bahan yang dipergunakan selain bahan aktif dalam
formulasi sediaan farmasi, dan dimaksudkan untuk mengatur:
1. Stabilitas fisika kimia sediaan adalah tidak mengalami perubahan yang bermakna dari
semua karakteristik sediaan sampai tanggal kadaluarsa. Stabilitas ada beberapa jenis,
yaitu; stabilitas kimia, stabilitas fisika, stabilitas mikrobiologi, stabilitas farmakologi,
stabilitas toksikologi (Ansel, 1989).
2. Efektivitas sediaan adalah terjadinya reaksi mol struktur aktif dengan reseptor dalam
jumlah yang telah ditentukan dengan waktu yang telah diperhitungkan (Sinko, 2006).
3. Keamanan sediaan adalah suatu keadaan dimana tidak terjadi kenaikan yang bermakna
toksisitas bahan aktif karena komposisi inkompatible atau karena proses produksi
(Voight, 1995).
4. Aseptabilitas sediaan adalah suatu keadaan terjadinya kesesuaian atau kecocokan dengan
kebutuhan atau keinginan pemakai (konsumen) baik secara bentuk, warna, rasa (Anief,
2004).
Persyaratan bahan tambahan atau eksipien, antara lain; inert atau tidak bereaksi apabila
dicampurkan dengan bahan yang lain, stabil secara fisika kimia, bebar dari mikroba perusak
dan bebas patogen, mendukung bioavailabilitas sediaan farmasi, tersedia dalam perdagangan,
harga yang relatif murah. Bahan tambahan dibagi menjadi dua yaitu bahan tambahan utama
yang bertujuan untuk memberikan bentuk sediaan atau ciri bentuk sediaan agar sesuai dengan
formulasi yang diinginkan, serta bahan tambahan penunjang yang bertujuan untuk memenuhi
kualitas agar tetap stabil dalam penyimpanan dan dalam jangka waktu yang telah ditentukan
(Anief, 2004).
Zat-zat tambahan yang lazim digunakan dalam formulasi suatu sediaan eliksir antara
lain; bahan pengawet, bahan pendapar, antioksidan, kosolven, bahan pemanis, bahan pewarna,
bahan pembasah. Setiap jenis zat tambahan mempunyai karakteristik serta keunggulan masing-
masing dan agar mendapatkan sediaan yang baik. Pemilihan bahan tambahan berperan penting
dalam tercapai suatu sediaan farmasi yang ideal (Zubaidah, 2011).
2.3.2 Tinjauan Bahan Tambahan
2.3.2.1 Metil paraben atau nipagin. Metil paraben memiliki ciri-ciri serbuk hablur halus,
berwarna putih, hampir tidak berbau dan tidak mempunyai rasa kemudian agak
membakar diikuti rasa tebal (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979). Metil
paraben banyak digunakan sebagai pengawet dan antimikroba dalam kosmetik, produk
makanan dan formulasi farmasi dan digunakan baik sendiri atau dalam kombinasi
dengan paraben lain atau dengan antimikroba lain. Pada kosmetik, metil paraben adalah
pengawet antimikroba yang paling sering digunakan.Jenis paraben lainnya efektif pada
kisaran pH yang luas dan memiliki aktivitas antimikroba yang kuat. Metil paraben
sering dicampur dengan bahan tambahan yang berfungsi meningkatkan kelarutan.
Kemampuan pengawet metil paraben ditingkatkan dengan penambahan propilen glikol.
Sifat fisika kimia metil paraben (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995):

Gambar 2.6 Struktur Metil Paraben


Warna : tidak berwarna
Rasa : tidak berasa
Bau : tidak berbau atau berbau khas lemah
Pemeriaan : hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih,
mempunyai sedikit rasa terbakar
Polimorfisme :-
Ukuran partikel :-
Kelarutan : sukar larut dalam air, sukar larut dalam benzena, sukar larut
dalam tetraklorida, mudah larut dalam etanol, dan eter.
Titik lebur : 1250 dan 1280
pKa / pKb : pKa = 8,4 pada 220C
Bobot jenis :-
pH larutan :3–6
Stabilitas : mudah terurai oleh cahaya
Inkompatibilitas : dengan senyawa bentonite, magnesium trisiklat, talk, tragakan,
sorbitol, atropin.
Kegunaan : sebagai pengawet

2.3.2.2 Propil Paraben atau nipasol (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979)

Gambar 2.7 Struktur Propil Paraben

Warna : tidak berwarna


Rasa : tidak berasa
Bau : tidak berbau
Pemeriaan : serbuk putih atau hablur kecil, tidak berwarna
Polimorfisme :-
Kelarutan : sangat sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol
dan eter, sukar larut dalam air mendidih.
Titik lebur : antara 950 dan 980
pKa / pKb : pKa 8,4 pada 22C
Bobot jenis : 180,21 g/mol
pH larutan : 4-8
Stabilitas : Kelarutan dalam air pada pH 3-6 bisa disterilkan dengan
autoclaving tanpa mengalami penguraian, pada pH 3-6 kelarutan dalam air stabil
(penguraian kecil dari 10%)
Inkompatibilitas : dengan senyawa magnesium trisiklat, magesium silikat.
Kegunaan : sebagai pengawet
2.3.2.3 Propilenglikol (HPE : 624)
Fungsi : untuk antimikroba, disenfektan, humektan, solvent water miscrible
solvent.
Karakteristik fisika : Cairan jernih, kental, tidak bewarna, tidak berbau, agak manis,
higroskopis
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan etanol (95%), dan dengan
kloroform, larut dalam 6 bagian eter dengan minyak lemak.
Kadar : Humectant topical 15%, perservatife solution semisolid 15 – 30%,
Solvent or co solvent aerosol solution 10 – 25%, topical 5 – 80%.
2.3.2.4 PEG 400 ( HPE : 571)
Fungsi : Ointment base, plasticizer, solvent, suppositoria, tpical,
Karakteristik fisika : Bentuk cair (400-600) berupa cairan jernih, tidak bewarna,
cairan kental, memiliki bau dan rasa agak pahit, serta sedikit panas
Pemerian : cairan kental, jernih tidak berbau, atau hampir tidak berbau
Kelarutan : larut dalam air, larut dalam aseton, alcohol, glycerin, benzena,
tidak larut dalam lemak, mineral oil.
2.3.2.5 Natrium metabi sulfat atau BHT (HPE hall 81)
Rentang Konsentrasi : 0,0075% - 0,1% sebagai antioksidan topikal
Karakteristik fisika : pemerian tidak bewarna, krital prisma, bubuk putih, sangat
larut dalam glycerin, dalam air 1:9.
Karakteristik kimia : Dalam air terurai menjadi 100 ml dan H2SO4 , memiliki pH
3,4 – 5.0, untuk 5% larut dalam suhu 20C dan memiliki titik didih < 150 C
2.3.2.6 Lanolin (HPE : 378)
Pemerian : bewarna kuning, baunya khas, substansi seperti lilin
Kelarutan : sangat larut pada benzena, kloroform, eter, sedikit larut dalam
etanol 95% dingin, lebih larut pada etanol 95% panas, praktis tidak larut air
keterangan : memiliki bobo jenis (BJ) 0,932 – 0,945 gram/cm
inkompatibilitas : lanolin berisi oksidant yang bias jadi mempengaruhi stabilitas
bahan aktif
2.3.2.7 Vaselin Album ( HPE : 481)
Pemerian : tidak berbau, tidak berasa, bewarna [utih
Kelarutan : praktis tidak larut dalam aseton, etanol, glycerin, dan air, larut
dalam benzena, eter
Keterangan lain : berfungsi sebagai emolient dan bahan dasar oinment
2.3.2.8 Vaselin kuning ( FI hal 823)
Pemerian : massa seperti lemak kekuningan, tidak berbau dan berasa
Kelarutan : tidak larut dalam air, mudah larut dalam benzena, larut dalam
eter
Keterangan lain : fungsi sebagai emolient base,
2.3.2.9 Cera Alba (FI hal 180)
Pemerian : padaatan putih beku sedikit tembus cahaya dalam keadaan tipis,
bau khas lemak dan bebas bau tengik
Kelarutan : tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol dingin,
etanol mendidih. Larut dalam kloroform, dalam eter, dalam minyak lemak
Keterangan lain : memiliki bj 0,95, titik lebur 62 – 65 C
2.3.2.10 PEG 4000 (HPE hall 571) (FI hal 489)
Pemerian : warna putih atau hampir putih
Kelarutan : larut dalam air, larut dalam aseton, alchol,glycerin, glycol.
Agak sukar larut dalam eter dan hidrokarbon alifatik
BAB VI

PENUTUP

6.1 KESIMPULAN

1. Dari praktkum yang telah dilakukan dapata disimpulkan bahwa obat golongan antibiotik
seperti gentamicin cocok di buat dalam bentuk sediaan salep karena bentuk sediaan salep
sangat cocok untuk mengatasi infeksi akibat bakteri, sehingga obat gentamicin di buat
dalam bentuk sediaan salep.

2. Dalam pembuatan sediaan salep gentamicin diperlukan formulasi bahan tambahan seperti
metil paraben atau nipagin, propil paraben atau nipasol, propilenglikol, PEG 400, BHT,
lanolin, vaselin, vaselin kuning , vaselin album, cera alba dan aquades.

3. Terdapat beberapa evaluasi dalam sediaan salep gentamicin yang dapat dilakukan yaitu
uji organoleptik, homogenitas salep, uji daya sebar, uji Ph, uji keseragaman sediaan, uji
daya lekat, dan uji kesukaan.

6.2. SARAN

Dalam paktikum ini hendaknya lebih berhati-hati dalam menimbang atau


memformulasikan, serta setiap kelompok haru dipantau oleh dosen mata kuliah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., (1994). Farmasetika. Yogyakarta: GadjahMada University Press.

Anief. 2004. Ilmu Meracik Obat: Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Ansel, H.C. (2008). Pengantarbentuksediaanfarmasi. (Edisi IV). Penerjemah: Paridaibrahim.
Jakarta: PenerbitUniversitas Indonesia (UI-Press).

Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV: Penerbit Universitas Indonesia.
Jakarta.

DepartemenKesehatanRepublik Indonesia. (1995). Farmakope Indonesia. (Edisi IV). Jakarta:


DepartemenKesehatanRepublik Indonesia

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia III: Departemen


Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Martindale , edisi 6

Rowe, Raymond C, dkk. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th Edition. London:
Pharmaceutical Press and American Pharmacist Association.
Reynolds, James E.F.1982. Martindale the Extra Pharmacopeia 28th Edition. London: The
Pharmaceutical Press.
Sinko, J. 2006. Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika. Jakarta : ECG.
Sweetman, S. C. 2009. Martindale Thirty-sixth Edition The Complete Drug Reference.
London: The Pharmaceutical Press.
Syamsuni, A. 2006. Ilmu Resep: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Voigt, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi: Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Zubaidah. 2011. Ilmu Resep Untuk Sekolah Menengah Kejuruan Farmasi: P2B SMF-SMKF.
Jakarta.
Lampiran