Anda di halaman 1dari 2

PEMBAHASAN

Vertical jump
Vertical jump adalah tindakan seseorang meningkatkan pusat
gravitasinya ke bidang vertical yang lebih tinggi dengan menggunakan
ototnya sendiri. Vertical jump bertujuan untuk mengukur daya ledak otot
kaki.
Daya ledak otot merupakan kemampuan otot atau sekelompok otot
dalam melakukan kerja secara eksplosiv yaitu secara cepat dan kuat.
Kemampuan daya ledak (power) sangat diperlukan bagi atlit olahraga yang
membutuhkan gerakan secara cepat dan kuat, misalnya pada saat atlit bola
voli melakukan smass, atlit lari jarak pendek melakukan start dan lari sprint,
dan sebagainya. Daya ledak otot dapat kita ukur dengan alat sederhana,
khusus untuk pengukuran daya ledak otot tungkai bisa dilakukan dengan
loncat tegak.
Tinggi lompatan yang dicapai berkorelasi dengan besar kekuatan yang
dihasilkan oleh serat otot. Semakin besar kekuatan yang dihasilkan oleh serat
otot yang terlibat dalam vertical jump berhubungan dengan tinggi lompatan
maksimum yang akan dicapai. Kekuatan ini dihasilkan oleh fenomena yang
dikenal dengan siklus regang-pemendekan serat otot. Siklus ini sangat
penting pada saat melakukan vertical jump.
Latihan ini mengembangkan power otot tungkai dan pinggul,
khususnya gluteal, harmstrings, quadriceps, dan gastrocnemius. Otot-otot
lengan bahu secara tidak langsung juga terlibat.
Kekuatan lompatan selain bergantung pada kekuatan otot-otot yang
terlibat, juga bergantung pada berat badan seseorang dimana tinggi lompatan
maksimal merupakan hasil interaksi dari gaya ke atas oleh otot dan gaya
gravitasi pada tubuh. Serat otot putih, yang memiliki kecepatan dan kekuatan
kontraksi lebih tinggi tetapi lebih mudah lelah, sangat berperan dalam
menentukan kemampuan seseorang untuk melakukan lompatan vertikal.
Kemampuan lompatan, seperti kemampuan yang membutuhkan
kekuatan otot, sangat bergantung pada berbagai variabel subjektif individual,
seperti nutrisi, kebugaran, istirahat, status gizi, dan latihan yang pernah
dilakukan. Tinggi maksimal lompatan juga sangat bergantung pada tinggi
badan seseorang dimana orang dengan tinggi badan yang cukup tinggi
memiliki kemudahan untuk mencapai nilai lompatan maksimal yang lebih
tinggi. Hasil yang didapat dalam praktikum ini bervariasi karena setiap
individu yang diuji memiliki kondisi fisik yang bervariasi.
Lompatan vertikal merupakan aktivitas yang hanya memerlukan
metabolisme anaerobik karena jangka waktunya yang singkat, karena itu
kemampuan otot dan distribusi otot serat putih tipe II yang lebih banyak juga
berpengaruh terhadap tinggi lompatan.
Dalam praktikum ini laki-laki mempunyai keuntungan dalam hal
melakukan lompatan ketimbang wanita. Keuntungan laki-laki dalam
melakukan lompatan disebabkan karena postur laki-laki yang secara rata-rata
lebih tinggi daripada wanita, serta otot sukarelawan pria lebih besar, kuat dan
terlatih. Hal ini disebabkan karena subjek pria lebih banyak melakukan
olahraga yang memerlukan kekuatan kaki dan lompatan seperti basket, voli
dan sepak bola/futsal. Wanita lebih diuntungkan dari laki-laki ditinjau dari
segi bobot yang harus di atasi tetapi kekuatan otot lelaki memiliki
kemampuan untuk mengatasi bobot tubuhnya yang lebih berat dan dapat
mencapai hasil yang lebih tinggi. Selain itu, sebagian besar wanita juga belum
terbiasa melakukan gerakan meloncat sehingga terkesan canggung dan
hati-hati serta tidak mampu mengeluarkan kekuatan maksimalnya.

1. Guyton, A. C. Buku ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta. EGC; 2008.
2. Robergs. Exercise Physiology. Boston: Mosby; 1997.

HASIL