Anda di halaman 1dari 52

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.

DENGAN DIAGNOSA MEDIS SOL CEREBELUM

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III

Disusun oleh :

Astri Nurul Siti Patimah (032016056)

Agia Permata Sari (032016058)

Alya Nurhaliza (032016059)

Anggy Agustina Rahayu (032016060)

Cut Afnon Zulfa R (032016061)

Badriatun Naimah (032016062)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH BANDUNG

TAHUN AKADEMIK 2018-2019


KATA PENGANTAR

Atas karunia Allah SWT akhirnya kelompok kami dapat menyelesaikan


makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Ny. K Dengan Diagnosa
Medis SOL Cerebelum”

Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari keterbatasan kemampuan


baik dalam pengalaman maupun pengetahuan serta waktu yang tersedia sehingga
kami yakin dalam penyajian makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Namun
demikian kami telah berusaha secara maksimal dengan melaksanakan kelompok
belajar.

Harapan kami semoga hasil yang telah dicapai dalam makalah ini dapat
bermanfaat.Untuk penyempurnaan penulisan, diharapkan saran dan kritik yang
membangun demi perbaikan selanjutnya.

Bandung, Oktober 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. LATAR BELAKANG ................................................................................. 1
B. RUMUSAN MASALAH ............................................................................. 2
C. TUJUAN ...................................................................................................... 3
BAB II ..................................................................................................................... 4
TINJAUAN TEORI ................................................................................................ 4
A. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PESYARAFAN .......................... 4
B. DEFINISI TUMOR OTAK........................................................................ 11
C. ETIOLOGI ................................................................................................. 11
D. TANDA DAN GEJALA ............................................................................ 12
E. PATOFISIOLOGI ...................................................................................... 14
F. KLASIFIKASI ........................................................................................... 15
G. JENIS - JENIS ........................................................................................... 16
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG ............................................................... 20
I. PENATALAKSANAAN ........................................................................... 21
J. FOKUS PENGKAJIAN ............................................................................. 22
K. KOMPLIKASI ........................................................................................... 22
BAB III ................................................................................................................. 23
KASUS.................................................................................................................. 23
BAB IV ................................................................................................................. 25
PEMBAHASAN KASUS ..................................................................................... 25
A. PENGKAJIAN ........................................................................................... 25
3. Pemeriksaan Fisik ...................................................................................... 26
5. Data Psikologis ......................................................................................... 31
6. Data Sosial ................................................................................................ 31
7. Data Spiritual ........................................................................................... 31

ii
a. Konsep ke Tuhanan .................................................................................... 31
B. ANALISA DATA ...................................................................................... 36
C. INTERVENSI KEPERAWATAN ............................................................. 40
BAB V................................................................................................................... 47
PENUTUP ............................................................................................................. 47
A. KESIMPULAN .......................................................................................... 47
B. SARAN ...................................................................................................... 47
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 48

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tumor otak dalam pengertian umum berarti benjolan, dalam istilah
radiologisnya disebut lesi desak ruang/ Space Occupying Lesion (SOL).
Neoplasma sistem saraf pusat umumnya menyebabkan suatu evaluasi
progresif disfungsi neurologis. Gejala yang disebabkan tumor yang
pertumbuhannya lambat akan memberikan gejala yang perlahan
munculnya, sedangkan tumor yang terletak pada posisi yang vital akan
memberikan gejala yang muncul dengan cepat (Harsono, 1999 dalam
jurnal Primary Brain Tumor With Hemiparese Dextra And Parese Nerve
II, III, IV, VI oleh Radinal dan Neilan tahun 2014).
Tumor atau neoplasma susunan saraf pusat dibedakan menjadi
tumor primer dan tumor sekunder atau metastatik. Tumor primer bisa
timbul dari jaringan otak, meningen, hipofisis dan selaput myelin. Tumor
sekunder adalah suatu metastasis yang tumor primernya berada di luar
susunan saraf pusat, bisa berasal dari paru-paru, mamma, prostat, ginjal,
tiroid atau digestivus. Tumor ganas itu dapat pula masuk ke ruang
tengkorak secara perkontinuitatum, yaitu dengan melalui foramina basis
kranii, seperti misalnya pada infiltrasi karsinoma anaplastik dari
nasofaring (Stephen, 2012 dalam jurnal Primary Brain Tumor With
Hemiparese Dextra And Parese Nerve II, III, IV, VI oleh Radinal dan
Neilan tahun 2014).
Berdasarkan data statistik, angka insidens tahunan tumor
intrakranial di Amerika adalah 16,5 per 100.000 populasi per tahun,
dimana separuhnya (17.030) adalah kasus tumor primer yang baru dan
separuh sisanya (17.380) merupakan lesi-lesi metastasis. Di Indonesia
masih belum ada data terperinci yang berkaitan dengan hal ini, namun dari

1
2

data RSPP dijumpai frekuensi tumor otak sebanyak 200-220 kasus/tahun


dimana 10% darinya adalah lesi metastasis. Insidens tumor otak primer
bervariasi sehubungan dengan kelompok umur penderita. Angka insidens
ini mulai cenderung meningkat sejak kelompok usia dekade pertama yaitu
dari 2/100.000 populasi /tahun pada kelompok umur 10 tahun menjadi
8/100.000 populasi/tahun pada kelompok usia 40 tahun dan kemudian
meningkat tajam menjadi 20/100.000 populasi/tahun pada kelompok usia
70 tahun untuk selanjutnya menurun lagi (Mardjono, 2008 jurnal Primary
Brain Tumor With Hemiparese Dextra And Parese Nerve II, III, IV, VI
oleh Radinal dan Neilan tahun 2014).
Penderita tumor otak lebih banyak pada laki-laki (60,74%)
dibanding perempuan (39,26%) dengan kelompok usia terbanyak 51
sampai 60 tahun (31,85%), selebihnya terdiri dari berbagai kelompok usia
yang bervariasi dari 3 bulan sampai usia 50 tahun. Dari 135 penderita
tumor otak, hanya 100 penderita (74,1%) yang dioperasi dan lainnya
(26,9%) tidak dilakukan operasi karena berbagai alasan, seperti inoperable
atau tumor metastase (sekunder). Lokasi tumor terbanyak berada di lobus
parietalis (18,2%), sedangkan tumor-tumor lainnya tersebar di beberapa
lobus otak, suprasellar, medulla spinalis, cerebellum, brainstem,
cerebellopontine angle dan multiple (Hakim, 2005 jurnal Primary Brain
Tumor With Hemiparese Dextra And Parese Nerve II, III, IV, VI oleh
Radinal dan Neilan tahun 2014).
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi dari sistem persyarafan ?
2. Apa definisi dari tumor otak?
3. Bagaimana etiologi dari tumor otak?
4. Bagaimana tanda gejala tumor otak?
5. Bagaimana patofisiologi dari tumor otak?
6. Bagaimana klasifikasi dari tumor otak?
7. Apa saja jenis-jenis dari tumor otak?
8. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari tumor otak?
3

9. Bagaimana penatalaksanaan dari tumor otak?


10. Bagaimana focus pengkajian untuk tumor otak?
11. Bagaimana komplikasi dari tumor otak?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi dari sistem persyarafan.
2. Untuk mengetahui definisi dari tumor otak.
3. Untuk mengetahui etiologi dari tumor otak.
4. Untuk mengetahui tanda gejala tumor otak.
5. Untuk mengetahui patofisiologi dari tumor otak.
6. Untuk mengetahui klasifikasi dari tumor otak.
7. Untuk mengetahui jenis-jenis dari tumor otak.
8. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari tumor otak.
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari tumor otak.
10. Untuk mengetahui focus pengkajian untuk tumor otak.
11. Untuk mengetahui komplikasi dari tumor otak.
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PESYARAFAN


Dalam buku Anatomi dan Fisiologi tahun 2014, sistem persyarafan
terdiri dari sel-sel saraf (neuron) yang tersusun membentuk sistem saraf
pusat dan sistem saraf perifer. Sistem saraf pusat (SSP) terdiri atas otak
dan medulla spinalis. Sedangkan sistem saraf tepi (perifer) merupakan
susuna saraf diluar sistem saraf pusat yang membawa pesan ke dan sistem
saraf pusat.
Secara garis besar sistem saraf mempunyai 4 (empat) fungsi, yaitu:
1. Menerima informasi (rangsangan) dari dalam maupun dari luar tubuh
melalui saraf sensori (afferent Sensory Pathway) .
2. Mengkomunikasikan informasi antara sistem saraf perifer dan sistem
saraf pusat..
3. Mengolah informasi yang diterima baik ditingkat medulla spinalis
maupun di otak untuk selanjutnya Menentukan jawaban (respon).
4. Mengantarkan jawaban secara cepat melalui saraf motoric (efferent
Motorik Pathway) ke organ-organ tubuh sebagai control atau
modifikasi dari tindakan.
Sistem saraf sangat berperan dalam iritabilitas tubuh. Iritabilitas adalah
kemampuan menanggapi rangsangan. Untuk menanggapi rangsangan, ada
3 komponen yang harus dimiliki sistem saraf, yaitu:
1. Reseptor, adalah alat penerima rangsangan. Pada tubuh kita yang
bertindak sebagai reseptor adalah organ indra.
2. Konduktor (penghantar implus, dilakukan oleh sistem saraf itu sendiri.
Sistem saraf terdiri dari sel-sel saraf yang di sebut neuron.
3. Efektor, adalah bagian tubuh yang menanggapi rangsangan. Efektor
yang paling penting pada manusia otot dan kelenjar (hormone) otot

4
5

menanggapi rangsang yang berupa gerakan tubuh, sedangkan hormone


menanggapi rangsangan dengan mrningkatkan/menurunkan aktifitas
organ tertentu. Misalnya: mempercepat atau memperlambat denyut
jantung, menyempitkan/melebarkan pembuluh darah, dll.
Sistem saraf pusat secara fisiologis berfungsi untuk interpretasi,
intergrasi, koordinasi, dan inisiasi berbagai impuls saraf. Otak merupakan
organ tubuh paling kompleks. Tidak hanya mengatur pikiran, bicara, dan
emosi, otak juga menjadi pusat kendali semua hal, dari fungsi sederhana,
seperti detak jantung dan sepanjang hidup, otak terus sibuk menerim
rangsangan, mengolah dan menyimpan informasi, mengembangkan
pikiran dan emosi, serta menyimpan memori.
Otak terdiri dari otak besar (serebrum), otak kecil (serebelum), dan
batang otak (brainstem).
1. Otak besar (serebrum)
Otak besar terdiri dari 2 belahan yang disebut hemisferium serebri
yang di pisahkan oleh fisura longitudinalis serebri. Hemisferium
serebri dibagi-bagi dalam daerah-daerah yang besar: Lobus frontalis,
Lobus parientalis, Lobus oxipitalis, Lobus temporalis.
2. Talamus
Talamus merupakan pusat pengatur atau penerima rangsang sensori
terletak pada bagian bawah otak. Bagian bawahnya merupakan pusat
pengatur suhu tubuh, selera makan, keseimbangan cairan tubuh,
metabolism lemak dan karbohidrat, tekanan darah, dan tidur. Fungsi
talamus antara lain:
a. Menyebabkan adanya rasa sadar terhadap sensasi sakit, panas dan
raba.
b. Berperan terhadap terjadinya mekanisme emosi (perasaan senang
atau tidak senang)
c. Berperan terhadap sikap siaga kita.
3. Hipofisis
6

Bersama dengan hipotalamus mengatur kegiatan sebagian besar


kelenjar endokrin dalam sintesis dan pelepasan hormon.

4. Batang otak
Batang otak terdiri atas diensefalon, mid brain, pons, dan medulla
oblongata. Merupakan tempat berbagai macam pusat fital seperti
prnapasan, pusat Vasomotor, pusat kegiatan jantung, pusat muntah,
bersin, dan batuk.
Dari batang otak keluar 12 pasang saraf kranial, yaitu:
a. Neuron olfaktorius, berfungsi sebagai saraf sensasi penghidu.
b. Neuron oktikus, berfungsi untuk penglihatan.
c. Neuron okulomotorius, berfungsi sebagai saraf untuk mengangkat
bola mata.
d. Neuron Troklearis, berfungsi sebagai pemutar bola mata.
e. Neuron Trigeminus (Neuron optalmikus,neuron maksimalis dan
neuron mandibularis) berfungsi mengurus sensai umum pada
wajah dan sebagian kepala, bagian dalam hidung, mulut, gigi, dan
meninges.
f. Neuron abdusens, mensyarafi mesentarium rektus ratelaris.
g. Neuron fasialis, berfungsi untuk sensasi umum dan pengecapan,
dan untuk otot wajah atau mimik.
h. Neuron statoakustikus, saraf pendengaran dan saraf keeimbangan.
i. Neuron glosofaringeus, khusus mengurus pengecapan di lidah.
j. Neuron vagus, terdiri dari tiga komponen yaitu: komponen motoris
yang mensyarafi otot-otot faring dan otot-otot pita suara,
komponen sensori yang mengurus perasaan dibawah faring, dan
komponen saraf parasimpatis yang mensyarafi sebagian alat-alat
dalam tubuh.
k. Neuron asesorius, mengurus mesenterium trapezius dan
mesenterium sternokleidomastoideus.
l. Neuron hipoglosus, mengurus otot-otot lidah.
7

5. Otak kecil (serebellum)


Otak kecil terletak dibagian belakang cranium menempati fosa serebri
posterior dibawah lapisan durameter. Tenporium serebri dibagian
depannya terdapat batang otak. Fungsi otak kecil pada umumnya
adalah mengkoordinasikan gerakan-gerakan otot sehingga gerakan
dapat terlaksana dengan sempurna.
6. Sumsum lanjutan
Sumsum lanjutan (medulla oblongata) terbagi menjadi dua lapis, yaitu
lapisan dalam yang berwarna kelabu karena banyak mengandung
badan sel-sel saraf dan lapisan luar berwarna putih karena berisi neurit
(akson). Berfungsi sebagai pusat pengendali penafasan, penyempitan
pembuluh darah, mengatur denyut jantung, mengatur suhu tubuh dan
kegiatan-kegiatan lain yang tidak disadari.
7. Sumsum tulang belakang (medulla spinalis)
Sumsum tulang belakang terdapat memanjang di dalam rongga tulang
belakang, mulai dari ruas- ruas tulang leher ruas tulang pinggang
kedua, sumsum tulang belakang juga dibungkus oleh selaput
meninges. Sumsum tulang belakang berfungsi untuk :
a. Menghantarkan impuls dari otak dan ke otak
b. Memberi kemungkinan jalan terpendek gerak refleks.
8. Sistem saraf tepi
a. Sistem saraf momatik
Sistem saraf somatik disebut juga sistem saraf sadar. Sistem
saraf somatis terdiri atas
1) Saraf otak (saraf kranial) , saraf otak terdapat dalam bagian
kepala yang keluar dari otak dan melewati lubang yang
terdapat pada tulang tengkorak. Urat saraf ini berjumlah 12
pasang.
8

2) Saraf sumsum tulang belakang (saraf spinal), saraf sumsum


tulng belakan berjumlah 31 pasang. Saraf sumsum tulang
belakang berfungsi untuk meneruskan impuls dari reseptor ke
sistem saraf pusat juga meneruskan impuls dari sistem saraf
pusat ke semua otot rangka tubuh.
b. Sistem saraf otonom (tak sadar)
Sistem saraf otonom merupakan bagian dari susunan saraf tepih
yang bekerja tidak dapat disadari dan bekerja tidak dapat disadari
dan bekerja secara otomastis. Sistem saraf otonom mengendalikan
kegiatan organ-organ dalam seperti otot perut, pembuluh darah,
jantung, dan alat-alat reproduksi. Fungsi saraf otonom terdiri dari
dua macam yaitu:
1) Sistem saraf simpatik
2) Sistem sarf parasimpatik
Sistem simpatik dan parasimpatik bekerja secara antagonis
(berlawanan) dalam mengendalikan kerja satu otot. Fungsi dari
sistem simpatik:
a) Mempercepat denyut jantung
b) Memperlebar pembuluh darah
c) Memperlebar bronkus
d) Mempertinggi tekanan darah
e) Memperlambat gerak peritaltis
f) Memperlebar pupil
g) Menghambat sekresi ampedu
h) Menurunkan sekresi
i) Meningaktakan sekresi adrenalin
Sistem saraf parasimpatik memiliki fungsi dan kebalikan
dengan fungsi saraf parasimpatik, misalnya pada sistem
simpatik berfungsi mempercepat denjut jantung sedangkan
pada sistem saraf prasimpatik akan memperlambat denyut
jantung
9

9. Pembuluh darah otak


Otak merupakan organ tubuh yang bekerja terus-menerus tentu
membutuhkan suplai darah yang cukup dan teraliri secara kontinyu
agar fungsi otak berlangsung dengan baik. Dalam keadaan fisologis
jumlah darah yang dikirm ke otak (blood flow cerebral) adalah
kira-kira 20 % cardiac output atau kira-kira 1100 % - 1200 % cc/menit
untuk ke seluruh jaringan otak yang berat normalnya kira-kira 2% dari
berat badan orang dewasa. Jaringan otak mendapat suplai-suplai darah
darah dari dua arteri bear yaitu :
a. Arteri karotis interna kana dan kiri
Arteri karotis interna merupakan cabang arteri karotis komunis.
Arteri karotis komunis kiri berasal dari arkus aorta, sedangkan
arteri karotis komunis kanan berasal dari artri innominate.
b. Arteri komunikans posterior
Artri ini mengubungkan arteri karotis dengan arteri serebri
posterior.
c. Arteri khorodea arterior
Membentuk pleksus khoroideus di dalam ventrikulus lateralis.
d. Arteri serebri media
Daerah yang diberi jlan oleh arteri ini adalah fasies konveksa lobus
frontalis korteks serebri mulai dari fisura lateralis sampai setingi
kira-kira sulkus frontalis superior, fasies konveksi lobus parientalis
korteks mulai dari fisura lateralis sampai kira-kira sulkus
temporalis korteks serebri pada ujung fronta.
e. Arteri vertebralis kanan dan kiri
Arteri vertebralis dipercabangkan oleh arteri sub klavia. Arteri ini
berjalan ke cranial melalui foramen transverses vertebrae servikalis
10

k enema sampai pertama, kemudian membelok ke lateral masuk ke


dalam foramen transverses magnum menuju kavum kranii. Arteri
ini kemudian berjalan ventral dari medulla oblongata dorsal dari
olivalus, kaudal, dari tepi kaudal pons varoli. Arteri vertebralis
kanan dan kiri akan bersatu menjadi arteri basilaris yang kemudian
berjalan ke frontal untuk akhirnya bercabang menjadi dua yaitu
arteri serebri posterior kanan dan kiri.
Medulla spinalis mendapat suplai darah dari
1) Arteri spinalis anterior yang merupakan percabangan arteri
vertebralis.
2) Arteri spinalis posterior, juga merupakan percabangan arteri
vertebralis. Antara arteri spinalis tersebut terdapat banyak
anstomis sehingga merupakan anyaman pleksus yang
mengelilingi medulla spinalis dan disebut vasokorona.
10. Medulla spinalis
Merupakn perpanjangan medulla oblongata kearah kaudal di dlm
kanalis vertebralis lumbalis I-II.
Dari bagian medulla spinalis bagian servikal keluar delapan pasang
nervus spinalis dari bagian torakal 12 pasang, dari bagian lumbal 5
pasang serta dari koksigeus keluar 1 pasang nervus spinalis.
Medulla spinalis mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Pusat gerakan otot tubu terbesar yaitukomu motoric atau komu
ventralis
b. Mengurus kegiatan refleks spinalis dan refleks lutut
c. Menghantarkan rangsangan koordinasi otot dan sendi menuju
serebelum
d. Mengadakan komunikasi antara otak dengan semua bagian tubuh
11. Cairan otak (Cerebrio spinalis fluid)
Di dalam jaringan ota terdapat dua buah rongga yang berhubungan
yang disebut ventrikulus yang berisi cairan otak ventrikulus lateralis I,
mengikuti hernisfer serebri, a. ventrikulus lateralis II, b. ventrikularis
11

tertius II di tengah-tengah otak , c. venrikulus kuadratus IV antara pons


varoli dan medulla oblongata.
Cairan otak terdapat dalam spastum subarakhnoide dan ventrikulus.
Cairan otak di produksi oleh fleksus khoroideus ventrikulus lateralis,
dari ventrikulus lateralis knan dan kiri cairan otak mengalir melalui
foramen ke dalam ventrikulus III melalui akuaduktus sylvii masuk ke
ventrikulus IV. Seterusnya melalui foramen luscha dan foramen
megendie masuk ke dalam spastium sub arachnoid kemudian masuk ke
lacuna venosa dan selanjutnya ke aliran darah.
B. DEFINISI TUMOR OTAK
Menurut Dr. Dito dan Dr. Fritz dalam bukunya yang berjudul 45
Penyakit dan Gangguan Saraf tahun 2014 definisi dari tumor otak yaitu
neoplasma (keganasan berupa benjolan padat) di dalam rongga kepala,
yang merupakan suatu pertumbuhan abnormal sel- sel di dalam otak atau
sumsum tulang belakang. Singkatnya tumor otak adalah pertumbuhan sel-
sel otak yang tak normal.
Menurut Wahyuni, dkk dalam bukunya 20 Penyakit Saraf Waspadai
tumor otak primer yaitu tumor yang tumbuh pertama kali pada jaringan
otak, dimana tumor yaitu massa yang terbentuk karena pertumbuhan sel
yang berlebihan karena adanya suatumasalah yang menyebabkan sel tidak
terprogram untuk mati.
Menurut Ns. Laurent dalam artikelnya Askep Pasien dengan Tumor
Otak tahun 2016, tumor otak adalah proliferasi dan pertumbuhan tak
terkendali sel-sel di dalam dan di sekitar jaringan otak.
C. ETIOLOGI
Menurut Ns. Laurent dalam artikelnya Askep Pasien dengan Tumor
Otak tahun 2016, penyebab tumor:
1. Diduga radiasi ionisasi
Radiasi ionisasi adalah energi radiasi tinggi yang menyebabkan
kerusakan pada molekul DNA, sehingga menyebabkan mutasi yang
menyebabkan kanker.
12

2. Kebiasaan hidup berisiko: merokok dan konsumsi alkohol.


3. Genetik dan hormonal, zat karsinogenik dan zat kimia tertentu
(peptisida, herbisida).
Menurut Dr. Dito dan Dr. Fritz dalam bukunya yang berjudul 45
Penyakit dan Gangguan Saraf tahun 2014, tumor otak terjadi akibat
pembelahan sel yang abnormal dan tidak terkendali, biasanya di dalam
otak berupa neuron, sel-sel glial, jaringan limfatik, pembuluh darah
dan kelenjar merupakan bagian yang biisa terkena tumor otak. Faktor
genetik juga berperan. Kehilangan tumor suppresor genes melalui
mutasi gen beperam di dalam pemebentukan tumor otak, yang disebut
glioblastoma multiforme. Trauma/cedera juga berkontribusi terhadap
kejadian tumor otak meskipun jarang.
Menurut Wahyuni, dkk dalam bukunya 20 Penyakit Saraf
Waspadai, penyebab tumor belum diketahui secara pasti. Namun,
beberapa faktor dapat memicunya antara lain:
1. Faktor genetic
2. Faktor lingkungan
3. Pola hidup
4. Paparan bahan kimia
5. Infeksi virus
D. TANDA DAN GEJALA
Menurut Wahyuni, dkk dalam bukunya 20 Penyakit Saraf Waspadai
tumor otak menyebabkan kerusakan sistem saraf pusat karena menyerang
dan menghancurkan jaringan otak lainnya. Sel-sel tumor pada lapisan
meninges yang tumbuh makin besar akan menyebabkan penekanan pada
otak karena rongga pada ronggan tengkorak terbatas volumenya. Efek
penanganan pada jaringan otak dapat menimbulkan gejala sakit kepala
yang hilang timbul.namun intensitas nyerinya dapat bertambah seiring
waktu. Ini karena semakin bertambahnya ukuran tumor. Gejala-gejala
lainnya tergantung dari lokasi tumor tersebut.
Massa fisik tumor juga dapat menyebabkan efek sekunder seperti:
13

1. Kompresi otak dan pembuluh darah


2. Serebral edema lokal sekitar tumor akibat akumulasi cairan
3. Peningkatan tekanan intrakranialis.
Gejala tepat tergantung pada jenis, ukuran dan lokasi tumor, serta
luasnya invasi. Gejala yang sering dirasakan yaitu:
1. Sakit kepala yang semakin parah dalam beberapa hari ke minggu,
bulan, atau tahun dan obat analgesik biasa walaupun ditambah takarannya
tidak mengurangi sakitnya.
2. Penglihatan kabur
3. Mual dan muntah di pagi haru
4. Serangan kejang pada anggota badan atau serangan episodik,
gerakan atau perilaku aneh
5. Kelumpuhan.
Menurut Dr. Dito dan Dr. Fritz dalam bukunya yang berjudul 45 Penyakit
dan Gangguan Saraf tahun 2014 tumor ootak pada mulanya bisa tanpa
gejala ataupun ditandai sakit/nyeri kepala. Nyeri kepala seoerti ditusuk
atau berdenyut. Frekuensi serangan dan intensitasnya semakin lama
semakin menghebat, terkadang diikuti muntah menyemprot. Selain itu
tumor otak juga dapat disertai gejala neurologis, seperti kejang fokal
(terpusat), monoparesis (lumpuh satu sisi), ganguan sensibilitas, gangguan
visual, gangguan mental, gangguan konsentrasi, pelupa, mudah merasa
lelah, mudah marah. Gejala neurologis ini dapat timbul atau tidak.
Tergantung lokasi di otak.
Hal lain dapat juga dialami penderita tumor otak adalah bingung,
resah, gelisah, problem kepribadian, kekacauan berbicara/ berbahasa,
kelemahan anggota gerak, mati rasa/ lumpuh, melihat dobel/ berbayang.
Penderita tumor otak dapat juga mengalami iritasi yang ditandai dengan
kelelahan, tremor bahkan epilepsi.
Yang khas pada tumor otak adalah peningkatan tekanan intrakranial.
Hal ini disebabkan oleh membesanya tumor atau meluasnya edema. Tanda
gejalanya adalah sakit kepala (menyebar, menetap, paling berat di pagi
14

hari), muntah (terkadang tanpa mual), penurunan kesadaran (bisa


mengantuk hingga koma), pembesaran pupil mata pada sisi mata yang
menderita (anisokoria), cakram optik menonjol pada pemeriksaan
funduskopi mata (papiledema).
E. PATOFISIOLOGI
Tumor otak menyebabkan gangguan neurolagis. Gejala-gejala terjadi
berurutan hal ini menekankan pentingnya anamnesis dalam pemeriksaan
klien. Gejala neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan
oleh tumor dan tekanan intrakranial. Gangguan vocal terjadi apabila
penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi / inovasi langsung pada
parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron.
Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang
tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri
pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan
mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan cerebrovaskuler primer.
Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuro
dihubungkan dengan kompersi invasi dan perubahan suplai darah
kejaringan otak. Peningkatan intrakranial dapat diakibatakan oleh
beberapa factor : bertambahnya masa dalam tengkorak, terbentuknya
oedema sekitar tumor dan perubahan sirkulasi serebrospinal.
Pertumbuhan tumor akan menyebabkan bertambahnya massa karena
tumor akan mengambilkan ruang yang relatif dari ruang tengkorak yang
kaku. Tumor ganas menimbulkan odem dalam jaringan otak. Mekanisme
belum sepenuhnya dipahami namun diduga disebabkan selisih osmotik
yang menyebabkan pendarahan. Obstruksi vena oedema yang disebabkan
kerusakan sawar darah otak semuanya menimbulkan kenaikan volume
inntrakranial. Observasi sirkulasi cairan serebrospinal dari vantrikel laseral
keruang sub arakhnoid menimbulkan hidrosephalus.
Peningkatan intrakranial akan membahayakan jiwa bila terjadi secara
cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicaraknan sebelumnya.
Mekanisme kompensasi memrlukan waktu berhari-hari / berbulan-bulan
15

untuk menjadi efektif dan oleh karena itu tidak berguna bila apabila
tekanan intrakranial timbul cepat.
Mekanisme kompensasi ini bekerja menurunkan volume darah
intrakranial, volume cairan cerborspinal, kandungan cairan intrasel dan
mengurangi sel-sel parenkim. Kenaikan tekanan yang tidak diobati
mengakibatkan herniasi ulkus/serebulum.herniasi timbul bila girus medalis
lobus temporalis bergeser keinterior melalui insisura tentorial oleh massa
dalam hemister otak. Herniasi menekan ensefalon menyebabkan
kehilangan kesadaran dan menekan saraf ke tiga. Pada herniasi serebulum
tonsil sebelum bergeser kebawah melalui foramen magnum oleh suatu
massa poterior, (Suddart, Brunner. 2001)
F. KLASIFIKASI
Stadium tumor berdasarkan sistem TNM (stadium TNM). Terdiri dari
3 kategori, yaitu: T ( tumor primer ), N ( nodul regional, metastase ke
kelenjar limfe regional ) dan M ( metastase jauh ).
Kategori T:
Tx = syarat minimal menentukan indeks T tidak terpenuhi.
Tis = Tumor in situ.
T0 = Tidak ditemukan adanya tumor primer.
T1 = Tumor dengan f maksimal < 2 cm.
T2 = Tumor dengan f maksimal 2 – 5 cm.
T3 = Tumor dengan f maksimal > 5 cm.
T4 = Tumor invasi keluar organ.
Kategori N:
N0 = Nodul regional negative.
N1 = Nodul regional positif, mobile ( belum ada perletakan ).
N2 = Nodul regional positif, sudah ada perlekatan.
N3 = Nodul jukstregional atau bilateral.
Kategori M:
Mo = Tidak ada metastase organ jauh.
M1 = Ada metastase organ jauh.
16

M2 = Syarat minimal menentukan indeks M tidak terpenuhi.


Tumor otak dapat diklasifikasikan sebagai berikut menurut (Lionel
Ginsberg, Neurologi :117) yaitu:
1. Benigna umumnya ekstra aksial, yaitu tumbuh dari meningen, nervus
kranialis, atau struktur lain dan menyebabkan kompresi ekstrinsik pada
substansi otak.
2. Maligna umumnya intra aksial yaitu berasal dari parenkim otak:
a) Primer umumnya berasal dari sel glia/neurobia (glioma) tumor ini
diklasifikasikan maligna karena sifat invasif lokal, metastasis
ekstrakranial sangat jarang, dan dikenali sebagai subtipe histologi
dan derajat diferensiasi.
b) Sekunder metastasis dari tumor maligna dari bagian tubuh lainnya.
G. JENIS - JENIS
Ada banyak tipe-tipe yang berbeda dari tumor otak yaitu:
1. Glioma
Glioma bertanggung jawab atas kira-kira 40-50% tumor otak.
Tumor tersebut berasal dari sel-sel glial. Glioma terdiri atas jaringan
penyambung dan sel-sel penyokong neuroglia mempunyai kemampuan
untuk terus membelah selama hidup. Sel-sel glia berkumpul
membentuk parut sikatriks padat di bagian otak di mana neuron
menghilang karena cedera atau penyakit (snell,1987 dalam buku
system neuro behaviour tahun 2014).
Dalam jurnal INFOTEK, vol 2,no 1, februari 2017dengan judul
Sistem Pakar Untuk Mendiagnosis Penyakit Tumor Otak
Menggunakan Metode Certainty Factor (C) oleh yeni at al,Glioma
memiliki 3 klasifikasi yang berlainan diantaranya:
a. Astrocytomas yakni kategori yang paling umum yang mampu
ditemukan terhadap anak-anak dan orang dewasa. Berasal dari sel
astrosit.
b. Ependymomas, yakni jenis tumor yang berasal dari sel ependymal.
17

c. oligodendrogliomas, yakni jenis tumor yang berkembang dari sel


oligodendrocytes yang menciptakan zat lemak putih menutupi
saraf kepada otak yang di namakan myelin.
2. Tumor meningeal
Meningioma merupakan tumor asal meningen, sel-sel metosel
dan sel-sel jaringan penyambung arachnoid dan dura yang paling
penting. Sebagian besar tumor adalah jinak, berkapsul, dan tidak
menginfiltrasi jaringan yang berdekatan, namun menekan struktur
yang berada di bawahnya. Tumor ini sering kali memiliki banyak
pembuluh darah karenanya mampu menyerap isotop radio aktif pada
sidik otak. Eksisi bedah lengkap dapat dilakukan, khususnya jika
tumor tidak terletak di “daerah kritis” dan diagnosis dibuat secepatnya.
Oleh karena pertumbuhan tumor yang lambat, gejala-gejala mungkin
tidak diperhatikan dan diagnosis sama sekali salah. Gejala-gejalanya
antara lain epilepsy idopati, hemiparesis, dan afasia (Ariani, 2014).
3. Tumor hipofisis
Tumor hipofisis berasal dari sel-sel kromofob, eosinophil, atau
basophil dari hipofisis anterior. Tumor-tumor ini menimbulkan nyeri
kepala, hemianopsia bitemporalis (disebabkan oleh penekanan pada
kiasma optikum) dan tanda-tanda kelainan sekresi hormon hipofisis
anterior.
Tumor kromofog adalah tumor nosekretoris yang menekan
kelenjar hipofisis, kiasma optikum, dan hipotalamus. Gejala-gejala
tumor otak ini adalah depresi fungsi seksual, hipotiroidisme sekunder,
dan hipofungsi adrenal (amenorea, impotensi, rambut rontok,
kelemahan, hipotensi, metabolism basal rendah, hipoglikemia, dan
gangguan elektrolit).
Adenoma eosinofilik umumnya lebih kecil dan tumbuh lambat
dari pada tumor kromofob. Gejala-gejala nya adalah akromegali pada
orang dewasa dan gigantisme pada anak-anak, nyeri kepala, gangguan
18

berkeringat, parastesia, nyeri otot, dan hilangnya libido gangguan


lapang penglihatan (hemianopsia bitemporalis) jarang di jumpai.
Adenoma basophil pada umumnya kecil. Tumor ini
dihubungkan dengan gejala-gejala sindrom chusing (obesitas,
kelemahan otot, atrofi kulit, osteoporosis, plethora, hipertensi, retensi
garam dan air, hiperglikosis, dan diabetes melitus).
4. Neurilemoma (tumor saraf pendengaran)
Tumor saraf pendengaran merupakan 3-10% tumor intra
kranial. Tumor ini berasal dari sel-sel schwan selubung saraf. Serabut-
serabut saraf otak ke Vlll menjadi rusak. Pada penyakit von Reckling-
Hausen dapat terjadi neurilemoma auditorius bilateralis. Pada
umumnya tumor ini jinak, tetapi kadang-kadang dapat mengalami
perubahan menjadi ganas.
Gejala-gejala neurilemoma pendengaran awal adalah tuli,
tinnitus, kehilangan reaktifitas vestibular terhadap kalori, dan vertigo
yang disusul rasa tidak enak suboxipital, berjalan terhuyung-huyung,
gangguan pada intracranial. Pada umumnya terdapat nistagmus,
terutama horizontal.
Pengobatan adalah dengan pengangkatan total jika
memungkinkan, karena pengangkatan yang tidak menyeluruh
umumnya akan diikuti kekambuhan tumor. Sebagai konsekuensi
pembedahan, penderita dapat mengalami paralisis wajah dan tuli.
5. Tumor metastasis
Lesi-lesi metastasis merupakan kira-kira 5-10% dari seluruh
tumor otak dan dapat berasal dari sembarang tempat primer. Tumor
primer paling sering berasal dari paru-paru dan payudara. Akan tetapi
neoplasma dari saluran kemih kelamin, saluran cerna, tulang dan tiroid
dapat juga bermetastasis keotak. Lesi metastasis dapat tunggal atau
multiple serta dapat merupakan stadium lanjut dari proses metastasis
atau sebagai tanda pertama tumor primer yang tidak diketahui
sebelumnya.
19

6. Tumor pembuluh darah


Tumor-tumor ini antara lain angioma, hemangioblastoma dan
endotelioma, dan merupakan sebagian kecil tumor otak.
Angioma adalah malformasi arteriovenosa kongenital, di derita
sejak lahir, yang lambat laun membesar. Tumor ini dapat menekan
jaringan otak sekitarnya dan terjadi perdarahan intraserebral atau
kedalam ruangan subaraknoid.
Hemangioblastoma adalah neuplasma yang terjadi atas unsur-
unsur vascular embriologis yang paling sering dijumpai dalam
serebelum. Sindrom von Hippel-Lindau adalah gabungan antara
hemangioblastoma serebelum, angiomatosis retina, serta kista ginjal
dan pancreas.
7. Tumor gangguan perkembangan (kongenital)
Tumor kongenital yang jarang antara lain kordoma, terdiri atas
sel sel yang berasal dari sisa-sisa notokorda embrional dan dijumpai
pada dasar tengkorak. Tumbuh lambat tetapi sangat invasive sehingga
tidak memungkinkan dilakukan pembuangan total. Dermoid dan
teratoma dapat terjadi dimana saja pada susunan saraf pusat.
Teratoma sering terjadi system ventrikel dan menyumbat
ventrikel ketiga, akueduktus, atau ventrikel keempat.
Kraniofaringioma berasal dari sisa-sisa duktus kraniofaringeal
embrional (Kantung Rathke) dan umumnya terletak di posterior sela
tursika.
Gejala-gejala tumor kongenital biasanya terlihat sejak bayi, tetapi
dapat saja tidak memperlihatkan gejala apapun selama beberapa tahun
gejala-gejalanya adalah gangguan lapang pandang yang pada
umumnya ireguler, disertai disfungsi hipotalamus dan hipofisis.
8. Pinealoma (Tumor adneksa)
Pinealoma hanyalah bagian kecil dari lesi intracranial dijumpai
dan termasuk tumor-tumor yang berasal dalam badan pineal
(pinealoma), maupun dari pleksus koroideus sekiarnya (papiloma
20

koroid). Pinealoma menekan akueduktus yang menyebabkan


hidrosefalus obstruktif, dan juga hipotalamus yang mengakibatkan
pubertas prekoks dan diabetes insipidus. Papilloma koroid
menyebabkan perdarahan intraventrikular dan juga menyumbat system
ventricular.
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Ns. Laurent dalam artikelnya Askep Pasien dengan
Tumor Otak tahun 2016, pemeriksaan yang biasa dilakukan:
1. Rontgen tengkorak dan angiografi
2. Computed tomography (CT) sacan atau magnetic resonance imaging
(MRI)
3. Electroencephalogram (EEG), tes ini mengukur aktivitas listrik otak
4. Pemeriksaan cairan serebrospinal
5. Biopsi jaringan, bila ada dugaan tumor ganas, dipandu oleh CT scan
atau MRI.
Menurut Dr. Dito dan Dr. Fritz dalam bukunya yang berjudul 45
Penyakit dan Gangguan Saraf tahun 2014, dapat dilakukan pemeriksaan
rontgen tengkoorak kepala, EEG, arteriografi atau langsung CT scan otak.
Pemeriksaan tumor otak menggunakan CT scan biasanya diikuti dengan
pemeriksaan MRI. Bila diperlukan, maka dilakukan arteriografi.
Pemeriksaan radiologi perlu dikonfirmasikan dengan pemeriksaan jaringan
(histologi). Pemeriksaan radiologi mampu memperkirakan stadium tumor
otak dengan keakuratan mencapai 74%. Pemeriksaan patologi anatomi
hanya diperlukan pada tumor otak yang dioperasi.
Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai rekomendasi dokter, berupa
pemeriksaan laboratorium untuk menghilangkan kemungkinan infeksi
sebagai penyebab dari gejala tumor otak, pemeriksaan oleh spesialis mata
dan THT, elektofisiologis, EEG bahkan dengan peralatan yang canggih,
yaitu CT scan dan MRI. Untuk memastikan diagnosis tumor otak,
dikonfirmasikan dengan pemeriksaan histologi, biopsi otak stereotaksis
atau operasi terbuka.
21

I. PENATALAKSANAAN
Menurut Ns. Laurent dalam artikelnya Askep Pasien dengan
Tumor Otak tahun 2016, penatalaksanaan untuk tumor otak:
1. Pilihan terapi tumor otak seperti halnya pada kanker jenis lain, yaitu
operasi, kemoterapi, dan radioterapi.
2. Obat-obatan lain untuk mengontrol gejala termasuk obat untuk
mengontrol edema otak atau akumulasi cairan
3. Diuretik untuk mengurangi pembengkakan otak
4. Analgesik untuk mengurangi rasa sakit
5. Antasida untuk mengurangi stres ulkus
6. Antikonvulsan untuk mengurangi kejang
Menurut Dr. Dito dan Dr. Fritz dalam bukunya yang berjudul 45
Penyakit dan Gangguan Saraf tahun 2014, solusi direkomendasikan dokter
sesuai keadaan penderita. Dilakukan operasi bila memang diperlukan. Bila
tumor otak menyebar, maka dokter akan melakukan terapi dengan teknik
stereotactic radiosurgery (SRS) atau bahkan whole brain radiation therapy
(WBRT). Caranya adalah dengan menembakkan sinar radiasi tepat ke sel
target di otak untuk mencegah sel-sel tumor otak itu tumbuh dan
berkembang biak.
Bila terdapat pembengkakan otak yang menyertai tumor ganas, maka
dokter akan merekomendasikakortikosteroid (terutama deksametason).
Penggunaan obat steroid harus dibuatkan SOP (prosedur sistematis)
tertulis oleh masing-masing RS. Laporan pemeriksaan jaringan (histologis)
haruslah mengacu ke konsensus (misal sistem WHO atau Daumas
Duport).
Selain cara radiasi, dokter dapat pula merekomendasikan kemoterapi.
Selama kemoterapi, otak akan dimonitor dengan MRI untuk mengamati
adanya perbaikan. Penggunaan kemoterapi harus sesuai indikasi dan
rekomendasi dokter, mengingat banyak efek sampingnya. Radioterapi juga
dapat digunakan sesuai rekomendasi dokter. Jangka waktu dari operasi
hingga dimulainya radioterapi idealnya minimum 4 minggu.
22

J. FOKUS PENGKAJIAN
1. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama : sakit kepala pagi hari, anoreksia, nyeri, diare,
muntah, papiladema, perubahan status mental dan malaise.
b. Riwayat ksehatan sekarang : kejang, gangguan berjalan, kabur
penglihatan, perubahan kepribadian, perubahan kemampuan
mengingat, kelemahan vokal, dan afasia.
c. Riwayat kesehatan masa lalu : masalah pernafasan, masalah
eliminasi dan berkemih, gangguan tidur dan integritas kulit.
2. Pemeriksaan fisik
a. Saraf
Kejang, tingkah laku aneh, disorientasi, afasia, penurunan atau
kehilangan memory,afek tidak sesuai, berdesis.
b. Penglihatan
Penurunan lapang pandangan, penglihatan kabur.
c. Pendengaran
Tinitus, penurunan pendengaran, halusinasi.
d. Sistem pernafasan
Irama nafas meningkat, dispnea, potensial obstruksi jalan nafas,
disfungsi neuromaskuler.
e. Sistem hormonal
Amenorea, rambut rontok, DM.
f. Motorik
Hiperekstensi, kelemahan sendi.
K. KOMPLIKASI
Menurut Ariani (2012) komplikasi tumor otak:
1. Edema serebral
2. Hidrosefalus
3. Herniasi otak
4. Epilepsi
5. Metastase ke tempat lain.
BAB III

KASUS

Ny. K berusia 47 tahun, Pendidikan terakhir SMP, pekerjaan Ibu Rumah


Tangga, alamat: Jalan Mekar Wangi, Moh.Toha, No.RM 113760, Diagnosa Medis
SOL Cerebelum, tanggal masuk Rumah Sakit 4 Oktober 2018. Penanggung jawab
yaitu suaminya: Tn. W berusia 50 tahun , pekerjaan swasta.
Pada Saat dikaji, Pasien mengeluhkan kepala terasa pusing sekali, terasa
berat, batuk namun tidak dapat mengeluarkan dahak. Satu tahun sebelum masuk
rumah sakit klien mengeluhkan sakit kepala di bagian ubun-ubunnya, seperti
ditusuk-tusuk, hilang timbul. Awalnya sakit kepala tidak disertai muntah, sakit
kepala terasa berat saat pasien batuk/menelan. Pasien berobat ke puskesmas,
menurut dokter yang memeriksa pasien mengalami sakit kepala biasa, hanya
diberi obat sakit, dan sakit kepala sedikit, membaik.
Kurang lebih enam bulan SMRS, pasien merasa pandangan menjadi
buram, yang awalnya sedikit kabut gelap, pasien tidak dapat membedakan orang
wajah orang dalam dalam jarak dekat. Mata merah (-), nyeri (-), berair (-),
pandangan ganda (-), baal pada sisi tubuh (-), tersedak (-), kelemahan seyinggi
tubuh (-). Pasien mengeluhkan pendengaran pada telinga kanan berkurang.
Kurang lebih 2 minggu SMRS, pasien mengalami kejang yang disertai sakit
kepala yang hebat dan baal pada wajah sebelah kiri. Menurut keluarga , saat
kejang wajah pasien menoleh ke kiri, mata mendelik ke atas diikuti kejang kaku
seluruh tubuh, kejang berlangsung selama 1 jam, karena berhenti dengan
sendirinya keluarga tidak membawa pasien ke rumah sakit. Keesokan harinya,
pasien mengalami kejang kembali dengan pola yang sama, selama kurang lebih 10
menit, kejang dialami pasien 2 kali pada hari itu, pasien lemas dan tertidur setelah
mengalami kejang. Keluarga memutuskan untuk membawa pasien ke RSHS untuk
berobat.

23
24

Riwayat kesehatan masa lalu:


Riwayat Hipertensi, DM, jantung (-), alergi obat atau makanan (-), riwayat kejang
(-)
Riwayat kesehatan keluarga:
Keluarga mengatakan ayah pasien meninggal karena kanker.
terdapat ronchi, TD 120/70, nadi 87, Suhu 36 0 C, pH:7.46; PCO2; 38,90; Hb
11,89
Terapi: curcuma, meropenem, laxadin, fluimuxil, Nebu: Ventolin: bisolvon:
Nacl=1:15 tetes:2 ml, phenytoin
hasil CT Scan: Massa primer cerebellum kanan, maligna dan hidrosefalus.

PERTANYAAN:
1. Jelaskan konsep penyakit yang dialami pasien diatas meliputi definisi,
klasifikasi, etiologi, tanda dan gejala, komplikasi penyakit tumor otak
2. Pengkajian apa lagi yang harus dilakukan pada pasien diatas,
3. Apa factor risiko tumor otak pada kasus di atas?.
4. Rumuskan diagnose keperawatan yang muncul pada pasien diatas dengan
membuat bagan analisa data
5. Susunlah rencana asuhan keperawatan
BAB IV

PEMBAHASAN KASUS

A. PENGKAJIAN
1. Data Demografi Identitas Pasien dan Keluarga
Nama : Ny. K
Umur : 47 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jalan. Mekar Wangi Moh. Toha
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Nomor RM : 113760
Diagnosa Medis : SOL Cerebelum
Tanggal Masuk RS : 4 Oktober 2018
Tanggal Pengkajian : 5 Oktober 2018
Penanggung Jawab Klien :
Nama : Tn. W
Umur : 50 Tahun
Hubungan Dengan Klien : Suami
Pekerjaan : Pegawai swasta
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan Utama
Nyeri kepala berat
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada saat dikaji, klien mengeluhkan kepala terasa pusing sekali,
terasa berat, batuk namun tidak dapat mengeluarkan dahak. Kurang
lebih 2 minggu SMRS, pasien mengalami kejang yang disertai
sakit kepala yang hebat dan baal pada wajah sebelah kiri. Menurut
keluarga, saat kejang wajah pasien menoleh ke kiri, mata mendelik

25
26

ke atas diikuti kejang kaku seluruh tubuh, kejang berlangsung


selama 1 jam, karena berhenti dengan sendirinya keluarga tidak
membawa pasien ke rumah sakit. Keesokan harinya, pasien
mengalami kejang kembali dengan pola yang sama, selama kurang
lebih 10 menit, kejang dialami pasien 2 kali pada hari itu, klien
lemas dan tertidur setelah mengalami kejang. Keluarga
memutuskan untuk membawa klien ke RSCM untuk berobat.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Satu tahun sebelum masuk rumah sakit klien mengeluhkan sakit
kepala di bagian ubun-ubunnya, seperti ditusuk-tusuk, hilang
timbul. Awalnya sakit kepala tidak disertai muntah, sakit kepala
terasa berat saat klien batuk/menelan. klien berobat ke puskesmas,
menurut dokter yang memeriksa klien mengalami sakit kepala
biasa, hanya diberi obat sakit, dan sakit kepala sedikit, membaik.
Kurang lebih enam bulan SMRS, klien merasa pandangan menjadi
buram, yang awalnya sedikit kabut gelap, klien tidak dapat
membedakan orang wajah orang dalam dalam jarak dekat. Pasien
mengeluhkan pendengaran pada telinga kanan berkurang. Klien
tidak memiliki riwayat Hipertensi, DM, jantung (-), alergi obat atau
makanan (-), riwayat kejang masa lalu (-)
d. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga mengatakan ayah pasien meninggal karena kanker.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
1) Tingkat Kesadaran : Compos Metis
2) GCS (Gasglow Coma Scale) :
Eye =4
Motorik = 5
Verbal = 6
3) Tanda-Tanda Vital
TD: 120/70
27

Nadi: 87
Suhu: 360 C
b. Antropometri
Berat badan sekarang : Tidak terkaji
Berat badan dahulu : Tidak terkaji
Tinggi badan : Tidak terkaji
IMT : Tidak terkaji
c. Pemeriksaan Fisik
1) Sistem Pernafasan
Pernafasan cuping hidung (-), tidak terpasang alat bantu nafas,
batuk disertai dahak dengan usaha untuk mengeluarkannya,
karena sulit keluar dahak, suara paru ronchi, bentuk dada tidak
terkaji, pola nafas, suara nafas dan retraksi otot bantu napas
tidak terkaji.
2) Sistem Kardiovaskuler
Tekanan darah dan nadi tidak terkaji, Tidak ada kebiruan pada
bagian dada, suara jantung normal, suara jantung tambahan
tidak terkaji, CRT tidak terkaji, akral tidak terkaji, JVP tidak
terkaji, konjungtiva anemis tidak terkaji.
3) Sistem Integument
Adanya luka bekas operasi tidak terkaji, terpasang infus terapi
cairan pada IV line tidak terkaji
4) Sistem Musculoskeletal
Adanya deformitas tidak terkaji, tidak ada penggunaan alat
bantu berjalan, tidak terdapat oedema, tidak ada nyeri tekan,
tidak ada masa. ROM tidak terkaji, Gangguan tonus otot tidak
terkaji, terjadinya kelemahan otot tidak terkaji.
5) System Perkemihan-Genital
Pemasangam folley kateter tidak terkaji, kebersihan alat genital
tidak terkaji, warna urine tidak terkaji, jumlah urine tidak
terkaji, Perubahan pola berkemih tidak terkaji.
28

6) Sistem Pencernaan
Perasaan mual dan muntah tidak terkaji, kesimetrisan abdomen
tidak terkaji, warna abdomen tidak terkaji, tidak ada asites, luka
di abdomen tidak terkaji, Tidak ada spider navy, kebersihan
lidah tidak terkaji, adanya sariawan tidak terkaji, kondisi gigi
dan mulut tidak terkaji, Auskultasi: peristaltik usus tidak
terkaji. Pola buang air besar (Inkontinensia) tidak terkaji. Nafsu
makan tidak terkaji, sensasi pada lidah tiak terkaji, kesulitan
menelan (gangguan pada refleks palatum dan Faringeal) tidak
terkaji.
7) Sistem Persepsi-Sensori
Klien merasa pusing dan sakit kepala, Kelemahan Tinitus tidak
terkaji, Gangguan rasa pengecapan, penciuman dan penglihatan
tidak terkaji akan tetapi 6 bulan SMRS klien merasa pandangan
menjadi buram yang awalnya sedikit kabut gelap, Penurunan
memori tidak terkaji, kehilangan kemampuan masuknya
rangsang visual tidak terkaji akan tetapi 6 bulan SMRS klien
tidak dapat membedakan wajah orang dalam jarak dekat, Tidak
mampu merekam gambar tidak terkaji, Tidak mampu
membedakan kanan/kiri tidak terkaji
8) Sistem Persyarafan Afasia motorik tidak terkaji,
Hilangnya rangsangan sensorik kontralateral
a. Nervus I (Olfaktorius): Tidak terkaji. Kaji apakah klien
dapat membedakan bau.
b. Nervus II (Optikus): Tidak terkaji, kaji apakah klien dapat
melihat objek benda berupa papan nama dengan jarak 30cm,
6 bulan SMRS klien tidak dapat membedakan wajah oarng
dalam jarak dekat
c. Nervus III, IV, V (Okulomotoris, troclearis, dan
abdusen): Tidak terkaji. Kaji respon pupil klien terhadap
cahaya (miosis ketika terkenan cahaya dan medriasis ketika
29

tidak diberi cahaya), Kaji pergerakan mata klien dengan cara


memberikan objek benda dengan pola bintang
d. Nervus VI (Trigeminus): Tidak terkaji. Kaji reflek
mengedip klien dan sensasi pada kelopak mata ketika diberi
sentuhan kapas dengan mata tertutup.
e. Nervus VII (Fasialis): Tidak terkaji. Kaji adanya tremor
atau kelumpuhan dimuka, kejang kaku seluruh tubuh (+),
saat kejang wajah klien menoleh kekiri.
f. Nervus VIII (Vestibulochoclearis): Tidak terkaji. Kaji
apakah klien dapat menjawab pertanyaan yang diberikan
perawat dan keseimbangan ketika berjalan.
g. Nervus IX dan X (Glossofaringeus dan Vagus): Tidak
terkaji. Kaji reflex muntah dan menelan.
h. Nervus XI (Accesorius) :Tidak terkaji. Kaji kemampuan
klien untuh menoleh kearah kanan dan kiri terhadap lawanan
yang diberikan, kejang kaku seluruh tubuh (+), saat kejang
wajah klien menoleh kekiri.
i. Nervus XII (Hipoglosus): Tidak terkaji. Kaji kesimetrisan
lidah klien.
9) Sistem Endokrin
Tidak terkaji, kaji apakah ada pembesaran kelenjar tiroid dan
kelenjar limfe di servikal.

4. Riwayat ADL (Activity Daily Living)

No Aktivitas Di rumah Di rumah sakit


1. Nutrisi
a. Makan
Frekuensi Tidak Terkaji Tidak Terkaji
Jenis
Keluhan
30

No Aktivitas Di rumah Di rumah sakit

b. Minum
Frekuensi
Jenis
Keluhan
2. Eliminasi
a. BAB
Frekuensi
Konsistensi
Bau Tidak terkaji Tidak terkaji
Warna
Keluhan
b. BAK
Frekuensi
Warna
Bau Tidak terkaji Tidak terkaji
Keluhan

3. Istirahat tidur
a. Siang
Tidak terkaji Tidak terkaji
b. Malam
4. Personal hygiene
a. Mandi
Tidak terkaji Tidak terkaji
b. Keramas
c. Gosok gigi
5. Olahraga Tidak terkaji Tidak terkaji
31

5. Data Psikologis
a. Status Emosi
Tidak terkaji
b. Konsep Diri
1) Gambaran Diri
Tidak terkaji
2) Harga Diri
Tidak terkaji
3) Peran Diri
Tidak terkaji
4) Identitas Diri
Tidak terkaji
5) Ideal Diri
Tidak terkaji
c. Pola Koping
Tidak terkaji
d. Gaya Komunikasi
Tidak terkaji
6. Data Sosial
a. Pendidikan dan Pekerjaan
Klien bekerja sebagai ibu rumah tanggan dan riwayat pendidikan
terakhir SMP.
b. Gaya Hidup
Klien mengatasi adanya keluhan sakit dalam dirinya dengan cara
pergi berobat ke rumah sakit.
c. Hubungan Sosial
Tidak terkaji

7. Data Spiritual

a. Konsep ke Tuhanan
Tidak terkaji
32

b. Ibadah Praktik
Tidak terkaji
c. Makna Sehat – Sakit Spiritual
Tidak terkaji
d. Support Spiritual
Kaji hubungan klien dengan Allah, spirit dari siapa saja,
melaksanakan sholat saat sehat-sakit, sakit menurut agama klien
seperti apa.
33

8. Data Penunjang
a) Laboratorium

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal Ket.

Hemoglobin 11. 89 gr % 12.00 – 15.00 -

pH 7.46 - 7.35-7.45 -

PCO2 38.90 mmHg 35-45 -

b) CT-ScanHasil

 Massa primer cerebellum kanan

 Maligna

 Hidrosefalus

9. Terapi

NO. Nama Obat Route Indikasi Efek samping


1. Curcuma p.o Memelihara kesehatan Mual ringan, iritasi
organ hati, melancarkan lambung atau nyeri ulu
BAB, mengeluarkan hati
racun dari tubuh,
memperbaiki proses
metabolisme, mengobati
penyaki ammenorhea
2. Meropenem IV Antibiotic dan penganan Lokal : inflamasi, reaksi
infeksi bakteri gram pada tempat injeksi,
positif dan gram negatif, flebitis/tromboflebitis,
aerobic dan anaerobik nyeri, edema
Efek pada
gastrointestinal : diare,
nyeri abdomen, mual,
34

NO. Nama Obat Route Indikasi Efek samping


munth, colitis,
pseudomembranosa
3. Laxadin p.o Mengatasi konstipasi, Ruam kulit, pluritus,
melembutkan feses, perasaan terbakar pada
pelican jalan feses, perut, kolik abdomen,
dapat juga digunakan atau kram usus, diare
dalam prosedur mual dan muntah
pengosongan usus
sebelum proses
radiologi dan operasi
4. Fluimucil p.o Pengobatan penyakit- Ringan : misalnya mual
penyakit paa saluran dan muntah.
pernapasan yang terjadi yang lebih serius tetapi
banyak lendi atau kejadiannya jarang :
dahak, seperti: bronkospasme,
emfisema, radamg paru angioedema, ruam,
kronis, brnkiektasis, pluritus, hipotensi, kulit
eksaserbasi bronchitis kemerahan, bengkak
kronis dan akut, pada wajah, dypsnea,
bronchitis asmatik, sinkop, berkeringat,
asma bronkial yang arthralgia, pengelihatan
disertai kesukaran kabur, gangguan fungsi
peneluaran dahak, serta hati, asidosis, kejang
penyakit radang dan kadang-kadang
rinofaringeal demam
5. Nebu: Ventolin aerosol Meredakan asma ringan Sering: tremor, sakit
sedang atau berat. kepala, takikardi.
Penatalaksanaan dan
pencegahan serangan
35

NO. Nama Obat Route Indikasi Efek samping


asma
6. Nebu : Bisolvon aerosol Sebagai mukolitik untuk Gangguan sism
meredakan batuk kekebalan tubuh,
berdahak gangguan jaringan kulit
dan subkutan dan
gangguan pernapasan,
mediastinum dan
toraks. Reaksi
anafilaksis ermasuk
shock anafilaksis dan
agiodema,
bronkospasme, ruam
urtikaria, pluritus dan
hipersensitivitas
lainnya.
Gg. Saluran cerna :
mual, muntah, diare dan
sakit abdomen atas
7. Phenytoin p.o Menegah dan Mual, muntah dan
mengurangi kejang konstipasi, kuang nafsu
akibat epilepsy, makan, sakit kepala,
terutama untuk kejang tremor, gelisah, nyeri
jenis tonik-klonik dan dan perdarahan pada
kejang parsial gusi
36

B. ANALISA DATA
Diagnosis
NO. DATA ETIOLOGI TTD
Keperawatan
1. Ds: Etiologi: Nyeri Kronis
- klien mengatakan Factor genetic
nyeri dikepala seperti Paparan bahan kimia
ditekan-tekan.
Pertumbuhan sel
- klien mengeluhkan
otak abnormal
kepala terasa pusing
sekali, terasa berat
bagian ubun-ubunnya, Masa dalam tengkorak
seperti ditusuk-tusuk, bertambah
hilang timbul.
- baal pada wajah Mendesak ruang fontanel
(ruang tengkorak)
sebelah kiri
- keluarga mengatakan
ayah klien meninggal Penurunan darah ke otak
karena kanker
Do:
- hasil CT Scan: massa Traksi & pergeseran
primer cerebellum struktur peka nyeri
kanan, maligna dan (arteri, vena, sinus vena,
saraf otak) dalam rongga
hidrosefalus
intra kranial
- Riwayat hipertensi (-)
- DM (-)
- jantung (-) Nyeri kepala
- alergi obat atau
makanan (-)
- riwayat kejang (+)
- nyeri (+)
pengkajian nyeri:
P : klien mengeluh
nyeri kepala
Q: nyeri kepala terasa
pusing sekali, terasa
berat, seperti ditusuk-
tusuk
R: pada bagian sutura
(ubun-ubun)
S: tidak terkaji
T: nyeri hilang timbul,
diperberat terutama saat
37

Diagnosis
NO. DATA ETIOLOGI TTD
Keperawatan
batuk kelemahan
setinggi tubuh (-)
- klien mengeluhkan
pendengaran pada
telinga kanan
berkurang
- klien berobat ke
puskesmas
hasil anamnesa dokte
r: klien mengalami
sakit kepala biasa,
hanya diberi obat
sakit, dan sakit kepala
sedikit, membaik.
38

Diagnosis
NO. DATA ETIOLOGI TTD
Keperawatan
2. Ds: Stasis vena cerebral Perubahan
- Klien merasa persepsi
pandangan menjadi Pembengkakan sensori visual
buram, yang awalnya Papilla saraf optikus
sedikit kabut gelap
- Klien tidak dapat Kompresi saraf optikus
membedakan orang
wajah orang dalam
dalam jarak dekat. Gangguan penglihatan
- Klien mengeluhkan
pendengaran pada
telinga kanan
berkurang.

Do:
- mata merah (-)
- berair (-)
- pandangan ganda (-)
39

Diagnosis
NO. DATA ETIOLOGI TTD
Keperawatan
3. Ds: Tumor serebelum Resiko tinggi
- Klien mengalami injury
kejang yang disertai G3 fungsi serebelum
sakit kepala yang
hebat dan baal pada
Pusing, ataksia, Otot-otot
wajah sebelah kiri tidak terkoordinasi
- Menurut keluarga,
saat kejang wajah
pasien menoleh ke
kiri, mata mendelik ke Tumor korteks motorik
atas diikuti kejang
kaku seluruh tubuh,
Perubahan Kepekaan
kejang berlangsung Neuron
selama 1 jam

G3 Hantaran Listrik Otak

Kejang

DIAGNOSIS KEPERAWATAN SKALA PRIORITAS :

1. Nyeri Kronis berhubungan dengan pertumbuhan sel otak abnormal


2. Gangguan Perubahan persepsi sensori visual berhubungan dengan aneurisma
3. Resiko tinggi injury berhubungan dengan neoplasma
40

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan
1. Nyeri Kronis b.d Setelah dilakukan 1. Kaji keluhan nyeri: 1. Pengenalan segera
peningkatan tindakan keperawatan intensitas, karakteristik, meningkatkan intervensi dini
tekanan selama 3 x 24jam, lokasi, lamanya, faktor yang dan dapat mengurangi beratnya
intrakranial nyeri yang dirasakan memperburuk dan serangan.
berkurang atau dapat meredakan. 2. Meningkatkan rasa nyaman
diadaptasi oleh klien 2. Instruksikan pasien/ keluarga dengan menurunkan
dengan kriteria hasil: untuk melaporkan nyeri vasodilatasi.
 Klien dengan segera jika nyeri 3. Akan melancarkan peredaran
mengungkapkan timbul. darah, dan dapat mengalihkan
nyeri yang 3. Berikan kompres dingin pada perhatian nyerinya ke hal-hal
dirasakan kepala. yang menyenangkan.
berkurang atau 4. Mengajarkan teknik relaksasi 4. Analgesik memblok lintasan
dapat dapat dan metode distraksi. nyeri, sehingga nyeri berkurang
diadaptasi 5. Kolaborasi pemberian 5. Merupakan indikator/derajat
ditunjukkan analgesik. nyeri yang tidak langsung yang
41

Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan
penurunan skala 6. Observasi adanya tanda- dialami.
nyeri. Skala: 2 tanda nyeri non verbal seperti
 Klien tidak ekspresi wajah: gelisah,
merasa menangis/meringis,
kesakitan. perubahan tanda vital.
 Klien tidak 7. Nyeri merupakan
gelisah pengalaman subjektif dan
harus dijelaskan oleh pasien.
Identifikasi karakteristik
nyeri dan faktor yang
berhubungan merupakan
suatu hal yang amat penting
untuk memilih intervensi
yang cocok dan untuk
mengevaluasi keefektifan
dari terapi yang diberikan.
2. Resiko cedera Dalam waktu 3x24 31 Kaji tekanan darah 1. Untuk mengetahui pasien
42

Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan
berhubungan iagnosa tidak menjadi pasien saat pasien mengakami hipotensi
dengan adanya masalah mengadakan perubahan ortostatik ataukah tidak.
agen neoplasma aktualdengan kriteria posisi tubuh. 2. Untuk menambah
hasil : 32 Diskusikan dengan klien pengetahuan klien tentang
1. Pasien dapat tentang fisiologi hipotensi ortostatik.
mengidentifik hipotensi ortostatik.
asikan 33 Ajarkan teknik-teknik 3. Melatih kemampuan klien
kondisi- untuk mengurangi dan memberikan rasa
kondisi yang hipotensi ortostatik. nyaman ketika mengalami
menyebabkan hipotensi ortostatik.
vertigo.
2. Pasien dapat
menjelaskan
metode
pencegahan
penurunan
aliran darah di
43

Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan
otak tiba-tiba
yang
berhubungan
dengan
ortostatik.
3. Pasien dapat
melaksanakan
gerakan
mengubah
posisi dan
mencegah
drop tekanan
di otak yang
tiba-tiba.
4. Menjelaskan
beberapa
episode
44

Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan
vertigo atau
pusing.
Gangguan persepsi Dalam waktu 3x24 1. Kaji respon pupil: 1. Perubahan pupil
3. sensori visual jam klien mampu 2. Inspeksi pupil dengan menunjukkan tekanan pada
berhubungan mempertahankan senter kecil untuk syaraf okulomotorius atau
dengan aneurisma fungsi penglihatan mengevaluasi ukuran, optikus.
dan mencegah konvigurasi, dan reaksi 2. Reaksi pupil diatur oleh
kerusakan yang lebih terhadap cahaya. syarafokulomotorius (syaraf
parah dengan kriteria 3. Evaluasi tatapan klien cranial III) pada batng otak.
Hasil: untuk menentukan 3. Gerakan mata konjugasi
l. Mempertahankan apakah terdapat diatur dari bagian korteks
lapang pandang tanpa konjugasi (berpasangan, dan batang otak.
kehilangan lebih saling bekerja sama) atau 4. Syaraf cranial VI atau
lanjut apakah gerakan mata syaraf abdusen mengatur
1. abnormal. gerakan abduksi dan
4. Evaluasi kemampuan adduksi mata. Syaraf cranial
mata untuk melakukan IV atau syaraf troklearis
45

Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan
abduksi dan adduksi. juga mengatur gerakan
5. Pastikan derajat atau mata.
tipe kehilangan 5. Mempengaruhi harapan
penglihatan. masa depan pasien dan
6. Dorong pilihan intervensi.
mengekspresikan 6. Intervensi dini mencegah
perasaan tentang kebutaan bagi pasien dalam
kehilangan atau menghadapi kemungkinan
kemungkinan kehilangan atau mengalami kehilangan
penglihatan. penglihatan sebagian atau
7. Lakukan tindakan total. Meskipun kehilangan
untuk membantu pasien penglihatan telah terjadi tak
menangani keterbatasan dapat diperbaiki kehilangan
penglihatan. Misalnya, lanjut dapat dicegah.
kurangi kekacauan, atur 7. Menurunkan bahaya
perabot, ingatkan keamanan sehubungan
memutar kepala ke dengan perubahan lapang
46

Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan
subjek yang terlihat, pandang atau kehilangan
perbaiki sinar suram dan penglihatan dan akomodasi
masalah penglihatan pupil terhadap sinar
malam. lingkungan
BAB V

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Tumor otak dalam pengertian umum berarti benjolan, dalam istilah
radiologisnya disebut lesi desak ruang/ Space Occupying Lesion (SOL).
Neoplasma sistem saraf pusat umumnya menyebabkan suatu evaluasi
progresif disfungsi neurologis dibedakan menjadi tumor primer dan tumor
sekunder atau metastatik. Tumor primer bisa timbul dari jaringan otak,
meningen, hipofisis dan selaput myelin. Tumor sekunder adalah suatu
metastasis yang tumor primernya berada di luar susunan saraf pusat, bisa
berasal dari paru-paru, mamma, prostat, ginjal, tiroid atau digestivus.
Tumor otak adalah terdapatya lesi yang dtimbukan karena ada
desakan ruang baik jinak mupun ganas yag tumbuh diotak, meningen dan
tengkorak peyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui, tetapi
sekarang telah diadakan pnelitian mengeni herediter, sisa-sisa embryonal,
radiasi, virus, substansi-substansi zat karsinogenik, trauma kepala.
Penatalaksanaan pasien dengan tumor otak dapat dilakukan dengan
pembedahan, kemoterapi dan radioterapi.
B. SARAN
1. Perawat hendakya mampu memberikan asuhan keperawatan klien
dengan tumor otak secara hlistik di dasari dengan penegtahuan yang
mendalam mengenai penyakit tersebut
2. Klien dan keluarga hendaknya ikut berpartisipasi dalam
pentalaksanaan serta meningkatkan pengetahuan tentang tumor otak
yang dideritanya.

47
DAFTAR PUSTAKA

Amriosa, Neilan et al. (2014). Primary Brain Tumor With Hemiparese Dextra

And Parese Nerve II, III, IV, VI. Medula, Volume 2, Nomor 3, Maret 2014.

79-85.

Ariani, TA. 2012. Sistem Neurobehaviour. Jakarta: Salemba Medika.

Muttaqin, Arif. 2011. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem

Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Irianto, Koes. 2014. Anatomi dan Fisiologi. Bandung: Alfabeta.

Atmodjo, L Wahyuni, dkk. 2016. Duapulu Penyakit Syaraf Waspadai!. Jakarta:

Buku Kompas.

Anurogo, Dito dan Usman, S Frizt. 2014. 45 Penyakit dan Gangguan Syaraf.

Yogyakarta: ANDI.

Laurent N. E. 2017. “Askep Pasien dengan Tumor Otak”. (online)

diunduh tgl: Selasa, 9 0ktober 2018

48