Anda di halaman 1dari 27

DAMPAK PEMBERIAN PROBIOTIK DAN FITOfAMARKA PADA NILAI

BOBOT KARKAS, DAN BOBOT USUS PADA AYAM KAMPUNG SUPER

Usulan Penelitian

Oleh

Muhammad Satria Yudhistira

200110150065

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2018
DAMPAK PEMBERIAN PROBIOTIK DAN FITOFAMARKA PADA
BOBOT KARKAS, INDEKS PRODUKSI DAN MORTALITAS AYAM
KAMPUNG SUPER

Usulan Penelitian

Oleh
Muhammad Satria Yudhistira
200110150065

Menyetujui :

Dr. Ir. Wiwin Tanwiriah, MP.


Pembimbing Utama

Mengesahkan :

Ir. Dani Garnida, MS.


Dr. Ir. Iman Hernaman, M.Si Pembimbing Anggota
Wakil Dekan I

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian

dengan judul “Dampak Pemberian Probiotik dan Fitopamarka pada Bobot Karkas,

Nilai Indeks Produksi dan Mortalitas Ayam Kampung Super.”

Penulisan usulan penelitian merupakan salah satu syarat untuk melakukan

penelitian. Dalam penyusunan usulan penelitian ini penulis berterima kasih kepada

Dosen pembimbing utama Dr. Ir. Wiwin Tanwiriah, MP. dan pembimbing anggota
Ir. Dani Garnida, MS. yang telah memberikan waktu, kesempatan, arahan serta

bimbingan selama penyusunan usulan penelitian ini. Penulis mengucapkan

terimakasih kepada Dr. Drs. Ir. H. M. Munandar Si,MS selaku dosen wali selama

perkuliahan, Dr.Ir Iman Hermawan., M.SI., selaku wakil dekan Fakultas

Peternakan Universitas Padjadjaran. Prof.Dr.Ir. Husmy Yurmiati, MS., selaku

dekan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran serta kepada seluruh civitas

akademika di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.


Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua tercinta Bapak

Soegiarto, Ibu Purwani Wirawati atas dukungannya baik moril maupun materil

dalam menyelesaikan usulan penelitian ini serta doa yang telah diberikan kepada

penulis, serta Adik Dewi Damayanti serta keluarga tercinta yang telah memberikan

doa dan dukungan. Kemudian penulis mengucapkan terima kasih kepada keluarga

WILDEBEEST, keluarga KSPTP, dan keluarga KSPTP XVI atas dukungan Moriil

dan materiil, selalu memberikan semangat dan dukungan dalam penyelesaian

usulan penelitian ini.

iii
Penulis Juga mengucapkan terima kasih kepada Nanda Yuditia, Fakhri

Yushid, Syifa Nadita, Eka Siti R.N.I, Edwin Widianto, Faza Rasyadan, Dimas T

Wibowo, Ikhsan Maulana, Angga Nanda, Fikrianeira, Destia Astari dan masih

banyak lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan

dukungan, saran serta semangat moriil dalam penyusunan usulan penelitian ini.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada satu tim penelitian yaitu Fita,

Pungky, Ulil, dan Yetty yang memberikan dukungan dalam menyelesaikan usulan

penelitian.

Akhir kata, semoga usulan penelitian ini dapat bermanfaat sehingga dapat

menjadi suatu panduan dalam melaksanakan penelitian. Amiin.

Sumedang, Januari 2017

Penulis

iv
v
DAFTAR ISI

Bab Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................. iii
DAFTAR ISI ................................................................................ vi
DAFTAR TABEL ........................................................................ vii
DAFTAR ILUSTRASI ................................................................ viii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................ ix
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1

1.2 Identifikasi Masalah ............................................................. 2

1.3 Tujuan Penelitian.................................................................. 3

1.4 Kegunaan Penelitian ............................................................. 3

1.5 Kerangka Pemikiran ............................................................. 3

1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian................................................ 9

II BAHAN DAN METODE PENELITIAN


2.1 Bahan Penelitian ................................................................... 10
2.1.1 Ternak Percobaan ....................................................... 10
2.1.2 Kandang dan Peralatan ............................................... Error!
Bookmark not defined.
2.1.3 Ransum Percobaan ...................................................... 11

2.2 Metode Penelitian ................................................................. 11


2.2.1 Prosedur Kerja: ........................................................... 11
2.2.2 Peubah yang diamati ................................................... 12
2.2.3 Rancangan Percobaan dan Analisis Data .................... 13

DAFTAR PUSTAKA .................................................................. 15


LAMPIRAN ................................................................................. 17

vi
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1.

vii
DAFTAR ILUSTRASI

Nomor Halaman
1.

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman
1. Anggaran Biaya Penelitian ............................................................ 18
2. Rencana Jadwal Penelitian ............................................................ 19

ix
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peran ayam kampung dalam kehidupan masyarakat Indonesia cukup erat,

karena bisa dijadikan sumber konsumsi daging dan telur. Bahan makanan yang

berasal dari ternak untuk mencukupi kebutuhan protein hewani. Daging ayam yang

berasal dari ayam kampung memiliki posisi yang baik karena karakteristik khas
yang terdapat di dalamnya secara umum dapat disukai oleh masyarakat. Selera

masyarakat terhadap ayam local cukup tinggi, terbukti dari permintaan daging ayam

kampung cenderung mengalami peningkatan sehingga produksinya perlu semakin

ditingkatkan. Menurut Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (2016),

Populasi ayam kampung di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 298.672.970 ekor

yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ayam kampung Super (KS) merupakan Ayam kampung hasil persilangan

antara ayam lokal jantan dengan ayam ras betina. Untuk memenuhi permintaan

konsumen terhadap ayam kampung yang cukup tinggi, Sehingga mendorong

peternak meningkatkan pemeliharaan ayam Kampung Super. Kelebihan Ayam

Kampung Super memiliki tingkat kematian yang rendah, laju pertumbuhan bobot

badannya lebih cepat daripada ayam kampung biasa. Bobot badan berpengaruh

pada bobot karkas, Sehingga bobot badan yang tinggi menghasilkan bobot karkas

yang tinggi. Selain itu ayam kampung super mudah beradaptasi dengan

lingkungannya, Sehingga nilai indeks produksi yang di peroleh peternak dapat

dikatagorikan sangat baik.


2

Pemeliharaan ayam kampung super dilakukan secara intensif. Ransum pada

ayam kampung ini diberikan dengan tambahan probiotik dan fitofamarka. Produk

yang mengandung miroorganisme hidup yang di tambahkan ke dalam pakan

disebut probiotik. Probiotik berguna untuk mempengaruhi laju pertumbuhan,

penggunaan ransum, pencernaan terhadap bahan pakan dan kesehatan ternak

melalui perbaikan keseimbangan mikroorganisme di dalam saluran pencernaan.

Fitofamarka adalah feed additive yang berasal dari tanaman herbal. Apabila

pemberian pakan menambahkan Fitofamarka dan probiotik dapat memberikan

efek yang menguntungkan, yaitu dapat meningkatkan kecernaan terhadap protein

dan karbohidrat sehingga dapat memiliki tingkat kematian yang rendah dengan nilai

indeks produksi yang tinggi.

Penelitian tentang dampak pemberian probiotik dan Fitofamarka pada nilai

Indek Performa dan mortalitas ayam kampung super sudah cukup banyak diteliti,

Namun, Jenis ayam kampung hasil persiangan salah satunya Ayam Kampung Super

Garut (KSG). Kelebihan dari KSG salah satunya yaitu mempunyai kecepatan

pertumbuhan yang berbeda. Penggunaan dosis probiotik belum diketahui secara

tepat dan penggunaan dosis fitofarmaka yang merupakan campuran dari jahe

merah, lada hitam, dan kunyit belum diketahui secara tepat.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian

yang berjudul Dampak Pemberian Probiotik dan Fitofarmaka pada Nilai Indeks

Produksi (IP) dan Mortalitas pada Ayam Kampung Super yang berasal dari Garut.

1.2 Identifikasi Masalah


3

Adapun Identifikasi masalah dari usulan penelitian ini adalah

1. Bagaimana pengaruh penggunaan probiotik dan fitofamarka terhadap Nilai

Bobot Karkas ayam kampung persilangan.

2. Bagaimana pengaruh penggunaan probiotik dan fitofamarka terhadap Nilai

Indeks Produksi (IP) ayam kampung persilangan.

3. Bagaimana pengaruh penggunaan probiotik dan fitofamarka terhadap

Mortalitas ayam kampung persilangan.

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui pengaruh penggunaan probiotik dan fitofamarka terhadap Bobot

Karkas ayam kampung persilangan.

2. Mengetahui pengaruh penggunaan probiotik dan fitofamarka terhadap Nilai

Indeks Produksi (IP) ayam kampung persilangan.

3. Mengetahui pengaruh penggunaan probiotik dan fitofamarka terhadap

Mortalitas ayam kampung persilangan.

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi khazanah penambah ilmu bagi

penulis mengenai pengaruh penggunaan probiotik dan fitofarmaka pada ransum

terhadap Bobot Karkas, Nilai Indeks Produksi (IP) dan Mortalitas Ayam Kampung

Persilangan

1.5 Kerangka Pemikiran


4

Di Indonesia Konsumsi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan protein

hewani di dominasi oleh ternak ayam broiler, Namun saat ini sebagian masyarakat

mulai beralih mengkonsumsi daging ayam kampung. Ayam kampung merupakan

ayam asli yang sudah beradaptasi dengan lingkungan tropis Indonesia. Masyarakat

pedesaan memeliharanya sebagai sumber pangan keluarga akan telur dan

dagingnya (Iskandar, 2010). Ayam kampung memiliki ciri khas tersendiri di mata

masyarakat karena memiliki rasa yang khas berupa daging yang lebih lezat dan

lemak yang sedikit di bandingkan ayam broiler. Hal tersebut membuat munculnya

peternak-peternak kecil di kalangan masyarakat, yang harapannya mampu

memenuhi permintaan terhadap komuditas daging di pasaran serta terjaganya

populasi ayam kampung di Indonesia.

Ayam Kampung merupakan salah satu dari ayam buras yang potensial untuk

dikembangkan di Indonesia dan ayam lokal yang telah lama dipelihara di

masyarakat Indonesia. Salah satu jenis ayam kampung yang telah di kembangkan

masyarakat yaitu Ayam Kampung Super (KS). Ayam Kampung Super merupakan

ayam hasil persilangan ayam kampung dengan ayam ras sehingga ayam tersebut

memiliki produktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan ayam kampung biasa.

Ayam Kampung Super memiliki keunggulan antara lain pertumbuhannya yang

cepat, angka kematian yang rendah (sekitar 5%), mudah beradaptasi dengan

lingkungan serta pada uji karkas dan uji rasa menunjukkan bahwa tampilan

karkasnya mirip dengan ayam kampung, pada umur 8 – 10 minggu sudah mencapai

bobot potong yang banyak diminati konsumen (Pramono, 2006).

Karkas ayam adalah ayam yang sudah di sembelih dan dikurangin bagian-

bagian tertentu (Priyatno, 2000). Berbagai macam jenis karkas yang di jual di

pasaran, Karkas ayam broiler biasa di jual dalam bentuk kosong yaitu karkas hasil
5

prosessing. Karkas yang baik dipasarkan yaitu karkas yang sudah melalui hasil

prosessing yaitu ayam tanpa darah, bulu, kepada, kaki, leher, dan organ dalam

(Muchadi dan Sugiono, 1992) Adapun karkas ayam kampung biasa di pasarkan

dalam bentuk karkas eviskerasi atau Eviscerated carcass yaitu karkas hasil

prossesing tanpa darah, bulu dan jeroan. Menurut Soeharsono (1976) karkas yang

baik harus mengandung banyak daging, hasil ikutannya rendah serta lemak yang

tidak begitu tinggi, yang semuanya di pengaruhi oleh pakan dan pemeliharaan.

Manajemen pemeliharaan Ayam Kampung berperan penting untuk

meningkatkan performa ternak. Pemeliharaan yang intensif menghasilkan

pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, dan konversi ransum yang baik.

Pertambahan bobot badan adalah salah satu parameter yang sering diamati untuk

menilai keberhasilan atau tingkat perkembangan produksi yang diinginkan.

Penimbangan bobot badan untuk mengetahui kecepatan pertumbuhan ayam

pedaging hendaknya dilakukan setiap minggu.

Pertumbuhan ayam pedaging sangat cepat dari sejak lahir sampai delapan

minggu setelah itu pertumbuhan menurun (Scott.dkk, 1982). Pertumbuhan yang

cepat sering terjadi pada awal pertumbuhan. Keadaan ini menguntungkan untuk

kondisi di Indonesia yang memasarkan ayam pada awal pertumbuhan yaitu pada

umur lima sampai enam minggu. Pada periode pertumbuhan pakan dengan zat

makanan yang seimbang. Kandungan zat makanan yang menentukan performa

pada unggas adalah imbangan protein dan energinya, selain itu kebutuhan vitamin

dan mineral harus terpenuhi (Anggorodi, 1985).

Pemeliharaan yang baik akan menghasilkan pertambahan bobot badan yang

tinggi, konsumsi yang rendah dan nilai konversi yang rendah. Bobot badan berperan

penting dalam pemeliharaan ternak unggas, dikarenakan dapat mempengaruhi


6

tingginya indeks produksi dalam pemeliharaan ternak ayam. Indeks produksi

dipengaruhi oleh persentase ayam yang hidup, bobot badan akhir, konversi ransum

dan lama pemeliharaan. Tingkat keberhasilan usaha ternak tidak hanya dipengaruhi

oleh rendahnya nilai konversi ransum akan tetapi perlu juga diliat indeks

produksinya (Arifien, 1997), Selain itu akan mempengaruhi nilai mortilitas.

Pemeliharaan yang baik biasanya menghasilkan mortilitas yang rendah. Menurut

Indaryati dkk. (2005) faktor yang mempengaruhi mortalitas adalah bobot badan,

bangsa, tipe ayam, dan lingkungan. Faktor lainnya adalah penyakit, kekurangan

pakan, dan minum serta temperatur (Bell dan Weaver 2002)

Dengan pemberian Feed Additive berupa Probiotik dan Fitofarmaka pada

ransum diharapkan dapat meningkatkan daya tahan terhadap serangan penyakit dan

Menurunkan angka kematian (Mortalitas) pada ayam kampung. Feed Additive

merupakan bahan yang dicampurkan ke dalam ransum dalaam jumlah sedikit.

Pemberian Feed Aditive ini untuk memacu pertumbuhan atau meningkatkan

efisiensi produksi. Feed Additive yang ada pada masa kini umumnya terdri dari

antibiotik, enzim, probiotik, asam organik dan bioaktif tanaman (Sinurat dkk,

2003).

Probiotik merupakan Mikroorganisme hidup non pathogen yang digunakan

sebagai imbuhan pakan yang mampu mendesak mikroorganisme pathogen,

sehingga pada gilirannya hewan atau manusia menjadi lebih sehat dan proses

pertumbuhan atau produksi tidak terganggu. (Soeharsono, 1997). Probiotik Heryaki

Powder mengandung mikroba seperti Candida ethamolica, Bacillus subtillus,

Lactobacillus casei, Monancus fumeus. Dan terdapat aktivitas enzim protease dan

amilase. Keuntungan dari penggunaan Probiotik pada ayam antara lain adalah dapat

memacu pertumbuhan, memperbaiki konversi ransum, mengontrol kesehatan


7

antara lain dengan mencegah terjadinya gangguan pencernaan terutama pada ayam

muda (Budiansyah, 2004).

Fitofarmaka adalah feed additive yang berasal dari tanaman herbal.

Fitofarmaka seringkali dijadikan sebagai pengganti antibiotik karena bahan aktif

yang terkandung didalamnya tidak meninggalkan residu sehingga tidak

membahayakan konsumen.

Jahe merah (Zingiber officinale Rose) secara luas digunakan di banyak negara

sebagai bumbu makanan dan sebagai ramuan obat (Chrubasik dkk, 2005). Jahe

merah (Zingiber officinale Rose) mempunyai senyawa bioaktif yang berupa atsiri

oleoresin maupun gingerol yang berfungsi untuk membantu di dalam

mengoptimalkan fungsi organ tubuh. Senyawa penting utama dalam jahe adalah

gingerdiol, dan gingerdione yang memiliki kemampuan merangsang enzim

pencernaan, mempengaruhi aktivitas mikroba dan memiliki aktivitas antioksidan

(Diumou et al., 2009). Berdasarkan penelitian Herawati dan Marzuki (2006) Bahwa

pemberian jahe merah 1-1,5 % sebagai fibiotik dalam ransum memberikan

pengaruh yang optimal dalam meningkatkan performa produksi, kualitas karkas

dan daging ayam broiler. Berdasarkan penelitian Taylor (2001) bahwa penggunaan

jahe dan tepung jahe secara signifikan dapat meningkatkan berat badan dan

memperbaiki konversi pakan dibandingkan denga n ayam yang hanya diberikan

ransum kontrol. Menurut Barezesh (2013) Pemberian 1% dan 1,5% bubuk jahe

menunjukkan performans, karakteristik karkas dan parmeter darah yang lebih baik

pada ayam pedaging.

Lada hitam (Piper nigrum) juga dapat digunakan sebagai bahan alternatif

pada ransum unggas yang dapat meningkatan pertumbuhan ternak. Lada hitam

(Piper nigrum) mempunyai kandungan minyak atsiri dan piperine yang dapat
8

dimanfaatkan dalam pakan ternak. Khalaf dkk, (2008) menunjukkan bahwa piperin

dapat meningkatkan penyerapan selenium, vitamin B kompleks, beta-karoten dan

kurkumin serta nutrisi lainnya. . Cardoso dkk. (2012), menemukan bahwa piperin

yang diberikan secara oral pada ayam broiler tidak mengganggu berat badan atau

berat hati, namun hal ini tergantung dengan dosis penggunaan. Menurut (Safa,

2014) menyatakan bahwa kelompok unggas yang diberi pakan dengan penambahan

lada hitam dosis 1% menunjukan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan

kelompok yang lainnya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh (Ahmed,

Mukhtar 2014) bahwa pengaruh dalam pemberian dosis yang berbeda dalam bentuk

tepung lada hitam menunjukan hasil yang signifikan pada dosis 1%. Bobot badan

akhir, pertambahan bobot badan, total konsumsi pakan dan perbandingan konversi

ransum menunjukan hasil yang paling baik. Piperine merupakan zat alkaloid yang

dapat meningkatkan penyerapan Curcumin dari tepung kunyit (Ahmad et al.2012).

Kunyit (Curcuma domestica) merupakan salah satu tanaman herbal yang

digunakan sebagai bahan tambahan pada ransum unggas. Kunyit memiliki memiliki

zat bioaktif yang dapat membantu proses metabolisme enzimatis pada tubuh ayam

karena ada kandungan senyawa kurkuminoid dan minyak atsiri (Yuniusta dkk,

2007). Kunyit memiliki senyawa bioaktif, yaitu kurkumin dan minyak atsiri.

Kurkumin berfungsi untuk meningkatkan pencernaan ayam broiler dengan

merangsang dinding kantung empedu untuk mengeluarkan kantung empedu dan

merangsang keluarnya getah pangkreas yang mengandung enzim amilase, lipase

dan protease yang berguna untuk meningkatkan pencernaan bahan pakan seperti

karbohidrat, lemak dan protein. Selain itu minyak atsiri yang dikandung kunyit juga

dapat mempercepat pengosongan isi lambung (Adi, 2009). Hasil penelitian Durrani,

et, al. (2006) Suplementasi dengan pada pakan signifikan dapat meningkatkan
9

bobot badan dan menurunkan tingkat konsumsi sehingga nilai FCR lebih baik.

Pemberian kunyit dalam ransum perlu dibatasi karena kandungan minyak atsiri

dalam kunyit memiliki bau rasa yang khas. Apabila ditambahkan ke dalam ransum

dengan level tinggi mengakibatkan rasa kunyit menjadi pahit (Kristio, 2007).

Peternak menerapkan sistem intensif dalam pemeliharaannya. Maka dari itu

penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak pemberian probiotik dan

fitofamarka yang terhadap Bobot karkas, Nilai Indeks Produksi (IP) dan mortalitas

di dalam suatu populasi yang ada pada setiap kandang.

1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilakukan di Kandang Ayam Broiler Desa Cicasuka

Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung Timur. Waktu penelitian akan

dilaksanakan pada Bulan September hingga Oktober 2018.


II

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

2.1 Bahan Penelitian

2.1.1 Ternak Percobaan

Penelitian menggunakan anak ayam kampung silang umur empat minggu

yang dimasukkan kedalam 20 kandang lalu dipelihara selama 8 minggu tanpa

pemisahan jenis kelamin. Sebelumnya anak ayam ditimbang dahulu untuk


mengetahui bobot badan awal lalu dihitung koevisien variasi bobot badan awalnya.

2.1.2 Probiotik

Probiotik yang digunakan dalam bentuk tepung, yaitu Heryaki Powder.

Pemberian probiotik dengan cara dicampurkan ke dalam ransum penelitian. Bakteri

yang digunakan, yaitu Candida ethamolica, Bacillus subtilis, Lactobacilus casei,

dan Monascus fumeus.

2.1.3 Fitofamarka

Fitofamarka yang digunakan dalam bentuk tepung, yaitu dari kunyit 0,5 %,

lada hitam 1% dan jahe merah 1%. Pemberian fitofamarka dengan cara di

campurkan ke dalam ransum penelitian.

B. Peralatan Penelitian

1. Kamera untuk mendokumentasikan penelitian.

2. Timbangan analitik dengan kapasitas 5kg dengan ketelitian 1 gram untuk

menimbang ayam dan ransum.

3. Timbangan gantung dengan ketelitian untuk menmbang ransum

4. Pisau untuk memotong dan prosessing karkas ayam.

5. Alat tulis untuk mencatat hasil.


11

6. Laptop untuk mengolah data.

7. Lampu pijar 60 watt.

8. Peralatan kebersihan seperti sapu lidi untuk menjaga lingkungan kandang

9. Seng digunakan untuk pengatur suhu dalam kandang.

10. Pisau digunakan untuk memotong ayam yang akan digunakan untuk

penelitian.

11. Asahan pisau digunakan untuk mengasah pisau yang akan digunakan

sebagai pemotong

2.1.4 Ransum Percobaan

Ransum yang digunakan terdiri dari jagung, konsentrat berbentuk examble

BRI 511 yang berasal dari PT Charoen Pokhand, dedak, top mix, serta Feed

additive yang akan diteliti, sedangkan untuk periode finisher ransum yang

digunakan berbentuk mash yang dibuat sendiri.

2.2 Metode Penelitian

Penelitian bobot karkas, indeks produksi dan mortalitas ini menggunakan

metode eksperimen

2.2.1 Prosedur Kerja:

1. Tahap Persiapan

Tahap persiapan yang dilakukan adalah penyediaan ayam, penyediaan

bahan baku ransum, penyediaan peralatan, dan persiapan kandang. Tahap persiapan

kandang meliputi sanitasi kandang dan perlatannya, penyesuaian suhu dan

kelembaban sebelum DOC masuk kandang, serta pemberian air gula pada DOC

yang baru masuk.

2. Tahap Adaptasi
12

Pemberian pakan pada fase starter diberikan ransum yang komersial selama

4 minggu dengan tujuan agar sistem pencernaan ayam terbentuk sempurna. Ayam

diberikan identitas berupa wing tag dan ditimbang bobot badannya.

3. Tahap Penyusunan Ransum

Penyusunan ransum yang terdiri dari beberapa bahan pakan dimulai dengan

formulasi ransum, setelah mendapatkan formulasi dan berat dari masing-masing

bahan pakan dilakukan pengolahan ransum. Pengolahan ransum dilakukan dengan

menimbang masing-masing bahan pakan kemudian ditumpuk menjadi satu.

Penambahan probiotik dan fitofarmaka dilakukan pada saat setelah penimbangan

masing-masing bahan tersebut dicampur dengan topmix dan jagung, setelah bahan

tersebut tercampur maka digabungkan dengan bahan-bahan pakan lainnya yaitu

konsentrat dan dedak. Semua bahan pakan tersebut diaduk sampai dengan homogen

yaitu ditandai dengan warna ransum yang terlihat sama di setiap bagiannya. Ransu

yang sudah homogen kemudian dimasukkan ke dalam ember atau wadah

penampung ransum untuk diangkut ke kandang.

4. Tahap Penelitian

Ternak penelitian yang berumur 4 minggu ditempatkan ke dalam 2 unit

kandang yang berisi masing-masing 150 ekor yang sebelumnya ditimbang terlebih

dahulu. Pemberian ransum dilakukan 2 kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari.

Pemberian air minum dilakukan secara ad libitum. Penimbangan bobot badan ayam

dan berat ransum dilakukan setiap minggu hingga ayam berumur 70 hari

2.2.2 Peubah yang diamati


13

Peubah yang diamati meliputi :

1. Bobot Karkas

Bobot Karkas yang diamati adalah Eviscerated carcass. Eviscerated

carcass adalah karkas hasil prosesing tanpa darah, bulu dan jeroan.

Penimbangan Eviscerated carcass hasil prosesing ayam dilakukan setelah

dibersihkan.

2. Indeks Produksi

Indeks produksi merupakan ketentuan hasil dari bobot ayam dan persentase

ayam hidup dibandingkan dengan jumlah hari pemeliharaan dan konversi

ransum yang digunakan selama pemeliharaan (Santoso dan Sudaryani,

2009), Sebelum menghitung indeks produksi dilakukan perhitungan bobot

akhir, persentase ayam hidup dan konversi pakan.

1. Perhitungan Indeks Produksi (IP) (Santoso dan Sudaryani, 2009)


Bobot Akhir X Persentase Ayam Hidup
Indeks Produksi = Konversi Pakan X Lama Pemeliharaan 𝑋 100%

2. Perhitungan Presentasi Ayam Hidup (Riza, 2009)


Populasi Ayam Hidup
Persentase Ayam Hidup= Populasi Ayam Mati 𝑋 100%

3. Perhitungan Konversi Pakan (Siregar, dkk., 1980)


Jumlah Konsumsi Pakan
Konversi Pakan ==Pertambahan Bobot Badan

3. Mortalitas

Mortalitas merupakan tingkat kematian dalam pemeliharaan selama satu

kali produksi yang biasanya dihitung dalam presentase.

1. Perhitungan Mortalitas (Santoso dan Sudaryani, 2009)


Jumlah ayam yang mati
Konversi Pakan ==Jumlah dalam keseluruhan ayam 𝑋 100%

1.2.3 Rancangan Percobaan dan Analisis Data


14

A. Rancangan Percobaan

B. Analisis Data
DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1985, Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit PT Gramedia


Jakarta.

Bell, D. D., and W. D. Weaver. 2002. Comercial Chicken Meat and Egg
Production. 5th Edition. Springer Science and Business Media, Inc, New
York.

Budiansyah, A. 2004. Pemanfaatan Probiotik dalam Meningkatkan Penampilan


Produksi Ternak Unggas. Makalah Sains. IPB. BogorScott, M.L., M.C.
Nesheim and R.J. Young. 1982. Nutrition of the Chicken. M.L. Scott and
Associate, New York.

Ditjennak [Direktorat Jenderal Peternakan]. 2016. Statistik Peternakan dan


Kesehatan Hewan. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan
Kementerian Pertanian RI, Jakarta.

Dudung, M.A. 2006. Memelihara Ayam Kampung Sistem Battery. Kanisius.


Yogyakarta.

Indaryati A, Sjofjan O, Widodo E. 2005. Pengaruh penambahan sari lempuyang


dalam pakan terhadap penampilan produksi ayam pedaging [skripsi].
Malang (ID): Universitas Brawijaya

Iskandar, S. 2010. Usaha Tani Ayam Kampung. Editor: Ketaren, P. P., Sopiyana.
S., Sudarman. D. Balai penelitian ternak Ciawi. Bogor Soeharsono. 1997.
Probiotik : Alternatif pengganti antibiotic. Buletin PPSK I.

Muchadi, T. R. Dan Sugiono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan.


Departemen penelitian dan kebudayaan. Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi Pusat Antar Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Pond, W.G., D.C. Church & K.R. Pond. 1995. Basic Animal Nutrition and
Feeding. 4th ed. John Willey and Sons, Canada.

Priyatno, M. A. 2000. Mendirikan Usaha Pemotongan Ayam. Cetakan ketiga.


Penebar Swadaya, Jakarta.
16

Santoso, H dan Sudaryani, T. 2009. Pembesaran Ayam Pedaging di Kandang


Panggung Terbuka. Penebar Swadaya : Jakarta.

Scott, M.L., M.C. Nesheim and R.J. Young. 1982. Nutrition of the Chicken. M.L.
Scott and Associate, New York.

Soeharsono. 1997. Probiotik : Alternatif pengganti antibiotic. Buletin PPSK I.

Soeharsono. 1976. “Respon Broiler Terhadap Berbagai Kondisi Lingkungan”.


(Disertasi), Bandung : Universitas Padjadjaran Bandung.
LAMPIRAN

Lampiran 1. Anggaran Biaya Penelitian


18

Lampiran 2. Rencana Jadwal Penelitian