Anda di halaman 1dari 17

Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)

Orientasi Realita

Disusun:

Kelompok 2

1. Suci Indah Sari 04021381621052


2. Romayani 04021381621057
3. Akhmad Rizko Juliansyah 040213816210
4. Meliya Apriyani 04021381621083

Dosen Pengampu : Herliawati. S.Kp., Ns., M.Kes

Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

2018

1
Daftar Isi
Cover…………………………………….……………………………………………………….. 1

Daftar Isi………………………………………………………………………………….……… 2

Bab 1

Pendahuluan.....................................................................................................................................3

A. Latar Belakang........................................................................................................................... 3

B. Rumusan Masalah...................................................................................................................... 3

C. Tujuan......................................................................................................................................... 4

Bab II

Tinjauan Pustaka............................................................................................................................. 5

A.Pengertian TAK Orientasi Realita.............................................................................................. 5

B.Tujuan.......................................................................................................................................... 5

C.Pembahasan................................................................................................................................. 5

Bab III

Pembahasan..................................................................................................................................... 8

A.TAK Orientasi realita Sesi 1 Pengenalan Orang......................................................................... 8

B.TAK Orientasi realita Sesi2 Pengenalan Tempat...................................................................... 11

C.TAK Orientasi realita Sesi3Pengenalan Waktu........................................................................ 13

Kesimpulan................................................................................................................................... 17

DaftarPustaka................................................................................................................................ 18

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia sebagai mahluk social yang hidup berkelompok dimana satu dengan yang lainnya
saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan social. Kebutuhan social yang dimaksud antara
lain: rasa menjadi milik orang lain atau keluarga, kebutuhan pengakuan orang lain, kebutuhan
penghargaan orang lain dan kebutuhan pernytaan diri. Secara individu selalu berada dalam
kelompok, sebagai contoh individu berada dalam satu keluarga. Dengan demikian ada dasarnya
individu memerlukan hubungan imbale balik, hal ini bisa melalaui kelompok. Penggunaan
kelompok dalam praktek keperawatan jiwa memberikan dampak positif dalam upaya
pencegahan dalam upaya pencegahan, pengobatan atau terapi serta pemulihan kesehatan
seseorang. Meningkatnya penggunaan kelompok terapeutik, modalitas merupakan bagian dan
memberikan hasil yang positif terhadap perubahan perilaku pasien/klien, dan meningkatkan
perilaku adaptif dan mengurangi perilaku maladaptive. Beberapa keuntungan yang diperoleh
individu atau klien melalui terapi aktivitas kelompok melalui dukungan (support), pendidikan
meningkatkan pemecahan masalah, meningkatkan hubungan internasional dan juga
meningkatkan uji realitas (reality testing) pada klien dengan gangguan orientasi realitas (
Birckhead, 1989). Terapi aktifitas kelompok sering digunakan dalam praktek kesehatan jiwa,
bahkan dewasa ini terapi aktivitas kelompok merupakan hal yang penting dari keterampilan
terapeutik dalam keperawatan. Terapi kelompok telah diterima profesi kesehatan. Pimpinan
kelompok dapat menggunakan keunikan individu untuk mendorong anggota kelompok untuk
mengungkapkan masalah dan mendapatkan bantuan penyelesaian masalahnya dari kelompok,
perawat juga adaptif menilai respon klien selama berada dalam kelompok. Klien dengan
gangguan jiwa sikotik, mengalami penurunan daya nilai realitas (reality testing ability). Klien
tidak lagi mengenali tempat, waktu, dan orang-orang di sekitarnya. Hal ini dapat mengakibatkan
klien merasa asing dan menjadi pencetus terjadinya ansietas pada klien. Untuk menanggulangi
kendala ini, maka perlu ada aktivitas yang memberi stimulus secara konsisten kepada klien
tentang realitas di sekitarnya. Stimulus tersebut meliputi stimulus tentang realitas lingkungan,
yaitu diri sendiri, orang lain, waktu, dan tempat.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan TAK?

2. Apa tujuan dari TAK orientasi Realit?

3. Bagaimana setting posisi TAk Prientasi Realita?

3
C. Tujuan TAK Orientasi Realitas

Tujuan umum TAK orientasi realitas adalah klien mampu mengenali orang, tempat, dan waktu
dan tujuan khususnya (Keliat dan Akemat, 2005) adalah:

1. Klien mampu mengenal tempat ia berada dan pernah berada.


2. Klien mampu mengenal waktu dengan tepat.
3. Klien dapat mengenal diri sendiri dan orang-orang disekitarnya dengan tepat.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1.PengertianTAKOrientasiRealita
Terapikelompokmerupakansuatupsikoterapiyangdilakukansekelompokklienbersama-
samadenganjalanberdiskusisatusamalainyangdipimpinataudiarahkanolehseorangtherapist(Yo
sep,2009).SedangkanpengertianTAKorientasirealitasmenurutPurwaningsihdanKarlina(2009)
adalahpendekatanuntukmengorientasikanklienterhadapsituasinyata(realitas).Pengertianyangla
inmenurutKeliatdanAkemat(2005),TAKorientasirealitasadalahupayauntukmengorientasikank
eadaannyatakepadaklien,yaitudirisendiri,oranglain,lingkunganatautempat,danwaktu.
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana pasien mengalami perubahan
sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan,
perabaan atau penghiduan Terapi aktivitas kelompok orientasi realita adalah terapi yang
bertujuan membuat pasien mampu mengidentifikasi stimulus internal maupun eksternal.

1.2.Tujuan
Penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah terdapat pengaruh terapi aktivitas
kelompok orientasi realita terhadap kemampuan mengidentifikasi stimulus pada pasien
halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang Sulawesi Utara. Sampel
diambil dengan teknik pengambilan purposive sampling yaitu sebanyak 15 orang yang
memenuhi kriteria inklusi.

1.3.Pembahasan eJournal Keperawatan (e-Kp) Volume 3 Nomor 2Mei 2015


Dari 15 sampel yang diteliti diperoleh persentase umur responden terbanyak
adalah yang berada di kategori umur 36-45 tahun sebanyak 6 responden (40%). Sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad (2013) dengan judul Pengaruh
Terapi Aktivitas Kelompok Orientasi Realitas Sesi 1-3 Terhadap Kemampuan
Mengontrol Halusinasi menyatakan bahwa pasien halusinasi ditemukan paling
banyakadalah pasien dengan kriteria usia dewasa dini (2-34 tahun) dan dewasa madya (3-
45 tahun). Menurut Muhammad (2013) dalam (Pieter dan Namora, 2010, hlm.76)
“pada masa dewasa dini mengalami masa ketegangan emosi dan itu berlangsung
hingga usia 30-an. Dalam usia ini individu akan mudah mengalami ketidakmampuan
dalam mengatasi masalah sehingga akan mudah menyebabkan gangguan
emosional. Pada usia dewasa dini, banyak masalah baru yang rumit, sehingga
memerlukan waktu dan energi yang banyak untuk mengatasinya.

Dari 15 responden yang diteliti, didapatkan jumlah responden paling banyak


berjenis kelamin perempuan yaitu 9 responden (60%).Karena pada saat penelitian
ditemukanpaling banyak responden perempuan yang mengalami halusinasi. Hal ini
berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Masdelita (2013) dengan judul

5
Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensori Terhadap Kemampuan
Kerjasama pada Pasien dengan Masalah Isolasi Sosial,menyatakan bahwa
sebagian besar responden yang diteliti berjenis kelamin laki-laki.Menurut Masdelita
(2013) dalam (Sujarwo dan Hartoyo, 2012) “lak-laki lebih senang memendam
masalahnya sendiri jika mempunyai masalah, sehingga di depan orang lain terlihat
kuat, dan apabila hal ini terjadi berkepanjangan maka akan menimbulkan depresi.

Dari15 responden yang diteliti didapatkan jumlah terbanyak responden yang


dirawat ≤ 1 tahun yaitu sebanyak 11 responden (73,3%). Hal ini berbeda dari penelitian
yang dilakukan oleh Pratiwi (2004) yang berjudul Pengaruh Terapi Aktivitas
Kelompok Terhadap Kemampuan Komunikasi Pasien Gangguan Jiwa,
menyatakan dalam penelitiannya tersebut bahwa kelompok intervensi dengan lama
rawat < 12 bulan sebanyak 10 responden (33%), dan yang lebih dari 12 bulan
sebanyak 20 responden (67%).

Dalam penelitian ditemukan adanya pengaruh terapi aktivitas kelompok orientasi


realita terhadap kemampuan mengidentifikasi stimulus pada pasien halusinasi hanya
pada TAK sesi 1, 2, 3. 4 dan 6 sedangkan tidak ada pengaruh pada TAK sesi 5, 7 dan 8,
hal tersebut dapat dilihat melalui uji wilcoxon pada setiapsesi TAK dengan tingkat
kemaknaan α = 0,05.

Pada saat diberikan TAK sesi 1, 2, 3, 4 dan 6 responden terlihat sangat


kooperatif dalam mengikuti pelaksanaan TAK, dengan adanya stimulus-stimulus yang
diberikan seperti menyanyi bersama, tepuk tangan, melempar balon dan bergoyang,
hal itu membuat pasien terbawa dengan suasana TAK pada saat itu. Stimulus yang
diberikan pada saat pemberian TAK sesi5, 7 dan 8 sama dengan TAK sebelumnya,
hanya saja responden terlihat kurang bersemangat dan kooperatif dalam mengikuti
TAK, hal ini dikarenakan teman-teman peneliti pada saat itu sangat sedikit, sehingga
terlihat suasana TAK pada saat itu kurang bersemangat. Meskipun ada penambahan
stimulus-stimulus lainnya seperti menambahkan beberapa permainan, hal itu
membuat responden masih merasa jenuh dengan suasana TAK pada saat itu.Sehingga
untuk TAK sesi 5, 7 dan 8 ini tidak memberikan pengaruh terhadap kemampuan
responden mengidentifikasi stimulus.

Menurut Candra (2013), diamati dan dicermati satu persatu dari seluruh responden
penelitian ditemukan ada 2 responden yang gejala halusinasinya tetap sebelum
dan sesudah diberikan terapi okupasi aktivitas menggambar. Keadaan ini dapat
terjadi karena pasien belum mampu mengalihkan dan mengontrol halusinasi yang
dialamimya. Disamping itu pasien belum mampu mengubah perilaku dan pikiran
negatif menjadi pikiran dan perilaku positif, perasaan yang timbul dari cara berpikir

6
negatif akan membuat pasien berperilaku destruktif sehingga pada saat pasien terkena
stresor, pasien akan berpikir negatif tentang dirinya. Penilaian negatif pasien tentang
dirinya menyebabkan pasien cenderung memendam masalahnya sendiri dan
berusaha mencarisolusi dengan caranya sendiri yaitu berperilaku menarik diri dan
akan mulai memikirkan hal-hal yang menyenangkan bagi dirinya. Keadaan demikian
yang terus menerus berlangsung menyebabkan pasien akan mengalami gangguan dalam
mempersepsikan stimulus yang dialami.

Hasil penelitian dari Wijayanti (2012) juga mendukung hasil penelitian ini yang
menyatakan bahwa terapi okupasi berpengaruh terhadap perubahan gejala halusinasi
pendengaran pada pasien skizofrenia karena proses terapi okupasi adalah
merangsang atau menstimulasikan pasien melalui aktivitas yang disukainya dan
mendiskusikan aktivitas yang telah dilakukan untuk mengalihkan halusinasi pada
dirinya

7
BAB III

PEMBAHASAN

Terapi Aktifitas Kelompok Orientasi Realita

Sesi 1: Pengenalan orang

A. Tujuan
1) Klien mampu mengenal nama-nama perawat.
2) Klien mampu mengenal nama-nama klien lain.

B. Setting

1) Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.


2) Ruangan nyaman dan tenang.

C. Alat-Alat

1) Spidol
2) Bola tenis
3) Tape recorder
4) Kaset ”dangdut”
5) Papan nama sejumlah klien dan perawat yang ikut TAK.

D. Metode

1) Dinamika kelompok
2) Diskusi dan tanya jawab

E. Langkah kegiatan

1) Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi.
b. Membuat kontrak dengan klien.
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

2) Orientasi

a) Salam terapeutik

Salam dari terapis kepada klien

b) Evaluasi/validasi

Menanyakan perasaan klien saat ini

8
c) Kontrak

1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal orang.


2. Terapis menjelaskan aturan main berikut :
o Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta ijin kepada
terapis.
o Lama kegiatan 45 menit.
o Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a) Terapis membagikan papan nama untuk masing-masing klien.
b) Terapis meminta masing-masing klien menyebutkan nama lengkap,
namapanggilan, dan asal.
c) Terapis meminta masing-masing klien menuliskan nama panggilan di
papannama yang dibagikan.
d) Terapis meminta masing-masing klien memperkenalkan diri secara
berurutan,searah jarum jam dimulai dari terapis, meliputi menyebutkan:
nama lengkap,nama panggilan, asal, dan hobi.
e) Terapis menjelaskan langkah berikutnya:
Tape recorder akan dinyalakan, saat musik terdengar bola tenis
dipindahkandari satu klien ke klien lain. Saat musik dihentikan, klien yang
sedangmemegang bola tenis menyebutkan nama lengkap;nama
panggilan,asal,danhobi dari klien yang lain (minimal nama panggilan).
f) Terapis memutar tape recorder dan menghentikan. Saat musik berhenti
klienyang sedang memegang bola tenis menyebutkan nama lengkap,
namapanggilan,asal, dan hobi klien yang lain.
g) Ulangi langkah (6) sampai semua klien mendapat giliran.
h) Terapis memberikan pujian untuk setiap keberhasilan klien dengan
mengajakklien bertepuk tangan.
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1.Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2.Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok

b. Tindak lanjut
Terapis menganjurkan klien menyapa orang lain sesuai dengan namapanggilan.

c. Kontrak yang akan datang

 Terapis membuat kontrak untuk TAK yang akan datang, yaitu


”MengenalTempat”
 Menyepakati waktu dan tempat.

9
F. Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja.Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. UntukTAK Orientasi Realitas
orang, kemampuan klien yang diharapkan adalah dapatmenyebutkan nama, panggilan, asal, dan
hobi klien lain.

G. Kemampuan Memperkenalkan Diri

Kemampuan mengenal orang lain:

No A s p e k y a n g d i n i l a i N a m a K l i e n

1 Menyebutkan nama klien


2 Menyebutkan nama pangilan klien
3 Men yebutkan asal klien lai n
4 Men yebutkan hobi klien lai n

Petunjuk:

1. Tulis nama pangilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengetahui nama, pangilan,
asal dan hobi klien lain. Beri tanda (V) jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak
mampu.

Dokumentasi:

Dokumentasikan pada catatan proses keperawatan tiap klien.

Contoh: klien mngikuti TAK orientasi realitas orang. Klien mampu menyebutkan nama,
nama panggilan, asal dan hobi klien lain di sebelahnya. Anjurkan klien mengenal
klien lain di ruangan.

Terapi Aktifitas Kelompok Orientasi Realita

Sesi 2: pengenalan tempat

A. Tujuan

10
1. Klien mampu mengenal nama rumah sakit.
2. Klien mampu mengenal nama ruangan tempat dirawat
3. Klien mampu mengenal kamar tidur.
4. Klien mampu mengenal tempat tidur.
5. Klien mengenal ruang perawat, ruang istirahat, ruang makan, kamar mandi, dan WC.

B. Setting

1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.


2. Ruangan tempat perawatan klien

C. Alat-Alat

1. Tape recorder
2. Kaset lagu “dangdut”.
3. Bola tenis

D. Metode

1. Diskusi kelompok.
2. Orientasi lapangan

E. Langkah kegiatan

1) Persiapan
a) Mengingatkan kontrak pada klien peserta Sesi 1 TAK Orientasi Realitas
b) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2) Orientasi

a. Salam terapeutik
salam dari terapis kepada klien.
b. Evaluasi dan validasi
Terapis menanyakan perasaan klien saat ini.Menanyakan apakah klien masih mengingat
nama-nama klien lain.

c. Kontrak
Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal tempat yang biasa
dilihat.Menjelaskan aturan main yaitu :
o Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta ijin pada
terapis.
o Lama kegiatan 45 menit

11
o Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3) Tahap kerja

a. Terapis menanyakan kepada klien nama rumah sakit,nama ruangan, klien


diberikesempatan menjawab. Beri pujian pada klien yang mampu menjawab dengantepat.
b. Terapis menjelaskan dengan menyalakan tape recorder lagu dangdut,sedangkan bola tenis
diedarkan dari satu peserta ke peserta yang lain searahjarum jam. Pada saat lagu berhenti,
klien yang sedang memegang bola tenisakan diminta menyebutkan nama rumah sakit dan
nama ruangan tempat kliendirawat.
c. Terapis menyalakan tape recorder , menghentikan lagu,dan meminta klien
yangmemegang bola tenis untuk menyebutkan nama ruangan dan nama rumah
sakit.Kegiatan ini diulang sampai semua peserta mendapat giliran.
d. Terapis memberikan pujian saat klien telah menyebutkan dengan benar.
e. Terapis mengajak klien berkeliling serta menjelaskan nama dan fungsi ruanganyang ada.
Kantor perawat, kamar mandi, WC, ruang istirahat, ruang TAK,danruangan lainnya.

4) Tahap terminasi

a. Evaluasi
 Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
 Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.

b. Tindak lanjut
Terapis menganjurkan klien untuk menghapal nama-nama tempat.

c. Kontrak yang akan datang


 Menyepakati kegiatan yang akan datang, yaitu mengenal waktu.
 Menyepakati waktu dan tempat

F. Evaluasi

Evaluasi dilakn saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja.

Aspek yang di evaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk Tak
Orientasi Realitas tempat, kemampuan klien yang diharapkan adalah mengenaltempat dirumah
sakit.

G. Kemampuan Memperkenalkan Diri

Mengenal tempat di rumah sakit:

12
N A os p e k y a n g d i n i l a i N a m a K l i e n

1 Menyebutkan nama rumah saki t


2 Menyebutkan nama ruangan
3 M e n ye b u t k a n l e t a k k a n t o r p e r a w a t
4 Menyebutkan letak kamar mandi dan WC
5 Menyebutkan letak kamar tidu r

Petunjuk:

1. Tulis nama pangilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengenal tempat-tempat di ruang
rawat dan nama rumah sakit. Beri tanda (V) jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak
mampu.

Dokumentasi:

Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatanproses keperawatan tiap
klien.

Contoh: klien mengikuti Sesi 2, ruangan dan letak kamar tidur yang lain belum mampu.
Orientasikan klien dengan tempat-tempat di ruangan.

Terapi Aktifitas Kelompok Orientasi Realita

Sesi 3: pengenalan waktu

A. Tujuan

1. Klien dapat mengenal waktu dan tempat


2. Klien dapat mengenal tanggal dengan tepat.
3. Klien dapat mengenal hari dengan tepat
4. Klien dapat mengenal tahun dengan tepat

B. Setting

1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.


2. Klien berada di ruangan yang ada kalender dan jam dinding

C. Alat-Alat

1. Kalender

13
2. Jam dinding
3. Tape recorder
4. Kaset lagu dangdut
5. Bola tenis

D. Metode

1. Diskusi
2. Tanya jawab

E. Langkah kegiatan

1. Persiapan
 Mengingatkan kontrak dengan klien peserta Sesi 2 TAK orientasi realitas.
 Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

2. Orientasi

a. Salam terapeutik

Salam dari terapis kepada klien

Terapis dan klien memakai nama

b. Evaluasi/Validasi

Terapis menanyakan perasaan klien saat iniMenanyakan apakah klien masih mengingat
nama-nama ruangan yang sudahdipelajari

c. Kontrak

Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal waktu. Menjelaskan aturan


main yaitu :

1) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta ijin padaterapis.
2) Lama kegiatan 45 menit
3) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja
a) Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dikerjakan.
b) Terapis menjelaskan akan menghidupkan tape recorder, sedangkan bola tenisdiedarkan
dari satu klien ke klien lain. Pada saat musik berhenti, klien yangmemegang bola
menjawab pertanyaan dari terapis

14
c) Terapis menghidupkan musik,dan mematikan musik. Klien mengedarkan bolatenis
secara bergantian searah jarum jam. Saat musik berhenti, klien yangmemegang bola
siap menjawab pertanyaan terapis tentang tanggal, bulan,tahun, hari, dan jam saat itu.
Kegiatan ini diulang sampai semua klienmendapat giliran.
d) Terapis memberikan pujian kepada klien setelah memberi jawaban tepat

4. Tahap terminasi
a) Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
b) Tindak lanjut
Terapis meminta klien memberi tanda/mengganti kalender setiap hari
c) Kontrak yang akan datang
1. Menyepakati TAK yang akan datang sesuai dengan indikasi klien.
2. Menyepakati waktu dan tempat.

F. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja.Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK Orientasi
Realitas waktu kemampuan klien yang diharapkan adalah mengenal waktu, hari, tanggal,
bulan, dan tahun.

G. Kemampuan Memperkenalkan Diri

Kemampuan mengenal waktu:

N o Aspek yang dinilai N a m a K l i e n

1 M e n y e b u t k a n j a m
2 M en yebut kan har i
3 Menyebutkan tanggal
4 Menyebutkan bulan
5 Menyebutkan tahun

Petunjuk:

1. Tulis nama pangilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengetahui waktu, hari, tanggal,
bulan, dan tahun. Beri tanda (V) jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.

Dokumentasi:

15
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap
klien.

Contoh: klien mengikuti Sesi 3, TAK orientasi realitas waktu. Klien mampu menyebutkan
tanggal dan hari, tetapi yang lain belum mampu. Orientasikan klien dengan tempat-
tempat di ruangan.

KESIMPULAN

Kemampuan mengidentifikasi stimulus pada pasien halusinasi sebelum diberikan TAK


orientasi realita masih kurang baik.Kemampuan mengidentifikasi stimulus pada
pasien halusinasi sesudah diberikan TAK orientasi realita mengalami peningkatan dan
ada yang tidak mengalami perubahan.Terdapat pengaruh terapi aktivitas kelompok
orientasi realitaterhadap kemampuan mengidentifikasi stimulus pada pasien halusinasi sesi 1,
2, 3, 4, dan 6, sedangkan untuk sesi 5, 7dan 8 tidak terdapat pengaruh

16
DAFTAR PUSTAKA

Apriani Musa S,Kanine Esrom,Onibala Franly (2015). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok
Orientasi Realita Terhadap Kemampuan MengidentifikasIStimulus Pada Pasien
Halusinasi.Volume 3 Nomor 2

Prabowo, 2014. Konsep dan Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogjakarta: Nuha Medika

Keliat, Budi Ana, 2004. Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta: EGC.

17