Anda di halaman 1dari 10

Koordinasi PPAM

Koordinasi kegiatan PPAM diperlukan di berbagai tingkat, termasuk di dalam lembaga


yang memberi respon pada situasi darurat termasuk juga di tingkat lokal/penampungan,
sub regional, Negara dan tingkat international. Koordinasi di dalam dan diantara berbagai
tingkat dan lintas sektor adalah bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada duplikasi
dari upaya yang dilaksanakan, diberikannya data dan informasi yang bermanfaat diantara
para pekerja kemanusiaan dan sumber daya yang terbatas dapat digunakan dengan efisien.

9
Personel yang berpengalaman dan kompeten harus diidentifikasi untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan kesehatan
reproduksi di awal tanggap darurat. Lembaga yang memimpin bertanggung jawab untuk menunjuk koordinator
kesehatan reproduksi (juga dikenal sebagai focal point kesehatan reproduksi atau koordinator/focal point PPAM)
dan orang tsb harus disupervisi oleh koordinator kesehatan keseluruhan. Idealnya, bukan hanya harus ada koordinator
kesehatan reproduksi menyeluruh pada setiap situasi pengungsian tapi tiap lembaga harus memiliki koordinator kesehatan
reproduksi sendiri pada tim responnya atau tenaga kesehatan yang ditunjuk dan bertanggung jawab untuk PPAM.
Para profesional Kesehatan Reproduksi darurat harus berada di posnya selama minimum 6 bulan, karena biasanya akan
dibutuhkan waktu setidaknya selama waktu tsb untuk melaksanakan PPAM dan melakukan transisi untuk memberikan
pelayanan kesehatan komprehensif.
Berikut adalah kerangka acuan luas yang harus dilaksanakan oleh koordinator kesehatan reproduksi menyeluruh
(lihat lembar fakta PPAM pada appendix D untuk mengetahui rangkuman yang mudah digunakan dan daftar tilik
untuk membantu koordinator kesehatan reproduksi dalam bekerja).

Untuk mengidentifkasi organisasi atau individu untuk memfasilitasi koordinasi


dan implementasi dari PPAM:

Koordinator Kesehatan Reproduksi harus:


Menjadi focal point untuk layanan kesehatan reproduksi dan memberikan saran dan bantuan teknis kepada
pengungsi dan semua organisasi yang bekerja di bidang kesehatan dan sektor lain sesuai kebutuhan
Berhubungan dengan pihak berwenang di tingkat national dan regional ketika merencanakan dan melaksanakan
kegiatan kesehatan reproduksi di pengungsian, penampungan dan diantara populasi sekitarnya
Berhubungan dengan sektor lain (perlindungan/proteksi, layanan masyarakat, manajemen camp, pendidikan dll)
untuk memastikan pendekatan multi sektoral untuk kesehatan reproduksi
Menjamin bahwa kesehatan reproduksi adalah menjadi point standar dalam agenda pertemuan koordinasi kesehatan
Menyusun atau mengadaptasi dan memperkenalkan kebijakan nasional atau kebijakan standar lainnya yang
mendukung PPAM dan memastikan bahwa kebijakan tsb terintegrasi dengan Pelayanan Kesehatan Dasar,
misalnya kebijakan mengenai layanan darurat kebidanan atau kekerasan berbasis gender
Memprakarsai dan mengkoordinasi sesi orientasi tentang PPAM dengan peserta yang spesifik
(misalnya: untuk tenaga kesehatan, petugas layanan masyarakat, populasi yang menerima layanan,
petugas keamanan dll)
Memperkenalkan protokol standar untuk bidang/topik yang dipilih
(seperti respon medis untuk korban kekerasan seksual dan rujukan kasus kegawatdaruratan
kebidanan dan ketika merencanakan pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif:
manajemen IMS dengan pendekatan sindrom dan keluarga berencana)
Mengadaptasi dan memperkenalkan formulir sederhana untuk memonitor kegiatan kesehatan reproduksi
selama fase darurat yang akan menjadi lebih komprehensif ketika program diperluas
(lihat monitoring dan evaluasi pada appendix A dari modul ini)
Menggunakan indikator standar untuk memonitor hasil/outcome dari PPAM
Mengumpulkan, menganalisa dan menyebarluaskan data untuk dipergunakan
Menyampaikan laporan rutin kepada tim koordinasi kesehatan

10 Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) untuk Kesehatan Reproduksi dalam Situasi Krisis
PRAKTEK/PENGALAMAN YANG BAIK DALAM KOORDINASI DAN
IMPLEMENTASI PPAM YANG DIAMATI DI DARFUR
Di Darfur Barat, sub penerima bantuan membangun hubungan yang baik dengan Kementrian Kesehatan,
yang menurut mereka sangat penting untuk melaksanakan semua komponen PPAM
Advokasi yang sukses dicapai oleh UNFPA dengan Kementrian kesehatan di Darfur Selatan yang
memungkinkan adanya layanan darurat kebidanan di daerah pinggiran (di camp dan desa-desa)
Sejumlah lembaga yang berbeda mencatat bahwa bekerja dengan mitra nasional juga penting
untuk mempromosikan kesinambungan
UNFPA sukses bekerja dengan Dewan Penasehat Hak Asasi Manusia untuk melatih para hakim,
dokter, pengacara, polisi dan lainnya mengenai formulir 8, yaitu formulir yang sebelumnya diwajibkan
bagi perempuan yang mengalami kekerasan seksual sebelum mereka menerima layanan medis.

11
MENGAPA KOORDINATOR KESEHATAN REPRODUKSI PERLU MENETAPKAN
PRIORITAS?

Tanpa perorangan atau lembaga yang memimpin kegiatan Kesehatan Reproduksi dalam situasi darurat, bukti
menunjukkan bahwa kesehatan reproduksi lazimnya akan dikesampingkan oleh masalah darurat lain seperti memastikan
bahwa populasi memiliki akses pada makanan yang mencukupi, air dan tempat penampungan yang memadai. Seorang
koordinator kesehatan reproduksi memiliki kemampuan untuk menjadikan kesehatan reproduksi sebagai suatu prioritas
dan memfasilitasi pelaksanaan PPAM.

Diagram di halaman berikut memberikan sebuah contoh dari koordinasi di berbagai tingkat seperti di tingkat
pengungsian/camp, tingkat lembaga, sub regional, negara dan internasional pada 3 situasi yang terpisah. Harus diingat
bahwa ini adalah skenario yang ideal dan pada kenyataannya situasi mungkin tidak seperti yang digambarkan. Namum
yang penting dari contoh ini adalah untuk menunjukkan koordinasi yang ada di semua tingkat.

Tingkat Lokasi
'LWLQJNDWORNDVLGLDJUDPPHPSHUOLKDWNDQEHUEDJDLNRQÀJXUDVL\DQJPHQXQMXNNDQEHUEDJDLFDUDGLPDQDOHPEDJD
kemanusiaan mungkin diatur untuk memenuhi kebutuhan dari pengungsi yang ditempatkan dalam situasi tsb.
Lokasi A memiliki 2 lembaga kemanusiaan memberikan layanan di lokasi tsb yang mencakup kesehatan, perlidungan/
hukum, layanan masyarakat dan manajemen camp (untuk contoh ini layanan dibagi menjadi 4 lokasi utama, tapi ini bisa
bervariasi tergantung kondisi). Lokasi B memiliki 3 lembaga yang memberikan pelayanan yang sama , sementara di lokasi
C semua layanan diberikan oleh satu lembaga.

Berikut adalah beberapa contoh bagaimana koordinasi dapat berlangsung:

Lokasi A: Lembaga 1, yang mengelola sektor perlindungan/hukum, menerima sebuah laporan kejadian perkosaan
dan merujuk korbannya segera ke layanan kesehatan yang diberikan oleh lembaga 2. Setelah kasus ini ditangani dan
dikoordinasikan diantara 2 lembaga ini, memungkinkan korban yang bersangkutan dapat mengakses layanan klinis
dan mencari bantuan hukum apabila dia memilih untuk melakukannya.

Lokasi B: Lembaga 2, yang bertanggung jawab untuk layanan masyarakat, berkolaborasi dengan lembaga 1 penyedia
layanan kesehatan untuk mendapatkan kondom. Manajer pelayanan masyarakat meletakkan kondom di tempat yang
sesuai seperti di kantor-kantor, tempat pertemuan masyarakat dan mendistribusikan ke staffnya untuk memastikan
bahwa kondom adalah gratis dan terlihat oleh pengungsi dan staff lembaga tsb. Manajer pelayanan masyarakat juga
meminta lembaga 3, manajer camp/lokasi untuk menempatkan kondom di lokasi lain yang sesuai dimana staff dan
pengungsi biasa berkumpul. Koordinasi pada situasi ini mungkin akan menjadi upaya yang lebih menantang karena
lembaga yang terlibat dalam memberi layanan kepada pengungsi lebih banyak.

Lokasi C: lembaga 4, meskipun ini adalah penyedia layanan tunggal di camp dan koordinasi dengan lembaga lain
bukan menjadi masalah, harus memahami adanya praktek yang baik dan perkembangan yang terjadi di lokasi yang
lain. Sebagai contoh, lembaga-lembaga yang bekerja di lokasi A dan B baru-baru ini melakukan penilaian/assessment
fasilitas kesehatan atas 2 Rumah Sakit rujukan setempat. Mereka menemukan bahwa satu fasilitas mengalami
NHUXVDNDQSDUDKVDDWWHUMDGLNRQÁLNVHWHPSDWGDQPHUHNDPHPXWXVNDQPHQXWXSIDVLOLWDVLQLGDQIRNXVGDODP
melengkapi peralatan dan staff penuh untuk fasilitas lain yang juga dekat dekan lokasi. Hal ini merupakan informasi
penting yang harus diketahui oleh lembaga 4 agar dapat merujuk pasien ke fasilitas yang paling sesuai/tepat.

12 Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) untuk Kesehatan Reproduksi dalam Situasi Krisis
Contoh Tingkat Koordinasi PPAM
TINGKAT KOORDINASI
Internasional Lembaga
Negara Lokasi
Sub-regional

Focal Point Kesehatan Reproduksi di Tingkat Negara

Kantor UNFPA di Kantor UNHCR di Kementerian Pemerintah


Tingkat Negara Tingkat Negara (Depkes dll)

Focal Point Kesehatan Reproduksi di Tingkat Sub Regional

Kantor UNFPA di Kantor UNHCR di Kementerian Pemerintah


Tingkat Negara Tingkat Negara (Depkes dll)

Focal Point Kesehatan Reproduksi di Tingkat Sub Regional

Lembaga Lembaga Lembaga Lembaga Lembaga


Kemanusian 1 Kemanusian 2 Kemanusian 1 Kemanusian 2 Kemanusian 4

Lembaga
Kemanusian 3

Proteksi / Layanan Layanan Layanan Layanan Proteksi /


Layanan Kesehatan Kesehatan Masyarakat Kesehatan Layanan
Hukum Hukum

Layanan Proteksi / Layanan


Manajemen Layanan Manajemen Manajemen
Masyarakat Camp Camp Masyarakat Camp
Hukum

13
7HUOHSDVGDULNRQÀJXUDVL\DQJEHUEHGDGDULFRQWRKNRQGLVLORNDVLVHWLDSOHPEDJDEHUWDQJJXQJMDZDEXQWXN
mengkoordinasi kegiatan-kegiatan PPAM.

Tingkat sub-regional
Yang penting adalah setiap lembaga yang merespons situasi darurat untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan
koordinasi yang terjadi di lokasi, baik berupa rapat mingguan, 2 mingguan atau rapat bulanan. Peran dari koordinator
Kesehatan reproduksi pada tingkat ini adalah untuk bekerja dengan Kementrian Kesehatan pemerintah tuan rumah
bila memungkinkan untuk memberikan bantuan teknis kesehatan reproduksi kepada lembaga-lembaga ini, memastikan
bahwa koordinasi berlangsung diantara berbagai sektor untuk memastikan pelaksanaan kegiatan-kegiatan PPAM yang
multi sektoral; dan memberikan sesi orientasi khusus tentang PPAM pada staff lembaga, yang dapat mencakup tenaga
kesehatan, petugas layanan masyarakat, petugas keamanan, pengungsi dll. Sebagai tambahan, koordinator kesehatan
reproduksi dapat memastikan bahwa protokol yang sudah dibakukan digunakan oleh lembaga-lembaga dalam
memfasilitasi pelaksanaan PPAM.

Sebagai contoh:
Koordinator Kesehatan Reproduksi dapat memastikan bahwa tiap lembaga menggunakan protokol standar WHO/
UNHCR tentang Manajemen Klinis untuk Korban Perkosaan10 atau protokol standar lainnya (misalnya protokol dari
Medecins Sans Frontieres atau Kementrian Kesehatan) dan staff mendapat pelatihan tentang protokol tsb. Formulir
surveilans kesehatan di lokasi setempat juga harus disesuaikan untuk mendokumentasikan jumlah korban kekerasan
seksual yang ditangani dan mendokumentasikan kesakitan dan kematian maternal dan neonatal. Koordinator Kesehatan
reproduksi juga dapat memperkenalkan formulir sederhana untuk monitoring kegiatan-kegiatan PPAM (atau adapatasi
formulir yang sudah dikenal oleh staff lembaga). Formulir-formulir ini dapat mencakup lebih banyak informasi saat
situasi sudah menjadi lebih stabil dan layanan kesehatan reproduksi komprehensif sudah berjalan. Meskipun kematian
maternal dan neonatal relatif jarang, kecuali jika telah terdokumentasikan/tercatat, tapi kematian maternal dan neonatal
mungkin belum ditangani. Sebagai tambahan, koordinator kesehatan reproduksi bertanggung jawab untuk mengumpulkan
informasi dari setiap kondisi lokasi dan menghimpunnya dalam sebuah laporan yang dapat dinformasikan kepada lembaga
PBB atau pemerintah di tingkat Negara.

Tingkat Negara
Seperti yang ditunjukkan pada diagram, seorang koordinator kesehatan reproduksi juga harus ditunjuk di tingkat Negara
untuk mengumpulkan informasi dari semua sub regional.

Contoh:
Dalam merespons krisis tsunami, UNFPA menempatkan koordinator kesehatan reproduksi di Indonesia dan Srilanka.
Koordinator Kesehatan reproduksi memprakarsai pertemuan koordinasi di tiap Negara yang memicu lebih banyak
lembaga yang awalnya tertarik dengan kesehatan reproduksi, untuk berpartisipasi dan berbagi informasi tentang
penyediaan layanan kesehatan reproduksi mereka. Koordinasi ini juga memberikan pintu masuk untuk memonitor
kebutuhan suply lembaga maupun memfasilitasi pengumpulan data.

Tingkat Internasional
Di tingkat internasional, IAWG/Kelompok Kerja antar Lembaga adalah sebuah mekanisme dimana kolaborasi yang
terjadi diantara lembaga PBB, lembaga donor dan LSM. Group ini menyediakan forum dimana mitra lokal dan
internasional berbagi kegiatan, sumber daya, memprakarsai upaya kolaborasi dan menganalisa isu di lapangan yang harus
ditangani. Untuk lebih jelasnya mengenai cara bergabung dengan IAWG, silahkan kirim e-mail ke info@rhrc.org.

14 Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) untuk Kesehatan Reproduksi dalam Situasi Krisis
Contoh:
Dari tahun 2002 sampai 2004, IAWG mengadakan evaluasi global “Layanan Kesehatan Reproduksi bagi pengungsi lintas
batas dan pengungsi internal”11 yang menilai bagaimana bidang kesehatan reproduksi telah berkembang dalam dekade
terakhir. Hal ini menghasilkan terbentuknya 6 kelompok kerja untuk menangani topik yang paling mendesak, yang
satu diantaranya adalah kurangnya pelaksanaan PPAM yang sesuai. Sejak pembentukan kelompok kerja ini pada bulan
Desember 2004, kelompok kerja PPAM telah bertemu melalui telekonferensi untuk berbagi temuan dari respons krisis
tsunami di Indonesia, Sri Langka, Maldive dan daerah lain yang terkena dampak tsunami. Kegiatan-kegiatan ini telah
memberikan informasi mengenai kegiatan respon dan membantu mendukung respon yang lebih terkoordinasi dan efektif
untuk daerah yang terkena dampak tsunami. Ini adalah contoh bagaimana tindakan di tingkat global dapat mendukung
kegiatan di lapangan.

KENYATAAN PELAKSANAAN PPAM DI THAILAND

Sejak akhir bulan September sampai dengan November 1997, aliran pengungsi Kamboja memasuki perbatasan
Thailand. Komite Pengungsi Amerika (ARC) adalah satu-satunya LSM di lapangan yang memberikan bantuan
masa darurat dan memberikan layanan kesehatan dasar termasuk layanan kesehatan reproduksi untuk 40,000
pengungsi di 2 camp. Hal itu merupakan satu dari sedikit kesempatan sejak Konsorsium RHRC mulai bekerja
dimana PPAM dilakukan di tengah-tengah meningkatnya aliran masuk pengungsi. Supply medis steril sudah
tersedia, baik dari persediaan ARC sendiri maupun dari masyarakat pengungsi itu sendiri. ARC menyediakan
sarung tangan, mendapatkan kondom dan mengadakan sesi pelatihan mengenai tindak kewaspadaan universal12
untuk mencegah HIV/AIDS bagi pekerja kesehatan di kedua camp. Pengungsi wanita yang mengalami
komplikasi kebidanan darurat memperoleh manfaat dari sistem rujukan camp yang dibangun yang memberikan
transportasi ke rumah sakit di tingkat propinsi, dimana beragam layanan kebidanan tersedia bagi pengungsi.
Meskipun para bidan camp menyangkal mengetahui insiden kekerasan berbasis gender di pelarian atau di camp,
namun ARC menawarkan sesi pelatihan bagi bidan mengenai kontrasepsi darurat pasca hubungan seksual
dan mengenai cara mengidentifikasi dan menangani wanita yang menjadi korban kekerasan seksual. “Pada
hari-hari pertama, para pengungsi melalui fase shock. Prioritas mereka selama ini adalah tempat berteduh,
makanan dan air.” Demikian ujar penasihat kesehatan internasional di ARC yang mengkoordinasi PPAM di
sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja. “Tetapi, hari demi hari, semakin banyak pekerja kesehatan yang
datang untuk bekerja di dalam masyarakat dan di klinik. Mereka termotivasi dan ingin belajar.” Respon yang
cepat dalam situasi krisis serupa akan lebih pasti apabila kantor di lapangan dari sejumlah instansi internasional
seperti UNICEF, UNHCR dan UNFPA menyediakan supply PPAM di tingkat regional atau menetahui cara
mendapatkannya dengan cepat. “Kami beruntung ada di Thailand,” demikian ujar penasehat ARC, “Karena
dapat membeli supply medis di kebanyakan kota besar dan merakit materi dasar dan kit dasar, dan itulah yang
kami lakukan. Tetapi organisasi-organisasi PBB seharusnya menyediakan supply darurat di tingkat regional
Kita memerlukannya pada hari pertama.” Yang penting dalam keberhasilan PPAM adalah adanya focal point
yang berpengalaman dalam kondisi darurat, untuk memantau program. “Diperlukan seseorang yang dapat
menyiapkan PPAM di lingkungan dimana terdapat kemungkinan epidemic kolera dan campak,” demikian ujar
penasehat kesehatan internasional. “Seseorang yang dapat memahami bagaimana PPAM sesuai dengan situasi
yang ada, tetapi tidak mengorbankan respon pada kebutuhan darurat lain; yang memahami apa yang dapat
dilaksanakan dan melaksanakannya.”13

15
Memonitor Koordinasi PPAM
Ini adalah peran dari koordinator kesehatan reproduksi untuk memonitor dan melakukan evaluasi
NHJLDWDQ33$0'LDKDUXVPHQJXPSXONDQDWDXPHODNXNDQHVWLPDVLGDWDGHPRJUDÀGDVDUGDQGDWD
kesehatan dari populasi yang terkena dampak (lihat bab 9 dari Buku Kesehatan Reprodukdi pada
situasi pengungsian: sebuah manual antar lembaga)14
Total populasi
Jumlah wanita usia subur (usia 15 sampai 49, diestimasikan sebanyak 25% dari populasi)
Jumlah pria yang aktif secara seksual (diestimasikan sebanyak 20% dari populasi)
Angka Kelahiran Kasar (diestimasikan 4% dari populasi)
 $QJNDNHPDWLDQVSHVLÀNXPXU WHUPDVXNNHPDWLDQQHRQDWDOKDUL
 $QJNDNHPDWLDQVSHVLÀNEHUGDVDUNDQMHQLVNHODPLQ
Untuk memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan PPAM, data-data berikut harus dikumpulkan
minimal setiap minggu (lihat appendix A tentang Monitoring dan Evaluasi)

Jumlah kondom yang didistribusikan


Jumlah kit persalinan bersih yang didistribusikan
Jumlah kasus kekerasan seksual yang dilaporkan pada setiap sektor (pelaporan secara rahasia
dan tanpa nama adalah sangat penting)
Jumlah fasilitas kesehatan dengan supply yang mencukupi untuk kewaspadaan universal
Indikator untuk memonitor mekanisme koordinasi secara menyeluruh:
Koordinator kesehatan reproduksi menyeluruh berjalan dan berfungsi di bawah tim
koordinasi kesehatan
Focal point kesehatan reproduksi di camp dan lembaga pelaksana berjalan
Bahan dan materi untuk pelaksanaan PPAM tersedia dan digunakan

Supply apakah yang dibutuhkan untuk mengkoordinasikan pelaksanaan PPAM?15


No Nama Warna
Kit 0 Kit administrasi Oranye

16 Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) untuk Kesehatan Reproduksi dalam Situasi Krisis
1. Kadang-kadang kurangnya pemahaman dan atau prioritas dari koordinator kesehatan reproduksi
dapat membuat koordinasi menjadi sulit. Bagaimana seseorang dapat melawan rasa apatis dan
mengesampingkan isu kesehatan reproduksi?

Dalam periode yang singkat, seseorang dapat menunjukkan bahwa PPAM adalah standard SPHERE
dan sudah dikenal secara internasional, standard minimum universal dalam respon bencana yang
mana setiap lembaga kemanusiaan wajib untuk mematuhi. Seseorang dapat menekankan bahwa
ini adalah intervensi penyelamatan nyawa. Dari persepsi jangka panjang, lembaga harus didorong
–berdasarkan standard Sphere – untuk memprioritaskan kesehatan reproduksi dalam perencanaan
kesiapsiagaan darurat. Seseorang juga dapat mendorong staff untuk menyelesaikan modul PPAM
dan menggunakannya untuk melakukan edukasi dan advokasi kepada staff lembaga terkait dan yang
lainnya tentang pentingnya pelaksanaan PPAM.

2. Pada awal suatu emergency, UNFPA dan lembaga spesialis lain mungkin belum beroperasi di
lapangan. Situasi keamanan mungkin buruk dan kapasiatas dari staff mungkin lemah. Dalam kondisi
seperti ini, kenyataan untuk melaksanakan secara adekuat semua elemen dari PPAM akan sangat
menantang. Dengan cara apa seorang individu, kelompok kecil atau lembaga mengatasi problem ini?

Jika lembaga anda menganggap bahwa tanggung jawab ada pada sektor kesehatan, ini harus
memastikan bahwa PPAM dimasukkan dalam respon kesehatan. Lembaga anda atau lembaga lain
dapat secara sukarela membentuk pertemuan regular untuk mengkoordinasikan pelaksanaan PPAM.
0HQJKXEXQJL81)3$GL-HQHZDDWDXGL1HZ<RUNMXJDGDSDWPHPEDQWXPHQJLGHQWLÀNDVLGXNXQJDQ
di Negara.

Tiga bab berikutnya akan focus pada area teknis dari PPAM termasuk pencegahan dan merespon
kekerasan seksual, mengurangi penyebaran HIV dan mencegah meningkatnya kematian dan
kesakitan maternal dan neonatal.

17
18 Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) untuk Kesehatan Reproduksi dalam Situasi Krisis