Anda di halaman 1dari 17

TUGAS MATA KULIAH

ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN

POLICY REVIEW
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1175 TAHUN 2010 TENTANG IZIN PRODUKSI KOSMETIKA

Oleh:
Hesma Wardhani Handarizki 101511133193
Popy Puspitasari 101511133223

UNIVERSITAS AIRLANGGA
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
MINAT ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN
SURABAYA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Meningkatnya pertumbuhan industri kosmetik yang ada di Indonesia
merupakan suatu hal yang harus diperhatikan. Pada satu sisi, pertumbuhan industri
kosmetik membawa dampak pada peningkatan ekonomi serta terserapnya tenaga
kerja, akan tetapi perlu diperhatikan juga kemungkinan penyimpangan yang akan
terjadi terutama pada produk yang dihasilkan. Bukan tidak mungkin apabila industri
kosmetik melakukan penyimpangan untuk meraup keuntungan tertentu seperti
penggunaan bahan berbahaya pada produknya, kepemilikan izin produksi untuk tiap
produk yang dihasilkan serta tatacara proses produsksi kosmetik yang belum
memenuhi syarat atau standar. Penyimpangan tersebut akan merugikan konsumen
terutama apabila memiliki dampak terhadap kesehatan.

Fakta menunjukkan bahwa banyak kosmetik yang beredar dan dikonsumsi


oleh masyarakat mengandung bahan berbahaya yang sebenarnya tidak boleh ada pada
kosmetik atau penggunaannya melebihi batas yang diperbolehkan serta tidak
memiliki izin edar dan izin produksi. Selain itu, beberapa media elektronik maupun
media cetak telah melakukan pemuatan berita temuan kosmetik bahaya, seeprti berita
yang dimuat dengan headline “Waspada! Inilah Daftar Kosmetik Berbahaya dari
BPOM, Termasuk Produk Pemutih Wajah Terkenal” (Tribunnews,14 Agustus 2018).
Adanya berita tersebut diatas menunjukkan bahwa beredarnya kosmetik berbahaya
telah menjadi issue public yang perlu menjadi perhatian pengambil kebijakan untuk
dilakukan evaluasi atau perbaikan terhadap kebijakan yang telah ada.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPOM menunjukkan angka kasus


yang tiap tahun semakin tinggi sehingga perlu adanya perlindungan konsumen yang
diwujudkan dalam bentuk kebijakan atau peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah
atau lembaga terkait. Perlindungan konsumen dilakukan karena Indonesia merupakan
negara dengan tingkat konsumsi tinggi sesuai dengan data dari Nielsen Global
Consumer Index yang mencatat bahwa Indonesia menjadi negara dengan tingkat
tertinggi pada kuartal VI tahun 2013. Berdasarkan berita yang dilansir liputan6.com
Indonesia menduduki peringkat pertama dari 10 negara berdasarkan indeks
kepercayaan konsumen yang menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat didunia.
Oleh karena masyarakat Indonesia memiliki tingkat konsumsi yang tinggi, maka
bukan tidak mungkin apabila masyarakat juga melakukan konsumsi produk kosmetik
dalam jumlah banyak pula. Hal tersebut didukung dengan inovasi produk kosmetik
yang mulai memiliki berbagai jenis yang dapat digunakan oleh pria maupun wanita,
terutama pada era millennial ini kosmetik dianggap sebagai kebutuhan primer
khususnya bagi wanita. Pada konsumen wanita, kosmetik yang aman menjadi
keharusan karena intensitas penggunaan kosmetik pada wanita lebih tinggi
dibandingkan pria sehingga bahan kimia pada kosmetik akan lebih banyak masuk ke
tubuh, apabila banyak bahan kimia berbahaya yang masuk ketubuh maka akan
dirasakan dampaknya jangka panjang terutama apabila wanita sedang hamil maka
berpotensi untuk mempengaruhi tumbuh kembang janin dalam kandungannya.

Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1175 tahun 2010 tentang Izin Produksi Kosmetik telah memberikan bentuk usaha
perlindungan konsumen produk kosmetik dan sebagai salah satu cara pemerintah
dalam mengatasi peredaran kosmetik yang berbahaya. Peraturan tersebut berisi
tentang segala hal yang berkaitan dengan perizinan produksi pada industri kosmetika
mulai dari definisi kosmteika, ketentuan kosmetika yang beredar, pemberian izin
produksi kosmetika, alur pengajuan izin kosmetika dan dilengkapi dengan lampiran
format formulir pengajuan izin, pencabutan izin, pembinaan dan pengawasan serta
sanksi bagi pelanggar.

1.2 Model
Model yang digunakan dalam melakukan analisis Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 1175 tahun 2010 adalah :
a. Rational model

Menilai kesesuaian kebijakan dengan kondisi yang ada di lingkungan


masyarakat.

b. Institusional model

Analisis dengan melihat institusi yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan.

c. Incrementalism

Memandang kebijakan publik sebagai kelanjutan dari kegiatan-kegiatan yang


telah dilakukan oleh pemerintah di masa lampau, dengan hanya melakukan
perubahan-perubahan(modifikasi) seperlunya.

1.3 Metode
Metode yang digunakan pada analisis kebijakan ini adalah dengan melakukan
studi literature. Kebijakan dikaji pada tiap pasal dan dianalisis dengan
membandingkan dengan beberapa kebijakan lain yang terkait beserta perubahan atas
kebijakan yang dikaji.
BAB II

RINGKASAN KEBIJAKAN

2.1 Tujuan Kebijakan


Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1175 tahun 2010
secara umum bertujuan untuk menjamin mutu, keamanan, dan kemanfaatan
kosmetika perlu pengaturan izin produksi kosmetika. Selain itu, peraturan tersebut
disusun untuk menyesuaikan kondisi perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi
terkini dengan peraturan sebelumnya yaitu Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
236/Men.Kes/Per/X/1977 tentang Perijinan Produksi Kosmetika dan Alat Kesehatan.

2.2 Isi Pokok Kebijakan


Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1175 tahun 2010 tentang izin produksi
kosmetika terdiri dari 9 bab dan 27 pasal. Secara umum berisi mengenai segala hal
yang yang berkaitan dengan izin produksi kosmetika mulai dari definisi kosmteika,
ketentuan kosmetika yang beredar, pemberian izin produksi kosmetika, alur
pengajuan izin kosmetika dan dilengkapi dengan lampiran format formulir pengajuan
izin, pencabutan izin, pembinaan dan pengawasan serta sanksi bagi pelanggar.

2.2.1 Bab I Ketentuan Umum


Pada bab ini berisi mengenai definisi yang berhubungan dengan kosmetika
serta definisi yang digunakan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1175 tahun 2010. Selain itu, pada bab ini juga dituliskan bahwa
Kosmetika yang beredar harus memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan
kemanfaatan.

2.2.2 Bab II Izin Produksi


Pada bab mengenai izin produksi dijelaskan mengenai beberapa hal penting
diantaranya yaitu:
a. Pembuatan kosmetika hanya dapat dilakukan oleh industri kosmetika
yang memiliki izin
b. Izin produksi berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang
selama memenuhi ketentuan yang berlaku.
c. Pemberiaan izin produksi berdasarkan gologan jenis produksi kosmetika,
dibedakan menjadi 2 yaitu golongan A untuk industri kosmetika yang
dapat membuat semua bentuk dan jenis sediaan kosmetika dan golongan
B untuk untuk industri kosmetika yang dapat membuat bentuk dan jenis
sediaan kosmetika tertentu dengan menggunakan teknologi sederhana.
d. Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) dimasukkan sebagai
syarat diberikannya izin produksi kosmetik pada industri golongan A dan
B.

2.2.3 Bab III Tatacara Memperoleh Izin Produksi


Pada bab ini terdiri dari 3 pasal yang berisi mengenai beberapa poin
penting yaitu:

a. Kelengkapan dokumen (syarat administratif) yang dibutuhkan untuk


mengajukan izin produksi kosmetika sesuai dengan golongan industri.
b. Pada pasal 10 dijelaskan mengenai alur pengajuan izin beserta waktu
yang dibutuhkan untuk tiap tahapan.
c. Adanya biaya yang dibutuhkan dalam permohonan izin, akan tetapi tiidak
dijelaskan nominalnya.

2.2.4 BAB IV Perubahan Izin Produksi


Pada bab ini berisi mengenai :

a. Hal atau kondisi yang dapat menyebabkan adanya perubahan izin produksi
kosmetika
b. Tatacara permohonan perubahan izin produksi kosmetik
c. Hal atau kondisi yang dapat menyebabkan pencabutan izin produksi yang
diberikan
2.2.5 BAB V Penyelenggaraan Pembuatan Kosmetika
Bab V terdiri dari 2 pasal yang berisi mengenai larangan industri
kosmetik untuk menggunakan bahan yang dilarang atau tidak sesuai dengan
undang-undang pada produk kosmetiknya.

2.2.6 Bab VI Pembinaan dan Pengawasan


Bab VI tentang pembinaan dan pengawasan berisi mengenai adanya
pembinaan berjenjang yang dilakukan oleh Kepala Dinas dan Direktur Jenderal.
Pengawasan produk juga akan dilakukan dengan menerapkan Cara Pembuatan
Kosmetika yang Baik (CPKB). Dijelaskan pula mengenai hak tenaga pengawas
serta adanya hak menolak pemeriksaan apabila tenaga pengawas tidak dilengkapi
surat tugas dan pengenal. Pihak berwenang akan melakukan penyidikan apabila
ditemukan hal yang mencurigakan.

2.2.7 Bab VII Sanksi


Bab VII terdiri dari 1 pasal yang berisi mengenai pemberian sanksi
administratif apabila melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang telah
ditetapkan.

2.2.8 Bab VIII Ketentuan Peralihan


Pada bab ini berisi mengenai kondisi pada saat Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 1175 tahun 2010 mulai berlaku serta adanya kewajiban bagi industri yang
telah memiliki izin produksi untuk melakukan penyesuaian selambatnya 2 tahun
sejak peraturan diundangkan.

2.2.9 Bab 9 Ketentuan Penutup


Bab 9 berisi mengenai :

a. Masih berlakunya semua peraturan pelaksanaan dari Peraturan Menteri


Kesehatan nomor 236 tahun 1977 sepanjang tidak bertentangan dan
belum diganti berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1175
tahun 2010.
b. Pencabutan pemberlakuan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 236
tahun 1997 pada saat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1175 tahun
2010 mulai berlaku.

c. Peraturan berlaku sejak diundangkan pada tanggal 11 Agustus 2010.


BAB III

KAJIAN DASAR KEBIJAKAN

3.1 Model Pendekatan

Model pendekatan yang digunakan dalam analisis kebijakan ini


meliputi rational model. institusional model, dan iIncrementalism.

3.1.1 Rational Model

Pendekatan ini menilai kesesuaian kebijakan dengan kondisi yang ada di


lingkungan masyarakat. Model ini menyatakan bahwa kebijakan merupakan
suatu pencapaian sasaran secara efisien.Dalam hal ini sebenarnya kebijakan yang
disusun akan memberikan dampak bagi masyarakat luas, dimana kita tahu bahwa
tingginya angka pertumbuhan industri kosmetik yang didasari atas permintaan
konsumen terutama kaum wanita yang begitu tinggi memungkinkan bila industri
kosmetik melakukan penyimpangan untuk meraup keuntungan. Sehingga hal
tersebut berdampak pada kesehatan masyarakat luas.

Adanya peraturan mengenai izin produksi kosmetika yang menekankan pada


hal-hal mengenai ketentuan kosmetika yang beredar, pemberian izin produksi
kosmetika, alur pengajuan izin kosmetika, pencabutan izin, pembinaan dan
pengawasan serta sanksi bagi pelanggar secara tidak langsung merupakan
tindakan pencegahan peredaran kosmetik yang legal dan berbahaya bagi
kesehatan konsumen. Industri kosmetika yang tidak memenuhi syarat, tidak bisa
melakukan proses produksi. Proses perizinan yang harus dilakukan industri
kosmetika diharapkan menjadi langkah awal dalam menjamin mutu, keamanan,
dan kemanfaatan kosmetika.
3.1.2 Institusional Model

Analisis kebijakan pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1175 tahun


2010 tentang Izin Produksi Kosmetika dilakukan dengan melihat sudut pandang
institusi yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan. Institusi yang terlibat yaitu
Menteri Kesehatan, Pemerintah, Pemerintah Kabupaten/Kota/Provinsi, Industri
Kosmetika, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Badan
Perlindungan Konsumen, Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, Lembaga
Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat,dan lain-lain.

3.1.3 Incrementalism Model

Peraturan ini menggunakan pendeketan incremental. Inkremental sendiri


berarti kebijakan yang mengalami perubahan sedikit-sedikit. Model inkremental
pada hakikatnya memandang kebijakan publik sebagai kelanjutan dari kegiatan-
kegiatan yang telah dilakukan oleh pemerintah di masa lampau, dengan hanya
melakukan perubahan-perubahan seperlunya. Latar belakang yang mendasari
pembentukan peraturan ini adalah untuk menyempurnakan peraturan yang sudah
ada sebelumnya yaitu Peraturan Menteri Kesehatan nomor 236 tahun 1977 dan
menyesuaikannya dengan kondisi serta perkembangan ilmu pengetahuan serta
teknologi terkini. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 236 tahun 1977 membahas
tentang perijinan produksi kosmetika dan alat kesehatan, namun pada peraturan
yang sudah di perbarui yaitu Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1175 tahun
2010 membahas lebih fokus tentang izin produksi kosmetika. Sehingga
terbentuklah peraturan ini agar lebih fokus dalam menyikapi masalah industri
kosmetika legal yang membahayakan konsumen.
BAB IV

PERUBAHAN PASAL DAN PASAL BERMASALAH

4.1 Perubahan Pasal


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor Republik Indonesia 1175
tahun 2010 pada pasal 24 yang berbunyi:

“Pada saat Peraturan ini mulai berlaku;

a. permohonan izin produksi yang sedang dalam proses diselesaikan


berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
236/Menkes/Per/X/1977 tentang Izin Produksi Kosmetika dan Alat
Kesehatan; dan

b. pabrik kosmetika yang telah memiliki izin produksi wajib melakukan


penyesuaian selambat-lambatnya 2 (dua) tahun sejak Peraturan ini
diundangkan.”

Perubahan tersebut kemudian diperbaruhi pada Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor 63 tahun 2013. Tujuan adanya perubahan pada pasal
24 adalah bahwa dalam rangka menjamin mutu, keamanan, dan kemanfaatan
kosmetika perlu pengaturan izin kosmetika serta masih banyaknya industri
kosmetika yang belum melaksanakan pembaruan izin produksi kosmetika sesuai
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1175/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Izin
Produksi Kosmetika. Perubahan pasal 24 tertuang pada pasal 1 Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 63 tahun 2013 yang berbunyi:

“Ketentuan Pasal 24 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor


1175/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Izin Produksi Kosmetika (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 396) diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 24

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku:

a. Izin produksi kosmetika yang dikeluarkan berdasarkan Peraturan Menteri


Kesehatan Nomor 236/Menkes/Per/X/1977 tentang Izin Produksi
Kosmetika dan Alat Kesehatan dinyatakan masih berlaku sampai deng an
tanggal 31 Desember 2014, sepanjang industri kosmetika tersebut telah
mengajukan permohonan penyesuaian izin sesuai Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 1175/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Izin Produksi
Kosmetika paling lambat tanggal 31 Desember 2013 yang dibuktikan
dengan tanda terima permohonan penyesuaian izin produksi kosmetika
sebagaimana formulir 12 terlampir;

b. Industri kosmetika yang telah mengajukan permohonan sebagaimana


dimaksud pada huruf a, namun belum melengkapi persyaratan
administrasi perizinan dan/atau melakukan perubahan denah bangunan
sesuai ketentuan, diberi tenggang waktu paling lambat 31 Desember
2014 yang disertai dengan surat pernyataan sebagaimana formulir 13
terlampir.

Perubahan pada pasal 24 tersebut menghinbau agar setiap industri kosmetika


untuk segera melakukan pembaruan izin sesuai dengan peraturan terbaru sesuai
dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1175 tahun 2010 sebagai
acuannya.

4.2 Pasal Bermasalah


a. Pasal 2 ayat 2

“ Persyaratan mutu, keamanan, dan kemanfaatan sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) sesuai dengan Kodeks Kosmetika Indonesia dan persyaratan
lain yang ditetapkan oleh Menteri “
Sedangkan pada pasal 2 dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1176
tahun 2010 tentang notifikasi kosmetika berbunyi :

“Setiap kosmetika yang beredar wajib memenuhi standar dan/atau


persyaratan mutu,keamanan, dan kemanfaatan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan”

Perbedaan tersebut terletak pada dasar yang digunakan dalam


persyaratan mutu,keamanan, dan kemanfaatan kosmetika yang beredar. Hal
ini menimbulkan ketidakpastian yang bersifat rancu. Perbandingan dalam
bentuk tabel

b. Pasal 3

“Pembuatan kosmetika hanya dapat dilakukan oleh industri kosmetika.”

Pada pasal tersebut dijelaskan bahwa pembuatan hanya dapat dilakukan oleh
industri kosmetika, akan tetapi pada belum dijelaskan untuk krim racikan hasil
pemcampuran dari beberapa bahan yang dilakukan dokter. Peraturan yang
berhubungan dengan penjelasan krim racikan dokter terdapat pada :

PP No. 51 tahun 2009 (pasal 9)  Industri obat tradisional dan pabrik


kosmetika harus memiliki sekurang-kurangnya 1 (satu) orang Apoteker
sebagai penanggung jawab

(pasal 22) Dalam hal di daerah terpencil yang tidak ada apotek, dokter atau
dokter gigi yang telah memiliki Surat Tanda Registrasi mempunyai wewenang
meracik dan menyerahkan obat kepada pasien yang dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

(pasal 30 ayat 1) Pemberian obat oleh dokter pada dasarnya mempunyai
hubungan sangat erat dengan Pekerjaan Kefarmasian

Berdasarkan artikel yang dirilis oleh Kementrian Kesehatan pada 5 Juli 2016,
maka dijelaskan bahwa masih terdapat proses pembahasan mengenai
dispensing obat yang dilakukan oleh dokter. Salah satu poin yang terdapat
pada artikel tersbeut yaitu

“Terkait dokter dan dispensing obat, dalam UU 29/2004, tentang Praktik


Kedokteran pasal 35 i, dokter dalam menjalankan praktik memiliki
kewenangan menyimpan obat dalam jumlah dan jenis yang diizinkan. Huruf j,
meracik dan menyerahkan obat kepada pasien di daerah yang tidak ada
apotek”

Mencari definisi industrri kosmetika, mencari wewenang dokter

c. Pasal 12

“Setiap perubahan golongan, penambahan bentuk dan jenis sediaan, pindah


alamat/pindah lokasi, perubahan nama direktur/pengurus, penanggung
jawab, alamat di lokasi yang sama, atau nama industri harus dilakukan
perubahan izin produksi.”

Pada pasal 12 dituliskan bahwa “alamat di lokasi yang sama” menimbulkan


ketidakjelasan makna karena kalimat bersifat rancu. Kemudian pada kalimat
ini tidak disebutkan apabila perusahaan membuat anak perusahaan dengan
nama yang sama ditempat berbeda dan produk yang dihasilkan sama maka
apakah harus melakukan izin produksi atau dapat menggunakan izin produksi
perusahaan induk.

BAB V

PEMIKIRAN PENYEMPURNAAN

1. Melakukan sosialisasi terhadap industri kosmetika yang memiliki izin


produksi akan tetapi belum sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 1175 tahun 2010.
2. Melakukan penyesuaian peraturan dengan kondisi industri kosmetik
yang ada pada saat ini dikarenakan banyaknya klinik serta dokter
praktik yang menjual krim racikan (Industri kosmetik itu siapa? Yg
berhak melakukan produksi itu siapa?)

3. Kerjasama antar lembaga terkait dalam melakukan sosialisasi


mengenai izin produksi kosmetika kepada industri kosmetika berskala
kecil. (Saran ditujukan ke siapa)

4. Melakukan pengawasan izin produksi kosmetika terhadap produk


kosmetik yang dijual secara online. (Saran ditujukan ke siapa)

5. Memperjelas persyaratan mengenai syarat dilakukann perubahan izin


produksi kosmetika. (Saran ditujukan ke siapa)

Diterbitkan petunjuk teknis,dll

Saran kepada masyarakat sbg konsumen agar lebih selektif

BAB VI

PREDIKSI KEBERHASILAN DAN KONSEKUENSI


6.1 Prediksi Keberhasilan

Pada setiap penetapan peraturan akan memiliki dampak berupa pro dan kontra
pada setiap pihak yang terlibat. Adanya kebijakan mengenai izin produksi kosmetika
berupa Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1175 tahun 2010 bertujuan untuk
melindungi masyarakat sebagai konsumen dari produk kosmetik illegal yang
membahayakan konsumen. Akan tetapi, terdapat beberapa hal yang akan menjadi
kontra seperti pembaruan izin produksi yang telah dilakukan jika mengacu pada
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 236 tahun 1977 maka harus disesuaikan dan
mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1175 tahun 2010. Hal tersebut
akan menyebabkan industri kosmetika berpikir ulang untuk melakukan pembaruan
dikarenakan adanya biaya yang harus dibayarkan serta proses persiapan untuk
dilakukan pembaruan izin.
Selain itu, lemabaga terkait perlu melakukan adanya sosialisasi mengenai izin
produksi kosmetika yang disesuaikan dengan kondisi saat ini dimana krim racikan
telah beredar luas baik melalui dunia nyata maupun dunia maya seperti online shop
yang perlu untuk dilakukan pengecekan kepemilikan izin produksi dari perusahaan
bersangkutan.

6.2 Konsekuensi
a. Industri kosmetik harus melakukan persiapan untuk pembaruan izin serta
mengeluarkan dana untuk melakukan pembaruan izin.
b. Beban kerja BPOM serta lembaga lain yang terkait akan menjadi lebih berat
dalam hal pengawasan terhadap kepemilikan izin produksi kosmetik pada
produk kosmetik yang dijual online.

DAFTAR PUSTAKA
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010. Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 1175 Tahun 2010 Tentang Izin Produksi Kosmetika. Jakarta:Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.

Republik Indonesia, 1999. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang


Perlindungan Konsumen. Jakarta:Pemerintah Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010. Peraturan Menteri Kesehatan


Nomor 1176 Tahun 2010 Tentang Notifikasi Kosmetika. Jakarta:Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.