Anda di halaman 1dari 24

1

Ruang Lingkup Audit Keuangan, Kinerja dan


Audit dengan Tujuan Tertentu

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


KELAS E
Dra. Nur Azlina, M.Si., Ak., CA

DISUSUN OLEH:

1. Dela Febby Arisa Lubis 1602122949


2. Dian Saptania Dewi 1602114374
3. Fitria Apriani 1602114254
4. Winda Lestari 1602110193

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS RIAU
TA 2018/2019
2

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Ruang Lingkup Audit Keuangan, Kinerja dan Audit dengan Tujuan
Tertentu” dengan lancar dan tepat waktu.
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah
Akuntansi Sektor Publik dari dosen yang bersangkutan agar memenuhi tugas yang
telah ditetapkan, dan juga agar setiap mahasiswa dapat terlatih dalam pembuatan
makalah.
Adapun sumber-sumber dalam pembuatan makalah ini, didapatkan melalui
media buku dan media internet. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih
kepada Ibu Dra. Nur Azlina, M.Si., Ak., CA selaku dosen mata kuliah Akuntansi
Sektor Publik, dan juga kepada teman-teman dan semua pihak yang ikut
membantu dalam proses pembuatan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah ini, penulis mohon maaf dan
berkenan jika ada kritik maupun saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah
yang lebih baik. Sekian dan terima kasih.

Pekanbaru, 05Desember 2018

Penulis
3

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................. 4

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 5

1.3 Tujuan Penulisan .......................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Ruang Lingkup Audit Keuangan .................................................. 6

2.2 Ruang Lingkup Audit Kinerja .................................................... 15

2.3 Ruang Lingkup Audit dengan Tujuan Tertentu ......................... 20

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ................................................................................ 23

DAFTAR PUSTAKA
4

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Pemerintah yang bersih ditandai dengan tiga pilar utama yang merupakan
elemen dasar yang saling berkaitan. Ketiga elemen tersebut adalah partisipasi,
transparansi, dan akuntabilitas. Suatu pemerintahan yang baik harus membuka
pintu yang seluas-luasnya agar semua pihak yang terkait dalam pemerintahan
tersebut dapat berperan serta secara aktif.
Dalam negara demokrasi, “pelaporan keuangan yang transparan”
merupakan sesuatu yang dituntut oleh rakyat kepada pemerintahannya.
Sebaliknya, dalam negara demokrasi, pemerintah berkewajiban memberikan
kaporan keuangan yang transparan kepada rakyat. Pemerintah demokratis harus
bertanggungjwab atas intergritas, kinerja dan kepengurusan, sehingga pemerintah
harus menyediakan informasi yang berguna untuk menaksir akuntabilitas serta
membantu dalam pengambilan keputusan ekonomi, sosial, dan politik. Pemerintah
adalah entitas pelapor (reporting entity) yang harus membuat laporan keuangan
dengan pertimbangan berikut:
 Pemerintah menguasai dan mengendalikan sumber-sumber yang
signifikan
 Penggunaan sumber-sumber tersebut oleh pemerintah dapat
berdampak luas terhadap kesejahteraan ekonomi rakyat
 Terdapa pemisahan antara manajemen dan kepemilikan sumber-
sumber tersebut.
Seiring dengan tuntutan masyarakat agar organisasi sektor publik
mempertahankan kualitas, profesionalisme, dan akuntabilitas publik serta value
for money dalam menjalankan aktivitasnya serta untuk menjamin dilakukannya
pertanggungjawaban publik oleh organisasi sektor publik, maka diperlukan audit
terhadap organisasi sektor publik tersebut. Jenis-jenis audit sektor publik
5

berdasarkan UU No. 15 Tahun 2004 dan SPKN antara lain audit kinerja, audit
keuangan, dan audit dengan tujuan tertentu.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Persoalan yang dibahas di dalam makalah ini di antaranya:

1. Penjelasan mengenai Ruang Lingkup Audit Keuangan


2. Penjelasan mengenai Ruang Lingkup Audit Kinerja
3. Penjelasan menganai Ruang Lingkup Audit dengan Tujuan Tertentu

1.3. TUJUAN MAKALAH

Tujuan penulisan makalah ini adalah:


1. Mengetahui dan paham tentang Ruang Lingkup Audit Keuangan
2. Mengetahui dan paham tentang Ruang Lingkup Audit Kinerja
3. Mengetahui dan paham tentang Ruang Lingkup Audit dengan Tujuan
Tertentu
6

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Ruang Lingkup Audit Keuangan

Audit sektor publik di Indonesia dikenal sebagai audit keuangan negara.


Audit keuangan negara ini diatur dalam UU No. 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara. Undang-
undang ini merupakan pengganti ketentuan warisan Belanda, yaitu Indische
Comptabiliteitswet (ICW) dan Instructie en verdere bepalingen voor de Algemene
Rekenkamer (IAR), yang mengatur prosedur audit atas akuntabilitas pengelolaan
keuangan oleh pemerintah.
Berdasarkan UU No. 15 Tahun 2004 dan SPKN, Audit keuangan,
merupakan audit atas laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan
keyakinan yang memadai (reasonable assurance), apakah laporan keuangan telah
disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif
selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Audit keuangan adalah
audit yang menjamin bahwa sistem akuntansi dan pengendalian keuangan berjalan
secara efisien dan tepat serta transaksi keuangan diotorisasi serta dicatat secara
benar.

Audit keuangan umumnya dilaksanakan oleh kantor akuntan


publik atau akuntan publiksebagai auditor independen dengan berpedoman
pada standar profesional akuntan publik.
Audit manajemen dapat dilakukan oleh beberapa pihak yang berkepentingan
berikut ini :
1. Internal Auditor
Internal auditor berada pada posisi yang unik untuk melakukan audit
manajemen, dan beberapa orang menggunakan istilah “Internal Audit” dan
“Management Audit” secara bergantian atau identik. Meskipun tidak tepat untuk
menyimpulkan bahwa semua audit manajemen dilaksanakan oleh internal auditor
atau internal auditor hanya melakukan audit manajemen adalah bahwa mereka
7

menghabiskan waktu bekerja untuk perusahaan yang mereka periksa. Sebab itu
mereka mengembangkan pengetahuan yang baik tentang perusahaan dan
usahanya untuk melaksanakan audit manajemen secara aktif.
2. Akuntan Pemerintah
Akuntan pemerintah biasanya memberikan perhatian pada kedua jenis audit,
baik itu audit keuangan maupun audit manajemen, dan melakukan audit pada
sektor pemerintah pula.
3. Akuntan Publik
Suatu entitas sering juga menugaskan sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP)
melakukan audit manajemen atas atau lebih bagian khusus dari usahanya.
Biasanya penugasan ini terjadi jika, perusahaan tidak mempunyai staf internal
auditor atau internal auditor perusahaan bersangkutan kurang keahliannya dalam
area tertentu.

Secara spesifikasi pendefinisian audit atas laporan keuangan dapat ditemukan sbb:

Tujuan penguji atas laporan keuangan oleh auditor adalah:

 Ekspresi suatu opini secara jujur tentang posisi keuagan.


 Hasil operasi.
 Arus kas yang disesuaikan dengan prinsip akuntansi.
Laporan auditor merupakan media mengepresikan opini auditor atau dalam
kindisi tertentu dalam mrnyangkal opini.

Perbandingan antara definis audit laporan keuangan tersebut dengan definis


audit secara umum dapat mengungkapkan aspek esensial audit keuagan sbb:
 Proses sistematik secara objektif.
 Asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi.
 Derajat atau tingkat hubungan.
 Hasil audit atas laporan keuangan dikomunikasikan dalam suatu pelaporan
audit.

Audit atas hal yang berkaitan dengan keuangan meliputi :


8

 Segmen laporan keuangan


 Pengendalian internal
 Pengendalian atau pengawasan internal
 Ketaatan terhadap peraturan UU yang berlaku.

A. Sistem Audit Keuangan Sektor Publik


1) Pemeriksaan Siklus Pendapatan
Tujuan audit siklus pendapatan adalah untuk mengungkapkan ada tidaknya
salah saji yang material dalam proses Pendapatan Daerah/Organisasi, Dana
Perimbangan, dan Pendapatan Lain-lain yang sah.
2) Pemeriksaan Siklus Belanja
Tujuan audit siklus belanja adalah untuk memperoleh bukti mengenai masing-
masing asersi yang signifikan, yang berkaitan dengan transaksi dan saldo siklus
belanja.
3) Pemeriksaan Aktiva Tetap
Aktiva tetap merupakan aset/harta yang dimiliki oleh organisasi sektor publik
yang digunakan dalam kegiatan operasi organisasi. Tujuan audit aktiva tetap
adalah untuk memperoleh bukti tentang setiap asersi signifikan yang berkaitan
dengan transaksi dan saldo aktiva tetap. Audit atas aktiva tetap sangat penting
karena biasanya aktiva tetap merupakan aset/kekayaan terbesar yang dimiliki oleh
suatu organisasi sektor publik.
4) Pemeriksaan Jasa Personalia
Siklus jasa personalia sangat penting karena masalah gaji, pajak penghasilan
pegawai, dan biaya ketenagakerjaan lainnya merupakan komponen biaya utama di
hampir semua entitas.
5) Pemeriksaan Siklus Investasi (Pembiayaan)
Investasi ini pada umumnya merupakan bagian dari strategi jangka panjang
suatu organisasi sektor publik. Jangka waktu investasi sementara tidak lebih dari
satu periode akuntansi. Risiko salah saji pada transaksi investasi organisasi sektor
publik umumnya rendah karena jarangnya transaksi yang terjadi.
6) Pemeriksaan Siklus Saldo Kas
9

Saldo kas berasal dari pengaruh kumulatif siklus belanja, siklus investasi, dan
siklus jasa personalia. Tujian audit saldo kas adalah untuk memperoleh bukti
tentang masing-masing asersi yang signifikan, ynag berkaitan dengan transaksi
dan saldo kas.

B. Siklus Audit Keuangan Sektor Publik


Terdapat 17 siklus dalam audit keuangan sektor publik:
1. Perencanaan Audit Keuangan
Standar pertama dari GAAS (General Accepted Auditing Standard) di
Indonesia SPAP untuk audit lapangan adalah perencanaan yang memadai. Berikut
adalah tiga alasan utama mengapa seorang auditor harus mempersiapkan rencana
kontrak kerja yang tepat sehingga
(1) auditor dapat memperoleh cukup bukti kompeten untuk kondisi yang ada,
(2) membantu menjaga agar biaya audit yang dikeluarkan tetap wajar,
(3) serta menghindari kesalah pahaman dengan klien.
2. Penetapan Regulasi Audit Keuangan
Bagian ini penting dalam proses audit karena dibutuhkan aturan untuk
memberikan arahan yang jelas, dan sebagai kontrol agar pelaksanaan audit
laporan keuangan bisa memberikan opini yang tepat.
3. Penyusunan Perencanaan Audit Tahunan Oleh Lembaga Auditor
Setelah ditetapkan aturan dan regulasi langkah selanjutnya adalah menyusun
perencanaan. Perencanaan audit yang matang akan sangat menentukan kesuksesan
audit.
4. Temu Rencanaan Audit Tahunan
Setelah lembaga auditor selesai menyusun perencanaan audit tahunan,
kemudian mereka bertemu dengan kepala atau pimpinan organisasi sektor publik
untuk membicarakan perencanaan audit yang sudah disusun.
5. Penerbitan Regulasi Tentang Tim Dan Kebijakan Audit Tahunan
Regulasi yang ditetapkan dalam tahap ini menyangkut tim atau personel yang akan
melakukan audit terhadap organisasi sektor publik maupun regulasi dalam menjalankan
proses audit.
6. Penerimaan Regulasi Organisasi Yang Akan Diaudit
10

Kemudian regulasi yang telah diterbitkan tersebut akan diterima oleh lembaga pemeriksa
sehingga bisa melakukan proses audit di lembaga atau organisasi sektor publik.
7. Survei Awal Karakter Industri/Organisasi Yang Akan Diaudit
Tahapan selanjutnya dalam siklus audit audit sektor publik ini adalah survei awal
terhadap karakter industri/organisai yang akan diaudit.
8. Pembuatan Program Audit
Untuk setiap area yang diaudit, auditor harus menyusun langkah-langkah audit yang
akan dilakukannya. Langkah-langkah ini tertuang dalam program audit.
9. Penerbitan Surat Tugas Audit
Pihak organisasi sektor publik segera mengeluarkan surat tugas kepada lembaga
pemeriksa untuk melaksanakan audit.
10. Pelaksanaan Audit Keuangan
Dalam melaksanakan audit keuangan, auditor melakukan hal-hal berikut:
1) Menilai Pengendalian Internal
2) Melakukan Prosedur Analtis
11. Pembuatan Daftar Temuan
Setelah melakukan kegiatan pelaksanaan audit, auditor biasanya mendapatkan
temuan-temuan terkait dengan keuangan klien. Temuan-temuan tersebut kemudian didaftar
sebagai bukti dalam penyampaian pendapat nantinya.
12. Pembicaraan Awal Tentang Daftar Temuan
Berdasarkan temuan-temuan di lapangan , kemudian auditor melakukan pembicaraan
dengan pimpinan organisasi sektor publik terkait temuan-temuan tersebut. Dalam tahapan ini,
auditor akan melakukan cross-check atas hasil temuannya dengan fakta yang terjadi di
lapangan.
13. Penyusunan Draft Laporan Hasil Pemeriksaan
Setelah hasil temuan hasil auditor di bicarakan atau melakukan cross-check dengan
pejabat organisasi sektor publik, auditor kemudian menyusun draft laporan hasil
pemeriksaan.
14. Pembahasan Draft Laporan Hasil Pemeriksaan Dengan Organisasi Yang Diaudit
Dalam tahapan ini, auditor memastikan apa yang telah di susun di dalam draft laporan
hasil pemeriksaan sudah selesai dengan fakta yang terjadi di lapangan.
15. Penyelesaian Laporan Hasil Pemeriksaan
11

Setelah melakukan pembahasan draft laporan hasil pemeriksaan dan di pastikan


kellengkapan serta kesepakatan mengenai draft tersebut sudah tercapai, kemudian akan di
lakukan penyelesaian atau finalisasi draft tersebut menjadi laporan hasil pemeriksaan akhir.
16. Tindak Lanjut Temuan Laporan Hasil Pemeriksaan
Berdasarkan temuan-temuan yang ada di lapangan, auditor melakukan tindak lanjut
atau dengan kata lain, memberikan rekomendasi perbaikan kepada organisasi sektor publik.
17. Penerbitan laporan hasil pemeriksaan
Tahapan terakhir dari siklus audit keuangan adalah penerbitan laporan hasil
pemeriksaan kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap organisasi yang telah
di audit tersebut.

C. Tekhnik Audit Keuangan Sektor Publik


1) Prosedur analitis (Analitycal Procedures)
Prosedur analitis terdiri dari penelitian dan perbandingan hubungan diantra data. Prosedur
ini meliputi perhitungan dan penggunaan rasio-rasio sederhana, analisis vertikal, atau laporan
persentase, perbandingan jumlah yang sederhana dengan data historis atau anggaran, serta
penggunaan model matematis dan statistik, seperti analisis regresi.

Contoh prosedur analitis adalah membandingkan item belanja menurut anggaran dan item
realisasi belanja. Hasil perbandingan itu akan menunjukan ada tidaknya penyimpangan
jumlah realisasi belanja dari jumlah yang dianggarkan sebelumnya.

2) Inspeksi (Inspecting)
Inspeksi meliputi pemeriksaan yang rinci terhadap dokumen dan catatan serta
pemeriksaan sumber daya berwujud. Prosedur ini digunakan secara luas dalam auditing.
Inspeksi seringkali digunakan dalam mengumpulkan dan mengevalusai bukti, baik bottom-up
mapun top-down. Dengan melakukan inspeksi atas dokumen, auditor dapat menentukan
ketepatan persyaratan dalam faktur atau kontrak yang memerlukan pengujian bottom –up atas
akuntansi transaksi tersebut. Pada saat yang sama, auditor seringkali mempertimbagkan
implikasi bukti dalam konteks pemahaman faktor-faktor ekonomi dan persaingan entitas.
Contoh kegiatan inspeksi adalah pemeriksaan terhdap bukti-bukti transaksi seperti
rekening bank, kwitansi atau tanda terima lainnya untuk mengevaluasi apakah transaksi yang
dilakukan telah sesuai atau menyimpang dari rencana dan anggaran yang telah ditetapkan.
12

3) Konfirmasi (Confirming)
Kegiatan konfirmasi adalah bentuk kegiatan keterangan yang memungkinkan auditor
memperoleh informasi secara langsug dari sumber independen di luar organisasi sektor
publik yang di audit. Dalam kasus yang lazim, klien (organisasi yang di audit) mengajukan
permintaan kepada pihak luar secara tertulis, namun auditor yang mengirimkan permintaan
keterangan tersebut.
Contoh kegiatan konfirmasi adalah meminta keterangan kepada bendahara pengeluaran
terkait bukti-bukti transaksi pembelian atau pengalokasian anggaran yang telah dilakukannya.
Kegiatan ini akan mengajukan apakah bukti transaksi tersebut fiktif atau benar adanya. Selain
keteranagn-keterangan lainya terkait bukti tersebut.

4) Permintaan keterangan (Inquiring)


Kegiatan ini meliputi permintaan keterangan secara lisan maupun tertulis oleh auditor.
Permintaan keterangan tersebut biasanya ditunjukan kepada manajemen atau karyawan
organisasi sektor publik, yang umumnya berupa pernyataan-pernyataan yang timbul setelah
dilaksanakannya prosedur analitis. Auditor juga dapat secara langsung meminta keterangan
kepada pihak external.

Contoh kegiatan permintaan keterangan adalah auditor meminta keteragan bendahara


pengeluaran atas ketidaksesuaian jumlah pengeluaran (berdasarkan bukti transaksi yang ada)
dengan jumlah anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

5) Perhitungan (Counting)
Dua aplikasi yang paling umum adalah perhitungan (counting) adalah (1) perhitungan
fisik sumber daya berwujud, seperti jumlah kas dan persediaan yang ada dan (2) akuntansi
seluruh dokumen, dengan nomor urut yang telah dicetak (prenumbered). Hal pertama
menyediakan cara untuk mengevaluasi bukti fisik tentang jumlah yang ada. sementara yang
ke dua dapat dipandang sebagai penyediaan cara untuk mengevaluasi pengendalian internal
organisasi melalui bukti yang objektif tentang kelengkapan catatan akuntansi.
Contoh kegiatan perhitungan adalah auditor menghitung asset yang telah dibeli bagian
pengadaan berdasarkan bukti transaksi yang ada.

6) Penelusuran (Tracing)
13

Dalam penelusuran seringkali disebut penelusuran ulang, auditor (1) memilih dokumen
yang dibuat pada saat transaksi dilaksanakan, dan (2) menentukan bahwa informasi yang
diberikan oleh dokumen tersebut telah dicatat dengan benar dalam catatan akuntansi (jurnal
dan buku besar). Arah pengujian prosedur ini berawal dari dokumen menuju ke catatan
akuntansi, sehingga menelusuri kembali asal-usul aliran data melalui sistem akuntansi.
Contoh kegiatan penelusuran adalah auditor membandingkan antara angka yang tertera
dalam kwitansi transaksi yang telah dilakukan dan jumlah angka yang tertera dalam jurnal.
Hal ini menunjukan apakah ada kesesuaian penyajian, yaitu penyajian yang lebih rendah atau
yang lebih tinggi.

7) Pemeriksaan bukti pendukung (Vouching)


Pemeriksaan bukti pendukung meliputi
 pemilihan ayat jurnal dalam catatan akuntansi, dan
 mendapatkan serta memeriksa dokumen yang digunakan sebagai dasar ayat jurnal
tersebut untuk menentukan validitas dan ketelitian pencatatan akuntansi. Dalam
melakukan vouching, arah pengujian berlawanan dengan yang digunakan dalam
penelusuran. Prosedur pemeriksaan bukti pendukung digunakan secara luas untuk
mendeteksi salah saji berupa penyajian yang lebih tinggi dari yang sebenarnya
dalam pencatatan akuntansi.
Contoh kegiatan pemeriksaan bukti pendukung adalah auditor memilih ayat jurnal
“Pembelian ATK” dijurnal, kemudian membandingkanya dengan kwitansi pembelian ATK
tersebut atau tanda pembelianya.

8) Pengamatan (observing)
Pengamatan berkaitan dengan memerhatikan dan menyaksikan pelaksanaan beberapa
kegiatan atau proses. Kegiatannya berupa pemrosesan rutin atau jenis transaksi tertentu,
seperti penerimaan kas, untuk melihat apakah para pekerja sedang melaksanakan tugas yang
telah diberikan sesuai dengan kebijakan dan prosedur organisasi sektor publik. Pengamatan
sangat terutama untuk memperoleh pemahaman atas pengendalian internal.
Contoh kegiatan pengamatan adalah auditor mengamati kegiatan bendahara gaji
dalam menjurnal ketika mengeluarkan gaji kepada para pegawai.

9) Pelaksanaan ulang (Reforming)


14

Salah satu prosedur audit yang penting adalah pelaksanaan ulang perhitungan dan
rekonsiliasi ynag dilakukan oleh organissasi sektor publik yang di audit. Contohnya adalah
menghitung ulang total jurnal, beban penyusutan, dan lain-lain. Auditor juga dapat
melakukan ulang beberapa aspek pemrosesan transaksi tertentu untuk menentukan bahwa
pemrosesan awal sudah sesuai dengan pengendaliaan internal yang sudah dirumuskan.
Contoh kegiatan pelaksaaan ulang adalah auditor menghitung ulang penyusutan
kendaraan milik organisasi berdasarkan umur ekonomis yang sebenarnya, kemudian
dibandingkan dengan pencatatan beban peyusutan kendaraan yang telah dilakukan.

10) Teknik audit berbantuan computer (computer-assisted audit techniques)


Apabila catatan akuntansi organisasi sektor publik dilaksanakan melalui media elektronik,
maka auditor dapat menggunakan teknik ini untuk membantu melaksanakan beberapa
prosedur yang telah diuraikan sebelumnya.
Contoh kegiatan audit berbantukan komputer adalah auditor dengan bantuan komputer
memeriksa angka-angka dalam file jurnal bendahara dan membandingkanya dengan kwitansi
pendapatan, dan bukti –bukti transaksi lainya.

11) Pengujian pengendalian


Terdapat dua jenis pengujian pengendalian, yaitu:
 Pengujian pengendalian yang berkaitan langsung dengan keefektifan desain kebijakan
atau posedur dan apakah benar–benar digunakan dalam kegiatan organisasi
 Pengujian pengendalian yang berkaitan dengan keefektifan kebijakan dan prosedur
serta bagaiman pengaplikasiannya, konsistensinya dengan aplikasi terdahulu dan oleh
siapa aplikasi itu dilaksanakan selama satu periode.
Contoh kegiatan pengujian pengendalian adalah auditor membandingkan dokumen SOP
atau petunjuk teknis pegawai, dan mengamati pelaksaannya dilapangan. Pengendalian akan
dianggap baik jika SOP atau petunjuk teknis mampu memberikan pedoman bagi pelaksanaan
tugas-tugas pegawai, pegawai mudah memahaminya dan mengaplikasikannya pada setiap
pekerjaanya secara konsisten.

12) Pengujian substansif


Dua kateegori umum pengujian substansif adalah:
15

 Prosedur analitis, yang merupakan prosedur dalam penyediaan bukti–bukti tentang


validitas perlakuan akuntansi atas transaksi dan neraca, atau sebaliknya tentang
kesalahan atau ketidak beresan yang terjadi;
 Pengujian terinci atas transaksi atau neraca merupakan pengujian untuk menyediakan
bukti-bukti tentang validitas perlakuan akuntansi atas transaksi dan neraca atau
sebaliknya atas kesalah dan ketidak beresan yang terjadi.
Contoh kegiatan pengujian substantive adalah auditor memeriksa secara rinci angka dan
jumlah transaksi yang telah terjadi,dimulaidari memeriksa seluruh bukti tranaksi,catatan
dalam jurnal, posting dalam buku besar, hingga laporan yang telah jadi dengan demikian
dapat ditemukan apakah ada kesalah atau ketidak beresan.

2.2. AUDIT KINERJA (PERFORMANCE AUDIT)


1. Pengertian Audit Kinerja dan Regulasi

Audit kinerja dapat dilaksanakan oleh external auditor maupun internal auditor.
Sesuai amanat UU No. 15 Tahun 2004 dan PP No. 60 Tahun 2008. UU No. 15 Tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara memberikan
mandat dan kewenangan kepada BPK – sebagai lembaga pemeriksa eksternal – untuk
melaksanakan audit kinerja. Di sisi lain, PP No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah juga memberikan kewenangan pada Aparat Pengawas Intern Pemerintah
untuk melaksanakan audit kinerja, sebagai suatu bentuk pengawasan. Dengan demikian,
auditor eksternal dan auditor internal perlu berkoordinasi dalam melaksanakan audit kinerja.
Jangan sampai terjadi overlapping. Keduanya harus menjaga hubungan dan komunikasi yang
harmonis agar tercipta konfigurasi audit kinerja yang baik.

Audit kinerja adalah suatu proses yang sistematis untuk menilai pencapaian kinerja
tugas dan fungsi entitas sektor publik dan membandingkannya dengan kriteria yang
ditetapkan serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
"Audit kinerja merupakan metamorfosis dari audit intern (internal audit) yang kemudian
berkembang menjadi audit operasional (operational audit) dan selanjutnya menjadi audit
manajemen (management audit). Audit manajemen berfokus pada penilaian aspek ekonomi
dan efisiensi. Audit manajemen kemudian dilengkapi dengan audit program (program audit)
yang bertujuan untuk menilai efektivitas. Koalisi antara audit manajemen dan audit program
inilah yang disebut sebagai audit kinerja (performance audit)."
16

Audit kinerja merupakan salah satu jenis audit yang dilakukan sebagai pengembangan
diri audit keuangan. Audit kinerja untuk menilai tingkat keberhasilan kinerja suatu
Kementerian/Lembaga Pemerintah, untuk memastikan sesuai atau tidaknya sasaran yang
kegiatan yang menggunakan anggaran. Oleh karena audit kinerja (performence audit
merupakan perluasan dari audit keuangan yang meliputi : ekonomi, efisien dan efektifitas,
maka auditor yang akan melaksanakan kegiatan harus memperoleh informasi tentan
organisasi, meliputi struktur organisasi, prosedur kerja dan sistem informasi dan pelaporan
keuangan dan kegiatan kepada manajemen.

2. Sasaran dan Ruang Lingkup Audit Kinerja

Sasaran audit kinerja adalah laporan kinerja/realisasi pelaksanaan sektor publik.


Adapun ruang lingkup audit kinerja meliputi pengujian atas kinerja tugas dan fungsi sektor
publik. Audit kinerja juga dapat dilakukan atas program, atau kegiatan sektor publik,
tergantung pada keinginan pimpinan/manajemen atau pihak berkepentingan yang berwenang.

3. Karakteristik Audit Kinerja

Karakteristik audit kinerja adalah sesuatu yang hanya dimilki oleh audit kinerja, yang
membedakan audit kinerja dengan jenis audit lainnya. Beberapa karakteristik audit kinerja
antara lain:

a) Audit kinerja berusaha mencari jawaban atas dua pertanyaan dasar berikut.
1) Apakah sesuatu yang benar telah dilakukan (doing the right things)?
2) Apakah sesuatu telah dilakukan dengan cara yang benar (doing the things
right)
b) Proses audit kinerja dapat dihentikan apabila pengujian terinci dinilai tidak akan
memberikan nilai tambah yang signigikan bagi perbaikan manajemen atau kondisi
internal lembaga audit dinilai tidak mampu untuk melaksanakan pengujian terinci

Professor Soermardjo Tjitrosidojo (1980) memberikan karakteristik audit kinerja sebagai


berikut :

 Pemeriksaaan operasional, dengan menggunakan perbandingan


 Pemeriksaan haruslah wajar , objektif dan realistis;
 Pemeriksa (atau setidak-tidaknya tim pemeriksa secara kolektif) harus mempunya
pengetahuan keterampilan dari berbagai macam bidang
17

 Agar pemeriksaan dapat berhasil dengan baik, pemeriksa harus dapat berpikir dengan
menggunakan sudut pandang pejabat pimpinan organisasi yang diperiksanya,
 Pemeriksasan operasional harus dapat berfungsi sebagai suatu “early warning system”

4. Jenis - jenis audit kinerja

a) Audit Program (Audit Efektivitas)

Audit program mencakup penentuan atas :

Tingkat pencapaian hasil program yang diinginkan atau manfaat yang telah ditetapkan
oleh undang-undang atau badan lain yang berwenang serta efektivitas kegiatan entitas,
pelaksanaan program, kegiatan, atau fungsi instansi yang bersangkutan. Contoh
pelaksanaan audit program antara lain :

Menilai tujuan program, baik yang baru maupun yang sudah berjalan, untuk menentukan
apakah tujuan tersebut sudah memadai dan tepat/relevan dan menentukan tingkat
pencapaian hasil program yang diinginkan.

b) Audit Ekonomi dan Efisiensi (Management and Operational Audit)

Audit ekonomi dan efisiensi berfungsi untuk:

Untuk menentukan entitas telah memperoleh, melindungi, dan menggunakan sumber


dayanya (seperti karyawan, gedung, ruang, dan peralatan kantor) secara hemat dan
efisien, untuk menentukan yang menjadi penyebab timbulnya pemborosan dan efisiensi
serta untuk menentukan entitas tersebut telah mematuhi peraturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan penghematan dan efisiensi. Audit ekonomi dan efisiensi dapat
mempertimbangkan apakah entitas yang diaudit telah:

c) Audit Operasional

Audit operasional merupakan penelahaan secara sistematik aktivitas operasi organisasi


dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Dalam audit operasional, auditor diharapkan
melakukan pengamatan yang obyektif dan analisis yang komprehensif terhadap
operasional-operasional tertentu. Tujuan audit operasional adalah untuk :

Menilai kinerja, kinerja dibandingkan dengan kebijakan-kebijakan, standar-standar, dan


sasaran-sasaran yang ditetapkan oleh manajemen dan memberikan rekomendasi untuk
18

perbaikan atau tindakan lebih lanjut. Pihak-pihak yang mungkin meminta dilakukannya
audit operasional adalah manajemen dan pihak ketiga. Hasil audit operasional diserahkan
kepada pihak yang meminta dilaksanakannya audit tersebut.

d) Audit Manajemen

Menurut American Institute of Certified Public Accountant /AICPA definisi audit


manajemen adalah Pemeriksaan manajemen adalah suatu penelaahan yang sistematis
terhadap aktivitas suatu organisasi, atau suatu segmen tertentu daripadanya, dalam
hubungannya dengan tujuan tertentu, dengan maksud untuk : menilai kegiatan,
mengidentifikasikan berbagai kesempatan untuk perbaikan, mengembangkan
rekomendasi bagi perbaikan atau tindakan lebih lanjut.

5. Tahapan Audit Kinerja

Tahapan audit kinerja yang sistematis perlu ditetapkan untuk menjamin mutu hasil
audit. Setiap tahap audit mempunyai prosedur atau langkah kerja yang harus dilaksanakan
auditor agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang telah direncanakan. Prosedur tersebut
harus dituangkan dalam program audit. Pengembangan prosedur dapat dilakukan oleh auditor
sesuai dengan kondisi di lapangan.

Tahapan audit kinerja meliputi :

1) Perencanaan
Perencanaan audit kinerja perlu dibuat secara matang untuk menunjang
kesuksesan audit. Tujuan perencanaan audit kinerja antara lain adalah untuk
menentukan: jumlah staf auditor yang diperlukan, waktu yang dibutuhkan,
program audit, prosedur-prosedur audit, serta bentuk dan isi laporan hasil
audit.
2) Pelaksanaan
Pelaksanaan audit, pada dasarnya adalah penerapan langkah kerja (audit
program) yang telah dirancang dan dirumuskan. Dalam tahap pelaksanaan ini
juga dilakukan pengujian terbatas atas unsur-unsur pengendalian manajemen
yang diterapkan oleh auditan.
3) Pelaporan
Laporan hasil audit kinerja sektor publik merupakan dokumen atau media
komunikasi yang digunakan oleh auditor untuk menyampaikan informasi
19

tentang simpulan, temuan, dan rekomendasi hasil audit kinerja atas


pelaksanaan tugas dan fungsi suatu entitas. Laporan ini memuat hasil
pengukuran kinerja yang obyektif serta saran untuk peningkatan kinerja.
4) Tindak Lanjut
Kinerja sektor publik diharapkan dapat meningkat melalui penerapan
rekomendasi, sehingga dibutuhkan suatu pendekatan yang konsisten dan
sistematis dalam hal menindaklanjuti hasil audit kinerja. Untuk itu perlu
dilakukan pemantauan tindak lanjut atas rekomendasi yang disampaikan
melalui Laporan Hasil Audit Kinerja.

6. Metode Audit Kinerja yang dapat Digunakan

Beberapa metodologi pengukuran kinerja yang digunakan dalam audit kinerja, antara
lain sebagai berikut:

1. Balanced Scorecard (BSC)

2. Integrated Performance Management System (I-PMS)

3. Kerangka kerja “Program Logic”

7. Manfaat Audit Kinerja

Audit kinerja sangat dibutuhkan karena dapat memberikan manfaat kepada


manajemen untuk hal-hal sebagai berikut: pertama mendapatkan keyakinan yang memadai
terhadap kinerja instansi/kegiatan/program, kedua memberikan informasi untuk memperbaiki
kinerja, dan ketiga memberikan rekomendasi berupa langkah-langkah untuk memperbaiki
permasalahan yang ditemukan dalam rangka meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan
keekonomisan.

Perbedaan Antara Audit Kinerja dan Audit Keuangan

Aspek Audit Kinerja Audit Keuangan

Tujuan Menilai apakah auditee telah Menilai apakah akun-akun benar


mencapai tujuan atau harapan yang dan disajikan secara wajar
ditetapkan.
20

Fokus Program dan kegiatan organisasi Sistem akuntansi dan sistem


manajemen

Dasar Akademik Ekonomi, Ilmu Politik, Sosiologi, Akuntansi


dan lain-lain

Metode Bervariasi antara satu proyek dan Kurang lebih telah


proyek lainnya. terstandarisasi.

Kriteria Penilaian - Lebih subjektif - Kurang subjektif

- Terdapat kriteria yang unik untuk - Kriteria untuk semua kegiatan


masing-masing audit. audit.

Laporan - Struktur dan isi laporan bervariasi. - Bentuk laporan kurang lebih
terstandarisasi
- Dipublikasikan secara tidak tetap
(ad hoc basis). - Dipublikasikan secara berkala.

2.3. Ruang Lingkup Audit dengan Tujuan Tertentu


Pada instansi pemerintah pemeriksaan atau audit yang dilakukan oleh auditor ataupun
satuan pengawas internal seperti Inspektorat, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan
(BPKP) atau pengawas eksternal seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah hal yang
biasa dalam rangka pembinaan, pengawasan dan menjaga agar standar operasional prosedur
yang telah ditetapkan dijalankan sesuai aturan yang berlaku.

Audit sebenarnya sangat baik dalam rangka meningkatkan kinerja, disiplin pegawai
dan menghindari kesalahan yang terulang. Dalam pelaksanaannya audit dilakukan dengan
tujuan tertentu. Dalam undang-undang Nomor 15 tahun 2004 pasal 4 ayat 1 dinyatakan
pemeriksaan terdiri atas pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan tujuan
tertentu (PDTT). Penjelasan Undang-Undang No.15 Tahun 2004 menyatakan pengertian
PDTT adalah pemeriksaan dengan tujuan khusus, diluar pemeriksaan keuangan dan kinerja.
Termasuk dalam pemeriksaan dengan tujuan tertentu ini adalah pemeriksaan atau hal-hal lain
yang berkaitan dengan keuangan dan pemeriksaan investigatif

Secara definisi, pemeriksaaan dengan tujuan tertentu merupakan pemeriksaan yang


dilakukan dengan tujuan khusus, di luar pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja.
21

Hasil pemeriksaan dengan tujuan tertentu adalah kesimpulan.Sesuai dengan definisinya, jenis
audit dapat berupa semua jenis audit selain audit keuangan dan audit operasional. Dengan
demikian, termasuk dalam jenis audit tersebut termasuk diantaranya adalah audit ketaatan,
audit fraud dan audit investigatif.

Tujuan dari dilakukannya audit ini adalah adanya hasil yang hendak dicapai dari suatu
audit. Tujuan audit mempengaruhi jenis audit yang dilakukan. Secara umum audit dilakukan
untuk menentukan peristiwa sebagai berikut :

 Informasi keuangan dan operasi telah akurat dan dapat diandalkan serta telah disusun
sesuai dengan standar yang mengaturnya.

 Risiko yang dihadapi organisasi telah diidentifikasi dan diminimalisasi

 Peraturan ekstern serta kebijakan dan prosedur intern telah dipenuhi

 Kriteria operasi yang memuaskan telah dipenuhi

 Sumber daya telah digunakan secara efisien dan diperoleh secara ekonomis, dan

 Tujuan organisasi telah dicapai secara efektif

Didalam audit dengan tujuan tertentu akan menemukan fraud(kecurangan) yang


dilakukan. Menurut W. Steve Albrecht dalam Fraud Examination menjelaskan bahwa
terdapat 4 pilar utama dalam memerangi fraud, yaitu:

 Pencegahan fraud (fraud prevention)

 Pendeteksian dini (early fraud detection)

 Investigasi fraud (fraud investigation)

 Penegakan hukum atau penjatuhan sanksi (follow up legal action)

Hasil pemeriksaan auditor dituangkan dalam bentuk laporan hasil pemeriksaan (LHP)
yang memuat temuan, kesimpulan, rekomendasi. Setiap temuan dapat terdiri atas satu lebih
permasalahan seperti kelemahan Satuan Pengawas Internal (SPI), ketidakpatuhan tertentu
terhadap ketentuan peraturan perundang undangan yang mengakibatkan kerugian
Negara/daerah, kekurangan penerimaan , penyimpangan administrasi , ketidakhematan,
ketidakefesienan, dan ketidak efesienan.
22

Setiap permasalahn merupakan bagian dari temuan dalam ihtisar hasil pemeriksaan
disebut dengan "kasus" Namun istilah kasus disini tidak selalu berimplikasi hukum atau
berdampak finansial.Hal ini disebabkan terkadang kesalahan disebabkan karena kekurang
tahuan atau ketidakpahaman pejabat akan proses pelaksanaan kegiatan yang menjadi hak dan
tanggung jawabnya untuk itu diperlukan pembinaan dari instansi pengawas secara rutin
karena mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

Pada prinsipnya tujuan yang ingin dicapai dari audit dengan tujuan tertentu dengan
audit lainnya adalah hasil yang berupa kesimpulan. Perbedaannya hanya dalam langkah-
langkah pelaksanaan dalam audit tersebut, diantaranya sebagai berikut:

1. Dasar pelaksanaannya, contoh audit operasional ataupun audit kinerja

2. Langkah-langkah dalam melaksanakannya. Contoh dalam pelaksanaan audit kinerja


ataupun audit operasional tidak berubah-ubah dalam langkahnya.

Standar Pemeriksaan

Standar Pemeriksaan menetapkan standar pelaksanaan tambahan pemeriksaan dengan


tujuan tertentu, yaitu :

1. Komunikasi pemeriksa

2. Pertimbangan terhadap hasil pemeriksaan sebelumnya

3. Pengendalian Intern

4. Merancang pemeriksaan untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan dari kesatuan


peraturan perundang-undang: kecurangan (fraud), serta ketidak patutan (abuse)

5. Dokumen Pemeriksa

Pengendali Intern

Dalam merencanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu dalam bentuk eksaminasi


dan merancang prosedur untuk mencapai tujuan pemeriksaan, pemeriksa harus memperoleh
tujuan pemeriksaan, pemeriksa harus memperoleh pemahaman yang memadai tentang
pengendalian intern yang sifatnya material tentang pengendalian intern yang sifatnya material
terhadap hal yang dipaksa.
23

BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Selama ini sektor publik/pemerintah tidak luput dari tudingan sebagai sarang korupsi,
kolusi, nepotisme, inefisiensi dan sumber pemborosan negara, padahal sektor publik
merupakan lembaga yang menjalankan roda pemerintahan yang sumber legitimasinya berasal
dari masyarakat. Oleh karena itu, kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada
penyelenggara pemerintahan haruslah diimbangi dengan adanya pemerintahan yang bersih.
Seiring dengan munculnya tuntutan dari masyarakat agar organisasi sektor publik
mempertahankan kualitas, profesionalisme dan akuntabilitas publik serta value for money
dalam menjalankan aktivitasnya, diperlukan audit terhadap organisasi sektor publik tersebut.
Akan tetapi, audit yang dilakukan tidak hanya terbatas pada audit keuangan dan kepatuhan
saja, namun perlu diperluas dengan melakukan audit terhadap kinerja organisasi sektor publik
tersebut.
Audit kinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian
ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi yang diaudit. Audit kinerja
merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara
obyektif, agar dapat melakukan penilaian secara independen atas ekonomi dan efisiensi
operasi, efektifitas dalam pencapaian hasil yang diinginkan dan kepatuhan terhadap
kebijakan, peraturan dan hukum yang berlaku, menentukan kesesuaian antara kinerja yang
telah dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta mengkomunikasikan
hasilnya kepada pihak-pihak pengguna laporan tersebut.
Kemampuan mempertanggungjawabkan (akuntabilitas) dari sektor publik pemerintah
sangat tergantung pada kualitas audit sektor publik. Tanpa kualitas audit yang baik, maka
akan timbul permasalahan, seperti munculnya kecurangan, korupsi, kolusi dan berbagai
ketidakberesan di pemerintahan. Kualitas audit sektor publik dipengaruhi oleh kapabilitas
teknikal auditor serta independensi auditor baik secara pribadi maupun kelembagaan. Untuk
meningkatkan sikap independensi auditor sektor publik, maka kedudukan auditor sektor
publik harus terbebas dari pengaruh dan campur tangan serta terpisah dari pemerintah, baik
secara pribadi maupun kelembagaan.
24

DAFTAR PUSTAKA

1. Bastian, Indra. 2010. Akuntansi Sektor Publik. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Penerbit Erlangga
2. Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta. Penerbit Andi
3. http://aparatpengawasinternpemerintah.blogspot.com/2014/04/audit-kinerja-pemerintah.html
4. http://spi.uin-alauddin.ac.id/index.php/2016/12/05/audit-dengan-tujuan-tertentu/
5. http://klikjun.blogspot.com/2008/04/sinopsis-audit-kinerja-sektor-publik.html
6. http://nirajinri.blogspot.com/2013/06/ruang-lingkup-audit-kinerja.html
7. http://id-jurnal.blogspot.com
8. http://suhardi.uap.ac.id