Anda di halaman 1dari 22

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN EKONOMI INKLUSIF


Pembangunan ekonomi yang inklusif pada dasarnya adalah pembangunan
ekonomi yang dapat memberikan kontribusi bagi mayoritas rakyat Indonesia.
Besarnya jumlah tenaga kerja Indonesia di sektor pertanian sering diasosiasikan
sebagai sektor yang perlu didorong untuk membangun ekonomi yang inklusif. Selain
sektor pertanian, banyak pihak yang sudah menyampaikan pentingnya peran UMKM
dalam mendorong perekonomian Indonesia. Pemerintah harus menekankan
pentingnya ekonomi yang bersifat inklusif.
Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, banyak yang terjebak dalam
ekonomi ekslusif yaitu keinginan untuk mengejar taraf perekonomian negara-negara
maju dengan mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi terutama dengan
memacu pertumbuhan ekonomi sektor sekunder (industri manufaktur) dan tersier
(industri jasa). Kedua sektor tersebut memberikan kontribusi yang tinggi dalam
pertumbuhan ekonomi tetapi hanya menyerap sedikit tenaga kerja. Disisi lain yakni di
sektor primer, terutama sektor pertanian, kurang mendapatkan perhatian padahal
sektor tersebut banyak sekali menyerap tenaga kerja. Akibatnya terjadilah
ketimpangan pendapatan antar penduduk yang bekerja pada sektor pertanian dengan
sektor manufaktur dan jasa. Hal ini terbukti dengan data pertumbuhan ekonomi dari
BPS pada tahun 2011 sebesar 6,2% menjadi 5,0% pada tahun 2016, sedang Indeks
Gini tetap berada pada kisaran 0,41 sampai dengan awal tahun 2016. Hal ini
menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi tidak secara
otomatis mereduksi ketimpangan ekonomi sosial. Demikian juga apabila dilihat dari
konstribusi pertumbuhan ekonomi juga masih menunjukkan adanya ketimpangan.
Kontribusi PDB Jawa dan Sumatera sebesar 80,4% (2016) sedangkan wilayah lainnya
yaitu Kalimantan (7,7%), Sulawesi (6,2%), Papua (2,5%) dan Bali Nusa Tenggara
(3,5%). Dari data tersebut tampak sekali adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi
dari tahun ke tahun namun kondisi tersebut juga dibarengi dengan peningkatan
kesenjangan kekayaan antarpenduduk, peningkatan Indeks Gini dan pengurangan
kesenjangan antar wilayah. Dampak dari kondisi tersebut masyarakat berpenghasilan
rendah akan semakin tertinggal jauh oleh masyarakat kelas menengah dan atas.
Menurut Prof. Roemer, tingginya ketimpangan (ataupun tren perubahannya)
dalam masyarakat dapat disebabkan oleh:
1). Ketimpangan dalam usaha, kerja keras, dan talent individu;
2). Ketimpangan dalam opportunity (kesempatan); dan
3). Kebijakan.
Berdasarkan pernyataan diatas perlu digaris bawahi bahwa upaya mengatasi
ketimpangan lebih diutamakan untuk mengatasi ketimpangan kesempatan dalam
berusaha, bukan mengatasi ketimpangan dalam memperoleh pendapatan (outcome)
dan konsumsi. Pemerintah sejatinya telah mengusahakan agar ekonomi Indonesia
tidak hanya tumbuh dari sisi kuantitas, namun juga dari sisi kualitas. Pertumbuhan
ekonomi yang ekspansif diharapkan menjadi pendorong pembangunan inklusif yaitu
pembangunan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi
kemiskinan dan kesenjangan. Presiden RI ke 6 dalam Regional Meeting and
Stakedolder Consultation on the Post-2015 De velopment Agenda yang
diselenggarakan di Nusa Dua Bali Desember 2012 yang lalu, menyampaikan
pendapat bahwa Indonesia dan negara-negara lain harus menjalankan 'Pembangunan
Inklusif' agar dunia berhasil dalam mengurangi kemiskinan dan ketidakadilan global.
Beliau juga menyebutkan bahwa pembangunan inklusif adalah pembangunan yang
berkualitas, yaitu pembangunan yang memperhitungkan pertumbuhan (pro-growth),
penyerapan tenaga kerja (pro-job), mengurangi kemiskinan (pro-poor) dan
memperhatikan lingkungan (pro-environment).

B. EKONOMI INKLUSIF UNTUK MEREDUKSI KETIMPANGAN


Pemerintah perlu bekerja lebih keras lagi untuk mewujudkan ekonomi inklusif di
Indonesia, dengan berbagai kebijakan yang mendukung berkembangnya ekonomi
inklusif. Kementerian Keuangan sebagai bagian dari pemerintah dan pengelola
keuangan negara mempunyai peran yang sangat strategis dalam mengarahkan
berbagai kebijakan fiskal yang mendukung ekonomi inklusif. Sebagaimana
disebutkan oleh Musgrave and Musgrave (1989), peran keuangan negara mencakup
fungsi alokasi, distribusi dan stabilisasi. Fungsi-fungsi tersebut selanjutnya
diimplementasikan dalam berbagai kebijakan fiskal. Sebagai contoh: pemerintah
dapat menggunakan fungsi distribusi untuk mengarahkan pendapatan pajak yang
dipungut dari orang-orang mampu sebagai jaring pengaman sosial bagi masyarakat
miskin.
Melalui kebijakan fiskal, pemerintah dapat memastikan bahwa anggaran negara
dialokasikan lebih maksimum untuk mengatasi ketimpangan dalam memperoleh
kesempatan pada sektor pendidikan dan kesehatan. Hal ini bertujuan agar semua
warga negara, tanpa dibatasi oleh status sosial ekonomi dan letak geografi, dapat
memperoleh kesamaan kesempatan dalam bidang pendidikan dan layanan kesehatan.
Dampak selanjutnya yang diharapkan adalah terjadinya peningkatan pembangungan
manusia Indonesia secara merata. United Nation Development Program (UNDP)
memantau pembangunan manusia setiap negara dengan menerbitkan Human
Development Index (HDI) untuk mengatagorikan setiap negara menjadi negara
terbelakang, berkembang, dan maju. Dalam penilaian tahun 2014, Indonesia
menduduki peringkat 108 dari 187 negara dan dikategorikan negara berkembang. Di
kawasan ASEAN, posisi Indonesia masih di bawah Singapura, Brunei, Malaysia, dan
Thailand. Dengan pembangunan ekonomi inklusif terutama pada sektor kesehatan
dan pendidikan diharapkan dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat sekaligus
indeks pembangunan manusia.
Arah kebijakan fiskal lainnya mereduksi ketimpangan adalah mengarusutamakan
pembangunan infrastruktur. Dalam APBN 2017 pemerintah telah menganggarkan
Rp346,6 triliun untuk pembangunan infrastruktur. Nilai ini jauh lebih besar dari
anggaran tahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana diketahui infrastruktur sangat
bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi terutama dalam menciptakan konektifitas
antar daerah dan mempermudah aktivitas perekonomian. Infrastruktur yang tersedia
dengan baik akan membuka kesempatan bagi semua lapisan masyarakat untuk
melakukan aktifitas ekonomi. Selain itu, proses pembangunan infrastruktur
memerlukan banyak tenaga kerja dan membuka lapangan usaha baru yang menunjang
pembangunan infrastruktur tersebut, sehingga dapat mengangkat taraf kehidupan
masyarakat. Infrastruktur yang memadai juga akan menjadi penarik investasi yang
bermanfaat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Sebagai negara agraris, saat ini sebagian besar tenaga kerja Indonesia masih
diserap oleh sektor pertanian. Menurut data BPS, pada tahun 2014 jumlah tenaga
kerja sektor pertanian mencapai 35,54 juta orang. Sektor ini merupakan penyerap
tenaga kerja terbesar dengan persentase dari seluruh tenaga kerja mencapai 34,55%.
Bila disandingkan dengan data kemiskinan pada tahun yang sama, maka sebanyak
17,7 juta orang adalah penduduk miskin yang tinggal di desa dan kemungkinan besar
adalah para petani. Berdasarkan data-data di atas maka selayaknya bila pemerintah
mengarahkan kebijakan anggarannya agar lebih berpihak kepada sektor pertanian.
Pembangunan sektor pertanian tentu bukan hanya menbangun infrastrukturnya saja
seperti waduk dan saluran irigasi. Namun perlu juga dibangun SDM sektor pertanian,
agar sektor pertanian terus mengalami inovasi produk. Membangun sektor pertanian
secara intensif berarti telah mendukung pembangunan ekonomi inklusif. Selain itu,
membangun sektor pertanian juga mendukung ketahanan pangan nasional.

C. PILAR UTAMA PEMBANGUNAN EKONOMI INKLUSIF


Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro
mengatakan, saat ini belum ada konsep pembangunan ekonomi inklusif yang
disepakati secara nasional. Bahkan, masing-masing organisasi internasional memiliki
konsep yang berbeda. Asian Development Bank (ADB) misalnya, menjelaskan
pertumbuhan ekonomi inklusif ditopang oleh tiga pilar yaitu pertumbuhan yang tinggi
dan berkelanjutan untuk menciptakan dan memperluas peluang ekonomi, perluasan
akses untuk menjamin masyarakat dapat berpartisipasi dan mendapatkan manfaat dari
pertumbuhan; dan jaring pengaman sosial untuk mencegah kerugian ekstrim.
Sementara World Economic Forum (WEF) mendefinisikan ekonomi inklusif sebagai
suatu strategi untuk meningkatkan kinerja perekonomian dengan perluasan
kesempatan dan kemakmuran ekonomi, serta memberi akses yang luas pada seluruh
lapisan masyarakat. Namun konsep ekonomi pembangunan ekonomi inklusif yang
telah dikeluarkan berbagai institusi internasional, kata Bambang, belum
mencerminkan tujuan pembangunan Indonesia secara spesifik karena tidak adanya
fokus kepada isu ketimpangan (jender, wilayah, dan pendapatan) serta beberapa
indikator yang tidak selaras dengan indikator pembangunan Indonesia. "Karena itu,
kita kemudian menginisiasi Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif Tingkat Nasional
Tahun 2011-2017," ujar Bambang di kantonya, Rabu (18/7/2018). Menurut Bambang
yang juga dikenal sebagai ahli ekonomi pembangunan ini, Indeks Pembangunan
Ekonomi Inklusif Tingkat Nasional Tahun 2011-2017 terdiri dari tiga pilar, yang
meliputi pertumbuhan ekonomi; pemerataan pendapatan dan pengurangan
kemiskinan; serta perluasan akses dan kesempatan.
Untuk pilar pertama, yaitu pertumbuhan ekonomi, DKI Jakarta mendapatkan
indeks tertinggi sebesar 6,58, sedangkan provinsi dengan nilai indeks terendah pada
pilar pertumbuhan ekonomi adalah Papua, dengan capaian 2,99. Nilai indeks secara
nasional untuk pilar ini sebesar 5,17.
Untuk pilar kedua, yaitu pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan,
lagi-lagi DKI Jakarta memperoleh capaian tertinggi dengan nilai 7,31. Sedangkan
provinsi Papua memperoleh indeks terkecil dengan nilai 5,81. Nilai indeks secara
nasional untuk pilar kedua ini adalah sebesar 6,64. Terakhir, pilar ketiga, yaitu
perluasan akses dan kesempatan, menempatkan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai
provinsi dengan nilai tertinggi yaitu sebesar 6,69. Sedangkan provinsi yang paling
tidak inklusif dalam pilar ketiga ini adalah Banten dengan nilai 4,03. Nilai indeks
secara nasional untuk pilar ketiga adalah 5,05.
Saat ini, selain sedang dilakukan penyusunan dashboard Indeks Pembangunan
Ekonomi Inklusif Tingkat Nasional, Bappenas juga tengah mengembangkan Indeks
Pembangunan Ekonomi Inklusif untuk Tingkat Kabupaten/Kota.

D. RESPON TERHADAP MILLENIUM DEVELOPMENT GOALS (MDGS)


Millenium Development Goals (MDGs) merupakan deklarasi milenium hasil
kesepakatankepala negara dan perwakilan dari 189 negara yang berupa delapan
tujuan untuk dicapai padatahun 2015. Sejak disepakatinya pada bulan September
2000, MDGs telah menjadi suatu paradigmapembangunan hampir seluruh negara-
negara di dunia. Walaupun tujuan dan target MDGs tidakmengikat secara hukum,
namun banyak negara-negara tetap memantau pencapaiannya melaluibeberapa
indikator pencapaian di negaranya masing-masing. Hal ini menunjukan
komitmenmasyarakat global terhadap pelaksanaan MDGs.
Banyak pihak yang melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MDGs yang telah
diimplementasikan selama empat belas tahun di seluruh dunia. Walaupun masih
banyak hal yang belum dicapai, namun perlu diakui bahwa selama ini MDGs sudah
membawa perubahan besar didunia. MDGs telah menjadi saksi sejarah proses
pengurangan kemiskinan terbesar dalam sejarah manusia. Penduduk yang hidup di
bawah garis kemiskinan internasional, yaitu $1,25 per hari, sudah berkurang setengah
miliar. Laju kematian anak turun lebih dari 30 persen, dengan sekitar tiga juta jiwa
anak terselamatkan setiap tahunnya dibandingkan tahun 2000. Kematian akibat
malaria juga turun hingga seperempatnya (PBB, 2013).
Di Indonesia, pelaksanaan MDGs telah memberikan perubahan yang positif.
Walaupun masih ada beberapa target MDGs yang masih diperlukan kerja keras untuk
mencapainya, tetapi sudah banyak target yang telah menunjukan kemajuan yang
signifikan bahkan telah tercapai. Indonesia berhasil menurunkan proporsi penduduk
dengan pendapatan kurang dari US$ 1,00 (PPP) per kapita per hari dari 20,60 persen
pada tahun 1990 menjadi 5,90 persen pada tahun 2008. Pemerintah juga telah berhasil
menurunkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan lanjutan. Hal ini dapat dilihat
dari penurunan yang signifikan pada indikator rasio APM perempuan terhadap laki-
laki SMA/MA/Paket C dari 93,67 persen ada tahun 1993 menjadi 101,40 persen pada
tahun 2011. Selain itu, angka kejadian tuberkulosis di Indonesia sudah berhasil
mencapai target MDGs yaitu dari 343 pada tahun 1990 menjadi 189 kasus per
100.000 penduduk pada tahun 2011 (Bappenas, 2012).
Sebuah laporan satuan tugas PBB, yang mempersiapkan konferensi PBB
mengenai pembangunan berkelanjutan 2012 (yang juga dikenal dengan Rio+20),
memuji kemajuan pesat dalam pencapaian MDGs. Namun demikian laporan tersebut
masih tetap menyoroti kendala dan tantangan yang belum terselesaikan. Dalam
kerangka MDGs, lingkungan hanya disebutkan di bawah satu tujuan saja yakni tujuan
ke-7, Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup. Sebaiknya agenda pembangunan
selanjutnya dapat memperkuat peran sentral faktor lingkungan dan memperlakukan
faktor lingkungan sebagai dasar bagi semua hasil pembangunan. MDGs hanya fokus
pada hasil yang seharusnya dicapai oleh negara berkembang, seperti memerangi
kemiskinan dan kelaparan serta membatasi peran negara maju untuk memberikan
bantuan pembangunan dan pendampingan teknis.
Untuk agenda selanjutnya, banyak pihak yang menyuarakan tanggungjawab yang
bisa diterapkan di negara maju. MDGs juga hanya menekankan pada aksi di negara
berkembang dan kerangka bantuan tradisional. Kerjasama diantara sektor-sektor
penting seperti sektor swasta dan LSM transnasional justru jarang diwujudkan. Selain
itu, banyak tujuan yang semata-mata fokus pada kuantitas daripada kualitas hasil.
Misal keamanan pangan diukur dari akses terhadap makanan, bukan nutrisi.
Pendidikan diukur melalui jumlah siswa masuk bukan angka kelulusan.
Setelah melihat perubahan besar karena penerapan MDGs, negara-negara telah
memikirkan dan merancang suatu agenda pembangunan baru yang harus disiapkan
untuk menggantikan dan meneruskan MDGs. Banyak pihak yang berpendapat bahwa
agenda pembangunan yang menetapkan keberlanjutan dan kesetaraan harus lebih
diutamakan untuk menjadi agenda pembangunan selanjutnya. Suatu agenda
pembangunan yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengurangi
kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka. SDGs
menjadi suatu hal yang paling sering dibicarakan untuk dijadikan agenda
pembangunan selanjutnya.
Istilah SDGs diusulkan untuk menjadi agenda pembangunan global pertama kali
diusulkan oleh pemerintah Kolombia, Peru, Guatemala dan Uni Emirat Arab sebelum
konferensi Rio+20 pada tahun 2012. SDGs diharapkan menjadi suatu agenda
pembangunan yang akan menyelesaikan apa yang telah ditetapkan oleh MDGs dan
agenda pembangunan yang mampu menghadapi tantanga lama dan baru yang
semakin meningkat, setidaknya masalah perubahan iklim. SDGs juga diharapkan
menjadi suatu agenda transformasi yang akan membentuk kembali perkembangan
global yang bermanfaat bagi generasi yang akan datang. Sebagaimana hasil dari
Konferensi Pembangunan Berkelanjutan PBB 2012 (Rio20+) yang telah menegaskan
bahwa semua komunitas internasional harus melakukan pembangunan global dengan
cara dimana semua bangsa harus bertanggung jawab atas kesejahteraan manusia dan
planet.
Agar SDGs menjadi suatu agenda mampu mencakup semua kalangan, banyak
pertemuan yang telah dilakukan untuk mendapatkan masukan dan informasi dari
semua kalangan dalam menyusunnya. Pada tanggal 31 Juli 2012, Sekretaris Jendral
PBB memilih Presiden Bambang Yudhoyono sebagai co-chair High-Level Panel of
Eminent Persons (HLPEP) bersama David Cameron (PM Inggris) dan Ellen Johnson
Sirleaf (Presiden Liberia). HLPEP ini merupakan suatu forum yang diharapkan dapat
menjadi suatu kanal konsultatif yang diusahakan untuk menjadi kanal yang lebih
terbuka, inklusif, dan melibatkan berbagai pihak dalam merumuskan masukan terkait
agenda pembangunan pasca-2015. Inti dari agenda pembangunan yang disusun oleh
forum ini adalah mengakhiri kemiskinan ekstrim melalui pembangunan berkelanjutan
dan berkeadilan. Dari laporan HLPEP diusulkan 12 tujuan pembangunan
berkelanjutan.
Open Working Group (OWG) untuk tujuan pembangunan berkelanjutan yang
beranggotakan 30 anggota dan telah melakukan 13 kali pertemuan juga mengusulkan
17 tujuan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, Sustainable Development Solutions
Network (SDSN) di bawah pimpinan Jafrey Sach mengusulkan 10 tujuan, 30 target
dan 100 indikator untuk menjadi agenda pembangunan berkelanjutan. Sebagai upaya
untuk menjembatani usulan dari OWG dan SDSN, maka SDSN menyusun draft
laporan yang berjudul Mapping The SDSN Illustrative Indicators Against Zero Goals
Identified By The Open Working Group. Setelah itu, sampai saat ini, SDSN juga
melakukan kajian lebih lanjut agar bisa mengakomodasi usulan-usulan tersebut.
Saat ini dunia masih berupanya untuk menampung masukan dan menyusun suatu
agenda pembangunan berkelanjutan. Namun, ada hal penting dalam menunjang
keberhasilan pelaksanaan agenda pembangunan berkelanjutan, seperti ketersediaan
data yang dapat digunakan untuk mendukung, memantau dan mengimplementasikan
proses pembangunan berkelanjutan. Pada pelaksanaan MDGs, ketersediaan data telah
ditingkatkan, namun masih tetap dibutuhkan data yang lebih baik. Untuk mengatasi
hal ini, HLPEP menyarankan untuk melakukan revolusi data. Inti dari revolusi data
meliputi dua hal yakni intergrasi statistik baik di sektor publik maupun swasta dan
membangun kepercayaan antara masyarakat dan pemerintah melalui transparansi dan
akuntabilitas.
Untuk menindaklanjuti usulan-usulan tujuan pembangunan berkelanjutan dengan
berbagai macam indikator pemantaunya, maka publikasi ini diharapkan mampu
menjadi kajian awal untuk memetakan indikator, target dan tujuan SDGs yang telah
diusulkan dan mengetahui ketersediaan indikator-indikator tersebut di Indonesia.
Selain itu, publikasi ini juga diharapkan dapat memberikan informasi terkait
indikator-indikator pendekatan yang digunakan untuk memantau tujuanpembangunan
berkelanjutan.
a. SDGs dari High Level Panel For Eminent Person (HLPEP)
Untuk melakukan pembahasan khusus tentang agenda pembangunan
berkelanjutan, Sekjen PBB membentuk High-Level Panel ff Eminent Persons
On Post-2015 Development Agenda (HLPEP). HLPEP dibentuk sebagai
wujud inisiasi upaya persiapan agenda pembangunan pasca-2015 dan pada
tanggal 24-27 Maret 2013 telah melaksanakan Pertemuan Tingkat Tinggi di
Bali untuk mempersiapkan laporan yang akan diserahkan kepada Sekjen PBB
pada akhir Mei 2013. Panel ini diketuai bersama (co-chair) oleh Presiden RI,
Susilo Bambang Yudhoyono, Perdana Menteri Inggris, David Cameron dan
Presiden Liberia, Ellen Johnson-Sirleaf. Panel ini mencakup 26 tokoh
terkemuka dari pemerintah, sektor swasta, akademisi, masyarakat sipil dan
pemuda, serta berdasarkankeseimbangan geografis dan gender. Tujuan
HLPEP ini adalah memberikan saran serta rekomendasi kepada Sekjen PBB
mengenai visi dalam mengatasi tantangan pembangunan global. Selain itu,
HLPEP juga ditugaskan untuk menyusun laporan kepada sekjen PBB yang
memuat rekomendasi terkait visi dan bentuk agenda pembangunan pasca-2015
yang tegas dan lantang namun mudah dicapai.
Dalam laporannya yang berjudul A New Global Partnership: Erdicte
Poverty And Transform Economies Through Sustainable Development,
HLPEP mengusulkan 12 tujuan dengan 54 target pembangunan pasca-2015.
Namun, HLPEP belum menentukan indikator-indiktor dari tujuan dantarget
tersebut. Adapun tujuan dan target yang diusulkan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Mengakhiri kemiskinan
 Menurunkan jumlah orang yang hidup kurang dari $1,25 per hari ke
angka nol dan mengurangi sebanyak x% orang-orang yang hidup di
bawah garis kemiskinan nasional negara mereka di tahun 2015
 Menaikkan sebanyak x% perempuan dan laki-laki, masyarakat, dan
dunia usaha dengan menjamin hak atas lahan, properti, dan aset lainnya
 Melindungi sebanyak x% orang yang miskin dan rentan dengan sistem
perlindungan
 Membangun daya tahan dan menurunkan angka kematian akibat
bencana alam sebanyak x%
2. Pemberdayaan perempuan dan anak perempuan serta kesetaraan gender
 Mencegah dan mengeliminasi segala bentuk kekerasan terhadap
perempuan dan anak perempuan
 Mengakhiri pernikahan anak-anak
 Menjamin hak setara perempuan untuk memiliki dan mewarisi properti,
menandatangani kontrak, mendaftarkan usaha dan membuka rekening
bank
 Mengeliminasi diskriminasi terhadap perempuan dalam kehidupan
politik, ekonomi, dan public
3. Menyediakan Pendidikan yang berkualitas dan pembelajaran seumur
hidup
 Menaikkan sebanyak x% proporsi anak-anak yang dapat mengakses dan
menyelesaikan pendidikan pra dasar
 Memastikan setiap anak, apapun situasinya, menyelesaikan pendidikan
dasar mampu baca, menulis, dan berhitung cukup baik untuk memenuhi
standar pembelajaran minimum
 Memastikan setiap anak, apapun situasinya, memiliki akses terhadap
pendidikan menengah dan menaikkan proporsi remaja yang mencapai
hasil pembelajaran yang diakui dan terukur hingga x%
 Menaikkan jumlah anak muda serta perempuan dan laki-laki dewasa
yang memiliki keahlian, termasuk keahlian teknis dan keahlian
kejuruan, yang dibutuhkan di dunia kerja sebanyak x%
4. Menjamin kehidupan yang sehat.
 Mengakhiri kematian bayi dan balita yang sebenarnya dapat dicegah
 Menaikkan sebanyak x% anak, remaja, usia dewasa yang beresiko dan
orang-orang yang berusia lanjut, untuk sepenuhnya divaksinasi
 Menurunkan rasio angka kematian ibu menjadi tidak lebih dari x per
100.000 kelahiran hidup
 Menjamin secara universal, hak kesehatan seksual dan reproduksi
 Mengurangi beban penyakit dari HIV/AIDS, tuberkulosis, malaria,
penyakit tropis terabaikan dan penyakit-penyakit tidak menular yang
menjadi prioritas
5. Memastikan ketahanan pangan dan gizi yang baik
 Mengakhiri kelaparan dan melindungi hak semua orang untuk memiliki
akses terhadap makanan dalam jumlah yang cukup, aman, terjangkau
harganya, dan bergizi
 Mengurangi stunting (tumbuh pendek karena kurang gizi) sebanyak
x%, wasting (tubuh kurus karena kurang gizi) sebanyak y%, dan anemia
sebanyak z% bagi semua balita
 Meningkatkan produktivitas pertanian sebanyak x%, yang berfokus
pada meningkatkan secara berkelanjutan hasil pertanian kecil dan akses
terhadap irigasi
 Mengadopsi praktik-praktik pertanian, perikanan laut dan perikanan air
tawar yang berkelanjutan dan membangun kembali ketersediaan ikan-
ikan tertentu hingga ke tingkat yang berkelanjutan
 Mengurangi kerugian pasca panen dan makanan yang terbuang
sebanyak x%
6. Mencapai akses universal terhadap air dan sanitasi
 Menyediakan akses universal terhadap air minum yang aman di rumah,
dan di sekolah, puskesmas, dan kamp pengungsi
 Mengakhiri buang air besar di tempat terbuka dan memastikan akses
universal ke sanitasi di sekolah dan di tempat kerja, dan meningkatkan
akses terhadap sanitasi di rumah sebanyak x%
 Menyesuaikan kuantitas air bersih yang diambil (freshwater
withdrawals) dengan pasokan air, serta meningkatkan efisiensi air
dalam pertanian sebanyak x%, industri sebanyak y% dan daerah-daerah
perkotaan sebanyak z%
 Mendaur ulang atau mengolah semua limbah cair dari daerah perkotaan
dan dari industry sebelum dilepaskan
7. Menjamin energi yang berkelanjutan.
 Melipatgandakan bagian energi terbarukan dalam bauran energi dunia
 Memastikan akses universal terhadap pelayanan energi modern
 Melipatgandakan laju peningkatan efisiensi energi di bangunan, dalam
industri, pertanian dan transportasi di tingkat global
 Menghentikan secara bertahap subsidi bahan bakar fosil yang tidak
efisien yang mendorong konsumsi berlebihan
8. Menciptakan lapangan kerja, mata pencaharian berkelanjutan, dan
pertumbuhan berkeadilan
 Menaikkan jumlah lapangan pekerjaan dan mata pencaharian yang baik
dan layak sebanyak x
 Mengurangi jumlah kaum muda yang tidak bersekolah, menganggur
atau tidak mengikuti pelatihan sebanyak x%
 Memperkuat kapasitas produksi dengan memberikan akses universal
terhadap pelayanan keuangan dan infrastruktur seperti transportasi dan
ICT
 Menaikkan jumlah usaha baru yang dibuka sebanyak x dan nilai tambah
dari produkproduk baru sebanyak y dengan menciptakan lingkungan
usaha yang mendukung dan mendorong kewirausahaan
9. Mengelola aset sumber daya alam secara berkelanjutan
 Mempublikasikan dan menggunakan neraca ekonomi, sosial dan
lingkungan milik pemerintah dan perusahaan besar
 Meningkatkan pertimbangan keberlanjutan di x% pengadaan yang
dilakukan oleh pemerintah
 Menjaga ekosistem, keragaman spesies dan genetic
 Mengurangi deforestasi sebanyak x% dan meningkatkan reforestasi
sebanyak y%
 Meningkatkan kualitas tanah dan mengurangi erosi tanah sebanyak x
ton dan memerangi penggurunan
10. Memastikan tata kelola yang baik dan kelembagaan yang efektif
 Memberikan identitas hukum bebas biaya dan universal, seperti akta
kelahiran
 Memastikan masyarakat menikmati kebebabasan berbicara, berasosiasi,
melakukan protes damai dan akses terhadap media dan informasi
independen
 Meningkatkan partisipasi publik dalam proses politik dan keterlibatan
warga di semua tingkat
 Menjamin hak masyarakat atas informasi dan akses terhadap data
pemerintah
 Mengurangi suap dan korupsi dan memastikan pejabat dapat diminta
pertanggungjawabannya
11. Memastikan masyarakat yang stabil dan damai
 Menurunkan angka kematian akibat kekerasan per 100.000 sebanyak x
dan mengaliminasi segala bentuk kekerasan terhadap anak-anak
 Memastikan lembaga peradilan dapat diakses, independen, memiliki
sumber daya yang baik dan menghormati hak atas proses hukum
 Membendung faktor eksternal yang mengakibatkan konflik, termasuk
faktor-faktor yang terkait dengan kejahatan terorganisir
 Meningkatkan kapasitas, perofesionalitas dan akuntabilitas angkatan-
angkatan keamanan, kepolisian dan badan peradilan
12. Menciptakan lingkungan hidup dan katalisator pembiayaan jangka
panjang secara global.
 Mendukung sistem perdagangan yang terbuka, adil dan ramah
pembangunan, secara substansial mengurangi aturan-aturan
perdagangan yang merusak, termasuk subsidi pertanian, sembari
meningkatkan akses pasar produk-produk negara berkembang
 Melaksanakan reformasi untuk memastikan stabilitas sistem keuangan
dunia dan mendorong investasi swasta asing jangka panjang
 Menahan kenaikan rata-rata suhu global di bawah 2⁰ C di atas tingkat
pra industri, sesuai dengan perjanjian-perjanjian internasional
 Negara-negara maju yang belum membuat upaya konkret menuju target
0,7% produk nasional bruto (PNB) sebagai bantuan pembangunan
resmi bagi negara-negara berkembang dan 0,15 hingga 0,20% PDB
negara maju sampai negara-negara yang paling terbelakang; negara-
negara lainnya harus bergerak menuju target sukarela untuk bantuan
keuangan pelengkap
 Mengurangi aliran ilegal dan penghindaran pajak serta meningkatkan
pengembalian asset curian sebesar $x
 Mempromosikan kolaborasi dan akses terhadap ilmu pengetahuan,
teknologi, inovasi, dan data pembangunan.

b. SDGs dari Open Working Group (OWG)


Dalam rangka perumusan SDGs, Sekretaris Jendral PBB juga
membentuk Sustainable Development Solutions Network (SDSN). SDSN ini
merupakan jaringan independen yang terdiri dari berbagai pemangku
kepentingan, akademisi, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat yang
ditugaskan untuk mencari solusi praktis untuk tujuan pembangunan dibawah
pimpinan Jefrey Sach. Dalam perkembangannya, SDSN mengusulkan 10
tujuan dengan 30 target dan 100 indikator. Adapun tujuan yang diusulkan
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mengakhiri kemiskinan ekstrim termasuk kelaparan
2. Mendorong pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak
3. Memastikan pembelajaran yang efektif untuk semua anak-anak dan
remaja bagi kehidupan dan lingkungannya
4. Mencapai kesetaraan gender, inklusi sosial dan hak asasi manusia untuk
semua
5. Mencapai kesehatan dan kesejahteraan di semua usia
6. Meningkatkan sistem pertanian dan mencapai kemakmuran pedesaan
7. Memberdayakan kota yang inklusif, produktif dan tangguh
8. Mengurangi perubahan iklim dan memastikan energi berkelanjutan
9. Menjaga keanekaragaman hayati dan memastikan pengelolaan air, lautan,
hutan dan sumber daya alam dengan baik
10. Mentransformasikan tata kelola dan teknologi untuk pembangunan
berkelanjutan
Setelah mengusulkan 10 tujuan ini, SDSN pada tanggal 25 Juli 2014
mengeluarkan publikasi yang berjudul Indicators and A Monitoring
Framework For Sustainable Development Goals,Launching A Data
Revolution For The SDGs. Dalam publikasi ini SDSN memadukan SDGs
usulan OWG dan SDSN. Oleh karena itu, dari publikasi ini diusulkan 17
tujuan SDGs dengan 109 indikator utama dan 111 indikator tambahan. Dalam
kajian ini, indikator-indikator yang diusulkan dalam publikasi ini yang
dijadikan dasar rujukan.

E. UPAYA PENINGKATAN PEREKONOMIAN BERKEADILAN SOSIAL


Kota inklusif adalah kota yang dalam perkembangan dan pembangunannya
melibatkan semua masyarakat yang berbeda latar belakang, karakteristik, status
sosial, kondisi, kemampuan, etnik, budaya dan lainnya. Dalam pelaksanaan
pembangunan di Indonesia dari masa ke masa menghadapi berbagai masalah dan
tantangan seiring dengan perkembangan zaman. Salah satu pembangunan di
Indonesia yang menyita perhatian adalah pembangunan perekonomian. Perekonomian
Indonesia saat ini menghadapi tantangan yaitu dengan upaya mengubah pola
pertumbuhan ekonomi yang bergantung pada sumber daya alam yang melimpah dan
rendahnya upah tenaga kerja. Pertumbuhan ekonomi inklusif diperlukan untuk
pertumbuhan yang tidak hanya menghasilkan peluang ekonomi, tetapi juga
memberikan keadilan bagi seluruh masyarakat untuk turut andil dan mengambil
manfaat dari pertumbuhan dan pembangunan ekonomi atas dasar kesetaraan terlepas
dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda (Hill, dkk., 2012).
Di Indonesia pembangunan ekonomi hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata
tidak menyertakan pembangunan inklusif atau sosial sehingga menimbulkan
persoalan kemiskinan yang dilihat melalui tingginya garis kemiskinan dan angka
pengangguran. Garis kemiskinan di Indonesia pada tahun 2009 tercatat sebesar
Rp200.262 per kapita per bulan, dan rata-rata dari garis kemiskinan di perkotaan
sebesar Rp222.123 per kapita per bulan, sedang di pedesaan sebesar Rp179.834 per
kapita per bulan. Garis kemiskinan ini mengalami peningkatan setiap tahun seiring
inflasi, sehingga penduduk yang memiliki pendapatan mendekati garis kemiskinan,
rentan untuk jatuh miskin apabila terjadi fluktuasi ekonomi, seperti kenaikan harga
bahan bakar dan bahan pangan (BPS, 2009).
Tujuan utama pembangunan yang inklusif adalah mengurangi jumlah penduduk
miskin melalui kesempatan kerja, akses terhadap kesempatan ekonomi, dan jaringan
pengaman sosial. Karena jika dilihat dari sisi pembangunan ekonomi maka akan
terlihat jelas bahwa hanya merujuk pada pembangunan di perkotaan. Hal ini
menyebabkan terjadi urbanisasi dari desa ke kota. Selain itu semakin sulitnya
ditemukan lapangan kerja karena semakin pesatnya pertumbuhan penduduk di
perkotaan yang menyebabkan semakin tingginya tingkat persaingan. Pembangunan
ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan diharapkan mampu memberikan keadilan
kepada seluruh masyarakat baik di pedesaan maupun di perkotaan sehingga tidak
perlu lagi terjadi urbanisasi.
Selain itu, keadilan dalam pembangunan perekonomian juga perlu dirasakan oleh
kelompok miskin kota, kelompok berkebutuhan khusus, anak-anak, dan kelompok
lainnya. Kelompok tersebut harus didudukkan sebagai elemen penting dalam
kehidupan perekonomian kota sehingga kebijakan yang disusun akan mengarah
kepada upaya memberikan kesempatan yang sama dalam beraktivitas sehingga
meningkatkan dinamika kehidupan kota itu sendiri. Kesadaran mengenai pentingnya
pembangunan inklusif timbul setelah melihat realitas bahwa pembangunan yang telah
menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tidak selalu sepenuhnya
dapat dinikmati oleh kelompok miskin di daerah kumuh perkotaan. Menurut Lenoir
(2003), konsep pembangunan inklusif lahir dari komitmen untuk mendorong
pertumbuhan dengan melibatkan warga sehingga dalam prosesnya terjadi penyebaran
manfaat yang lebih besar kepada kelompok masyarakat yang lebih luas.
Seiring dengan kenaikan jumlah penduduk kota, meningkat pula jumlah penduduk
miskin. Mayoritas penduduk Indonesia tinggal di kota-kota besar dan tidak semua
penduduk itu mapan secara sosial ekonomi, tetapi mereka memberi sumbangan besar
kepada hingar bingar politik kota, pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya urban.
Inilah yang menjadi masalah di Indonesia penduduk yang padat namun lapangan
pekerjaan yang belum memadai, di sisi lain kesempatan kerja hanya dimiliki oleh
orang-orang ekonomi tinggi dan kurang ruang bagi masyarakat ekonomi menengah
ke bawah untuk menikmati segala aspek kehidupan termasuk akses ekonomi yang
layak. Kelompok penduduk strata sosial rendah pada umumnya akan menyuplai
tenaga sebagai pekerja, misal sebagai pekerja rumah tangga, tukang sayur keliling,
tukang air, tambal ban, penjaja makanan keliling, dan sebagainya. Berbeda dengan
orang yang strata sosialnya tinggi memilih untuk bekerja sebagai manajer dan
sebagainya. Pembangunan ekonomi inklusif diharapkan nantinya agar seluruh lapisan
masyarakat mendapat kesempatan kerja yang sama tanpa ada perbedaan kedudukan,
strata sosial, dan hal-hal lainnya.

F. FENOMENA PERTUMBUHAN INKLUSIF DI INDONESIA BAGIAN BARAT


DAN TIMUR
Untuk menjelaskan fenomena pertumbuhan inklusif antar kawasan di Indonesia,
penelitian membagi Indonesia menjadi 2 wilayah yaitu Indonesia Bagian Barat (IBB)
dan Indonesia Bagian Timur (IBT). Dalam penelitian ini, wilayah Indonesia Bagian
Barat (IBB) terdiri dari seluruh provinsi di Pulau Sumatera dan Jawa yang berjumlah
16 provinsi. Provinsi-provinsi tersebut adalah NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat,
Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kep. Bangka Belitung, Kep.
Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, dan Banten.
Sedangkan wilayah Indonesia Bagian Timur (IBT) terdiri dari seluruh provinsi di
Pulau Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua yang terdiri
dari 17 provinsi. Provinsi yang masuk dalam IBT adalah provinsi Bali, Nusa
Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah,
Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi
Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara,
Papua Barat dan Papua.
Pembahasan mengenai inklusifitas pertumbuhan ekonomi dalam menurunkan
kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja
yang telah diuraikan sebelumnya menghasilkan informasi mengenai provinsi-provinsi
dengan koefisien inklusifitas masing-masing selama periode pengamatan. Suatu
provinsi dapat memiliki pertumbuhan yang inklusif untuk indikator tertentu pada
tahun tertentu, kemudian dengan koefisien yang berubah maka inklusifitasnya pun
dapat berubah di waktu yang lain. Perubahan koefisien inklusifitas terjadi baik di
kawasan IBB maupun IBT. Provinsi yang memiliki pertumbuhan yang inklusif untuk
setiap indikator juga tersebar di kawasan IBB dan IBT. Gambar 2 menunjukkan
jumlah provinsi dalam IBB dan IBT yang memiliki pertumbuhan yang inklusif dalam
menurunkan kemiskinan pada tahun 2008-2012.
Dari Gambar 2 dapat dilihat bahwa pada tahun 2008, sebesar 18,75 persen
provinsi yang berada di kawasan IBB memiliki pertumbuhan yang inklusif dalam
menurunkan kemiskinan, sedangkan di IBT hanya 5,88 persen provinsi dalam kawasan
ini yang pertumbuhannya inklusif dalam menurunkan kemiskinan. Pada tahun 2009, tidak
satupun provinsi di IBB dan IBT yang pertumbuhan ekonominya inklusif dalam
menurunkan kemiskinan. Kondisi tersebut terus terjadi di IBB hingga akhir periode
pengamatan yaitu tahun 2012. Sebaliknya di IBT, jumlah provinsi yang pertumbuhan
ekonominya inklusif dalam menurunkan kemiskinan mencapai angka tertinggi di tahun
2010, yaitu sebesar 35,29 persen. Jumlah ini menurun menjadi 17,65 persen pada tahun
2011 dan tidak berubah sampai tahun 2012.
Gambar 6 menunjukkan bahwa sepanjang periode pengamatan jumlah provinsi
yang pertumbuhannya inklusif dalam menurunkan kemiskinan di IBT lebih besar
dibanding IBB. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di IBT lebih inklusif
dalam menurunkan kemiskinan dibandingkan di IBB.
Provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dalam menurunkan
ketimpangan juga tersebar di kawasan IBB dan IBT. Jumlah provinsi yang
pertumbuhannya inklusif dalam menurunkan ketimpangan di kawasan IBB dan IBT pada
tahun 2008-2012 yaitu sebesar 35,29 persen. Jumlah ini menurun menjadi 17,65 persen
pada tahun 2011 dan tidak berubah sampai tahun 2012.
Gambar 6 menunjukkan bahwa sepanjang periode pengamatan jumlah provinsi
yang pertumbuhannya inklusif dalam menurunkan kemiskinan di IBT lebih besar
dibanding IBB. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di IBT lebih inklusif
dalam menurunkan kemiskinan dibandingkan di IBB.
Provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dalam menurunkan
ketimpangan juga tersebar di kawasan IBB dan IBT. Jumlah provinsi yang
pertumbuhannya inklusif dalam menurunkan ketimpangan di kawasan IBB dan IBT pada
tahun 2008-2012 dapat dilihat di Gambar 7.

Gambar 3 menunjukkan persentase jumlah provinsi yang pertumbuhannya


inklusif dalam menurunkan kemiskinan di IBB dan IBT memiliki nilai yang berbeda
sepanjang periode pengamatan, yaitu tahun 2008-2012. Pada tahun 2008, sebesar 12,50
persen provinsi yang masuk dalam IBB memiliki pertumbuhan yang inklusif dalam
menurunkan ketimpangan. Angka tersebut lebih besar dibanding di IBT yang hanya 5,88
persen provinsinya yang memiliki pertumbuhan inklusif dalam menurunkan
ketimpangan. Sedangkan pada tahun 2009, tidak satupun provinsi dalam IBB dan IBT
yang pertumbuhannya inklusif dalam menurunkan ketimpangan. Pada tahun 2010,
sebanyak 35,29 persen provinsi dalam IBT memiliki pertumbuhan yang inklusif dalam
menurunkan ketimpangan. Jumlah ini menurun drastis menjadi 17,65 persen pada tahun
2011 dan terus turun menjadi 11,76 persen pada tahun 2012. Meskipun menurun, namun
kondisi di IBT lebih baik dibanding IBB yang tidak satupun provinsinya memiliki
pertumbuhan yang inklusif dalam menurunkan ketimpangan sejak tahun 2009 hingga
2012.
Dari Gambar 2 dan Gambar 3 terlihat bahwa antara persentase inklusifitas
pertumbuhan dalam menurunkan kemiskinan dengan inklusifitas pertumbuhan dalam
menurunkan ketimpangan di IBB dan IBT pada tahun 2008-2012 dapat dikatakan tidak
jauh berbeda. Hal yang berbeda terjadi pada inklusifitas pertumbuhan dalam
meningkatkan penyerapan tenaga kerja di IBB dan IBT seperti terlihat pada Gambar 4.

Gambar 4 menunjukkan bahwa 37,50 persen provinsi di IBB memiliki


pertumbuhan yang inklusif dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja pada tahun
2008. Pada tahun yang sama, provinsi yang pertumbuhannya inklusif dalam
meningkatkan penyerapan tenaga kerja di IBT adalah sebesar 29,41 persen. Baik di IBB
maupun IBT, persentase provinsi yang pertumbuhannya inklusif dalam meningkatkan
penyerapan tenaga kerja menurun pada tahun 2009. Hanya 6,25 persen provinsi di IBB
yang pertumbuhannya inklusif, sedangkan di IBT sedikit lebih besar yaitu 11,76 persen.
Pada tahun 2010, terdapat 50 persen provinsi dalam IBB yang pertumbuhannya inklusif
dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Sedangkan di IBT, angkanya sedikit lebih
rendah yaitu 47,06 persen. Di IBB pada tahun 2011, hanya 6,25 persen provinsi yang
pertumbuhannya inklusif dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Bahkan pada
tahun 2012, tidak satupun provinsi dalam kawasan tersebut yang memiliki pertumbuhan
yang inklusif dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Sedangkan di IBT, meskipun
terjadi penurunan, persentase provinsi dengan pertumbuhan yang inklusif masih lebih
besar dibanding IBB yaitu 35,29 persen pada tahun 2011 dan 11,76 persen pada tahun
2012.
Dari Gambar 2, Gambar 3, dan Gambar 4 dapat dilihat bahwa provinsi-provinsi
yang masuk dalam IBT memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif untuk setiap
indikator dibandingkan di IBB. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya orientasi dan
perhatian yang lebih besar terhadap kawasan IBT sebagai konsekuensi prinsip
pemerataan pembangunan. Meskipun demikian, di IBT terdapat kecenderungan adanya
penurunan jumlah provinsi yang pertumbuhannya inklusif untuk setiap indikator terutama
sejak tahun 2011. Perlu diingat pula bahwa meskipun di IBT persentase jumlah provinsi
yang pertumbuhannya inklusif lebih besar dibanding IBB, namun persentase tersebut
disumbang Oleh provinsi yang berbeda antar tahun.