Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN PRAKTIKUM

MATA KULIAH TEKNOLOGI PANGAN FUNGSIONAL

PENGUJIAN KOMPONEN BIOAKTIF POLIFENOL


SEBAGAI ANTIOKSIDAN

Disusun Oleh :
Aisyah Dara Millenia / 161710101027
Kelompok D / THP-A

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
November, 2018
BAB 1. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Potensi tanaman pangan sebagai salah satu penyedia komponen bioaktif polifenol
bersifat majemuk. Artinya, terdapat banyak jenis tanaman pangan yang memiliki
kandungan komponen bioaktif tersebut, antara lain kakao, teh, rempah-rempah, biji-
bijian, serealia, buah-buahan, bunga, dan sayuran. Radikal bebas yang terbentuk dalam
tubuh ini bisa dihambat oleh antioksidan yang melengkapi sistem kekebalan tubuh.
Namun, dengan bertambahnya usia seseorang,sel-sel tubuh mengalami degenerasi yang
berdampak pada menurunnya respon imun di dalam tubuh. Akibatnya radikal bebas
yang terbentuk didalam tubuh tidak lagi diimbangi oleh produksi antioksidan. Oleh
karena itu, tubuh kita memerlukan suatu antioksidan eksogen yang dapat diperoleh dari
buah-buahan dan sayur-sayuran.
Antioksidan adalah senyawa kimia yang dapat menyumbangkan satu atau lebih
elektron kepada radikal bebas, sehingga radikal bebas tersebut dapat diredam (Nely,
2007). Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan. Zat ini
memiliki tanda khas yakni memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya. Polifenol
memiliki spektrum luas dengan sifat kelarutan pada suatu pelarut yang berbeda-beda
(Hattenschwiler dan Vitousek, 2000). Polifenol adalah kelompok zat kimia yang
ditemukan pada tumbuhan. Polifenol sering terdapat dalam bentuk glikosida polar dan
mudah larut dalam pelarut polar (Hosttetman, dkk, 1985). Polifenol membantu melawan
pembentukan radikal bebas dalam tubuh sehingga dapat memperlambat penuaan dini
(Arnelia, 2002).
Kandungan polifenol berbagai jenis tumbuhan berbeda-beda. Beberapa jenis
bahan pangan mengandung polifenol yang tinggi, sedangkan jenis bahan pangan lain
mengandung polifenol yang rendah. Dengan demikian perlu dilakukan pengujian
kandungan total polifenol beberapa jenis bahan pangan untuk mengetahui kemampuan
suatu bahan pangan sebagai antioksidan dalam menangkal radikal bebas.

2. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum pengujian komponen bioaktif polifenol sebagai
antioksidan adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui total polifenol dalam beberapa sampel bahan makanan
2. Mengetahui metode pengujian total polifenol menggunakan metode follin ciocalteu.
3. mengetahui cara pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH
BAB 2. TINJAUANPUSTAKA

1. Pengertian Polifenol

Senyawa fenol dapat di definisikan secara kimiawi oleh adanya satu cincin
aromatik yang membawa satu (fenol) atau lebih (polifenol) substitusi hydroksil,
termasuk derifat fungsionalnya. Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan
pada tumbuhan. Zat ini memiliki tanda khas yakni memiliki banyak gugus fenol dalam
molekulnya. Polifenol memiliki spektrum luas dengan sifat kelarutan pada suatu pelarut
yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh gugus hidroksil pada senyawa tersebut
yang dimiliki berbeda jumlah dan posisinya. Turunan polifenol sebagai antioksidan
dapat menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki
radikal bebas, dan menghambat terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal
bebas. Polifenol merupakan komponen yang bertanggung jawab terhadap aktivitas
antioksidan dalam buah dan sayuran (Hattenschwiler dan Vitousek, 2000).
Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan. Zat ini
memiliki tanda khas yaitu memiliki banyak gugus phenol dalam molekulnya. Polifenol
sering terdapat dalam bentuk glikosida polar dan mudah larut dalam pelarut polar
(Hosttetman, dkk, 1985). Beberapa golongan bahan polimer penting dalam tumbuhan
seperti lignin, melanin dan tanin adalah senyawa polifenol dan kadang-kadang satuan
fenolitik dijumpai pada protein, alkaloid dan terpenoid (Harbone, 1987).
Senyawa fenol sangat peka terhadap oksidasi enzim dan mungkin hilang pada
proses isolasi akibat kerja enzim fenolase yang terdapat dalam tumbuhan. Ekstraksi
senyawa fenol tumbuhan dengan etanol mendidih biasanya mencegah terjadinya
oksidasi enzim. Semua senyawa fenol berupa senyawa aromatik sehingga semuanya
menunjukkan serapan kuat di daerah spektrum UV. Selain itu secara khas senyawa fenol
menunjukkan geseran batokrom pada spektrumnya bila ditambahkan basa. Karena itu
cara spektrumetri penting terutama untuk identifikasi dan analisis kuantitatif senyawa
fenol (Harbone, 1987). Polifenol berperan dalam memberi warna pada suatu tumbuhan
seperti warna daun saat musim gugur. Polifenol banyak ditemukan dalam buah-buahan,
sayuran serta biji-bijian. Rata-rata manusia mengkonsumsi polifenol dalam sehari
sampai 23 mg. Khasiat dari polifenol adalah menurunkan kadar gula darah dan efek
melindungi terhadap berbagai penyakit seperti kanker. Polifenol membantu melawan
pembentukan radikal bebas dalam tubuh sehingga dapat memperlambat penuaan dini
(Arnelia, 2002).

atau

Gambar 2.1 Phenol

Gambar 2.2 Poliphenol


2. Uji Polifenol Metode Folin-Ciocalteu

Prinsip metode Folin-Ciocalteu adalah reaksi oksidasi dan reduksi kolorimetrik


untuk mengukur semua senyawa fenolik dalam sampel uji. Pereaksi Folin-Ciocalteu
merupakan larutan kompleks ion polimerik yang dibentuk dari asam fosfomolibdat dan
asam heteropolifosfotungstat. Pereaksi ini terbuat dari air, natrium tungstat, natrium
molibdat, asam fosfat, asam klorida, litium sulfat, dan bromin (Folin dan Ciocalteu,
1944). Pada kenyataannya reagen ini mengandung rangkaian polimerik yang memiliki
bentukan umum dengan pusat unit tetrahedral fosfat (PO4) 3- yang dikelilingi oleh
beberapa unit oktahedral asam-oksi molibdenum. Struktur tungsten dapat dengan bebas
bersubstitusi dengan molibdenum.
Prinsip metode Folin-Ciocalteu adalah oksidasi gugus fenolik hidroksil. Pereaksi
ini mengoksidasi fenolat (garam alkali), mereduksi asam heteropoli menjadi suatu
kompleks molibdenum-tungsten (Mo-W). Fenolat hanya terdapat pada larutan basa,
tetapi pereaksi Folin-Ciocalteu dan produknya tidak stabil pada kondisi basa. Selama
reaksi belangsung, gugus fenolik-hidroksil bereaksi dengan pereaksi Folin-Ciocalteu,
membentuk kompleks fosfotungstat-fosfomolibdat berwarna biru dengan struktur yang
belum diketahui dan dapat dideteksi dengan spektrofotometer. Warna biru yang
terbentuk akan semakin pekat setara dengan konsentrasi ion fenolat yang terbentuk,
artinya semakin besar konsentrasi senyawa fenolik maka semakin banyak ion fenolat
yang akan mereduksi asam heteropoli sehingga warna biru yang dihasilkan semakin
pekat (Singleton dan Rossi, 1965)

3. Pengertian Antioksidan

Menurut Winarsi (2007), dalam jurnal Evy D et al. menyatakan bahwa secara
biologis antioksidan dapat diartikan sebagai senyawa yang mampu meredam dampak
negatif oksidan dalam tubuh. Menurut Meydani et al. (1995) dalam jurnal Evy D et al.
menyatakan bahwa antioksidan bekerja dengan mendonorkan satu elektronnya pada
senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidan dapat dihambat.
Keseimbangan oksidan dan antioksidan sangat penting karena berkaitan dengan fungsi
sistem imunitas tubuh. Kondisi ini terutama berfungsi untuk menjaga integritas, selain
itu, berfungsinya membran lipid, protein sel, dan asam nukleat, serta mengontrol
transduksi signal dan ekspresi gen dalam sel imun.
Menurut Halliwell dan Guteridge (1991), dalam jurnal Evy D et al. menyatakan
bahwa reaksi oksidasi terjadi setiap saat di dalam tubuh dan memicu terbentuknya
radikal bebas yang sangat aktif merusak struktur dan fungsi sel. Namun, reaktivitas
radikal bebas dapat dihambat oleh sistem antioksidan yang melengkapi sistem
kekebalan tubuh.

4. Uji Antioksidan metode DPPH

Metode yang paling sering digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan adalah
metode uji dengan menggunakan radikal bebas DPPH. DPPH merupakan radikal bebas
yang dapat bereaksi dengan senyawa yang dapat mendonorkan atom hidrogen, dapat
berguna untuk pengujian aktivitas antioksidan komponen tertentu dalam suatu ekstrak.
Hal ini dikarenakan adanya elektron yang tidak berpasangan, DPPH memberikan
serapan kuat pada 517 nm. Ketika elektronnya menjadi berpasangan oleh keberadaan
penangkap radikal bebas, maka absorbansinya menurun secara stokiometri sesuai
jumlah elektron yang diambil. Keberadaan senyawa antioksidan dapat mengubah warna
larutan DPPH dari ungu menjadi kuning (Dehpour et al. 2009). Perubahan absorbansi
akibat reaksi ini telah digunakan secara luas untuk menguji kemampuan beberapa
molekul sebagai penangkap radikal bebas. Metode DPPH merupakan metode yang
mudah, cepat, dan sensitif untuk pengujian aktivitas antioksidan senyawa tertentu atau
ekstrak tanaman (Koleva et al. 2002). Namun, pada metode ini terdapat kelemahan,
kelemahan metode DPPH ini adalah hanya dapat memberikan informasi mengenai
aktivitas senyawa yang diuji dan hanya dapat mengukur senyawa antiradikal yang
terlarut dalam pelarut organik khususnya alkohol.

5. Bahan
5.1 Cascara
Kopi memiliki nama latin Coffea sp. Buah kopi terdiri atas 4 bagian yaitu lapisan
kulit luar (exocarp), daging buah (mesocarp), kulit tanduk (parchment), dan biji
(endosperm). Indonesia menempati urutan keempat sebagai penghasil kopi terbanyak di
dunia dengan produksi mencapai 29,3 ton pada tahun 2012 (BPS RI, 2012).
Berdasarkan data Badan Statistik perkebunan pada tahun 2013, Sulawesi Tengah
merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki tingkat produksi kopi yang
cukup banyak. Pada tahun 2012 produksi kopi dari perkebunan rakyat yaitu sebanyak
4.626 ton dengan penggunaan lahan tanam sebesar 7.573 Ha. Pada proses pengolahan
kopi dihasilkan limbah sebanyak 40-45% limbah kulit biji kopi. Menurut Esquivel dan
Jimenez (2012), yang dikatakan limbah kulit kopi adalah pulp (bagian mesokarp), skin
(bagian eksokarp), mucilage dan parchment (bagian endokarp). Kulit ari biji kopi adalah
salah satu bagian dari limbah biji kopi yang dihasilkan pada proses pengolahan biji
kopi. Pada umumnya, limbah kulit ari biji kopi hanya dimanfaatkan sebagai pakan
ternak. Kurangnya kepedulian masyarakat dan minimnya informasi tentang manfaat
penggunaan limbah kulit ari biji kopi menjadi penyebab tidak adanya pemanfaatan dan
pengolahan dari limbah kulit biji kopi tersebut. Salah satu manfaat penting dari limbah
kulit ari biji kopi adalah peranannya sebagai antioksidan alami. Limbah kulit biji kopi
ini juga mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder yaitu kafein dan golongan
polifenol. Dari beberapa penelitian, senyawa polifenol yang ada pada limbah ini adalah
flavan-3-ol, asam hidroksinamat, flavonol, antosianidin, katekin, epikatekin, rutin,
tanin, asam ferulat (Esquivel dan Jimenez 2012).
5.2 Secang
Kayu Secang merupakan tanaman yang telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman
obat. Di Indonesia, kayu secang dimanfaatkan sebagai pewarna merah minuman. Biji
tumbuhan ini berfungsi sebagai bahan sedatif, kayu dan batangnya dapat mengobati
TBC, diare, dan disentri, sedangkan daun-daunnya dapat dimanfaatkan untuk
mempercepat pematangan buah pepaya dan mangga (Adawiyah et. al., 2003). Kayu
secang juga berkhasiat mengaktifkan aliran darah, melarutkan gumpalan darah,
mengurangi bengkak (swelling), meredakan nyeri (analgesik), menghentikan
perdarahan, antiseptic dan masih banyak kandungan dari kayu secang yang dapat
dimamfaatkan terutama dalam pengobatan (Dalimartha, 2009). Menurut Safitri (2002),
ekstrak kayu secang mengandung lima senyawa aktif jenis flavonoid yang berfungsi
sebagai antioksidan. Asam lemak tidak jenuh sangat rentan terhadap reaksi oksidasi,
terutama reaksi autooksidan. Reaksi ini meliputi tiga tahap reaksi oksidasi, yaitu tahap
inisiasi, propogasi, dan terminasi. Menurut Hariana, (2006) Kandungan kimia kayu
secang ada 4 yang sangat penting yaitu sebagai berikut. 1. Brazilin merupakan kristal
berwarna kuning, akan tetapi jika teroksidasi akan menghasilkan senyawa brazilein
(C16H12O5) yang berwarna merah. Brazilien merupakan senyawa antioksidan yang
mempunyai katekol dalam struktur mempunyai efek melindungi tubuh dari keracunan
akibat radikal kimia. Brizilien mempunyai efek anti-inflamasi dan anti bakteri. 2.
Flavonoid merupakan golongan senyawa bahan alam dari senyawa fenolik yang banyak
merupakan pigmen tumbuhan. Fungsi kebanyakan flavonoid dalam tubuh manusia
adalah sebagai antioksidan. Antioksidan melindungi jaringan terhadap kerusakan
oksidatif akibat radikal bebas yang berasal dari proses-proses dalam tubuh atau dari
luar. 3. Tanin adalah komponen zat organik yang sangat kompleks dan terdiri dari
senyawa fenolik yang mempunyai berat molekul 500-3000 serta dapat bereaksi dengan
protein. Tanin bersifat sebagai antibakteri dan astringent atau menciutkan dinding usus
yang rusak karena asam atau bakteri. 4. Senyawa fenolik merupakan senyawa yang
banyak ditemukan pada tumbuhan. Fenolik memiliki cincin aromatik satu atau lebih
gugus hidroksi (OH ) dan gugus – gugus lain penyertanya. Senyawa ini diberi nama
berdasarkan nama senyawa induknya, fenol. Senyawa fenol kebanyakkan memiliki
gugus hidroksil lebih dari satu sehingga disebut polifenol. Pada industri makanan dan
minuman, senyawa fenolik berperan dalam memberikan aroma yang khas pada produk
makanan dan minuman, sebagai zat pewarna makanan dan minuman, dan sebagai
antioksidan. Pada industri farmasi dan kesehatan, senyawa ini banyak digunakan
sebagai antioksidan, antimikroba, antikanker dan lain-lain, contohnya obat antikanker
(podofilotoksan), antimalaria (kuinina) dan obat demam (aspirin).
5.3 Sereh
Sereh (Cymbopogon nardus L) biasanya digunakan sebagai bumbu dapur untuk
mengharumkan makanan. Selain itu, sereh bermanfaat sebagai anti radang,
menghilangkan rasa sakit dan melancarkan sirkulasi darah. Manfaat lain yaitu untuk
meredakan sakit kepala, otot, batuk, nyeri lambung, haid tidak teratur dan bengkak
setelah melahirkan. Akar tanaman sereh digunakan sebagai peluruh air seni, peluruh
keringat, peluruh dahak, bahan untuk kumur, dan penghangat badan. Sedangkan minyak
sereh banyak digunakan sebagai bahan pewangi sabun, spray, disinfektan, dan bahan
pengkilap. Sereh wangi mengandung saponin, flavonoid, polifenol, alkaloid, dan
minyak atsiri. Saponin merupakan kelompok glikosida yang tersusun oleh aglikon
bukan gula yang berikatan dengan rantai gula. Sifat antimikroba dari senyawa saponin
disebabkan oleh kemampuan senyawa tersebut berinteraksi dengan sterol pada
membran sehingga menyebabkan kebocoran protein dan enzim‐enzim tertentu.
Flavonoid terdiri dari flavon, flavonon, isoflavon, antosianin, dan leukoantosianidin.
Senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan dan antimikroba. Antioksidan flavonoid
dapat mencegah oksidasi lipid dengan mengikat (mengkhelat) logam‐logam yang
bersifat prooksidan. Senyawa flavonoid lipofilik memiliki aktivitas antimikroba karena
memiliki kemampuan penetrasi dalam membran sel.
BAB III. METODOLOGI PRAKTIKUM

1. Bahan
A. Adapun bahan pangan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu :
1. Kayu secang
2. Serai
3. Gula Pasir
4. Cascara
5. Air
B. Sedangkan bahan kimia yang digunakan pada praktikum ini meliputi :
1. Reagen Follin-Ciocalteau
2. DPPH
3. Etanol
4. Na2CO3
5. Standar asam galat
2. Persiapan Bahan
Bahan-bahan yang terdiri dari bahan pangan dan bahan kimia dipersiapkan. Untuk
bahan pangan dibersihkan terlebih dahulu agar bersih dari kotoran yang tidak
diinginkan kemudian dilakukan pengecilan ukuran dengan tujuan agar mudah dilakukan
proses ekstraksi pada tahap selanjutnya. Bahan pangan yang digunakan yaitu cascara 40
ml, secang 8 ml, serai 4 ml, larutan gula 5ml, dan air 43 ml. Bahan kimia dipersiapkan
untuk pengujian polifenol dan antioksidan pada sampel.
1. Pembuatan Minuman
A. Pembuatan ekstraksi Serai

30 g Serai

Pencucian

PengecilanUkuran

Air panas
Ekstraksi
240 ml

Penyaringan

Ekstrak Serai

Gambar 4. Pembuatan Ekstraksi Serai


Pada pembuatan ekstraksi serai, tahapan yang dilakukan yang pertama yaitu
menimbang serai seberat 30g. Selanjutnya dilakukan pencucian dengan tujuan agar
bersih dari kotoran yang tidak diinginkan. Selanjutnya dilakukan pengecilan ukuran
agar mudah dan maksimal saat dilakukan ekstraksi. Kemudian dilakukan ekstraksi
dengan cara di blender dan dilakukan penambahan air panas sebanyak 240 ml.
Penggunaan air panas dalam proses ekstraksi bertujuan agar ekstrak serai yang
didapatkan lebih optimal. Setelah itu dilakukan penyaringan untuk memisahkan ampas
dan ekstrak serai yang akan diambil. Penyaringan ini dilakukan dengan menggunakan
kertas saring.
B. Pembuatan Larutan Gula

200 g GulaPasir

Air 200 ml

Pemanasan

Pengadukan

LarutanGula

Gambar 5. Pembuatan Larutan Gula


Pada pembuatan larutan gula tahapan yang dilakukan pertama yaitu menimbang
gula pasir sebanyak 200g. Selanjutnya gula tersebut diletakkan dalam panci dan
ditambahkan air sebanyak 200 ml. Lalu dilakukan pemanasan pada suhu sedang sambil
dilakukan pengadukan. Pemanasan ini dilakukan dengan tujuan agar gula mudah larut
dalam air.
C. Pembuatan ekstrak cascara

32 g Cascara

PengecilanUkuran

Air panas
Ekstraksi
200 ml

Penyaringan

Ekstrak Cascara

Gambar 5. Pembuatan Ekstrak Cascara


Pada pembuatan ektrak cascara tahapan yang dilakukan pertama yaitu menimbang
cascara sebanyak 32 g. Setelah itu dilakukan pengecilan ukuran dengan memotong
kecil-kecil. Hal ini dilakukan agar ekstraksi yang dilakukan mudah dan optimal.
Selanjutnyadilakukan ekstraksi dengan penambahan air panas sebanyak 200 ml.
Penambahan air panas ini bertujuan agar ekstrak cascara yang dihasilkan optimal.
Kemudian dilakukan penyaringan untuk memisahkan ekstrak dengan ampas.
Penyaringan ini dilakukan menggunakan kertas saring dan akan dihasilkan ekstrak
cascara.
D. Pembuatan Ekstrak Secang

4 g Secang

Pengecilan Ukuran

Air panas
Ekstraksi dan Pemanasan
400 ml

Penyaringan

Ekstrak Secang

Gambar 6. Pembuatan Ekstrak Secang


Pada pembuatan ekstrak secang tahapan yang dilakukan pertama yaitu
menimbang secang seberat 4 g. Setelah itu dilakukan proses pengecilan ukuran
menggunakan pisau, bertujuan untuk mempermudah pengekstrakan kayu secang serta
untuk mengoptimalkan proses ekstraksi. Di sisi lain, dilakukan proses pemanasan air
untuk mengekstrak secang. Air panas diambil sebanyak 400 ml lalu dicampurkan pada
secang yang telah dikecilkan ukurannya. Terakhir dilakukan proses penyaringan untuk
memisahkan ekstrak secang dengan ampas.
E. Formulasi Minuman Fungsional
Setelah ekstrak serai, larutan gula, ekstrak secang, dan ekstrak cascara tersedia
kemudian dilakukan formulasi atau pencampuran minuman fungsional. Pencampuran
dilakukan dengan perbedaan 7 formulasi seperti pada Tabel 1.
Formula Cascara (ml) Secang (ml) Serai (ml) Gula (ml) Air (ml)
F1 30 0 0 5 65
F2 40 0 0 5 55
F3 30 4 4 5 57
F4 40 4 4 5 47
F5 30 8 8 5 49
F6 40 8 8 5 39
F7 40 8 4 5 43
Tabel 1. Formulasi Minuman Fungsional
Pada pembuatan minuman fungsional dari bahan cascra, secang dan sereh, ekstrak
dari masing-masing bahan yang diperoleh dicampurkan menjadi satu sesuai formulasi
masing-masing kelompok. Untuk kelompok 1 dan 8 mendapat formulasi 1, kelompok 2
dan 9 mendapat formulasi 2, kelompok 3 dan 10 mendapat formulasi 3, kelompok 4 dan
11 mendapat formulasi 4, kelompok 5 dan 12 mendapat formulasi 5, kelompok 6 dan 13
mendapat formulasi 6 serta kelompok 7 dan 14 mendapat formulasi 7. Masing-masing
kelompok membuat 2 kali ulangan untuk formulasi tersebut. Setelah ekstrak secang,
cascara dan sereh dicampur berdasrakan formulasi yang diperoleh, selanjutnya
ditambahkan larutan gula sebanyak 5 ml. Fungsinya sebagai pemberi cita rasa manis
pada minuman fungsional yang dibuat. Setelah itu, dilakukan peneraan dengan air
hingga volume larutan 100 ml. Kemudian dilakukan pengadukan untuk
menghomogenkan semua bahan yang telah dimasukkan. Setelah itu, minuman yang
terbentuk dimasukkan ke dalam botol bening, lalu di pasteurisasi selama beberapa menit
untuk mensterilkan minuman dan agar minuman dapat bertahan lama untuk pengujian
selanjutnya. Tahap terakhir, minuman didinginkan untuk menurunkan suhu setelah di
pasteurisasi, agar lebih cepat digunakan es batu untuk mendinginkan minuman.

Sampel minuman
7 formulasi

2. Prosedur Analisis
A. Uji Sensoris Penuangan pada gelas sloki

Pemberian kode 3 digit angka acak

Pengujian sensori (warna, aroma, rasa


dan over all)
Gambar 7. Uji Sensoris Minuman Fungsional
Pada uji sensoris minuman fungsional, sampel dari 7 formulasi minuman
dituangkan pada gelas sloki. Selanjutnya diberi kode tiga digit angka yang ditempelkan
Sampel 0,5 ml
pada gelas sloki dengan tujuan agar tidak terjadi bias pada panelis. Setelah itu sampel
minuman disajikan dalam nampan, setiap nampan berisi 7 gelas sloki berisi minuman
fungsional+Aquades 4,5
dengan formulasi yang berbeda dalam
Pemasukan dan 1tabung
gelas reaksi
air minum. Saat panelis
ml
mencicipi minuman fungsional dari satu jenis ke jenis lainnya disarankan untuk
meminum air terlebih dahulu agar rasa minuman sebelumnya tidak membekas sehingga
+Reagen Follin-
tidak mempengaruhi penilaian panelis. Uji sensoris minuman fungsional terdiri dari uji
Ciocalteau 0,5 ml
warna, aroma, rasa dan over all. Panelis diminta memberikan penilaian berdasarkan
kesukaan terhadap masing-masing atribut sampel.
Pengocokan

Pendiaman 5 menit

+Na2CO3 (7%) 1 ml

B. Pengujian Polifenol Pengocokan

Pelapisan dengan aluminium foil

Pendiaman 60 menit

Pembacaan nilai absorbansi pada λ = 765 nm


Gambar 8. Pengujian Polifenol Minuman Fungsional
Pada pengujian polifenol minuman fungsional, sampel minuman diambil
sebanyak 0,5 ml menggunakan pipet ukur. Setelah itu sampel, dimasukkan ke dalam
tabung reaksi. Kemudian dilakukan penambahan aquades sebanyak 4,5 ml sehingga
volume total sampel menjadi 5 ml. Penambahan aquades bertujuan untuk mengencerkan
larutan sampel sehingga mudah dibaca oleh spektrofotometer saat dilakukan pembacaan
nilai absorbansi. Lalu ditambahkan reagen Follin-ciocalteau sebanyak 0,5 ml dan
dilakukan pengocokan untuk menghomogenkan larutan. Reagen Follin-ciocalteau
berfungsi untuk mereduksi gugus hidroksi pada polifenol, sehingga akan menghasilkan
larutan berwarna biru. Selanjutnya, larutan didiamkan selama 5 menit. Setelah itu,
ditambahkan larutan Na2CO3 (7%) sebanyak 1 ml, tujuannya untuk memberikan
suasana basa pada larutan agar reagen Follin dan polifenol dapat beraksi dengan
optimal. Tabung rekasi kemudian dilapisi aluminium foil hingga semua bagian terttutup
rapat, sebab kerja dari Na2CO3 dalam suasana gelap. Sampel didiamkan selama 60
menit untuk mereaksikan bahan kimia yang telah ditambahkan dengan sampel.
Berikutnya, dilakukan pembacaan nilai absorbansi sampel minuman menggunakan
spektrofotometer dengan panjang gelombang 765 nm.
C. Pengujian Aktivitas Antioksidan

Sampel 0,1 ml

Pemasukan dalam tabung reaksi

+DPPH 2,9 ml

Pengocokan

Penutupan bagian atas tabung reaksi


dengan aluminium foil

Pendiaman 30 menit

Pembacaan nilai absorbansi pada λ = 517 nm

Gambar 9. Pengujian Antioksidan Minuman Fungsional


Langkah pertama pada pengujian aktivitas antioksidan sampel minuman
fungsional, dilakukan dengan mengambil masing-masing sampel sebanyak 0,1 ml
kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah dicuci dengan etanol
sebelumnya. Tujuan pencucian dengan etanol agar bekas larutan pada pengujian
polifenol sebelumnya benar-benar tidak tersisa. Selanjutnya ditambahkan larutan DPPH
sebanyak 2,9 ml. DPPH berfungsi sebagai radikal bebas yang sengaja ditambahkan pada
sampel untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada sampel melalui proses
penangkapan radikal bebas oleh polifenol pada sampel. Setelah itu, dilakukan
pengocokan agar larutan homogen. Kemudian bagian atas tabung reaksi ditutup
aluminium foil untuk mencegah kontaminasi, lalu dilakukan pendiaman selama 30
menit untuk mereaksikan sampel dengan DPPH. Tahap terakhir, dilakuakn pembacaan
nilai absorbansi sampel menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 517
nm.
D. Kurva Standar
Adapun kurva standart yang diperoleh dari pengujian polifenol dapat dilihat pada
gambar di bawah ini :
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil
1.1 Minuman Hasil Formulasi

Gambar 4.1.1 Minuman Hasil Formulasi


1.2 Uji Sensori Kesukaan

Gambar 4.1.2.1 Diagram Batang Hasil Uji Kesukaan Warna

Gambar 4.1.2.2 Diagram Batang Hasil Uji Kesukaan Aroma


Gambar 4.1.2.3 Diagram Batang Hasil Uji Kesukaan Rasa

Gambar 4.1.2.4 Diagram Batang Hasil Uji Kesukaan Keseluruhan


1.3 Data Hasil Analisa Total Polifenol
Tabel 4.1.3 Kandungan Total Polifenol Minuman Cascara

Kandungan Total Polifenol (mg GAE/ml)


Formulasi
Kelompok
Minuman Rata-
Ulangan 1 Ulangan 2 SD RSD
rata
1 0,0822 0,0743 0,0783 0,0056 7,1440
Formula 1 (F1)
8 0,0424 0,0442 0,0433 0,0013 2,9251
2 0,0955 0,0977 0,0966 0,0016 1,6379
Formula 2 (F2)
9 0,1667 0,1640 0,1653 0,0019 1,1486
3 0,0894 0,0800 0,0847 0,0066 7,8486
Formula 3 (F3)
10 0,1327 0,1506 0,1416 0,0127 8,9405
4 0,0961 0,0954 0,0957 0,0005 0,5511
Formula 4 (F4)
11 0,0962 0,0991 0,0977 0,0020 2,0524
5 0,0798 0,0798 0,0798 0,0000 0,0000
Formula 5 (F5)
12 0,1173 0,1053 0,1113 0,0084 7,5820
6 0,1059 0,1201 0,1130 0,0100 8,8670
Formula 6 (F6)
13 0,1231 0,1180 0,1206 0,0036 2,9751
7 0,1045 0,0424 0,0734 0,0439 59,7775
Formula 7 (F7)
14 0,1012 0,1180 0,1096 0,0119 10,8773

Gambar 4.1.3 Diagram Batang Kandungan Total Polifenol Minuman Cascara


Perhitungan Kandungan Total Polifenol formulasi 3/kelompok 3
Formulasi 4. (caskara 40 ml, secang 4 ml, Serai 4 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 47 ml)
Kelompok 4.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,666– 0,038
= 0,628
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,628)- 0,0012
= 0,0480 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0480mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0961 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,661– 0,038
= 0,623
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,623)- 0,0012
= 0,0477 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0477 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0954 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,0957

Standar deviasi = = 0,005

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,005/0,0957) x 100
= 0,5511
1.4 Data Hasil Analisa Aktivitas Antioksidan
Tabel 4.1.4 Aktivitas Antioksidan (Persen Penghambatan) Minuman Cascara
Persen Penghambatan (%)
Formulasi
Minuma Kelompok Rata-
n Ulangan 1 Ulangan 2 rat SD RSD
a
Formula 1 1 10,131 6,3170 8,224 2,697 32,793
(F1) 8 12,634 5,4830 9,058 5,057 55,824
Formula 2 2 26,698 24,672 25,685 1,433 5,578
(F2) 9 74,255 61,740 67,998 8,849 13,014
Formula 3 3 12,157 19,070 15,614 4,888 31,307
(F3) 10 41,597 39,333 40,465 1,601 3,957
Formula 4 4 38,975 45,173 42,074 4,383 10,416
(F4) 11 62,694 64,005 63,349 0,927 1,463
Formula 5 5 41,716 44,696 43,20 2,107 4,877
(F5) 12 39,333 38,141 38,737 0,843 2,176
Formula 6 6 63,647 64,482 64,064 0,590 0,921
(F6) 13 56,973 63,409 60,191 4,551 7,561
Formula 7 7 62,098 51,251 56,675 7,669 13,532
(F7) 14 0,555 0,612 30,453 4,804 15,775

Gambar 4.1.4 Diagram Batang Aktivitas Antioksidan Minuman Cascara


Perhitungan Persen Penghambatan (Aktivitas Antioksidan) F3/Kelompok 3
Formulasi 4 (caskara 40 ml, secang 4 ml, Serai 4 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 47 ml)
Kelompok 4.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,512)/ 0,839x 100%
= 38,975%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,460)/ 0,839x 100%
= 45,173%

Rata-Rata = = = 42,074%

Standar deviasi = = 4,383

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (4,383/42,074) x 100
= 10,416

2. Pembahasan
2.1 Sensoris
Uji sensoris merupakan uji penginderaan yang meliputi warna, aroma, rasa, tekstur, dan
overall yang bersifat subjektif untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap
suatu produk baru ataupun pengembangan produk yang telah beredar dipasaran (Kawiji,
dkk., 2011). Pada pengujian organoleptik ini meggunakan total panelis sebanyak 44
orang panelis. Yang ditugaskan untuk menguji 7 sampel yaitu sampel 591, 742, 157,
963, 472, 739, dan sampel 829, berdasarkan warna, aroma, dan rasa pada minuman
fungsional. Semakin tinggi skor yang diberikan berarti nilai kesukaan juga semakin
tinggi dan batasan skor tersebut adalah dari yang paling tidak disukai yaitu angka 1 dan
yang paling disukai adalah angka 9. Pada praktikum ini, dilakukan uji organoleptik
menggunakan 44 panelis semi terlatih dan didapatkan data yang bisa dilihat pada
Gambar 4.1.2.4.
Warna merupakan parameter uji fisik terkait suatu produk pangan menggunakan alat indera
penglihatan, hal ini ditujukan untuk melihat tingkat daya terima konsumen. Warna
merupakan daya tarik utama sebelum konsumen mengenal dan menyukai sifat-sifat
lainnya dari produk yang dihasilkan (Asmaraningtyas, 2014). Warna minuman pada
dasarnya berwarna coklat khas cascara karena pada 7 formulasi cascara merupakan bahan
utama yang digunakan. Pada Gambar 4.1.2.4 dapat dilihat bahwa formulasi bahan
mempengaruhi warna minuman. Dari data yang di dapat, minuman dengan formula 5
paling banyak di sukai dengan nilai sensori 6,8 dan minuman dengan formula 3 dengan
nilai sensori 4,3 menjadi yang terendah. Pada Gambar 4.1.1 terlihat jelas warna warna
dari ketujuh minuman. F3 dan F5 sama-sama memiliki warna coklat khas cascara dan
tidak berbeda nyata. Namun, hasil sensoris menyatakan bahwa F5 memiliki nilai
tertinggi yang berarti lebih disukai panelis daripada F3 yang memiliki nilai terendah
dibandingkan yang lain. Hal ini dapat terjadi karena kepekaan panelis yang berbeda-
beda dalam membandingkan warna. Menurut Soekarto (1990), warna mempunyai arti
dan peranan yang sangat penting pada komoditas pangan dan hasil-hasil pertanian
lainnya. Hal ini dikarenakan warna merupakan kriteria penting yang dapat
mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap produk, selain itu warna merupakan
unsur yang pertama kali dinilai oleh konsumen sebelum unsur lain seperti rasa, tekstur,
aroma dan beberapa sifat fisik lain.
Aroma adalah satu faktor penentu mutu suatu bahan pangan. Aroma juga menjadi satu
indikator suatu bahan pangan dapat diterima atau ditolak. Gambar 4.1.2.2
menunjukkan bahwa formulasi 5 yang terdiri dari caskara 30 ml, secang 8 ml, Serai 8
ml memiliki nilai rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap aroma minuman yang
paling tinggi (6,4) dan yang paling rendah formulasi 3 yang terdiri dari Caskara 30 ml,
secang 4 ml, Serai 4 ml (5,1). Penambahan serai mempengaruhi aroma dari minuman.
Aroma yang mendominasi tentu cascara dengan formulasi bahan paling banyak.
Menurut Ariyani, et al., (2008) di dalam sereh terdapat senyawa yang dapat membentuk
aroma yang khas, yaitu senyawa citral. Semakin banyak sari batang sereh yang
ditambahkan maka nilai hedonik aroma semakin meningkat. Sereh memiliki aroma
yang khas. Sedangkan Secang tidak berpengaruh karena secang tidak memiliki aroma
yang khas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sastrapradja (1997) yang menyatakan
bahwa sereh memiliki aroma lemon yang khas. Panelis lebih menyukai F5 karena dirasa
merupakan formulasi yang pas, tidak lebih dan tidak kurang. Selain itu juga aroma
dipengaruhi oleh tingkat kepekaan panelis yang berbeda-beda tergantung dari segi
kesehatan, lelaki atau wanita serta merokok atau tidak merokok (Kartika, 2010).
Rasa merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan keputusan akhir
konsumen untuk menerima atau menolak suatu produk pangan (Wahyuni, 2005). Rasa
adalah komponen terakhir dalam menentukan enak tidaknya suatu pangan. Pada uji
sensoris minuman cascara, diketahui pada Gambar 4.1.2.3 dari ke tujuh formula tidak
berbeda nyata dengan nilai rata-rata tertinggi F7 5,8 dan terendah F2 dan F4 5,2. Panelis
lebih menyukai Formula 7 yang terdiri dari caskara 40 ml, secang 8 ml, Serai 4 ml.
Penambahan serai yang sedikit dibandingankan dengan bahan lainnya membuat panelis
lebih menyukainya. Selain itu, tingkat kepekaan panelis juga merupakan hal yang
penting dalam menentukan perbedaan rasa pada masing-masing sampel. Tingkat
kepekaan setiap panelis berbeda-beda tergantung dari segi kesehatan, lelaki atau wanita
serta merokok atau tidak merokok (Kartika, 2010).
Penilaian keseluruhan merupakan penilaian gabungan dari seluruh atribut penilaian
sensori yaitu warna, aroma, dan rasa. Formulasi penambahan bahan sangat berpengaruh
besar pada warna, aroma dan rasa minuman. Pada Gambar 4.1.2.4 dinyatakan formula
paling disukai oleh panelis adalah formula 7 yang terdiri dari caskara 40 ml, secang 8
ml, Serai 4 ml.

2.2 Kandungan Polifenol


Pada praktikum pengujian total polifenol menggunakan sampel bahan Cascara,
Secang dan Serai. Metode analisis total polifenol yang digunakan pada praktikum
kali ini adalah metode Follin-ciocalteau. Setelah dilakukan pengukuran nilai
absorbansi dan perhitungan nilai kandungan polifenol, diperoleh kadar polifenol
pada masing-masing sampel. Kandungan polifenol seluruh sampel dapat dilihat
pada Gambar 4.1.3.
Prinsip metode Follin-ciocalteau adalah reaksi oksidasi dan reduksi
kolorimetrik untuk mengukur semua senyawa fenolik dalam sampel uji. Senyawa
fenolik bereaksi dengan reagen Folin Ciocalteau hanya dalam suasana basa agar
terjadi disosiasi proton pada senyawa fenolik menjadi ion fenolat. Untuk membuat
kondisi basa digunakan Na2CO3 7,5%. Gugus hidroksil pada senyawa fenolik
bereaksi dengan reagen Folin Ciocalteau membentuk kompleks molibdenum-
tungsten berwarna biru yang dapat dideteksi dengan spektrofotometer. Semakin
besar konsentrasi senyawa fenolik maka semakin banyak ion fenolat yang akan
mereduksi asam heteropoli (fosfomolibdat-fosfotungstat) menjadi kompleks
molibdenum-tungsten sehingga warna biru yang dihasilkan semakin pekat (Alfian
dan Susanti, 2012).
Pada Gambar 4.1.3 dapat dilihat kandungan polifenol tertinggi didapat oleh
sampel F2 kelompok 9 dengan formulasi Caskara 40 ml, secang 0 ml, Serai 0 ml.
Sedangkan total kandungan polifenol terendah didapat oleh sampel F1 kelompok 8
dengan formulasi Caskara 30 ml, secang 0 ml, serai 0 ml. Pada secang terdapat
senyawa flavonoid dan tanin Dan pada serai juga memiliki kandungan senyawa
aktif yang serupa seperti secang sedangkan pada cascara senyawa polifenol yang
ada adalah flavan-3-ol, asam hidroksinamat, flavonol, antosianidin, katekin,
epikatekin, rutin, tanin, asam ferulat. Ketiga bahan tersebut memiliki banyak
senyawa aktif yang terdapat dalam polifenol.
Berdasarkan data RSD yang diperoleh dari masing-masing sampel pada
Tabel 4.1.3, nilai yang diperoleh berbeda satu sama lainnya. Artinya nilai koefisien
bervariasi. Untuk menilai kevalidan dari variasi yang diperoleh tersebut harus
merujuk pada literatur yang secara ilmiah bersifat autentik. Menurut AOAC (2002),
syarat penerimaan validasi %RSD <1 termasuk sangat teliti, %RSD 1-2 termasuk
teliti, %RSD 2-5 termasuk sedang dan %RSD >5 termasuk tidak teliti. Literatur
lain yang lebih mengkerucut yakni menurut Neilsen (2003), apabila nilai RSD lebih
kecil dari atau sama dengan 5% maka data terebut dapat diterima atau dapat
dikatakan presisi. Penjabaran lain menurut Puspita (2014), ketelitian yang tinggi
mempunyai koefisien variasi lebih kecil dari 5%, hal ini tergantung pada analisis
yang dilakukan atau selang kepercayaan yang diinginkan 95 % maka data analisis
dapat diterima bila mempunyai koefisien < 5%. Sedangkan bila kepercayaan yang
digunakan 99 % maka data analisisi dapat diterima bila mempunyai koefisien
variasi < 1 %.
Tidak semua sampel memiliki nilai RSD dibawah 5%. Sampel yang
memiliki nilai RSD dibawah 5% sehingga dapat dikatakan presisi adalah F1
kelompok 8 (2.9251%), F2 kelompok 2 (1.6379%), F2 kelompok 9 (1.1486%), F4
kelompok 4 (0.5511%), F2 kelompok 11 (2.0524%), F5 kelompok 5 (0.000%), dan
F6 kelompok 13 (2.9751%). Selain tujuh sampel yang telah disebutkan, sampel
lainnya memiliki nilai RSD diatas 5 sehingga dapat dinyatakan bahwa tingkat
presisi atau keakurasian pada praktikum uji polifenol kali ini masih rendah dan nilai
yang diperoleh kurang akurat.
Dari nilai SD dan RSD, dapat diketahui bahwa ulangan 1 dan 2 pada tiap
formulasi memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Hal ini dapat terjadi karena
praktikan pada ulangan 1 dan 2 berbeda, sehingga cara pengolahannya pun juga
berbeda. Selain itu, tahap penyimpanan pada dua macam ulangan itu juga berbeda
baik waktu, suhu, maupun lingkungan. Akibat perbedaan kondisi tersebut, banyak
kandungan polifenol yang mengalami oksidasi, sehingga kandungan polifenol
bahan semakin rendah.

2.3 Aktivitas Antioksidan


Pada praktikum pengujian aktivitas antioksidan menggunakan sampel bahan
Cascara, Secang dan Serai. Metode analisis aktivitas antioksidan yang digunakan
pada praktikum kali ini adalah metode DPPH. Setelah dilakukan pengukuran nilai
absorbansi dan perhitungan nilai aktivitas antioksidan, diperoleh nilai aktivitas
antioksidan masing-masing sampel dalam menangkal radikal bebas. Nilai aktivitas
antioksidan seluruh sampel dapat dilihat pada Gambar 4.1.4.
DPPH merupakan singkatan umum untuk senyawa kimia organik yaitu 1,1-
diphenyl-2-picrylhydrazil. DPPH adalah bubuk kristal berwarna gelap terdiri dari
molekul radikal bebas yang stabil. Penyimpanan terbaik adalah didalam wadah
tertutup pada suhu -20°C. DPPH dapat digunakan untuk menguji kemampuan
antioksidan yang terkandung dalam makanan. Prinsipnya dimana elektron ganjil
pada molekul DPPH memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 516
nm yang berwarna ungu. Warna ini akan berubah dari ungu menjadi kuning lemah
apabila elektron ganjil tersebut berpasangan dengan atom hidrogen yang
disumbangkan senyawa antioksidan. Reaksi antara DPPH dengan atom H netral
yang berasal dari antioksidan (Horton, 2006).
Dari Tabel 4.1.4, sampel teh yang memiliki nilai RSD dibawah 5 % hanya 6
sampel, yakni adalah F3 kelompok 10 (3.9570%), F4 kelompok 11 (1.463%), F5
kelompok 5 (4.877%), F5 kelompok 12 (2.176%), dan F6 kelompok 6 (0.921%).
Selain keenam sampel tersebut, sampel lainnya memiliki nilai RSD diatas 5 % yang
menunjukkan tingkat presisi atau ketelitian praktikum ini tidak baik, sehingga nilai
yang diperoleh tidak akurat.
Dari nilai SD dan RSD, dapat diketahui bahwa ulangan 1 dan 2 pada tiap
formulasi memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Hal ini dapat terjadi karena
praktikan pada ulangan 1 dan 2 berbeda, sehingga cara pengolahannya pun juga
berbeda. Selain itu, tahap penyimpanan pada dua macam ulangan itu juga berbeda
baik waktu, suhu, maupun lingkungan.

BAB V. PENUTUP

1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dalam praktikum ini yaitu :
a. Menurut hasil pengamatan, total kandungan komponen bioaktif polifenol tertinggi
terletak pada sampel F2, sedangkan aktivitas antioksidan tertinggi terletak pada
sampel F2.
b. Pengujian total polifenol menggunakan metode Folin-Ciocalteu dengan mengukur
semua senyawa fenolik dalam sampel uji.
c. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dilakukan dengan cara
mengukur penangkapan radikal sintetik dalam pelarut organik polar seperti etanol
pada suhu kamar.

2. Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya sebaiknya uji polifenol dan antioksidan
dilakukan dihari yang sama saat pembuatannya.
DAFTAR PUSTAKA

Alfian, R., dan Susanti, H. 2012. Penetapan Kadar Fenolik Total Ekstrak Metanol
Kelopak Bunga Rosella Merah (Hibiiscus sabdariffa Linn) Dengan Variasi Tempat
Tumbuh Secara Spektrofotometri. Jurnal Ilmiah Kefarmasian, Vol. 2, No. 1, hal
73-80.

AOAC. 1980. Official Method of Analysis. 12th ed Association of Official


Analytical Chemist. Washington, DC.
Ariyani, F., L. E. Setiawan, dan F. E. Soetaredjo. 2008. Ekstraksi minyak atsiri dari
tanaman sereh dengan menggunakan pelarut metanol, aseton, dan n-heksan.
Widya Teknik. 7(2) : 124-133.
Arnelia. 2002. Fito-Kimia Komponen Ajaib Cegah PJK, DM, dan Kanker
http://Puslitbangbogor.go.id/ 11 November 20018.
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. 2012. Produksi Bulanan Perkebunan Besar,
Indonesia (000 Ton), 2012. bpshq@bps.go.id. Jakarta.
Dalimartha, S. 2006. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Puspa Swara Jakarta.
Dehpour AA, Ebrahimzadeh MA, Fazel NS, dan Mohammad NS. 2009. Antioxidant
activity of methanol extract of ferula assafoetida and its essential oil
composition. Grasas Aceites. 60: (4). 405-412.
Esquivel, P. and Victor M. Jimenez. 2012. Functional Properties Of Coffee and Coffee
by Producctst. Food Research International, 46, 488 – 495.
Folin, dan Ciocalteu. 1944. On Tyrosine and Tryptophane Determinations in Proteins.
Jour.Bio.Chem., 73 : 627-650, 1927, in. Todd-Sanford, 10, 412.
Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB.
Hariana. 2006. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Penebar Jakarta. Swadaya Wisma
Hijau.
Hattenschwiller, S dan Vitousek, P. M. 2000. The role of polyphenols interrestrial
ecosystem nutrient cycling. Review PII: S0169-5347(00)01861-9 TREE vol. 15,
no. 6 June 2000. Kanisius.
Horton, H.R. 2006. Principles of Biochemistry, 4th ed. Upper Saddle River, NJ:
Pearson/Prentice Hall.

Jember: Unej.
Kartika, B., dkk. 2010. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. Yogyakarta :
Universitas Gajah Mada.
Kawiji, Utami, R. , Himawan, E.N. 2011. Pemanfaatan Jahe (Zingiber Officinale Rosc.)
dalam Meningkatkan Umur Simpan dan Aktivitas Antioksidan Sale Pisang Basah.
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, Vol. IV, No. 2.
Koleva II, van Beek TA, Linssen JPH, de Groot A, dan Evstatieva LN. 2002. Screening
of plant extracts for antioxidant activity: A comparative study on three testing
methods. Phytochemical Analysis. 13: 8-17.

Meydani et al. 1995. Antioxidants and immune response in aged person: Overview of
present evidence. American Journal of Clinical Nutrition, 62: 14625-14765.

Nely. Fani. 2007. Aktivitas Antioksidan Rempah Pasar dan Bubuk Rempah Pabrik
dengan Metode Polyfenol dan Uji Aom. Skripsi tidak diterbitkan. Bogor: Jurusan
Teknik Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Puspita Sari, 2014.Pengantar Analisis Mutu Pangan Dan Hasil Pertanian.
Safitri, R. 2002. Karakterisasi Sifat Antioksidan InVitro Beberapa Senyawa yang
Terkandung dalam Tumbuhan Secang (Caesalpinia sappanL.).Disertasi.
Program Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran. Bandung
Sastrapradja, S. 1997. Tanaman Industri. LIPI. Indonesia
Soekarto, S.T. 1990. Penilaian Organoleptik. Penerbit Cipta Bharata Karya Jakarta.
V.L. and Rossi, J.A., 1965. Colorimetry of Total Phenolic with Phosphomolybdic
Phosphotungstic Acid Reagent, Am. J. Enol.Vitic, 16.
Wahyuni, N. 2005. Karakteristik Kimia dan Organoleptik Minuman Instan Madu Bubuk
dengan Penambahan Tepung Kerabang Telur Sebagai Sumber Kalsium. Skripsi
IPB, Bogor.
Winarsi,H.2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
DOKUMENTASI PEMBUATAN MINUMAN FUNGSIONAL
No. Gambar Keterangan
1. Pengecilan ukuran cascara

2. Penambahan air panas

3. Pengeksraksian cascara

4. Penyaringan cascara

5. Pencampuran minuman

6. Minuman fungsional campuran cascara,


secang dan serai
DOKUMENTASI PENGUJIAN POLIFENOL
No. Gambar Keterangan
1. Penyaringan sampel minuman

2. Pemasukan sampel dalam tabung reaksi


kemudian ditambahkan aquades

3. Penambahan reagen follin

4. Setelah pendiaman 60 menit, sampel


diukur nilai absorbansinya pada
panjang gelombang 765 nm
DOKUMENTASI PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN

No. Gambar Keterangan


1. Penambahan DPPH

2. Penambahan sampel minuman

3. Setelah pendiaman 30 menit, sampel


diukur nilai absorbansinya pada
panjang gelombang 517 nm
LAMPIRAN PERHITUNGAN

 Total Polifenol
Formulasi 1. (Caskara 30 ml, secang 0 ml, serai 0 ml, Larutan Gula ml 5, Air 65 ml)
Kelompok 1.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,573– 0,038
= 0,535
Konsentrasi/0,5ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746(Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,535)- 0,0012
= 0,0411 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5ml) : volume cuplikan
= 0,0411 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0822 mg GAE/mL

Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0, 520 – 0,038
= 0,482
Konsentrasi/0,5ml(y) = 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,482)- 0,0012
= 0,0372 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0372 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0743 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,0783

Standar deviasi = = 0,0056

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,0056/0,0783) x 100
= 7,1440
Kelompok 8.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,306– 0,038
= 0,268
Konsentrasi/0,5ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,268)- 0,0012
= 0,0212 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0212 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0424 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,318– 0,038
= 0,280
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,280)- 0,0012
= 0,0221 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0221 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0442 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,0433

Standar deviasi = = 0,0013

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata) *100


= (0,0013 /0,0433) x 100
= 2,9251

Formulasi 2. (Caskara 40 ml, secang 0 ml, Serai 0 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 55 ml)
Kelompok 2.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,662– 0,038
= 0,624
Konsentrasi/0,5ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,624)- 0,0012
= 0,0478 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0478 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0955 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0, 677– 0,038
= 0,639
Konsentrasi/0,5ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,639)- 0,0012
= 0,0489 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0489 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0977 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,0966

Standar deviasi = = 0,0016

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,0016/0,0966) x 100
= 1,6379
Kelompok 9.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 1,139– 0,038
= 1,101
Konsentrasi/0,5ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (1,101)- 0,0012
= 0,0833 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0833 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1667 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 1,121– 0,038
= 1,083
Konsentrasi/0,5ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (1,083)- 0,0012
= 0,0820 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0820 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1640 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,1653

Standar deviasi = = 0,0019

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,0019/0,1653) x 100
= 1,1486

Formulasi 3. (Caskara 30 ml, secang 4 ml, Serai 4 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 57 ml)
Kelompok 3.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,621– 0,038
= 0,583
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,583)- 0,0012
= 0,0447 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5ml) : volume cuplikan
= 0,0447 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0894 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,558– 0,038
= 0,520
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,520)- 0,0012
= 0,0400 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5ml) : volume cuplikan
= 0,0400 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0800 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,0847

Standar deviasi = = 0,0066

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,0066/0,0847) x 100
= 7,8486
Kelompok 10.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,911– 0,038
= 0,873
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,873)- 0,0012
= 0,0663 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0663 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1327 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 1,031 – 0,038
= 0,993
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,993)- 0,0012
= 0,0753 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0753 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1506 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,1416

Standar deviasi = = 0,0127

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,0127/0,1416) x 100
= 8,9405

Formulasi 4. (caskara 40 ml, secang 4 ml, Serai 4 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 47 ml)
Kelompok 4.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,666– 0,038
= 0,628
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,628)- 0,0012
= 0,0480 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0480mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0961 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,661– 0,038
= 0,623
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,623)- 0,0012
= 0,0477 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0477 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0954 mg GAE/mL
Rata-Rata = = = 0,0957

Standar deviasi = = 0,005

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,005/0,0957) x 100
= 0,5511
Kelompok 11.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,667– 0,038
= 0,629
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,00120
= 0,0746 (0,629)- 0,0012
= 0,0481 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0481 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0962 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
=0,686– 0,038
= 0,648
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,648)- 0,0012
= 0,0495 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0495 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0991 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,0977

Standar deviasi = = 0,0020

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,0020/0,0977) x 100
= 2,0524

Formulasi 5. (caskara 30 ml, secang 8 ml, Serai 8 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 49 ml)
Kelompok 5.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,557– 0,038
= 0,519
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,519)- 0,0012
= 0,0399 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0399 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0798 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,557– 0,038
= 0,519
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,519)- 0,0012
= 0,0399 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0399 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0798 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,0798

Standar deviasi = = 0

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,0798/0,0798) x 100
=0
Kelompok 12.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,808 – 0,038
= 0,770
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,770)- 0,0012
= 0,0586 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0586 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1173 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,728 – 0,038
= 0,690
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,690)- 0,0012
= 0,0527 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0527 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1053 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,1113

Standar deviasi = = 0,0084

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,0084/0,1113) x 100
= 7,520

Formulasi 6. (caskara 40 ml, secang 8 ml, Serai 8 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 37 ml)
Kelompok 3.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,732 – 0,038
= 0,694
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,694) - 0,0012
= 0,0530 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0530 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1059 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,827– 0,038
= 0,789
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,789)- 0,0012
= 0,0601 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0601 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1201 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,1130

Standar deviasi = = 0,0100

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,0100/0,1130) x 100
= 8,8670
Kelompok 13.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,847 – 0,038
= 0,809
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,809)- 0,0012
= 0,0616 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0616 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1231 mg GAE/mL

Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,813 – 0,038
= 0,775
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,775)- 0,0012
= 0,0590 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0590 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1180 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,1206

Standar deviasi = = 0,0036

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,0036/0,01206) x 100
= 2,9751

Formulasi 7. (caskara 40 ml, secang 8 ml, Serai 4 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 43 ml)
Kelompok 7.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,722– 0,038
= 0,684
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,684)- 0,0012
= 0,0522 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0522 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1045 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,306– 0,038
= 0,268
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,268)- 0,0012
= 0,0212 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0212 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,0424 mg GAE/mL

Rata-Rata = = = 0,0734

Standar deviasi = = 0,0439

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,0439 /0,0734) x 100
= 59,7775
Kelompok 14.
Ulangan 1.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,700– 0,038
= 0,662
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,662)- 0,0012
= 0,0506 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0506 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1012 mg GAE/mL
Ulangan 2.
Nilai Absorban = Nilai Absorbansi Sampel– Nilai Absorbansi Blanko
= 0,813– 0,038
= 0,775
Konsentrasi/0,5 ml(y)= 0,0746x - 0,0012
= 0,0746 (Nilai absorban)- 0,0012
= 0,0746 (0,775)- 0,0012
= 0,0590 mg GAE/ 0,5 ml
Konsentrasi = (Konsentrasi/0,5 ml) : volume cuplikan
= 0,0590 mg GAE/ 0,5 ml : 0,5 ml
= 0,1180 mg GAE/mL
Rata-Rata = = = 0,1096

Standar deviasi = = 0,0119

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,0119 /0,1096) x 100
= 10,8773

 Aktivitas Antioksidan
Persen Penghambatan = [A0-As/A0]x100%
A0= Absorbans tanpa penambahan sampel estrak (Kontrol)
As= Absorbans dengan penambahan sampel ekstrak

Formulasi 1. (Caskara 30 ml, secang 0 ml, serai 0 ml, Larutan Gula ml 5, Air 65 ml)
Kelompok 1.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,754)/ 0,839x 100%
= 10,131%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,786)/ 0,839x 100%
= 6,317%

Rata-Rata = = = 8,224%

Standar deviasi = = 2,697

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (2,697/8,224) x 100
= 32,793
Kelompok 8.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,733)/ 0,839x 100%
= 12,634%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,793)/ 0,839x 100%
= 5,483%
Rata-Rata = = = 9,058%

Standar deviasi = = 5,057

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (5,057/ ) x 100

= 55,824

Formulasi 2 (Caskara 40 ml, secang 0 ml, Serai 0 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 55 ml)
Kelompok 2
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,786)/ 0,839x 100%
= 26,698%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,632)/ 0,839x 100%
= 24,672%

Rata-Rata = = = 25,685%

Standar deviasi = = 1,433

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (1,433/25,685) x100
= 5,578

Kelompok 9.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,216)/ 0,839x 100%
= 74,255 %
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,321)/ 0,839x 100%
= 61,740%

Rata-Rata = = = 67,998%
Standar deviasi = = 8,849

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (8,849/11,2512) x 100
= 13,014

Formulasi 3 (Caskara 30 ml, secang 4 ml, Serai 4 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 57 ml)
Kelompok 3.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,737)/ 0,839x 100%
= 12,157%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,679)/ 0,839x 100%
= 19,070%

Rata-Rata = = = 15,614%

Standar deviasi = = 4,888

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (4,888/15,614) x 100
= 31,307

Kelompok 10.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,490)/ 0,839x 100%
= 41,597%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,509)/ 0,839x 100%
= 39,333%

Rata-Rata = = = 49,465%

Standar deviasi = = 1,601

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (1,601/49,465) x 100
= 3,957

Formulasi 4 (caskara 40 ml, secang 4 ml, Serai 4 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 47 ml)
Kelompok 4.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,512)/ 0,839x 100%
= 38,975%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,460)/ 0,839x 100%
= 45,173%

Rata-Rata = = = 42,074%

Standar deviasi = = 4,383

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (4,383/42,074) x 100
= 10,416
Kelompok 11.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,313)/ 0,839x 100%
= 62.694%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,302)/ 0,839x 100%
= 64.005%

Rata-Rata = = = 63,439%

Standar deviasi = = 0,927

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,927/63,439) x 100
= 1,463

Formulasi 5 (caskara 30 ml, secang 8 ml, Serai 8 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 49 ml)
Kelompok 5.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,489)/ 0,839x 100%
= 41,716%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,464)/ 0,839x 100%
= 44,696%

Rata-Rata = = = 43,206%

Standar deviasi = = 2,107

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (2,107/43,206) x 100
=4,877
Kelompok 12.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,509)/ 0,839x 100%
= 39,333%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,519)/ 0,839x 100%
= 38,141%

Rata-Rata = = = 38,737%

Standar deviasi = = 0,843

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,843/38,737) x 100
= 2,176

Formulasi 6 (caskara 40 ml, secang 8 ml, Serai 8 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 37 ml)
Kelompok 6.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,305)/ 0,839 x 100%
= 63,647%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,298)/ 0,839 x 100%
= 64,482%

Rata-Rata = = = 64,064%

Standar deviasi = = 0,590

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (0,590/64,064) x 100
=0,921
Kelompok 13.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,361)/ 0,839 x 100%
= 56,973%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,307)/ 0,839x 100%
= 63,409%

Rata-Rata = = = 60,191%

Standar deviasi = = 4,551

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (4,551/60,191) x 100
= 7,561

Formulasi 7 (caskara 40 ml, secang 8 ml, Serai 4 ml, Larutan Gula 5 ml, Air 43 ml)
Kelompok 7.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,318)/ 0,839 x 100%
= 62,098%
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,409)/ 0,839 x 100%
= 51,251%

Rata-Rata = = = 56,675%
Standar deviasi = = 7,669

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (7,669/56,675) x 100
= 13,532
Kelompok 14.
Ulangan 1
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,555)/ 0,839 x 100%
= 33,850 %
Ulangan 2
Persen Penghambatan = [(A0-As)/A0]x100%
= (0,839- 0,612)/ 0,839 x 100%
= 27,056%

Rata-Rata = = = 30,453%

Standar deviasi = = 4,804

RSD = (Standar deviasi/ rata-rata)*100


= (4,804/30,453 x 100)
= 15,775