Anda di halaman 1dari 9

AKUNTANSI MULTIPARADIGMA

REVIEW JURNAL
SILENCES IN ANNUAL REPORT
(BY CHWASTIAK, m. & YOUNG, J. J., 2002)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Multiparadigma

OLEH :

ANNISA RIZKANINGHADI 166020310111007


GAYATRI PERWITASARI 166020310111017
MUHAMMAD RUSYDI AZIZ 166020310111022

PROGRAM PASCA SARJANA


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2017
SILENCES IN ANNUAL REPORT

Fokus dari penelitian ini adalah bagaimana laporan keuangan bergantung pada tindakan
mendiamkan ketidakadilan yang terjadi dalam rangka menciptakan laba sehingga laba disini
merupakan ukuran keberhasilan yang dapat diterima semua pihak. Peneliti meneliti cara-cara
yang digunakan perusahan atas diamnya dalam ketidakadilan terhadap bumi, peperangan,
keindahan perdamaian, spiritual, manusia, pemiskinan sosial yang timbul dari kelebihan
konsumsi, dan dehumanisasi pekerja. Peneliti juga mengemukakan bahwa dengan
menghancurkan bungkamnya perusahaan dari nilai-nilai perusahaan yang cenderung
memaksimalkan laba melalui cara-cara alternatif, sehingga diharapkan manusia terbebas dari
batasan maksimalisasi keuntungan dan memajukan dunia yang damai yang mana hal ini
sebaiknya didahulukan untuk akumulasi modal.
Latar belakang yang diambil dalam penelitian ini adalah fenomena yang terjadi dalam
perusahaan, yakni laporan keuangan perusahaan yang terdiri dari akun dari transaksi akuisisi,
perampingan, spin-offs, globalisasi, peningkatan saham, teknologi baru, outsourcing,
pengurangan biaya tenaga kerja atas relokasi fasilitas manufaktur. Akun tersebut bertujuan
untuk meningkatkan laba dan meningkatkan nilai dari modal, namun malah terjadi kesenjangan
antara si kaya dan si miskin yang diakibatkan oleh dampak sosial (misal PHK untuk
mengurangi biaya perusahaan) dan lingkungan (misal polusi) yang mana hal ini dapat
menimbulkan kesenjangan sosial di masyarakat. Dari hal ini, peneliti menganggap bahwa
perusahaan kurang memanusiakan manusia dan lebih condong untuk mengejar laba bagi
perusahaan.
Peneliti menggunakan beberapa model pada penelitian terdahulu seperti Neimark (1992),
Neimark & Tinker (1986), Tinker & Neimark (1987, 1988) Graves et al. (1996) dan Preston et
al. (1996). Prestin et al. (1996) disini mengemukakan “ways of seeing” atas kesan, ideologi,
dan peran konstitutif pada perusahaan. Penelitian-penelitian ini mengemukakan pemahaman
atas peranan Laporan Keuangan dalam keberlanjutan perusahaan, akan tetapi penelitian
tersebut tidak ada yang menyatakan mengenai kebungkaman “silence” terhadap ketidakadilan
perusahaan dalam Laporan Keuangan.
Dalam hal teori, peneliti mengemukakan pengertian bahasa menurut peneliti sendiri,
bahasa memiliki manfaat tersendiri yaitu menginterpretasi dunia, membantu dalam
membangun kedaaan namun di lain sisi juga membatasi kondisi ini. Menurut Eagleton (1991),
pengungkapan dominan merupakan alat atau mekanisme melalui ketidakadilan yang
disebabkan kekuasaan dan kekayaan yang tidak merata namun dibenarkan pada khalayak
umum. Pengungkapan dominan ini dilakukan dengan membentuk pemahaman bahwa dunia
memang seperti itu. Contoh yang terjadi menurut Galeano (2000: 19) adalah pada saat tahun
1998, UNICEF melaporkan adanya permasalahan kelaparan pada anak-anak karena kurangnya
vitamin dan mineral sehingga merambat ke berbagai hal seperti Gross National Product (GNP)
sebagai dampak ekonomi serta goyangnya akumulasi modal. Yang menjadi permasalahan
disini, hal yang menjadi penilaian atas kerugian dari permasalahan kelaparan anak-anak disini
adalah modal, bukan anak-anak. Permasalahan yang sebenarnya terjadi adalah adanya
kemiskinan yang menyebabkan anak-anak kelaparan namun yang ditilik oleh perusahaan-
perusahaan serta UNICEF disini adalah kerugian modal. Hal ini menunjukkan bahwa nyawa
anak-anak yang kelaparan lebih rendah dari modal yang telah hilang akibat permasalahan
kelaparan anaknya yang berimplikasi pada solusi untuk penyetaraan kekayaan agar anak-anak
tidak kelaparan akan jarang sekali untuk diimplementasikan. Sehingga permasalahan-
permasalahn seperti ini akan mengarah ke permasalahan kepentingan politik perusahaan.
Peneliti menyatakan bahwa penelitiannya tidak cukup untuk membuat perubahaan dalam
hal menghancurkan pembungkaman dalam laporan keuangan serta counter-posing atas nilai
perusahaan dengan alternatif yang diharapkan bisa memberikan kebebasan pada manusia untuk
memanusiakan manusia dibanding dengan memaksimalkan laba. Peneliti menyatakan bahwa
untuk hal semacam ini, dibutuhkan seorang agen perubahan yang secara jelas agen perubahan
tersebut tidak mungkin dari pihak perusahaan.
Pada bagian pembahasan, peneliti menjabarkan bungkamnya perusahaan terhadap bumi
dengan meneliti laporan keuangan perusahaan dalam industri yang sering berhubungan dengan
mengambil sumber daya dari bumi dan menggunakan tanaman ataupun hewan sebagai
komoditas seperti: tambang, pengembangan properti, energi, agrobisnis, daging, dan
pemrosesan makanan. Lalu pada bagian kedamaian dan perang, peneliti memilih perusahaan-
perusahaan mana saja yang memiliki benefit secara langsung dari bisnis perang, kontrak
pertahanan, dan lain sebagainya. Dalam hal bungkam yang berkaitan dengan konsumsi, peneliti
melihat media, produk konsumen, jasa keuangan, manajemen limbah, farmasi, dan perusahan
penerbangan. Untuk bungkam atas pekerja, peneliti mempertimbangkan referensi untuk
pekerja yang tercantum dalam laporan perusahaan yang dipilih atas bungkam yang lainnya.
Dalam hal bumi sebagai komoditas, peneliti menjabarkan berbagai penelitian bahwa
perilaku perusahaan cenderung merusak bumi yang mana diantara adalah pemanfaatan sumber
daya secara besar-besaran tanpa memperhatikan bumi tersebut karena dinilai lebih berbiaya
rendah. Plumwood (1993) menyatakan bahwa hingga cara pikir ini berubah, ditakutkan akan
terjadi kondisi dimana kita harus membayar setiap air yang kita minum maupun membayar
setiap udara segar yang kita hirup atau dengan kata lain angin dan air menjadi barang mewah
yang ditakutkan pula hanya orang kaya saja yang dapat membelinya. Permasalahan ini
diperparah dengan besarnya tingka kelahiran yang terjadi di masyarakat yang akhirnya
kebutuhan atas energi maupun barang lain menjadi lebih besar sehingga perusahaan semakin
gencar memanfaatkan sumber daya yang ada demi memenuhi kebutuhan pasar yang
berdampak pada global warming, virus penyakit, kelaparan, dan yang paling parah kepunahan.
Dalam intervensi manusia dengan alam, tindakan manusia jelas sangat mempengaruhi
alam. Manusia yang memanfaatkan alam, memiliki beberapa kemungkinan yang terjadi, yaitu
pertama, manusia memanfaatkan alam tanpa memperbaiki alam sehingga biaya yang
dikeluarkan lebih rendah. Kemungkinan kedua, adalah manusia memanfaatkan alam dengan
memperbaiki alam tersebut seperti menggunakan rotasi penanaman tanaman sehingga tanah
tidak rusak, melakukan reboisasi, dan lain sebagainya dan tentu saja hal ini akan memberikan
biaya bagi perusahaan.
Dalam rekasaya hidup ini, perusahaan cenderung mengembangkan bio-engineering.
Menurut Rifkin (1998) dan Shiva (1997), Bio-engineering menyediakan cara yang lebih bagi
perusahaan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada. Akan tetapi, yang terjadi adalah
masyarakat dan lingkungan alam mungkin akan membayar biaya yang tidak dapat dihindari
berupa potensi-potensi yang mengancam kesehatan atas manusia, polusi biological, rusaknya
ekosistem, dan lain sebagainya.
Dalam hal hewan sebagai komoditas, salah satu bukti perusahaan mengeksploitasi hewan
adalah seperti yang disampaikan Tyson Foods, Inc. (1996:4) yang mana mereka mampu untuk
meningkatkan kemampuan penjagalan dari 36 juta burung perminggu ke 44 juta burung
perminggu dengan belanja modal yang minimal. Selain itu, Smithfield Foods, Inc (1995) juga
menyatakan bahwa Bladen Country Plant telah membunuh 16.000 ekor babi setiap harinya dan
akan meningkat menjadi 24.000 ekor babi perhari dengan menyebutkan bahwa Bladen Country
Plant telah menggunakan fasilitas yang paling modern yang ada. Hal tersebut hanya contoh
dari dua perusahaan, belum termasuk perusahaan lain yang mana secara agresif memanfaatkan
hewan demi memenuhi angka penjualan sehingga laba bisa pada tingkat yang maksimal. Belum
lagi, perusahaan-perusahaan tersebut gagal untuk melaporkan pengalaman para pekerja yang
melakukan penjagalan hewan sebanyak itu. Peneliti menganggap bahwa dengan kondisi
penjagalan yang dilakukan pekerja tersebut belum lagi jumlah hewan yang dijagal sangat besar,
ditakutkan akan berdampak ke psikologis pekerja jagal.
Hal yang menarik pada penelitian ini adalah “piece is bad for business, but war is good
for business”. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1989 pada saat insiden Tembok Berlin yang
jatuh, masyarakat di berbagai belahan dunia merayakan kedamaian. Akan tetapi, hal tersebut
tidak berlaku bagi kontraktor pertahanan US yang mana hal tersebut dengan jelas tidak
ditampilkan dalam laporan keuangan perusahaan. Terlebih lagi, mereka mendiskusikan akhir
dari perang dingin yang mana dapat berdampak pada kehilangan kontrak, penjualan, dan pasar.
Seperti yang kita ketahui, kontraktor pertahanan menjual barang berupa senjata perang dan
menjual jasa pasukan untuk melakukan perang. Dengan semakin damainya dunia, maka seiring
waktu senjata dan pasukan perang akan tidak diminati, bahkan akan terdapat larangan terhadap
hal-hal tersebut. Hal ini tentu membahayakan kondisi perusahaan. Di lain sisi, invasi US
terhadap Iraq atas adanya berbagai isu nuklir, menjadi hal yang membahagiakan bagi
perusahaan kontrak pertahanan karena hal ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan nilai
dari perusahaan mereka dalam bentuk penjualan. Dengan adanya perang disini, perusahaan-
perusahaan makin bersaing untuk meningkatkan penjualan dengan meningkatkan kualitas,
penyediaan kebutuhan pasar dan lain sebagainya dengan mengabaikan dampak dari
penggunaan atas barang atau jasa yang mereka jual.
Hal yang menjadi perhatian selanjutnya bagi penelitian adalah dunia yang dipenuhi
konsumen yang terlalu banyak. Kondisi ini terjadi setelah perang duni ke 2 yang mana US
sedang dengan gencar-gencarnya meningkatkan ekonominya. US terlibat sercara aktif dengan
penciptaan budaya konsumsi tinggi sehingga muncul dalam teori ekonomi bahwa negara yang
makmur adalah negara yang tinggi produksi juga tinggi konsumsi. Budaya konsumsi tinggi ini
disebarkan dengan analogi jika konsumsi tinggi, maka produksi juga tinggi. Jika produksi
tinggi, maka tenaga kerja yang dibutuhkan juga tinggi. Jika tenaga kerja yang dibutuhkan
tinggi, maka lapangan kerja akan semakin banyak sehingga setiap orang dapat mendapatkan
pekerjaan. Namun, Frank (1999) dan Galeano (2000) memberikan penjelasan bahwa tingginya
konsumsi belum tentu membawa kebahagiaan, karena yang terjadi sebenarnya pada saat itu
adalah konsumsi masyarakat menjadi tinggi namun diikuti dengan utang konsumen, jam kerja
yang lebih banyak, dan terjadinya pencurian terhadap barang-barang konsumsi. Hal ini
membuktikan bahwa pendapatan yang didapatkan masyarakat belum tentu dapat memuaskan,
dan di lain sisi konsumsi tinggi yang menjadi budaya masyarakat US akan menjadi cemoohan
jika mereka tidak melakukan konsumsi tinggi, meskipun mereka mengalami “pasak lebih besar
daripada tiang”. Hal yang lebih parah adalah jika kita pikir kembali, hasil dari konsumsi adalah
sampah. Jika semakin banyak konsumsi yang dilakukan, maka akan semakin banyak sampah
yang diciptakan. Kemudian, semakin banyak sampah, maka akan semakin banyak pula
permasalahan sampah yang ada seperti sampah yang tidak bisa hancur, racun-racun akibat
sampah yang merusak lingkungan, dan lain sebagainya. Namun pada pengakuan di laporan
keuangan, mereka menyebutkan bahwa sampah adalah peluang dalam menghasilkan laba
(Browning-Ferris Industries Inc, 1989).
Peneliti juga menyebutkan bahwa perusahaan cenderung secara tidak langsung melatih
konsumen-konsumen baru. Target dari konsumen-konsumen baru ini adalah orang-orang muda
yang masih bersekolah. Proses ini dilakukan dengan penciptaan mindset bagi target melalui
educational marketing karena dianggap yang paling efektif. Belum lagi, perusahaan
menggunakan guru sebagai media untuk memasarkan barang dan jasa perusahaan. Melihat
kondisi tersebut, peneliti menyebutkan bahwa perusahaan tidak berhenti menggunakan sekolah
sebagai kendaraan untuk iklan bagi produk dan jasanya. Berdasarkan Consumers’ Union
(1995) dan Molnar (1996), perusahaan memberikan pendanaan atas pendidikan yang mana
akhirnya sekolah condong menjadi alat bagi perusahaan untuk meningkatkan penjualan
perusahaan. Giroux (1994) menyatakan bahwa dari pada mengijinkan kepentingan perusahaan
untuk menggunakan pendidikan publik untuk kegunaan mereka, pendidikan harus tetap
memberikan keuntungan bagi publik dan menyiapkan pelajar untuk mengatur daripada diatur.
Di sisi lain, peneliti juga menjelaskan signifikansi penuaan manusia. Penuaan manusia
ternyata membawa dampak bagi aktivitas-aktivitas perusahaan. Perusahaan menyebutkan
bahwa manusia menginginkan penundaan penuaan atau kecantikan. Hal tersebut sesuai dengan
pendapat Bristol-Myers Compani (1988:22) bahwa adanya keinginan manusia untuk selalu
tampil muda bisa memacu pertumbuhan produk perawatan pribadi, seperti pelembab dan krim
anti keriput untuk kulit, pewarna rambut untuk menutupi rambut beruban, dan kosmetik yang
didesain untuk menyamarkan wajah yang menua.
Keriput dan rambut yang memutih, dan penuaan merupakan salah satu dampak dari
proses reproduksi manusia, dan hal ini merupakan arena lain, dimana perusahaan mencoba
untuk mengubah perubahan alami yang dimiliki manusia, menjadi hal yang menguntungkan
perusahaan. Misalnya fenomena menopouse yang dijadikan sebagai gejala penyakit, yang bisa
diobati dengan produk tertentu, dan menopouse dianggap bukan hal wajar dari bagian hidup
manusia (Cobb, 1991; Logothetis, 1991; Northrup, 2001).
Bukan hanya wanita yang menjadi subjek dalam intervensi penggunaan obat sebagai
pengurangan proses penuaan. Perusahaan pada masa lalu juga berfokus pada penurunan dalam
menghormati wanita, dalam rangka promosi produk, mereka juga mulai menjadikan proses
penuaan laki-laki menjadi masalah yang harus ditangani dalam rangka peningkatan pasar.
(Melamed, 1983; Wolf, 1991).
Budaya konsumsi tinggi yang cenderung diadopsi orang-orang US, ternyata juga
diaplikasikan kepada masyarakat negara lain dalam rangka pengutamaan laba sebelum
pemerhatian manusia. Kasus yang terjadi adalah Brazil. Intel (1996:15) menyatakan bahwa
segmen pasar PC Brazil meningkat 42% yang mengakibatkan Brazil merupakan segmen pasar
PC terbesar di Amerika Selatan. Intel juga memfokuskan 70% orang-orang brazil yang
dibawah umur 30 sebagai target pasar sehingga timbullah generasi yang lapar atas teknologi
PC High-End. Akan tetapi, di lain sisi masyarakat Brazil cenderung sebagai negara
berkembang yang mana dapat diketahui melalui Novartis Foundation for Sustainable
Development (2001) bahwa 43,5% populasi di Brazil hidup dengan kurang dari 2 US$ tiap
harinya menyebabkan merak sangat miskin. Belum lagi hal itu diperparah dengan 10 Juta anak
Brazil di bawah umur hidup di jalanan yang mereka bekerja sebagai tukang lap sepatu, penjual
koran, pencuri, protitusi, dan bahkan pengedar narkoba (McCreery, 2001; Rota, 1997; Time,
1993).
Hal miris tersebut tentu tidak dilaporkan dalam Laporan perusahaan yang menjadikan
Brazil sebagai target pasar dan cenderung untuk dibungkamkan. Hal yang serupa terjadi pada
Indonesia dan Thailand sesuai dengan yang dilaporkan oleh Unocal Corporation bahwa Unocal
telah mengandalkan operasinya di Thailand dan Indonesia yang mana mereka adalah negara
yang telah dilanda dengan krisis ekonomi yang begitu besar pada region tersebut. Unocal juga
menyebutkan bahwa ada dampak kecil atas operasinya namun sebagin besar pendapatan
operasi mereka dilindungi dari fluktuasi mata uang dengan mengunakan kontrak yang ada.
Indonesia menjadi korban dari investasi tanpa tubuh (disembodied), harga pasar, dan alokasi
sumber daya. Hal ini mengakibatkan inflasi yang berspiral yang dikombinasi dengan PHK
besar-besaran akibat dari krisis yang menjadikan 48% orang Indonesia turun di bawah garis
kemiskinan, harga makanan naik 35% pada tiga bulan pertama pada 1998, dan terjadi
malnutrisi pada anak-anak Indonesia (Gershman & Irwin, 2000) dan (Gupta et al., 1998).
Pada permasalahan pekerja atau buruh, beberapa perusahaan menyatakan bahwa banyak
berbagai problematika sebagai keselamatan pekerja sebagai hal yang kalah penting dengan
produktifitas perusahaan seperti yang dikemukakan oleh The Boeing Company (1995:23),
ditahun 1994 yang mana mereka baru melakukan peningkatan keamanan untuk mengurangi
rasio kehilangan jam kerja karena sakit yang berhubungan dengan kerja maupun kecelakaan
sebesar 50% dalam dua tahun. Selain itu Nike Inc. juga menyebutkan bahwa ular cobra sering
masuk ke ruang rubber pada perusahaan di Malaysia dan mengganggu pekerja sehingga
mengurangi waktu produksi komponen sepatu. Melalui hal ini, kita dapat mengetahui bahwa
tidak hanya keselamatan pekerja saja yang cenderung diakhirkan dibandingkan tujuan
perusahaan, namun juga sering terjadinya restrukturasi yang mengakibatkan pekerja
kehilangan pekerjaan mereka. Karena hal ini, kesejahteraan pekerja seringkali terancam
apalagi jika telah terjadi PHK karena restrukturasi tersebut. Eisler (1987) menyatakan bahwa
kekuatan manajer top pada kerja dan buruh.
Kesimpulan dari penelitian ini yang disampaikan oleh peneliti ada lima, yaitu yang
pertama perusahaan melakukan praktik penbungkaman terhadap ketergantungan pada bumi
dan alam untuk kelangsungan hidup dalam menghasilkan laba agar laba tersebut menjadi
ukuran kesuksesan tanpa permasalahan. Praktik ini tentu membutuhkan mengobjektifkan bumi
sebagai sumber daya dan menbungkamkan perwakilan alternatif atasnya sebagai hidup
otonom. Selanjutnya penyajian kelebihan populasi seabgai kesempatan pasar untuk perusahaan
produk konsumen menutupi ancaman terhadap kelestarian lingkungan. Belum lagi agribisnis
tumbuh subur dengan mengabaikan risiko jangka panjang atas mengganti proses natural
dengan artifisial/buatan. Dan profitabilitas atas industri proses hewan bergantung pada
penbungkaman proses kekejaman atas penjagalan hewan-hewan.
Kesimpulan yang kedua adalah peneliti menjelaskan bahwa laporan keuangan
perusahaan cenderung mendukung adanya gerakan perang dan menilai kedamaian sebagai
kondisi yang tidak produktif dan menbungkamkan hal ini pada prosesnya. Normalnya,
perusahaan jelas menyembunyikan kondisi bahwa perang sangat menguntungkan perusahaan
begitu juga sebaliknya kedamaian sangat merugikan perusahaan yang mana dapat diasumsikan
perusahaan cenderung memiliki pola pikir meraih keuntungan setinggi-tingginya tanpa
memperhatikan kesejahteraan manusia.
Kesimpulan yang ketiga, peneliti menjelaskan bahwa aktifitas penbungkaman
dibutuhkan dalam hal menggolongkon dan menaikkan konsumsi sebagai jalan hidup yang
akhir. Dalam teori ekonomi, proses perkembangan suatu negara yang terakhir adalah
masyarakat dengan konsumsi tinggi. Hal ini merupakan hal yang diinginkan perusahaan
dengan berbagai, misalnya jika konsumsi naik, maka akan menaikkan produksi yang kemudian
juga menaikkan kebutuhan akan tenaga kerja. Padahal, semakin banyak konsumsi belum tentu
kebutuhan akan tenaga kerja juga meningkat mengingat perusahaan bisa memaksimalkan
penggunaan teknologi serta penambahan jam kerja karyawan yang ada untuk memproduksi
lebih disertai dengan peningkatan hutang-hutang masyarakat atas konsumsi yang tinggi. Selain
itu, hal ini diperparah dengan perusahaan yang menggunakan sarana pendidikan seperti sekolah
untuk melakukan marketing yang secara tidak langsung melalui pendanaan yang nantinya
sekolah akan mewajibkan muridnya untuk mengkonsumsi barang/jasa dari perusahaan
tersebut. Hal selanjutnya adalah mengenai pemanfaatan keinginan manusia untuk tampil baik
atau tampak selalu muda dengan membuat produk-produk anti-aging, bahkan memberitakan
bahwa hal-hal wajar dalam proses penuaan manusia seperti menopouse adalah hal yang harus
diobati dengan obat tertentu, untuk menambah pendapatan perusahaan. Dan yang terakhir
adalah rasionalisasi atas penciptaan pasar pada negara berkembang yang mana perusahaan
menbungkamkan kondisi kemiskinan, penyakit, dan kelaparan atas mayoritas target pasarnya.
Kesimpulan terakhir adalah perayaan produktivitas perusahaan bergantung pada
pembungkaman tanggung jawab perusahaan atas penciptaan lapangan kerja, serta potensi
pekerjaan untuk dijadikan praktik kreatif dan spiritual. Peneliti juga memberikan pernyataan
Rich (2001:167) bahwa We have to keep on asking the questions still being defined as non-
questions—the ones beginning Why . . . ?What if . . . ?We will be told these are childish, na¨ıve,
“pre-postmodern” questions. They are the imagination’s questions. Maksud dari pernyataan
tersebut adalah kita adalah bagian dari sejarah yang mana kita hidup pada bagiannya. Oleh
karena itu, kita harus tetap menulis sejarah tersebut dan pilihan kita seberapa besar tulisan pada
sejarah yang kita ukir selama kita hidup. Terkadang apa yang kita tulis adalah sesuatu yang
kekanak-kanakan, naif, kolot dan hanya suatu hal yang imajinatif. Akan tetapi itu tergantung
dari pilihan kita.