Anda di halaman 1dari 7

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis. Ada banyak organ yang bisa diserang oleh bakteri ini,
misalnya paru, tulang vertebrae, peritoneal, dan lain-lain. Tuberkulosis paling sering
menyerang paru (Kemenkes RI, 2014). Penyakit ini menyebar lewat udara atau droplet
yang mengandung bakteri Mycobacterium tuberculosis dari penderita (Yoga et al., 2011).

B. Etiologi

Gambar 2.1. Mycobacterium tuberculosis


(Sumber: Potensky, 2017)
Penyebab penyakit ini adalah bakteri kompleks Mycobacterium tuberculosis.
Mycobacteria termasuk dalam famili Mycobacteriaceae dan termasuk dalam ordo
Actinomycetales. kompleks Mycobacterium tuberculosis meliputi M. tuberculosis, M.
bovis, M. africanum, M. microti, dan M. canettii. Dari beberapa kompleks tersebut, M.
tuberculosis merupakan jenis yang paling sering dijumpai (Mansjoer, 2001) Bakteri ini
memiliki bentuk batang, aerob, obligat intraselular dengan ukuran panjang 1-4 µm dan
tebal 0,3-0,6 µ, dan bersifat tahan asam, oleh karena itu dikenal juga sebagai Batang
Tahan Asam (BTA). Sumber penularannya ialah penderita tuberkulosis BTA positif
pada waktu batuk atau bersin. Pada saat batuk atau bersin, penderita menyebarkan
kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Kuman yang berada dalam
droplet dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam (Prasad et al.,
2012).
Orang dapat terinfeksi jika droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan.
Setelah kuman tuberkulosis masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman
tuberkulosis tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya melalui sistem
peredaran darah, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh
lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin
menular penderita tersebut.Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman),
maka penderita tersebut dianggap tidak menular.Seseorang terinfeksi tuberkulosis
ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut
(Prasad et al., 2012).

C. Epidemiologi
Secara global pada tahun 2016 terdapat 10,4 juta kasus insiden TBC (CI 8,8 juta –
12, juta) yang setara dengan 120 kasus per 100.000 penduduk. Lima negara dengan
insiden kasus tertinggi yaitu India, Indonesia, China, Philipina, dan Pakistan seperti yang
terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 2.2 Insidensi TBC di dunia


(Sumber: Global Tuberculosis Report, 2017)
Sebagian besar estimasi insiden TBC pada tahun 2016 terjadi di Kawasan Asia
Tenggara (45%)—dimana Indonesia merupakan salah satu di dalamnya—dan 25% nya
terjadi di kawasan Afrika seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 2.3 Estimasi Insidensi TBC


(Sumber: Global Tuberculosis Report, 2017)

Badan kesehatan dunia mendefinisikan negara dengan beban tinggi/high burden


countries (HBC) untuk TBC berdasarkan 3 indikator yaitu TBC, TBC/HIV, dan MDR-
TBC. Terdapat 48 negara yang masuk dalam daftar tersebut. Satu negara dapat masuk
dalam salah satu daftar tersebut, atau keduanya, bahkan bisa masuk dalam ketiganya.
Indonesia bersama 13 negara lain, masuk dalam daftar HBC untuk ke 3 indikator
tersebut. Artinya Indonesia memiliki permasalahan besar dalam menghadapi penyakit
TBC.

Keterangan:

TB : Tuberculosis
HIV : Human
Immunodeficiency
virus
MDR : Multidrug
ressistance

Gambar 2.4 Negara-negara dengan Beban Tinggi TB, TB-HIV, dan TB-MDR
(Sumber: Global Tuberculosis Report, 2017)
Jumlah kasus baru TB di Indonesia sebanyak 420.994 kasus pada tahun 2017 (data
per 17 Mei 2018). Berdasarkan jenis kelamin, jumlah kasus baru TBC tahun 2017 pada
laki-laki 1,4 kali lebih besar dibandingkan pada perempuan. Bahkan berdasarkan Survei
Prevalensi Tuberkulosis prevalensi pada laki-laki 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada
perempuan. Begitu juga yang terjadi di negara-negara lain. Hal ini terjadi kemungkinan
karena laki-laki lebih terpapar pada fakto risiko TBC misalnya merokok dan kurangnya
ketidakpatuhan minum obat. Survei ini menemukan bahwa dari seluruh partisipan laki-
laki yang merokok sebanyak 68,5% dan hanya 3,7% partisipan perempuan yang merokok
(Kemenkes RI, 2018).
Berdasarkan Survei Prevalensi Tuberkulosis tahun 2013-2014, prevalensi TBC
dengan konfirmasi bakteriologis di Indonesia sebesar 759 per 100.000 penduduk berumur
15 tahun ke atas dan prevalensi TBC BTA positif sebesar 257 per 100.000 penduduk
berumur 15 tahun ke atas. Berdasarkan survey Riskesdas 2013, semakin bertambah usia,
prevalensinya semakin tinggi. Kemungkinan terjadi reaktivasi TBC dan durasi paparan
TBC lebih lama dibandingkan kelompok umur di bawahnya. Sebaliknya, semakin tinggi
kuintil indeks kepemilikan (yang menggambarkan kemampuan sosial ekonomi) semakin
rendah prevalensi TBC seperti yang diperlihatkan pada gambar berikut ini.

Gambar 2.5 Prevalensi TBC berdasarkan Umur, Pendidikan, dan Sosial Ekonomi
(Sumber: Kemenkes RI, 2018)

D. Faktor Resiko
Penyakit TBC paru yang disebabkan terjadi ketika daya tahan tubuh menurun.
Dalam perspektif epidemiologi yang melihat kejadian penyakit sebagai hasil interaksi
antar tiga komponen pejamu (host), penyebab (agent), dan lingkungan (environment)
dapat ditelaah faktor risiko dari simpul-simpul tersebut. Pada sisi pejamu, kerentanan
terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh
seseorang pada saat itu. Pengidap HIV AIDS atau orang dengan status gizi yang buruk
lebih mudah untuk terinfeksi dan terjangkit TBC. Berikut disajikan notifikasi kasus
koinfeksi TBC HIV tahun 2010-2017, pencatatan untuk notifikasi TBC HIV dilakukan
mengikuti kohort tahun sebelumnya. Persentase pasien TBC yang mengetahui status HIV
di antara pasien TBC yang ternotifikasi meningkat dari tahun 2009 sebesar 2.393 menjadi
7.796 pada tahun 2017 (Kemenkes RI, 2018).

E. Klasifikasi
Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) (2006), TB paru dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak
a. TB paru BTA (+)
Pasien dikatakan mengalami TB paru BTA (+) apabila sekurang-kurangnya 2
dari 3 spesiman sputum menunjukkan hasil BTA (+) atau satu spesimen dahak
menunjukkan BTA (+) ditambah dengan gambaran tuberkulosis pada foto toraks.
b. TB paru BTA (-)
Pasien dikatakan mengalami TB paru BTA (-) apabila dalam 3 kali
pemeriksaan sputum didapatkan hasil BTA (-), namun dari gambaran klinis dan
radiologis menunjukkan tuberkulosis aktif dan tidak respon dengan pemberian
antibiotik spektrum luas.

2. Berdasarkan tipe penderita


a. Kasus baru
TB paru kasus baru adalah penderita yang belum pernah minum obat anti
tuberkulosis atau sudah pernah minum obat anti tuberkulosis kurang dari satu bulan.
b. Kasus kambuh
TB paru kasus kambuh adalah penderita yang pernah mendapatkan
pengobatan tuberkulosis dan sudah dinyatakan sembuh, namun kembali lagi dengan
hasil pemeriksaan sputum BTA (+).
c. Kasus pindahan
Kasus pindahan adalah penderita yangsedang mendapatkan pengobatan
tuberkulosis di suatu kabupaten dan pindah ke kabupaten lain. Pasien tersebut harus
membawa surat rujukan/pindah.
d. Kasus lalai berobat
Kasus lalai berobat adalah penderita yang telah menerima pengobatan
tuberkulosis sekurang-kurangnya satu bulan dan telah berhenti berobat selama dua
minggu atau lebih, kemudian pasien datang berobat kembali dengan hasil
pemeriksaan sputum BTA (+).
e. Kasus gagal berobat
Kasus gagal berobat adalah penderita BTA (+) yang masih tetap positif atau
kembali menjadi positif pada akhir pengobatan bulan ke-5, atau penderita dengan
BTA (-) radiologik positif yang berubah menjadi BTA (+) pada akhir pengobatan
bulan ke-5.
f. Kasus kronik
Kasus kronik adalah penderita dengan hasil pemeriksaan sputum BTA

masih positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang

baik.
Daftar pustaka

Amin, Zulkifli dan Asril Bahar. 2006. Pengobatan TB termutakhir. In: Buku ajar IPD. Jakarta:
Balai pnerbit FKUI
Bing, K. 2012. Diagnostik dan klasifikasi tuberkulosis paru.Semarang : Medika

Borgdorff, M., Peter D., Guy M., Michael A., and Nadia A., 2015. 46th World Conference on
Lung Health of the International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (The
Union). The International Journal of Tuberculosis and Lung Disease,19 (12)

Croft, J., Norman, H., and Fred, M., 2002. Tuberkulosis Klinik. Edisi 2. Jakarta :Widya Medik

Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Edisi 2.


Jakarta : Kemenkes RI

Kementerian Kesehatan RI. 2018. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta :


Kemenkes RI

Kishore PV, Palaian S, Paudel R, Mishra P, Prabhu M, Shankar PR. Drug Induced Hepatitis with
Anti-tubercular Chemotherapy: Challenges and Difficulties in Treatment. Kathmandu
University Medical Journal (2007), Vol. 5, No. 2, Issue 18, 256-260

Yoga, T., Aditama M. S., Dyah E. M., Asik S., Adi U., et al., 2014. Strategi Nasional
Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014. Jakarta: Menkes RI

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). 2006. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta : Indah Offset Citra Grafika.

Persatuan Dokter Paru Indonesia. 2006. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan
di Indonesia. Jakarta: PDPI

Prasad, J., Behera D., Lalit K., Rohit S., Khatri G.R. et al., 2012. Relationship between sputum
smear grading and smear conversion rate and treatment outcome in the patients of
pulmonary tuberculosis undergoing DOTS- A prospective cohort study. Indian
Journal of Tuberculosis, 59 (3)

Werdhani. 2014. Patofisiologi, Diagnosis, Dan Klafisikasi Tuberkulosis. Jakarta: FKUI-


Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas
World Health Organization. 2014. Global Tuberculosis Report 2014. Geneva: WHO
World Health Organization. 2014. Global Tuberculosis Report 2017. Geneva: WHO