Anda di halaman 1dari 52

KEBUDAYAAN SUKU BADUY DAN SUKU SUNDA

disusun oleh:

1. Aan Tri Fahtiar (01)


2. Amara Uyun Nizam (04)
3. Ari Purnomo (07)
4. Deftyana Ainnur Alif (11)
5. Dian Perkasa S. K. (12)
6. Hayyu Yunika (20)
7. Putri Astari Safana (31)

KELAS 1-12

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBENDAHARAAN NEGARA

POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

TAHUN AKADEMIK 2018/2019


BAB I

PENDAHULUAN

Dalam tulisan ini, akan dibahas mengenai kebudayaan Suku Sunda dan Suku Baduy.
Unsur-unsur kebudayaan yang dibahas adalah kondisi geografi, kondisi demografi, 2itera budaya,
wujud fisik, dan konflik yang pernah terjadi. Pengumpulan informasi menggunakan metode
2iterature yang bersumber dari website.

Suku Sunda tinggal di pulau jawa bagian barat. Suku Sunda merupakan etnis terbesar
kedua di Indonesia yang berjumlah kurang lebih 15,41% dari total masyarakat Indonesia.
Mayoritas masyarakat Sunda berprofesi sebagai petani, penambang pasir, dan berladang. Suku
Sunda kaya akan budaya dan memiliki bahasa sendiri yaitu Bahasa Sunda. Budaya yang ada yaitu
Upacara Adat seperti yang terdapat dalam serangkaian pernikahan orang Sunda, tari-tarian seperti
jaipong, rumah adat, makanan khas seperti peuyeum, senjata seperti kujang, bahkan memiliki
aksara khas yaitu aksara sunda. Tidak ada konflik besar yang terjadi baru-baru ini di suku sunda.
Konflik yang ada hanyalah perang di masa kerajaan dengan kerajaan majapahit, perang tersebut
bernama perang babut.

Suku Baduy menempati wilayah Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten


Lebak, Propinsi Banten. Topografi wilayah ini umumnya berbukit. Pertumbuhan jumlah penduduk
Baduy terus meningkat. Jumlahnya kini sangat signifikan dibandingkan dengan dulu di awal abad
20. Dalam kurun waktu 120 tahun jumlah penduduk desa Kanekes bertambah 10.650 orang. Orang
Baduy sangat memegang erat adat dan budayanya. Upacara adat besar mereka ada upacara kawalu,
seba, dan ngalaksa. Kehidupan ekonomi mereka bersifat tertutup dengan mengandalkan hasil dari
kegiatan bertani, atau yang mereka sebut berhuma. Selain berhuma, mereka juga mengadakan
transaksi jual-beli dan barter dengan batas-batas tertentu. Mereka sehari-hari menggunakan bahasa
Sunda yang termasuk kedalam kategori Dialek Sunda Banten yaitu Sub Dialek Baduy. Orang
Baduy juga erat kaitannya dengan music. Mereka memiliki alat music khas seperti rendo. Orang
Baduy juga dikenali dari unsur-unsur fisik yang melekat pada tubuh mereka mulai dari pakaian,
aksesoris, tenun, dan rumah adat.
BAB II

PEMBAHASAN

I. Suku Baduy
A. Kondisi Geografi

Gambar 1 : Peta Daerah Baduy

Orang Baduy menempati wilayah Desa Kanekes. Wilayah ini dijadikan Desa Definitif
(ditetapkan menjadi sebuah Desa) pada tanggal 10 April 1986.
Secara administratif, kini wilayah Desa Kanekes termasuk dalam Kecamatan
Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten dengan luas mencapai 5.136,58 hektar
yang terbagi menjadi dua bagian; ± 3.000 hektar berupa hutan tutupan (hutan Lindung),
selebihnya merupakan tanah garapan dan pemukiman.
Topografi wilayah inipun umumnya berbukit dan memiliki ketinggian 800-1200 meter
di atas permukaan laut dengan kemiringan lereng rata-rata 49,1%; kemiringan lereng
paling datar sekitar 0% dan yang paling curam.
Curah hujan rata-rata pertahun di wilayah Baduy mencapai 3000 mm/tahun hingga
4000 mm/tahun dengan suhu yang mencapai 20˚ sampai dengan 22˚. Curah hujan di
wilayah inipun tertinggi jika dibanding wilayah lainnya yang berada di Kecamatan
Lewidamar.
Batas khusus serta batas alam Wilayah Baduy, sebagaimana yang tertuang dalam PERDA
Kabupaten Lebak Nomor 32 tahun 2001 tentang perlindungan atas Hak Ulayat (adat)
Masyarakat Adat Baduy, Desa Kanekes ini berbatasan dan diapit oleh 11 Desa dari 6
Kecamatan.
Sedangkan batas-batas alam yang membedakan tanah ulayat (adat) Masyarakat Adat
Baduy yaitu:
Utara : Sungai Ciujung, Cimangsari, dan Cisimeut
Timur : Sungai Cibayantung, Cipangasahan, Cirawing, Cidikit, dan Cibitung
Selatan : Tanah Kehutanan
Barat : Sungai Cibarani.

B. Kondisi Demografi
Halwani Michrob (1996), dalam laporannya berjudul The Way of Life: Suku Baduy as
a Cultural Interest, memaparkan data survey Jul Jacobs tentang jumlah penduduk Kanekes
pada tahun 1888. Survey Jacobs mencatat penyebaran penduduk di dusun yaitu Cikeusik,
Cikartawana dan Cibeo tahun 1888 sebagaimana tampilan tabel berikut.

Tabel 1 : Jumlah Penduduk Kanekes 1888

Nama Wanita Janda Anak Anak Kepala Jumlah


Kampung Perempuan Laki- Keluarga
laki
Cikeusik 16 0 21 15 15 67
(dalam 16
rumah)
Cikartawana 7 2 7 5 5 26
(dalam 7
rumah)
Cibeo 26 6 22 25 20 99
(dalam 26
rumah)
Sumber : Michrob, 1996.
Pada tahun 1977 jumlah penduduk Kanekes meningkat menjadi 4.077 yang menyebar
dalam 39 kampung. Jumlah itu meningkat menjadi 6.000 jiwa dan menyebar dalam 40
kampung.
Kurnia-Sihabudin (2010:67) mencatat bahwa pada tahun 1985 penduduk Kanekes
mencapai angka 4.474 jiwa atau 690 kepala keluarga (kk) yang menyebar dalam 30
kampung. Pada tahun 1994, jumlah itu bertambah menjjadi 6.483 jiwa dan pemukiman
Baduy juga bertambah menjadi 49 kampung. Sensus penduduk tahun 2000 mencatat
kenaikan jumlah penduduk Baduy di desa Kanekes mencapai 7.317 jiwa atau 1.687 kk
yang menyebar pada 52 kampung. Pada tahun 2008, penduduk Kanekes mencapai angka
10.941 jiwa atau 2.726 kk dan menyebar dalam 58 kampung. Tahun 2009, kampung Baduy
bertambah 1 sehingga jumlahnya menjadi 59.
Dalam kurun waktu 120 tahun jumlah penduduk desa Kanekes bertambah 10.650
orang atau rata-rata 89 orang per tahun. Pertumbuhan penduduk telah mendorong perluasan
area pemukiman dan kebutuhan lahan garapan.
C. Sistem Budaya
a. Upacara Adat
1. Kawalu
Kawalu yaitu upacara yang dilakukan dalam menyambut bulan kawalu pada
kalender baduy. Dalam bahasa mereka kembalinya padi dari huma (ladang) ke
Leuit(lumbung padi). Biasanya upacara ini dilaksanakan dengan berpuasa selama
sehari dalam sebulan. Sedangkan kurun waktu kawalu yaitu selama 3 bulan. Dalam
rentan waktu 3 bulan tersebut, tidak boleh ada wisatawan yang berkunjung ke
Baduy untuk menjaga kesakralan dari upacara tersebut.
Upacara kawalu merupakan bentuk rasa syukur masyakarakat Baduy terhadap
Tuhan atas limpahan rezekinya baik itu hasil bumi maupun kerajinannya. Juga
sebagai rasa terimakasih terhadap alam yang mereka tinggali. Karena dengan alam
lah mereka akhirnya bisa bercocok tanam sehingga mereka tidak kelaparan atau
tidak kehausan.
2. Ngalaksa
Upacara ngalaksa merupakan dari upacara kawalu. Ngalaksa ditandai dengan
membuat mie laksa, sejenis mie dari tepung beras seperti kwetiau dan dimakan
secara bersama-bersama. Upacara ini wajib bagi seluruh warga baduy untuk
mengikutinya baik itu baduy dalam dan baduy luar. Karena ngalaksa ini juga
bertujuan untuk menghitung populasi masyarakat baduy secara keseluruhan. Bisa
dibilang ngalaksa ini merupakan bentuk sensus penduduk dari suku baduy.
3. Seba
Setahun sekali, warga suku Baduy turun gunung. Mereka pergi ke kota
kabupaten dan provinsi untuk melakukan seba.

Gambar 2 : Banyak orang yang turun gunung untuk mengikuti Seba. Orang Baduy Dalam pergi ke kota
pagi-pagi sekali.

Seba adalah salah satu ritual adat suku Baduy. Seba artinya saba, yakni
berkunjung. Orang Baduy turun gunung untuk mengunjungi pemerintah. Mereka
datang untuk melaporkan keadaan warga Baduy. Apakah mereka sehat, apakah
panen lancar, apakah ada masalah, dan sebagainya.
Seba sudah dilakukan suku Baduy sejak zaman Kesultanan Banten. Dulu,
mereka datang kepada sultan. Karena sekarang sudah tidak ada kesultanan, maka
yang mereka datangi adalah bupati dan gubernur. Acara sebadiadakan setiap bulan
Safar, yakni bulan pertama menurut kalender Baduy.
Selain melaporkan keadaan penduduk, mereka juga datang untuk memberikan
sebagian hasil bumi. Tiap warga menyumbangkan sebagian panen terbaiknya. Ada
pisang tanduk, ubi-ubian, gula aren, dan beras ketan.
Seba termasuk acara besar suku Baduy. Karena itu, banyak yang ikut turun
gunung. Meski begitu, acara ini hanya boleh diikuti oleh laki-laki.
Orang Baduy Dalam pergi ke kota pagi-pagi sekali. mereka pergi berjalan kaki.
Sebab, aturan adat melarang mereka naik kendaraan. Sedangkan BaduyLuar
berangkat siang hari, karena mereka boleh naik kendaraan. Uniknya, semua
warga Baduy yang turun gunung berpakaian adat dan tidak beralas kaki. Begitulah
adat Baduy.
Seba sekaligus menjadi acara rekreasi bagi warga Baduy. Sebab, ini
kesempatan mereka pergi ke kota beramai-ramai. Sambil menunggu acara,
warga Baduy berkumpul di alun-alun kota Lebak, Banten. Ada juga yang jalan-
jalan keliling kota. Malamnya, mereka tidur di tempat seadanya. Ada yang di
pendopo kabupaten, di teras-teras gedung, bahkan di bawah pohon.
Konon, orang Baduy akan terus melakukan seba. Sebab, bagi mereka, itu
adalah bagian dari adat yang harus dijaga.
b. Sistem Ekonomi
Sistem perekonomian masyarakat Baduy merupakan sistem tertutup, artinya
aktifitas ekonomi hanya dilakukan untuk kehidupan sehari-hari, diproduksi dan
dikonsumsi oleh masyarakat Baduy itu sendiri. Begitu juga pakaian, dan peralatan
pertanian mereka membuat sendiri dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di
lingkungan mereka. Hanya sedikit kebutuhan yang didapat dari wilayah sekitar Baduy
dengan melakukan barter dari hasil berhuma (pertanian) yang mereka miliki atau uang
hasil penjualan di pasar. Hasil berhuma yang boleh dijual adalah hasil selain padi.
Berhuma di ladang merupakan aktivitas ekonomi utama, sedangkan aktivitas
tambahan berupa kerajinan sarung dan baju, serta membuat gula, khusus bagi
masyarakat Baduy Luar.
Jamaludin (2012) menjelaskan bahwa terdapat enam jenis huma dalam masyarakat
Baduy, masing-masing :

a) Huma Serang: yaitu huma milik bersama yang hanya terletak di kawasan Baduy
Dalam (Cibeo, Cikartawana, Cikeusik). Huma ini dikerjakan bersama oleh warga
Kanekes yang dipimpin Puun. Hasil padi dari huma ini diperuntukan bagi upacara
kapuunan..
b) Huma Puun: yaitu huma milik Puun (pemimpin adat Baduy). Huma ini
diperuntukan bagi Puun dan keluarganya. Orang Baduy membantu pengerjaan
huma ini meski dalam jumlah yang lebih kecil dari pekerja huma serang. Huma
Puun terletak tidak jauh dari rumah Puun. Guna menjamin kesuburannya,
penanaman padi dilakukan pada petak berbeda setiap musim tanam. Luas huma
ini bisa 2-3 kali luas huma tangtu. Pada saat Puun berakhir masa jabatannya, maka
huma diserahkan menjadi milik Puun berikutnya.
c) Huma Tangtu: yaitu huma yang diperuntukan bagi warga Tangtu (Baduy Dalam).
Luas huma ini sekitar 0,75-1,5 hektar. Pada setiap musim tanam, penanaman
dilakukan pada petak yang berbeda.
d) Huma Tauladan: yaitu huma yang terletak di kawasan kampung Panamping dan
digunakan untuk keperluan upacara warga Baduy luar dan berlokasi di kawasan
kampung Panamping.
e) Huma Panamping: yaitu huma yang diperuntukan bagi keperluan warga Baduy
luar dan terletak di kawasan Baduy luar.
f) Huma Urang Baduy: yaitu huma milik orang Baduy yang terletak di luar desa
Kanekes dan diperuntukan bagi keperluan warga Baduy.

c. Sistem Kemasyarakatan
a) Kelompok Kekerabatan
Orang Baduy mengelompok menurut asal keturunan tangtu , yaitu keluarga
luar yang tinggal dalam satu kampong. Ada tiga kelompok kekerabatan dalam
kesatuan Orang tangtu, yaitu tangtu Cikeusik, tangtu Cikartawana dan tangtu
Cibeo. Adapun hierarki kekerabatan itu sesuai dengan urutan Cikeusik,
Cikartawana dan Cibeo.
b) Kelompok Teritorial
Pada awal pertumbuhannya sebuah kampong Orang Baduy yang disebut
babakan dapat dianggap sebagai kelompok territorial yang terkecil yang terdiri
dari dua atau tiga dua buah rumah dan dihuni oleh keluarga inti yang berkerabat
batas antara satu rumah dengan lainnya adalah tanah yang diratakan lahan untuk
Babakan tidak dibatasi dengan tegas karena lahan milik bersama.Bentuk dan
bahan rumah keluarga inti sama dengan kampong induknya, dan paling sedikit
memiliki 2 pintu yaitu didepan dan dibelakang. rumah dasar tidak memiliki kamar,
dan seluruh ruang rumah itu terdiri dari tiga kerangka, yaitu rangka atap depan,
rangka atap belakang, dan rangka atap panjang.
c) Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur
sosial. Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu
masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari
masyarakat yang bersangkutan.
Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang
memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan
terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek
dan seterusnya.
Dalam kajian sosiologi-sntropologi, ada beberapa macam kelompok
kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga
ambilineal,klan,fatri dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga
mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti,keluarga luas,bilateral
dan unilateral.
Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh
masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum,
yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa
dan negara. Sebagai mahkluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia
membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak
dapat mereka capai sendiri.
Pada umumnya masyarakat yang memiliki wilayah tempat tinggal yang tetap
dan permanen memiliki ikatan solidaritas yang sangat kuat sebagai pengaruh
kesatuan wilayah tempat tinggalnya. Oleh karenanya, sebagai suatu masyarakat
terdapat didalamnya persekutuan-persekutuan(gemeenschappen). Persekutuan-
persekutuan tersebut ada yang didasarkan pada keturunan satu nenek moyang
(genealogisch factor), ada yang didasarkan pada daerah atau wilayah yang didiami
(territoriale factor) dan ada pula yang didasarkan gabungan dari keturunan dan
daerah atau wilayah yang didiami (genealogisch-territoriale factor).
Dari ketiga dasar persekutuan tersebut, dapat dikatakan bahwa hubungan
genealogis merupakan dasar “sistem kekerabatan”. Konsepsi kekerabatan atau
kelompok kekerabatan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
 Adanya rasa kepribadian kelompok yang disadari oleh warga-warganya.
 Terjadinya aktivitas-aktivitas berkumpul yang dilakukan secara berulang-
ulang.
 Adanya sistim kaedah-kaedah yang mencakup hak-hak dan kewajiban-
kewajiban yang mengatur interaksi sosial antara warga-warga kelompok
tersebut.
 Terdapatnya pimpinan yang mengatur dan mengawasi kegiatan-kegiatan
kelompok.
 Kemungkinan adanya sistem dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban dari
warga-warga masyarakat tertentu terhadap sejumlah harta produktif, harta
konsumtif dan harta pusaka.
d. Bahasa
Mereka bertutur dalam Bahasa Sunda, termasuk kedalam kategori Dialek Sunda
Banten yaitu Sub Dialek Baduy. Tuturan yang disebut basa itu, dibedakan oleh para
pemakainya antara basa urang girang (bahasa Baduy dalam) dengan bahasa urang
Panamping (bahasa Baduy luar). Ciri-ciri dari Dialek sunda Banten tampak dari lagu
kata dan kalimat.
e. Kesenian
Musik menjadi hal yang penting dalam beberapa upacara keagamaan dan
lingkaran hidup Orang Baduy. Dalam upacara perkawinan Sang Hyang Asri, anglung
mengiringi perjalanan ke Huma. Seperangkat alat musik terdiri atas 9 buah Angklung
dengan 3 buah kendang kecil (Bedug, Ketuk dan Talingting).
Gamelan adalah salah satu jenis musik di Baduy Panamping yang dimainkan
dalam upacara perkawinan. Selain itu dikenal pula berbagai alat musik tiup dan gesek.
Mereka mengenal paling sedikit 3 jenis suling bambu dan Toleot (Sejenis seruling
pendek). Alat musik hembus disebut Karinding. Di Baduy Panamping terdapat alat
gesek lain yaitu biola untuk memainkan lagu-lagu sunda. Rendo biasanya dimainkan
bersama suling jenis lagu untuk rendo dan suling agak berbeda dengan kacapi karena
kacapi bukan untuk mengiringi lagu tetapi untuk menyertai lalakon pantun.
D. Unsur Fisik
a. Pakaian Adat
Dari sisi penerimaannya terhadap masyarakat luar, suku Baduy dibagi menjadi 2,
yaitu suku Baduy Dalam dan suku Baduy Luar. Suku Baduy Dalam sama sekali
tidak mau berinteraksi dengan masyarakat luar. Suku Baduy Luar masih mau
berinteraksi dengan masyarakat luar tapi dengan batas-batas tertentu. Oleh karena
itu pakaian adat kedua suku ini mempunyai perbedaan mencolok.
a) Pakaian Adat Baduy Dalam

 Pakaian Pria Baduy Dalam

Gambar 3: Pakaian pria baduy dalam

Pakaian adat pria suku Baduy Dalam disebut dengan nama Jamang
Sangsang. Disebut semikian karena digunakan dengan cara disangsangkan
atau digantungkan di badan. Bahan yang digunakan dari pintalan kapas asli
yang diperoleh dari hutan. Dijahit menggunakan tangan , memiliki lubang
di bagian lengan dan leher tanpa kerah, tidak dilengkapi dengan kancing
atau saku.
Baju sangsang ini dipadukan dengan bawahannya berupa warna hitam
atau biru tua yang dililit dipinggang dengan dilengkapi ikat kepala dari kain
putih yang berfungsi sebagai pembatas rambut. Baju ini berwarna putih,
karena bagi suku Baduy Dalam warna putih memiliki makna bahwa mereka
masih suci dan belum dipengaruhi budaya luar.
 Pakaian Wanita Baduy Dalam

Gambar 4: Pakaian wanita baduy dalam

Memakai busana seperti sarung dengan warna biru kehitam-hitaman


mulai dari tumit sampai dada. Model, potongan dan warnanya sama , kecuali
bajunya. Pakaian seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari
di rumah.
b) Pakaian Adat Baduy Luar
 Pakaian Pria Baduy Luar

Gambar 5: Pakaian pria baduy luar

Pakaian adat suku Baduy Luar mempunyai desain yang cenderung lebih
dinamis, dibuat dengan menggunakan jahitan mesin, mempunyai kancing
dan kantong, bahannya pun tidak terpaku harus berupa kapas murni. Warna
pakaian suku Baduy Luar adalah warna hitam, oleh karena itulah baju ini
diberi nama baju kampret (baju kelelawar). Suku Baduy Luar memakai ikat
kepala berwarna biru tua dengan corak batik.

 Pakaian Wanita Baduy Luar

Gambar 6: Pakaian wanita baduy luar

Untuk pakaian kaum wanita, suku Baduy Dalam maupun Baduy Luar
tidak terlalu mempunyai perbedaan yang mencolok. Corak Kain sarung atau
kain wanita hampir sama coraknya, yaitu dasar hitam dengan garis-garis
putih, sedangkan selendang berwana putih, biru, yang dipadukan dengan
warna merah.
b. Tenun

Tenun Baduy memiliki kekhasan tersendiri baik dari segi bahan maupun ragam
hias yang mendasari pembuatannya. Bagi suku Baduy tenun selain berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan sandang, juga memiliki fungsi sebagai identitas, khususnya
terhadap nilai-nilai adat yang juga melambangkan eksistensi mereka.
Keunggulan cita rasa dari pembuatan kain yang dimiliki orang Baduy
berkembang dalam berbagai wujud, sifat, bentuk, kegunaan, ragam hias, serta
menjadi jati diri dan ciri khas masyarakat adat tersebut.
Betapapun sederhananya bentuk, bahan, pola hias, dan teknik pembuatannya,
tenun Baduy merupakan benda budaya yang bukan hanya didasari oleh fungsi saja
tetapi juga merupakan perwujudan dari nilai-nilai tradisi, adat istiadat, sejarah, dan
kekayaan alam yang merupakan cerminan dari budaya mereka.
Kreativitas mereka dalam membuat kain tenun terbentuk melalui suatu
perjalanan panjang. Menenun mempunyai nilai estetika, kegiatan menenun juga
memiliki makna ketaatan untuk para wanita Baduy.
Keragaman dan keunikan kain tenun Baduy merupakan cerminan dari filosofi
hidup mereka serta merupakan kreasi dari bentuk-bentuk simbolis yang tertuang
dalam adat hingga keseharian mereka. Suku Baduy percaya bahwa mereka harus
tetap ada dalam kesahajaan dan kesederhanaan karena menurut kepercayaan
mereka, meninggalkan kesederhanaan berarti membatalkan tapa di dunia.
Kegiatan menenun dalam masyarakat adat Baduy juga merupakan salah satu
perwujudan dari konsep amalan tapa yang dilakukan perempuan Baduy karena
membuat kain tenun merupakan pemenuhan kebutuhan sandang. Orientasi
masyarakat adat Baduy dalam tinggkatan status sosial juga terlihat pada kepatuhan
meraka terhadap pakaian yang mereka kenakan.
Masyarakat adat Baduy dipisahkan oleh garis sosial yang membentuk status
dan tampak memperlihatkan dua subkultur berbeda. Masyarakat Baduy
memisahkan status sosial berdasarkan wilayah pemukiman mereka ke dalam tiga
bagian; Tangtu, Panamping, dan Dangka. Tangtu merujuk pada masyarakat adat
Baduy Dalam, sedangkan Panamping dan Dangka merujuk pada masyarakat adat
Baduy Luar.
Pada gilirannya, pelapisan sosial ini pun memengaruhi tata cara mereka
berpakaian dan menenun. Warna putih digunakan pada bahan kain tenun dan
pakaian yang dikenakan oleh Baduy Dalam. Sedangkan Baduy Luar diberi identitas
yang berbeda, yaitu berpakaian hitam.
Berikut ini adalah gambar alat tenun suku Baduy.
Gambar 7: Alat tenun baduy

Keterangan Gambar:
a) Caor/dodogong, sebilah papan yang diletakkan horizontal, sebagai sandaran
punggung penenun. Selain itu berfungsi jug untuk menarik kain tenunan
agar terbentang kencang.
b) Taropong, sepotong bambu (tamiang), tempat memasukkan benang kanteh
(pakan).
c) Tali caor, tali yang mengikatkan bilah caor dengan kain yang ditenun di
sebelah kiri dan kanan penenun.
d) Suri/Sisir, alat berbentuk sisir, untuk membereskan benang pakan dan
benang lusi.
e) Hapit, bilahan papan untuk menggulung kain hasil tenun.
f) Barera, sebilah kayu alat bertenun untuk merapatkan benang pakan agar
kain tenun menjadi rapat
g) Jingjingan, bagian dari gedogan, tempat menambatkan lusi.
h) Limbuhan, sebilah kayu yang memanjang seperti mistar berbentuk bulat
untuk merenggangkan kedudukan benang tenun
i) Kekedal, patitihan, totojer, bilahan kayu tempat kaki penenun bertelekan
j) Rorogan, sebilah kayu alat penahan berera, terletak sebelah kanan penenun.
k) Totogan, bilahan papan/kayu sebagai alat penahan ketika proses bertenun.
l) Cangcangan, bilahan papan/kayu, sebagai penguat alat bertenun
c. Aksesoris

Aksesoris khas masyarakat Baduy berikut ini hanya digunakan oleh kaum laki-laki
baik dalam maupun luar. Kaum wanita dalam mengenakan kudung soet songket,
kebaya hitam, sabuk bodas dan bersarung kacang herang, memakai sedikit
perhiasan yang terbuat dari logam perak atau baja putih, seperti gelang, cincin,
kalung dan anting-anting. Sedangkan kaum wanita dalam tidak mengenal mode
pakaian. Wanita Baduy dalam sehari-hari hanya mengenakan samping hideung dan
telanjang dada. Jika bepergian ke luar kampung atau ke pasar mengenakan kebaya
hitam yang disebut jamang dugan tanpa perhiasan atau aksesoris ditubuhnya.

 Bedog

Gambar 8: Bedog

Pria suku Baduy Luar dan suku Baduy Dalam selalu membawa bedog
atau golok dalam kesehariannya ketika keluar rumah atau bepergian jauh.
 Koja
Gambar 9: Koja

Aksesoris tambahan pria Suku Baduy yaitu tas yang terbuat dari kulit
kayu pohon terep. Tas yang disebut koja atau jarog ini menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari Suku Baduy. Tas ini berfungsi sebagai tempat
menyimpan perlengkapan yang dibutuhkan. Dalam tas rajutan hasil karya
sendiri, biasanya berisi pisau, sirih sepenginangan, menyan putih dan batu
api. Kadang-kadang dalam tas berisi pula timbel kejo, nasi putih dengan
sedikit garam sebagai bekal diperjalanan.
 Gelang

Gambar 10: Gelang handam

Gambar 11: Gelang teurep


Gelang suku baduy ada yang berasal dari rotan yang dianyam, disebut
gelang handam dan ada yang berasal dari batang pohon teurep, disebut
gelang teurep.

d. Rumah Adat

Gambar 12: Rumah baduy

Rumah adat suku Baduy juga merupakan rumah adat Banten yang disebut
rumah Baduy. Rumah tradisional ini berupa panggung dengan beratapkan daun dan
lantai dari pelepah bambu yang telah dibelah. Rumah Adat Banten yang disebut
juga Rumah Baduy memiliki desain bentuk menyerupai rumah panggung, rumah
tradisional ini mengadopsi desain arsitektur vernacular (Arsitektur vernakular
adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir
dari masyarakat etnik dan berjangkar pada tradisi etnik, serta dibangun oleh
tukang berdasarkan pengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan
material lokal serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan
tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasi).
Rumah Baduy ini sangat sederhana, dibangun berdasarkan naluri sebagai
manusia dimana manusia tersebut membutuhkan tempat berlindung baik dari
gangguan alam maupun gangguan dari binatang buas. Kesan sederhana Rumah
Baduy tersebut tersirat dalam penataan eksterior maupun interiornya.
Rumah tinggal suku Baduy Dalam termasuk jenis bangunan knock down dan
siap pakai, yang terdiri dari beberapa rangkaian komponen. Selanjutnya,
komponen-komponen tersebut dirakit atau dirangkai dengan cara diikat
menggunakan tali awi temen ataupun dengan cara dipaseuk.
Konstruksi utamanya yang berfungsi untuk menahan beban berat, seperti
tihang-tihang, panglari, pananggeuy, dan lincar, dipasang dengan cara dipaseuk
karena alat paku dilarang digunakan. Justru teknik tersebut bisa memperkuat karena
kedua kayu yang disambungkan lebih menyatu, terutama ketika kedua kayunya
sudah mengering. Sementara komponen seperti bilik (dinding), rarangkit (atap),
dan palupuh (lantai) hanya sekadar diikat atau dijepit pada bambu atau kayu
konstruksi. Oleh karena itu, bangunan rumah tinggal suku Baduy termasuk jenis
bangunan tahan gempa karena konstruksinya bersifat fleksibel dan elastis.
Bangunan rumah tinggalnya berbentuk rumah panggung. Karena konsep
rancangannya mengikuti kontur lahan, tiang penyangga masing-masing bangunan
memiliki ketinggian berbeda-beda.
Pada bagian tanah yang datar atau tinggi, tiang penyangganya relatif rendah.
Adapun pada bagian yang miring, tiangnya lebih tinggi. Tiang-tiang penyangga
tersebut bertumpu pada batu kali agar kedudukannya stabil. Batu kali merupakan
komponen yang cukup penting pula di lingkungan kampung suku Baduy.
Selain digunakan untuk tumpuan tiang penyangga, batu kali juga digunakan
sebagi penahan tanah agar tidak longsor. Caranya dengan ditumpuk membentuk
benteng, atau dipakai untuk membuat anak tangga, selokan, ataupun tempat
berjalan yang sangat berguna terutama jika musim hujan tiba.
Jenis atapnya disebut sulah nyanda. Pengertian dari nyanda adalah posisi atau
sikap bersandar wanita yang baru melahirkan. Sikap menyandarnya tidak tegak
lurus, tetapi agak merebah ke belakang. Jenis atap sulah nyanda tidak berbeda jauh
dengan jenis atap julang ngapak. Jika jenis atap yang disebutkan terakhir memiliki
dua atap tambahan di kedua sisinya. Atap jenis sulah nyanda hanya memiliki satu
atap tambahan yang disebut curugan. Salah satu atap pada sulah nyanda lebih
panjang dan memiliki kemiringan yang rendah.
Rumah tinggal suku Baduy hanya memiliki satu pintu masuk yang ditutup
dengan panto, yaitu sejenis daun pintu yang dibuat dari anyaman bilah-bilah bambu
berukuran sebesar ibu jari dan dianyam secara vertikal. Teknik anyaman tersebut
disebut sarigsig. Orang Baduy tidak mengenal ukuran seperti halnya masyarakat
modern. Oleh karena itu, mereka pun tidak pernah tahu ukuran luas maupun
ketinggian rumah tinggal mereka sendiri. Semuanya dibuat dengan perkiraan dan
kebiasaan semata. Dalam menentukan ukuran lebar pintu masuk, mereka cukup
menyebutnya dengan istilah sanyiru asup. Lebar pintu diukur selebar ukuran alat
untuk menampi beras.
Sebagian besar pintu tidak dikunci ketika ditinggalkan penghuninya. Akan
tetapi, beberapa orang membuat tulak untuk mengunci pintu dengan cara
memalangkan dua kayu yang didorong atau ditarik dari samping luar bangunan.
Pembagian interiornya terdiri dari tiga ruangan, yaitu sosoro, tepas, dan imah.
Sosoro dipergunakan untuk menerima kunjungan tamu. Letaknya memanjang ke
arah bagian lebar rumah. Selanjutnya, ruang tepas yang membujur ke arah bagian
panjang atau ke belakang digunakan untuk acara makan atau tidur anak-
anak. Antara ruangan sosoro dan tepas tidak terdapat pembatas. Keduanya menyatu
membentuk huruf L terbalik atau siku. Tampaknya bagian inti dari rumah suku
Baduy terletak pada ruangan yang disebut imah karena ruang tersebut memiliki
fungsi khusus dan penting. Selain berfungsi sebagai dapur (pawon), imah juga
berfungsi sebagai ruang tidur kepala keluarga beserta istrinya.
Mereka tidak memiliki tempat tidur khusus, tetapi hanya menggunakan tikar.
Alas tersebut digunakan hanya sewaktu tidur, setelah itu dilipat kembali dan
disimpan di atas rak. Cara tersebut menunjukkan bahwa kegunaan imah sangat
fleksibel dan multifungsi. Di sekeliling ruangan imah terdapat rak-rak untuk
menyimpan peralatan dapur dan tikar untuk tidur. Secara garis besar, yang
dinamakan imah adalah sebuah ruangan atau bagian inti dari tata ruang dalam
rumah tinggal suku Baduy.
Hampir seluruh kegiatan berpusat pada ruangan tersebut, baik hal-hal yang
bersifat lahiriah, seperti menyediakan makanan dan minuman, maupun hal-hal yang
batiniah, termasuk menjalankan peran sebagai pasangan suami-istri dan kepala
keluarga.
Hal lain yang cukup mencolok dari pemukiman orang Baduy adalah
harmonisasi antara lingkungan dan masyarakat. Mereka tak mengubah alam sesuai
dengan kepentingan mereka. Justru sebaliknya, mereka menyesuaikan hidup
dengan apa yang ada di alam. Hasilnya adalah harmonisasi hidup yang terlihat jelas.
Hal ini menjadi keunggulan tersendiri dari Urang Kanekes.
Di daerah lain, tanah untuk perumahan diratakan. Namun hal ini tak berlaku di
tanah Baduy. Tiang rumahlah yang menyesuaikan dengan permukaan
tanah. Karena itu jangan heran jika Anda menjumpai rumah adat dengan tiang yang
tingginya tidak sama.
Hal lain yang menjadi signatur rumah orang Baduy adalah ketiadaan jendela di
rumah. Untuk menikmati udara segar cukup dari lubang lantai yang memang terbuat
dari susunan bambu atau dikenal juga dengan nama palupuh.
Sama seperti rumah lainnya, rumah adat Banten ini juga dibagi ke dalam
beberapa bagian utama antara lain bagian depan, tengah dan dapur atau bagian
belakang. Rumah adat Banten ini memang tepat diwakili oleh rumah suku
Baduy. Kesederhanaan dan kearifan lokal yang mereka perlihatkan menjadi
pegangan bagi masyarakat Banten yang dikenal religius. Rumah adat ini bukan
sekedar simbol tetapi juga medium pengajaran bagi generasi muda di Banten
khususnya dan Indonesia umumnya.

E. Konflik
Masyarakat adat Sunda Wiwitan Paseban Cigugur, Kuningan, Jawa Barat menghadapi
rencana eksekusi lahan berupa tanah dan bangunan oleh Pengadilan Negeri Kuningan yang
akan dilakukan Kamis, 24 Agustus 2017. Salah satu anggota Sunda Wiwitan, Dewi Kanti
Setianingsih mengatakan, eksekusi akan digelar pada pukul 08.00 WIB di hari itu.
Masyarakat adat menyatakan akan melawan eksekusi yang dinilai bertentangan dengan
konsitusi. Mereka tentu saja akan mempertahankan apa yang menjadi hak leluhur mereka
(Dewi, 2017).
Mereka sebelumnya telah mendatangi kantor PN Kuningan agar rencana eksekusi
lahan sengketa itu ditunda. Dalam protes itu, warga adat didampingi anggota ormas
Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI). Pangaping Adat Sunda Wiwitan, Okki
Satria Djati berpendapat, eksekusi ini tidak sejalan dengan prinsip keadilan hukum.
Pasalnya, lahan eksekusi tersebut merupakan zona cagar budaya nasional yang telah
tercatat sejak 1976 di Departemen Kebudayaan dan Pendidikan. Selain itu, amar putusan
pengadilan dinilai diskriminatif dan cacat hukum karena meminggirkan nilai sejarah dan
budaya di dalamnya. Lebih jauh, dalam objek sengketanya mengabaikan esensi hak hukum
masyarakat adat.
Pihak Okki menyerukan kepada seluruh jaringan budaya, adat, jawara, pesilat,
pemuda, ibu-ibu dan perempuan untuk melawan proses eksekus. Mereka berharap seluruh
elemen masyarakat peduli terhadap warga adat yang selama ini berkontribusi pada
peradaban nusantara. Mereka, warga adat Karuhun Sunda Wiwitan sudah memutuskan
lebih baik gugur membela wilayah adat mereka dan akan mereka buktikan.
Saat proses eksekusi, dua petugas satpol pp, satu polisi, dan satu warga terluka
sehingga dibawa ke rumah sakit. Pengadilan Negeri Kabupaten Kuningan akhirnya
menyatakan eksekusi gagal. Kericuhan terjadi setelah warga adat Sunda Wiwitan yang
didukung berbagai elemen massa sendiri yang melakukan aksi menolak eksekusi tanah
adat seluas sekitar 224 meter persegi terlibat adu dorong dengan petugas keamanan.
Kericuhan pertama terjadi saat ibu-ibu warga adat Sunda Wiwitan yang menyanyikan
lagu-lagu kebangsaan sambil menangis terlibat saling dorong dengan polisi wanita
(polwan) Polres Kuningan yang menjaga pelaksanaan eksekusi. Sejumlah ibu-ibu berteriak
karena kaki mereka terinjak dan juga terjepit-jepit. Menghindari jatuhnya korban, ibu-ibu
langsung ditarik ke barisan belakang dan melakukan aksi tidur di jalan menuju titik
eksekusi. Kericuhan juga terjadi antara petugas pengamanan yang terdiri dari polisi dan
Satpol PP Kabupaten Kuningan dengan massa aksi, yang terdiri dari warga adat, LSM
GMBI, mahasiswa, dan warga umum. Mereka terlibat saling dorong hingga adu pukul.
Seorang petugas polisi, dua petugas Satpol PP, dan seorang warga adat dilaporkan terluka,
dan langsung dibawa ke rumah sakit yang berjarak dekat. Kedua belah pihak akhirnya
mundur setelah mengetahui adanya sejumlah orang yang terluka.
Melihat kondisi tersebut, Juru Sita Pengadilan Negeri Kuningan langsung
menyampaikan berita acara bahwa proses eksekusi dinyatakan selesai dan gagal. Informasi
tersebut membuat para warga adat berteriak gembira dan bersyukur atas perjuangan
bersama. Andi Rukmana, panitera pengadilan Negeri Kuningan mengungkapkan hasil
koordinasi dengan kepolisian, ketua pengadilan dan seluruh elemen bahwa sepakat tidak
boleh ada lagi korban yang jatuh. Pengadilan negeri kuningan menegaskan, proses eksekusi
dianggap selesai dan gagal. Pemohon dapat melanjutkan kasus, namun harus melakukan
pengajuan dari awal lagi.
Perkara tanah dan bangunan ini dimulai sejak 3 Juni 2009, ketika Jaka Rumantaka
menggugat Kusnadi dan Mimin di PN Kuningan. Gugatan ini terdaftar pada 7 Juni 2007
dengan nomor registrasi 07/Pdt.G/2009/PN.KNG. Tanah dan bangunan yang digugat
berada di Persil 78. A d.I Blok Mayasih Kohir 2321, seluas 224 meter persegi. Selain
Kusnadi dan Mimin, turut tergugat pula Rd. Dadang Andaru Andaroso, Rd. Iksan Titop
Purwosucipto, Rd. Lina Djuarnaningsih, dan BPN Kabupaten Kuningan Jawa Barat.
Berdasarkan bukti yang dimiliki pengadilan negeri, tanah seluas 224 meter persegi,
yang menjadi sengketa adalah tanah waris bukanlah tanah adat. Tanah tersebut adalah harta
waris pemohon yang merupakan cucu dari kakek sang pemilik tanah, yang saat ini
ditempati pihak ketiga. Melihat bukti-bukti yang diberikan pemohon ke pengadilan, tanah
tersebut awalnya merupakan milik Pak Madrais kemudian beralih ke Pangeran Teja Buana
berdasarkan letter C desa. Tidak tertulis milik adat atau sejenisnya. Jika dilihat silsilah,
seperti itulah garis keturunannya.
Andi mengatakan bahwa berdasarkan perkara nomor 07 tahun 2009 yang telah
berkuatan hukum tetap, telah melalui proses banding, kasasi, bahkan peninjauan kembali,
yang dimenangkan Jaka Rumantaka, hari ini dilaksanakan eksekusi. Namun melihat
kondisi di lapangan, timbulnya korban, Pengadilan Negeri menetapkan pelaksanaan
eksekusi gagal.
Warga adat langsung menggelar doa dan syukur di lokasi. Mereka menangis terharu
lantaran proses sengketa yang berlangsung bertahun-tahun akhirnya selesai dan dinyatakan
gagal. Namun, bila pemohon eksekusi kembali melakukan pengajuan, warga adat akan
kembali mempertahankan tanah yang dinilainya sebagai tanah adat, bukanlah tanah waris.
Okki Satria, selaku warga adat sekaligus koordinator aksi bersyukur bahwa upaya eksekusi
dianggap selesai dan gagal tanpa merusak bangunan dan tanah. Namun warga adat tetap
akan melanjutkan perjuangan hingga pengaduan pemohon yang hari ini digagalkan
menjadi berstatus batal.
Untuk mencapai proses tersebut, pihak Okki sedang melakukan dua buah proses
gugatan, yaitu pertama, status tersangka mantan lurah yang melakukan dokumen girik
palsu dan kedua, menggugat keterangan palsu yang mengaku bahwa pemohon eksekusi
sebagai ahli waris dari Pangeran Teja Buana, karena pada aturannya adalah semua anak,
dan cucu keturunan harus ikut menandatangani di pengadilan.

II. Suku Sunda


A. Kondisi Geografi

Sebagai suatu wilayah etno-geografis yang disebut Sunda itu adalah wilayah
geografis kesukubangsaan (etnologis) di mana orang Sunda berada dan berasal secara
turun-termurun dari dulu hingga kini. Dalam sebutan lokal lingkungan wilayah tempat asal
dan tempat beradanya orang Sunda ini biasa disebut sebagai Tanah Sunda, Tatar Sunda
atau Pasundan (yang secara harfiah dapat diartikan sebagai Sundaland). — Walaupun tidak
mencakup seluruhnya (selain pada zaman dahulu) nama ini secara akrab setidaknya
sekarang masih digunakan di Jawa Barat (West Java) sebagai tempat utama orang Sunda
(dengan ini maka Kita mendapat suatu gambaran dasar bahwa Jawa Barat identik dengan
pusat utama dari Sunda secara etno-geografis). — Suatu catatan tambahan : Di dalam
bahasa Sunda Hal yang berkaitan dengan Sunda secara umum biasa disebut sebagai
Kasundaan (= Kesundaan, Inds). Sementara sifat keadaan sesuatu yang cenderung
bernuansa Sunda atau berkarakter Sunda sebagaimana layaknya disebut sebagai Nyunda.

Dilihat dari segi wilayahnya, berdasarkan atas di mana orang Sunda itu berada secara
turun-temurun sebagai penduduk aslinya atau sebagai pribuminya, wilayah etno-geografis
Sunda itu secara luas meliputi wilayah : Jawa Barat, Banten, Jakarta dan Sebagian Jawa
Tengah bagian barat. Membentang dari Ujungkulon di sebelah barat (yang termasuk
Provinsi Banten) hingga Brebes, Cilacap dan sekitarnya di Jawa Tengah bagian barat. Dulu
bahkan wilayahnya lebih luas lagi selain hingga Brebes dengan batas alam Kali Pemali
(Cipamali) juga pernah sampai Purwalingga (Purbalingga) dengan batas alam Kali Serayu
(Cisarayu); mencakup sebagian besar wilayah Jawa Tengah bagian barat di mana saat ini
biasa digunakan bahasa Jawa berdialek vokal A (termasuk di dalamnya Purblingga, Tegal,
Pemalang, Pekalongan, Cilacap, Kebumen, Banyumas, Purwokerto, Brebes dan
sebagainya. Pada zaman dahulu wilayah Sunda itu malah diperkirakan hingga pegunungan
Dieng di mana Kali serayu/Cisarayu berhulu).

Wilayah Sunda di lingkungan Jawa Barat dulu biasa disebut sebagai Parahiyangan
atau Parahiangan (Sunda Parahiyangan), sementara bagian kawasan Sunda Parahiyangan
di wilayah Jawa Tengah bagian barat (yang kini berbahasa Jawa dengan dialek vokal A
tersebut) pada masa silam biasa disebut sebagai kawasan Parahiyangan Blang Wetan (=
Parahiangan Kawasan Timur), di mana daerah perbatasannya (antar Jawa dan Sunda
dengan bahasa yang telah berbaur berupa Sunda-Kajawan = Sunda Jawareh) biasa disebut
sebagai Jawa Pawatan.

Berdasarkan atas keberadaanya yang tersebar pada beberapa provinsi yang berlainan,
maka pada garis besarnya wilayah etnogeografis Sunda ini dapat dibagi menjadi 4 kawasan,
yakni : Sunda Jawa Barat, Sunda Banten, Sunda Jakarta dan Sunda Jawa Tengah.

1. Sunda Jawa Barat/Sunda Parahiangan

Wilayah orang dan budaya Sunda yang terdapat di sebagian besar kawasan Provinsi
Jawa Barat yang dahulu disebut juga sebagai Parahiangan (sebagian besar berbahasa Sunda
kecuali di sebagian wilayah Cirebon dan Indramayu yang berbahasa Jawa Cirebon dan
Jawa Indramayu yang menggunakan bahasa Jawa berdialek vokal A; serta di sebagian
wilayah Depok dan Bekasi yang berbahasa Melayu Betawi yang berdialek vokal

2. Sunda Banten

Wilayah, orang dan budaya Sunda yang terdapat di sebagian besar kawasan Provinsi
Banten (mayoritas berbahasa Sunda, kecuali di sebagian wilayah Serang bagian utara di
mana di sini selain terdapat bahasa Sunda-Banten juga terdapat bahasa Jawa-Banten yang
berdialek vokal Eu). Sebagai suatu sub-bahasa di kawasan selatan wilayah ini yaitu di
Baduy terdapat bahasa Sunda Baduy.
3.Sunda Jakarta/Sunda Sundakalapa

Wilayah, orang dan budaya Sunda yang terdapat di sebagian kecil pinggiran kawasan
Provinsi DKI Jakarta masa kini dan sebagian besar Sunda Kalapa tempo dulu, di mana
secara rekontruktif historis di sini dulu pernah ada orang dan bahasa Sunda Kalapa yang
lalu punah pada kemudian hari digantikan oleh orang dan bahasa Melayu Betawi yang
berdialek É. Bahasa bukan Sunda ini terdapat pula di sebagian kawasan Depok dan Bekasi
Jawa Barat.

4.Sunda Jawa Tengah/Sunda Parahiangan blang wetan

Wilayah, orang dan budaya Sunda yang terdapat di sebagian kawasan Provinsi Jawa
Tengah bagian Barat (terutama di kawasan Brebes, Cilacap dan sekitarnya yang hingga
kini masih eksis). Keberadaan Sunda di kawasan ini merupakan sisa-sisa masa lalu di mana
wilayah ini secara historis dulu pernah menjadi bagian dari kerajaan-kerajaan di Jawa Barat
dan sekitarnya/Sunda. Nama tempat, serta budaya seperti bahasa, kesenian dan adat-
kebiasaan Sunda hingga kini masih ada di sebagian tempat tertentu (seperti nama tempat
berbau Sunda yang menggunakan awalan Ci, misal Cimangggu, Cipanas, dsbnya),
bertebaran secara luas di sana-sini. Dalam sebutan jaman dahulu wilayah ini biasa disebut
sebagai Parahiangan blang wetan. Kadang juga bagian perbatasannya disebut sebagai Jawa
Pawatan.

B. Kondisi Demografis

Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa,Indonesia,
yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat. Suku Sunda merupakan etnis kedua
terbesar di Indonesia, setelah etnis Jawa. Sekurang-kurangnya 15,41% penduduk Indonesia
merupakan orang Sunda. Mayoritas orang Sunda beragama Islam. Namun dalam kehidupan sehari-
hari, masih banyak masyarakat yang mempercayai kekuatan-kekuatan supranatural, yang berasal
dari kebudayaan animisme dan Hindu. Kepercayaan tradisional Sunda Wiwitan masih bertahan di
beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan dan masyarakat suku Baduy di
Lebak yang berkerabat dekat dan dapat dikategorikan sebagai suku Sunda.
Dalam urusan-urusan nasional, tidak banyak peran penting yang dimainkan oleh etnis Sunda.
Walaupun peristiwa-peristiwa penting sering terjadi di Jawa Barat, namun sedikit sekali dari
peristiwa tersebut yang diperankan oleh orang-orang Sunda. Dalam kancah kehidupan berbangsa
dan bernegara, hanya sedikit orang Sunda yang menjadi pemimpin politik, sastrawan, dan
pengusaha. Prestasi yang cukup membanggakan adalah banyaknya penyanyi dan artis dari etnis
Sunda, yang berkiprah di tingkat nasional.

1.Profesi

Mayoritas masyarakat Sunda berprofesi sebagai petani, penambang pasir, dan berladang.
Sampai abad ke-19, banyak dari masyarakat Sunda yang berladang secara berpindah-pindah. Di
wilayah perkotaan, banyak orang Sunda yang berprofesi sebagai buruh pabrik, pegawai negeri, dan
pembantu rumah tangga. Profesi pedagang keliling banyak pula dilakoni oleh masyarakat Sunda,
terutama asal Tasikmalaya dan Garut. Mereka banyak menjual aneka perabotan rumah tangga.

2. Sejarah dan Penyebaran Bahasa Sunda

Bahasa Sunda dituturkan oleh sekitar 27 juta orang dan merupakan bahasa dengan penutur
terbanyak kedua di Indonesia setelah Bahasa Jawa. Sesuai dengan sejarah kebudayaannya, bahasa
Sunda dituturkan di provinsi Banten khususnya di kawasan selatan provinsi tersebut, sebagian besar
wilayah Jawa Barat (kecuali kawasan pantura yang merupakan daerah tujuan urbanisasi dimana
penutur bahasa ini semakin berkurang), dan melebar hingga batas Kali Pemali (Cipamali) di
wilayah Brebes, Jawa Tengah.

3. Karakteristik pertumbuhan Populasi Sejarah Orang Sunda

Pertumbuhan populasi di antara orang Sunda mungkin merupakan faktor non-religius yang
paling penting di dalam sejarah suku Sunda. Orang Sunda hanya memiliki sedikit karakteristik
dalam sejarah mereka sendiri. Memahami orang Sunda pada zaman ini merupakan tantangan yang
besar bagi sejarawan, antropolog, dan sarjana-sarjana agama. Salah satu aspek yang sangat penting
dalam agama-agama orang Sunda adalah dominasi kepercayaan-kepercayaan pra-Islam.

Secara berangsur-angsur budaya suku sunda di pengaruhi oleh budaya luar yang telah
menjadi ahli waris hasil budaya asosiasi hasil didikan sistem barat. Akhirnya orang sunda
diperintah oleh pribumi yang telah ber-asosiasi dengan kebudayaan Eropa.ini mengawali 3oo tahun
eksploitasi belanda di Jawa barat yang hanya berakhir pada saat perang dunia II. karena Pada 1641,
mereka mengambil alih Malaka dari Portugis dan memegang kontrol atas jalur-jalur laut.

Menjelang akhir abad, Islam diakui sebagai agama resmi masyarakat Sunda. Kepercayaan-
kepercayaan yang kuat terhadap banyak jenis roh dianggap sebagai bagian dari Islam. Di antaranya,
ia memberikan contoh orang Jawa sebagai satu kelompok orang yang memiliki identitas jelas,
bertolak belakang dengan orang-orang Sunda yang kurang dalam hal ini.

C. Sistem Kebudayaan

1. Sistem Kepercayaan

Hampir semua orang Sunda beragama Islam. Hanya sebagian kecil yang tidak
beragama Islam, diantaranya orang-orang Baduy yang tinggal di Banten Tetapi juga ada
yang beragama Katolik, Kristen, Hindu, Budha. Selatan. Praktek-praktek sinkretisme dan
mistik masih dilakukan. Pada dasarnya seluruh kehidupan orang Sunda ditujukan untuk
memelihara keseimbangan alam semesta.Keseimbangan magis dipertahankan dengan
upacara-upacara adat, sedangkan keseimbangan sosial dipertahankan dengan kegiatan
saling memberi (gotong royong).

2. Mata Pencaharian

Suku Sunda umumnya hidup bercocok tanam. Kebanyakan tidak suka merantau
atauhidup berpisah dengan orang-orang sekerabatnya. Kebutuhan orang Sunda terutama
adalah hal meningkatkan taraf hidup.

3. Kesenian

a. Kirab Helaran

Kirap helaran atau yang disebut sisingaan adalah suatu jenis kesenian
tradisional atau seni pertunjukan rakyat yang dilakukan dengan arak-arakan dalam
bentuk helaran. Pertunjukannya biasa ditampilkan pada acara khitanan atau acara-
acara khusus seperti ; menyambut tamu, hiburan peresmian, kegiatan HUT
Kemerdekaan RI dan kegiatan hari-hari besar lainnya. Seperti yang diikuti ratusan
orang dari perwakilan seluruh kelurahan di Cimahi, yang berupa arak-arakan yang
pernah digelar pada saat Hari Jadi ke-6 Kota Cimahi. Kirap ini yang bertolak dari
Alun-alun Kota Cimahi menuju kawasan perkantoran Pemkot Cimahi, Jln. Rd.
Demang Hardjakusumah itu, diikuti oleh kelompok-kelompok masyarakat yang
menyajikan seni budaya Sunda, seperti sisingaan, gotong gagak, kendang rampak,
calung, engrang, reog, barongsai, dan klub motor.

b. Pencak Silat Cikalong

Pencak silat Cikalong tumbuh dikenal dan menyebar, penduduk tempatan


menyebutnya “Maempo Cikalong”. Khususnya di Jawa Barat dan diseluruh
Nusantara pada umumnya, hampir seluruh perguruan pencak silat melengkapi teknik
perguruannya dengan aliran ini.
Daerah Cianjur sudah sejak dahulu terkenal sebagai daerah pengembangan
kebudayaan Sunda seperti; musik kecapi suling Cianjuran, klompen cianjuran,
pakaian moda Cianjuran yang sampai kini dipergunakan dll.

c. Seni Tari

 Tari Jaipongan

Gambar 13: Tari jaipong


Tanah Sunda (Priangan) dikenal memiliki aneka budaya yang unik dan
menarik, Jaipongan adalah salah satu seni budaya yang terkenal dari daerah ini.
Jaipongan atau Tari Jaipong sebetulnya merupakan tarian yang sudah moderen
karena merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda
yaitu Ketuk Tilu.Tari Jaipong ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula,
yaitu Degung. Musik ini merupakan kumpulan beragam alat musik seperti Kendang,
Go’ong, Saron, Kacapi, dsb. Degung bisa diibaratkan ‘Orkestra’ dalam musik
Eropa/Amerika. Ciri khas dari Tari Jaipong ini adalah musiknya yang menghentak,
dimana alat musik kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian.
Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok. Sebagai
tarian yang menarik, Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan
atau pesta pernikahan.

 Tari Merak

Tari merak adalah salah satu tarian tradisional yang bentuk pakaian dan
gerakannya terinspirasi dari burung Merak yang selalu melebarkan bulu ekornya
ketika ingin menarik perhatian lawan jenisnya. Tari yang terkenal baik di dalam
ataupun diluar negeri ini dibuat oleh R. Tjetje Somantri dan biasanya dipentaskan
oleh 3 orang penari atau lebih. Masing-masing penari ada yang memerankan karakter
jantan dan karakter betina.

 Tari Topeng

Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian di wilayah kesultanan Cirebon.
Tari Topeng Cirebon, kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon,
termasuk Subang, Indramayu, Jatibarang, Majalengka, Losari, dan Brebes. Disebut
tari topeng, karena penarinya menggunakan topeng di saat menari. Pada pementasan
tari Topeng Cirebon, penarinya disebut sebagai dalang, dikarenakan mereka
memainkan karakter topeng-topeng tersebut. Tari topeng ini sendiri banyak sekali
ragamnya dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang
ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh satu penari tarian solo, atau
bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.

d. Seni Musik Dan Suara

Selain seni tari, tanah Sunda juga terkenal dengan seni suaranya. Dalam
memainkan Degung biasanya ada seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu
Sunda dengan nada dan alunan yang khas. Penyanyi ini biasanya seorang wanita yang
dinamakan Sinden. Tidak sembarangan orang dapat menyanyikan lagu yang
dibawakan Sinden karena nada dan ritme-nya cukup sulit untuk ditiru dan
dipelajari.Dibawah ini salah salah satu musik/lagu daerah Sunda :

1. Bubuy Bulan
2. Es Lilin
3. Manuk Dadali
4. Tokecang
5. Warung Pojok

4. Sistem Kekerabatan

Sistem keluarga dalam suku Sunda bersifat parental, garis keturunan ditarik dari
pihak ayah dan ibu bersama. Dalam keluarga Sunda, ayah yang bertindak sebagai kepala
keluarga. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat
mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku Sunda.Dalam suku
Sunda dikenal adanya pancakaki yaitu sebagai istilah-istilah untuk menunjukkan hubungan
kekerabatan. Dicontohkannya, pertama, saudara yang berhubungan langsung, ke bawah,
dan vertikal. Yaitu anak, incu (cucu), buyut (piut), bao, canggahwareng atau
janggawareng, udeg-udeg, kaitsiwur atau gantungsiwur. Kedua, saudara yang
berhubungan tidak langsung dan horizontal seperti anak paman, bibi, atau uwak, anak
saudara kakek atau nenek, anak saudara piut. Ketiga, saudara yang berhubungan tidak
langsung dan langsung serta vertikal seperti keponakan anak kakak, keponakan anak adik,
dan seterusnya. Dalam bahasa Sunda dikenal pula kosa kata sajarah dan sarsilah (salsilah,
silsilah) yang maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam
bahasa Indonesia. Makna sajarah adalah susun galur/garis keturunan.

5. Bahasa

Bahasa yang digunakan oleh suku ini adalah bahasa Sunda. Bahasa Sunda adalah
bahasa yang diciptakan dan digunakan sebagai alat komunikasi oleh Suku Sunda, dan
sebagai alat pengembang serta pendukung kebudayaan Sunda itu sendiri.

Suku Sunda memiliki aksara khusus bernama Aksara Sunda Baku. Aksara Sunda
Baku pada masa kini biasa digunakan untuk menuliskan nama jalan di daerah Sunda.

6. Upacara Adat

Adat Sunda merupakan salah satu pilihan calon mempelai yang ingin merayakan
pesta pernikahannya. Khususnya mempelai yang berasal dari Sunda. Adapun rangkaian
acaranya dapat dilihat berikut ini.

a. Nendeun Omong, yaitu pembicaraan orang tua atau utusan pihak pria yang berminat
mempersunting seorang gadis.
b. Lamaran. Dilaksanakan orang tua calon pengantin beserta keluarga dekat. Disertai
seseorang berusia lanjut sebagai pemimpin upacara. Bawa lamareun atau sirih pinang
komplit, uang, seperangkat pakaian wanita sebagai pameungkeut (pengikat). Cincin
tidak mutlak harus dibawa. Jika dibawa, bisanya berupa cincing meneng,
melambangkan kemantapan dan keabadian.

c. Tunangan. Dilakukan ‘patuker beubeur tameuh’, yaitu penyerahan ikat pinggang warna
pelangi atau polos kepada si gadis.

d. Seserahan (3 – 7 hari sebelum pernikahan). Calon pengantin pria membawa uang,


pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur, makanan, dan lain-lain.

e. Ngeuyeuk seureuh (opsional, Jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan, maka seserahan
dilaksanakan sesaat sebelum akad nikah.)

o Dipimpin pengeuyeuk.
o Pengeuyek mewejang kedua calon pengantin agar meminta ijin dan doa restu kepada
kedua orang tua serta memberikan nasehat melalui lambang-lambang atau benda yang
disediakan berupa parawanten, pangradinan dan sebagainya.
o Diiringi lagu kidung oleh pangeuyeuk
o Disawer beras, agar hidup sejahtera.
o dikeprak dengan sapu lidi disertai nasehat agar memupuk kasih sayang dan giat
bekerja.
o Membuka kain putih penutup pengeuyeuk. Melambangkan rumah tangga yang akan
dibina masih bersih dan belum ternoda.
o Membelah mayang jambe dan buah pinang (oleh calon pengantin pria). Bermakna agar

keduanya saling mengasihi dan dapat menyesuaikan diri.


o Menumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali (oleh calon pengantin pria).

f. Membuat lungkun. Dua lembar sirih bertangkai saling dihadapkan. Digulung menjadi
satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh. Diikuti kedua orang tua dan para tamu yang
hadir. Maknanya, agar kelak rejeki yang diperoleh bila berlebihan dapat dibagikan kepada
saudara dan handai taulan.
g. Berebut uang di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rejeki
dan disayang keluarga.

h. Upacara Prosesi Pernikahan

o Penjemputan calon pengantin pria, oleh utusan dari pihak wanita


o Ngabageakeun, ibu calon pengantin wanita menyambut dengan pengalungan bunga
melati kepada calon pengantin pria, kemudian diapit oleh kedua orang tua calon pengantin
wanita untuk masuk menuju pelaminan.
o Akad nikah, petugas KUA, para saksi, pengantin pria sudah berada di tempat nikah.
Kedua orang tua menjemput pengantin wanita dari kamar, lalu didudukkan di sebelah kiri
pengantin pria dan dikerudungi dengan tiung panjang, yang berarti penyatuan dua insan
yang masih murni. Kerudung baru dibuka saat kedua mempelai akan menandatangani surat
nikah.
o Sungkeman,
o Wejangan, oleh ayah pengantin wanita atau keluarganya.
o Saweran, kedua pengantin didudukkan di kursi. Sambil penyaweran, pantun sawer
dinyanyikan. Pantun berisi petuah utusan orang tua pengantin wanita. Kedua pengantin
dipayungi payung besar diselingi taburan beras kuning atau kunyit ke atas payung.
o Meuleum harupat, pengantin wanita menyalakan harupat dengan lilin. Harupat disiram
pengantin wanita dengan kendi air. Lantas harupat dipatahkan pengantin pria.
o Nincak endog, pengantin pria menginjak telur dan elekan sampai pecah. Lantas kakinya
dicuci dengan air bunga dan dilap pengantin wanita.
o Buka pintu. Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun
bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu
dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan.
D. Wujud Fisik

A) Pakaian Adat Khas Suku Sunda

Gambar 14: Pakaian adat sunda

Ketika sedang bergaya dengan pakaian, penduduk sunda mengenali beberapa jenis
pakaian adat yang didasarkan pada fungsinya masing masing, umur, tingkatan sosial
kependudukan pemaikainnya.

Tingkatan pemakain pakaian adat itu berdasarkan tingkat strata sosial pemakainya,
misalnya seperti pakaian adat Jawa Barat bisa dibedakan menjadi 3 jenis pakaian, seperti
pakaian kaum menengah, pakaian kaum bangsawan, bahkan pakaian rakyat jelata pun ada.
1. Pakaian Adat Sunda Untuk Kaum Menengah Ke Atas

Gambar 15

Mempunyai kelas yang berbeda dari pada rakyat jelata, berbeda juga dengan cara
tampilannya. Bagi mereka yang bisa terbilang sebagai kaum menengah ke atas dalam strata
sosial, pemakaian pakaian adat Jawa Barat dikhususkan dengan adanya tambahan-
tambahan pernak-pernik terhadap pakaian tersebut.

Para lelaki/pria selain memakai baju yang berwarna putih, alas kaki sandal tarumpah,
kain kebat batik, sabuk (beubeur), dan ikat kepala, mereka juga menggunakan rantai emas
(arloji) yang akan digantungkan pada saku baju sebagai kelengkapan dalam berbusana.

Sedangkan bagi para wanita yang menggunakan pakaian adat, pakaian adat Jawa
Barat yang digunakan oleh seorang wanita ini adalah kebaya yang penuh dengan ber-aneka
warna sebagai atasan.

Kain kebat dengan ber-aneka corak-corak sebagai bawahan, ikat pinggang (beubeur),
selendang yang berwarna, alas kaki seperti selop, dan perhiasan berupa gelang, kalung,
cincin yang dibikin dari emas dan perak.
2. Pakaian Adat Sunda Untuk Rakyat Jelata

Gambar 16

Para rakyat jelata suku sunda pada zaman dahulu, pria-pria sunda pada masa dulu
selalu menggunakan busana pakaian yang sangat sederhana, mereka hanya menggunakan
celana komprang, atau celana pangsi yang mana celana mereka ini dilengkapi dengan kain,
atau sabuk kulit.

Untuk atasan, pakaian kampret atau salontren yang dilengkapi dengan sarung poleng,
kemudian diselempangkan menyilang pada bagian bahu itu tidak pernah lepas dalam
menjalani kehidupan sehari-hari

Pakaian adat suku sunda tersebut akan dilengkapi dengan penutup kepala, yang mana
penutup kepala itu bernama ikat logen model hanjuan nangtung, dan menggunakan alas
kaki berupa terompah dari kayu.

Bagi para wanita, menggunakan pakaian adat Jawa Barat yang bisa dibilang bahwa
pakaian adat tersebut sangat-sangatlah sederhana, Mereka para wanita itu menggunakan
perlengkapan seperti sinjang kebat, beubeur, kamisol, kebaya, baju, dan selendang batik
adalah menjadi pilihan utama mereka.
Selain itu, sebagai periasan pelengkap busana tersebut, gaya pakaian adat suku sunda
Jawa Barat tersebut akan disertai dengan hiasan rambut yang disanggul ke atas, selain dirias
dengan hiasan rambut, para wanita tersebut menggunakan aksesoris berupa gelang akang
bahar, ali meneng atau biasa disebut dengan nama cincin polos, suweng pelenis, alas kaki
seperti sendal jepit.

3. Pakaian Adat Sunda Untuk Para Kaum Bangsawan

Gambar 17

Untuk para kaum orang bangsawan, mereka biasa memakai pakaian adat sunda yang
memiliki simbol-simbol keadungan. Oleh karna itu, dari beberapa segi desain pakaian,
pakaian tersebut terlihat sebagai pakaian adat suku sunda Jawa Barat yang paling rumit.

Untuk para pra-pria bangsawan, pakaian adat sunda yang akan mereka gunakan ini
adalah jas tutup yang berbahan hitam yang mana jas tersebut disulam dengan benang emas
yang menyusuri sampe ke tepi, dan ujung lengan.

Begitupun dengan celana panjang yang mereka gunakan itu sama dengan motif baju
yang mereka gunakan, kain dodot motif rengreng parang rusak, benten atau sabuk emas,
bento untuk penutup kepala, dan selop hitam digunakan sebagai alas kaki
Bagi para wanita, biasanya para wanita kaum bangsawan sering menggunakan
pakaian adat Jawa Barat seperti kebaya beludru yang berwarna hitam, yang disulam dengan
benang emas, kain kebat yang bermotif rereng, dan menggunakan selop yang memiliki
bahan beludru dan di hiasai oleh sulaman manik-manik untuk mempercantik penampilan
tersebut.

Selain hanya itu, tak lupa ada beberapa pernak-pernik perhiasan yang sering di
gunakan, misalkan seperti tusuk konde emas yang digunakan untuk rambut yang di
sanggul, cincin, broos, giwang, gelang keroncong, peniti rantai, dan ada beberapa
perhiasan-perhiasan lainnya yang dibuat dari emas.

4. Pakaian Resmi Adat Sunda

Gambar 18

Pakaian adat sunda ini mempunyai beberapa jenis pakaian adat khas Provinsi Jawaa
Barat, karena memiliki beragam jenis pakaian adat sunda, disitulah para masyarakat sunda
dahulu membuat standar baku pakaian adatnya sejak beberapa dasawarsa terakhir.

Pakaian adat Jawa Barat yang telah di resmikan tersebut dapat kita lihat ketika
menjumpai acara adanya pemilihan mojang, dan jajaka yang kerap di gelar setiap tahunnya.
Untuk para jajaka itu memakai jas tutup dengan variasi warna yang bebas, tapi para
jajaka ini lebih sering menggunakan jas tutup yang berwarna hitam, kemudian
menggunakan celana panjang dengan warna yang sama seperti jas, kain samping yang
diikatkan pada pinggang, penutup kepala seperti bendo, dan selop sebagai alas kakinya.

Hiasan-hiasan yang digunakan oleh para jajaka ini hanya jam rantai yang biasa
dijepitkan di saku jas tersebut.

Kemudian para mojang hanya menggunakan pakaian seperti kebaya polos yang
dilengkapi dengan hiasan-hiasan sulam, kain kebat, beubeur(ikat pinggang),
kamisol(kutang), selendang(karembong), dan menggunakan selop yang memiliki warna
sama dengan kebaya untuk jadikan sebagai alas kaki.

Selain itu, ada hiasan-hiasan lainnya seperti tusuk konde yang dilengkapi oleh hiasan
bunga-bunga untuk rambut yang di sanggul, cincin, giwang, bros, kalung, gelang
kerongcong, peniti rantai, dan masih ada beberaja jenis peerhiasan-perhiasan lain yang
dibuat dari emas yang bertahta berlian.

5. Pakaian Pengantin Khas Suku Sunda

Gambar 19
Keperluan-keperluan untuk upacara adat perkawinan, para kedua mempelai adat
suku sunda ini akan menggunakan Pakaian Pengantin Sakupura, yang mana Pakaian
Pengantin Sakupura itu dikhususkan untuk dipakai oleh para pengantin ketika
melaksanakan upaca adat perkawinan.

Pakaian pengantin untuk mempelai pria ini menggunakan jas tutup yang berwarna
putih, kemudian dilengkapi dengan ikat pinggang yang berwarna putih juga, kain rereng
yang diguanakan sebagai bawahan, tutup kepala seperti bendo, dan menggunakan selop
warna putih sebagai alas kakinya.

Selain itu, ada tambahan hiasan seperti kalung yang panjang dari bunga melati, dan
kujang atau keris sebagai senjata tradisionalnya.

Kemudian untuk mempelai wanitanya menggunakan pakaian , seperti kebaya brukrat


yang berwarna putih, bagian bawahannya menggunakan bahan berupa kain rereng eneng,
ikat pinggang yang berwarna emas, dan selop warna putih untuk dijadikan alas kaki.

Selain menggunakan itu, ada juga hiasan-hiasan seperti perhiasan kilat bahu, kalung-
kalung panjangm gelang, bros, cincin, giwang, dan sanggul untuk rambut yang
dilelangkapi dengan hiasan-hiasan siger subadra lima rangkaian bunga sedap malam, dan
yang terakhir tujuh buah kembang goyang.

B) Rumah Adat Suku Kebudayaan Sunda

Gambar 20: rumah adat sunda


Pada umumnya rumah tradisional suku Sunda ini adalah hanya sebuah rumah
panggung, rumah adat sunda ini pun sama seperti rumah-rumah adat suku-suku lainnya
yang ada pada Negara Indonesia.

Rumah adat sunda yang berbentuk panggung ini mempunyai tujuan untuk
menghindari sumber masalah-masalah dari lingkungan sekitar yang bisa mengancam
penghuni rumah tersebut.

Ketika dilihat berdasarkan pada bentuk atap rumahnya, maka rumah tradisional
sunda tersebut terbagi dari beberapa ciri yang berbeda dengan rumah-rumah tradisional
lainnya.

Dibawah ini ada penjelasan mengenai bentuk-bentuk atap dari rumah tradisional
suku sunda, mari kita simak bersama-sama.

 Nama atap Capit gunting ini (dikarenakan bagian dari atas atapnya yang menyilang
berbentuk gunting)
 Nama atap Tagog Anjing (dikarenakan dari bentuk atapnya ini mirip seperti ekor
anjing yang lagi duduk)
 Nama atap Badak Heuay (diberi nama badak heuay ini, dikarenakan bentuk atap
rumahnya seperti seekor binatang badak yang lagi membuka mulutnya)
 Nama atap Julang Ngapak (diberi nama julang ngapak ini, dikarenakan bentuk atap
rumahnya seperti sayap burung yang sedang membentangkan sayapnya/terbang)
 Nama atap Perahu Kumereb (diberi nama perahu kumereb ini, karena bentuk
atapnya seperti bentuk perisai, maka dari itu oleh penduduk sunda disebut dengan perahu
kumereb)
 Nama atap Jolopong (diberi nama jelopong ini karena bentuk atap nya seperti
pelana yang bentuk nya memanjang)
C) Kesenian Alat Musik Khas Suku Sunda
Gambar 21: gamelan

Suku Sunda adalah salah satu suku yang ada di Negara Indonesia yang mempunya
kreatifitas. Penduduk sunda selalu mempunyai daya kreasi yang sangat tinggi, salah
satunya dalam berkesenian. Hal tersebut ditunjukkan dari banyaknya beberapa seni-seni
yang mulai bermunculan di daerah Jawa Barat.

Kota Bandung sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, merupakan salah satu pusat
dari kesenian khas Sunda. Di Kota Bandung terdapat banyak sekali alat-alat musik
tradisional yang masih kerap dimainkan di beberapa tempat di Kota Bandung.

Seiring kemajuan pada zaman, alat musik ini tidak pernah lekang, bahkan alat musik
tradisional ini masih kerap dimainkan dalam berbagai macam pertunjukan yang kerap di
adakan pada Kota Bandung ini.

Dibawah ini terdapat 3 alat musik tradisional berikut penjelasannya, yuk langsung
saja kita simak tulisan yang menuliskan tentang alat musik tradisional dibawah ini.

 Calung, adalah alat musik tradisional khas suku sunda yang merupakan bentuk
tiruan dari alat musik tradisional yang bernama angklung.Tetapi calung ini berbeda dengan
angklung yang dimainkan dengan cara digoyang alat musiknya, cara memainkan calung
adalah dengan cara memukul wilahan-bilah dari ruas-ruas (tabung bambu) yang menurut
tangga nada.Jenis-jenis bahan bahan untuk membuat alat musik calung ini, kebanyakan
dari bambu hitam (awi wulung), tetapi selain itu ada juga yang dibuat dari bahan bambu
yang berwarna putih.
 Kecapi Suling, ialah merupakan salah satu jenis kesenian Suku Sunda
yang menyesuaikan suara alunan Suling dengan suara alunan Kacapi (kecapi), Kecapi
Suling ini memiliki irama yang sangat merdu sekali, yang mana biasanya suara kecapi ini
di iringi oleh tembang sunda yang memerlukan cengkok/ alunan-alunan tinggi khas suku
Sunda.Didaerah Cianjur, kecapi suling ini berkembang dengan cepat hingga menyebar
kepenjuru Kota Parahiangan, Jawa Barat, selain didaerah Jawa Barat, alat musik tradisional
ini juga menyebar keseluruh dunia.
 Angklung, adalah alat musik kesenian yang dibuat dari bahan bambu khusus, yang
mana bahan-bahan bambu khusus ini ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna kurang lebih
sekitar pada tahun 1938. Yang mana pada zaman itu awal pengguaan angklung hanya
sebatas kepentingan kesenian local maupun kesenian tradisional.

D) Makanan-Makanan Khas Suku Sunda

Gambar 22: makanan khas

Suku sunda ini merupakan salah satu bagian dari suku-suku yang ada di Negara
Indonesia. Mayoritas didaerah sunda ini memiliki makanan-makanan khas tersendiri.
Dibawah ini akan ada informasi mengenai makanan-makanan khas suku sunda, yuk
langsung saja kita simak informasi tentang makanan-makanan khas sunda tersebut:

1. Peyeum Bandung

Gambar 23: Peyeum

Peyeum ini apabila diartikan kedalam bahasa Indonesia itu artinya tape, yang mana
peuyeum bandung ini adalah tape khas Bandung yang dapat menggoyang lidah kamu bila
kamu mencicipi kelezatan rasa dari peyeum bandung tersebut.

Tape atau peyeum ini adalah makanan khas Bandung yang dibuat dari singkong yang
di kukus lalu dianginkan, setelah itu ditaburi ragi khusus dan imbuh (di peyeum) sampe
permentasi menjadi tape.

2. Makanan Sunda Nasi Tutug Oncom


Gambar 24: nasi tutug oncom

Nasi tutug oncom ini merupakan salah satu nasi khas dari daerah suku sunda, yang
lebih tepatnya nasi tutug oncom ini makanan khas tasikmalaya.

Nasi tutug oncom ini adalah nasi yang dicampur dengan oncom yang dibakar atau
yang di goreng. Proses pencampuran nasi tutug oncom ini dengan di cara ditumbuk, dengan
tumbukan itu makanan tersebut dikenal oleh orang orang dengan nama Nasi Tutug Oncom.

3. Makanan Balok Menes


Gambar 25: balog menes

Mungkin sebagian dari kalian ada yang belum mengetahui makanan balog menes ini,
terkadang yang belum mengetahui atau belum pernah mendengar makanan balog menes
ini suka merasa kaget, masa iya sih kayu balok yang keras? Tetapi balok disini berbeda,
karena nama balok disini adalah jenis makanan-makanan khas suku sunda.

Makanan balok menes ini dibuat dari singkong, dan parutan kelapa yang sudah di
olah menjadi serundeng. Kue balok ini terdapat dua macam, yang pertama aang adalah
balok cioda, dan yang kedua adalah balok menes.
E. Konflik

Tidak terdengar adanya konflik perang saudara di dalam Suku Sunda. Konflik yang
terkenal yang terjadi pada Suku Sunda adalah Perang Bubat yang terjadi pada tahun 1279
Saka atau 1357 M pada abad ke-14, yaitu pada masa pemerintahan raja Majapahit Hayam
Wuruk. Perang terjadi akibat perselisihan antara Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit
dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat, yang
mengakibatkan tewasnya seluruh rombongan Sunda. Sumber-sumber rujukan tertua
mengenai adanya perang ini terutama adalah Serat Pararaton serta Kidung Sunda dan
Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.

Gambar 26: ilustrasi perang Bubat

Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin
memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam
Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya sebuah lukisan sang putri di Majapahit;
yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu. Namun alasan umum
yang dapat diterima adalah Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka
karena didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda.

Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat
kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara
pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri
Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati.
Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak
pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Linggabuana memutuskan
untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis
leluhur dua negara tersebut. Linggabuana berangkat bersama rombongan Sunda ke
Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan
diiringi sedikit prajurit. Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada
untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang
dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di
Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum
dikuasai.

Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan untuk menganggap bahwa
kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri
Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima
Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan
pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri
disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih
yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Gajah Mada dimaki oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan
mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan
karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula. Belum lagi
Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya
(Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui
superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda,
Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara
Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan
pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri
kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya
Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda.
Sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati, bunuh diri untuk
membela kehormatan bangsa dan negaranya. Tindakan ini mungkin diikuti oleh segenap
perempuan-perempuan Sunda yang masih tersisa, baik bangsawan ataupun abdi. Menurut
tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatriya, ritual bunuh diri dilakukan oleh para perempuan
kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela
harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan
dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.

Hayam Wuruk meratapi kematian Dyah Pitaloka. Hayam Wuruk menyesalkan


tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali - yang saat itu berada di
Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka - untuk
menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang
menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa
ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai
Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya. Raja Hayam Wuruk kemudian menikahi
sepupunya sendiri, Paduka Sori.

Tragedi ini merusak hubungan kenegaraan kedua negara dan terus berlangsung
hingga bertahun-tahun kemudian, hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti
sediakala. Pangeran Niskalawastu Kancana — adik Putri Pitaloka yang tetap tinggal di
istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih
terlalu kecil — menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan
naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana. Kebijakannya antara lain memutuskan
hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan
kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri
Sunda diberlakukan peraturan larangan “estri ti luaran”, yang isinya yaitu tidak boleh
menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh
menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai
larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk
melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda
dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki "Prabu Wangi" (bahasa Sunda:
raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya.
Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih
Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat


Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam
rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal
masih tersisa hingga kini. Hingga kini masih ada beberapa keluarga sunda yang tidak
memperbolehkan anaknya menikah dengan orang jawa dan juga sebaliknya. Lalu dahulu
tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus
pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama "Gajah Mada" atau "Majapahit".
Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan
rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji
dalam tragedi ini.

Namun sekarang telah ada upaya yang dilakukan untuk mengurangi sentimen antara
Suku Sunda dan Suku Jawa. Pada akhir jabatannya, Gubernur Jawa Barat Ahmad
Heryawan merekonsiliasi budaya melalui nama jalan. Bersama Gubernur Jawa Timur
Soekarwo dan Wakil Gubernur Yogyakarta Paku Alam X, Aher meresmikan nama jalan
yang berkaitan dengan Perang Bubat, yakni Jalan Majapahit, Hayam Wuruk, dan
Citraresmi.

Langkah tersebut, kata Aher, merupakan upaya meng-hilang-kan rasa dendam dan
sakit hati akibat luka sejarah masa lalu yang kelam. “Dengan nama Majapahit dan Hayam
Wuruk sebagai tokoh kerajaan Jawa kemudian menjadi nama jalan di Jawa Barat secara
simbolis dapat membuktikan upaya menjaga tali persaudaraan antarsuku dan budaya,” ujar
Aher belum lama ini.

Menurutnya, rekonsiliasi budaya ini sangat penting untuk menyelesaikan konflik


antara suku Sunda dan Jawa pada masa lampau. Aher berharap, sekat budaya yang terjadi
antara suku Sunda dan Jawa bisa mencair di tengah masyarakat.
BAB III

KESIMPULAN

Setelah menganalisis kebudayaan baduy, kita mengetahui apa yang harus kita lakukan dan
bagaimana harus bersikap jika bekerja di daerah Banten (baduy), yakni harus menghormati
kebudayaan dari suku Baduy karena suku Baduy pada dasarnya sangatlah menghormati orang lain
yang berada di luar wilayahnya,meskipun mereka sangat tertutup. Hal ini dibuktikan dengan
adanya upacara adat seba dimana suku Baduy keluar dari wilayahnya menuju ke kantor
gubernur/walikota Banten untuk melaporkan keadaan penduduk dari suku baduy dan membawa
hasil bumi untuk diserahkan ke pemerintah.

Berlawanan dengan suku Baduy, suku Sunda tidaklah bersikap tertutup sehingga tidaklah
terlalu sulit dalam berinteraksi dengan masyarakatnya. Orang Sunda tidak berwatak setegas Suku
Batak tetapi tidak juga selembut Suku Jawa. Jadi yang paling penting adalah bersikap sebaik-
baiknya, tidak terlalu keras tetapi tidak terlalu lemah lembut.