Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS RESOLUSI KONFLIK

LAUT CINA SELATAN

Mansa Hubert Hasiholan Manalu

00000020824

I. PENDAHULUAN

Dimanapun kita berada, sudah di pastikan adanya konflik, bahkan dari zaman Nabi pun
sudah nampak jelas adanya konflik – konflik yang terjadi seperti yang kita dapat baca di dalam
alkitab. Banyak yang berkata bahwa ujung dari semua konflik adalah sebuah perdamaian,
namun apakah hal tersebut mutlak adanya? Konflik sendiri adalah kondisi yang terjadi antara
dua pihak atau lebih menganggap ada perbedaan atau visi dan misi, serta pandangan yang tidak
sama terhadap suatu hal, dengan ketidak cukupan sumber maka salah satu pihak
mengintervensi, menghalangi , atau mencampuri atau dalam beberapa saat bisa membuat pihak
lain merasa rugi atau tidak senang. Kita juga membahas tentang resolusi, resolusi merupakan
sebuah pencapaian putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yg
ditetapkan oleh rapat, pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal Di tugas
terakhir ini, saya di berikan tugas untuk “menganalisis” suatu konflik yang terjadi di dunia.
maka pada tugas akhir ini, saya akan menelaah sedalam – dalamnya satu persatu. Dengan
menggunakan metode – metode yang telah di berikan dalam mata pelajaran saya yaitu resolusi
konflik, dengan harapan dengan di suguhkanya teori teori penyelesaian konflik tersebut saya
dapat menganalisis secara baik dan benar tentang masalah Laut Cina Selatan ini. Laut Cina
Selatan merupakan sebuah konflik sengketa yang sampai saat ini masih terasa hangat untuk di
perbincangkan, dengan adanya beberapa negara yang masuk ikut memperebutkan perairan ini,
yang menarik lagi di dalam konflik ini, tidak hanya 2 oknum yang membuat konflik ini menjadi
besar, bahkan ada terjadinya ancaman – ancaman perang yang terjadi selama konflik ini
berlangsung, apalagi ketika perairan ini adalah “sengketa” benua asia namun masih ada campur
tangan Amerika di dalamnya. Dengan sebegitu sulitnya konflik ini berlangsung membuat topik
ini menjadi pilihan saya sebagai bahan Ujian Akhir dan juga sebagai pengetahuan serta
pembelajaran bagi saya.
Admin. (n.d.). Rivalitas Great Powers di Laut Cina Selatan. Retrieved from

https://fairtalks.org/2018/03/14/rivalitas-great-powers-di-laut-cina-selatan/
II. ANLISIS KONFLIK

2.1 Profil konflik

Laut Cina Selatan adalah sebuah perairan yang terbentang di banyak Negara Asia tenggara.
Banyak sekali kekayaan yang terkandung di dalam kawasan Laut Cina Selata, dari segi
perikanan yang berbagaimacam, cadangan minyak gas yang memang sudah di berikan
perkiraan oleh Amerika Serikat setidaknya sama besarnya dengan minyak di negara Meksiko
dan telah di prediksi bisa menjadi cadangan terbesar kedua setelah Arab Saudi, hal ini
menjadikan perairan ini menjadi sebuah lahan yang paling di perebutkan di dunia abad ini.
China, adalah salah satu negara dimana bagian utara laut ini mencapai pesisirnya. Dimana
merekameng”klaim” diri mereka adalah pemilik hak atas perairan ini melalui bukti historis
beberapa abad yang lalu. Saat ini China mengklaim beberapa pulau kecil di Laut Cina Selatan
dan sudah membangun sekitar 1.300 hektar lahan untuk menopang besarnya infrastruktur
militer, termasuk landasan pesawat guna menampung pesawat pengebom. Beijing juga
mengklaim lebih dari 85 persen kawasan tersebut untuk impor inyak mentah Cina.

Laut Cina selatan memegang peranan penting bagi keberlangsungan ekonomi negara – negara
tetangga antara lain, Vietam, Malaysia, Brunei, dan Filipina. Indonesiapun memiliki cadangan
gas alam serta perikanan di Laut Cina Selatan yaitu Pulau Natuna. Negara – negara yang tidak
mengklaim kawasan tersebut mempunyai kepentingan sendiri juga. Ada hal lain juga yang
lebih jauh, korea selatan dan jepang. Walaupun tidak mengklaim kepemilikan atas Laut Cina
Selatan, mereka mengandalkan kawasan tersebut secara bebas untuk memenuhi lebih dari
separuh kebutuhan energi mereka. Adalagi Amerika Serikat yang mereka lakukan adalah
melindungi kepentingan dan sekutu – sekutunya, kehadiran militer yang di pertahankan di
kawasan tersebut. Pejabat Angkatan Laut Amerika Serikat juga berencana meningkatkan
jumlah armada pasifik yang bertugas di luar negri. dimana dari info yang bisa saya dapatkan
tentang hal ini hingga 30 persen
Di sisi lain perekonomian Asia terus tumbuh dengan sangat pesat dalam dua dekade terakhir.
Regional yang terlihat dari stabilitasnya dan akses ke Laut Cina Selatan menjadi kepentingaan
global saat ini. Konflik internasional menjadi resiko yang di hadapi di Laut Cina Selatan yaitu
merupakan bentrokan antara patroli angkatan laut Cina dan armada penangkapan ikan negara
– negara tetangga, sehingga menimbulkan pertanyaan komitmen Washington terkait keamanan
keamanan di kawasan ini. Beijing di desak untuk mematuhi konvensi PBB tentang hukum laut
oleh banyak negara – negara bagian barat, tentang mengatur zona kontrol maritim berdasarkan
garis pantai. Tetapi terjadi masalah di dalamnya, dimana cina menganggap bawhwa peraturan
luar negri PBB bertolak belakang dengan perturan dalam negeri Cina. Bahkan, Cina menuding
bahwa peraturan yang di keluarkan oleh PBB tersebut “sengaja” dibuat sebagai alat bagi
Negara hegemoni barat yang di rancang untuk memperlemah kekuatan Cina sebagai negara
Kuat dunia, agar tidak terus memperluas sayapnya. Sengketa teritorial seringkali bergantung
pada kesepakatan Internasional, dimana hal ini membuat Amerika Serikat mendatangani
UNCLOS tanpa meratifikasinya. Di Den Haag beberapa bulan yang lalu ada sebuah panel yang
terdiri dari lima hakim dengan suara bulat menolak landasan hukum hampir seluruh klaim
maritim Cina. Selang beberapa minggu kemudian, Mahkamah Agung Cina mengeluarkan
peraturan yang menjelaskan tatanan hukum yang jelas bagi Cina untuk menjaga perairan
tersebut sehingga tertib, dimana Beijing bersumpah akan mengadili pihak asing manapun yang
menangkap ikan atau mencari sumber ikan di perairan yang sedang di sengketakan.
Menyelesaikan sengketa teritorial ini adalah hal yang kompleks, kode etik yang di rancang oleh
ASEAN dan telah lama tertunda, menurut para pejabat Beijing akan di selesaikan namun
dampak yang di berikan oleh konflik ini tidak dapat di selesaikan begitu saja, sebagai contoh
putusan pengadilan Deen Haag, deklarasi ASEAN yang memang secara hukum tidak akan
menjadi mekanisme penegakan hukumnya. Memang dari awal Amerika Serikat sudah angkat
suara bahwa mereka tidak akan memihak pada siapapun dalam sengketa ini, walaupum terus
“mencuitkan” perilaku jelek Cina di kawasan sengketa tersebut, dan ternyata Amerika Serikat
malah memperluas aliansi pertahanan dengan negara- negara yang juga menginginkan kawasan
tersebut. Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat saat ini akan menerima tuntutan
untuk segera mengatasi konflik perairan ini. Memang banyak terjadi insiden – insiden yang
terjadi di daerah tersebut, entah untuk membuat negara lawan menjadi takut sehingga lepas
tangan dalam sengketa tersebut atau ada maksud lain, seperti pada waktu itu setelah Obama
dilantik sebagai presiden Amerika Serikat kapal dan pesawat Cina berkonfrontasi dengan
USNS, sebuah kapal pengintai di perairan selatan hainan, masih banyak kompilasi kejadian
yang memang terjadi antar negara namun di kawasan Laut Cina Tersebut. Insiden-insiden
serupa kemungkinan besar terus terjadi akibat sengketa di kawasan tersebut. Sebelum masalah
kedaulatan maritim diatasi, perairan itu akan terus menghadapi sengketa geopolitik terkait
perdagangan internsional yang berdampak pada ekonomi dunia.

Indonesia di Laut Cina Selatan: Berjalan sendiri. (n.d.). Retrieved from

https://www.lowyinstitute.org/publications/indonesia-laut-cina-selatan-berjalan-sendiri

2.2 PELAKU

Kasus sengketa Laut Cina selatan ini, tidak hanya melibatkan Cina dan beberapa negara di Asia
saja, namun masalah ini membawa dampak hingga keluar Asia, dimana yang berawal dengan
perkataan Cina yang mengklaim wilayah perairan ini, dan langsung kabar kaget terdengar
dengan negara – negara lain di yang tertempel kawasan tersebut, Vietnam yang menjadi salah
satu Negara yang tertempel oleh perairan ini tepatnya di bagian timur negara Vietnam, terjadi
beberapa aksi saling kecam mengecam, vietnam sadar bahwa Cina merupakan negara yang
sangat kuat, dari infomasi yang saya kulik, Vietnam mencabut pengeboran minyak di kawasan
Laut Cina Selatan karena di kecam oleh Cina, ada juga yang ikut terkena perairan ini yaitu
Negara Filipina, perairan ini menempel pada bagian barat dari Negara Filipina, Rodrigo
Dutuerte sebagai Presiden Filipina membalas kecaman yang di lakukan oleh cina dengan
berpidato bahwa Filipina siap perang dengan Cina untuk masalah perairan ini. Ada juga di
sebelah timur semenanjung malaya dan sumatera hingga Selat Singapura di sebelah barat dan
di sebelah utara Kepulauan Bangka Belitung dan Kalimantan. Dan hal yang paling menarik
disini adalah negara – negara yang berurusan dengan perairan ini mereka semua saling mencari,
atau dengan kata lain, saling mencari dan meminta bantuan pada negara Kuat layaknya negara
negara Hegemon, dan disinilah terjadinya peran Amerika Serikat yang dengan ini di
maksudkan untuk “membantu” negara – negara yang meminta bantuan, dari penjelasan ini
bisa kita lihat bahwa pada saat ini Amerika Serikat sedang panas – panasnya melakukan perang
dingin dengan Cina dengan arti lain disini Amerika membantu tetapi ada kepentingan
kepentingan sendiri yang memang di butuhkan Amerika Serikat untuk memenangi urusan
pribadinya dengan Cina.
2.3 PENYEBAB

Mengenai hal ini, semua itu di mulai ketika Cina menahan kapal Filipina yaitu kapal analita
yang sedang melakukan pengecekan di Kawasan Laut Cina Selatan, dan Filipina menemukan
bangunan yang tersangga dengan pegangan besar di atas permukaan Laut Cina Selatan, namun
di bagian Gugusan Karang Mischief. Saat itu, langsung saja kapal Cina mengepung dan
menahan kapal Filipina di tempat selama kurang lebih satu pekan. Filipina marah dan
melakukan protes atas terjadinya insiden tersebut, dari berbagai bukti foto yang di ambil oleh
Filipina membuat Cina tidak dapat mengelak atas kejadian tersebut, lalu Cina mengganti
pernyataan yang di paparkan bahwa Cina berprilaku demi kepentinganya sendiri terhadap
kejadian kemarin, dan juga masalah klaim mengklaim negara lain dengan merebut paksa
Gugusan Karang Mischief yang sebelumnya di miliki Filipina. Pada masa itu, Cina juga
mengecam kapal Amerika Serikat yang sedang berpatroli di perairan internasional. 13 tahun
yang lalu, terjadi penembakan secara asal tanpa proses pikir memikir. Cina membunuh nelayan
Vietnam dengan alasan yang cukup tidak masuk akal yaitu bahwa kapal tersebut memasuki
kawasan teritorial Cina. Mereka membunuh sembilan orang dan menahan satu kapal yang
berisikan delapan orang ke pulau Hainan, seiring berita itu tersebar, pihak Cina mengklaim
benar adanya kejadian tersebut namun dengan alasan bahwa kapal – kapal tersebut adalah bajak
laut yang menembaki kapal Cina dan kata mereka kejadian ini sudah sering terjadi. Pada tahun
2013 Cina melakukan kegiatan tembak – menembak di kepulauan Paracel yang di tujukan
kepada kapal nelayan Vietnam. Keadaan makin memanas ketika pihak Vietnam pada saat itu
menyebarkan sebuah video yang membuktikan benar adanya penembakan terhadap kapal
nelayan Vietnam yang di lakukan oleh Cina. Agresivitas Cina terus menerus di perlihatkan
pada dunia dengan guna memenuhi tahap untuk menjadi kekuatan yang paling dominan di Laut
Cina Selatan. Senjata nuklir dan kendaraan serta peralatan militer dengan kemampuan jarak
jauh, terus di kembangkan oleh Cina. Hal ini membuat cina semakin percaya diri terhadap
kekuatan dirinya sendiri. Yang paling parah, ketika Cina dengan tidak ragu berani untuk
berbentrokan dengan kapal militer Amerika serikat, disini Cina bahkan menaikan pendanaan
militer meskipun sedang berada dalam keadaan perlambatan ekonomi. Hal ini membuat negara
– negara yang ikut terlibat dalam permasalah ii menjadi khawatir namun tetap berhati hati dan
curiga dengan Cina.
Mengelola Isu Keamanan di Laut Cina Selatan: Dari DOC ke COC. (n.d.). Retrieved from

https://kyotoreview.org/bahasa-indonesia/mengelola-isu-keamanan-di-laut-cina-selatan-dari-

doc-ke-coc/

2.4 DINAMIKA
Keegoan Cina terhadap Laut Cina Selatan memang akan terus berlanjut, dari yang saya
teliti, memang pemerintahan Cina sangat percaya diri bahwa Cina akan menjadi satu momok
yang menakutkan bagi Negara – negara di dunia, tentu keputusan yang di buat soal
pengklaiman perairan ini sudah di pikirkan oleh Cina dampak dan resiko yang akan di terima,
Cina mengklaim perairan ini memang di karenakan industri minyak bumi dan gas alam bisa
menjadi penghasil tinggi keuangan Cina. Sehingga salah satu faktor paling penting yang
menjadi alasan negara-negara melakukan klaim di wilayah Laut Cina Selatan adalah sumber
daya minyak bumi dan gas yang terkandung di dalamnya, meskipun memang sulit jadinya
menentukan jumlah kandungan sumber minyak dan gas di Laut Cina Selatan karena Konflik
yang sebenarnya di buat oleh Cina sendiri. Tambahan lain juga sebagai sektor perikanan yang
meski kecil bahwa perairan tersebut hanyalah tiga juta km persegi dengan setidaknya ada
sekitar 3000an jenis ikan di dalamnya yang bisa mendongkrak sektor perikanan. Keinginan
Cina untuk membangun insdustri pariwisata di kepulauan Paracel dan Kepulauan Spartli yang
terus menuaikan protes dari negara lain yang juga mengklaim di daerah tersebut. Disisi lain
juga masalah klaim – mengklaim ini tentu tidak di sukai oleh negara – negara yang di lintasi
perairan tersebut, dan disinilah konflik menjadi semakin besar dan rumit.

III. STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK

3.1 PERTIMBANGAN
Pertimbangan yang di lakukan oleh Cina sendiri kurang tepat adanya. Sebenarnya, Cina disini
sebagai Faktor utama lebih menekankan pertimbangan ke arah idealis, rasa persaingan yang
lebih menuju kepada penggunaan sumber daya, disini karena Cina merasa Negara mereka kuat,
maka Cina secara sengaja mengambil keputusan untuk mengklaim perairan tersebut yang
alhasil malah menjadikan konflik. Yang menjadikan konflik laut Cina selatan ini adalah sebuah
konflik intergrup, semua negara yang terkena perairan ini memang bisa dibilang
“berketergentantungan” terhadap wilayah ini, kenapa? Karena memang semuanya
mendapatkan sumber daya alam yang sangat besr dari perairan ini, dimana sumber – sumber
yang tertera di dalamnya bisa di jadikan alat pendongkrak ekonomi tiap negara yang
bersangkutan. Karena bisa kita lihat negara yang bersangkutan sama sama melakukan
pengelolaan COMPETING mengapa demikian? Karena sudah terlihat jelas bahwa tiap negara
yang masuk kedalam konflik ini tidak mau kehilangan wilayah perairanya yang meskipun
wilayah kecil namun memiliki sumber kekayaan yang sangat besar.

3.2 REKOMENDASI PENYELESAIAN KONFLIK


Dari berbagai info yang saya kulik lebih lanjut, sangat banyak memang pernyelesaian –
penyelesaian konflik yang sudah di terapkan demi menyelesaikan konflik ini, salah satunya
adalah pembiaran pihak ketiga di Deen haag, mahkamah agung sudah memberikan ketetapan
mengenai wilayah ini. Namun Cina tetap saja tidak merubah apapun, karena di anggap
keputusan tersebut bertolak belakang dan di anggap merugikan Cina. Rekomendasi dari diri
saya, yang terlihat ketika keadaan sudah serumit ini cara menangani konfliknya adalah, dengan
mencoba menyelesaikan konflik dengan menemukan dasar yang di tengah dari dua pihak yang
berkonflik atau biasa kita sebut (metode kompromi) Cara ini lebih memperkecil kemungkinan
untuk munculnya permusuhan yang terpendam dari belah pihak yang berkonflik, karena tidak
ada yang merasa menang maupun kalah. Mungkin Cina bisa berakomodasi dan sharing wilayah
dengan mengecilkan “egonya”. Mungkin dengan arbitrasi ulang dari pihak ketiga yang netral
dimana ketentuan – ketentuan bar terhadap wilayah tersebut bisa tercapai, namun metode yang
di jalankan juga di iringi dengan “bribbing” atau sogokan. Karena saat ini Cina terus saja keras
kepala dengan perlakuan mereka terhadap konflik ini, yang di harapkan dari sogokan tersebut
adalah bahwa mungkin Cina bisa mendapatkan ketentuan atau aturan tertentu yang
menguntungkan Cina agar masalah selesai dan konflikpun reda. Dengan teknik penyelesaian
arbitrasi atau pihak ketiga yang netral dan juga negosiasi namun di iringi bersamaan dengan
konsultasi kepada pihak ketiga, yang saya maksudkan disini adalah bagai mana negara – negara
yang ikut dalam konflik Laut Cina Selatan, saling berkonsultasi dengan pihak ketiga dimana
yang saya maksud adalah regionalisme yang besar yang sudah pernah mengalami hal seperti
ini. Lalu melakukan negosiasi yang pertauranya di tentukan oleh sang pihak ketiga yang netral
sehingga ketentuan menjadi sah dan semua orang menang, (win – win solution).

VI. PENUTUP
Intinya yang saya dapat dari konflik yang saya teliti disini adalah, kesombongan sebuah negara
yang memang perekonomianya sedang naik sekali beberapa tahun ini, dengan sombongnya
karena merasa kuat dan terdepan, bisa tiba – tiba mengambil sebuah wilayah perairan yang
memang sudah terbukti bahwa wilayah tersebut tidak hanya melintasi Cina secara geografis
namun menyatu dengan negara – negara lainya. sebagai mahasiswa yang bermoral dan
berlogika saya sudah bisa berpikir bahwa tidak etis adanya ide pengklaiman wilayah ini hanya
karena merasa kuat dan menganggap diri paling hebat di antara yang lain. Karena Cina tak
tanggung – tanggung, tidak hanya ajak “berkelahi” satu negara saja, namun jika begini adanya
Cina mengajak perang banyak negara dengan keangkuhan yang di milikinya. Di era ini,
semustinya negara – negara di dunia khususnya dalam kasus ini (ASIA). Harus lebih bisa
menyatu dan merendahkan hati tiap – tiap negara demi membangun hubungan bilateral agar
mencapai sebuah perekonomian yang kuat dan solid, dimana pada ujungnya Asia JUGA akan
di lihat oleh negara – negara barat bahwa benua kita adalah benua yang hebat dan patut untuk
di takluki, ada pepatah seperti ini “orang pintar membangun jembatan persahabatan, namun
orang bodoh akan memutus jembatan tersebut”. Lagi pula, hidup dengan damai satu sama lain
itu indah bukan?
DAFTAR PUSTAKA

Admin. (n.d.). Rivalitas Great Powers di Laut Cina Selatan. Retrieved from

https://fairtalks.org/2018/03/14/rivalitas-great-powers-di-laut-cina-selatan/

Indonesia di Laut Cina Selatan: Berjalan sendiri. (n.d.). Retrieved from

https://www.lowyinstitute.org/publications/indonesia-laut-cina-selatan-berjalan-sendiri

Mengelola Isu Keamanan di Laut Cina Selatan: Dari DOC ke COC. (n.d.). Retrieved from

https://kyotoreview.org/bahasa-indonesia/mengelola-isu-keamanan-di-laut-cina-selatan-dari-

doc-ke-coc/

Www.iesa-id.org. (2018, March 22). Di simposium soal ASEAN, JK singgung soal Laut China

Selatan | The 7th Southeast Asian Studies Symposium. Retrieved from https://www.iesa-

id.org/en/activity/symposium-en/di-simposium-soal-asean-jk-singgung-soal-laut-china-

selatan/

Chapter 6. “Negotiate to Resolve Conflict” & Chapter 7. “Mediation in Peacekeeping”. Cedric de

Koning dan Ian Henderson. 2010. Conflict Management for Peacekeepers and Peacebuilders.

South Africa: ACCORD.

A.L. Smith dan D.R. Smock 2016. Managing A Mediation Process. Washington, D.C.: United
States Institute of Peace.

Centre for Humanitarian Dialogue. 2017. Understanding, Negotiating and Mediating Conflicts.
Trainer’s Manual on Conflict Resolution: A Foundation Course. Geneve, Switzerland: Centre
for Humanitarian Dialogue.