Anda di halaman 1dari 15

1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)

“Bridging The Gap Between Theory and Practice”


19 Maret 2015, Tangerang.

ANALISA STRATEGI PEMASARAN STARBUCKS MENGGUNAKAN


ANALISIS VRIO DAN SWOT

Peter Jonathan1, Harriman Samuel Saragih2,*

1,2 ) Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Indonesia

e-mail: harriman.saragih@uph.edu

ABSTRAK

Starbucks merupakan perusahaan yang ada pada industri coffee shop yang sangat
populer di dunia khususnya di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menganalisis
keunggulan bersaing dan juga merumuskan strategi pemasaran Starbucks untuk
menghadapi situasi di waktu kedepan. Dengan menggunakan data sekunder, studi ini
menggunakan analisis SWOT dan VRIO untuk mencapai tujuan penelitian ini.

Kata kunci: Starbucks; VRIO; SWOT Matrix; Strategi; Pemasaran

ARTIKEL

Latar Belakang menetapkan harga sebesar $2.95 (Fast


Starbucks Coffee adalah sebuah Food Menu Prices, 2016), Dunkin
perusahaan yang bergerak dalam Donuts seharga $1,69 (Fast Food
industri Coffee Shop yang pertama kali Menu Prices, 2016), dan McCafe
dibuka pada tanggal 31 Maret 1971 seharga $1,39 (Fast Food Menu Prices,
oleh Jerry Baldwin, Zev Siegl, dan 2016). Meskipun demikian, total
Gordon Bowker di Seattle’s Pike revenue yang dimiliki Starbucks paling
Market, Amerika Serikat (Starbucks tinggi dari kompetitor-kompetitornya
Coffee, 2016). Starbucks memiliki dengan angka sebesar $21,3 miliar
harga yang relatif lebih mahal (Starbucks Coffee, 2016), diikuti oleh
dibanding kompetitor utamanya di McCafe sebesar $4 miliar (Patton,
industri Coffee Shop seperti Dunkin’ McDonald's Revamps Its $4 Billion
Donuts dan McCafe. Dapat dilihat dari McCafe Brand, 2016), dan Dunkin’
beberapa menu yang sama yang Donuts sebesar $207,1 juta (Baertlein,
disediakan oleh ketiga perusahaan ini, 2016). Dikatakan juga bahwa
namun harganya pun berbeda, sebagai penjualan Starbucks pun meningkat
contoh untuk sebuah Cappucino 16% dari kuartal sebelumnya dengan
berukuran paling kecil, Starbucks angka sebesar $5,7 milar (Starbucks
1
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

Coffee, 2016). program dengan memberikan minuman


Hal ini tentu baik bagi Starbucks, secara gratis dengan ukuran apa saja
namun ternyata tidak dalam segala hal setiap kali member mencapai 200 poin.
Starbucks unggul dan lebih baik Setiap $1 pembelian apa saja akan
dibanding kompetitor-kompetitornya. menambah poin sebanyak 5, dan ketika
Menurut survey yang telah dilakukan, pembelian kedua dan ketiga mereka
tingkat Customer Satisfaction yang memasukan kode “STARS”, mereka
dimiliki oleh Starbucks menurun 9 pun akan mendapat 125 poin (Close,
poin dari 80 menjadi 71 (Marzilli, Dunkin' Donuts Upstages Starbucks
2016). Hal ini disebabkan karena harga with Quick, Easy Free Coffee Rewards,
Starbucks yang lebih mahal dibanding 2016). Selain itu untuk menyaingi
kompetitor-kompetitor lainnya dan Starbucks, Dunkin’ Donuts pun juga
juga Customer Loyalty Program yang menyediakan aplikasi di Android dan
Starbucks miliki kurang menarik App Store secara gratis. Setelah itu
dibanding kompetitornya seperti juga, Dunkin’ Donuts pun terkadang
Dunkin’ Donuts. Untuk menjadi membagi-bagikan Gift Card sebesar $5
freebie atau tahap pertama dalam bagi customer (Close, Dunkin' Donuts
sistem kasta customer Starbucks, Upstages Starbucks with Quick, Easy
dahulu yang setiap pembelian diberi Free Coffee Rewards, 2016).
satu bintang, sekarang berubah Dengan demikian ini adalah ancaman
menjadi berapa jumlah uang yang kita yang berbahaya bagi Starbucks, karena
telah habiskan dalam membeli produk dengan harga yang lebih murah dan
Starbucks. kemudahaan dalam mencapai hadiah
Dahulu, untuk mencapai tahap freebie, yang diberikan oleh Dunkin’ Donuts
dibutuhkan 30 bintang dan sekarang menjadi lebih menarik bagi konsumen.
pelanggan harus menghabiskan $150 Setelah itu juga, terutama bagi
untuk mencapai tahap tersebut konsumen yang bersifat mercenary
(Adamczyk, 2016). Sementara itu, dalam Apostle Model Matrix, di mana
salah satu kompetitor utamanya yaitu kesetiaan pelanggan terhadap suatu
Dunkin’ Donuts memberikan Customer produk rendah dan tingkat kepuasan
Loyalty Program yang lebih menarik tinggi (Schiffman, 2014), yang belum
dibandingkan Starbucks. Dapat menjadi member Starbucks pun
dikatakan demikian, karena Customer dikhawatirkan akan lebih memilih
Loyalty Program yang ditawarkan oleh untuk menjadi member Dunkin’ karena
Dunkin’ Donuts hanya membutuhkan program yang ditawarkan lebih
$40 untuk menjadi freebie. Setelah itu, menarik dan tidak ada switching cost
Dunkin’ Donuts pun menawarkan dalam berganti dari mengonsumsi
2
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

Starbucks menjadi Dunkin’ Donuts. saja, namun juga faktor-faktor lainnya,


Dengan demikian, dikhawatirkan juga seperti peluang yang dapat dicapai oleh
kesetiaan pelanggan terhadap Starbucks, keunggulan yang dimiliki
Starbucks dapat menurun dan berganti oleh Starbucks, maupun juga ancaman
ke kompetitor lain yang menawarkan yang dihadapi oleh Starbucks.
harga lebih murah atau Customer Selain menganalisa faktor-faktor
Loyalty Program yang lebih menarik, internal maupun eksternal yang
padahal kesetiaan pelanggan sangat dimiliki Starbucks, penulis juga ingin
dibutuhkan untuk mereduksi menganalisa keunggulan bersaing apa
sensitivitas harga produk suatu merk yang dimiliki Starbucks sehingga
(Tjiptono, 2001) dan untuk kasus Starbucks dapat bertahan sampai hari
Starbucks, penulis berpendapat bahwa ini. Meskipun dengan kelemahan dan
harga produk Starbucks yang lebih ancaman yang dihadapi oleh Starbucks,
mahal dibanding kompetitornya adalah Starbuks pun tetap dapat bertahan
suatu kelemahan bagi Starbucks. sampai pada hari ini dan menjadi salah
satu world’s most valuable brand di
Masalah dan Tujuan peringkat 35 (Forbes, 2017). Maka dari
Masalah yang terjadi menurut itu, hal inilah yang menjadi landasan
penulisan di atas ada 2, yaitu masalah rumusan masalah kedua dalam paper
harga dan Customer Loyalty Program ini yaitu, apa sajakah keunggulan
Starbucks yang dinilai tidak begitu bersaing yang dimiliki oleh Starbucks
menarik dibanding kompetitornya supaya dapat mengatasi keunggulan
seperti Dunkin’ Donuts. Jika diteliti bersaing yang dimiliki oleh
lebih dalam, mungkin masih ada lagi kompetitor-kompetitornya. Setelah
kelemahan atau masalah yang dimiliki melakukan analisa apa saja yang
oleh Starbucks dalam bersaing dengan menjadi keunggulan Starbucks, penulis
kompetitor-kompetitornya. Hal inilah juga ingin mengetahui bagaimana
yang menjadi rumusan masalah mempertahankan
pertama dalam paper ini, yaitu apa keunggulan-keunggulan tersebut untuk
sajakah faktor-faktor eksternal dan menyaingi keunggulan yang dimiliki
internal yang dapat memengaruhi oleh kompetitor lainnya. Tentu tujuan
Starbucks dalam bersaing dengan akhir dari semua ini adalah untuk
kompetitor-kompetitor lainnya di memformulasikan strategi dan
industri Cofee Shop. Itulah salah satu mengimplementasikan strategi tersebut
hal yang harus dicari tahu dalam dalam bersaing dengan kompetitor.
penulisan paper kali ini, bukan hanya
kelemahan yang dimiliki Starbucks Alat Analisis
3
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

SWOT MATRIX Kecenderungan kecenderungan penting


SWOT Matrix adalah sebuah alat merupakan salah satu sumber peluang,
analisis yang pertama kali diciptakan seperti perubahaan teknologi dan
oleh Albert Humphrey pada tahun meningkatnya hubungan antara
1960 untuk membantu perusahaan perusahaan dengan pembeli atau
dalam merancang sebuah strategi pemasok merupakan gambaran peluang
(Economist, 2009). SWOT Matrix bagi perusahaan. Terakhir, ancaman
didefinisikan sebagai dipenilaian adalah situasi penting yang tidak
menyeluruh terhadap kekuatan menguntungkan dalam lingkungan
(strengths), kelemahan (weaknesses), perusahaan. Ancaman merupakan
peluang (opportunities), dan ancaman pengganggu utama bagi posisi sekarang
(threats) suatu perusahaan (Kotler, atau yang diinginkan perusahaan.
Principles of Marketing, 2014). Adanya peraturan-peraturan
Menurut (R.David, 2009), hal pertama pemerintah yang baru atau yang
yaitu, kekuatan adalah sumber daya, direvisi dapat merupakan ancaman bagi
keterampilan, atau kesuksesan perusahaan. Fungsi dari
keungulan-keungulan lain yang analisis SWOT ini menurut (Ferrel,
berhubungan dengan para pesaing 2005) adalah untuk mendapatkan
perusahaan dan kebutuhan pasar yang informasi dari analisis situasi dan
dapat dilayani oleh perusahaan yang memisahkannya dalam pokok
diharapkan dapat dilayani. Kekuatan persoalan internal (kekuatan dan
adalah kompetisi khusus yang kelemahan) dan pokok persoalan
memberikan keunggulan kompetitif eksternal (peluang dan ancaman).
bagi perusahaan di pasar Setelah Dalam paper ini, penulis memutuskan
kekuatan, kelemahan adalah untuk menggunakan alat analisis
keterbatasan atau kekurangan dalam SWOT ini dibanding alat analisis
sumber daya, keterampilan, dan lainnya atas dasar beberapa hal, yang
kapabilitas yang secara efektif pertama karena analisa SWOT
menghambat kinerja perusahaan. menganalisa bukan hanya faktor
Keterbatasan tersebut dapat berupa eksternal saja seperti Porter’s Five
fasilitas, sumber daya keuangan, Forces Model, namun juga faktor
kemampuan manajemen dan internal. Beberapa masalah yang
keterampilan pemasaran dapat diketahui oleh penulis melalui
meruoakan sumber dari kelemahan sumber-sumber yang ada, bersifat
perusahaan. Ketiga, peluang adalah internal dan eksternal. Masalah oleh
situasi penting yang menguntungkan karena harga yang relatif lebih mahal
dalam lingkungan perusahaan. dibandingkan
4
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

kompetitor-kompetitornya adalah suatu keunggulan tersebut dapat bertahan


masalah internal yang dimiliki jangka panjang atau tidak dengan
Starbucks, selain itu masalah kedua mempertimbangkan 4 hal, yaitu
yaitu Customer Rewards Program yang Valuable, Rare, Costly to Imitate, dan
lebih menarik yang ditawarkan oleh Organized (Rothaermel, 2012).
kompetitor adalah suatu masalah yang (Barney, 2012) menyebutkan bahwa
disebabkan oleh pihak eksternal dan VRIO dapat digunakan untuk melihat
dapat dianggap sebagai suatu ancaman perbandingan komparatif mengenai
(threats). Dengan demikian, penulis kekuatan dan kelemahan kondisi
pun beranggapan bahwa lebih relevan internal perusahaan. Menurut
menggunakan analisa SWOT ini (Rothaermel, 2012), pengujian dan
dibandingkan dengan alat analisis evaluasi VRIO berdasarkan pertanyaan
lainnya. Hal kedua yang menjadikan untuk setiap kondisi yaitu :
penulis lebih memilih untuk 1. Pertanyaan untuk Valuable.
menggunakan SWOT Matrix Apakah kondisi tersebut
dibanding metode lainnya seperti Five mendorong perusahaan untuk
Forces Model adalah, karena Porter’s mengeksploitasi kesempatan
Five Forces Model adalah alat analisa eksternal dan/atau menetralisasi
yang berfokus pada lingkungan ancaman eksternal?
eksternal dan lebih untuk mengukur 2. Pertanyaan untuk Rare. Apakah
apakah suatu industri bersifat menarik kondisi tersebut hanya dikendalikan
atau tidak untuk dimasuki, sedangkan sejumlah kecil perusahaan atau
Starbucks telah berdiri sejak tahun jarang dimiliki perusahaan lain?
1971 (Starbucks Coffee, 2016) dan Ia 3. Pertanyaan untuk Costly to Imitate.
pun sudah menjadi Market Leader Apakah kondisi tersebut sulit untuk
dalam industri Coffee Shop ini dengan ditiru atau direplikasi perusahaan
pangsa pasar sebesar 59,2% (Forbes, lain?
2016), jadi penulis beranggapan tidak 4. Pertanyaan untuk Organized.
terlalu perlu untuk dilakukan analisa Apakah kondisi tersebut didukung
Porter’s Five Forces Model untuk dan dikelola perusahaan secara
mengatasi masalah-masalah yang pantas?
dihadapi oleh Starbucks.
Penulis merasa perlu untuk
menggunakan alat analisa ini karena
VRIO Framework
didasari oleh salah satu masalah yang
VRIO Framework adalah suatu metode
analisis keunggulan bersaing yang dihadapi Starbucks tadi, yaitu
Customer Rewards Program yang
dimiliki oleh suatu perusahaan apakah
5
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

kalah menarik dibanding mempertimbangkan 4 hal, yaitu


kompetitornya, padahal Customer Valuable, Rare, Costly to Imitate, dan
Rewards Program yang dimiliki Organized (Rothaermel, 2012).
Starbucks dulu adalah sebuah Menurut (Rothaermel, 2012), suatu
keunggulan kompetitif yang dimiliki perusahaan dapat memberikan sebuah
oleh Starbucks (Lorenzetti, 2014). value kepada pelanggan ketika
Starbucks pun yang pertama dalam keunggulan tersebut dapat
menciptakan hal ini di industri Coffee meningkatkan perceived value
Shop dan juga yang pertama kali perusahaan tersebut di benak
membuat aplikasi Customer Rewards konsumen, sehingga dengan
Program untuk dapat diunduh secara meningkatknya perceived value, maka
gratis di IOS maupun Android dapat juga meningkatkan pendapatan
(Roemmele, 2014), namun sekarang perusahaan. Starbucks memiliki
hal tersebut pun dapat ditiru oleh produk-produk yang dapat dikatakan
kompetitor-kompetitornya dan bahkan memberikan suatu value atau nilai
sekarang Starbucks menjadi kalah kepada konsumen karena Starbucks
bersaing dengan kompetitornya memiliki suatu kompetensi untuk
mengenai Customer Rewards Program menciptakan dan memproduksi
yang ditawarkan. Dengan dilakukan produk-produk kopinya dengan biji
analisis VRIO ini, diharapkan bahwa kopi kualitas terbaik sesuai dengan
penulis dapat melihat apa saja yang standar yang dimiliki Starbucks
menjadi keunggalan bersaing (Starbucks, 2016).
Starbucks yang sifatnya berkelanjutan Untuk memenuhi syarat kedua yaitu
atau hanya sementara. Dengan Rare atau langka, suatu perusahaan
demikian, dapat diketahui sifat-sifat harus memiliki sesuatu yang tidak
keunggulan yang dimiliki dan banyak dimiliki oleh
bagaimana mempertahankannya untuk kompetitor-kompetitornya (Rothaermel,
mengantisipasi keunggulan yang 2012). Starbucks pun memiliki suatu
dimiliki kompetitor sehingga tetap keunggulan kompetitif yang dapat
dapat bersaing dalam industri Coffee disebut langka dibanding
Shop ini. kompetitor-kompetitornya karena
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Starbucks selalu menciptakan suatu
analisis VRIO adalah suatu metode suasana dengan tingkat kenyamanan
analisis keunggulan bersaing yang dan kualitas pelayanan terbaik dan
dimiliki oleh suatu perusahaan apakah konsisten di setiap gerai Starbucks
keunggulan tersebut dapat bertahan (Hennesey, 2012). Selain itu juga,
jangka panjang atau tidak dengan Starbucks dapat menciptakan
6
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

produk-produk unik seperti advantage, suatu perusahaan harus


Frappuccino, suatu produk Starbucks memenuhi syarat dalam analisis VRIO
yang telah dipatenkan (Starbucks, 2017) yang terakhir, yaitu organized to
dan Starbucks pun terus melakukan capture value. Hal ini dapat berupa
inovasi dengan meluncurkan sebuah sistem kordinasi dan struktur
menu-menu baru setiap beberapa organisasi yang baik (Rothaermel,
waktu sekali (Khaleeli, 2017). Hal-hal 2012). Starbucks dikatakan memiliki
inilah yang tidak dimiliki oleh syarat terakhir ini, karena dalam
kompetitor-kompetitor Starbucks. kondisi eksternal yang menghantam
Syarat ketiga dalam analisis VRIO ini Starbucks seperti contohnya pada
adalah Costly to Imitate. Hal ini berarti resesi tahun 2008 yang terjadi,
keunggulan kompetitf yang dimiliki Starbucks pun tetap dapat bertahan
Starbucks sulit untuk ditiru oleh bahkan tetap bertumbuh sampai
kompetitor-kompetitornya (Rothaermel, sekarang dan menjadi market leader
2012). Starbucks memiliki keunggulan dalam industri coffee shop. (Goth,
ini dalam bidang pemasok biji-biji kopi 2011). Hal inilah yang mendasari
yang dimiliki Starbucks. Pemasok bahwa Starbucks pun memiliki sebuah
biji-biji kopi Starbucks ini dimiliki sistem yang kuat sehingga dapat terus
oleh Starbucks sendiri dan terdapat 65 berlanjut bahkan bertumbuh di industri
negara di seluruh dunia (Starbucks coffee shop.
Coffee, 2017) . Hal ini tidak dimiliki
oleh kompetitor-kompetitornya seperti SWOT
McCafe, Dunkin Donuts, dan lain-lain. Seperti yang sudah dijelaskan juga di
Setelah itu Starbucks pun telah atas bahwa analisis SWOT adalah
melakukan perjanjian kerja dalam sebuah analisis untuk membantu
program C.A.F.E yang merupakan perusahaan dalam merancang sebuah
singkatan dari Coffee and Farmer strategi (Economist, 2009).
Equity Practices, di mana kehidupan Elemen-elemen ini terdiri dari
para petani dan perkebunannya akan Strengths, Weakness, Opportunities,
sepenuhnya didukung oleh Starbucks dan Threats (Kotler, Principles of
dengan imbalan bahwa petani-petani Marketing, 2008). Elemen pertama
tersebut hanya akan memberikan dalam analisis SWOT adalah Strengths
biji-biji kopinya untuk Starbucks atau kekuatan yang dimiliki suatu
(Starbucks, 2017). perusahaan. Beberapa kekuatan yang
Untuk memiliki sesuatu keunggulan dimiliki Starbucks dibanding
kompetitif yang bersifat jangka kompetitor-kompetitornya antara lain,
panjang atau sustainable competitive merk Starbucks yang sangat terkenal,
7
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

kualitas biji kopi Starbucks, varian Starbucks adalah harganya yang relatif
menu atau produk yang dimiliki oleh lebih mahal dan juga Customer
Starbucks, jumlah gerai dan lokasi di Loyalty Program yang tidak begitu
seluruh dunia, dan kemampuan menarik dibanding
keuangan yang dimiliki Starbucks. kompetitor-kompetitornya. Harga
Dalam hal-hal inilah Starbucks unggul menu Starbucks dapat dikatakan lebih
dibanding kompetitor-kompetitornya. mahal, sebagai contoh untuk sebuah
Starbucks menduduki posisi 45 dalam minuman Cappucino berukuran paling
salah satu merk paling kuat di dunia kecil, Starbucks menetapkan harga
(Forbes, 2017). Setelah itu Starbucks sebesar $2.95 (Fast Food Menu Prices,
juga memiliki standar yang tinggi dan 2016), Dunkin Donuts seharga $1,69
hanya mengambil biji-biji kopi terbaik (Fast Food Menu Prices, 2016), dan
untuk disajikan kepada konsumen McCafe seharga $1,39 (Fast Food
(Starbucks, 2016). Setelah itu, Menu Prices, 2016). Setelah itu
Starbucks juga memiliki jumlah varian Customer Loyalty Program Starbucks
menu yang lebih banyak untuk tidak begitu menarik dibanding
ditawarkan dibanding kompetitornya, hal ini dapat dikatakan
kompetitor-kompetitornya (Starbucks, demikian karena pelanggan harus
2017) (Dunkin' Donuts). Setelah itu, menghabiskan $150 untuk mencapai
dalam jumlah gerai dan lokasi di tahap freebie atau kelas paling bawah
seluruh dunia, Starbucks memiliki dalam Customer Loyalty Starbucks
jumlah paling besar dengan angka (Adamczyk, 2016), sementara itu,
sebesar 25.085 gerai (Starbucks Coffee, salah satu kompetitor utamanya yaitu
2016) di seluruh dunia, sedangkan Dunkin’ Donuts memberikan Customer
Dunkin Donuts memiliki jumlah Loyalty Program yang lebih menarik
11.300 gerai (Dunkin' Donuts, 2016). karena Customer Loyalty Program
Keunggulan bersaing Starbucks yang yang ditawarkan oleh Dunkin’ Donuts
terakhir adalah dari segi keuangan, hanya membutuhkan $40 untuk
Starbucks memiliki pendapatan sebesar menjadi freebie. Setelah itu, Dunkin’
$21,3 miliar, (Starbucks, 2016) Donuts pun menawarkan program
sedangkan Dunkin’ Donuts memiliki dengan memberikan minuman secara
jumlah pendapatan sebesar $208.694 gratis dengan ukuran apa saja setiap
juta (Dunkin' Donuts, 2016). kali member mencapai 200 poin.
Elemen kedua dalam SWOT analisis Setiap $1 pembelian apa saja akan
ini adalah Weakness atau kelemahan menambah poin sebanyak 5, dan ketika
yang dimiliki suatu perusahaan. pembelian kedua dan ketiga mereka
Beberapa kelemahan yang dimiliki memasukan kode “STARS”, mereka
8
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

pun akan mendapat 125 poin (Close, oleh Starbucks, seperti adanya
Dunkin' Donuts Upstages Starbucks kompetitor-kompetitor baru, naiknya
with Quick, Easy Free Coffee Rewards, harga biji kopi di seluruh dunia, dan
2016). juga kompetitor yang memiliki harga
Setelah itu, elemen ketiga dalam lebih murah dibanding Starbucks.
analisis SWOT ini adalah Kompetisi dalam industri kopi dapat
Opportunities, atau peluang apa saja dikatakan mudah untuk masuk,
yang diraih oleh suatu perusahaan sehingga kompetitor baru pun dapat
dalam bersaing dalam kompetisi. muncul terus dan menekan Starbucks,
Starbucks pun memiliki seperti contoh di Inggris, terdapat lebih
peluang-peluang berupa global market dari 20.000 kedai kopi pada tahun
expansion dan increase in demand for 2016, dan diperkirakan dalam waktu
coffee. Starbucks pun akan membuka 10 tahun mendatang akan mencapai
12.000 gerai baru di seluruh dunia lebih dari 30.000 kedai kopi di seluruh
termasuk di China dan bekerja sama Inggris (Davidson, 2015). Setelah itu,
dengan WeChat di China dalam adanya kenaikan harga dalam biji kopi
membantu promosinya (Oregonlive, (Batista, 2016) pun dapat menjadi
2016). Setelah itu juga, meningkatnya tantangan karena harga Starbucks yang
permintaan dalam biji kopi di seluruh relatif sudah mahal dibanding
dunia karena adanya tren dalam kompetitor-kompetitornya, menjadi
meminum kopi (Perez, 2016), juga lebih mahal lagi. Terakhir, ancaman
dapat menjadi peluang yang baik bagi yang dihadapi oleh Starbucks adalah
Starbucks dalam berekspansi kompetitor yang memiliki harga lebih
usahanya. murah dibanding Starbucks (Fast Food
Elemen terakhir dalam analisis SWOT Menu Prices, 2016), McCafe (Fast
adalah Threats atau ancaman dari luar Food Menu Prices, 2016), dan
yang dapat memengaruhi suatu usaha. sebagainya.
Ada beberapa ancaman yang dimiliki

9
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

Internal Strength Weakness

S1: Merk Starbucks W1: Harganya yang lebih mahal dibanding


S2: Kualitas biji kopi Starbucks kompetitor-kompetitornya
External S3: Jumlah varian produk Starbucks W2: Customer Loyalty Program yang kurang
S4: Jumlah lokasi di seluruh dunia menarik dibanding kompetitor-kompetitornya
S5: Kemampuan keuangan

Opportunities Strength/Opportunities Weakness/Opportunities

O1: S1O2: Dengan reputasi merk Starbucks W1O1O2: Meskipun dengan harga yang relatif
Meningkatnya yang kuat secara global, maka untuk lebih mahal dibanding kompetitornya, namun
permintaan berekspansi ke negara atau tempat baru permintaan akan biji kopi di seluruh dunia juga
akan biji kopi menjadi lebih mudah. pun meningkat sehingga untuk berekspansi secara
O2: global pun tetap dapat dilakukan oleh Starbucks.
Pengembangan S5O2: Dengan kemampuan keuangan
pasar secara Starbucks yang sangat kuat, untuk
global berkekpansi ke negara atau tempat baru
pun menjadi dapat dieksekusi.
Threats Strength/Threats Weakness/Threats

T1: Pesaing S1S2T1: Meski memiliki harga yang diatas W1T1: Dengan adanya kompetitor dengan harga
dengan harga kompetitornya, namun Starbucks memiliki yang lebih murah dibanding Starbucks, pelanggan
yang lebih merk yang kuat secara global dan juga dikhawatirkan akan berpindah ke produk
murah kualitas biji kopi yang terbaik. kompetitor, apalagi dengan tidak adanya
T2: switching cost dalam berpindah dari produk
Meningkatnya Starbucks ke produk kompetitor.
harga kopi
T3: W3T2: Dengan bertambahnya kompetitor-
Munculnya kompetitor baru yang masuk dalam industri kopi,
kompetitor- maka pelanggan pun menjadi memiliki lebih
kompetitor banyak pilihan dalam memilih produk mana yang
baru akan dibeli.

W1T2: Meningkatnya harga biji kopi di seluruh


dunia, maka produk Starbucks yang memiliki
harga lebih mahal dibanding kompetitornya
menjadi lebih mahal lagi dan dikhawatirkan
pelanggan akan berpindah ke produk kompetitor.

Gambar 1 Analisa SWOT Matrix Starbucks

Analisis dan Rekomendasi Strategis untuk berekspansi ke negara atau


SWOT Matrix tempat baru menjadi lebih mudah.
Dalam bagian pertama analisis Selain itu, dengan kekuatan kelima (S5)
SWOT Matrix, yang akan dibahas bertemu dengan peluang kedua (O2)
adalah mengenai kekuatan yang yang dimiliki Starbucks, untuk
dimiliki Starbucks bertemu dengan berekspansi ke negara atau tempat baru
peluang yang dapat diraih Starbucks. pun menjadi sangat realistis untuk
Ketika kekuatan pertama (S1) yang dapat dieksekusi. Melihat kedua hal ini,
dimiliki Starbucks digabungkan rekomendasi strategis yang dapat
dengan peluang kedua (O2) yang diberikan adalah sebaiknya Starbucks
dimiliki oleh Starbucks, maka dapat melakukan ekspansi ke negara dan
dikatakan dengan reputasi merk tempat-tempat baru seperti China dan
Starbucks yang kuat secara global, Italia seperti yang direncanakan.
10
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

Bagian kedua analisis SWOT Starbucks supaya tetap melakukan


Matrix ini adalah ketika kekuatan yang ekspansi secara global karena adanya
dimiliki Starbucks bertemu dengan tren budaya meminum kopi.
ancaman dari luar. Ketika kekuatan Bagian terakhir dari analisis
pertama (S1) dan kedua (S2) Starbucks SWOT Matrix ini adalah ketika
bertemu dengan ancaman pertama dari kelemahan yang dimiliki Starbucks
luar (T1), ancaman yang dihadapi bertemu dengan ancaman dari luar
Starbucks pun dapat diatasi karena yang harus dihadapi Starbucks. Ketika
merk Starbucks yang telah sangat kuat kelemahan pertama (W1) Starbucks
dan juga jaminan kualitas kopi bertemu dengan ancaman pertama (T1)
Starbucks, sehingga ancaman Starbucks, dikhawatirkan dengan
mengenai kompetitor dengan harga adanya kompetitor yang memiliki
yang lebih murah pun dapat diatasi. harga lebih murah dibanding Starbucks,
Rekomendasi strategis yang dapat pelanggan pun akan berpindah ke
diberikan untuk Starbucks adalah produk kompetitor, apalagi mengingat
Starbucks harus tetap menjaga kualitas bahwa tidak adanya switching cost
biji kopi dan pelayanannya. Hal ini dalam berpindah dari produk Starbucks
harus dilakukan karena ketika ke produk kompetitor. Setelah itu,
konsumen puas, diharapkan mereka ketika kelemahan ketiga (W3)
menjadi pelanggan setia Starbucks, Starbucks bertemu dengan ancaman
elastisitas harga pun dapat dikurangi kedua (T2) yang dihadapi Starbucks,
(Tjiptono, 2001). pelanggan pun menjadi memiliki lebih
Bagian ketiga dari analisis SWOT banyak pilihan dalam memilih produk
Matrix ini adalah ketika kelemahan mana yang akan dibeli sehingga
bertemu dengan peluang yang dapat mengurangi bargaining power
diraih oleh Starbucks. Ketika Starbucks.
kelemahan pertama (W1) bertemu Setelah itu, ketika kelemahan pertama
dengan peluang pertama (O1) dan (W1) Starbucks bertemu dengan
kedua (O2) Starbucks, Starbucks pun ancaman dari luar Starbucks yang
diperkirakan akan tetap dapat kedua (T2), dengan meningkatnya
berekspansi secara global karena harga biji kopi di seluruh dunia, maka
meskipun dengan harga yang relatif produk Starbucks yang memiliki harga
lebih mahal dibanding kompetitornya, lebih mahal dibanding kompetitornya
permintaan biji kopi yang meningkat menjadi lebih mahal lagi dan
akibat adanya tren budaya meminum dikhawatirkan pelanggan akan
kopi (Perez, 2016). Hal ini juga yang berpindah ke produk kompetitor.
menjadi rekomendasi strategis untuk Rekomendasi strategis untuk yang
11
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

pertama (W1T1) dan ketiga (W3T2) sebagainya. Untuk masalah yang kedua,
adalah, Starbucks sebaiknya sering Starbucks pun disarankan untuk terus
memberikan promosi seperti buy 1 get berekspansi atau pun juga mengakusisi
1, potongan harga ketika membeli kompetitor-kompetitornya untuk
minuman dengan makanan, dan menekan persaingan.

DAFTAR PUSTAKA

Adamczyk, A. (2016, March 4). Why Dunkin' Donuts Loves Starbucks' New Loyalty
Program. Retrieved 2017, from Time:
www.time.com/money4247627/starbucks-loyalty-program-dunkin-donuts/
Baertlein, L. (2016, October 20). Dunkin' Brands Misses on Revenue. Retrieved 2017,
from Business Insider:
www.businessinsider.com/dunkin-brands-q3-2016-10?!R=T&r=US&IR=T
Barney, J. B. (2012). Strategic Management & Competitive Advantage. Pearson
Education.
Batista, F. (2016, October 26). Coffee Rises to 20-Months High as Brazilian Exports
Seen Falling. Retrieved from
www.bloomberg.com/news/articles/2016-10-25/coffee-rises-to-20-months-hig
h-as-brazilian-exports-seen-falling.
Close, K. (2016, April 12). Dunkin' Donuts Upstages Starbucks with Quick, Easy Free
Coffee Rewards. Retrieved 2017, from Time:
www.time.com/money4290470/dunkin-donuts-starbucks-rewards-program/
Close, K. (2016, April 12). Dunkin' Donuts Upstages Starbucks with Quixk, Easy Free
Coffee Rewards. Retrieved 2017, from Time:
time.com/money/4290470/dunkin-starbucks-rewards-program/
Davidson, L. (2015, December 13). Coffee Shops Stir $7.9bn into Market as Cafe
Culture Dominates. Retrieved from www.telegraph.co.uk:
www.telegraph.co.uk/finance/newsbysector/retailandconsumer/12048234/Coff
ee-shops-stir-7.9bn-into-market-as-cafe-culture-dominates.html
Dunkin' Donuts. (2016). 2016 Annual Report. Retrieved from
www.dunkindonuts.com:
https://s21.q4cdn.com/369030626/files/doc_financials/2016/Annual/FY16-Fin
ancial-Highlights.pdf
Dunkin' Donuts. (2016). About Us. Retrieved 2017, from Dunkin' Donuts:
12
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

www.dunkindonuts.com/en/about-us
Dunkin' Donuts. (n.d.). Menu. Retrieved 2017, from
www.dunkindonuts.com.pk/menu.php.
Economist. (2009, November 11). SWOT Analysis. Retrieved from Economist:
www.economist.com/node/14301503
Fast Food Menu Prices. (2016). Fast Food Menu Prices. Retrieved 2017, from
www.fastfoodmenuprices.com:
www.fastfoodmenuprices.com/starbucks-prices/
Fast Food Menu Prices. (2016). Fast Food Menu Prices. Retrieved 2017, from
Dunkin Donut Prices: www.fastfoodmenuprices.com/dunkin-donuts-prices/
Fast Food Menu Prices. (2016). McDonalds Prices. Retrieved 2017, from Fast Food
Menu Prices: www.fastfoodmenuprices.com/mcdonalds-prices/
Ferrel, O. (2005). Marketing Strategy. Thomson Corporation.
Forbes. (2016, October 13). Starbucks is Maintaining Its Competitive Edge. Retrieved
2017, from Forbes:
www.forbes.com/sites/greatspeculations/2016/10/13/how-is-starbucks-maintai
ning-its-competitive-edge/#1b2ccdfd759c
Forbes. (2017, May). The World's Biggest Public Companies. Retrieved 2017, from
Forbes: www.forbes.com/companies/starbucks/
Goth, A. (2011, June 19). 19 Amazing Ways Howard Schultz Saved Starbucks.
Retrieved 2017, from www.businessinsider.com:
www.businessinsider.com/howard-schultz-turned-starbucks-around-2011-6/?I
R=T
Hennesey, R. (2012, Augustus 6). 3 Reasons Why Starbucks Still Shines Despite
Market Shortcomings. Retrieved 2017, from www.forbes.com:
www.forbes.com/sites/rachelhennesey/2012/08/06/3-reasons-why-starbucks-st
ill-shines-despite-market-shortcomings/#6c473ba21
Khaleeli, H. (2017, May 2). Unicorn, Dragon, and Mermaid Frappuccino -
Starbucks' Latest Crimes Against Coffee. Retrieved 2017, from The Guardian:
www.theguardian.com/lifeandlifestyle/shortcuts/2017/may/02/unicorn-dragon-
mermaid-frappuccino-starbucks-latest-crimes-against-coffee
Kotler, P. (2008). Principles of Marketing. Financial Times Prentice Hall.
Kotler, P. (2014). Principles of Marketing. England: Pearson Education.
Lorenzetti, L. (2014, October 30). Fortune's World's Most Admired Companies:
Starbucks, Where Innovation is Always Brewing. Retrieved from Fortune:
www.fortune.com/2014/10/30/starbucks-innovation-cafe-to-classroom/
Marzilli, T. (2016, Febuary 3). Starbucks' Perception Scores After Loyalty Program
13
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

Changes. Retrieved 2017, from YouGov Brand Index:


www.brandindex.com/article/starbucks-perception-scores-drop-after-loyalty-p
rogram-changes
Oregonlive. (2016, December 7). Starbucks Plans to 12.000 More Shops, Expands
Food Offerings. Retrieved from www.oregonlive.com:
http://www.oregonlive.com/business/index.ssf/2016/12/starbucks_plans_to_op
en_12000.html
Patton, L. (2016, December 5). McDonald's Revamps Its $4 Billion McCafe Brand.
Retrieved 2017, from Bloomberg:
www.bloomberg.com/news/articles/2016-12-05/mcdonald-s-revamps-4-billion
-mccafe-brands-as-it-lags-starbucks
Patton, L. (2016, December 5). McDonald's Revamps Its $4 Billion McCafe Brand.
Retrieved 2017, from www.bloomberg.com:
www.bloomberg.com/news/articles/2016-12-05/mcdonald-s-revamps-4-billion
-mccafe-brand-as-it-lags-starbucks
Perez, M. (2016, October 31). Coffee-Loving Millennials Push Demand to a Recod.
Retrieved from www.bloomberg.com:
www.bloomberg.com/news/articles/2016-10-30/millenials-hunt-for-caffeine-fi
x-propels-coffee-demand-to-record
R.David, F. (2009). Manajemen Strategis. Jakarta: Salemba Empat.
Roemmele, B. (2014, June 13). Why is the Starbucks Mobile Payments App So
Successful. Retrieved 2017, from Forbes:
www.forbes.com/sites/quora/2014/06/13/why-is-the-starbucks-mobile-paymen
ts-app-so-successful/#d1f3c4739573
Rothaermel, F. T. (2012). Strategic Management. McGraw-Hill Higher Education.
Schiffman, L. (2014). Consumer Behavior: Global Edition. Pearson Education
Limited.
Starbucks. (2016). 2016 Financial Report. Retrieved from www.starbucks.com:
http://files.shareholder.com/downloads/ABEA-68SCR9/4743439757x0x93485
0/40E987A-FEB4-44A0-A565-996CDFE165B6/DB_2016_Annual_Report_F
inal_.pdf
Starbucks. (2016). Starbucks Coffee Quality. Retrieved July 19, 2017, from
www.starbucks.co.id: www.starbucks.co.id/ethical-sourcing/coffee-quality
Starbucks. (2017). Frappucino Blended Beverages. Retrieved from
www.starbucks.com:
www.starbucks.com/menu/drinks/frappuccino-blended-beverages
Starbucks. (2017). Responsibly Grown Coffee. Retrieved from www.starbucks.co.id:
14
1st NCBMA (Universitas Pelita Harapan, Indonesia)
“Bridging The Gap Between Theory and Practice”
19 Maret 2015, Tangerang.

www.starbucks.co.id/responsiblity/ethical-sourcing/coffee-sourcing
Starbucks. (2017). Starbucks Menu. Retrieved from www.starbucks.com:
www.starbucks.com/menu
Starbucks Coffee. (2015). Farmer Support Center. Retrieved 2017, from Starbucks
Coffee:
www.starbuckscoffee.com/responsibility/community/farmer-support/farmer-su
pport-centers
Starbucks Coffee. (2016). Starbucks Company Timeline. Retrieved 2017, from
www.starbucks.com:
www.starbucks.com/about-us/company-information/starbucks-company-timeli
ne
Starbucks Coffee. (2016, November 3). Starbucks Reports Record Q4 and Record FY
2016 Results. Retrieved 2017, from Starbucks:
www.starbucks.com/news/q4-fy-16-earnings
Starbucks Coffee. (2017). Fact Sheets: Starbucks Latin America. Retrieved from
www.starbucks.com:
https;//news.starbucks.com/facts/facts-sheet-starbucks-latin-america
Statista. (2016). Coffee Shop Industry - Statistics & Facts. Retrieved 2017, from
Statista: www.statista.com/topics/1670/coffehouse-chain-market/
Statistica. (2016). Market Share of Leading Coffee Chains in the United States 2016.
Retrieved 2017, from Statistica:
www.statistica.com/statistics/250166/market-share-of-major-us-coffee-shops/
Tjiptono, F. (2001). Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Andi.

15