Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan
untuk mencapai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap
penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Untuk mencapai tujuan
tersebut dibutuhkan upaya pengelolaan berbagai sumber daya pemerintah maupun
masyarakat sehingga dapat disediakan pelayanan kesehatan yang berkesinambungan, efektif,
efisien, bermutu dan terjangkau. Hal ini perlu didukung komitmen dan semangat tinggi
dengan prioritas terhadap upaya kesehatan dengan pendekatan peningkatan kesehatan
(promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan (kuratif) dan pemulihan
(rehabilitatif).

Fisioterapi merupakan bentuk pelayanan kesehatan komprehensif yang bertujuan


untuk meningkatkan kapasitas fisik dan fungsional terutama masalah nyeri, gerak dan fungsi
organ tubuh. Fisioterapi memiliki peranan penting dalam memandirikan pasien supaya cepat
kembali pulih dan dapat kembali menjadi produktif.

Dengan demikian supaya dapat memberikan pelayanan Fisioterapi penting dibuat


Pedoman Pelayanan, sehingga dapat menjadi acuan dalam melaksanakan pelayanan
Fisioterapi yang bermutu dan berorientasi pada patient safety.

B.TUJUAN PEDOMAN PEDOMAN PELAYANAN:


 Tujuan umum:
1. Memberi acuan bagi pelaksanaan pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit
2. Meningkatkan mutu pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit
3. Menjadi acuan pengembangan pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit
 Tujuan khusus:
1. Meminimalkan impairment
2. Mencegah terjadinya disabilitas dan handicap.
C. RUANG LINGKUP/PELAYANAN FISIOTERAPI RUMAH SAKIT
Ruang lingkup pedoman ini meliputi proses pelayanan di Ruang Fisioterapi.
Pelayanan ini meliputi :
a. Standart ketenagaan yang meliputi kualifikasi sumber daya manusia, distribusi
ketenagaan dan pengaturan jaga.
b. Standart fasilitas yang meliputi denah ruang bangunan, dan standart fasilitas alat
1
c. Tatalaksanan pelayanan yang meliputi tatalaksana untuk Fisioterapi (pendaftaran dan
pencatatan pelayanan di Ruang Fisioterapi). Termasuk kalibrasi dan pemantapan
mutu alat, prosedur operasional dan trouble shooting.
d. Proses perencanaan dan pengadaan alat kesehatan dan alat tulis kantor di Fisioterapi
RSU Triharsi
e. Proses pengendalian dan keselamatan pasien
f. Proses keselamatan baik untuk pasien maupun staf di Fisioterapi
g. Proses pengendalian mutu di Fisioterapi rumah sakit.

D. BATASAN OPERASIONAL PELAYANAN FISIOTERAPI

Pedoman pelayanan Fisioterapi adalah suatu pedoman yang digunakan di Fisioterapi


sebagai acuan pelayanan Fisioterapi, agar dicapai suatu pelayanan yang aman untuk pasien,
dikerjakan oleh sumber daya manusia yang berkualitas, menggunakan alat yang selalu
terkalibrasi dan terpelihara secara rutin dan benar, memenuhi standar baik kualitas maupun
penyimpanannya serta menciptakan lingkungan yang aman bagi petugasnya.

E. LANDASAN HUKUM

Pelayanan di laboratorium mengacu pada peraturan-peraturan yang ada yaitu :

1. Permenkes RI nomor 340/MENKES/PER/III/2010 mengenai Klasifikasi Rumah Sakit

2. Keputusan Menkes RI nomor 129/MENKES/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan


Minimal Rumah Sakit
3. Keputusan Menkes RI nomor: 378/menkes/sk/iv/2008 tentang Pedoman Pelayanan
Fisioterapi di rumah sakit
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no. 1333/ Men-Kes/ SK/ XII/ 1999
tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit
5. Keputusan Menkes RI no. 1333/MENKES/SK/X/2002 mengenai Persetujuan Penelitian
Terhadap Manusia
6. UU RI no. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
7. Peraturan Menkes RI no. 2052/MENKES/PER/X/2011 tentang Izin Praktik dan
Pelaksanaan Praktik Kedokteran
8. Peraturan Menkes RI no. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien
Rumah Sakit
2
9. Peraturan Menkes RI no. 755/MENKES/PER/IV/2011 tentang Penyelenggaraan Komite
Medik Rumah Sakit

3
BAB II
STANDART KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


KUALIFIKASI Tenaga yg
Nama Jabatan
Formal In Formal dibutuhkan
 Pelatihan Manajemen
 Pelatihan Mutu Rumah
Sakit
Dokter dengan  Pelatihan Patient Safety
Kepala Ruang
ijazah & Manajemen Risiko 1
Fisioterapi
Fisioterapi  Pelatihan
Kepemimpinan
 Pelatihan K3/ BLS/ hand
hygiene
Dokter dengan  Pelatihan Mutu Rumah
ijazah Sakit
Penanggungjawab
Fisioterapi/D3  Pelatihan Patient Safety
Mutu & pelayanan 1
Fisioterapi/D4 & Manajemen Risiko
Fisioterapi
Fisioterapi/S1  Pelatihan K3/ BLS/ hand
Fisioterapi hygiene
Dokter dengan  Pelatihan Patient Safety
ijazah & Manajemen Risiko
Penanggungjawab
Fisioterapi/D3  Pelatihan K3/ BLS/ hand
Keamanan dan 1
Fisioterapi/D4 hygiene
Keselamatan
Fisioterapi/S1  Pelatihan PPI Rumah
Fisioterapi Sakit
Dokter dengan
ijazah  Pelatihan Patient Safety
Penanggungjawab Fisioterapi/D3 & Manajemen Risiko
1
Peralatan Fisioterapi/D4  Pelatihan K3/ BLS/ hand
Fisioterapi/S1 hygiene
Fisioterapi
Dokter dengan  Pelatihan Mutu
ijazah Pelayanan
Penanggungjawab Fisioterapi/D3  Pelatihan Patient Safety
1
Kualifikasi Staf Fisioterapi/D4 & Manajemen Risiko
Fisioterapi/S1  Pelatihan K3/ BLS/ hand
Fisioterapi hygiene
Dokter dengan
 Pelatihan/ training alat
ijazah
 Pelatihan Patient Safety
Koordinator ruang Fisioterapi/D3
& Manajemen Risiko 1
Fisioterapi Fisioterapi/D4
 Pelatihan K3/ BLS/ hand
Fisioterapi/S1
hygiene
Fisioterapi

4
D3/D4/S1  Pelatihan K3/ BLS/ hand
Staf Fisioterapi 4
Fisioterapi hygiene

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Daftar Dokter Fisioterapi
THN
No NAMA PENDIDIKAN JABATAN KETERANGAN
LULUS
1. Dokter
Kepala
Dr. Yohan Umum
1 Ruang 2015
Yudhanto, Am.F 2. D3
Fisioterapi
Fisioterapi

Daftar Petugas Fisioterapi

N THN
NAMA PENDIDIKAN JABATAN THN MSK
o LULUS
Dwi Rokhani Fisioterapi
1 D3 Fisioterapi 2008 2009
AMF Pelaksana
Ajeng Puspitasari Fisioterapi
2 S1 Fisioterapi 2016 2011
Putri S.fis Pelaksana
Amzy Farahnaz Fisioterapi
3 S1 Fisioterapi 2016 2016
S.fis Pelaksana
Tito Yuniarso Fisioterapi
4. D3 Fisioterapi 2010 2017
AMF Pelaksana

C. PENGATURAN PELAYANAN FISIOTERAPIS


Pengaturan layanan Fisioterapi bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan Fisioterapi. Pergantian tugas Fisioterapis dilaksanakan secara
berkala, diharapkan penampilan pelayanan tetap terjaga dan meningkat dalam hal kualitas.
Pergantian berhubungan dengan antar ruang pemeriksaan, atau tugas lain yang
berhubungan dengan Fisioterapi.
Dalam pergantian tugas Fisioterapis mempertimbangkan:
1. Jenis kelamin
2. Usia
3. Kondisi kesehatan/ kehamilan/ post partus
4. Lamanya penugasan
5. Keterampilan khusus/ spesifik
Pergantian tugas sampling bangsal untuk pemeriksaan rutin
1. Jadual dibuat setiap bulan
5
2. Pembuatan jadual dikoordinasikan oleh koordinator sampling dengan berkoordinasi
dengan Koordinator terapis dengan memperhatikan kebijakan prosedur pergantian
tugas
3. Jadual sampling ditandatangani oleh Kepala Instalasi
Pengajuan cuti atau ijin Pelayanan Reguler
1. Untuk pengajuan cuti, 1 bulan sebelumnya petugas/ terapis yang bersangkutan
menyerahkan surat pengajuan cuti ke Kepala Ruang Fisioterapi, sehingga jadwal
Fisioterapi bangsal dapat disesuaikan sebelum jadwal terapi bangsal tersebut resmi
dikeluarkan (khusus untuk kehamilan, pemberitahuan kehamilan sejak awal sehingga
jadwal pergantian tugas terapi dapat disesuaikan sebelumnya)
2. Untuk ijin, minimal 3 hari sebelumnya, petugas yang bersangkutan menyerahkan surat
ijin ke Kepala Instalasi. Apabila petugas yang bersangkutan mendapat tugas Fisioterapi
bangsal pada saat ijin, maka petugas yang bersangkutan dibantu dengan Koordinator
Fisioterapi mencari Fisioterapi pengganti yang tidak mendapat jadwal Fisioterapi
bangsal. Apabila terpaksa tidak ada yang bisa menggantikan, maka tugas Fisioterapi
bangsal dilakukan oleh Koordinator Fisioterapi.

6
BAB III

STANDAR FASILITAS

A. DENAH RUANG FISIOTERAPI

B
A

D C
S U

F G

Keterangan Denah

Kode Ruangan
A Ruang Tunggu Pasien
B Ruang Dokter
C Ruang Fisioterapi Dewasa
D Ruang Baby Spa
E Toilet
F Fisioterapi Anak
G Toilet staf

B. STANDAR FASILITAS
Ruangan
1. Ruang tunggu pasien Fisioterapi mempunyai luas + 4 m2.
2. Ruang Dokter, luasnya + 10 m2, terdiri dari 1 kamar yang disekat,

7
3. Ruang Fisioterapi : fisioterapi ada 3 ruang: ruang C luas + 15 m2 terdapat 4 sekat kamar,
petugas/ terapi 1 – 2 orang. Ruang D luas + 12 m2 untuk baby spa dengan jumlah
petugas/ terapi 1 – 2 orang. ruang F luas + 12 m2 untuk terapi anak-anak, jumlah
petugas/ terapi 1 – 2 orang,

C. FASILITAS PENUNJANG
1. Tersedia Toilet 2 ruang luas masing-masing 4 m2 petugas 1 orang.
2. Keselamatan dan keamanan kerja
3. Penerangan cukup (1000-1500 lux di ruang pemeriksaan dan 1000 lux di ruang
administrasi). Setiap bulan diperiksa oleh bagian sanitasi, laporan ada dalam arsip
Instalasi
D. Alat-alat Fisioterapi:

No Nama Alat Jenis Merek jumlah keterangan


Short Wave Diathermy 220 Physiomed 1 Baik
Micro Wave Diathermy 220 Physiomed 1 Baik
Therapeutic Ultrasound 220 Physiomed 1 Baik
Electric Stimulator 110 Physiomed 1 Baik
Traction 220 Sieers Medical 1 Baik

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. PENDAFTARAN PEMERIKSAAN

8
Pelayanan Ruang Fisioterapi di RS. Triharsi dilaksanakan melalui pendekatan sistem
pelayanan dua pintu (two gate system), artinya setiap pasien yang memerlukan
pelayanan Fisioterapi dapat melalui Dokter maupun Fisioterapis langsung untuk
mendapatkan pemeriksaan/penilaian/asesmen & penegakan diagnosis medik dan
fungsional serta prognosis untuk mengarahkan/menetapkan program terapi yang di
butuhkan. Intervensi Fisioterapi terhadap pasien dilakukan melalui Layanan individu atau
kelompok. Kegiatan pelayanan ini merupakan pelayanan tersendiri baik rawat jalan atau
rawat inap di RS. Triharsi, maupun dalam Layanan terpadu. Pelayanan Fisioterapi
melibatkan beberapa tenaga kesehatan dan tenaga lain terkait sesuai kebutuhan seperti :
1. Dokter
2. Fisioterapis
Alur Pasien Dalam Pelayanan Fisioterapi.
Pasien dapat berasal dari :
1. Instalasi gawat darurat
2. Instalasi rawat jalan
3. Instalasi rawat inap (termasuk ruang rawat intensif)
4. Konsul dari dokter praktek swasta/ klinik
5. Rujukan dari Rumah Sakit/ institusi kesehatan lainnya.
6. Datang langsung
B. PERSIAPAN PELAYANAN:
1. Anamnesa pasien
2. Pemeriksaan pasien
3. Diagnosa medik dan fungsional pasien
4. Problem pasien
5. Paket Program terapi pasien

C. PELAKSANAAN PELAYANAN
Kegiatan adalah:
1. Layanan Fisioterapi rawat jalan
2. Layanan Fisioterapi rawat inap

9
3. Diagnosis medik dan fungsional
4. Pemeriksaan penilaian asesmen Tim
5. Program terapi
6. Keluar atau dikembalikan ke dokter pengirim dalam keadaan Sembuh, Pulih dengan
gejala sisa atau Meninggal
7. Kembali ke masyarakat.

D. PENCATATAN PELAYANAN:
a. Pengkajian awal terhadap kondisi pasien:
- Subyektif/ keluhan pasien: riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu
- Obyektif/ pemeriksaan pasien
- Problem pasien
b. Diagnose/ Assesment.
c. Rencana penanganan pasien/ planning.
d. Tindakan yang diberikan/ program.
e. Evaluasi berkala / akhir keadaan pasien

BAB V
LOGISTIK
Inventaris di Ruangi Fisioterapi:
A. INVENTARIS DI RUANG DOKTER:

No Nama Barang Merek Bahan Jumlah


10
1. Meja - Kayu 1
2. Kursi - Besi 3
3. Monitor LG - 1
4. CPU - - 1
5. Keyboard Logitech - 1
6. UPS 325 W/650 VA APC - 1
7. X Ray viewer Onemed - 1
8. Telephone Panasonic - 1
9. Pigura - Kaca 2
10 Tempat sampah Lion star Plastic 1
11. Curtain - Kain 1
12. AC Daikin 1

B. INVENTARIS DI RUANG FISIOTERAPI DEWASA:

No Nama Barang Merek Bahan Jumlah


1 Mesin Shortwave Diathermy Physiomed - 1
2 Mesin Microwave Diathermy Physiomed - 1
3 Long radiator Physiomed - 1
4. Medium radiator Physiomed - 1
5. Small radiator Physiomed - 1
6. Therapeutic Ultrasound Physiomed - 1
7. Electric Stimulation Physiomed - 1
8. Mesin Traksi Sieers Medical - 1
8. Bed Traksi Sieers Medical - 1
9. UPS 1300 W/2600 VA ICA 1
10. UPS 1400 VA ICA 1
11. UPS 325 W/650 VA APC - 2
12. Stabilizer Matsuyama 2
13. Bed Besi 3
14. Stool Besi 1
15. Kursi Plastic & besi 2
16. Curtain Kain 4
17. AC Panasonic 1

C. INVENTARIS DI RUANG BABY SPA :

No Nama Barang Merek Bahan Jumlah


1. Kolam baby spa - Fiber glass 2
2. Bed anak - Kayu 1
3. Pelampung leher - Plastic 1
4. Bola - bola - Plastic 2 tas
5. AC Panasonic 1
6. Water heater Ariston 1

11
D. INVENTARIS DI RUANG FISIOTERAPI ANAK :

No Nama Barang Merek Bahan Jumlah


1. Bed anak - Kayu 2
2. Kursi anak - Plastic 2
3. IR - Besi 2
4. IR lamp Philips - 3
5. Mesin Shortwave - - 1
Diathermy (rusak)
6. AC Daikin - 1

E. INVENTARIS DI RUANG TUNGGU:

No Nama Barang Merek Bahan Jumlah


1. Kursi Tunggu - Besi 1
2. Lemari cabinet - Kayu 1
3. Tempat sampah - Plastic 1

F. TATA LAKSANA PERALATAN DI FISIOTERAPI RUMAH SAKIT


Kegiatan pemeliharaan dan kalibrasi yang dilakukan untuk meningkatkan dan
mempertahankan peralatan dalam kondisi yang baik, tidak rusak atau tetap terjaga dalam
kondisi baik, siap beroperasi/ siap pakai. Pelaksanaan program pemeliharaan dan kalibrasi
peralatan didokumentasikan secara baik.

Pemeliharaan Alat
Peralatan Fisioterapi dilakukan pemeliharaan secara rutin. Frekuensi pemeliharaan
berhubungan dengan penggunaan peralatan Fisioterapi dan pencatatan riwayat pemakaian.
Pemeliharaan dapat dilakukan harian, mingguan, bulanan.

Kalibrasi Dan Pemantapan Mutu Alat


Kalibrasi alat dilakukan :
1. Apabila hasil kontrol harian tidak masuk
2. Setelah penggantian spare part alat

Kalibrasi tahunan dilakukan oleh pemilik alat/vendor 1 tahun sekali, laporan bukti kalibrasi
berupa sertifikat kalibrasi alat oleh vendor diserahkan ke laboratorium dan Instalasi

12
Pemeliharaan Fasilitas Non Medis (IPFNM). Pemantapan mutu alat dilakukan setiap pagi
sebelum melakukan terapi pasien di rehabilitasi.

G. PROSEDUR OPERASIONAL ALAT


Prosedur operasional alat adalah urut-urutan pengoperasian alat yang dimulai dari
menghidupkan alat sampai mematikan alat. Prosedur ini akan dibahas secara rinci pada SPO
Prosedur Operasional masing-masing alat.

H. TROUBLE SHOOTING
Trouble shooting adalah tahapan-tahapan yang harus dilakukan apabila timbul
masalah ketika alat bermasalah baik ketika alat akan dihidupkan maupun saat alat sedang
dijalankan. Prosedur trouble shooting sederhana secara rinci ada pada SPO mengatasi
masalah pada masing-masing alat, dan juga dapat dilihat pada buku manual masing-masing
alat.

Dasar Pemilihan Peralatan di Ruang Fisioterapi


1. Alat yang dipilih harus mempunyai spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan Fisioterapi
2. Sesuai dengan fasilitas tempat yang tersedia
3. Ada tenaga yang dapat mengoperasikan alat tersebut dan mudah pengoperasiannya
4. peralatan yang dibutuhkan mudah didapatkan di pasaran dan mempunyai stabilitas yang
baik
5. Pertimbangan analisis cost-benefit
6. Terdaftar di Departemen Kesehatan

Evaluasi Peralatan Baru


Evaluasi dilakukan sebelum alat digunakan rutin di Ruang Fisioterapi (baik alat yang dibeli
maupun alat dengan system kerjasama operasional).
Tujuan evaluasi adalah untuk memeriksa kesesuaian spesifikasi alat dengan brosur,
kesesuaian alat dengan lingkungan dan hal-hal khusus yang diperlukan bagi penggunaan
secara rutin.

Permintaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit


1. Unit kerja mengusulkan rencana kebutuhan untuk operasional dan pengembangan
bersamaan dengan draft rencana kerja masing-masing unit kerja kepada Direktur RS.

13
Triharsi melalui Kepala Bagian/ Bagian masing-masing dengan tembusan kepada Kepala
Bagian Perencanaan dan Kepala Bidang Penyusunan Anggaran dan Perbendaharaan.
2. Untuk kebutuhan operasional/ rutin usulan direkap dan disusun oleh Kepala Bidang
Penyusunan Anggaran dan Perbendaharaan selanjutnya menjadi Daftar Skala Prioritas
3. Untuk kebutuhan Sarana dan Prasarana pengembangan/ inventaris usulan direkap dan
disusun oleh Kepala Bagian Perencanaan selanjutnya menjadi Daftar Skala Prioritas
4. Daftar Skala Prioritas selanjutnya dapat disusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran Kinerja
(DPA)
5. Dari DPA barang diadakan dan selanjutnya didistribusikan kepada unit-unit kerja

14
BAB VI

KESELAMATAN PASIEN

Sasaran Keselamatan Pasien, berikut hal-hal yang harus diperhatikan :


 Ketepatan identifikasi pasien:
 Nama pasien
 Nomor rekam medis
 Gelang identitas dengan bar-code (laki-laki biru muda, wanita pink, alergi merah,
dan resiko jatuh kuning)
 Peningkatan komunikasi efektif, kebijakan perintah lisan/ telepon:
 Mencatat (write back)
 Membaca (read back)
 Mengkonfirmasi (repeat back)
Kerangka acuan dalam pelaporan kondisi pasien dengan SOAP:
- Subyektif: kondisi terkini yang terjadi pada pasien
- Obyektif: informasi penting dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang
- Assesment: hasil pengkajian kondisi pasien yang terkini
- Program/Recommendation: apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi
masalah/problem pasien saat ini.
 Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan pasien:
a. Menerapkan program hand hygiene yang efektif pada 5 moment:
- Sebelum menyentuh pasien
- Sebelum tindakan septik/ antiseptik
- Sesudah terpapar cairan tubuh
- Sesudah menyentuh pasien
- Sesudah memegang benda disekitar pasien
b. Menyediakan hand rab untuk cuci tangan dengan 6 langkah
 Pengurangan resiko pasien jatuh:
a. Riwayat jatuh
- Menerapkan proses asessmen awal atas pasien terhadap risiko jatuh dan asesmen
ulang dengan indikasi perubahan kondisi.
- Gaya jalan dan keseimbangan
- Alat bantu jalan yang digunakan pasien
b. Menilai dan melakukan secara periodik penilaian ulang terhadap potensial risiko
berhubungan dengan pengobatan.

15
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Keselamatan dan kesehatan kerja bagi pekerja di rumah sakit dan fasilitas medis
lainnya perlu di perhatikan. Demikian pula penanganan faktor potensi berbahaya yang ada di

16
rumah sakit serta metode pengembangan program keselamatan dan kesehatan kerja perlu
dilaksanakan, seperti misalnya perlindungan baik terhadap penyakit infeksi maupun non-
infeksi, penanganan limbah medis, penggunaan alat pelindung diri dan lain sebagainya.
Selain terhadap pekerja di fasilitas medis/klinik maupun rumah sakit, Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di rumah sakit juga “concern” keselamatan dan hak-hak pasien, yang masuk
kedalam program patient safety.
1. Keselamatan dan keamanan
a. Menyusun rencana perbaikan fasilitas di ruangan
b. Pemasangan kamera pada daerah yang dianggap rawan
c. Semua staf, pengunjung, vendor diidentifikasi dan diberi tanda pengenal sementara
atau permanen.
2. Kesiapan menghadapi bencana
a. Menentukan jenis, kemungkinan terjadi, konsekuensi bahaya, ancaman dan kejadian
b. Mengidentifikasi dan penugasan terhadap staf bila terjadi bencana
c. Mengelola kegiatan selama kejadian bencana
3. Penanganan kebakaran
a. Mencegah kebakaran melalui pengurangan risiko, penyimpanan dan penanganan
bahan-berbahaya
b. Menyediakan jalan keluar yang aman dan tidak terhalang apabila terjadi kebakaran
c. Menyediakan system peringatan dini, deteksi dini, alarm kebakaran
4. Peralatan medis
a. Melakukan inventarisasi peralatan medis di ruangan
b. Melakukan pengujian/ kalibrasi secara berkala
c. Melakukan pemeliharan preventif
5. Untuk alat-alat terapis yang menggunakan listrik harus memakai arde dan stabilisator
a. Dalam melakukan pelayanan harus memakai pelindung sesuai Pedoman Universal
Precaution infection
b. Penataan ruang, aksesibilitas, penerangan dan pemilihan material harus sesuai
dengan ketentuan yang mengacu pada patient safety

17
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

18
1. Pengendalian mutu harus berlandaskan falsafah dan strategi usaha bersama untuk
memberikan pelayanan yang berkualitas tinggi oleh tim yang terdiri dari berbagai unit
terapi.
2. Kita harus menganggap masalah sebagai peluang kemajuan, karena itu sikap kita terhadap
masalah adalah:
a. Peka
b. Menyambut baik
c. Menanggapi
d. Mendelegasikan
e. Menunjang (analisa pareto)
3. Prinsip Kendali Mutu
a. Mengutamakan kualitas/ mutu
b. Setiap karyawan mengarahkan perhatian terhadap pelanggan/ pasien
c. Dilakukan bersama oleh seluruh tim pelayanan
d. Koordinasi dilakukan dengan baik
e. Ekonomis tidak terlalu banyak biaya
f. Fokus terhadap faktor kinerja yang kritikal misalnya program yang diberikan
g. Menganut sistem prioritas
h. Melakukan pekerjaan sejak awal dengan benar
i. Pengendalian dengan data, menganalisa data oleh pembuat keputusan
j. Menggerakan terus menerus siklus PDCA
k. Melakukan pengendalian kualitas dalam proses kerja
l. Menerakan proses terapi dan hasil kerja tertulis jelas
m. Dalam menghadapi persoalan, kurangi akibat dan tanggulangi penyebabnya
n. Jangan menyalahkan orang lain
o. Hargailah karyawan secara manusiawi
4. Jenis kegiatan pengendalian mutu
a. Internal:
1) Pemantauan laporan kejadian selama terapi: Pasien jatuh, terbakar.
2) Gugus kendali mutu terapi
3) Presentasi kasus (rutin/khusus)
4) Membentuk tim budaya kerja untuk membangun budaya kerja organisasi
b. Eksternal:
1) Kotak saran
2) Angket pasien pulang
3) Masukan antar profesi/ direksi
4) Media cetak /elektronik
5. Evaluasi terhadap :
1. Indikator mutu klinis keterapian
2. Indek kepuasan pasien.
3. Audit medis mengacu pada SPO, CP.
4. Audit terapis mengacu pada SAT,SPO,CP
5. SPM ( Standar Pelayanan Minimal ).
19
BAB IX

PENUTUP

Pedoman Pelayanan Fisioterapi dibuat sesuai dengan ketentuan yang terdapat


dalam buku pedoman Kemenkes. Kompleknya permasalahan dan penyakit pasien yang
terlayani di instalasi Fisioterapi dapat memberikan sumbangan dalam peningkatan motivasi
mutu kerja seluruh tim Fisioterapi di RS. Triharsi
Pedoman pelayanan di Ruang Fisioterapi RS. Triharsi yang disusun tentunya masih
banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya
rujukan atau referensi.
Semoga pedoman pelayanan yang disusun dapat memberikan kerangka kerja
untuk pelayanan kepada pasien dalam pemenuhan kebutuhannya .

20
21