Anda di halaman 1dari 11

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DBD

A. KONSEP PENYAKIT
1. Pengertian
Dengue Haemoragik Fever (DHF) atau demam berdarah dengue
adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit ini dapat
menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian terutama pada
anak-anak (Nursalam. 2005).
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut
dengan ciri-ciri demam, manifestasi pendarahan, dan bertendensi
mengakibatkan rejatan yang dapat menyebabkan kematian. Puncak kasus
DBD terjadi pada musim hujan yaitu bulan Desember sampai dengan Maret
(Masjoer, Arif. 2001 hal.419)
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot
dan/ atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati,
trombositopenia dan diatesis hemoragik (Sudoyo W, Aru. 2006 hal. 1731)
Penyakit dengue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus
(arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes
albopictus dan Aedes aegypti).(Ngastiyah.1997 hal. 341).
2. Anatomi Fisiologi

Virus dengue masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes


aegypti dan kemudian bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah
kompleks virus-antibody, dalam asirkulasi akan mengaktivasi sistem
komplemen (Suriadi & Yuliani, 2001).
Virus dengue masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk dan infeksi
pertama kali menyebabkandemam dengue.Reaksi tubuh merupakan reaksi
yang biasa terlihat pada infeksi oleh virus. Reaksi yang amat berbeda akan
tampak, bila seseorang mendapat infeksi berulang dengan tipe virus
dengue yang berlainan. Dan DHF dapat terjadi bila seseorang setelah
terinfeksi pertama kali, mendapat infeksi berulang virus dengue lainnya.

1
Re-infeksi ini akan menyebabkan suatu reaksi anamnestik antibodi,
sehingga menimbulkan konsentrasi kompleks antigen-antibodi (kompleks
virus-antibodi) yang tinggi (Noer, dkk, 1999).
3. Etiologi
Virus dengue tergolong dalam family Flaviviridae dan dikenal ada 4
serotipe.Dengue 1&2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang
dunia II, sedangkan dengue 3 & 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina
tahun 1953-1954.Virus dengue berbentuk batang, bersifat termolabil,
sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksilat, stabil pada
suhu 700C.
Vektor utama dengue di Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti, di
samping pula Aedes albopictus. Vektor ini mepunyai ciri-ciri:
a. Badannya kecil, badannya mendatar saat hinggap
b. Warnanya hitam dan belang-belang
c. Menggigit pada siang hari
d. Gemar hidup di tempat – tempat yang gelap
e. Jarak terbang <100 meter dan senang mengigit manusia
f. Bersarang di bejana-bejana berisi air jernih dan tawar seperti bak
mandi, drum penampung air, kaleng bekas atau tempat-tempat yang
berisi air yang tidak bersentuhan dengan tanah.
g. Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk sekitar 10 hari.
Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya,
tanda dangejala lain adalah :
a. Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan.
b. Asites
c. Cairan dalam rongga pleura ( kanan )
d. Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma.
4. Klasifikasi
Dengue Haemoragic Fever berdasarkan kriteria WHO tahun 1997
diagnosis DHF ditegakkan bila semua hal di bawah ini dipenuhi :
a. Demam atau riwayat demam akut antara 2 – 7 hari biasanya bifasik
b. Terdapat minimal 1 dari manifestasi pendarahan berikut :
1) Uji bendung positif.
2) Petekie, ekimosis, atau purpura
3) Pendarahan Mukosa (tersering epistaksis atau pendarahan gusi),
atau pendarahan dari tempat lain.
4) Hemtemesis atau melena.
c. Trombositopenia ( jumlah trombosit < 100.000/ul)
d. Terdapat minimal 1 tanda-tanda plasma leakage (kebocoran plasma)
sebagai berikut :

2
1) Peningkatan Hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai dengan
umur dan jenis kelamin.
2) Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan,
dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya.
3) Tanda kebocoran plasma seperti: Efusi pleura, Asites atau
Hipoproteinemia
DD/DBD Derajat Gejala Laboratorium

Leukopenia
Demam Disertai dua atau

Trombositopenia, tidak
lebih tanda : Sakit kepala,
DD ditemukan bukti kebocoran
Nyeri retro-orbital, Mialgia,
plasma.
Artralgia.

Serologi Dengue positif.

Trombositopenia
Gejala di atas ditambah uji
DBD I (<100.000/?1), bukti ada
bendung positif
kebocoran plasma
 Trombositopenia
Gejala di atas ditambah
DBD II (<100.000/?1), bukti ada
pendarahan spontan.
kebocoran plasma
Gejala di atas ditambah
 Trombositopenia
kegagalan sirkulasi (kulit
DBD III (<100.000/?1), bukti ada
dingin dan lembab serta
kebocoran plasma
gelisah)
Syokberat disertai dengan  Trombositopenia
DBD IV tekanan darah dan nadi (<100.000/?1), bukti ada
tidak terukur kebocoran plasma

5. Manifestasi Klinis
a. Demam tinggi 5-7 hari.
b. Perdarahan, terutama perdarahan bawah kulit ; ptekie, ekhimosis,
hematoma. Epistaksis, hematemesis, melena, hematuria.
c. Mual, muntah, tidak ada napsu makan, diare, konstipasi.
d. Nyeri otot, tulang dan sendi, abdomen dan ulu hati.
e. Sakit kepala.
f. Pembengkakan sekitar mata.
g. Pembesaran hati, limpa dan kelenjar getah bening.
h. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah
menurun, gelisah, capillary reffil time lebih dari dua detik, nadi cepat
dan lemah)

3
6. Patoflow

7. Komplikasi
Pada penderita DBD yang disertai syok, setelah demam berlangsung selama
beberapa hari, keadaan umum penderita tiba-tiba memburuk.Pada sebagian besar
penderita ditemukan tanda kegagalan peredaran darah yaitu kulit teraba lembab
dan dingin, sianosis sekitar mulut, nadi menjadi cepat dan lemah, kecil sampai
tidak dapat diraba.Tekanan darah menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, dan
tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau lebih rendah.Penderita kelihatan
lesu, gelisah, dan secara cepat masuk dalam fase kritis syok.Penderita seringkali
mengeluh nyeri di daerah perut sesaat sebelum syok timbul.Nyeri perut hebat
seringkali mendahului perdarahan gastrointestinal, dan nyeri di daerah retrosternal
tanpa sebab yang dapat dibuktikan memberikan petunjuk terjadinya perdarahan
gastrointestinal yang hebat.Syok yang terjadi selama periode demam biasanya
mempunyai prognosis buruk.
Tatalaksana sindrom syok dengue sama dengan terapi DBD, yaitu pemberian
cairan ganti secara adekuat. Pada sebagian besar penderita, penggantian dini
plasma secara efektif dengan memberikan cairan yang mengandung elektrolit,
ekspander plasma, atau plasma, memberikan hasil yang baik.Nilai hematokrit dan

4
trombosit harus diperiksa setiap hari mulai hari ke-3 sakit sampai 1-2 hari setelah
demam menjadi normal.Pemeriksaan inilah yang menentukan perlu tidaknya
penderita dirawat dan atau mendapatkan pemberian cairan intravena.
8. Pemeriksaan Diagnosis
a. Minum banyak 1,5 liter – 2 liter/24 jam (dengan air teh, gula, susu).
b. Antipiretik jika terdapat demam.
c. Antikonvulsan jika terdapat kejang.
d. Pemberian cairan melalui infus, dilakukan jika pasien mengalami kesulitan
minum dan nilai hematokrit cenderung meningkat.
9. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut :
a. Tirah baring.
b. Diet makan lunak.
c. Minum banyak (2-3 liter/24 jam) dapat berupa susu, teh manis, dan
pemberian cairan yang merupakan hal yang paling penting bagi penderita
DHF.
d. “Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faal).
e. Monitor tanda-tanda vital setiap 3 jam.
f. Monitor tanda-tanda pendarahan lebih lanjut.
g. Pemberian antibiotik bila ada kekuatiran infeksi sekunder.
h. Monitor tanda-tanda dari rejatan meliputi keadaan umum, perubahan tanda-
tanda vital, hasil laboratorium yang memburuk.
i. Bila timbul kejang dapat diberikan diazepam (kolaborasi dengan tim medis).
j. Pemberian obat anti piretik sebaiknya dari golongan Asetaminopen, eukinim,
atau dipiron.
k. Pemberian kompres dingin.

B. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data,analisa data dan
penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara
intervensi,observasi, dan pemeriksaan fisik . Kaji data menurut Cyndi Smith
Greenberg,1992 adalah :
a. Identitas klien.
b. Riwayat keperawatan.
- Awal kejadian: ......
- Keluhan utama : ....
c. Riwayat kesehatan masa lalu.
d. Riwayat penyakit keluarga.
e. Pemeriksaan head to toe
f. Pemeriksaan TTV.
g. Pengkajian Pola Gordon (Pola Fungsi Kesehatan) :

5
a) Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan meliputi :
1) Keadaan lingkungan tempat tinggal termasuk daerah endemic DHF.
2) Penampungan air ada jentik nyamuk,berlumut dan tidak tertutup.
3) Tempat pembuangan sampah ada kaleng,plastik, botol, tempurung
kelapa, yang menyebabkan air dan selokan tergenang.
4) Cara menyimpan pakaian yang digantung dan tidak di dalam lemari yang
tertutup, pakaian kotor dibiarkan menumpuk.
5) Ada anggota atau tetangga yang sebelumnya menderita DHF
b) Pola nutrisi metabolik
1) Riwayat mual, muntah atau anoreksia
2) Nyeri ulu hati
3) Turgor kulit kurang elastis, ada petekie, ekimosis.
4) Mulut mukosa kering, gusi berdarah
5) Epistaksis, muntah warna kemerahan
c) Pola eliminasi
1) Diare
2) Melena
3) Peristaltik meningkat
4) Urine < 30 cc/jam
d) Pola aktivitas dan latihan
1) Demam sekitar 7 hari dengan suhu tubuh berkisar 38-40oC
2) Malaise
3) Kemampuan aktivitas yang dilakukan menurun karena pegal di
persendian dan pusing
e) Pola tidur dan istirahat
1) Tidur terganggu karena nyeri ulu hati dan demam
2) Gelisah
3) Biasa tidur siang hari lebih banyak
f) Pola persepsi dan kognitif
1) Rasa nyeri otot, persendian, pegal seluruh tubuh, sakit kepala
2) Tumbuh ruam/bintik merah di kulit
3) Pemahaman tentang nyamuk Aedes Aegypty
4) Pemahaman tentang penderita DHF sebelumnya terutama yang tinggal
dalam satu kompleks
g) Pola mekanisme koping terhadap stres
1) Respons terhadap sakit dan pengobatannya
2) Perubahan emosi saat sakit
3) Kecemasan orang tua terhadap kondisi kesehatan anaknya
2. Diagnosa Keperawatan
MASALAH KEPERAWATAN
a. Gangguan nyeri
b. Suhu badan meningkat
c. Defisit volume cairan
d. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

6
PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Kekurangan volume cairan b/d peningkatan permeabilitas kapiler/ dinding
plasma
b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
c. Peningkatan suhu tubuh meningkat ( Hipertermi ) b/d inflamasi ditandai
dengan peningkatan suhu tubuh < 37 ͦC
d. Nyeri berhubungan dengan patologis penyakit
DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Kekurangan volume cairan b/d peningkatan permeabilitas kapiler/ dinding
plasma
b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
c. Gangguan thermoregulasi , hpertermia berhubungan dengan adanya viremia
d. Gangguan Nyeri berhubungan dengan patologis penyakit

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA NOC NIC
1 Kekurangan Volume Setelah dilakukan - Monitorlah tanda
cairan berhubungan tindakan selama 1x 24 vital keadaan umum
dengan adanya jam diharapkan , tanda-tanda syok
perpindahan cairan peningkatan volume asupan dan keluaran
intravaskuler ke ciaran tubuh dengan - Berikan cairan
extravaskuler akibat kriteria hasil : intravena dan
peningkatan Teratasinya pertahankan tetesan
permeabilitas kapiler kekurangan cairan sesuai ketentuan
serta mempertahankan - anjurkan anak untuk
asupan dan banyak minum air
keluarannya . putih
- Kajian perubahan
produksi urine , (25
ml/jam atau 600
ml/hari)
- Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian terapi
yang tepat.

2 Gangguan - Nutrisional status: - Kaji adanya alergi


pemenuhan nutrisi - Food and fluid makanan
kurang dari intake - Kolaborasi dengan
kebutuhan tubuh b.d - Nutrient intake ahli gizi untuk
anoreksia - Weight control memenuhi kebutuhan

7
Kriterial hasil : nutrisi
- Adanya peningkstsn - Anjurkan pasien
BB untuk banyak makan
- BB dan TB sesuai dan minumsedikit tapi
Tidak ada tanda2 mal sering
nutrisi - Berikan substensi
gula
- Monitor jumlah
nutrisi yang masuk
dan keluar
- Monitor tugor kulit
- Obs. TTV
- Kolaborasi dengan
tim medis dalam
pemberian terapi yang
tepat
3 Gangguan Setelah dilakukan - Monitor perubahan
Thermoregulasi : tindakan selama 1x24 suhu nadi pernafasan
Hipertemia jam diharapkan suhu serta tekanan darah
berhubungan dengan tubuhnya menurun - Berikan kompres
adanya viremia. dengan kriteria hasi l : hangat pada daerah
DS :  Menurunnya suhu aksila dan lipat paha .
 Klien mengatakan tubuh serta - Gunakan pakaian
adanya mempertahankann yang tipis dan
peningkatan suhu ya dalam kondisi meresap keringat .
tubuh. yang normal . - Libatkan keluarga dan
DO : Tanda-tanda Vital carilah cara
TD : 90/60 mmHg dalam batas normal . melakukan kompres
TN : 94 x/menit yang benar serta
RR : 28 x/menit evaluasi perubahan
Tem : 38,2 C suhu .
- Kolaborasi dalam
pemberian terapi yang
tepat
4 Gannguan nyeri dalam waktu 1 x 24 - Obs. TTV pasien
berhubungan dengan jam rasa nyeri pada - Kaji tingkat nyeri
patologis penyakit passien berkurng yang dialami pasien
Kriterria Hasil : - Berikan posisi
- Pasientampak senyaman mungkin
tenang usahakan situasi

8
- Pasien tidak ruangan yang tenang .
mengeluh - Alihkan perhatian
nyeri lagi pasien dari rasa nyeri
- TTV dalam - Atur posisi pasien
keadaan senyaman mungkin
normal - Kolaborassi dengan
dokter dalam
pemberian terapi yang
tepat.

4. IMPLEMENTASI
Dimana sesorang perawat melakukan tindakan yang telah di rencanakan sesuai
dengan NANDA NIC NOC yang telah di buat.
5. EVALUASI
dimana seorang perawat mengevaluassi keadaan pasoien setelah di berikan
tindakan keperawatan dalam bentuk SOAP yang artinya :
Subjek : keuhan yang didapat dari pasien atau keluarga pasien setelah
dilakukan tindakan
Objek : hasil yang di dapat dari penglihatan seorang perawat atau hasil
dari Pemeriksaan
Assement : masalah yang belum teratasi misal diare
Pleaning : rencana selanjutnya untk pasien tersebut

6. DISCHARGE PLANING
a. Mencegah output yang berlebihan
b. Tidak terjadi infeksi
c. Menjaga intake output agar seimbang
d. Menganjurkan makan dan minum sedikit tapi sering
e. Menjelasskan pada keluarga pasien untuk menjaga kebersihan lingkungan
f. Istirahat yang cukup

9
DAFTAR PUSTAKA

2007 Puncak DBD di Indonesia. http://www.bipnewsroorn.info/indek. Diaksestanggal 22 Januari


2008.
Anies. Seri Lingkungan dan Penyakit : Manajemen Berbasis Lingkungan. Jakarta: Elek Media
Komputindo. 2006. p. 52-69.
Anonim. 2005. Perilaku Nyarnuk Aedes Aegypti.http.//www.pdpersi.co.id. Diakses tanggal 5
Januari 2008.
Anton S. Hubungan perilaku tentang pemberantasan sarang nyamuk dan kebiasaan keluarga
dengan kejadian demam berdarah dengue di kecamatan Medan Perjuangan kota
Medan. 2008.
Azwar, A. 2003. Sikap Manusia Teori Dan Pengukuranya. Edisi Kedua Yogyakarta :Pustaka
Pelajar.
Cahyo, K. 2006. Analisis Perilaku Keluarga Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Dernarn
Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Meteseh Kecamatan Tembeleng Kota
Semarang. http:// www.litbang.depkes.go.id .Diakses tanggal 12 September 2008.
Cook, Gordon dan Alimuddin L. Zumla. Manson’s Tropical Diseases 22th Edition. Philadelphia :
Saunders Elsevier. 2009. p. 753-762.
Depkom, 2005. Puncak DBD di Indonesia. http://www.bipnewsroom.info/indek. Diakses 22
Januari 2007.
Dinas Kesehatan Kota Semarang. Profil Kesehatan Kota Semarang 2009. Semarang: Dinas
Kesehatan Kota Semarang. 2010. [cited : November 08, 2011]. Available
from: http://www.dinkes-kotasemarang.go.id/download/profil_kesehatan_2009.pdf 65
Ditjen PPM-PL. 2005. Pencegahan dan Pemberantasan DBD di Indonesia. Ditjen PPM-PL,
Jakarta.
Djauri, 2003. Hubungan Kondisi Lingkungan dan Partisipasi Masyarakat dengan Pengendalian
Demam Berdarah di Kota Pontianak Kalimantan Barat. (Tesis UI).
http://www.digilibui.edu/opac. Diakses 12 Agustus 2008
DKK Sragen 2007. Laporan Data Penyakit DBD di Kecamatan Gondang. 2007: Puskesmas
GondangKabupaten Sragen.
Download Portal Garuda. <http://download.portalgaruda.org/article.php?article=130845&val=5478&title= ppt
1>
Fathi, 2005. Peran Faktor Lingkungan dan Perilaku Terhadap Penularan Demam Berdarah
Dengue Di Kota Mataram: Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.2, No. 1, Juli 2005: 1-
10.
Gunarsa, 2001. PengantarPsikologiPendidikan. Jakarta: Mutiara.
Hasyimi. 1993. Pengetahuan dan Sikap Penduduk Terhadap Nyamuk DBD di kelurahan Ancol
Jakarta Utara.Artikel Media Litbangkes
Holan.1997. Variabel yang mempengaruhi partisipasi ibu rumah tangga dalam pelaksanaan
pemberantasan sarang nyamuk. Cermin Dunia Kedokteran.
Inggrid K. Dengue Virus Infection :Epidemiology, Pathogenesis, Clinical Presentation,Diagnosis
and Prevention. J Pedriatic. 1997. : 131(4):516-24.

10
Ishak, H. 2006. Upaya Strategis Dalarn Penanggulangan DBD di Indonesia. FKM UNHAS Kep.
Dirjen PPM.PLP. 1992. Petunjuk Teknis Penggerakan Pemberantasan Sarang
Nyamuk(PSN). Jakarta: Bakti Husada.
Kittigul L. Suankeow K, Sujirajat D., Yoksan S. Dengue hemorrhagic fever: knowledge, attitude
and practice in Ang Thong Province. Ang Thong. South Asian J Trop Med Public
Health. 2003;34(2): 385-92.
Koenraadt Constantianus J.M., Tuiten W., Sithiraprasasna R., Kijchalao U., Jones James W.,
Scott Thomas W.. Dengue knowledge and practices and their impact on Aedes
Aegepty population in Kamphaeng Phet, Thailand. Kamphaeng Phet. Am. J. Trop.
Med. 2006. 74(4): 692-700.
Kristina, dkk. 2005. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Litbang Depkes RI
http://www.litbang.depkes.go.id. Diakses tanggal 5 November 2007
Kristina, dkk. 2005. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Litbang Depkes RI
Langkap, 2004. Partisipasi Keluarga Dalam Pencegahan DBD di Kabupaten Kota Waringin
Timur. (Tesis Universitas Gajah Mada)

11