Anda di halaman 1dari 107

BAB III

RENCANA PELAKSANAAN PEKERJAAN, METODE KERJA,


DAN TEKNIK PELAKSANAAN

3.1 Uraian Umum


Rencana kerja pelaksanaan wajib dibuat oleh penyedia jasa konstruksi
untuk mendapat persetujuan dari pengguna jasa konstruksi selambat-lambatnya
satu bulan setelah SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja) diterbitkan. Penyedia jasa
konstruksi sebelum memulai pekerjaan harus mengadakan :
1. Persiapan lapangan atau lokasi yang ingin didirikan bangunan.
2. Gambar-gambar dan perubahannya secara menyeluruh beserta Bestek dan
gambar bestek.
3. Penjelasan-penjelasan yang tertuang dalam Berita Acara Aanwijzing
(risalah penjelasan).

Pekerjaan yang dilaksanakan oleh penyedia jasa konstruksi harus sesuai


dengan:
1. RKS dan gambar bestek untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan.
2. Petunjuk dari Pengguna jasa dan penyedia jasa konsultasi perencana.

Pekerjaan tersebut harus dilaksanakan oleh penyedia jasa konstruksi agar


dalam pelaksanaan pekerjaan tidak mengalami kesulitan yang nantinya akan
merugikan pihak penyedia jasa konstruksi itu sendiri. Berikut ini akan disampaikan
beberapa item pekerjaan dari Proyek Pembangunan Gedung Kuliah Sekolah Tinggi
Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus yang terletak di Jalan Conge Ngembalrejo -
Kudus yang dibatasi pada beberapa pekerjaan tertentu.

3.2 Pekerjaan Persiapan


Kelancaran dalam pelaksanaan pekerjaan yang akan dilakukan tidak lepas
dari persiapan pekerjaan itu sendiri, sehingga dalam hal ini penting sekali bagi
penyedia jasa konstruksi untuk memperhatikan aspek-aspek tercakup dalam
pekerjaan persiapan. Aspek – aspek yang harus diperhatikan dalam pekerjaan
persiapan meliputi :
1. Pekerjaan pembersihan lapangan.
2. Pekerjaan pengukuran.
3. Pekerjaan instalasi lapangan.

3.2.1 Pekerjaan Pembersihan Lapangan


Pekerjaan pembersihan lapangan dalam proyek ini meliputi pembabatan
tanaman, pohon, dan semak (rumput) karena lokasi dari proyek tersebut menempati
sebagian lahan kosong dengan kondisi pemukaan tanahnya cukup rata sehingga
tidak perlu pekerjaan timbunan maupun galian. Untuk melaksanakan pekerjaan
pembabatan tanaman dan rumput dapat menggunakan sabit, sedangkan untuk
pekerjaan pemotongan dan pencabutan pohon yang ada di dalam lokasi proyek
menggunakan alat gergaji dan cangkul, tenaga yang melakukan pekerjaan ini
diambil juga dari tenaga yang biasanya membersihkan area lahan tersebut.

Gambar 3.1 Area pembersihan lapangan

3.2.2 Pekerjaan Pengukuran


Pekerjaan pengukuran ini dilakukan oleh surveyor yaitu menentukan titik
as dari bangunan, penentuan ketinggian bangunan rencana dari bangunan lainnya,
dan menentukan sudut-sudut as bangunan. Pengukuran dilakukan dengan
menggunakan alat theodolit. Pekerjaan ini dilakukan setelah pekerjaan pembersihan
lapangan selesai dilaksanakan.

3.2.3 Instalasi Lapangan


Pekerjaan instalasi lapangan adalah pekerjaan yang berhubungan dengan
perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan unsur-unsur penunjang yang diperlukan
dalam mendirikan sebuah bangunan beserta lokasi penempatan. Unsur-unsur
penunjang tersebut meliputi :
1. Jaringan air bersih
Air merupakan bahan untuk mendapatkan work ability yang diperlukan dalam
pembuatan beton. Air dalam proyek ini berasal dari PDAM dan bersifat lumpsump
dengan biaya yang telah ditentukan.
2. Listrik
Untuk meunjang pelaksanaan pekerjaan atau penjagaan dimalam hari perlu
adanya penerangan yang cukup. Penerangan listrik didapatkan dengan memasang
jaringan listrik dari sambungan listrik yang sudah ada pada Sekolah Tinggi
Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus.
3

5
5200

1900
2

1800

4800

Gambar 3.2 (Site Plan)

Keterangan :
1. Pos satpam.
2. Kantor Direksi Keet
3. Barak Pekerja
4. Pabrikasi Bekisting
5. Pabrikasi Besi
6. Gudang kayu, multiplek, dan semen.
7. Penyimpanan bata merah, penyimpanan pasir, kerikil, tulangan besi
Pintu keluar-masuk proyek
Pekerjaan instalasi lapangan untuk proyek ini meliputi:
1. Jalan masuk dan keluar proyek
Bahan pembuatan pintu jalan masuk dan keluar pada proyek ini adalah dua
buah dan masing-masing pintu digunakan untuk masuk atau keluar proyek, dapat
juga dilalui oleh kendaraan-kendaraan pengangkut material atau kendaraan lainnya.
Sedangkan ukuran pintu masuk dan keluar lokasi proyek adalah lebar 478cm dan
tinggi 165cm, untuk bahan penutup menggunakan Seng Gelombang BJLS 0,30 0,9
m x 1,8 m, sedangkan untuk kayu vertikal dan kayu horisontal menggunakan kayu
kruing 5/7.

2. Pagar Pengaman
Pagar keamanan berfungsi untuk melindungi atau menjaga semua yang ada
diproyek baik itu alat, bahan dan tenaga kerja dalam pelaksanaan proyek. Pagar
pengaman ini terbuat mengelilingi area proyek dan terbuat dari seng gelombang
BJLS 0,30 0,9 m x 1,8 m. Untuk kayu vertikal dan horizontal menggunakan kayu
kruing 5/7, dan ditanam 20 cm di dalam tanah.

3. Penerangan
Untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan atau penjagaan dimalam hari perlu
adanya penerangan yang cukup. Penerangan listrik didapatkan dengan memasang
jaringan listrik dari PLN setempat.
4. Direksi keet
Direksi keet adalah tempat para teknisi, para staf pelaksana proyek dan
karyawan. Direksi keet dibuat menghadap pada konstruksi yang dikerjakan agar
dapat memantau seluruh kegiatan pekerjaan proyek. Ukuran denah direksi keet 3,5
m x 7 m, dengan pasangan dinding terbuat dari dari tripleks 1,2 m x 2,4 m tebal 6
mm dan atap Seng Gelombang BJLS 0,30 0,9 m x 1,8 m. Sedangkan untuk gording
menggunakan kayu kruing 5/7.

5. Papan nama proyek


Papan nama proyek memberikan informasi secara tertulis bahwa ditempat
tersebut akan dikerjakan suatu proyek. Papan nama ini berukuran 1,2 m x 0,8 m
yang terbuat dari multipleks tebal 0,6 mm.
6. Pos keamanan
Pos keamanan berguna untuk tempat panjaga keamanan proyek, untuk itu
penempatan pos keamanan berada didekat pintu masuk / keluar proyek. Pos
keamanan ini berukuran 1,2 m x 2,4 m dan terbuat dari multipleks 1,2 m x 2,4 m
tebal 6mm dan kayu kruing 5/7, atap Seng Gelombang BJLS 0,30 0,9 m x 1,8 m
dengan kayu kruing 5/7 untuk gording.

7. Gudang
Fungsi gudang nanti sebagai tempat penyimpanan alat dan bahan material
yang diperlukan selama pekerjaan diproyek. Gudang ini nanti akan dijaga oleh satu
orang, yang tugasnya sebagai seorang logistik. Logistik tersebut berperan untuk
mengatur kebutuhan material dan alat yang diperlukan. Logistik juga berhak
mendatangkan material atau alat untuk menunjang pencapaian pekerjaan.
Bangunan gudang ini bersifat sementara. Dengan rangka utama terbuat dari
kayu kruing 5/7. Dinding terbuat dari triplek dengan ukuran 1,2 m x 2,4 m dan tebal
6mm. Penutup atap terbuat dari seng gelombang BJLS 0,30 0,9 m x 1,8 m yang
rangkanya juga terbuat dari kayu kruing 5/7. Lantai terbuat dari adukan semen yang
diplester setebal 3cm.

8. Barak pekerja
Barak pekerja adalah tempat para tukang dan mandor proyek untuk
beristirahat. Barak pekerja dibuat dengan ukuran 3,5 m x 7 m, dengan pasangan
dinding terbuat dari dari tripleks 1,2 m x 2,4 m tebal 6 mm dan atap Seng
Gelombang BJLS 0,30 0,9 m x 1,8 m. Sedangkan untuk gording menggunakan
kayu kruing 5/7.

3.3 Pekerjaan Bowplank


Bouwplank dibuat dengan papan kayu kruing yang kering dengan tebal 2
cm, lebar 20 cm dan pada bagian atasnya diserut rata. Tiang bouwplank dibuat dari
kayu kruing ukuran 5/7. Pada papan bouwplank ini harus diberi tanda yang
menyatakan as-as dan peil lantai dengan warna yang jelas. Sebelum melaksanakan
pemasangan bouwplank perlu dipelajari terlebih dahulu mengenai denah lokasi dan
gambar kerja. Pelaksanaan pemasangan bouwplank dapat dilakukan sebagai berikut
:
1. Memasang patok diluar bangunan dengan jarak ± 2 m dari bangunan as
tersebut.
2. Penempatan patok dan papan bouwplank sesuai dengan gambar denah
bouwplank.
3. Dari as-as bangunan dipasang benang sesuai dengan lebar galian pondasi.
Memasang benang dari as sesuai dengan lebar galian pondasi.

3.4 Pekerjaan Tanah


Pekerjaan tanah yang terdapat pada pekerjaan pondasi meliputi pekerjaan
galian tanah, pekerjaan urugan tanah, dan pekerjaan urugan pasir. Pekerjaan urugan
pasir dapat dikerjakan setelah pekerjaan galian pada tempat terebut telah selesai
tetapi tidak harus menunggu sampai pekerjaan semua galian selesai secara
keseluruhan.

3.4.1 Galian Tanah


Pada rencana pelaksanaan proyek ini, pekerjaan galian tanah dilakukan
untuk pondasi telapak (footplat) dan pondasi batu kali. Pada waktu perencanaan
struktur, sloof dianggap sebagai struktur tetapi dibawah sloof tetap diberi pondasi
batu kali. Setelah pekerjaan pengukuran dan pemasangan bouwplank telah selesai
dikerjakan, maka selanjutnya dilanjutkan dengan pekerjaan galian tanah. Ukuran
galian disesuaikan dengan bentuk dan tipe pondasi yang ada di gambar.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan galian antara lain :
a. Peralatan yang digunakan sesuai dengan volume pekerjaan dan jenis tanah.
Pada proyek ini pekerjaan galian dilakukan secara manual dengan cangkul
dan sekop atau peralatan gali manual lainnya dikarenakan volume yang
sedikit;
b. Penempatan tanah galian diatur sehingga tidak merusak bouwplank atau patok
juga dijaga agar tidak longsor;
c. Muka air tanah pada lokasi galian, bila ternyata letak muka air tanah lebih
tingi dari galian maka perlu dilakukan dewatering (pemompaan).

3.4.2 Urugan Tanah


Pekerjaan urugan tanah dilakukan setelah pekerjaan pembetonan pondasi.
Urugan tanah ini disesuaikan dengan pondasinya. Urugan tanah bertujuan untuk
menahan gaya geser ataupun penurunan pada pondasi sehingga pondasi menjadi
kuat dan mampu menahan beban di atasnya. Tanah yang digunakan untuk urugan
ini adalah tanah dari galian tersebut sehingga tidak memerlukan pembelian tanah
urug.

3.4.3 Urugan Pasir


Setelah pekerjaan galian tanah pondasi foot plat selesai, maka dasar galian
pondasi footplat diurug dengan sirtu setebal 10 cm. Lapisan sirtu ini dihamparkan,
diratakan dan dipadatkan dengan ruskam kayu atau alat perata dan alat pemadat
yang lain. Pekerjaan pengurugan sirtu ini dimaksudkan untuk landasan lantai kerja
dan menyebarkan beban pada pondasi tersebut serta untuk penyekat antara tanah
dengan beton pada waktu pengecoran sehingga kekuatan pondasi sesuai dengan
yang diinginkan. Volumenya sesuai dengan perencanan yang telah dibuat.

3.5 Pekerjaan Acuan dan Perancah


Perancah adalah alat bantu berupa sebuah bangunan sementara yang
digunakan pada pekerjaan konstruksi yang sedang dilaksanakan, perancah ini
bertujuan untuk menunjang beban, atau jalan kerja / tempat kerja yang aman
sebelum bangunan permanen selesai.
Pada proyek pembangunan ini bahan perancah yang digunakan adalah :
- Kayu ( Kelas II / Mutu A )
- Untuk tiang penyangga digunakan scaffolding
3.5.1 Beban yang Bekerja pada Acuan dan Perancah
1. Beban vertikal yang diakibatkan oleh berat sendiri campuran beton, beban
peralatan dan beban pekerja.
2. Beban tambahan dari air campuran beton.
3. Beban getaran yang disebabkan oleh alat penggetar, dan pergerakan
peralatan kerja atau manusia
4. Beban kejut dapat diakibatkan oleh proses pengangkutan campuran beton,
tindakan mematikan dan menghidupkan mesin-mesin yang digunakan.
5. Beban horizontal yang mungkin bekerja selama proses pengerjaan adalah
beban angin, tarikan kabel, kemiringan perancah.

3.5.2 Pemilihan Sistem


Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan sistem
acuan perancah yang akan digunakan antara lain :
1. Konfigurasi struktur bangunan yang dirancang
2. Waktu pelaksanaan
3. Alat bantu yang diperlukan
4. Lokasi pekerjaan
5. Biaya
6. Akses keluar masuk proyek

3.5.3 Perhitungan Kekuatan Acuan dan Perancah


3.5.3.1 Bekisting Pondasi Foot Plat
Perhitungan cetakan dan perancah sebagai berikut :
a. Data perhitungan
- Ukuran pondasi footplat adalah 150 x 150 x 20 cm
- Berat jenis beton (  ) = 2400 kg/m3
- Tinggi rencana pengecoran (H) = 30 cm
- Slump = 100 mm
Bahan cetakan papan kelas II
- Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
- Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
- Tegangan geser ijin (σ) = 12 kg/cm2
- Modulus elastisitas (E) = 100.000 kg/cm2

b. Kecepatan Pengecoran
- Volume beton = 1,5 x 1,5 x 0,2 = 0,45 m3
- Volume ready mix = 7 m3
- Periode pengecoran (mengambil, mengangkat, mengecor) diambil 10
menit.
- Waktu yang diperlukan untuk pengecoran pondasi telapak :
𝑉 𝑝𝑜𝑛𝑑𝑎𝑠𝑖 0,45
T= x periode = x 10 = 0,643 menit
𝑉 𝑟𝑒𝑎𝑑𝑦 𝑚𝑖𝑥 7
0,643
= = 0,011 jam
60

𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑗𝑎𝑡𝑢ℎ
- Kecepatan pengecoran ( R ) =
𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑐𝑜𝑟𝑎𝑛
0,2
= = 18,67 m3/jam
0,011

c. Perhitungan tekanan
- Tekanan yang diperhitungkan adalah tekanan Hidrostatik
PH = 24 x H
= 24 x 0,2 = 4,8 kPa

- Tekanan akibat pengaruh cuaca (Stiffening)


𝛾𝑅𝐾 2400 𝑥 18,667 𝑥 0,65
PS = +5 = +5
100 100
= 296,2 kPa
K = 0,65 → dari tabel 3.1 (suhu 30°C dan slump rata-rata 100 mm)

- Tekanan akibat teknik pengecoran/pelengkungan (Arching)


𝑑
PA = 15 + 3R + karena d = 200 mm < 500 mm maka
10
1500
PA = 15 + 3 x 18,67 + = 221 kPa
10

- Tekanan akibat pengaruh benturan cetakan dengan beton cair (Impact


effect)
PI = 4𝛾103 (𝑘𝑃𝑎)
PI = 4 𝑥 2400 𝑥 103 (𝑘𝑃𝑎) = 9,6 kPa

d. Perhitungan Kekuatan
- Sehingga perhitungan tekanan kekuatan ke samping yang menentukan
:
P desain = nilai terkecil dari (PH atau PA atau PS) + PI
P desain = PS + PI = 4,8 + 9,6 = 14,4 kPa

- Beban merata (q rencana yang timbul) yang timbul


q = (q2 +q1)
(q1+q2)
q = xh
2
(9,6+14,4)
q = x 0,2 = 2,4 kN/m
2
Sehingga M maks untuk 4 tumpuan = 0,0779 ql2
Mmax = 0,0779 x 2,4 l2

e. Perhitungan jarak klam pengaku dengan papan (2/10)


- Tegangan lentur
𝑀𝐴𝐵
𝜎𝑙𝑡𝐴𝐵 =
𝑊
0,0779 x 2,4 l2
100 = 1⁄ x 20 x 152
6

1⁄ 𝑥 20 𝑥 1,52 𝑥 100
√ 6
L = = 62,5 cm
0,0779 𝑥 2,4

- Berdasarkan lendutan :
3,07 x 0,0021 x ql4
f AB =
EI
1
f ijin = L
400
1 3,07 x 0,0021 x ql4
L =
400 EI

3 EI
L = √400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x 12 x 40 x 1,83
= √
400 x 3,07 x 0,0021 x 3,381

= 105,609 cm
Maka klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak 50 cm.

3.5.3.2 Bekisting Kaki Kolom


a. Data Perhitungan
Dimensi = 40 x 40 x 255cm
Berat jenis beton (γ) = 2400 kg/m3
Tinggi rencana pengecoran (H) = 255 cm
Suhu beton (T) = 30˚C
Slump beton (S) = 100 mm

Bahan cetakan papan kelas II


Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
Tegangan geser ijin (σ//) = 12 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100000 kg/cm2

Bahan perancah kayu kelas II


Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
Tegangan geser ijin (σ//) = 12 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100000 kg/cm2

b. Kecepatan Pengecoran
Volume beton = 0,4 x 0,4 x 2,55
= 0,408 m3
Voume ember pengecoran
25 cm

1
V = 3 x π x t x (R2 + r 2 + (R x r))
1
=3 x π x 0,25 x (0.1252 + 0.082 + (0.125 x 0.08))

= 0,0084 m3
Periode pengecoran (mengambil, mengangkat, mengecor) diambil 3
menit.
Waktu yang diperlkan untuk pengecoran dengan catatan waktu 3 menit
dibutuhkan volume 6 menit.
V kaki kolom
Waktu yang diperlukan = x periode
V ember
0,408
= x3
0,0084 x 6

= 24,344 menit
24,344
=
60
= 0,405 jam
tinggi jatuh
Kecepatan pengecoran (R) =
waktu pengecoran
2,55
=
0,405

= 6,284 m3/jam

c. Perhitungan Tekanan
Tekanan yang diperhitungkan adalah tekana hidrostatik
PH = 24 x H
= 24 x 2,55
= 61,2 Kpa

Tekanan akibat pengaruh cuaca (Stiffening)


γRK
PS = +5 , K = 0,65 dari tabel 3.1 (suhu 30˚C dan slump rata-
100
rata 100 mm)
2400 x 6,285 x 0,65
= +5
100
= 103,044 Kpa

Tekanan akibat teknik pengecoran/pelengkungan (Arching)


d
PA = 15 + 3R + 10 karena d = 400 mm ≤ 500 mm
400
= 15 + 3 x 6,285 + 10

= 73,854 Kpa

Tekanan akibat pengaruh benturan cetaka dengan beton cair (impact


effect)
PI = 4 γ 10-3
= 4 x 2400 x 10-3
= 9,6 Kpa

d. Perhitungan Kekuatan
Sehingga perhitungan tekanan kekuatan ke samping yang menentukan :
P desain = nilai terkecil dari (PH atau PA atau PS) + PI
= PH + PI
= 61,2 + 9,6
= 70,8 Kpa

Beban merata yang timbul


q = P desain x tebal kolom
= 70,8 x 0,4
= 28,32 kN/m
= 28,32 kg/cm
Sehingga Mmax untuk 5 tumpuan atau lebih = 0,0779ql2

e. Perhitungan jarak klem pengaku horizontal dengan papan 2/10


Berdasarkan tegangan lentur
MAB
σltAB =
W
0,0779 x 28,32 x l2
100 = 1
x 40 x 1,82
6

1⁄ x 40 x 1,82 x 100
L =√ 6
0,0779 x 28,32

= 31,290 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 40 x 1,83
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 28,32

= 29,858 cm
Jadi jarak klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak = 25 cm

f. Perhitungan jarak klam pengaku vertikal dengan kayu 5/7


Beban merata (q rencana) yang timbul
q = P desain x jarak klam horizontal
= 70,8 x 0,25
= 17,7 kg/cm
Berdasarkan tegangan lentur
MAB
σltAB = W

0,0779 x 17,7 x l2
100 = 1
x 5 x 72
6

1⁄ x 5 x 72 x 100
L =√ 6
0,0779 x 17,7

= 54,419 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 5 x 73
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 17,7

= 67,904 cm
Jadi jarak klam pengaku vertikal dipasang setiap jarak = 35 cm

g. Perhitungan jarak balok penjepit horizontal 5/7 cm


Beban merata (q rencana) yang timbul
q = q1 + q2
= (9,6 x 0,4) + (61,2 x 0,35)
= 25,26 kN/m
Berdasarkan tegangan lentur
MAB
σltAB =
W
0,0779 x 25,26 x l2
100 = 1
x 5 x 72
6

1⁄ x 5 x 72 x 100
L =√ 6
0,0779 x 25,26

= 45,553 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 5 x 73
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 25,26

= 60,312 cm
Jadi jarak balok penjepit horizontal = 60 cm
pengaku vertikal 5/7
klem pengaku horizontal 2/10

penjepit horizontal 5/7

multiplek 18mm
40

rapid klem

35
40

TAMPAK ATAS

40

klem pengaku horizontal 2/10


penjepit horizontal 5/7


pengaku vertikal 5/7



rapid klem


 

 









 








TAMPAK SAMPING

Gambar 3.3 Bekisting Kaki Kolom

3.5.3.3 Bekisting Sloof


Perhitungan cetakan dan perancah sebagai berikut :
a. Data perhitungan
- Ukuran sloof adalah 20 x 50 cm
- Berat jenis beton (  ) = 2400 kg/m3
- Tinggi rencana pengecoran (H) = 50 cm
- Slump = 100 mm
Bahan cetakan papan kelas II
- Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
- Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
- Tegangan geser ijin (σ) = 12 kg/cm2
- Modulus elastisitas (E) = 100.000 kg/cm2

b. Kecepatan Pengecoran
- Volume beton = 0,2 x 0,5 x 6,5 = 0,65 m3
- Volume ready mix = 7 m3
- Periode pengecoran (mengambil, mengangkat, mengecor) diambil 15
menit.
- Waktu yang diperlukan untuk pengecoran sloof :
V sloof 0,65
T= x periode = x 15 = 1,393 menit
V ready mix 7
1,393
= = 0,023 jam
60

Tinggi jatuh
- Kecepatan pengecoran ( R ) =
waktu pengecoran
0,5
= = 21,538 m3/jam
0,023

c. Perhitungan tekanan
- Tekanan yang diperhitungkan adalah tekanan Hidrostatik
PH = 24 x H
= 24 x 0,5 = 12 kPa

- Tekanan akibat pengaruh cuaca (Stiffening)


γRK 2400 x 21,538 x 0,65
PS = +5 = +5
100 100
= 341 kPa
K = 0,65 → dari tabel 3.1 (suhu 30°C dan slump rata-rata 100 mm)

- Tekanan akibat teknik pengecoran/pelengkungan (Arching)


𝑑
PA = 15 + 3R + karena d = 200 mm < 500 mm maka
10
500
PA = 15 + 3 x 21,538 + = 129,615 kPa
10

- Tekanan akibat pengaruh benturan cetakan dengan beton cair (Impact


effect)
PI = 4γ103 (kPa)
PI = 4 x 2400 x 103 (kPa) = 9,6 kPa

d. Perhitungan Kekuatan
- Sehingga perhitungan tekanan kekuatan ke samping yang menentukan
:
P desain = nilai terkecil dari (PH atau PA atau PS) + PI
P desain = PS + PI = 12 + 9,6
= 21,6 kPa

- Beban merata (q rencana yang timbul) yang timbul


q = (q2 +q1)
(q1+q2)
q = xh
2
(9,6+21,6)
q = x 0,5 = 7,8 kN/m
2
Sehingga M maks untuk 5 tumpuan = 0,0779 ql2
Mmax = 0,0779 x 2,4 l2
e. Perhitungan jarak klam pengaku horizonal dengan papan 2/10 dan bahan
cetakan adalah multiplek 18 mm
- Tegangan lentur
MAB
𝜎𝑙𝑡𝐴𝐵 =
W
0,0779 x 7,8 l2
100 = 1
⁄6 x 50 x 1,82

1⁄ x 50 x 1,82 x 100
√ 6
L = = 66,66 cm
0,0779 x 7,8

- Berdasarkan lendutan :
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f AB =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L =
400 𝐸𝐼

3 𝐸𝐼
L = √400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞

3 1
100000 𝑥 12 𝑥 50 𝑥 1,83
= √
400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 7,8

= 49,434 cm
Maka klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak 40 cm.

3.5.3.4 Bekisting Kolom


a. Data Perhitungan
Dimensi = 40 x 40 cm
Berat jenis beton (γ) = 2400 kg/m3
Tinggi rencana pengecoran (H) = 400 cm
Suhu beton (T) = 30˚C
Slump beton (S) = 100 mm
Bahan cetakan papan kelas II
Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
Tegangan geser ijin (σ//) = 12 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100000 kg/cm2

Bahan perancah kayu kelas II


Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
Tegangan geser ijin (σ//) = 12 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100000 kg/cm2

b. Kecepatan Pengecoran
Volume beton = 0,4 x 0,4 x 4
= 0,64 m3
Voume ready mix = 7 m3

Periode pengecoran (mengecor, mengangkat, memadatkan) diambil 20


menit

V kolom
Waktu yang diperlukan = x periode
V 𝑟𝑒𝑎𝑑𝑦 𝑚𝑖𝑥
0,64
= x 20
7
= 1,828 menit
1,828
=
60
= 0,030 jam
tinggi jatuh
Kecepatan pengecoran (R) =
waktu pengecoran
4
=
0,03
= 131,25 m3/jam

c. Perhitungan Tekanan
Tekanan yang diperhitungkan adalah tekana hidrostatik
PH = 24 x H
= 24 x 4
= 96 Kpa

Tekanan akibat pengaruh cuaca (Stiffening)


γRK
PS = +5 , K = 0,65 dari tabel 3.1 (suhu 30˚C dan slump rata-
100

rata 100 mm)


2400 x 131,250 x 0,65
= +5
100
= 2052,5 Kpa

Tekanan akibat teknik pengecoran/pelengkungan (Arching)


d
PA = 15 + 3R + 10 karena d = 400 mm ≤ 500 mm
400
= 15 + 3 x 131,250 + 10

= 448,75 Kpa

Tekanan akibat pengaruh benturan cetaka dengan beton cair (impact


effect)
PI = 4 γ 10-3
= 4 x 2400 x 10-3
= 9,6 Kpa

d. Perhitungan Kekuatan
Sehingga perhitungan tekanan kekuatan ke samping yang menentukan :
P desain = nilai terkecil dari (PH atau PA atau PS) + PI
= PH + PI
= 96 + 9,6
= 105,6 Kpa

Beban merata yang timbul


q = P desain x tebal kolom
= 105,6 x 0,4
= 42,24 kN/m
= 42,24 kg/cm

Sehingga Mmax untuk 5 tumpuan atau lebih = 0,0779ql2


Mmax = 0,0779 x 42,24 x l2

e. Perhitungan jarak klem pengaku horizontal multiplek


Bahan cetakan adalah multiplek 18 mm
Berdasarkan tegangan lentur
MAB
σltAB =
W
0,0779 x 42,24 x l2
100 = 1
x 40 x 1,82
6

1⁄ x 40 x 1,82 x 100
L =√ 6
0,0779 x 42,24

= 25,621 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L=
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 40 x 1,83
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 42,24

= 26,132 cm
Jadi jarak klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak = 25 cm

f. Perhitungan jarak klem pengaku vertical denga kayu 5/7


Beban merata (q rencana) yang timbul
q = P desain x jarak klam horizontal
= 105,6 x 0,25
= 26,4 kg/cm

Berdasarkan tegangan lentur


MAB
σltAB =
W
0,0779 x 26,4 x l2
100 = 1
x 5 x 72
6

1⁄ x 5 x 72 x 100
L =√ 6
0,0779 x 26,4

= 44,559 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L
1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 5 x 73
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 26,4

= 59,432 cm
Jadi jarak klam pengaku vertikal dipasang setiap jarak = 35 cm

g. Perhitungan jarak balok penjepit horizontal 5/7 cm


Beban merata (q rencana) yang timbul
q = q1 + q2
= (9,6 x 0,4) + (96 x 0,35)
= 37,44 kg/cm

Berdasarkan tegangan lentur


MAB
σltAB =
W
0,0779 x 37,44 x l2
100 = 1
x 5 x 72
6

1⁄ x 5 x 72 x 100
L =√ 6
0,0779 x 37,44

= 37,417 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI
3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 5 x 73
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 37,44

= 52,898 cm
Jadi jarak klam pengaku vertikal dipasang setiap jarak = 50 cm
40

 



klem pengaku  

horizontal 2/10


pengaku vertikal 5/7 



 
penjepit horizontal

 5/7 

 

rapid klem 

 



 



 

TAMPAK SAMPING

pengaku vertikal 5/7


klem pengaku horizontal 2/10

penjepit horizontal 5/7

multiplek 18mm
40

rapid klem

35
40

TAMPAK ATAS

Gambar 3.4 Bekisting Kolom

3.5.3.5 Bekisting Balok


A. Bekisting Balok Induk 30 x 60 cm
1. Data perhitungan
- Ukuran balok induk adalah 30 x 60 cm
- Berat jenis beton (  ) = 2400 kg/m3
- Tinggi rencana pengecoran (H) = 60 cm
- Slump = 100 mm
Bahan cetakan papan kelas II
- Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
- Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
- Tegangan geser ijin (σ) = 12 kg/cm2
- Modulus elastisitas (E) = 100.000 kg/cm2
2. Kecepatan Pengecoran
- Volume beton = 0,3 x 0,6 x 6,5 = 1,17 m3
- Volume ready mix = 7 m3
- Periode pengecoran (mengambil, mengangkat, mengecor) diambil 15
menit.
- Waktu yang diperlukan untuk pengecoran balok :
V balok 1,17
T= x periode = x 15 = 2,507 menit
V ready mix 7
2,507
= = 0,042 jam
60

Tinggi jatuh
- Kecepatan pengecoran ( R ) =
waktu pengecoran
0,6
= = 14,359 m3/jam
0,042

3. Perhitungan Cetakan Samping


Jarak klam pengaku vertical
Bahan cetakan adalah multiplek 18 mm dengan klam pengaku 2/10 cm
- Tekanan yang diperhitungkan adalah tekanan Hidrostatik
PH = 24 x H
= 24 x 0,6 = 14,4 kPa

- Tekanan akibat pengaruh cuaca (Stiffening)


γRK 2400 x 14,359 x 0,65
PS = +5 = +5
100 100
= 229 kPa
K = 0,65 → dari tabel 3.1 (suhu 30°C dan slump rata-rata 100 mm)

- Tekanan akibat teknik pengecoran/pelengkungan (Arching)


𝑑
PA = 15 + 3R +
10
600
PA = 15 + 3 x 14,359 + = 118,077 kPa
10

- Tekanan akibat pengaruh benturan cetakan dengan beton cair (Impact


effect)
PI = 4γ103 (kPa)
PI = 4 x 2400 x 103 (kPa) = 9,6 kPa

f. Perhitungan Kekuatan
- Sehingga perhitungan tekanan kekuatan ke samping yang menentukan
:
P desain = nilai terkecil dari (PH atau PA atau PS) + PI
P desain = PS + PI = 14,4 + 9,6
= 24 kPa

- Beban merata (q rencana yang timbul) yang timbul


q = (q2 +q1)
(q1+q2)
q = xh
2
(9,6 + 24)
q = x 0,5 = 10,08 kN/m
2
Sehingga M maks untuk 5 tumpuan = 0,0779 ql2
Mmax = 0,0779 x 10,8 l2
g. Perhitungan jarak klam pengaku horizonal dengan papan 2/10 dan bahan
cetakan adalah multiplek 18 mm
- Tegangan lentur
MAB
𝜎𝑙𝑡𝐴𝐵 =
W
0,0779 x 10,08 l2
100 = 1⁄ x 60 x 1,82
6

1⁄ x 60 x 1,82 x 100
√ 6
L = = 64,24 cm
0,0779 x 10,08

- Berdasarkan lendutan :
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f AB =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L =
400 𝐸𝐼

3 𝐸𝐼
L = √400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞
3 1
100000 𝑥 𝑥 60 𝑥 1,83
= √ 12
400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 10,08

= 48,228 cm
Maka klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak 40 cm.

4. Perhitungan Cetakan Bawah


a. Jarak gelagar anak 5/7
Berat sendiri beton = 0,3 x 0,6 x 2400 = 432 kg/m
Beban cetakan = 100 x 1 = 100 kg/m
Beban pekerja = 100 x 1 = 100 kg/m
Beban alat = 50 x 1 = 50 kg/m +
q = 682 kg/m
= 6,82 kg/cm
M maks untuk 5 bentang atau lebih = 0,0779 ql2
Mmax = 0,0779 x 6,82 l2

- Tegangan lentur
𝑀
𝜎𝑙𝑡 =
W
0,0779 x 6,82 l2
100 = 1⁄ x 30 x 1,82
6

1⁄ x 30 x 1,82 x 100
√ 6
L = = 5,52 cm
0,0779 x 6,82

- Berdasarkan lendutan :
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L =
400 𝐸𝐼
3 𝐸𝐼
L = √400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞

3 1
100000 𝑥 𝑥 30 𝑥 1,83
= √ 12
400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 6,82

= 43,6 cm
Maka klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak 40 cm.

- Kontrol berdasarkan Tegangan lentur


𝑀 0,0779 x 3,51 l2
𝜎𝑙𝑡𝑖𝑗𝑖𝑛 ≥ = 1⁄ x 5 x 72
𝑊
6
0,0779 x 3,51 x 402
100 > 1⁄ x 5 x 72
6
0,0779 x 3,51 x 402
100 > 1⁄ x 5 x 72
6
100 > 10,714 kg/cm2

- Kontrol berdasarkan Lendutan


3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L ≥
400 𝐸𝐼
40 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 3,51 𝑥 404
>
400 100000 𝑥 1⁄12 𝑥 30 𝑥 1,83

0,1 > 0,039 … OK

5. Jarak gelagar induk 5/7


a. Data perhitungan
Perhitungan beban
Berat sendiri beton = 0,3 x 0,6 x 2400 = 432 kg/m
Beban cetakan = 100 x 1 = 100 kg/m
Beban pekerja = 100 x 1 = 100 kg/m
Beban alat = 50 x 1 = 50 kg/m
Gelagar Anak = 20 x 1 = 20 kg/m +
q = 702 kg/m
= 7,02 kg/cm
1 1
q pakai = x q = x 7,02
2 2
= 3,51 kg/cm

- Tegangan lentur
𝑀
𝜎𝑙𝑡 =
W
0,0779 x 3,51 l2
100 = 1⁄ x 5 x 72
6

1⁄ x 5 x 72 x 100
√ 6
L = = 112,2 cm
0,0779 x 3,51

- Berdasarkan lendutan :
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L =
400 𝐸𝐼

3 𝐸𝐼
L = √400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞
3 1
100000 𝑥 𝑥 5 𝑥 73
= √ 12
400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 3,51

= 116,44 cm
Maka klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak 100 cm.

- Kontrol berdasarkan Tegangan lentur


𝑀 0,0779 x 3,51 l2
𝜎𝑙𝑡𝑖𝑗𝑖𝑛 ≥ = 1⁄ x 5 x 72
𝑊
6
0,0779 x 3,51 x 1002
100 > 1⁄ x 5 x 72
6
0,0779 x 3,51 x 1002
100 > 1⁄ x 5 x 72
6
100 > 66,96 kg/cm2 … OK

- Kontrol berdasarkan Lendutan


Dengan persamaan lendutan untuk 5 tumpuan atau lebih.
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L ≥
400 𝐸𝐼
100 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 3,51 𝑥 1004
>
400 100000 𝑥 1⁄12 𝑥 5 𝑥 73

0,25 > 0,158 cm … OK

B. Balok Anak X 20 x 50 cm
Perhitungan perancah dan bekisting balok
1. Data perhitungan
- Ukuran balok induk adalah 20 x 50 cm
- Berat jenis beton (  ) = 2400 kg/m3
- Tinggi rencana pengecoran (H) = 50 cm
- Slump = 100 mm
Bahan cetakan papan kelas II
- Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
- Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
- Tegangan geser ijin (σ) = 12 kg/cm2
- Modulus elastisitas (E) = 100.000 kg/cm2
2. Kecepatan Pengecoran
- Volume beton = 0,2 x 0,5 x 6,5 = 0,65 m3
- Volume ready mix = 7 m3
- Periode pengecoran (mengambil, mengangkat, mengecor) diambil 15
menit.
- Waktu yang diperlukan untuk pengecoran balok :
V balok 0,65
T= x periode = x 15 = 1,392 menit
V ready mix 7
1,392
= = 0,023 jam
60

Tinggi jatuh
- Kecepatan pengecoran ( R ) =
waktu pengecoran
0,5
= = 21.538 m3/jam
0,023

3. Perhitungan Cetakan Samping


Jarak klam pengaku vertical
Bahan cetakan adalah multiplek 18 mm dengan klam pengaku 2/10 cm
- Tekanan yang diperhitungkan adalah tekanan Hidrostatik
PH = 24 x H
= 24 x 0,5 = 12 kPa

- Tekanan akibat pengaruh cuaca (Stiffening)


γRK 2400 x 21.538 x 0,65
PS = +5 = +5
100 100
= 341 kPa
K = 0,65 → dari tabel 3.1 (suhu 30°C dan slump rata-rata 100 mm)

- Tekanan akibat teknik pengecoran/pelengkungan (Arching)


𝑑
PA = 15 + 3R +
10
500
PA = 15 + 3 x 21.539 + = 129,615 kPa
10

- Tekanan akibat pengaruh benturan cetakan dengan beton cair (Impact


effect)
PI = 4γ103 (kPa)
PI = 4 x 2400 x 103 (kPa) = 9,6 kPa

h. Perhitungan Kekuatan
- Sehingga perhitungan tekanan kekuatan ke samping yang menentukan
:
P desain = nilai terkecil dari (PH atau PA atau PS) + PI
P desain = PS + PI = 12 + 9,6
= 21,6 kPa

- Beban merata (q rencana yang timbul) yang timbul


q = (q2 +q1)
(q1+q2)
q = xh
2
(9,6 + 21,6)
q = x 0,5 = 7,8 kN/m
2
Sehingga M maks untuk 5 tumpuan = 0,0779 ql2
Mmax = 0,0779 x 7,8 l2
i. Perhitungan jarak klam pengaku horizonal dengan papan 2/10 dan bahan
cetakan adalah multiplek 18 mm
- Tegangan lentur
MAB
𝜎𝑙𝑡𝐴𝐵 =
W
0,0779 x 7,8 l2
100 = 1⁄ x 50 x 1,82
6

1⁄ x 50 x 1,82 x 100
√ 6
L = = 66,66 cm
0,0779 x 7,8

- Berdasarkan lendutan :
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f AB =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L =
400 𝐸𝐼

3 𝐸𝐼
L = √400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞
3 1
100000 𝑥 𝑥 50 𝑥 1,83
= √ 12
400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 7,8

= 49,435 cm
Maka klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak 40 cm.

6. Perhitungan Cetakan Bawah


a. Jarak gelagar anak 5/7
Berat sendiri beton = 0,2 x 0,5 x 2400 = 240 kg/m
Beban cetakan = 100 x 1 = 100 kg/m
Beban pekerja = 100 x 1 = 100 kg/m
Beban alat = 50 x 1 = 50 kg/m +
q = 490 kg/m
= 4,9 kg/cm
M maks untuk 5 bentang atau lebih = 0,0779 ql2
Mmax = 0,0779 x 4,9 l2

- Tegangan lentur
𝑀
𝜎𝑙𝑡 =
W
0,0779 x 4,9 l2
100 = 1⁄ x 20 x 1,82
6

1⁄ x 20 x 1,82 x 100
√ 6
L = = 53,19 cm
0,0779 x 4,9

- Berdasarkan lendutan :
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L =
400 𝐸𝐼

3 𝐸𝐼
L = √400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞

3 1
100000 𝑥 12 𝑥 20 𝑥 1,83
= √
400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 4,9

= 42,53cm
Maka klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak 40 cm.

- Kontrol berdasarkan Tegangan lentur


𝑀 0,0779 x 4,9 l2
𝜎𝑙𝑡𝑖𝑗𝑖𝑛 ≥ = 1
𝑊 ⁄6 x 5 x 72

0,0779 x 3,51 x 402


100 > 1⁄ x 5 x 72
6
0,0779 x 3,51 x 402
100 > 1⁄ x 5 x 72
6
100 > 10,714 kg/cm2

- Kontrol berdasarkan Lendutan


3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L ≥
400 𝐸𝐼
40 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 3,51 𝑥 404
>
400 100000 𝑥 1⁄12 𝑥 30 𝑥 1,83

0,1 > 0,039 … OK

7. Jarak gelagar induk 5/7


a. Data perhitungan
Perhitungan beban
Berat sendiri beton = 0,2 x 0,5 x 2400 = 240 kg/m
Beban cetakan = 100 x 1 = 100 kg/m
Beban pekerja = 100 x 1 = 100 kg/m
Beban alat = 50 x 1 = 50 kg/m
Gelagar Anak = 20 x 1 = 20 kg/m +
q = 510 kg/m
= 5,1 kg/cm
1 1
q pakai = x q = x 5,1
2 2
= 2,55 kg/cm

- Tegangan lentur
𝑀
𝜎𝑙𝑡 =
W
0,0779 x 2,55 l2
100 = 1⁄ x 5 x 72
6

1⁄ x 5 x 72 x 100
√ 6
L = = 143,373 cm
0,0779 x 2,55

- Berdasarkan lendutan :
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L =
400 𝐸𝐼

3 𝐸𝐼
L = √400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞
3 1
100000 𝑥 𝑥 5 𝑥 73
= √ 12
400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 2,55

= 129,53 cm
Maka klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak 100 cm.

- Kontrol berdasarkan Tegangan lentur


𝑀 0,0779 x 2,55 l2
𝜎𝑙𝑡𝑖𝑗𝑖𝑛 ≥ = 1⁄ x 5 x 72
𝑊
6
0,0779 x q x l2
100 > 1⁄ x 5 x 72
6
0,0779 x 2,55 x 1002
100 > 1⁄ x 5 x 72
6
100 > 48,65 kg/cm2 … OK

- Kontrol berdasarkan Lendutan


Dengan persamaan lendutan untuk 5 tumpuan atau lebih.
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L ≥
400 𝐸𝐼
100 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 2,55 𝑥 1004
>
400 100000 𝑥 1⁄12 𝑥 5 𝑥 73

0,25 > 0,115 cm … OK

C. Balok Anak Y 20 x 30 cm
Perhitungan perancah dan bekisting balok
1. Data perhitungan
- Ukuran balok induk adalah 20 x 30 cm
- Berat jenis beton (  ) = 2400 kg/m3
- Tinggi rencana pengecoran (H) = 30 cm
- Slump = 100 mm
Bahan cetakan papan kelas II
- Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
- Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
- Tegangan geser ijin (σ) = 12 kg/cm2
- Modulus elastisitas (E) = 100.000 kg/cm2
2. Kecepatan Pengecoran
- Volume beton = 0,2 x 0,3 x 6,5 = 0,39 m3
- Volume ready mix = 7 m3
- Periode pengecoran (mengambil, mengangkat, mengecor) diambil 15
menit.
- Waktu yang diperlukan untuk pengecoran balok :
V balok 0,39
T= x periode = x 15 = 0,836 menit
V ready mix 7
0,836
= = 0,014 jam
60

Tinggi jatuh
- Kecepatan pengecoran ( R ) =
waktu pengecoran
0,3
= = 21.538 m3/jam
0,014

3. Perhitungan Cetakan Samping


Jarak klam pengaku vertical
Bahan cetakan adalah multiplek 18 mm dengan klam pengaku 2/10 cm
- Tekanan yang diperhitungkan adalah tekanan Hidrostatik
PH = 24 x H
= 24 x 0,3 = 7,2 kPa

- Tekanan akibat pengaruh cuaca (Stiffening)


γRK 2400 x 21.538 x 0,65
PS = +5 = +5
100 100
= 341 kPa
K = 0,65 → dari tabel 3.1 (suhu 30°C dan slump rata-rata 100 mm)

- Tekanan akibat teknik pengecoran/pelengkungan (Arching)


𝑑
PA = 15 + 3R +
10
500
PA = 15 + 3 x 21.539 + = 129,615 kPa
10

- Tekanan akibat pengaruh benturan cetakan dengan beton cair (Impact


effect)
PI = 4γ103 (kPa)
PI = 4 x 2400 x 103 (kPa) = 9,6 kPa

j. Perhitungan Kekuatan
- Sehingga perhitungan tekanan kekuatan ke samping yang menentukan
:
P desain = nilai terkecil dari (PH atau PA atau PS) + PI
P desain = PS + PI = 7,2 + 9,6
= 16,8 kPa

- Beban merata (q rencana yang timbul) yang timbul


q = (q2 +q1)
(q1+q2)
q = xh
2
(9,6 + 16,8)
q = x 0,3 = 3,96 kN/m
2
Sehingga M maks untuk 5 tumpuan = 0,0779 ql2
Mmax = 0,0779 x 3,96 l2
k. Perhitungan jarak klam pengaku horizonal dengan papan 2/10 dan bahan
cetakan adalah multiplek 18 mm
- Tegangan lentur
MAB
𝜎𝑙𝑡𝐴𝐵 =
W
0,0779 x 3,96 l2
100 = 1⁄ x 20 x 1,82
6

1⁄ x 20 x 1,82 x 100
√ 6
L = = 72,47 cm
0,0779 x 3,96

- Berdasarkan lendutan :
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f AB =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L =
400 𝐸𝐼

3 𝐸𝐼
L = √400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞
3 1
100000 𝑥 𝑥 20 𝑥 1,83
= √ 12
400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 3,96

= 45,658 cm
Maka klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak 40 cm.

8. Perhitungan Cetakan Bawah


a. Jarak gelagar anak 5/7
Berat sendiri beton = 0,2 x 0,3 x 2400 = 144 kg/m
Beban cetakan = 100 x 1 = 100 kg/m
Beban pekerja = 100 x 1 = 100 kg/m
Beban alat = 50 x 1 = 50 kg/m +
q = 394 kg/m
= 3,94 kg/cm
M maks untuk 5 bentang atau lebih = 0,0779 ql2
Mmax = 0,0779 x 3,96 l2

- Tegangan lentur
𝑀
𝜎𝑙𝑡 =
W
0,0779 x 3,96 l2
100 = 1⁄ x 20 x 1,82
6

1⁄ x 20 x 1,82 x 100
√ 6
L = = 59,17 cm
0,0779 x 3,96

- Berdasarkan lendutan :
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L =
400 𝐸𝐼

3 𝐸𝐼
L = √400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞

3 1
100000 𝑥 12 𝑥 20 𝑥 1,83
= √
400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 3,96

= 45,66 cm
Maka klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak 40 cm.

- Kontrol berdasarkan Tegangan lentur


𝑀 0,0779 x q l2
𝜎𝑙𝑡𝑖𝑗𝑖𝑛 ≥ = 1
𝑊 ⁄6 x 5 x 72

0,0779 x 3,96 x 402


100 > 1⁄ x 5 x 72
6
0,0779 x 3,96 x 402
100 > 1⁄ x 5 x 72
6
100 > 12,08 kg/cm2

- Kontrol berdasarkan Lendutan


3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L ≥
400 𝐸𝐼
40 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 3,96 𝑥 404
>
400 100000 𝑥 1⁄12 𝑥 20 𝑥 1,83

0,1 > 0,067 … OK

9. Jarak gelagar induk 5/7


b. Data perhitungan
Perhitungan beban
Berat sendiri beton = 0,2 x 0,3 x 2400 = 144 kg/m
Beban cetakan = 100 x 1 = 100 kg/m
Beban pekerja = 100 x 1 = 100 kg/m
Beban alat = 50 x 1 = 50 kg/m
Gelagar Anak = 20 x 1 = 20 kg/m +
q = 414 kg/m
= 4,14 kg/cm
1 1
q pakai = x q = x 4,14
2 2
= 2,07 kg/cm

- Tegangan lentur
𝑀
𝜎𝑙𝑡 =
W
0,0779 x 2,07 l2
100 = 1⁄ x 5 x 72
6

1⁄ x 5 x 72 x 100
√ 6
L = = 298,83 cm
0,0779 x 2,07

- Berdasarkan lendutan :
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L =
400 𝐸𝐼

3 𝐸𝐼
L = √400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞
3 1
100000 𝑥 𝑥 5 𝑥 73
= √ 12
400 𝑥 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 2,07

= 140 cm
Maka klam pengaku horizontal dipasang setiap jarak 100 cm.

- Kontrol berdasarkan Tegangan lentur


𝑀 0,0779 x 2,07 l2
𝜎𝑙𝑡𝑖𝑗𝑖𝑛 ≥ = 1⁄ x 5 x 72
𝑊
6
0,0779 x q x l2
100 > 1⁄ x 5 x 72
6
0,0779 x 2,07 x 1002
100 > 1⁄ x 5 x 72
6
100 > 39,49 kg/cm2 … OK

- Kontrol berdasarkan Lendutan


Dengan persamaan lendutan untuk 5 tumpuan atau lebih.
3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
f =
𝐸𝐼
1
f ijin = L
400
1 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 𝑞𝑙 4
L ≥
400 𝐸𝐼
100 3,07 𝑥 0,0021 𝑥 2,07 𝑥 1004
>
400 100000 𝑥 1⁄12 𝑥 5 𝑥 73

0,25 > 0,093 cm … OK

3.5.3.6 Bekisting Plat


a. Data Perhitungan
Tebal plat = 12 cm
Berat jenis beton (γ) = 2400 kg/m3
Tinggi rencana pengecoran (H) = 40 cm

Bahan cetakan papan kelas II


Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
Tegangan geser ijin (σ//) = 12 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100000 kg/cm2

Bahan perancah kayu kelas II


Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
Tegangan geser ijin (σ//) = 12 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100000 kg/cm2

b. Pembebanan
Beban beton = 2400 x 0,12 x 1 = 288 kg/m
Beban cetakan (ditaksir) = 100 kg/m
Beban alat (ditaksir) = 50 kg/m
Beban hidup (ditaksir) = 100 kg/m
+
q total = 538 kg/m
= 5,38 kg/cm

c. Perhitungan cetakan samping


Jarak klam pengaku vertical
Dengan persaman lendutan untu 5 tumpuan atau lebih
Berdasarkan tegangan lentur
MAB
σltAB =
W
0,0779 x 5,38 x l2
100 = 1
x 40 x 1,82
6
1⁄ x 40 x 1,82 x 100
L =√ 6
0,0779 x 5,38

= 71,79 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 40 x 1,83
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 5,38

= 51,939 cm
Jadi jarak klam pengaku dipasang setiap jarak 50 cm

d. Perhitungan cetakan bawah


Jarak gelagar anak 6/12 cm
Perhitungan beban jika diambil setiap 1 m
Beban beton = 2400 x 0,12 x 1 = 288 kg/m
Beban cetakan (ditaksir) = 100 kg/m
Beban alat (ditaksir) = 50 kg/m
Beban hidup (ditaksir) = 100 kg/m
+
q total = 538 kg/m
= 5,38 kg/cm

Berdasarkan tegangan lentur


MAB
σltAB =
W
0,0779 x 5,38 x l2
100 = 1
x 100 x 1,82
6

1⁄ x 100 x 1,82 x 100


L =√ 6
0,0779 x 5,38

= 113,510 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 100 x 1,83
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 5,38

= 70,492 cm
Jadi jarak anak gelagar 6/12 dipasang setiap jarak 70 cm

Cek terhadap lebar scaffolding


Perhitungan beban
Beban beton = 2400 x 0,12 x 1 = 288 kg/m
Beban cetakan (ditaksir) = 100 kg/m
Beban alat (ditaksir) = 50 kg/m
Beban hidup (ditaksir) = 100 kg/m
+
q total = 538 kg/m
= 5,38 kg/cm

Berdasarkan tegangan lentur


MAB
σltAB =
W
0,0779 x 3,94 x l2
100 = 1
x 6 x 122
6

1⁄ x 6 x 122 x 100
L =√ 6
0,0779 x 5,38

= 185,362 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 6 x 123
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 5,38

= 183,980 cm
Bentang maksimal 185 cm > 120 cm OK

e. Jarak geagar induk (6/12 cm)


Perhitungan beban jika diambil setiap 1 m
Beban beton = 2400 x 0,12 x 1 = 288 kg/m
Beban cetakan (ditaksir) = 100 kg/m
Beban alat (ditaksir) = 50 kg/m
Beban hidup (ditaksir) = 100 kg/m
+
q total = 538 kg/m
= 5,38 kg/cm

Berdasarkan tegangan lentur


MAB
σltAB =
W
0,0779 x 5,38 x l2
100 = 1
x 6 x 122
6

1⁄ x 6 x 122 x 100
L =√ 6
0,0779 x 5,38

= 185,362 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 6 x 123
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 5,38

= 183,980 cm
Jadi jarak gelagar induk 6/12 dipasang setiap jarak 120 cm

Cek terhadap lebar scaffolding


Perhitungan beban
Beban beton = 2400 x 0,12 x 1,2 = 345,6 kg/m
Beban cetakan (ditaksir) = 100 kg/m
Beban alat (ditaksir) = 50 kg/m
Beban hidup (ditaksir) = 100 kg/m
Gelagar anak (ditaksir) = 20 kg/m
+
q total = 615,6 kg/m
= 6,156 kg/cm

Berdasarkan tegangan lentur


MAB
σltAB =
W
0,0779 x 6,156 x l2
100 = 1
x 6 x 122
6

1⁄ x 6 x 122 x 100
L =√ 6
0,0779 x 6,165

= 173,285 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L untuk konstruksi tak terlindung

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 6 x 123
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 6,156

= 175,9 cm
Bentang maksimal 175 cm > 120 cm OK
Gambar 3.5 Denah Plat Lantai

3.5.3.7 Ring Balk


a. Data Perhitungan
Dimensi = 25 x 50 cm
Berat jenis beton (γ) = 2400 kg/m3
Tinggi rencana pengecoran (H) = 0,5 m
Suhu beton (T) = 30˚C
Slump beton (S) = 100 mm
Bahan cetakan papan kelas II
Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
Tegangan geser ijin (σ//) = 12 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100000 kg/cm2

Bahan perancah kayu kelas II


Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
Tegangan geser ijin (σ//) = 12 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100000 kg/cm2

b. Kecepatan Pengecoran
Volume beton = 0,25 x 0,5 x 6,5
= 0,812 m3
Voume ready mix = 7 m3
Periode pengecoran (mengecor, mengangkat, memadatkan) di ambil 15
menit

V ringbalk
Waktu yang diperlukan = x periode
V 𝑟𝑒𝑎𝑑𝑦 𝑚𝑖𝑥
0,812
= x 15
7
= 1,741 menit
1,741
=
60
= 0,029 jam
tinggi jatuh
Kecepatan pengecoran (R) =
waktu pengecoran
0.5
=
0,029

= 17,231 m3/jam
c. Perhitungan Tekanan
Tekanan yang diperhitungkan adalah tekana hidrostatik
PH = 24 x H
= 24 x 0,5
= 12 Kpa

Tekanan akibat pengaruh cuaca (Stiffening)


γRK
PS = +5 , K = 0,65 dari tabel 3.1 (suhu 30˚C dan slump rata-
100

rata 100 mm)


2400 x 17,231 x 0,65
= +5
100
= 273,8 Kpa

Tekanan akibat teknik pengecoran/pelengkungan (Arching)


d
PA = 15 + 3R + karena d = 500 mm ≤ 500 mm
10
500
= 15 + 3 x 17,231 + 10

= 116,692 Kpa

Tekanan akibat pengaruh benturan cetaka dengan beton cair (impact


effect)
PI = 4 γ 10-3
= 4 x 2400 x 10-3
= 9,6 Kpa

d. Perhitungan Kekuatan
Sehingga perhitungan tekanan kekuatan ke samping yang menentukan :
P desain = nilai terkecil dari (PH atau PA atau PS) + PI
= PH + PI
= 12 + 9,6
= 21,6 Kpa

Beban merata yang timbul


P1+P2
q = xh
2
9,6 +(12+9,6)
= x 0,5
2
= 7,8 kN/m

Sehingga Mmax untuk 5 tumpuan atau lebih = 0,0779ql2

e. Perhitungan jarak klem pengaku horizontal dengan papan 2/10 dan bahan
cetakan adalah multiplek 18 mm
Berdasarkan tegangan lentur
MAB
σltAB =
W
0,0779 x 7,8 x l2
100 = 1
x 50 x 1,82
6

1⁄ x 50 x 1,82 x 100
L =√ 6
0,0779 x 7,8

= 66,66 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L
1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 50 x 1,83
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 7,8

= 49,434 cm
Jadi jarak klam pengaku diambil 40 cm

pengaku atas 2/10


pengaku samping 2/10 multiplek 18mm
40 40 40

paku
pasangan
dinding 1/2
bata

TAMPAK SAMPING

A 25
pengaku atas 2/10
multiplek 18mm
50 pengaku samping
2/10
paku
pasangan dinding
1/2 bata
DETAIL A
TAMPAK DEPAN

Gambar 3.6 Bekisting Ringbalk


3.5.3.8 Bekisting Tangga
a. Data Perhitungan
Berat jenis beton (γ) = 2400 kg/m3
Tinggi rencana pengecoran (H) = 0,3 m
Suhu beton (T) = 30˚C
Slump beton (S) = 100 mm
Sudut kemiringan = 29˚
Tinggi bordes = 200 cm
Tebal plat = 12 cm
Tinggi optride = 16,7 cm
tinggi bordes
Tebal optride (O) =
tinggi optride
200
=
16,7

= 12 buah
Lebar antride (A) = 30 cm
Syarat A + (2 x O) = 60 s/d 70
30 + (2 x 16,7) = 63,4 < 70 OK
Jumlah antride = jumlah optride – 1
= 12 -1
= 11 buah
Panjang plat bordes = 350 cm
Lebar plat bordes = 195 cm
Lebar tangga = 164 cm
Ukuran balok tangga = 25 x 35 cm
Panjang plat tangga = 384 cm

Bahan cetakan papan kelas II


Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
Tegangan geser ijin (σ//) = 12 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100000 kg/cm2
Bahan perancah kayu kelas II
Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
Tegangan geser ijin (σ//) = 12 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100000 kg/cm2

b. Kecepatan Pengecoran
Volume anak tangga = 0,167 x 0,3 x 12 = 0,601 m3
Volume plat tangga = 0,12 x 1,64 x 3,84 = 0,755 m3
Volume plat bordes = 0,12 x 3,5 x 1,95 = 0,819 m3
Volume balok tangga = 0,25 x 0,35 x 1,95 = 0,170 m3
+
= 2,346 m3
Voume ready mix = 7 m3
Periode pengecoran (mengecor, mengangkat, memadatkan) di ambil 15
menit
V tangga
Waktu yang diperlukan = x periode
V 𝑟𝑒𝑎𝑑𝑦 𝑚𝑖𝑥
2,346
= x 15
7

= 5,028 menit
5,028
=
60
= 0,083 jam
tinggi jatuh
Kecepatan pengecoran (R) =
waktu pengecoran
0.3
=
0,083

= 3,579 m3/jam

c. Perhitungan cetakan anak tangga


Tinggi pengecoran pada cetakan samping
1
ht = 12 + (2 x 16,7 x cos 29)
= 19,303 cm
= 0,193 m

Perhitungan Tekanan
Tekanan yang diperhitungkan adalah tekanan hidrostatik
PH = 24 x H
= 24 x 0,3
= 7,2 Kpa

Tekanan akibat pengaruh cuaca (Stiffening)


γRK
PS = +5 , K = 0,65 dari tabel 3.1 (suhu 30˚C dan slump rata-
100

rata 100 mm)


2400 x 3,58 x 0,65
= +5
100

= 60,843 Kpa

Tekanan akibat teknik pengecoran/pelengkungan (Arching)


d
PA = 15 + 3R + 10 karena d = 300 mm ≤ 500 mm
300
= 15 + 3 x 3,58 + 10

= 55,739 Kpa

Tekanan akibat pengaruh benturan cetaka dengan beton cair (impact


effect)
PI = 4 γ 10-3
= 4 x 2400 x 10-3
= 9,6 Kpa

d. Perhitungan Kekuatan
Sehingga perhitungan tekanan kekuatan ke samping yang menentukan :
P desain = nilai terkecil dari (PH atau PA atau PS) + PI
= PH + PI
= 7,2 + 9,6
= 16,8 Kpa

Sehingga Mmax untuk 5 tumpuan atau lebih = 0,0779ql2

e. Perhitungan jarak klem pengaku samping dengan papan 2/10 cm


Beban merata yang timbul
P1 + P2
q = xh
2
16,8 + 9,6
= x 0,193
2
= 2,548 kN/m

Mmax terbesar untuk 5 tumpuan ataulebih terjadi pada bentangan tepi :


Berdasarkan tegangan lentur
MAB = 0,0779 x q x l2
= 0,0779 x 2,548 x l2

1 1
W = 6 x b x h2 = x tinggi cetakan multiplek x tebal multiplek 2
6
1
W = 6 x 19,303 x 1,82

= 10,423 cm3

MAB
σltAB =
W
0,0779 x 2,548 x l2
100 =
10,423

10,423 x 100
L =√
0,0779 x 2,548

= 72,467 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L (untuk konstruksi tak terlindung)

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 19,30 x 1,83
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 2,548

= 52,265 cm
Jadi jarak klam pengaku diambil 50 cm

50

50

Klem Pengaku Samping

Gambar 3.7 Klem Pengaku Samping Tangga

f. Perhitungan klam horizontal cetakan bawah


Pembebanan
Beban beton = 2400 x 1,64 x 0,193 = 759,769 kg/m
Beban cetakan (ditaksir) = 100 kg/m
Beban alat (ditaksir) = 50 kg/m
Beban hidup (ditaksir) = 100 kg/m
+
q total = 1009,769 kg/m
= 10,097 kg/cm
Karena kemiringan tangga 29˚ maka beban merata yang diterima cetakan
menjadi
qy = q cos 29˚
= 10,097 x cos 29˚
= 8,831 kg/cm

Berdasarkan tegangan lentur


Mmax terbesar untuk 5 tumpuan atau lebih terjadi pada bentangan tepi :
MAB = 0,0779 x q x l2
= 0,0779 x 8,831 x l2

1 1
W = x b x h2 = x lebar plat tangga x tebal multiplek 2
6 6
1
W = 6 x 164 x 1,82

= 88,56 cm3

MAB
σltAB =
W
0,0779 x 8,831 x l2
100 =
88,56

88,56 x 100
L =√
0,0779 x 8,831

= 113,456 cm

Berdasarkan lendutan
Dengan persamaan lendutan untuk 5 tumpuan atau lebih
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L (untuk konstruksi tak terlindung)

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 164 x 1,83
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 8,831

= 70,470 cm
Jadi jarak klam horizontal cetakan bawah 70 cm

Klem Horizontal cetakan bawah


(2/10)

70

70

164
70

Gambar 3.8 Klam Horizontal Cetakan Bawah Tangga


g. Perhitungan pengaku vertikal cetakan bawah 5/7 cm
q = 8,831 x 0,7
= 6,182 kN/m

Berdasarkan tegangan lentur


MAB = 0,0779 x q x l2
= 0,0779 x 6,182 x l2

1 1
W = 6 x b x h2 = x lebar pengaku horizontal x tebal pengaku 2
6
1
W = 6 x 10 x 22

= 6,666 cm3
MAB
σltAB =
W
0,0779 x 6,182 x l2
100 =
6,666

6,666 x 100
L =√
0,0779 x 6,182

= 37,206 cm

Berdasarkan lendutan
Dengan persamaan lendutan untuk 5 tumpuan atau lebih
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L (untuk konstruksi tak terlindung)

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 10 x 23
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 6,182

= 34,709 cm
Lebar tangga = 164 cm
Jadi jarak bersih cetakan vertikal = 164 – 5 = 159 cm
Karena cetakan vertikal diberi 3 kayu, maka = 159 : 2 = 79,5
cm
Klem Vertikal cetakan bawah

79.5

79.5

Gambar 3.9 Klam Vertikal Cetakan Bawah Tangga


h. Perhitungan jarak klam cetakan bawah (2/10)
Pembebanan
Beban beton = 2400 x 1,64 x 0,193 = 759,769 kg/m
Beban cetakan (ditaksir) = 100 kg/m
Beban alat (ditaksir) = 50 kg/m
Beban hidup (ditaksir) = 100 kg/m
Berat gelagar anak (ditaksir) = 20 kg/m
+
q total = 1029,769 kg/m
= 10,297 kg/cm

Diasumsikan merupakan konstruksi menerus


Ditinjau dari kekuatan
Mmax untuk 5 tumpuan atau lebih terjadi pada bentangan tepi
Berdasarkan tegangan lentur
MAB = 0,0779 x q x l2
= 0,0779 x 10,297 x l2

1
W = 6 x b x h2
1
W = 6 x 5 x 72

= 40,833 cm3
MAB
σltAB =
W
0,0779 x 10,297 x l2
100 =
40,833

40,833 x 100
L =√
0,0779 x 10,297

= 71,345 cm

Berdasarkan lendutan
Dengan persamaan lendutan untuk 5 tumpuan atau lebih
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L (untuk konstruksi tak terlindung)

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 5 x 73
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 10,297

= 81,34 cm
Ditentukan jarak klam cetakan bawah 2/20 cm = 70 cm

i. Perhitungan papan cetakan optride


Volume beton = 0,167 x 0,3 x 1,64
= 0,082 m3
Voume ready mix = 7 m3
Periode pengecoran (mengecor, mengangkat, memadatkan) di ambil 15
menit
V Optride
Waktu yang diperlukan = x periode
V 𝑟𝑒𝑎𝑑𝑦 𝑚𝑖𝑥
0,082
= x 15
7
= 0,176 menit
0,176
=
60
= 0,002 jam
tinggi jatuh
Kecepatan pengecoran (R) =
waktu pengecoran
0,167
=
0,002

= 56,910 m3/jam

Perhitungan Tekanan
Tekanan yang diperhitungkan adalah tekanan hidrostatik
PH = 24 x H
= 24 x 0,167
= 4,008 Kpa

Tekanan akibat pengaruh cuaca (Stiffening)


γRK
PS = +5 , K = 0,65 dari tabel 3.1 (suhu 30˚C dan slump rata-
100

rata 100 mm)


2400 x 56,911 x 0,65
= +5
100

= 892,804 Kpa

Tekanan akibat teknik pengecoran/pelengkungan (Arching)


d
PA = 15 + 3R + 10 karena d = 300 mm ≤ 500 mm
167
= 15 + 3 x 56,911 + 10

= 202,431 Kpa

Tekanan akibat pengaruh benturan cetaka dengan beton cair (impact


effect)
PI = 4 γ 10-3
= 4 x 2400 x 10-3
= 9,6 Kpa

P desain = nilai terkecil dari (PH atau PA atau PS) + PI


= 4,008 + 9,6
= 13,608 Kpa

Beban merata yang timbul


13,608+9,6
q = + 0,167
2

= 1,937 kg/m
= 0,019 kg/cm
Direncanakan jarak tumpuan adalah jarak lebar tangga = 164 cm

Kontrol berdasarkan tegangan lentur


M
σlt ijin ≥
W
0,0779 x 0,0197 x l2
100 ≥ 1
x 16,7 x 22
6

0,0779 x 0,0197 x 1642


100 ≥ 1
x 16,7 x 22
6

100 ≥ 3,707 kg/cm2

Kontrol berdasarkan lendutan


Dengan persamaan lendutan untuk 5 tumpuan atau lebih
3.07 x 0.0021 x q x l4
f =
EI
1
f ijin = L
400
1 3,07 x 0,0021 x 0,019 x 1644
L ≥ 1
400 100000 x x 20 x 23
12

0,41 ≥ 0,067 cm OK
j. Perhitungan cetakan bordes
Dimensi plat bordes = 350 x 195 x 12 cm

Pembebanan jarak gelagar anak (5/7)


Beban beton = 2400 x 1,64 x 0,12 = 472,32 kg/m
Beban cetakan (ditaksir) = 100 kg/m
Beban alat (ditaksir) = 50 kg/m
Beban hidup (ditaksir) = 100 kg/m
+
q total = 722,32 kg/m
= 7,223 kg/cm

Ditinjau dari kekuatan


Berdasarkan tegangan lentur
MAB
σltAB =
W
0,0779 x 7,223 x l2
100 = 1
x 164 x 1,82
6

1⁄ x164 x 1,82 x 100


L =√ 6
0,0779 x 7,223

= 125,454 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q
3 1
100000 x x 164 x 1,83
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 7,223

= 75,354 cm
Jadi jarak gelagar anak = 70 cm

Pembebanan jarak gelagar induk (1/10)


Beban beton = 2400 x 1,64 x 0,12 = 472,32 kg/m
Beban cetakan (ditaksir) = 100 kg/m
Beban alat (ditaksir) = 50 kg/m
Beban hidup (ditaksir) = 100 kg/m
Beban gelagar anak (ditaksir) = 20 kg/m
+
q total = 742,32 kg/m
= 7,432 kg/cm

Ditinjau dari kekuatan


Berdasarkan tegangan lentur
MAB
σltAB =
W
0,0779 x 7,423 x l2
100 = 1
x 5 x 72
6

1⁄ x 5 x 72 x 100
6
L =√
0,0779 x 7,423

= 84,031 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI
3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 5 x 73
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 7,423

= 90,717 cm
Jadi jarak gelagar induk = 85 cm

Jarak tiang penyangga (5/7) untuk menyangga gelagar


Asumsi beban yang bekerja berasal dari gelagar induk
q = 0,85 x 7,423
= 6,309 kg/cm

Ditinjau dari kekuatan


Berdasarkan tegangan lentur
MAB
σltAB =
W
0,0779 x 6,309 x l2
100 = 1
x 2 x 202
6

1⁄ x 2 x 202 x 100
L =√ 6
0,0779 x 6,309

= 164,7 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q
3 1
100000 x x 2 x 203
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 6,309

= 201,606 cm
Jadi jarak tiang penyangga diambil = 150 cm

k. Perancah bekisting balok tangga


Data perhitungan
Dimensi = 25 x 35 cm
Berat jenis beton (γ) = 2400 kg/m3
Tinggi rencana pengecoran (H) = 35 – 12 = 23 cm
Suhu beton (T) = 30˚C
Slump beton (S) = 100 mm

Bahan cetakan papan kelas II


Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
Tegangan geser ijin (σ//) = 12 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100000 kg/cm2

Bahan perancah kayu kelas II


Tegangan lentur ijin (σlt) = 100 kg/cm2
Tegangan tekuk ijin ( tk  ) = 25 kg/cm2
Tegangan geser ijin (σ//) = 12 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100000 kg/cm2

Volume beton = 0,25 x 0,35 x 3,5


= 0,306 m3
Voume ready mix = 7 m3
Periode pengecoran (mengecor, mengangkat, memadatkan) di ambil 15
menit
V tangga
Waktu yang diperlukan = x periode
V 𝑟𝑒𝑎𝑑𝑦 𝑚𝑖𝑥
0,306
= x 15
7
= 0,656 menit
0,656
=
60
= 0,01 jam
tinggi jatuh
Kecepatan pengecoran (R) =
waktu pengecoran
0,35
=
0,01

= 32 m3/jam

Perhitungan Tekanan
Tekanan yang diperhitungkan adalah tekanan hidrostatik
PH = 24 x H
= 24 x 0,35
= 8,4 Kpa

Tekanan akibat pengaruh cuaca (Stiffening)


γRK
PS = +5 , K = 0,65 dari tabel 3.1 (suhu 30˚C dan slump rata-
100

rata 100 mm)


2400 x 32 x 0,65
= +5
100
= 504,2 Kpa

Tekanan akibat teknik pengecoran/pelengkungan (Arching)


d
PA = 15 + 3R + 10 karena d = 350 mm ≤ 500 mm
35
= 15 + 3 x 32 + 10

= 114,5 Kpa
Tekanan akibat pengaruh benturan cetaka dengan beton cair (impact
effect)
PI = 4 γ 10-3
= 4 x 2400 x 10-3
= 9,6 Kpa

Perhitungan kekuatan
P desain = nilai terkecil dari (PH atau PA atau PS) + PI
= 8,4 + 9,6
= 18 Kpa

Beban merata yang timbul


P1+P2
q = +h
2
9,6 +(9,6+8,4)
= + 0,35
2

= 4,83 kN/m

Perhitungan jarak klam pengaku horizontal dengan papan 2/10 dan bahan
cetakan adalah multiplek 18 mm

Berdasarkan tegangan lentur


MAB
σltAB =
W
0,0779 x 4,83 x l2
100 = 1
x 20 x 1,82
6

1⁄ x 20 x 1,82 x 100
L =√ 6
0,0779 x 4,83

= 53,575 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 20 x 1,83
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 4,83

= 42,733 cm
Jadi jarak klam pengaku horizontal = 40 cm

Perhitungan jarak klam pengaku cetakan bawah menggunakan kayu


(2/10) dan bahan cetakan adalah multiplek 18 mm

Beban beton = 2400 x 0,25 x 0,35 = 210 kg/m


Beban cetakan (ditaksir) = 100 kg/m
Beban alat (ditaksir) = 50 kg/m
Beban hidup (ditaksir) = 100 kg/m
+
q total = 460 kg/m
= 4,6 kg/cm
Berdasarkan tegangan lentur
MAB
σltAB =
W
0,0779 x 4,6 x l2
100 = 1
x 25 x 1,82
6

1⁄ x 25 x 1,82 x 100
L =√ 6
0,0779 x 4,6

= 61,378 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 25 x 1,83
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 4,6

= 46,787 cm
Jadi jarak klam pengaku cetakan bawah = 40 cm

Perhitungan gelagar anak dengan kayu 5/7 cm


q = 460 kg/m = 4,6 kg/cm

Berdasarkan tegangan lentur


MAB
σltAB =
W
0,0779 x 4,6 x l2
100 = 1
x 25 x 1,82
6
1⁄ x 25 x 1,82 x 100
L =√ 6
0,0779 x 4,6

= 61,378 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 25 x 1,83
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 4,6

= 46,787 cm
Jadi jarak gelagar anak = 40 cm

Kontrol berdasarkan tegangan lentur


M
σlt ijin ≥
W
0,0779 x 4,6 x l2
100 ≥ 1
x 25 x 1,82
6

0,0779 x 4,6 x 402


100 ≥ 1
x 25 x 1,82
6

100 ≥ 42,469 kg/cm2

Kontrol berdasarkan lendutan


Dengan persamaan lendutan untuk 5 tumpuan atau lebih
3.07 x 0.0021 x q x l4
f =
EI
1
f ijin = L untuk konstruksi tak terlindung
400
40 3,07 x 0,0021 x 4,6 x 404
≥ 1
400 100000 x x 25 x 1,83
12

0,1 ≥ 0,062 cm OK

Perhitungan gelagar induk dengan kayu 5/7 cm


Pembebanan
Beban beton = 2400 x 0,25 x 0,35 = 210 kg/m
Beban cetakan (ditaksir) = 100 kg/m
Beban alat (ditaksir) = 50 kg/m
Beban hidup (ditaksir) = 100 kg/m
Beban gelagar anak (ditaksir) = 20 kg/m
+
q total = 480 kg/m
= 4,8 kg/cm

Berdasarkan tegangan lentur


MAB
σltAB =
W
0,0779 x 4,8 x l2
100 = 1
x 5 x 72
6

1⁄ x 5 x 72 x 100
L =√ 6
0,0779 x 4,8

= 104,5 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q
3 1
100000 x x 5 x 73
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 4,8

= 104,907 cm
Jadi jarak gelagar induk = 40 cm

Kontrol berdasarkan tegangan lentur


M
σlt ijin ≥
W
0,0779 x 4,8 x l2
100 ≥ 1
x 5 x 72
6

0,0779 x 4,8 x 402


100 ≥ 1
x 5 x 72
6

100 ≥ 14,651 kg/cm2

Kontrol berdasarkan lendutan


Dengan persamaan lendutan untuk 5 tumpuan atau lebih
3.07 x 0.0021 x q x l4
f =
EI
1
f ijin = L untuk konstruksi tak terlindung
400
40 3,07 x 0,0021 x 4,8 x 404
≥ 1
400 100000 x x 5 x 73
12

0,1 ≥ 0,005 cm OK

Perhitungan jarak tiang penyangga kayu 5/7 cm


Jarak antar gelagar anak 40 cm
Jarak antar gelagar induk 40 cm
Pembebanan
Beban beton = 2400 x 0,25 x 0,35 = 210 kg/m
Beban cetakan (ditaksir) = 100 kg/m
Beban alat (ditaksir) = 50 kg/m
Beban hidup (ditaksir) = 100 kg/m
Beban gelagar anak (ditaksir) = 20 kg/m
Beban gelagar induk (ditaksir) = 20 kg/m
+
q total = 500 kg/m
=5 kg/cm
q = 5 x 0,4
= 2 kg/cm

Berdasarkan tegangan lentur


MAB
σltAB =
W
0,0779 x 2 x l2
100 = 1
x 5 x 72
6

1⁄ x 5 x 72 x 100
6
L =√
0,0779 x 2

= 161,891 cm

Berdasarkan lendutan
3,07 x 0,0021 x q x L4
fAB =
EI
1
f ijin = 400 L untuk kontruksi tak terlindung

1 3,07 x 0,0021 x q x L4
L =
400 EI

3 EI
L =√
400 x 3,07 x 0,0021 x q

3 1
100000 x x 5 x 73
=√ 12
400 x 3,07 x 0,0021 x 2

= 140,457 cm
Jadi jarak tiang penyangga = 130 cm

Kontrol berdasarkan tegangan lentur


M
σlt ijin ≥
W
0,0779 x 2 x l2
100 ≥ 1
x 5 x 72
6

0,0779 x 2 x 402
100 ≥ 1
x 5 x 72
6

100 ≥ 64,482 kg/cm2

Kontrol berdasarkan lendutan


Dengan persamaan lendutan untuk 5 tumpuan atau lebih
3.07 x 0.0021 x q x l4
f =
EI
1
f ijin = L untuk konstruksi tak terlindung
400
130 3,07 x 0,0021 x 2 x 1304
≥ 1
400 100000 x x 5 x 73
12

0,325 ≥ 0,257 cm OK

Gambar 3.10 Perancah Tangga


3.6 Pekerjaan Penulangan
3.6.1 Penulangan Pondasi Footplat
Pekerjaan ini dapat dikerjakan setelah pekerjaan galian pada tempat
tersebut telah selesai tetapi tidak harus menunggu sampai pekerjaan semua galian
selesai secara keseluruhan. Dan pekerjaan ini dilakukan setelah pekerjaan lantai
kerja selesai. Lantai kerja dibuat dengan perbandingan campuran beton 1 Pc : 3 Ps
: 5 Kr dan tebalnya 5 cm.
Langkah-langkah penulangan pondasi footplat sebagai berikut :
a. Merangkai dan memasang tulangan pondasi footplat;
b. Memasang beton deking pada jaringan tulangan bagian bawah dan tepi –
tepinya;
c. Merangkai tulangan pasak sekaligus dengan tulangan kaki kolom. Fungsi
tulangan pasak ini adalah sebagai penghubung tulangan pondasi dengan
tulangan kaki kolom;
d. Kemudian sekaligus merangkai dengan tulangan kaki kolom. Nantinya
tulangan kaki kolom ini akan disambung dengan kolom lantai satu sehingga
tulangan kolom pondasi ini hanya berhenti sampai sloof dengan diberi stek
sepanjang 40D untuk menyambung dengan tulangan kolom.

3.6.2 Pemasangan Bekisting Pondasi Footplat


Langkah-langkah pemasangan bekisting pondasi footplat sebagai berikut :
a. Memasang tulangan yang sudah dirangkai,
b. Menyiapkan, memotong, dan merangkai bahan – bahan seperti multipleks 18
mm dan klam pengaku kayu 5/7;
c. Menancapkan kayu 5/7 dan cetakan multipleks dipasang pada kayu tersebut;
d. Mengontrol kedudukan klam pengaku dan multipleks dalam keadaan vertikal
dengan water pass.
3.6.3 Pengecoran Pondasi Footplat
Pekerjaan pengecoran pondasi ini dilakukan dengan cara manual namun
campuran beton di pesan dari Ready Mix. Langkah-langkah pengecorannya pondasi
footplat sebagai berikut :
a. Memasang bekisting pondasi, mengecek tulangan, serta mempersiapkan alat
dan bahan yang digunakan;
b. Membersihkan kotoran yang ada pada bekisting tersebut;
c. Menuangkan adonan beton dari hasil pengadukan beton dari Ready Mix ke
dalam bak penampung untuk dibawa ke tempat pengecoran dengan
menggunakan ember;
d. Melakukan pemadatan dan perataan menggunakan ruskam kayu untuk
meratakan permukaan;
e. Melakukan penghentian pengecoran pada pertemuan plat pondasi dengan kaki
kolom;
f. Bila pengecoran sudah selesai, membiarkan beton hingga mengeras agar
kekuatannya sesuai yang diharapkan.

3.6.4 Pekerjaan Pembongkaran Bekisting Footplat


Pembongkaran bekisting dilakukan setelah beton pondasi footplat sudah
memenuhi syarat kekuatan yang diperlukan. Pada rencana proyek ini, bekisting
pondasi footplat dibongkar minimal setelah beton berumur minimal 1 hari.
Pembongkaran bekisting footplat dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak
beton dan perancahnya dapat dipergunakan kembali.

3.6.5 Pondasi Batu Kali


Langkah-langkah pekerjaan pondasi batu kali :
a. Menggali tanah untuk pasangan batu kali sesuai rencana;
b. Memasang patok kayu dan benang sebagai acuan leveling pasangan batu kali;
c. Mengamparkan pasir urug dan meratakan;
d. Memasang batu aanstamping terlebih dahulu, selanjutnya merekatkan dengan
batu kali diatas aanstamping menggunakan adukan semen dan pasir mengisi
rongga-rongga antar batu kali;
e. Mengecek elevasi pekerjaan pasangan batu kali pada benang yang terikat pada
patok;
f. Melakukan finishing dengan plesteran siar pada batu kali.

3.6.6 Penulangan Kaki Kolom


Kaki kolom merupakan konstruksi penghubung antara pondasi footplat
dengan kolom dan berfungsi sebagai penyalur beban dari beban yang ada diatasnya.
Penulangan kaki kolom dilakukan bersamaan dengan penulangan pondasi footplat.
Selama penyetelan tulangan kolom, tukang kayu membuat cetakan dari multiplek
18 mm sesuai dengan dimensi kolom.
Langkah-langkah penulangan kaki kolom sebagai berikut :
a. Memotong, membengkokkan, dan merangkai tulangan pokok dengan jumlah
sesuai kebutuhan seperti pada gambar kerja dan tulangan sengkang sesuai
gambar kerja;
b. Memasang tulangan dengan mengatur jaraknya sesuai gambar;
c. Memasang tulangan sengkang sesuai gambar kerja;
d. Mengikat sengkang yang telah dipasang dengan kawat bendrat;
e. Memasang angkur untuk menjaga ketegakan sebelum proses pengecoran
selesai.

3.6.7 Pemasangan Bekisting Kaki Kolom


Langkah-langkah pekerjaan bekisting kaki kolom sebagai berikut :
a. Memasang tulangan kaki kolom terlebih dahulu;
b. Menyiapkan, memotong bahan dan merangkai bahan – bahan sesuai titik as;
c. Memasang cetakan kaki kolom dengan klam horizontal 2/10, kemudian
mendirikan klam vertikal 5/7;
d. Memasang balok penjepit horisontal 5/7 bagian atas dan bawah terlebih
dahulu dengan diikat dengan rapid klam, ketegakan cetakan dapat dicek
menggunakan unting – unting atau waterpass;
e. Memasang skor – skor untuk kedudukan tiang – tiang acuan agar tetap stabil.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan acuan dan perancah untuk kaki
kolom adalah :
a. Merangkai papan-papan untuk bekisting dengan rapat untuk menghindari
kebocoran;
b. Memasang cetakan kaki kolom secara siku dan sejajar antara kaki kolom yang
satu dengan kaki kolom yang lainnya;
c. Mengecekan ketegakan cetakan kaki kolom sebelum pengecoran sangat
penting untuk mencegah kesalahan setelah cetakan dicor dan beton mengeras
untuk pengecekan ketegakannya dengan menggunakan unting – unting.

3.6.8 Pengecoran Kaki Kolom


Pengecoran kaki kolom pondasi ini dilakukan setelah penulangan dan
pengecoran pondasi footplat, serta pemasangan bekisting kaki kolom pondasi
selesai. Pengecoran ini dilakukan dengan manual seperti pada pondasi footplat.
Langkah – langkah pengecoran kolom pondasi sebagai berikut :
a. Membersihkan lokasi pengecoran dari bekas-bekas kotoran yang melekat
seperti serbuk gergaji, debu, potongan kayu, dan kawat-kawat yang tidak
dipakai;
b. Mengecek apakah tulangan, tebal selimut, posisi ketegakan kolom sudah
sesuai dengan rencana dan gambar;
c. Membuat tanda pada bekisting yang menunjukkan batas henti pengecoran;
d. Menuangkan campuran beton dari ready mix ke tempat penampungan
campuran beton sementara untuk mulai diangkut dan dituangkan ke dalam
cetakan;
e. Mempersiakan tenaga kerja yang memadai mengingat pengecoran dilakukan
secara manual dan pengecoran tidak boleh dihentikan sesuai target
pengecoran;
f. Jika semuanya telah siap maka pengecoran dapat dimulai;
g. Melakukan pengecoran kolom dengan cara campuran beton dimasukkan ke
dalam ember dan diangkat oleh beberapa pekerja kemudian dituangkan ke
dalam cetakan kaki kolom;
h. Salah satu tukang yang bekerja sebagai orang yang menuangkan adukan beton
ke dalam catakan dianjurkan untuk memukul–mukul sedikit bekisting dengan
palu karet saat pengecoran, dimaksudkan untuk meratakan adukan beton di
dalam cetakan;
i. Menghemtikan proses pengecoran setelah sampai tanda batas;
j. Melakukan proses pengontrolan elevasi ketinggian pengecoran.

3.6.9 Pekerjaan Pembongkaran Bekisting Kaki Kolom


Di dalam peraturan beton bertulang Indonesia tahun 1971, pada Bab 5.8
halaman 54-55 disebutkan bahwa bekisting hanya boleh dibongkar apabila bagian
konstruksi tersebut dengan sistem bekisting yang masih ada telah mencapai
kekuatan yang cukup untuk memikul berat sendiri dan beban-beban pelaksanaan
yang bekerja padanya. Apabila dalam hal ini ada jaminan bahwa setelah bekisting
dibongkar beban yang bekerja pada bagian konstruksi itu tidak akan melampaui
50% dari beban rencana total, maka pembongkaran bekisting itu dapat dilakukan
setelah beton berumur 1 hari.
Bekisting bagian samping dapat dilepas pada umur kurang lebih 1 hari
setelah pengecoran, sebab bagian ini tidak mendukung beban setelah beton
mengeras. Langkah-langkah pembongkaran bekisting kolom sebagai berikut :
a. Melepas skor yang dijadikan sebagai perkuatan cetakan satu persatu;
b. Membuka pengaku dan klam pada cetakan tersebut;
c. Membuka terlebih dahulu cetakan pada satu sisi kaki kolom dengan
menggunakan linggis atau palu;
d. Setelah satu sisi selesai, mengambil sekaligus ketiga sisi tanpa membongkar
rangkaian sisi tersebut;
e. Melakukan pembongkaran ini secara hati-hati supaya tidak sampai merusak
beton yang sudah mulai mengeras tersebut.
Sisa hasil pembongkaran dibersihkan dan jika masih dapat dipergunakan lagi maka
dapat disimpan untuk kemudian dapat digunakan lagi untuk cetakan kaki kolom
lainnya. Dengan demikian pembongkaran acuan dan perancah kaki kolom sudah
selesai.

3.6.10 Pekerjaan Perawatan Kaki Kolom


Untuk mencegah pengeringan beton, selama paling sedikit satu minggu
membasahi beton terus-menerus, sehingga tidak terjadi pengerasan secara
mendadak. Tujuan dari perawatan beton ini adalah supaya proses hidrasi dalam
beton masih dapat berlangsung, sehingga diperoleh kekuatan beton yang maksimal.
Selain pekerjaan perawatan beton, dilakukan pula pekerjaan perbaikan permukaan
beton. Pekerjaan perbaikan permukaan beton ini dilakukan jika hasil dari
pengecoran ada yang mengalami kerusakan atau pengeroposan, dikarenakan kurang
meratanya pemadatan pada saat pengecoran maupun kerusakan-kerusakan yang
diakibatkan pada saat pembongkaran bekisting. Melakukan perbaikan dengan cara
penutupan kembali permukaan yang rusak dengan adonan semen (spesi).

3.6.11 Penulangan Sloof


Sloof merupakan elemen struktur pengikat atau penghubung antara kolom
satu dengan kolom lainnnya baik itu kolom struktur maupun kolom praktis.
Tulangan sloof dipasang menyatu dengan tulangan kolom pondasi karena sloof
tersebut merupakan sloof struktural. Langkah-langkah menyetel dan memasang
tulangan sloof sebagai berikut :
a. Melakukan pemotongan dan pembengkokan tulangan sesuai dengan schedule
penulangan sloof;
b. Merangkai tulangan sesuai rencana;
c. Memasukan rangkaian tulangan kedalam bekisting yang sudah disiapkan
sebelumnya;
d. Memasangkan beton deking pada tepi-tepi tulangan pokok bawah dan
samping supaya selimut beton serasi sesuai dengan persyaratan.

3.6.12 Pemasangan Bekisting Sloof


Langkah-langkah pemasangan besting sloof sebagai berikut :
a. Memasang tulangan sloof;
b. Menyiapkan, memotong, dan merangkai bahan seperti multiplek 18 mm,
papan klam 2/10 cm, dan kayu 5/7;
c. Memasang klam pengaku vertikal 2/10 pada cetakan multiplek dengan jarak
yang telah direncanakan;
d. Merangkai bekisting yang sudah disiapkan pada sisi kanan dan kiri tulangan
dengan mepasang skor papan 2/10 yang ditahan dengan patok 5/7 serta
memasang pengaku horisontal 2/10 pada bagian atas.

3.6.13 Pengecoran Sloof


Pengecoran ini dilakukan dengan cara manual seperti pada kaki kolom.
Langkah– langkah pengecoran sloof sebagai berikut :
a. Mengecek kembali pemasangan tulangan dan bekisting;
b. Mengaduk beton di dalam molen dan diangkat dengan ember;
c. Melakukan pengecoran mulai dari salah satu ujung sloof yaitu pertemuan
antara sloof dan kaki kolom pondasi secara terus menerus berjalan sambil
dilakukan penggetaran dengan vibrator;
d. Melakukan penghentian pengecoran pada tempat yang mempunyai nilai
momen sama dengan atau mendekati nol, yaitu ¼ dari panjang bentang sloof
dengan meninggalkan kemiringan pada ujung hasil pengecoran apabila
terjadi;
e. Merataan permukaan beton dengan alat perata yaitu pada bagian yang tidak
tertutup cetakan (bagian atas).
3.6.14 Pekerjaan Pembongkaran Bekisting Sloof
Membongkar bekisting/cetakan setelah beton sudah memenuhi
persyaratan kekuatan yang diperlukan, pada saat pembongkaran harus hati–hati
supaya tidak terjadi kerusakan pada beton. Pada rencana proyek ini, bekisting sloof
dibongkar minimal setelah sloof berumur minimal 2 hari.

3.6.15 Pekerjaan Perawatan Sloof


Melakukan perawatan sloof saat proses pengerasan beton sebelum
bekisting dibongkar dan saat bekisting telah dibongkar. Perawatan dapat dilakukan
saat mendiamkan beton sampai mengeras, dengan melindungi beton menggunakan
kertas semen supaya tidak terjadi perubahan suhu secara mendadak, serta usahakan
tidak terjadi getaran–getaran pada bekisting sampai umur tertentu. Setelah
melakukan pembongkaran bekisting, dilakukan pula perawatan beton. Pekerjaan
perbaikan permukaan beton ini dilakukan jika hasil dari pengecoran ada yang
mengalami kerusakan atau pengeroposan, dikarenakan kurang meratanya
pemadatan pada saat pengecoran maupun kerusakan-kerusakan yang diakibatkan
pada saat pembongkaran bekisting. Perbaikan ini dilakukan dengan cara penutupan
kembali permukaan yang rusak dengan adonan semen (spesi).

3.6.16 Penulangan Kolom


Kolom merupakan elemen struktur yang berfungsi untuk meneruskan
beban dari atas dan dari sistem plat ke pondasi. Tulangan kolom dipasang tiap
lantai. Tulangan kolom dipasang tiap lantai. Penyambungan tulangan lantai
berikutnya dilakukan dengan sambungan lewatan (oversteak), yaitu 40D (D =
diameter tulangan).
Langkah-langkah penulangan kolom sebagai berikut:
a. Melakukan pembengkokan dan pemotongan di tempat tersendiri agar tidak
terganggu oleh pekerjaan lain;
b. Mengirim tulangan ke tempat perangkian kolom setelah pemotongan dan
pembengkokan tulangan kolom selesai;
c. Merangkai tulangan pokok dan sengkang sesuai dengan gambar kerja;
d. Mengikat sengkang yang telah terpasang dengan kawat bendrat;
e. Setelah perangkaian selesai, selanjutnya mengangkat tulangan kolom dan
memasukkan ke dalam rangkaian tulangan kaki kolom;
f. Melakukan penegakan tulangan kolom dengan mengikatkan tulangan pada
tulangan kaki kolom, bila tidak terlalu tegak maka bisa menggunakan kayu
atau bambu untuk penyokong sementara;
g. Memasang beton deking pada keempat sisinya dan dilakukan pengecekan
akhir terhadap jumlah dan jarak tulangan;
h. Mengecek kembali ketegakan kolom.

3.6.17 Pemasangan Bekisting Kolom


Pemasangan bekisting kolom dilakukan apabila penulangan kolom selesai
dikerjakan. Langkah-langkah pemasangan bekisting kolom sebagai berikut :
a Membuat sepatu kolom dari besi siku yang dilaskan pada stek tulangan
kolom;
b Memasang besi tulangan kolom yang sudah dilengkapi dengan beton deking;
c Memasang komponen bekisting satu persatu searah jarum jam dan ditahan
menggunakan skoor sementara;
d Sambil memasang komponen memasang karet lunak pada tiap sudut
pertemuan untuk mencegah terjadinya kebocoran;
e Memasang klaim kolom sesuai dengan tempat yang direncanakan;
f Membersihkan kotoran maupun sisa – sisa potongan kawat, kayu yang ada
dalam bekisting;
g Mempersipkan pengecoran kolom.

3.6.18 Pengecoran Kolom


Langkah-langkah pengecoran kolom sebagai berikut :
a. Mengecek bekisting dan penulangannya;
b. Membersihkan kotoran yang ada dalam cetakan dengan kompresor;
c. Membuat tanda pada bekisting yang menunjukkan batas henti pengecoran;
d. Pengawas melakukan cek dan menyetujui untuk dilakukan pengecoran;
e. Melakukan uji slump dan pembuatan benda uji kuat tekan beton pada Ready
Mix yang datang kemudian menuangkan adonan beton dengan bantuan bucket
kemudian diangkat oleh mobile crane;
f. Melakukan pengecoran tahap demi tahap untuk satu kolom;
g. Melakukan penusukan dengan vibrator dan memukul-mukul dengan palu
karet pada sisi-sisi cetakan untuk mencegah keropos.
h. Menghentikan proses pengecoran setelah sampai tanda batas, beton dibiarkan
hingga mengeras agar kekuatannya sesuai yang diharapkan.

3.6.19 Pekerjaan Pembongkaran Bekisting Kolom


Pembongkaran bekisting dilakukan setelah sudah memenuhi syarat
kekuatan yang diperlukan. Pada rencana proyek ini, bekisting dibongkar minimal
setelah beton berumur minimal 1 hari. Pembongkaran bekisting dimulai dengan
membuka skor-skor, diikuti papan penjepit dan tiang-tiang pengaku setelah itu
dilanjutkan dengan pembongkaran cetakan kolom. Melakukan pembongkaran
bekisting dengan hati-hati agar tidak merusak beton dan bekistingnya dapat
dipergunakan kembali.

3.6.20 Pekerjaan Perawatan Bekisting Kolom


Setelah bekisting kolom dibongkar kemudian kolom yang sudah jadi
dilapisi plesteran cair dengan tujuan agar kandungan air dalam kolom tidak
menguap, dan agar pengerasan beton tidak terjadi secara mendadak. Plesteran ini
juga berfungsi untuk memberikan media pelekatan saat kolom akan diplester nanti,
setelah itu kolom ditutupi dengan terpal basah untuk menjaga kandungan air di
dalam beton.

3.6.21 Penulangan Balok dan Plat Lantai


Pekerjaan balok dapat dilakukan setelah pekerjaan kolom selesai.
Pemasangan perancah sebagai penahan beban campuran beton balok, pelat dan
tenaga kerja yang berada di atasnya selama proses pembuatan dan pengecoran. Pada
pekerjaan balok ini digunakan perancah scaffolding.
Langkah-langkah penulangan balok :
a. Menyediakan besi tulangan dan peralatan penunjang lainnya di lapangan
sesuai dengan daftar permintaan dan jumlah yang telah ditentukan;
b. Merangkai tulangan pokok yang telah disiapkan terlebih dahulu dilokasi
perangkaian;
c. Memasang tulangan sengkang dengan memperhatikan jaraknya, dimana jarak
pada tumpuan lebih rapat dibanding jarak ditengah bentang;
d. Mengikat tulangan pokok pada sengkang dengan kawat pengikat atau bendrat
agar jarak yang ditentukan tidak berubah;
e. Apabila terdapat sambungan tulangan, maka jarak sambungan tulangan
minimal 40D atau sesuai dengan gambar kerja. Sambungan tulangan
dilakukan berselang – seling dan penempatan sambungan ditempat-tempat
dengan tegangan maksimum sedapat mungkin dihindari;
f. Sambungan tulangan terdapat overlapping atau panjang lewatan dan tidak
sejajar antara tulangan atas dengan tulangan bawah;
g. Memasang beton deking pada tiap – tiap sudut tulangan balok untuk
mengetahui tebal selimut beton serta mempermudah melakukan
pembongkaran bekisting.

Plat adalah elemen bidang tipis yang menahan beban-beban transversal


melalui aksi lentur ke masing-masing tumpuan. Pekerjaan plat lantai sebenarnya
dilaksanakan secara bersamaan dengan pekerjaan balok terutama untuk
pengecorannya, dilakukan secara bersama-sama. Pekerjaan penulangan pelat lantai
dimulai setelah pekerjaan bekisting balok, penulangan balok, dan pekerjaan
bekisting pelat lantai selesai dikerjakan. Langkah-langkah penulangan plat :
a. Mempersiapkan besi tulangan dan peralatan yang digunakan. Sebelumnya
pabrikasi tulangan sesuai gambar kerja dilakukan di lokasi lain;
b. Memulai pekerjaan penulangan plat dengan pemasangan tulangan pada arah
vertikal dan horisontal sesuai jarak yang telah ditentukan. Tulangan bawah
diletakkan diatas beton deking;
c. Mengikat tulangan arah memanjang dan melintang tersebut dibeberapa
tempat agar jarak tidak berubah.
d. Memasang tulangan bagi pada daerah tumpuan pada bagian bawah dengan
jarak sesuai dengan yang ditentukan;
e. Kemudian memasang tulangan tumpuan lainnya yang di ikatkan pada
tulangan balok;
f. Memasang tulangan bagi pada bagian tulangan disebelah atas pada daerah
tumpuan.

3.6.22 Pemasangan Bekisting Balok dan Plat Lantai


Pekerjaan bekisting untuk balok pada proyek ini menggunakan perancah
semi sistem. Pemasangan bekisting dilaksanakan perancah dan bagian bottom form
terlebih dahulu kemudian hasil perangkaian tulangan distel dengan tulangan kolom
dan dilanjutkan pekerjaan pemasangan bagian side form bekesting balok kemudian
bekisting plat sebelum dimulainya proses pengecoran.
Langkah-langkah perangkaian bekisting balok :
 Sebelum pemasangan bekisting balok :
a. Membersihkan area dibawah balok yang akan di pasang bekisting agar
tidak menggangu pemasangan perancah;
b. Memasang scaffolding yang diperkuat dengan skor silang;
c. Jika permukaan lantai tidak rata maka memerluka jack base pada kaki
scaffolding yang berguna untuk menyamakan tinggi antar kaki
scaffolding;
d. Elevasi balok yang tinggi sehingga membutuhkan scaffolding 2 tingkat,
untuk menyambung maka menggunakan joint;
e. Memasang Uhead pada atas scaffolding yang berguna untuk meletakkan
gelagar induk yaitu balok kayu ukuran 6/12 untuk menopang bekisting
balok diatasnya.
 Pekerjaan pabrikasi bekisting balok :
a. Memotong multiplek sesuai ukuran balok yang ditentukan;
b. Memasang gelagar anak yaitu balok kayu ukuran 5/7 yang diletakkan
dan dipaku di atas gelagar induk;
c. Measang multiplek (bottom form) yang sudah dipotong sesuai ukuran
diatas gelagar anak dan dipaku dengan kuat;
d. Memasang multiplek (side form) menempel di salah satu bottom form,
pemasangan dimulai dari kedua ujung balok;
e. Melumasi bagian dalam bekisting menggunakan minyak bekisting agar
bekisting tidak menempel pada beton, sehingga mudah dalam
pembongkarannya;
f. Melakukan pemasangan bekisting harus sesuai as antar kolom.

Pembuatan dan pemasangan bekisting plat dilaksanakan segera setelah


pemasangan bekisting balok, karena nantinya pengecoran balok dan pelat akan
dilaksanakan secara bersama – sama.
Langkah-langkah pemasangan bekisting plat lantai :
a. Membersihkan area dibawah plat latai yang akan di pasang bekisting agar
tidak menggangu pemasangan perancah;
b. Memasang scaffolding yang diperkuat dengan skor silang;
c. Jika permukaan lantai tidak rata maka memerlukan jack base pada kaki
scaffolding yang berguna untuk menyamakan tinggi antar kaki scaffolding;
d. Elevasi plat lantai yang tinggi sehingga membutuhkan scaffolding 2 tingkat,
untuk menyambung maka menggunakan joint;
e. Memasang Uhead pada atas scaffolding yang berguna untuk meletakkan
gelagar induk yaitu balok kayu ukuran 6/12 untuk menopang bekisting balok
diatasnya;
f. Memasang gelagar anak yaitu balok kayu ukuran 5/7 yang diletakkan dan
dipaku di atas gelagar induk;
g. Memasang multiplek diatas gelagar anak dan dipaku dengan kuat, dan tutup
sambungan antar multiplek menggunakan isolasi plastik agar tidak terjadi
kebocoran waktu pengecoran;
h. Melumasi bagian dalam bekisting menggunakan minyak bekisting agar
bekisting tidak menempel pada beton, sehingga mudah dalam
pembongkarannya.

3.6.23 Pengecoran Balok dan Plat Lantai


Pengecoran pelat lantai dan balok dilaksanakan bersama-sama agar
terbentuk struktur yang monolit. Dan dalam proyek ini pengecoran tangga juga
menjadi satu pada proses pengecoran dengan balok dan plat lantai mengingat
efisiensi pengecoran dengan ready mix dan concrete pump.
Langkah-langkah pengecoran :
 Sebelum pengecoran
a. Mempesiapkan lokasi untuk dilewati truck mixer, persiapan peralatan.
dan tenaga kerja;
b. Membersihkan bagian yang akan dicor dari semua kotoran dengan
menggunakan air yang disemprotkan diatas bagian yang akan dicor;
c. Memeriksa penulangan tentang kesesuaiannya dengan rancangan,
meliputi pemasangan beton deking, letak, jumlah, diameter,
pembengkokan, sambungan dan jaraknya apakah sudah sesuai dengan
gambar rencana.
 Langkah-langkah pengecoran balok, plat dan tangga yang dilakukan secara
bersamaan :
a. Mengangkut beton ready mix siap pakai yang telah dipesan ke lokasi
proyek, sebelum dituang keluar dari mobil, dilakukan pengetesan mutu
beton dengan slump test dan pembuatan benda uji kekuatan beton;
b. Memasukan campuran beton ke dalam concrete pump, mengalirkan
menuju lokasi yang akan dicor. Semakin tinggi lokasi pengecoran
semakin besar tekanan yang diperlukan;
c. Meratakan tumpukan campuran beton dan mengusahakan penuangan
dilakukan diatas pelat atau balok. Tinggi jatuh beton diatur dengan
penyangga pipa dari kayu;
d. Melakukan perataan beton dengan menggunakan kayu atau ruskam dan
digetarkan dengan menggunakan vibrator untuk mencegah terjadinya
keropos pada beton;
e. Mengecek elevasi pengecoran dengan alat bantu berupa besi tulangan
yang sudah dirancang sebagai penunjuk batas. Tebal pengecoran plat
lantai yaitu 12 cm;
f. Melakukan pengecoran didasarkan pada arah yang telah dirancang. Hal
ini untuk menjaga keteraturan, kemudahan pelaksanaan, dan menjaga
agar bagian yang seharusnya tersambung tidak menjadi kering;
g. Meratakan pada permukaan yang kurang halus dengan air semen;
h. Melakukan penghentian pengecoran pada tempat dengan momen dan
geser kecil.

3.6.24 Pekerjaan Pembongkaran Bekisting Balok dan Plat Lantai


Pembongkaran bekisting balok dan pelat lantai dilakukan setelah beton
mencapai kekuatan maksimumnya yaitu ± 28 hari. Tetapi pada proyek ini,
pembongkaran bekisting untuk balok dan plat dilaksanakan pada waktu beton
berumur ± 20 hari, dengan pertimbangan beton sudah diberi zat aditif guna
mempercepat waktu pengerasan beton. Dan juga karena mempertimbangkan
efisiensi waktu pekerjaan proyek.
Langkah-langkah pembongkaran bekisting balok dan plat lantai :
a. Membongkar bekisting dimulai dari bagian tengah, yaitu dari tempat yang
lendutannya paling besar ke tepi yang lendutannya kecil agar tidak terjadi
penurunan atau defleksi mendadak karena berat sendiri;
b. Membongkar skur-skur penyangga antar balok dan pelat lantai;
c. Melepas tiang perancah satu per satu, dimulai dari tengah ke tepi;
d. Membongkar papan bekisting pada balok dan pelat lantai secara hati-hati agar
tidak terjadi kerusakan pada cetakan maupun pada beton;
e. Setelah pembongkaran selesai kemudian melanjutkan dengan membersihkan
sisa-sisa hasil pembongkaran dan menempatkannya ditempat yang sekiranya
tidak akan mengganggu pekerjan lainnya;
f. Melakukan semua pekerjaan pembongkaran ini setelah mendapat persetujuan
dari pengawas.

3.6.25 Pekerjaan Perawatan Balok dan Plat Lantai


Satu hari setelah pengecoran dilakukan proses perawatan. Selama proses
pengerasan beton, dilakukan perawatan (curring) dengan cara menyemprotkan air
pada permukaan beton yang berfungsi untuk menjaga tidak terjadinya hidrasi yang
berlebihan pada siang hari. Penyemprotan dilakukan sesering mungkin, jangan
sampai permukaan beton mengering, jika perlu melakukan pekerjaan pasangan bata
pada tepi-tepi areal pengecoran agar air tidak dapat mengalir. Ini merupakan salah
satu jalan yang terbaik untuk perawatan beton.

3.6.26 Penulangan Tangga


Tangga adalah suatu elemen bangunan yang mempunyai fungsi
penghubung antara lantai yang satu dengan lantai lain yang berada dibawah atau
diatasnya. Perencanaan tangga diasumsikan sebagai plat beton bertulang.
Penyetelan tulangan dikerjakan langsung diatas bekisting tangga. Penulangan
tangga dilakukan bersamaan antara plat tangga, plat bordes, balok pijakan anak
tangga, dan balok bordes. Langkah-langkah penulangan tangga :
a. Mempersiapkan besi tulangan dan peralatan yang digunakan;
b. Pekerjaan penulangan plat tangga dimulai dengan pemasangan tulangan
lapangan dan tumpuan;
c. Kemudian pemasangan tulangan anak tangga sesuai dengan gambar rencana;
d. Memasang beton deking secukupnya dan diikat dengan kawat bendrat.

3.6.27 Pemasangan Bekisting Tangga


Langkah-langkah pemasangan bekisting :
a. Menyiapkan bahan, kayu 5/7, papan 2/20 dan multipleks tebal 18 mm serta
peralatan yang akan digunakan;
b. Memotong perancah kayu dan multipleks dengan ukuran tertentu serta
merakit bagian-bagian bekisting yang akan dibuat;
c. Mendirikan perancah tiang 5/7 dan gelagar tangga 2/10 sesuai dengan elevasi
kemiringan plat tangga. Dan elevasi pada balok dan plat bordes;
d. Memasang multiplek cetakan plat tangga, plat bordes dan balok bordes bagian
bawah diatas gelagar;
e. Memasang cetakan samping yang telah dipasang klam pengaku;
f. Mengkuatkan posisi cetakan samping dengan menyekorkan kepada tiang-
tiang perancah;
g. Melakukan pengecekkan terhadap kerapatan bekisting untuk menghindari
kebocoran air yang keluar dari campuran.

3.6.28 Pengecoran Tangga


Pekerjaan pengecoran tangga dilakukan bersamaan dengan pengecoran
balok dan plat lantai. Sehingga pengecoran dilakukan dengan ready mix dengan
bantuan concrete pump.
Langkah-langkah pengecoran tangga :
a. Memulai pengecoran dari balok untuk pijakan anak tangga kemudian melebar
ke plat secara terus menerus;
b. Melakukan pemadatan mengikuti pengecoran dan dilakukan dengan hati-hati
agar vibrator tidak mengenai cetakan maupun tulangan karena dapat
menganggu kedudukan tulangan maupun cetakan;
c. Melakuka perataan permukaan dengan alat perata (ruskam) segera setelah
beton dipadatkan.

3.6.29 Pekerjaan Pembongkaran Bekisting Tangga


Pembongkaran bekesting tangga pada proyek ini dilakukan sebelum
pekerjaan tangga di lantai atasnya dilakukan. Untuk waktu pembongkaran dapat
menunggu pekerjaan – pekerjaan lain terlebih dahulu dan menunggu bekisting
balok dan plat di atasnya di bongkar. Sehingga untuk pembongkaran dapat
dilakukan setelah beton mencapai kekuatan maksimum. Pembongkaran bekisting
kolom dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak beton dan perancahnya dapat
dipergunakan kembali.
3.6.30 Pekerjaan Perawatan Tangga
Perawatan beton dapat dilakukan dengan menyiram air dan dihindarkan
dari getaran-getaran yang dapat merusak beton itu sendiri. Perawatan itu dilakukan
minimal 10 hari setelah pengecoran berlangsung. Selama beton belum cukup umur
tidak boleh ada pembebanan diatasnya.

3.7 Pekerjaan Atap


Pekerjaan atap adalah pekerjaan pembuatan atap dari mulai perangkaian
kuda-kuda sampai pemsangan pada tempatnya. Pekerjaan ini membutuhkan
ketelitian dan kecermatan yang tinggi dan harus dilakukan oleh tenaga ahli yang
benar-benar berpengalaman dalam pengerjaan ini.

3.7.1 Pabrikasi Rangka Kuda-kuda


Pabrikasi adalah pembuatan dan perakitan dari struktur bahan-bahan baja
yang dilakukan di pabrik. Pelaksanaan pembuatan yang dilakukan di pabrik adalah
sebagai berikut:
a. Mempersiapkan bahan dan peralatan
b. Membuat gambar pelaksanaan (shop drawing) berdasarkan gambar yang telah
di terima. Untuk memudahkan pembuatan plat-plat buhul di buat mal dari
karton atau triplek dengan skala 1:1. Gambar pelaksanaan ini selanjutnya
dijadikan acuan dalam pekerjaan pemotongan baja, plat buhul,dan bahan-
bahan lainya. Pemotongan ini menggunakan las listrik.
c. Dalam melakukan pengukuran dan pemotongan ini harus hati-hati dan
membutuhkan ketelitian yang tinggi dan pengalaman dalam bidangnya.
Untuk pemotongan plat simpul terlebih dahulu membuat mal dari bahan
karton atau bahan tripleks dengan skala 1:1, dari mal yang ada tersebut
kemudian diplotkan ke plat yang akan dipotong. Proses pemotongan ini
menggunakan las karbit.
d. Membuat lubang didasarkan pada tanda yang ada, yang dibuat ukuran atau
jarak yang telah ditentukan. Pembuatan lubang baut dengan menggunakan
bor. Rencana pembuatan dan perakitan struktur baja ini di lakukan di
workshop atau pabrik. Setelah semua siap kemudian dikirim ke lokasi proyek.
Pengiriman material ini sebelumnya harus di ketahui dan disetujui oleh
direksi.

3.7.2 Pekerjaan Erection Kuda-kuda


Pemasangan struktur baja adalah memasang dan merakit komponen-
komponen baja di lapangan (proyek) sehingga membentuk suatu kerangka kuda-
kuda baja, setelah sampai dilokasi proyek, maka perangkaian dilakukan di lantai
tiga. Profil 2L dan plat simpul dinaikan keatas dengan menggunakan katrol dan tali
dadung, kemudian rangkaian bahan-bahan tersebut dirangkai menjadi sebuah kuda-
kuda. Dalam perangkaian ini semuanya harus di cek, apakah sudah tepat letak baut-
bautnya, sudut kemiringan dan panjang batangnya sesuai dengan gambar kerja. Jika
semuanya sudah sesuai maka konstruksi sudah siap untuk dipasang. Pada
pengecoran dan kolom dan ringbalk terakhir, bagian atas kolom dan ring balk yang
sudah ditentukan dipasang angkur sebagai dudukan kuda-kuda yang dalam hal ini
menggunakan tumpuan sendi dan rol

Pemasangan angkur harus tepat sehingga nantinya pemasangan kuda-kuda dapat


berjalan dengan lancar dan cepat tanpa mengalami gangguan akibat tidak tepatnya
letak angkur.
Adapun peralatan yang digunakan dalam pemasangan kuda-kuda adalah :
1. Kunci pas
Digunakan untuk mengencangkan/mengendurkan mur/baut pada rangka
kuda-kuda.
2. Tali tambang
Untuk mengikat tali steager katrol pada kolom dan untuk menstabilakan
kuda-kuda pada waktu diangkat dengan katrol.

3. Tali baja
Untuk mengikat antara steager dengan kolom
4. Katrol/tracker
Digunakan untuk mengangkat/menaikan kuda-kuda
5. Steager
Digunakan sebagai dudukan kerekan
6. Pengungkit baja
Merupakan alat bantu untuk menggeser kuda-kuda saat akan dipasang pada
kedudukanya.
Urutan pemasangan kuda-kuda adalah sebagai berikut:
a. Setelah rangkaian kuda-kuda terbentuk, memasang steager di tengah-tengah
bentang antar kolom. Pemasangan steager –steager ini dirangkai dengan baut
dan untuk memperkuat kestabilan digunakan tali baja yang diikatkan dengan
kolom di sekitarnya.
b. Menegakkan dan mendirikan rangkaian kuda-kuda. Caranya adalah pada
bagian tengah kuda-kuda diikat dengan tali baja dan dipasangi jangkar sebagai
pengait. Tali baja selanjutnya dihubungkan steager yang dipasangi katrol.
c. Setelah terpasang, menarik tali baja mulai untuk mengangkat/menaikkan
kuda-kuda tersebut. Sambil dinaikkan, pekerjaan yang lain mengatur kuda-
kuda dengan tali yang diikatkan pada sisi kuda-kuda agar tidak berputar atau
mengenai bangunan lain.
d. Dengan menumpu pada steager, rangka kuda-kuda diletakkan secara perlahan
pada tumpuanya. Perletakan ini harus di bantu oleh pekerja yang berada pada
sisi tumpuanya (diatas).
e. Memulai pemasangan kuda-kuda dari tepi kemudian berjalan sampai ketepi
selanjutnya. Setelah terpasang, antara kuda-kuda satu dengan yang lainya
dihubungkan dengan ikatan angin.
Setelah kuda-kuda benar-benar terpasang sesuai dengan gambar kerja kemudian
dilanjutkan dengan pemasangan penutup atap yang berupa gording dan genteng.

3.7.3 Pekerjaan Penutup Atap


Penutup atap ini menggunakan genteng biasa, sedangkan untuk kasau
menggunakan kayu dengan ukuran 5/7 dan ukuran reng 3/4. Untuk gording baja
digunakan C Light Channels (150 x 50 x 20 x 3,2).
3.7