Anda di halaman 1dari 25

Ekonomi Pembangunan di Indonesia

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah


“Ekonomi Pembangunan”

Dosen Pembimbing:
H.Dady Nurpadi.,MP.

Oleh:
1. Lely Ayu Sitanggang (C1160354)
2. Lugina Ainun (C1160325)
3. Rissa Khoerunissa (C1160300)
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Ekonomi Pembangunan di
Indonesia” tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Ekonomi Pembangunan” pada sementer genap.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangan dan
kelemahan dalam segi materi yang menunjang penyusunan makalah ini. Seperti pepatah
mengatakan “ Tak ada Gading yang Tak Retak” maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran demi penyempurnaan makalah ini sebagai acuan untuk perbaikan kedepannya.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini dan berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
DAFTAR ISI
ABSTRAK
Globalisasi merupakan salah satu proses dalam perubahan tatanan masyarakat yang lebih
modern, dengan komunikasi yang lebih mudah dan sangat cepat tanpa mempedulikan batas-batas
wilayah. Dalam Globalisasi di bidang perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi
dan perdagangan dimana seluruh dunia menjadi satu kesatuan pasar tanpa rintangan batas
territorial negara. Dalam hal ini keterkaitan antara ekonomi nasional dan perekonomian
internasional hubungannya semakin erat.
Dalam perdagangan, globalisasi juga akan memberikan kesempatan untuk produk
domestik masuk ke pasar internasional dengan mudah begitu juga dengan produk luar yang
semakin mudah untuk masuk kedalam negeri. Globalisasi dibidang ekonomi bisa memberikan
dampak yang positif namun juga bisa memberikan dampak negative untuk masyarakat yang tidak
bisa menyeimbangkan perekonomian mengingat batas dari arus pemasaran yang sudah kabur.
Dalam perdagangan, globalisasi juga akan memberikan kesempatan untuk produk domestik masuk
ke pasar internasional dengan mudah begitu juga dengan produk luar yang semakin mudah untuk
masuk kedalam negeri. Globalisasi dibidang ekonomi bisa memberikan dampak yang positif
namun juga bisa memberikan dampak negative untuk masyarakat yang tidak bisa
menyeimbangkan perekonomian mengingat batas dari arus pemasaran yang sudah kabur.
Pembangunan ekonomi merupakan suatu perubahan yang terjadi secara terus-menerus
melalui serangkaian kombinasi proses demi mencapai sesuatu yang lebih baik yaitu adanya
peningkatan pendapatan perkapita yang terus menerus berlangsung dalam jangka panjang.
Disetiap negera ketidakstabilan ekonomi kerap terjadi, namun ketidakstabilan ini harus
segera ditindak lanjuti dengan adanya upaya-upaya untuk memperbaikinya. Indonesia yang baru
saja bangkit dari keterpurukan akibat krisis ekonomi dan krisis multidimensional senanatiasa
berupaya untuk memberikan kesempatan untuk mengembangkan pemberdayaan ekonomi.
Pemberdayaan ekonomi yang dimaskud adalah untuk menstabilkan perekonomian dalam ruang
lingkup kecil adalah pengembangan kegiatan simpan pinjam dan lembaga keuangan mikro (LKM)
dan pengembangan usaha kecil mikro (UKM).
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan ekonomi merupakan suatu keharusan jika suatu negara ingin meningkatkan
taraf hidup dan kesejahteraan rakyatnya. Dengan kata lain, pembangunan ekonomi merupakan
upaya sadar dan terarah dari suatu bangsa untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya melalui
pemanfaatan sumberdaya yang tersedia. Peningkatan kesejahteraan ini antara lain dapat diukur
dari kenaikan tingkat pendapatan nasional atau laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan
perkapita yang berkelanjutan (Sukirno, 1985). Pembangunan ekonomi dalam perspektif yang luas
dipandang sebagai suatu proses multidimensi yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas
struktur sosial, sikap masyarakat, institusi nasional, disamping tetap mengejar akselerasi
pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketimpangan distribusi pendapatan serta pengentasan
kemiskinan (Todaro, 1997). Salah satu indikator kemajuan pembangunan adalah pertumbuhan
ekonomi. Indikator ini pada dasarnya mengukur kemampuan suatu negara untuk berkembang.
Pembangunan bukan merupakan tujuan melainkan hanya alat sebagai proses untuk
menurunkan kemiskinan dan mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan. Jadi berkurangnya
ketidakmerataan distribusi pendapatan dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan
inti dari pembangunan. Selama pertumbuhan ekonomi dan hasil-hasil dari pembangunan dapat
dinikmati secara adil dan merata oleh seluruh masyarakat, maka masalah ketidakmerataan
distribusi pendapatan tidak akan muncul.
Oleh karena itu, penulis mengkaji tentang pembangunan ekonomi di Indonesia untuk
mengetahui perkembangan dan permasalahan ekonomi di Indonesia sehingga dapat mencari solusi
yang bisa dilpikasikan dimasa mendatang untuk memajukan pembangunan ekonomi dari berbagai
sektor.

1.2 Tujuan
1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekonomi Pembangunan
2. Mengetahui perkembangan pembanguan ekonomi di Indonesia baik masalah maupun solusi
1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan ekonomi di Indonesia?
2. Bagaimana strategi dan kebijakan pembangunan ekonomi di Indonesia?
3. Bagaimana solusi dari permasalahan pembangunan ekonomi yang terjadi di Indonesia?
BAB 1I
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pembangunan Ekonomi


2.1.1 Pengertian Pembangunan Ekonomi
Pengertian pembangunan dalam sejarah dan strateginya telah mengalami evolusi perubahan,
mulai dari strategi pembangunan yang menekankan kepada pertumbuhan ekonomi, kemudian
pertumbuhan dan kesempatan kerja, pertumbuhan dan pemerataan, penekanan kepada kebutuhan
dasar (basic needapproach), pertumbuhan dan lingkungan hidup, dan pembangunan yang
berkelanjutan (suistainable development). Perubahan evolutif dari pengertian di atas didasarkan
atas banyak kekecewaan dan hasil umpan balik dari pelaksanaan pembangunan yang tidak
mencapai sasaran-sasaran yang diinginkan serta kekurangan informasi dalam memahami
persoalan-persoalan yang timbul yang sebelumnya tidak dapat diramalkan serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya (Ekaputra, 2009).
Pembangunan secara garis besar adalah suatu proses multidimensi yang melibatkan
perubahan struktur sosial, kelembagaan nasional, percepatan pertumbuhan ekonomi, pemerataan
pendapatan dan pengentasan kemiskinan yang kesemuanya itu bertujuan untuk meningkatkan
kualitas hidup masyarakat (Todaro, 2000).
Todaro dalam Sirojuzilam (2008:16), mendefinisikan pembangunan ekonomi adalah suatu
proses yang bersifat multidimensional, yang melibatkan kepada perubahan besar, baik terhadap
perubahan struktur ekonomi, perubahan sosial, mengurangi atau menghapuskan kemiskinan,
mengurangi ketimpangan, dan pengangguran dalam konteks pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan ekonomi di suatu negara erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi.
Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka pembangun ekonomi di setiap sektor pun akan ikut
mengalami kemajuan. Pertumbuhan ekonomi merupakan unsur penting dalam proses
pembangunan wilayah yang masih merupakan target utama dalam rencana pembangunan di
samping pembangunan sosial. Pertumbuhan ekonomi adalah proses di mana terjadi kenaikan
produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau
berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah
bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada kenaikan output per kapita. Pertumbuhan ekonomi
menggambarkan kenaikan taraf hidup diukur dengan output riil per orang.
Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan atau perkembangan jika tingkat
kegiatan ekonominya meningkat atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dengan kata lain, perkembangannya baru terjadi jika jumlah barang dan jasa secara fisik yang
dihasilkan perekonomian tersebut bertambah besar pada tahun-tahun berikutnya. Indikator
keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah dapat ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan pendapatan masyarakat secara keseluruhan sebagai
cerminan kenaikan seluruh nilai tambah (value added) 13 yang tercipta di suatu wilayah.

2.1.2 Tujuan Pembangunan Ekonomi


Tujuan pembangun ekonomi secara umum yaitu untuk mempercepat pemulihan ekonomi
dan mewujudkan landasan pembangunan yang lebih kokoh bagi pembangunan ekonomi
berkelanjutan. Pembangunan nasional diarahkan pada tujuan berikut ini, yaitu:
1. Tujuan Jangka Pendek
Pembangunan ekonomi jangka pendek lebih fokus dalam peningkatan taraf hidup,
kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin adil dan merata serta meletakkan
landasan yang kuat untuk tahap pembangunan berikutnya.
2. Tujuan Jangka Panjang
Berfokus dalam mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata, material dan
spiritual berdasarkan Pancasila di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) yang merdeka, bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana peri kehidupan
bangsa yang aman, tenteram, tertib, dan dinamis dalam lingkungan pergaulan dunia yang
merdeka, bersahabat, tertib, dan damai.

2.1.3 Stategi Pembangunan Ekonomi


Pembangunan ekonomi akan berjalan dengan lancar jika ditopang dengan sebuah stategi
yang bagus. Strategi pembangunan ekonomi dapat meminimalisir tingkat kegagalan, meskipun
pada dasarnya potensi kegagalan masih tetap ada namun akan lebih kecil jika adanya stategi yang
telah dirancangkan dengan berbagai macam pertimbangan. Secara umum strategi pembangunan
ekonomi terbagi atas 2 macam yaitu:
1. Kebijakan Dalam Negeri
a. Pemerintah
Peranan pemerintah dalam pembangunan ekonomi setiap negara berbeda-beda.
Contohnya pemerintah Jepang yang sangat turut andil dalam pertumbuhan
ekonominya. Sedangkan di Inggris dan Amerika peran pemerintah sangat sedikit. Peran
pemerintah pada negara yang belum maju sangatlah penting, hal ini untuk
memperlancar pembangunan. Situasi negara maju yang sangat berbeda dengan negara
berkembang menyebabkan hal tersebut terjadi.
Terdapat dua pendapat yang melandasi peranan pemerintah dalam pembangunan
ekonomi. Aliran pertama menyatakan bahwa pembangunan nasioanl harus dialakukan
langsung secara besar-besaran. Pemerintah harus melaksanakan akumulasi kapital.
Sedangkan aliran kedua menyatakan bahwa pembangunan harus dilakukan secara
perlahan-lahan, dengan perencanaan sedikit, industrialisasi dilaksanakan secara
perlahan dengan kepentingan mekanisme pasar demi berkembangnya usah swasta.
b. Pendidikan dan Kesehatan
Perkembangan pendidikan dan kesehatan di negara maju menjadi factor penting dalam
mengurangi hambatan-hambatan dalam pembangunan ekonomi. Peran pendidikan
sangat penting untuk meningkatkan kualiatas penduduk sedangkan peran kesehatan
dapat meningkatkan produktivitas masyarakat.
c. Fasilitas Pelayanan Umum
Investasi fasilitas dan sarana umum merupakan dasar pertumbuhan ekonomi yang tidak
akan dilakukan oleh pihak lain. Hnaya pemerintah yang akan melakukan pembangunan
pada sarana fasilitas umum. Fasilitas pelayanan umum sifatnya tidak langsung
memberi keutungan, kecuali dalam jangka panjang.
d. Perbaikan Bidang Petanian
Perbaikan bidang pertanian sangat penting karena perekonomian di Indonesia sebagian
besar masih berada dalam bidang pertanian. Pembangunan di bidang pertanian dapat
dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan-pelatihan terhadap petani dan
mengembangkan teknologi pertanian. Hal ini penting karena kegiatan pertanian yang
besar dapat menguntungkan bi;a ada penggunaan mesin dan produksi barangnya
dengan spesialisasi.
e. Kebijakan Fisikal
Kebijakan fisikal penting dilakukan negara berkembang guna mempengaruhi
pendaptan, mununjukan akumulasi kapital dan menahan inflasi atau deflasi. Kebijakan
ini bergerak dibidang perpajakan yaitu mengenai penerimaan dan pengeluaran negara.
f. Kebijakan Moneter
Pembangunan ekonomi memerlukan kebijakan moneter untuk mempengaruhi
tersedianya kredit guna menanggulangi inflasi dan mempertahankan kesembangan
neraca pembayaran internasional. Di Indonesia kebijakan ini dilakukan oleh Bank
Indonesia.
g. Wiraswasta
Wiraswasta membantu pembangunan ekonomi. Dalam jangka pendek kegiatan
wiraswasta dapat mendorong adanya koperasi, industry kecil dan industry besar dan
dalam jangka panjang kewirausahaan dapt memperbaiki keuangan dalam negeri.
Pemerintah dapat mendorong banyaknya wiraswasta dengan berinovasi agari ditiru
oleh wiraswasta tersebut.
2. Kebijakan Luar Negeri
a. Kebijakan pemerintah dilakukan dengan melindungi industry dalma negeri demgan
melakanakan proteksi, subsidi dan kebijakan nilai tukar.
b. Pada Bantuan teknis berupa mengatur dan membentuk tim internasionala untuk
memberi nasihat perdagangan pada negara belum maju, menyediakan elatihan dan
fasilitas tenaga ahli dan sebagainya.
c. Investasi asing swasta, dapat berbentuk langsung maupun tidak langsung. Pemerintah
harus menetapkan aturan terhadap investasi asing, jangan sampai investasi di
negaranya dipenuhi investor asing, sehingga memetikan investor dalam negeri.
d. Investasi asing pemerintah, berupa pinjaman bagi negara tidak mampu dari negara-
negara maju ataupun organisasi kerja sama Internasional.
e. Kebijakan dalam perdagangan, mengenai pola perkembangan sektor industry, dan
penagturan perdagangan serta permasalahan dalam perdagangan. Ekspor, tsrif dan
kuota juga merupakan bagian yang harus diperhatikan dalam memperhatikan
perdagangan luar negerinya.
2.2 Sejarah Perkembangan Perekonomian di Indonesia
Indonesia terletak di posisi geografis antara benua Asia dan Eropa serta samudra Pasifik dan
Hindia, sebuah posisi yang strategis dalam jalur pelayaran niaga antar benua. Salah satu jalan sutra,
yaitu jalur sutra laut, ialah dari Tiongkok dan Indonesia, melalui selat Malaka ke India. Dari sini
ada yang ke teluk Persia, melalui Suriah ke laut Tengah, ada yang ke laut Merah melalui Mesir
dan sampai juga ke laut Tengah (Van Leur). Perdagangan laut antara India, Tiongkok, dan
Indonesia dimulai pada abad pertama sesudah masehi, demikian juga hubungan Indonesia dengan
daerah-daerah di Barat (kekaisaran Romawi).
Perdagangan di masa kerajaan-kerajaan tradisional disebut oleh Van Leur mempunyai sifat
kapitalisme politik, dimana pengaruh raja-raja dalam perdagangan itu sangat besar. Misalnya di
masa Sriwijaya, saat perdagangan internasional dari Asia Timur ke Asia Barat dan Eropa,
mencapai zaman keemasannya. Raja-raja dan para bangsawan mendapatkan kekayaannya dari
berbagai upeti dan pajak. Tak ada proteksi terhadap jenis produk tertentu, karena mereka justru
diuntungkan oleh banyaknya kapal yang “mampir”.
Penggunaan uang yang berupa koin emas dan koin perak sudah dikenal di masa itu, namun
pemakaian uang baru mulai dikenal di masa kerajaan-kerajaan Islam, misalnya picis yang terbuat
dari timah di Cirebon. Namun penggunaan uang masih terbatas, karena perdagangan barter banyak
berlangsung dalam sistem perdagangan Internasional. Karenanya, tidak terjadi surplus atau defisit
yang harus diimbangi dengan ekspor atau impor logam mulia.
Kejayaan suatu negeri dinilai dari luasnya wilayah, penghasilan per tahun, dan ramainya
pelabuhan. Hal itu disebabkan, kekuasaan dan kekayaan kerajaan-kerajaan di Sumatera bersumber
dari perniagaan, sedangkan di Jawa, kedua hal itu bersumber dari pertanian dan perniagaan. Di
masa pra kolonial, pelayaran niaga lah yang cenderung lebih dominan. Namun dapat dikatakan
bahwa di Indonesia secara keseluruhan, pertanian dan perniagaan sangat berpengaruh dalam
perkembangan perekonomian Indonesia, bahkan hingga saat ini.
Seusai masa kerajaan-kerajaan Islam, pembabakan perjalanan perekonomian Indonesia dapat
dibagi dalam empat masa, yaitu masa sebelum kemerdekaan, orde lama, orde baru, dan masa
reformasi.
2.2.1 Masa Sebelum Kemrdekaan
Sebelum merdeka, Indonesia mengalami masa penjajahan yang terbagi dalam beberapa
periode. Ada empat negara yang pernah menduduki Indonesia, yaitu Portugis, Belanda, Inggris,
dan Jepang. Portugis tidak meninggalkan jejak yang mendalam di Indonesia karena keburu diusir
oleh Belanda, tapi Belanda yang kemudian berkuasa selama sekitar 350 tahun sudah menerapkan
berbagai sistem yang masih tersisa hingga kini. Untuk menganalisa sejarah perekonomian
Indonesia, rasanya perlu membagi masa pendudukan Belanda menjadi beberapa periode
berdasarkan perubahan-perubahan kebijakan yang mereka berlakukan di Hindia Belanda (sebutan
untuk Indonesia saat itu).

a. Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)


Belanda yang saat itu menganut paham Merkantilis benar-benar menancapkan kukunya di
Hindia Belanda. Belanda melimpahkan wewenang untuk mengatur Hindia Belanda kepada VOC
(Vereenigde Oost-Indische Compagnie), sebuah perusahaan yang didirikan dengan tujuan untuk
menghindari persaingan antar sesama pedagang Belanda, sekaligus untuk menyaingi perusahaan
imperialis lain seperti EIC (Inggris).
Untuk mempermudah aksinya di Hindia Belanda, VOC diberi hak Octrooi, yang antara lain
meliputi:
1.Hak mencetak uang
2.Hak mengangkat dan memberhentikan pegawai
3.Hak menyatakan perang dan damai
4.Hak untuk membuat angkatan bersenjata sendiri
5.Hak untuk membuat perjanjian dengan raja-raja
Hak-hak itu seakan melegalkan keberadaan VOC sebagai “penguasa” Hindia Belanda.
Namun walau demikian, tidak berarti bahwa seluruh ekonomi Nusantara telah dikuasai VOC.
Kenyataannya, sejak tahun 1620, VOC hanya menguasai komoditi-komoditi ekspor sesuai
permintaan pasar di Eropa, yaitu rempah-rempah. Kota-kota dagang dan jalur-jalur pelayaran yang
dikuasainya adalah untuk menjamin monopoli atas komoditi itu. VOC juga belum membangun
sistem pasokan kebutuhan-kebutuhan hidup penduduk pribumi. Peraturan-peraturan yang
ditetapkan VOC seperti verplichte leverentie (kewajiban meyerahkan hasil bumi pada VOC) dan
contingenten (pajak hasil bumi) dirancang untuk mendukung monopoli itu. Disamping itu, VOC
juga menjaga agar harga rempah-rempah tetap tinggi, antara lain dengan diadakannya pembatasan
jumlah tanaman rempah-rempah yang boleh ditanam penduduk, pelayaran Hongi dan hak
extirpatie (pemusnahan tanaman yang jumlahnya melebihi peraturan). Semua aturan itu pada
umumnya hanya diterapkan di Maluku yang memang sudah diisolasi oleh VOC dari pola pelayaran
niaga samudera Hindia.
Dengan memonopoli rempah-rempah, diharapkan VOC akan menambah isi kas negri
Belanda, dan dengan begitu akan meningkatkan pamor dan kekayaan Belanda. Disamping itu juga
diterapkan Preangerstelstel, yaitu kewajiban menanam tanaman kopi bagi penduduk Priangan.
Bahkan ekspor kopi di masa itu mencapai 85.300 metrik ton, melebihi ekspor cengkeh yang Cuma
1.050 metrik ton.
Namun, berlawanan dengan kebijakan merkantilisme Perancis yang melarang ekspor
logam mulia, Belanda justru mengekspor perak ke Hindia Belanda untuk ditukar dengan hasil
bumi. Karena selama belum ada hasil produksi Eropa yang dapat ditawarkan sebagai komoditi
imbangan ekspor perak itu tetap perlu dilakukan. Perak tetap digunakan dalam jumlah besar
sebagai alat perimbangan dalam neraca pembayaran sampai tahun 1870-an.
Pada tahun 1795, VOC bubar karena dianggap gagal dalam mengeksplorasi kekayaan
Hindia Belanda. Kegagalan itu nampak pada defisitnya kas VOC, yang antara lain disebabkan oleh
1. Peperangan yang terus-menerus dilakukan oleh VOC dan memakan biaya besar,
terutama perang Diponegoro.
2. Penggunaan tentara sewaan membutuhkan biaya besar.
3. Korupsi yang dilakukan pegawai VOC sendiri.
4. Pembagian dividen kepada para pemegang saham, walaupun kas defisit.
Maka, VOC diambil-alih (digantikan) oleh republik Bataaf (Bataafsche Republiek).
Republik Bataaf dihadapkan pada suatu sistem keuangan yang kacau balau. Selain karena
peperangan sedang berkecamuk di Eropa (Continental stelstel oleh Napoleon), kebobrokan bidang
moneter sudah mencapai puncaknya sebagai akibat ketergantungan akan impor perak dari Belanda
di masa VOC yang kini terhambat oleh blokade Inggris di Eropa. Sebelum republik Bataaf mulai
berbenah, Inggris mengambil alih pemerintahan di Hindia Belanda.
b. Pendudukan Inggris (1811-1816)
Inggris berusaha merubah pola pajak hasil bumi yang telah hampir dua abad diterapkan
oleh Belanda, dengan menerapkan Landrent (pajak tanah). Sistem ini sudah berhasil di India, dan
Thomas Stamford Raffles mengira sistem ini akan berhasil juga di Hindia Belanda. Selain itu,
dengan landrent, maka penduduk pribumi akan memiliki uang untuk membeli barang produk
Inggris atau yang diimpor dari India. Inilah imperialisme modern yang menjadikan tanah jajahan
tidak sekedar untuk dieksplorasi kekayaan alamnya, tapi juga menjadi daerah pemasaran produk
dari negara penjajah. Sesuai dengan teori-teori mazhab klasik yang saat itu sedang berkembang di
Eropa, antara lain:
1. Pendapat Adam Smith bahwa tenaga kerja produktif adalah tenaga kerja yang
menghasilkan benda konkrit dan dapat dinilai pasar, sedang tenaga kerja tidak
produktif menghasilkan jasa dimana tidak menunjang pencapaian pertumbuhan
ekonomi. Dalam hal ini, Inggris menginginkan tanah jajahannya juga meningkat
kemakmurannya, agar bisa membeli produk-produk yang di Inggris dan India sudah
surplus (melebihi permintaan).
2. Pendapat Adam Smith bahwa salah satu peranan ekspor adalah memperluas pasar bagi
produk yang dihasilkan (oleh Inggris) dan peranan penduduk dalam menyerap hasil
produksi.
3. The quantity theory of money bahwa kenaikan maupun penurunan tingkat harga
dipengaruhi oleh jumlah uang yang beredar.
Akan tetapi, perubahan yang cukup mendasar dalam perekonomian ini sulit dilakukan, dan
bahkan mengalami kegagalan di akhir kekuasaan Inggris yang Cuma seumur jagung di Hindia
Belanda. Sebab-sebabnya antara lain:
a. Masyarakat Hindia Belanda pada umumnya buta huruf dan kurang mengenal uang,
apalagi untuk menghitung luas tanah yang kena pajak.
b. Pegawai pengukur tanah dari Inggris sendiri jumlahnya terlalu sedikit.
c.Kebijakan ini kurang didukung raja-raja dan para bangsawan, karena Inggris tak mau
mengakui suksesi jabatan secara turun-temurun.
c. Cultuurstelstel
Cultuurstelstel (sistem tanam paksa) mulai diberlakukan pada tahun 1836 atas inisiatif Van
Den Bosch. Tujuannya adalah untuk memproduksi berbagai komoditi yang ada permintaannya di
pasaran dunia. Sejak saat itu, diperintahkan pembudidayaan produk-produk selain kopi dan
rempah-rempah, yaitu gula, nila, tembakau, teh, kina, karet, kelapa sawit, dll. Sistem ini jelas
menekan penduduk pribumi, tapi amat menguntungkan bagi Belanda, apalagi dipadukan dengan
sistem konsinyasi (monopoli ekspor). Setelah penerapan kedua sistem ini, seluruh kerugian akibat
perang dengan Napoleon di Belanda langsung tergantikan berkali lipat.
Sistem ini merupakan pengganti sistem landrent dalam rangka memperkenalkan penggunaan
uang pada masyarakat pribumi. Masyarakat diwajibkan menanam tanaman komoditas ekspor dan
menjual hasilnya ke gudang-gudang pemerintah untuk kemudian dibayar dengan harga yang sudah
ditentukan oleh pemerintah. Cultuurstelstel melibatkan para bangsawan dalam pengumpulannya,
antara lain dengan memanfaatkan tatanan politik Mataram–yaitu kewajiban rakyat untuk
melakukan berbagai tugas dengan tidak mendapat imbalan–dan memotivasi para pejabat Belanda
dengan cultuurprocenten (imbalan yang akan diterima sesuai dengan hasil produksi yang masuk
gudang).
Bagi masyarakat pribumi, sudah tentu cultuurstelstel amat memeras keringat dan darah
mereka, apalagi aturan kerja rodi juga masih diberlakukan. Namun segi positifnya adalah, mereka
mulai mengenal tata cara menanam tanaman komoditas ekspor yang pada umumnya bukan
tanaman asli Indonesia, dan masuknya ekonomi uang di pedesaan yang memicu meningkatnya
taraf hidup mereka. Bagi pemerintah Belanda, ini berarti bahwa masyarakat sudah bisa menyerap
barang-barang impor yang mereka datangkan ke Hindia Belanda. Dan ini juga merubah cara hidup
masyarakat pedesaan menjadi lebih komersial, tercermin dari meningkatnya jumlah penduduk
yang melakukan kegiatan ekonomi nonagraris.
Oleh karena itu dengan menerapkan cultuurstelstel pemerintah Belanda membuktikan teori
sewa tanah dari mazhab klasik, yaitu bahwa sewa tanah timbul dari keterbatasan kesuburan tanah.
Namun dalam hal ini pemerintah Belanda hanya menerima sewanya saja, tanpa perlu
mengeluarkan biaya untuk menggarap tanah yang kian lama kian besar. Biaya yang kian besar itu
meningkatkan penderitaan rakyat, sesuai teori nilai lebih (Karl Marx), bahwa nilai leih ini
meningkatkan kesejahteraan Belanda sebagai kapitalis.
d. Sistem Ekonomi Pintu Terbuka (Liberal)
Adanya desakan dari kaum Humanis Belanda yang menginginkan perubahan nasib warga
pribumi ke arah yang lebih baik, mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengubah
kebijakan ekonominya. Hal ini terjadi dikarnakan ada desakan dari kaum Humanis Belanda yang
menginginkan perubahan nasib warga peibumi kearah yang lebih baik dengan mendorong
pemerintah belanda untuk mengubah kebijakan ekonominya. Namun hal ini malah membuat
masyarakat semakin terpuruk terutama para kuli kontrak yang tidak diperlakukan dengan layak.
Pada masa penjajahan Inggris, Inggris menerapkan Landrent (pajak tanah). Dengan
Landrent, masyarakat Indonedia akan memiliki uang untuk membeli barang produk Inggris atau
yang diimpor dari India. Pada masa penjajahan militer Jepang menerapkan kebijakan pengerahan
sumber daya ekonomi untuk mendukung gerak maju Jepang dalam Perang Pasifik. Akibatknya
terjadi perombakan besar-besaran dalam struktur ekonomi masyarakat.
Kesejahteraan merosot tajam dan terjadi bencana kekurangan pangan, karena produksi bahan
makanan untuk memasok pasukan militer dan produksi minyak jarak untuk pelumas pesawat
tempur menempati prioritas utama. Dibuatlah peraturan-peraturan agraria yang baru, yang antara
lain mengatur tentang penyewaan tanah pada pihak swasta untuk jangka 75 tahun, dan aturan
tentang tanah yang boleh disewakan dan yang tidak boleh. Hal ini nampaknya juga masih tak lepas
dari teori-teori mazhab klasik, antara lain:
a. Keberadaan pemerintah Hindia Belanda sebagai tuan tanah, pihak swasta yang mengelola
perkebunan swasta sebagai golongan kapitalis, dan masyarakat pribumi sebagai buruh
penggarap tanah.
b. Prinsip keuntungan absolut: Bila di suatu tempat harga barang berada diatas ongkos tenaga
kerja yang dibutuhkan, maka pengusaha memperoleh laba yang besar dan mendorong
mengalirnya faktor produksi ke tempat tersebut.
c. Laissez faire laissez passer, perekonomian diserahkan pada pihak swasta, walau jelas,
pemerintah Belanda masih memegang peran yang besar sebagai penjajah yang
sesungguhnya.
Pada akhirnya, sistem ini bukannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi, tapi
malah menambah penderitaan, terutama bagi para kuli kontrak yang pada umumnya tidak
diperlakukan layak.
e. Pendudukan Jepang (1942-1945)
Pemerintah militer Jepang menerapkan suatu kebijakan pengerahan sumber daya ekonomi
mendukung gerak maju pasukan Jepang dalam perang Pasifik. Sebagai akibatnya, terjadi
perombakan besar-besaran dalam struktur ekonomi masyarakat. Kesejahteraan rakyat merosot
tajam dan terjadi bencana kekurangan pangan, karena produksi bahan makanan untuk memasok
pasukan militer dan produksi minyak jarak untuk pelumas pesawat tempur menempati prioritas
utama. Impor dan ekspor macet, sehingga terjadi kelangkaan tekstil yang sebelumnya didapat
dengan jalan impor.
Seperti inilah sistem sosialis ala bala tentara Dai Nippon. Segala hal diatur oleh pusat guna
mencapai kesejahteraan bersama yang diharapkan akan tercapai seusai memenangkan perang
Pasifik.

2.2.2 Orde Lama


a. Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950)
Pasca Proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia
harus mengatur kehidupan sendiri. Pola ekonomi yang masih menganut pola perekonomian
kolonial, membuat ekonomi Indonesia semakin terpuruk. Banyak kesulitan dalam bidang
keuangan yang dihadapi oleh pemerintah yang baru itu, yang harus segera diselesaikan. Sumber
keuangan yang masih sangat terbatas dan pengeluaran yang besar, menjadi salah satu ciri dari
kondisi keuangan pada masa awal kemerdekaan.
Revolusi dalam rangka mempertahankan kemerdekaan juga membutuhkan biaya dalam
usaha tersebut. Selain itu juga untuk menggaji pegawai pemerintah, keuangan negara yang sangat
terbatas. Oleh karena itu pemerintah kemudian menggambil berbagai kebijakan dalam rangka
mengatasi permasalahan-permasalahan dalam bidang ekonomi pada awal terbentuknya negara
kesatuan Republik Indonesia.
Berbagai masalah ekonomi yang ada pada awal kemerdekaan antara lain:
1. Kas negara yang masih kosong. Penghasilan utama pemerintah hanya bergantung pada sektor
pertanian.
2. Perkebunan dan instalasi industry rusak berat akibat adanya politik bumi hangus saat
menghadapi kedatangan Belanda. Politik bumi hangus dilakukan agar tempat-tempat penting
yang ditinggalkan oleh rakyat Indonesia tidak dapat dimanfaatkan oleh Belanda.
3. Jumlah penduduk yang meningkat tajam dan jumlah makanan yang terbatas.
4. Belum memiliki pola dan cara untuk mengatur keuangan. Selain itu juga adanya mentalitas
bangsa Indonesia yang belum siap maju.
5. Beredarnya mata uang Jepang yang semakin merosot nilai tukarnya. Selain itu inflasi juga
disebabkan oleh adanya tiga mata uang yang beredar di masyarakat. Selain mata uang Jepang,
beredar pula mata uang Hindia Belanda dan uang dari De Javasce Bank.
Berbagai kondisi ekonomi tersebut diperparah dengan adanya blokade ekonomi yang
dilakukan oleh Belanda. Belanda melakukan blokade dengan dalih untuk melindungi Indonesia
dari intervensi asing, untuk mencegah dimasukannya senjata dan alat-alat militer ke Indonesia dan
mencegah dikelurkannya hasil perkebunan Belanda. Padahal pada hakekatnya tujuan Belanda
melakukan hal tersebut adalah untuk menghancurkan Indonesia melalui bidang ekonomi. Blokade
ini menimbulkan barang ekspor Indonesia tidak bisa keluar, sekaligus barang impor tidak dapat
diterima. Selain itu blokade ekonomi juga menambah inflasi semakin tinggi.
Selain adanya blokade ekonomi yang dilakukan oleh Belanda, kondisi ekonomi juga
diperburuk dengan adanya gangguan keamanan di berbagai daerah seperti PKI Madiun dan DI/TII
Jawa Barat yang dalam penumpasannya membutuhkan biaya yang besar.
Keadaan ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk, antara lain
disebabkan oleh:
1. Inflasi yang sangat tinggi, Penyebab terjadinya inflasi ini adalah beredarnya mata uang
pendudukan Jepang secara tak terkendali. Pada saat itu diperkirakan mata uang Jepang
yang beredar di masyarakat sebesar 4 milyar. Dari jumlah tersebut, yang beredar di Jawa
saja, diperkirakan sebesar 1,6 milyar. Jumlah itu kemudian bertambah ketika pasukan
Sekutu berhasil menduduki beberapa kota besar di Indonesia dan meguasai bank-bank.
Dari bank-bank itu Sekutu mengedarkan uang cadangan sebesar 2,3 milyar untuk
keperluan operasi mereka. Kelompok masyarakat yang paling menderita akibat inflasi ini
adalah petani. Hal itu disebabkan pada zaman pendudukan Jepang petani adalah produsen
yang paling banyak menyimpan mata-uang Jepang.
Pemerintah Republik Indonesia yang baru berdiri, tidak dapat menghentikan peredaran
mata uang Jepang tersebut, sebab negara RI belum memiliki mata-uang baru sebagai
penggantinya. Maka dari itu, untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan tiga mata
uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu:
a. mata-uang De Javasche Bank;
b. mata-uang pemerintah Hindia Belanda;
c. mata-uang pendudukan Jepang.
Inflasi juga disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak
terkendali. Pada waktu itu, untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan tiga mata
uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang
pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Kemudian pada tanggal 6
Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu)
mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada bulan
Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI (Oeang
Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan teori moneter,
banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat harga.
2. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu
perdagangan luar negri RI.
3. Kas negara kosong.
4. Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan.

Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi, antara lain:


1. Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan Ir. Surachman
dengan persetujuan BP-KNIP, dilakukan pada bulan Juli 1946.
2. Upaya menembus blokade dengan diplomasi beras ke India, mangadakan kontak
dengan perusahaan swasta Amerika, dan menembus blokade Belanda di Sumatera
dengan tujuan ke Singapura dan Malaysia.
3. Konferensi Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan
yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu:
masalah produksi dan distribusi makanan, masalah sandang, serta status dan
administrasi perkebunan-perkebunan.
4. Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947
5. Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948 >>mengalihkan
tenaga bekas angkatan perang ke bidang-bidang produktif.
6. Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa
petunjuk pelaksanaan yang praktis. Dengan swasembada pangan, diharapkan
perekonomian akan membaik (Mazhab Fisiokrat: sektor pertanian merupakan
sumber kekayaan).

b. Masa Demokrasi Liberal (1950-1957)


Masa ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun sistem ekonominya
menggunakan prinsip-prinsip liberal. Perekonomian diserahkan pada pasar sesuai teori-teori
mazhab klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Padahal pengusaha pribumi masih
lemah dan belum bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi, terutama pengusaha Cina. Pada
akhirnya sistem ini hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia yang baru merdeka.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi, antara lain :
a) Gunting Syarifuddin, yaitu pemotongan nilai uang (sanering) 20 Maret 1950, untuk
mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga turun.
b) Program Benteng (Kabinet Natsir), yaitu upaya menunbuhkan wiraswastawan pribumi
dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing
dengan membatasi impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya pada
importir pribumi serta memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi agar
nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. Namun usaha ini
gagal, karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing
dengan pengusaha non-pribumi.
c) Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat
UU no.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi.
d) Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak
Cokrohadisuryo, yaitu penggalangan kerjasama antara pengusaha cina dan pengusaha
pribumi. Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan pada pengusaha
pribumi, dan pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional.
Program ini tidak berjalan dengan baik, karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman,
ehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah.
e) Pembatalan sepihak atas hasil-hasil KMB, termasuk pembubaran Uni Indonesia-Belanda.
Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya sedangkan pengusaha-
pengusaha pribumi belum bisa mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut.

c. Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967)


Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem
demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segala-
galanya diatur oleh pemerintah). Dengan sistem ini, diharapkan akan membawa pada kemakmuran
bersama dan persamaan dalam sosial, politik dan ekonomi (Mazhab Sosialisme). Akan tetapi,
kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki
keadaan ekonomi Indonesia, antara lain:
a) Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai
berikut: Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50, uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi
Rp 100, dan semua simpanan di bank yang melebihi 25.000 dibekukan.
b) Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis
Indonesia dengan cara terpimpin. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi
bagi perekonomian Indonesia. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%.
c)Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000
menjadi Rp 1. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah
lama, tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Maka
tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi.
Kegagalan-kegagalan dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah karena pemerintah
tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya. Pada masa ini banyak proyek-proyek
mercusuar yang dilaksanakan pemerintah, dan juga sebagai akibat politik konfrontasi
dengan Malaysia dan negara-negara Barat. Sekali lagi, ini juga salahsatu konsekuensi dari
pilihan menggunakan sistem demokrasi terpimpin yang bisa diartikan bahwa Indonesia
berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam politik, eonomi, maupun bidang-bidang lain.
2.2.3 Orde Baru
Pada awal orde baru, stabilisasi ekonomi dan stabilisasi politik menjadi prioritas utama.
Program pemerintah berorientasi pada usaha pengendalian inflasi, penyelamatan keuangan negara
dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Pengendalian inflasi mutlak dibutuhkan, karena pada
awal 1966 tingkat inflasi kurang lebih 650 % per tahun.
Setelah melihat pengalaman masa lalu, dimana dalam sistem ekonomi liberal ternyata
pengusaha pribumi kalah bersaing dengan pengusaha nonpribumi dan sistem etatisme tidak
memperbaiki keadaan, maka dipilihlah sistem ekonomi campuran dalam kerangka sistem ekonomi
demokrasi pancasila. Ini merupakan praktek dari salahsatu teori Keynes tentang campur tangan
pemerintah dalam perekonomian secara terbatas. Jadi, dalam kondisi-kondisi dan masalah-
masalah tertentu, pasar tidak dibiarkan menentukan sendiri. Misalnya dalam penentuan UMR dan
perluasan kesempatan kerja. Ini adalah awal era Keynes di Indonesia. Kebijakan-kebijakan
pemerintah mulai berkiblat pada teori-teori Keynesian.
Kebijakan ekonominya diarahkan pada pembangunan di segala bidang, tercermin dalam 8
jalur pemerataan : kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan, pembagian pendapatan,
kesempatan kerja, kesempatan berusaha, partisipasi wanita dan generasi muda, penyebaran
pembangunan, dan peradilan. Semua itu dilakukan dengan pelaksanaan pola umum pembangunan
jangka panjang (25-30 tahun) secara periodik lima tahunan yang disebut Pelita (Pembangunan lima
tahun).
Hasilnya, pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras, penurunan angka
kemiskinan, perbaikan indikator kesejahteraan rakyat seperti angka partisipasi pendidikan dan
penurunan angka kematian bayi, dan industrialisasi yang meningkat pesat. Pemerintah juga
berhasil menggalakkan preventive checks untuk menekan jumlah kelahiran lewat KB dan
pengaturan usia minimum orang yang akan menikah.
Namun dampak negatifnya adalah kerusakan serta pencemaran lingkungan hidup dan
sumber-sumber daya alam, perbedaan ekonomi antar daerah, antar golongan pekerjaan dan antar
kelompok dalam masyarakat terasa semakin tajam, serta penumpukan utang luar negeri.
Disamping itu, pembangunan menimbulkan konglomerasi dan bisnis yang sarat korupsi, kolusi
dan nepotisme. Pembangunan hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi tanpa diimbangi
kehidupan politik, ekonomi, dan sosial yang adil. Sehingga meskipun berhasil meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, tapi secara fundamental pembangunan nasional sangat rapuh. Akibatnya,
ketika terjadi krisis yang merupakan imbas dari ekonomi global, Indonesia merasakan dampak
yang paling buruk. Harga-harga meningkat secara drastis, nilai tukar rupiah melemah dengan
cepat, dan menimbulkan berbagai kekacauan di segala bidang, terutama ekonomi.
2.2.4. Orde Reformasi
Pemerintahan presiden BJ. Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan
manuver-manuver yang cukup tajam dalam bidang ekonomi. Kebijakan-kebijakannya diutamakan
untuk mengendalikan stabilitas politik. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid
pun, belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan.
Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain
masalah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), pemulihan ekonomi, kinerja BUMN,
pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs rupiah. Malah presiden terlibat skandal
Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat. Akibatnya, kedudukannya
digantikan oleh presiden Megawati.
1. Masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri
Masalah-masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan ekonomi dan penegakan
hukum. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara
lain:
a) Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-
3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116.3 triliun.
b)Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam periode
krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan
mengurangi beban negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi
Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi, karena BUMN yang
diprivatisasi dijual ke perusahaan asing.
Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi
belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. Padahal keberadaan korupsi membuat
banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia, dan mengganggu
jalannya pembangunan nasional.
b) Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono
Kebijakan kontroversial pertama presiden Yudhoyono adalah mengurangi subsidi BBM,
atau dengan kata lain menaikkan harga BBM. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga
minyak dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan, serta
bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua, yakni
Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan
yang berhak, dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial.
Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan
pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang
investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. Salah satunya adalah diadakannya
Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu, yang mempertemukan para
investor dengan kepala-kepala daerah.
Menurut Keynes, investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja.
Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan
bagi investor, terutama investor asing, yang salahsatunya adalah revisi undang-undang
ketenagakerjaan. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia, diharapkan jumlah kesempatan
kerja juga akan bertambah.
Pada pertengahan bulan Oktober 2006 , Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF
sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan ini, maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-
agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negri. Namun wacana untuk berhutang lagi pada
luar negri kembali mencuat, setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara
penduduk kaya dan miskin menajam, dan jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 jiwa di
bulan Februari 2005 menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. Hal ini disebabkan karena
beberapa hal, antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sector riil masih sangat kurang
(perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI), sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas
pada turunnya investasi. Selain itu, birokrasi pemerintahan terlalu kental, sehingga menyebabkan
kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap, karena inefisiensi pengelolaan anggaran. Jadi, di
satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negri, tapi di lain pihak, kondisi
dalam negri masih kurang kondusif.
c) Masa Kepeminpinan Jokowi dan Yusuf kala
Yaitu dengan adanya kebijakan pembuatan banyak kartu seperti kartu sehat, kartu
berprestasi dan kartu kartu lainnya mengikuti tren. serta kebijaka yang dikeluarkan. ada tida paket
kebijakan yaitu Pak jokowi mengeluarkan 3 paket kebijakan. Paket-paket tersebut adalah:
a. Mendorong daya saing industri nasional melalui deregulasi dan debirokrasi. “Ada 89
peraturan yang diubah dari 154,” kata Jokowi. “Sehingga ini bisa menghilangkan
duplikasi, bisa memperkuat, dan memangkas peraturan yang tidak relevan, atau
menghambat industri nasional.”
b. Mempercepat proyek strategis nasional, termasuk penyediaan lahan dan penyederhanaan
izin, serta pembangunan infrastruktur.
c. Meningkatkan investasi di bidang properti dengan mendorong pembangunan rumah
untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Diharapkan kebijakan ini akan membuka
peluang investasi yang lebih besar di sektor properti.

2.3 Permasalahan Pembangunan Ekonomi di Indonesia


2.3.1 Sektor Primer
2.3.2 Sektor Sekunder