Anda di halaman 1dari 18

TEKNOLOGI PENGOLAHAN DERIVAT

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER

LAPORAN PRAKTIKUM
“PRODUK DERIVAT”

Disusun oleh :
Nama : AJI GESANG PRAYOGI
NIM : 161710101078
Kelas / Kelompok : THP-C / 6
Acara : Lotion
Tanggal Praktikum : Senin, 3 Desember 2018

Asisten :
1. Rina Kartika Wati 082340144468
2. Lutfi Putri Yusviani 082346057858
3. Dwi Cahya Putra 081217280695
4. Seno Dwi Pratama P 082233842560
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kosmetik pada saat ini sering digunakan oleh kaum wanita untuk merawat
kulit tubuh ataupun yang digunakan untuk tata rias. Tidak hanya kaum wanita,
kaum pria pun juga tidak mau kalah. Penampilan fisik bagi seorang pria maupun
wanita menjadi cantik, awet muda, dan menarik itu sangatlah penting. Perawatan
kulit menjadi sebuah trend gaya hidup di beberapa kalangan yang tidak dapat
ditinggalkan baik oleh kaum wanita maupun pria, hal ini dikarenakan munculnya
kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan kulit.
Kulit membutuhkan nutrisi untuk tetap lembab dalam menjaga kesehatan
kulit. Jika kulit kekurangan nutrisi maupun vitamin maka dapat menyebabkan
kulit menjadi kusam dan kering. Dengan perawatan yang benar dan rutin dapat
membuat kulit menjadi sehat. Cara menjaga kelembaban kulit tidak hanya
dilakukan dengan makanan yang kaya nutrisi, namun juga dapat dilakukan dengan
member nutrisi dari luar. Salah satu cara menjaga kesehatan kulit dari luar yaitu
dengan rutin menggunakan lotion.
Hand body lotion merupakan suatu sediaan kosmetika berbentuk emulsi cair
yang digunakan pada daerah tangan dan tubuh dengan tujuan melembabkan dan
melembutkan kulit (Buchmann, 2001; Mitsui, 1997). Kebutuhan nutrisi kulit kita
sudah disediakan oleh alam, sehingga dengan menggunakan bahan-bahan yang
alami akan lebih aman untuk digunakan. Setiap bahan alam tersebut memiliki
manfaat yang berbeda-beda. Seperti ekstrah daun teh. Salah satu senyawa yang
ada pada daun teh yaitu antioksidan. Antioksidan berfungsi sebagai pelindung dari
radikal bebas yang reaktif terhadap sel-sel tubuh dengan cara mengikat elektron
molekul sel. Sumber pembentuk senyawa radikal bebas antara lain paparan sinar
matahari yang berlebih, polusi, dan asap rokok. Bagian tubuh yang sering terpapar
radikal bebas adalah kulit. Kulit yang terkena paparan radikal bebas terlalu lama
dapat menyebabkan penuaan kulit dan dapat mulai karsinogenesis (Mucha,
Budzisz, and Rotsztejn, 2013; Umayah dan Amrun, 2007).
Antioksidan yang ada pada daun teh berasal dari senyawa polifenol yaitu
berupa katekin. Katekin merupakan komponen terbesar tanaman teh hijau
(Camellia sinensis Linn.) yang termasuk dalam flavonoid golongan flavon.
Katekin memiliki komponen seperti (-)-epicatechin gallate (ECG), (-)- epicatechin
(EC), (-)-epigallocatechin (EGC), dan (-)-epigallocatechin gallate (EGCG)
(Namita, Mukesh, and Vijay, 2012). EGCG merupakan komponen terbesar dan
menjadi senyawa antioksidan yang kuat dibandingkan komponen yang lain. Oleh
karena itu dilakukan praktikum pembuatan lotion bahan alami dari ekstrak daun
teh untuk mengetahui potensi lotion ekstrak daun teh dalam menjaga kesehatan
kulit.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu
1. Untuk mengetahui proses pembuatan calamine lotion
2. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan penambahan ekstrak teh terhadap sifat
fisik calamine lotion.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Calamine Lotion


Calamine lotion merupakan sediaan atau lebih tepatnya adalah produk
kosmetik yang dioleskan pada kulit atau permukaan kulit yang banyak digunakan
sebagai anti iritasi akibat gatal-gatal pada kulit. Calamine lotion senidri
merupakan campuran dari calamine, ZnO2, dimana bahan ini merupakan bahan
baku yang umum digunakan (Denny, 2014). Calamine lotion ini menggunakan
bahan-bahan seperti, calamine sebagai zat aktif, ZnO2 sebagai bahan aktif, gliserol
sebagai humektan atau penambahn atau pengontrol viskositas.
Calamine lotion yaitu sejenis lotion kulit yang mengandung ZnCO3 pertama
kali digunakan untuk kulit. Calamine adalah campuran antara Zink Oksida (ZnO)
dengan kira-kira 0.5% Feric Oksida (Fe2O3). Kedua-dua bahan ini adalah bahan
utama dalam lotion cal amine dan digunakan sebagai antipuritic (agen anti-
gatal,disebabkan kehadiran fenol dalam formulanya) untuk merawat keadaan
pruritic yang ringanseperti terbakar sinar matahari, ekzema, ruam, racun ivy, cacar
air, sengatan dan gigitanserangga. Ia juga digunakan sebagai antiseptik yang
ringan untuk mengelakkan jangkitan yang boleh disebabkan oleh aktiviti
menggaru kawasan terjejas dan sebagai astrigen untuk mengeringkan kawasan
yang melepuh dan juga jerawat.
Didalam dunia kedokteran, khususnya pada pasien pasca operasi diberikan
zinc (ZnSO4) untuk mempercepat penutupan luka. Kemampuan zinc dalam
mempercepat penutupan luka ini disebabkan karena zinc mempunyai peranan
penting dalam sintesa protein dan proses replikasi (perbanyakan) sel-sel tubuh .
Struktur kulit kita terdiri dari jaringan ikat yang tersusun oleh protein. Pada
kondisi defisiensi zinc, maka proses sintesa protein dan replikasi dari sel-sel
jaringan ikat bawah kulit akan menjadi terhambat. Sehingga proses penutupan
luka akan terhambat pula (Sulistyawati, 2009).
2.2 Kegunaan Calamine Lotion
Calamine lotion merupakan lotion yang hambar, menghaluskan, dan
antipruritik. Umumnya digunakan pada beberapa kondisi dermatologis. Lotion ini
menggabungkan dengan oksida seng untuk menghasilkan lotion yang digunakan
untuk membantu mengurangi iritasi yang terkait dengan dermatitis. Calamine
lotion juga berguna untuk merawat luka bakar karena terdapat kandungan zinc
oxide yang digunakan disebagian besar sunscreen, yaitu dapat membantu
mengurangi kemerahan dan pembengkakan. Efeknya yang sangat menyejukkan
membuatnya sangat efektif untuk mengobati sengatan matahari. Calamine lotion
tidak mengandung bahan berbahaya dan merupakan obat yang dipercaya dengan
sangat baik (Vanloey NE, and Bremer M, 2008).
Gatal atau iritasi tahap awal penyembuhannya ditandai dengan pelepasan sel
histamine secara langsung sebagai tanda dari respon inflamasi terhadap cidera dan
secara tidak langsung merupakan respon untuk pembentukan kolagen selama
tahap proliferasi penyembuhan luka. Maka dari itu calamine lotion dapat
menghambat iritasi atau gatal dengan cara menghambat pengeluaran sel histamine
yang berlebih (Denny, 2014).

2.3 Pengertian Teh


Tanaman teh (Camelia sinensis) berasal dari Asia Tenggara. Pada tahun 2737
SM, teh sudah dikenal di Cina, bahkan sejak abad ke-4 M telah dimanfaatkan
sebagai salah satu komponen ramuan obat. Teh diperkenalkan pertama kali oleh
pedagang Eropa pada tahun 1601 M dan menjadi minuman popular di Inggris
sejak tahun 1664 M. Tanaman teh dapat tumbuh mulai dari pantai sampai
pegunungan. Teh ditanam pada ketinggian 2000 mdpl di pegunungan Assam,
namun perkebunan teh umumnya dikembangkan di daerah pegunungan yang
beriklim sejuk. Meskipun dapat tumbuh subur di dataran rendah, tanaman teh
tidak akan memberikan hasil dengan mutu yang baik. Semakin tinggi daerah
penanaman teh, maka akan semakin tinggi mutunya (Ghani, 2002)
Menurut Somantri (2011), teh (Camelia sinesis) berdaun kecil, dan
mempunyai banyak cabang. Tanaman teh dapat tumbuh hingga mencapai 3
sampai 5 meter, tahan terhadap suhu dingin dan dapat terus menerus melakukan
produksi sampai usia 100 tahun. Daun teh berwarna hijau tua mengkilat dengan
bulu-bulu halus dan bunga berwarna putih kecil yang 11 mempunyai lima sampai
tujuh kelopak, sedangkan buahnya kecil menyerupai buah pala.
Ada tiga jenis teh yang dihasilkan di Indonesia, yaitu; teh hitam, teh hijau, dan
teh oolong. Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi, teh hitam diperoleh
melalui proses fermentasi, dan teh oolong diperoleh secara semi fermentasi.
Menurut Setiawati (1991), beberapa zat yang terkadung dalam daun teh disajikan
pada Tabel 1.
Tabel 1. Kandungan yang Terdapat pada Daun Teh
Jenis Kandungan Jumlah Kandungan
Air 9,51
Bahan nitrogen 24,50
Kafein 3,58
Minyak eteris 0,68
Lemak, hijau daun, lilin 6,39
Dextrin 6,44
Tannin 15,65
Pektin 16,02
Serat 11,58
Abu 5,65
Sumber : Setiawati, (1991)

2.4 Ekstrak Teh Sebagai Anti Bakteri


Ekstrak teh merupakan ekstrak yang diapat dari ekstraksi daun teh dengan
menggunakan pelarut berupa air maupun etanol. Teh hijau mengandung polifenol
lebih banyak dibanding jenis teh yang lain. Polifenol mempunyai daya antibakteri
dengan cara menghambat aktivitas glucosyltransferase (Miller Hamilton, 1995).
Katekin merupakan komponen terbesar tanaman teh hijau (Camellia sinensis
Linn.) yang termasuk dalam flavonoid golongan flavon. Katekin memiliki
komponen seperti (-)-epicatechin gallate (ECG), (-)- epicatechin (EC), (-)-
epigallocatechin (EGC), dan (-)-epigallocatechin gallate (EGCG) (Namita,
Mukesh, and Vijay, 2012). EGCG merupakan komponen terbesar dan menjadi
senyawa antioksidan yang kuat dibandingkan komponen yang lain.
epigallocatechin gallate mempunyai kemampuan sebagai antibakteri, yang bekerja
dengan cara menghambat fungsi selaput sitoplasma (Cushnie T. P. dan Lamb
Andrew J., 2007). Flavonol utama dalam daun teh yaitu quercetin dan kaemferol.
Quercetin memounyai daya anti bakteri dengan cara kerja menghambat DNA
gyrase (Cushnie T. P. dan Lamb Andrew J., 2007).

2.5 Fungsi Bahan yang Digunakan


2.5.1 Gliserin
Dalam pembuatan lotion gliserin digunakan sebagai moisturizer untuk
perawatan kulit kering dan pengunaannya pada produk kosmetik atau perawatan
kulit dapat meminimalisir terjadinya iritasi kulit (Lode, 2009).
2.5.2 Aqua Jasmine
Aqua jasmine berbentuk cairan jernih dan memiliki bau seperti bau
tanaman asli yaitu tanaman jasmine. Aqua jasmine memiliki tingkat kelarutan
yang tinggi dalam kloroform dan eter. Aqua jasmine dalam lotion digunakan
sebagai pewangi (Dirjen POM, 1979)
2.5.3 ZnO
ZnO atau seng oksida berbentuk serbuk amorf sangat halus, berupa warna
putih atau putih kekuningan, tidak berbau, tidak berasa dan dapat menyerap
karbon dioksida dari udara secara lambat. Seng oksida bagi kulit dapat membantu
penyembuhan penyakit pada kulit, mengontrol inflamasi dan kelebihan minyak.
Selain itu juga dapat meningkatkan system imun pada kulit, melindungi kulit dari
polusi, dan dapat membantu penyembuhan luka.
2.5.4 Ekstrak Teh
Ekstrak teh merupakan ekstrak yang diapat dari ekstraksi daun teh dengan
menggunakan pelarut berupa air maupun etanol. Teh hijau mengandung polifenol
lebih banyak dibanding jenis teh yang lain. Polifenol mempunyai daya antibakteri
dengan cara menghambat aktivitas glucosyltransferase (Miller Hamilton, 1995).
Katekin merupakan komponen terbesar tanaman teh hijau (Camellia sinensis
Linn.) yang termasuk dalam flavonoid golongan flavon. Katekin memiliki
komponen seperti (-)-epicatechin gallate (ECG), (-)- epicatechin (EC), (-)-
epigallocatechin (EGC), dan (-)-epigallocatechin gallate (EGCG) (Namita,
Mukesh, and Vijay, 2012). EGCG merupakan komponen terbesar dan menjadi
senyawa antioksidan yang kuat dibandingkan komponen yang lain.
epigallocatechin gallate mempunyai kemampuan sebagai antibakteri, yang bekerja
dengan cara menghambat fungsi selaput sitoplasma (Cushnie T. P. dan Lamb
Andrew J., 2007). Flavonol utama dalam daun teh yaitu quercetin dan kaemferol.
Quercetin memounyai daya anti bakteri dengan cara kerja menghambat DNA
gyrase (Cushnie T. P. dan Lamb Andrew J., 2007). .
2.5.5 Calamine
Calamine berbentuk serbuk halus berwarna merah jambu, tidak berbau,
dan tidak berasa. Calamine tidak larut dalam air, akan tetapi larut dalam asam
mineral. Dalam lotion calamine dikombinasikan dengan ZnO berguna untuk
mengurangi iritasi yang berkaitan dengan dermatitis dan cairan kental berwarna
pink (Denny, 2014).
BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
a. Spatula
b. Beaker glass
c. Hot plate
d. Pot plastic sebagai wadah
e. Waterbath
f. Mortir
3.1.2 Bahan
a. Calamine (5 g)
b. ZnO (2,5g)
c. Gliserin (2,5g)
d. Aqua Jasmine (50 mL)
e. Ekstrak teh (0 mL) (0,25 mL) (0,5 mL) (0,75 mL) (1 mL)
f. Kertas label
g. Plastik klip

3.2 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan


3.2.1 Ekstraksi Teh

Daun teh yang


telah dihaluskan

Aquadest 1:20 Ekstraksi

Pemanasan dengan waterbath T = 1000C


selama 1 jam

Ekstrak teh
Pertama-tama persiapan bahan dan alat yang digunakan. Bahan yang
digunkan teh yang telah dihaluskan dan aquades sebagai pelarut. Sedangkan alat
yang digunkan timbangan gelas ukur, waterbath dan sepatula. Proses pertam yaitu
teh yang telah dihaluskan kemudian ditambahkan aquadest dengan perbandingan
1:20 hal ini bertujuan agar mempermudah proses ekstraksi dan sebagai pelarut.
Selanjutnya dilakukannya ekstraksi dengan pemanasan menggunkan waterbath
dengan suhu 1000C selam 1jam. Hal ini bertujuan agar melarutkan zat-zat yang
terkandung dalam teh. Proses terakhir yaitu ekstrak teh siap di lakukan
pengolahan lanjutan.
3.2.2 Peracikan lotion
Calamine

Pelembutan dan pengadukan


pada mortir

ZnO Homogenisasi

Glyserin, Aqua
jasmine Homogenisasi

Calamine lotion

Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan
yang dibutuhkan. Bahan yang digunakan antara lain ekstrak teh, gliserin, ZnO,
Calamine, dan Aqua Jasmine. Selanjutnya yaitu mempersiapkan calamine pada
mortir, lalu dilembutkan dengan mortar, hal tersebut berguna untuk
mempermudah proses selanjutnya dan memudahkan bahan untuk homogen.
Langkah selanjutnya yaitu menambahkan ZnO dan menghomogenisasi,
penambahan ZnO berguna untuk zat antibakteri. Lalu ditambahkan aqua jasmine
dan gliserin dan dihomogenisasi. Penambahan aqua jasmine berguna untuk
pemberi aroma pada lotion, dan pemberiaan gliserin berguna untuk pengental
lotion yang dihasilkan. Dan terakhir ditambahkan ekstrak teh dengan 5 formulasi
yang berbeda, dan terbentuklah Calamine lotion.
BAB 4. PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Kelompok
Parameter
6 7 8 9 10
Warna +++++ + ++ +++ ++++
Aroma ++++ +++ + ++ +++++
Kelarutan + ++ +++++ +++ ++++
Kekentalan ++ +++++ +++ ++++ +
Kecepatan
+++++ ++++ +++ ++ ++
Pengeringan

Keterangan:
Kecepatan
Skor Warna Aroma Kelarutan Kekentalan
Pengeringan
+++++ Bening Menyengat Larut Kental Sulit kering

++++ Agak Agak Agak Sulit


Agak Larut Agak Kental
Bening Menyengat Kering
+++ Netral Netral Netral Netral Netral

++ Agak Agak Tidak Agak Tidak Agak Tidak Agak Mudah


Keruh Menyengat Larut Kental Kering

+ Tidak
Keruh Tidak Larut Tidak Kental Mudah Kering
Menyengat

4.2 Hasil Perhitungan


Dalam praktikum lotion tidak dilakukan perhitungan.

4.3 Pembahasan
Lotion adalah sediaan kosmetika golongan emolien (pelembut) yang
mengandung air lebih banyak. Sediaan ini memiliki beberapa sifat, yaitu sebagai
pelembab bagi kulit, memberi lapisan minyak yang hampir sama dengan sabun,
membuat tangan dan badan menjadi lembut, tetapi tidak berasa berminyak dan
mudah dioleskan. Hand and body lotion (losion tangan dan badan) merupakan
sebutan umum bagi sediaan ini di pasaran (Sularto, et al, 1995).
Jadi, lotion adalah emulsi cair yang terdiri dari fase minyak dan fase air yang
distabilkan oleh emulgator, mengandung satu atau lebih bahan aktif di dalamnya.
Konsistensi yang berbentuk cair memungkinkan pemakaian yang cepat dan
merata pada permukaan kulit, sehingga mudah menyebar dan dapat segera kering
setelah pengolesan serta meninggalkan lapisan tipis pada permukaan kulit
(Lachman et al., 1994).
Dalam pembuatan lotion, faktor penting yang harus diperhatikan adalah
fungsi dari lotion yang dlinginkan untuk dikembangkan. Fungsi dari lotion adalah
untuk mempertahankan kelembaban kulit, melembutkan dan membersihkan,
mencegah kehilangan air, dan mempertahankan bahan aktif (Setyaningsih, dkk.,
2007). Lotion juga dipakai untuk menyejukkan, mengeringkan, anti pruritik dan
efek protektif dalam pengobatan dermatosis akut. Sebaiknya tidak digunakan pada
luka yang berair sebab akan terjadi caking dan runtuhan kulit serta bakteri dapat
tetap tinggal di bawah lotion yang menjadi cake (Anief, 1984). Komponen-
komponen yang menyusun lotion adalah pelembab, pengemulsi, bahan pengisi,
pembersih, bahan aktif, pelarut, pewangi, dan pengawet (Setyaningsih, dkk.,
2007). Hasil pengamatan yang dilakukan, didapatkan 5 parameter yang akan
dibahas yakni warna, aroma, kelarutan, kekentalan, kecepatan pengeringan.
Pada hasil pengamatan warna lotion, warna berguna untuk menentukan
kualitas dan sebagai penentu tingkat kerusakan biologi atau fisikokimia serta
penggunaan warna untuk memproduksi karakteristik parameter kualitas dalam
suatu produk, dalam praktikum lotion menggunakan ekstak teh dalam
pembuatannya yang dapat mempengaruhi warna dari produk yang dihasilkan.
Dalam pengamatan yang dilakukan dapat diketahui bahwa pada dari setiap
sampel menghasilkan warna yang berbeda beda. Hal ini disebabka n perbedaan
konsentrasi ekstrak daun teh yang digunakan dalam pembuatan lotion. Semakin
tinggi konsentrasi ekstrak daun teh yang ditambahkan, maka semakin gelap atau
pekat warna lotion yang dihasilkan. Berdasarkan data, warna paling pekat
dihasilkan oleh perlakuan lotion dengan penambahan ekstrak teh sebanyak
0,25ml. Hal ini tidak sesuai dengan literatur dimana yang seharusnya memiliki
warna paling pekat adalah sampel dengan penambahan 1 ml ekstrak teh. Hal immi
bisa disebabkan pada proses penghomogenan yang tidak merata dan penambahan
calamin yang dapat mempengaruhi warna dari lotion tersebut. Hal ini juga
dikarenakan daun teh memiliki kandungan polifenol seperti tanin yang memiliki
warna mulai dari kuning hingga coklat tua, sehingga jika ditambahkan pada suatu
produk dengan konsentrasi yang tinggi akan membuat warna produk tersebut
semakin pekat (Murhadi, 2007).

Aroma dalam suatu produk dapat menentukan bau atau tidaknya suatu
produk tersebut (Yusufa, 2008). Pada praktikum ini, lotion ekstrak daun teh yang
dihasilkan memiliki aroma khas melati, hal ini dikarenakan pewangi yang
ditambahkan yaitu ekstrak melati dengan jumlah yang sama. Berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh hasil data aroma yang berbeda-beda
pada setiap sampelnya. Hal ini dikarenakan perbedaan konsentrasi ekstrak daun
teh dan ekstrak melati yang digunakan dalam pembuatan hand sanitizer.

Pada hasil pengamatan kekentalan lotion, didapatkan hasil bahwa lotion yang
dihasilkan memiliki kekentalan yang sedikit kental. Hal tersebut dikarenakan
konsentrasai gliserin yang digunakan mempengaruhi kekentalan lotion skin yang
dihasilkan. Menurut Verde et al, (2002) gliserin memiliki kemampuan untuk
membentuk gel dan secara thermo-reversible atau larutan kental jika ditambahkan
ke dalam larutan garam sehingga banyak dimanfaatkan sebagai pembentu gel,
pengental, dan bahan penstabil di berbagai industri seperti pangan, farmasi,
kosmetik, percetakan, dan tekstil. Kekentalan lotion yang dihasilkan juga
dipengaruhi oleh penambahan ekstrak teh yang digunakan, hal tersebut karena
semakin tinggi konsentrasi ekstrak teh yang ditambahkan maka kelengketan atau
viskositasnyanya semakin meningkat (Yuliani et al, 2011). Akan tetapi
penambahan ekstrak teh dengan formulasi yang berbeda tidak terlalu berpengaruh
terhadap kekentalan, hal tersebut dikarenakan tidak diimbangi dengan
penambahan zat pengental yang diperukan.
Hasil pengamatan kecepatan pengeringan dari lotion yang dihasilkan,
didapatkan hasil bahwa semakin besar atau banyak konsentrasi ekstrak teh yang
digunakan, maka semakin sulit menyebar. Syarat daya sebar untuk sediaan lotion
adalah 5-7 cm (Ulaen dkk, 2012). Semakin tinggi konsentrasi ekstrak teh yang
digunakan, maka semakin kecil daya sebarnya. Hal tersebut dikarenakan
komponen air dalam sediaan lotion semakin rendah pada kosentrasi yang semakin
besar. Hal tersebut menyebabkan lotion yang dihsailkan semakin kental sehingga
daya sebarnya menurun. Berdasarkan hasil tersebut, maka perbedaan konsentrasi
penambahan ekstrak teh dapat berpegaruh terhadap daya sebar lotion yang
dihasilkan. Akan tetapi Menurut Hapsari, et al, (2014), bahwa kelengketan atau
viskositas yang tinggi akan membuat suatu sediaan daya melekatnya juga semakin
tinggi. Dengan hasil kelengketan atau viskositas yang semakin tinggi pula,
menyebabkan kecepatan pengeringan pun semakin tinggi. Hal tersebut
dikarenakan komponen air dalam sediaan lotion semakin rendah pada kosentrasi
yang semakin besar dan menyebabkan lotion semakin cepat kering dan tidak
terlalu lama basah di kulit (Ulaen dkk, 2012).
kelarutan merupakan kemampuan suatu zat kimia tertentu untuk larut dalam
suatu pelarut. Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang
larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Dari hasil pengamatan diperoleh
bahwa parameter 8 memiliki tingkat kelarutan yang paling tinggi, hal ini bisa
disebabkan karena proses penghomogenan yang sudah tepat sehingga membuat
bahan yang diguakan larut secara merata. Bahan yang mempengaruhi kelarutan
dari lotion yakni aqua jasmine itu sendiri. Aqua jasmine memiliki tingkat
kelarutan yang tiinggi dalam kloroform dan eter, sehingga jika dilakukan
penghomogenan dengan benar maka akan menghasilkan lotion yang lembut dan
memiliki kenampakan yang bagus. (Silva et al, 2006).
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini yaitu :
1. Calamine lotion merupakan sediaan atau lebih tepatnya adalah produk
kosmetik yang dioleskan pada kulit atau permukaan kulit yang banyak
digunakan sebagai anti iritasi akibat gatal-gatal pada kulit. Calamine lotion
senidri merupakan campuran dari calamine, ZnO2, dimana bahan ini
merupakan bahan baku yang umum digunakan. Calamine lotion ini
menggunakan bahan-bahan seperti, calamine sebagai zat aktif, ZnO2 sebagai
bahan aktif, gliserol sebagai humektan atau penambahn atau pengontrol
viskositas.
2. Penambahan ekstrak teh dengan konsentrasi yang berbeda dapat
menyebabkan perubahan pada viskositas atau kekentalan, warna, aroma
kecepatan pengeringan dan kelarutan. Akan tetapi untuk prubahan kekentalan
tidak berpengaruh, dan stabilitas emulsinya juga tidak berpengaruh nyata.
Hanya pada kecepatan pengeringan yang terlihat jelas pengaruh penambahan
ekstrak teh.

5.2 Saran
Untuk praktikum selanjutnya diharapkan kakak kakak asdos dapat lebih
memperhatikan adik adiknya sehingga praktikum dapat berjalan dengan tenang
dan sebaiknya untuk praktikum lotion mendatang dapat dilakukan pengamatan
yang lebih spesifik dan dengan cara yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 1984. Ilmu Farmasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.


Buchmann, S., 2001, ‘Main Cosmetic Vehicle’, in Paye, M., Barel, A.O.,
Maibach, H.I., Handbook of Cosmetic Science and Technology, 2nd ed.,
Marcel Dekker, Inc, New York, 151-153
Caesar, R.Y., Indri Hapsari, & Binar, A.D. (2014). Formulasi dan Aktivitas
Antibakteri Lotion Minyak Atsiri Buah Adas (Foeniculum vulgare Mill).
Media Farmasi, Vol.11 No.1Maret 2014: 41-54.
Cushnie, T. P. & Lamb, A. J., 2005, Antimicrobial activity of flavonoids,
International Journal of Antimicrobial Agents, 26, 343–356.
Denny. 2014. Teknologi sediaan cair calamine lotion. Makassar. Sekolah tinggi
ilmu farmasi
Ditjen POM Depkes RI, 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta, 9.
Ghani, A.M. 2002. Buku Pintar Mandor: Dasar-Dasar Budidaya Teh. Penebar
Swadaya, Depok.
J.M.T. Hamilton-Miller. 1995. Antimicrobial Properties of Tea. Antimicrobial
agents and chemotherapy (39)11: 2375-2377.
Lachman, L., H.A. Lieberman, and J.L. Kanig. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri, Jilid II, Edisi III. Jakarta : Universitas Indonesia.
Mitsui, 1997, New Cosmetics Science, Elsevier, New York, pp. 191-196
Mucha, P., Budzisz E., and Rotsztejn H., 2013, The Inhibitory effects of
polyphenols on Skin UV Immunosuppression, Postepy Hig Med Dosw
(online), 67: 358-362
Namita, P., Mukesh, R., and Vijay, K.J., 2012, Camellia Sinensis (Green Tea): A
Review, Global Journal of Pharmacology, 6(2): 52-59
Setiawati, I. dan Nasikun. 1991. Teh Kajian Sosial Ekonomi. Aditya Media.
Yogyakarta. hal. 98
Setyaningsih, Owi, Erliza Hambali, dan Muharamia Nasution. 2007. Aplikasi
Minyak Sereh Wangi (Citronella Oil) dan Geraniol Dalam Pembuatan
Skin Lotionpenolak Nyamuk. Jurnal Teknologi Indonesi Vol 17(3) : 97-
103.
Silva CM, Riberio AJ, Figueiredo M, Ferreira D Veiga F. 2006.
Microencapsulation of hemoglobin in chitosan-coated alginate microspheres
prepared by emulsification internal gelation. AAPS JOURNAL 7 : E903-
E912
Somantri R. 2011. Kisah & Khasiat Teh. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sularto, S. A. dkk. 1995. Pengaruh Pemakaian Madu sebagai Penstubtitusi
Gliserin dalam Beberapa Jenis Krim Terhadap Kestabilan Fisiknya.
Laporan Penelitian, LP Unpad. Bandung: Universitas Padjajaran.
Ulaen, Selfie P.J., Banne, Yos Suatan & Ririn A., 2012. Pembuatan Salep Anti
Jerawat dari Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.).
Jurnal Ilmiah Farmasi. 3(2):45-49
Umayah, E. dan Amrun, M., 2007, Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Buah Naga
(Hylocereus undatus (Haw.) Britt. & Rose). Jurnal Ilmu Dasar, 8(1): 83-90
Van de Velde, Knutsen, Usov, A.I. Romella, Cerezo, A.S. 2002. 1H and 13C high
resolution NMR spectoscopy of carrageenans: Aplication in research and
industry. Trend in Food Science and Technology. 13:73-92.
Van Loey NE, van Beeck EF, Faber BW, van de Schoot R, Bremer M. Health-
Related Quality of Life After Burns: A Prospective Multicentre Cohort
Study With 18 Months Follow-Up. J Trauma. 2011
Yuliani, Marwati, Muhammad Wahyu RF. 2011. Studi variasi konsentrasi ekstrak
rosela (Hibiscus sabdariffa L.) dan Karaginan terhadap mutu minuman jeli
rosela. Jurnal Teknologi Pertanian. 7(1):1-8. ISSN 1858-2419.