Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

MANAJEMEN TERNAK UNGGAS


MANAJEMEN PEMELIHARAAN AYAM PEMBIBIT

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 5
KELAS A

NABIILAH MEILAWATI S 200110160022


NAI NURAZIZAH 200110160054
ANA TRIANA 200110160163
DEDE RANDIAN LUBIS 200110160182
DEKA RUSLINASIH 200110160188
ANNISA NUR ALAWIYAH 200110160
FAUZAN LUTFI 200110160204

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT karena hanya berkat rakhmat dan

hidayah-Nya penyusunan Makalah yang berjudul “” ini dapat diselesaikan dengan

baik. Penyusunan makalah ini dimaksudkan sebagai salah satu syarat terpenuhinya

tugas dari Mata Kuliah Manajemen Ternak Unggas dan merupakan komponen

penting dalam Manajeman Ternak Unggas sendiri sehingga diharapkan praktikan

dapat menguasai teori dari materi tersebut.

Izinkanlah penyusun mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah

memberikan sumbangan pemikiranya, tenaga, maupun waktu untuk mengevaluasi,

memberikan masukan, dan mengoreksi laporan ini, terutama kepada dosen

pengampu mata kuliah Manajemen Ternak Unggas yaitu .Semoga semua yang telah

dilakukan dijadikan dan dicatat sebagai amal baik oleh Allah SWT, Aamiin.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh

karena itu, saran yang membangun dari pembaca sangat dibutuhkan untuk

penyempurnaan laporan ini.

Sumedang, Oktober 2018

Penyusun
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Usaha peternakan merupakan salah satu yang berpotensi dapat

menghasilkan keuntungan yang besar, sehingga dengan potensi tersebut

mengakibatkan usaha peternakan mengalami peningkatan.

Ayam bibit adalah ayam yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan

keturunan yang mempunyai kualitas genetik yang sama atau lebih unggul dari

tetuanya. Ayam pembibit terbagi atas 4 yaitu ayam pembibit Pure Line atau ayam

galur murni, ayam pembibit Great Grand Parent Stock atau ayam bibit buyut, ayam

pembibit Grand Parent Stock, ayam pembibit parent stock atau ayam induk. Ayam

pembibit yang sering digunakan adalah Ross, Cobb, dan Hubbard. Karena strain

ayam ini yang populer di Indonesia.

Usaha peternakan ayam pembibit membutuhkan cara persiapan,

pemeliharaan, penanganan yang berbeda dengan peternakan ayam broiler dan layer.

Karena pada semua peternakan harus disesuaikan dengan apa jenis ayam dan

kebutuhan atau tujuan yang ingin dihasilkan.

Makalah ini dibuat untuk mengetahui bagaimana manajemen peternakan

ayam pembibit dari awal chick in, pemeliharaan hingga perkawinan dan

penanganan penyakit.

1.2 Identifikasi Masalah

(1) Bagaimana persiapan kandang untuk ayam pembibit.

(2) Bagaimana chick in untuk peternakan ayam pembibit.

(3) Bagaimana pemeliharaan ayam pembibit.


(4) Bagaimana cara perkawinan ayam pembibit.

(5) Bagaimana mengatasi penyakit dalam peternakan ayam pembibit.

1.3 Maksud dan Tujuan

(1) Mengetahui persiapan kandang untuk ayam pembibit.

(2) Mengetahui proses chick in untuk peternakan ayam pembibit.

(3) Mengetahui pemeliharaan ayam pembibit.

(4) Mengetahui cara perkawinan ayam pembibit.

(5) Mengetahui cara mengatasi penyakit dalam peternakan ayam pembibit.


II

PEMBAHASAN

2.1 Persiapan Kandang Ayam Pembibit

Lokasi pemeliharaan ayam broiler sebaiknya jauh dari keramaian atau

perumahan penduduk, mudah terjangkau dari pusat-pusat pemasaran dan lokasi

yang dipilih bersifat menetap, artinya tidak mudah terganggu oleh keperluan-

keperluan lain kecuali untuk usaha peternakan (Kusantati et al., 2008). Selain

pertimbahan ekonomis dan higienis, pemilihan lokasi kandang perlu

mempertimbangkan masalah sarana transportasi, sumber air, ketinggian lokasi

tanah dari tanah sekitarnya, ketenangan dan kenyamanan (Fadilah, 2004).

Memelihara ayam broiler sebaiknya dilakukan di tempat yang mempunyai

ketinggian 400-1.000 meter dari permukaan laut (mdpl). Kurang dari ketinggian

400 meter dpl menyebabkan ayam mudah stress karena pengaruh panas. Sementara

itu, ketinggian tempat di atas 1.000 meter dpl akan berpengaruh buruk terhadap

ayam karena jumlah oksigen yang tersedia semakin rendah (Johari, 2004).

Kandang merupakan salah satu kebutuhan penting dalam usaha peternakan.

Kandang yang baik adalah kandang yang dapat memberikan kenyamanan bagi

ayam, mudah dalam tatalaksana, dapat memberikan produksi yang optimal,

memenuhi persyaratan kesehatan dan bahan kandang mudah didapat serta murah

harganya. Kondisi kandang harus diperhatikan dengan baik yang memacu pada

prinsip ideal yang senantiasa memberikan perhatian pada temperatur lingkungan,

kelembaban udara dan sikulasi atau pertukaran udara (Pattilesanno dan Randa,

2011).
Letak antarkandang perlu diatur secara higienis, sehingga kemungkinan

terjangkitnya penyakit dapat dihindari atau dicegah (Fadilah, 2004). Menurut

pendapat Kusantati et al. (2008), kandang sebaiknya dibangun membujur atau

memanjang ke arah barat-timur, dengan tujuan agar seluruh bagian kandang terkena

sinar matahari, terutama pada waktu pagi. Sinar matahari membantu sintesis

provitamin B menjadi vitamin B di dalam tubuh. Kandang harus dibuat di tempat

yang cukup terkena sinar matahari. Kandang yang menghadap barat-timur memiliki

kentungan diantaranya kandang tidak panas dan sinar matahari pagi baik untuk

kesehatan terutama pembentukan provitamin D yang sangat dibutuhkan dalam

pembentukan tulang (Johari, 2004). Hindari pembangunan kandang di lokasi teduh

atau sinar matahari tidak dapat masuk kandang karena tertutup rimbun pepohonan

atau bangunan tinggi (Suprijatna dan Kartasudjana, 2010).

2.1.1 Syarat Perkandangan Untuk Peternakan Ayam Pedaging

1. Letak Kandang

Letak kandang peternakan ayam broiler di daerah Poniman terletak pada

dataran rendah yang sejajar dengan pemukiman penduduk. Kandang terdiri dari dua

kelompok, jarak kandang yang satu dengan kandang yang lain yaitu 3 meter,

sehingga tidak terjadi pencemaran antara kandang yang satu dengan kandang yang

lain. Kandang membujur dengan terbitnya matahari ( timur dan barat), sedangkan

tempat tinggal karyawan satu bangunan dengan kandang ayam.


Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Sudaryani dan Santoso, (2003),
bahwa beberapa faktor perlu diperhatikan pada saat menentukan kandang yaitu:
letak kandang sebaiknya dibuat lebih tinggi dari tanah disekitarnya, penataan antara
satu bangunan dengan banguna lainnya harus dapat menjamin tidak terjadinya
pencemaran, letak kandang harus memungkinkan sinar matahari pagi dapat leluasa
masuk ke dalam kandang.
Letak kandang peternakan ayam broiler sesuai dengan yang dikemukakan
Sudaryani dan Santoso, (2003), yaitu jarak antara kelompok kandang 3 meter dan
arah bangunan kandang membujur sesuai dengan terbitnya matahari. Kandang lebih
tinggi dari pemukiman penduduk dan tempat tinggal karyawan seharusnya jauh dari
kandang atau tidak satu bangunan dengan kandang ayam. Letak kandang sebaiknya
berjarak sekurang-kurangnya 50 meter dari rumah tenaga kerja atau bangunan lain-
lain seperti gudang, kantor dan lain-lain.
2. Konstruksi Kandang
Banyak bentuk dan konstruksi kandang yang bisa dibangun, tetapi
semuanya harus didasarkan pada kegunaan dan rencana usaha yang akan
dijalankan. Menurut Fadilah dkk (2007), semua bentuk kandang yang dibuat
ditujukan untuk ayam bisa hidup dengan nyaman dan aman dari lingkungan,
sehingga ayam dapat berproduksi dengan optimal. Konstruksi kandang meliputi,
atap, dinding, lantai dan sistem ventilasi pada kandang.
3. Atap Kandang
Atap kandang adalah bagian dari bangunan kandang yang berfungsi untuk
menaungi bagian dalam kandang dari panas matahari dan curah hujan. Bahan yang
digunakan sebagai atap perlu dipilih dari jenis bahan yang ringan, tahan panas, tidak
menyerap atau menghantar panas, tidak mudah bocor dan tahan terhadap curah
hujan yang tinggi.
Atap kandang yang digunakan perusahaan adalah atap monitor berbahan
seng. Menurut pendapat Rasyaf (2003), atap sistem monitor dapat meningkatkan
fungsi ventilasi. Di bawah atap kandang terdapat langit-langit kandang yang terbuat
dari terpal. Tinggi langit-langit kandang dari lantai yaitu 2,1 m.
4. Dinding Kandang
Dinding kandang berfungsi sebagai pelindung keberadaan ayam dari
gangguan luar dan penghalang ayam agar tetap berada dalam kandang. Dinding
kandang terdiri atas kawat monitor dan beton yang dilapisi dengan tirai yang terbuat
dari terpal. Tinggi dinding kandang yang terbuat dari beton sampai ke kawat
monitor yaitu 50 cm, sedangkan tinggi kawat monitor sampai atap terendah yaitu
1,6 m.
Tirai pada dinding kandang ada dua yaitu tirai berwarna putih dan tirai
hitam. Tirai putih berfungsi untuk membantu penerangan pada
periode starter dan layer, sedangkan tirai hitam untuk menahan cahaya dari luar
pada periode grower. Pada saat produksi telur telah mencapai 60%, tirai hitam akan
diturunkan dan light trap (penghalang cahaya) sudah dapat dilepas dari kipas
(exhaust fan). Tujuan penurunan tirai hitam agar pencahayaan di dalam kandang
dibantu oleh cahaya luar sehingga penggunaan lampu di dalam kandang dapat
dikurangi.
5. Lantai Kandang
Lantai kandang menggunakan sistem litter berbahan sekam
padi. Litter adalah hamparan alas kandang yang berguna sebagai alas tidur,
penghangat bagi ayam dan mengurangi kelembaban lantai kandang. Ketebalan
sekam padi sekitar 15-20 cm.
Menurut Rasyaf (2003), keuntungan sistem litter adalah menurunkan
peluang ayam lepuh dada, sedangkan kerugiannya yaitu alas kandang mudah dan
cepat basah dan menimbulkan bau tidak sedap yang dapat menyuburkan bibit
penyakit terutama CRD (Chronic Respiratory Disease).
6. Sistem Ventilasi
Menurut Priyatno (2002), ventilasi adalah jalan keluar masuknya udara
sehingga udara segar dari luar dapat masuk untuk menggantikan udara yang kotor
dari dalam kandang. Sistem ventilasi yang digunakan perusahaan
menggunakan cooling pad dan exhaust fan. Cooling padmengalirkan udara segar
yang dibutuhkan ke dalam kandang dan exhaust fan mengeluarkan udara kotor ke
luar kandang. Jumlah fan yang dipasang disesuaikan dengan volume ruangan
kandang, populasi ayam jantan dan betina serta rataan bobot badan jantan dan
betina.
Konstruksi kandang Peternakan ayam broiler telah sesuai dengan yang
dikemukakan oleh Sudaryani dan Santono, 2003 yaitu kandang dikatakan nyaman
dan berkonstruksi baik bila memenuhi beberapa syarat berikut: ventilasi kandang
yang baik yaitu leluasa antara pertukaran udara segar dengan udara kotor dengan
suhu 21°C- 27°C dan kelembapan 60% di dalam kandang, dinding kandang terbagi
dua yaitu dinding kandang sistem terbuka dan sistem tertutup, lantai kandang dapat
berbentuk padat serta rapat ke tanah sering disebut litter dan berbentuk
celah/rongga-rongga dan berada di atas tana 50-68 cm. Lantai dapat dibuat dengan
bilah-bilah bambu atau kayu yang disebut slat atau bisa juga dari kawat,
kerenggangan antara 2,5 cm dan besarnya 2,5 cm x 5 cm, bahan atap kandang
sebaiknya dipilih yang baik sehingga dapat melindungi ayam dari panas matahari,
hujan, dan mempermudah pemeliharaan, seperti seng, daun rumbio, asbes dan lain-
lain.
2.1.2 Jenis Kandang Berdasarkan Sistemnya
Jenis kandang yang digunakan pada peternakan bapak Poniman adalah
kandang panggung, hal ini dilakukan karena tempat peternakan Poniman terletak
pada dataran rendah. Bahan kandang terbuat dari kayu terutama pada lantai
kandang yang mempunyai jarak slat 2,5 cm, hal ini bertujuan untuk memudahkan
sirkulasi udara dan menghindari terkontaminasinya penyakit-penyakit yang
menular.
Fadillah (2007), menyatakan bahwa kandang panggung merupakan bentuk
kandang yang paling banyak dibangun untuk mengatasi temperatur panas. Kandang
panggung cocok dibangun di daerah dataran rendah atau berawa. Konstruksi rangka
kandang bisa dibuat dari kayu, bambu, kayu dolken. Kelebihan kandang sistem
panggung adalah sirkulasi udara berjalan lebih baik dibandingkan dengan sirkulasi
udara di kandang sistem postal. Keadaan ini disebabkan udara datang dari arah
bawah dan samping kandang. Lantai kandang harus berlubang atau sistem slat yang
bisa dibuat dari bambu atau kayu dengan jarak antar slat sekitar 2,5 cm. Peternakan
Poniman sesuai yang dikemukakan oleh Fadillah, 2007 yaitu jenis kandang yang
digunakan adalah kandang panggung yang bahan kandangnya dari kayu, dengan
jarak slat 2,5 cm.
2.1.3 Ukuran Kandang Berdasarkan Umur Ayam.
Kelancaran sirkulasi udara sangat bagus pada Peternakan Poniman, karena
menggunakan kandang panggung, sehingga dapat meminimalisasi fluktuasi suhu .
Sebagaiman ukuran kandang pada peternakan Poniman yaitu pada umur 1-7 hari
dengan ukuran kandang 33 meter x 8 meter yang berkapasitas 4000 ekor
Umur ayam 7-14 hari ukuran kandang 66 meter x 8 meter sama dengan
umurayam 1-7 hari dibuat sekat juga dengan kapasitas kandang 4000 ekor ayam .
Umur ayam diatas 14 hari ukuran kandang 100 meter x 8 meter dengan kepadatan
kandang 4000 ekor ayam sampai ayam panen .
Hal ini telah sesuai yang dikemukakan oleh Fadillah, 2007, yaitu luas
ukuran kandang berdasarkan umur, kepadatan per meter persegi adalah:
1. Umur 1 – 3 hari kepadatan 40 – 50 ekor per meter persegi.
2. Umur 4 – 6 hari kepadatan 25 – 35 ekor per meter persegi.
3. Umur 7 – 9 hari kepadatan 15 – 20 ekor per meter persegi.
4. Umur lebih dari 10 hari kepadatan 10-15 ekor per meter persegi.
2.1.4 Peralatan Kandang
Penggunaan peralatan dan bahan-bahan kandang di peternakan bapak
Poniman didasarkan pada (a) tepat guna yaitu peralatan yang akan digunakan di
kandang harus berguna dan bermanfaat bagi ayam, baik jumlah, kegunaannya, cara
pakai, atau nilai ekonominya, (b) konstruksinya sederhana agar penggunaan dan
perawatannya lebih mudah, (c) dapat dipindah- pindahkan, (d) mudah dibongkar
pasang, (e) bersifat aman bagi ayam dan karyawan, (f) biaya murah, tetapi tidak
berarti kita harus membeli peralatan yang murah. Harga peralatan mahal tidak jadi
masalah jika peralatan tersebut berkualitas dan tahan lama, sehingga bisa dipakai
beberapa priode, (g) dapat mengurangi tenaga kerja, jika tenaga kerja sukar
diperoleh atau pembayaran terlalu tinggi.

Hal ini telah sesuai yang dikemukakan oleh Priyatno dan Martono, (2004),

yaitu bentuk, ukuran, dan jumlah peralatan ini harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut, yaitu sesuai dengan umur ayam, mudah dicapai oleh ayam, tidak

mengganggu tata laksana, mencukupi kebutuhan ayam agar tidak berebutan.

Alat dan bahan yang digunakan pada Peternakan Ayam Broiler seperti:

1. Litter
Litter yang digunakan pada peternakan bapak Poniman yaitu liter dari
serbuk gergaji yang dikumpulkan dari perusahaan perabotan dalam keadaan kering
. Liter hanya menggunakan serbuk gergaji tanpa ada tambahan lainnya, seperti
serbuk kapur. Sebelum pemasangan litter pada kandang terlebih dahulu lantai
dialasi dengan karung pakan ayam yang sudah bersih, karena lantai kandang
mempunyai celah atau slat agar serbuk tidak jatuh ketanah. Ketebalan litter yang
dipakai 2-3 cm, hal ini disebabkan karena litter hanya sekali pakai yaitu mulai umur
ayam 1-7 hari setelah itu liter dikumpulkan untuk dijual pada petani. Setelah 7 hari
kandang tidak memakai liter, karena kandang yang digunakan kandang panggung.
Ketebalan liter ini masih tipis dibandingkan yang dikemukakan oleh Bambang,
(2008) yaitu ketebalan litter yang digunakan 10-15 cm.
2. Pemanas
Pemanas yang digunakan pada Peternakan Poniman yaitu pemanas yang
terbuat dari tong yang dalamnya diisi kayu yang dibakar. Pada saat ayam
kedinginan ayam akan mendekati tong pemanas, begitu sebaliknya ketika ayam
kepanasan ayam akan menjauh dari tong pemanas. Pemanas digunakan mulai dari
umur ayam 1-14 hari setelah itu menggunakan pemanas dari lampu listrik 60 Watt,
dengan jarak lampu listrik 2 meter. Lampu listrik digunakan mulai dari 14 hari
sampai panen. Pemanas ini digunakan hanya pada malam hari
Pemanas pada Peternakan Poniman telah sesuai yang dikemukakan oleh
Sugandi (1978) bahwa temperatur udara disekitar alat pemanas yang baik untuk
pertumbuhan anak ayam adalah 35oC. Pemanas dihidupkan selama 3 hari tanpa
dimatikan. Hari ke-4 dan seterusnya pemanas dihidupkan sesuai dengan keadaan
cuaca. Pencahayaan menggunakan lampu neon 60 Watt.
3. Tempat Pakan dan Minum
a. Tempat Pakan
Tempat pakan yang digunakan di Peternakan Poniman terbuat dari bahan
plastik dan sesuai dengan yang dikemukakan oleh Priyatno dan Martono 2004,
yaitu sesuai dengan umur ayam, tidak mudah kotor dari feses ayam, mudah dicapai
ayam, pakan yang tersedia sesuai dengan jumlah ayam agar tidak terjadi perebutan
pakan, dan praktis.
Tempat pakan pada peternkan Poniman terdapat dua jenis tempat pakan,
yaitu tempat pakan yang berbentuk piring dan bulat
Tabel : Jenis dan Jumlah Tempat Pakan yang Digunakan
Jumlah
Jenis tempat Umur Ayam Ukuran Kapasitas
NO tempat
Pakan (hari) Kandang (ekor)
Pakan
1- 7
1. Piring Plastik 33 m x 8 m 4000 36
7-14
2. Piring plastik 66 m x 8 m 4000 60
14 sampai
3. Plastik Bulat 100 m x 8 m 4000 81
panen

Tempat pakan yang digunakan di peternakan Poniman telah sesuai dengan


yang dikemukakan oleh Priyatno dan Martono, (2004), tempat pakan dapat dibuat
sendiri dari papan atau kayu.

b. Tempat minum
Tempat minum yang digunakan pada Peternakan Poniman adalah dua
bentuk, yaitu tempat minum manual dan otomatis.
a) Tempat minum manual
Tempat minum manual adalah tempat minum yang pengisiannya secara
manual. Tempat minum ini dicuci setiap pengisian air untuk menjaga
kebersihan tempat minum dan menjaga kesegaran air minum. Tempat
minum ini terbuat dari bahan plastik, warna putih dengan kapasitas 3,250-
3,350 ml.
b) Tempat minum otomatis
Tempat minum otomatis yaitu tempat minum yang secara otomatis terisi
dengan air dengan menggunakan slang yang dialirkan dari penampungan
air. Ketinggian tempat minum setinggi bahu ayam. Tempat minum ini
terbuat dari bahan plastik yang berwarna merah dengan ukuran yaitu tinggi
350mm, berat 536g - 558g, yang berkapasitas Air 1,300ml. Tempat minum
ini diperlukan pencucian minimal 2 kali sehari pagi dan sore, untuk menjaga
kesegaran air minum. Tempat minum ini dipakai pada umur ayam 14 hari
sampai panen.
Tabel: Jenis dan Jumlah Tempat Minum pada Peternakan Poniman
Umur
Tempat Jumlah Tempat Ukuran Kepadatan
NO Ayam
Minum Minum Kandang Kandang
(hari)
1-7 22 buah 33 m x 8 m 4000 ekor
1. Manual
8-14 44 buah 66 m x 8 m 4000 ekor
2. Otomatis
> 14 66 buah 100m x 8 m 4000 ekor

Pada Peternakan Poniman tempat minum sudah sesuai dengan yang


dikemukakan oleh Priyatno dan Martono, (2004), yaitu ukuran, jumlah dan
bahan tempat minum.
2.1.5 Pembersihan Kandang
Pembersihan kandang yang dilakukan di peternakan Poniman meliputi
pembersihan atap dan lantai kandang, pengapuran dan pengistirahatan. Sebelum
pembersihan kandang ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu:
1. Mengeluarkan barang-barang seperti: tempat minum, tempat pakan, alat
pemanas, dan peralatan lainnya.
2. Setelah dikeluarkan barang-barang tersebut, lalu dimulailah membuang
sekam yang sudah tidak dipakai kemudian dimasukan ke dalam karung, dan
disimpan di gudang agar terhindar dari hujan.
3. Ketika selesai pembuangan sekam (litter) sebaiknya disapu semua, untuk
memastikan bahwa kotoran yang ada di dalam kandang benar-benar bersih.
4. Lakukan penyemprotan terlebih dahulu, Penyemprotan ini sebaiknya
menggunakan obat kutu, jangan menggunakan disinfektan, gunakan obat
kutu atau insektisida yang mudah didapat, pada waktu penyemprotan buka
tirai kandang, penyemprotan dilakukan dengan tujuan untuk membunuh
kutu yang ada di dalam kandang, lakukan penyemprotan dengan rata, untuk
keselamatan pekerja, siapkan sarung tangan, helm untuk melindungi kepala
agar tidak terkena semburan obat, sepatu bot, baju panjang dan masker.
Setelah itu baru dilakukan pembersihan atap dan lantai kandang.
Pembersihan atap dilakukan dengan membersihkan debu dan sarang laba-laba yang
ada dilangit-langit kandang dengan menggunakan sapu bergagang panjang.
Pembersihan lantai dimulai dengan menyemprotkan air ke permukaan lantai
kemudian didiamkan selama beberapa jam, dengan tujuan agar kotoran yang
menempel dapat dengan mudah dibersihkan. Setelah didiamkan selama beberapa
jam, lantai digosok dengan menggunakan sikat dan sapu sambil disemprot dengan
air sampai bersih.
Setelah lantai bersih kemudian lantai dibiarkan kering dan selanjutnya
dilakukan pengapuran. Bahan yang digunakan dalam proses pengapuran untuk luas
kandang 100 x 8 meter adalah 10 tutup rodalon , 500 liter air dan 5 liter formalin
40%. Cara kerjanya yaitu kapur dilarutkan dengan air di dalam drum, lalu
ditambahkan formalin 40% kemudian aduk hingga homogen dengan menggunakan
alat pengaduk. Setelah homogen, larutan tersebut disemprotkan secara merata ke
seluruh lantai kandang. Pengistirahatan kandang dilakukan setelah pengapuran
selesai. Pengistirahatan dilakukan selama ± 1-2 minggu.
Persiapan peralatan kandang meliputi pembersihan tempat pakan dan
tempat air minum yang telah digunakan sebelumnya, penyemprotan tirai,
“pembersihan drum” (pemanas).
Pembersihan tempat pakan dan tempat air minum yang akan digunakan
dilakukan dengan menggunakan disinfektan yaitu Septosid, kemudian dikeringkan.
Penyemprotan tirai dan “pembersihan semawar” (pemanas) dilakukan dengan
menggunakan disinfektan yang sama. Lingkar pembatas dicuci dengan cara disikat
sambil disemprot dengan air hingga bersih, kemudian dikeringkan.
Pembersihan kandang pada Peternakan Poniman telah sesuai yang
dikemukakan oleh Bambang, (2008), yaitu pembersihan yang baik harus bisa
membuang setidaknya 80% mikroba, serta 20% protozoa dan sebagainya.
Pembersihan dilakukan diseluruh bagian kandang, termasuk lingkungan sekitar
kandang dengan mengunakan disinfektan. Pembersihan dan desinfektan areal
kandang sebagai berikut:
1. Pipa-pipa.
2. Tangki air/tong.
3. Peralatan Kandang.
4. Gudang.
5. Lingkungan.
6. Sarang hama seperti tikus,kutu,dan serangga.

2.1.6 Pemeliharaan Kandang


Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan
merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan
tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada
ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup.
Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan kandang
perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan dijaga/dicek
apabila ada bagian yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki kembali. Dengan
demikian daya guna kandang bisa maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang
bagi ternak yang dipelihara.
2.1.7 Manajemen Perkandangan
Layout dan struktur kandang yang sebaik dan se-modern apapun, jika tidak
ditangani dengan manajemen yang baik, maka bukan suatu keniscayaan ayam tidak
nyaman tinggal di dalamnya. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait
dengan manajemen perkandangan :
a. Persiapan kandang yang optimal
Setelah panen atau afkir, kandang sesegera mungkin dibersihkan dan
didesinfeksi. Hal ini untuk menekan berkembangnya bibit penyakit dan
mengoptimalkan masa istirahat kandang. Harapannya saat masuk ayam yang baru,
tantangan bibit penyakit lebih rendah. Untuk desinfeksi kandang ini bisa
menggunakan Formades atau Sporades. Sedangkan untuk peralatan bisa
digunakan Medisep. Untuk paralon air minum hendaknya dilakukan pembersihan
fisik atau dengan flushing menggunakan asam sitrat atau H2O2.
b. Modifikasi kandang sesuai kondisi ayam dan lingkungan
Tidak ada “harga mati” untuk layout dan struktur kandang. Semuanya
dipengaruhi dari kondisi lingkungan peternakan, meliputi suhu dan kelembaban
(terendah, tertinggi, maupun fluktuatifnya), jarak antar peternakan, tekstur dan
topografi tanah maupun kemampuan finansial peternak. Semua harus
dipertimbangkan sesuai dengan kondisi terbaik di masing-masing peternakan.
Salah satu contohnya ialah pengaturan buka tutup tirai yang sehar usnya
disesuaikan dengan kondisi ayam. Jika ayam bergerombol di sisi kandang dimana
tirai belum dibuka, diindikasikan bahwa ada sinar matahari yang masuk atau ada
angin kencang.

c. Segera perbaiki bagian kandang yang rusak


Atap yang bocor dan lantai panggung yang patah menjadi hal yang sering
dijumpai. Saat menemukan kondisi ini hendaknya segera lakukan perbaikan agar
tidak mengganggu kenyamanan ayam.
d. Pembersihan dan desinfeksi kandang secara rutin
Kandang hendaknya dibersihkan dan didesinfeksi secara rutin. Pembersihan
ini tidak hanya dibagian dalam kandang, tetapi termasuk luar kandang yang
meliputi selokan (bersih, lancar, air tidak menggenang), semak-semak, dan
dilakukan penyemprotan desinfektan (Sporades, Medisep) secara rutin (minimal 1
x seminggu).

2.2 Pemeliharaan Ayam Pembibit

2.2.1 Tahap Pertumbuhan

Gambar 1. Kurva Pertumbuhan Fisiologis Betina Cobb

Sangat penting untuk memahami kurva berat badan dalam periode rearing

yang dapat dibagi menjadi 4 tahap. Yang pertama adalah 0-8 minggu, di mana

ukuran rangka dan uniformity yang penting ditentukan untuk sebagian besar

kehidupan flok. Tahap kedua adalah usia 8-12 minggu di mana pertumbuhan ayam

harus dikontrol dengan program pemberian pakan yang dikendalikandengan hati-

hati untuk mencegah mereka menjadi kelebihan berat badan dan kelebihan fleshing.

Tahap ketiga adalah usia 12-16 minggu saat pubertas dimulai. Flok harus mulai
dengan perlahanlahan peningkatan fleshing dan kondisi lain secara keseluruhan.

Tahap keempat adalah usia 16-20 minggu saat flok perlu mempercepat laju

pertumbuhan guna mempersiapkan perkembangan seksual dan mencapai

uniformity dan fleshing yang sesuai. Menjelang usia 20 minggu, cadangan lemak

perut seharusnya telah berkembang sendiri dari berat badan.

(1) Tahap Brooding (1-14 hari)

Empat Belas hari pertama adalah salah satu waktu terpenting kehidupan

anak ayam. Ingat empat dasar: Kualitas Pakan, Air, Suhu dan Udara. Pentingnya

periode brooding tidaklah berlebihan. 14 hari pertama kehidupan anak ayam

menentukan preseden performance yang baik. Upaya maksimal pada awal tahap

brooding akan terbayarkan pada performance akhir flok.Pakan dan air segar harus

sudah tersedia saat anak ayam yang tiba di kandang Rearing. Suhu air harus antara

15°C - 25°C (59°F - 77°F). Pembilasan/flushing saluran air minum harus sudah

diselesaikan beberapa jam sebelum anak ayam tiba sehingga mereka memiliki air

segar. Pada minggu pertama, flushing teratur dapat dilaksanakan untuk

meningkatkan asupan air dan pakan dan membatasi penumpukan biofilm.

Brooder dan pemanas harus diperiksa secara teratur untuk memastikan

bahwa mereka bekerja dengan benar. Periksa juga sudut pemanas infrared untuk

memastikan arah panas sesuai

dengan yang anda inginkan. Drinker tambahan direkomendasikan dari usia sehari

hingga usia 3 - 5 hari. Gunakan drinker mini atau chick founts, bukan nampan air

terbuka. Ini akan membantu menghindari terjadinya masalah dengan infeksi kaki

dan kualitas air. Jangan meletakkan drinker langsung di bawah brooder.

Semua box DOC harus ditempatkan di kandang dengan jumlah box

menyesuaikan masingmasing brooder sebelum anak ayam dilepaskan. Ratakan


anak ayam di seluruh are brooding. Jangan menumpuk semua box di dalam kandang

atau menaruh box memenuhi area brooding. Mempertahankan anak ayam terlalu

lama di dalam box pada kandang yang telah dipanaskan akan mengakibatkan stres

panas. Lepaskan ayam dari box sesegera mungkin setelah distribusi ke kandang.

Berat tujuh hari adalah indikator keseluruhan yang sangat baik tentang

bagaimana keberhasilan manajemen perParentan telah dilakukan. Dampak stres

awal mungkin tidak terlihat hingga beberapa lama kemudian (pertumbuhan bulu

sayap) dan dapat berpengaruh negatif terhadap performance reproduksi flok.

Penyebab utama untuk kenaikan berat badan awal yang tidak cukup adalah

kurangnya konsumsi pakan. Pakan dalam bentuk small crumble yang berkualitas

baik atau micro pellet diperlukan untuk mendapatkan asupan pakan yang tepat di

minggu pertama. Jumlah pakan dan feeder space yang tidak mencukupi akan

mempengaruhi konsumsi pakan, berat dan uniformity anak ayam. Penting bahwa

asupan protein awal biasanya akan mempengaruhi berat empat minggu, uniformity

flok, dan pada akhirnya produksi telur. Penting juga bahwa asupan air yang baik

dapat menjadi pendorong utama untuk asupan pakan yang baik. Air adalah nutrisi

yang sangat penting dan sering diabaikan.

Periksa anak ayam dua jam setelah laying. Pastikan mereka merasa nyaman

terhadap suhu serta minum dan makan. Pemeriksaan tembolok (crop assesement)

berguna untuk menilai seberapa efektif ayam telah menemukan pakan dan air. Pilih

100 anak ayam secara acak dan raba tembolok dengan lembut 6 hingga 8 jam

setelah laying, atau keesokan harinya jika distribusi di hari sebelumnya. Tembolok

harus lembut dan lentur. Jika tembolok keras, itu adalah indikasi anak ayam belum

menemukan jumlah air yang cukup. Jika tembolok bengkak dan penuh dengan air,
artinya anak ayam belum menemukan cukup pakan. Minimal 95% dari tembolok

anak ayam harus penuh dan lentur saat pemeriksaan.

Brooder harus dinyalakan selama 24 hingga 48 jam sebelum anak ayam tiba,

pertahankan suhu sebesar 29 hingga 32°C (85 hingga 90°F) pada 5 cm di dalam

litter di tepi brooder. Dalam iklim dingin, dan tanpa isolasi lantai, kemungkinan

diharuskan untuk meningkatkan periode preheating antara 48 dan 72 jam. Itu semua

bergantung pada suhu lantai beton. Amati tingkah laku anak ayam dan sesuaikan

untuk kenyamanan mereka, tetapi hati-hati jangan terlalu panas. Perpindahan panas

sangat dipengaruhi oleh kelembaban relatif udara. Jika udara kering dengan RH%

rendah maka perpindahan panasnya lebih rendah, setting suhu yang lebih tinggi

diperlukan, seperti yang digambarkan dalam tabel di bawah ini.

% RH 80 70 60 50 40 30

Suhu ºC 30 31 32 33 34 35

Suhu ºF 86 88 90 91 93 95

(2) Tahap Rearing

Tujuan utama dalam tahap Rearing kehidupan ayam adalah pengendalian

berat badan dan fleshing (perdagingan). Penting bahwa ayam dihandling sesering

mungkin dan diberi skor fleshing di seluruh tahap ini. Semakin banyak anak ayam

yang dipegang/di check fleshing-nya pada usia yang berbeda, semakin baik kondisi

anak ayam yang akan dipahami. Kondisi ayam pada stimulasi pencahayaan pertama

sangat penting, dan satu-satunya cara untuk mencapai hasil yang diinginkan adalah

dengan pengendalian berat badan dan perabaan fleshing yang tepat.


Tabel di atas menunjukkan fleshing yang harus dicapai oleh betina pada usia

yang berbeda mulai dari usia 12 minggu. Pubertas dimulai pada usia 12 minggu dan

betina harus mencapai target fleshing pada usia tersebut sehingga target fleshing

pada usia 16 minggu untuk kemudian mencapai target fleshing pada usia 19 hingga

20, dan 21 minggu. Tabel ini hanyalah sebuah panduan, tetapi menunjukkan

pentingnya mengevaluasi pullet pada usia awal (12 minggu) dan menentukan

apakah flok tersebut mencapai target dari awal. Evaluasi fleshing dapat dilakukan

bersamaan saat penimbangan ayam di usia tersebut. Fleshing juga bisa dilakukan

secara terpisah dengan cepat, dilakukan oleh group teknik management (supervisor

atau manager) secara bersama-sama pada pullet dengan usia yang berbeda-beda

sehingga setiap orang memiliki pengertian yang sama mengenai fleshing dan lemak

pelvis (lemak vena).

Pada tabel di atas, sebagian besar betina pada usia 12 minggu memiliki skor

fleshing 2. Presentase ini harus terus menurun setelah usia ini dan menjadi nol (tidak

ada lagi yang skor fleshing 2) pada saat stimulasi pencahayaan (ideal). Betina

dengan skor fleshing 2 biasanya tidak memiliki deposit lemak pelvis atau lemak

vena. Maka akan ideal jika pada saat stimulasi pencahayaan 100% dari betina
menunjukkan skor fleshing 3 dengan lemak pelvis. Hal itu bagaimanapun sulit

untuk tercapai. Jika kita memiliki terlalu banyak betina di kategori skor fleshing 3

biasanya kita akan masih memiliki betina di kategori skor fleshing 2, dan itu bukan

hal yang baik. Untuk alasan tersebut bagian betina setelah usia 16 minggu bergerak

secara bertahap dari fleshing 3 ke 4. Biasanya pada awal stimulasi pencahayaan

rasio adalah sekitar 60% dan 40%. Kemudian saat produksi cenderung 50% # 3 dan

50% # 4. Jika pada saat puncak produksi lebih dari 60% betina memilik skor

fleshing 4, hal itu biasanya menunjukkan kondisi betina yang kelebihan berat badan

disebabkan kenaikan pakan berlebihan saat menuju puncak produksi atau terlalu

banyak pakan pada saat usia tersebut.

Pencapaian target fleshing awal (usia 12 dan 16 minggu) akan membuat

lebih mudah dalam mencapai tingkat deposit lemak pelvis (vena) atau lemak

abdomen yang cukup yang dibutuhkan saat stimulasi pencahayaan pertama kali.

Lemak badan ini adalah komponen kunci dalam stimulasi pencahayaan untuk

mencapai sinkronisasi seksual betina yang baik, puncak produksi dan persistensi

yang tinggi, hatchability awal yang tinggi, dan kualitas dan vitalitas ayam yang baik

dan mengurangi mortalitas betina saat menuju puncak produksi.

(3) Persiapan Tahap Laying

Ini adalah tahap dalam kehidupan ayam ketika kenaikan berat badan

konsisten diperlukan. Tujuannya adalah untuk memberikan cadangan fleshing dan

lemak yang cukup pada ayam sepanjang sisa hidupnya. Sangat penting untuk

memahami hal-hal berikut yaitu menempatkan kenaikan pakan yang benar sesuai

dengan tahap pertumbuhannya, memastikan usia dan kondisi yang benar pada

stimulasi pencahayaan, ,mempertahankan ukuran frame yang konsisten,


membentuk cadangan fleshing dan lemak yang memadai, mencegah kegagalan atau

penurunan pada tahap kenaikan berat badan.

Ingat bahwa lebih baik menunda stimulasi pencahayaan jika Anda merasa

ayam tidak dalam kondisi yang tepat (komposisi fisiknya). Cara terbaik untuk

mencapai produksi telur yang baik pada flock breeder adalah dengan

mengembangkan program pemberian pakan dan berat badan yang sesuai, untuk

mempersiapkan pullet merespon stimulasi pencahayaan dengan seragam. Respon

ayam betina terhadap stimulasi pencahayaan didasarkan pada kondisi (komposisi

fisik) dan berat badan ayam. Sangat penting untuk tidak memaksakan simulasi

pencahayaan terhadap flock jika ayam masih berada di bawah berat standar

(underweight). Untuk menentukan berat badan ratarata saat memulai stimulasi

pencahayaan, lihat pada suplemen manajemen breeder yang relevan. Minimal

sebesar 70% dari flok (70% uniformity flok) harus berada dalam +/- 10% dari berat

badan rata-rata. Ayam harus mencapai berat badan rata-rata (sesuai target

breed/strain) untuk memastikan respons yang tepat terhadap stimulasi pencahayaan

awal. Jika berat badan rata-rata atau uniformity berada di bawah rekomendasi,

usahakan menunda stimulasi pencahayaan awal.

(4) Kenaikan Berat Badan Betina dari 16-20 minggu

Sangat penting bagi betina untuk mencapai kenaikan berat badan yang

cukup antara usia 16 dan 20 minggu untuk memaksimalkan puncak produksi telur

dan mempertahankan persistensi setelah puncak produksi. Komposisi tubuh betina

saat pencahayaan sama pentingnya dengan berat badan ayam. Artinya bahwa betina

harus memiliki cadangan lemak dan fleshing yang cukup pada saat ino. Ayam

biasanya mudah mencapai fleshing antara usia 16 dan 20 minggu, namun tidak

mudah dalam pembentukan cadangan lemak. Untuk mencapai deposit lemak yang
cukup, kenaikan berat badan betina harus cukup betina dalam periode penting 16

hingga 20 minggu ini. Manajemen yang baik menargetkan 34% peningkatan berat

badan betina selama periode usia 16 minggu (112 hari) hingga 20 minggu (140

hari). Peningkatan berat badan ini adalah untuk meningkatkan persiapan betina

untuk stimulasi pencahayaan. Dalam beberapa situasi di mana kondisi betina

(penumpukan lemak pinggul dan fleshing) terlambat maka memungkinkan untuk

meningkatkan kenaikan berat badan hingga 38%, dan bahkan 40%. situasi ini perlu

dibahas dengan Cobb Technical Representatif Anda. Sebagai kesimpulan umum,

simulasi pencahayaan untuk breeder Cobb tidak hanya bergantung usia, tetapi

ditentukan oleh 4 parameter: Usia, Berat Badan, % kondisi fleshing dan kondisi

deposit lemak pelvis (vena). Uniformity frame, fleshing, lemak pelvis dan berat

badan sangat menentukan uniformity seksual flock, untuk mencapai performance

puncak produksi dan persistensi lebih dari 80%.

2.2.2 Manajemen Pakan

Betina diberi pakan secara ad libitum untuk minggu pertama dan kemudian

asupan mereka dikendalikan untuk memastikan mereka tidak melebihi berat target

pada usia 4 minggu. Parent stock betina dan jantan harus mencapai standar berat

badan setiap minggu selama 4 minggu pertama untuk mendapatkan uniformity dan

memiliki perkembangan frame yang tepat. Pakan diberikan secara ad libitum

(biasanya 22-25g/hari) untuk minggu pertama dan kemudian dikendalikan sehingga

betina dan jantan tidak melebihi target pada usia 4 minggu. Jika jantan tidak

mencapai berat badan target selama 4 minggu pertama, stimulasi pakan yang lebih

kuat direkomendasikan. Untuk hasil terbaik, jantan harus dipelihara terpisah dari

betina sampai usia 20 hingga 21 minggu.


Sediakan satu feeder tray per 75 DOC. Pastikan bahwa pakan tambahan

tetap segar. Jangan biarkan anak ayam mengkonsumsi pakan basi. Untuk jantan dan

betina, pemberian pakan minggu pertama dibutuhkan feeder space 4,0 cm per ekor

di trough feeder atau 45 ekor per pan (pan feeder). Kenaikan feeder space harus

dilakukan secara bertahap selama Rearing dan didasarkan pada usia anak ayam dan

jumlah pakan yang didistribusikan, sehingga pakan menutup seluruh trough feeder.

Dalam sebuah kandang dengan 4 loop chain feeder, 2 loop akan digunakan hingga

usia 5 minggu, 3 loop hingga usia 11 minggu dan loop ke-4 dari usia 12-20 minggu.

Setelah usia 12 minggu feeder space trough minimum adalah 15,0 cm (6 in) per

betina dan 20 hingga 22 cm (7,9-8,7 in) per jantan. Jika pan feeder digunakan,

memungkinkan untuk 11,5 cm (4,5 in) per anak ayam atau hitung jumlah lubang

(hole) pada feeder dan kemudian dikurangi 2 hole. Contoh: 16 hole pada pan feeder

oval biasanya dihitung untuk 14 anak ayam.

Pakan harus didistribusikan ke semua ayam di seluruh kandang dalam

waktu kurang dari 3 menit. Metode murah untuk meningkatkan distribusi pakan

harus dipertimbangkan. Misalnya, hopper tambahan dapat ditambahkan ke sistem

untuk meningkatkan titik distribusi pakan. Pilihan lain adalah penggunaan jalur

tambahan feeder (pada chain feeder atau tambahan lajur pada pan feeder), yang

akan menambah lebih banyak ruang sehingga semua ayam dapat makan pada waktu

yang sama. Metode lain juga bisa dipertimbangkan; baik mendistribusi pakan

pertama saat gelap (dark feeding), maupun "signal light" feeding. Salah satu metode

ini akan membuat flock tetap tenang saat makan, memberikan distribusi pakan yang

lebih baik, mempertahankan distribusi ayam merata di seluruh kandang, sehingga

mengurangi penumpukan dan uniformity flok menjadi lebih baik. Mematikan

lampu sebelum dan selama distribusi pakan juga akan melatih kebiasaan ayam
untuk menunggu pemberian pakan setelah sinyal ini. Hasilnya, saat kita memasuki

kandang dengan lampu menyala tidak akan memicu pergerakan ayam dan menjaga

ayam tetap tenang dan mengurangi stres.

Kenaikan pakan mingguan harus didasarkan pada target berat badan, dan

pada tahap-tahap akhir rearing, kondisi ayam (fleshing, fat deposit, body

conformation) harus menjadi pertimbangan dalam menentukan jumlah pakan yang

diberikan.

2.2.3 Manajemen Program Pencahayaan

Parent Breeder Broiler akan mulai bertelur dalam merespons peningkatan

lamanya siang atau intensitas pencahayaan ketika dilakukan pada waktu yang tepat.

Respons Parent ayam terhadap stimulasi pencahayaan didasarkan pada kondisi,

berat badan dan usia mereka. Di kandang berpengendali pencahayaan (closed

house), tunda stimulasi pencahayaan jika flok masih berisi sejumlah besar ayam

yang kurang berkembang. Tergantung pada profil berat badan yang digunakan,

stimulasi pencahayaan pertama bisa antara usia 21 dan 23 minggu. Ketika

memindahkan ayam dari Rearing dark-out ke kandang terbuka (kandang tunnel tirai

transparan), kondisi berat dan badan (fleshing dan lemak) harus benar pada saat

transfer. Rekomendasi berikut untuk program pencahayaan diberikan untuk 3

situasi:

(1) Kandang Rearing Dark Out

Parent harus dipelihara dalam kandang kedap pencahayaan. Ini berarti

bahwa kandang harus gelap gulita ketika lampu mati. Ini akan menghindari ayam

mempersepsikan waktu yang berbeda dari tahun dan uniformity seksual yang lebih

baik akan diperoleh pada awal produksi. Kandang terbuka dapat diubah ke Rearing

dark-out dengan menghilangkan semua bidang yang memungkinkan kebocoran


pencahayaan menggunakan tirai penutup yang efektif. Kemudian harus disediakan

kapasitas kipas yang cukup agar memungkinkan ventilasi yang benar. Kipas dan

inlet juga harus ditutupi dengan lightrap yang memadai, dan tentu saja kandang

harus ditutup dengan baik sehingga minimal, transisi dan tunnel ventilasi akan

bekerja dengan baik.

Tabel. Program pencahayaan yang direkomendasikan dalam 3 minggu pertama

untuk flok yang dipelihara dalam kandang dark-out

Usia Usia Pencahayaan Intensitas Intensitas

(Minggu) (Hari) (Jam) Pencahayaan Pencahayaan (foot

(lux) candle)

1-3 Sehari Berkurang dari Pencahayaan Pencahayaan

hingga 24 jam saat maksimal 0-2 maksimal 0-2 hari (>

21 sehari 1 hari (> 20 lux) 2 fc) berkurang

hingga 8 jam berkurang hingga hingga 2.0 fc selama

selama 14- 21 20 lux selama 7 7 hari

hari hari

(2) Rearing Dark Out ke Produksi Dark Out

Kandang dark-out harus memberikan pengendalian pencahayaan secara

total. Dimulai dari anak ayam dengan 24 jam pencahayaan berkurang menjadi

delapan jam pada usia dua hingga tiga minggu. Usia di mana lama hari 8 jam

tercapai akan tergantung pada waktu konsumsi pakan dan perkembangan BW

dalam mencapai berat target. Umumnya, lama hari (pencahayaan) 8 jam dapat

dimulai ketika anak ayam mengkonsumsi jumlah pakan terbatas harian mereka
selama 4 jam atau kurang. Lama pencahayaan tetap pada 8 jam hingga usia 21-22

minggu (147-154 hari) ketika stimulasi pencahayaan dimulai. Penyesuaian dapat

didiskusikan dengan Cobb Technical Representatif Anda. Penting untuk tidak

menstimulasi flok yang masih berisi sejumlah besar anak ayam dengan berat badan

kurang.

Tabel. Program pencahayaan yang direkomendasikan untuk flok yang beralih

dari Rearing dark-out ke kandang produksi dark-out.

Usia Usia (hari) Pencahayaan Intensitas Intensitas

(Minggu) (jam) pencahayaan Pencahayaan

(Lux) (foot candle)

2-21 Hingga 146 8 5 hingga 7 0,5 hingga 0,7

21 147 12 >50<100 >5>10

22 154 13 >50<100 >5>10

23 161 14 >50<100 >5>10

25 175 >14 >50<100 >5>10

Program pencahayaan harus mulai dari minimal usia 147 hari dengan 154

hari adalah usia yang seringkali paling direkomendasikan, terutama untuk betina

Cobb slow feathering. Beberapa perusahaan bahkan dapat mulai dari usia 161 hari

tetapi yang sering dilakukan ketik betina tidak dalam kondisi fleshing dan lemak

pinggul yang tepat. Saat ini betina kami kelihatannya tampak lebih baik ketika

pencahayaan dirangsang pada usia 147 hari atau lebih lama. Jika stimulasi

pencahayaan terlalu dini, masalah terjadi dengan kanibalisme, prolapse, double

yolk, egg peritonitis dan produksi dan persistensi puncak lebi rendah. Pertumbuhan
bulu juga terkena dampak negatif akibat stimulasi pencahayaan dini. Durasi

pencahayaan maksimal tergantung pada kondisi setempat. Banyak flok saat ini

memiliki performance yang sangat baik dengan hanya 14 jam total pencahayaan

selama masa produksi.

(3) Rearing Dark-Out ke Produksi Kandang Terbuka

Dimulai dari anak ayam dengan 24 jam pencahayaan berkurang menjadi

delapan jam pada usia dua hingga tiga minggu. Usia di mana lama pencahayaan 8

jam tercapai akan tergantung pada waktu konsumsi pakan. Umumnya, lama

pencahayaan 8 atau 9 jam dapat dimulai ketika anak ayam mengkonsumsi jumlah

pakan terbatas harian mereka selama 4 jam atau kurang. Lama pencahayaan tetap

pada 8 atau 9 jam hingga usia 21-22 minggu (147-154 hari) ketika program

peningkatan lama pencahayaan (stimulasi cahaya) harus diikuti. (9 jam

pencahayaan dalam Rearing digunakan ketika anak ayam sedang dipindahkan ke

kandang produksi samping terbuka di musim panas ketika durasi pencahayaan

alami lebih lama dari 13 jam).

Pilihan lain adalah untuk stimulasi pencahayaan Parent ayam di kandang

Rearing antara usia 147 dan 154 hari dari 8 jam hingga 12 jam pada pencahayaan

buatan, dan kemudian memindahkan ke pencahayaan alami pada usia 154 hari. Ini

akan menghindari stimulasi berlebihan. Tampaknya tidak selalu memungkinkan

untuk menerapkan program ini berdasarkan waktu jeda (down time) antara flok.

Intensitas pencahayaan selama periode produksi harus antara minimal 50, dan

maksimal 100 lux (5-10 foot candle). Hal ini berkaitan dengan pencahayaan buatan

tambahan. Pencahayaan harus seragam di seluruh kandang dengan maksimal 20%

variasi dibandingkan dengan intensitas pencahayaan di bawah lampu.


Tabel. Program pencahayaan yang direkomendasikan untuk flok yang beralih

dari Rearing darkout ke kandang produksi tirai transparan atau samping

terbuka

Usia Usia (hari) Pencahayaan Intensitas Intensitas

(Minggu) (jam) pencahayaan Pencahayaan

(Lux) (foot candle)

2-21 Hingga 146 8 5 hingga 7 0,5 hingga 0,7

21 147 12 >50<100 >5>10

23 161 13 >50<100 >5>10

25 175 14 >50<100 >5>10

27 189 >14 >50<100 >5>10

2.2.4 Manajemen Minum

Penting untuk memberikan akses mudah ke air segar, bersih sehingga

asupan pakan dan pertumbuhan dijaga. Sistem minum utama dapat berupa bell

drinker atau nipple drinker. Bell drinker harus dipasang pada kapasitas satu per 80

ekor. Nipple drinker harus dipasang pada kisaran 8-10 ekor per nipple. Anak ayam

tidak boleh menempuh lebih dari 3 m (10 kaki) untuk mengakses air. Drinker

tambahan harus disediakan pada kapasitas 2 per 100 ekor dari umur sehari hingga

7 hari.

Pastikan bahwa anak ayam memiliki akses ke sistem minum utama sejak

hari pertama. Nipple drinker memiliki sistem distribusi air yang lebih higienis.

Penggunaan Nipple drinker harus disesuaikan sesuai rekomendasi pabrikan. Bell

drinker harus dicuci semuanya setidaknya harian. Ember dan sikat yang digunakan

untuk pembersihan harus didesinfeksi dengan klorin atau amonium kuaterner

sanitizer. Flushing saluran air minum beberapa kali sehari dalam beberapa hari
pertama (Minggu) agar air dingin dan segar tersedia untuk menstimulasi lebih

banyak konsumsi pakan.

Gunakan desinfektan, seperti klorin, di dalam air untuk memastikan bahwa

tidak ada kandungan bakteri dalam air minum. Suhu kandang yang tinggi akan

memanaskan air dan meningkatkan pertumbuhan bakteri dengan cepat. Tangki

tandon air harus memiliki tutup untuk menghindari kontaminasi dari bakteri di

udara dan lain-lain. Dari 4 minggu dan seterusnya, ketinggian bell drinker harus

disesuaikan dengan ketinggian punggung anak ayam. Penyesuaian harus dibuat

sesering mungkin untuk mencegah litter basah. Selain itu, penting untuk diingat

bahwa anak ayam akan mengkonsumsi lebih banyak air dalam 2-3 jam setelah

makan. Jika penggunaan air tidak diamati selama waktu ini, ada kemungkinan

saluran air terbatasi/tidak terjangkau, menghalangi anak ayam minum dalam jumlah

yang cukup.

Gambar. Ketinggian bell drinker


Tabel. Laju Aliran Nipple dalam 4 Minggu Pertama dan Selanjutnya
Usia Kapasitas Nipple per menit
0-7 hari 30 ml
7-14 hari 42 ml
14-21 hari 49 ml
21-28 hari 56 ml
>28 hari 60 ml

Konsumsi air harian (diambil dari pembacaan meter sebelum makan - satu-

satunya waktu yang tepat untuk merekam) dapat memberikan peringatan dini

mengenai masalah nutrisi, penyakit atau suhu kandang pada waktunya untuk

mengambil tindakan perbaikan. Ayam biasanya minum antara 1,8 dan 2,0 kali

asupan pakan harian pada 21°C (70°F) dalam kondisi kandang tertutup. Dalam

kondisi kandang terbuka, atau tirai transparan konsumsi air minum sebanyak 2 dan

2,5 kali asupan pakan mereka terutama selama produksi. Konsumsi air lebih dari

2,0 kali pakan dapat terjadi pada suhu yang terlalu tinggi (di atas 30°C (86°F)).

Konsumsi yang tinggi juga dapat menunjukkan kesalahan dalam perumusan pakan,

kebocoran sistem drinker, atau intoksikasi seperti kadar garam yang tinggi.