Anda di halaman 1dari 4

Emergency Management of Severe Burn

dr. Dharmawan Sp.B

 Luka bakar -> kontak thermal  perubahan baik local maupun sistemik
 Perubahan lokal  Zona nekrosis (yang langsung kontak dg sumber)  protein lisis 
nekrotik
 Zona stasis  artinya melambat (tidak berpindah)  sirkulasi melambat 
vasokonstriksi  warna nya jadi pucat .
 Bisa terjadi degradasi luka, dalam 3 -5 hari kedepan kalau penanganan pertama baik 
bisa jd zona hiperemis. Tapi kalau penanganan salah bias jadi zona nekrosis.
 24 - 48 jam pertama adalah fase akut luka bakar. 1 -2 hari sejak onset awal luka bakar
adalah saat paling kritis.
 3-5 hari adalah saat menentukan sejauh mana pasien akan bertahan.
 Zona paling luar (Zona hiperemia)  pembuluh darah terjadi vasodilatasi, bias terjadi
seluruh tubuh. Semakin luka bakar luas semakin besar zona hiperemi. Penyebab kelainan
sistemik utama pd pasien luka bakar adalah karena Zona hiperemi.
 Pada keadaan normal: Kapiler punya 3 fungsi :
- Difusi (bergerak dari gradien tinggi ke gradien rendah) : difusi cairan, ion dari sel
- Filtrasi (“Hukum Starling”  dipengaruhi oleh 2 tekanan : hidrostatik  yang
mendorong, osmotic  yang menarik. bagaiman suatu keseimbangan antara
ekstravaskuler dan intravaskuler  sehingga jumlah cairan homeostasis  balans
- Transport molekul besar : contohnya albumin, globulin .
 Ketika terjadi respon sistemik luka bakar  mediator inflamasi keluar banyak, paling
utama cytokine. Dan mediator inflamasi. Kalau tidak ditangani dengan baik jadi SIRS.
 karena inflamasi  Kapiler melebar  cairan bocor  cairan intravaskuler  keluar ke
interstisial.
 Biasa terjadi pada luka bakar luas  >20 % untuk org dewasa dan > 10% pada anak.
Karena luas permukaan tubuh anak lebih kecil. Sehingga Luka Bakar >10% saja sudah
bias menyebabkan kelainan sistemik
 Resusitasi Baxter hanya untuk LB >20%. Jika luka bakar pada orang dewasa < 20% hanya
minum saja sudah mencukup. Tetapi di atas 20%  harus resusitasi cairan.
 Saat terjadi respon sistemik  terjadi vasodilatasi sistemik diseluruh tubuh  harus ada
yang di korbankan
 Ketika terjadi vasodilatasi  syok  permeabilitas meningkat  cairan keluar dr
Intravaskuler  Dalam intravaskuler kolaps  pasien syok  harus ada yang
dikorbankan
 Ada 3 yang dikorbankan : Kulit, saluran cerna, saluran kencing.
 Itulah mengapa saat syok kulit dingin  aliran darah gak ada yang kesitu, saat pasang
kateter  produksi urin tidak ada.
 GI Tract : Aliran ke splanik system  vasokonstriksi  gangguan perdarahan saluran
cerna. Perlu proteksi mukosa lambung.
 Efek sistemik setelah terjadi trauma luka bakar 
- Efek langsung : Hipovolemia : cairan intravascular keluar ke interstisial.
- Hipermetabolik : glukosa di pecah  terjadi gluconeogenesis, lemak di pecah dll
- Imunosupresi  sistem imun sudah dibentuk luar biasa. Ketika ada trauma  luka
bakar luas  pertahan tubuh kesitu semua  beresiko terkena infeksi dari sumber
lain. Misalnya pada saluran cerna terjadi translokasi bakteri dari saluran cerna ke
darah  matinya karna kuman
- Penelitian pusat luka bakar  bakteri paling banyak E. Coli dan Enterobacter.
- ARDS  Jika perpindahan cairan dari kapiler darah ke intersstisial di paru-paru.
Alveoli di balut oleh kapiler  terjadi pertukaran O2 dan CO2  bocor dari kapiler
 sehingga jarak kapiler dan alveoli menjauh  pertukaran gas terganggu  px
mengalami ARDS.
 Gangguan pertumbuhan
 Struktur EMSB : ada look ada Do. Ada lihat ada kerjakan
- Airway : perhatikn jalan napas (DO) perhatikan jalan napasnya
- Breathing : Kasih oksigen
- Circulation : Jika ada perdarahan nyata  deep saja, kasih kasa tidak usah jahit 
pasang IV Line.
- Dissabiliti : Nilai GCS, GCS terlalu ribet. Nilai pake AVPU :
A  Allert, diajak ngomong nyambung.
V  Verbal dirangsang nyeri
P  Pain, dirangsang nyeri baru buka mata, atau bergerak.
U : Unresponsive , kehilangan control
 Exposure : bagaimana kita mengkategorikan lukanya dengan cepat
 First AID hanya dikerjakan jika pasien diterima < 8 jam sejak kejadian, kalau sdh lewt 8
jam sdh tidak ada gunanya.
 Ada 2 hal untuk first Aid :
- Stop bleeding :kalau kebakaran dg pakaian basah, karung basah, siram air mengalir
juga boleh,  cooling down. Kalau luka bakar listrik  putuskan sumber listrik (cari
saklar)
- Turunkan suhu luka  pakai air mengalir, janganpake air es (dingin sekali)  tambah
merusak jaringan
 Initial Assasement :
- Airway : Hidung-faring-trakea  mencari bukti-bukti adanya trauma inhalasi  tauma
inhalasi  setiap orang yang mengalami luka bakar di tempat tertutup, menghirup uap
panas, atau mengalami luka bakar di wajah  berpotensi mengalami trauma inhalasi.
Lihat apakah  Suara parau, pada saat batuk jelaga keluar. Jika ada laringoskop lihat
ke laring, lakukan intubasi, jangan lakukan trakeostomi, komplikasi lebih banyak
trakeostomi. kalau dari anamnesis di curigai ada trauma inhalasi tap dari pemfis tidak
ada tanda2  lakukan evaluasi berkala.
- Nilai Burn severity Index
- Breathing  jika airway aman, langsung kasih O2 15 LPM pakai NRM  pada luka
bkar luas. (kalau Dia menghembuskan CO2, CO2 masuk lagi, akan asidosis respiratory.
- Pelaporan “Breathing”  Look : thorax simetris, tidak ada ketinggalan gerak,
auskultasi vesikuler
- Pada lukabakar tebal  bias terjadi echar. Eschar  luka bakar sirkuler : cirikhas nya
keras, warna pucat. Akan mengganggu pernapasan  harus di buang saat masa akut
sudah lewat  esharotomy (oleh ahli bedah)  tetapi di saat akut  dibebaskan dulu
jeratan eskarnya.
- Pada anak-anak pernapasannya tidak sebaik dewasa, sehingga eskar di dinding dada
depan saja butuh eskarotomi. Eskarotomi di lakukan di komponen breathing  eskar
adalah jaringan nekrotik  jangan khawatir lidokain dll.
- Escharotomy dilakukan sampai eschar nya terbelah jangan terlalu dalam.
- Mengapa perlu dilakukan eskarotomi  karena eschar yang melingkar 
mengganggu pergerakan dinding dada  bernapas tidak maksimal..
 Circulation  memeriksa pembuluh darah, jangan Cuma 1. Pada multiple trauma 
periksa a. jugular, a. temporal, a. radialis (kiri dan kanan). Lab, CRT.
- Pemeriksaan CRT pada luka bakar penting. Kalau CRT melambat aliran darah
melambat.
- Kalau ada perdarahan eksternal , deep, pasang 2 IV Line diameter besar.
- Periksa carboxyhemoglobin untuk lihat level luka bakar
- Jika pasien bermasalah contoh : mengalami eskar di ekstemitas (lengan)  tidak bias
menilai radialis. Ketika ada full thickness di ekstremitas (paha, betis , lenga bawah )
 dapat menimbulkan sindrom kompartement  lakukan eskarotomi.
- Pasien datang dengan syok  Loading dulu pake rumus resusitasi 20cc/kgBB 
habiskan cepat.  nanti hitung ulang di komponen “Fluid”.
 Dissability : kita bias menilai GCS secara valid jika komponen ABC sudah stabil + tidak
ada penyebab penurunan kesadaran yg lain (encephalopathy uremicum, hepatikum,
intoksikasi alcohol dll)
- Cari tanda2 lateralisasi  Terutama jika luka bakar disertai dengan ?
 Expossure : Lepaskan pakaian untuk memeriksa keseluruhan.  tetap control C-spine
(Log Roll)  nilai derajat luka bakar, kedalaman luka bakar dan trauma lain.
 Rumus rule of 9  jika luka bakar pencar2. Pake the rule of palm  telapak tangan
pasien
 Assasement of burn Depth :
- epidermis  sunburn
- superficial dermal  CRT masih baik
- deep dermal  CRT sdh tidak baik (pucat dan membaiiknya lambat)
- Full thickness