Anda di halaman 1dari 159

Modul 7 Perhitungan hidrologi

Modul 7 Perhitungan hidrologi MODUL 07 MODUL PERHITUNGAN HIDROLOGI PELATIHAN PERENCANAAN BENDUNGAN TINGKAT DASAR 2017
MODUL 07
MODUL 07
MODUL PERHITUNGAN HIDROLOGI PELATIHAN PERENCANAAN BENDUNGAN TINGKAT DASAR
MODUL PERHITUNGAN HIDROLOGI
PELATIHAN PERENCANAAN BENDUNGAN TINGKAT DASAR
HIDROLOGI PELATIHAN PERENCANAAN BENDUNGAN TINGKAT DASAR 2017 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN
2017 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI
2017
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya validasi dan penyempurnaan Modul Perhitungan Hidrologi sebagai Materi Substansi dalam Pelatihan Perencanaan Bendungan Tingkat Dasar. Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan kompetensi dasar Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang Sumber Daya Air.

Modul Perhitungan Hidrologi ini disusun dalam 9 (sembilan) bab yang terbagi atas Pendahuluan, Materi Pokok dan Penutup. Penyusunan modul yang sistematis diharapkan mampu mempermudah peserta pelatihan dalam memahami perhitungan hidrologi dalam perencanaan bendungan. Penekanan orientasi pembelajaran pada modul ini lebih menonjolkan partisipasi aktif dari para peserta.

Akhirnya, ucapan terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada Tim Penyusun dan Tim Validasi Sistem Diklat, sehingga modul ini dapat disajikan dengan baik. Perubahan modul di masa mendatang senantiasa terbuka dan dimungkinkan mengingat akan perkembangan situasi, kebijakan dan peraturan yang terus menerus terjadi. Semoga Modul ini dapat memberikan manfaat bagi peningkatan kompetensi ASN di bidang Sumber Daya Air.

Bandung,

Nopember 2017

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Sumber Daya Air dan Konstruksi

Ir. K. M. Arsyad, M.Sc

.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

i

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR

TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR

vii

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

viii

BAB I PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Deskripsi Singkat

2

1.3 Tujuan Pembelajaran

 

2

1.3.1 Hasil Belajar

2

1.3.2 Indikator Hasil Belajar

 

2

1.4 Materi Pokok dan Sub Materi Pokok

2

BAB II PENGOLAHAN DATA HIDROLOGI

5

2.1 Iklim

5

2.1.1

Temperatur Udara

 

6

2.1.2

Kelembaban Udara

7

2.1.3

Pengukuraan Penguapan

8

2.1.4

Temperatur Air Dalam Tangki PAN “A”

8

2.1.5

Kecepatan Angin

 

9

2.1.6

Lama Penyinaran Matahari

10

2.2 Presipitasi

11

2.3 Pengolahan Data Hujan

 

12

2.4 Pengolahan Data Debit Aliran

14

2.5 Pengumpulan Data Tinggi Air Muka

14

2.5.1 Pengukuran

Debit

Sungai

15

2.5.2 Perhitungan

Debit

Sungai

16

2.5.3 Analisis Lengkung Debit (Rating Curve)

16

2.5.4 Perhitungan dan Evaluasi Debit

18

2.5.5 Publikasi Debit Sungai

 

19

2.6 Latihan

20

ii

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

2.7 Rangkuman

20

2.8 Evaluasi

20

BAB III KETERSEDIAAN AIR DAN KAPASITAS WADUK

23

3.1 Umum

23

3.2 Ketersediaan Air/ Debit Andalan

24

3.2.1 Pendekatan dan Metodologi

24

3.2.2 Prosedur Perhitungan

24

3.2.3 Contoh Perhitungan Debit Andalan/ Ketersediaan Air

28

3.3 Kapasitas Waduk

32

3.3.1 Pendekatan Grafis dengan Metode Rippi

33

3.3.2 Pendekatan Numerik (Sequent Peak Algorithm)

34

3.4 Penentuan Tinggi Bendungan

37

3.5 Latihan

37

3.6 Rangkuman

38

3.7 Evaluasi

38

BAB IV ANALISIS CURAH HUJAN DESAIN

39

4.1 Umum

39

4.2 Metode Pendekatan

39

4.2.1 Analisis Hujan

39

4.2.2 Pola Distribusi Hujan Badai

40

4.2.3 Hujan Efektif

40

4.2.4 Analisis Hubungan Hujan-Limpasan

40

4.3 Curah Hujan Desain

41

4.3.1

Analisis Frekuensi

42

4.4 Curah Hujan Maksimum Boleh Jadi (CMB/PMP)

53

4.4.1 Uraian Umum

53

4.4.2 Perkiraan CMB Menggunakan Metode Hersfield

53

4.5 Latihan

59

4.6 Rangkuman

60

4.7 Evaluasi

60

BAB V ANALISA BANJIR DESAIN

61

5.1 Umum

61

5.2 Banjir Rencana

61

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

iii

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

5.3 Contoh Perhitungan Debit Banjir Rancangan

63

5.3.1 Data Debit Sesaat Tersedia dalam Waktu > 20 Tahun

64

5.3.2 Cara Perhitungan Debit Banjir Rata-Rata Tahunan dengan Metode Puncak Banjir Di atas Ambang Pada Kondisi Dimana Jumlah Data <10

68

5.3.3 Debit Banjir Dengan Metode Rasional Pada DAS yang Luasnya <50

69

5.3.4 Contoh Perhitungan Debit Banjir Rencana dengan Metode Unit

Tahun

Km 2

 

Hidograf

71

5.4 Latihan

 

76

5.5 Rangkuman

76

5.6 Evaluasi

76

BAB VI PENELUSURAN BANJIR

79

6.1 Konsep Dasar Penelusuran Aliran di Waduk

79

6.2 Metode Dasar Penelusuran Aliran Waduk

82

6.3 Penelusuran Banjir di Suatu Waduk

85

6.3.1 Metode Penelusuran Banjir

86

6.3.2 Anti Routing Waduk

87

6.4 Kalibrasi Model

 

88

6.4.1

Input Data

89

6.5 Latihan

 

90

6.6 Rangkuman

90

6.7 Evaluasi

91

BAB VII RENCANA POLA OPERASI WADUK

93

7.1 Tujuan

 

93

7.2 Pola

Operasi

Waduk

93

7.3 Tipe

Operasi

Waduk

95

7.4 Prinsip Dasar Operasi Waduk

96

7.4.1 Persamaan Dasar

97

7.4.2 Asumsi/ Batasan

98

7.4.3 Langkah Waktu

98

7.4.4 Kebutuhan Data

99

7.5 Simulasi Waduk

 

99

iv

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

7.5.1 Komponen Penting

99

7.5.2 Simulasi Waduk dengan Memperhitungkan Evaporasi

100

7.5.3 Simulasi Waduk dengan Pelimpah Bebas

101

7.5.4 Pola Operasi Waduk Untuk Dua Fungsi

102

7.6 Latihan

104

7.7 Rangkuman

104

7.8 Evaluasi

104

BAB VIII LAJU SEDIMENTASI

107

8.1 Pendahuluan

107

8.2 Mekanisme Angkutan Sedimen

108

8.3 Konsentrasi Sedimen Suspensi

109

8.4 Pengukuran Debit Sedimen Suspensi

110

8.4.1 Metode Integrasi Titik

112

8.4.2 Metode Integrasi Kedalaman

112

8.5 Botol Sampel dan Analisa Laboratorium

116

8.6 Debit Sedimen Suspensi Pengukuran

116

8.7 Pengukuran Sedimen Dasar

118

8.8 Pengambilan Material Dasar

121

8.9 Pengukuran Sedimen Total

121

8.10 Pengolahan Data Sedimen

122

8.11 Latihan

129

8.12 Rangkuman

129

8.13 Evaluasi

130

BAB IX PENUTUP

131

9.1 Simpulan

131

9.2 Tindak Lanjut

133

DAFTAR PUSTAKA

134

GLOSARIUM

137

KUNCI JAWABAN LAMPIRAN

138

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

v

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Temperatur Maksimum Dan Minimum Bulanan Stasiun Ciparay Pada

Bulan Oktober 2009

7

Tabel 2.2. Kelembaban Udara (RH)

8

Tabel 2.3. Keadaan Curah Hujan dan Intensitas Curah Hujan

12

Tabel 3.1. Tahap 1: Pengumpulan Seluruh Data

28

Tabel 3.2. Tahap 2: Mengurutkan Data dari Besar ke Kecil

29

Tabel 3.3. Data Asli

30

Tabel 3.4. Tahap 1: Pengelompokan Data Berdasarkan Kurun Waktu (Bulan)

30

Tabel 3.5. Tahap 2: Pengurutan Data Dari Besar Ke Kecil

31

Tabel 3.6. Tahap 3: Perhitungan Probabilitas Dengan Rumus P=m/(n+1)

31

Tabel 3.7. Tahap 4: Perhitungan Debit Andal (Probabilitas 80 % atau Kala Ulang 5

Tahun)

32

Tabel 3.8. Contoh Metode Rippl dengan Kebutuhan = Inflow Rata-Rata

34

Tabel 3.9. Contoh Metode Rippl dengan Kebutuhan =2/3 Inflow rata-rata

36

Tabel 4.1. Hubungan Antara Fungsi Distribusi, Parameter dan Besarnya

51

Tabel 4.2. Standar Gamma Distribution (w)

52

Tabel 4.3. Luas Dibawah Kurva Standar Normal Distribusi

52

Tabel 4.4. Perhitungan Besarnya PMP untuk Masing-Masing Pos Hujan

57

Tabel 5.1. Patokan Banjir Desain dan Kapasitas Pelimpah Untuk Bangunan

62

Tabel 8.1. Contoh Lembar Perhitungan pada Kartu Pengukuran Debit dan

114

Bendungan

Sedimen

vi

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Pos Klimatologi

5

Gambar 2.2. Perhitungan Lama Penyinaran Matahari

10

Gambar 2.3. Perhitungan Debit Pengeluaran Dengan Metode Intrerval Tengah

16

Gambar 3.1. Diagram Alir Perhitungan Lengkung Kekerapan Untuk Data

26

Gambar 3.2. Diagram Alir Perhitungan Lengkung Kekerapan Untuk Data Tidak

Menerus

Menerus

27

Gambar 3.3. Lengkung Kekerapan dengan Data Menerus

29

Gambar 3.4. Lengkung Kekerapan Untuk Data Tidak Menerus

32

Gambar 3.5. Contoh Metode Rippl dengan Kebutuhan = Inflow Rata-Rata

33

Gambar 3.6. Contoh Metode Rippl dengan Kebutuhan = 2/3 Inflow Rata-Rata

35

Gambar 3.7. Contoh Metode Rippl dengan Kebutuhan =2/3 Inflow rata-rata

36

Gambar

4.1. Diagram Analisis Banjir Desain dengan Hidrograf Satuan

41

Gambar 4.2. Grafik Hubungan Km Durasi Hujan dan Hujan Harian Maksimum

Tahunan Rata-Rata (Hershfield 1965)

55

Gambar 4.3. Grafik Hubungan Antara Xn-M/ Xn, dengan Faktor Penyesuaian Xn

55

Gambar 4.4. Grafik Hubungan Antara Sn-m/ Sn, dengan Faktor Penyesuaian Sn

56

Gambar 4.5. Grafik Penyesuaian Terhadap Panjang Data

56

Gambar 4.6. Grafik Hubungan K m Durasi Hujan dan Hujan Harian Maksimum

Tahunan Rata-Rata

58

Gambar 4.7. Grafik Hubungan X n-m / X n dengan Faktor Penyesuaian X n

58

Gambar 4.8. Grafik Penyesuaian Terhadap Panjang Data

59

Gambar 4.9. Grafik Hubungan Antara S n-m / S n dengan Faktor Penyesuaian S n

59

Gambar 5.1. Bagan Alir Penentuan Banjir Desain dan Kapasitas Pelimpah

 

Bendungan Sesuai SNI 03-4332-1994

63

Gambar 5.2. Pendekatan Perhitungan Debit Banjir Rancangan

64

Gambar 5.3. Hidrograph Banjir

72

Gambar

5.4. Hidrograf Aliran Langsung

73

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

vii

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Deskripsi

Modul Perhitungan Hidrologi ini terdiri dari tujuh kegiatan belajar mengajar. Kegiatan pertama membahas tentang pengolahan data hidrologi. Kegiatan belajar kedua membahas tentang ketersediaan air dan kapasitas waduk. Kegiatan belajar ketiga membahas tentang analisis curah hujan desain. Kegiatan belajar keempat membahas tentang analisa banjir desain. Kegiatan belajar kelima membahas tentang penelusuran banjir. Kegiatan belajar keenam membahas tentang rencana pola operasi waduk. Kegiatan belajar ketujuh membahas laju sedimentasi.

Peserta pelatihan mempelajari keseluruhan modul ini dengan cara yang berurutan. Pemahaman setiap materi pada modul ini diperlukan untuk memahami Perhitungan Hidrologi dalam kegiatan Perencanaan Bendungan. Setiap kegiatan belajar dilengkapi dengan latihan atau evaluasi yang menjadi alat ukur tingkat penguasaan peserta pelatihan setelah mempelajari materi dalam modul ini.

Persyaratan

Dalam mempelajari modul pembelajaran ini, peserta pelatihan diharapkan dapat menyimak dengan seksama penjelasan dari pengajar, sehingga dapat memahami dengan baik materi Perhitungan Hidrologi dalam kegiatan Perencanaan Bendungan. Untuk menambah wawasan, peserta diharapkan dapat membaca terlebih dahulu Prinsip Desain Bendungan Urugan.

Metode

Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, metode yang dipergunakan adalah dengan kegiatan pemaparan yang dilakukan oleh Widyaiswara/ Fasilitator, adanya kesempatan tanya jawab, diskusi, brainstorming, dan studi kasus.

viii

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

Alat Bantu/ Media

Untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran ini, diperlukan Alat Bantu/ Media pembelajaran tertentu, yaitu: LCD/ proyektor, Laptop, white board/ Flip Chart dengan spidol dan penghapusnya, bahan tayang, serta modul dan/atau bahan ajar.

Tujuan Kurikuler Khusus

Setelah mengikuti semua kegiatan pembelajaran dalam mata pelatihan ini, peserta diharapkan mampu memahami perhitungan hidrologi untuk perencanaan bendungan.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

ix

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI
MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI x PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

x

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Waduk adalah buatan manusia dengan membendung aliran sungai guna mengendalikan aliran untuk memenuhi kebutuhan air atau mengendalikan banjir. Operasi waduk diperlukan untuk mengatur pemberian air guna memenuhi berbagai keperluan secara optimum. Peraturan ini didasarkan pada aliran masuk, besarnya tampungan, serta kebutuhan yang harus dilayani dengan langkah waktu berjalan.

Waduk adalah tampungan air pada saat musim hujan dan digunakan pada musim kemarau yang merubah pola aliran alam supaya dapat digunakan untuk kesejahteraan manusia. Waduk merupakan penyangga antara kebutuhan dan pasok air untuk berbahgai kepentingan. Waduk terbentuk dengan menahan aliran sungai di tempat yang memenuhi persyaratan lokasi bendungan.

Kegunaan waduk pada dasarnya di bagi ke dalam 4 kelompok, yaitu:

a) Pasokan air untuk keperluan: irigasi, domestik, industri, pemeliharaan sungai(maintence flow), pelayaran, pengglontoran untuk perbaikan kualitas air.

b) Pembangkit listrik Tenaga Air

c) Pengendalian Banjir

d) Wisata dan perikanan di waduk

e) Dsb

Karena biaya untuk membangun bendungan cukup mahal, jarang sekali ditemui waduk yang hanya untuk satu fungsi misalnya hanya untuk pengendalian banjir saja. Bendungan besar yang ada di Indonesia, waduknya digunakan untuk berbagai kepentingan yang sering disebut waduk serba guna.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

1

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

1.2

Deskripsi Singkat Mata pendidikan dan pelatihan ini membekali peserta dengan pengetahuan mengenai perhitungan hidrologi untuk perencanaan bendungan yang disajikan dengan cara ceramah dan tanya jawab.

1.3

Tujuan Pembelajaran

1.3.1

Hasil Belajar Setelah mengikuti semua kegiatan pembelajaran dalam mata pelatihan ini, peserta diharapkan mampu memahami perhitungan hidrologi untuk perencanaan bendungan.

1.3.2

Indikator Hasil Belajar

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan dapat:

a) Menjelaskan pengolahan data hidrologi

b) Menjelaskan ketersediaan air dan kapasitas waduk

c) Menjelaskan analisis curah hujan desain

d) Menjelaskan analisa banjir desain

e) Menjelaskan penelusuran banjir

f) Menjelaskan rencana pola operasi waduk

g) Menjelaskan laju sedimentasi

1.4

Materi Pokok dan Sub Materi Pokok

Materi Pokok dan Sub Materi modul ini sebagai berikut:

a) Materi Pokok 1: Pengolahan Data Hidrologi 1) Iklim 2) Presipitasi 3) Pengolahan Data Hujan 4) Pengolahan Data Debit Aliran 5) Pengumpulan Data Tinggi Air Muka 6) Latihan 7) Rangkuman 8) Evaluasi

2

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

b) Materi Pokok 2: Ketersediaan Air dan Kapasitas Waduk 1) Umum 2) Ketersediaan Air/ Debit Andalan 3) Kapasitas Waduk 4) Penentuan Tinggi Bendungan 5) Latihan 6) Rangkuman 7) Evaluasi

c) Materi Pokok 3: Analisis Curah Hujan Desain 1) Umum 2) Bangunan Pengambilan (intake) 3) Metode Pendekatan 4) Curah Hujan Desain 5) Curah Hujan Maksimum Boleh Jadi (CMB/ PMP) 6) Latihan 7) Rangkuman 8) Evaluasi

d) Materi Pokok 4: Analisa Banjir Desain 1) Umum 2) Banjir Rencana 3) Contoh Perhitungan Debit Banjir Rancangan 4) Latihan 5) Rangkuman 6) Evaluasi

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

3

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

e) Materi Pokok 5: Penelusuran Banjir 1) Konsep Dasar Penelusuran Aliran di Waduk 2) Metode Dasar Penelusuran Aliran Waduk 3) Penelusuran Banjir di Suatu Waduk 4) Kalibrasi Model 5) Latihan 6) Rangkuman 7) Evaluasi

f) Materi Pokok 6: Rencana Pola Operasi Waduk 1) Tujuan 2) Pola Operasi Waduk 3) Tipe Operasi Waduk 4) Simulasi Waduk 5) Latihan 6) Rangkuman 7) Evaluasi

g) Materi Pokok 7: Laju Sedimentasi 1) Pendahuluan 2) Mekanisme Angkutan Sedimen 3) Konsentrasi Sedimen Suspensi 4) Pengukuran Debit Sedimen Suspensi 5) Botol Sampel dan Analisa Laboratorium 6) Debit Sedimen Suspensi Pengukuran 7) Pengukuran Sedimen Dasar 8) Pengambilan Material Dasar 9) Pengukuran Sedimen Total 10)Pengolahan Data Sedimen

11)Latihan

12)Rangkuman

13)Evaluasi

4

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

BAB II

PENGOLAHAN DATA HIDROLOGI

Indikator Hasil Belajar: Setelah mengikuti pembelajaran materi ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan pengolahan data
Indikator Hasil Belajar:
Setelah mengikuti pembelajaran materi ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan pengolahan
data hidrologi.

2.1

Iklim Pos iklim yang lengkap terdiri dari berbagai peralatan seperti terlihat pada pos klimatologi dibawah ini.

Pintu masuk pos klimatologi

Pagar pengamanan sekeliling pos klimatologi

Tangki penampung air Penakar Hujan Penakar Hujan 1.0 m Otomatik Biasa 1. 5 m 1.
Tangki
penampung air
Penakar Hujan
Penakar Hujan
1.0 m
Otomatik
Biasa
1. 5 m
1. 5 m
Sangkar alat dengan
pintu menghadap utara
Alat Pencata
Lama Penyinaran
Matahari
1.0 m
1. 5 m
Alat pengukur
Alat pengukur Radiasi
kecepatan angin
Matahari
Alat Pengukur penguapan
(Panci Penguapan)
6 .0 m
2.0 m
1.5 m
3 .0 m

10.0 m

(Panci Penguapan) 6 .0 m 2.0 m 1.5 m 3 .0 m 10.0 m DENAH STASIUN

DENAH STASIUN KLIMATOLOGI

Gambar 2.1. Pos Klimatologi

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

5

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

2.1.1 Temperatur Udara

a) Temperatur Udara Rata-Rata Harian

Temperatur udara rata-rata harian =

Tmax Tmin

2

Stasiun Ciparay tanggal 1 Agustus 2009

Temperatur maksimum

Temperatur minimu

= 30,0 0 C

= 14,0 0 C

Temperatur rata-rata

=

30.0 14.0 = 22.0 0 C

2

Hasil rata-rata dibulatkan ke atas dan satu angka belakang koma.

b) Temperatur Maksimum dan Minimum Harian Ditentukan dari harga tertinggi dan terendah dari pencatatan data yang dicatat setiap hari. Stasiun Ciparay pada bulan Agustus 2009 Temperatur maksimum tanggal 19 Agustus 2009 = 32.0 0 C

Temperatur minimum tanggal 4 Agustus 2009

= 11.0 0 C

c) Temperatur Maksimum dan Minimum Bulanan

Temperatur maksimum rata-rata bulanan =

Temperatur manimum rata-rata bulanan =

Tmax

1

Tmax

2

Tmax

n

Tmin

1

Tmin

2

n

Tmin

n

n

6

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

Tabel 2.1. Temperatur Maksimum Dan Minimum Bulanan Stasiun Ciparay Pada Bulan Oktober 2009

 

Temp. max

Temp. min

 

1 32.0

20.0

 

2 31.0

20.0

 

3 31.0

20.0

 

4 31.0

21.0

 

5 30.0

19.0

 

6 30.0

20.0

 

7 29.0

20.0

 

8 29.0

20.0

 

9 30.0

19.0

 

10 30.0

20.0

 

11 30.0

20.0

 

12 30.0

20.0

 

13 30.0

19.0

 

14 30.0

20.0

 

15 29.0

20.0

 

16 31.0

16.0

 

17 32.0

18.0

 

18 30.0

19.0

 

19 30.0

19.0

 

20 31.0

18.0

 

21 30.0

18.0

 

22 31.0

19.0

 

23 29.0

20.0

 

24 29.0

19.0

 

25 30.0

19.0

 

26 30.0

19.0

 

27 29.0

17.0

 

28 30.0

19.0

 

29 30.0

19.0

 

30 31.0

19.0

 

31 30.0

19.0

Jumlah

935.0

595.0

Rata-rata

30.2

19.2

2.1.2 Kelembaban Udara

Kelembaban udara (Relatif Humidity) didapatkan dari selisih antara bola

kering dan bola basah (depresi) kemudian dilihat pada daftar table Relatif

Humidity (RH) maka hasilnya sudah dapat diketahui.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

7

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

Bola kering

=

23.5

Bola basah

=

23.0

Depresi

=

0.5

RH

=

95 (dari table RH)

Tabel 2.2. Kelembaban Udara (RH)

Bola kering

 

Depresi

0.5

1.0

Dst

22

95

90

 

23

95

90

 

24

95

90

 

dst

     

2.1.3 Pengukuraan Penguapan Ada tiga kemungkinan untuk menghitung penguapan dari tangki penguapan type “A” yang didasarkan ada atau tidak adanya hujan. Kemungkinan pertama tidak ada hujan. tgl, 10 - 4 - 2010, air ditambah 3.0 mm berarti penguapan = 3.0 mm. Kemungkinan kedua ada hujan kecil. tgl, 8 - 4 - 2010, air ditambah = 2,2 mm hujan = 0,5 mm Penguapan = 2.7 mm Kemungkinan ketiga ada hujan lebat. tgl, 24 - 4 - 2010, hujan 9.5 mm air dibuang/ diambil = 4.0 mm Penguapan = 5.5 mm. Pencatatan cukup satu angka di belakang koma, dan pembulatan ke atas.

2.1.4 Temperatur Air Dalam Tangki PAN “A”

a) Temperatur harian. Temperatur mak. pada floating thermometer Temperatur min. pada floating thermometer

Temperatur harian

45 = 22.5 °C

2

24 °C 21 °C + 45 °C

Pembulatan terdekat : 22.5 0 C menjadi 23.0 0 C dalam pengisian pada format klimatologi tidak perlu ada dibelakang koma = 23 0 C

8

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

b) Temperatur rata-rata harian.

Bulan April

29

29

29

29

29

30

29

30

30

31

27

29

27

29

28

29

30

30

28

28

28

28

27

28

28

28

28

28

30

29

30

Jumlah

=

864

Rata-rata =

28,8

29,0.

2.1.5 Kecepatan Angin

Kecepatan angin di ukur dengan menggunakan alat Anemometer untuk

mendapatkan data kecepatan angin adalah tanggal pencatatan dikurang

tanggal sebelumnya.

a) Kecepatan harian.

Pembacaan tgl, 2 - 11 - 2009

=

104128

Pembacaan tgl, 1 - 11 - 2009

=

103072

Selisih

1056 x 100 = 104600 = 105.6 km/hari.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

9

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

b) Kecepatan angin rata-rata harian.

Bulan April

105.6

98.2

101.3

100.2

77.2

94.8

82.8

92.9

83.0

100.2

70.6

81.2

87.5

73.1

83.3

76.0

76.3

54.1

63.5

56.6

61.1

58.4

80.9

122.4

92.3

64.9

52.1

59.1

62.2

82.4

Jumlah

=

2394.2

Rata rata=

79.81

= 79.8 km/hari.

2.1.6 Lama Penyinaran Matahari

Dari pembakaran diagram sinar matahari, maka lamanya penyinaran matahari

perhitungannya sebagai berikut :

lamanya penyinaran matahari perhitungannya sebagai berikut : Gambar 2.2. Perhitungan Lama Penyinaran Matahari Jarak

Gambar 2.2. Perhitungan Lama Penyinaran Matahari

Jarak antara garis panjang dengan garis panjang adalah satu jam ditulis 10,

dan antara garis panjang ke garis pendek adalah setengah jam ditulis 5. Hasil

10

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

pembacaan selama satu hari dibagi dengan 10, dan hasilnya kemudian dibagi lagi dengan kemungkinan lamanya penyinaran matahari (semenjak terbit matahari sampai terbenam, tanpa awan), setelah itu dikalikan 100 %. Hasil yang terbakar untuk data tanggal 30 09 - 2010

Jam

7 8

= 5

8 9

= 10

9 10

= 10

10 11

= 10

11 12

= 10

12

13

= 10

13 14

= 10

14 15

= 10

15 16

= 10

Jumlah

= 85

Jadi lama penyinaran =

85

10

= 8.5

Kemungkinan penyinaran untuk Ciparay bulan September adalah 12.04 jam, yaitu dari waktu matahari terbit jam 05.43 sampai dengan waktu mata hari terbenam jam 17.47.

2.2

Jadi lama penyinaran =

8.5

12.4

x100 %

= 70.60 % = 71 %.

Presipitasi Presipitasi (juga dikenal sebagai satu kelas dalam hydrometeor, yang merupakan fenomena atmosferik) adalah setiap produk dari kondensasi uap air di atmosfer. Ia terjadi ketika atmosfer (yang merupakan suatu larutan gas raksasa) menjadi jenuh dan air kemudian terkondensasi dan keluar dari larutan tersebut (terpresipitasi). Udara menjadi jenuh melalui dua proses, pendinginan atau penambahan uap air. (http://id.wikipedia.org/wiki/Presipitasi)

Presipitasi yang mencapai permukaan bumi dapat menjadi beberapa bentuk, termasuk diantaranya hujan, hujan beu, hujan rintik, salju, sleet, ad hujan es. Virga.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

11

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

Untuk kajian ini presipitasi yang dimaksud adalah berkaitan dengan curah hujan. Derajat atau besaran curah hujan dinyatakan dengan jumlah curah hujan dalam suatu satuan waktu, satuan yang digunakan mm/jam dan disebut intensitas curah hujan (Sosrodarsono dan Takeda 1978), tabel berikut menyajikan keadaan curah hujan berkaitan dengan intensitasnya.

Tabel 2.3. Keadaan Curah Hujan dan Intensitas Curah Hujan

Keadaan Curah Hujan

Intensitas Curah Hujan (Mm)

1 jam

24 jam

Hujan sangat ringan

<1

<5

Hujan ringan

1-5

5-20

Hujan normal

5-10

20-50

Hujan lebat

10-20

50-100

Hujan sangat lebat

>20

>100

2.3 Pengolahan Data Hujan Data hujan diperoleh dari penakar Curah hujan yang dipasang pada suatu tempat disebu Pos Hujan dengan persyaratan dan kerapatan antar pos memnuhi kebutuhan keterwakilan suatu wilyah.

Terdapat dua macam penkar hujan yang lazim digunakan di Indonesia, yaitu:

a) Penakar curah hujan biasa; Peralatan penakar curah hujan biasa berupa tabung/ corong yang mempunyai luas corong 100cm² dan 200cm². Banyaknya curah hujan ditakar dengan gelas ukur sesuai dengan luas corong alat hujan yang dipakai.

Cara pengamatan hujan dengan alat ini sebagai berikut:

Pelaksanaan penakaran dilakukan setiap pukul 07.00

Pembacaan data hujan dilakukan dengan tingkat ketelitian satu angka dibelakang koma.

Data penakaran selanjutnya dicatat langsung pada formulir penakar hujan yang tersedia

Apabila curah hujan kurang dari 0,1 dianggap 0, tidak diamati/rusak diberi tanda strip

12

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

b) Penakar Curah hujan otomatik Alat curah hujan otoatik mempunyai luas corong atas 200 cm 2 . Curah hujan dicatat dengan system grafik yang dipasang pada tromol dan digerakan dengan jam secara mekanis. Ada dua macam penakar hujan otomatik yang perlu diketahui, yaitu:

Tipe siphon

Tipe tipping bucket.

Cara pengamatan:

Pergantian kertas grafik disesuaikan dengan macam kertasnya:

Pada setiap pemasangan kertas grafik sebaiknya ditulis informasi yang diperlukan, misal: lokasi stasiun, jam/ tanggal/ bulan/ tahun pemasangan atau pengambilan, tekanan air tandan, nama pengamat

Apabila curah hujan kurang dari 0,1 dianggap 0, tidak diamati/ rusak diberi tanda strip

Cara pembacaan Grafik:

Grafik curah hujan yang dibaca setiap jamnya, kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan data hujan dalam sehari

Grafik curah hujan mingguan harus dibagi-bagi tiap jamnya terlebih dahulu untuk memudahkan perhitungan guna mendapatkan distribusi hujan tiap hari.

Saat ini telah dikembangkan sistem telemetring dimana data dari pengamatan otomatik tidak dinyatakan dalam grafik tetapi dalam bentuk digital dan tersimpan dalam peralatan penyimpan/ storage (modem) yang dapat menyimpan data hujan menitan lebih dari satu tahun data dan dapat juga ditransmisikan melalui jaringan GSM dan atau internet sehingga dapat diketahui/ diambil secara real/ tepat waktu.

Hasil akhir pengolahan data hujan adalah tabulasi ketersediaan data hujan dalam satu periode tertentu, umumnya adalah hujan harian dalam satu tahun, jika sudah ada data ini maka tentu saja dapat dinyatakan juga dalam mingguan, dasarian, tengah bulanan, dan bulanan, serta tahunan.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

13

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

Untuk keperluan khusus data hujan yang diperlukan bukan data harian, tetapi data harian maksimum (data intensitas hujan perhari tertinggi), dan jika memungkinkan diperlukan juga berapa lama waktu hujan pada saat tersebut, untuk informasi semacam ini hanya dapat diperoleh dari pengamatan hujan otomatis (ARR), baik dalam bentuk grafik atau digital/ logger.

2.4 Pengolahan Data Debit Aliran Analisis hidrologi pada ujungnya akan memghasikan besar aliran persatuan waktu, hanya saja jumlah dan letak pos debit tidak sebanyak pos hujan, karena itu selalu diperlukan data hujan karena tidak semua wilayah dapat terwakili oleh pengamatan duga air.

Sub-bab berikut ini akan menjelaskan bagaimana data debit aliran ari suatu

Pos Duga Air (PDA) yang terpasang. Untuk mendapatkan data debit sungai pada suatu lokasi pos duga air diperlukan lima tahap pelaksanaan pekerjaan, yaitu:

a) Pengumpulan data tinggi muka air

b) Pengukuran debit sungai,

c) Perhitungan debit sungai

d) Pembuatan lengkung debit

e) Perhitungan dan evaluasi data debit.

2.5 Pengumpulan Data Tinggi Air Muka Tinggi muka air sungai adalah tinggi permukaan air yang diukur dari titik tertentu yang telah ditetapkan. Tinggi muka air dinyatakan dalam satuan meter (m) atau centimeter (cm).

Pengamatan tinggi muka air dilakukan dengan dua jenis alat, yaitu :

a) Alat duga air biasa, berupa papan pencatatan tinggi muka air yang dibaca sebanyak tiga kali sehari pada pukul 07.00, pukul 12.00 dan pukul 17.00. Disamping itu dibaca setiap jam pada tinggi muka air tertentu seperti pada saat banjir.

b) Alat duga air otomatik berupa alat yang dapat melakukan pencatatan fluktuasi tinggi muka air secara otomatis. Hasil pencatatan berupa

14

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

hidrograf muka air yang menggambarkan hubungan antara muka air dan waktu.

2.5.1 Pengukuran Debit Sungai Prinsip pelaksanaan pengukuran debit sungai adalah mengukur luas penampang basah, dan kecepatan aliran pada tinggi muka air sungai tertentu.

Debit dapat dihitung dengan rumus :

Keterangan:

Q

= debit (m³/detik)

A

= luas bagian penampang basah (m²)

V

= kecepatan aliran rata-rata pada luas bagian penampang basah (m/detik)

a)

Pengukuran Lebar Sungai Pengukuran lebar sungai dilakukan dengan menggunakan alat ukur lebar. Jenis alat ukur lebar harus disesuaikan dengan lebar penampang basah dan sarana penunjang yang tersedia.

b)

Pengukuran Kedalaman Sungai Pengukuran kedalaman sungai dilaksanakan dengan menggunakan alat ukur kedalaman di setiap penampang vertikal yang telah diukur jaraknya. Jarak setiap penampang vertikal harus diusahakan serapat mungkin agar debit tiap sub bagian penampang tidak lebih dari 5% dari debit seluruh penampang basah.

c)

Pengukuran Kecepatan Aliran Kecepatan aliran rata-rata di suatu penampang basah diperoleh dari hasil pengukuran kecepatan rata-rata di beberapa penampang vertikal. Kecepatan rata-rata di suatu penampang vertikal diperoleh dari hasil pengukuran kecepatan aliran satu titik, dua titik, tiga titik atau lrbih banyak titik, yang pelaksanaannya tergantung pada kedalaman aliran, lebar aliran dan sarana yang tersedia.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

15

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

2.5.2 Perhitungan Debit Sungai

Perhitungan debit pengukuran dilaksanakan dengan metode interval tengah

(Gambar 2.3)

dilaksanakan dengan metode interval tengah (Gambar 2.3) Gambar 2.3. Perhitungan Debit Pengeluaran Dengan Metode

Gambar 2.3. Perhitungan Debit Pengeluaran Dengan Metode Intrerval Tengah

2.5.3 Analisis Lengkung Debit (Rating Curve)

Dari data hasil pengukuran debit sungai dapat dibuat lengkung debit dengan

metoda grafis. Data pengukuran debit digambarkan pada kertas grafik

aritmatik (blangko lengkung debit),dengan skala mendatar merupakan nilai

debit sedangkan skala vertikal atau tegak merupakan ketinggian muka air.

Dengan demikian lengkung debit menyatakan hubungan antara tinggi muka

air dengan debit sungai.

Penggambaran lengkung debit harus memenuhi ketentuan ketentuan sebagai

berikut :

a) Minimum menggunakan satu mistar lengkung debit sesuai dengan posisi

data debit yan telah diplot pada kertas grafik.mistar lengkung debit

merupakan suatu garis persamaan yang menghubungkan setiap posisi

data debit:

16

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

b) Lengkung debit ditentukan berdasarkan urutan kronologis dari data pengukuran debit dengan memperhatikan proses mengendapan dan penggerusan yang terjadi.

c) Lengkung debit ditentukan mulai dari posisi debit pada muka air rendah, muka air sedang sampai muka air tinggi.

d) Penentuan arah lengkung debit pada posisi muka air yang lebih tinggi harus memperhatikan lengkung debit pada posisi muka air yang lebih rendah.

e) Apabila telah tersedia lengkung debit dari suatu pos duga air yang sama,maka lengkung debit tersebut harus digunakan sebagai dasar dalam menentukan lengkung debit berikutnya.

f) Skala gambar lengkung debit untuk muka air rendah, muka air sedang dan air tinggi harus dapat digambarkan pada suatu blangko lengkung debit.

g) Kemiringan lengkung debit antara 30° sampai 45°.

Penggambaran lengkung debit dengan komputer Dalam meningkatnya kualitas, reabilitas, ketelitian dan kecepatan pengolahan datamaka telah dilakukan uji penyusunan lengkung debit dengan bantuan program komputer.pembuatan lengkung debit beserta konversi muka air menjadi debit aliran dengan menggunakan program Hymos.

Lengkung debit pada program Hymos dinyatajab dalam bentuk persamaan eksponensial sebagai berikut:

Konstanta a, b dan c dihitung berdasarkan jumlah kuadrat terkecil pada persamaan regresi tidak linear dengan menggunakan data pengukuran Q dan H yang ada.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

17

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

2.5.4 Perhitungan dan Evaluasi Debit

a) Pengolahan Data Tinggi Muka Air

1)

Tahap Persiapan Pada tahap ini dilakukan koreksi, antara lain :

Tinggi muka air saat pemasangan dan pada saat pengambilan grafik, terhadap pembacaan papan duga air;

“waktu”, saat pemasangan dan pengambilan skala waktu pada grafik;

Pembalikan tinggi muka air;

Keterlambatan atau kecepatan putaran grafik;

Kedudukan elevasi nol papan duga;

Karena factor lain misalnya : pengaruh lumpur, pena blobor, grafik bertingkat-tingkat dan sebagainya.

2)

Tahap Perhitungan Perhitungan dilaksanakan sebagai berikut

Data pembacaan papan duga Tinggi muka air rata-rata harian dihitung dengan rumus :

Keterangan :

H

= tinggi muka air rata-rata

h

= tinggi muka air hasil pembacaan pada pukul 07.00

h

= tinggi muka air hasil pembacaan pada pukul 12.00

h

= tinggi muka air hasil pembacaan pada pukul 17.00

Sebelum dirata-rata harus diperiksa dulu kebenarannya.

Data pembacaan grafik muka air (MA) Pembacaan grafik muka air dilaksanakan dengan menggunakan

ditigzer untuk memperoleh data muka air setiap jam. Apabila

dilaksanakan secara manual dilaksanakan dengan cara:

Apabila fluktuasi MA pada grafik tidak terlalu tajam maka merata-rata Muka air menggunakan cara “cut and fill”.

18

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

Apabila perubahan tinggi MA pada grafik terlalu tajam maka merata-rata Muka Air dilakukan dengan cara dibaca setiap jam (Sub Division). Tinggi muka air rata-rata dihitung dengan rumus :

Keterangan :

H

: tinggi muka air harian rata-rata

H

: tinggi muka air pada pukul 01.00

H

: tinggi muka air pada pukul 02.00

H₂₄

: tinggi muka air pada pukul 24.00

b) Perhitungan Debit Sungai Setelah diperoleh data tinggi muka air setiap jam atau data tinggi muka air harian rata-rata dan tabel aliran untuk setiap tinggi muka air, serta besarnya koreksi penyimpangan maka debit harian rata-rata dapat dihitung, dengan menggunakan formula dari rafting curve .

c) Evaluasi Debit Sungai Debit harian rata-rata digambarkan pada kertas grafik dengan menggunakan plotter dan program computer serta menghasilkan gambar hidograph debit. Gambar hidograph debit dari dua atau lebih pos duga air dibandingkan untuk menentukan kebenaran data debitnya.

2.5.5 Publikasi Debit Sungai Data debit sungai yang dipublikasi adalah data yang sudah memenuhi syarat teknis dan hasil evaluasi.

Hasil dari publikasi ini adalah data debit harian, untuk keperluan khusus seperti halnya data hujan diperlukan juga data debit harian maksimum (debit puncak/banjir pada tahun tersebut) dan disajikan khusus dengan grafiknya mulai dari kondisi normal, terjadi peningkatan, puncak, penurunan, dan kembali ke normal, data semacam ini hanya dapat diperoleh dari pos duga air

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

19

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

otomatis atau Automatic Water Level Recorder (AWLR), dalam bentuk grafik atau digital dengan runtut waktu yang sangat pendek (menit).

2.6 Latihan Jawablah soal-soal berikut ini!

1. Berikan uraian terkait dengan manfaat data hujan dalam perencanaan SDA?

2. Berikan penjelasan terkait dengan manfaat dari data iklim/ klimatologi pada perencanaan SDA?

3. Berikan penjelasan terkait dengan manfaat dari data debit pada perencanaan SDA?

2.7 Rangkuman Pengolahan data hidrologi dimulai dari pengolahan data hujan, pengolahan data debit aliran, pengumpulan data tinggi air muka (perhitungan debit sungai).

2.8 Evaluasi Jawablah pertanyaan berikut ini, dengan melingkari jawaban yang Anda anggap tepat!

1. Data

Hidrologi

apa

yang

evapotranspirasi

a. Data sedimentasi

b. Data debit

c. Data iklim

d. Semua Salah

diperlukan

untuk

perhitungan

besarnya

2. Metoda Thissen digunakan untuk mengitung

a. Besarnya debit aliran

b. Rata Rata Curah hujan

c. Besarnya evapotranspirasi

d. Semua Salah

20

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

3.

Metoda yang digunakan untuk menghitung besarnya evapotranspirasi adalah

a. Metoda Thornwaite

b. Metoda Penman

c. Metoda Radiasi

d. Semua Benar

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

21

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI
MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI 22 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

22

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

BAB III

KETERSEDIAAN AIR DAN KAPASITAS WADUK

Indikator Hasil Belajar: Setelah mengikuti pembelajaran materi ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan tentang
Indikator Hasil Belajar:
Setelah mengikuti pembelajaran materi ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan tentang
ketersediaan air dan kapasitas waduk.

3.1

Umum Perencanaan suatu proyek penampungan air atau waduk adalah berdasarkan estimasi atau perkiraan ketersediaan air untuk menjamin suplesi air setiap tahunnya, baik musim hujan maupun musim kering atau kemarau. Hal tersebut tidak hanya mencakup kapasitas tamping waduk dan tinggi bendungan sesuai dengan ketersediaan airnya, tetapi jug seluruh sistim utilasi harus didesain berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya, misalnya kapasitas terpasang dari PLTA, sistim distribusi irigasi dan lain sebagainya.

Estimasi benefit/ keuntungan yang dihitung berdasarkan dari estimasi ketersediaan/ suplesi air akan menentukan kelayakan ekonomi dari suatu bendungan, tergantung dari estimasi data hidrologi. Jadi, tujuan dari studi hidrologi adalah untuk memperoleh seteliti mungkin pola runoff di daerah lokasi rencana bendungan bila data aliran dapat diperoleh langsung dari stasiun pengukur aliran di dekat lokasi rencana bendungan, masalahnya menjadi mudah dan sederhana, yang kenyataannya hal tersebut tidak selalu demikian, sehingga perlu dilakukan pendekatan dengan menggunakan data curah hujan. Estimasi ketersediaan air tersebut dapat dilakukan dengan cara membuat kurva dari data hidrograf aliran minimal 20 tahun, cara tersebut dikenal sebagai kurva massa (mass curve), yakni dengan membuat plot/grafik antara akumulasi aliran terhadap waktu (gambar 3.1)

Tujuan lain dari studi hidrologi tersebut adalah untuk menentukan hidrograf untuk banjir desain tertentu untuk menentukan kapasitas spillway, saluran pengelak/ cofferdam, dll.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

23

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

3.2

Ketersediaan Air/ Debit Andalan

3.2.1

Pendekatan dan Metodologi

Pendekatan dan metodologi yang dapat digunakan untuk menentukan ketersediaan air atau debit andalan sangat tergantung pada ketersediaan data.

a) Data yang diperlukan untuk analisis ketersediaan air adalah data debit tahunan, bulanan atau harian dengan periode pencatatan cukup panjang yaitu lebih besar dari 10 tahun untuk analisis harian, 20 tahun untuk analisis bulanan dan 30 tahun untuk analisis tahunan.

b) Untuk ketelitian yang lebih tinggi, sangat disarankan menggunakan data observasi harian dengan panjang data lebih besar dari 30 tahun. Data harus merupakan hasil rekaman pos duga air di lokasi bendungan atau dekat di sebelah hulu atau hilirnya.

c) Bilamana data yang tersedia sangat pendek lebih kecil dari 10 tahun, dan data curah hujan tidak tersedia atau perioda pengamatannya mendekati perioda pengamatan debit maka metoda yang dapat digunakan adalah metoda stohastik.

d) Bila data debit tersedia dalam perioda yang tidak panjang sedangkan data curah hujan yang ada pada DPS tersebut cukup panjang maka dapat digunakan metoda deterministic dengan model rainfall-runoff dimana data hujan yang panjang dikonversikan ke data debit dengan menggunakan model tersebut setelah melewati tahapan kalibrasi.

3.2.2

Prosedur Perhitungan

a) Tahapan perhitungan lengkung kekerapan untuk data menerus

Tahapan perhitungan menggunakan lengkung kekerapan dengan data menerus dapat disusun sebagai berikut :

1) Kumpulkan data debit dengan interval waktu sesuai tujuan perhitungan;

2)

3) Periksa panjang pencatatan data debit, jika data yang tersedia lebih

dari 10 tahun dapat langsung digunakan, jika panjang pencatatan data kurang dari 10 tahun maka perlu dilakukan pengisian data mengikuti

Uji data debit yang akan digunakan secara statistik;

24

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

pedoman no. Pd. T-24-2004-A dengan judul pengisian kekosongan data hujan dengan metode korelasi distandarisasi non linier bertingkat;

4)

Susun seluruh data debit dari besar ke kecil;

5)

Tentukan nomor urut data;

6)

Hitung probabilitas dari setiap data berdasarkan nomor urut data dengan menggunakan rumus (3.1);

Formula yang digunakan untuk memplot lengkung aliran durasi dapat dinyatakan sebagai berikut :

F N [x (i) ] = (i-) / (N+1-2)

(3.1)

Dimana x (i) adalah observasi terbesar, N adalah jumlah data, sedangkan i adalah nomor urut dari 1 s/d Jumlah data (N), Data debit diurut dari besar ke Kecil dan adalah parameter yang sangat tergantung pada fungsi distribusi dari datanya.

= 3/8 (Blom Formula, Normal Distribusi)

= 0.44 (Gringorten Formula, Gumble Distribusi)

= 0 (Weibull Formula)

= ½ (Hazen Formula)

= 2/5 (Cunnane Formula)

Formula Weibull banyak digunakan untuk analisis hidrologi.

h)

Hitung debit andalan berdasarkan probabilitas yang diinginkan, bila probabilitas yang ada tidak sesuai dengan yang diinginkan maka dapat dilakukan interpolasi.

i)

Rubah probabilitas dari debit andal menjadi kala ulang dengan menggunakan rumus (3.2).

T

 

1

1

(1

P

(

X

x

))

P

(

X

x

)

(3.2)

T adalah jumlah tahun yang menunjukkan probabilitas kegagalan (debit yang terjadi x m 3 /det) rata-rata sekali dalam T tahun, dapat disebut sebagai kala ulang. P adalah probabilitas yang didapat dari persamaan 3.1.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

25

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

Untuk lebih jelasnya tahapan perhitungan dapat dilihat pada Gambar

3.1.

Pengumpulan Pengujian Data Data

Jumlah Data Tidak (N )>10 Tahun? Ya
Jumlah Data
Tidak
(N )>10
Tahun?
Ya
Pengisian atau Perpanjangan Data

Pengisian atau Perpanjangan Data

Pengisian atau Perpanjangan Data
Pengisian atau Perpanjangan Data

Penyusunan Data dari Besar ke Kecil untuk seluruh data

Perhitungan Besarnya Probabilitas/ Kala ulang untuk setiap data debit

Besarnya Probabilitas/ Kala ulang untuk setiap data debit Debit Andalan Gambar 3.1. Diagram Alir Perhitungan Lengkung

Debit Andalan

Gambar 3.1. Diagram Alir Perhitungan Lengkung Kekerapan Untuk Data Menerus

b) Prosedur perhitungan lengkung kekerapan untuk data tidak menerus (terbagi dalam suatu jangka waktu) Tahapan perhitungan debit andalan menggunakan lengkung kekerapan

untuk deret data menerus (bulan perbulan atau 10 hari persepuluh hari

atau 2 minggu perdua minggu) dapat disusun sebagai berikut :

a) Kumpulkan data debit dengan interval waktu sesuai tujuan

perhitungan;

b) Uji data debit yang akan digunakan secara statistik;

c) Periksa panjang pencatatan data debit, jika data yang tersedia lebih

dari 10 tahun dapat langsung digunakan, jika panjang pencatatan data

kurang dari 10 tahun maka perlu dilakukan pengisian data mengikuti

26

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

pedoman no. Pd. T-24-2004-A dengan judul pengisian kekosongan

data hujan dengan metode korelasi distandarisasi non linier bertingkat;

d) Susun data debit dari besar ke kecil untuk setiap selang waktu yang

akan digunakan, misal data bulan Januari dan seterusnya atau tengah

bulan pertama bulan Januari dan seterusnya sampai Desember;

e) Tentukan nomor urut data;

f) Hitung probabilitas dari setiap data berdasarkan nomor urut data

dengan menggunakan rumus (1);

g) Hitung debit andalan berdasarkan probabilitas yang diinginkan, bila

probabilitas yang ada tidak sesuai dengan yang diinginkan maka

dapat dilakukan interpolasi;

h) Hitung kala ulang dari debit andalan menggunakan rumus (3.2).

Untuk lebih jelasnya tahapan perhitungan dapat dilihat pada Gambar 3.2.

jelasnya tahapan perhitungan dapat dilihat pada Gambar 3.2. Gambar 3.2. Diagram Alir Perhitungan Lengkung Kekerapan

Gambar 3.2. Diagram Alir Perhitungan Lengkung Kekerapan Untuk Data Tidak Menerus

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

27

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

3.2.3 Contoh Perhitungan Debit Andalan/ Ketersediaan Air

a) Perhitungan Debit Andalan Menerus

Tabel 3.1. Tahap 1: Pengumpulan Seluruh Data

Tahap 1 : Kumpulkan seluruh data

No urut

Debit

No urut

Debit

No urut

Debit

No urut

Debit

No urut

Debit

1

5,18

 

31 0,88

61 9,29

 

91

2,59

 

121 10,9

2

8,58

 

32 1,19

62 15,2

 

92

1,75

 

122 5,14

3

6,63

 

33 0,95

63 6,46

 

93

1,65

 

123 3,81

4

6

 

34 3,94

64 4,06

 

94

1,69

 

124 3,12

5

3,53

 

35 3,68

65 2,5

 

95

5,08

 

125 2,02

6

4,48

 

36 6,35

66 1,8

 

96

6,24

 

126 1,59

7

1,86

 

37 6,48

67 1,46

 

97

4,33

 

127 1,17

8

1,5

 

38 8,81

68 0,8

 

98

6,43

 

128 0,76

9

5

 

39 8,01

69 0,67

 

99

5,64

 

129 0,72

10

4,42

 

40 4,55

70 2,34

 

100

4,15

 

130 0,81

11

8,37

 

41 5,12

71 4,95

 

101

3,75

 

131 1,37

12

4,46

 

42 3,43

72 5,71

 

102

2,96

 

132 5,72

13

15,4

 

43 2,07

73 6,83

 

103

1,5

 

133 3,65

14

12,5

 

44 2,5

74 6,21

 

104

0,67

 

134 4,53

15

6,97

 

45 2,3

75 6,17

 

105

0,8

 

135 2,75

16

4,2

 

46 2,33

76 5,06

 

106

2,1

 

136 1,71

17

2,45

 

47 2,42

77 3,66

 

107

3,5

 

137 1,12

18

1,6

 

48 4,41

78 3,42

 

108

3,69

 

138 0,92

19

0,83

 

49 12,5

79 1,34

 

109

4,97

 

139 0,62

20

0,43

 

50 7,35

80 1,67

 

110

6

 

140 0,49

21

0,37

 

51 6,51

81 2,64

 

111

4,83

 

141 0,49

22

0,57

 

52 4,05

82 5,27

 

112

3,81

 

142 0,77

23

1,18

 

53 4,91

83 6,91

 

113

1,93

 

143 1,51

24

2,79

 

54 5,25

84 8,36

 

114

1,52

 

144 1,97

25

5,14

 

55 2,52

85 10,2

 

115

1,48

 

26

6,2

 

56 2,16

86 16,1

 

116

1,4

27

6,12

 

57 2,58

87 3,62

 

117

1,34

28

3,93

 

58 1,66

88 8,57

 

118

2,54

29

4,44

 

59 1,56

89 8,46

 

119

3,62

30

1,53

 

60 5,69

90 4,53

 

120

3,7

28

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

Tabel 3.2. Tahap 2: Mengurutkan Data dari Besar ke Kecil

Tahap 1 : Kumpulkan seluruh data

No urut

Debit

No urut

Debit

No urut

Debit

No urut

Debit

No urut

Debit

1

5,18

 

31 0,88

61 9,29

 

91

2,59

 

121 10,9

2

8,58

 

32 1,19

62 15,2

 

92

1,75

 

122 5,14

3

6,63

 

33 0,95

63 6,46

 

93

1,65

 

123 3,81

4

6

 

34 3,94

64 4,06

 

94

1,69

 

124 3,12

5

3,53

 

35 3,68

65 2,5

 

95

5,08

 

125 2,02

6

4,48

 

36 6,35

66 1,8

 

96

6,24

 

126 1,59

7

1,86

 

37 6,48

67 1,46

 

97

4,33

 

127 1,17

8

1,5

 

38 8,81

68 0,8

 

98

6,43

 

128 0,76

9

5

 

39 8,01

69 0,67

 

99

5,64

 

129 0,72

10

4,42

 

40 4,55

70 2,34

 

100

4,15

 

130 0,81

11

8,37

 

41 5,12

71 4,95

 

101

3,75

 

131 1,37

12

4,46

 

42 3,43

72 5,71

 

102

2,96

 

132 5,72

13

15,4

 

43 2,07

73 6,83

 

103

1,5

 

133 3,65

14

12,5

 

44 2,5

74 6,21

 

104

0,67

 

134 4,53

15

6,97

 

45 2,3

75 6,17

 

105

0,8

 

135 2,75

16

4,2

 

46 2,33

76 5,06

 

106

2,1

 

136 1,71

17

2,45

 

47 2,42

77 3,66

 

107

3,5

 

137 1,12

18

1,6

 

48 4,41

78 3,42

 

108

3,69

 

138 0,92

19

0,83

 

49 12,5

79 1,34

 

109

4,97

 

139 0,62

20

0,43

 

50 7,35

80 1,67

 

110

6

 

140 0,49

21

0,37

 

51 6,51

81 2,64

 

111

4,83

 

141 0,49

22

0,57

 

52 4,05

82 5,27

 

112

3,81

 

142 0,77

23

1,18

 

53 4,91

83 6,91

 

113

1,93

 

143 1,51

24

2,79

 

54 5,25

84 8,36

 

114

1,52

 

144 1,97

25

5,14

 

55 2,52

85 10,2

 

115

1,48

 

26

6,2

 

56 2,16

86 16,1

 

116

1,4

27

6,12

 

57 2,58

87 3,62

 

117

1,34

28

3,93

 

58 1,66

88 8,57

 

118

2,54

29

4,44

 

59 1,56

89 8,46

 

119

3,62

30

1,53

 

60 5,69

90 4,53

 

120

3,7

1,53   60 5,69 90 4,53   120 3,7 Gambar 3.3. Lengkung Kekerapan dengan Data Menerus

Gambar 3.3. Lengkung Kekerapan dengan Data Menerus

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

29

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

MODUL 7 PERHITUNGAN HIDROLOGI

b) Contoh Perhitungan Debit Andal/ Ketersediaan Air Tidak Menerus (Setiap Bulan)

Tabel 3.3. Data Asli

No

 

Tahun 19

 
 

85

87

88

89

90

91

92

93

95

96

97

99

1

5,18

15,4

5,14

6,48

12,5

9,29

6,83

10,2

4,33

4,97

10,9

3,65

2

8,58

12,5

6,2

8,81

7,35

15,2

6,21

16,1

6,43

6

5,14

4,53

3

6,63

6,97

6,12

8,01

6,51

6,46

6,17

3,62

5,64

4,83

3,81

2,75

4

6

4,2

3,93

4,55

4,05

4,06

5,06

8,57

4,15

3,81

3,12

1,71

5

3,53

2,45

4,44

5,12

4,91

2,5

3,66

8,46

3,75

1,93

2,02

1,12

6

4,48

1,6

1,53

3,43

5,25

1,8

3,42

4,53

2,96

1,52

1,59

0,92

7

1,86

0,83

0,88

2,07

2,52

1,46

1,34

2,59

1,5

1,48

1,17

0,62

8

1,5

0,43

1,19

2,5

2,16

0,8

1,67

1,75

0,67

1,4

0,76

0,49

9

5

0,37

0,95

2,3

2,58

0,67

2,64

1,65

0,8

1,34

0,72

0,49

10

4,42

0,57

3,94

2,33

1,66

2,34

5,27

1,69

2,1

2,54

0,81

0,77

11

8,37