Anda di halaman 1dari 6

SATUAN AJARAN PENYULUHAN (SAP)

BLOK KARDIOVASKULAR
DRUG COUNSELLING - ADMINISTRATION

Dosen Pembimbing : Ns. Ika Setyo Rini, S.Kep, M.Kep

Disusun oleh:
Meike Sylviana (165070200111017)
Reguler 1

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
Satuan Acara Penyuluhan

Mata Kuliah : Sistem Kardiovaskuler


Pokok Bahasan : Administrasi Obat pada Gagal Jantung
Sasaran : Penderita gagal jantung dan keluarga
Tempat : Ruang Jantung
Hari/ Tanggal : Jumat, 27 April 2018
Alokasi Waktu : 25 menit
Pertemuan ke :1
Pengajar :

A. Tujuan Instruksional
 Tujuan Umum
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan para peserta mampu mengetahui dan
memahami bagaimana administrasi obat pada penderita gagal jantung.
 Tujuan Khusus
Setelah penyuluhan peserta mengetahui dan mampu menjelaskan
 Menjelaskan pengertian gagal jantung
 Menjelaskan terapi pengobatan pada gagal jantung

B. Sub Pokok Bahasan


C. Kegiatan Belajar Mengajar
Tahap Waktu Kegiatan Pengajar Kegiatan Peserta Metode Media
Pendahuluan 5 mnt 1. Membuka dengan salam 1. Menjawab Ceramah Leaflet
2. Memperkenalkan diri salam
3. Menjelaskan judul materi 2. Mendengarkan
4. Menjelaskan tujuan 3. Mendengarkan
penyuluhan 4. Mendengarkan
Penyajian 15 mnt 1. Menjelaskan: 1. Mendengarkan Ceramah, Leaflet
1) Pengertian gagal 2. Memberikan tanya
jantung pertanyaan jawab
2) Terapi pengobatan
pada gagal jantung
2. Melakukan sesi tanya
jawab
Penutup 5 mnt 1. Menanyakan kembali hal- 1. Menjawab Ceramah, Leaflet
hal yang sudah dijelaskan pertanyaan tanya
tentang terapi pengobatan 2. Mendengarkan jawab
untuk penderita gagal 3. Menjawab
jantung salam penutup
2. Menyimpulkan materi
yang telah disampaikan
3. Memberikan salam
penutup

D. Evaluasi
1. Peserta dapat memahami tentang gagal jantung
2. Peserta dapat memahami terapi pengobatan untuk penderita gagal jantung
E. Materi (Terlampir)
F. Daftar Pustaka
MATERI
Pengertian Gagal Jantung
Gagal jantung adalah suatu keadaan dimana jantung tidak mampu memompakan
darah ke jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, walaupun darah balik
masih normal (Departemen Kesehatan R.I., 2007).

Terapi Pengobatan pada Gagal Jantung

Tujuan pengobatan gagal jantung adalah untuk menghilangkan gejala, memperlambat


progresivitas penyakit, serta mengurangi hospitalisasi dan mortalitas. Pada dasarnya,
tatalaksana terapi bertujuan untuk mengembalikan fungsi jantung untuk menyalurkan darah
keseluruh tubuh. Selain itu, terapi juga ditujukan kepada faktor-faktor penyebab atau
komplikasinya (Ritter, 2008).

Terapi :

1. ACE Inhibitor
Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor merupakan golongan obat lini pertama pada
terapi semua tingkat gagal jantung, termasuk pada pasien yang belum mendapatkan gejala
atau asimptomatik (Hudson, 2003). Obat-obat golongan ACE Inhibitor bekerja dengan
cara menghambat kerja enzim pengubah Angiotensin I menjadi Angiotensin II
(Angiotensin Converting Enzyme). Dengan begitu, maka curah jantung dapat meningkat
kembali. Peningkatan curah jantung tersebut menyebabkan perbaikan perfusi ginjal,
sehingga akan meringankan udema yang terjadi (Hudson et al., 2003)
2. β-Blocker
Sejumlah mekanisme potensial telah dikemukakan untuk menunjukkan efek
menguntungkan beta-bloker pada pasien gagal jantung. Meskipun tidak jelas dijelaskan,
ada kemungkinan mekanisme efek antiaritmia, memperlambat remodeling ventrikel
dengan stimulasi, penurunan kematian miosit dari katekolamin yang menginduksi nekrosis
atau apoptosis, merubah fungsi sistol ventrikel kiri, menurunkan denyut jantung dan
tekanan dinding ventrikel, dan menghambat pengeluaran renin plasma (Dipiro et al, 2008).
3. Angiotensin II Reseptor Blockers (ARBs)
Mekanisme aksi ARB adalah dengan mengeblok reseptor angiotensin II sehingga
angiotensin II tidak terbentuk terjadi vasodilatasi dan penurunan volume retensi.
Perbedaannya dengan obat golongan penghambat ACE, ARBs tidak menghasilkan
akumulasi bradikinin sehingga mengurangi efek samping batuk dan angiodema. Efek
samping ARBs adalah hipotensi, hiperkalemia, dan lebih kecil risiko efek samping batuk.
Penggunaan ARBs dikontraindikasikan pada ibu hamil dan stenosis ginjal bilateral (BNF,
2011).
4. Antagonis Aldosteron
Manfaat dari antagonis aldosteron pada gagal jantung muncul pada sebagian besar pasien
karena inhibisi neurohormonal. Secara spesifik, manfaat yang diyakini yaitu karena
kemampuan dari menghambat fibrosis jantung yang dapat berakibat terjadinya remodeling
ventrikel. Dengan demikian, seperti ACE Inhibitor dan Beta blocker, data pada antagonis
aldosteron juga mendukung model neurohormonal gagal jantung. Dosis rendah antagonis
aldosteron mungkin dapat diberikan pada pasien dengan gagal jantung yang menengah
maupun gagal jantung yang sifatnya berat dan pada pasien pada pasien gagal jantung usia
lanjut yang telah infark miokard (Dipiro et al, 2008).
5. Diuretik
Sebagian besar pasien dengan gagal jantung akan memerlukan diuretik untuk mengontrol
status cairan mereka, dan karena itu diuretik salah satu terapi utama gagal jantung. Namun,
karena diuretik tidak mengubah perkembangan penyakit maka penggunaannya tidak
diharuskan. Pasien yang tidak mengalami retensi cairan tidak membutuhkan terapi diuretik
(Dipiro et al, 2008).
6. Digoksin
Digoxin adalah obat untuk mengobati penyakit jantung, seperti aritmia dan gagal jantung.
Obat ini bekerja dengan membuat irama jantung kembali normal, dan memperkuat jantung
dalam memompa darah ke seluruh tubuh.
Dosis awal: 0,25 mg, 1 x/hari pada pasien dengan fungsi ginjal normal. Pada pasien usia
lanjut dan gangguan fungsi ginjal dosis diturunkan menjadi 0,125 atau 0,0625 mg, 1 x/hari.
7. ISDN
Isosorbide Dinitrate merupakan obat yang termasuk dalam golongan nitrat. Nitrat adalah
vasodilator atau pendilatasi pembuluh darah. Nitrat akan meningkatkan aliran darah dan
oksigen ke jantung dan mengurangi beban kerja jantung dengan cara mendilatasikan atau
melebarkan pembuluh arteri dan vena dalam tubuh. Pelebaran pembuluh vena mengurangi
jumlah darah yang kembali ke jantung yang harus dipompa. Dosis awal: hydralazine 12,5
mg dan ISDN 10 mg, 2 - 3 x/hari.
Dosis awal (mg) Dosis target (mg)
ACEI
Captopril 6,25 (3 x/hari) 50 - 100 (3 x/hari)
Enalapril 2,5(2 x/hari) 10 - 20 (2 x/har)
Lisinopril 2,5 - 5 (1 x/hari) 20 - 40(1 x/hari)
Ramipril 2,5 (1 x/hari) 5 (2 x/hari)
Perindopril 2 (1 x/hari) 8 (1 x/hari)

ARB
Candesartan 4 / 8 (1 x/hari) 32 (1 x/hari)
Valsartan 40 (2 x/hari) 160 (2 x/hari)

Antagonis aldosteron
Eplerenon 25 (1 x/hari) 50 (1 x/hari)
Spironolakton 25 (1 x/hari) 25 - 50 (1 x/hari)

Penyekat β
Bisoprolol 1,25 (1 x/hari) 10 (1 x/hari)
Carvedilol 3,125 (2 x/hari) 25 - 50 (2 x/hari)
Metoprolol 12,5 / 25 (1 x/hari) 200 (1 x/hari)

ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure 2012

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 2017.


Perki. 2015. Pedoman Tatalaksana Gagal Jantung Edisi Pertama.