Anda di halaman 1dari 20

A–2

PENENTUAN WAKTU PENGIKATAN DARI SEMEN


PORTLAND DENGAN MENGGUNAKAN ALAT VICAT

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semakin berkembangnya pembangunan membuat para industri semen
selain mengeluarkan produk semen yang menghasilkan beton mutu tinggi
juga mengeluarkan semen yang ramah lingkungan tanpa mengurangi mutu
beton yang dihasilkan. Salah satunya yang sering digunakan sekarang ini
adalah semen Portland. Semen Portland di buat dari serbuk halus mineral
kristalin yang komposisi utamanya adalah kalsium dan aluminium silikat.
Semen merupakan campuran dari beberapa senyawa kimia yang bersifat
hidrolis. Hidrolis artinya apabila suatu bahan dicampur dengan air dalam
jumlah tertentu akan mengikat bahan-bahan lain menjadi satu kesatuan
massa yang dapat memadat dan mengeras serta tidak larut. Secara umum
semen dapat didefinisikan sebagai bahan perekat yang dapat merekatkan
bagian-bagian benda, dua atau lebih benda sehingga menjadi bentuk yang
kuat, kompak dan keras. Semen adalah satu komposisi bahan dalam
pembuatan beton dan yang berpengaruh terhadap kuat ikat beton.
Beton adalah bahan bangunan yang terdiri dari komposisi pasir,
kerikil atau batu pecah yang disatukan dengan bahan pengeras pasta cair
yaitu semen dan air. Dengan proporsi yang tepat campuran tersebut menjadi
bentuk plastis, akibat campuran terjadi panas hidrasi semen dan air, beton
menjadi keras seperti batu. Beton secara luas merupakan material bangunan
dan keteknik sipilan, karena beton sangat kuat dan cukup keras untuk
pembangunan struktur yang baik terutama gedung.
Alat Vicat adalah alat yang digunakan untuk melakukan pengujian
daya ikat semen. Daya ikat semen sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
dalam sebuah adukan mortar maupun beton, karena adukan atau campuran
yang dibuat harus sesegera mungkin dipakai supaya tidak lekas kering. Oleh
karena itu penting sekali pengujian ini dilakukan untuk menentukan waktu
yang diperlukan semen untuk mengeras, terhitung dari mulai bereaksi

18
dengan air dan menjadi pasta semen hingga pasta semen cukup kaku untuk
menahan tekanan. Standar pengujian waktu ikat semen adalah SNI 15-2049-
2004. Waktu ikat semen terbagi atas dua yaitu waktu ikat awal dan waktu
ikat akhir.

1.2 Maksud Percobaan


Adapun maksud dari percobaan penentuan waktu pengikatan dari
semen Portland dengan menggunakan alat Vicat adalah sebagai acuan dan
pegangan untuk pengujian waktu ikat awal semen Portland untuk pekerjaan
sipil.

1.3 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini yaitu :
1. Menentukan konsistensi normal dari semen Portland.
2. Untuk mendapatkan nilai waktu ikat awal dan waktu ikat akhir semen
yang digunakan untuk menentukan mutu semen Portland dengan
menggunakan alat Vicat.

1.4 Alat yang Digunakan


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu :
1. Alat Vicat.
2. Timbangan dengan kepekaan sampai 1,0 gram.
3. Mesin aduk dengan sudu-sudu baja tahan karat serta mangkuk yang
dapat dilepas.
4. Alat pengorek yang agak kaku.
5. Plat kaca.
6. Plastik.
7. Stopwatch.
8. Sendok semen.
9. Gelas ukur dengan kapasitas 150 atau 200 ml.
10. Sarung tangan karet.

19
1.5 Bahan yang Digunakan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu :
1. Semen Portland 500 gram.
2. Air bersih (dengan temperature kamar).

20
II. CARA PENGUJIAN
2.1 Cara Memakai Alat
1. Siapkan alat yang akan digunakan, yaitu alat Vicat.
2. Pastikan alat Vicat dalam keadaan bersih dan kering.
3. Pasang jarum pada alat Vicat, lalu posisikan alat Vicat berdiri tegak.
4. Alat siap digunakan.

2.2 Prosedur Percobaan


Dalam test Vicat (pengetesan ikatan awal), waktu pengikatan terjadi
apabila jarum Vicat yang kecil (jarum apparatus), membuat penetrasi
sedalam 25 mm ke dalam pasta setelah mapan selama 30 detik.
1. Pertama-tama siapkan alat-alat yang diperlukan untuk percobaan.
2. Tempatkan mesin sudu-sudu beserta mangkuk (kering) pada posisi
mengaduk pada alat aduk.
3. Siapkan semen Portland sebanyak 500 gram, dan air bersih sebanyak
33% dari semen yang di gunakan.
4. Tempatkan bahan-bahan untuk satu bath ke dalam mangkuk dengan cara
sebagai berikut:
a) Masukkan 500 gram semen yang telah disiapkan ke dalam mangkuk
pada mesin sudu-sudu.
b) Masukkan semua air pencampur yang jumlahnya telah ditetapkan
sebelumnya dalam pembuatan pasta semen dengan konsistensi normal
untuk semen adalah 500 gram.
5. Jalankan alat aduk dengan kecepatan rendah (140 ± 6 rpm) selama 30
detik.
6. Hentikan alat aduk selama 15 detik dan koreklah semua pasta dari sisi
mangkuk.
7. Jalankan alat aduk dengan kecepatan sedang ( 248 ± 10 rpm) dan aduklah
selama 1 menit.
8. Segera ambil pasta semen dari mangkuk dan bentuklah sebagai bola.
Lemparkan bola pasta tersebut dari tangan satu ke tangan yang lain
(dengan jarak ± 15 cm) beberapa kali. Tekankan bola pasta tersebut
dalam cincin konis sehingga memenuhi cincin tersebut. Tempatkan
cincin tersebut pada pelat gelas dan tuanglah kelebihan pasta semen dari

21
kedua sisi cincin. Ratakan bagian atas dari pasta semen dengan sendok
adukan sedemikian rupa sehingga tidak menekan adukan.
9. Segera masukkan benda coba tersebut ke dalam ruang lembap dan
biarkan disana terus kecuali bila akan dipakai untuk percobaan.
10. Setelah 30 menit didalam ruang lembap, tempatkan benda coba pada alat
Vicat. Turunkan jarum apparatus hingga menyentuh permukaan pasta
semen. Keraskan sekrup dan geser jarum penunjuk apparatus pada
bagian atas dari skala dan lakukan pembacaan awal.
11. Lepaskan batang tautan tongkat dengan memutar sekrup pengunci dan
biarkan jarum apparatus mapan pada permukaan pasta untuk 30 detik.
Adakan pembacaan untuk menetapkan dalamnya penetrasi (25 mm).
Apabila pasta ternyata terlalu lembek, lambatkan penurunan batang
tautan tongkat untuk mencegah melengkungnya jarum.
12. Jarak antara setiap penetrasi pada pasta tidak boleh lebih dari 6 mm.
Untuk semen tipe I, percobaan dilakukan segera setelah diambil dari
ruang lembab dan setiap 10 menit sesudahnya sampai tercapai penetrasi
25 mm atau kurang.
13. Gambarkan dalam suatu grafik, besarnya penetrasi jarum apparatus
sebagai fungsi dari waktu untuk semen-semen tipe I dan III. Catat hasil
semua percobaan penetrasi. Tentukan waktu tercapainya penetrasi
sebesar 25 mm. Inilah waktu ikat dari semen.
14. Setelah alat digunakan, yaitu alat Vicat dan mesin pengaduk digunakan
bersihkan kembali sampai bersih dan jangan ada benda uji yang masih
menempel didalam mangkuk mesin dan dialat Vicat.

22
III. PEMBAHASAN TEORI
Beton secara luas merupakan material bangunan dan keteknik sipilan,
karena beton sangat kuat dan cukup keras untuk pembangunan struktur yang
baik terutama gedung. Beton terbagi menjadi 3 yaitu:
a. Beton Biasa (Normal) yang mempunyai kekuatan antara 2000 sampai
6000 psi (13 sampai 40 MPa).
b. Beton Berkinerja Tinggi mempunyai kekuatan antara lain di atas 6000 psi
(40 MPa) disebut beton mutu tinggi, 80 MPa disebut beton bermutu
sangat tinggi, dan 120 MPa beton bermutu ultra tinggi.
Beton sangat terpengaruh oleh bahan dasarnya yaitu Semen, Agregat
Kasar, Agregat Halus dan Air. Dua dekade terakhir, telah dikembangkan
jenis bahan tambah (admixtures dan additives) untuk meningkatkan kinerja
beton untuk semakin lebih mudah dikerjakan, lebih cepat atu lebih tinggi
mutunya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi beton bermutu baik:
1. Karaskteristik semen dan jumlahnya.
2. W/c (water per cement) rasio.
3. Kualitas agregat dan interaksinya dengan pasta semen.
4. Tambahan bahan kimia yang digunakan.
5. Tambahan material yang digunakan.
6. Pemilihan prosedur dan waktu pencampuran bahan susun beton.
7. Quality control.
Tipe dan hasil dari semen adalah yang terpenting dalam langkah
pembuatan beton terutama beton mutu tinggi. Penggunaan semen, dapat
mengacu pada ASTM C 917. Variasi bahan kimia semen mempunyai efek
sangat kuat untuk memberikan ikatan pada bahan material tambah sehingga
1
dapat meningkatkan mutu beton.
Semen merupakan campuran dari beberapa senyawa kimia yang
bersifat hidrolis. Hidrolis artinya apabila suatu bahan dicampur dengan air
dalam jumlah tertentu akan mengikat bahan-bahan lain menjadi satu
kesatuan massa yang dapat memadat dan mengeras serta tidak larut. Secara
umum semen dapat didefinisikan sebagai bahan perekat yang dapat

1 Saifullah. 2011. M9 Design Metode SKSNI Menggunakan Material Agregat Kasar dan Halus
dengan Berat Jenis Rendah. Jurusan Teknik Sipil. Universitas Muhammadiyah. Jakarta.

23
merekatkan bagian-bagian benda, dua atau lebih benda sehingga menjadi
bentuk yang kuat, kompak dan keras.
Pada saat semen dicampur dengan air, timbul reaksi antara komponen
semen dengan air. Reaksi-reaksi ini menghasilkan beberapa macam
senyawa kimia (C3S, C2S, C3A dan C4AF).
1. Trikalsium Aluminat (3CaO.Al2O3) disingkat C3A
Senyawa ini bereaksi dengan sangat cepat secara isotermik,
memberikan kekuatan awal yang sangat cepat pada 24 jam pertama. C 3A
sangat berpengaruh pada nilai panas hidrasi yang tinggi, baik pada saat
awal maupun pada saat pengerasan berikutnya. Senyawa ini
mempengaruhi kuat tekan sampai tingkat tertentu dan semakin kecil pada
umur 1 atau 2 tahun.
2. Trikalsium Silikat (3CaO.SiO2) disingkat C3S
Senyawa ini jika terkena air akan cepat bereaksi dan menghasilkan
panas, panas tersebut akan mempengaruhi kecepatan pengerasan semen
sebelum hari ke 14. Jika kandungan C3S lebih banyak maka akan
terbentuk semen dengan panas hidrasi dan kuat tekan awal yang tinggi.
C3S memberikan kekuatan besar pada fase permulaan dan memberi efek
penambahan kekuatan yang kontinu pada waktu berikutnya.
3. Dikalsium Silikat (2CaO.SiO2) disingkat C2S
Senyawa ini mengalami pelepasan panas yang cenderung lambat.
Semen yang mempunyai C2S yang besar memberikan ketahanan terhadap
serangan zat kimia yang tinggi dan mempengaruhi susut terhadap
pengaruh panas akibat lingkungan. C2S memberikan kontribusi yang
besar pada kuat tekan di umur yang lebih panjang.
4. Tetrakalsium Aluminoferrit (4CaO. Al2O3. Fe2O3) disingkat C4AF
Senyawa ini kurang begitu besar pengaruhnya terhadap kekerasan
semen sehingga kontribusi dalam kekuatan kecil. C4AF hanya memberi
warna pada semen.
Syarat utama pada pembuatan semen adalah dengan melakukan
pengujian semen, agar diperoleh hasil yang memenuhi standar yang telah
ditetapkan. Pengujian semen biasanya dilakukan dilaboratorium yang suhu
dan kelembaban ruangannya di kontrol dengan baik. Suhu ruang dijaga
antara 20 – 27,5˚C dengan kelembaban relatif tidak boleh kurang dari 50%.

24
Pengujian semen yang dilakukan antara lain:
1. Kehalusan (Blaine)
Kehalusan sangat mempengaruhi pengerasan semen Portland dan juga
kekuatannya, makin halus semen maka makin cepat dan lebih efektif
terjadinya interaksi dengan air serta kuat tekannyapun makin tinggi. Nilai
kehalusan (blaine) dihitung dengan permeability udara terhadap sampel
semen yang dipadatkan pada kondisi tertentu. Alat blaine pada dasarnya
menarik sejumlah udara melalui suatu alas semen yang disiapkan dengan
porositas tertentu merupakan fungsi dari ukuran-ukuran butir-butir semen
dan menentukan kecepaan alir udara melalui alasnya.
S=

Keterangan:
S = Blaine/Luas permukaan spesifik semen (cm2/g)
2
= Blaine semen standar (3818 cm /g)
= Waktu alir emen tandar ( 82,13 = 9,06 )
T = Waktu alir semen uji (s)
2. Kebutuhan air semen (Normal consistency)
Normal consistency (NC) merupakan suatu nilai perbandingan
antara massa air yang digunakan dan massa semen yang dinyatakan
dalam persen. Kebutuhan air dipengaruhi oleh kandungan aluminat dan
untuk pengujian sifat fisis semen, jumlah air campuran yang digunakan
mengacu pada kondisi normal konsistensi.
Metode pengujian ini meliputi pemeriksaan konsentrasi normal dari
semen hidrolisis. Metode ini juga merupakan perbandingan antara jumlah
air yang digunakan dengan semen pada pembuatan pasta semen.

(%) = ( × 100 %

Keterangan:
B = Berat semen (gr)
A = Jumlah air (ml)
3. Waktu pengikat semen (Setting Time)
Waktu ikat merupakan penentu awal dan akhir pengikatan pasta
semen, disamping kehalusan. Waktu ikat dipengaruhi oleh komposisi

25
mineral dan air yang dipakai. Selain untuk menghidrasikan semen, air
juga berfungsi untuk memberi mobilitas bagi pasta semen.
Pada saat bercampur dengan air semen mengalami pengikatan dan
mengeras. Lamanya pengikatan juga dipengaruhi oleh suhu udara di
sekitarnya. Ada dua macam waktu pengikat pada semen, yaitu waktu ikat
awal dan waktu ikat akhir. Waktu ikat awal adalah waktu yang
dibutuhkan sejak semen bercampur dengan air dari kondisi plastis
menjadi tidak plastis, sedangkan waktu ikat akhir adalah waktu yang
dibutuhkan semen sejak bercampur dengan air dari kondisi plastis
menjadi keras. Waktu ikat awal menurut standar SNI minimum 45 menit,
sedangkan waktu ikat akhir maksimum 360 menit.
4. Pemuaian (Autoclave)
Autoclave bertujuan untuk menentukan tingkat perkembangan
pasta semen atau menetapkan semen tersebut memenuhi batas spesifikasi
cepat kaku. Sebelum pengujian kekekalan bentuk dilakukan terlebih
dahulu ditentukan jumlah air dan menghetahui pengikatan awal yang
akan digunakan untuk pembuatan semen. Pengujian kekekalan bentuk
dilakukan dua percobaan dengan tujuan untuk mengetahui peristiwa kerja
(retak, pecah atau perubahan bentuk lainnya) yang diperlihatkan setelah
2
pengujian.
Semen Portland di buat dari serbuk halus mineral kristalin yang
komposisi utamanya adalah kalsium dan aluminium silikat. Penambahan
air pada mineral ini menghasilkan suatu pasta yang jika mengering akan
mempunyai kekuatan seperti batu. Berat jenisnya berkisar antara 3,12
dan 3,16, dan berat volume satu sak semen adalah 94 lb/ft.
Pengerasan semen Portland adalah proses kimia di mana panas
berevolusi. Bentuk modifikasi dari semen Portland sekarang dibuat untuk
3
memenuhi tuntutan berbagai berbagai jenis struktur .

2 Suci Wulandari Indah Pratama. 2015. Pembuatan dan Pengujian Kualitas Semen Portland
yang Diperkaya Silikat Abu Ampas Tebu. Jurnal Jurusan Fisika FMIPA Unhas.
3 DR. Erdward G. Nawy, P.E. 2010. Beton Bertulang, Suatu Pendekatan Dasar.

26
Sesuai dengan tujuan pemakaian, Semen Portland di Indonesia [SII
0013-81] dibagi menjadi 5 jenis, yaitu :
a. Jenis I (Semen Portland untuk penggunaan umum yang tidak
memerlukan persyaratan-persyaratan khusus seperti disyaratkan pada
jenis-jenis lain).
b. Jenis II (Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan
ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang).
c. Jenis III (Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut
persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi.
d. Jenis IV (Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut
persyaratan panas hidrasi rendah).
e. Jenis V (Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut
4
persyaratan sangat tahan terhadap sulfat).
Penentuan waktu pengikatan semen Portland mengacu pada ASTM C
191-01a, Standard Test Method for Time of Setting of Hydraulic Cement by
Vicat Needles dan ASTM C 266-99, Standard Test Method for Time of
5
Setting of Hydraulic Cement by Gillmore Needles. Dalam test Vicat
(pengetesan ikatan awal), waktu pengikatan terjadi apabila jarum Vicat yang
kecil membuat penetrasi sedalam 25 mm ke dalam pasta setelah mapan
selama 30 detik. Adukan pasta merupakan campuran semen dengan air yang
dicetak dalam sebuat cincin ebonit. Dengan demikian terjadi tegangan
lateral pada pasta semen apabila pada permukaan bekerja gaya. Gerakan
jarum Vicat dihambat oleh kohesi antara partikel semen yang semakin
meningkat seiring dengan berkembangnya proses hidrasi semen.
Jarum Vicat memiliki permukaan ujung yang relative kecil, dengan
pemberat hanya 300 gr, sehingga tegangan permukaan dapat diabaikan.
Yang terbaca adalah hambatan atau lekatan antara pasta semen dan selimut
6
jarum, pada saat jarum menembus pasta semen. Adhesi antara permukaan
jarum dan pasta semen tergantung dari: kehalusan permukaan jarum, berat
jarum, dan kohesi yang tergantung dari tingkat hidrasi semen. (Gambar 1).

4 Saifullah. 2011. M9 Design Metode SKSNI Menggunakan Material Agregat Kasar dan Halus
dengan Berat Jenis Rendah. Jurusan Teknik Sipil. Universitas Muhammadiyah. Jakarta.
5 SNI 15-2049-2004. 2004. Semen Portland. Badan Standarisasi Nasional.
6 Moga Narayudha, Han Aylie. 2005. Waktu Ikat Adukan Beton Dengan Pocket Penetrometer
Serta Korelasinya Terhadap Nilai Slump. Media Komunikasi Teknik Sipil.

27
7
Gambar 1. Alat Vicat

Pengujian ini bertujuan untuk menentukan waktu yang diperlukan


semen untuk mengeras, terhitung dari mulai bereaksi dengan air dan
menjadi pasta semen hingga pasta semen cukup kaku untuk menahan
tekanan. Standar pengujian waktu ikat semen adalah SNI 15-2049-2004.
Waktu ikat semen terbagi atas 2 yaitu waktu ikat awal dan waktu ikat akhir.
Pengujian waktu ikat dapat dilakukan apabila nilai konsistensi normal
semen tercapai. Syarat nilai konsistensi normal adalah apabila jarum
penetrasi mencapai angka 10 ± 1 mm sedangkan waktu ikat awal 25 ± 1
8
mm.

7 SNI 15-2049-2004. 2004. Semen Portland. Badan Standarisasi Nasional.


8 Azmi Firnanda, Alex Kurniawandy, Ermiyati. 2007. Kuat Tekan Beton dan Waktu Ikat Semen
Portland Komposit (PCC). Jurusan Teknik Sipil. Universitas Riau.

28
IV. DATA PENGUKURAN DAN GRAFIK
UNIVERSITAS PANCASILA
LABORATORIUM SIPIL FAKULTAS TEKNIK
MEKANIKA TANAH – UKUR TANAH – JALAN & ASPAL – KONST. BETON - HIDROLIKA
Jl. Lenteng Agung Raya, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan (12460) Telp (021) 7864730
Ext. 25. (021) 7270086 Ext. 326 Fax. (021) 7270128 email : teknik@univ.pancasila.ac.id

Laporan No. : 01 Dikerjakan Tanggal : 08 November 2018


Jenis Material : Semen Portland Dikerjakan Oleh : Nehemia P. (Kel. 9)
Instansi : Laboratorium Beton Diperiksa Oleh : Vera Aprilia

Proyek/Pekerjaan : Pengujian waktu ikat


dengan alat Vicat

TABEL DATA
PENENTUAN WAKTU PENGIKATAN DARI SEMEN PORTLAND
DENGAN MENGGUNAKAN ALAT VICAT (AWAL / AKHIR)
Nomor Waktu Penurunan Pembacaan Skala
Pengamatan Penurunan
(Menit)
Penurunan (mm)
1. 45 39

2. 60 36

3. 75 28

4. 90 17

5. 105 9

6. 120 2

Grafik Hubungan antara Waktu Penurunan dan Skala Penurunan

45
40
Penurunan (mm) 35
30
25
20
15
10
5
0
45 60 75 90 105 120
Waktu Penurunan (menit)

29
V. PENUTUP
5.1 Faktor Kesalahan
1. Kurang teliti pada saat menyiapkan bahan semen dan air sehingga pada
saat pencampuran pasta terlalu lembek atau terlalu keras.
2. Kurang kuat dan cepat dalam melempar bola pasta semen yang telah
tercampur dari tangan kiri ke kanan atau sebaliknya.
3. Kurangnya penekanan pada saat memasukan pasta ke dalam cincin konis
sehingga tidak padat.
4. Kurang teliti dalam membaca skala alat Vicat.
5. Kesalahan pada takaran air pada saat pencampuran.
6. Kesalahan pada takaran semen pada saat pencampuran.

5.2 Kesimpulan

1. Pada Pengujian ini dapat disimpulkan bahwa pengikatan yang diuji


adalah ikat awal semen, standar pengujian waktu ikat semen adalah SNI
15-2049-2004. Waktu ikat semen terbagi atas 2 yaitu waktu ikat awal dan
waktu ikat akhir. Pengujian waktu ikat dapat dilakukan apabila nilai
konsistensi normal semen tercapai. Syarat nilai konsistensi normal adalah
apabila jarum penetrasi mencapai angka 10 ± 1 mm sedangkan waktu
9
ikat awal 25 ± 1 mm.

2. Berdasarkan grafik hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa semakin


tinggi skala penurunan maka akan linier dengan waktu penurunannya.

3. Berdasarkan hasil grafik , konsistensi normal terjadi pada rentang waktu


45 sampai 55 menit. Sedangkan konsistensi penurunan jarum apparatus
yang relatif cepat terjadi pada rentang waktu 60 sampai 120 menit.

4. Praktikum ini sangat bergantung dari banyaknya campuran air dan semen
Portland yang menyebabkan pasta menjadi lembek atau menjadi padat
sehingga berpengaruh pada waktu pengikatan.

9 Azmi Firnanda, Alex Kurniawandy, Ermiyati. 2007. Kuat Tekan Beton dan Waktu Ikat Semen
Portland Komposit (PCC). Riau: Jurusan Teknik Sipil Universitas Riau.

30
5.3 Saran
1. Pada saat penimbangan material harus pas agar saat pencamuran semen
dengan air dapat tercampur dengan homogen.
2. Perhatikan perbandingan air dan semen agar kekuatan nilai kekuatan
beton yang maksimal.
3. Perhatikan waktu agar penetrasi berlangsung sesuai dengan target.
4. Perhatikan saat menanamkan jarum ke semen yang ada di cincin
konis agar tidak tertanam terlalu dalam.

31
VI. DOKUMENTASI PERCOBAAN
6.1 Foto Alat dan Bahan

Gambar 6.1.1 Gambar 6.1.2


Alat Vicat dan cincin konis. Alat pengaduk semen.

(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9) (Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)

Gambar 6.1.3 Gambar 6.1.4


Stopwatch. Plat kaca.

(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9) (Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)

32
Gambar 6.1.5 Gambar 6.1.6
Semen Portland. Air bersih
(dengan temperatur kamar).

(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9) (Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)

33
6.2 Foto Prosedur Percobaan

Gambar 6.2.1 Gambar 6.2.2


Masukan semen kedalam Masukan air kedalam
mangkuk mesin sudu-sudu. mangkuk mesin sudu-sudu.

(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9) (Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)

Gambar 6.2.2 Gambar 6.2.3


Tempatkan mesin sudu-sudu beserta Jalankan alat aduk dengan
mangkuk pada posisi mengaduk. kecepatan rendah.

(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)
(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)

34
Gambar 6.2.4 Gambar 6.2.5
Hentikan alat aduk dan Jalankan kembali alat aduk
koreklah semua pasta dari sisi dengan kecepatan sedang.
mangkuk.

(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9) (Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)

Gambar 6.2.6 Gambar 6.2.7


Segera ambil pasta semen dari Lemparkan bola pasta
mangkuk dan bentuklah tersebut dari tangan satu ke
sebagai bola. tangan yang lain.
(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9) (Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)

35
Gambar 6.2.8 Bola pasta Gambar 6.2.9
tersebut dimasukan kedalam Tempatkan benda uji pada
cincin konis dan padatkan. alat Vicat.

(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)
(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)

Gambar 6.2.10
Turunkan jarum apparatus Gambar 6.2.11
hingga menyentuh Geser jarum penunjuk
permukaan pasta semen. apparatus pada bagian atas
dari skala.
(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)
(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)

36
Gambar 6.2.12
Lepaskan batang tautan
tongkat dengan memutar
sekrup pengunci dan baca
skala dalamnya penetrasi
jarum.
(Sumber:Dokumentasi Kelompok 9)

37