Anda di halaman 1dari 46

BAB 2

PEDAGANG, PENGUASA DAN PUJANGGA PADA


MASA KLASIK (HINDU-BUDDHA)

A. Dari Lembah Indus sampai Muarakama

B. Kerajaan Indonesia Bercorak Hindu-Buddha


dan Peninggalanya

C. Terbentuknya Jaringan Nusantara melalui


Perdagangan

D. Alkulturasi Kebudayaan Nusantara dan


Hindu-Buddha
BAB II

PEDAGANG,PENGUASA DAN PUJANGGA PADA MASA


KLASIK (HINDU-BUDDHA)

A. DARI LEMBAH INDUS SAMPAI MUARA KAMA

1. LAHIRNYA AGAMA BUDHA

Sejarah Agama Buddha

 dari abad ke-6 SM sampai sekarang

 dari lahirnya sang Buddha Siddharta Gautama

 salah satu agama tertua yang masih dianut di


dunia.

 berkembang, unsur kebudayaan India, ditambah


dengan unsur-unsur kebudayaan
Helenistik (Yunani), Asia Tengah, Asia
Timur dan Asia Tenggara.

 menyentuh hampir seluruh benua Asia.

 ditandai dengan perkembangan banyak aliran


dan mazhab, serta perpecahan-perpecahan.
 aliran tradisi Theravada, Mahayana,
dan Vajrayana (Bajrayana), yang sejarahnya
ditandai dengan masa pasang dan surut.

2. LAHIRNYA AGAMA HINDU

 berkembang di Lembah Sungai Shindu di India.


 Dilembah sungai inilah para Rsi menerima wahyu
dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk
Kitab Suci Weda.
 Dari lembah sungai sindhu, menyebar ke seluruh
pelosok dunia, yaitu ke India Belakang, Asia
Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya sampai ke
Indonesia.
 Ada beberapa teori dan pendapat tentang
masuknya Agama Hindu ke Indonesia.
1) Krom (ahli – Belanda), dengan teori Waisya.
Dalam bukunya yang berjudul ―Hindu
Javanesche Geschiedenis‖, menyebutkan
bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia
adalah melalui penyusupan dengan jalan damai
yang dilakukan oleh golongan pedagang
(Waisya) India.
2) Mookerjee (ahli – India tahun 1912)
Masuknya pengaruh Hindu dari India ke
Indonesia dibawa oleh para pedagang India
dengan armada yang besar. Setelah sampai di
Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan
koloni dan membangun kota-kota sebagai
tempat untuk memajukan usahanya. Dari
tempat inilah mereka sering mengadakan
hubungan dengan India. Kontak yang
berlangsung sangat lama ini, maka terjadi
penyebaran agama Hindu di Indonesia.
3) Moens dan Bosch (ahli – Belanda)
Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya
sangat besar pengaruhnya terhadap
penyebaran agama Hindu dari India ke
Indonesia. Demikian pula pengaruh
kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para
rohaniwan Hindu India ke Indonesia.

4) Data Peninggalan Sejarah di Indonesia.


Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi
Agastya menyebarkan agama Hindu dari India
ke Indonesia. Data ini ditemukan pada
beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di
Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya
menyebarkan agama Hindu dari India ke
Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna,
India Selatan dan India Belakang. Oleh karena
begitu besar jasa Rsi Agastya dalam
penyebaran agama Hindu, maka namanya
disucikan dalam prasasti-prasasti seperti:
Prasasti Dinoyo (Jawa Timur):
Prasasti ini bertahun Caka 628, dimana
seorang raja yang bernama Gajahmada
membuat pura suci untuk Rsi Agastya, dengan
maksud memohon kekuatan suci dari Beliau.
Prasasti Porong (Jawa Tengah)
Prasasti yang bertahun Caka 785, juga
menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi
Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya,
maka banyak istilah yang diberikan kepada
beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra,
artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak
mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk
Dharma. Pita Segara, artinya bapak dari
lautan, karena mengarungi lautan-lautan luas
demi untuk Dharma.

3. Proses Masuknya Agama Hindu dan Budha ke


Indonesia

 Indonesia sebagai negara kepulauan letaknya


sangat strategis, yaitu terletak diantara dua benua
(Asia dan Australia) dan dua samudra (Indonesia
dan Pasifik) yang merupakan daerah persimpangan
lalu lintas perdagangan dunia.
 Awal abad Masehi, jalur perdagangan tidak lagi
melewati jalur darat (jalur sutera) tetapi beralih
kejalur laut, sehingga secara tidak langsung
perdagangan antara Cina dan India melewati selat
Malaka. Untuk itu Indonesia ikut berperan aktif
dalam perdagangan tersebut.
 Akibat hubungan dagang tersebut, maka terjadilah
kontak/hubungan antara Indonesia dengan India,
dan Indonesia dengan Cina. Hal inilah yang
menjadi salah satu penyebab masuknya budaya
India ataupun budaya Cina ke Indonesia.
 Mengenai siapa yang membawa atau menyebarkan
agama Hindu – Budha ke Indonesia, tidak dapat
diketahui secara pasti, walaupun demikian para
ahli memberikan pendapat tentang proses
masuknya agama Hindu – Budha atau kebudayaan
India ke Indonesia.

Untuk penyiaran Agama Hindu ke Indonesia, terdapat


beberapa pendapat/hipotesa yaitu antara lain:

 Hipotesis Ksatria
Diutarakan oleh Prof.Dr.Ir.J.L.Moens berpendapat
bahwa yang membawa agama Hindu ke Indonesia
adalah kaum ksatria atau golongan prajurit, karena
adanya kekacauan politik/peperangan di India abad
4 – 5 M, maka prajurit yang kalah perang terdesak
dan menyingkir ke Indonesia, bahkan diduga
mendirikan kerajaan di Indonesia.
 Hipotesis Waisya
Diutarakan oleh Dr.N.J.Krom, berpendapat bahwa
agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum
pedagang yang datang untuk berdagang ke
Indonesia, bahkan diduga ada yang menetap karena
menikah dengan orang Indonesia.
 Hipotesis Brahmana
Diutarakan oleh J.C.Vanleur berpendapat bahwa
agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum
Brahmana karena hanyalah kaum Brahmana yang
berhak mempelajari dan mengerti isi kitab suci
Weda. Kedatangan Kaum Brahmana tersebut diduga
karena undangan Penguasa/Kepala Suku di
Indonesia atau sengaja datang untuk menyebarkan
agama Hindu ke Indonesia.

Pada dasarnya ketiga teori tersebut memiliki kelemahan


yaitu karena golongan ksatria dan waisya tidak mengusai
bahasa Sansekerta. Sedangkan bahasa Sansekerta
adalah bahasa sastra tertinggi yang dipakai dalam kitab
suci Weda. Dan golongan Brahmana walaupun
menguasai bahasa Sansekerta tetapi menurut
kepercayaan Hindu kolot tidak boleh menyebrangi laut.

Di samping pendapat / hipotesa tersebut di atas,


terdapat pendapat yang lebih menekankan pada peranan
Bangsa Indonesia sendiri, untuk lebih jelasnya simak
uraian berikut ini.
 Hipotesis Arus Balik dikemukakan oleh FD. K.
Bosh.
Hipotesis ini menekankan peranan bangsa Indonesia
dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu dan
Budha di Indonesia. Menurutnya penyebaran budaya
India di Indonesia dilakukan oleh para cendikiawan
atau golongan terdidik. Golongan ini dalam
penyebaran budayanya melakukan proses
penyebaran yang terjadi dalam dua tahap yaitu
sebagai berikut:

Pertama, proses penyebaran di lakukan oleh


golongan pendeta Budha atau para biksu, yang
menyebarkan agama Budha ke Asia termasuk
Indonesia melalui jalur dagang, sehingga di
Indonesia terbentuk masyarakat Sangha, dan
selanjutnya orang-orang Indonesia yang sudah
menjadi biksu, berusaha belajar agama Budha di
India. Sekembalinya dari India mereka membawa
kitab suci, bahasa sansekerta, kemampuan menulis
serta kesan-kesan mengenai kebudayaan India.
Dengan demikian peran aktif penyebaran budaya
India, tidak hanya orang India tetapi juga orang-
orang Indonesia yaitu para biksu Indonesia tersebut.
Hal ini dibuktikan melalui karya seni Indonesia yang
sudah mendapat pengaruh India masih menunjukan
ciri-ciri Indonesia.

Kedua, proses penyebaran kedua dilakukan oleh


golongan Brahmana terutama aliran Saiva-siddharta.
Menurut aliran ini seseorang yang dicalonkan untuk
menduduki golongan Brahmana harus mempelajari
kitab agama Hindu bertahun-tahun sampai dapat
ditasbihkan menjadi Brahmana. Setelah ditasbihkan,
ia dianggap telah disucikan oleh Siva dan dapat
melakukan upacara Vratyastome / penyucian diri
untuk menghindukan seseorang.

Jadi hubungan dagang telah menyebabkan terjadinya


proses masuknya penganut Hindu – Budha ke Indonesia.
Beberapa hipotesis di atas menunjukan bahwa masuknya
pengaruh Hindu – Budha merupakan satu proses
tersendiri yang terpisah namun tetap di dukung oleh
proses perdagangan.

Untuk agama Budha diduga adanya misi penyiar agama


Budha yang disebut dengan Dharmaduta, dan
diperkirakan abad 2 Masehi agama Budha masuk ke
Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan
arca Budha yang terbuat dari perunggu diberbagai
daerah di Indonesia antara lain Sempaga (Sulsel),
Jember (Jatim), Bukit Siguntang (Sumsel). Dilihat ciri-
cirinya, arca tersebut berasal dari langgam Amarawati
(India Selatan) dari abad 2 – 5 Masehi. Dan di samping
itu juga ditemukan arca perunggu berlanggam Gandhara
(India Utara) di Kota Bangun, Kutai (Kaltim).

B. KERAJAAN INDONESIA BERCORAK HINDU-


BUDDHA

Kerajaan Indonesia yang bercorak Hindu-Buddha beserta


peninggalannya cukup banyak ditemui di Nusantara ini,
berikut beberapa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dan
peninggalannya:
1. Kerajaan Kutai

 disebut juga Kerajaan Kutai Martadipura


(Martapura)
 merupakan kerajaan Hindu yang berdiri sekitar
abad ke-4 Masehi di daerah Kutai Kalimantan
Timur.
 dibangun oleh Kudungga.
 Dalam prasasti Yupa disebutkan bahwa
Kudunggalah pendiri kerajaan ini sehingga ia
disebut wamsakarta.
 Setelah Kudungga, Kerajaan Kutai dipimpin oleh
Aswawarman dan diteruskan oleh Mulawarman.
 Pada zaman Mulawarman inilah Kerjaan Kutai
mengalami puncak kejayaan.
 Ia termasyhur pernah menyedekahkan 20.000
ekor lembu kepada para Brahmana. Untuk
memperingati hal itu, para Brahmana mencatatnya
dalam prasasti Yupa.
 Pada abad ke-16, kerajaan Hindu tertua di
Nusantara ini takluk dari Kerajaan Kutai
Kartanegara.
 Dalam peperangan tersebut, Raja Kutai
Martadipura terakhir yang bernama Maharaja
Dharma Setia tewas di tangan Raja Kutai
Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji
Mendapa.
2. Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan bercorak
Hindu yang terletak di Jawa Barat. Kerajaan ini
diperkirakan berkembang antara 400-600 M. Salah
seorang rajanya yang terkenalnya bernama
Purnawarman. Pengaruh India melalui penggunaan
bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa dalam kehidupan
kerajaan ini sangat kuat, khususnya dalam kehidupan
keraton.

Terdapat tujuh prasasti yang dapat menjadi sumber


informasi kehidupan pada zaman Kerajaan
Tarumanegara sebagai berikut.

a. Prasasti Ciaruteun di Bogor.

b. Prasasti Kebon Kopi di Bogor.


c. Prasasti Jambu di Bogor.

d. Prasasti Muara Cianten di Bogor.

e. Prasasti Tugu di Bekasi.

f. Prasasti pasir Awi di Leuwiliang.

g. Prasasti Munjul di Banten.

Pada masa kekuasaan Raja Purnawarman, kerajaan ini


sering mendapat kunjungan dari penjelajah asing. Salah
seorang di antaranya adalah Fa Hsien yang datang ke
kerajaan ini pada abad ke-5 M. Berita dari Cina pada
masa pemerintahan Dinasti Tang dan Sung menyebutkan
sebuah kerajaan bernama To-lo-mo, sering mengirimkan
utusannya ke Cina untuk menghadap kaisar.
Kemungkinan besar kerajaan tersebut adalah Kerajaan
Taruma karena berdasarkan ejaan Cina, To-lo-mo berarti
Taruma.

3. Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang besar dan


makmur karena letaknya yang strategis berada di jalur
pelayaran dan perdagangan internasional sehingga
semua kapal dagang yang mengadakan pelayaran dari
Cina ke India atau sebaliknya singgah di bandar-bandar
Sriwijaya. Melalui penguasaan jalur perdagangan dan
pelayaran internasional serta peran aktifnya dalam
perdagangan internasional, maka Kerajaan Sriwijaya
memperoleh kejayaan di kawasan Asia Tenggara

Kerajaan Sriwijaya berdiri sekitar abad ke-7 M


menempati wilayah Sumatra dan semenanjung Malaysia.
Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan pada
abad ke-8 M dan ke-9M, pada masa pemerintahan Raja
Balaputradewa dari Dinasti Syailendra.

Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India,


pertama oleh budaya agama Hindu dan kemudian diikuti
pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan
di Sriwijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya
merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana.
Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu
mengurus perdagangan dan penaklukan dari kurun abad
ke-7 hingga abad ke-9.

Pada masa yang sama, agama Islam memasuki Sumatra


termasuk Aceh yang telah disebarkan melalui
perhubungan dengan pedagang Arab dan India. Pada
tahun 1414 pangeran terakhir Sriwijaya, Parameswara,
memeluk agama Islam dan berhijrah ke Semenanjung
Malaya dan mendirikan Kesultanan Melaka.

Agama Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha


Mahayana disebarkan di pelosok kepulauan Melayu, dan
Palembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha.
Pada tahun 1017, 1025, dan 1068, Sriwijaya telah
diserbu Raja Chola dari kerajaan Colamandala (India)
yang mengakibatkan hancurnya jalur perdagangan. Pada
serangan kedua tahun 1025, Raja Sri Sanggramawidjaja
Tungadewa ditawan. Pada masa itu juga, Sriwijaya telah
kehilangan monopoli atas lalu lintas perdagangan
Tiongkok-India. Akibatnya, kemegahan Sriwijaya
menurun. Kerajaan Singosari yang berada di bawah
naungan Sriwijaya melepaskan diri.

Pada tahun 1088, Kerajaan Melayu Jambi, yang


dahulunya berada di bawah naungan Sriwijaya
menjadikan Sriwijaya taklukannya. Kekuatan kerajaan
Melayu Jambi berlangsung hingga dua abad sebelum
akhirnya melemah dan takluk di bawah Majapahit.
4. Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno merupakan kerajaan Hindu-


Buddha yang ada di Jawa Tengah. Kerajaan ini
berkembang kira-kira pada abad ke 8 sampai abad ke-
11M. Hal ini bersumber dari prasasti Canggal yang
berangka tahun 732M. Prasasti ini menggunakan huruf
Pallawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti ini merupakan
bagian dari bangunan lingga yang merupakan tempat
pemujaan umat Hindu.

Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh dua dinasti,


yaitu Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya. Raja-raja
dari Dinasti Syailendra adalah Bhanu, Wisnu, Indra,
Samaratungga, dan Balaputradewa. Raja terakhir
Syailendra, Balaputradewa akhirnya melarikan ke
Sriwijaya akibat kalah dalam perang melawan Rakai
Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Raja-Raja dari Dinasti
Sanjaya antara lain Sanjaya, Rakai Panangkaran,
Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan,
Kayuwangi, Watuhumalang, Dyah Balitung, Sri Maharaja
Daksa, Sri Maharaja Rakai Wawa, dan Empu Sindok.

Akibat terjadinya bencana alam, Empu Sindok


memindahkan kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur
dan mengganti nama kerajaan menjadi Medang Kamulan
(Wangsa Isyana) dengan raja-raja yang pernah
memerintah antara lain Empu Sindok, Darmawangsa,
dan Airlangga.

5. Kerajaan Singosari

Kerajaan Singasari merupakan Kerajaan Hindu yang


berdiri pada tahun 1222 M. Raja pertamanya adalah Ken
Arok yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang
Amurwabhumi. Kerajaan ini bermula ketika Raja
Airlangga, Raja terakhir dari Kerajaan Medang Kamulan
membagi dua kerajaan menjadi Kediri dan Jenggala. Hal
ini dilakukan untuk menghindari perang saudara.
Tumapel merupakan daerah di bawah wilayah kerajaan
Kediri. Penguasa Tumapel saat itu adalah Tunggul
Ametung, yang memiliki istri bernama Ken Dedes.

Ken Arok seorang rakyat jelata yang kemudian menjadi


prajurit Tunggul Ametung, berkeinginan untuk
menguasai Tumapel. Ken Arok kemudian membunuh
Tunggul Ametung dengan keris yang dipesan dari Mpu
Gandring. Ken Arok kemudian menjadi pengganti
Tunggul Ametung dengan dukungan rakyat Tumapel.
Ken Dedes pun menjadi istri Ken Arok. Ia dimahkotai
dengan gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.
Kemudian, Ken Dedes melahirkan putranya hasil
perkawinannya dengan Tunggul Ametung, yang diberi
nama Anusapati. Dari selir bernama Ken Umang, Ken
Arok memiliki anak bernama Tohjaya. Ken Arok
memanfaatkan situasi politik Kediri yang sedang kacau
waktu itu, dan bergabung dengan para pendeta. Raja
Kediri Kertajaya akhirnya dapat dikalahkan pada tahun
1222.

Sejak itu Kediri menjadi bagian dari wilayah Singosari.


Dalam kitab Pararaton dikisahkan pertempuran berdarah
yang terjadi pada keturunan Ken Arok. Anusapati yang
kemudian mengetahui bahwa pembunuh ayahnya
(Tunggul Ametung) adalah Ken Arok, pada tahun 1227 ia
membunuh Ken Arok, dan kemudian menggantikannya
menjadi Raja di Kerajaan Singasari. Anusapati
memerintah Singasari selama 20 tahun. Tohjaya, putra
Ken Arok dari selir bernama Ken Umang kemudian
menuntut balas kematian ayahnya. Tohjaya kemudian
membunuh Anusapati pada tahun 1248, dan menjadi
Raja Singhasari.
Selama memerintah, Tohjaya mendapat banyak
tentangan karena ia hanyalah anak seorang selir yang
tidak berhak menduduki singgasana Singasari. Tohjaya
hanya memerintah kurang dari setahun karena tewas
dalam sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh
Ranggawuni anak Anusapati dan Mahesa Cempaka anak
Mahesa Wong Ateleng. Selanjutnya, Singosari dipimpin
oleh Wisnuwardhana (Ranggawuni) putra Anusapati.

Pada masa kekuasaannya, Ranggawuni bergelar


Wisnuwardhana. Perseteruan antar-keluarga dalam
Dinasti Rajasa berakhir dengan rekonsiliasi.
Wisnuwardhana memerintah bersama sepupunya,
Mahesa Cempaka. (Mahesa Cempaka dan Ranggawuni
adalah cucu Ken Dedes). Wisnuwardhana memiliki
menantu bernama Jayakatwang. Pada tahun 1254,
Wisnuwardhana turun takhta dan digantikan oleh
putranya, Kertanagara. Wisnuwardhana meninggal pada
tahun 1268.

Kertanagara adalah raja terakhir Singosari (1268-1292).


Pada tahun 1275, Kertanagara mengirim utusan ke
Melayu, dan patungnya sebagai Amoghapasha didirikan
di Jambi (1286). Pada tahun 1284 Kertanagara
mengadakan ekspedisi ke Bali, dan sejak itu Bali menjadi
wilayah Kerajaan Singosari. Pada tahun 1289, Kubilai
Khan (Kekaisaran Mongol) mengirim utusan ke Singosari
untuk meminta upeti, tetapi ditolak dan dipermalukan
oleh Kertanagara.

Kekuatan Singosari yang terfokus pada persiapan


pasukan untuk mengantisipasi balasan Mongol, membuat
lengah pertahanan dalam negeri. Akibatnya, kesempatan
ini digunakan oleh Jayakatwang memberontak terhadap
Singosari. Jayakatwang adalah menantu Wisnuwardhana,
yang kurang suka dengan peralihan kekuasaan
Singhasari ke tangan Kertanagara. Kertanagara akhirnya
meninggal ketika mempertahankan istananya (1292).
Pertempuran ini digambarkan jelas dalam Prasasti
Kudadu yang ditemukan di lereng Gunung Butak
Mojokerto.

6. Kerajaan Majapahit

Informasi tentang kerajaan ini diperoleh melalui


beberapa kitab yang di antaranya Pararaton, Kidung,
Sundayana, Kakawin Negarakertagama, dan beberapa
prasasti. Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan yang
terakhir dan sekaligus yang terbesar di antara kerajaan
Hindu-Buddha di Nusantara. Didahului oleh Kerajaan
Sriwijaya, yang beribukotakan Palembang di Pulau
Sumatra. Penguasa Majapahit paling lama adalah Hayam
Wuruk yang memerintah dari tahun 1350-1389.

Pendiri Majapahit yaitu Kertarajasa yang merupakan


anak menantu penguasa Singhasari. Sesudah Singosari
mengusir Sriwijaya dari Jawa secara keseluruhan pada
tahun 1290, kekuasaan Singosari yang naik menjadi
perhatian Kubilai Khan di Cina dan dia mengirim duta
yang menuntut upeti. Kertanagara sebagai penguasa
Kerajaan Singosari menolak untuk membayar upeti dan
Khan memberangkatkan ekspedisi menghukum yang tiba
di pantai Jawa tahun 1293. Ketika itu seorang
pemberontak dari Kediri, Jayakatwang, sudah
membunuh Kertanagara. Pendiri Majapahit bersekutu
dengan orang Mongolia melawan Jayakatwang.

Gajah Mada seorang patih dan bupati Majapahit dari


1331 ke 1364, memperluas kekuasaan kerajaan ke pulau
sekitarnya. Beberapa tahun sesudah kematian Gajah
Mada, angkatan laut Majapahit menduduki Palembang
dan menaklukkan daerah terakhir kerajaan Sriwijaya.
Walaupun penguasa Majapahit melebarkan kekuasaan
mereka di tanah seberang di seluruh Nusantara dan
membinasakan kerajaan-kerajaan tetangga, fokus
mereka kelihatannya hanya untuk menguasai dan
memonopoli perdagangan komersial antarpulau.

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para


penyebar agama mulai memasuki Nusantara. Sesudah
mencapai puncaknya pada abad ke-14, tenaga Majapahit
berangsur-angsur melemah dan perang suksesi yang
mulai dari tahun 1401 dan berlangsung selama empat
tahun melemahkan Majapahit. Setelah ini, Majapahit
ternyata tak dapat menguasai Nusantara lagi. Sebuah
kerajaan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu
Kesultanan Malaka mulai muncul dan menghancurkan
hegemoni Majapahit di Nusantara.

Kehancuran Majapahit diperkirakan terjadi pada sekitar


tahun 1500-an meskipun di Jawa ada sebuah
khronogram atau candrasengkala yang berbunyi seperti
ini: sirna hilang kretaning bumi. Sengkala ini konon
adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca
sebagai 0041 = 1400 Saka => 1478 Masehi. Arti
sengkala ini adalah ―sirna hilanglah kemakmuran bumi
(Majapahit)‖.

Berikut merupakan raja-raja yang pernah memimpin


Kerajaan Majapahit:

1) Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jayawardhana


(1294 – 1309);
2) Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara (1309 –
1328);
3) Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi
(1328 – 1350);
4) Hayam Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (1350 –
1389);
5) Wikramawardhana (1389 – 1429);
6) Suhita (1429 – 1447);
7) Kertawijaya, bergelar Brawijaya I (1447 – 1451);
8) Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II (1451 –
1453);
9) Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar
Brawijaya III (1456 – 1466);
10) Pandanalas, atau Suraprabhawa, bergelar
Brawijaya IV (1466 – 1968);
11) Kertabumi, bergelar Brawijaya V (1468 – 1478);
12) Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (1478 –
1498).

Agama dan kebudayaan Hindu-Buddha yang berasal dari


India menyebar ke Asia termasuk Indonesia. Di
Indonesia, pengaruh Hindu-Buddha sangat besar
sehingga muncul kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-
Buddha. Banyak kerajaan bercorak Hindu-Buddha di
Indonesia. Kerajaan-kerajaan tersebut ialah Kutai,
Tarumanegara, Holing, Sriwijaya, Mataram Kuno,
Kanjuruhan, Singosari, Kediri, Sunda, Bali, dan
Majapahit.

Beberapa di antaranya akan dijelaskan berikut ini.

a. Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai terletak di Kalimantan Timur,
daerah Muara Kaman di tepi Sungai Mahakam.
Berdasarkan informasi yang ditemukan pada tujuh
prasasti berupa yupa yang ditulis dengan huruf
Pallawa, dengan bahasa Sanskerta, diketahui
bahwa Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di
Indonesia. Kerajaan yang dikenal juga dengan
sebutan Negeri Tujuh Yupa diperkirakan berdiri
pada tahun 400 M. Dalam prasasti tersebut
terdapat informasi yang menyangkut kehidupan
politik, pemerintahan, sosial, budaya, dan ekonomi
Kerajaan Kutai
Raja pertama yang memerintah Kutai bernama
Kudungga. Raja Kudungga memiliki putra bernama
Aswawarman. Aswawarman memiliki putra
Mulawarman. Dilihat dari nama, Kudungga
bukanlah nama Hindu, tetapi nama Indonesia asli.
Nama Aswawarman dan Mulawarman adalah
nama-nama berbau Hindu. warman berarti pakaian
perang. Penambahan nama itu diberikan dalam
upacara penobatan raja secara agama Hindu.
Keluarga Kudungga pernah melakukan upacara
Vratyastoma, yaitu upacara Hindu untuk penyucian
diri sebagai syarat masuk pada kasta Ksatria.
Berdasarkan nama dan gelar yang disandangnya,
Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu berawal dari
pemerintahan Aswawarman. Setelah Raja
Aswawarman, Kutai diperintah oleh Mulawarman,
putranya pada abad ke-4. Raja Mulawarman
disebutkan sebagai seorang raja besar yang sangat
mulia dan baik budinya. Pada masa pemerintahan
Mulawarman, Kutai merupakan kerajaan yang kaya
dan makmur. Sang Raja memberikan 20.000 ekor
sapi kepada para Brahmana.
b. Kerajaan Tarumanegara
Pada pertengahan abad ke-5 M, di daerah lembah
Sungai Citarum, Jawa Barat terdapat kerajaan
bernama Tarumanegara (Kerajaan Taruma).
Tarumanegara merupakan kerajaan tertua di Jawa.
Jika berita tentang Kutai kita peroleh dari yupa,
berita tentang Tarumanegara kita peroleh dari
prasasti dan berita Cina. Ada tujuh prasasti yang
memuat tentang Kerajaan Tarumanegara.
Perhatikan tabel prasasti berikut ini.
Dari catatan seorang musafir Cina, Fa-Hien,
diperoleh keterangan bahwa pada tahun 414,
terdapat kerajaan bernama To-lo-mo. Fa-Hien
yang sedang melakukan perjalanan menuju India
dan singgah di Ye-po-ti (Jawa) di To-lo-mo banyak
terdapat orang Hindu, ada juga orang Buddha.
Dikatakan juga bahwa raja mempunyai kekuasaan
sangat besar karena raja dianggap sebagai
keturunan dewa.
c. Kerajaan Ho-ling
Keberadaan kerajaan ini diketahui dari kitab
sejarah Dinasti Tang (618-906). Diperkirakan
Kerajaan Ho-ling atau Kaling terletak di Jawa
Tengah. Nama ini diperkirakan berasal dari nama
sebuah kerajaan di India, Kalingga. Tidak
ditemukan peninggalan yang berupa prasasti dari
kerajaan ini. Menurut Berita Cina, kotanya
dikelilingi dengan pagar kayu, rajanya beristana di
rumah yang bertingkat, yang ditutup dengan atap;
tempat duduk sang raja ialah peterana gading.
Orang orangnya sudah pandai tulis menulis dan
mengenal ilmu perbintangan. Dalam Berita Cina
disebut adanya Ratu His-mo atau Sima, yang
memerintah pada tahun 674. Beliau terkenal
sebagai raja yang tegas, jujur, dan bijaksana.
Hukum dilaksanakan dengan tegas. Pada masa ini,
agama Buddha berkembang bersama agama
Hindu. Hal ini dapat terlihat dengan datangnya
pendeta Cina Hwi Ning di Kaling dan tinggal selama
tiga tahun. Dengan bantuan seorang pendeta
setempat yang bernama Jnanabhadra, Hwi Ning
menterjemahkan kitab Hinayana dari bahasa
Sanskerta ke bahasa Cina.
d. Kerajaan Sriwijaya
Kata sriwijaya berasal dari kata sri = mulia dan
kata wijaya = kemenangan. Kemenangan yang
dimaksud di sini ialah kemenangan Dapunta Hyang
dalam melakukan perjalanan suci (manalp
siddhayatra). Kerajaan ini berdiri pada abad ke-7
M. Pusat Kerajaan Sriwijaya berada di Palembang.
Seperti halnya Kutai dan Tarumanegara,
keberadaan Sriwijaya juga diketahui dari prasasti
dan Berita Cina. Dari tempat ditemukannya
prasasti yang menyebutkan tentang Sriwijaya,
dapat diketahui bahwa Sriwijaya merupakan
kerajaan besar. Ada sembilan prasasti yang
menceritakan tentang keberadaan Sriwijaya. Tiga
di antaranya ditemukan di luar negeri. Sriwijaya
mencapai kemajuan di segala aspek kehidupan
masyarakat ketika diperintah Raja Balaputradewa.
Balaputradewa bahkan sudah menjalin hubungan
dengan Kerajaan Benggala dan Kerajaan Chola di
India. Pada masa Balaputradewa, Kerajaan
Sriwijaya merupakan pusat perdagangan dunia di
Asia Tenggara dan menjadi pusat perkembangan
agama Buddha. Ia mendirikan Universitas Nalanda
untuk mendidik para biksu dan bikhuni dengan
murid berasal dari Jawa, Cina, Campa, Tanah
Genting Kra, bahkan India. Selain prasasti,
informasi tentang Sriwijaya banyak diperoleh dari
catatan Dinasti Tang di Cina dan dari catatan I
Tsing, seorang musafir Cina yang belajar
paramasastra Sanskerta di Sriwijaya. Dinasti Tang
mencatat bahwa utusan Sriwijaya pernah datang
ke Cina, yaitu tahun 971, 972, 975, 980, dan
tahun 983. Itulah sebabnya ditemukan catatan
tentang Sriwijaya dalam Prasasti Kanton.

Menurut catatan I Tsing, Sriwijaya berperan sebagai


pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan agama
Buddha di Asia Tenggara. I Tsing belajar tata bahasa
Sanskerta dan teologi Buddha di Sriwijaya. I Tsing
menerjemahkan kitab kitab suci agama Buddha ke dalam
bahasa Cina. Sriwijaya juga terkenal sebagai kerajaan
maritim dan memiliki armada laut. Perhatikanlah Peta
Kerajaan Sriwijaya. Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya
merupakan pusat perdagangan di Asia Tenggara karena
menguasai dua selat besar yang penting dalam
perdagangan, Selat Malaka dan Selat Sunda. Sriwijaya
mulai mengalami kemunduran setelah mendapat
serangan dari Dharmawangsa (992), Rajendra Coladewa
dari Kerajaan Colamandala (1023, 1030, dan tahun
1060), Kertanegara (1275), dan Gajah Mada (1377).
Sriwijaya akhirnya hancur ketika Majapahit mulai
berkembang di Jawa.

d. Kerajaan Mataram Kuno


Seperti keberadaan kerajaan-kerajaan
sebelumnya, keberadaan Kerajaan Mataram Kuno
ini pun kita ketahui dari prasasti-prasasti yang
ditemukan. Cukup banyak prasasti yang berisi
informasi tentang Mataram.
Di samping prasasti, informasi tentang Mataram
juga dapat diperoleh dari candi-candi, kitab cerita
Parahyangan (Sejarah Pasundan), dan Berita Cina.
Kerajaan yang diperkirakan berdiri pada abad ke-7
ini terletak di daerah pedalaman Jawa Tengah,
kemungkinan besar di daerah Kedu sampai sekitar
Prambanan (berdasarkan letak prasasti yang
ditemukan). Kerajaan yang terletak di antara
pegunungan dan sungai-sungai besar seperti
Bengawan Solo ini mula-mula diperintah oleh Raja
Sanna.
Raja Sanna kemudian digantikan oleh Raja
Sanjaya. Sanjaya adalah seorang raja yang
bijaksana. Pada masa pemerintahannya, rakyatnya
hidup makmur. Pada masa pemerintahan Sanjaya,
ada dinasti lain yang lebih besar, yaitu Dinasti
Syailendra. Keluarga Sanjaya beragama Hindu dan
keluarga Syailendra beragama Buddha. Setelah
Sanjaya, Mataram kemudian diperintah oleh
Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai
Panangkaran. Dari namanya, raja ini berasal dari
kedua keluarga tersebut. Setelah Panangkaran,
Mataram terpecah menjadi Mataram Hindu dan
Mataram Buddha.

Namun, pada tahun 850, Mataram kembali bersatu


dengan menikahnya Rakai Pikatan dan Pramodharwani,
putri keluarga Syailendra. Setelah Pikatan, Mataram
diperintah oleh Balitung (898—910) yang bergelar Sri
Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung. Balitung adalah
raja terbesar Mataram. Wilayah kekuasaannya meliputi
Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada masanyalah dibuat
prasasti yang berisi nama-nama raja sebelumnya sampai
dirinya. Setelah Balitung, berturut-turut memerintah
Daksa ( 910—919), Tulodong (919 —924), dan Wawa
(824 —929). Mataram kemudian diperintah oleh Sindhok
(929 — 949) keponakan Wawa dari keluarga Ishana
karena Wawa tidak mempunyai anak. Dengan demikian,
berakhirlah kekuasaan Dinasti Sanjaya. Sindhok
kemudian memindahkan ibu kota kerajaan ke Jawa
Timur karena (1) sering meletusnya Gunung Merapi, dan
(2) Mataram sering diserang oleh Sriwijaya. Kerajaan
Mataram di Jawa Timur ini sering disebut Kerajaan
Medang. Mpu Sindhok merupakan penguasa baru di Jawa
Timur dan mendirikan wangsa Icyana. Keturunan Mpu
Sindok sampai Airlangga tertulis di Prasasti Calcuta
(1042) yang dikeluarkan oleh Airlangga. Setelah
Sindhok, Raja Dharmawangsa (991—1016) bermaksud
menyerang Sriwijaya, tapi belum berhasil.
Pemerintahannya diakhiri dengan peristiwa pralaya, yaitu
penyerangan raja Wora Wari.

Pengganti Dharmawangsa adalah Airlangga,


menantunya, yang berhasil lolos dari peristiwa pralaya.
Airlangga berhasil membangun kembali kerajaan Medang
di Jawa Timur. Airlangga terkenal sebagai raja yang
bijaksana, digambarkan sebagai Dewa Wisnu. Pada akhir
pemerintahannya Airlangga membagi kerajaannya
menjadi Jenggala (Singosari) dan Panjalu (Kediri).
Namun, kerajaan yang bertahan adalah kerajaan Kediri.
Airlangga wafat pada tahun 1049. Dengan demikian,
berakhirlah Kerajaan Mataram Kuno.

f. Kerajaan Kediri dan Singosari

Setelah Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua,


sejarah selanjutnya dari kerajaan-kerajaan ditandai oleh
perebutan kekuasaan. Pada waktu terjadi pembagian
kerajaan Airlangga, Samarawijaya sebagai raja Panjalu
dengan ibu kota Daha dan Panji Garasakan sebagai raja
Jenggala dengan ibu kota Kahuripan. Terjadi perang
saudara di antara keduanya (1044-1052). Kemenangan
Kediri atas Jenggala membuat Kediri menjadi satu-
satunya kerajaan di Jawa Timur dengan kekuasaan
meliputi hampir seluruh Indonesia timur. Semua itu
terjadi pada masa pemerintahan Raja Jayeswara.

Raja Kediri yang terkenal ialah Jayabaya (1130-1160)


yang terkenal dengan Ramalan Jayabaya. Raja terakhir
Kediri ialah Kertajaya. Pada masa pemerintahannya,
Kertajaya ingin dihormati dan disembah seperti dewa.
Hal ini membuat para Brahmana tidak senang dan
mereka minta perlindungan kepada Ken Angrok (sering
disebut Arok) dari Tumapel. Ken Arok akhirnya dapat
mengalahkan Kertajaya pada tahun 1222. Dengan
demikian, berakhirlah Kerajaan Kediri. Ken Arok
kemudian mendirikan Kerajaan Singosari. Perebutan
kekuasaan menjadi ciri khas kerajaan yang didirikan oleh
Ken Arok (1222-1227). Keberadaan Kerajaan Singosari
diketahui dari kitab Pararaton dan kitab
Negarakertagama yang ditulis oleh Prapanca. Sejarah
Singosari dimulai dengan tindakan Ken Arok membunuh
Tunggul Ametung, akuwu di Tumapel. Ken Arok yang
beristrikan Ken Umang kemudian menikahi istri Tunggul
Ametung, Ken Dedes. Ken Dedes diramalkan akan
menurunkan raja-raja besar. Ken Arok kemudian
dibunuh oleh Anusapati (anak tirinya). Anusapati
memerintah selama 21 tahun, 1227-1248. Kemudian,
Tohjaya, anak Ken Arok dan Ken Umang, membunuh
Anusapati pada tahun 1248. Wisnuwardhana, anak dari
Anusapati, membunuh Tohjaya dan memerintah sampai
tahun 1268. Wisnuwardhana kemudian digantikan oleh
Kertanegara.
Kertanegara adalah raja Singosari yang sangat terkenal.
Dia memerintah sampai tahun 1292. Kertanegara
bercita-cita menyatukan Nusantara di bawah Singosari.
Pada masa Kertanegara, datang seorang utusan dari
negeri Cina, yaitu Kubilai Khan. Raja Kertanegara juga
mengadakan ekspedisi Pamalayu tahun 1275, menguasai
Kerajaan Melayu dengan tujuan menghadang serangan
tentara Cina agar peperangan tidak terjadi di wilayah
Kerajaan Singasari. Dia banyak mengirimkan armadanya
ke luar Singosari. Namun, hal itulah yang kemudian
menyebabkan kejatuhannya. Ketika sebagian besar
armadanya keluar Singosari, dia diserang oleh
Jayakatwang dari Kediri. Kertanegara tewas, tetapi
menantunya, Raden Wijaya lolos karena sedang tidak
berada di istana. Raden Wijaya kemudian mendirikan
Kerajaan Majapahit. Dari catatan saudagar Cina, Kho Ku
Fei pada tahun 1200, diketahui bahwa pada masa
pemerintahan Jayabaya, Kediri telah memiliki mata uang
emas dan aturan pajak yang teratur. Pada masa
Jayabaya pula dihasilkan cerita Gatutkacasraya dan
Hariwangsa yang ditulis oleh Mpu Panuluh dan kitab
Baratayudha yang ditulis oleh Mpu Sedah. Ku Fei juga
mencatat bahwa pada masa ini telah dihasilkan sejumlah
candi, antara lain Candi Panataran dan Candi Tuban.
Pada masa Singosari, Ken Arok telah mengembangkan
perekonomian rakyatnya. Kehidupan masyarakatnya
aman dan sejahtera. Ken Arok membuat patung Ken
Dedes dan beberapa candi.

g. Kerajaan Majapahit

Tidak seperti kerajaan-kerajaan sebelumnya, sumber-


sumber tentang keberadaan Majapahit banyak
ditemukan, antara lain melalui prasasti, kitab-kitab, dan
beritaberita Cina. Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya,
menantu Raja Kertanegara dari Singosari. Raden Wijaya
dinobatkan menjadi raja pada tahun 1293. Raden Wijaya
bergelar Kertarajasa Jaya Wardana (1293 1309 M).
Beliau menikah dengan keempat puteri Kertanegara,
yaitu: Dyah Dewi Tribuwaneswari (permaisuri), Dyah
Dewi Narendraduhita, Dyah Dewi Prajnaparamita, Dyah
Dewi Gayatri. Langkah Raden Wijaya mengawini putri
Kertanegara diduga berlatar belakang politik, agar tidak
terjadi perebutan kekuasaan dan seluruh warisan jatuh
ke tangannya.

Raden Wijaya adalah raja yang bijaksana. Semua


pengikut Raden Wijaya diberi jabatan sesuai jasanya.
Nambi diangkat menjadi patih. Ronggolawe diangkat
menjadi Bupati Tuban. Sora diangkat sebagai
Tumenggung. Kepala desa Kudadu diberi Cima di
Kudadu. Raden Wijaya kemudian digantikan oleh
Jayanegara atau Kala Gemet pada tahun 1309, beliau
merupakan raja yang lemah. Pada masa pemerintahan
Jayanegara, terjadi serangkaian pemberontakan:
Ranggalawe (1231), Lembu Sora (1311), Jurudemung
(1313), Nambi (1316), dan Kuti (1319). Pemberontakan-
pemberontakan tersebut dapat dipadamkan karena jasa
Gajah Mada. Jayanegara akhirnya dibunuh oleh Tanca,
tabib istananya, pada tahun 1328. Gajah Mada kemudian
membunuh Tanca. Seharusnya Gayatri, putri bungsu
Raden Wijaya, berhak menjadi raja. Tetapi karena
Gayatri memilih bertapa,

Tribuwanatunggadewi, putrinya diangkat menjadi raja


ketiga bergelar Tribuwanatunggadewi Jayawisnuwardani.
Pada masa ini, terjadi pemberontakan Sadeng dan Kesa,
tapi semuanya dapat diatasi oleh Gajah Mada. Pada
tahun 1350, Gayatri wafat. Tribuwanatunggadewi segera
turun tahta dan digantikan oleh putranya, yaitu Hayam
Wuruk (artinya ayam jantan muda) yang masih berusia
16 tahun. Hayam Wuruk merupakan raja yang membawa
Majapahit mencapai puncak kejayaan. Dengan
didampingi Mahapatih Gajah Mada, Hayam Wuruk
menjadikan Majapahit sebagai kerajaan yang sangat
besar. Wilayah kekuasaannya meliputi Jawa, Nusa
Tenggara, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Maluku,
Malaka, dan Tumasik (Singapura) serta Papua Barat.

C. TERBENTUKNYA JARINGAN NUSANTARA


MELALUI PERDAGANGAN

Pada abad 1 Masehi, jalur perdagangan tidak lagi


melewati jalur darat (jalur sutera) tetapi
beralih kejalur laut, sehingga secara tidak langsung
perdagangan antara Cina dan India
melewati selat Malaka. Untuk itu Indonesia ikut berperan
aktif dalam perdagangan tersebut.
Akibat hubungan dagang tersebut, maka terjadilah
kontak/hubungan antara Indonesia dengan
India, dan Indonesia dengan Cina. Hal inilah yang
menjadi salah satu penyebab masuknya
budaya India ataupun budaya Cina ke Indonesia.
Mengenai siapa yang membawa atau menyebarkan
agama Hindu – Budha ke Indonesia,
tidak dapat diketahui secara pasti, walaupun demikian
para ahli memberikan pendapat tentang
proses masuknya agama Hindu – Budha atau
kebudayaan India ke Indonesia.
Untuk agama Budha diduga adanya misi penyiar agama
Budha yang disebut dengan
Dharmaduta, dan diperkirakan abad 2 Masehi agama
Budha masuk ke Indonesia. Hal ini
dibuktikan dengan adanya penemuan arca Budha yang
terbuat dari perunggu diberbagai
daerah di Indonesia antara lain Sempaga (Sulsel),
Jember (Jatim), Bukit Siguntang
(Sumsel).
Dilihat ciri-cirinya, arca tersebut berasal dari langgam
Amarawati (India Selatan) dari abad
2 – 5 Masehi. Dan di samping itu juga ditemukan arca
perunggu berlanggam Gandhara
(India Utara) di Kota Bangun, Kutai (Kaltim).
D. ALKULTURASI KEBUDAYAAN NUSANTARA DAN
HINDU-BUDDHA

1. Seni Bangunan

Seni bangunan yang menjadi bukti berkembangnya


pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia pada bangunan
Candi. Candi Hindu maupun Candi Buddha yang
ditemukan di Sumatera, Jawa dan Bali pada dasarnya
merupakan perwujudan akulturasi budaya lokal dengan
bangsa India. Pola dasar candi merupakan
perkembangan dari zaman prasejarah tradisi
megalitikum, yaitu bangunan punden berundak yang
mendapat pengaruh Hindu-Buddha, sehingga menjadi
wujud candi, seperti Candi Borobudur.

2. Seni Rupa/Seni Lukis

Unsur seni rupa atau seni lukis India telah masuk ke


Indonesia. Hal ini terbukti dengan telah ditemukannya
area Buddha berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai.
Juga patung Buddha berlanggam Amarawati ditemu-kan
di Sikendeng (Sulawesi Selatan). Seni rupa India pada
Candi Borobudur ada pada relief-relief ceritera Sang
Buddha Gautama. Relief pada Candi Borobudur pada
umumnya lebih menunjukkan suasana alam Indonesia,
terlihat dengan adanya lukisan rumah panggung dan
hiasan burung merpati. Di samping itu, juga terdapat
hiasan perahu bercadik. Lukisan-lukisan tersebut
merupakan lukisan asli Indonesia, karena lukisan seperti
itu tidak pernah ditemukan pada candi-candi yang ada di
India. Juga relief Candi Prambanan yang memuat
ceritera Ramayana.

3. Seni Sastra

Seni sastra India turut memberi corak dalam seni sastra


Indonesia. Bahasa Sanskerta sangat besar pengaruhnya
terhadap perkembangan sastra Indonesia. Prasasti-
prasasti awal menunjukkan pengaruh Hindu-Buddha di
Indonesia, seperti yang ditemukan di Kalimantan Timur,
Sriwijaya, Jawa Barat, Jawa Tengah. Prasasti itu ditulis
dalam bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa

4. Kalender

Diadopsinya sistem kalender atau penanggalan India di


Indonesia merupakan wujud dari akulturasi, yaitu
dengan penggunaan tahun Saka. Di samping itu, juga
ditemukan Candra Sangkala atau kronogram dalam
usaha memperingati peristiwa dengan tahun atau
kalender Saka. Candra Sangkala adalah angka huruf
berupa susunan kalimat atau gambaran kata. Bila berupa
gambar harus dapat diartikan ke dalam bentuk kalimat.

5. Kepercayaan dan Filsafat

Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha ke


Indonesia, bangsa Indonesia telah mengenal dan
memiliki kepercayaan, yaitu pemujaan terhadap roh
nenek moyang. Kepercayaannya itu bersifat animisme
dan dinamisme. Kemudian, masuknya pengaruh Hindu-
Buddha, ke Indonesia mengakibatkan terjadinya
akulturasi. Masuk dan berkembangnya pengaruh
terutama terlihat dari segi pemujaan terhadap roh nenek
moyang dan pemujaan dewa-dewa alam.

6. Pemerintahan

Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha, bangsa


Indonesia telah mengenal sistem pemerintahan. Sistem
pemerintahan kepala suku berlangsung secara
demokratis, yaitu salah seorang kepala suku merupakan
pemimpin yang dipilih dari kelompok sukunya, karena
memiliki kelebihan dari anggota kelornpok suku lainnya.
Akan tetapi, setelah masuknya pengaruh Hindu-Buddha,
tata pemerintahan disesuaikan dengan sistem kepala
pemerintahan yang berkembang di India. Seorang
kepala pemerintahaii bukan lagi seorang kepala suku,
melainkan seorang raja, yang memerintah wilayah
kerajaannya secara turun-temurun (Bukan lagi
ditentukan oleh kemampuan, melainkan oleh keturunan).