Anda di halaman 1dari 10

APLIKASI BIOTEKNOLOGI DALAM BIDANG KESEHATAN DAN

PERTANIAN

Mega Utami1, Hanifah2


Email: megayoutami43@gmail.com
Program Studi Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang

ABSTRAK
Rekayasa genetika (bioteknologi) merupakan suatu teknologi baru yang berperan
dalam pengubahan sifat-sifat genetik suatu jasad dengan cara menggabungkan molekul-
molekul DNA secara in vitro sehingga diperoleh molekul DNA rekombinan sesuai
dengan yang diharapkan. Molekul-molekul yang berasal dari jasad yang hubungan
kekerabatannya sangat jauh dapat digabungkan menjadi suatu molekul DNA rekombinan.
Proses rekombinasi DNA secara in vitro dilakukan dengan melalui beberapa tahapan,
yaitu isolasi DNA, pemotongan DNA, penyambungan molekul DNA, transformasi sel
inang dengan DNA rekombinan hasil ligasi, analisis dan konfirmasi keberadaan DNA
rekombinan dalam sel inang dan karakterisasi fungsional gen yang diklon. Rekayasa
genetika dapat diterapkan dalam berbagai bidang yang dapat memberikan manfaat yang
besar bagi manusia, diantaranya dalam bidang kesehatan dan pertanian. Dengan adanya
rekayasa genetika,permasalahan manusia yang cukup pelik berkaitan dengan kesehatan
dan pertanian sedikit banyak telah ditemukan solusinya. Penelitian ini bertujan untuk
mengetahui aplikasi bioteknologi dalam bidang kesehatan dan pertanian.

Kata kunci: rekayasa genetika, DNA rekombinan, kesehatan, in vitro.


Pendahuluan ilmuwan di bidang biologi molekuler
Perkembangan ilmu dapat melakukan serangkaian
pengetahuan dalam bidang biologi eksperimen terkait struktur unik
molekuler dan bioteknologi tersebut.
membawa pengaruh besar dalam Bioteknologi merupakan
penyelesaian masalah-masalah yang teknologi yang dikembangkan
dihadapi manusia dalam berbagai dengan memanfaatkan organisme,
bidang. Bidang kajian biologi baik secara utuh maupun bagian-
molekuler mulai berkembang setelah bagiannya saja untuk menghasilkan
Watson dan Crick pada tahun 1953 produk yang bermanfaat bagi
berhasil menemukan struktur untai manusia. Perkembangan
ganda (double helix) DNA yang bioteknologi modern telah sampai
menjadi dasar perkembangan cabang pada pemanfaatan organisme pada
ilmu bioteknologi. Berdasarkan level molekulernya dan terkait
struktur untai ganda DNA, ilmuwan- dengan rekayasa genetika. Rekayasa
genetika melibatkan manipulasi- penggandaan. Secara rinci Walker
manipulasi gen pada organisme (2013) menjelaskan bahwa ketika sel

sehingga dapat dimanfaatkan oleh inang mengganda, maka sel target yang
ditransformasikan juga ikut membelah
manusia, diantaranyadalam bidang
sehingga jumlah bertambah banyak.
kesehatan dan pertanian (Smith,
Demikian juga dengan jumlah produk
2009 dalam Widyastuti, 2017).
rekombinan yang bertambah banyak.
Secara garis besar
Cell Surface Display
pemanfaatan bioteknologi dalam Cell Surface Display adalah
bidang kesehatan selalu melibatkan salah satu rekayasa genetika yang
beberapa tahapan dasar, diantaranya memanfaatkan jasa yeast atau
isolasi DNA, pemotongan DNA, bacteriophage yang pada permukaan
penyambungan molekul DNA, selnya mampu mengekspresikan gen
transformasi sel inang dengan DNA tertentu, untuk menghasilkan protein,
rekombinan hasil ligasi, analisis dan peptida dan bio-molekul untuk diekspos
konfirmasi keberadaan DNA di permukaan sel dengan cara membuat
rekombinan dalam sel inang dan fusi dengan pembawa protein
karakterisasi fungsional gen yang diklon (anchoring motifs). protein yang akan
(Yuwono, 2008).Gen target yang diekspos (passenger protein) di
mengkode sifat yang diinginkan permukaan sel mikroba difusikan
diisolasi terlebih dahulu agar terpisah dengan pembawa protein (anchoring
dari gen yang mengkode sifat lain, motif) melalui ujung N (N-terminal
kemudian di ligasi dengan suatu vektor fusion), ujung C (C-terminal fusion)
(misal plasmid bakteri) untuk atau gabungan keduanya. Aplikasi Cell
selanjutnya ditransformasikan atau Surface Display antara lain untuk
ditanam dalam sel inang (biasanya pembuatan vaksin, skrining peptida, bio-
berupa mikroorganisme seperti bakteri), konversi dan bio-adsorpsi (Wardani,
kemudian sel inang mengalami dkk. 2017).
Gambar 1. Cell Surface Display (Wardani, dkk. 2017).
Terapi Gen
Terapi gen berfungsi untuk RNA rekombinan dengan bentuk gen
memperbaiki fungsi genom yang rusak normal, (5) produksi rDNA dari RNA
dengan cara menambahkan gen yang rekombinan virus dengan bantuan enzim
normal ke bagian genom yang transkriptase balik, (6) translasi di
mengalami mutasi atau pun kerusakan. sitoplasma menghasilkan protein
Proses rekayasa genetik yang diterapkan normal, (7) menghasilkan sel yang telah
meliputi (1) isolasi sel dari pasien tertransfeksi/diperbaiki, (8) seleksi dan
dengan kerusakan gen, (2) uji sel yang telah diperbaiki,
menumbuhkan sel hasil isolasi pada ditumbuhkan hingga 100 milyar sel dan
media tertentu, (3) sel target diinfeksi (10) infusi sel rekombinan ke tubuh
dengan retrovirus, (4) pembentukan pasien (Widyastuti, 2017).
Gambar 2. Terapi gen (Widyastuti, 2017)
Pichia pastoris :Yeast hidrogen peroksida (H2O2).
PenghasilProteinTerapeutik dan Metabolisme metanol ini dilakukan
Vaksin Manusia disebuah organel sel khusus yang
Yeast spesies Pichia disebut dengan peroksisom, yaitu
pastorismampu memetabolisme suatu organel yang mampu
sumber-sumber karbon sederhana mencegah sifat racun dari H2O2.
seperti glukosa, gliserol, galaktosa, Alkohol oksidase memiliki afinitas
fruktosa, etanol, methanol dan tidak yang sangat rendah terhadap oksigen,
dapat tumbuh pada media yang maka kompensasi P.pastoris adalah
mengandung karbon dua hingga dengan cara mensekresi protein
karbon yang komplekskarena tidak dengan jumlah sangat banyak
memiliki cukup enzim untuk (Invitrogen, 2001 dalam Herawati,
menghidrolisis senyawa-senyawa 2015). Kondisi inilah yang sangat
tersebut.Metabolisme yang dimaksud menarik untuk menjadikan yeast
adalah oksidasi metanol menjadi metilotropik sebagai inangdalam
formaldehid dengan menggunakan memproduksiprotein heterologous
molekul oksigen oleh alkohol (Yurimoto dkk, 2011, dalam
oksidase (AOX). Herawati, 2015).
Salah satu produk samping
dari oksidasi metanol adalah
Gambar 3. (Yurimoto dkk, 2011, dalam Herawati, 2015).
Pichia pastoris juga glikoprotein pada manusia.Hasil ini
melakukan modifikasi pasca-translasi diharapkan akan dapat diproduksi
seperti organisme eukariot tingkat rekombinan protein yang sudah
tinggi. Protein terapeutik yang dihumanisasi sehingga tipe
dihasilkan Pichia pastoris memiliki glikosilasinya sama dengan yang
pola mannose identik dengan terjadi pada manusia sehingga
menjadi produk protein terapeutik fitohormon sejenis auksin/giberelin
dan vaksin yang dapat dapat menggantikan peran biji dalam
dikomersialkan. merangsang pembentukan dan
perkembangan buah. IAA dapat
Pembentukan Buah Partenokarpi diaktifkan menggunakan promoter
Partenokarpi merupakan buah bagian regulator defh9 (deficiens
tanpa biji, yang mana ini dapat homologue 9) dari Antirrhinum
terjadi karena adanya proses majus untuk mengekspresikan gen
pengekspresian senyawa fitohormon iaaM (pengkode IAA) dari
IAA (auksin) atau analognya pada Pseudomonas syringae pv
bagian bakal buah (ovary) terlihat savastanoi.
lebih efektif. Pengekspresian

Gambar 4. Kimerik Gen defh9-iaaM


Konstruksi gen partenokarpi etal., 1996; 1997; Ficcadenti et al.,
defh9-iaaM. Promoter defh9 untuk 1999 dalam Pardal, 2001).
ekspresi spesifik pada bagian Toksisitas Isolat Bacillus
plasenta dan ovule (diambil dari thuringiensis yang Mengandung
Antirrhinum majus) dan gen Gen cry 1A
iaaMpengkode indoleacetamide terhadap Hama Penggerek Batang
(IAA) diambil dari Pseudomonas Bacillus
syringae pv savastanoi. Gen kimerik thuringiensismerupakan bakteri yang
defh9-iaaM (Gambar 4) ini telah menghasilkan protein kristal (cry)
berhasil menginduksi buah berupa cry 1Ayang mengode protein
partenokarpi pa-da beberapa tanaman yang bersifat insektisida terhadap
dari famili Solanaceae seperti serangga hama Lepidoptera. Jika
terung,tembakau, dan tomat (Rotino suatu tanaman dikotil terinfeksi oleh
bakteri ini maka akan terbentuk Perakitan Tanaman Tomat Kaya
tumor, oleh karena itu bakteri ini Provitamin A
digunakan untuk menciptakan Mengekspresikan transgen di
tumbuhan yang tahan terhadap hama. organ yang dapat dimakan seperti
Tahap-tahap perakitan umbi-umbian dan buah-buahan
tanaman tahan hama diantaranya jarang dilakukan oleh para peneliti.
meliputi tahap isolasi DNA asing Gen lycopene β-cyclase dari bakteri
yang akan disisipkan, kemudian Eubacterium erwinia mampu
DNA tersebut diklon ke suatu vektor menghasilkan resisten herbisida dan
ulang-alik khusus yang mengandung memicu konversi likopen, konversi
subfragmen T-DNA. Hasil karotenoid menjadi β-karoten,
rekombinan tersebut selanjutnya meningkatkan kandungan provitamin
dipindahkan ke dalam sel A. A hingga empat kali lipat dari buah-
tumefaciens yang membawa plasmid buahan yang telah dinyatakan layak
Ti alami yang mengandung T-DNA secara jalur biokimia.
alami. Di dalam sel A. Tahap perakitan tanaman
tumefacienstersebut akan terjadi tomat kaya provitamin A diawali
rekombinan antara fragmen T-DNA dengan tahap isolasi gen lycopene β-
yang sudah disisipi oleh DNA asing cyclase diisolasi dari bakteri
dengan T-DNA yang ada pada Eubacterium erwinia, kemudian
plasmid Ti alami. Dengan demikian disisipkan ke vektor untuk
maka DNA asing tersebut dapat selanjutkan ditransformasikan ke sel
disisipkan ke dalam plasmid bagian inang guna perbanyakan jumlah gen.
T-DNA yang ada pada Ti alami. Hasil rekombinan tersebut
Hasil rekombinan tersebut selanjutkan disisipkan inti sel
selanjutnya disisipkan ke dalam inti tanaman tomat. Bagian sel yang
sel tanaman untuk membentuk terinduksi ialah sel yang mengatur
tanaman tahan hama (Bahagiawati, akumulasi karotenoid (kromoplas),
2009) bukan kloroplas aktif fotosintesis
(Wurbs, et al., 2007)
Seleksi In Vitro untuk Toleransi tumbuh 2,4-D konsentrasi tinggi
terhadap Faktor Abiotik pada serta dikombinasi dengan beberapa
Tanaman Padi dan Kedelai asam amino, sukrosa, dangel rite
Seleksi in vitro merupakan sebagai pemadat. Benih somatik
salah satu metode keragaman yang berhasil diregenerasikan dari
somaklonal yang telah banyak sel yang toleran Al dan pH rendah
dimanfaatkan untuk meningkatkan kemudian diaklimatisasi atau
keragaman genetik. Metode diperbanyak terlebih dahulu secara
keragaman somaklonal pertama kali in vitro untuk kegiatan selanjutnya.
dikemukakan oleh Larkin dan (Mariska&Lestari, 2006)
Scowcraft (1981), yaitu keragaman Transformasi Padi Japonica (T-
genetik yang ditimbulkan dari sel 309) dan Indica dengan Gen
somatik dan potensial digunakan CryIA(b)
dalam pemuliaan untuk merakit Gen target digunakan gen
varietas baru. Perbaikan tanaman cryIA(b) dalam plasmid pUBB.
melalui kultur in vitro saling Sebagai gen pelapor digunakan gen
melengkapi dengan pemuliaan secara gus, sedangkan untuk seleksi
in vitro. Keragaman somaklonal digunakan gen hpt yang merupakan
dapat dicapai melalui kultur gen resisten terhadap antibiotik
protoplas, kultur sel, regenerasi higromisin. Kedua gen ini
langsung, dan seleksi in vitro. diinsersikan ke dalam plasmid pRQ6.
Embrio zigotik muda diisolasi dari Kalus embriogenik yang berasal dari
polong muda umur 12-20 hari setelah hasil subkultur, diletakkan pada
penyerbukan. Sebelum ditanam media osmotikumsebelum dilakukan
embrio zigotik terlebih dahulu penembakan plasmid.
diradiasi dengan sinar gamma dosis 0 Penembakan plasmid
dan 400 rad untuk meningkatkan menggunakan metode ILTAB
keragaman. Setelah diradiasi, embrio (Fauquet et al., 1996) yang telah
zigotik muda dikulturkan pada media dimodifikasi oleh Sawant (Sawant et
semi solid MS (Murashige dan al., 2000). Cara ini telah diuji pada
Skoog 1962) dengan vitamin B5, dan tahun sebelumnya. Perlakuan dengan
diperkaya dengan zat pengatur metode Sawant tersebut dapat
menaikkan efisiensi transformasi, hama penggerek batang, seleksi In
yang ditunjukkan dengan Vitro untuk toleransi terhadap faktor
meningkatnya blue spot 7 kali lebih abiotik pada tanaman padi dan
banyak pada kalus-kalus yang kedelai, transformasi padi japonica
ditembak dengan prosedur tersebut (t-309) dan indica dengan gen cry
(Hanarida et al., 2001). Sistem IA(b)
penembakan plasmid menggunakan Daftar Pustaka
kotransformasi antara plasmid yang Bahagiawati, dkk. 2009. Toksisitas
mengandung gen cryIA(b) (gen Isolat Bacillus thuringiensis
target) dengan plasmid yang berisi yang Mengandung Gen cry
gen penanda (gen marker) dengan 1Aterhadap Hama Penggerek
perbandingan 4 : 1 untuk gen target. Batang Jagung, Ostrinia
Kalus yang telah ditembak dengan furnacalis Guenee. Jurnal
DNA plasmid kemudian dipindahkan Biologi Indonesia. 6 (1): 97-
ke media seleksi (Soemantri, dkk, 105.
2003). Hanarida, I., A.D. Ambarwati, I.S.
Kesimpulan Dewi, A. Apriana, dan T.J.
Perkembangan ilmu Santoso. 2001. Transformasi
pengetahuan dalam bidang biologi padi dengan bombardmen
molekuler dan bioteknologi mikroprojektil. Laporan Hasil
membawa pengaruh besar dalam Penelitian. Balitbio, Bogor.
penyelesaian masalah-masalah yang 14 hlm
dihadapi manusia dalam berbagai Herawati. 2015. Pichia
bidang contohnya pada bidang pastoris:Yeast Penghasil
kesehatan dan pertanian seperti : Cell ProteinTerapeutik dan Vaksin
Surface Display, terapi gen, Pichia Manusia. Biotrends. 1(1): 14-
pastoris : Yeast 17.
penghasilproteinterapeutik dan Mariska, Ika. Lestari, E,G. 2006.
vaksin manusia, pembentukan buah Seleksi In Vitro untuk
partenokarpi, toksisitas isolat Toleransi terhadap Faktor
Bacillus thuringiensis yang Abiotik pada Tanaman Padi
mengandung gen cry1Aterhadap dan Kedelai. Seminar
Nasional Pemanfaatan Wurbs, et al. 2007. Contained
Bioteknologi untuk Metabolic Engineering in
Mengatasi Cekaman Abiotik Tomatoes by Expression of
pada Tanaman. BB-Biogen Carotenoid Biosynthesis
Kementrian Pertanian. Genes from The Plastid
Pardal, S. J. 2001. Pembentukan Genome. The Plant Journal.
Buah Partenokarpimelalui 49: 276–288.
Rekayasa Genetika. Buletin Yuwono, T. 2008. Bioteknologi
AgroBio. 4(2):45-49. Pertanian. Yogyakarta: UGM
Somantri,I, A. A. Dinar Ambarwati, Press.
Iswari S. Dewi, Aniversari
Apriana, dan Tri J. Santoso.
2003. Transformasi Padi
Japonica (T-309) dan Indica
dengan Gen CryIA(b).
Seminar Nasional
Pemanfaatan Bioteknologi
untuk Mengatasi Cekaman
Abiotik pada Tanaman. BB-
Biogen Kementrian
Pertanian.
Walker, Sharon. 2013. Menyingkap
Tabir Bioteknologi Panduan
Belajar Mandiri.
Wardani, dkk 2017. Pengantar
Bioteknologi. Malang: UB
Press.
Widyastuti, D. A. 2017. Terapi Gen:
Dari Bioteknologi untuk
Kesehatan. Al-Kauniyah:
Journal of Biology. 10(1): 49-
62.