Anda di halaman 1dari 26

TUGAS MAKALAH

BAHAN BAKAR
Mata Kuliah : MOTOR BAKAR TORAK
Dosen : MATSUANI S.PD, M.PD

DISUSUN OLEH :

NAMA : RISKI DARMAWAN

NRP : 112 162 0011

PRODI : TEKNIK MESIN

DOSEN : MATSUANI S.PD, M.PD

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN

INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

TANGERANG SELATAN

2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam yang atas berkat
limpahan rahmat serta karuniaNya penyusunan Makalah Bahan Bakar dapat
selesaikan dengan baik , guna memenuhi tugas mata kuliah MOTOR BAKAR
TORAK.

Makalah ini disusun berdasarkan berbagai refrensi guna membahas secara


dalam bagaimana sebenarnnya motor bakar torak.

Bersamaan dengan selesainya penyusunan makalah ini kami juga ingin


mengucapakan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Matsuani
S.PD,M.PD yang dengan sangat sabar telah membimbing kami sepenuhnya dalam
penyusunan makalah dari awal pengumpulan refrensi hingga penyusunan dan
penyajian makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Dan akhirnya kami penyusun sangat menyadari bahwa dalam penyusunan


makalah ini masih banyak sekali kekurangan baik itu dari segi penulisan ,
penyusunan , maupun penyajian ,untuk itu dengan segala kerendahan hati kami
memohon kepada pembaca semuanya agar kiranya berkenan menyampaikan
saran,kritikan , maupun masukanlainnya yang tentunya akan sangat berharga bagi
kami dalam penyusunan makalah-makalah lain setelah ini.

Besar harapan kami agar kelak makalah ini dapat bermanfaat lebih
,khususnya bagi penyusun dan bagi semua pembaca pada umumnya.

Tangerang, 19 November 2018

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i

DAFTAR ISI......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................. 1

1.2 TUJUAN ....................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN BAHAN BAKAR ............................................................... 2

2.2 MACAM-MACAM DAN SISTEM BAHAN BAKAR .............................. 4

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN ........................................................................................... 21

3.2 PENUTUP................................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Sistem bahan bakar dalam suatu mesin merupakan suatu sistem yang sangat
dominan dalam menentukan unjuk kerja mesin .Suatu rangkaian mesin motor,
akan memberikan daya yang optimal bila seluruh sistem yang bekerja pada motor
tersebut berfungsi dengan baik begitu pula kerja pada system bahan bakar,
kelancaran kerja pada sistem ini akan berpengaruh besar pada efisiensi dan daya
kerja motor. Salah satu cara agar sistem bahan bakar bekerja dengan optimal yaitu
dengan perawatan dan perbaikan sistem bahan bakar.
Kerja sama dari seluruh sistem ini akan membuat mesin bekerja sesuai
dengan yang dikehendaki, bahkan beberapa modifikasi yang dilakukan pada
salah satu sistem saja dapat merubah kinerja suatu mesin, entah itu meningkat
atau menurun.

Bahan bakar berkualitas yaitu satu materi apa pun yang dapat
dirubah jadi daya. Umumnya bahan bakar memiliki kandungan daya
panas yang bisa dilepaskan dan dimanipulasi. Umumnya bahan bakar
dipakai manusia lewat sistem pembakaran (reaksi redoks) di mana bahan
bakar itu akan melepas panas sesudah direaksikan dengan oksigen di
hawa. Sistem lain untuk melepas daya berbahan bakar yaitu lewat reaksi
eksotermal dan reaksi nuklir (seperti Fisi nuklir atau Fusi nuklir).
Hidrokarbon (termasuk juga di dalamnya bensin dan solar) selama ini
adalah jenis bahan bakar yang seringkali dipakai manusia. Bahan b akar
yang lain yang dapat digunakan yaitu logam radioaktif.

1.2 TUJUAN
Adapun tujuan penelitian makalah ini :
 Mengetahui jenis–jenis bahan bakar.
 Untuk mengetahui karakteristik dan sifat tiap jenis bahan bakar.
 Mengetahui sistem bahan bakar konvensional dan diesel

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN BAHAN BAKAR


Menurut teori pembentukan minyak bumi, khususnya teori binatang
Engler dan teori Tumbuh-tumbuhan, senyawa-senyawa organik penyusun
minyak bumi merupakan hasil alamiah proses dekomposisi tumbuhan selama
berjuta-juta tahun. Oleh karena itu minyak bumi juga dikenal sebagai bahan
bakar fosil selain batubara dan gas alam (Hofer,1966).

Bahan bakar adalah suatu materi yang bisa di ubah menjadi energi.
Kebanyakan bahan bakar di pakai melalui proses pembakaran yang di reaksikan
dengan oksigen ( O2 ) , dimana bahan bakar berfungsi sebagai bahan yang akan di
bakar.

Semua bahan bakar dihasilkan oleh senyawa karbohidrat dengan rumus


kimia Cx(H2O) yg menjadi fosil. Karbohidrat tersebut dihasilkan oleh
tumbuhan dengan mengubah energi matahari menjadi energi kimia melalui
proses fotosintesis. Kebanyakan bahan bakar fosil diproduksi kira-kira 325
juta tahun yang lalu. Setelah tumbuhan mati, maka karbohidrat berubah
menjadi senyawa hidrokarbon dengan rumus kimia CxHy akibat tekanan dan
temparatur yang tinggi serta tidak tersedianya oksigen (aneorob).

Selain tersusun oleh komponen hidrokarbon, minyak bumi juga


mengandung komponen non-hidrokarbon. Kandungan komponen senyawa
hidrokarbon relatif lebih besar dari pada kandungan komponen senyawa
non- hidrokarbon.

Komponen non-hidrokarbon dapat berupa unsur-unsur logam atau


yang sifatnya menyerupai logam, serta komponen organik lainnya yang bukan
hidrokarbon, seperti belerang, nitrogen dan oksigen. Senyawa hidrokarbon
merupakan senyawa organik yang terdiri atas hidrogen dan karbon, contohnya
benzena, toluena, ethylbenzena dan isomer xylema. Keberadaan hidrokarbon
aromatik di dalam minyak bumi lebih sedikit dibandingkan dengan

2
hidrokarbon parafin. Aromatik–aromatik murni adalah molekul–molekul yang
hanya mengandung cincin dan rantai sederhana ialah benzena yang terdiri
dari cincin dasar yang mengandung 6 atom karbon, dengan ikatan rangkap di
antara setiap atom karbon lainnya sehingga terdapat 3 ikatan ganda dalam
cincin dasar tersebut. Bila kedua cincin benzena tersebut bergabung akan
membentuk senyawa naftalen. Senyawa ini mempunyai rumus CnH2n-6
untuk molekul cincin tunggal dan CnH2n-12 untuk molekul cincin ganda dan
beraroma.

Dengan adanya proses kimia dan fisika, minyak bumi mentah


dapat diubah menjadi berbagai produk, seperti bensin, terdiri dari
hidrokarbon C6 hingga C10 dari alkana rantai normal dan bercabang serta
sikloalkana dan alkil benzen (Nugroho A, 2006). Naftalen yang sebenarnya
merupakan produk untuk menghilangkan bau busuk, anti jamur dan pencegah
serangga ternyata juga memberikan dampak positif untuk peningkatan angka
oktan dari bensin. Naftalen merupakan rangkaian hidrokarbon jenis aromatik
bahkan dapat disebut polyaromatik dengan struktur kimia berbentuk cincin
benzena yang bersekutu dalam satu ikatan atau dua orto lingkaran benzena
dimana pada proses penggabungan tersebut kehilangan 2 atom C dan 4 atom
H sehingga rumus kimianya menjadi C10H8.

Secara fisik naftalen merupakan zat yang berbentuk keping kristal mudah
menguap dan menyublim serta tak berwarna umumnya berasal dari minyak bumi
atau batu bara. Karena bentuk struktur kimia naftalen serta sifat kearomatisa
tersebut maka naptalene seperti halnya benzene, mempunyai sifat anti knock yang
baik. Oleh sebab itu penambahan naftalen pada benzin akan meningkatkan anti
knock dari bensin tersebut (Raharjo T, 2009).

3
2.2 Macam – macam dan Sistem Bahan Bakar
1. Bahan Bakar Fosil : Batu bara, Minyak bumi, dan gas bumi
2. Bahan Bakar Nuklir : Uranium, Plutonium. Pada bahan bakar nuklir
energi kalor diperoleh dari hasil reaksi berantai penguraian atom-atom
melalui peristiwa fusi radioaktif.
3. Bahan bakar Lain–lain : sisa tumbuh-tumbuhan (kayu bakar), minyak
nabati, minyak hewani.
Berdasarkan jenis dan sifat bahan bakar dibedakan menjadi 3 jenis
yaitu :
 Bahan bakar padat
 Bahan bakar gas
 Bahan bakar gas

1. Bahan Bakar Padat

Bahan bakar padat yang umum digunakan adalah batubara. Batubara


diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama yakni antracit, bituminous, dan lignit.
• Antracit
Antracit merupakan batubara tertua jika dilihat dari sudut pandang geologi, yang
merupakan batubara keras, tersusun dari komponen utama karbon dengan sedikit
kandungan bahan yang mudah menguap dan hampir tidak berkadar air.
• Lignit
Lignit merupakan batubara termuda dilihat dari pandangan geologi, batubara ini
merupakan batubara lunak yang tersusun terutama dari bahan yang mudah menguap dan
kandungan air dengan kadar fixed carbon yang rendah. Fixed carbon merupakan karbon
dalam keadaan bebas, tidak bergabung dengan elemen lain. Bahan yang mudah menguap
merupakan bahan batubara yang mudah terbakar yang menguap apabila batubara
dipanaskan..
Batubara yang umum digunakan, contohnya pada industri di India adalah
batubara bituminous dan sub-bituminous.

4
Pada tabel di bawah ini batubara kelas D, E dan F biasanya tersedia bagi
industri India.

A. Sifat fisik dan kimia batubara


Sifat fisik batubara termasuk nilai panas, kadar air, bahan mudah menguap
dan abu. Sifat kimia batubara tergantung dari kandungan berbagai bahan kimia
seperti karbon, hidrogen, oksigen, dan sulfur. Nilai kalor batubara beraneka ragam
dari tambang batubara yang satu ke yang lainnya. Nilai untuk berbagai macam
batubara diberikan dalam Tabel dibawah.

*GCV lignit pada ‘as received basis’ adalah 2500 –3000


B. Analisis batubara
Terdapat dua metode untuk menganalisis batubara: analisis ultimate dan
analisis proximate. Analisis ultimate menganalisis seluruh elemen komponen
batubara, padat atau gas dan analisis proximate meganalisis hanya fixed carbon,
bahan yang mudah menguap, kadar air dan persen abu. Analisis ultimate harus
dilakukan oleh laboratorium dengan peralatan yang lengkap oleh ahli kimia yang
trampil, sedangkan analisis proximate dapat dilakukan dengan peralatan yang
sederhana. (Catatan: proximate tidak ada hubungannya dengan kata
“approximate”).
C. Penentuan kadar air
Penentuan kadar air dilakukan dengan menempatkan sampel bahan baku
batubara yang dihaluskan sampai ukuran 200-mikron dalam krus terbuka,
kemudian dipanaskan dalam oven pada suhu 108 +2 oC dan diberi penutup.

5
Sampel kemudian didinginkan hingga suhu kamar dan ditimbang lagi. Kehilangan
berat merupakan kadar airnya.
D. Pengukuran bahan yang mudah menguap (volatile matter)
Sampel batubara halus yang masih baru ditimbang, ditempatkan pada krus
tertutup, kemudian dipanaskan dalam tungku pada suhu 900 + 15 oC. Sampel
kemudian didinginkan dan dtimbang. Sisanya berupa kokas (fixed carbon dan
abu). Metodologi rinci untuk penentuan kadar karbon dan abu, merujuk pada IS
1350 bagian I: 1984, bagian III, IV.
E.Pengukuran karbon dan abu
Tutup krus dari dari uji bahan mudah menguap dibuka, kemudian krus
dipanaskan dengan pembakar Bunsen hingga seluruh karbon terbakar. Abunya
ditimbang, yang merupakan abu yang tidak mudah terbakar. Perbedaan berat dari
penimbangan sebelumnya merupakan fixed carbon. Dalam praktek, Fixed Carbon
atau FC dihitung dari pengurangan nilai 100 dengan kadar air, bahan mudah
menguap dan abu.
Analisis proximate untuk berbagai batubara (persen)

Parameter-parameter tersebut digambarkan dibawah ini.

Fixed carbon:
Fixed carbon merupakan bahan bakar padat yang tertinggal dalam tungku
setelah bahan yang mudah menguap didistilasi. Kandungan utamanya adalah
karbon tetapi juga mengandung hidrogen, oksigen, sulfur dan nitrogen yang tidak
terbawa gas. Fixed carbon memberikan perkiraan kasar terhadap nilai panas
batubara. Bahan yang mudah menguap (volatile matter):
Bahan yang mudah menguap dalam batubara adalah metan, hidrokarbon,
hydrogen, karbon monoksida, dan gas-gas yang tidak mudah terbakar, seperti
karbon dioksida dan nitrogen. Bahan yang mudah menguap merupakan indeks
dari kandunagnbahan bakar bentuk gas didalam batubara. Kandunag bahan yang
mudah menguap berkisar antara 20 hingga 35%.

6
Bahan yang mudah menguap:
• Berbanding lurus dengan peningkatan panjang nyala api, dan membantu
dalam
• Memudahkan penyalaan batubara
• Mengatur batas minimum pada tinggi dan volum tungku
• Mempengaruhi kebutuhan udara sekunder dan aspek-aspek distribusi
• Mempengaruhi kebutuhan minyak bakar sekunder
Kadar abu
Abu merupakan kotoran yang tidak akan terbakar. Kandungannya berkisar antara
5% hingga 40%. Abu:
• Mengurangi kapasitas handling dan pembakaran.
• Meningkatkan biaya handling.
• Mempengaruhi efisiensi pembakaran dan efisiensi boiler.
• Menyebabkan penggumpalan dan penyumbatan.
Kadar Air
Kandungan air dalam batubara harus diangkut, di-handling dan disimpan
bersama-sama batubara. Kadar air akan menurunkan kandungan panas per kg
batubara, dan kandungannya berkisar antara 0,5 hingga 10%. Kadar air:
• Meningkatkan kehilangan panas, karena penguapan dan pemanasan
berlebih dari uap
• Membantu pengikatan partikel halus pada tingkatan tertentu
• Membantu radiasi transfer panas
Kadar Sulfur
Pada umumnya berkisar pada 0,5 hingga 0,8%. Sulfur:
• Mempengaruhi kecenderungan teradinya penggumpalan dan penyumbatan
• Mengakibatkan korosi pada cerobong dan peralatan lain seperti pemanas
udara dan economizers
• Membatasi suhu gas buang yang keluar
2. Bahan Bakar Gas
Bahan bakar gas merupakan bahan bakar yang sangat memuaskan sebab
hanya memerlukan sedikit handling dan sistim burner nya sangat sederhana dan
hampir bebas perawatan. Gas dikirimkan melalui jaringan pipa distribusi sehingga

7
cocok untuk wilayah yang berpopulasi tinggi atau padat industri. Walau begitu,
banyak pemakai perorangan yang besar memiliki penyimpan gas, bahkan
beberapa diantara mereka memproduksi gasnya sendiri.
A. Jenis – jenis bahan bakar gas
Bahan bakar yang secara alami didapatkan dari alam:
- Gas alam.
- Metan dari penambangan batubara.
Bahan bakar gas yang terbuat dari bahan bakar padat :
- Gas yang terbentuk dari batubara
- Gas yang terbentuk dari limbah dan biomasa
- Dari proses industri lainnya (gas blast furnace)
Gas yang terbuat dari minyak bumi :
- Gas Petroleum cair (LPG)
- Gas hasil penyulingan
- Gas dari gasifikasi minyak
Gas-gas dari proses fermentasi
Bahan bakar bentuk gas yang biasa digunakan adalah gas petroleum cair
(LPG), gas alam, gas hasil produksi, gas blast furnace, gas dari pembuatan kokas,
dll. Nilai panas bahan bakar gas dinyatakan dalam Kilokalori per normal meter
kubik (kKal/Nm3) ditentukan pada suhu 'normal (20 0C) dan tekanan normal (760
mm Hg).
B. Sifat – sifat Bahan Bakar Gas
Karena hampir semua peralatan pembakaran gas tidak dapat menggunakan
kadungan panas dari uap air, maka perhatian terhadap nilai kalor kotor (GCV)
menjadi kurang. Bahan bakar harus dibandingkan berdasarkan nilai kalor netto
(NCV). Hal ini benar terutama untuk gas alam, dimana kadungan hidrogen akan
meningkat tinggi karena adanya reaksi pembentukan air selama pembakaran.
Sifat-sifat fisik dan kimia berbagai bahan bakar gas diberikan dalam Tabel di
bawah.

8
Tabel Perbandingan komposisi kimia berbagai bahan bakar

3. Bahan Bakar Cair

Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan suatu jenis bahan bakar yang
dihasilkan melalui proses pengilangan minyak mentah. Saat ini BBM telah
menjadi kebutuhan pokok dalam kegiatan rumah tangga maupun industri, terlebih
dalam kegiatan trasnportasi.

Bahan bakar minyak di Indonesia dikelompokkan kedalam tiga jenis yaitu:

1. Jenis BBM Tertentu, terdiri atas Minyak Tanah dan Minyak Solar
2. Jenis BBM Khusus Penugasan, merupakan BBM jenis Premium yang
hanya disubsidi untuk wilayah Jawa, Madura, dan Bali.
3. Jenis BBM Umum, terdiri atas seluruh jenis BBM kecuali pada poin a
dan b.
Jenis BBM Umum yang biasa disebut dengan Bahan Bakar Khusus ( BBK)
merupakan BBM Non-PSO (Public Service Obligation) atau Non-Subsidi.
1. Jenis BBM tertentu :
A. Minyak Solar

Minyak solar ialah fraksi minyak bumi berwarna kuning coklat yang jernih
yang mendidih sekitar 175-370° C dan yang digunakan sebagai bahan bakar
mesin diesel. Umumnya, solar mengandung belerang dengan kadar yang
cukup tinggi. Penggunaan solar pada umumnya adalah untuk bahan bakar
pada semua jenis mesin diesel dengan putaran tinggi (diatas 1000 rpm), yang juga
dapat digunakan sebagai bahan bakar pada pembakaran langsung dalam dapur-

9
dapur kecil yang terutama diinginkan pembakaran yang bersih. Minyak solar ini
biasa disebut juga Gas Oil, Automotive Diesel Oil, High Speed Diesel.

1. Sifat bahan bakar Minyak Solar.


Diantara sifat-sifat bahan bakar solar yang terpenting ialah kualitas
penyalaan, volatilitas, viskositas, titik tuang dan titik kabut.
A. Kualitas Penyalaan
Kualitas penyalaan bahan bakar solar yang berhubungan dengan
kelambatan penyalaan, tergantung kepada komposisi bahan bakar. Kualitas
bahan bakar solar dinyatakan dalam angka cetan, dan dapat diperoleh
dengan jalan membandingkan kelambatan menyala bahan bakar solar dengan
kelambatan menyala bahan bakar pembanding (reference fuels) dalam mesin uji
baku CFR (ASTM D 613-86). Sebagai bahan bakar pembanding digunakan
senyawa hidrokarbon cetan atau n- heksadekan (C16H34), yang mempunyai
kelambatan penyalaan yang pendek dan heptametilnonan (isomer cetan) yang
mempunyai kelambatan penyalaan relatif panjang.

B. Volatilitas
Volatilitas bahan bakar diesel yang merupakan faktor yang penting
untuk memperoleh pembakaran yang memuaskan dapat ditentukan dengan uji
distilasi ASTM (ASTM D 86-90). Makin tinggi titik didih atau makin berat
bahan bakar diesel, makin tinggi nilai kalor untuk setiap galonnya dan makin
diinginkan dari segi ekonomi. Tetapi hidrokarbon berat merupakan sumber
asap dan endapan karbon serta dapat mempengaruhi operasi mesin. Sehingga
bahan bakar diesel harus mempunyai komposisi yang berimbang antara fraksi
ringan dan fraksi berat agar diperoleh volatilitas yang baik.
C. Viskositas
Viskositas bahan bakar solar perlu dibatasi. Viskositas yang terlalu
rendah
dapat mengakibatkan kebocoran pada pompa injeksi bahan bakar, sedangkan
viskositas yang terlalu tinggi dapat mempengaruhi kerja cepat alat injeksi
bahan bakar dan mempersulit pengabutan bahan bakar minyak akan menumbuk

10
dinding dan membentuk karbon atau mengalir menuju ke karter dan
mengencerkan minyak karter.
Sifat kemudahan mengalir minyak solar dinyatakan sebagai viskositas
dinamik dan viskositas kinetik. Viskositas dinamik adalah ukuran tahanan
untuk mengalir dari suatu zat cair, sedang viskositas kinetik adalah
tahanan zat cair untuk mengalir karena gaya berat.

Bahan yang mempunyai viskositas kecil menunjukkan bahwa bahan itu


mudah mengalir, sebaliknya bahan dengan viskositas tinggi sulit mengalir.
Suatu minyak bumi atau produknya mempunyai viskositas tinggi berarti
minyak itu mengandung hidrokarbon berat (berat molekul besar),
sebaliknya viskositas rendah maka minyak itu banyak mengandung
hidrokarbon ringan.

Viskositas minyak solar erat kaitannya dengan kemudahan mengalir


pada pemompaan, kemudahan menguap untuk pengkabutan dan mampu
melumasi fuel pump plungers. Penggunaan bahan bakar yang mempunyai
viskositas rendah dapat menyebabkan keausan pada bagian-bagian pompa
bahan bakar. Apabila bahan bakar mempunyai viskositas tinggi, berarti tidak
mudah mengalir sehingga kerja pompa dan kerja injektor menjadi berat.

Sifat kebersihan minyak solar sesuai spesifikasi ditunjukkan pada pengujian


:– Viskositas Kinematik, ASTMD 445

– Pour Point, ASTMD 97

D. Titik Tuang dan Titik Kabut


Bahan bakar solar harus dapat mengalir dengan bebas pada suhu atmosfer
terendah dimana bahan bakar ini digunakan. Suhu terendah dimana bahan bakar
solar masih dapat mengalir disebut titik tuang. Pada suhu sekitar 10° F diatas
titik tuang, bahan bakar solar dapat berkabut dan hal ini disebabkan oleh
pemisahan kristal malam yang kecil-kecil. Suhu ini dikenal dengan nama titik
kabut. Karena kristal malam dapat menyumbat saringan yang digunakan dalam
system bahan bakar mesin diesel, maka seringkali titik kabut lebih berarti dari
pada titik tuang.

11
Klasifikasi Bahan Bakar Minyak Solar
ASTM membagi bahan bakar solar menjadi tiga grade, yaitu
Grade No.1-D : suatu bahan bakar distilat ringan yang mencakup
sebagian fraksi kerosin dan sebagian fraksi minyak gas, digunakan untuk mesin
diesel otomotif dengan kecepatan tinggi
Grade No.2-D : suatu bahan bakar distilat tengahan bagi mesin diesel
otomotif, yang dapat juga digunakan untuk mesin diesel bukan otomotif,
khususnya dengan kecepatan dan beban yang sering berubah-ubah.
Grade No.4-D : suatu bahan bakar distilat berat atau campuran
antara siatilat dengan minyak residu, untuk mesin diesel bukan otomotif dengan
kecepatan rendah dengan kondisi kecepatan dan beban tetap.
sebuah mesin diesel untuk menghasilkan proses pembakaran dipicu oleh
kompresi yang tinggi, untuk menghasilkan proses pembakaran yang sempurna dan
titik nyala rendah maka digunakanlah solar sebagai sistem bahan bakar.

12
13
14
C. PREMIUM
Bahan bakar bensin adalah senyawa hidrokarbon yang kandungan
oktana atau isooktananya tinggi. Senyawa oktana adalah senyawa
hidrokarbon yang digunakan sebagai patokan untuk menentukan
kualitas bahan bakar bensin yang dikenal dengan istilah angka oktana
dalam hal ini bahan bakar bensin dibandingkan dengan campuran
isooktana atau 2,3,4 trimetilpentana dengan heptana. Isooktana
dianggap sebagai bahan bakar paling baik karena hanya pada kompresi
tinggi saja isooktana memberikan bunyi ketukan (detonasi) pada mesin.
Sebaliknya, heptana dianggap sebagai bahan bakar paling buruk. Angka
oktana 100, artinya bahan bakar bensin

tersebut setara dengan isooktana murni. Angka oktana 80, artinya


bensin tersebut merupakan campuran 80% isooktana dan 20% heptana.
Berikut ini adalah bagaimana sistem bahan bakar konvensional
pada motor dimana bahan bakar tersebut menggunakan premium.
A. Garis besar sistem bahan bakar
Sistem bahan bakar sepeda motor terdiri dari bagian-bagian seperti:
Tangki bahan bakar, tutup tangki bahan bakar, katup bahan bakar, saringan
bahan bakar, selang bahan bakar, karburator, dan saringan udara.

15
B. Fungsi & Komponen Sistem Bahan Bakar

1. Fungsi sistem bahan bakar:

a. Sebagai penyuplai bahan bakar


b. Membersihkan bahan bakar dari kotoran
c. Mengubah bahan bakar cair menjadi bahan bakar
d. Mengatur suplai bahan bakar sesuai kebutuhan mesin
2. Komponen sistem bahan bakar
a. Tangki dan tutup tangki
b. Saringan dan Bensin
c. Kran dan selang bensin
d. Saringan udara
e. Karburator sistem konvensional / sistem Pgm-fi
C. Fungsi & Komponen Sistem Bahan Bakar Tipe Konvensional
(Karburator)
1. Tangki bahan bakar berfungsi untuk menampung bahan bakar.
a. Tipe sport

Komponen:
1. Tutup tangki (fuel filler cap)
2. Saringan bahan bakar dalam tangki (screen set fuel strainer)
3. Kran bahan bakar (fuel cock)
4. Selang bahan bakar (fuel tube)
5. Saringan bahan bakar tambahan (fuel strainer)
6. Pengukur bahan bakar (fuel gauge)

16
b. Tipe cub

Komponen
1. Tangki bahan bakar (fuel tank)
2. Tutup tangki (fuel filler cap)
3. Selang bahan bakar (fuel tube)
4. Saringan bahan bakar (fuel strainer)
5. Auto Cock Fuel tipe karisma
6. Fuel gauge.

2. Tutup Tangki (Cap Fuel Filler)

Tutup tangki dengan check ball

17
3. Kran bahan bakar ( fuel cock )

Kran bensin otomatis ( auto fuel cock )

4. Saringan udara ( air cleaner )

18
D. Fungsi & Komponen Karburator

1. Fungsi karburator:
a. Merubah bahan bakar cair menjadi gas/kabut.
b. Mencampur bensin dan udara dengan
perbandingan yang tepat sesuai kebutuhan mesin.
c. Menyuplai campuran bahan bakar + udara ke
dalam ruang bakar.
2. Komponen karburator

E. Jenis Sistem Karburasi

19
1. Bagian-bagian karburator konvensional

2. Karburator konstan velocity

3. Throtel body (PGM-FI

20
3.1 KESIMPULAN
Bahan bakar adalah suatu materi yang bisa di ubah menjadi energi.
Kebanyakan bahan bakar di pakai melalui proses pembakaran yang di reaksikan
dengan oksigen ( O2 ) , dimana bahan bakar berfungsi sebagai bahan yang akan di
bakar.
Dengan kita mempelajari tentang Bahan Bakar kita dapat mengetahui
 Dapat mengetahui apa itu energi bahan bakar dan pengelompokannya.
 Mengetahui sistem jenis-jenis bahan bakar motor konvensional dan diesel.
 Untuk mengetahui karakteristik dan sifat tiap jenis bahan bakar. dan juga
kita dapat mengetahui jenis–jenis bahan bakar dimana dibedakan menjadi 3
 Bahan bakar padat
 Bahan bakar gas
 Bahan bakar cair, serta memiliki karaktristik masing-masing
Berbagai jenis bahan bakar (seperti bahan bakar cair, padat, dan gas) yang tersedia
tergantung
pada berbagai faktor :
1. Biaya
2. Ketersediaan
3. Handling
4. Polusi
5. Dan lain-lain
Ada berbagai macam bahan bakar yang dapat di pergunakan dan masih
banyak lagi bahan bakar alternatif yang bisa di pakai apabila bahan bakar yang
tidak dapat di perbaharui mulai menipis

21
3.2 Penutup
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok
bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dankurangnya rujukan atau
referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Kami banyak berharap
para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun
kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di
kesempatan–kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para
pembaca yang budiman pada umumnya.

22
DAFTAR PUSTAKA

Bureau of Energy Efficiency. Energy Efficiency in Thermal Utilities. Chapter 1.

2004

Department of Coal, Government of India. Coal and Cement Industry – Efficient

utilization.1985

Yang, J., Golovitchev, V. I., Lurbe, P. R., & Sanchez, J. L. (2012). Chemical
Kinetic Study of Nitrogen Oxides Fromation Trends in Biodiesel Combustion.
Intrnational Journal of Chemical Engineering , 898242, 1-22.

https://andhymoe.wordpress.com/2015/10/13/ringkasan-bahan-bakar-dan-pelumas/

ardismkn7.blogspot.com/2013/06/sistem-bahan-bakar-bensin.html

http://www.indoenergi.com/2012/04/8-bahan-bakar-alternatif-
potensial.html
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2117158-pengertian-energi/
http://www.indoenergi.com/2012/04/pengertian-energi-terbarukan.html
http://www.alpensteel.com/article/53-101-energi-terbarukan--renewable-
energy/194--definisi-energi-terbarukan.htm
tiyamahir.blogspot.com/2014/03/makalah-kimia-energi-bahan-bakar.html

23