Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Data epidemiologis menunjukkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian nomor dua
di dunia setelah penyakit jantung. Di tahun 2008, stroke dan penyakit cerebrovaskular lainnya
menyebabkan 6,2 juta orang di dunia meninggal (WHO, 2008). Menurut Yastroki (2009), angka
kejadian stroke di Indonesia meningkat tajam. Bahkan saat ini Indonesia merupakan negara
dengan jumlah penderita stroke terbesar di Asia dan menempati urutan ketiga penyebab kematian
setelah penyakit jantung dan kanker (Yuniarsih, 2010).
Stroke merupakan sindrom klinis yang timbulnya mendadak, progresif, cepat berupa deficit
neurologis lokal ataupun global yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan
kematian dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran otak non traumatik ( Mansjoer,
A, dkk, 2001; 17).
Stroke adalah peringkat ke tiga penyebab kematian, dengan laju mortalitas 18% sampai 37%
untuk stroke pertama dan 62% untuk stroke selanjutnya. Terdapat kira-kira dua juta orang
bertahan hidup dari stroke yang mempunyai kecacatan; dari angka ini, 40% memerlukan
bantuan dalam aktivitas sehari-hari (Smeltzer dan Bare, 2002; 2131).
Di Indonesia stroke menyerang 35,85% klien lanjut usia dan 12,9% pada usia yang lebih
muda. Penderita stroke diperkirakan berjumlah 500.000 jiwa setiap tahun dan 2,5 %- nya
meninggal dunia. Angka kejadian stroke di Indonesia meningkat tajam , bahkan saat ini
indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita stroke terbesar di Asia.
Menurut hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2013, prevalensi stroke di
Indonesia yang terdiagnosis nakes sebesar 7% dan berdasarkan dignosis atau gejala sebesar
12,1%. Sedangkan prevalensi stroke yang terdiagnosis nakes di Provinsi Gorontalo sebesar 8,3%
dan yang terdiagnosis nakes dan gejala sebesar 12,3%. Prevalensi stroke yang terdiagnosis nakes
maupun berdasarkan diagnosis atau gejala sama tinggi pada laki-laki dan perempuan.
Mereka yang bertahan biasanya sangat rentan terhadap kemunduran. Gangguan
fungsional akibat stroke, misalnya; paralisa, disfagia, ataksia, defisiensi persepsi dan perilaku
depresi ditambah lagi dengan gaya hidup yang terus-menerus tidak normal dan gangguan tidak
biasa lainnya yang sangat menghambat kegiatan pasien sehari-hari. Karena penderita kurang

1
mampu bertindak sendiri maka beban biasanya beralih pada mereka yang merawatnya (Siegler
dan Whitney, 2000; 108).
Berdasarkan uraian diatas kelompok tertarik untuk mengangkat”Asuhan Keperawatan
Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan “Stroke Iskemik” pada Ny. R.P di Ruang
UGD RSUD Toto Kabila”

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Kelompok dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan stroke iskemik di
ruang UGD RSUD Toto Kabila.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian, menganalisa, menentukan diagnosa keperawatan,
membuat intervensi keperawatan, implementasi, dan mengevaluasi tindakan
keperawatan yang sudah diberikan pada Ny. R. P di Ruang UGD RSUD Toto Kabila
b. Mampu Mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan
asuhan keperawatan pada Ny. R.P di Ruang UGD RSUD Toto Kabila

2
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Medik
A. Pengertian

Stroke merupakan sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progresif, cepat berupa

defisit neurologis lokal maupun global yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung

menimbulkan kematian dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran otak non

traumatik (Mansjoer, A, 2000).

Stroke atau cedera serebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh

terhentinya suplai darah ke bagian otak (Smeltzer & Bare, 2001).

Stroke adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak

baik lokal maupun menyeluruh (global) yang berlangsung selama 24 jam atau lebih atau

menyebabkan kematiantanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler (WHO, 1999).

B. Etiologi

Stroke biasanya diakibatkan dari salah satu empat kejadian:

a) Trombosis (bekuan darah didalam pembuluh darah otak atau leher)

b) Embolisme cerebral (bekuan darah atau material lain yang dibawa ke otak dari bagian tubuh

yang lain)

c) Iskemia (penurunan aliran darah ke area otak)

d). Haemoragic Cerebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke dalam

jaringan otak atau ruang sekitar otak)

C. Klasifikasi

Stroke dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Klasifikasi stroke menurut patologi dan gejala kliniknya (Wijaya & Putri, 2013) yaitu :

3
1) Stroke Haemorhagic

Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid. Disebabkan oleh

pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan

aktivitas atau saat sakit, namun bisa juga terjadi saat istirahat.

2) Stroke Non Haemorhagic

Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral, biasanya terjadi setelah lama

beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia

yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder. Kesadaran umumnya

baik.

b. Klasifikasi Stroke menurut defisit neurologis (Irfan, 2010) yaitu:

1) Transient Ischemic Attack (TIA)

Merupakan gangguan pembuluh darah otak yang menyebabkan timbulnya defisit

neurologis akut yang berlangsung kurang dari 24 jam. Stroke ini tidak akan meninggalkan gejala

sisa sehingga pasien tidak terlihat pernah mengalami serangan stroke. Akan tetapi adanya TIA

merupakan suatu peringatan akan serangan stroke selanjutnya sehingga tidak boleh diabaikan

begitu saja.

2) Reversible Ischemic Neurological Deficit (RIND)

Kondisi RIND hampir sma dengan TIA, hanya saja berlangsung lebih lama, maksimal 1

minggu (7 hari). RIND juga tidak meninggalkan gejala sisa.

3) Complete Stroke

Merupakan gangguan pembuluh darah otak yang menyebabkan deficit neurologist akut

yang berlangsung lebih dari 24 jam. Stroke ini akan meninggalkan gejala sisa.

4
4). Stroke in Evolution (Progresive Stroke)

Stroke ini merupakan jenis yang terberat dan sulit ditentukan prognosanya. Hal ni

disebakan kondisi pasien yang cenderung labil, berubah-ubah dan dapat mengarah ke kondisi

lebih buruk.

D. Faktor resiko

Secara garis besar, faktor resiko stroke dibagi menjadi dua, yaitu :

a). Faktor tidak terkendali atau faktor yang bersifat menetap . Yang dimaksud faktor tidak

terkendali adalah faktor yang tidak dapat diubah, terdiri atas : faktor genetik (ras), usia, gender,

dan riwayat penyakit dalam keluarga (Lingga, 2013).

b). Faktor yang dapat dikendalikan atau faktor tidak tetap

Yang dimaksud faktor yang dapat dikendalikan adalah faktor yang dapat diubah, terdiri atas :

1) Hipertensi

2) Penyakit kardiovaskuler

3) Diabetes Melitus

4) Merokok

5) Alkaholik

6) Peningkatan kolestrol

7) Obesitas

8) Kontrasepsi berbasis hormon

9) Stress

5
E. Manifestasi klinik

Pada stroke non hemoragik gejala utamanya adalah timbulnya defisit neurologis secara

mendadak atau subakut, didahului gejala prodromal, terjadi pada waktu istirahat atau bangun

pagi dan kesadaran biasanya tak menurun, kecuali bila embolus cukup besar (Mansjoer, 2000).

Menurut WHO, dalam Internasional Statistic Classification Of Diseases and Related

Health Problem 10th Revision, stroke hemoragik di bagi atas :

a). Perdarahan Intraserebral (PIS)

Stroke akibat PIS mempunyai gejala prodromal yang tidak jelas, kecuali nyeri kepala

karena hipertensi. Serangan sering kali setiap hari, saat aktivitas, atau emosi/marah. Sifat nyeri

kepalanya hebat sekali. Mual muntah seringkali terjadi sejak permulaan serangan. Kesadaran

biasanya menurun cepat masuk koma (65 % terjadi kurang dari setengah jam, 23% antara 1/2 s.d

2 jam dan 12% terjadi setelah 2 jam, sampai 19 hari).

b). Perdarahan Subarakhnoid (PSA)

Pada pasien denga PSA didapatkan gejala prodromal berupa nyeri kepala hebat dan akut.

Kesadaran sering terganggu dan sangat bervariasi. Ada gejala atau tanda rangsangan meningeal.

Gejala neurologis yang timbul tergantung pada berat ringannya gangguan pembuluh darah dan

lokasinya. Manifestasi stroke dapat berupa:

1). Kelumpuhan wajah dan anggota badan yang timbul mendadak

2). Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan

3). Perubahan mendadak status mental

4). Afasia (bicara tidak lancar, kurangnya ucapan atau kesulitan memahami ucapan)

5). Ataksia anggota badan

6). Vertigo, mual muntah atau nyeri kepala

6
Gejala khusus pada pasien stroke:

1). Kehilangan motorik

2). Kehilangan komunikasi

3). Gangguan persepsi

F. Pemeriksaan diagnostik

Diagnosis stroke perlu dilakukan dengan cermat. Inilah hal yang perlu dipahami oleh

pasien dan keluarganya. Penderita stroke dan keluarganya sering merasa bahwa pemeriksaan

yang dilakukan dokter terkesan berlebihan. Perlu diketahui bahwa mendiagnosis stroke secara

tepat memang perlu serangkaian pemeriksaan, setiap pemeriksaan ada tujuannya.

Pemeriksaan diagnostik pada penyakit stroke (Lingga, 2013) meliputi :

a. Angiografi Cerebral

b. Elektro encefalographi

c. Sinar X Tengkorak

d. Ultrasonography Dopler

e. CT-Scan

f. MRI

g. Pemeriksaan Foto Thorax

h. Pemeriksaan Laboratorium

G. Penatalaksanaan stroke

Pengobatan stroke sangat penting dilakukan sedini mungkin, karena jendela terapi dari

stroke hanya 3-6 jam. Penatalaksanaan yang cepat, tepat dan cermat memegang peranan besar

dalam menentukan hasil akhir pengobatan. Hal yang harus dilakukan adalah :

a. Stabilisasi pasien dengan tindakan ABC

7
b. Pertimbangkan intubasi bila kesadaran stupor atau koma atau gagal napas

c. Pasang jalur infus intravena dengan larutan salin normal 0.9 % dengan kecepatan 20ml/ jam,

jangan memakai cairan hipotonis seperti dekstrosa 5% dalam air dan salin 0,45% karena dapat

memperhebat edema otak

d. Berikan oksigen 2-4 Liter/Menit melalui kanul hidung

e. Jangan memberikan makanan atau minuman melalui mulut

f. Buat rekaman EKG dan lakukan foto rontgen thoraks

g. Ambil sampel untuk pemeriksaan darah

h. Jika ada indikasi, lakukan tes kadar alkohol, fungsi hati, gad darah arteri, dan skrining

toksikologi

i. CT Scan atau resonansi magnetik bila alat tersedia

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
A. Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan,
alamat, pekerjaan, agama, ras, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register,
dan lain- lain.
B. Keluhan Utama
Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak
dapat berkomunikasi
C. Riwayat penyakit sekarang
Serangan stroke seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien sedang
melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah, bahkan kejang
sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separuh badan atau gangguan
fungsi otak yang lain.

8
D. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, anemia, riwayat
trauma kepala, riwayat alergi, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti
koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan.
E. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes melitus.
2. Pemeriksaan data dasar
A. Aktivitas / istirahat
Klien akan mengalami kesulitan aktivitas akibat kelemahan, hilangnya rasa, paralisis,
hemiplegi, mudah lelah dan susah tidur.
B. Sirkulasi
Adanya riwayat penyakit jantung, katup jantung, disritmia, CHF, polisitemia, dan
hipertensi arterial
C. Integritas ego
Emosi labil, respon yang tak tepat, mudah marah, kesulitan untuk mengespresikan
diri
D. Eliminasi
Perubahan kebiasan BAB dan BAK, misalnya inkontinentia urine, anuria, distensi
kandung kemih, distensi abdomen, suara usus menghilang.
E. Makanan/cairan
Nausea, vomiting, daya sensori hilang di lidah, pipi, tengggorokan, dysfagia, dan
kesulitan menelan.
F. Neurosensori
Pusing, sinkope, sakit kepala, perdarahan sub arachnoid, dan intrakranial. Kelemahan
dengan berbagai tingkatan, gangguan penglihatan, kabur, dyspalopia, lapang pandang
menyempit. Hilangnya daya sensori pada bagian yang berlawanan dibagian
ekstremitas dan kadang-kadang pada sisi yang sama dimuka.
G. Nyaman/nyeri
Sakit kepala, perubahan tingkah laku kelemahan, tegang pada otak / muka.

9
H. Respirasi
Ketidakmampuan menelan, batuk, melidungi jalan napas, suara nafas, whezing,
ronchi.
I. Keamanan
Sensorik motorik menurun atau hilang, mudah terjadi injury. Perubahan persepsi dan
orientasi, tidak mampu meenelan sampai ketidakmampuan mengatur kebutuhan
nutrisi, tidak mampu mengambil keputusan.
J. Interaksi sosial
Gangguan dalam bicara, ketidakmampuan berkomunikasi.

10