Anda di halaman 1dari 4

APLIKASI

1. Brief Family System Therapy


Para inovator terapi keluarga telah mengembangkan pendekatan intervensi dengan
waktu yang pendek. Pendekatan ini sangat praktis, jelas, dan sesuai dengan masalah yang
ada. Mereka tidak hanya menginginkan perubahan sementara dalam keluarga untuk
menyelesaikan masalahnya, namun juga menginginkan perubahan yang akan bertahan
lama. Dikarenakan pendekatan ini membutuhkan intervensi yang powerful, mereka
biasanya membuat team terapi. Beberapa anggota akan mengobservasi dibalik kaca one-
way. Sebagai contoh pendekatan ini diaplikasikan pada The Mental Research Institue
yang menggunakan Brief Family Therapy Model.
Mental Research Institute (MRI) yang digawangi oleh Gregory Bateson, Don
Jackson, Jay Haley, dan Milton Erickson melakukan pendekatan pada terapi singkat yang
menekankan pada pemecahan masalah dan mengurangi simptom. Terapi MRI dilakukan
kurang dari 10 sesi.
Hal yang penting untuk terapis MRI ketahui adalah pola komunikasi. Pada
hubungan komplementer, satu orang adalah superior sementara yang lain inferior. Pada
hubungan simetrikal, terdapat persamaan hak antara partner. Namun, sebuah pesan yang
simetrikal dapat diperluas pada suatu hal bahwa satu ucapan kemarahan akan bertemu
dengan ucapan kemarahan yang lebih tinggi sehingga perkelahian akan terus berlanjut
hingga salah seorang mau menyerah. Contohnya adalah argumen yang terjadi pada anak-
anak dimana mereka saling menyalahkan tentang siapa yang memulai pertengkaran.
Untuk interaksi yang seperti ini, tidak ada alasan untuk mencari poin permulaannya,
lebih baik memberikan perhatian double.
Pada pendekatan terapi, para terapis MRI menggunakan teknik-teknik reframing,
relabeling, dan intervensi paradoks. Terapis mencoba mendapat gambaran jelas atas
suatu masalah dan menemukan jalan untuk merubah bagian dari sistem yang
menegakkan masalah. Dalam pencarian untuk membuat perubahan, terapis mencari
perubahan-perubahan kecil dan mendorong klien untuk berkembang secara perlahan.
Beriringan dengan keberjalanan terapi, cara pandang keluarga melihat masalahnya dan
gaya komunikasinya secara berangsung-angsung terestrukturisasi.
Sebagai contoh, terapi yang dilakukan pada 10 keluarga dimana sang suami
menderita serangan jantung namun menolak latihan untuk mengubah dietnya. Segal
(1982) bersama istri-istri 10 keluarga tersebut merubah solusi. Berdasarkan observasi,
sang istri mengomel dan berargumen untuk mengubah perilaku suaminya. Sang istri
diminta memberitahu suami untuk hidup sesuka hatinya tidak peduli bagaimana
pendeknya hidupnya. Kemudian sang istri diminta mengontrol hidupnya sendiri dan
mendatangi pihak asuransi hidup bersama suami. Lebih lanjut, sang istri diminta
menelpon agensi asuransi hidup dan meminta pihak asuransi menelpon balik saat ia tidak
dirumah namun suaminya yang di rumah. Setelah dua minggu berurusan dengan
suaminya dengan cara ini, sang suami mau berpartisipasi dalam latihan dan dietnya.

2. Trend Masa Kini dalam Terapi Keluarga


a. Pendekatan Psikoedukasi
Sejak awal mula terapi keluarga, terapis telah tertarik untuk membantu
keluarga dengan anak yang menderita skizofrenia. Pendekatan psikoedukasional oleh
Anderson, Reiss, dan Hogarty berusaha mendukung dan mengedukasi keluarga untuk
berhadapan dengan pasien skizofrenia. Mereka menggunakan “survival skills
workshop” selama satu hari untuk mengajarkan anggota keluarga tentang skizofrenia
beserta prognosis, psikobiologi, dan treatmennya. Dengan memberikan informasi
pada kelurga mengenai skizofrenia, mereka membantu keluarga untuk belajar apa
yang dapat mereka lakukan untuk membantu pasien yang teridentifikasi. Sebagai
tambahan, mereka membuat jadwal sesi reguler, terkadang dilanjutkan selama lebih
dari satu tahun. Program psikoedukasional yang lain dilakukan untuk mengurangi
ekspresi emosi pada anggota keluarga penderita skizofrenia (Lefley, 2009). Dengan
mengurangi ekspresi emosi disekeliling individu dengan skizofrenia, anggota
keluarga dapat membantu mereka menjaga stabilitas dan mengatasi pemikiran
mereka yang kacau balau.
Selain itu, beberapa program telah dikembangkan untuk mengajarkan keluarga
tentang kemampuan coping dan komunikasi. Training ini memiliki tiga tujuan, yaitu:
mengajarkan keluarga bagaimana berhadapan dengan pasien yang telah didiagnosis;
untuk mengajarkan seluruh keluarga bagaimana berkomunikasi, problem solving,
atau negosiasi konflik dengan lebih efektif; dan untuk menambah fungsi yang telah
adekuat. Program ini dapat dilakukan untuk bermacam-macam issue, seperti
konseling pranikah, hubungan pernikahan, hubungan orang tua-remaja, anak dengan
orang tua yang bercerai, dan keluarga dengan penyalahgunaan narkoba.
b. Training Profesional dan organisasi
Dengan adanya perluasan pada lingkup terapi keluarga sehingga dibutuhkan
standar training dan praktek. Dimulai pada tahun 1942, American Association for
marriage and Family Therapy (AAMFT) yang memberikan edukasi dan training
kepada membernya melalui konferensi dan Journal of Marital and Family Therapy.
Selain itu, American Family Therapy Association (AFTA) yang dimulai tahun 1977
menyediakan fasilitas bagi peneliti, klinikus, dan trainer untuk bertukar ide tentang
terapi keluarga.
c. Hukum Keluarga
Pengetahuan akan sistem yang legal yang berhubungan dengan keluarga
sangat penting bagi terapis (Goldenberg & Goldenberg, 2008). Isu-isu seperti hukum
pelecehan anak, dan berhadapan dengan klien yang berbahaya dapat membuat terapis
mudah dituduh atas malpraktik. Adakalanya, terapis keluarga diminta memberikan
keterangan di pengadilan berkaitan dengan isu-isu penahanan, tersangka anak-anak,
dan sebagainya. Oleh karena itu terapis perlu mengetahui tentang hukum-hukum
yang berlaku.
d. Pengobatan
Semakin berkembanganya farmakologi dan biologikal psikiatri, diikuti pula
dengan peningkatan trend bagi pasien dan keluarganya untuk melihat akar
permasalahan sebagai “ketidakseimbangan kimia”. Terapis keluarga percaya bahwa
baik pendekatan psikologis maupun biologis dibutuhkan sebagai pertimbangan ketika
dihadapkan pada masalah anak-anak.

3. Aplikasi Terapi Sistem keluarga untuk Individual


Ketika melakukan psikoterapi dengan individual, terapis dapat mengaplikasikan
konsep dari teori sistem keluarga. Terapis perlu mengetahui pentingnya latar belakang
generasinya. Terapis dapat mendengarkan bagaimana anggota keluarga bersekutu satu
sama lain, saling campur tangan dengan kehidupan yang lainnya, dan membentuk
koalisi. Hipotesis yang didasarkan pada ide tentang subsistem keluarga dapat membentuk
intervensi yang dapat membantu individu berhadapan dengan isu keluarga dengan lebih
baik. Terapis membantu klien membawa perubahan dalam hidupnya, baik itu
berhubungan dengan isu keluarga atau tidak. Dengan semakin banyaknya terapis yang
bekerja baik dengan keluarga maupun individual, terapi sistem keluarga dapat
terintegrasi lebih baik dengan pendekatan terapeutik lainnya.
4. Konseling Pasangan
Fakta bahwa American Association of Marriage Counselor merubah namanya
menjadi American Association of Marriage and Family Counselor di tahun 1970
mengindikasikan bahwa terjadi overlap antara pernikahan dengan terapis keluarga,
karena pernikahan adalah sistem yang kecil, dan teori sistem keluarga dapat
diaplikasikan pada hal tersebut. Berdasarkan terapi struktur keluarga milik Minuchin,
penyeimbangan pembuatan keputusan antara pasangan satu sama lain dapat digunakan
untuk memahami proses interaktif dari pasangan. Terapis dapat fokus pada distribusi
diantara pasangan dan menganjurkan intervensi langsung maupun tidak langsung yang
akan membawa pada keseimbangan dan komunikasi antara pasangan.