Anda di halaman 1dari 10

SISTEM POLITIK INDONESIA

REVIEW FILM SOE HOK GIE (2005)

DOSEN PEMBIMBING
ZULKARNAIN S.IP.,MA.
_________________________________________________________

NOVI LAELY WARDHANI


(L1A017089)

HUBUNGAN INTERNASIONAL
UNIVERSITAS MATARAM
2018

Novilaely/Review Film Soe Hok Gie 2005 1


KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kesempatan
dan kesehatan, sehingga tugas ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Terimakasih saya ucapkan juga kepada dosen pembimbing atas segala masukkan
yang di berikan sehingga dapat menjadi sumber pengetahuan untuk menyelesaikan
tugas ini.
Dalam kesempatan ini pula, saya mengucapkan mohon maaf apabila ada
kesalahan dalam penulisan ini, semoga ini dapat berguna untuk kegiatan
pembelajaran selanjutnya.

Mataram, 8 November 2018

Novi Laely Wardhani

Novilaely/Review Film Soe Hok Gie 2005 2


TOKOH DEMOSTRAN PENCINTA ALAM

"Saya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk
di pasifik. Kira-kira pada umur lima tahun saya masuk sekolah di Sin Hwa School.
Baru saja dua tahun saya pindah ke gang Komandan. Terus saya naik walaupun
dari kelas dua kekelas tiga dan dari kelas tiga ke kelas empat saya dicoba. Pada
tanggal 1 Desember 1954 saya pindah ke jalan pembangunan sore. . . " (Catatan
Seorang Demonstran,hlm. 58)”

Demikian cuplikan tulisan Soe Hok-Gie di awal buku hariannya. SOE HOK
GIE, lahir 17 Desember 1942, di saat perang sedang berkecamuk di pasifik,
ditengah-tengah kehidupan yang disekelilingnya timbul pergolakan politik disekitar
tahun 1950–1960an. Seorang pemuda keturunan Tionghoa anak keempat dari lima
bersaudara, dari pasangan Soe Lie Phet dan Nina ( Nie Hoe An) , Gie adalah anak
yang sangat berbeda dengan anak lain, bahkan saudaranya. Aktivis dan penulis di
tahun 60-an, Kisahnya sebagai seorang yang selalu berada diluar atau melawan arus
zaman. Arief Budiman atau Soe Hok Djin merupakan salah satu kakak Gie, bersama
Gie yang juga aktivis mahasiswa angkatan '66 yang dikenal vokal di era orde lama.
Soe Hok-Gie merupakan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia jurusan
Sejarah di tahun 1962-1969. Ia dikenal sebagai aktivis mahasiswa yang berani, jujur,
tegas, tidak kenal kompromi dan idealis. Kejujurannya ini seringkali tidak bisa
diterima oleh orang di sekitarnya. Gie memilki watak yang keras namun terkesan
kritis terhadap setiap kejadian maupun hal–hal yang terjadi pada masa orde lama. Gie
juga dikenal karena ia rajin mendokumentasikan kehidupan dan gagasannya ke
dalam buku harian, yang akhirnya pada tahun 1983 buku harian Gie diterbitkan
menjadi sebuah buku yang berjudul "Catatan Seorang Demonstran". Selain itu Gie
dikenal sebagai penulis di media massa seperti kompas, harian KAMI, Sinar
Harapan, Mahasiswa Indonesia dan Indonesia Raya. Hasil gagasan dan karyanya
dalam tulisan diterbitkan dan dibukukan menjadi sebuah buku dengan judul Zaman
Peralihan (Bentang, 1995). Soe Hok Gie juga sangat suka membaca buku, seperti
kesehariannya yang selalu membaca buku karya Pramoedya Ananta Toer, Mahatma
Ghandi, buku puisi dari karya Chairil Anwar, dll.

Setelah tamat SD di Shinhwa, Hok-Gie melanjutkan ke SMP Strada di daerah


Gambir dari kelas 1 naik ke kelas 2. Di kelas 2 SMP, Hok-Gie sempat mendapatkan
nilai buruk dan diharuskan untuk mengulang ia dianggap sebabagai siswa yang
bodoh, dan pendaptnya tidak pernah di hargai, tapi Gie tidak mau mengulang karena
merasa diperlakukan tidak adil oleh gurunya yang sering ia kritik saat mata
pelajarannya. “Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru
bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.” ungkapan tersebut yang
dikatakan Gie saat dia diharuskan untuk mengulang, tapi Gie menolak mengulang
dan minta untuk pindah sekolah. Akhirnya sebuah sekolah SMP kristen protestan di
jakarta mau menerimanya sebagai murid kelas 3, tanpa harus mengulang. Kejadian
pindah sekolah tersebut, membuat Gie berpisah dengan sahabatnya yaitu Tjin Han,
Gie sangat simpati dengan Han, karena ia tinggal dengan tantenya yang selalu
menyiksa dan memarahi Tjin Han. Tetapi di sekolah yang baru Gie merasa ia di

Novilaely/Review Film Soe Hok Gie 2005 3


hargai semua pendapatnya oleh teman dan gurunya, dan ia merasa lebih nyaman di
sekolah itu daripada yang sekolah yang lama.

Setelah tamat SMP, Gie melanjutkan sekolahnya di SMA Kanisius Jakarta


jurusan Sastra. Di SMA lah Gie semakin mengenal dan menggemari dunia sastra
yang mengantarkannya mendalami ilmu sejarah. suatu ketika Gie di jalan bertemu
dengan seorang (bukan pengemis) sedang memakan kulit buah mangga karena dia
kelaparan. lalu seperti apa yang ditulis di buku hariannya, "Ya, dua kilometer dari
pemakan kulit, 'paduka' kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-
istrinya yang cantik." Tentunya dia sadar sebagai generasi muda dia bangga dengan
kondisi yang seperti itu. “Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi
tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh
koruptor-koruptor tua, seperti…Kitalah yang dijadikan generasi yang akan
memakmurkan Indonesia”. Gie tidak tanggung - tanggung berani menunjuk hidung-
hidung para pemimpin negara waktu itu dengan menulis hujatannya kepada para
bapak pendiri bangsa (founding fathers) yang dinilai sebagai dalang dibalik
kekacauan dan kondisi bangsa ini yang kian memburuk."Mereka Generasi tua . . .
semuanya pemimpin-pemimpin yang harus ditembak dilapangan banteng." (Catatan
Seorang Demonstran, hlm. 69)

Setelah menamatkan Sekolahnya di SMA kanisius, Gie melanjutkan studinya di


Fakultas Sastra jurusan sejarah Universitas Indonesia. Sedangkan kakaknya Arief
Budiman, setahun sebelumnya sudah melanjutkan studinya di jurusan Psikologi
Universitas Indonesia. Di masa menjadi mahasiswa ini Gie mulai dikenal di dunia
pergerakan dan aktifitas kemahasiswaan hingga saat ini dikarenakan sikap dan
tindakannya yang tegas, berani dan idealis tanpa kompromi dengan pihak manapun.
Gie bersama kawan - kawannya sesama generasi angkatan 66 seperti akbar tanjung,
cosmas batubara, herman lantang dan lain - lain berhasil meruntuhkan rezim orde
lama yang korup. lewat orasi dan propagandanya, Gie berhasil menggerakkan
mahasiswa pada waktu itu untuk Aksi "turun ke jalan" demi meruntuhkan rezim orde
lama yang diyakini sebagai awal kehancuran bangsa indonesia. Setelah runtuhnya
rezim orde lama, kebanyakan mahasiswa angkatan 66 menempati posisi strategis
dalam pemerintahan orde baru tetapi tidak dengan Gie dia memilih untuk tidak ikut
menempati lingkar kekuasaan era orde baru dan lebih memilih menjadi oposisi
pemerintah pada saat itu, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada
kemunafikan", ujarnya seperti yang ditulis dalam catatan hariannya.

Selain itu rutinitas Gie yang lain adalah mendaki gunung, dia salah satu orang
yang mendirikan MAPALA FSUI (Mahasiswa Pencinta Alam Fakultas Sastra
Universitas Indonesia) bersama Maulana, Koy Gandasuteja, Amin Sumardji,
Ratnaesih, dan Edhi Wuryantoro pada tahun 1964. Organisasi ini bertujuan agar
mahasiswa FSUI yang senang berkeluyuran ke alam untuk mengenal lebih dekat
tanah airnya dapat terwadahi. Seperti yang dikatakan Gie, “Kami jelaskan apa
sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang
tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan
slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia
mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan

Novilaely/Review Film Soe Hok Gie 2005 4


mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari
pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik
gunung". Organisasi ini pertama kali di resmikan di bukit ciampea yang diikuti
sekitar 30 orang peserta. Pada akhirnya MAPALA FSUI berubah nama menjadi
MAPALA UI di tahun 1970 untuk mempersatukan organisasi-organisasi pencinta
alam yang ada di UI. Gunung Pangrango,Slamet, Mandalawangi, Gunung Semeru
dan gunung - gunung lain di pulau jawa pernah di daki oleh Gie dan kawan-
kawannya. Yang perlu di tahu, awal mulanya Soe Hok Gie menjadi seorang Pencinta
Alam diawali oleh temannya yang mengajak ia pergi ke pantai yaitu Tjin Han,
namun hal itu belum pernah ia datangi, dan ia lebih dahulu mengunjungi gunung, dan
hal tersebut, yang membuat Gie jatuh cinta dengan Gunung.

Novilaely/Review Film Soe Hok Gie 2005 5


HIDUP DITENGAH PERGOLAKAN POLITIK

Indonesia di akhir 1950 dan awal 1960 adalah sebuah negara yang terjebak
antara perang dingin. Apakah Indonesia dibawah pimpinan seumur hidup Soekarno
akan mengikuti ideologi komunis, adalah pertanyaan bagi semua orang. Seluruh
unsur masyarakat terpolitisasi dan seluruh faksi dalam masyarakat, termasuk
mahasiswa Indonesia aktif dalam permainan politik yang kemudian ikut menentukan
masa depan bangsa ini. SOE HOK GIE, lahir ditengah – tengah kehidupan yang
disekelilingnya timbul pergolakan politik disekitar tahun 1950 – 1960an. Gie
memilki watak yang keras namun terkesan kritis terhadap setiap kejadian maupun hal
– hal yang terjadi pada masa orde lama, hidup di sekitar masyarakat yang
mempunyai gerakan terhadap politik komunis yang pada saat itu telah berdiri
komunis, tidak serta merta membawa Gie pada pengaruh komunis, dengan prinsip
Gie yang kuat dia mempunyai perbedaan dengan anak lainnya.

Lepas dimasa sekolah, Gie masuk kedalam dunia perkuliahan, menjadi seorang
mahasiswa di salah satu Universitas ternama, yaitu Universitas Indonesia. Di
Universitas ini, Soe Hok Gie menjadi seorang aktivis kemahasiswaan. Cintanya pada
Indonesia dan dunia mahasiswa membuatnya selalu angkat bicara ketika ada yang
dianggapnya akan merusak dua hal itu. Ia sangat kecewa ketika melihat
perjuangannya melawan tirani dan rezim yang berkuasa saat itu, ternyata justru
melahirkan rezim baru dan menyebabkan pembantaian jutaan orang yang dituduh
komunis, termasuk sahabat masa kecilnya, Tjin Han. Waktu berlalu, orang orang
sekitarnya mulai menyesuaikan diri dengan rezim baru, bahhkan melakukan korupsi.
Dia menolak untuk diam, meski dia bisa “masuk” ke lingkaran kekuasan dan militer.
Kemampuan gie dalam menyorot pemerintahan mulai terlihat sejak Partai Komunis
Indonesia itu mulai harum dan terkenal, gie ppun diajak menjadi seorang aktivis dan
bergabung dalam salah satu gerakan dan kampanye, da diundang untuk bertemu
presiden Bung Karno. Namun Gie tidak lantas kangsung terjun dalam dunia politik
begitu saja. Idealismenya ini membuat teman – temannya meninggalkannya. Banyak
yang menyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan
termasuk orang pertama yang mengkritik tajam Rezim Orde Baru.Selain itu juga Gie
ikut mendirikan Mapala UI, sebelum mendirikan Mapala UI, Gie pernah diajak untuk
ikut dalam organisasi PMKRI.
Dalam perjalanan Gie didunia perkuliahan, dia banyak menemukan hal hal baru,
seperti kita ulas lagi saat itu Partai Komunis pun mulai terasa kental dan terasa di
kalangan masyarakat dan pergerakan mahasiswa pun mulai menyebar mulai dari
yang mengatas namakan Golongan agama maupun pergerakan independen yang
menuntut “kebenaran” . Tjin Han, sahabat kecil dari Gie pun membuat dia kaget
bahwa Gie lebih dulu bergabung dengan PKI , dan memberikan kekuasaa
menyeluruh kepada Han untuk keluar dari PKI. Gie mulai bertindak karenan
kebanyakan mahasiswa sudah mulai bergerak dengan kehendak mereka sebagai
golongan berdasarkan ras, golongan, maupun agama yang menjadikan mereka hanya
bermain politik untuk kepentingan golongan mereka dan mudah didomplengi.
Mahasiswa pun mulai bertindak dengan membentuk aksi yang langsung turun
kejalan dengan satu tuntutan utama yaitu “BUBARKAN PKI” gerakan – gerakan
mahasiswa mulai teratur dan mendapat apresiasi dari mahasiswa lain, ada juga

Novilaely/Review Film Soe Hok Gie 2005 6


bagian ketika mahasiswa mempermalukan pejabat dihadapan para mahasiswa dengan
slogan “ganyang mentri goblok” inilah yang menjadi demostrasi yang menjadi batu
tapal revolusi Indonesia pada zaman itu, sebuah aksi mahasiswa yang
menjadipenyuara kebenaran dan menolak keadilan, tetapi demonstrasi yang pertama
itu belum bisa membubarkan PKI secara utuh, harga – harga pun masih belum stabil.
Pada Februari 1966 pun Soekarno turun sebagai presiden karena desakan banyak
orang.
Pada pertengahan 1968, Gie masih mengingat bagaimana pimpinan mahasiswa
UI geger karena mendapatkan dokumen HMI (Himpunan Mahasiswa Islam –red)
mengenai pengambilalihan Dewan Mahasiswa UI oleh PB HMI. “Pernah soal ini
dikonfrontir secara lisan, tetapi jawabannya berbelit-belit, walaupun tidak
disangkal,” tulis Gie. HMI diduga kuat mempunyai kaitan erat dengan Masjumi,
partai politik Islam yang dilarang pada 1960. Selain itu, pada waktu pembentukan
Dewan Mahasiswa, senat-senat tak didekati dan dimintakan pendapatnya. Yang
didekati adalah komisariat-komisariat ormas dari PMKRI (Perkumpulan Mahasiswa
Katholik Republik Indonesia), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia),
GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), dan lainnya. Gie dan mahasiswa-
mahasiswa lain yang bukan anggota ormas menyaksikan bahwa aktivis-aktivis ormas
bermaksud mendominasi Dewan Mahasiswa.

Pihak yang paling dirugikan adalah golongan mahasiswa independen yang


berorientasi intra kampus. Kelompok ini banyak terkonsentrasi di Fakultas Sastra,
Fakultas Psikologi, dan Fakultas Kedokteran Gigi. Ketiga fakultas tersebut memiliki
sentimen anti ormas yang sangat kuat. Para ketua senat ketiga fakultas, pada Juni
1969 kemudian membentuk Koordinasi Kegiatan Kemahasiswaan (KKK) untuk
menarik diri dari manipulasi ormas yang menjangkiti kampus. Pertemuan antara
ketiga ketua senat yang membangkang itu dengan Rektor Sumantri Brodjonegoro
gagal mencapai penyelesaian tentang komposisi Dewan Mahasiswa. Seminggu
setelah pertemuan itu, Dewan Mahasiswa malah melarang KKK-UI berikut program
kegiatannya. “Ormas-ormas sering berpretensi bahwa mereka adalah ‘pemilik’ dari
UI. Soal ini amat menyakitkan hati orang yang tidak berormas,” tulis Gie
dalam Indonesia Raya. Kebobrokan lain yang disoroti Gie adalah penyalahgunaan
dana infrastruktur kampus. Dalam catatan hariannya, 23 Oktober 1969, Gie
mengungkap korupsi di mesjid kampus yang mencapai jutaan rupiah setiap tahun.
Gie mengilustrasikan, jika ada yang bilang tak ada korupsi di UI, maka ada dua
kemungkinan: ia bodoh sekali sehingga tak dapat mencium bau korupsi atau apatis
karena menganggapnya sebagai urusan internal UI.

Dalam berbagai media massa, beberapa kali Gie mengangkat persoalan dan
carut-marut yang terjadi di UI. Artikel Gie ditulis dengan kemarahan bercampur
muak. Dia menyalahkan ormas-ekstra atas kebuntuan dalam masalah kemahasiswaan
di UI. Khawatir kritiknya bisa menjadi batu sandungan, Gie sempat mengajukan
pengunduran diri sebagai dosen muda di Fakultas Sastra. Namun pengajuan itu
ditolak oleh Harsja Bachtiar, Dekan Fakultas Sastra. Secara tersirat, Harsja tak
melarang Gie untuk bersuara. “Sekali-kali mereka juga harus digituin agar mereka
juga giat memperbaiki situasi keuangan,” kata Harsja Bachtiar sebagaimana dikutip
Gie dalam catatan hariannya tertanggal 22 Oktober 1969 yang kemudian
dibukukan Catatan Seorang Demonstran. “Saya merasa hormat atas sikap Harsja

Novilaely/Review Film Soe Hok Gie 2005 7


yang begitu etis dan jujur,” tulis Gie. Menurut John Maxwell, Soe Hok Gie telah
terlibat dalam pergolakan politik sepanjang dasawarsa 1960-an, tetapi ia merasa
bahwa konflik di kampusnya sendiri adalah pengalaman yang paling menyedihkan.
“Tidak hanya menentang lawan-lawannya di lembaga mahasiswa, ia juga menjadi
lawan para pemimpin senior universitas,” ujar Maxwell dalam disertasinya yang
dibukukan Soe Hok-Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani. “Tetapi ia
merasa bahwa ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali memancing opini publik
terhadap masalah ini.”

Pada tanggal 12 Desember 1969 , Gie menulis, “Berkerjalah dengan baik, hidup
Orde Baru, Nikmati kursi Anda, Tidurlah nyenyak.” Ketika semua orang lambat laun
menjauhi dirinya karena takut dianggap terlibat dan berkawan dengan PKI. Pada
salah satu catatn hariannya, Gie menulis bahwa dia selalu merasa dihargai oleh ayah
dari seorang gebetannya sebagai seorang pemuda yang cerdas, jujur, dan berani. Gie
pernah berkata pada Arief, kakaknya, “akhir-alhir ini saya selalu berpiki, apa
gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada
banyak orang, yang sayaanggap tidak benar. Makin lama makin banyak musuh saya,
dan semakin sedikit orang yang sependapat dengan sya, dan kritik yang saya
lancarkan tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya
ingin mendorong masyarakat rakat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak
berubah apa gunanaya kriitk saya? Kadang kadang saya merasa sangat kesepian.
Dalam suasana inilah Gie meninggalkan Jakarta untuk pergi ke gunung Semeru.
Sebelum berangkat ke semeru Gie sempat menuiskan catatanya

“Saya tak tahu apa yang terjadi dengan dirisaya. Setelah saya mendengar kematian
Kian Fong dan Arif hari Minggu yang lalu. Saya punya perasaan untuk selalu ingat
pada kematian. Saya ingin mengobrol ngobrol pamit sebelum ke Semeru. Dengan
maria, Rina, dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti, saya kira ini
pengaruh kematian Kiang Fong yang aneh dan begitu cepat.”

Pada hari jum'at, hari lebaran kedua, pada 12 Desember 1969. Gie dan teman-
teman sudah berkumpul di Statsiun Kereta Api Gambir. Mereka bermaksud mendaki
puncak Mahameru, kali ini adalah pendakian pertama bagi Mapala mendaki puncak
tertinggi di pulau Jawa itu. Kereta api dari Jakarta berangkat pukul 07:00. Hok Gie
yang sikapnya gesit, di stasiun itu ngobrol cukup lama dengan Rudy Hutapea, rekan
seperjuangannya di Radio UI. Sebelum berangkat, Gie menitip pesan ke Rudy
Hutapea untuk mengikuti perkembangan politik di gedung Dewan Perwakilan
Rakyat di Senayan. Saat rombongan masuk gerbong dam melambaikan tangan
sebagai lambaian perpisahan ke pengantar, yakni Rudy Hutapea, Raja, dan Utun, Gie
berseloroh ke Rudy yang sempat di dengar oleh Wiwiek. Gie Berteriak, 'titip janda-
janda gue di Jakarta ya', itu khas Soe Hok Gie yang sok badung. Badil mengisahkan,
kereta melaju terus ke Timur, tanpa menghidangkan makan siang dan malam atau
kudapan ringan. Menjelang tengah malam, seusai makan nasi soto sulung di stasiun,
rombongan berangkat dengan kendaraan sewaan ke desa terdekat di kaki Gunung
Semeru. Rombongan harus ke Kecamatan Tumpang menjelang Kota Malang, lalu
mendatangi Desa Kunci, desa terakhir yang dilalui jalan mobil. "Berapa harga sewa
mobil carteran itu, itu urusan Hok Gie yang pegang duit karena dia yang paling
pandai cari uang jalan." Lanjut Badil dalam ceritanya. Badil mengisahkan,
rombongan singgah di rumah pimpinan Desa Gubuk Klakah, Pak Binanjar. Di sini
Novilaely/Review Film Soe Hok Gie 2005 8
mulai lagi diskusi soal rute, tafsir jalan menuju Semeru sesuai tulisan buku Belanda.
Herman ngotot harus lewat Kali Amprong. Padahal, Pak Binanjar menyebutkan
kalau penduduk lokal memilih ke puncak Semeru lewat Desa Ranupane karena lebih
landai dan tidak menanjak. Pun tidak juga menyebarangi Kali Amprong yang suka
banjir dadakan. Akhirnya, sebagian tim meninjau Kali Amprong. Setelah kembali,
ditetapkanlah bahwa rute pendakian lewat Kali Amprong. Desa Gubuk Klakah
perlahan menghilang, tertelan kabut yang nantinya menjadi guyuran air
berkepanjangan. Rombongan naik ke bukit dan menanjak ke kaki pegunungan
Semeru. Tahu-tahu, rombongan harus turun dan turun, menuju lembah besar serta
melihat pemandangan indah adanya, danau besar dan lebar. Perjalanan dilanjutkan di
seputaran hutan koloni pepohonan pinus, mencari celah menuju Arcopodo di
perbatasan hutan dan tanah berbatuan menjelang puncak Mahameru. Hok Gie,
Herman, dan Tides, langsung menafsir info teks buku Belanda. Menurut mereka, di
Cemoro Kandang itu, tim akan melewati jalan kuda bikinan Belanda menuju desa
kecil di kawasan Lumajang. "Seingat saya, waktu itu tidak ada yang panik atau
protes, juga tidak ada yang merasa tersesat." Sambung Badil.

Perkemahan malam itu di tepian danau gunung, Ranu Kumbolo, di bawah


tetesan gerimis dan kabut tebal. Romongan membentuk kelompok kecil. Hok Gie
menjadi sentra perhatian dengan segala kisahnya, soal lagu dan musik yang
menurutnya universal. "Malah Hok Gie, dengan suara fales-nya memancing-mancing
dengan lagu patriotisme kaum pendemo di AS, We're fighting for our freedom... we
shall not be moved." Tutur Badil. Menurut Badil, zaman itu zaman susah buat
pendaki gunung. Setelah melalui hutan lumpur, tim istirahat. Tiga pentolan, yakni
Herman, Tides, Hok Gie, berjalan berbarengan mencari rintisan jalan ke arah puncak
Semeru. Hok Gie menuturkan mereka sudah menemukan lorong di tengah semak
belukar yang ternyata merupakan pintu masuk rintisan hutan ke arah atas. Mereka
menemukan jalan masuk ke Arcopodo, sebagai salah satu lokasi untuk menuju
puncak Mahameru. Selanjutnya Herman memutuskan bahwa malam ini tim
berkemah lagi di Ranu Kumbolo, mengecek perbekalan. Esok paginya berangkat,
jika tidak tersesat, menjelang sore akan tiba di puncak. "Malam hari yang sempat
cerah, kami jadikan ajang obrolan dan bersenda gurau dengan Hok Gie. Bayangkan,
Soe Hok Gie dengan tegas bilang, "Gua akan berulang tahun tanggal 17 Desember,
artinya hari Rabu yang lusa itu, besok kan Selasa tanggal 16 Desember. Gimana ya,
seharusnya gua mau berulang tahun di tanah tertinggi di Pulau Jawa." Ungkap Badil
menirukan gaya ucapan Gie.

Pagi itu, 16 Desember 1969, langit masih setengah gelap, rombongan siap
berangkat. Dalam perjalanan, cuaca buruk yang penuh hujan dan gerimis bercampur
kabut. Hok Gie lalu bergegas turun, mungkin berbarengan dengan Tides. Sambil
berteriak dan turun, Tides menyuruh untuk segera turun karena cuaca tidak bagus.
Bau uap sangata menyengat membikin sesak kantong udara di paru-paru. Badil
melanjutkan, entah berapa puluh menit berlalu, cuaca belum betul-betul gelap.
Lamat-lamat terdengar suara geruduk guliran batu pasir. Terlihat Fredy dan Herman
meluncur turun, tanpa Hok Gie dan Idhan. Herman datang duluan. Sambil
mengempaskan diri ke tenda darurat, dia langsung melapor ke Tides. "Hok Gie dan
Idhan meninggal, mereka tiba-tiba kejang dan tidak bergerak." Kata Herman dalam
keadaan panik. Dan beritameninggalnya Soe Hok Gie adalah berita duka untuk

Novilaely/Review Film Soe Hok Gie 2005 9


semua orang, terutama Ira melalui Herman dengan surat yang diberikan Soe Hok Gie
untuk Ira.

“Ada orang yang menghabiskan waktunya ke Mekkah


Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu… sayangku…

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu


Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau


Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biapra

Tapi aku ingin mati di sisi mu…


Manis ku…

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya


Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini sayang ku…

Kalian yang pernah mesra


Yang simpati dan pernah baik pada ku

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…


Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa”

Novilaely/Review Film Soe Hok Gie 2005 10